Anda di halaman 1dari 9

Sumber Hukum Islam Pertama: Al-Quran

umat manusia di dunia ini sehingga runtuhnya peradaban umat manusia


sebelumnya tidak akan terulang di era ini.

Oleh: Boy Fadly

A. Pendahuluan
Al-Quran adalah referensi utama bagi umat Islam dalam kehidupan mereka.
Di dalam Al-Quran terkandung informasi masa lalu, masa kini dan masa nanti.
Dengan bahasa yang berseni sangat tinggi, Allah SWT memberikan kabar baik
dan buruk, perintah. tuntunan, janji-janji yang pasti terjadi dan menceritakan
fenomena ketauhidan, alam semesta dan isi-isi yang terkandung didalamnya.
Cerita-cerita tentang kisah baik baik kemanusiaan yang ada dalam al-Quran
tidak hanya untuk hiburan dan tujuan menyenangkan telinga. Ini adalah sebuah
sejarah penuh dengan ajaran dan pelajaran untuk kesadaran manusia.
Sesungguhnya, manusia hanya aktor yang membuat panggung dunia hidup dan
mereka selalu diganti sesuai dengan waktu berganti. Tapi cerita tetap sama,
orang-orang yang baik, yang menyadari tanggung jawab mereka, yang
berdamai dengan dunia dengan taat kepada aturan yang ditetapkan oleh Sang
Pemilik, akan mendapatkan kebahagiaan, sementara mereka yang tidak taat,
yang sombong, yang selalu melakukan penyimpangan dan kerusakan (dalam
berbagai bentuk) sampai Allah membawa mereka berbagai jenis peringatan
dan perusakan.
Al-Quran diturunkan untuk mengatur kehidupan manusia dalam berbagai
aspek kehidupan dari hal-hal ibadah ke manusia, hubungan antar bangsa,
berdasarkan pedoman yang diturunkan oleh Allah. Hal ini juga berfungsi
sebagai panduan untuk semua manusia menuju jalan yang benar dan untuk
menghindari mereka dari kegelapan (atau ketiadaan cahaya). Al-Quran
mengandung penjelasan tentang iman, pengetahuan, ibadah kepada Allah,
prinsip-prinsip ekonomi, hubungan antara negara-negara, hubungan sosial,
perang dan perdamaian dan peraturan negara serta cerita manusia sebelumnya
dan peradaban mereka dibangun di dunia ini. Dalam menjelaskan tentang
peraturan hidup berkembang, Al-Quran menyajikan faktor yang berkontribusi
terhadap naik dan turun atau runtuhnya peradaban suatu bangsa tertentu di
dunia. Ini faktor yang penting untuk dipelajari dan merenungkan oleh seluruh

B. Pengertian Sumber dan Dalil Hukum Syara1


Kata sumber dalam hukum fiqh adalah terjemahan dari lafaz: ,
jamaknya: Mashadar. Dalam ushul syariy makna sumber yaitu sesuatu yang
kepadanya didasarkan fiqh atau hukum syara2. Lafaz itu hanya terdapat dalam
sebagian literatur kontemporer sebagai ganti dari kata dalil. Atau lengkapnya
al-adillah syariyyah. Sedangkan dalam literatur klasik, biasanya digunakan
kata dalil atau adillah syariyyah, dan tidak pernah digunakan kata mashadir
al-ahkam al-syariyyah. Mereka yang menggunakan kata mashadir sebagai
ganti al-adillah tentu beranggapan bahwa kata itu adalah kata yang sama
artinya.
Dalam pengertian ini, kata sumber atau ushul hanya dapat digunakan untuk
Al-Quran dan sunnah. Dalam kaitannya dengan ijma ulama adalah kegiatan
dalam menetapkan hukum. Jika ditemukan ijma ulama dalam urutan dalil
syara maka yang dimaksudkan adalah ijma dalam arti proses. Sedangkan jika
ulama merujuk ushul syariat maka ijma dalam arti produk. Sehingga ushul
syariat adalah Al-Quran, sunnah dan ijma ulama.
Kata sumber dalam artian ini adalah hanya dapat digunakan untuk Al-Quran
dan sunnah, karena keduanya adalah wadah yang dapat ditimba/rujukan dalam
hukum syara. Sedangkan ijma dan qiyas adalah proses/cara menemukan
hukum. Jadi ijma dan qiyas bukan merupakan sumber dalam makna dalil
syara.
Kata dalil berasal dari bahasa Arab yang secara etimologis berarti sesuatu
yang dapat menunjuki. Kata dalil dan yang seakar dengannya disebut sebanyak
8 kali dalam Al-Quran dengan arti tersebut. Seperti pada surat Al-Furqon
(25): 45:
Kemudian Kami jadikan matahari sebagai dalil (petunjuk).
Di kalangan fuqaha, kata dalil diartikan: sesuatu yang padanya terdapat
penunjukan pengajaran, baik yang dapat menyampaikan kepada sesuatu yang

1 Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh (Jakarta: Kencana, 2008), 189-225


2 Ibid., hal 189

meyakinkan atau kepada dugaan kuat yang tidak meyakinkan. Sedangkan


ulama ushul fiqh kata dalil diartikan sesuatu yang menyampaikan kepada
tuntutan khabari dengan pemikiran yang sahih. Sehingga sesuatu yang tidak
menyampaikan kepada tuntutan atau menyampaikan kepada tuntutan yang
bukan khabari atau yang menyampaikan kepada pemikiran yang salah, maka
iya bukan disebut dalil dalam pengertian ini.
C. Hukum Islam dalam tinjauan ilmu: Definisi dan Obyek Kajian.3
Sebelum menjelaskan obyek kajian ilmu syariah (ilmu hukum Islam), perlu
dijelaskan batasan pengertian syariah itu sendiri. Syariah didefinisikan
mencakup baik tindak tanduk hati maupun tindakan-tindakan lahiriah yang
nyata terlihat. Secara etimologi, syariah berasal dari bahasa Arab al-syariah
dan sinonim dengan kata al-syirah yang artinya adalah jalan menuju mata air.
Sedangkan dari segi istilah, al-Tahtawi, sebagaimana dikutip oleh Syamsul
Anwar4 mendefinisikan: syariah adalah norma-norma hukum yang ditetapkan
Allah untuk para hamba-Nya yang dibawa oleh salah seorang nabi semoga
Allah melimpahkan kesejahteraan dan kedamaian kepada mereka dan kepada
Nabi kita- baik norma-norma itu berkaitan dengan tingkah laku dan disebut
norma-norma hukum cabang atau norma-norma hukum mengenai tingkah laku
dan untuk mengkajinya disusunlah ilmu fiqh, maupun berkaitan dengan
keyakinan dan dinamakan norma-norma pokok agama atau norma-norma
kepercayaan, dan untuk mengkajinya disusunlah ilmu kalam (teologi). Syara
(syariah) dinamakan pula al-din atau al-millah. Definisi di atas pada dasarnya
menggambarkan syariah sebagai paduan perintah-perintah Tuhan kepada
manusia, yaitu perintah-perintah yang jelas terutama bersifat moral. Jadi
Syariah bukan sekedar peraturan tata cara perilaku formal yang khusus dan
utama, tetapi ia sejalan dan sama luasnya (coterminous) dengan kebaikan itu
3

http://download.portalgaruda.org/article.php?article=401716&val=6795&titl
e=USHUL%20FIQIH%20DAN%20TIPOLOGI%20PENELITIAN%20HUKUM%20ISL
AM didownload 5 oktober 2016 jam 19.00 wib mengenai Ushul Fiqih Dan
Tipologi Penelitian Hukum Islam oleh Nurul Marifah (IAIN Cirebon)
4
Al-Tahtawai dalam Syamsul Anwar, Epistemologi Hukum Islam dalam alMustashfa min alUshul Karya al-Ghazali, Desertasi di IAIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta, (Yogyakarta: 2000), h. 120.

sendiri. Tetapi anehnya sedikit sekali usaha yang dilakukan untuk memikirkan
dan merumuskan kembali batang tubuh fiqh yang utuh, sebagaimana dulu
pernah dilakukan oleh tokoh-tokoh keempat aliran hukum. Alasan utama untuk
ini tampaknya adalah bahwa hukum ini dipandang sebagai sesuatu yang
semestinya muncul dari prinsip-prinsip Quran dan Sunnah dan selanjutnya
disucikan oleh ijma. Padahal ijma, seperti telah kami nyatakan telah dianggap
final, pintu ijtihad (pemikiran orisinal) telah ditutup, dan akibatnya tak seorang
pemikirpun, sehebat apapun dia, yang berani mencoba-coba untuk
membukanya5. Hukum Islam mencakup berbagai dimensi. Dimensi abstrak,
dalam wujud segala perintah dan larangan Allah dan Rasul-Nya; dan dimensi
konkret, dalam wujud perilaku mempola yang bersifat ajeg di kalangan orang
Islam sebagai upaya untuk melaksanakan titah Allah dan Rasul-Nya itu. Lebih
konkret lagi, dalam wujud perilaku manusia (amaliah), baik individual maupun
kolektif. Hukum Islam juga mencakup substansi yang terinternalisasi ke dalam
berbagai pranata social. Manakala membicarakan hukum Islam, apakah yang
dimaksud syariat Islam atau fiqh Islam? Sebagaimana disinggung dai atas,
bahwa syariat Islam adalah hukum Islam yang berlaku abadi sepanjang masa.
Sedangkan fiqh adalah perumusan konkret syariat Islam untuk diterapkan
pada suatu kasus tertentu di suatu tempat dan di suatu masa. Keduanya dapat
dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan. Fiqh juga diidentifikasi sebagai salah
satu dimensi hukum Islam, yakni produk penalaran fuqaha terhadap syariah,
yang secara empiris dijadikan hukum terapan oleh Muslim di berbagai
kawasan. Hukum Islam mempunyai fungsi yang ganda, yaitu fungsi syariah
dan fungsi fiqh. Syariah merupakan fungsi kelembagaan yang diperintahkan
Allah untuk dipatuhi sepenuhnya, atau saripati petunjuk Allah untuk
perseorangan dalam mengatur hubungannya dengan Allah, sesame Muslim,
sesame manusia, dan dengan semua makhluk di dunia ini. Sedangkan fiqh
merupakan produk daya pikir manusia. Fiqh merupakan usaha manusia yang
dengan daya intelektualnya mencoba menafsirkan penerapan prinsip prinsip
syariah secara sistematis.
Manakala membicarakan hukum Islam, apakah yang dimaksud syariat Islam
atau fiqh Islam? Syariat Islam adalah hukum Islam yang berlaku abadi
sepanjang masa. Sedangkan fiqh adalah perumusan konkret syariat Islam
5

Fazlur Rahman, Islam, Alih bahasa: Ahsin Mohammad, (Bandung: Pustaka,


1994), h. 165

untuk diterapkan pada suatu kasus tertentu di suatu tempat dan di suatu masa.
Keduanya dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan.
Fiqh juga diidentifikasi sebagai salah satu dimensi hukum Islam, yakni produk
penalaran fuqaha terhadap syariah, yang secara empiris dijadikan hukum
terapan oleh Muslim di berbagai kawasan. Hukum Islam mempunyai fungsi
yang ganda, yaitu fungsi syariah dan funngsi fiqh. Syariah merupakan fungsi
kelembagaan yang diperintahkan Allah untuk dipatuhi sepenuhnya, atau
saripati petunjuk Allah untuk perseorangan dalam mengatur hubungannya
dengan Allah, sesame Muslim, sesame manusia, dan dengan semua makhluk di
dunia ini. Sedangkan fiqh merupakan produk daya pikir manusia. Fiqh
merupakan usaha manusia yang dengan daya intelektualnya mencoba
menafsirkan penerapan prinsipprinsip syariah secara sistematis. Apakah
obyek kajian ilmu syariah? Al-Gazzali (w. 505/1111) dalam pendahuluan IalMustasfa menjelaskan sisi yang menjadi perhatian ahli hukum Islam untuk
dikaji dari keseluruhan obyek kajian ilmu-ilmu keagamaan Islam dengan
mengatakan Ahli hukum mengambil satu sisi tertentu, yaitu tingkah laku
subyek hukum, yang diselidikinya dalam kaitan dengan dictum hukum.
Menurut pernyataan al Gazzali ini obyek kajian ilmu syariah (ilmu hukum
Islam) adalah tingkah laku dalam kaitannya dengan norma hukum. Konsepsi
ini berbeda dengan pengertian yang lazim dalam hukum Islam, yaitu bahwa
ilmu hukum Islam (ilmu syariah) mengkaji hukum-hukum (norma-norma)
syariah yang disimpulkan dari dalil-dalilnya berupa teks-teks al-Quran dan
hadis serta dalil-dalil subsider lainnya. Pertanyaannya di sini: apakah
sesungguhnya ilmu syariah mengkaji norma-norma atau mengkaji tingkah
laku? Dengan kata lain apakah ilmu syariah adalah suatu ilmu normatif murni
atau suatu ilmu perilaku? Dalam kenyataan perkembangan ilmu syariah
sendiri pendefinisian ilmu hukum Islam sebagai ilmu yang menyelidiki normanorma, dan ditunjang oleh suatu postulat yang berasal dari system teologi
tertentu bahwa hukum tidak dapat ditemukan di luar teks-teks, telah membawa
hukum Islam menjadi suatu ilmu teks, ilmu kalam yaitu ilmu yang mengkaji
kalam ilahi yang merupakan khitab asysyar. Analisis hukum karena itu berarti
analisis teks. Bagi pengkaji modern, pernyataan al-Gazzali mungkin lebih
menarik karena memberi peluang kepada pendekatan empiris dalam kajian
hukum bukan semata analisis teks (khitab asy-syari) tetapi juga berarti analisis
tingkah laku.

D. Al-Quran sebagai Sumber dan Dalil Hukum Syara6


1. Pengertian Al-Quran
Secara etimologis, Al-Quran adalah bentuk mashdar dari kata qa-ra-a artinya
bacaan; berbicara tentang apa yang tertulis padanya; atau melihat dan
menelaah. Dalam pengertian ini, kata Quran berarti Maqru yaitu isim maful
dari kata qa-ra-a. Hal ini sesuai dengan Firman Allah dalam surat Al-Qiyamah
(75): 17-18:
(18)
(17)
Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan
(membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacanya,
maka ikutilah bacannya itu.
Kata Quran digunakan dalam arti sebagaimana kitab suci yang dituturunkan
kepada Nabi Muhammad SAW. Bila dilafazkan dengan menggunakan alif-lam
berarti keseluruhan apa yang dimaksud dengan Quran, sebagaimana firman
Allah dalam surat Al-Isra (17): 9:

Sesungguhnya Al-Quran ini memberi petunjuk kepada (jalan) yang lebih


lurus.
Al-Quran disebut juga Al-Kitab sebagaimana tersebut dalam surat Al-Baqarah
(2): 2:

Kitab (Al-Quran) itu tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang
bertaqwa.
Menurut Amir Syarifuddin, definisi Al-Quran yakni Lafaz berbahasa Arab
yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang dinukilkan secara
mutawatir. Pengertian ini mengandung beberapa unsur yang menjelaskan
hakikat Al-Quran, yaitu:
1. Al-Quran itu berbentuk lafaz.
Ini mengandung arti bahwa apa yang disampaikan Allah melalui Jibril
kepada Nabi Muhammad SAW dalam bentuk makna dan dilafazkan
oleh Nabi Muhammad SAW. Jika Lafaz yang tidak berasal dari Jibril
atas perintah Allah SWT maka tidak disebut Al-Quran.
6

Ibid., Amir., hal 226-229

Al-Quran itu adalah berbahasa Arab.


Ini mengandung arti bahwa Al-Quran yang dialihbahasakan kepada
bahasa lain bukanlah Al-Quran.
3. Al-Quran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Ini mengandung makna bahwa wahyu Allah yang disampaikan
kepada nabi-nabi terdahulu bukanlah Al-Quran. Tetapi apa yang
dihikayatkan tentang kehidupan dan syariat yang berlaku bagi umat
terdahulu adalah Al-Quran.
4. Al-Quran itu dinukilkan secara mutawatir.
Ini mengandung makna bahwa ayat-ayat yang tidak dinukilkan dalam
bentuk mutawatir bukanlah Al-Quran. Karenanya ayat-ayat syazzah
atau yang tidak mutawatir penukilannya tidak dapat dijadikan hujah
dalam istinbath hukum.
Selain 4 unsur di atas ada beberapa unsur sebagai penjelasan tambahan
yang ditemukan dari defenisi beberapa ahli yakni Ibn Subki; mukjizat dan
beribadah membacanya dan defenisi oleh Al-Sarkhisi; terdapat kalimat
dituliskan dalam mushaf. Berikut ini penjelasannya, yaitu:
a) Kata-kata mengandung mukjizat setiap suratnya.
Penjelasan yakni bahwa setiap ayat Al-Quran mengandung daya
mukjizat. Sehingga hadist dan tafsiran Al-Quran dalam bahasa Arab,
bukanlah Al-Quran karena tidak mengandung daya mukjizat.
b) Kata-kata beribadah membacanya.
Penjelasannya adalah dengan membaca Al-Quran berarti melakukan
suatu perbuatan ibadah yang berhak mendapatkan pahala. Karenanya
membaca hadis yang tidak mengandung daya ibadah seperti AlQuran, tidak dapat disebut Al-Quran.
c) Kata-kata tertulis dalam mushaf.
Penjelasannya mengandung makna bahwa apa-apa yang tidak tertulis
dalam mushaf walaupun wahyu itu diturunkan kepada Nabi, seperti
ayat-ayat yang telah dinasakhkan, tidak lagi disebut Al-Quran.
2.

2. Keotentikan Al-Quran7
7

M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Quran Fungsi dan peran Wahyu dalam


Kehidupan Masyarakat, Bandung: Penerbit Mizan 1996, h. 90-105

Al-Quran Al-Karim memperkenalkan dirinya dengan berbagai ciri dan sifat.


Salah satu di antaranya adalah bahwa ia merupakan kitab yang keotentikannya
dijamin oleh Allah, dan ia adalah kitab yang selalu dipelihara. Dalam surat
Alhijr ayat 9 Allah berfirman:
"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya,
Kami benar-benar memeliharanya." (QS.15:9)
Demikianlah Allah menjamin keotentikan Al-Quran, jaminan yang diberikan
atas dasar Kemahakuasaan dan Kemahatahuan-Nya, serta berkat upaya-upaya
yang dilakukan oleh makhluk-makhluk-Nya, terutama oleh manusia. Dengan
jaminan ayat di atas, setiap Muslim percaya bahwa apa yang dibaca dan
didengarnya sebagai Al-Quran tidak berbeda sedikit pun dengan apa yang
pernah dibaca oleh Rasulullah saw., dan yang didengar serta dibaca oleh para
sahabat Nabi saw.
Tetapi, dapatkah kepercayaan itu didukung oleh bukti-bukti lain? Dan,
dapatkah bukti-bukti itu meyakinkan manusia, termasuk mereka yang tidak
percaya akan jaminan Allah di atas? Tanpa ragu kita mengiyakan pertanyaan di
atas, karena seperti yang ditulis oleh almarhum 'Abdul-Halim Mahmud,
mantan Syaikh Al-Azhar: "Para orientalis yang dari saat ke saat berusaha
menunjukkan kelemahan Al-Quran, tidak mendapatkan celah untuk meragukan
keotentikannya." Hal ini disebabkan oleh bukti-bukti kesejarahan yang
mengantarkan mereka kepada kesimpulan tersebut.
a. Keotentikan Al-Quran di dalamnya.
Salah satu bukti bahwa Al-Quran yang berada di tangan kita sekarang adalah
Al-Quran yang turun kepada Nabi saw. tanpa pergantian atau perubahan. Dr.
Mustafa Mahmud, mengutip pendapat Rasyad Khalifah, juga mengemukakan
bahwa dalam Al-Quran sendiri terdapat bukti-bukti sekaligus jaminan akan
keotentikannya.
Huruf-huruf hija'iyah yang terdapat pada awal beberapa surah dalam Al-Quran
adalah jaminan keutuhan Al-Quran sebagaimana diterima oleh Rasulullah saw.
Tidak berlebih dan atau berkurang satu huruf pun dari kata-kata yang
digunakan oleh Al-Quran. Kesemuanya habis terbagi 19, sesuai dengan jumlah
huruf-huruf B(i)sm Ali(a)h Al-R(a)hm(a)n Al-R(a)him. (Huruf a dan i dalam
kurung tidak tertulis dalam aksara bahasa Arab). :
Huruf (qaf) yang merupakan awal dari surah ke-50, ditemukan
terulang sebanyak 57 kali atau 3 X 19.

Huruf-huruf kaf, ha', ya', 'ayn, shad, dalam surah Maryam, ditemukan
sebanyak 798 kali atau 42 X 19.
Huruf (nun) yang memulai surah Al-Qalam, ditemukan sebanyak 133
atau 7 X 19. Kedua, huruf (ya') dan (sin) pada surah Yasin masingmasing ditemukan sebanyak 285 atau 15 X 19. Kedua huruf (tha') dan
(ha') pada surah Thaha masing-masing berulang sebanyak 342 kali,
sama dengan 19 X 18.
Huruf-huruf (ha') dan (mim) yang terdapat pada keseluruhan surah
yang dimulai dengan kedua huruf ini, ha' mim, kesemuanya
merupakan perkalian dari 114 X 19, yakni masing-masing berjumlah
2.166.
Bilangan-bilangan ini, yang dapat ditemukan langsung dari celah ayat AlQuran, oleh Rasyad Khalifah, dijadikan sebagai bukti keotentikan Al-Quran.
Karena, seandainya ada ayat yang berkurang atau berlebih atau ditukar kata
dan kalimatnya dengan kata atau kalimat yang lain, maka tentu perkalianperkalian tersebut akan menjadi kacau.
Angka 19 di atas, yang merupakan perkalian dari jumlah-jumlah yang disebut
itu, diambil dari pernyataan Al-Quran sendiri, yakni yang termuat dalam surah
Al-Muddatstsir ayat 30 yang turun dalam konteks ancaman terhadap seorang
yang meragukan kebenaran Al-Quran.
Demikianlah sebagian bukti keotentikan yang terdapat di celah-celah Kitab
Suci tersebut.
b. Keotentikan Al-Quran dengan Bukti-bukti Kesejarahan
Al-Quran Al-Karim turun dalam masa sekitar 22 tahun atau tepatnya, menurut
sementara ulama, dua puluh dua tahun, dua bulan dan dua puluh dua hari. Ada
beberapa faktor yang terlebih dahulu harus dikemukakan dalam rangka
pembicaraan kita ini, yang merupakan faktor-faktor pendukung bagi
pembuktian otentisitas Al-Quran.
1) Masyarakat Arab, yang hidup pada masa turunnya Al-Quran, adalah
masyarakat yang tidak mengenal baca tulis. Karena itu, satu-satunya
andalan mereka adalah hafalan. Dalam hal hafalan, orang Arab --bahkan
sampai kini-- dikenal sangat kuat.
2) Masyarakat Arab --khususnya pada masa turunnya Al-Quran-- dikenal
sebagai masyarakat sederhana dan bersahaja: Kesederhanaan ini,

menjadikan mereka memiliki waktu luang yang cukup, disamping


menambah ketajaman pikiran dan hafalan.
3) Masyarakat Arab sangat gandrung lagi membanggakan kesusastraan;
mereka bahkan melakukan perlombaan-perlombaan dalam bidang ini
pada waktu-waktu tertentu.
4) Al-Quran mencapai tingkat tertinggi dari segi keindahan bahasanya dan
sangat mengagumkan bukan saja bagi orang-orang mukmin, tetapi juga
orang kafir. Berbagai riwayat menyatakan bahwa tokoh-tokoh kaum
musyrik seringkali secara sembunyi-sembunyi berupaya mendengarkan
ayat-ayat Al-Quran yang dibaca oleh kaum Muslim. Kaum Muslim,
disamping mengagumi keindahan bahasa Al-Quran, juga mengagumi
kandungannya, serta meyakini bahwa ayat-ayat Al-Quran adalah petunjuk
kebahagiaan dunia dan akhirat.
5) Al-Quran, demikian pula Rasul saw., menganjurkan kepada kaum
Muslim untuk memperbanyak membaca dan mempelajari Al-Quran dan
anjuran tersebut mendapat sambutan yang hangat.
6) Ayat-ayat Al-Quran turun berdialog dengan mereka, mengomentari
keadaan dan peristiwa-peristiwa yang mereka alami, bahkan menjawab
pertanyaan-pertanyaan mereka. Disamping itu, ayat-ayat Al-Quran turun
sedikit demi sedikit. Hal itu lebih mempermudah pencernaan maknanya
dan proses penghafalannya.
7) Dalam Al-Quran, demikian pula hadis-hadis Nabi, ditemukan petunjukpetunjuk yang mendorong para sahabatnya untuk selalu bersikap teliti dan
hati-hati dalam menyampaikan berita --lebih-lebih kalau berita tersebut
merupakan Firman-firman Allah atau sabda Rasul-Nya.
Faktor-faktor di atas menjadi penunjang terpelihara dan dihafalkannya ayatayat Al-Quran. Itulah sebabnya, banyak riwayat sejarah yang
menginformasikan bahwa terdapat ratusan sahabat Nabi saw. yang
menghafalkan Al-Quran. Bahkan dalam peperangan Yamamah, yang terjadi
beberapa saat setelah wafatnya Rasul saw., telah gugur tidak kurang dari tujuh
puluh orang penghafal Al-Quran.
Walaupun Nabi saw. dan para sahabat menghafal ayat-ayat Al-Quran, namun
guna menjamin terpeliharanya wahyu-wahyu Ilahi itu, beliau tidak hanya
mengandalkan hafalan, tetapi juga tulisan. Sejarah menginformasikan bahwa
setiap ada ayat yang turun, Nabi saw. lalu memanggil sahabat-sahabat yang
dikenal pandai menulis, untuk menuliskan ayat-ayat yang baru saja

diterimanya, sambil menyampaikan tempat dan urutan setiap ayat dalam


surahnya. Ayat-ayat tersebut mereka tulis dalam pelepah kurma, batu, kulitkulit atau tulang-tulang binatang. Sebagian sahabat ada juga yang menuliskan
ayat-ayat tersebut secara pribadi, namun karena keterbatasan alat tulis dan
kemampuan maka tidak banyak yang melakukannya disamping kemungkinan
besar tidak mencakup seluruh ayat Al-Quran. Kepingan naskah tulisan yang
diperintahkan oleh Rasul itu, baru dihimpun dalam bentuk "kitab" pada masa
pemerintahan Khalifah Abu Bakar r.a.
E. Al-Quran sebagai dasar hukum Islam8
Semua madzhab ushul fiqh sepakat bahwa Al-Qur'an adalah sumber hukum
Islam yang pertama dan utama. Bahkan apa yang dilakukan, dikatakan,
disetujui Rasulullah menyangkut suatu hukum syariat tidak akan lepas dari
ayat Al-Qur'an, baik itu sebagai penegasan terhadap ayat-ayat yang sudah
jelas, atau sebagai penafsiran terhadap yang belum jelas, atau sebagai rincian
terhadap ayat yang masih mujmal, atau sebagai pembatasan terhadap ayat-ayat
yang bersifat umum, atau sebagai penetuan hukum yang berdiri sendiri sebagai
kewenangan yang diberikan Al-Qur'an kepada Rasul.
Kandungan hukum Al-Qur'an dalam kerangka ushul fiqh, mengutip pemikiran
Izzuddin Abdul Aziz bin Abdus Salam dalam Al Imam fi bayni adillatil
ahkm, bahwa hukum ada dua macam. Pertama hukum yang berupa tuntutan,
kedua hukum yang bukan tuntutan. Hukum yang berupa tuntutan mencakup
perintah dan larangan. Hukum yang bukan tuntutan seperti mubah, sabab,
syarat, mny, shah, batal atau fasad. Adapun dalam menetapkan hukum
larangan, perintah dan kebolehan, Al-Qur'an menempuh cara yang amat kaya
dan bervareatif. Umpamanya dalam menetapkan hukum-hukum tuntutan yang
berupa larangan Al-Qur'an menggunakan beberapa pendekatan/gaya bahasa:
1. Perintah yang eksplisit ( An- Nahal : 90 )
2. Pemberitahuan bahwa suatu perbuatan dituliskan/diwajibkan kepada
manusia ( al- Baqarah : 178 )
3. Pemberitahuan bahwa suatu perbuatan kemestian atas manusia atau
sebagian tertentu (walillahi 'alanns) ( Ali Imran: 97)
4. Pemberitahuan bahwa suatu perbuatan adalah haq atas orang-orang
tertentu (Al baqarah : 241)
8

Zulkifli, Pengembangan Ushul Fiqh (Perspektif Dalil-Dalil Normatif Al-Quran)


, Jurnal Hukum Islam: Vol XIV No. 1: Juni 2014), hal 21-33

5.
6.

Dalam bentuk washiyat dengan suatu pekerjaan (An Nis: 11)


Membawa perbuatan yang dituntut kepada orang yang diperintahkan
(Al baqarah : 228, )
7. Diungkapkan dengan fi'il amr atau fiil mudhary yang diikuti dengan
lam al amr (Al Baqarah : 283 )
8. Dengan ungkapan fardhu (Al Ahzab : 50)
9. Menyebutkan perbuatan sebagai balasan suatu syarat pada suatu
keadaan (Al Baqarah : 196 )
10. Dengan mensifati suatau perbuatan sebagai kebaikan (Al Baqarah
220)
11. Menyebutkan sesuatu perbuatan dengan diikuti janji kebaikan (Al
Baqarah : 245)
12. Menyebut perbuatan dengan diikuti pemberitahuan bahwa perbuatan
itu mengantarkan kepada kebaikan (Al Baqah : 177 )
13. Menyebutkan perbuatan dengan ungkapan celaan kepada yang tidak
melakukan (At Taubah: 13)
14. Menyebutkan bahwa perbuatan itu dicintai Allah (As Shaf : 4)
Metode Al-Qur'an dalam menetapkan hukum tuntutan-larangan mencakup
beberapa metode:
1. Larangan yang eksplisit (An Nahal :90 )
2. Ungkapan kata "haram" (Al- An Am :151)
3. Dengan ungkapan tidak halal (An Nisaa: 19, Al Baqarah : 228-229)
4. Dengan bentuk kata kerja larangan (Al Isra : 34)
5. Dengan ungkapan meniadakan kebaikan pada suatu pekerjaan (Al
Baqarah : 177)
6. Dengan menafyikan suatu perbuatan (Al Baqarah : 193, 197, 233)
7. Menyebutkan perbuatan dengan ancaman dosa (Al Baqarah : 181)
8. Menyebutkan perbuatan dengan diikuti ancaman adzab akhirat (At
Taubah : 34, Al Baqarah : 275)
9. Menyebutkan bahwa suatu perbuatan itu buruk (Ali Imran: 180)
10. Ungkapan peniadaan keabsahan sesuatu bahwa hal itu tidak patut (Al
Ahzab : 36, 53)
11. Dengan ungkapan istifham inkary pada sebagian tempat (Al Baqarah:
44, At Taubah : 13)
12. Menyebut pelaku suatu perbuatan dengan menetapkan sanksinya (An
Nisa: 38)

13. Menyebutkan suatu perbuatan yang mengakibatkan pelakunya


menjadi kafir, fasik atau dzalim (Al maidah : 44,45 dan 47)
14. Mengutuk atau melaknat pelaku suatu perbuatan (Al baqarah : 159)
15. Menyebutkan kemurkaan Allah kepada pelaku suatu perbuatan (As
Shaff: 3)
16. Menyebutkan bahwa Allah tidak mencintai perbuatan tertentu (An
Nisa : 36)
17. Menyebutkan suatu perbuatan sebagai penghalang dari mendapat
petunjuk Allah (Az Zumar : 3,Ghafir : 28)
18. Menyebubutkan suatu perbuatan sebagai suatu keburukan (Al
Munafiqun : 2)
19. Menyebutkan suatu perbuatan sebagi penyebab tercela (Al Isra: 29)
Adapun metode Al-Qur'an dalam menetapkan bahwa sesuatu perbuatan atau
suatu perkara itu mubah, halal dan boleh ditandai dengan beberapa gaya
bahasa:
1. Menggunakan kata kerja yang berarti penghalalan, seperti kata
"uhilla" (Al Maidah: 1, 4, dan 5)
2. Dengan menyebutkan bahwa suatu perbuatan tidak mengandung dosa,
"fal itsma alaih" (Al Baqarah: 182 dan 203)
3. Dengan menyebutkan bahwa perbuatan itu tidak ada apa-apa, tidak
ada keberatan "fal junha" (Al Maidah: 93, An Nur : 83)
4. Menyebutkan bahwa perbuatan itu tidak terlarang "nafyun Nahyi" (Al
Mumtahanah: 8)
Sedangkan secara substantif, materi hukum yang terkandung dalam Al-Qur'am
menurut perspektif ushul fiqh mencakup prinsip-prinsip dasar hukum tentang
kepercayaan, moral, dan tindakan-perbuatan. Hukum-hukum perbuatan ini
meliputi hukum ibadat dan hukum muamalah. Hukum ibadah di sini maknanya
ibadah-ibadah yang bersifat khusus, yaitu ibadah ritual seperti shalat, shaum,
zakat, haji, qurban, dzikir dan do'a. Sedang hukum muamalah mencakup
wilayah yang luas dari kehidupan manusia, baik sebagai individu maupun
sebagai masyarakat. Seperti hukum-hukum yang terkait dengan masalah
hukum perdata, hukum pidana, hukum acara, hukum tatanegara, hukum antar
bangsa atau hukum internasional, hukum ekonomi, dan sebagainya.
Dalil Al-Qur'an sebagai sumber hukum diposisikan sebagai suatu kepastian
yang tidak mengandung keraguan mengenai datangnya dari Allah dan

Rasulnya (qath'yyatus tsubut) karena memang diriwayatkan secara mutawatir


dari generasi kegenerasi disamping dihafal di dada para huffadz juga adanya
jaminan keotentikan Al-Qur'an. Hanya saja diakui oleh para ushuliyun bahwa
ada dalil-dalil Al-Quran yang penunjukannya terhadap maksud suatu hukum
masih bersifat kemungkinan alias interpretatif (dhanniyatud-dilalah), dan ayatayat seperti itulah yang kemudian menjadi wilayah yang terbuka bagi
terjadinya perbedaan interpretasi dikalangan para fuqaha.
Dengan berpegang kepada kaidah metode penetapan hukum dalam Al-Qur'an
sebagaimana tersebut di atas, banyak hal yang dapat digali untuk pembaharuan
dan pengembangan ushul fiqh maupun fiqh Islam dari dalil-dalil Al-Qur'an.
Hal ini mengingat beberapa kaitan penting antara Al-Qur'an, dinamika
kehidupan manusia dan hukum Islam. Pertama, perkembangan muamalah
manusia tidak akan pernah berhenti selama masih ada denyut kehidupan di
muka bumi ini. Sebab di antara karakter masyarakat manusia adalah
bereksperimen dan berinovasi. Kedua, kesempurnaan dan keuniversalan AlQur'an sebagaimana yang telah disebutkan di atas sangat membuka peluang
untuk mewadahi setiap perkembangan baru dalam kehidupan manusia ke
dalam kerangka hukum ilahiyah. Hanya saja yang dituntut adalah kesungguhan
para sarjana Islam itu sendiri dalam menggali, merumuskan, dan
mengaplikasikan nilai-nilai Al-Qur'an ke dalam kehidupan nyata. Ketiga, ayatayat yang berkaitan dengan hukum muamalah jauh lebih banyak ketimbang
ayat-ayat yang terkait dengan hukum ibadah ritual. Hukum-hukum mu'amalah
dalam Al-Qur'an menurut klasifikasi yang dikemukakan Abdul Wahhab Khalaf
adalah:
1) Hukum privat (ahkam al ahwal al syahshiyah) mencakup masalah
perkawinan, perceraian, penyusuan, pengasuhan anak, hak dan kewajiban
dalam rumahtangga dan hubungan keluarga
2) Hukum perdata (ahkam al madaniyyah) yang mencakup masalah
pengaturan interaksi individu dengan harta kekayaan seperti jual beli,
sewa menyewa, gadai, kafalah syirkan dan sebagainya
3) Hukum pidana (ahkam al jiniyah) yang mencakup hukum-hukum
pelanggaran dan kriminalitas yang berhak mendapat sanksi hukuman
seperti pembunuhan, pencurian, perzinaan, dan sebagainya
4) Hukum acara (ahkam al murfa'at) yang mencakup hukum-hukum
pengadilan, kesaksian, pembuktian, sumpah, dan sebagainya.

5) Hukum tatanegara (ahkam al dusturiyah) yang mencakup tata tertib


perundang-undangan dan dasar-dasar peraturan hukum
6) Hukum internasional (ahkam al dawliyah) yang mengatur hubungan antar
negara Islam dengan negara non Islam, hukum minoritas muslim di
negara non muslim dan minoritas non muslim di negara Islam, serta
hubungan antar penduduk muslim dan non muslim
7) Hukum ekonomi (ahkam al iqtishadiyah) yang mengatur tentang interaksi
individu dengan kekayaan orang lain, hak-hak orang kaya dan kaum
miskin, serta hak-hak kekayaan individu dalam hubungan dengan negara.
Di samping apa yang dikemukakan di atas, pengembangan ushul fiqh dari
aspek dalil normatif (Al-Qur'an) juga dapat dilakukan melalui pendekatan teori
empat prinsip syariat Islam. Seperti yang dikemukankan oleh Abdul Wahhab
Khalaf, paling tidak ada empat prinsip dasar Al-Qur'an dalam menetapkan
hukum atau pensyariatan. Pertama, hukum ditetapkan sacara bertahap. Kedua,
menyedikitkan beban kewajiban. Ketiga, mengutamakan kemudahan dan
keringanan hukum. Keempat, sejalan dengan kemaslahatan yang dibutuhkan
manusia. Dengan teori pentahapan dalam menetapkan hukum (At Tadrj fit
tasyri') memberi faedah bahwa adanya tingkatan prioritas dalam hukum,
perlunya pembiasaan hukum di masyarakat sehingga menyatu dengan jiwa
mereka, dan bahwa hukum itu dinamis serta terus berkembang. Maka
penerapan hukum yang bersumber dari Al-Qur'an dalam konteks kekinian
menuntut penelitian bagian hukum yang mana dari ayat-ayat Al-Qur'an yang
paling penting dan mendasar untuk diprioritaskan penerapannya di tengahtengah umat seperti Indonesia ini.
Dengan teori sedikitnya beban kewajiban dan sedikitnya yang diharamkan
dalam hukum Islam (qall at taklif) memberi faedah bahwa hukum Islam
memberi keleluasaan lebih banyak pada aspek kemubahan. Meninggalkan
keburukan dan melakukan kebaikan-kebaikan lebih banyak diperintahkan oleh
Islam dalam bentuk anjuran yang membangkitkan kesadaran dan dorongan
keinginan internal dari dalam pelaku sendiri daripada karena paksaan dari luar.
Karena itu janji pemberian pahala di akhirat atas amal baik dan ancaman dosa
dan azab di akhirat lebih banyak dikemukakan daripada janji balasan dan
ancaman.
hukuman duniawi. Kaidah atau teori ini memberi pedoman bahwa penerapan
hukum-hukum Al-Qur'an tidak melulu menekankan aspek larangan dan
kewajiban yang mengesankan bahwa dinamika masyarakat Islam akan berhenti

akibat kebebasan berinovasi dan berimprovisasi dibelenggu dengan larangan


dan kewajiban-kewajiban agama yang banyak. Dengan teori kemudahan dalam
syariat Islam (al-yusru au adamul haraj) memberi faedah bahwa hukum Islam
lebih praktis dan simpel daripada hukum agama manapun, lebih sesuai dengan
situasi dan kondisi manusia yang banyak dihadapkan kepada kendala dan
kesulitan, dan menjadi bukti kebenaran bahwa syariat Islam diturunkan
memang untuk menjadi rahmat bagi alam bukan menjadi bencana atau
kesusahan. Terakhir, teori bahwa syariat Islam diturunkan selaras dengan
kemaslahatan hidup manusia (al-musayyaratu ma'a mashalihinnas) memberi
faedah bahwa syariat Islam adalah universal untuk setiap zaman dan tempat.
Karena kemaslahatan umat manusia akan senantiasa berkembang dari zamanke zaman, maka para ahli hukum Islam dituntut untuk senantiasa mampu
menangkap dan memahami semangat kemaslahatan umat sesuai dengan zaman
yang dihadapinya, kemudian ayat-ayat Al-Qur'an yang mana yang terkait
dengan kemslahatan tersebut yang patut dijadikan landasannya. Sebab salah
satu dari kaidah hukum Islam adalah di mana ada kemaslahatan maka disitulah
adanya hukum Islam. Kemaslahatan di sini tentu saja kemaslahatan objektif
yang telah diuji dengan kaidah-kaidah syar'iyah itu sendiri, bukan
kemaslahatan dalam penilaian subjektif hawa nafsu segelintir manusia.
F. Penutup
Dalam hukum syara sebagaimana yang telah dijelaskan, bahwa hanya
sebagian kecil dari ayat-ayat Al-Quran yang mengandung hukum, yaitu yang
menyangkut berbuatan baik dalam bentuk tuntutan, pilihan berbuat dan
ketentuan yang ditetapkan. Hukum-hukum tersebut mengatur kehidupan
manusia, baik hubungannya dengan Allah SWT, maupun hubungannya dengan
manusia dan alam sekitarnya.
Tiga garis besar hukum-hukum dalam Al-Quran terdiri dari yakni Pertama;
hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT yang mengenai
apa-apa yang harus diyakini dan yang harus dihindari sehubungan dengan
keyakinannya itu/hukum itiqadiyah dalam ilmu Tauhid. Kedua; hukumhukum yang mengatur hubungan pergaulan manusia mengenai sifat-sifat baik
yang harus dimiliki dan sifat-sifat buruk yang harus dijauhi dalam kehidupan
bermasyarakat/hukum khuluqiyah dalam ilmu Akhlaq. Ketiga; hukum-hukum
yang menyangkut tingkah laku lahirnya manusia dalam hubungan dengan
Allah SWT, dalam hubungannya dengan sesama manusia dan dalam bentuk

apa-apa yang harus dijauhi dan harus dilakukan/hukum amaliyah dalam ilmu
Syariah.

DAFTAR PUSTAKA
Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh (Jakarta: jilid 1 Kencana, 2008)
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=401716&val=6795&title=
USHUL%20FIQIH%20DAN%20TIPOLOGI%20PENELITIAN%20H
UKUM%20ISLAM didownload 5 oktober 2016 jam 19.00 wib
mengenai Ushul Fiqih Dan Tipologi Penelitian Hukum Islam oleh
Nurul Marifah (IAIN Cirebon)
Al-Tahtawai dalam Syamsul Anwar, Epistemologi Hukum Islam dalam alMustashfa min alUshul Karya al-Ghazali, Desertasi di IAIN Sunan
Kalijaga Yogyakarta, (Yogyakarta: 2000), h. 120
Fazlur Rahman, Islam, Alih bahasa: Ahsin Mohammad, (Bandung: Pustaka,
1994), h. 165
Zulkifli, Pengembangan Ushul Fiqh (Perspektif Dalil-Dalil Normatif AlQuran) , Jurnal Hukum Islam: Vol XIV No. 1: Juni 2014), hal 21-33
M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Quran Fungsi dan peran Wahyu dalam
Kehidupan Masyarakat, Bandung: Penerbit Mizan 1996, h. 90-105