Anda di halaman 1dari 8

TEORI SEDIAAN APOTEKER ITB ~ 2007/2008

SEMISOLIDA

PASTA
(Re-New by: Apt Maret 2006/2007)

D E F I N I S I
(Ansel, C. Howard., `Pengantar Sediaan Farmasi`, ed IV, penerbit UI,1989, hal 515)
Pasta sama dengan salep dimaksudkan untuk pemakaian luar kulit. Namun perbedaannya dengan
salep adalah kandungannya; secara umum persentase bahan padat pada pasta lebih besar dan kurang
berlemak daripada salep yang dibuat dengan komponen yang sama. Oleh karena kualitas pasta yang
keras dan absorptif, sehingga saat pemakaian pasta akan tetap tinggal ditempatnya dengan sedikit
kecenderungan untuk melunak dan mengalir, sehingga efektif digunakan untuk absorpsisekresi cairan
serosal pada tempat pemakaian. Pada luka akut yang cenderung mengeras, menggelembung ataupun
mengeluarkan darah, pasta cenderung lebih disukai daripada salep. Namun kerena sifatnya yang kaku
dan tidak dapat ditembus, pasta umumnya tidak sesuai untuk pemakaian pada bagian tubuh yang
berbulu. Di antara pasta yang sering digunakan saat ini adalah : pasta gigi, pasta zinc oksida. Pasta
dibuat dengan cara yang sama dengan salep.
FI IV hal 14
Pasta merupakan sediaan semipadat yang mengandung satu atau lebih bahan obat yang ditujukan
untuk pemakaian topikal.
Husa`s Pharm.Dispensing of Medication
Pasta adalah produk seperti ointment untuk penggunaan eksternal yang di karakterisasi dengan
adanya bagian serbuk padat yang lebih banyak. Pasta lebih kental dan keras, serta kurang oklusif
dibandingkan ointment yang lain.
Aulton, Pharmaceutical Practice
Pasta merupakan ointment yang mengandung sekitar 50% serbuk yang terdispersi dalam basis
berlemak, namun pasta kurang berlemak dibanding ointment karena sebuk akan mengabsorbsi
sebagian hidrokarbon air.
Clackman-Industri, buku2, hal 1091
Pasta merupakan salep yang didalamnya ditambahkan zat padat yang tidak larut dalam konsentrasi
yang tinggi. Biasanya digunakan sebagai penghambat yang melindungi kulit, seperti pengobatan
dengan masker atau pelindung muka dan bibir dari sinar matahari.
Fornas 1998, hal 326
Pasta adalah sediaan berupa massa lembek yang dimaksudkan untuk pemakaian luar, digunakan
sebagai antiseptikum atau pelindung kulit
I .

TEORI

A. Penggolongan

Menurut FI IV hal 14
Ada 2 kelompok utama pasta
1. Kelompok pasta yang dibuat dari gel fase tunggal mengandung air
Contoh : pasta Natrium karboksimetilselulosa (CMC)
2. Kelompok pasta berlemak
Contoh : pasta Zinc Oksida (pasta padat, kaku, tidak meleleh pada suhu tubuh dan berfungsi
sebagai lapisan pelindung bagian yang diolesi.
Menurut Ilmu Meracik Obat 2000, hal 67-70
Ada 3 macam pasta :
1. Pasta berlemak
Merupakan salep yang mengandung lebih dari 50% zat padat
Bahan dasar salep : vaselin, parafin cair
Jumlah lemak yang lebih sedikit dibanding serbuk padatnya harus dilelehkan dulu supaya
homogen
2. Pasta kering
Merupakan pasta bebas lemak mengandung 60% zat padat (serbuk)
3. Pasta pendingin

45

TEORI SEDIAAN APOTEKER ITB ~ 2007/2008

SEMISOLIDA

Menurut Basis Pasta (Cooper n Gunn`s : Dispensing for Pharm. Student hlm 210,211)
1. Hidrokarbon
2. Basis absorpsi
3. Basis air-misibel
4. Basis larut air
B. Keuntungan dan Kerugian
Ansel, C. Howard.,`Pengantar Sediaan Farmasi`, edisi keempat, Penerbit UI, 1989, hal 107)
Pasta mengandunglebih banyak bahan padat dan oleh karena itu lebih kental dan kurang meresap
daripada salep. Pasta biasanya digunakan karena kerjanya melindungi dan kemampuannya
menyerap kotoran seru dari luka-luka di kulit. Jadi bila kerja melindungi lebih dibutuhkan dari
terapeutiknya maka akan lebih dipilih panggunaan pasta
Aulton, pharmaceutical Practice
Konsep pembuatan pasta adalah bahwa konsentrasi zat padat yang tinggi dapat mebgabsorpsi
eksudat kulit, namun karena partikel tersebut disalut lemak, maka membatasi penyerapan air.
Pada kenyataannya, pasta lebih berhasil menyerap bahan kimia beracun seperti amonia yang
dihasilkan mikroba dalam urin. Konsistensinya yang tinggi menjadikan pasta dapat berfungsi
sebagai pelokalisasi zat yang iritan. Pasta kurang berminyak dibandingkan salep kerena jumlah
zat padat yang tinggi dalam pasta dapat menyerap hidrokarbon cair

FI IV hal 14
Pasta berlemak ternyata kurang berminyak dan lebih menyerap dibanding salep kerena tingginya
kadar obat yang mempunyai afinitas terhadap air. Pasta ini cenderung untuk menyerap sekresi
seperti serum dan mempenyai daya penetrasi dan daya maserasi lebih rens=dah daripada salep.
Oleh karena itu pasta digunakan untuk lesi akut yang cenderung membentuk kerak,
menggelembung atau mengeluarkan cairan
FI IV hal 14 Pasta gigi digunakan untuk pelekatan pada selaput lendir untuk memperoleh efek
lokal (misal pasta gigi Triamsinolon asetonida)

I I .
FORMULA
A. Formula Umum/ Standar
Formula umum pasta :
R/ zat aktif
Basis
Zat tambahan (pengawet, antioksidan, emolien, emulsifier, surfaktan, zat penstabil, peningkat
penetrasi dll)
B.

Formula menurut buku-buku resmi


Menurut Ilmu Meracik Obat (IMO) 2000 hal 67-70 : 1.
Pasta berlemak
Pasta asam salisilat seng (juga ada di Fornas 1998 hal 14)
Asam salisilat
200 mg
ZnO
2,5 g
Amylum tritici
2,5 g
Vaselin album
ad
10 g
Pasta Seng (juga ada di Fornas 1998 hal 304)
ZnO
2,5 g
Amylum tritici
2,5 g
Vaselin Flavum ad
10 g
Pasta resorcinol belerang (juga ada di Fornas 1998 hal 267)
Resorcinol
500 mg
Sulfur
500 mg
Cetomacrogolum 1000 300 mh

45

TEORI SEDIAAN APOTEKER ITB ~ 2007/2008

Cetostearylalkoholum
ZnO
Parafin liquid
Vaselin Flavum ad
2. Pasta Kering
IMO 2000 hal 67
Bentonit
Sulfur pp
ZnO
Talk
Ichtamol
Gliserin
Aqua

SEMISOLIDA

1,2 g
4g
1g
10 g

1
2
10
10
0,5
ad

3. Pasta pendingin
Salep Tiga Dara (IMO 2000 hal 67)
ZnO
Olei olivae
Calcii Hidroxidi sol aa
10
4. Formula pasta lainnya Pasta ter
seng (Fornas 1998 hal 249) Tiap 10 g
mengandung :
Picis solutio
750 mg
Zinci pasta
9,25 g
Keterangan :
Picis solutio = 20 g ter batubara dengan 50 g pasir tercuci dimaserasi dengan 5 g Polisorbat-80
dan 70 ml Etanol 90% selama 7 hari, disaring dan diencerkan dengan etanol 90% hingga 100 mL
Pasta gigi umumnya mengandung : MonofluoroPhosphate, Glycerophosphate, Triclosan
C. Penjelasan Formula
1. Zat aktif
Zat aktif yang sering digunakan misalnya Zinc Oksida, sulrur dan zat aktif lain yang tentunya
dapat dibuat dalam bentuk sediaan semisolid. Penggunaan pasta pada umumnya untuk antiseptik,
perlindungan, penyejuk kulit dan absorben sehingga zat aktif yang sering digunakan ialah zat
aktif yang memiliki aktivitas farmakologi seperti yang telah disebut diatas. Sifat zat aktif yang
perlu di[erhatikan ialah zat aktif harus mampu didispersikan secara homogen pada basis namun
dapat lepas dengan baik dari basis dan dapat menembus kulit untuk mencapai tujuan
farmakologisnya (Lahman- Teori & Praktek Farmasi Industri hal 548)
2. Basis
Menurut Cooper n Gunn`s : Dispensing for Pharm. Student hal 210-211 :
Basis yang digunakan untuk pembuatan pasta ialah basis berlemak atau basis air
Macam-macam basis yang dapat digunakan untuk pembuatan pasta :
Basis Hidrokarbon
Karakteristik dari basis ini yaitu :
Tidak diabsorbsi oleh kulit
Tertinggal diatas kulit sebagai suatu lapisan yang menutupi, dimana akan membatasi
hilangnya kelembaban sehingga keadaan kulit tetap lunak dan menahan panas tubuh
Tidak tercampurkan dengan air
Diatas permukaan kulit akan sukar dibersihkan
Lengket
Akan memperpanjang waktu kontak dengan kulit dan obat, tetapi memberikan rasa tidak
menyenangkan kepada pemakai
Inert
Daya absorpsi air rendah

45

TEORI SEDIAAN APOTEKER ITB ~ 2007/2008

SEMISOLIDA

Basis absorpsi
Karakterstiknya : bersifat hidrofil dan dapat menyerap sejumlah tertentu air dan larutan cair.
Terbagi menjadi 2 kelas, yaitu :
a. Basis non-emulsi
Dapat menyerap air dan larutan cair membentuk emulsi A/M. Mengandung campuran
dari emulgen tipe sterol dengan satu atau lebih parafin. Jika dibandingkan dengan basis
hidrokarbon :
Kurang bersifat oklusif namun emolien yang baik
Membantu obat larut minyak untuk penetrasi kulit
Lebih mudah menyebar/ dioleskan (spread)
Emulgen sterol yang penting adalah :
Wool fat
Wool alkohol
Bees wax
Kolesterol
b. Emulsi A/M
Dapat mengabsorpsi air lebih banyak dari basis non emulsi. Terdiri dari :
Hydrous wool fat (lanolin)
Oily cream BP
Emulsifying wax merupakan basis pada pasta zinc dan coal tar.
Basis air-misibel
Keuntungannya antara lain :
Misibel/ bercampur dengan eksudat dari luka
Mengurangi gangguan terhadap fungsi kulit
Kontak baik dengan kulit karena kandungan surfaktannya
Penerimaan terhadap kosmetik yang cukup baik
Mudah dibersihkan dari rambut. Salep dengan basis hidrocarbon/ absorpsi sangat tidak
cocok untuk kondisi Scalp karena sulit dibersihkan/ dihilangkan dan tidak
menyenangkan
Basis larut air
Beberapa pasta terbuat dari basis macrogol.
Keuntungan basis larut air :
Larut air
Absorpsi yang baik oleh kulit
Mudah melarutkan bahan lain
Bebas dari rasa lengket
Nyaman digunakan
Kompatibel dengan berbagai obat-obat dermatologi
Kerugian basis larut air :
Pengambilan (up-take) air yang terbatas
Kurang lunak jika dibandingkan dengan parafin
Mengurangi aktivitas beberapa zat antimikroba
3.
Melarutkan polythene dan bakelite
Bahan tambahan (TPC hal 147-152)
a. Pengawet
Bahan pengawet yang digunakan perlu dijaga kestabilannya. Bahan pengawet dapat
berinteraksi dengan zat lainnya termasuk zat aktif juga dengan wadah sediaan sehingga
benar-benar perlu diperhatikan interaksi antar bahan yang ada. Selain itu bahan pengawet
ada yang bersifat iritan terhadap kulit sehingga juga perlu diperhatikan pemakaiannya.
Contohnya : Metil paraben dan Propil paraben lebih mengiritasi kulit hidung dibanding
ammonium kuartener. Yang paling penting bahan pengawet yang digunakan harus tern=bukti
efektif untuk menjaga sediaan dari kontaminan terutama mikroba yang dapat
membahayakan.

45

TEORI SEDIAAN APOTEKER ITB ~ 2007/2008

SEMISOLIDA

b.

Antioksidan
Antioksidan diperlukan jika kemungkinan teroksidasi ada dan dapat merusak sediaan atau
bahkan membahayakan. Namun formulasi ini harus memperhatikan toksisitas, potensi,
iritasi, kompabilitas, bau, warna, kelarutan dan kestabilan sediaan. Misalnya asam sitrat dan
asam fosfat.

c.

Emulsifier
Pada penggunaaan emulsifier yang harus diperhatikan ialah stabilitas. Penggunaan emulsifier
lebih baik dikombinasikan sehingga diperoleh stabilitas yang lebih baik dan sifat iritan yang
lebih rendah. Macam-macam emulsifier yang dapat digunakan ialah emulsifier anionik
(natrium lauril sulfat), triaetanolaminstearat), emulsifier kationik (ammonium kuartener,
cetrimide) dan bemulsifier nonionik (ester glikol, ester gliserol)

d.

Zat Penstabil Bahan ini perlu ditambahakan jika sediaan sulit mencapai stabilitas yang
baik terutama selama penyimpanan.

e.

Humektan Bahan ini digunakan untuk mengurangi sediaan semisolid dari kehilangan air.
Contohnya gliserol dan PEG

I V. P E R H I T U N G A N
Perhitungan formula pasta : Mengacu pada salep
V.
P R O S E D U R P E M B U A T A N Modul Praktikum Teknologi Sediaan Liquida dan
Semisolida; Dra. Sasanti T. Darijanto, MS; Dept Farmasi; FMIPA; 2002; hal 33-34
Metode pembuatan pasta sama dengan salep. Untuk basis semisolid metode fusion (pelelehan) dan/ atau
triturasi dapat digunakan. Triturasi sendiri cocok digunakan untuk pembawa liquid.

Metode Fusion
Disini zat pembawa dan zat berkhasiat dilelehkan bersama dan diaduk sampai membentuk fase yang
homogen. dalam hal ini perlu diperhatikan stabilitas zat berkhaziat terhadap suhu yang tinggi pada
saat

Metode Triturasi
Zat yang tidak larut dicampur dengan sedikit basis yang akan dipakai atau dengan salah satu zat
pembantu, kemudian dilanjutkan dengan penambahan sisa basis. Dapat juga digunakan pelarut
organik untuk melarutkan terlebih dahulu zat aktifnya, kemudian baru dicampur dengan basis yang
akan digunakan.
Metode dan cara pembuatan pasta :
1. Sediaan yang akan dibuat adalah pastadengan kekuatan sediaan ..
2. Bobot sediaan pasta dalam kemasan tube .g
3. Jumlah yang akan dibuat..tube ditambah dengan keperluan evaluasi sebanyak.tube. Jadi total
yang akan dibuat adalah.tube.
4. Jumlah pasta yang akan dibuat adalah,,,,g (kapasitas minimal alat pengisi sediaan semisolid 250 g)
Prosedur Pembuatan :
1. Timbang sejumlah zat aktif dan eksipien sesuai dengan yang dibutuhkan
2. Tambahkan zat pembawa dan zat berkhasiat kemudian dilelehkan bersama dan diaduk sampai
membentuk fase yang homogen (Fusion)
3. Zat yang tidak larut dicampur dengan sedikit basis yang akan dipakai atau dengan salah satu zat
pembantu, kemudian dilanjutkan dengan penambahan sisa basis. Dapat juga digunakan pelarut
organik untuk melarutkan terlebih dahulu zat aktifnya, kemudian baru dicampur dengan basis yang
akan digunakan (triturasi).
4. Pasta yang sudah jadi dimasukkan ke dalam alat pengisi pasta dan diisikan ke dalam tube sebanyak
yang dibutuhkan.
5. Ujung tube ditutup lalu diberi etiket dan dikemas dalam wadah yang dilengkapi brosur dan etiket.

45

TEORI SEDIAAN APOTEKER ITB ~ 2007/2008

SEMISOLIDA

PASTA STERIL
Untuk pasta steril (sangat jarang dipakai dan dibuat) pembuatan dilakukan sama seperti cara pembuatan
salep mata steril:
Menurut FI IV hal 12 :
Sediaan dibuat dari bahan yang sudah disterilkan dengan perlakuan aseptik yang ketat serta
memenuhi syarat Uji Sterilitas <71>. Bila bahan tertentu yang digunakan dalam formulasi tidak
dapat disterilkan dengan cara biasa, maka dapat digunakan bahan yang memenuhi syarat Uji
Sterilitas <71> dengan pembuatan secara aseptik.
Sediaan todak disterilisasi akhir tetapi dibuat dengan teknis aseptis. Bahan obat dan dasar salep
disterilkan dengan cara yang cocok. Bahan obat ditambahkan sebagai larutan steril atau sebagai
serbuk steril termikronisasi pada dasar, hasil akhir dimasukkan secara aseptik didalam tube steril.
Metode yang biasa digunakan untuk pembuatan pasta steril adalah metode aseptis dan denagn metode
aliran laminar, karena tidak memungkinkan untuk dilakukan metode sterilisasi akhir.

Metode Aseptis
Cara ini terbatas penggunaannya pada sediaan yang mengandung zat aktif peka suhu tinggi dan dapat
mengakibatkan penguraian dan penurunan kerja farmakologinya. Antibiotika dan beberapa hormon
tertyentu merupakan zat aktif yang sebaiknya diracik secara aseptis. Cara aseptis bukanlah cara
sterilisasi melainkan suatu cara kerja untuk memperoleh sediaan steril dengan mencegah kontaminasi
jasad renik dalam sediaan. Dengan cara ini zat aktif dihindarkan dari cara sterilisaso yang melibatkan
panas.

Metode Aliran Udara Laminar


Sistem aliran laminar didefinisikan sebagai aliran udara dimana keseluruhan gerakan udara
mempunyai kecepatan seragam sepanjang garis paralel dengan gerakan turbulen yang minimum.
Aliran laminar meminimalkan kemungkinan kontaminasi mikroba dengan menyediakan udara yang
bebas partikel dan mikroba.
Karena sebagian besar teori untuk pasta steril adalah sama dengan salep mata, jadi baca keterangan yang
lebih lengkap di bagian salep mata,demikian juga dengan wadah untuk pasta steril adalAh sama dengan
wadah salep mata
V I . E V A L U A S I _P A S T A
Evaluasi sediaan pasta sama dengan evaluasi sediaan salep, meliputi :
A. Evaluasi Fisik
1. Penampilan (warna & bau) (GA, Tek. Ar.Liquida & Semisolid hal 127)
Sama dengan salep
2. Distribusi ukuran Partikel (BP 93 hal 738)
Sama dengan salep
3. Homogenitas (F I I hal 33)
Sama dengan salep
4. Konsistensi (Martin, FarFis hal 501)
Sediaan semisolid termasuk sistem non-newton, viskositasnya diukur dengan viskometer
rotasional yaitu viakometer cone-plate dan viskometer stormer. Sama dengan salep.
5. Uji kebocoran Tube (FI IV hal 1086 <1241 >)
Sama dengan salep
6. Isi minimum (FI IV hal 997 <861>)
Sama dengan salep
7. Pengukuran kecepatan pelepasan bahan aktif dari sediaan
(Tugas akhir, Ivantina, Pelepasan Bahan Aktif dari Sediaan Salep)
Sama dengan salep
8. Pengujian difusi bahan aktif dari sediaan
(Tugas akhir, sriningsih, Kecepatan Difusi Kloramfenicol dari sediaan Salep)
Dilakukan jika dipersyaratkan dalam monografi/pustaka sediaan. Sama dengan salep.
B. Evaluasi Kimia
1. Penetapan Kadar zat Aktif (sesuai monografi)
2. Identifikasi Zat Aktif (sesuai monografi)

45

TEORI SEDIAAN APOTEKER ITB ~ 2007/2008

SEMISOLIDA

C. Evaluasi Biologi

Uji Penetapan Potensi Antibiotika (FI IV hal 891-899 <131 >)

Uji sterilitas (FI IV hal 855-863 <71 >,untuk sediaan steril


Keterangan tambahan untuk evaluasi pasta
(Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, Rudilf Voigt, edisi ke-5, terjemahan, Gajah Mada University
Press , hal 378-384)
1. Daya mengambil air
Daya mengambil air, diukur sebagai angka air, berlaku untuk karakterisasi salep dari basis absorpsi.
Angka air dirumuskan sebagai jumlah air maksimal (g), yang mampu mempertahankan 100 air bebas
dasar pada suatu suhu tertentu (umumnya 15-20 C) terus menerus atau suatu waktu terbatas
(umumnya 24 jam), dimana air digabungkan secara manual. Perolehan kuantitatif dari jumlah air
yang diambil berlangsung melalui penimbangan yang berbeda (sistem mengandung air-sistem bebas
air) atau dengan sebuah penentuan kandungan air (lihat no.2)
Kemampuan air akan berubah, jika larutan digabungkan. Umumnya menyebabkan penurunan angka
air. Itu terjadi dalam skala khusus pada peracikan dari larutan dengan fenolik (Fenol, resorsinol,
Pirogalol)
Angka air (AA) dan kandungan air (KA), yang dinyatakan dalam persen tidaklah sama. Sebagai
pedoman untuk angka air berlaku air bebas dari dasar (basis), sedangkan kandungan air berhubungan
dengan salep emulsi mengandung air. Kedua angka ukur dapat dihitung satu sama lain menurut
persamaan :
AA = (100.KA) / (100-KA)
KA = (100.AA) / (100+AA)
2.

Kadar air
Ada 3 cara :
a. Penentuan dari kehilangan pengeringan
Dihitung sebagai kandungan massa yang hilang setelah dilakukan pengeringan pada suatu suhu
tertentu (umumnya dengan cara oven pada suhu 100-110 C). kehilangan massa (%) diperoleh
dari selisih antar bobot awal dengan bobot tetap setelah dioven dan dibandingkan dengan bobot
awal.
Cara ini tidak dapat digunakan jika ada bahan obat atau bahan pembantu yang menguap (minyak
atsiri, fenol,dsb)
b.

Cara penyulingan
Dilakukan dengan cara penyulingan menggunakan bahan pelarut menguap yang tidak dapat
bercampur dengan air, seperti trikloretan, Benzen, toluen atau silen, yang disuling sebagai
campuran azeotrop dengan air dan pada pendinginan kembali dapat memisah, sehingga jumlah
air tersuling dapat diketahui volumenya.
Caranya : sampel yang mengadung air dicampur bersama dengan bahan pelarut jenuh ke dalam
labu bundar (pada alat), kemudian disuling sampai diperoleh air, dipisahkan, tidak bertambah
lagi (terlihat pada pipa ukur),

c.

Cara titrasi menurut Karl Fischer Penentuannya berdasarkan pada pemindahan belerang
dioksida dan Iod dengan air dengan adanya Piridin dan Metanol menurut persamaan reaksi
berikut :
I2 + SO2 + CH3OH + H2O 2HI + CH3HSO4
Piridin akan menangkap asam yang terbentuk dan akan terjadi reaksi secara kuantitatif
Penentuannya dilakukan dalam sebuah sistem titrasi tertutup terdiri dari labu titrasi dan buret.
Dalam sistem ini tidak ada kontak dengan udara diluar sistem titrasi, begitu juga dengan
pengaruh kelembaban udara. Sebelum dilakukan penentuan kadar air sampel, larutan reagen
Karl-Fischer dibakukan dengan asam oksalat (2H2O). disamping titrasi sampel, dengan cara yang
sama dilakukan juga terhadap blanko untuk mengetahui pengaruh dari medium larutan sampel.

45

TEORI SEDIAAN APOTEKER ITB ~ 2007/2008

SEMISOLIDA

Penentuan titik ekivalen dapat dilakukan secara visual, tetapi lebih baik secara elektrometris
(metode-Dead-Stop). Sebagai bahan pelarut untuk digunakan suatu campuran dari
benzen/metanol (9 : 1).
Untuk perhitungan kandungan air berlaku formula berikut :
% Air = {f.100(a-b)}/ Ew
f = nilai aktif/ kadar larutan pentiter (mg air/mL)
a = larutan peniter yang dibutuhkan (mL)
b = larutan peniter yang dibutuhkan untuk blanko (mL)
Ew = penimbangan zat/sampel (mg)
Metode ini sesuai dan cock untuk penentuan jumlah air dengan kadar rendah dalam sediaan
farmasetik dan lebih baik/tepat dilakukan secara berulang.
3. Penghamburan

Penghamburan suatu salep diartikan sebagai kemampuannya untuk dapat disebarkan pada kulit.
Penentuannya dilakukan denagn Ekstensometer
Sebuah sampel salep dengan volume tertentu diletakkan ke pusat antara 2 lempeng gelas, lempeng
sebelah atas dalam interval waktu tertentu diberi beban dengan cara diletakkan anak timbangan
diatasnya. Permukaan penyebaran yang dihasilkan dengan menaiknya pemberian beban
menggambarkan suatu karakteristik daya hambur.
Hasil yang lebih detail dapat diperoleh dengan cara menggambarkan pemberian beban (g) dan
penghamburan (mm2) dalam suatu grafik sistem koordinat.
4. Resistensi panas

Resistensi panas dari salep dilakukan dengan tes berayun. Uji ini cocok/sesuai digunakan untuk
mempertimbangkan daya simpannya pada daerah dengan iklim tropen nyata (terj adi perubahan suhu)
secara terus menerus.
Beberapa sampel salep yang dalam sebuah wadah tertutup ditempatkan dalam suatu kondisi
dengansuhu yang berubah secara kontinu dan berbeda-beda (misalnya 20 jam pada 37 C dan 4 jam
pada 100C) dan ditentukan waktunya. Selama ditempatkan pada kondisi suhu yang berubah,
dilakukan pengamatan adanya perubahan konsistensi dan homogenitas. salep yang baik tidak
menunjukkan perubahan konsistensi dan homogenitas.

45