Anda di halaman 1dari 12

INSTITUSI PENDUKUNG LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH

Institusi pendukung yang lengkap, efektif, dan efisien berperan penting


untuk

memastikan

stabilitas

pengembangan

perbankan

syariah

secara

keseluruhan. Pada saat ini telah berdiri sejumlah lembaga yang berperan sebagai
institusi pendukung perbankan syariah di Indonesia. Diperlukan upaya agar
institusi pendukung tersebut lebih efektif dalam melaksanakan fungsinya sehingga
memberikan dampak positif terhadap pengembangan perbankan syariah.
Secara garis besar, terdapat 4 institusi pendukung pengembangan
perbankan syariah di Indonesia, yaitu: Bank Indonesia, Dewan Syariah NasionalMajelis Ulama Indonesia dan Dewan Pengurus Syariah, Lembaga Hukum dan
Arbitrase, dan Komite Akuntansi Syariah-Ikatan Akuntansi Indonesia.

A. Bank Indonesia
Bank Indonesia (BI) merupakan regulator bagi perkembangan
seluruh bank umum dan BPR di Indonesia, termasuk BUS dan BPR
syariah. Prinsip syariah pun telah masuk dalam Undang-undang Nomor 10
Tahun 1998 tentang perbankan, sebagai payung hukum pengembangan
perbankan syariah di Indonesia. Undang-undang tersebut berupaya agar:
1. Pasar uang antar bank berdasarkan prinsip syariah
2. Fasilitas pembiayaan jangka pendek bagi bank syariah.
3. Kualitas aset produktif.
4. Office chanelling.
Pada tahun 2002, BI menerbitkan Cetak Biru Pengembangan
Perbankan Syariah di Indonesia. Cetak Biru (blue print) ini dibuat untuk
memberikan arahan yang ingin dicapai serta tahapan-tahapan untuk
mewujudkan sasaran pengembangan jangka panjang. Berikut adalah
sasaran pengembangan perbankan syariah sampai tahun 2011 yang
digariskan dalam cetak tersebut:

1. Terpenuhinya prinsip syariah dalam operasional perbankan, yang


ditandai dengan:
a. Tersusunnya norma-norma keuangan syariah yang seragam
(standarisasi).
b. Terwujudnya mekanisme kerja yang efisien bagi pengawasan
prinsip syariah dalam operasional perbanan (baik instrument
maupun terkait).
c. Rendahnya tingkat keluhan masyarakat dalam hal penerapan
prinsip syariah dalam setiap transaksi.
2. Diterapkannya prinsip kehati-hatian dalam operasional perbankan
syariah:
a. Terwujudnya kerangka pengaturan dan pengawasan berbasis risiko
yang sesuai dengan karakteristiknya dan didukung oleh SDI yang
handal.
b. Diterapkannya konsep corporate governance dalam operasi
perbankan syariah.
c. Diterapkannya kebijakan exit dan entry yang efisien.
d. Terwujudnya realtime supervision.
e. Terwujudnya self regulatory sistem.
3. Terciptanya sistem perbankan syariah yang kompetitif dan efisien,
yang ditandai dengan:
a. Terciptanya pemain-pemain yang mampu bersaing secara global.
b. Terwujudnya aliansi strategis yang efektif
c. Terwujudnya mekanisme kerjasama dengan lembaga-lembaga
pendukung
4. Terciptanya stabilitas sistemik serta terealisasinya kemanfaatan bagi
masyarakat luas, yang ditandai dengan:
a. Terwujudnya safety net yang merupakan kesatuan dengan konsep
operasional perbankan yang berhati-hati.
b. Terpenuhinya kebutuhan masyarakat yang menginginkan layanan
bank syariah di seluruh Indonesia dengan target pangsa sebesar 5%
dari total asset perbankan nasional.
c. Terwujudnya fungsi perbankan syariah yang kaffah dan dapat
melayani seluruh segmen masyarakat.
d. Meningkatnya proporsi pola pembiayaan secara bagi hasil.1
1

Rizal Yaya et.al, Akuntansi Perbankan Syariah Teori dan Praktik


Kontemporer, (Jakarta, 2009), hal. 27-28

Pada pertengahan tahun 2008, pengaturan Bank Syariah dimuat


dalam undang-undang tersendiri, yaitu UU Nomor 21 Tahun 2008 tentang
Perbankan Syariah yang disahkan pada tanggal 16 juli 2008. Undangundang tersebut terdiri dari 13 Bab dan 70 Pasal, meliputi seperti yang
tercakup dalam Tabel.2
Struktur Undang-undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan
Syariah
Nama Bab
Bab 1
Bab 2
Bab 3

Judul Bab
Ketentuan Umum
Asas, Tujuan, dan Fungsi
Perizinan, Bentuk Badan Hukum, Anggaran Dasar, dan

Bab 4

Kepemilikan
Jenis dan Kegiatan Usaha, Kelayakan Penyaluran Dana,

Bab 5

serta Larangan bagi Bank Syariah dan UUS


Pemegang Saham Pengendali, Dewan Komisaris, DPS,

Bab 6

Direksi, dan Tenaga Kerja Asing


Tata Kelola, Prinsip Kehati-hatian, dan Pengelolaan Risiko

Bab 7
Bab 8
Bab 9
Bab 10
Bab 11
Bab 12
Bab 13

Perbankan Syariah
Rahasia Bank
Pembinaan dan Pengawasan
Penyelesaian Sengketa
Sanksi Administratif
Ketentuan Denda
Ketentuan Peralihan
Ketentuan Penutup
Peran lain BI dalam pengembangan perbankan syariah adalah

dalam menyediakan instrumen keuangan guna membantu bank syariah


menyimpan kelebihan likuiditasnya. Saat ini, jenis instrument yang
digunakan oleh BI adalah Sertifikat Bank Indonesia Syariah (dahulu
bernama Sertifikat Wadiah Bank Indonesia).

Ibid. hal. 29-30

Berikut adalah Ketentuan Umum Sertifikat Bank Indonesia, yang


di atur dalam BAB I Peraturan Bank Indonesia Tentang Sertifikat Wadiah
Bank Indonesia:
Pasal 1
Dalam Peraturan Bank Indonesia ini, yang dimaksud dengan;
1. Bank Syariah adalah Bank Umum sebagaimana dimaksud dalam pasal
1 angka 3 UU No. 7 tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah
diubah dengan Undang-undang No. 10 tahun 1998, yang
melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah termasuk
kantor cabang dan atau kantor cabang pembantu dari suatu bank yang
berkedudukan di luar negeri yag melaksanakan kegiatan usaha
berdasarkan prinsip syariah;
2. Unit Usaha Syariah, yang selanjutnya disebut UUS adalah unit kerja di
kantor pusat bank umum yang melakukan kegiatan usaha secara
konvensional yang berfungsi sebagai kantor induk dari kantor cabang
atau kantor syariah dan atau unit syariah, atau unit kerja di kantor
cabang dari suatu bank yang bekerja di luar negeri yang melakukan
kegiatan usaha secara konvensional yang berfungsi sebagai kantor
induk dari kantor cabang sebagai kantor induk dari kantor cabang
pembantu syariah dan atau unit syariah.
3. Sertifikat Wadiah Bank Indonesia, yang selanjutnya disebut SWBI
adalah bukti penitipan dana wadiah;
4. Penitipan Dana Wadiah adalah penitipan dana berjangka pendek
dengan menggunakan prinsip wadiah yang disediakan oleh Bank
Indonesia bagi Bank Syariah atau UUS;
5. Wadiah adalah perjanjian penitipan dana antara pemilik dana dengan
pihak penerima titipan yang dipercaya untuk menjaga dana tersebut.
Pasal 2
1. Bank Indonesia dapat menerima Penitipan Dana Wadiah dari Bank
Syariah atau UUS;
2. Penitipan Dana Wadiah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
dilakukan dengan mengajukan permohonan kepada Bank Indonesia.

Pasal 3
1. Jumlah dana yang dititipkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2
ayat (1) sekurang-kurangnya Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta
rupiah).
2. Jumlah penitipan dana diatas Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah)
hanya dapat dilakukan dalam kelipatan Rp. 50.000.000,- (lima puluh
juta rupiah).
Pasal 4
1. Penitipan Dana Wadiah dapat berjangka waktu 7 (tujuh) hari, 14
(empat belas) hari, dan 28 (dua puluh delapan) hari;
2. Bank Indonesia akan mengumumkan jangka waktu Penitipan Dana
Wadiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pada hari Penitipan Dana
Wadiah.

Pasal 5
1. Penitipan Dana Wadiah tidak dapat diambil kembali oleh Bank syariah
atau UUS sebelum berakhirnya jangka waktu Penitipan Dana Wadiah;
2. Dalam hal diperlukan Bank Indonesia dapat mengakhiri Penitipan
Dana Wadiah sebelum berakhirnya jangka waktu sebagaimana
dimaksud dalam pasa 4 ayat (1).3
Selain itu, guna memastikan adanya landasan hukum terhadap
fatwa yang dikeluarkan oleh DSN sebagai lembaga yang memiliki otoritas
dalam mengeluarkan fatwa, BI berdasarkan UU Nomor 21 Tahun 2008
telah membentuk Komite Perbankan Syariah yang bertugas menyusun
peraturan BI terkait fatwa yang telah dikeluarkan oleh DSN.4

Peraturan Bank Indonesia Tentang Sertifikat Wadiah Bank Indonesia.


(aishkuw.blogspot.com, 2009).

B. Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia dan Dewan Pengawas


Syariah
Hal penting yang membedakan bank islam dari bank konvensional
adalah adanya Dewan Pengawas Syariah, yang bersifat independen. Para
praktisi ekonomi syariah, masyarakat dan pemerintah (regulator)
membutuhkan fatwa-fatwa syariah dari lembaga ulama (MUI) berkaitan
dengan praktek dan produk di lembaga-lembaga keuangan syariah
tersebut. Perkembangan lembaga keuangan syariah yang demikian cepat
harus diimbangi dengan fatwa-fatwa hukum syariah yang valid dan
akurat, agar seluruh produknya memiliki landasan yang kuat secara
syariah. Tugas Dewan Pengawas Syariah adalah melakukan pengawasan
pada Bank Islam yang mengacu pada fatwa Dewan Syariah Nasional serta
norma-norma syariah menyangkut operasionalisasi bank, produk Bank
Islam, dan moral manajemen.
1. Dewan Syariah Nasional
Dewan Syariah Nasional (DSN) merupakan bagian dari MUI yang
membuat fatwa terkait produk keuangan syariah. Pada awal tahun 1999,
Dewan Syariah Nasional secara resmi didirikan sebagai lembaga syariah
yang bertugas mengayomi dan mengawasi operasional aktivitas
perekonomian Lembaga Keuangan Syariah (LKS). Selain itu juga untuk
menampung berbagai masalah/kasus yang memerlukan fatwa agar
diperoleh kesamaan dalam penangannya oleh masing-masing Dewan
Pengawas Syariah yang ada di masing-masing LKS.
DSN sebagai sebuah lembaga yang dibentuk oleh MUI secara
sturktural berada di bawah MUI. Sementara kelembagaan DSN sendiri
belum secara tegas diatur dalam peraturan perundang-undangan. Menurut
Pasal 1 angka 9 PBI No. 6/24/PBI/2004, disebutkan bahwa: DSN adalah
dewan yang dibentuk oleh Majelis Ulama Indonesia yang bertugas dan

Op. cit. hal 26

memiliki kewenangan untuk memastikan kesesuaian antara produk, jasa,


dan kegiatan usaha bank dengan Prinsip Syariah.5
Menurut Keputusan DSN No. 01 Tahun 2000 tentang Pedoman
Dasar Dewan Majelis Ulama Indonesia, DSN bertugas sebagai berikut:
a. Menumbuhkembangkan penerapan nilai-nilai syariah dalam kegiatan
perekonomian pada umumnya dan keuangan khususnya;
b. Mengeluarkan fatwa atas jenis-jenis kegiatan keuangan;
c. Mengeluarkan fatwa atas produk dan jasa keuangan syariah;
d. Mengawasi penerapan fatwa yang telah dikeluarkan.
DSN berwenang :
a. Mengeluarkan fatwa yang mengikat DPS di masing-masing Lembaga
Keuangan Syariah dan menjadi dasar tindakan hukum tersebut;
b. Mengeluarkan fatwa yang menjadi landasan bagi ketentuan/peraturan
yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang, seperti Departemen
Keuangan dan Bank Indonesia;
c. Memberikan rekomendasi dan atau mencabut rekomendasi nama-nama
yang akan duduk sebagai DPS pada suatu Lembaga Keuangan Syariah;
d. Mengundang para ahli untuk menjelaskan suatu masalah yang
diperlukan dalam pembahasan ekonomi syariah, termasuk otoritas
moneter/lembaga keuangan dalam maupun luar negeri.
e. Memberikan peringatan kepada LKS untuk menghentikan
penyimpangan dari fatwa yang telah dikeluarkan oleh DSN; dan
Mengusulkan kepada instansi yang berwenang untuk mengambil
tindakan apabila peringatan tidak di indahkan.6
2. Dewan Pengawas Syariah
Penjelasan Pasal 6 Huruf M Undang-Undang Perbankan No. 10
Tahun 1998 tentang Perubahan, Undang-Undang No. 7 Tahun 1992
tentang Perbankan menjelaskan bahwa dalam suatu lembaga Perbankan
Islam harus di bentuk Dewan Pengawas Syariah.
5

Wirdyaningsih, SH., MH., Bank dan Asuransi Islam Di Indonesia,(Jakarta, 2005),


hal. 101

Op. cit. hal. 27

Menurut Pasal 21 PBI No. 6/24/PBI/2004 anggota Dewan


Pengawas Syariah wajib memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. Integritas, yaitu:
1) Memiliki akhlak dan moral yang baik;
2) Memiliki komitmen untuk mematuhi peraturan perundangundangan yang berlaku;
3) Memiliki komitmen yang tinggi terhadap pengembangan
operasional bank yang sehat; dan
4) Tidak termasuk dalam daftar tidak lulus sesuai dengan ketentuan
yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.
b. Kompetensi, yaitu memiliki pengetahuan dan pengalaman di bidang
syariah muamalah dan pengetahuan di bidang perbankan dan atau
keuangan secara umum.
c. Reputasi keuangan, yaitu pihak-pihak yang: Tidak pernah dinyatakan
pailit atau menjadi direksi atau komisaris yang dinyatakan bersalah
menyebabkan suatu perseroan dinyatakan pailit, dalam waktu 5 tahun
terakhir sebelum dicalonkan.7
C. Lembaga Hukum dan Arbitrase
Badan Arbitrase Muamalat Indonesia (BAMUI) yang sekarang
mengalami perubahan menjadi Badan Arbitrase Syariah Nasional
(BASYARNAS) merupakan badan yang berada dibawah MUI dan
merupakan perangkat organisasi MUI. BASYARNAS adalah salah satu
wujud dari Arbitrase Islam yang pertama kali didirikan di Indonesia.
Pendiriannya di prakarsai oleh Majelis Ulama Indonesia tanggal 05
jumadil Awal 1414 H bertepatan dengan tanggal 21 Oktober 1993 M.
Kehadiran Badan Arbitrase Syariah Nasional (BASYARNAS)
samgat diharapkan umat Islam Indonesia, bukan saja karena dilatar
belakangi oleh kesadaran dan kepentingan umat untuk melaksanakan
syariat Islam, melainkan juga lebih dari itu adalah menjadi kebutuhan riil
sejalan dengan perkembangan ekonomi di kalangan umat. Karena itu,
tujuan BASYARNAS didirikan sebagai badan permanen dan independen
yang berfungsi menyelesaikan kemungkinan terjadinya sengketa muamalat
7

Op. cit, hal. 103

yang timbul dalam hubungan perdagangan, industry, keuangan, jasa dan


lain-lain dikalangan umat Islam.
Dengan dibuatnya UU No. 10 Tahun 1998 sebagai perubahan UU
No. 7 Tahun 1992, menandai bahwa pemerintah telah melegalisir
keberadaan bank-bank syariah di Indonesia, sehingga lahirlah bank-bank
baru yang beroperasi secara syariah. Dengan adanya bank-bank yang baru
ini maka dimungkinkan terjadinya sengketa-sengketa antara bank tersebut
dengan nasabahnya, sehingga Dewan Syariah Nasional menganggap perlu
mengeluarkan fatwa-fatwa bagi lembaga keuangan syariah, agar didapat
kepastian hukum mengenai setiap akad-akad dalam perbankan syariah,
dimana di setiap akad itu dicantumkan klausula arbitrase yang berbunyi :
jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi
perselisihan diantara para pihak maka penyelesaiannya dilakukan melalui
Badan Arbitrase Syariah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui
musyawarah8
Badan Arbitrase Syariah Nasional (BASYARNAS) berdiri secara
otonom dan independen sebagai salah satu instrument hukum yang
menyelesaikan perselisihan para pihak, baik yang datang dari lingkungan
bank syariah, asuransi syariah maupun pihak lain yang memerlukannya.
Bahkan dari kalangan non muslim pun dapat memanfaatkan Badan
Arbitrase Syariah Nasional (BASYARNAS) selama yang bersangkutan
mempercayai kredibilitasnya dalam menyelesaikan sengketa.
D. Komite Akuntansi Syariah-Ikatan Akuntansi Indonesia
Komite Akuntansi Syariah (KAS) merupakan komite yang
dibentuk oleh IAI untuk merumuskan standar akuntansi syariah. Komite
ini dibentuk sejak oktober 2005 dari berbagai unsur, antara lain Dewan
Standar Akuntansi Keuangan-Ikatan Akuntansi Indonesia (DSAK-IAI),
DSN-MUI, BI, BABEPAM, Asosiasi Perbankan Syariah Indonesia

Majelis Ulama Indonesia, Sejarah Basyarnas, (mui.org.id, 2009).

(ASBISINDO), Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI), dan


akademisi.9
Komite Akuntansi Syariah bersama dengan Dewan Standar
Akuntansi Keuangan - Ikatan Akuntan Indonesia sampai tahun 2006 telah
menghasilkan konsep Bangun Prinsip Akuntansi Syariah yang berlaku
umum, dan Exposure Draft (ED) Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan
untuk transaksi kegiatan usaha dengan mempergunakan akuntansi
berdasarkan kaidah syariah. Draf yang telah dihasilkan KAS-IAI
selanjutnya disahkan oleh DSAK pada tahun 2007. Berikut ini daftar ED
Standar Akuntansi Keuangan bagi perbankan syariah:
1. ED Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan
Syariah.
2. ED PSAK 101 (Revisi 2006) tentang Penyajian Laporan Keuangan
3.
4.
5.
6.
7.

Syariah,
ED PSAK 102 (Revisi 2006) tentang Akuntansi Murabahah.
ED PSAK 103 (Revisi 2006) tentang Akuntansi Salam.
ED PSAK 104 (Revisi 2006) tentang Akuntansi Istishna.
ED PSAK 105 (Revisi 2006) tentang Akuntansi Mudharabah.
ED PSAK 106 (Revisi 2006) tentang Akuntansi Musyarakah.
IAI sebagai lembaga yang berwenang dalam menetapkan standar

akuntansi keuangan dan audit bagi berbagai industry merupakan elemen


penting dalam pengembangan perbankan syariah di Indonesia, dimana
perekonomian syariah tidak dapat berjalan dan berkembang dengan baik
tanpa adanya standar akuntansi keuangan yang baik.
Standar akuntansi dan audit yang sesuai dengan prinsip syariah
sangat dibutuhkan dalam rangka mengakomodir perbedaan esensi antara
operasional Syariah dengan praktek perbankan konvensional. Untuk itulah
pada tanggal 25 juni 2003 telah ditandatangani nota kesepahaman antara
Bank Indonesia dengan IAI dalam rangka kerjasama penyusunan berbagai
standar akuntansi di bidang perbankan Syariah, termasuk pelaksanaan
kerjasama riset dan pelatihan pada bidang-bidang ang sesuai dengan
kompetensi IAI.
9

Rizal Yaya et.al, Akuntansi Perbankan Syariah Teori dan Praktik


Kontemporer, (Jakarta, 2009), hal. 28

10

Dengan semakin pesatnya perkembangan industri perbankan


syariah maka dinilai perlu untuk menempurnakan standar akuntansi yang
ada. Pada tahun 2006, IAI telah menyusun draft Pedoman Akuntansi
Perbankan Syariah Indonesia (PAPSI). Draft ini diharapkan dapat
ditetapkan menjadi standar pada tahun 2007.
Dalam penyusunan standar akuntansi keuangan syariah, IAI
bekerjasama dengan Bank Indonesia, DSN serta pelaku perbankan syariah
dan dengan mempertimbangkan standar yang dikeluarkan lembaga
keuangan syariah internasional AAOIFI (Accounting and Auditing
Organization for Islamic Financial Institutions). Hal ini dimaksudkan agar
standar yang digunakan selaras dengan standar akuntansi keuangan syariah
internasional.10

DAFTAR PUSTAKA

10 Fadjar Ari Dewanto. Perkembangan Akuntansi Syariah.


(vibizmanagement.com, 2008).

11

"Peraturan Bank Indonesia Tentang Sertifikat Wadiah Bank


Indonesia". (2009). aishkuw.blogspot.com .
Dewanto, F. A. (2007). "Perkembangan Akuntansi Syariah".
Vibizmanagement.com .
Majelis Ulama Indonesia. (2009). "Sejarah Basyarnas". Mui.org.id .
Suswadi. (2007). "Analisa Efisiensi Perbankan Syariah Di Indonesia".
Yogyakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Islam.
Wirdyaningsih. (2005). Bank dan Asuransi Islam Di Indonesia.
Jakarta: Fakultas Hukum Universitas Indonesia.
Yaya, R., Martawireja, A. E., & Abdurahim, A. (2009). Akuntansi
Perbankan Syariah Teori dan Praktik Kontemporer. Jakarta:
Salemba Empat.

12