Anda di halaman 1dari 11

KAJIAN PUSTAKA

KONSEP DAN KAIDAH DASAR FIQIH MAALIYAH

Disusun untuk Memenuhi Tugas Individu Mata Kuliah


Fiqih Muamalah
Yang dibina oleh Bapak Achmad Zaky, SE.,MSA.,Ak.,SAS.,CMA.,CA

Disusun oleh :

Arwilla Faurillie Ayu


O.
135020300111008

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
September 2016
KONSEP DAN KAIDAH DASAR FIQIH MAALIYAH
A. KAIDAH DASAR FIQIH
Al-qawaid merupakan bentuk jamak dari kata Qaidah (kaidah). Secara bahasa,

qaidah (kaidah) memiliki arti asas, dasar atau pondasi. Ahmad warson
menambahkan bahwa kaidah bisa berarti al-asas, yaitu dasar atau pondasi, alQanum yang berarti perarturan atau kaidah dasar, al-Mabda, yaitu prinsip, dan alNasaq yang berarti metode atau cara.
Al-jurjani mengatakan bahwa kaidah merupakan sebuah hukum atau perkara
universal yang bisa untuk memahami beberapa hukum dan masalah yang masuk
dalam cakupan pembahasannya. Dr Muhammad Shidqi Al Burnu menyimpulkan
bahwa kaidah fiqih adalah huku atau pondasi yang bersifat umum yang bisa untuk
memahami permasalah fiqih yang tercakup dalam pembahasannya (Sabiq,2009).
Kaidah fiqih dapat disimpukan bahwa kaidah fiqih merupakan kaidah-kaidah
yang berdifat umum, yang mengelompokkan masalah-masalah fiqih terperinci
menjadi beberapa kelompok, dan kaidah fiqih juga merupakan suatu pedoman yang
memudahkan dalam menyimpulkan hukum bagi suatu masalah dengan cara
menggolongkan masalah-masalah yang serupa denga suatu kaidah.
Terdapat manfaat kaidah fiqih, antara lain :
1) Adanya kaidah-kaidah fiqih dapat mengetahui prinsip-prinsip umum fiqih dan
mengatahui pokok masalah yang ada dalam fiqih dan dapat menjadi titik termu
dari masalah-masalah fiqih.
2) Dengan melihat kaidah-kaidah fiqih akan lebih mudah menetapkan hukum bagi
masalah-masalah yang dihadapi.
Macam-macam kaidah fiqih terbagi menjadi tiga, antara lain :
a) Dilihat dari sumbernya
b) Dilihat dari keluasan pembahasannya, kaidah fiqih dilihat dari luas dan
sempitnya pembahasan dan permasalah. , terbagi menajdi tiga :
Kaidah-kaidah besar yang mencangkup hampir seluruh bab fiqih islam
Kaidah yang tidak termasuk dalam kaidah besar, kaidah ini terbagi menajdi
dua, yaitu (1) kaidah yang manjadi cabang dari kaidah besar, (2) bukan
cabang, namun mencangkup banyak masalah fiqih.
c) Kaidah yang hanya memiliki permasalahan yang sempit
B. LINGKUP KAJIAN HUKUM ISLAM

Manusia merupakan makhluk sosial yaitu makhluk yang berkodrat hidup dalam
bermasyarakat. Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan manusia-manusia
yang lain yang hidup bermasyarakat.
Islam merupakan agama yang komprehensip yang mengatur semua aspek
kehidupan manusia yang telah disampaikan oleh Nabi Muhammad saw. Salah satu
aspek yang diatur adalah masalah aturan atau hukum, baik yang berlaku secara
individu maupun kelompok. Islam yang merupakan agama komprehensip
merupakan hukum islam yang tidak hanya ditetapkan untuk seorang individu tanpa
melibatkan keluarga, atau hukum islam yang tidak hanya untuk satu keluarga tanpa
melibatkan masyarakat.
Islam sebagai agama realistis merupakan hukum islam tidak mengabaikan
kenyataan dalam setiap perkara yang dihalalkan dan yang diharamkan. Dalam
lingkup kajian hukum islam, para ahli berbeda pendapat dalam meninjau hukum
islam. Menurut Musthafa Ahmad Az-Zarqa sebagai berikut :
1) Hukum ibadat (ahkam al-ibadat)
2) Hukum keluarga
3) Hukum muamalat (ahkam al-muamalat)
4) Hukum tata negara dan tata pemerintah
5) Hukum pidana (al-jinayat)
6) Hukum antarnegara
7) Hukum sopan santun
Menurut Abdul Wahhab Khalal (1997:58:60) mengatakan bahwa hukumhukum amal (ahkam amaliyah) yang berkaitan dengan seluruh perbuatan orang
yang melakukan hukum, baik ucapan, perbuatan, perjanjian. Distribusinya terbagi
atas dua bagian, yaitu hukum-hukum ibadah dan hukum-hukum muamalat, hukum
mualat terbagi menjadi tujuh, antara lain :
a) Hukum keluarga
b) Hukum perdata
c) Hukum pidana
d) Hukum acara

e) Hukum perundang-undangan
f)

Hukum ketatanegaraan

g) Hukum ekonomi dan harta benda


C. SUMBER HUKUM ISLAM
Para ulama mazhab memiliki perbedaan pandangan dalam mengklasifiskasikan
sumber dan metode (manhag) hukum, terutuma mazhab Hanafi, Maliki, Syafii,
Hambali dan Syiah.
Sumber fiqih secara umum berasal dari dua sumber utama, yaitu dalil naqli
yang berupa Al-Quran dan Al-Hadist, yang dimaksudkan dalam definisi fiqih yang
disampaikan oleh ulama golongan Syafii sebagai dalil-dalil yang terperinci, dan
dalil aqli yang berupa akal (Ijtihad). Menurut Khalaf (1997:36), ia mengemukakan
bahwa berdasarkan pada penyelidikan hukum-hukum amaliyah yang memenuhi
syarat untuk digunakan sebagai sumber pengambilan dalil-dalil syari adalah AlQuran, Sunnah, Ijma , dan qiyas. Oleh sebagian besar ulama, keempat sumber
tersebut disepakati sebagai sumber dalil, jika terdapat suatu permasalahan maka
upaya pertama kali yang dilakukan adalah mencari sumber dalil dari Al-Quran. Jika
didalam Al-Quran terdapat landasan hukumnya maka hukum tersebut harus
dilakukan. Jika di dalam Al-Quran tidak ada landasan hukumnya maka harus
mencari dalil dalam Sunnah.
Alasan mengenai penggunaan empat sumber tersebut merupakan firman Allah
SWT yang terkandung dalam surat An-Nisa ayat 59 :
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan
ulil amri di antara kamu, kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang
sesuatu maka kembalilah sesuatu tersebut kepada Allah (Al-quran) dan Rasul
(sunnahnya) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari
kemudian. Karena yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik
akibatnya.
1.

Al-Quran
Al-Quran adalah kitab Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad
SAW dengan bahasa arab yang memiliki tujuan kebaikan dan perbaikan

manusia, yang berlaku di dunia dan akhirat. Al-Quran merupakan hujjah


bagi manusia. Hukum-hukum yang terkandung di dalamnya merupakan
dasar hukum yang wajib dipatuhi, karena Al-quran merupakan kalam AlKhaliq yang diturunkan dengan jalan qathi dan tidak dapat diragukan
sedikitpun kepastiannya.
2.

Sunnah
Menurut Khalaf (1997:65) mengatakan bahwa Sunnah ialah sesuatu yang
datang dari Rasulullah saw., baik ucapan (qaulan), perbuatan (filan)
maupun ketetapan (taqriran). Sunnah qauliyah adalah segala sabda
Rasulullah dalam berbagai hal dan permasalahan, Sunnah filiyah
merupakan perbuatan Rasulullah, misalnya shalat, zakat, puasa, dan haji,
sedangkan Sunnah taqririyah merupakan perbuatan beberapa sahabat yang
disetujui oleh Rasulullah saw., baik mengenai ucapan sahabat maupun
perilakunya.

3.

Ijma
Ijma adalah kesepakatan seluruh mujtahid di antara umat Islam pada
penggalan waktu tertentu tentang hukum syariah Islam setelah wafatnya
Rasulullah, (Khalaf, 1997:82).

4.

Qiyas
Khalaf (1997:93) mengatakan bahwa qiyas merupakan suatu kejadian
yang tidak terdapat nashnya ke dalam kejadian lain yang terdapat nash dan
hukumnya telah ditetapkan karena adanya kesamaan di antara sebab
terjadinya (illah) dua kejadian tersebut.

D. PENGERTIAN FIQIH MUAMALAH


Muamalah merupakan salah satu bagian dari hukum islam. Muamalah adalah
bagian dari hukum islam, yaitu hal yang mengatur hubungan antar manusia dalam
masyarakat berkenaan dengan kebendaan dan kewajiban.
Fiqih muamalah merupakan pengetahuan mengenai transaksi yang bersifat
alamiah yang mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya dalam usaha
untuk memenuhi kebutuhan hidup yang berdasarkan hukum-hukum syariat.

Ruang lingkup fiqih muamalat adalah seluruh kegiatan muamalah yang


dilakukan oleh manusia yang berdasarkan pada hukum mengenai peraturanperaturan yang berisikan tentang perintah dan larangan. Hukum fiqih terdiri atas
hukum yang menyangkut dalam urusan pribadi yang berkaitan dengan hubungan
vertikal antara manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan manusia
lainnya.
Pembagian fiqih muamalah berkaitan dengan pandangan fuqoha dalam
mendefinisikan pengertian fiqih muamalah dalam arti sempit maupun luas.
Menurut Ibn Abidin, fiqih muamalah dibagi menjadi lima, yaitu :
1) Muamalah Maliyah ( Hukum Kebendaan).
2) Munakahat( Hukum Perkawinan).
3) Muhasanat ( Hukum Acara).
4) Amanat dan Ariyah (Pinjaman).
5) Tirkah( Harta Peninggalan)
Muamalah maliyah adalah medan hidup yang sudah tersentuh oleh tangantangan manusia sejak zaman klasik, bahkan zaman purbakala. Setiap orang
membutuhkan harta yang ada di tangan orang lain. Hal ini membuat manusia
berusaha membuat beragam cara pertukaran, bermula dengan kebiasaan melakukan
tukar menukar barang yang disebut barter, berkembang menjadi sebuah sistem jualbeli yang kompleks dan multidimensional.
E. AKAD DALAM MUAMALAH MALIYAH
Akad berasal dari bahasa arab yaitu ar-rabtu yang artinya menghubungkan
atau mengaitkan, atau mengikat antara beberapa ujun sesuatu. Suhendi (2008:4445) mengemukakan pengertian akad secara etimologis : (1) mengikat (ar-rabtu),
atau mengumpulkan dalam dua ujung tali dan mengikat salah satunya dengan jalan
lain sehingga tersambung, kemudia keduanya menjadi bagian dari sepotong benda,
(2) sambungan (aqdatun), atau sambungan yang memegang kedua ujung dan
mengikatnya, (3) Janji (al-ahdu), sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah :
(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat) dan
bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.

(QS. Ali Imran [3]:76)


Secara umum tujuan akad dapat dibagi menjadi lima bagian, antara lain :
Pemindahan milik dengan imbalan ataupun tanpa imbalan (at-tamlik).
Melakukan pekerjaan (al-amal)
Melakukan persekutuan (al-Isytirak)
Melakukan pendelegasian (at-Tafwidh)
Melakukan penjaminan (at-Tautsiq)
a.

Pembentukan Akad
1.

Syarat Akad
Zuhaily (1989:203-2-5 Juz IV) mengungkapkan pendapat Mazahab
Hanafi bahwa syarat yang ada dalam Akad dapat dikelompokkan, antara
lain :
1) Syarat sah (shahih) adalah syarat yang sesuai dengan substansi akad,
mendukung dan memperkuat substansi akad dan dibenarkan oleh
syara, sesuai dengan kebiasaan masyarakat.
2) Syarat rusak (fasid) merupakan syarat yang tidak sesuai dengan salah
satu kriteria yang ada dalam syarat sah.
3) Syarat batal (bathil) ialah syarat yang tidak mempunyai kriteria syarat
sah dan tidak memberi nilai manfaat bagi salah satu pihak atau lainnya,
akan tetapi akan menimbulkan dampak negatif.

2.

Rukun Akad
Rukun akad merupakan segala sesuatu yang bisa digunakan untuk
mengungkapkan kesepakatan atas dua kehendak atau sesuatu yang bisa
disamakan dengan hal itu dari tindakan isyarat (Al-Kasani, tt:132).
Menurut Mazahab Hanafi rukun yang terdapat dalam akad hanya ada
satu, yaitu serah terima (ijab qabul), sementara yang lainnya merupakan
derivasi dari pengucapan (shighah), artinya shighah tidak akan ada jika
tidak terdapat dua pihak yang bertransaksi dan objek yang ditransaksikan.
Akad hanya boleh terbentuk sekiranya cukup rukun-rukun yang telah

ditetapkanoleh Islam. Menurut mayoritas ulama, akad terbentuk melalui


empat rukun yaitu: (l) Al-'aqidain: Dua pihak yang berakad, yaitu semua
pihak yang terlibat secara langsungdengan akad seperti penjual dan
pembeli dalam akad bai' (jual beli) serta penyumbang modal dan pekerja
dalam akad mudharabah. (2) Maqud alaih : benda-benda yang menjadi
objek akad, seperti benda-benda yang dijual dalam akad jual beli, dalam
akad hibah. (3) Substansi akad (maudhuul aqd) ialah tujuan atau maksud
pokok dari pengaduan akad. (4) Sighah: yaitu ijab merupakan permulaan
penjelasan yang keluar dari salah seorang yang berakad sebagai gambaran
kehendaknya dalam mengadakan akad, dan qabul merupakan perkataan
yang keluar dari pihak berakad, yang diucapkan setelah adanya ijab.
b. Pembagian Akad
1.

Dilihat dari sisi ditentukan nama atau tidak, akad dibedakan menjadi dua:
Akad bernama (al aqd al-musamma) adalah akad yang bertujuan dan
namanya sudah ditentukan oleh pembuat hukum dan ditentukan pula
ketentuan-ketentuan khusus yang berlaku terhadapnya dan tidak
berlaku terhadap akad lain.
Akad tidak bernama, yaitu akad yang namanya tidak ditentukan oleh
pembuat hukum yang khusus serta tidak ada pengaturan tersendiri
mengenainya. Akad jenis ini dibuat dan ditentukan oleh para pihak
sendiri sesuai dengan kebutuhan mereka.

2.

Dilihat dari sisi kedudukan akad


Al-aqd al-ashli (akad pokok) yaitu akad yang keberadaanya
tidaktergantung dengan akad lain. Contoh akad jual beli, sewa
menyewa, penitipan.
Al-aqd al-tabii yaitu akad yang keberadaanya tergantung kepada suatu
hak yang menjadi dasar ada dan tidaknya atau sah dan tidaknya akad
tersebut. Contoh akad penanggungan (al-kafalah) dan akad gadai.
Kedua akad ini merupakan perjanjian untuk menjamin, karena itu
keduanya tidak ada jika hak-hak yang dijamin tidak ada.

3.

Dilihat dari tempo yang berlaku


Al-aqd al zamani(akad yang bertempo) ialah akad yang menjadi unsur
waktu sebagai bagian dari akad tersebut. Yang termasuk dalam akad ini
antara lain sewa menyewa, akad penitipan, akad pinjam-meminjam,
akad pemberian kuasa.
Al-aqd al-fauri(akad tidak bertempo) akad ini dimana unsur waktu
bukan merupakan bagian dari isi perjanjian.

4.

Dilihat dari aspek formalitasnya,akad dibedakan menjadi :


Akad konsensual (al-aqd al-radlai) yaitu akad yang terwujud atas
kesepakatan para pihak tanpa ada persyaratan formalitas-formalitas
tertentu.
Akad formalistik (al-aqd al-syakli) akad yang tunduk dalam syaratsyarat yang ditentukan oleh pembuat hukum syari.
Akad riil (al-aqd al-aini) adalah akad yang untuk terjadinya diharuskan
adanya penyerahan tunai objek akad, dimana akad tersebut belum
terjadi dan belum menimbulkan akibat hukum apabila belum
dilaksanakan.

c.

Macam-macam Akad
Menurut Suhedi (2008:50-55) dan Syafei (2001:66-70), macam-macam
akad dibedakan menjadi :
1.

Akad tanpa syarat (aqad munjiz), yaitu akan yang dilaksanakan langsung
pada waktu selesainya akad tanpa memberi batasan.

2.

Akad bersyarat (ghairu munjiz) atau aqad mualaq, yaitu akad yang
didalam pelaksanaannya terdapat syarat-syarat yang telah ditentukan dalam
akad. aqad ghairu munjiz dibedakan menjadi tiga, antara lain :
a) Syarat ketergantungan atau taliq syarat
b) Syarat ungkapan atau ta;yid syarat
c) Syarat penyandaran atau idhafah

3.

aqad Mudhaf merupakan akad yang dalam pelaksanaanya terdapat syaratsyarat mengenai penanggulangan pelaksanaan akad, pernyataan yang

pelaksanaannya diungguhkan hingga waktu yang ditentukan.


F. KAIDAH DASAR DALAM MUAMALAH MALIYAH
a.

Muamalah Maliyah
Muamalah maliyah mencangkup dua hal, antara lain :
1) Ahkam al-muawadhah, yaitu muamalah yang digunakan untuk maksud
adanya imbalan berupa keuntungan, usaha dan perdagangan, serta lainnya.
Di dalamnya tercakup: jual-beli, sewa menyewa, hak pilih, syarikat, dan
transaksi yang berhubungan dengannya.
2) Ahkam at-tabaruat, yaitu muamalah yang bertujuan untuk berbuat baik
dan memudahkan orang lain, seperti hadiah, pemberian, Wakaf,
pembebasan budak dan Wasiyat.

b. Kaidah Dasar
Syekh Shalih bin Abdil Aziz Alu Syekh (Menteri Urusan Wakaf, Dakwah,
dan Bimbingan Islam Negara Arab Saudi) pernah memberikan petunjuk bahwa
seseorang yang ingin meneliti dan membahas permasalahan-permasalahan
kiwari dan perkara nawazil, di antaranya fikih Muamalah Maliyah, harus
memahami hal-hal berikut ini:
1) Memahami pendapat para ulama yang mereka sampaikan dalam kitab-kitab
fikih dengan tepat hingga dapat membedakan gambaran permasalahan
dengan benar.
2) Mengetahui nash-nash yang menyampaikan masalah tersebut. Baik dalam
qimar, maisir, gharar, riba, dan yang lainnya dari kejadian dan masalah
yang beraneka ragam.
3) Mengetahui bahasa Arab yang menjadi dasar istilah syari dalam
mengungkapkan masalah-masalah tersebut.
4) Mengetahui istilahyang oleh ahli fikih disebut denganal jami wat tafriq,
yaitu kaidah yang menyatukan banyak permasalahan dan perbedaanperbadaan antara masalah-masalah tersebut.
5) Memiliki dan menguasai ilmu maqashid syariah.
DAFTAR PUSTAKA

Nawawi, Ismail. 2012. Fikih muamalah klasik dan konteporer. Bogor:Ghalia Indonesi.
Abdurrahman, Masduha.1992. Pengantar dan Asas-Asas Hukum Perdata Islam (Fiqih
Muamalah). Surabaya:Central Media.
TM. Hasbi Ash Shiddieqy.1997. Pengantar Fiqh Muamalah. Semarang, PT Pustaka
Rizki

Putra.

Bambang. 2015. fiqih muamalat. http://bambang89.heck.in. diakses pada tanggal 14


September 2016
Sahrani, Sohari dkk. 2011. Fikih Muamalah. Bogor, Ghalia Indonesia.
Kolisoh,

Siti

dan

Yadi

Setiadi.

2009.

makalah

tentang

akad.

https://chezam.wordpress.com/2009/10/14/makalah-tentang-akad/. diakses pada


tanggal 14 September 2016.