Anda di halaman 1dari 12

AJARAN PRAKSIS SUNAN KALIJAGA DALAM TEMBANG ILIR-ILIR

Renda Yuriananta
Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya

ABSTRAK
Sunan Kalijaga adalah salah satu dari walisanga (sembilan wali) yang
menyebarkan agama islam di pulau Jawa. Gaya penyebaran islam Sunan Kalijaga
berbeda dengan beberapa Sunan yang termasuk dalam walisanga. Sunan Kalijaga
melakukan akulturasi antara ajaran Islam dengan budaya Jawa serta beberapa ajaran
agama yang sudah mapan di Jawa (Hindu-Budha). Hal yang ditekankan oleh Sunan
Kalijaga dalam mengajarkan agama Islam adalah pada pengalaman praktis kehidupan
sehari-hari orang Jawa dalam memahami sangkan paraning dumadi" Salah satu media
yang digunakan oleh Sunan Kalijaga adalah tembang Ilir-Ilir Tembang tersebut
adalah tembang dolanan yang banyak diketahui dan ditembangkan oleh anak-anak kecil.
Dibalik kesederhanaan bentuk luar tembang tersebut, ada ajaran yang sangat dalam
yang disampaikan oleh Sunan Kalijaga, yaitu mengenai gambaran pergantian
kekuasaan, perbaikan akhlak para pemimpin, dan nilai Pancasila-Buddhid (ajaran
moral).
Kata Kunci: Sunan Kalijaga, ajaran, tembang, Jawa

PENDAHULUAN
Sunan Kalijaga adalah salah satu dari walisanga (sembilan wali) yang menyebarkan
agama islam di pulau Jawa. Nama sebenarnya dari Sunan Kalijaga adalah Raden Syahid,
anak dari Adipati Tuban, Tumenggung Wilatikta. Pada masa sebelum menjadi seorang sunan,
Raden Syahid adalah seorang pencuri yang hasilnya diberikan pada orang miskin. Hal ini
dilakukan karena pada saat itu terjadi penyalahgunaan kekuasaan sehingga para petinggi
(orang kaya) menjadi semakin kaya dan orang kecil menjadi semakin miskin. Perilaku Raden
Syahid tersebut bisa dianggap buruk, tetapi di sisi lain perbuatan tersebut dapat dianggap
baik. Setelah diusir dari Kadipaten Tuban, Raden Syahid bertemu dengan Sunan Bonang dan
menjadi muridnya. Setelah itu, barulah Raden Syahid dikenal dengan sunan Kalijaga dan
mulai menyebarkan islam di pulau Jawa. Gaya penyebaran islam Sunan Kalijaga berbeda
dengan beberapa Sunan yang termasuk dalam walisanga. Sunan Kalijaga melakukan
akulturasi antara ajaran Islam dengan budaya Jawa serta beberapa ajaran agama yang sudah
mapan di Jawa (Hindu-Budha). Hal yang ditekankan oleh Sunan Kalijaga dalam mengajarkan
agama Islam adalah pada pengalaman praktis kehidupan sehari-hari orang Jawa dalam

Penulis adalah mahasiswa semester 6 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Fakultas Ilmu Budaya, Universita Brawijaya

memahami sangkan paran(Chodjim, 2013:15). Media pengajaran yang digunakan oleh


Sunan adalah melalui wayang, tembang, dan kidung. Salah satu tembang yang mengandung
ilmu praktis dalam menjalani kehidupan bagi orang Jawa adalah tembang Ilir-Ilir
Tembang Ilir-Ilir adalah tembang yang tidak asing bagi masyarakat Jawa, khususnya
anak-anak. Tembang tersebut merupakan salah satu tembang dolanan yang biasa ditembangkan oleh anak-anak kecil (masa sekarang budaya ini sudah semakin luntur). Biasanya, anakanak SD di Jawa pasti dikenalkan oleh gurunya mengenai tembang ini. Hal yang dapat
dikritisi dari sini adalah apakah anak-anak SD dapat memahami isi dalam tembang ini dan
apakah sebenarnya guru yang mengajarkan tembang ini juga memahami apa yang diajarkan
Sunan Kalijaga dalam tembang ini. Jelas bahwa Sunan Kalijaga tidak semata-mata menciptakan tembang Ilir-Ilir hanya sebagai tembang dolanan yang enak untuk ditembangkan Ada
hal lain yang ingin disampaikan Sunan dalam tembang ini. Tembang ini tidak dapat dikaji
secara mentah. Butuh sebuah analisis secara historis dalam melihat secara keseluruhan
substansi yang disampaikan Sunan di dalam tembang ini. Dari anggapan inilah, penulis ingin
mendeskripsikan perspektif lain dalam memaknai tembang Ilir-Ilir yang diciptakan oleh
Sunan Kalijaga.

Transliterasi dan Bedah Makna Sederhana Tembang Ilir-Ilir


Sudah menjadi rahasia umum bahwa semua tradisi lisan (salah satunya tembang IlirIlir) tidak akan memiliki bentuk yang pasti dan benar Hal itu dikarenakan perspektif yang
berbeda-beda dari masing-masing masyarakat dalam melihat suatu objek. Objek yang
menjadi bahasan di sini adalah tradisi lisan. Tradisi lisan tidak memiliki bentuk yang pasti
dan semua orang benarkan. Bentuk-bentuk yang berbeda ini adalah wujud dari konvensikonvensi masyarakat tertentu dalam melihat suatu tradisi lisan. Oleh karena itu, tidak ada
bentuk yang paling benar dalam tembang Ilir-Ilir Di sini, penulis menggunakan transkripsi
dari bentuk lisan yang paling banyak disepakati oleh orang. Bentuk dari tembang Ilir-Ilir
tersebut adalah sebagai berikut.

Lir ilir lir ilir


Tandure wong sumilir
Tak ijo royo royo
Tak sengguh panganten anyar

Dikenal dengan sangkan paraning dumadi (asal dan kembalinya manusia), salah satu filsafat Jawa dalam budaya Jawa

Cah angon cah angon


Penekna blimbing kuwi
Lunyu lunyu penekna
Kanggo mbasuh dodotira
Dodotira dodotira
Kumintir bedah ing pinggir
Dondomana jrumatana
Kanggo seba mengko sore
Mumpung padang rembulane
Mumpung jembar kalangane
Yo suraka surak hore
Lir-ilir lir-ilir Tanamannya sudah terlihat baik Terlihat hijau subur Bagaikan
pengantin baru. Wahai gembala, panjatlah pohon belimbing itu. Meskipun licin, tetap
panjatlah. Gunakan perasan buahnya untuk penyuci hama pada dodot Anda. Dodot Anda,
robek di pinggir. Silakan Anda jahit dodot Anda, untuk menghadap nanti sore. Ketika masih
ada kesempatan cahaya bulan bersinar terang. Ketika masih ada kesempatan yang sangat
lebar. Mari berteriak, teriak hore."
Seperti itulah hasil transliterasi dari tembang Jawa Ilir-Ilir dengan bahasa Jawa
menjadi berbahasa Indonesia. Transliterasi ini digunakan untuk memberikan pemahaman
bentuk eksplisit dari tembang tersebut sehingga mudah untuk dipahami oleh banyak orang,
termasuk penulis. Bagi penulis, transliterasi tersebut berguna dalam analisis isi dari tembang
tersebut.
Dapat dilihat dalam transliterasi tersebut, secara keseluruhan, isi dari tembang tersebut
adalah mengenai keceriaan dan kebahagiaan. Keceriaan adalah perlambangan dari dunia
anak. Dari keceriaan yang secara eksplisit dapat dilihat dalam tembang ini, secara tidak
langsung berhubungan dengan kesukaan anak-anak kecil dalam menembangkan tembang
tersebut. Anak-anak dapat nembang dengan bahagia dan tanpa beban oleh karena bentuk luar
tembang yang melambangkan hal tersebut. Pengulangan bunyi yang terjadi pada setiap baris
dan bait menambah unsur kebahagiaan, seperti pada pengulangan bentuk lir-ilir lir-ilir,
cah angon-cah angon, lunyu-lunyu penekna, dsb Selain kemunculan bunyi yang indah,
tembang tersebut juga mudah untuk dihapalkan karena bentuknya sederhana dan banyak
pengulangan. Oleh karena itu, banyak anak-anak kecil di Jawa yang mengetahui dan tidak
asing dengan tembang tersebut.
Secara eksplisit, tembang tersebut mengungkapkan mengenai suasana hembusan angin
yang sepoi-sepoi dengan tanaman-tanaman yang hijau dan subur bagaikan pengantin baru.

Dodot adalah jenis pakaian yang digunakan oleh petinggi (Adipati) pada masa Majapahit (kerajaan Jawa).

Selanjutnya menggambarkan mengenai permintaan tolong kepada anak-anak penggembala


untuk memetikkan buah belimbing untuk diperas dan dibasuhkan pada dodot, walaupun
pohon yang dipanjat licin. Bait selanjutnya, menggambarkan mengenai seruan kepada
pemilik dodot, agar menjahit kembali dodot yang sudah sobek-sobek di pinggirnya untuk
menghadap sore hari. Pada bait akhirnya, menggambarkan mengenai situasi kesempatan yang
sangat terbuka lebar untuk melakukan segala hal dan bulan sedang bersinar terang serta
mengajak untuk bersorak hore
Secara garis besar, seperti itulah makna eksplisit yang dimunculkan di dalam tembang
tersebut. Tembang tersebut menceritakan gambaran-gambaran situasi yang penuh kebahagiaan dan keceriaan. Penggambaran suasana tersebut dilakukan dengan narasi-narasi cerita yang
sederhana sehingga membentuk makna yang juga sederhana. Bagi anak-anak, pengetahuan
yang hanya terbatas seperti itu tidak menjadi masalah yang besar. Anak-anak tidak harus atau
belum saatnya mengupas makna yang mendalam dari tembang tersebut. Ada masa tersendiri
bagi mereka dalam merenungi maksud tembang tersebut. Berbeda dengan orang dewasa atau
pun kalangan akademisi, mereka adalah orang-orang yang seharusnya dapat mengupas
makna di balik kesederhanaan cerita yang disampaikan secara eksplisit oleh Sunan Kalijaga.
Ada sebuah runtutan tertentu yang mungkin diharapkan oleh Sunan Kalijaga dalam
penyebaran ajaran agama Islam melalui tembang tersebut. Pertama, penggunaan bahasa,
istilah sederhana, bunyi yang diulang-ulang, dan kemudahan pelantunan rima menjadi
runtutan awal dalam memberikan pemahaman terhadap masyarakat Jawa mengenai ajaran
Sunan Kalijaga. Pada runtutan awal tersebut, terjadi sebuah kemudahan dan ketertarikan dari
seorang anak dalam mengingat serta menembangkan tembang tersebut. Secara tidak
langsung, ingatan mengenai bentuk eksplisit dari tembang tersebut tersimpan dalam diri anak
tersebut dan menjadi tidak asing bagi dirinya. Setelah anak itu menjadi manusia dewasa,
masuklah pada runtutan kedua, yaitu merenungi makna sebenarnya dari tembang tersebut.
Disadari atau tidak, ingatan mengenai bentuk eksplisit tembang tersebut akan terekam lama
di dalam diri seorang anak tadi hingga dia menjadi dewasa. Pada saat dewasa itulah,
kepekaan dan kekritisan yang dimilikinya dapat digunakan sebagai jalan perenungan dari
tembang tersebut. Kepekaan dan kekritisan tersebut diharapkan dapat mengungkapkan ajaran
yang sebenarnya disampaikan oleh Sunan Kalijaga. Permasalahannya, tidak semua orang
memiliki kepekaan dan kekritisan dalam melihat suatu objek atau pun fenomena. Di sini,
muncullah akademisi yang seharusnya dapat menjadi jembatan bagi melihat secara dalam
mengenai ajaran Sunan Kalijaga di dalam tembang Ilir-Ilir tersebut

Seperti dikatakan sebelumnya, Sunan Kalijaga bukanlah orang yang secara iseng
membuat sebuah tembang Ilir-Ilir Secara pasti, ada sebuah ajaran yang memang benarbenar diharapkan oleh Sunan agar diterapkan oleh masyarakat, khususnya masyarakat Jawa.
Ajaran tersebut tidak dapat dipahami jika hanya melihat tembang tersebut dari bentuk yang
tampak saja. Perlu adanya sebuah analisis yang cukup dalam untuk menggali ajaran-ajaran
praktis Sunan Kalijaga dalam menjalani kehidupan di dunia. Oleh karena itu, penulis akan
menjabarkan beberapa ajaran Sunan Kalijaga dalam tembang tersebut di bab selanjutnya.

Sejarah Peralihan Kekuasaan dalam Tembang Ilir-Ilir


Seperti yang sudah dijelaskan pada bab sebelumnya, tembang Ilir-Ilir bukan sematamata pengambaran suasana yang sederhana (seperti yang dimaknai anak-anak kecil) atau pun
karya iseng dari Sunan Kalijaga. Ada sebuah ajaran mengenai kehidupan dari Sunan
Kalijaga. Ajaran-ajaran tersebut dieksplisitkan menjadi bentuk yang sederhana dan bermakna
lain dari ajaran yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Sunan.
Banyak orang yang sudah tahu bahwa walisanga muncul pada masa peralihan dari
kekuasaan kerajaan Majapahit menjadi kekuasaan kerajaan Islam Demak. Terjadi transisi
yang berdampak besar bagi masyarakat. Berbagai aturan yang sebelumnya berlandaskan pada
ajaran Syiwa-Budha berubah menjadi tata aturan yang bernapaskan Islami (Chodjim,
2013:177). Satu hal yang paling tampak secara lahiriah adalah pergantian dari penggunaan
kemben bagi kaum wanita menjadi kebaya. Dari hal tersebut, dapat dilihat secara langsung
perubahan tata cara dan aturan pada masa transisi tersebut.
Pada masa peralihan tersebut, Sunan Kalijaga memilih jalan akulturasi budaya antara
Islam dengan Jawa agar tidak menimbulkan konflik yang besar bagi raja-raja, para pemimpin,
dan bahkan masyarakat biasa. Sunan tidak mengajarkan Islam secara langsung dengan
berbagai ayat-ayat Al-Quran, tetapi dengan mengajarkan perbaikan moral yang secara
aplikatif dan berlandaskan pada Kitab. Jika dilihat secara sekilas, akan sulit menemukan sisi
Islami dari tembang Ilir-Ilir Tidak ada satu bagian pun yang menyebutkan tentang
perbaikan moral/akhlak atau pun keyakinan terhadap Allah. Hal ini dilakukan oleh Sunan
karena Sunan tahu bahwa tradisi di Jawa bukanlah tradisi tulis/aksara, melainkan tradisi yang
bersifat lisan. Oleh karena itu, Sunan lebih banyak mengemas ajarannya ke dalam bentuk seni
pertunjukan dan juga tembang, salah satunya tembang Ilir-Ilir Selain itu, Sunan Kalijaga
juga menyadari bahwa orang Jawa bukanlah orang yang berawal dari orang yang tidak

beragama dan bukan juga orang-orang jahiliyah seperti pada zaman Rasulullah. Agamaagama yang masuk di Jawa sebelum Islam pun tidak mengajarkan keburukan pada orangorang Jawa. Hal itu membuat Sunan Kalijaga memilih menggunakan beberapa istilah dan
ajaran agama sebelumnya yang lebih mapan serta mudah dipahami bagi orang-orang Jawa.
Salah satu istilah yang digunakan Sunan Kalijaga dalam menyebut Allah adalah menggunakan sebutan Sang Hyang Widi (Chodjim, 2013:44). Sebutan Sang Hyang Widi adalah
penyebutan dewa bagi agama Hindu-Budha di Jawa dan orang Jawa lebih mapan dengan
sebutan tersebut dibandingkan dengan sebutan Allah. Selain itu, sebutan lain yang lebih
mudah bagi orang Jawa adalah Gusti Alah. Sunan Kalijaga tidak pernah mempermasalahkan
hal tersebut dalam ajaran-ajarannya Seperti dalam Kidung Rumeksa Ing Wengi yang
diciptakan oleh Sunan, sebutan Tuhan di sana adalah menggunakan Hyang Widi.
Kembali pada pembahasan mengenai masa transisi tersebut. Peralihan dari kerajaan
Majapahit ke kerajaan Demak, menimbulkan berbagai permasalahan di dalam tatanan
masyarakat dan pemerintahan. Banyak petinggi kerajaan yang mulai beralih pada agama
Islam. Secara tidak langsung, rakyat juga beralih pada agama Islam, mengikuti petinggipetinggi yang menjadi panutan mereka. Penggambaran inilah yang sebenarnya diungkapkan
oleh Sunan Kalijaga dalam kutipan mumpung padhang rembulane, mumpung jembar
kalangane Kutipan tersebut melambangkan bagaimana suasana pada saat terjadinya
peralihan agama para petinggi dan rakyatnya menjadi beragaama Islam. Perbaikan akhlak
para petinggi dan semua kalangan terbuka lebar dengan menjadi Islam. Peralihan kekuasaan
tersebut menjadi landasan awal untuk memperbaiki akhlak yang memburuk pada saat
keruntuhan kerajaan Majapahit Mengenai gambaran mumpung padhang rembulane,
Chodjim (2013:179) menjabarkan bahwa dari beberapa referensi dikatakan bahwa pada
perempat pertama abad ke-15, disebutkan adanya berbagai jenis nyanyian dan pertuntukan,
salah satunya adalah bersenang-senang di bawah bulan purnama Sunan Kalijaga
memasukkan penggambaran tersebut dalam tembang Ilir-Ilir untuk menguatkan bahwa
pada saat peralihan itu bulan serasa bersinar dengan terang. Terjadi sebuah pergantian
kekuasaan yang harus dapat diterima secara baik dan dijalani untuk memperbaiki perilaku
menjadi lebih baik lagi Hal ini berhubungan dengan kutipan yo surako surak hore Pada
kutipan tersebut digambarkan bahwa pergantian kekuasaan tersebut harus disikapi bersama
dengan baik oleh para petinggi dan juga rakyatnya. Mereka diharapkan bisa bersama untuk
bersorak dengan gembira menerima kekuasaan yang baru dan memperbaiki akhlak untuk
menjadi lebih baik lagi.

Secara garis besar, Chodjim (2013:180) mengatakan bahwa pada prinsipnya tembang
ilir-ilir tersebut mengajak orang untuk memanfaatkan kesempatan yang baik yang dianugerahkan Tuhan. Hal ini jelas tidak akan bertentangan dengan ajaran agama Islam karena
dalam bahasa hadis Nabi, manusia diperintahkan untuk menggunakan kesempatan yang baik
sebelum kesempitan (Chodjim, 2013:180). Hal tersebutlah yang terjadi pada masa peralihan
kekuasaan dari kerajaan Majapahit menjadi kekuasaan kerajaan Demak. Ada kesempatan
yang terbuka lebar untuk memperbaiki semua aspek dalam tatanan kemasyarakatan, mulai
dari pemimpin hingga rakyatnya.

Perbaikan Akhlak dalam Tembang Ilir-Ilir


Telah dibahas sebelumnya mengenai kisah peralihan kekuasaan dalam tembang IlirIlir Kali ini akan dibahas mengenai perbaikan akhlak yang diajarkan Sunan Kalijaga dalam
tembang tersebut. Hal ini masih berhubungan dengan pembahasan mengenai peralihan
kekuasaan, tetapi akan lebih fokus pada perbaikan akhlak yang diharapkan oleh Sunan
Kalijaga, khususnya kepada para petinggi yang akhlaknya telah memburuk. Kutipan berikut
ini adalah kutipan yang melambangkan pentingnya perbaikan akhlak yang sebelumnya sudah
menjadi buruk.
Dodotira dodotira
Kumintir bedah ing pinggir
Dondomana jrumatana
Kanggo seba mengko sore
Dodot Anda, robek di pinggir. Silakan Anda jahit dodot Anda, untuk menghadap nanti
sore
Sudah diketahui bahwa dodot adalah salah satu jenis baju yang digunakan oleh para
petinggi suatu kerajaan. Dalam kutipan ini, dodot tidak semata-mata melambangkan para
petinggi kerajaan saja, tetapi merujuk pada agama. Dalam khazanah budaya Jawa, agama
juga disebut sebagai ageman atau pakaian (Chodjim, 2013:180) Jelas, berarti dodot dalam
kutipan ini lebih merujuk pada agama yang dianut dan dipraktikan oleh para petinggi pada
masa kerajaan tersebut. Apabila dihubungkan dengan baris-baris berikutnya, dapat ditafsirkan
bahwa agama yang dianut oleh para petinggi pada masa peralihan itu sudah robek-robek
pinggirnya atau tidak layak untuk digunakan lagi. Oleh karena itu, para petinggi diharapkan
untuk memperbaiki agama dan akhlaknya. Perbaikan ini disimbolkan dengan istilah

dondomana, jrumatana Agama dan akhlak para petinggi harus diperbaiki terlebih dahulu
untuk pada akhirnya digunakan untuk seba mengko sore Dalam tulisan ini, seba diartikan
sebagai menghadap, diambil dari bahasa sanskerta, seva (yang berarti menghadap)
(Chodjim, 2013:181). Seba mengko sore adalah perlambangan menghadap Tuhan Yang
Maha Esa. Setelah manusia memperbaiki agama dan akhlaknya, barulah manusia itu dapat
menghadap kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tidak mungkin, seseorang yang masih buruk
agama dan akhlaknya dapat bekomunikasi dengan Tuhan. Memang, secara lahiriah seseorang
tersebut dapat menyebut Tuhan, tetapi Tuhan yang disebutnya hanyalah sekadar Tuhan dari
mulut saja. Semakin jelas bahwa hal inilah yang ingin disampaikan oleh Sunan Kalijaga di
dalam tembang tersebut. Manusia harus memperbaiki agama dan akhlaknya sebelum manusia
itu bisa berkomunikasi dengan Tuhan.
Secara historis, kerajaan Majapahit runtuh adalah karena kemerosotan akhlak dari para
petinggi di kerajaan. Pada masa itu banyak terjadi perebutan kekuasaan, korupsi para petinggi
kerajaan, perampokan, pembegalan, dan kerusuhan-kerusuhan yang lainnya (Djafar, 2012:
125136). Hal itu menimbulkan robeknya kebaikan-kebaikan dari akhlak agama sebelumnya. Kemudian, peralihan kekuasaan kepada kerajaan Islam Demak inilah yang harus
dijadikan perbaikan kembali akhlak dan agama yang sebelumnya sudah rusak. Dengan
kebaikan tersebut, mereka akan kembali memiliki akhlak yang baik dan dapat kembali
berkomunikasi dengan Tuhan.

Belimbing Sebagai Lambang Pancasila-Buddhis


Kali ini kita akan mengupas isi dari bait yang lain dalam tembang Ilir-Ilir Ada ajaran
lain yang disampaikan oleh Sunan Kalijaga di dalam tembang tersebut. Ajaran itu adalah
mengenai perbaikan akhlak seperti pada bab sebelumnya, tetapi lebih dispesifikan menjadi
sebuah reduksi yang harus dilakukan untuk memilih sebab-akubat yang akan dijalani.
Perhatikan kutipan berikut ini.
Cah angon cah angon
Penekna blimbing kuwi
Lunyu lunyu penekna
Kanggo mbasuh dodotira
Wahai gembala, panjatlah pohon belimbing itu Meskipun licin, tetap panjatlah
Gunakan perasan buahnya untuk penyuci hama pada dodot Anda

Seperti itulah bunyi bait kedua dari tembang Ilir-Ilir Secara literal, makna yang
muncul adalah seperti transliterasi di atas. Ada seruan kepada gembala untuk memanjat
pohon belimbing walaupun pohonnya licin, kemudian menggunakan perasan buahnya untuk
membersihkan dodot. Itu hanyalah pemahaman sederhana dan dangkal mengenai penggalan
bait tersebut. Sebenarnya ada makna yang lebih dalam dari hanya sekedar cerita mengenai
seruan kepada penggembala.
Penggembala di sini, bukan diartikan sebagai orang yang menggembalakan kambing
atau sapi, tetapi merupakan sebuah perlambangan bagi para petinggi kerajaan. Para petinggi
kerajaan adalah seorang gembala yang menggembala rakyatnya. Rakyat akan selalu
menngikuti apa yang menjadi jalan pilihan dari para petinggi kerajaan. Ketika para petinggi
berakhlak buruk, maka rakyatnya pun juga akan berakhlak buruk. Lain halnya ketika para
petinggi menempuh jalan yang baik, maka rakyatnya pun juga akan menempuh jalan yang
baik.
Filosofi buah belimbing memiliki banyak interpretasi, khususnya pada masyarakat
Jawa. Kalau dihubungkan dengan Islam, buah belimbing adalah perlambangan dari rukun
Islam karena buah belimbing memiliki lima sisi yang merepresentasikan 5 isi rukun islam,
yaitu syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji. Dari hal ini, mungkin banyak yang menyatakan
bahwa lambang belimbing dalam bait ini adalah lambang rukun islam, tetapi perlu dikritisi
kembali bahwa ada kalimat lain yang perlu dilihat Kutipan lunyu lunyu penekna adalah
penekanan lain dalam bait ini. Secara nalar, ketika belimbing adalah simbol dari rukun islam,
maka kutipan tersebut tidak seharusnya ada karena rukun islam lebih bersifat formalitas
(Chodjim, 2013:183). Pada kenyataannya, kutipan tersebut ada sebagai pendukung makna
secara keseluruhan bait tersebut. Berarti, di sini jelas ada maksud lain yang ingin disampaikan oleh Sunan Kalijaga. Pohon belimbing tersebut harus dipanjat walaupun licin, untuk
perasan buahnya nanti digunakan untuk mencuci dodot (diartikan agama, secara praktis
adalah akhlak) Secara kritis, keyakinan, kepercayaan, atau pun kepemelukan agama tidak
akan bisa memperbaiki akhlak yang berada pada ranah praktis/aplikatif (Chodjim, 2013:183).
Melihat di awal bahwa Sunan Kalijaga melakukan akulturasi budaya dalam menyebarkan ajarannya, maka rukun islam tidak sesuai digunakan sebagai petanda dari penanda
belimbing. Sunan Kalijaga menggunakan simbol belimbing adalah untuk menyimbolkan hal
yang sudah dianut dalam masyarakat Jawa sebelum masuk Islam. Chodjim (2013:183)
menyatakan bahwa dalam sejarah Buddha Jawa, buah belimbing dengan lima garisnya adalah
melambangkan Pancasila Buddha

Pancasila Buddha adalah ajaran moral pada agama Budha yang akan lebih berbobot ketika para petinggi yang menjalankannya.

Pertama, menghindarkan diri dari perbuatan membunuh. Pada masa kehancuran


kerajaan Majapahit, pembunuhan bukan lagi merupakan hal yang harus dihindari. Para
petinggi kerajaan yang merasa khawatir dengan pemberontakan rakyat, pada akhirnya
membunuh beberapa rakyatnya yang dianggap menjadi ancaman mereka. Hal ini jelas tidak
bertentangan dengan agama Islam. Di Islam pun, ada larangan untuk membunuh, kecuali
dalam situasi tertentu. Sila pertama ini sudah jelas bersifat praktis dalam kehidupan, bukan
hanya sekadar kitab kering, tetapi Sunan Kalijaga menyampaikan penerapan ajaran Kitab
dengan kepraktisan dalam kehidupan.
Kedua, menghindari perbuatan mencuri. Pada bab sebelumnya, sudah dijabarkan
mengenai gambaran sebab kehancuran kerajaan Majapahit, yaitu maraknya perampokan,
pencurian, korupsi, dan pembegalan. Mencuri di sini tidak merujuk pada arti yang sempit,
tetapi pada arti yang sangat luas. Merampas hak rakyat juga merupakan sebuah wujud
mencuri dalam arti yang luas. Salah satu bentuk pencurian dalam pengertian secara luas yang
lainnya di Islam adalah pengurangan ukuran dan timbangan. Dalam sistem perdagangan di
Islam, hal ini jelas di larang. Oleh karena itu, hal ini dilarang oleh Islam. Di sini dapat kita
hubungkan bahwa ajaran Islam pun masuk dalam praktik sila kedua ini.
Ketiga, menghindari perbuatan asusila. Makna asusila dalam khazanah Jawa, diantaranya adalah perbuatan main dan madon. Main atau judi dikenal sebagai permainan untunguntungan. Di dalamnya tidak ada rasionalitas yang digunakan, tetapi lebih kepada dugaan
saja. Dunia ini bukan hanya mengenai dugaan saja, tetapi penggunaan rasionalitas dalam memilih dan menentukan langkah. Madon atau bermain perempuan merupakan sebuah kebiasaan buruk yang pada akhirnya diwariskan secara turun-temurun pada masyarakat Jawa. Pada
zaman keraajaan Jawa, bermain perempuan adalah tindakan wajar yang dilakukan oleh para
petinggi. Terlebih lagi, banyak rakyat biasa yang berharap dapat mendapat benih keturunan
dari para petinggi. Hal itu adalah kebiasaan buruk kebudayaan Jawa yang akhirnya
diwariskan secara turun-temurun. Oleh karena itu, dalam sila ketiga tersebut dinyataan bahwa
manusia harus menghindari perbuatan asusila, khususnya para petinggi kerajaan. Dalam
hubungannya dengan Islam, kedua hal tersebut jelas dilarang keras. Akhirnya, ajaran Sunan
Kalijaga mengenai hal ini juga tidak melenceng dengan ajaran dalam Kitab.
Keempat, menghindari perbuatan berbohong. Dalam hal ini, berbohong juga diartikan
secara luas, tidak hanya secara sempit. Para petinggi harus menghindari perbuatan bohong
kepada rakyat. Banyak wujud kebohongan ini, seperti melakukan hutang yang mengatasnamakan kepentingan rakyat, padahal hanya kepentingan kelompok mereka saja. Hal itu

merupakan kebohongan yang marus dihindari oleh para petinggi. Oleh karena itu, berbohong
dibahas dalam sila keempat tersebut.
Kelima, menghindari perbuatan mabuk-mabukan. Sama seperti sebelumnya, istilah
mabuk-mabukan di sini bukanlah istilah yang sempit, tetapi mabuk-mabukan dalam arti luas.
Ada mabuk karena minuman beralkohol, ada mabuk karena HTK (harta, tahta, dan
kekuasaan), dan ada juga mabuk karena kemenangan. Ketiga jenis mabuk ini harus dihindari
oleh manusia, terlebih oleh para petinggi kerajaan. Dalam, Islam pun juga sama, manusia
harus meninggalkan hal-hal yang memabukkan.
Kelima hal inilah yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Sunan Kalijaga dalam
perlambangan buah belimbing. Hal ini dinilai lebih logis karena dilihat dari cara penyebaran
ajarannya, Sunan Kalijaga tidak pernah memisahkan aspek historis dari masyarakat Jawa
yang sebelumnya juga sudah mengenal agama. Selain itu, hal lain yang mendukung
pernyataan ini adalah sifat praktis dari ajaran Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga tidak pernah
menyebarkan ajaran Islam secara literal, tetapi lebih kepada penerapan dalam kehidupan yang
dijalani oleh manusia Secara kasar, Sunan Kalijaga tidak hanya mengajarkan Kitab Kering
tetapi juga mengajarkan Kitab Basah pada masyarakat Jawa agar mereka lebih dapat
memahami maksud dari ajaran Islam yang sebenarnya.

SIMPULAN
Tembang Ilir-Ilir tidak semata-mata merupakan sebuah tembang dolanan yang
diciptakan secara iseng ngawur oleh Sunan Kalijaga Ada makna yang sangat dalam, yang
ingin diajarkan kepada para masyarakat, khususnya masyarakat Jawa. Ajaran Sunan Kalijaga
dalam tembang tersebut bukanlan ajaran yang bersifat formalis atau formalitas saja,
melainkan ajaran yang bersifat praksis dalam menjalani kehidupan. Pada hakikatnya,
tembang tersebut ditujukan kepada semua masyarakat, tetapi lebih khusus adalah kepada para
petinggi. Di dalamnya ada ajaran-ajaran mengenai bagaimana hal yang harus dilakukan oleh
para petinggi dalam mengambil langkah dan bertindak.
Nilai-nilai yang dimunculkan oleh Sunan Kalijaga tidak hanya dilandaskan pada ajaran
Islam, tetapi juga pada nilai-nilai yang sudah mapan dalam masyarakat Jawa. Hal tersebut
dilakukan karena masyarakat Jawa bukanlah masyarakat yang pada awalnya tidak beragama
dan masyarakat Jawa adalah masyarakat yang sudah sadar dengan nilai-nilai moral yang baik.
Oleh karena itu, dalam penerapannya, Sunan Kalijaga memilih untuk melakukan akulturasi

budaya. Selain untuk memudahkan pemahaman masyarakat Jawa terhadap ajaran Islam,
tetapi juga untuk meredam tingkat sockculture dari awalnya beragama Hindu-Budha
menjadi beragama Islam.

DAFTAR RUJUKAN

Chodjim, Achmad. 2013. Sunan Kalijaga: Mistik dan Makrifat. Jakarta: Serambi Ilmu
Semesta
Chodjim, Achmad. 2013. Syekh Siti Jenar: Makna Kematian. Jakarta: Serambi Ilmu
Semesta
Djafar, Hasan. 2012. Masa Akhir Majapahit Girindrawarddhana & Masalahnya.
Jakarta: Komunitas Bambu
Suryani, E. 2012. Filologi. Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia.
Widada., Suwadji., dkk. 2006. Kamus Basa Jawa (Bausastra Jawa). Yogyakarta:
Kanisius
Zoetmulder, P. J. Dan Robson, S. O. 2011. Kamus Jawa Kuna Indonesia. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama