Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Manajemen memiliki berbagai level dengan tugas yang berbeda - beda,
sehingga masing masing level tersebut membutuhkan informasi dan dukungan
sistem informasi yang sesuai dengan tugasnya. Computer Based Information
System (CBIS) atau yang dalam Bahasa Indonesia disebut juga Sistem Informasi
Berbasis Komputer merupakan sistem pengolah data menjadi sebuah informasi
yang berkualitas, berguna bagi penerimanya, dan dipergunakan untuk suatu alat
bantu

pengambilan

keputusan.

Sistem

Informasi

berbasis

komputer

mengandung arti bahwa komputer memainkan peranan penting dalam sebuah


sistem informasi. CBIS atau Computer Base Information System, mengandung arti
bahwa komputer memainkan peranan penting dalam sebuah sistem informasi,
meskipun secara teoritis, penerapan sebuah sistem informasi memang tidak harus
menggunakan komputer dalam kegiatannya, namun pada prakteknya dengan data
dan kebutuhan informasi yang begitu kompleks maka peran teknologi komputer
begitu dibutuhkan, peran komputer inilah yang dikenal dengan istilah computer
based karena digunakan untuk mengolah informasi dalam sebuah sistem maka
disebut Computer Base Information System atau sistem informasi berbasis
komputer. Diharapkan dengan CBIS dapat menghasilkan informasi yang
berkualitas, sehingga tujuan organisasi (user) dapat tercapai secara effisien dan
efektif dengan hasil yang maksimal dalam proses yang optimal dan 5 (lima) hal
pokok yang merupakan manfaat dari sistem informasi dalam pengendalian
manajemen organisasi, yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.

Penghematan waktu (time saving).


Penghematan biaya (cost saving).
Peningkatan efektifitas (effectiveness)
Pengembangan teknologi (technology development)
Pengembangan personil akuntansi (accounting staff development).

1.2 Topik Bahasan


1. Klasifikasi sistem informasi berbasis komputer
2. Sistem Pemrosesan Transaksi (Transaction Processing System TPS)
1

3.
4.
5.
6.

Sistem Otomatis Perkantoran (Office Automation System OAS)


Sistem Pendukung Keputusan (Decision Support System DDS)
Sistem Informasi Eksekutif (Executive Information System EIS)
Sistem Pendukung Kelompok (Group Support System GSS)

1.3 Tujuan
Tujuan disusunnya makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah
Sistem Informasi Manajemen.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Klasifikasi Sistem Informasi Berbasis Komputer

Sistem informasi yang digunakan pada semua area fungsional dalam


organisasi dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

1
2
3
4
5
6

Sistem Pemrosesan Transaksi


Sistem Informasi Manajemen
Sistem Otomasi Perkantoran
Sistem Pendukung Keputusan
Sistem Informasi Eksekutif
Sistem Pendukung Kelompok
Tabel 2.1 Jenis CBIS

Berikut adalah gambaran tentang fungsi masing masing sistem informasi,


dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2.2 Fungsi masing-masing sistem informasi


Dari paparan tersebut diketahui bahwa terdapat perbedaan pengguna untuk
setiap sistem informasi. Berikut adalah keterkaitan antara berbagai level
manajemen (sebagai pengguna) dengan sistem informasi yang diperlukannya.

Gambar 2.1 Gambaran umum penggunaan berbagai sistem informasi dalam


organisasi

2.2 Sistem Pemrosesan Transaksi (Transaction Processing System TPS)


Fokus utama sistem ini adalah pada data transaksi. Sistem informasi ini
digunakan untuk menghimpun, menyimpan, dan memroses data transaksi. Contoh
penggunaan sistem ini adalah pada frontliner di bank.

Data
Transaksi

Sistem

Disimpan
dalam
basis
data

Pelapora
n Data
transaksi

Gambar 2.2 Proses pada frontliner di bank


Karakteristik utama sistem pemrosesan transaksi:
1
2
3
4
5
6

Jumlah data yang diproses sangat besar


Pemrosesan data secara teratur : Harian, mingguan, dan sebagainya
Kapasitas penyimpanan (database) besar
Kecepatan pemrosesan yang diperlukan tinggi
Umumnya memantau dan mengumpulkan data masa lalu
Input dan outputnya terstruktur, sehingga data diformat dalam suatu

7
8
9

standar
Sangat terinci
Komputasi tidak rumit
Pemakai dapat melakukan permintaan terhadap database

Sistem pemrosesan data pada SPT ini dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:
1

Pemrosesan batch (batch processing)


Pengolahan secara batch merupakan sistem pengolahan data transaksi
dengan cara mengumpulkan terlebih dahulu data transaksi yang terjadi,
kemudian pada waktu yang telah ditentukan sekaligus memproses data

transaksi tersebut, biasanya sambil memperbaharui file master.


Pemrosesan seketika (online atau real time)
Pada pemrosesan online, tidak ada penundaan pemrosesan. Setiap
transaksi yang terjadi segera dibukukan.

Terdapat beberapa perbedaan antara real-time dan batch processing, yaitu :


Setiap transaksi secara real-time merupakan proses yang unik. Hal ini
bukan bagian dari kelompok transaksi, walaupun transaksi diproses

dengan cara yang sama. Pemrosesan Transaksi secara real-time berdiri


sendiri baik dalam pemasukan ke sistem dan juga dalam penanganan

output nya.
Pemrosesan real-time memerlukan master file yang tersedia untuk lebih
sering memperbarui dan referensi daripada batch processing. Database

tidak dapat diakses setiap waktu untuk batch processing.


Pemrosesan real-time memiliki lebih sedikit kesalahan daripada batch
processing, sebagai data transaksi divalidasi dan dimasukkan dengan
segera. Dengan batch processing, data diatur dan disimpan sebelum master

file diupdate. Kesalahan dapat terjadi selama langkah ini.


Jarang terjadi kesalahan dalam pemrosesan real-time, namun mereka

sering ditoleransi.
Lebih banyak operator komputer dibutuhkan dalam proses real-time,
karena operasi tidak sentralistik. Hal ini lebih sulit untuk memelihara

sistem pemrosesan real-time dari pada sistem batch.


Contoh :
1. TPS membuat pernyataan konsumen, cek gaji karyawan, kuitansi
penjualan, order pembelian, formulir pajak, dan rekening keuangan. TPS
juga memperbaharui database yang digunakan perusahaan untuk diproses
lebih lanjut oleh Sistem Informasi Manajemen.
2. Dalam rekening keuangan yang meliputi registrasi masuknya murid baru,
baik itu pembayaran-pembayaran serta cek gaji karyawan yang meliputi
sistem perhitungan gaji. Dalam inventory system yaitu Database berisi
kelengkapan peralatan sarana dan prasarana sekolah serta pemeliharaan
sekolah beserta murid, guru dan lingkungan sekolah, yang tujuannya untuk
mengembangkan suatu sekolah agar lebih maju dan sesuai dengan apa
yang diharapakan.
3. Aplikasi Bantuan Keuangan Desa (BKD Pemprov Jawa Timur) aplikasi
bantuan keuangan desa adalah aplikasi manajemen oprasional Program
Bantuan Keuangan seluruh Desa di propinsi Jawa timur. Aplikasi ini
menangani semua proses Mekanisme Bantuan Keuangan Seluruh desa di
Jawa Timur, mulai dari proses Usulan Bantuan, Penetapan Anggaran,
Perubahan Anggaran Bantuan, Pencairan Bantuan, beserta seluruh proses
Pelaporan di dalamnya.

Gambar 2.3 Contoh aplikasi Tps


2.3 Sistem Otomatis Perkantoran (Office Automation System OAS)
Sistem yang memberikan fasilitas tugas-tugas pemrosesan transaksi sehari-hari
dalam perkantoran. Sistem ini menyediakan berbagai perangkat lunak untuk
pemrosesan data, seperti pengolah kata (word processor), pengolah lembar kerja
(worksheet), pengolah grafik, aplikasi presentasi, basis data personal, surat
elektronik, bahkan teleconference.
Berikut adalah tiga fase dalam sistem informasi perkantoran:
1 Fase Dasar
Meningkatkan kualitas pekerja pada Type 1 (sekretaris, surat menyurat,
dsb)
Mengurangi jumlah kertas. Contoh: Word processor
2 Fase Penggabungan
Meningkatkan komunikasi dalam manajemen. Contoh: E-mail, voice mail,
dsb
3 Fase Lanjutan
Meningkatkan perencanaan dalam pembuatan keputusan
Meningkatkan kualitas seluruh organisasi
Contoh: Video Conference

2.4 Sistem Pendukung Keputusan (Decision Support System DDS)


Sistem ini adalah sistem infromasi interaktif yang menyediakan informasi,
permodelan, dan pemanipulasian data yang digunakan untuk membantu
pengambilan keputusan pada situasi yang semiterstruktur dan situasi yang tidak
terstruktur dimana tidak seorang pun tahu secara pasti bagaimana keputusan
seharusnya dibuat.
Dss lebih ditujukan untuk mendukung manajemen dalam melakukan pekerjaan
yang bersifat analisis, dalam situasi yang kurang terstruktuk dan dengan kriteria
yang kurang jelas. Dss memberikan perangkat interaktif yang memungkinkan
pengambil keputusan dapat melakukan berbagai analisis dengan menggunakan
model-model yang tersedia.
Nama Software DSS

Pembuat

Bussiness-modular
Decision AIDED II
Decision Master
Direct Test
Expert Choice
Max Thing
Planning Tool

Business Model System


Kepner-Tregi, Inc
Generic Software, Inc
SPSS, Inc
Decision Support Software, Inch
Max Thing, Inc
ATR, Inc
Tabel 2.3 Contoh software DSS
Tujuan dari Decision Support System (DSS) antara lain adalah :
1. Membantu manajer membuat keputusan untuk memecahkan masalah semi
struktur
2. Mendukung penilaian manajer bukan mencoba menggantikannya
3. Meningkatkan efektifitas pengambilan keputusan seorang manajer dari
pada efisiensinya. Tahap-tahap dalam pengambilan keputusan antara lain
adalah
4. Kegiatan intelijen
5. Kegiatan merancang
6. Kegiatan memilih dan menelaah
Kegiatan intelijen ini merupakan kegiatan mengamati lingkungan untuk
mengetahui kondisi-kondisi yang perlu diperbaiki. Kegiatan ini merupakan
tahapan dalam perkembangan cara berfikir. Untuk melakukan kegiatan intelijen
ini diperlukan sebuah sistem informasi, dimana informasi yang diperlukan ini

didapatkan dari kondisi internal maupun eksternal sehingga seorang manajer dapat
mengambil sebuah keputusan dengan tepat.
Kegiatan merancang merupakan sebuah kegiatan untuk menemukan,
mengembangkan dan menganalisis berbagai alternatif tindakan yang mungkin
untuk

dilakukan.

Tahap

perancangan

ini

meliputi

pengembangan

dan

mengevaluasi serangkaian kegiatan alternatif. Pertimbangan-pertimbangan utama


telah diperkenalkan oleh Simon untuk melakukan tahapan ini, apakah situasi
keputusan ini terprogram atau tidak. Sedangkan kegiatan memilih dan menelaah
ini digunakan untuk memilih satu rangkaian tindakan tertentu dari beberapa yang
tersedia dan melakukan penilaian terhadap tindakan yang telah dipilih.
Jenis-jenis DSS menurut tingkat kerumitan dan tingkat dukungan pemecahan
masalahnya adalah sebagai berikut:
1. Mengambil elemen-elemen informasi.
2. Menaganalisis seluruh file.
3. Menyiapkan laporan dari berbagai file.
4. Memperkirakan dari akibat keputusan.
5. Mengusulkan keputusan.

6. Membuat keputusan

Penerapan DSS dalam suatu instansi:

Perusahaan beroperasi pada ekonomi yang tidak stabil.

Perusahaan dihadapkan pada kompetisi dalam dan luar negeri yang


meningkat.

Perusahaan menghadapi peningkatan kesulitan dalam hal melacak jumlah


operasi-operasi bisnis.

Sistem komputer perusahaan tidak mendukung peningkatan tujuan


perusahaan dalam hal efisiensi, profitabilitas dan mencari jalan masuk di
pasar yang benar-benar menguntungkan.

10

Contoh:

Contoh implementasi aplikasi Business Intelligence Dashboard sebagai ajuan


system

pendukung

keputusan/decision

support

system

yang

hendak

diimplementasikan dalam perusahaan:

Gambar 2.4 Tampilan dashboard untuk pengaplikasian Business Intelligence

Elemen-elemen yang ditampilkan:

1. Grafik keseluruhan angka penjualan tiket yang dihasilkan tim Sales setiap
harinya dimana manajemen dapat melihat pergerakan terakhir yang terjadi
satu jam sebelum pengaksesan dashboard.

2. Grafik keseluruhan angka penjualan tiket yang dihasilkan pada satu hari
sebelum pengaksesan dashboard (H-1)

3. Grafik keseluruhan angka penjualan secara mingguan (pergerakan mingguan).

11

4. Grafik keseluruhan angka penjualan secara bulanan (pergerakan bulanan).

5. Grafik keseluruhan angka penjualan secara tahunan (pergerakan tahunan).

6. Grafik penjualan per staff sales untuk mengukur kinerja masing-masing


personel.

7. Grafik pembelian dari setiap klien yang kategorinya adalah:

1.

Pembelian per klien Travel Agent

2.

Pembelian per perusahaan

3.

Pembelian per wilayah kota penjualan di Indonesia; semua


kota yang memiliki bandara (missal Jakarta, Bandung, Surabaya, dan
lainnya).

2.5 Sistem Informasi Eksekutif (Executive Information System EIS)


Sistem informasi eksekutif merupakan subsistem informasi didalam suatu
organisasi yang dibuat untuk kepentingan eksekutif. Sistem informasi eksekutif
terdiri dari gabungan sistem yang dapat menangani data eksekutif yang berasal
dari luar/dalam dan data yang berasal dari hasil pemikiran.
Pada sistem informasi eksekutif ini terdapat software bagi eksekutif untuk
mengcopy data yang ada dalam database perusahaan kedalam personal computer
miliknya, untuk diproses dengan kebutuhannya.
Gambar 2.5 Model EIS

12

Keuntungan dari EIS

Penggunaan yang mudah untuk eksekutif tingkat tinggi, pengalaman luas


komputer tidak diperlukan dalam operasi

Menyediakan pengiriman tepat waktu dari ringkasan informasi perusahaan

Informasi yang disediakan lebih mudah dipahami

EIS menyediakan pengiriman tepat waktu informasi. Manajemen dapat


membuat keputusan segera.

Meningkatkan informasi pelacakan

Menawarkan efisiensi untuk pengambil keputusan

13

Kerugiaan dari EIS

Tergantung sistem

Fungsi terbatas, dengan desain

Informasi yang berlebihan untuk beberapa manajer

Sulit untuk mengukur manfaat

Biaya operasional tinggi

Sistem dapat menjadi lambat, besar dan sulit untuk dikelola

Perlu proses internal yang baik untuk pengelolaan data

Kurang dapat diandalkan dan pengamanan data yang kurang

Contoh penggunaan EIS pada suatu perusahaan:

Untuk contoh penggunaan Sistem Informasi Eksekutif pada perusahaan,


disini kita ambil contoh Museum House of Sampoerna milik PT. Sampoerna Tbk.
yang terletak di Jl. Taman Sampoerna 6, Pabean Cantikan, Surabaya. Didalam
museum tersebut ada banyak sekali tempat-tempat seperti warung tempo dulu
yang konon dahulu menjadi tempat penjualan roko Sampoerna, ada juga mesin
pengolah tembakau, dan yang sangat memukau adalah monitor Touch Screen
(layar sentuh), ini diperuntukkan bagi pengunjung yang tahu secara detail tentang
sejarah Sampoerna, dengan menyentuh layar kita sudah bisa menikmati cerita
tentang sejarah berdirinya Sampoerna. Monitor touch screen ini adalah salah satu

14

contoh penerapan Sistem Informasi Eksekutif dengan Zero Tutorial (tanpa


tutorial), jadi seseorang tidak perlu belajar mengoperasikan monitor tersebut.

Alasan perusahaan memakai sistem ini dikarenakan mereka percaya,


dengan sistem ini perusahaannya akan semakin maju dengan pesat karena ada
suatu sistem yang mampu memberikan informasi yang tepat, cepat, akurat, dan
juga para petinggi gampang untuk menganalisa dan mengambil keputusan untuk
kemajuan perusahaannya.

Gambar 2.6 Contoh penggunaan EIS


2.6 Sistem Pendukung Kelompok (Group Support System GSS)
Bila kelompok, perlu bekerja bersama-sama untuk membuat keputusan semiterstruktur dan tak terstruktur, maka group Decision support systems membuat
suatu solusi. GSS dimaksudkan untuk membawa kelompok bersama-sama
menyelesaikan masalah dengan memberi bantuan dalam bentuk pendapat,
kuesioner, konsultasi dan skenario. Kadang-kadang GSS disebut dengan CSCW
yang mencakup pendukung perangkat lunak yang disebut dengan groupware
untuk kolaborasi tim melalui komputer yang terhubung dengan jaringan. Sistem
ini mencakup penggunaan teknologi presentasi, pengaksesan basis data pada

15

komputer, dan kemampuan yang memungkinkan peserta dalam pertemuan


berkomunikasi secara elektronis. Contohnya adalah e-government. E-government
adalah

penggunaan teknologi

informasi oleh pemerintah untuk

memberikan

informasi dan pelayanan bagi warganya, urusan bisnis, serta hal-hal lain yang
berkenaan dengan pemerintahan.

Contoh aplikasi GSS:


Administrasi perkantoran MAYA (siMAYA)
Ditjen Aplikasi Informatika telah mengembangkan aplikasi perkantoran yang
diberi nama siMAYA. Aplikasi ini merupakan digitalisasi dari Peraturan Menteri
PAN dan RB Nomor 6 Tahun 2011 tentang Tata Naskah Dinas Elektronik (TNDE)
di Lingkungan Instansi Pemerintah. Aplikasi ini telah disosialisasikan melalui
bimbingan teknis di beberapa instansi pemerintahan baik pusat dan daerah di
Indonesia antara lain di Pemkab Sukoharjo, Pemkab Bangka Tengah, Pemkab
Ende, Pemkab Banyuasin, Pemkot Tegal, Pemkab Pasaman, Direktorat PII (Ditjen
Aplikasi Informatika, Kemkominfo) dan Pemprov Jawa Tengah.

Gambar 2.7 Aplikasi siMAYA

16

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Berdasarkan dukungan aplikasi berbasis komputer, sistem informasi yang


digunakan pada semua area fungsional dalam organisasi dapat diklasifikasikan
sebagai berikut :
1. Sistem Pemrosesan Transaksi (Transaction Processing System/TPS)
2. Sistem Informasi Manajemen (Management Information System/MIS)
3. Sistem Otomatis Perkantoran (Office Automation System/OAS)
4. Sistem Pendukung Keputusan (Decision Support System/DSS)
5. Sistem Informasi Eksekutif (Executive Information System/EIS)
6. Sistem Pendukung Kelompok (Group Support System/GSS)
Terdapat perbedaan pengguna untuk setiap sistem informasi tersebut, sehingga
terdapat keterkaitan antara berbagai level manajemen (sebagai pengguna) dengan
sistem informasi yang diperlukannya.
3.2 Saran
Meskipun kami menginginkan kesempurnaan dalam penyusunan makalah
ini tetapi kenyataannya masih banyak kekurangan yang perlu kami perbaiki. Hal
ini dikarenakan masih minimnya pengetahuan yang kami miliki. Oleh karena itu
kritik dan saran yang membangun dari para pembaca sangat kami harapkan untuk
perbaikan ke depannya.