Anda di halaman 1dari 8

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Perlindungan konsumen adalah jaminan yang seharusnya didapatkan oleh para konsumen
atas setiap produk bahan makanan yang dibeli. Namun dalam kenyataannya saat ini konsumen
seakan-akan dianak tirikan oleh para produsen. Dalam beberapa kasus banyak ditemukan
pelanggaran-pelanggaran yang merugikan para konsumen dalam tingkatan yang dianggap
membahayakan kesehatan bahkan jiwa dari para konsumen. Dapat kita ketahui bahwa konsumen
menjadi pihak yang paling dirugikan. Selain konsumen harus membayar dalam jumlah atau
harga yang boleh dikatakan semakin lama semakin mahal, konsumen juga harus menanggung
resiko besar yang membahayakan kesehatan dan jiwanya hal yang memprihatinkan adalah
peningkatan harga yang terus menerus terjadi tidak dilandasi dengan peningkatan kualitas atau
mutu produk.
Hal-hal tersebut mungkin disebabkan karena kurangnya pengawasan dari Pemerintah
serta badan-badan hukum seperti Dinas kesehatan, satuan Polisi Pamong Praja, serta dinas
Perdagangan dan Perindustrian setempat. Eksistensi konsumen tidak sepenuhnya dihargai karena
tujuan utama dari penjual adalah memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya dalam jangka
pendek bukan untuk jangka panjang. Oleh karena itu, kami menyusun makalah ini yang berisi
tentang Perlindungan konsumen. Dalam makalah ini kami akan menjelaskan lebih lanjut serta
membuat solusi yang mungkin akan berguna bagi pembaca khususnya mahasiswa dimasa yang
akan !ating.
Rumusan Masalah
1. Apa saja hak - hak konsumen yang perlu dilindungi?
2. Bagaimana cara penyelesaian mengenai kasus hak - hak konsumen yang telah dilanggar dalam
kasus penjualan bakso daging celeng?

PEMBAHASAN
1. Hak hak konsumen yang dilindungi
Dalam pembangunan perekonomian nasional pada era globalisasi harus dapat
mendukung tumbuhnya dunia usaha sehingga mampu menghasilkan beraneka ragam produk
yang memilki kandungan tekhnologi yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat banyak
dan sekaligus mendapatkan kepastian kesejahteraan masyarakat banyak dan sekaligus
mendapatkan kepastian atas produk yang diperoleh dari perdagangan tanpa mengakibatkan
kerugian konsumen. Dengan semakin terbukanya pasar nasional sebagai akibat dari proses
globalisasi ekonomi juga tetap harus menjamin peningkatan kesejateraan masyarakat serta
kepastian atas mutu jual dan keamaanan produk maupun jasa yang diperoleh dipasar.
Untuk itu

diperlukan instrumen perundang-undangan untuk melindungi

serta

mewujudkan keseimbangan perlindungan kepentingan konsumen dan produsen dalam


perekonomian Maka Pemerintah Indonesia meresmikan Undang-Undang No. 8 Tahun
1999 tentang Perlindungan Konsumen. UU No. 8 Tahun 1999 memiliki tujuan untuk mengatur
perilaku produsen atau pelaku usaha makanan agar tujuan konsumen dapat dipenuhi dan
dilindungi secara hukum yang berimbang. Dengan berlakunya UU No. 8 Tahun 1999 diharapkan
menciptakan norma hukum konsumen yang mampu melindungi konsumen dari segala tindakan
illegal pelaku produsen dan sebagai norma hukum yang mampu menumbuhkan sikap yang
bertanggug jawab, serta peningkatan kualitas atau mutu pelaku usaha makanan.
Menurut UU No. 8 Tahun 1999, Perlindungan konsumen adalah segala upaya yang
menjamin adanya kepastian hukum untuk memberi perlindungan kepada konsumen. Sesuai
dengan Pasal 1 Butir 2 UU No.8 Tahun 1999, menekankan bahwa Konsumen atau konsumen
akhir (ultimade consumer) adalah pengguna atau pemanfaat akhir suatu produk. Adapun
pengertian Konsumen akhir menurut 1Nasution adalah setiap orang yang mendapatkan barang
atau jasa yang tersedia dalam masyarakt, digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup pribadi,
keluarga atau rumah tangganya, dan tidak untuk keperluan komersil. jika terjadi pelanggaran
terhadap hak-hak konsumen oleh pelaku usaha makanan, maka konsumen dapat mengadukan

1 AZ Nasution,Hukum Perlindungan Konsumen,Diadit Media,Jakarta,2014,hlm 15

keluhan kepada lembaga yang berwenang misalnya YLKI (Yayasan Perlindungan Konsumen
Indonesia
Perlindungan konsumen adalah masalah yang sangat mendasar dalam pembangunan nasional
sebuah negara dimana memerlukan seperangkat peraturan/ norma hukum sebagai upaya
perlindungan konsumen dewasa ini, dengan menjamin adanya kepastian hukum kepada
masyarakat. Menurut pasal 3 UU No. 8 Tahun 1999, tujuan dari perlindungan ini adalah :

Meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemandirian konsumen untuk melindungi diri.

Meningkatkan pemberdayaan konsuen dalam emilih, menentukan dan menuntut hakhaknya sebagai konsumen

Menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur kepastian hukum


dan keterbukaan informasi serta akses memdapatkan informasi.

Menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan ini sehingga


tumbuh sikap yang jujur dan bertanggungjawab dalam usaha,

Meningkatkan kualitas barang dan atau jasa yang menjamin kelangsungan usaha produksi
barang dan atau jasa, kesehatan, kenyamanan, keamanan dan keselatan konsumen.

Selain dilindungi oleh UU negara membentuk badan untuk melindungi konsumen yaitu
Badan Perlindungan Konsumen Nasional. BPKN dibentuk sebagai pengembangan upaya
perlindungan konsumen dalam hal: (1) pengaturan hak dan kewajiban konsumen dan pelaku
usaha; (2)pengaturan larangan larangan bagi pelaku usaha; (3) pengaturan tanggungjawab
pelaku usaha dan (4) pengaturan penyelesaian sengketa konsumen2. Adapun fungsi BPKN
memberikan saran dan pertimbangan kepada pemerintah dalam mengembangkan upaya
perlindungan konsumen dapat terjadi dalam berbagai bentuk dan tidak hanya terbatas pada
penyusunan kebijaksanaan di bidang perlindungan konsumen saja.3
Guna menjalankan fungsinya dalam memberikan saran dan pertimbangan kepada pemerintah,
BPKN mempunyai tugas:
1. Memberikan saran dan rekomendasi kepada pemerintah dalam rangka
penyusunan kebiaksanaan di bidang perlindungan konsumen.
2 Zulham,Hukum Perlindungan Konsumen,Jakarta:Kencana Prenada Media Grup,2013,hal 135
3 Ahmadi Miru,Hukum Perlindungan Konsumen,Jakarta:PT Raja Grafindo Persada,2004,hal 197

2. Melakukan penelitian dan pengkajian terhadap peraturan perundang-undangan


yang berlaku dibidang perlindungan konsumen.
3. Melakukan penelitian terhadap barang dan/jasa yang menyangkut keselamatan
konsumen.
4. Mendorong berkembangnya

Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya

Masyarakat.
5. Menyebarluaskan informasi melalui media mengenai perlindungan konsumen dan
memasyarakatkan sikap keberpihakan kepada konsumen.
6. Menerima pengaduan tentang pelindungan konsumen dari masyarakat,Lembaga
Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat,atau pelaku usaha.
7. Melakukan survei yang menyangkut kebutuhan konsumen. 4
Hak adalah kepentingan hukum yang dilindungi, kepetingan yang dimaksudkan adalah
tuntutan yang diharapkan untuk dipenuhi. Hak konsumen pada intinya untuk meraih
kenyamanan, keamanan dan keselamatan konsumen, sebab 3 faktor tersebut merupakan hal
paling utama dalam perlindungan konsumen. Perlindungan hak konsumen untuk menjamin
bahwa suatu barang dan atau jasa yang dihendakinya berdasarkan atas keterbukaan informasi
yang benar, jelas, dan jujur. Maka Hak konsumen dalam UU No. 8 Tahun 1999 Pasal 4, yakni:
8. Hak atas kenyamanan, keamanan dan keselamatan dalam halmengkonsumsi barang dan
atau jasa.
9. Hak untuk memilih barang dan atau jasa serta mendapatkan barang dan atau jasa tersebut
sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan.
10. Hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan
atau jasa.
11. Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan jasa yang digunakan.
12. Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesiaan sengketa
perlindungan konsumen secara patut.
13. Hak untuk diperlakukan atau dilayani secaa benar dan jujur serta tidak diskriminatif.
14. Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi, dan atau penggantian, apabila barang
dan jasa yang diteria tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya.
15. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan perundang-undangan lainnya.
2. Analisis dan penyelesaian kasus penjualan bakso daging celeng.
Jual Bakso Daging Celeng, Pria Ini Dipidanakan

4 Pasal 34 ayat 1 Undang-Undang Nomor 8tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen

TEMPO.CO, Jakarta - Seorang pedagang daging giling terbukti menjual daging celeng
yang disamarkan sebagai daging sapi. Daging giling itu biasa digunakan untuk bahan
baku bakso. "Sudah diperiksa di laboratorium, hasilnya memang benar itu daging
celeng," kata Kepala Seksi Pengawasan dan Pengendalian Suku Dinas Peternakan dan
Perikanan Jakarta Barat, Pangihutan Manurung. Menurut Pangihutan, instansinya
mendapat laporan tentang penjualan daging celeng di Jalan Pekojan III Tambora, Jakarta
Barat. Penjualnya bernama bernama Sutiman Wasis Utomo, 55 tahun. "Laporannya pekan
lalu, dan langsung kami tindaklanjuti," kata Pangihutan.bSutiman selama ini dikenal
sebagai pengusaha rumahan yang menjual bakso olahan untuk penjual bakso keliling.
Sehari setelah laporan masuk, seorang pegawai Suku Dinas Peternakan membeli bakso
tersebut dan memeriksanya di laboratorium. Hasil pemeriksaan menyatakan daging bakso
itu mengandung daging babi hutan atau celeng. Kepada para anggota tim pengawasan
dari Suku Dinas Peternakan, Sutiman mengaku membeli daging tersebut dari seorang
lelaki bernama John, yang berdomisili di Cengkareng, Jakarta Barat. Anggota tim saat ini
sedang melacak arus distribusi bakso olahan Sutiman. Menurut Pangihutan, daging
celeng yang dijual Sutiman tak melalui pengawasan oleh Suku Dinas Peternakan. Celeng
tersebut diburu di berbagai daerah di Pulau Jawa dan langsung dipasarkan secara
terselubung. "Tak ada jaminan daging yang dipasarkan itu sehat dan layak dikonsumsi,"
katanya. Atas perbuatan tersebut, Dinas Peternakan melaporkan Sutiman ke Polsek
Penjaringan. Sutiman dianggap menipu konsumen karena tak menyebutkan bahan baku
sebenarnya dan mengabaikan standar kesehatan. "Dia melanggar karena tak melewati
proses pengawasan dengan menggunakan babi dari rumah potong dan berterus terang
kepada pembeli," kata Pangihutan.
Berdasarkan kasus di atas produsen tersebut melanggar UU No. 8 Tahun 1999 Tentang
perlindungan Konsumen, ada 5 larangan yang dilanggar dalam Pasal 8 ayat (1) UUPK oleh
produsen tersebut, yakni pelaku usaha dilarang memproduksi dan atau memperdagangkan barang
dan atau jasa yang:
a. Tidak memenuhi tidak sesuai dengan standar yang dipersyaratkan dan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
b. Tidak sesuai dengan berat bersih, isi bersih atau netto, dan jumlah dalam hitungan
sebagaimana yang dinyatakan dalam label atau entiket barang tersebut.

c. Tidak sesuai dengan ukuran, takaran, timbangan dan jumlah dalam hitungan menurut
ukuran yang sebenarnya
d. Tidak sesuai dengan mutu, tingkatan, komposisi, proses pengolahan, gaya, mode, atau
penggunaan tertentu sebagaimana dinyatakan dalam label atau keterangan barang dan
atau jasa tersebut.
e. Tidak mengikuti ketentuan berproduksi secara halal, sebagaimana pernyataan halal
yang dicantumkan dalam label.

PENUTUP
a. Kesimpulan

1. Dari uraian Hak Konsumen dan Pelaku Usaha dapat dilihat bahwa terdapat hubungan
feed back atau saling timbal balik. Hal ini menunjukan bahwa konsumen harus
memenuhi kewajiban yang harus dipenuhi oleh pelaku usaha, demikian pula dengan
kewajiban konsumen harus dipenuhi dan diterima oleh pelaku usaha. Adanya
hubungan timbal balik ini diharapkan akan menciptakan Peningkatan kualitas dan
kuantitas Produk yang memberikan manfaat besar kepada seluruh Masyarakat suatu
negara. Selanjutnya diperlukan adanya gerakan sosial mengenai pemberdayaan
konsumen serta peningkatan kerjasama berbagai pihak, dimulai dari lembagalembaga pemerintah dan para pelaku usaha untuk menengakan perlindungan
konsumen.
2. Dalam kasus di atas dapat disimpulkan sang pelaku usaha dalam hal ini produsen
bakso daging celeng telah melanggar UU No. 8 Tahun 1999 Pasal 8 ayat (1) tentang
perlindungan Konsumen, serta dijerat Pasal 62 Undang-Undang Nomor 8 Tahun
1999 tentang perlindungan konsumen.
b. Saran
Saran yang dapat kami berikan adalah dalam pelaksanaannya Undang-Undang
perlindungan konsumen di Indonesia saat ini harus lebih di tegakkan lagi agar tujuan dari pada
undang undang itu sendiri dapat terlaksana dengan baik.sehingga undang undang ini betul betul
dapat meningkat harkat dan martabat konsumen serta dapat memberikan kepastian hukum yang
jelas, serta menetapkan sanksi yang tegas atas pelanggaran terhadap UU. Selama ini pun
pemerintah sudah membuat sanksi atas pelanggaran terhadap UU mengenai undang-undang
terhadap perlindungan konsumen namun hingga saat ini sanksi tersebut belum diterapkan secara
nyata dan tegas sehingga belum mampu menyebabkan efek jera pada setiap pelanggar UU
tersebut. Dan seharusnya pemerintah mengawasi secara langsung dalam proses produksi sebuah
produk yang akan diproduksi dalam kemasan banyak dikonsumsi oleh masyarakat secara umum.
Oleh karena itu ada baiknya selain pemerintah pembuat UU,dan sanksi terhadap pelanggarnya,
pemerintah pun melakukan pengawasan secara langsung. Hal ini akan diharapkan akan
mengurangi kemungkinan sebuah pelaku usaha melakukan kecurangan dalam produksi.

DAFTAR PUSTAKA