Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
A. Dasar Teori
Menurut Asni Askariawati, 2014. Pertumbuhan dan perkembangan
merupakan dua proses hidup yang selalu terjadi pada setiap makhluk hidup.
Kedua istilah tersebut sering diucapkan untuk pengertian yang sama. Padahal
pertumbuhan dan perkembangan memiliki pengertian yang berbeda satu sama
lain. Pertumbuhan dapat diartikan sebagai peningkatan ukuran yang bersifat
permanent (tetap) dan tidak dapat balik (Irrevisible), sedangkan perkembangan
adalah proses perubahan dalam bentuk.
Pada proses pertumbuhan selau terjadi peningkatan volume dan bobot
tubuh peningkatan jumlah sel dan protoplasma. Untuk mengukur pertumbuhan
tanaman digunakan alat yang. disebut busur tumbuh atau auksanometer. Berbeda
dengan pertumbuhan, perkembangan bukan merupakan besaran sehingga tidak
dapat diukur. Perkembangan pada tumbuhan diawalai sejak terjadi fertilisasi.
Calon tumbuhan akan berubah bentuk dari sebuah telur yang dibuahi menjadi
zigot, embrio, dan akhirnya menjadi sebatang pohon yang kokoh atau rumput
yang mudah digoyangkan oleh angin. Nama lain proses perkembangan adalah
morfogenesis.
Proses pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan diawali dengan
aktivitas sintetis bahan mentah (bahan baku) berupa molekul sederhana dan
molekul kompleks. Tahapan yang dilalui selama melangsungkan proses tersebut
adalah sebagai berikut :
1) Tahap pembelahan sel, yaitu sel induk membelah menjadi beberapa sel
anak.
2) Tahap Pembesaran sel, yaitu pembesaran atau peningkatan volume sel
anak.

Pada

sel

tumbuhan,

peningkatan

disebabkan oleh penyerapan air ke dalam vakuola.

tersebut

biasanya

3) Tahap diferensiasi sel, yaitu perkembangan sel anak yang telah


mencapai ukuran tertentu menjadi bentuk khusus (terspesialisasi)
melalui proses diferensiasi. Pada akhirnya terbentuk jaringan, organ,
dan individu.
a. Pertumbuhan dan Perkembangan Awal
Pertumbuhan awal tumbuhan berbiji dimulai dari biji. Biji mengandung
potensi yang dibutuhkan untuk tumbuh menjadi individu yang baru, misalnya
embrio, cadangan makanan, dan calon daun (calon akar).
Sebutir biji mengandung satu embrio. Embrio terdiri atas radikula (yang
akan tumbuh menjadi akar) dan planula (yang akan tumbuh menjadi kecambah).
Cadangan makanan bagi embrio tersimpan dalam kotiledon yang didalamnya
terkandung pati, protein, dan beberapa jenis enzim. Kotiledon dikelilingi oleh
bahan yang kuat, yang disebut testa. Testa berfungsi sebagai pelindung kotiledon
untuk mencegah kerusakan embrio dan masuknya bakteri atau jamur kedalam biji.
Testa memiliki sebuah lubang kecil, disebut mikropil. Didekat mikropil terdapat
hilum yang menggabungkan kulit kotiledon.
Biji memiliki kandungan air yang sangat sedikit. Pada saat biji terbentuk,
air di dalamnya dikeluarkan sehingga biji mengalami dehidrasi. Akibat ketiadaan
air, biji tidak dapat melangsungkan proses metabolisme sehingga menjadi tidak
aktif (dorman). Dormansi biji sangat bermanfaat pada kondisi tidak nyaman
(suasana ekstrem, sangat dingin atau kering) karena struktur biji yang kuat akan
melindungi embrio agar tetap bertahan hidup.
b. Perkembangan Embrio
Embrio berkembang didalam biji. Setelah fertilisasi, zigot mengalami
rangakian pembelahan sel. Salah satu dari dua sel yang berasal dari mitosis zigot
akan berkembang menjadi embrio asli, sedangkan sel yang lain menjadi bahan
awal dari jaringan suspensor.
Embrio di dalam bakal biji (ovulum) berkembang menjadi massa bulat yang
mengandung ratusan sel. Massa sel tersebut berkembang menjadi jaringan primer

dan akhirnya membentuk seluruh jaringan utama tumbuhan dewasa, termasuk


kotiledon. Kotiledon berfungsi untuk menyimpan cadangan makanan dan
perkecambahan (germinasi).
Pada kutub embrio ditemukan dua massa sel yang belum terdiferensiasi, yaitu
meristem apikal ujung (terminal) dan meristem apical aka. Sel-sel tersebut berada
dalam kondisi dorman ketika biji pada masa dorminasi. Setelah biji berkecambah,
kedua massa sel tersebut berkembang menjadi daerah pertumbuhan batang dan
akar.
Perkembangan embrio terhenti stelah mencapai tahapan tertentu, yaitu saat
bakal biji telah menjadi biji matang. Biji tersebut tetap, yaitu sesuai untuk
perkecambahan. Di dalam biji yang matang, endosperma makanan telah
terdiferensiasi menjadi lapisan terluar sel (aleuron) dan massa sel terdalam
bertepung. Sel sel aleuron menyintesis enzim amilase. Enzim tersebut dapat
mengubah cadangan zat pati didalam endosperma menjadi gula yang dapat
digunakan oleh embrio.
c. Perkecambahan
Perkecambahan adalah proses pertumbuhan embrio dan komponen-komponen
biji yang memiliki kemampuan untuk tumbuh secara normal menjadi tumbuhan
baru. Komponen biji tersebut adalah bagian kecambah yang terdapat didalam biji,
misalnya radikula dan plumula.
Tahapan perkecambahan
Perkembangan bij berhubungan dengan aspek kimiawi. Proses tersebut
meliputi beberapa tahapan, antara lain imbibisi, sekresi hormon dan enzim,
hidrolisis cadangan makanan, pengiriman bahan makanan terlarut dan hormon ke
daerah titik tumbuh atau daerah lainnya, serta asimilasi (fotosintetis).
Proses penyerapan cairan pada biji (imbibisi) terjadi melalui mikropil. Air
yang masuk kedalam kotiledon membengkak. Pembengkakan tersebut pada
akhirnya menyebabkan pecahnya testa.
Awal perkembangan didahului aktifnya enzim hidrolase (protease, lipase, dan
karbohidrase) dan hormone pada kotiledon atau endosperma oleh adanya air.

Enzim protease segera bekerja mengubah molekul protein menjadi asam amino.
Asam amino digunakan untuk membuat molekul protein baru bagi membrane sel
dan sitoplasma. Timbunan pati diuraikan menjadi maltosa kemudian menjadi
glukosa. Sebagian glukosa akan diubah menjadi selulosa, yaitu bahan untuk
membuat dinding sel bagi sel sel yang baru. Bahan makanan terlarut berupa
maltosa dan asam amino akan berdifusi ke embrio.
Semua proses tersebut memerlukan energi. Biji memperoleh energi melalui
pemecahan glukosa saat proses respirasi. Pemecahan glukosa yang berasal dari
timbunan pati menyebabkan biji kehilangan bobotnya. Setelah beberapa hari,
plumula tumbuh di atas permukaan tanah. Daun pertama membuka dan mulai
melakukan fotosintesis.
Macam-macam perkecambahan, yaitu:
1) Perkecambahan Epigeal
Perkecambahan epigeal adalah apabila terjadi pembentangan ruas batang di
bawah daun lembaga atau hipokotil sehingga mengakibatkan daun lembaga dan
kotiledon terangkat keatas tanah, misalnya pada kacang hijau.Perkecambahan ini
umumnya terjadi pada biji tanaman Dicotyledoneae (kecuali kacang kapri),
contoh: kacang hijau, kacang kedelai, kapas.
2) Perkecambahan Hipogeal
Perkecambahan hipogeal adalah apabila terjadi pembentangan ruas batang
teratas (epikotil) sehinga daun lembaga ikut tertarik keatas tanah, tetapi kotiledon
tetap di dalam tanah. Umumnya terjadi pada biji monocotyleddoneae, contoh:
Jagung, padi. dan Dicotyledoneae yaitu hanya kacang kapri.
Pada akhir perkecambahan terbentuk akar, batang dan daun. Selanjutnya,
tumbuhan mengalami pertumbuhan,Macamnya yaitu:
1) Pertumbuhan primer
Pertumbuhan primer adalah pertumbuhan yang memanjang baik yang
terjadi pada ujung akar maupun ujung batang (meristem primer).

Berlangsung pada embrio, embrio dibedakan menjadi 3 bagian penting


yaitu:
a. Tunas embrionik, yaitu calon batang dan daun
b. Akar embrionik, yaitu calon akar
c. Kotiledon, yaitu cadangan makanan
Pertumbuhan primer pada ujung akar dan ujung batang dapat dibedakan
menjadi 3 daerah yaitu:
a) Daerah pembelahan sel, terdapat di bagian ujung akar. Sel sel di
daerah ini aktif membelah (bersifat meristematik)
b) Daerah perpanjangan sel, terletak di belakang daerah pembelahan.
Sel sel di daerah inimemiliki kemampuan untuk membesar dan
memanjang.
c) Daerah diferensiasi sel, merupakan daerah yang sel selnya
berdiferensiasi menjadi sel sel yang mempunyai fungsi dan
struktur khusus.
2) Pertumbuhan sekunder
Pertumbuhan sekunder terjadi akibat aktivitas pembelahan mitosis pada
jaringan meristem sekunder (lateral) sehingga mengakibatkan diameter
batang dan akar bertambah besar. Meristem lateral terbagi atas:
Kambium vaskuler (terletak diantara xylem dan floem menyebabkan
pembelahan sel kearah dalam membentuk xylem dan kearah luar
membentuk floem. dan Kambium gabus (jaringan pelindung yang
menggantikan fungsi jaringan epidermis yang rusak/ mati). Pertumbuhan
sekunder terjadi pada tumbuhan dikotil.
d. Faktor- faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan
a) Faktor Eksternal
1) Makanan (Zat Hara)
Makanan adalah sumber energi dan sumber materi untuk menyintesis berbagai
komponen sel. Nutrien yang dibutuhkan tumbuhan bukan hanya karbon dioksida
dan air, tetapi juga unsur unsur lainnya. Karbon dioksida diabsorpsi oleh daun,
sedangkan air dan mineral diserap oleh akar.
Makanan yang dibutuhkan oleh tumbuhan terdiri dari unsur makro dan mikro
yang masing masing terdiri atas 9 unsur makro dan 8 unsur mikro. Makronukrien

(unsure makro/butuh dalam jumlah banyak). Misalnya: C, H, O [defisiensi:


Pertumbuhan dan metabolisme terhambat,

akhirnya mati], N (Nitrogen)

[defisiensi: Daun pucat, klorosis/menguning dan gugur), P (Fosfor), K (Kalium),


Ca (Kalsium), S (Sulfur), Mg (Magnesium).
i.

ii.

iii.

iv.

v.

vi.

Nitrogen (N), peranannya:


Merangsang pertumbuhan vegetatif tanaman hingga tumbuhnya anakan.
Membuat tanaman lebih hijau karena banyak mengandung butir hijau
daun.
Merupakan bahan penyusun klorofil, lemak, dan protein.
Fosfor (P), peranannya:
Memacu pertumbuhan akar dan pembentukan sistem perakaran yang lebih
baik
Mempercepat pembungaan dan pemasakan buah iji, atau gabah.
Memperbesar persentase pembentukan bunga menjadi buah.
Sebagai bahan penyusun inti sel lemak dan protein.
Kalium (K), perananya:
Memperlancar fotosintesis.
Membantu pembentukan protein dan hidrat arang.
Sebagai katalisator dalam transformasi tepung, gula, dan lemak tanaman.
Mengeraskan jerami dan bagian kayu dari tanaman.
Meninggikan kualitas rasa dan warna dari buah dan bunga.
Meninggikan daya tahan tanaman terhadap serangan hama, penyakit dan
kekeringan.
Mempercepat pertumbuhan jaringan merismatik.
Magnesium (Mg), perananya:
Merupakan bahan penyusun klorofil.
Mengaktifkan enzim yang berperan pada metabolisme karbohidrat.
Menaikkan kadar minyak pada berbagai tanaman penghasil minyak.
Kalsium (Ca), perananya:
Merangsang pembentukan bulu-bulu akar dan biji bijian.
Mengeraskan jerami dan bagian kayu tanaman.
Belerang (S), peranannya:
Sebagai penyusun utama ion fosfat.
Menambah kandungan protein dan vitamin.

Mikronutrien (unsure mikro/butuh dalam jumlah sedikit). Misalnya : Fe (Besi)


[Klorosis], Cl (Klor) [layu], B (Boron), Mn (Mangan), Mo (Molibdenum), Zn
(Seng), Cu (Tembaga).
i.

Klor (Cl) peranannya:


Meningkatkan kuantitas dan kualitas tanaman.
6

ii.

Besi (Fe), peranannya:


Membentuk klorofil.
iii.
Mangan (Mn), peranannya:
Menyusun klorofil dan proses fotosintesis.
Mearngsang perkecambahan biji dan pemasakan buah.
iv. Tembaga dan Seng (Cu dan Zn), peranannya:
Mengatur sistem enzim tanaman dan membentuk klorofil.
v. Diperlukan pada tanah alkalis dan organik.
vi.
Boron (B), peranannya:
Meningkatkan kualitas dan kuantitas sayur dan membentuk klorofil.
Meningkatkan produksi biji bijian pada tanaman dan kacang kacangan.
vii.
Molibdenum (Mo), peranannya:
a. Membantu proses Fiksasi N untuk tanaman kacang kacangan, jeruk, dan

sayur mayur.
2) Suhu atau Temperatur
Untuk proses tumbuh dan perkembangan, tumbuhan memerlukan suhu yang
sesuai. Suhu tersebut disebut suhu optimum. Suhu paling rendah

yang masih

memungkinkan pertumbuhan disebut suhu minimum. Sedangkan suhu paling


tinggi yang masih memungkinkan pertumbuhan disebut suhu maksimum.
Jenis tumbuhan satu dengan yang lain memiliki suhu minimum, suhu
optimum, dan suhu maksimum yang berbeda beda. Bagi tumbuhan suhu
lingkungan berpengaruh terhadap aktivitas kerja enzim. Umumnya tumbuhan
tidak tumbuh di bawah suhu 0C dan di atas 40C . Kisaran suhu masih
memungkinkan tumbuh dengan baik adalah 22C 37C.
3) Air
Tanpa air, tumbuhan tidak akan tumbuh. Air merupakan senyawa utama yang
sangat dibutuhkan oleh tanaman yang berfungsi sebagai komponen pembantu
proses fotosintesis.
Fungsi lain dari air yaitu, mengaktifkan reaksi enzimatik, menjaga
kelembapan dan membantu perkecambahan biji tanaman baik pada biji tanaman
monokotil maupun dikotil.
4) Cahaya
Banyaknya cahaya yang dibutuhkan tidak selalu sama pada setiap tumbuhan,
umumnya cahayamenghambat pertumbuhan meninggi, karena cahaya dapat
menguraikan auksin (hormon pertumbuhan). Pada tempat yang gelap tumbuhan

akan lebih cepat tinggi daripada tempat yang terang. Pertumbuhan yang cepat di
tempat gelap disebut etiolasi.
Fotoperiodisme adalah Respon tumbuhan terhadap lama penyinaran (panjang
hari). Berdasarkan panjang hari, tumbuhan dapat dibedakan menjadi empat
macam,

hal

ini

ada

hubungannya

dengan

hormon

fitokrom

dalam

tumbuhan (protein dalam kromatofora yang mirip fikosianin), macamnya yaitu:


a. Tumbuhan hari pendek, tumbuhan yang berbunga jika terkena penyinaran
kurang dari 12 jam sehari. Tumbuhan hari pendek contohnya aster,
krisan,dahlia, ubi jalar, kedelai, dan anggrek.
b. Tumbuhan hari panjang, tumbuhan yang berbunga jika terkena penyinaran
lebih dari 12 jam (14 16 jam) sehari. Tumbuhan hari panjang, contohnya
bayam, kentang, gandum, kol, bit gula, selada, dan tembakau.
c. Tumbuhan hari netral, tumbuhan yang tidak responsive terhadap panjang
hari untuk pembungaannya. Tumbuhan hari netral contohnya bunga
matahari. mawar, kapas, mentimun dan tomat.

5) Kelembapan
Pengaruh kelembapan udara

berbeda-beda

terhadap

berbagai

tumbuhan, tanah dan udara yang lembap berpengaruh baik bagi tumbuhan.
Kondisi lembap menyebabkan banyak air yang diserap tumbuhan dan lebih sedikit
yang dikeluarkan.
6) Oksigen
Oksigen mempengaruhi pertumbuhan tumbuhan. Dalam respirasi aerob
pada tumbuhan, terjadi penggunaan oksigen untuk menghasilkan energi. Energi
ini digunakan, antara lain untuk pemecahan kulit biji dalam perkecambahan, dan
aktivitas tumbuhan. Apabila tumbuhan kekurangan Oksigen dapat mengalami
kematian.
7) pH medium (Tingkat keasaman)
Derajat keasaman tanah (pH tanah) sangat berpengaruh terhadap ketersediaan
unsur hara yang diperlukan oleh tumbuhan. Pada kondisi pH tanah netral unsurunsur yang diperlukan, seperti Ca, Mg, P, K cukup tersedia. Adapun pada pH
8

asam, unsur yang tersedia adalah Al, Mo, Zn, yang dapat meracuni tubuh
tumbuhan.
b) Faktor Internal
1. Gen
Gen berperan dalam pengendalian metabolisme zat di dalam sel,
misalnya proses sintesis protein. Proteinmerupakan komponen dasar penyusun
tubuh makhluk hidup termasuk tumbuhan. Dengan demikian gen dapat mengatur
pola pertumbuhan dengan cara menurunkan sifat-sifatnya dan sintesis-sintesis
yang dikendalikannya, Sehingga genetis tanaman satu dengan yang lainnya akan
memiliki

pola

pertumbuhan

yang

berbeda

akibat

susunan

gen

yang

berbeda beda.
2. Hormon
Hormon ialah regulator pertumbuhan yang sangat esensial, yang dibuat pada
satu bagian tumbuhan sedangkan respon pertumbuhan terjadi terhadap hormon di
bagian

tumbuhan

lainnya,

misalnya

di

akar,

batang

dan

daun.

Hormon pertumbuhan (fitohormon) yang telah dikenal antara lain auksin,


sitokinin, dan giberilin.
a. Auksin
Istilah auksin berasal dari bahasa Yunani auxein yang artinya meningkatkan.
Istilah ini pertama kali digunakan oleh Fritts Went, seorang mahasiswa
pascasarjana dari Belanda tahun 1926. Beberapa pengaruh auksin terhadap
pertumbuhan antara lain :
1) Merangsang perpanjangan sel.
2) Merangsang pembentukan bunga dan buah.
3) Merangsang pemanjangan titik tumbuh.
4) Mempengaruhi pembengkokan batang.
5) Merangsang pembentukan akar lateral.
6) Merangsang terjadinya proses diferensiasi.
b. Giberelin
Hormon Giberelin pertama kali ditemukan di Jepang tahun 1930. Penemuan
itu merupakan hasil penelitian tentang penyebab tanaman padi tumbuh sangat
tinggi. Tanaman padi tersebut tidak mampu tumbuh tegak dan akhirnya mati.

Hal ini dikarenakan lemahnya batang dan rusak oleh parasit. Ternyata
penyebab penyakit tersebut adalah cendawan Gibberella fujikuroi. Beberapa
pengaruh hormon Giberelin adalah:
1)
2)
3)
4)
5)

Memacu pertumbuhan batang.


Merangsang perkecambahan biji dan tunas.
Merangsang pembungaan lebih awal sebelum waktunya.
Merangsang perkembangan buah tanpa biji (partenokarpi).
Merangsang tanaman tumbuh sangat cepat sehingga mempunyai ukuran

raksasa.
c. Sitokinin
Hormon sitokinin pada dasarnya suatu senyawa yang merangsang proses
sitokinesis (pembelahan sel). bersama auksin yang mempengaruhi pembelahan sel
atau sitokinesis. Sitokin diperoleh dari ragi santan kelapa, ekstrak buah apel, dan
dari jaringan tumbuhan yang aktif membelah. Sitokinin yang pertama kali
ditemukan ialah kinetin. Beberapa fungsi sitokinin adalah:
1)
2)
3)
4)

Merangsang proses pembelahan sel.


Menunda pengguguran daun, bunga, dan buah.
Mempengaruhi pertumbuhan tunas dan akar.
Meningkatkan daya resistensi terhadap pengaruh yang merugikan seperti

suhu rendah, infeksi virus, pembunuh gulma, dan radiasi.


5) Menghambat (menahan) menguningnya daun dengan jalan membuat
kandungan protein dan klorofil yang seimbang dalam daun (senescens).
d. Asam Absisat
Zat ini merupakan zat penghambat tumbuh yang umum dijumpai pada
tumbuhan. Zat dijumpai pada semua tumbuhan tingkat tinggi, beberapa jenis
jamur, beberapa jenis lumut, ganggang hijau, namun tidak ditemukan pada
bakteri. Beberapa fungsi lainnya yaitu:
1) Menghambat perkecambahan biji.
2) Mempengaruhi pembungaan tanaman.
3) Memperpanjang masa dormansi umbi umbian.
4) Mempengaruhi pucuk tumbuhan untuk melakukan dormansi.
e. Gas Etilen
Gas etilen adalah gas atau uap yang dihasilkan oleh buah yang sudah tua. Pada
tahun 1934, R. Gane berhasil membuktikan bahwa etilen disintesis oleh tanaman
dan berperan mempercepat pematangan buah, merangsang pembungaan,

10

merangsang penuaan dan pengguguran daun serta menghambat pemanjangan


batang. Beberapa fungsi lainnya yaitu:
1) Membantu memecahkan dormansi pada tanaman, misalnya pada ubi dan
2)
3)
4)
5)

kentang.
Mendukung pematangan buah.
Mendukung terjadinya abscission (pelapukan) pada daun.
Mendukung proses pembungaan.
Menghambat pemanjangan akar pada beberapa spesies tanaman dan dapat

menstimulasi pemanjangan batang.


6) Menstimulasi perkecambahan.
7) Mendukung terbentuknya bulu-bulu akar.
f. Asam traumalin (hormon luka)
Tanaman mampu memperbaiki kerusakan atau luka yang terjadi pada
tubuhnya. Kemampuan tersebutdinamakan regenerasi yang dipengaruhi oleh
hormon luka.
g. Kalin
Kalin merupakan hormon yang mempengaruhi pembentukan organ.
1)
2)
3)
4)

Rhizokalin, mempengaruhi pembentukan akar.


Kaulokalin, mempengaruhi pembentukan batang.
Filokalin, mempengaruhi pembentukan daun.
Antokalin, mempengaruhi pembentukan bunga.

e. Objek Penelitian (Kacang Hijau)


Menurut Muhammad Faris Naufal, 2013. Kacang hijau merupakan salah satu
tanaman semusim yang berumur pendek (kurang lebih 60 hari). Tanaman ini
disebut juga mungbean, green gram atau golden gram. Dalam dunia tumbuhtumbuhan, tanaman ini diklasifikasikan seperti berikut ini:
Kingdom

: Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom

: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Super Divisi

: Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi

: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas

: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Sub Kelas

: Rosidae

Ordo

: Fabales

11

Famili

: Fabaceae (suku polong-polongan)

Genus

: Phaseolus

Spesies

: Phaseolus radiatus L.
Tanaman kacang hijau berbatang tegak dengan ketinggian sangat

bervariasi, antara 30-60 cm, tergantung varietasnya. Cabangnya menyamping


pada bagian utama, berbentuk bulat dan berbulu. Warna batang dan cabangnya
ada yang hijau dan ada yang ungu. Daunnya trifoliate (terdiri dari tiga helaian)
dan letaknya berseling. Tangkai daunnya cukup panjang, lebih panjang dari
daunnya. Warna daunnya hijau muda sampai hiaju tua. Bunga kacang hijau
berwarna kuning, tersusun dalam tandan, keluar pada cabang serta batang, dan
dapat menyerbuk sendiri. Polong kacang hijau berebntuk silindris dengan panjang
antara 6-15 cm dan biasanya berbulu pendek. Sewaktu muda polong berwarna
hijau dan dan setelah tua berwarna hitam atau coklat. Setiap polong berisi 10-15
biji.
Di dalam kacang hijau terdapat berbagai kandungan, antara lain : Protein
(memperkuat daya tahan tubuh). Kalsium dan fosfor (memperkuat tulang).
Vitamin B1 (membantu proses pertumbuhan dan menghasilkan energy). Vitamin
B2 (membantu penyerapan protein dalam tubuh). Vitamin E (membantu
meningkatkan kesuburan). Zat besi (membantu pembentukan sel darah merah).
Magnesium (menjaga fungsi otot dan syaraf) dan rendah lemak. Terdapat
antioksidan yang berguna bagi tubuh.
B. Tujuan
Untuk mengetahui pengaruh cahaya matahari terhadap pertumbuhan dan
perkembangan tanaman.
C. Waktu dan Tempat
Waktu
: Makassar, 13 Agustus 2015.
Pukul
: 08.00 WITA.
Tempat
: Halaman SMA Islam Terpadu Wahdah Islamiyah.

12

BAB II
METODE PRAKTIKUM
A. Alat dan Bahan
1. Biji kacang hijau sebanyak 10 butir.
2. Tanah.
3. Toples sebanyak 2 buah.
4. Kardus.
5. Label.
6. Air secukupnya.
7. Pulpen/spidol.
B. Prosedur Kerja
1. Berilah 5 lubang pada setiap toples.
2. Rendamlah 10 biji kacang hijau selama semalam.
3. Masukkanlah tanah ke dalam setiap toples dengan ukuran yang sama.
4. Tanamlah biji kacang hijau di setiap toples. Masing-masing toples terdiri
dari 5 biji kacang hijau.
5. Berilah nama di setiap toples dengan menggunakan label untuk
menandakan tanaman yang akan diletakkan di tempat yang terang dan
tempat yang gelap.
6. Siramlah tanaman tersebut.
7. Toples (pot) 1 diletakkan di dalam kardus yang berada di dalam kelas.
Sedangkan toples (pot) 2 diletakkan di tempat yang terkena cahaya
matahari.
8. Amatilah perubahan dari masing-masing tanaman.
9. Siramlah tanaman dengan rutin setiap hari hingga hari ketujuh.
10. Ukurlah tinggi masing-masing tanaman dari hari ke hari kemudian
masukkan data ke dalam laporan sementara beserta catatlah data
kualitatifnya.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
1) Data Kuantitatif
a. Pot 1 (Gelap)
Hari ke-

Pot 1

13

Tinggi

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

T1

T2

T3

T4

T5

2,3
9
18,5
24,5
25,8
26

3,3
11,5
20
23,5
24,5
24,5

2,7
9,9
17,5
20,5
21,5
21,5

3,4
11,5
20
24,5
25,1
25,1

3
10,9
21,5
24
25
25,1

Rata-rata
(cm)
2,94
10,56
19,5
23,4
24,38
24,44

b. Pot 2 (Terang)
Pot 2
Hari ke1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Tinggi

T1

T2

T3

T4

T5

1,4
8
8,5
9,2
10,5
11,5

1,2
7,3
8,5
9,5
11
12

1,9
8,5
9,1
10,3
11,4
13

1,6
7
7,9
9
10,6
12,5

1
6
8,5
9,5
12,5
13

2) Grafik Data Kuantitatif

14

Rata-rata
(cm)
1,42
7,36
8,5
9,5
11,2
12,4

POT 1 (GELAP)
30
25
20

Rata-rata Tinggi Tanaman (cm)

15
10
5
0
1

Hari ke -

POT 2 (TERANG)
25
20
15

Rata-rata Tinggi Tanaman (cm)

10
5
0
1

Hari ke -

15

3) Data Kualitatif
a. Pot 1 (Gelap)
Har
i ke1.

2.

Daun

Batang

Berwarna kuning pucat

Berwarna putih dan masih


kokoh

Keadaan
Tanaman
Tanamannya
masih lengkap.
Khusus T4
kotiledonnya
berwarna merah

3.

Berwarna kuning pucat

4.

Berwarna kuning pucat

5.

Berwarna kuning pucat

6.

Berwarna kuning pucat

Berwarna putih dan tidak

Masih utuh dan

dan mulai membengkok


Tinggi, membengkok, dan

mulai layu
Masih utuh dan

berwarna putih
Tinggi, membengkok,

kurang sehat

berwarna putih, dan


khusus T1 & T3 batangnya
terlipat
Tinggi, membengkok,

7.

Berwarna kuning pucat

Masih subur

kokoh
Tinggi, berwarna putih,

berwarna putih, dan


khusus T1 & T3 batangnya
patah

Masih lengkap
dan tanamannya
sudah layu
Masih lengkap
dan tanamannya
kurang sehat

b. Pot 2 (Terang)
Har

Daun

Batang

16

Keadaan Tanaman

i ke1.
2.

Pendek dan berwarna

Khusus tanaman 3

hijau

kotiledonnya

Berwarna hijau

Tegak dan berwarna

berwarna merah
Masih utuh

4.

Berwarna hijau

hijau
Tegak dan berwarna

Masih lengkap

5.

Berwarna hijau

hijau
Tegak dan berwarna

Masih utuh

6.

Berwarna hijau

hijau
Tegak dan berwarna

Tanamannya

hijau

menghadap ke arah

3.

Berwarna hijau

datangnya cahaya
7.

Berwarna hijau dan T4

Tegak dan berwarna

matahari
Tanamannya

daunnya sedikit robek

hijau

menghadap ke arah
datangnya cahaya
matahari

B. Pembahasan
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan telah menunjukkan bahwa terdapat
perbedaan pertumbuhan dan perkembangan di tempat yang terkena cahaya dan
yang tidak terkena cahaya (gelap). Hal ini menunjukkan bahwa cahaya
mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan kacang hijau.
Apabila ditanam di tempat gelap, maka tanaman kecambah akan tumbuh lebih
panjang daripada normalnya. Peristiwa itu terjadi karena pengaruh fitohormon,
terutama hormon auksin. Fungsi utama hormon auksin adalah sebagai pengatur
pembesaran sel dan memacu pemanjangan sel di daerah belakang meristem ujung.
Hormon auksin ini sangat peka terhadap cahaya matahari. Bila terkena cahaya
matahari, hormon ini akan terurai dan rusak. Pada keadaan yang gelap, hormon
auksin ini tidak terurai sehingga akan terus memacu pemanjangan batang.
17

Akibatnya, batang tanaman akan lebih panjang jika ditanam di tempat yang gelap,
tetapi dengan kondisi fisik tanaman yang kurang sehat, akar yang banyak dan
lebat, batang terlihat kurang sehat, warna batang dan daun pucat serta kekurangan
klorofil sehingga daun berwarna kuning. Peristiwa ini disebut etiolasi
Jika ditanam di tempat terang, maka kecambah akan tumbuh lebih pendek
daripada yang ditanam di tempat gelap. Peristiwa itu juga terjadi karena pengaruh
fitohormon, terutama hormon auksin. Seperti yang telah dijelaskan di atas,
hormon auksin ini akan terurai dan rusak sehingga laju pertambahan tinggi
tanaman tidak terlalu cepat. Akibatnya, batang tanaman akan lebih pendek, tetapi
dengan kondisi fisik tanaman yang sehat, subur, batang terlihat gemuk, daun
terlihat segar dan berwarna hijau serta memiliki cukup klorofil.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Setelah dilakukan praktikum dapat disimpulkan bahwa:

18

1. Kacang hijau yang tumbuh di daerah gelap akan lebih optimal dan cepat karena
peristiwa etiolasi dan tidak terurainya hormon auksin, sehingga akan terus
memacu pertumbuhan batang kacang hijau. Meskipun tanaman kacang hijau
ini tumbuh lebih tinggi, tetapi kondisi fisik tanamannya kurang sehat, batang
terlihat kurang sehat, warna batang dan daun pucat serta kekurangan klorofil
sehingga daun berwarna kuning.
2. Tanaman kacang hijau yang diletakkan di tempat terang akan tumbuh lebih
pendek karena hormon auksin akan terurai oleh cahaya dan rusak sehingga laju
pertambahan tinggi tanaman tidak cepat. Meskipun tanaman kacang hijau ini
tumbuh lebih pendek, tanaman ini mempunyai kondisi fisik yang sehat,subur,
batang terlihat gemuk, daun terlihat segar dan berwarna hijau serta memiliki
cukup klorofil.
B. Saran
Adapun saran yang bisa diberikan untuk pelaksanaan praktikum ini adalah:
1. Sebaiknya memperhatikan kualitas kacang hijau yang akan ditanam dan
memperhatikan kondisi lingkungan yang sesuai dengan apa yang ingin
diteliti sehingga hasil percobaan itu baik dan valid.
2. Sebaiknya, pada saat melakukan percobaan amatilah percobaan dengan
teliti dan siapkan tabel khusus untuk mencatat hasil penelitian.

DAFTAR PUSTAKA
Askariawati, Asnia. 2014. Pengaruh Cahaya terhadap Pertumbuhan Tanaman
Kacang Tanah dan Padi. http://asniaskariawati.blogspot.com. Diakses tanggal
27 Agustus 2015.
Naufal, Muhammad Faris. 2013. Laporan Pengamatan Pengaruh Cahaya terhadap
Pertumbuhan
dan
Perkembangan
Kacang
Hijau.
https://farischarming.wordpress.com. Diakses tanggal 27 Agustus 2015.

19