Anda di halaman 1dari 23

Affy Syifarani

1102012008
A-1
LI 1. Memahami dan Menjelaskan tentang Konsep Keluarga
LO 1.1. Definisi Keluarga
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas Kepala Keluarga dan beberapa orang
yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat dibawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan
(Depkes RI, 1998)
Anggota rumah tangga yang saling berhubungan melalui pertalian darah adaptasi atau perkawinan
(WHO, 1969).
Menurut Ki Hajar Dewantara, keluarga adalah kumpulan beberapa orang yang karena terikat oleh
satu turunan lalu mengerti dan merasa berdiri sebagai satu gabungan yang hakiki, esensial, enak dan
berkehendak bersama-sama memperteguh gabungan itu untuk memuliakan masing-masing anggotanya.
Definisi keluarga dikemukakan oleh beberapa ahli :
1 Reisner (1980)
Keluarga adalah sebuah kelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih yang masing-masing mempunyai
hubungan kekerabatan yang terdiri dari bapak, ibu, adik, kakak, kakek dan nenek.
2 Logans (1979)
Keluarga adalah sebuah sistem sosial dan sebuah kumpulan beberapa komponen yang saling berinteraksi
satu sama lain.
3 Gillis (1983)
Keluarga adalah sebagaimana sebuah kesatuan yang kompleks dengan atribut yang dimiliki tetapi terdiri
dari beberapa komponen yang masing-masing mempunyai arti sebagaimana unit individu.
4 Duvall
Keluarga merupakan sekumpulan orang yang dihubungkan oleh ikatan perkawinan, adopsi, kelahiran
yang bertujuan untuk meningkatkan dan mempertahankan budaya yang umum, meningkatkan
perkembangan fisik, mental, emosional dan sosial dari tiap anggota.
5 Bailon dan Maglaya
Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih individu yang bergabung karena hubungan darah,
perkawinan, atau adopsi, hidup dalam satu rumah tangga, saling berinteraksi satu sama lainnya dalam
perannya dan menciptakan dan mempertahankan suatu budaya.
6 Johnsons (1992)
Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang mempunyai hubungan darah yang sama atau tidak,
yang terlibat dalam kehidupan yang terus menerus, yang tinggal dalam satu atap, yang mempunyai ikatan
emosional dan mempunyai kewajiban antara satu orang dengan orang yang lainnya.
7

Lancester dan Stanhope (1992)

Dua atau lebih individu yang berasal dari kelompok keluarga yang sama atau yang berbeda dan saling
menikutsertakan dalam kehidupan yang terus menerus, biasanya bertempat tinggal dalam satu rumah,
mempunyai ikatan emosional dan adanya pembagian tugas antara satu dengan yang lainnya.
8 Jonasik and Green (1992)
Keluarga adalah sebuah sistem yang saling tergantung, yang mempunyai dua sifat (keanggotaan dalam
keluarga dan berinteraksi dengan anggota yang lainnya).
9 Bentler et. Al (1989)
Keluarga adalah sebuah kelompok sosial yang unik yang mempunyai kebersamaan seperti pertalian
darah/ikatan keluarga, emosional, memberikan perhatian/asuhan,
tujuan orientasi kepentingan dan
memberikan asuhan untuk berkembang.
10 National Center for Statistic (1990)
Keluarga adalah sebuah kelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih yang berhubungan dengan
kelahiran, perkawinan, atau adopsi dan tinggal bersama dalam satu rumah.
11 Spradley dan Allender (1996)
Satu atau lebih individu yang tinggal bersama, sehingga mempunyai ikatan emosional, dan
mengembangkan dalam interelasi sosial, peran dan tugas.
12 BKKBN (1992)
Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri, atau suami istri dan anaknya,
atau ayah dengan anaknya, atau ibu dengan anaknya.
LO 1.2. Bentuk Keluarga
1. Tradisional:
a. The nuclear family (keluarga inti)
Keluarga yang terdiri dari suami, istri dan anak.
b. The dyad family
Keluarga yang terdiri dari suami dan istri (tanpa anak) yang hidup bersama dalam satu rumah
c. Keluarga usila
Keluarga yang terdiri dari suami istri yang sudah tua dengan anak sudah memisahkan diri
d. The childless family
Keluarga tanpa anak karena terlambat menikah dan untuk mendapatkan anak terlambat
waktunya, yang disebabkan karena mengejar karir atau pendidikan yang terjadi pada wanita
e. The extended family (keluarga luas/besar)
Keluarga yang terdiri dari tiga generasi yang hidup bersama dalam satu rumah seperti nuclear
family disertai : paman, tante, orang tua (kakak-nenek), keponakan, dan lain-lain
f. The single-parent family (keluarga duda/janda)
Keluarga yang terdiri dari satu orang tua (ayah dan ibu) dengan anak, hal ini terjadi biasanya
melalui proses perceraian, kematian dan ditinggalkan (menyalahi hukum pernikahan)
g. Commuter family

Kedua orang tua bekerja di kota yang berbeda, tetapi salah satu kota tersebut sebagai tempat
tinggal dan orang tua yang bekerja diluar kota bisa berkumpul pada anggota keluarga pada saat
akhir pekan (week-end)
h. Multigenerational family
Keluarga dengan beberapa generasi atau kelompok umur yang tinggal bersama dalam satu rumah
i. Kin-network family
Beberapa keluarga inti yang tinggal dalam satu rumah atau saling berdekatan dan saling
menggunakan barang-barang dan pelayanan yang sama. Misalnya : dapur, kamar mandi, televisi,
telpon, dan lain-lain
j. Blended family
Keluarga yang dibentuk oleh duda atau janda yang menikah kembali dan membesarkan anak dari
perkawinan sebelumnya
k. The single adult living alone / single-adult family
Keluarga yang terdiri dari orang dewasa yang hidup sendiri karena pilihannya atau perpisahan
(separasi), seperti : perceraian atau ditinggal mati
2. Non-tradisional:
a. The unmarried teenage mother
Keluarga yang terdiri dari orang tua (terutama ibu) dengan anak dari hubungan tanpa nikah
b. The stepparent family
Keluarga dengan orang tua tiri
c. Commune family
Beberapa pasangan keluarga (dengan anaknya) yang tidak ada hubungan saudara, yang hidup
bersama dalam satu rumah, sumber dan fasilitas yang sama, pengalaman yang sama, sosialisasi
anak dengan melalui aktivitas kelompok atau membesarkan anak bersama
d. The nonmarital heterosexual cohabiting family
Keluarga yang hidup bersama berganti-ganti pasangan tanpa melalui pernikahan
e. Gay and lesbian families
Seseorang yang mempunyai persamaan sex hidup bersama sebagaimana pasangan suami-istri
(marital partners)
f. Cohabitating couple
Orang dewasa yang hidup bersama di luar ikatan perkawinan karena beberapa alasan tertentu
g. Group-marriage family
Beberapa orang dewasa yang menggunakan alat-alat rumah tangga bersama, yang merasa telah
saling menikah satu dengan yang lainnya, berbagi sesuatu, termasuk seksual dan membesarkan
anaknya
h. Group network family
Keluarga inti yang dibatasi oleh set aturan atau nilai-nilai, hidup berdekatan satu sama lain dan
saling menggunakan barang-barang rumah tangga bersama, pelayanan dan bertanggung jawab
membesarkan anaknya
i. Foster family

Keluarga menerima anak yang tidak ada hubungan keluarga atau saudara dalam waktu
sementara, pada saat orangtua anak tersebut perlu mendapatkan bantuan untuk menyatukan
kembali keluarga yang aslinya
j. Homeless family
Keluarga yang terbentuk dan tidak mempunyai perlindungan yang permanen karena krisis
personal yang dihubungkan dengan keadaan ekonomi dan atau problem kesehatan mental
k. Gang
Sebuah bentuk keluarga yang destruktif, dari orang-orang muda yang mencari ikatan emosional
dan keluarga yang mempunyai perhatian, tetapi berkembang dalam kekerasan dan kriminal
dalam kehidupannya.
LO 1.3. Fungsi Keluarga
1

Fungsi Pendidikan, dilihat dari bagaimana keluarga mendidik dan menyekolahkan anak untuk
mempersiapkan kedewasaan dan masa depan anak

Fungsi Sosialisasi, anak dilihat dari bagaimana keluarga mempersiapkan anak menjadi anggota
masyarakat yang baik.

Fungsi Perlindungan, dilihat dari bagaimana keluarga melindungi anak sehingga anggota keluarga
merasa terlindung dan merasa aman

Fungsi Perasaan, dilihat dari bagaimana keluarga secara instuitif merasakan perasaan dan suasana
anak dan anggota yang lain dalam berkomunikasi dan berinteraksi antar sesama anggota keluarga.
Sehingga saling pengertian satu sama lain dalam menumbuhkan keharmonisan dalam keluarga.

Fungsi Agama, dilihat dari bagaimana keluarga memperkenalkan dan mengajak anak dan anggota
keluarga lain melalui kepala keluarga menanamkan keyakinan yang mengatur kehidupan kini dan
kehidupan lain setelah dunia.

Fungsi Ekonomi, dilihat dari bagaimana kepala keluarga mencari penghasilan, mengatur
penghasilan sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi rkebutuhan-kebutuhan keluarga.

Fungsi Rekreatif, dilihat dari bagaimana menciptakan suasana yang menyenangkan dalam keluarga,
seperti acara nonton TV bersama, bercerita tentang pengalaman masing-masing, dan lainnya.

Fungsi Biologis dilihat, dari bagaimana keluarga meneruskan keturunan sebagai generasi
selanjutnya.

Memberikan kasih sayang, perhatian, dan rasa aman di antara keluarga, serta membina
pendewasaan kepribadian anggota keluarga.

Menurut Friedman fungsi keluarga dibagi menjadi 5 yaitu:


1.

Fungsi Efektif. Berhubungan dengan fungsi internal keluarga yang merupakan dasar kekuatan
keluarga. Fungsi efektif berguna untuk pemenuhan kebutuhan psikososial. Anggota kelurga
mengembangkan gambaran diri yang fositif , peran dijalankan dengan baik ,dan penuh rasa sayang.

2.

Fungsi Sosialisasi. Proses perkembangan dan perubahan yang dilalui individu menghasilkan
interaksi sosial ,dan individu tersebut melaksanakan perannya dalam lingkungan sosial. Keluarga

merupakan tempat individu melaksanakan sosialisasi dengan anggota kelurga dan belajar disiplin ,
norma budaya , dan perilaku melalui interaksi dalam keluarga, sehigga individu mampu berperan
didalam masyarakat.
3.

Fungsi Reproduksi. Fungsi untuk meneruskan kelangsungan keturunan dan menambah sumber
daya manusia.

4.

Fungis Ekonomi. Fungsi untuk memenuhi kebutuhan keluarga , seperti makanan ,pakaian ,
perumahan, dan lain-lain.

5.

Fungsi Perawatan keluarga. Keluarga menyediakan makanan , pakaian, perlidungan, dan asuhan
kesehatan/keperawatan.Kemampuan keluarga melakukan asuhan keperawatan atau pemeliharaan
kesehatan memengaruhi status kesehatan keluarga dan individu

Menurut Undang-Undang 1992 membagi Fungsi Keluarga sebagai berikut


1. Fungsi Keagamaan
Membina norma/ajaran agama sebagai dasar dan tujuan hidup seluruh anggota keluarga,
Menerjemahkan ajaran dan norma agama kedalam tingkah laku hidup sehari-hari bagi seluruh
anggota keluarga,
Memberi contoh konkret dalam kehidupan sehari-hari dalam pengalaman ajaran agama,
Melengkapi dan menambah proses belajar anak tentang keagamaan yang tidak/kurang diperoleh
disekolah atau masyarakat,
Membina rasa, sikap ,dan praktik kehidupan beragama.
2. Fungsi Budaya
Membina tugas keluarga sebagai sarana untuk meneruskan norma budaya masyarakat dan
bangsa yang ingin dipertahankan,
Membina tugas keluarga untuk menyaring norma dan budaya asing yang tidak sesuai,
Membina tugas keluarga sebagai saran anggota nya untuk mencari pemecahan masalah dari
berbagai pengaruh negatif globalisasi dunia,
Membina tugas keluarga sebagai sarana bagi anggotanya untuk mengadakan kompromi/adaptasi
dan praktik (positif) serta globalisasi dunia ,
Membina budaya keluarga yang sesuai ,selaras , dan seimbang dengan budaya masyarakat
/bangsa untuk menunjang terwujudnnya norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera.
3. Fungsi Cinta Kasih

Menumbuhkembangkan potensi simbol cinta kasih sayang yang telah ada diantara
anggota keluarga dalam simbol yang nyata, seperti ucapan dan tingkah laku secara optimal dan
terus menerus ,

Membina tingkah laku ,saling menyayangi diantara anggota keluarga maupun antara
keluarga yang satu dengan yang lainnya secara kuantitatif dan kualitatif.

Membina praktik kecintaan terhadap kehidupan duniawi dan uhkrawi dalam keluarga
secara serasi, selaras , dan seimbang,

Membina rasa ,sikap, dan praktik hidup keluarga yang mampu memberikan dan
menerima kasih sayang sebagai pola hidup ideal menuju keluarga kecil bahagia dan sejahtera.
4. Fungsi Perlindungan

Memenuhi kebutuhan akan rasa aman diantara anggota keluarga.Bebas dari rasa tidak
aman yang tumbuh dari dalam maupun dari luar keluarga,

Membina keamanan keluarga baik fisik maupun psikis dari berbagai bentuk ancaman dan
tantangan yang datang dari luar maupun dalam,

Membina dan menjadikan stabilitas dan keamanan keluarga sebagai modal menuju
keluarga kecil bahagia dan sejahtera.

5. Fungsi Reproduksi

Membina kehidupan keluarga sebagai wahana pendidikan reproduksi sehat baik bagi
anggota keluarga maupun keluarga sekitarnya.

Memberikan contoh pengalaman kaidah-kaidah pembetukan keluarga dalam hal usia,


kedewasaan fisik, dan mental

Mengamalkan kaidah-kaidah reproduksi sehat baik yang berkaitan dengan jangka waktu
melahirkan, jarak antara kelahiran dua anak , dan jumlah ideal anak yang diinginkan dalam
keluarga,

Mengembang kan kehidupan reproduksi sehat sebagai modal yang kondusif menuju
keluarga kecil bahagia dan sejahtera.
6. Fungsi Sosialisasi

Menyadari, merencanakan dan menciptakan lingkungan keluarga sebagai wahana


pendidikan dan sosialisasi anak yang pertama dan utama,

Menyadari ,merencanakan , dan menciptakan kehidupan keluarga sebagai pusat tempat


anak dapat mencari pemecahan masalah dari berbagai konflik dan permasalahan yang
dijumpainya baik lingkungan masyarakat maupun sekolahnya. Membina proses pendidikan dan
sosialisasi anak tentang hal yang perlu dilakukannya untuk meningkatkan kemantangan dan
kedewasaan baik fisik maupun mental, yang tidak/kurang diberikan lingkungan sekolah maupun
masyarakat.

Membina proses pendidikan dan sosialisasi yang terjadi dalam keluarga sehingga tidak
saja bermamfaat positif bagi anak, tetapi juga orang tua untuk perkembangan dan kematangan
hidup bersama menuju keluarga kecil bahagia dan sejahtera.
7. Fungsi Ekonomi adalah melakukan kegiatan ekonomi baik diluar maupun didalam kehidupan
keluarga dalam rangka menopang perkembangan hidup keluarga, mengelola ekonomi keluarga
sehingga terjadi keserasian, keselamatan dan keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran
keluarga, mengatur waktu sehingga kegiatan orang tua diluar rumah dan perhatiaanya terhadap
anggota rumah tangga bejalan serasi, selaras ,dan seimbang, membina kegiatan dan hasil ekonomi
keluarga sebagai modal untuk mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera.
8. Fungsi Pelestarian Lingkungan adalah membina kesadaran dan praktik kelestarian lingkungan
internal keluarga , membina kesadaran, sikap, dan praktik pelestarian lingkunga hidup yang serasi ,
selaras, dan seimbang antara lingkungan keluarga dan lingkungan hidup sekitarnya.
Tugas Keluarga di Bidang Kesehatan
Suprajitno (2004) menyatakan bahwa fungsi pemeliharaan kesehatan, keluarga mempunyai tugas di
bidang kesehatan yang perlu dipahami dan dilakukan, meliputi:
1. Mengenal masalah kesehatan keluarga

Kesehatan merupakan kebutuhan keluarga yang tidak boleh diabaikan karena tanpa kesehatan segala
sesuatu tidak akan berarti dan karena kesehatanlah kadang seluruh kekuatan sumber daya dan dana
keluarga habis. Orang tua perlu mengenal keadaan kesehatan dan perubahan-perubahan yang dialami
anggota keluarga. Perubahan sekecil apapun yang dialami anggota keluarga secara tidak langsung
menjadi perhatian orang tua atau keluarga. Apabila menyadari adanya perubahan keluarga perlu dicatat
kapan terjadinya, perubahan apa yang terjadi, dan seberapa besar perubahannya.
2. Memutuskan tindakan kesehatan yang tepat bagi keluarga
Tugas ini merupakan upaya keluarga yang utama untuk mencari pertolongan yang tepat sesuai dengan
keadaan keluarga dengan pertimbangan siapa diantara keluarga yang mempunyai kemampuan
memutuskan untuk menentukan tindakan keluarga. Tindakan kesehatan yang dilakukan oleh keluarga
diharapkan tepat agar masalah kesehatan dapat dikurangi atau bahkan teratasi. Jika keluarga
mempunyai keterbatasan dapat meminta bantuan kepada orang di lingkungan tinggal keluarga agar
memperoleh bantuan.
3. Merawat keluarga yang mengalami gangguan kesehatan
Seringkali keluarga telah mengambil tindakan yang tepat dan benar, tetapi keluarga memiliki
keterbatasan yang telah diketahui keluarga sendiri. Jika demikian, anggota keluarga yang mengalami
gangguan kesehatan perlu memperoleh tindakan lanjutan atau perawatan agar masalah yang lebih parah
tidak terjadi.
4. Memodifikasi lingkungan keluarga untuk menjamin kesehatan keluarga.
5. Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan disekitarnya bagi keluarga.
Struktur dan fungsi merupakan hal yang berhubungan erat dan terus menerus berinteraksi satu sama
lain. Struktur didasarkan pada organisasi, yaitu perilaku anggota keluarga dan pola hubungan dalam
keluarga. Hubungan yang ada dapat bersifat kompleks, misalnya seorang wanita bisa sebagai istri,
sebagai ibu, sebagai menantu, dan sebagainya yang semua itu mempunyai kebutuhan, peran dan
harapan yang berbeda. Pola hubungan itu akan membentuk kekuatan dan struktur peran dalam keluarga.
Struktur keluarga dapat diperluas dan dipersempit tergantung dari kemampuan dari keluarga tersebut
untuk merespon stressor yang ada dalam keluarga. Struktur keluarga yang sangat kaku atau sangat
fleksibel dapat mengganggu atau merusak fungsi keluarga.
Fungsi keluarga yang berhubungan dengan struktur:
1
2
3
4
5
6
7
8

Struktur Egalisasi. Masing-masing keluarga mempunyai hak yang sama dalam menyampaikan
pendapat (demokrasi)
Struktur yang hangat, menerima dan toleransi
Struktur yang terbuka, dan anggota yang terbuka: mendorong kejujuran dan kebenaran (honesty and
authenticity)
Struktur yang kaku : suka melawan dan tergantung pada peraturan
Struktur yang bebas : tidak adanya aturan yang memaksakan (permisivenes)
Struktur yang kasar : abuse (menyiksa, kejam dan kasar)
Suasana emosi yang dingin (isolasi, sukar berteman)
Disorganisasi keluarga (disfungsi individu, stress emosional)

Peran keluarga menggambarkan seperangkat perilaku interpersonal yang berhubungan dengan posisi
dan situasi tertentu. Berbagai peran ayng terdapat dalam keluarga adalah sebagai berikut:

1. Peran ayah sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman, kepala rumah
tangga, anggota dari kelompok sosialnya dan anggota masyarakat.
2. Peran ibu sebagai isteri, ibu dari anaknya, mengurus rumah tangga, pengasuh, pendidik dan
pelindung bagi anak-anaknya, anggota kelompok social dan anggota masyarakat serta berperan
sebagai pencari nafkah tambahan bagi keluarga.
3. Peran anak-anak sebagai pelaksana peran psikososial sesuai dengan tingkat perkembangan baik
fisik, mental dan spiritual.
Friedman (2002) membagi lima peran kesehatan dalam keluarga yaitu :
1. Mengenal gangguan perkembangan kesehatan tiap anggota
2. Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat
3. Memberikan keperawatan kepada anggota keluarga yang sakit, dan yang tidak dapat membantu
dirinya sendiri karena cacat atau usianya yang terlalu muda
4. Mempertahankan suasana di rumah yang menguntungkan kesehatan dan perkembangan kepribadian
anggota keluarga
5. Mempertahankan hubungan kepribadian anggota keluarga dan lembaga-lembaga kesehatan, yang
menunjukkan pemanfaatan dengan baik fasilitas-fasilitas kesehatan yang ada
LO 1.4. Siklus Kehidupan Keluarga
Siklus Hidup Keluarga (Family Life Cycle) adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan
perubahan-perubahan dalam jumlah anggota, komposisi dan fungsi keluarga sepanjang hidupnya.
Siklus hidup keluarga juga merupakan gambaran rangkaian tahapan yang akan terjadi atau diprediksi
yang dialami kebanyakan keluarga.
Siklus hidup keluarga terdiri dari variabel yang dibuat secara sistematis menggabungkan variable
demografik yaitu status pernikahan, ukuran keluarga, umur anggota keluarga, dan status pekerjaan
kepala keluarga.
Menurut Duval (Niacholas 1984) ada 8 tingkat/siklus perkembangan keluarga:
a
b
c
d
e
f
g
h

Tahap I, Keluarga pemula (pasangan pada tahap pernikahan)


Tahap II, Keluarga sedang mengasuh anak (anak tertua bayi-30 bln).
Tahap III, Keluarga dengan anak usia pra sekolah (anak tertua berusia 2-6 tahun).
Tahap IV, Keluarga dengan anak usia sekolah (anak tertua berumur 6-13 tahun)
Tahap V, Keluarga dengan anak remaja (anak tertua berumur 13-20 tahun).
Tahap VI, Keluarga melepas anak usia dewasa muda (anak yang meninggalkan rumah).
Tahap VII, Orangtua usia pertengahan (pensiunan)
Tahap VIII, Keluarga dalam masa pensiun dan lansia.

Menurut Carter & McGoldrik ada 6 tingkat perkembangan keluarga:


a.
b.
c.
d.
e.
f.

Keluarga antara: dewasa muda, belum menikah


Keluarga dengan pernikahan (pasangan baru menikah)
Keluarga dengan anak kecil (bayi-usia sekolah)
Keluarga dengan anak remaja
Melepaskan anak dan pindah
Keluarga dalam kehidupan terakhir. Tidak ada tahap yang diidentifikasi.

Menurut Carter dan McGoldrik 1985 mengatakan sistem keluarga sekurang-kurangya tiga generasi:
a. Kakek-nenek

b. Ayah-ibu
c. Anak-anak
Tahapan-tahapan siklus hidup keluarga
Dalam ilmu kependudukan biasanya dikenal dengan 6 tahap siklus hidup keluarga, yaitu :
1 Tahap Tanpa Anak
Dimulai dari perkawinan hingga kelahiran anak pertama.
2 Tahap Melahirkan (Tahap Berkembang)
Dimulai dari kelahiran anak sulung hingga anak bungsu.
3 Tahap Menengah
Dimulai dari kelahiran anak bungsu, hingga anak sulung meninggalkan rumah atau menikah
4 Tahap Meninggalkan Rumah
Dimulai dari anak sulung meninggalkan rumah sampai anak bungsu meninggalkan rumah (perkawinan
biasanya dianggap meninggalkan rumah)
5 Tahap Purna Orang Tua
Dimulai dari saat anak bungsu meninggalkan rumah, hingga salah satu pasangan meninggal dunia.
6 Tahap Menjanda/Menduda
Dimulai dari saat meninggalnya suami atau istri, hingga pasangannya meninggal dunia.
Siklus hidup keluarga dalam ilmu kependudukan dipandang penting, karena lima alasan pokok sebagai
berikut :
a. Menunjukan interaksi antara anggota keluarga. Peristiwa-peristiwa seperti kelahiran, kematian, dan
perubahan umur atau status anak, tidak hanya mempengaruhi individu-individu yang bersangkutan,
tetapi juga anggota keluarga yang lain
b. Memperjelas pengaruh yang kontinu dari peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahap-tahap awal
siklus terhadap kehidupan keluarga sampai akhir siklus tersebut
c. Menghilangkan konsepsi yang salah tentang keluarga, misalnya pandangan bahwa keluarga hanya
melewati satu atau dua tahap tertentu saja
d. Merupakan suatu ringkasan yang penting tentang pengaruh gabungan faktor-faktor fertilitas,
mortalitas, nupsialitas dengan faktor-faktor ekonomi dan kebudayaan
e. Dapat menjelaskan bermacam-macam variasi kegiatan sosial demografi dan sosial ekonomi.
Menurut Neighbour (1985) tahapan, tugas dan masalah yang menjadi isu penting dalam setiap tahapan
siklus kehidupan keluarga adalah sebagai berikut :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Tahap Perkawinan
Tahap Melahirkan Anak
Tahap Membesarkan Anak-Anak Memasuki Sekolah Dasar
Tahap Membesarkan Anak-Anak Usia Remaja
Tahap Keluarga Mulai Melepaskan Anak-Anak
Tahap Tahun-tahun Pertengahan
Tahap Usia Tua

Model siklus hidup keluarga


Tahap-tahap siklus hidup keluarga digambarkan ke dalam 2 model, yaitu:
1

Siklus Hidup Keluarga Model Tradisional

Siklus hidup keluarga model tradisional yaitu pergerakan tahap yang sebagian besar keluarga lewati,
dimulai dari belum menikah (bujangan), menikah, pertumbuhan keluarga, penyusutan keluarga, dan
diakhiri dengan putusnya unit dasar. Tahapan dari FLC model tradisional adalah:
Tahap I: Bachelor
Pemuda/i single dewasa yang hidup berpisah dengan orang tua.
Tahap II: Honeymooners
Pasangan muda yang baru menikah.
Tahap III: Parenthood
Pasangan yang sudah menikah setidaknya ada satu anak yang tinggal hidup bersama.
Tahap IV: Postparenthood
Sebuah pasangan menikah yang sudah tua dimana tidak ada anak yang tinggal hidup bersama.
Tahap V: Dissolution
Salah satu pasangan sudah meninggal.
2

Siklus Hidup Keluarga Model Non-Traditional


a

Family Household

Childless Couples: pasangan yang memilih untuk tidak memiliki anak dikarenakan oleh
pasangan tersebut lebih memilih pada pekerjaan.
Pasangan yang menikah diumur diatas 30 tahun menikah terlalu lama dikarenakan karir
dimana memutuskan untuk memiliki sedikit anak atau justru malah tidak memiliki anak.
Pasangan yang memiliki anak di usia yang terlalu dewasa (diatas 30 tahun).
Single Parent I: single parent yang terjadi karena perceraian.
Single Parent II: pria dan wanita muda yang mempunyai satu atau lebih anak diluar
pernikahan.
Single Parent III: seseorang yang mengadopsi satu atau lebih anak.
Extended Family: seseorang yang kembali tinggal dengan orang tuanya untuk menghindari
biaya yang dikeluarkan sendiri sambil menjalankan karirnya. Misalnya anak, atau cucu
yang cerai kemudian kembali ke rumah orang tuanya.

Non-Family Household

Pasangan tidak menikah


Perceraian tanpa anak
Single Person: orang yang menunda pernikahan atau bahkan memutuskan untk tidak
menikah
Janda atau duda

Tahapan
Pengalaman
keluarga asal

Tugas
dari

Membangun hubungan dengan orang tua, saudara dan


teman-teman

Menyelesaikan sekolah
Meninggalkan rumah

Membedakan diri dengan keluaga


mengembangkan
hubungan
dewasa dengan orang tua

asal dan
sesama

Membantung hubungan pertemanan yang intim


Memulai karir/pekerjaan
Tahap
pernikahan

pra

Memilih pasangan
Mengembangkan hubungan
Memutuskan untuk menikah

Tahap pasangat tanpa


anak

Mengembangkan cara hidup bersama yang didasarkan


atas
realitas
dan
bukannya proyeksi bersama
Mengatur kembali hubungan dengan keluarga asal dan
teman-teman, dan melibatkan pasangan

Keluarga
anak kecil

dengan

Mengatur kembali sistem pernikahan dengan memberi


tempat
pada keberadaan anak
Memulai peran sebagai orang tua
Mengatur kembali hubungan dengan keluarga asal
dengan melibatkan peran saudara dan kakek/nenek

Keluarga
dengan
anak remaja

Mengatur kembali hubungan orang tua-anak untuk


memberikan tempat pada kebebasan yang lebih besar
Mengatur kembali hubungan pernikahan
memusatkan pada masalah tengah baya dan karir

Melepas anak

dan

Membereskan masalah paruh baya


Mengatur ulang hubungan orang tua anak secara lebih
dewasa
Mengatur kembali hubungan dengan pasangan
Mengatur kembali hubungan dengan besan, menantu,
cucu dll.
Berurusan dengan kelemahan dan kematian, terutama
pada keluarga asal

Kehidupan
lanjut

usia

Mengatasi penuaan fisik


Menangani peran anak yang lebih besar dalam mengatur
keluarga besar
Menangani kehilangan karena kematian pasangan dan

teman-teman
Mempersiapkan kematian, kilas balik kehidupan dan
integrasi

LO 1.5. Dinamika Keluarga


Adanya interaksi (hubungan) antara individu dengan lingkungan sehingga tersebut dapat diterima dan
menyesuaikan diri baik dalam lingkungan keluarga maupun kelompok sosial yang sama.
Dinamika keluarga adalah interaksi atau hubungan pasien dengan anggota keluarganya dan juga bisa
mengetahui bagaimana kondisi keluarga di lingkungan sekitarnya. Keluarga diharapkan mampu
memberikan dukungan dalam upaya kesembuhan pasien. Ada empat aspek yang selalu muncul dalam
dinamika keluarga
a. Pertama, tiap anggota keluarga memiliki perasaan dan idea tentang diri sendiri yang biasa dikenal
dengan harga diri atau self-esteem.
b. Kedua, tiap keluarga memiliki cara tertentu untuk menyampaikan pendapat dan pikiran mereka
yang dikenal dengan komunikasi.
c. Ketiga, tiap keluarga memiliki aturan permainan yang mengatur bagaimana mereka seharusnya
merasa dan bertindak yang berkembang sebagai sistem nilai keluarga.
d. Yang terakhir, tiap keluarga memiliki cara dalam berhubungan dengan orang luar dan institusi di
luar keluarga yang dikenal sebagai jalur ke masyarakat
Genogram (Family Anatomy)
Definisi: genogram adalah suatu alat bantu berupa peta skema (visual map) dari silsilah keluarga pasien
yang berguna bagi pemberi layanan kesehatan untuk segera mendapatkan informasi tentang nama anggota
keluarga pasien, kualitas hubungan antar anggota keluarga. Genogram adalah biopsikososial pohon
keluarga, yang mencatat tentang siklus kehidupan keluarga, riwayat sakit di dalam keluarga serta hubungan
antar anggota keluarga.
Di dalam genogram berisi: nama, umur, status menikah, riwayat perkawinan, anak-anak, keluarga satu
rumah, penyakit-penyakit spesifik, tahun meninggal, dan pekerjaan. Juga terdapat informasi tentang
hubungan emosional, jarak atau konflik antar anggota keluarga, hubungan penting dengan profesional yang
lain serta informasi-informasi lain yang relevan. Dengan genogram dapat digunakan juga untuk
menyaring kemungkinan adanya kekerasan (abuse) di dalam keluarga.
Genogram idealnya diisi sejak kunjungan pertama anggota keluarga, dan selalu dilengkapi (update) setiap
ada informasi baru tentang anggota keluarga pada kunjungan-kunjungan selanjutnya. Dalam teori sistem
keluarga dinyatakan bahwa keluarga sebagai sistem yang saling berinteraksi dalam suatu unit emosional.
Setiap kejadian emosional keluarga dapat mempengaruhi atau melibatkan sediktnya 3 generasi keluarga.
Sehingga idealnya, genogram dibuat minimal untuk 3 generasi.
Dengan demikian, genogram dapat membantu dokter untuk :
1) Mendapat informasi dengan cepat tentang data yang terintegrasi antara kesehatan fisik dan mental di
dalam keluarga.
2) Pola multigenerasi dari penyakit dan disfungsi.

Gambar 1. Simbol Genogram


(Sumber: Sloane, 2002)

Gambar 2. Simbol Genogram


(Sumber: McDaniel, 2005)

Hak dan Kewajiban Keluarga


Hak dan Kewajiban anatara orang tua dan anak serta hak kewajiban antara orang tua menurut UndangUndang RI no 1 tahun 1974 tentang perkawinan
Pasal 45
1

Kedua orang tua wajib memelihara dan mendidik anak-anak mereka sebaik- baiknya.

Kewajiban orang tua yang di maksud ayat (1) pasal ini berlaku sampai anak ini kawin atau dapat
berdiri sendiri. Kewajiban mana berlaku terus meskipun perkawinan antara kedua orang tua putus.

Pasal 46
1

Anak wajib menghormati orang tua dan mentaati kehendak mereka yang baik.

Jika anak telah dewasa, ia wajib memelihara menurut kemampuannya,orang tua dan keluarga dalam
garis lurus ke atas,bila mereka itu memerlukan bantuannya.

Pasal 47
1

Anak yang belum mencapai umur 18 (delapan belas) tahun atau belum pernah melangsungkan
perkawinan ada di bawah kekuasaan orang tuanya selama mereka tidak di cabut dari kekuasaannya.

Orang tua mewakili anak tersebut mengenai perbuatan hukum di dalam dan di luar pengadilan.

Pasal 48
1

Orang tua tidak di perbolehkan memindahkan hak atau menggadaikan barang-barang tetap yang di
miliki anaknya yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun atau belum melangsungkan
perkawinan kecuali apabila kepentingan anak itu menghendakinya.

Pasal 49
1

Salah seorang atau kedua orang tua dapat di cabut kekuasaannya terhadap seorang anak atau lebih
untuk waktu yang tertentu atas permintaan orang tua yang lain keluarga anak dalam garis lurus
keatas dan saudara kandung yang telah dewasa atau pejabat yang berwenang dengan keputusan
Pengadilan dalam hal-hal :
a. Ia sangat melalaikan kewajibannya terhadap anaknya.
b. Ia berkelakuan buruk sekali.

Meskipun orang tua di cabut kekusaannya, mereka masih berkewajiban untuk memberi biaya
pemeliharaan kepada anak tersebut.

Peranan baru orang sakit harus mendapat pengakuan dan dukungan dari anggota masyarakat dan
anggota keluarga yang sehat secara wajar. Sebab dengan sakitnya salah satu anggota masyarakat atau
anggota keluarga maka akan ada lowongan posisi yang berarti juga mekanisme sistem didalam
masyarakat atau keluarga tersebut akan terganggu. Hal ini disebabkan salah satu anggota pemegang
peranan absen. Untuk itu maka anggota-anggota masyarakat/keluarga harus dapat mengisi lowongan
posisi tersebut, yang berarti juga menggantikan peranan orang yang sedang sakit tersebut.
Mengenai peranan, maka ada dua hal yang saling berkaitan yakni, hak dan kewajiban. Demikian juga
peranan orang sakit akan menyangkut masalah hak dan kewajiban orang sakit tersebut sebagai anggota
masyarakat.
1 Hak Orang Sakit
Hak utama orang sakit adalah bebas dari segala tanggung jawab sosial yang normal. Hal tersebut
tidak mutlak, tergantung dari tingkat keparahan penyakit. Bila tingkat keparahannya rendah, volume
dan frekuensi kerja harus dikurangi. Sebaliknya jika tingkat keparahan yang tinggi terlebih lagi
apabila sisakit menderita penyakit menular, hak untuk tidak memasuki posisi sosial harus
diperolehnya.
Hak yang kedua adalah hak untuk menuntut bantuan atau perawatan kepada orang lain. Ini
dikarenakan orang yang sakit dituntut kewajibannya untuk sembuh dan juga dituntut untuk segera
kembali berperan didalam sistem sosial.
2

Kewajiban Orang Sakit


Di samping haknya yang dapat dituntut, orang yang sedang sakit juga mempunyai kewajiban yang
harus dipenuhi. Pertama, orang yang sedang sakit mempunyai kewajiban untuk sembuh dari
penyakitnya. Hal ini disebabkan karena manusia diberi kesempurnaan dan kesehatan oleh Tuhan.

Kewajiban orang yang sakit kedua adalah mencari pengakuan, nasihat-nasihat, dan kerja sama
dengan para ahli yang adal didalam masyarakat. Pengakuan ini penting agar anggota masyarakat
yang lain dapat menggantikan posisinya dan melakukan peranan-peranannya selama ia dalam
keadaan sakit.
LI 2. Memahami dan Menjelaskan tentang Faktor Eksternal yang Mempengaruhi Kesehatan
Faktor Internal
1. Pola makan tidak sehat
Dengan semakin majunya budaya dan teknologi, semakin membuat orang-orang harus bekerja dan bergerak
dengan cepat. Hal ini membuat pola makan kita menjadi tidak sehat, dengan mengkonsumsi makanan cepat
saji, yang sangat menggiurkan ketika menyantapnya. Mie instant ketika malas untuk memasak makanan
yang sesungguhnya. Belum lagi ketika mengkonsumsi minuman berkarbonasi.
2. Kelelahan
Ketika bekerja dalam mencukupi kebutuhan hidup, apalagi yang sudah berkeluarga, beban itu semakin
berlipat, terkadang sampai tidak memperdulikan tanda-tanda tubuh yang menyatakan kalau tubuh sudah
waktunya untuk berisitirahat. Sehingga membuat kondisi kesehatan kita menjadi turun dan rentan terkena
penyakit.
3. Stress /tertekan
Dalam menghadapi tuntutan hidup yang membuat kita harus bekerja lebih keras lagi, manusia tidak luput
dari rasa tertekan, stress, putus asa, dan sebagainya.
4. Gaya hidup tidak sehat
Dengan masuknya budaya dari luar, dan pergaulan, membuat gaya hidup tidak sehat, dengan merokok,
dugem sampai dengan mengkonsumsi obat-obatan terlarang, hal tersebut terkadang merupakan salah satu
cara pelarian.
5. Kurang istirahat dan olahraga
Dengan adanya tuntutan pekerjaan, problema hidup, stress yang berkepanjangan, tak jarang manusia selalu
memikirkannya, bekerja sampai larut malam, sehingga membuat kurang isitrahat dan juga kurang berolah
raga untuk membuat tubuh tetap fit.
6. Obat-obatan kimia
Pada saat sakit tidak jarang orang-orang minum obat untuk meredakan sakit yang di derita, baik itu dengan
menggunakan resep dokter atau dengan obat bebas. Untuk menunjang kesehatan pun, terkadang
mengkonsumsi vitamin-vitamin.
Faktor Eksternal
1. Radiasi ponsel
Semua orang baik tua maupun muda, 90% menggunakan handphone, menurut penelitian, radiasi yang
dikeluarkan dari handphone, lama kelamaan dapat mengakibatkan efek yang negative terhadap otak kita.
2. Polusi udara
Dengan semakin berkembangnya teknologi dan bertambahnya penduduk dunia, membuat polusi udara
semakin meningkat, mengapa begitu ? Karena semakin banyak dibangun pabrik untuk memenuhi kebutuhan

dari pasar, kendaraan semakin banyak, dari hari ke hari jalanan semakin macet. Asap knalpot kendaraan dan
pabrik mengandung karbon monoksida.
3. Jadi perokok pasif
Perokok pasif merupakan seorang penghirup asap rokok dari orang yang sedang merokok. Akibatnya lebih
berbahaya dibandingkan perokok aktif. Bahkan bahaya yang harus ditanggung perokok pasif tiga kali lipat
dari bahaya perokok aktif. Setyo Budiantoro dari Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)
mengatakan, sebanyak 25 persen zat berbahaya yang terkandung dalam rokok masuk ke tubuh perokok,
sedangkan 75 persennya beredar di udara bebas yang berisiko masuk ke tubuh orang di sekelilingnya.
Konsentrasi zat berbahaya di dalam tubuh perokok pasif lebih besar karena racun yang terhisap melalui
asap rokok perokok aktif tidak terfilter. Sedangkan racun rokok dalam tubuh perokok aktif terfilter melalui
ujung rokok yang dihisap. Namun konsentrasi racun perokok aktif bisa meningkat jika perokok aktif
kembali menghirup asap rokok yang ia hembuskan.
Racun rokok terbesar dihasilkan oleh asap yang mengepul dari ujung rokok yang sedang tak dihisap. Sebab
asap yang dihasilkan berasal dari pembakaran tembakau yang tidak sempurna. Dapat anda bayangkan
seberapa beresikonya perokok pasif.
4. Efek rumah kaca
Dari asap pabrik, kendaraan bermotor, asap rokok, asap pembakaran sampah, hal ini memicu terjadinya efek
rumah kaca. Meningkatnya kadar karbondioksida diudara merupakan permasalahan yang sangat serius dan
mesti diperhatikan sejak dari sekarang. Jika hal ini dibiarkan berlarut, justru akan mengancam kehidupan
makhluk hidup. Meningkatnya kadar karbondioksida di atmosfer dapat menyebabkan terjadinya efek rumah
kaca (green house effect) atau lebih dikenal dengan pemanasan global suhu bumi.
Pada dasarnya, karbondioksida tidak berbahaya bagi manusia. Namun, kenaikan kadar karbondioksida
diudara dapat mengakibatkan peningkatansuhu permukaan bumi. Efek rumah kaca terjadi dikarenakan
karbondioksida yang ada di atmosfer melebihi ambang batas. Gas karbondioksida dapat dilewati oleh semua
sinar/cahaya yang dipancarkan oleh matahari. Akan tetapi ketika memantul dipermukaan bumi dan kembali
keatmosfer, sinar tertentu akan tertahan dan terperangkap kemudian dipantulkan lagi ke bumi. Fenomena ini
persis seperti sebuah rumah yang terbuat dari kaca, dimana suhu didalamnya sangat panas.
Dua faktor tersebut yang setiap hari kita hadapi. Segala hal yang dapat mengganggu Kesehatan, sedikit demi
sedikit kita investasikan di dalam tubuh kita semenjak kita lahir sampai dengan sekarang. Semakin banyak
pula orang yang mengalami sakit kritis, seperti kanker, serangan jantung, stroke, diabetes, kolesterol, gagal
ginjal, dan lain sebagainya.
Konsep Rumah Sehat
Definisi Rumah Sehat:
Rumah Sehat adalah bangunan rumah tinggal yang memenuhi syarat kesehatan, yaitu rumah yang memiliki
jamban yang sehat, sarana air bersih, tempat pembuangan sampah, sarana pembuangan air limbah, ventilasi
rumah yang baik, kepadatan hunian rumah yang sesuai dan lantai rumah yang tidak terbuat dari tanah.
Ciri Rumah Sehat:
Persyaratan Kesehatan Rumah Tinggal menurut
829/Menkes/SK/VII/1999 adalah sebagai berikut:
1. Bahan Bangunan

Keputusan

Menteri

Kesehatan

RI

Nomor:

a. Tidak terbuat dari bahan yang dapat melepaskan zat-zat yang dapat membahayakan kesehatan, antara
lain sebagai berikut :
Debu Total tidak lebih dari 150 g m3.
Asbes bebas tidak melebihi 0,5 fiber/m3/4jam.
Timah hitam tidak melebihi 300 mg/kg.
b. Tidak terbuat dari bahan yang dapat menjadi tumbuh dan berkembangnya mikroorganisme patogen.
2. Komponen dan penataan ruang rumah
Komponen rumah harus memenuhi persyaratan fisik dan biologis sebagai berikut:
a. Lantai kedap air dan mudah dibersihkan.
b. Dinding
Di ruang tidur, ruang keluarga dilengkapi dengan sarana ventilasi untuk pengaturan sirkulasi
udara.
Di kamar mandi dan tempat cuci harus kedap air dan mudah dibersihkan.
c. Langit-langit harus mudah dibersihkan dan tidak rawan kecelakaan.
d. Bumbung rumah yang memiliki tinggi 10 meter atau lebih harus dilengkapi dengan penangkal petir.
e. Ruang di dalam rumah harus ditata agar berfungsi sebagai ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan,
ruang tidur, ruang dapur, ruang mandi dan ruang bermain anak.
f. Ruang dapur harus dilengkapi dengan sarana pembuangan asap.
3. Pencahayaan
Pencahayaan alam atau buatan langsung atau tidak langsung dapat menerangi seluruh bagian ruangan
minimal intensitasnya 60 lux dan tidak menyilaukan.
4. Kualitas Udara
Kualitas udara di dalam rumah tidak melebihi ketentuan sebagai berikut :
a. Suhu udara nyaman berkisar antara l8C sampai 30C.
b. Kelembaban udara berkisar antara 40% sampai 70%
c. Konsentrasi gas SO2 tidak melebihi 0,10 ppm/24 jam
d. Pertukaran udara
e. Konsentrasi gas CO tidak melebihi 100 ppm/8jam
f. Konsentrasi gas formaldehide tidak melebihi 120 mg/m3
5. Ventilasi
Luas penghawaan atau ventilasi a1amiah yang permanen minimal 10% dari luas lantai
6. Binatang penular penyakit
Tidak ada tikus bersarang di rumah.
7. Air
a. Tersedia air bersih dengan kapasitas minmal 60 liter/hari/orang
b. Kualitas air harus memenuhi persyaratan kesehatan air bersih dan air minum sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
8. Tersediannya sarana penyimpanan makanan yang aman dan hygiene.
9. Limbah
a. Limbah cair berasal dari rumah, tidak mencemari sumber air, tidak menimbulkan bau dan tidak
mencemari permukaan tanah.
b. Limbah padat harus dikelola agar tidak menimbulkan bau, tidak menyebabkan pencemaran terhadap
permukaan tanah dan air tanah.
10. Kepadatan hunian ruang tidur
Luas ruang tidur minimal 8m2 dan tidak dianjurkan digunakan lebih dari dua orang tidur dalam satu ruang
tidur, kecuali anak dibawah umur 5 tahun

Masalah perumahan telah diatur dalam Undang-Undang pemerintahan tentang perumahan dan pemukiman
No.4/l992 bab III pasal 5 ayat l yang berbunyi Setiap warga negara mempunyai hak untuk menempati dan
atau menikmati dan atau memiliki rumah yang layak dan lingkungan yang sehat, aman , serasi, dan teratur
Bila dikaji lebih lanjut maka sudah sewajarnya seluruh lapisan masyarakat menempati rumah yang sehat dan
layak huni. Rumah tidak cukup hanya sebagai tempat tinggal dan berlindung dari panas cuaca dan hujan,
Rumah harus mempunyai fungsi sebagai :
a. Mencegah terjadinya penyakit
b. Mencegah terjadinya kecelakaan
c. Aman dan nyaman bagi penghuninya
d. Penurunan ketegangan jiwa dan sosial
Kriteria Lingkungan Sehat
a. Memiliki sumber air bersih dan sehat serta tersedia sepanjang tahun (Permenkes no.
416/MENKES/PER /IX/1990 ttg Persyaratan kualitas air bersih & air minum)
b. Memiliki tempat pembuangan kotoran, sampah, dan air limbah yang baik (jarak min 100m dari TPS)
c. Dapat mencegah terjadinya perkembangbiakan vektor penyakit, seperti nyamuk, tikus, dan lain-lain
d. Letak perumahan jauh dari pencemaran. Mis: kawasan industri (min 5 km)
Rumah yang buruk/kumuh dapat medukung terjadinya penularan penyakit dan gangguan kesehatan:
a. Infeksi saluran napas.
b. Infeksi pada kulit.
c. Infeksi akibat infestasi tikus.
d. Arthropoda.
e. Kecelakaan.
f. Mental.
g. Sick Building Syndrome
h. Batuk kering, iritasi mata dan THT, kulit kering dan
i. Gatal, badan lemah > 2 minggu

Kerangka Konsep yang Terjadi pada Kasus

LI 3. Memahami dan Menjelaskan tentang Konsep Fungsi Keluarga dalam Islam


Konsep keluarga menurut islam secara substansial tidak begitu berbeda dengan bentuk konsep keluarga
sakinah yang ada pada hukum Islam yaitu membentuk rumah tangga yang bernafaskan Islam,
yang mawaddah wa rahmah. Hanya pada poin-poin tertentu yang memberi penekanan yang lebih dalam
pelaksanaannya, seperti hal-hal yang menyangkut tentang hak dan kewajiban atau peran suami-istri di dalam
rumah tangga.
Keluarga Sakinah adalah keluarga yang terbentuk dari pasangan yang baik kemudian menerapakan nilai
nilai Islam dalam melakukan hak dan kewajiban rumah tanggasertam mendidik anak dalam suasana
mawadah warohmah. Dan difirmankan Allah SWT dalam surat Ar-Ruum ayat 21 artinya :
Dan diantara tanda-tanda ia ciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri agar kamu merasa
tenang kepadanya dan dijadikannyadiantaramu rasa cinta dan kasih sayan. Sesungguhnyadalam hal ini
terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang memikirkan . (QS. Ar-Ruum : 21).
Dalam berkeluarga ada beberapa yang perlu dipahami, antara lain :
1. Memahami hak suami terhadap istri dan kewajibban istri terhadap suami:
a. Menjadikannya sebagai Qowwam (yang bertanggung jawab)
Suami wajib ditaati dan dipatuhi dalam setiap keadaan kecuali yang bertentangan dengan syariat
islam karena suami adalah pemimpin yang Allah pilihkan untuk wanita.
b. Menjaga kehormatan diri:
Menjaga akhlak dalam pergaulan
Menjaga izzah suami dalam segala hal
Tidak memasukan orang lain ke dalam rumah tanpa seizin suami
c. Berkhidmat kepada suami:
Menyiapkan dan melayani kebutuhan lahhir batin suami
Menyiapakan keberangkatan dan mengantarkan kepergian
Suara istri tidak melebihi suara suami

Berterima kasih terhadap perlakuan dan pemberian suami

2. Memahami hak istri terhadap suami dan kewajiban suami terhadap istri
a. Istri berhak mendapat mahar
b. Mendapat perhatian penuh dan kebutuhan lahir batin
c. Mendapatkan nafkah sandang pangan papan
d. Mendapakan pengajaran Diinul Islam dan pengajaran yang lain dan suami memberi sarana dan
mengawasi
e. Suami mengajak istri menghadiri majlis talim dan lain-lain tentang ketaqwaan
f. Mendapatkan perlakuan yang lembut dengan penuh kasih sayang disaat apa pun

Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat perlu diberdayakan fungsinya agar dapat
mensejahterakan umat manusia.
a. Dalam Islam fungsi keluarga meliputi :Penerus misi umat Islam
Dalam sejarah, dapat kita lihat bagaimana islam sanggup berdiri tegap dalam menghadapi berbagai
ancaman dan bahaya. Demikianlah berlomba-lomba untuk mendapatkan keturunan yang bermutu
merupakan faktor penting yang telah memelihara keberadaan umat islam yang sedikit. Pada waktu itu
menjadi pendukung islam dalam mempertahankan kehidupannya (berkeluarga)
b. Perlindungan terhadap akhlak
Islam memandang pembentukan keluarga sebagai sarana efektif memelihara pemuda dari kerusakan
dan melindungi masyarakat dari kekacauan. Karena itulah Rasulullah bersabda : Wahai pemuda,
siapa diantara kalian yang berkemampuan maka menikahlah, karena nikah lebih melindungi mata dan
farji, dan barang siapa yang tidak mampu maka hendaklah shoum, karena shoum itu baginya daalah
penenang. ( HR. AL-Khosah dari Abdullahbin Masud )
c. Wahana pembentukan generasi Islam
Keluarga lah sekolah kepribadian pertama dan utama bagi anak.
Penyair kondang Hafidz Ibrohim mengatakan : Ibu adalah sekolah bagi anak-anaknya. Bila engkau
mendidiknya berarti engkau telah menyiapkanbangsa yang baik perangainya. Ibu sangat berperan
dalam pendidikan keluarga, sementara ayah mempunyai tugas yaitu menyediakansarana bagi
berlangsungnya pendidkan tersebut. Keluarga lah yang menerapkan sunnah Rasul dari bangun tidur
sampai sampai akan tidur lagi. Maka tercipta lah generasi islam yang handal dan berkualitas
d. Memelihara status sosial dan ekonomi
Dalam pembentukan keluarga, islam mewujudkan ikatan dan persatuan. Dengan adanya ikatann
keturunan maka diharapkan akan mempererat tali persaudaraan anggota masyarakat dan bangsa.
Islam memperbolehkan pernikahan antar bangsa Arab dan Ajam ( Non Arab ),antara kulit putih dan
kulit hitam, anatara orang timur dengan orang barat. Berdasarkan fakta ini Islam sudah mendahului
semua system Demokrasi dalam mewujudkan persatuan ummat
Fungsi ekonomi dalam keluarga akan Nampak. Rasul bersabda : Nikahilah wanita, karena ia akan
mendatangkan Maal. (HR. Abu Dawud, dari Urwah RA). Perkawinan adalah sarana untuk
mendapakan sarana keberkahan dibandingkan dengan bujangan, berkeluarga lebih hemat ekonomis
dan lebih giat dalam mencari nafkah.

e. Menjaga kesehatan
Pernikahan memelihara para pemuda yang sering melakukan kebiasaan onani yang menguras tenaga
dan dapat mencegah penyakit kelamin.
f. Memantapkan spiritual (Ruhiyyah)
Pernikahan sebagai pelengkap dari keimanan dan pelapang jalan menuju sabilillah, hati menjadi tenang
bersih dari berbagi kecenderungan dan jiwa terlindung dari berbagai was was.

LI 4. Memahami dan Menjelaskan tentang Hak dan Kewajiban Keluarga dalam Merawat Anggota
Keluarga yang Sakit dalam Islam
Ada dua hak orang sakit yang harus dipenuhi oleh anggota masyarakat atau keluarganya. Hak orang sakit
yang pertama dan utama adalah bebas dari segala tanggung jawab social yang normal. Artinya orang yang
sedang sakit mempunyai hak untuk tidak melakukan pekerjaan sehari-hari yang biasa dia lakukan. Hal ini
boleh dituntut, namun tidaklah selalu mutlak, tergantung tingkat keparahan atau tingkat persepsi dari
penyakit tersebut. Apabila tingkat keparahan sakitnya rendah maka orang tersebut mungkin saja tidak perlu
menuntut haknya. Dan seandainya menuntut haknya harus tidak secara penuh. Maksudnya, ia tetap dalam
posisinya tetapi perannya dikurangi, dalam arti volume dan frekuensi kerjanya dikurangi.
Tetapi bila tingkat keparahannya tinggi maka hak tersebut harus dituntutnya, misalnya menderita penyakit
menular. Hak tersebut haruslah dituntut karena bila tidak akan dapat menimbulkan konsekuensi ganda,
yaitu disamping produktivitas kerja menurun atau bahkan dapat menambah beratnya penyakit.
Hak yang kedua adalah hak untuk menuntut bantuan atau perawatan kepada orang lain. Didalam
masyarakat yang sedang sakit berada dalam posisi yang lemah, lebih-lebih bila sakitnya berada dalam
derajat keparahan yang tinggi. Anggota keluarga dan anggota masyarakat berkewajiban untuk membantu
dan merawatnya. Oleh karena tugas penyembuhan dan perawatan memerlukan keahlian tertentu, maka
tugas ini didelegasikan kelpada lembaga-lembaga masyarakat atau individu tertentui seperti dokter,
perawat, bidan dan petugas lainnya.
Kewajiban keluarga merawat orang sakit :
1

Mengenal gangguan kesehatan setiap anggotanya. Keluarga mempunyai peranan yang amat penting
dalam mengembangkan, mengenal, dan menemukan masalah kesehatan dalam keluarga sebagai
antisipasi menjaga kesehatan dalam keluarganya

Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat. Keluarga merupakan pusat pengambilan
keputusan terpenting, termasuk membuat keputusan tentang masalah kesehatan keluarga. Keluarga
dalam tugasnya mengambil keputusan bagi anggota keluarga disebut sebagai pelayanan rujukan
kesehatan primer

Memberikan keperawatan kepada anggota keluarga yang sakit dan tidak dapat membantu dirinya
sendiri karena cacat atau usianya terlalu muda

Mempertahankan suasana rumah yang menguntungkan kesehatan dan perkembangan kepribadian


anggota keluarga

Mempertahankan hubungan timbale balik antara keluarga dan lembaga kesehatan, yang menunjukkan
pemanfaatan dengan baik fasilitas-fasilitas kesehatan yang ada

Bimbingan terhadap pasien yang sakaratul maut


Orang sakit biasanya mengalami krisis psikologis dalam dirinya, oleh karena itu hendaknya didampingi dan
diberi perhatian lebih, serta dorongan motivasi untuk kesembuhannya. Doa-doa serta dzikir dirasa mampu
mengurangi rasa sakit orang yang merasakannya. Karena dalam doa dan dzikir tersebut terdapat ilmu ikhlas
sebagai hamba Allah swt yang tidak mempunyai daya dan upaya dihadapan-nya. Kita dapat
mendampinginya sebagai wujud bertawaqal dan menyerahkan diri kepada Allah swt dan menyadari
segalanya kembali atas kehendaknya.
Mati adalah kata yang tidak disukai oleh kebanyakan orang. Banyak yang menghindar darinya. Kematian
itu sendiri tentunya lebih ditakuti dari sekadar kata mati. Tidak hanya oleh manusia, binatang pun takut
mati. Seakan tidak ada yang sudi mati. Hal ini wajar bagi makhluk yang bernyawa, karena mati merupakan
sebab berpisahnya seorang dari hal yang ia senangi, berpisah dari dunia dan segala isinya. Sementara
manusia memang mencintai dunia dan seisinya. Sebagaimana firman Allah Subhaanahu Wata'ala, yang
artinya; Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanitawanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan
sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).
(QS. Al-Imran: 14).
Di sisi lain, ada yang menyangka bahwa kematian menjanjikan ketenangan. Karenanya, kita sering
mendengar kasus bunuh diri. Orang itu mengira kematian merupakan solusi ampuh untuk mengatasi semua
masalah. Ada juga golongan manusia yang sepanjang harinya bermaksiat, seakan-akan maut tidak akan
menjemputnya.