Anda di halaman 1dari 9

NAMA

: NUR FAJRI SYAHRUL

NIM

: C111 14 102

1. Implementasi pancasila sebagai ideologi nasional


Ideologi berasal dari kata idea yang berarti gagasan, konsep, pengertian dasar, cita-cita, dan
logos berarti ilmu. Secara harfiah ideologi berarti ilmu tentang pengertian dasar,ide. Hubungan
manusia dengan cita-cita disebut ideologi. Ideologi berisi seperangkat nilai, dimana nilai-nilai itu
menjadi cita-citanya atau manusia bekerja dan bertindak untuk mencapa nilai-nilai tersebut.
Ideologi nasional mengandung makna ideologi yang memuat cita-cita tujuan dari Negara
Kesatuan Republik Indonesia. Berdasarkan Ketetapan MPR No. XVIII/MPR/1998 tentang
pencabutan Ketetapan MPR RI No II/MPR/1978 tentang P4 ( Eka Prasetya Paca Karsa ),
menyebutkan bahwa Pancasila selain berkedudukan sebagai dasar negara, juga berkedudukan
sebagai Ideologi Nasional bangsa Indonesia. Adapun makna pancasila dari ketentuan tersebut
adalah bahwa nilai yang terkandung dalam ideologi pancasila menjadi cita-cita normatif bagi
penyelenggaraan bernegara. Arah dari penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara
indonesia adalah terwujudnya kehidupan yang sudah disebutkan dalam lima sila pada pancasila
yaitu kehidupan yang berketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan.
Kumpulan nilai-nilai dari kehidupan lingkungan sendiri dan yang diyakini kebenarannya
kemudian digunakan untuk mengatur masyarakat, inilah yang disebut dengan ideologi, karena
memiliki fungsi sebagai cita-cita yang sejalan dengan fungsi utama dari sebuah ideologi yang
mampu mempersatukan masyarakat sehingga dijadikan sebagai prosedur penyelesaian konflik.
Pancasila sebagai ideologi nasional dapat diklasifikasikan melalui :
1. Dilihat dari kandungan muatan suatu ideologi, karena dari setiap ideologi mengandung suatu
sistem nilai yang diyakini sebagai suatu hal yang baik dan benar. Merupakan cita-cita yang
akan mengarahkan terhadap perjuangan bangsa dan negara.
2. Tumbuhnya suatu sistem kepercayaan yang terbentuk dari adanya suatu interaksi dengan
berbagai pandangan dan aliran yang berlingkup modial dan menjadi kesepakatan bersama dari
suatu bangsa.
3. Ter-ujinya sistim nilai tersebut melalui perkembangan sejarah secara berkelanjutan dan
menumbuhkan konsensus dasar yang tercermin dalam kesepakatan para pendiri negara ( the
fauding father ).

4. Adanya suatu elemen psikologis yang akan tumbuh dan di bentuk melalui pengalaman
bersama dalam suatu perjalanan sejarah, sehingga memberi kekuatan motivasional yang
menuntut untuk tunduk pada cita-cita bersama.
5. Diperolehnya kekuatan konstitusional sebagai dasar negara dan sekaligus menjadi cita-cita
luhur bangsa dan negara.
Pancasila sebagai ideologi nasional memiliki beberapa dimensi yaitu :
1. Dimensi idealitas artinya ideologi pancasila mengandung harapan-harapan dan cita-cita di
berbagai kehidupan yang ingin di capai masyarakat.
2. Dimensi realitas artinya nilai-nilai dasar yang terkandung di dalam sumber dari nilai-nilai
hidup dalam masyarakat penganutnya, yang menjadi milik mereka dan sudah dikenal oleh
mereka.
3. Dimensi normalitas artinya pancasila mengandung nilai-nilai yang bersifat mengikat
masyarakatnya yang berupa norma-norma yang harus dipatuhi dan ditaati yang memiliki sifat
positif.
4. Dimensi fleksibilitas artinya pancasila itu mengikuti perkembangan zaman, dapat
berinteraksi dengan perkembangan zaman, bersifat terbuka dan demokratif.
Pancasila merupakan ideologi yang terbuka, bukan ideologi tertutup. Pancasila memenuhi syarat
sebagai ideologi terbuka karena:
1. Nilai-nilai Pancasila bersumber dari bangsa Indonesia sendiri.
2. Nilai-nilai dari Pancasila tidak bersifat operasional dan langsung dapat diterapkan dalam
kehidupan.
Adapun makna dari masing - masing nilai Pancasila adalah sebagai berikut:
1. Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa
mengandung arti adanya pengkuan dan keyakinan bangsa terhadap adanya Tuhan sebagai
pencipta alam semesta. Nilai ini menyatakan bangsa Indonesia adalah bangsa yang
religius bukan bangsa yang ateis.
2. Nilai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

arti kesadaran sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai moral dalam hidup
bersama atas dasar tuntutan hati nurani dengan memperlakukan sesuatu hal sebagaimana
mastinya.
3. Nilai Persatuan Indonesia
mengandung makna usaha keras bersatu dalam kebulatan rakyat untuk membina rasa
nasionalisme dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Persatuan Indonesia sekaligus
mengakui dan menghargai sepenuhnya terhadap keanekaragaman yang dimiliki Indonesia.
4. Nilai Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan
Perwakilan
mengandung makna suatu pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat dengan
cara musyawarah mufakat melalui lembaga-lembaga perwakilan. Berdasarkan nilai ini
maka diakui paham demokrasi yang lebih mengutamakan pengambilan keputusan melalui
musyawarah mufakat.
5. Nilai Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
mengandung makna sebagai dasar sekaligus tujuan, yaitu tercapainya masyarakat
Indonesia yang adil dan makmur secara lahiriah maupun batiniah. Berdasarkan pada nilai
ini maka keadilan adalah nilai yang amat mendasar yang diharapkan oleh seluruh bangsa.
Perwujudan atau implementasi Pancasila sebagai ideologi nasional yang yang berarti
menjadi cita-cita penyelenggara bernegara terwujud melalui ketetapan MPR No.
VII/MPR/2001 tentang Visi Indonesia Masa Depan. Dalam ketetapan tersebut dinyatakan
bahwa Visi Indonesia Masa Depan terdiri dari tiga visi, yaitu :
1. Visi Ideal, yaitu cita-cita luhur sebagaimana termaktub dalam pembukaan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yaitu pada Alenia kedua dan
keempat;
2. Visi Antara, yaitu Visi Indonesia 2020 yang berlaku sampai dengan tahun 2020;

3. Visi Lima Tahunan, sebagaimana termaktub dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara.
Pada Visi Antara dikemukakan bahwa Visi Indonesia 2020 adalah terwujudnya
masyarakat Indonesia yang religius, manusiawi, bersatu, demokratis, adil, sejahtera, maju,
mandiri, serta baik dan bersih dalam penyelenggaraan negara. Untuk mengukur tingkat
keberhasilan perwujudan Visi Indonesia 2020 dipergunakan indikator-indikator utama
sebagai berikut.
1.

Religius

2.

Manusiawi

3.

Bersatu

4.

Demokratis

5.

Adil

6.

Sejahtera

7.

Maju

8.

Mandiri

9.

Baik dan Bersih dalam Penyelenggaraan Negara

Mewujudkan bangsa yang religius, manusiawi, bersatu, demokratis, adil dan sejahtera
pada dasarnya adalah upaya menjadikan nilai-nilai pancasila sebagai cita-cita bersama.
Bangsa atau masyarakat yang demikian merupakan ciri dari masyarakat madani di
Indonesia. Sebagai suatu cita-cita, nilai-nilai Pancasila diambil dimensi Idealismenya.
Sebagai nilai-nilai ideal, penyelenggara negara hendaknya berupaya bagaimana
menjadikan kehidupan bernegara Indonesia ini semakin dekat dengan nilai-nilai ideal
tersebut.

Nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi nasional seyogyanya sudahlah dapat tertanam


dalam hati, tercermin dalam sikap dan perilaku masyarakat Indonesia. Pada kenyataannya,
nilai-nilai Pancasila masih belum dapat dipahami dan diamalkan dalam kehidupan seharihari. Masih lemahnya keteladanan terhadap nilai-nilai Pancasila menimbulkan tumbuhnya
gerakan-gerakan sparatisme dan primordialisme dan akan mengakibatkan disintegrasi
bangsa. Hal ini dikarenakan beberapa faktor internal maupun eksternal. Diantaranya,
longgarnya pegangan terhadap agama, kurang efektifnya pembinaan moral yang
dilakukan oleh rumah tangga, sekolah maupun masyarakat. Semua penyebab lunturnya
nilai Pancasila pada dasarnya karena budaya materialistis, hedonistis dan sekularistis.
Belum adanya kemauan yang sungguh-sungguh dari pemerintah. Pemerintah yang
diketahui memiliki kekuasaan ( power ), uang, teknologi, sumber daya manusia dan
sebagainya tampaknya belum menunjukan kemauan yang sungguh-sunguh untuk
melakukan pembinaan moral bangsa. Selain itu, situasi dan lingkungan kehidupan
bangsa yang telah berubah baik di tingkat domestik, regional maupun global. Apabila
masyarakat Indonesia tidak segera berbenah diri dan mulai untuk mengimplementasikan
nilai-nilai yang ada di dalam Pancasila kedalam kehidupan pribadi dan bernegara, maka
bukan tidak mungkin bangsa kita akan menjadi bangsa yang tidak memiliki identitas.
Terlepas dari hal tersebut, implementasi pancasila sebagai ideologi nasional seharusnya
dimulai dari kita sendiri yang melakukan dan menjalankan kehidupan sesuai dengan
Pancasila sebagai ideologi negara. Sehingga dapat memberi contoh kepada orang lain
bagaimana mengimplementasi Pancasila dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari
serta tujuan negara dapat terwujud.

2. Bagaimana identitas nasional bisa mewujudkan integritas nasional yang kuat ?


Identitas nasional merupakan ciri khas yang dimiliki suatu bangsa yang
tentunya berbeda antara satu bangsa dengan bangsa yang lain. Indonesia
adalah salah satu Negara yang memiliki bermacam identitas nasional yang
mengkhaskan dan tentunya berbeda dari Negara-negara lainnya. Identitas
nasional adalah sebuah kesatuan yang terikat dengan wilayah dan selalu
memiliki wilayah (tanah tumpah darah mereka sendiri), kesamaan sejarah,
sistim hukum/perundang undangan, hak dan kewajiban serta pembagian kerja
berdasarkan profesi. Identitas Nasional merupakan salah satu bentuk dari
identitas sosial yang mencerminkan identifikasi, perasaan dan penilaian yang
positif dari individu terhadap bangsa dan negaranya. Adapun jenis-jenis
Identitas Nasional yaitu Bahasa Nasional atau Bahasa Persatuan yaitu Bahasa
Indonesia, Bendera Negara yaitu Sang Merah Putih, Lagu kebangsaan yaitu
Indonesia Raya, Lambang Negara dan Dasar Falsafah Negara yaitu Pancasila,
Semboyan Negara yaitu Bhinneka Tunggal Ika. Konstitusi (Hukum Dasar)
Negara yaitu UUD 1945, Bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia yaitu
berkedaulatan rakyat; dan Konsepsi Wawasan Nusantara.
Sedangkan Integrasi nasional adalah usaha dan proses mempersatukan
perbedaan perbedaan yang ada pada suatu negara sehingga terciptanya
keserasian dan keselarasan secara nasional. Seperti yang kita ketahui,
Indonesia merupakan bangsa yang sangat besar baik dari kebudayaan
ataupun wilayahnya. Di satu sisi hal ini membawa dampak positif bagi bangsa
karena kita bisa memanfaatkan kekayaan alam Indonesia secara bijak atau
mengelola budaya budaya yang melimpah untuk kesejahteraan rakyat,
namun selain menimbulkan sebuah keuntungan, hal ini juga akhirnya
menimbulkan masalah yang baru.
Beragamnya suku bangsa serta bahasa di Indonesia, merupakan suatu
tantangan besar bagi bangsa ini untuk tetap dapat mempertahankan
identitasnya, terlebih di era globalisasi seperti saat ini. Salah satu persoalan
yang dialami oleh negara-negara berkembang termasuk indonesia dalam
mewujudkan integrasi nasional adalah masalah primordialisme yang masih

kuat. Titik pusat goncangan primordial biasanya berkisar pada beberapa hal,
yaitu masalah hubungan darah (kesukuan), jenis bangsa (ras), bahasa,
daerah, agama, dan kebiasaan.

Di era globalisasi, tantangan itu bertambah oleh adanya tarikan global dimana keberadaan
negara dan bangsa sering dirasa terlalu sempit untuk mewadahi tuntunan dan kecenderungan
global. Dengan demikian keberadaan negara berada dalam dua tarikan sekaligus, yaitu tarikan
dari luar berupa globalisasi yang cenderung mengabaikan batas-batas negara-bangsa, dan tarikan
dari dalam berupa kecenderungan menguatnya ikatan-ikatan yang sempit seperti ikatan etnis,
kesukuan, atau kedaerahan. Disitulah nasionalisme dan keberadaan negara nasional mengalami
tantangan yang semakin berat.
Namun demikian harus tetap diyakini bahwa nasionalisme sebagai karakter bangsa tetap
diperlukan di era indonesia merdeka sebagai kekuatan untuk menjaga eksistensi, sekaligus
mewujudkan taraf peradaban yang luhur, kekuatan yang tangguh, dan mencapai negara-bangsa
yang besar. Nasionalisme sebagai karakter semakin diperlukan dalam menjaga harkat dan
martabat bangsa di era globalisasi karena gelombang peradaban kesejagatan ditandai oleh
semakin kaburnya batas-batas teritorial negara akibat gempuran informasi dan komunikasi.
Dengan kondisi masyarakat indonesia yang diwarnai oleh berbagai keanekaragaman, harus
disadari bahwa masyarakat indonesia menyimpan potensi konflik yang sangat besar, baik konflik
yang bersifat vertikal maupun bersifat horizontal. Dalam dimensi vertikal, sepanjang sejarah
sejak proklamasi indonesia hampir tidak pernah lepas dari gejolak kedaerahan berupa tuntutan
untuk memisahkan diri. Sedangkan dalam dimensi horizontal, sering pula dijumpai adanya
gejolak atau pertentangan diantara kelompok-kelompok dalam masyarakat, baik konflik yang
bernuansa ras, kesukuan, keagamaan, atau antar golongan. Disamping itu juga konflik yang
bernuansa kecemburuan sosial.
Sejak awal berdirinya negara indonesia, para pendiri negara menghendaki persatuan di
negara ini diwujudkan dengan menghargai terdapatnya perbedaan di dalamnya. Artinya bahwa
upaya mewujudkan integrasi nasional indonesia dilakukan dengan tetap memberi kesempatan
kepada unsur-unsur perbedaan yang ada untuk dapat tumbuh dan berkembang secara bersamasama. Proses pengesahan pembukaan UUD 1945 oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 yang
bahannya diambil dari naskah piagam jakarta, dan didalamnya terdapat rumusan dasar-dasar
negara pancasila, menunjukkan pada kita betapa tokoh-tokoh pendiri negara (the founding

fathers) pada waktu itu menghargai perbedaan-perbadaan yang terdapat dalam kehidupan
masyarakat indonesia. Para pendiri negara rela mengesampingkan persoalan perbedaanperbedaan yang ada demi membangun sebuah negara yang dapat melindungi seluruh rakyat
indonesia.
Sejalan dengan itu dipakailah semboyan bhineka tunggal ika, yang artinya walaupun
berbeda-beda tetapi tetap satu adanya. Semboyan tersebut sama maknanya dengan istilah unity
in diversity:, yang artinya bersatu dalam keanekaragaman, sebuah ungkapan yang
menggambarkan cara menyatukan secara demokratis suatu masyarakat yang didalamnya
diwarnai oleh adanya berbagai perbedaan. Dengan semboyan bhineka tunggal ika tersebut segala
perbedaan dalam masyarakat ditanggapi bukan sebagai keadaan yang menghambat persatuan dan
kesatuan bangsa, melainkan sebagai kekayaan budaya yang dapat dijadikan sumber pengayaan
kebudayaan nasional kita.
Untuk terwujudnya masyarakat yang menggambarkan semboyan bhineka tunggal ika,
diperlukan pandangan atau wawasan multikulturalisme. Multikulturalisme adalah pandangan
bahwa setiap kebudayaan memiliki nilai dan kedudukan yang sama dengan kebudayaan lain,
sehingga setiap kebudayaan berhak mendapatkan tempat sebagaimana kebudayaan lainnya.
Perwujudan dari multikulturalisme adalah kesediaan orang-orang dari kebudayaan yang beragam
untuk hidup berdampingan secara damai. Disini diperlukan sikap hidup yang memandang
perbedaan di antara anggota masyarakat sebagai kenyataan wajar dan tidak menjadikan
perbedaan tersebut sebagai alasan untuk berkonflik. Disamping itu perlu memandang
kebudayaan orang lain dari perspektif pemilik kebudayaan yang bersangkutan, dan bukan
memandang kebudayaan orang lain dari perspektif dirinya sendiri. Oleh karena itu
multikulturalisme menekankan pentingnya belajar tentang kebudayaan-kebudayaan lain dan
mencoba memahaminya secara penuh dan empatik sehingga dapat menghargai kebudayaankebudayaan lain disamping kebudayaannya sendiri.
3. Hak dan kewajiban bela negara
Berdasarkan pasal 1 ayat (2) UU No. 1 tahun 1988, bela Negara adalah tekad, sikap, dan tindakan
warga negara yang teratur, meyeluruh, terpadu, dan berkelanjutan yang dilandasi oleh kecintaan pada
tanah air, kesadaran berbangsa dan bernegara Indonesia, serta keyakinan akan kesaktian Pancasila
sebagai ideologi Negara, dan kerelaan untuk berkorban guna meniadakan setiap ancaman, baik dari

luar negeri maupun dari dalam negeri yang membahayakan kemerdekaan dan kedaulatan Negara,
kesatuan dan persatuan bangsa, keutuhan wilayah, dan yurisdiksi nasional, serta nilai-nilai Pancasila
dan UUD 1945.