Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Eliminasi merupakan proses pembuangan sisa-sisa metabolisme
tubuh. Pmbuangan dapat melalui urine dan bowel (Tarwoto, Wartonah,
2006). Pemenuhan kebutuhan eliminasi terdiri dari kebutuhan eliminasi
alvi (berhubungan dengan defekasi) dan kebutuhan eliminasi urine
(berhubungan dengan berkemih). Defekasi adalah pengeluaran feses
dari anus dan rektum. Hal ini juga disebut bowel movement. Eliminasi
yang teratur dari sisa-sisa produksi usus penting untuk fungsi tubuh
yang normal. Perubahan pada eliminasi dapat menyebabkan masalah
pada gastrointestinal dan bagian tubuh yang lain. Karena fungsi usus
tergantung pada keseimbangan beberapa faktor, pola eliminasi dan
kebiasaan masing-masing orang berbeda. Untuk menangani masalah
eliminasi klien, perawat harus mengerti proses eliminasi yang normal
dan faktor-faktor yangmempengaruhi eliminasi.
Dalam memenuhi kebutuhan eliminasi sangat diperlukan
pengawasan terhadap masalah yang berhubungan dengan gangguan
kebutuhan eliminasi, seperti obstipasi, inkontinensia, retensi urine, dan
lainlain. Gangguan tersebut dapat mengganggu pola aktivitas seharihari.
Untuk memenuhi kebutuhan eliminasi, ada beberapa prosedur
keperawatan yang dapat dilakukan,di antaranya pemenuhan kebutuhan
eliminasi alvi dengan pispot pada pasien yang tidak mampu
melakukannya secara mandiri, melakukan huknah rendah, huknah
tinggi, pemberian gliserin per rectal, evakuasi feses manual, memenuhi
kebutuhan eliminasi urine dengan urinal pada pasien yang tidak
mampu melakukan secara mandiri dan pemasangan kateter kondom.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana konsep kebutuhan eliminasi?
2. Bagaimana faktor-faktor yang mempengaruhi eliminasi?
3. Bagaimana proses membantu pasien eliminasi BAB/BAK di atas
tempat tidur?
4. Bagaimana proses memasang popok/diapers pada pasien?
1.3 Tujuan Tulisan
1. Untuk mengetahui konsep kebutuhan eliminasi.
2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi eliminasi.
3. Untuk mengetahui proses membantu pasien eliminasi BAB/BAK di
atas tempat tidur.
4. Untuk mengetahui proses memasang popok/diapers pada pasien.
1.4 Manfaat Tulisan
1. Manfaat Teoretis
Secara teoretis, makalah ini diharapkan mampu menjadi
referensi atau masukan terhadap pembelajaran kebutuhan dasar
manusia untuk lebih memahami bagaimana proses membantu
pasien BAB/BAK di tempat tidur.
2. Manfaat Praktis
Secara praktis, makalah ini diharapkan mampu menjadi
pembelajaran bagi para mahasiswa dalam kaitannya dengan
pembelajaran kebutuhan dasar manusia mengenai proses membantu
pasien BAB/BAK di tempat tidur.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Konsep Kebutuhan Eliminasi


Menurut

kamus

bahasa

Indonesia,

eliminasi

adalah

pengeluaran, penghilangan, penyingkiran, penyisihan. Dalam bidang


kesehatan, eliminasi adalah proses pembuangan sisa metabolisme
tubuh baik berupa urin atau bowel (feses). Eliminasi pada manusia
digolongkan menjadi dua macam, yaitu:
1. Defekasi atau defekasi adalah suatu tindakan atau proses makhluk
hidup untuk membuang kotoran atau tinja yang padat atau
setengah-padat yang berasal dari sistem pencernaan (Dianawuri,
2009).
2. Miksi adalah proses pengosongan kandung kemih bila kandung
kemih terisi. Miksi ini sering disebut buang air kecil.
2.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Eliminasi
a. Faktor-faktor yang mempengaruhi defekasi antara lain:
1. Umur
Tidak hanya mempengaruhi karakteristik feses, tapi juga
pengontrolannya.
eliminasinya

Anak-anak

tidak

mampu

sampai sistem neuromuskular

mengontrol
berkembang,

biasanya antara umur 2 3 tahun. Orang dewasa juga


mengalami perubahan pengalaman yang dapat mempengaruhi
proses pengosongan lambung. Di antaranya adalah atony
(berkurangnya tonus otot yang normal) dari otot-otot polos
colon yang dapat berakibat pada melambatnya peristaltik dan
mengerasnya (mengering) feses, dan menurunnya tonus dari
otot-otot perut yagn juga menurunkan tekanan selama proses
pengosongan lambung. Beberapa orang dewasa juga mengalami
penurunan kontrol terhadap muskulus spinkter ani yang dapat
berdampak pada proses defekasi.
2. Diet
Makanan adalah faktor utama yang mempengaruhi eliminasi
feses. Cukupnya selulosa, serat pada makanan, penting untuk
memperbesar volume feses. Makanan tertentu pada beberapa

orang sulit atau tidak bisa dicerna. Ketidakmampuan ini


berdampak pada gangguan pencernaan, di beberapa bagian jalur
dari pengairan feses. Makan yang teratur mempengaruhi
defekasi. Makan yang tidak teratur dapat mengganggu
keteraturan pola defekasi. Individu yang makan pada waktu
yang sama setiap hari mempunyai suatu keteraturan waktu,
respon fisiologi pada pemasukan makanan dan keteraturan pola
aktivitas peristaltik di colon.
3. Cairan
Pemasukan cairan juga mempengaruhi eliminasi feses. Ketika
pemasukan cairan yang adekuat ataupun pengeluaran (cth:
urine, muntah) yang berlebihan untuk beberapa alasan, tubuh
melanjutkan untuk mereabsorbsi air dari chyme ketika ia lewat
di sepanjang colon. Dampaknya chyme menjadi lebih kering
dari normal, menghasilkan feses yang keras. Ditambah lagi
berkurangnya pemasukan cairan memperlambat perjalanan
chyme

di

sepanjang

intestinal,

sehingga

meningkatkan

reabsorbsi cairan dari chyme.


4. Tonus Otot
Tonus perut, otot pelvik dan diafragma yang baik penting untuk
defekasi. Aktivitasnya juga merangsang peristaltik yang
memfasilitasi pergerakan chyme sepanjang colon. Otot-otot
yang lemah sering tidak efektif pada peningkatan tekanan
intraabdominal selama proses defekasi atau pada pengontrolan
defekasi. Otot-otot yang lemah merupakan akibat dari
berkurangnya latihan (exercise), imobilitas atau gangguan
fungsi syaraf.
5. Faktor Psikologi
Dapat dilihat bahwa stres dapat mempengaruhi defekasi.
Penyakit-penyakit tertentu termasuk diare kronik, seperti ulcus
pada collitis, bisa jadi mempunyai komponen psikologi.
Diketahui juga bahwa beberapa orang yagn cemas atau marah
dapat meningkatkan aktivitas peristaltik dan frekuensi diare.

Ditambah lagi orang yagn depresi bisa memperlambat motilitas


intestinal, yang berdampak pada konstipasi.
6. Gaya Hidup
Gaya hidup mempengaruhi eliminasi feses pada beberapa cara.
Pelathan buang air besar pada waktu dini dapat memupuk
kebiasaan defekasi pada waktu yang teratur, seperti setiap hari
setelah sarapan, atau bisa juga digunakan pada pola defekasi
yang ireguler. Ketersediaan dari fasilitas toilet, kegelisahan
tentang bau, dan kebutuhan akan privacy juga mempengaruhi
pola eliminasi feses. Klien yang berbagi satu ruangan dengan
orang lain pada suatu rumah sakit mungkin tidak ingin
menggunakan bedpan karena privacy dan kegelisahan akan
baunya.
7. Obat-obatan
Beberapa obat memiliki efek samping yang dapat berpengeruh
terhadap eliminasi yang normal. Beberapa menyebabkan diare;
yang lain seperti dosis yang besar dari tranquilizer tertentu dan
diikuti dengan prosedur pemberian morphin dan codein,
menyebabkan
mempengaruhi

konstipasi.Beberapa
eliminasi.

obat

Laxative

secara

adalah

langsung

obat

yang

merangsang aktivitas usus dan memudahkan eliminasi feses.


Obat-obatan ini melunakkan feses, mempermudah defekasi.
Obat-obatan

tertentu

seperti

dicyclomine

hydrochloride

(Bentyl), menekan aktivitas peristaltik dan kadang-kadang


digunakan untuk mengobati diare.
b. Faktor-faktor yang mempengaruhi miksi, yaitu:
1. Jumlah air yang diminum
Semakin banyak air yang diminum jumlah urin semakin
banyak. Apabila banyak air yang diminum, akibatnya
penyerapan air ke dalam darah sedikit, sehingga pembuangan
air jumlahnya lebih banyak dan air kencing akan terlihat bening
dan encer. Sebaliknya apabila sedikit air yang diminum,
akibatnya penyerapan air ke dalam darah akan banyak sehingga
pembuangan air sedikit dan air kencing berwarna lebih kuning .
2. Jumlah garam yang dikeluarkan dari darah

Supaya tekanan osmotik tetap, semakin banyak konsumsi


garam maka pengeluaran urin semakin banyak.
3. Tonus otot
Eliminasi urin membutuhkan tonus otot kandung kemih, otot
abdomen, dan pelvis untuk berkontraksi. Jika ada gangguan
tonus otot, dorongan untuk berkemih juga akan berkurang.
Mekanisme awal yang menimbulkan proses berkemih volunter
belum diketahui dengan pasti. Salah satu peristiwa awal adalah
relaksasi otot-otot dasar panggul, hal ini mungkin menimbulkan
tarikan yang cukup besar pada otot detrusor untuk merangsang
kontraksi. Kontraksi otot-otot perineum dan sfingter eksterna
dapat dilakukan secara volunter sehingga mampu mencegah
urin mengalir melewati uretra atau menghentikan aliran urin
saat sedang berkemih (Guyton, 2006).
4. Konsentrasi hormon insulin
Jika konsentrasi insulin rendah,

orang

akan

sering

mengeluarkan urin. Kasus ini terjadi pada orang yang menderita


kencing manis.
5. Hormon antidiuretik (ADH)
Hormon ini dihasilkan oleh kelenjar hipofisis bagian belakang.
Jika darah sedikit mengandung air, maka ADH akan banyak
disekresikan ke dalam ginjal, akibatnya penyerapan air
meningkat sehingga urin yang terjadi pekat dan jumlahnya
sedikit. Sebaliknya, apabila darah banyak mengandung air,
maka ADH yang disekresikan ke dalam ginjal berkurang,
akibatnya penyerapan air berkurang pula, sehingga urin yang
terjadi akan encer dan jumlahnya banyak.
6. Suhu lingkungan
Ketika suhu sekitar dingin, maka tubuh akan berusaha untuk
menjaga suhunya dengan mengurangi jumlah darah yang
mengalir ke kulit sehingga darah akan lebih banyak yang
menuju organ tubuh, di antaranya ginjal. Apabila darah yang
menuju ginjal jumlahnya samakin banyak, maka pengeluaran
7.

air kencing pun banyak.


Gejolak emosi dan stress

Jika seseorang mengalami stress, biasanya tekanan darahnya


akan meningkat sehingga banyak darah yang menuju ginjal.
Selain itu, pada saat orang berada dalam kondisi emosi, maka
kandung kemih akan berkontraksi. Dengan demikian, maka
timbullah hasrat ingin buang air kecil.
8. Minuman alkohol dan kafein
Alkohol dapat menghambat pembentukan hormon antidiuretika.
Seseorang yang banyak minum alkohol dan kafein, maka
jumlah air kencingnya akan meningkat.
2.3 Membantu Pasien Eliminasi BAB/BAK di Atas Tempat Tidur
2.3.1

Membantu Menggunakan Pispot dan Urinal


A. Pengertian
Membantu pasien yang hendak buang air besar atau
buang air kecil (BAB/BAK) di atas tempat tidur.
Tujuan:
1. Membantu pasien dalam upaya memenuhi
kebutuhan eliminasi.
2. Mengurangi pergerakan pasien.
3. Mengetahui adanya kelainan feses/urine secara

B.

langsung.
4. Menjaga kebersihan pasien dan alat tenun pasien.
Persiapan alat

C.

1. Pispot dan tutupnya atau urinal


2. Sampiran
3. Alas bokong
4. Bangku kecil untuk pispot/trolly
5. Bel (jika ada)
6. Tisu
7. Dua baskom berisi air (satu untuk bilas sabun)
8. Sabun
9. Dua waslap
10. Handuk
11. Linen (jika diperlukan)
12. Selimut mandi
Prosedur Pelaksanaan
1. Jelaskan tujuan dan prosedur.
2. Bawa alat ke dekat pasien.
3. Tutup jendela dan pasang sampiran.
4. Cuci tangan.
5. Pasang selimut mandi dan turunkan selimut pasien.
6. Tinggikan tepi tempat tidur untuk mencegah pasien
jatuh.
7. Minta pasien untuk mengangkat bokongnya atau miring
(jika perlu dibantu perawat), lalu bentangkan alas
bokong pasien.
8. Buka pakaian pasien bagian bawah.
9. Anjurkan pasien untuk berpegangan di bawah/bagian
belakang tempat tidur sambil menekuk lutut dan diikuti
dengan mengangkat bokong kemudian masukkan pispot
perlahan-lahan. (gambar)
10. Jika pasien pria, pasang urinal untuk BAK.
11. Pastikan bahwa sprei dan stik tidak terkena.
12. Tinggalkan pasien dan anjurkan untuk membunyikan
bel jika sudah selesai atau memberi tahu perawat.
13. Jika sudah selesai, tarik pispot dan letakkan lengkap
dengan tutupnya di atas kursi atau meja dorong.
14. Bersihkan daerah perianal dengan tisu (untuk pasien
wanita, bersihkan mulai dari uretra sampai dengan anus
untuk mencegah perpindahan mikroorganisme dari
rectal ke saluran kemih) kemudian buang tisu ke dalam
pispot.
15. Gunakan waslap untuk mencuci daerah perianal dengan
air sabun.
16. Bilas dengan air bersih.
8

17. Keringkan daerah perianal dengan handuk.


18. Angkat alas bokong
19. Kembalikan posisi pasien seperti semula.
20. Kenakan kembali pakaian pasien.
21. Angkat selimut mandi dan sekaligus menarik selimut
pasien ke atas.
22. Ganti linen jika kotor karena terkena feses atau urine.
23. Rapikan pasien lalu buka sampiran dan jendela.
24. Jika perlu diberi pengharum ruangan.
25. Bersihkan pispot lalu cuci tangan.
26. Dokumentasikan warna, bau, feses, urine, dan
konsistensi feses serta catat kondisi daerah perianal.
2.3.2 Kateterisasi Perkemihan
A.
Pengertian
Kateterisasi perkemihan adalah tindakan memasukkan slang
karet atau plastic melalui uretra dan masuk ke dalam
kandung kemih. Terdapat dua jenis kateterisasi perkemihan,
yaitu menetap dan intermiten.
Tujuan:
1. Menghilangkan ketidaknyamanan

karena

distensi

kandung kemih.
2. Mendapatkan urine steril untuk specimen.
3. Pengkajian residu urine.
4. Penatalaksanaan pasien yang dirawat karena trauma
medulla

spinalis,

gangguan

neuromuscular,

atau

inkompeten kandung kemih, serta pascaoperasi besar.


5. Mengatasi obstruksi aliran urine.
6. Mengatasi retensi perkemihan.
B. Persiapan Alat
1. Sarung tangan steril
2. Kateter steril (sesuai dengan ukuran dan jenis)
3. Duk steril
4. Minyak pelumas/jeli
5. Larutan pembersih antiseptic (kapas sublimat)
6. Spuit yang berisi cairan atau udara
7. Perlak
8. Pinset anatomi
9. Bengkok
10. Kantung penampung urine
11. Sampiran
C. Kateterisasi pada Perkemihan Wanita
1. Jelaskan prosedur.
2. Cuci tangan.
3. Pasang sampiran.

4.
5.
6.
7.

Pasang perlak.
Gunakan sarung tangan steril.
Pasang duk steril di sekitar alat genital.
Bersihkan vulva dengan kapas sublimat dengan arah
dari atas ke bawah (kurang lebih tiga kali hingga

bersih).
8. Buka labia mayora dengan ibu jari dan telunjuk tangan
kiri dan bersihkan bagian dalam.
9. Kateter diberi minyak pelumas atau jeli pada ujungnya
(kurang lebih 2,5-5 cm) lalu masukkan perlahan dan
minta pasien menarik napas dalam, masukkan (2,5-5
cm) atau hingga urine keluar.
10. Setelah selesai isi balon dengan cairan aquades atau
sejenisnya dengan menggunakan spuit untuk kateter
menetap dan bila intermiten tarik kembali sambil pasien
menarik napas dalam.
11. Sambung kateter dengan kantong penampung urine dan

D.
1.
2.
3.
4.

fiksasi ke arah samping.


12. Rapikan alat.
13. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan.
14. Catat prosedur dan respon pasien.
Kateterisasi pada Perkemihan Pria
Pegang penis dengan tanganyang tidak dominan.
Penis tarik sedikit keatas, sehingga tegak lurus.
Bersihkan penis dengan benar.
Masukkan ujung kateter ke dalam uretra dengan mengarah
ke bawah. Bila kateter masuk dengan benar, makan akan

keluar urine.
5. Bila urine keluar, kateter harus dimasukkan hingga sudah
benar-benar tidak bisa didorong lagi. Tetapi mendorongnya
tidak boleh dengan paksa, melainkan hati-hari.
6. Masukkan aquades sebanyak jumlah air yang tertulis dalam
bungkus kateter. Hal tersebut dilakukan dengan spuit ke
dalam balon kateter kemudian tari kateter perlahan-lahan
sampai tidak bisakeluar lagi. Sambungkan ujung bawah
kateter dengan urine bag. Rekatkan kateter ke paha klien
dengan pleste agar kateter tidak lepas.

10

7. Bila diperlukan pemeriksaan urine, maka urine ditampung


di botol atau tempat spesimen. Catat nama klien, dan

2.3.3

tanggal pengambilan.
8. Rapihkan kembali alat-alat.
9. Cuci tangan anda.
Pemasangan Kondom Kateter
A. Pengertian
Kondom kateter adalah alat drainase urine eksternal yang
mudah untuk digunakan dan aman untuk mengalirkan urine
pada klien pria.
Tujuan:

a. Untuk mengumpulkan urine dan mengontrol inkontinensia urine.


b. Mencegah iritasi pada kulit akibat inkontinensia urine.
c. Klien dapat melakukan aktivitas fisik tanpa harus terganggu karena
inkontinensia urine
B. Indikasi
Klien inkontinensia urine.

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
1.
2.
3.
4.

C. Persiapan Alat
Kondom kateter.
Strip elastis atau perekat
Urine bag dengan selang drainase
Baskom dengan air hangat dan sabun
Handung dan waslap
Selimut mandi
Sarung tangan
Perlak pengalas
D. Prosedur Pelaksanaan
Jelaskan prosedur tindakan kepada klien.
Jaga privacy klien.
Cuci tangan dengan prinsip lima langkah cuci tangan yang benar.
Atur posisi klien trendelenberg. Lepaskan pakaian bawah klien lalu tutup

dengan selimut mandi.


5. Pasang perlak pengalas pada bokong klien.
6. Kenakan sarung tangan.
7. Bersihkan alat genitalia dengan air dan sabun menggunakan waslap. Lalu
keringkan.
8. Genggam penis dengan salah satu tangan. Penis tegakkan.

11

9. Pasang kondom kateter pada ujung penis dan dengan perlahan pasangkan
pada batang penis.
10. Sisakan 2.5-5 cm ruang antara glans penis dan ujung kondom kateter
untuk menghindari kelebihan pemanjangan glans penis.
11. Lilitkan perekat elastis menyeluruh pada kantong kondom yang melingkar
di batang penis.
12. Hubungkan selang drainase pada ujung kondom.
13. Posisikan klien pada posisi yang nyaman.
14. Rapihkan alat dan tempat tidur klien.
15. Lepaskan sarung tangan lalu cuci tangan.
16. Dokumentasikan prosedur ini beserta hasilnya.
2.4 Memasang Diapers/Popok
A. Persiapan Alat
1. Kapas/Tisu basah/Lap kain
2. Baskom kecil berisi air matang untuk mencuci pantat
pasien.
3. Handuk kecil berbahan lembut (untuk mengeringkan
pantat pasien setelah dibersihkan).
4. Popok/diapers bersih.
B. Prosedur Pelaksanaan
1. Buka pakaian atau celananya agar tidak kotor.
2. Lepaskan popok dengan melipat ke arah belakang (agar
bagian yang kotor tidak menempel ke pasien).
3. Gunakan bagian depannya untuk membersihkan kotoran
pasien .
4. Lindungi alat vital pasien dari kotorannya dengan kain
bersih.
5. Biarkan popok berada di bawah pantat, mungkin saja
kotorannya keluar lagi, baru singkirkan.
6. Angkat kedua kaki pasien sampai pantatnya terangkat lalu
bersihkan area pantat hingga ke bagian depan dengan tisu
atau lap basah yang lembut. Jika pasien adalah seorang
wanita, seka dari depan ke belakang menjauhi vagina untuk
menghindari infeksi.
7. Setelah pantat pasien

dibersihkan

dan

dikeringkan,

letakkan bagian popok yang bertali di bawah pantat


pasien.

12

8. Lipat ke atas bagian depan popok hingga menutup alat


vital pasien. Simpulkan talinya di tengah atau gunakan
peniti.
9. Ganti pakaian pasien dan jangan lupa mencuci tangan
setelahnya.

BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
1. Eliminasi pada manusia digolongkan menjadi dua macam yaitu
defekasi atau buang air besar dan miksi atau buang air kecil.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi defekasi yaitu umur, diet, cairan,
tonus otot, faktor psikologi, gaya hidup, dan obatobatan. Sedangkan
faktor-faktor yang mempengaruhi miksi yaitu jumlah air yang
diminum, jumlah garam yang dikeluarkan dari darah, tonus otot,
konsentrasi hormone insulin, hormon antidiuretik (ADH), suhu
lingkungan, gejolak emosi dan stress, minuman alkohol dan kafein.

13

3. Membantu pasien yang hendak buang air besar atau buang air kecil
(BAB/BAK) di atas tempat tidur dapat menggunakan pispot atau
urinal, kateter menetap atau intermiten, dan kondom kateter.
4.
3.2 Saran
Saran yang dapat kami sampaikan kepada para mahasiswa
keperawatan agar lebih memahami pembelajaran kebutuhan dasar manusia
dan mampu mengaplikasikannya apabila menemui klien dalam masalah
eliminasi.

14