Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

Isu ketidaksetaraan gender telah menjadi pembicaraan di berbagai negara sejak tahun 1979
dengan diselenggarakannya konferensi perserikatan bangsa-bangsa dengan tema The Convention
on The Elimination of All Forms of Discrimination Against Women (CEDAW), yang membahas
tentang penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap wanita.
Di Indonesia secara normatif diskriminasi terhadap wanita telah dihapuskan berdasarkan
hasil CEDAW yang telah diratifikasi dengan Undang-Undangn Nomor 7 tahun 1984(2). Namun
dalam kenyataannya masih tampak adanya nilai-nilai budaya masyarakat yang bersifat
diskriminatif, sehingga menghambat terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender termasuk
dalam bidang kesehatan. Permasalahan-permasalahan tersebut dapat dicermati dari analisisanalisis terhadap kondisi dan posisi wanita yang kerap dirugikan pihak pria. Dalam paper ini,
kami mengangkat kasus rendahnya partisipasi pria dalam penggunaan KB mewujudkan
ketidakadilan gender.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.

PENGERTIAN GENDER
Gender merupakan peran sosial dimana peran pria dan wanita ditentukan perbedaan
fungsi, perandan tanggung jawab pria dan wanita sebagai hasil konstruksi sosial yang dapat
berubah atau diubah sesuai perubahan zaman.Peran dan kedudukan sesorang yang
dikonstrusikan oleh masyarakatdan budayanya karena sesorang lahir sebagai pria atau
wanita(WHO 1998) .
Dikenal ada tiga jenis peran gendersebagai berikut. :

1.

Peran produktif adalah peran yang dilakukan oleh seseorang, menyangkut pekerjaan yang
menghasilkan barang dan jasa, baik untuk dikonsumsi maupun untuk diperdagangkan. Peran ini
sering pula disebut dengan peran di sektor publik.
Peran reproduktif adalah peran yang dijalankan oleh seseorang untuk kegiatann yang berkaitan
dengan pemeliharaan sumber daya manusia dan pekerjaan urusan rumah tangga, seperti
mengasuh anak, memasak, mencuci pakaian dan alat-alat rumah tangga, menyetrika,
membersihkan rumah, dan lain-lain. Peran reproduktif ini disebut juga peran di sektor domestik.
Peran sosial adalah peran yang dilaksanakan oleh seseorang untuk berpartisipasi di dalam kegiatan
sosial kemasyarakatan, seperti gotong-royong dalam menyelesaikan beragam pekerjaan yang
menyangkut kepentingan bersama.

2.

3.

B.

PERBEDAAN GENDER DAN JENIS KELAMIN


Menurut Badan Pemberdayaan Masyarakat, perbedaan antara Gender dengan Kenis
Kelamin adalah:
No.
Gender
Jenis Kelamin
1.
Dapat berubah, contohnya peran Tidak dapat berubah, contohnya alat
dalam kegiatan sehari-hari, seperti kelamin pria dan wanita
banyak wanita jadi juru masak jika
dirumah, tetapi jika di restoran
2.
Dapat di pertukarkan
Tidak dapat dipertukarkan, contohnya
jakun pada pria dan payudara pada
wanita
3.
Tergantung budaya dan kebiasaa, Berlaku sepanjang masa, contohnya
contohnya di pulau jawa, pada jaman status pembagian pria atau perempaun
penjajahan belanda kaum wanita tidak
memperoleh hak pendidikan. Setelah
Indonesia merdeka wanita mempunyai
kebiasaan mengikuti pendidikan
4.
Tergantung
budaya
setempat, Berlaku diman saja, contohnya di rumah,
contohnya pembatasan kesempatan di dikantor dan dimanapun berada, seorang
bidang pekerjaan terhadap wanita pria atau wanita tetap pria dan wanita
dikarenakan budaya setempat antara
lain diutamakan untuk menjadi
perewat, guru TK, pengasuh anak.
5.
Bukan merupakan budaya setempat, Merupakan kodrat Tuhan, contohnya pria
contohnya pengaturan jumlah anak mempunyai ciri-ciri utama yang berbeda
dalam satu keluarga
dengan cirri-ciri utama wanita, misalnya
jakun dan vagiana
6.
Buatan manusia, contohnya pria dan Ciptaan Tuhan, contohnya wanita bisa
wanita berhak menjadi calon ketua haid , hamil, melahirkan dan menyusui
RT,RW dan kepala desa bahkan sedangkan pria tidak.
presiden.

C.

BENTUK KETIDAK ADILAN GENDER


Ketidakadilan gender adalah adanya perbedaan, pengecualian atau pembatasan yang di
buat berdasarkan peran dan norma gender yang dikonstruksi secara sosial yang mencegah
seseorang untuk menikmati HAM secara penuh.
Bentuk-bentuk diskriminasi Gender adalah:
Marjinalisasi
Proses peminggiran atau penyisihan yang mengakibatkan wanita dalam keterpurukan.
Bermacam pekerjaan membutuhkan keterampilan pria yang banyak memakai tenaga sehingga

1.

wanita tersisihkan. Atau sebaliknya beberapa pekerjaan yang membutuhkan ketelitian,


ketekuanan sehingga peluang kerja bagi pria tidak ada. Contohnya: direktur banyak oleh pria,
baby sister adalah wanita.
2.

Sub Ordinasi
Kedudukan salah satu jenis kelamin di anggap lebih penting dari pada jenis kelamin
sebaliknya. Contohnya: persyaratan melanjutkan studi untuk istri harus ada izin suami, dalam
kepanitiaan wanita paling tinggi pada jabatan sekretaris.

3.

Pandangan Stereotipe
Pandangan stereotype adalah penandaan atau cap yang sering bermakna negatif.
Contohnya: pekerjaan di rumah seperti mencuci diidentikkan dengan pekerjaan wanita; pria
sebagai pencari nafkah yang utama, harus diperlakukan paling ismewah di dalam rumah tangga,
misalnya yang berkaitan dengan makan.

4.

Kekerasan
Segala bentuk kekerasan terhadap wanita yang akibatnya dapat berupa
kerusakan/penderitaan
fisik,
seksual
atau
psikis
termasuk
ancaman
seperti
pemaksaan/perampasan atas kemerdekaan, baik di tempat umum, dalam rumah tangga maupun
yang dilakukan oleh negara. COntohnya: suami membakar dan memukul istri, istri merendahkan
martabat suami di hadapan masyarakat.

5.

Beban Kerja
Beban kerja yang dilakukan oleh jenis kelamin tertentu lebih banyak. Bagi wanita di rumah
mempunyai beban kerja lebih besar dari pada pria, 90% pekerjaan domestic/rumah dilakukan
oleh wanita belum lagi jika di jumlahkan dengan bekerja diluar rumah.

D.
BUDAYA YANG BERPENGARUH TERHADAP GENDER
1. Sebagian besar masyarakat banyak di anut kepercyaan yang salah tentang apa arti menjadi seorang
wanita, dengan akibat yang berbahaya bagi kesehatan wanita.
2. Setiap masyarakat mengharapkan pria dan wanita untuk berpikir, berperasaan, dan bertindak
dengan pola-pola tertentu, dengan alasan hanya karena mereka dilahirkan sebagai wanita atau
pria, contohnya wanita diharapkan untuk menyipkan masakan, membawa air dan kayu bakar,
merawat anak-anak dan suami, sedangkan pria diharapkan untuk bekerja diluar rumah untuk
memberikan kesejahteraan bagi keluarga di masa tua dan untuk melindungi keluaraga dari
ancaman (bahaya).
3. Gender yang di hubungkan dengan jenis kelaminnya tersebut, semuanya adalah hasil rekayasa
masyarakat.
4. Kegiatan lain tidak sama dari satu daerah kedaerah lain di seluruh dunia, tergantung pada
kebiasaan, hokum dan agama yang dianut oleh masyarakat tersebut.

5.
6.

E.

Peran jenis kelamin bahkan tidak sama didalam suatu masyarakat, tergantung pada tingkat
pendidikan, suku dan umurnya.
Peran gender di ajarkan secara turun temurun dari orang tua ke anak-anaknya. Sejak anak-anak
berusia sangat muda, orang tua tua memperlakukan anak wanita dan pria secara berbeda,
meskipun kadang-kadang tampa mereka sadari.

ISU GENDER DALAM KESEHATAN REPRODUKSI


Isu gender adalah suatu kondisi yang menunjukan kesenjangan pria dan wanita yaitu
adanya kesenjangan antara kondisi yang dicita-citakan (normative) dengan kondisi sebagaimana
adanya (objektif).
1.
Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir (Safe motherhood)
Hal-hal yang sering dianggap sebagai isu gender sebagai berikut:
a.
Ketidakmampuan wanita dalam mengambil keputusan dalam kaitannya dengan kesehatan
dirinya, misalnya dalam menentukan kapan hamil, dimana akan melahirkan dan sebagainya. Hal
ini berhubungan dengan wanita yang kedudukannya yang lemah dan rendah di keluarga dan
masyarakat.
b. Sikap dan perilaku keluarga yang cenderung mengutamakan pria, contohnya dalam mengkonsumsi
makanan sehari-hari yang menempatkan bapak atau pria pada posisi yang diutamakan dari pada
ibu dan anak wanita. Hal ini sangat merugikan kesehatan wanita, terutama bila sedang hamil.
2.
Keluarga Berencana
Hal-hal yang sering di anggap sebagai isu gender sebagai berikut:
a. Kesertaan ber-KB, dari data SDKI tahun 1997 presentase kesertaan ber-KB, diketahui bahwa
98% akseptor KB adalah wanita.partisipasi pria hanya 1,3%. Ini nerarti bahwa dalam program
KB wanita selalu objek/target sasaran.
b.
Wanita tidak mempunyai kekuatan untuk memutuskan metode kontrasepsi yang diinginkan,
antara lain karena ketergantungan kepada keputusan suami (pria lebih dominan), informasi yang
kurang lengkap dari petugas kesehatan, penyediaan alat dan obat kontrasepsi yang tidak
memadai di tempat palayanan.
c.
Pengambilan keputusan partisipasi kaum pria dalam program KB sangat kecil dan kurang,
namun control terhadap wanita dalam hal memutuskan untuk ber-KB sangat dominan.
3.
Kesehatan Reproduksi Remaja
Hal-hal yang sering di anggap sebagai isu gender sebagai berikut:
a. Ketidak adilan dalam mengambil tanggung jawab misalnya pada pergaulan yang terlalu bebas,
remajaputeri selalu menjadi korban dan menangguang segala akibatnya (misalnya kehamilan
yang tidak dikehendaki, putus sekolah, kekerasan terhadap wanita, dan sebagainya).
b.
Ketidak-adilan dalam aspek hokum, misalnya dalam tindakan aborsi illegal, yang diancam oleh
sanksi dan hukuman adalah wanita yang menginginkan tindakan aborsi tersebut, sedangkan pria
yang menyebabkan kehamilan tidak tersentuh oleh hukum.
4.
Infeksi Menular Seksual

a.
b.

c.

Hal yang sering dianggap sebagai isu gender sebagai berikut:


Wanita selalu dijadikan objek intervensi dalam program pemberantasan IMS, walaupun pria
sebagai konsumen justru member konstribusi yang cuku besar dalam permasalahan tersebut.
Setiap upaya mengurangi praktek prostitusi,kaum wanita sebagai penjaja seks komersial selalu
menjadi objek dan tudingan sumber permasalahan, sementara kaum pria yang mungkin menjadi
sumber penularan tidak pernah di intervensi dan dikoreksi.
Wanita (istri) tidak kuasa menawarkan kondom jika suami terserang IMS.

BAB III
PEMBAHASAN
Perbedaan wanita dan pria masih menyimpan beberapa masalah dalam masyarakat.
Perbedaan anatomi antara keduanya cukup jelas. Akan tetapi efek yang timbul akibat perbedaan
tersebut menimbulkan perdebatan, karena ternyata perbedaan jenis kelamin secara biologis
melahirkan seperangkat konsep budaya. Interpretasi budaya terhadap perbedaan jenis kelamin
inilah yang disebut gender.
Dalam program KB nasional seharusnya penggunaan kontrasepsi merupakan tanggung
jawab bersama pria dan wanita sebagai pasangan, sehingga metode kontrasepsi yang dipilih
mencerminkan kebutuhan serta keinginan suami istri. Pasangan suami istri harus saling
mendukung dalam pemilihan dan penggunaan metode kontrasepsi karena kesehatan reproduksi,
khususnya keluarga berencana bukan hanya urusan pria atau wanita saja.
Jenis kelamin pria dan wanita masing-masing mempunyai keterbatasan reproduksi yang
biasa disebut kodrat. Pria sebagai penghasil sperma dan wanita sebagai tempat mengandungnya
janin. Pandangan sterotipe ini telah membentuk pendapat bahwa sebenarnya wanita dan pria
mempunyai akses yang sama terhadap peluang terjadinya kehamilan. Tetapi, pemikiran tersebut
terus berkembang di masyarakat sehingga terdapat ketimpangan hubungan gender yaitu wanita
yang seharusnya memakai alat kontrasepsi.
Dari segi budaya di Indonesia, masyarakat mengikuti budaya patriarki atau mengikuti
garis keturunan ayah. Budaya patriarkhi yang melekat di masyarakat menjadikan informasi yang
dibawa istri sangat rawan ditolak oleh suami. Padahal wanita sendiri dianggap kurang mampu
meneruskan informasi, Sehingga sampai saat ini penyampaian informasi tentang alat kontrasepsi
dan keluarga berencana masih kurang efektif. Akhirnya, tingkat pengetahuan pria tentang alat
kontrasepsi pun masih kurang. Tingginya dominasi suami dalam pengambilan keputusan
perencanaan jumlah dan jarak kelahiran anak juga ikut mempengaruhi rendahnya kesertaan pria
dalam ber-KB.
Hasil Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) menunjukan kenaikan angka
partisipasi pria dalam mengikuti program KB hanya naik 0,2% per tahunnya. Dilihat dari angka
pencapaian peningkatan partisipasi pria pada tahun 1991 sebesar 0,8% (SDKI 1991). Pada tahun
2003 sebesar 1,3 % (SDKI 2002-2003), sedangkan pada tahun 2007 sebesar 1,5 % (SDKI 2007).
Jika dibandingkan dengan pencapaian angka partisipasi pria ber-KB di negaraberkembang seperti
di Pakistan sebanyak 5,2%; Bangladesh sebanyak 13,9%, Nepal sebanyak 24%, Malaysia sebanyak
16,8% dan Jepang sebanyak 80% maka Indonesia masih menjadi negara yang paling rendah tingkat
partisipasi pria dalam ber-KB.
Ada beberapa alasan yang menyebabkan mengapa partisipasi pria di Indonesia sangat
rendah. Diantaranya karena keterbatasan pengetahuan suami tentang kesehatan reproduksi serta
pandangan budaya di Indonesia dimana peran pria lebih besar daripada wanita. Selain itu, pola

pikir masyarakat bahwa penggunaan alat kontrasepsi itu adalah urusan wanita. Alasan lain juga
adalah terbatasnya alat kontrasepsi untuk pria.
Sampai saat ini alat kontrasepsi yang tersedia untuk pria hanyalah kondom dan vesektomi,
atau dengan kontrasepsi paling sederhana yaitu dengan cara menarik penis sebelum terjadinya
ejakulasi saat berhubungan badan dengan istri.
Terdapat 3 faktor utama yang mempengaruhi pria untuk tidak melakukan KB secara
langsung yaitu:
1.

Faktor predisposisi
Rendahnya partisipasi pria menjadi peserta KB disebabkan karena terbatasnya macam dan
jenis alat kontrasepsi pria serta kurangnya pengetahuan dan pemahaman tentang hak-hak
kesehatan reproduksi, kurangnya komunikasi sejak dini banyak mempengaruhi sudut pandang
yang keliru tentang seks dan keperkasaan pria, banyak pria yang beranggapan bahwa pemakaian
alat kontrasepsi oleh pria akan mengganggu kenikmatan dalam hubungan seksual, anggapan
yang salah tentang peranan kaum pria dan kedudukan pria dalam keluarga membuat pria jarang
yang mau berkonsultasi mengenai masalah reproduksi , seks, serta tingkah laku seksualnya.
Adanya persepsi bahwa wanita yang menjadi target program KB, kondisi sosial budaya
masyarakat yang patrilinial yang memungkinkan kaum wanita berada dalam sub ordinasi
menyebabkan pengambilan keputusan dalam KB didominasi oleh kaum pria dan kondisi budaya
juga menjadi salah satu kendala dalam meningkatkan peran serta para suami dalam ber-KB, ada
anggapan bahwa anak pria merupakan penerus marga, hingga sebelum ada anak pria, keluarga
akan terus berproduksi.

2.

Faktor pemungkin
Partisipasi pria yang rendah dalam melaksanakan KB dikarenakan aksesibilitas pria
terhadap sarana pelayanan kontrasepsi rendah, dimana Puskesmas hanya menyediakan pelayanan
KIA yang umumnya melayani Ibu dan Anak saja sehingga pria merasa enggan untuk konsultasi
dan mendapat pelayanan, demikian pula terbatasnya jumlah sarana pelayanan yang dapat
memenuhi kebutuhan pria. Selain itu ada beberapa keterjangkauan yang masih terbatas yang
dimaksudkan agar pria dapat memperoleh informasi yang memadai dan pelayanan KB yang
memuaskan masih rendah.

3.

Faktor penguat
Faktor penguat adalah faktor yang menentukan apakah tindakan kesehatan memperoleh
dukungan atau tidak. Sumber penguat tentu saja tergantung pada tujuan dan jenis program. Di
dalam pendidikan pasien, penguat mungkin berasal dari perawat, dokter, pasien lain, dan
keluarga. Apakah penguat ini positif ataukah negatif bergantung pada sikap dan perilaku orang
lain yang berkaitan, yang sebagian diantaranya lebih kuat daripada yang lain dalam
mempengaruhi perilaku.
Partisipasi pria diperlukan dalam penerapan program KB khususnya dalam penggunaan
alat kontrasepsi, sehingga keberhasilan program KB tidak hanya ditentukan oleh wanita tetapi

jugaoleh pria sebagai anggota dalam sebuah keluarga yang berkewajiban untuk mewujudkan
keluarga yang sejahtera.
Bentuk partisipasi pria dalam keluarga berencana dibagi menjadi dua,yaitu secara langsung
maupun tidak langsung.
1.

Secara Langsung
Partisipasi pria secara langsung adalah pria sebagai peserta dengan menggunakan salah
satu cara atau metode kontrasepsi, seperti dengan menggunakan alat kontrasepsi kondom,
vasektomi, metode senggama terputus, dan metode pantang berkala / sitem kalender.

2.

Tidak Langsung
Partisipasi pria secara tidak langsung adalah dengan mendukung setiap kegiatan KB dan
juga sebagai motivator sesuai dengan pengetahuan tentang KB yang dimilikinya. Peran suami
adalah mendukung dan memberikan kebebasan kepada istri untuk menggunakan kontrasepsi
atau metode KB.
Dukungan tersebut meliputi:
Memilih kontrasepsi yang cocok yaitu kontrasepsi yang sesuai dengan keinginan dan kondisi istrinya
Membantu istrinya dalam menggunakan kontrasepsi secara benar,seperti mengingatkan saat
minum pil KB, dan mengingatkan istri untuk kontrol
Membantu mencari pertolongan bila terjadi efek samping maupunkomplikasi dari pemakaian
alat kontrasepsi
Mengantarkan istri ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk kontrol atau rujukan
Mencari alternatif lain bila kontrasepsi yang digunakan tidak cocok
Membantu menghitung waktu subur, apabila menggunakan metode pantang berkala

a.
b.
c.
d.
e.
f.

BAB IV
PENUTUP
A.
1.

2.

3.

KESIMPULAN
Gender merupakan peran sosial dimana peran pria dan wanita ditentukan perbedaan fungsi,
perandan tanggung jawab pria dan wanita sebagai hasil konstruksi sosial yang dapat berubah
atau diubah sesuai perubahan zaman. Gender berbeda dengan jenis kelamin.
Ada beberapa bentuk ketidaadilan gender, yaitu: marginalisasi, sub ordinasi, pandangan
sterotipe, kekerasan, dan beban kerja. Dalam kasus yang kami angkat, bentuk ketidakadilan
gender-nya adalah pandangan sterotipe, yang mengakibatkan adanya pandangan bahwa
penggunaan kontrasepsi merupakan tanggung jawab wanita.
Gender dipengaruhi oleh budaya. Di Indonesia, budaya patriarkhi yang melekat menjadikan
informasi yang dibawa istri sangat rawan ditolak oleh suami. Akhirnya, tingkat pengetahuan pria
tentang alat kontrasepsi pun menjadi kurang.

4.
5.

B.

Terdapat 3 faktor utama yang mempengaruhi pria untuk tidak melakukan KB secara langsung
yaitu: faktor predisposisi, faktor pemungkin, dan faktor penguat.
Dalam kasus kami, upaya yang dapat dilakukan untuk mencapai kesetaraan gender adalah
meningkatkan partisipasi pria, baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga
keberhasilan program KB tidak hanya ditentukan oleh wanita.
SARAN
Untuk tercapainya kesetaraan gender, mayarakat sebaiknya dapat lebih menerima dan
terbuka dengan adanya gender. Ketidakadilan gender dapat dihilangkan apabila masyarakat
memahami dan mawas diri dan mengubah perilaku kearah responsive gender dalam setiap
kegiatan. Dengan demikian, perlu adanya kesepakatan dalam hal pembagian peran, sehingga pria
dan wanita dapat menjadi mitra yang setara dan seimbang dalam kehidupan di keluarga,
masyarakat, dan pemerintah.

DAFTAR PUSTAKA
Anggreani, Mekar Dwi, Hartati, dan Ryan Hara Permana. 2007. Peran Suami Dalam Penggunaan Alat
Kontrasepsi Yang Berwawasan Gender, Jurnal Keperawatan Soedirman (The Soedirman
Journal of Nursing). Volume 2, No.2 : 73-81.
Azwar, Azrul. 2005. Kebijakan dan Strategi Nasional Kesehatan Reproduksi di Indonesia. Jakarta:
Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat.
BBC.
2013.
Pil
Kontrasepsi
Untuk
Pria,
dalam
http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2013/12/131202_iptek_menyimpan_sperma, di
akses 7 Oktober 2014.
BKKBN. 1999. Studi Gender Peningkatan Peran Pria Dalam Penggunaan Kontrasepsi di DIY,
Kerjasama Fakultas Kedokteran Univ. Muhammadiyah-PUBIO BKKBN Jakarta.
BKKBN. 2005. Peningkatan Partisipasi Pria dalam KB & KR. Jakarta.
Dila, Fadhilah. Partisipasi Pria Dalam Pelaksanaan Keluarga Berencana Khususnya Penggunaan Alat
Kontrasepsi,
dalam
http://www.academia.edu/6051020/Partisipasi_pria_dalam_pelaksanaan_keluarga_berencana_kh
ususnya_penggunaan_alat_kontrasepsi , di akses 7 Oktober 2014.
Endang. 2002. Buku Sumber Keluarga Berencana, Kesehatan Reproduksi, Gender, dan
Pembangunan Kependudukan. Jakarta:BKKBN & UNFPA.
Evertsson, Marie. 2006. The reproduction of gender: housework and attitudes towards gender
equality in the home among Swedish boys and girls, The British Journal of Sociology . Volume
57 Issue 3: 415-436.
Fitria, Maya dan Avin Fadilla Helmi. 2011. Keadilan Gender dan Hak-hak Reproduksi di Pesantren,
Jurnal Psikologi. Volume 38, No. 1 : 116.
Kompas. 2010. KB Pria untuk Wujudkan Kesetaraan Gender, 23 Desember 2010.

Makalah Peranan Gender Dalam Masyarakat


11.32 CahyaCyber No comments
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami ucapkan kepada Tuhan YME. Atas berkat-Nya lah makalah ini dapat
diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini berisikan tentang gender.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis telah banyak mendapatkan bantuan-bantuan dari
berbagai pihak, oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih
kepada pihak-pihak yang telah membantu
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan Rahmat dan Karunia-Nya kepada semua pihak yang
telah memberikan bantuan. Penulisan ini tentu saja masih jauh dari sempurna, sehingga penulis
dengan senang hati menerima kritik demi perbaikan.
Metro, November 2011

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL............................................................................................... i
KATA PENGANTAR............................................................................................ ii
DAFTAR ISI.......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang............................................................................................. 1

B.

Tujuan ......................................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN
A.

Memahami Arti Gender Secara Umum........................................................ 3

B.

Masalah Gender Dalam Perilaku Sosial Budaya Masyarakat...................... 4

C.

Bentuk ketidakadilan Gender Marjinalisasi atau Pemiskinan...................... 5

D.

Isu Gender dalam Hukum Adat ................................................................. 6

E.

Isu Gender dalam Perundang-undangan .................................................... 7

F.

Gender dalam Tinjauan Ilmu Sosial ............................................................ 8

BAB III KESIMPULAN


DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Isu tentang gender telah menjadi bahasan analisis sosial, menjadi pokok bahasan
dalam wacana perdebatan mengenai perubahan sosial dan juga menjadi topik utama dalam
perbincangan mengenai pembangunan dan perubahan sosial. Bahkan, beberapa waktu
terakhir ini, berbagai tulisan, baik di media massa maupun buku-buku, seminar, diskusi dan
sebagainya banyak membahas tentang protes dan gugatan yang terkait dengan ketidakadilan
dan diskriminasi terhadap kaum perempuan. Ketidakadilan dan diskriminasi itu terjadi
hampir di semua bidang, mulai dari tingkat internasional, negara, keagamaan, sosial, budaya,
ekonomi, bahkan sampai tingkatan rumah tangga.
Gender dipersoalkan karena secara sosial telah melahirkan perbedaan peran,
tanggung jawab, hak dan fungsi serta ruang aktivitas laki-laki dan perempuan dalam
masyarakat. Perbedaan tersebut akhirnya membuat masyarakat cenderung diskriminatif dan
pilih-pilih perlakuan akan akses, partisipasi, serta kontrol dalam hasil pembangunan laki-laki
dan perempuan.
Dari penyiapan pakaian pun kita sudah dibedakan sejak kita masih bayi. Juga dalam
hal mainan, anak laki-laki misalnya: dia akan diberi mainan mobil-mobilan, kapal-kapalan,
pistol-pistolan, bola dan lain sebagainya. Dan anak perempuan diberi mainan boneka, alat
memasak, dan sebagainya. Ketika menginjak usia remaja perlakuan diskriminatif lebih
ditekankan pada penampilan fisik, aksesoris, dan aktivitas. Dalam pilihan warna dan motif
baju juga ada semacam diskriminasi. Warna pink dan motif bunga-bunga misalnya hanya
“halal” dipakai oleh remaja putri. Aspek behavioral lebih banyak menjadi
sorotan diskriminasi. Seorang laki-laki lazimnya harus mahir dalam olah raga, keterampilan
teknik, elektronika, dan sebagainya. Sebaliknya perempuan harus bisa memasak, menjahit,
dan mengetik misalnya. Bahkan dalam olahraga pun tampak hal-hal yang mengalami
diskriminasi tersendiri.

B. Tujuan Pembuatan Makalah


Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah:
1)

Sebagai tugas akhir perkuliahan Ilmu Sosial Budaya Dasar

2)
3)

Memahami arti gender secara umum


Mengetahui masalah gender dalam perilaku sosial budaya di masayarakat

BAB II
PEMBAHASAN

A.

Memahami Arti Gender Secara Umum


Dari Wikipedia bahasa Indonesia dijelaskan bahwa gender merupakan aspek
hubungan sosial yang dikaitkan dengan diferensiasi seksual pada manusia.
Istilah yang berasal dari bahasa Inggris yang di dalam kamus tidak secara jelas
dibedakan pengertian kata sex dan gender. Untuk memahami konsep gender, perlu dibedakan
antara kata sex dan kata gender.
Sex adalah perbedaan jenis kelamin secara biologis sedangkan gender perbedaan
jenis kelamin berdasarkan konstruksi sosial atau konstruksi masyarakat1). Dalam kaitan
dengan pengertian gender ini, Astiti mengemukakan bahwa gender adalah hubungan laki-laki
dan perempuan secara sosial. Hubungan sosial antara laki-laki dan perempuan dalam
pergaulan hidup sehari-hari, dibentuk dan dirubah Heddy Shri Ahimsha Putra (2000)
menegasakan bahwa istilah Gender dapat dibedakan ke dalam beberapa pengertian berikut
ini: Gender sebagai suatu istilah asing dengan makna tertentu, Gender sebagai suatu
fenomena sosial budaya, Gender sebagai suatu kesadaran sosial, Gender sebagai suatu
persoalan sosial budaya, Gender sebagai sebuah konsep untuk analisis, Gender sebagai
sebuah perspektif untuk memandang kenyataan.
Epistimologi penelitian Gender secara garis besar bertitik tolak pada paradigma
feminisme yang mengikuti dua teori yaitu; fungsionalisme struktural dan konflik. Aliran
fungsionalisme struktural tersebut berangkat dari asumsi bahwa suatu masyarakat terdiri atas
berbagai bagian yang saling mempengaruhi. Teori tersebut mencari unsur-unsur mendasar
yang berpengaruh di dalam masyarakat. Teori fungsionalis dan sosiologi secara inhern
bersifat konservatif dapat dihubungkan dengan karya-karya August Comte (1798-1857),
Herbart Spincer (1820-1930), dan masih banyak para ilmuwan yang lain.
Dalam buku Sex and Gender yang ditulis oleh Hilary M. Lips mengartikan Gender sebagai
harapan-harapan budaya terhadap laki-laki dan perempuan. Misalnya; perempuan dikenal
dengan lemah lembut, cantik, emosional dan keibuan. Sementara laki-laki dianggap kuat,
rasional, jantan dan perkasa. Ciri-ciridari sifat itu merupakan sifat yang dapat dipertukarkan,
misalnya ada laki-laki yang lemah lembut, ada perempuan yang kuat, rasional dan perkasa.
Perubahan ciri dari sifat-sifat tersebut dapat terjadi dari waktu ke waktu dan dari tempat ke
tempat yang lain (Mansour Fakih 1999: 8-9).

Secara umum, pengertian Gender adalah perbedaan yang tampak antara laki-laki
dan perempuan apabila dilihat dari nilai dan tingkah laku. Dalam Women Studies
Ensiklopedia dijelaskan bahwa Gender adalah suatu konsep kultural, berupaya membuat
perbedaan (distinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional
antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat.

B.

Masalah Gender Dalam Perilaku Sosial Budaya Masayarakat


Hubungan sosial antara laki-laki dan perempuan dapat dilihat dalam berbagai
bidang kehidupan antara lain dalam bidang politik, sosial, ekonomi, budaya dan hukum ( baik
hukum tertulis maupun tidak tertulis yakni hukum hukum adat ). Hubungan sosial antara lakilaki dan perempuan dalam berbagai bidang kehidupan tersebut pada umumnya menunujukan
hubungan yang sub-ordinasi yang artinya bahwa kedudukan perempuan lebih rendah bila
dibandingkan dengan kedudukan laki-laki.
Hubungan yang sub-ordinasi tersebut dialami oleh kaum perempuan di seluruh
dunia karena hubungan yang sub-ordinasi tidak saja dialami oleh masyarakat yang sedang
berkembang seperti masyarakat Indonesia, namun juga dialami oleh masyarakat negaranegara yang sudah maju seperti Amerika Serikat dan lain-lainnya. Keadaan yang demikian
tersebut dikarenakan adanya pengaruh dari idiologi patriarki yakni idiologi yang
menempatkan kekuasaan pada tangan laki-laki dan ini terdapat di seluruh dunia. Keadaan
seperti ini sudah mulai mendapat perlawanan dari kaum feminis, karena kaum feminis selama
ini selalu berada pada situasi dan keadaan yang tertindas. Oleh karenanya kaum femins
berjuang untuk menuntut kedudukan yang sama dengan kaum laki-laki dalam berbagai
bidang kehidupan agar terhindar dari keadaan yang sub-ordinasi tersebut.
Ketidakadilan gender merupakan berbagai tindak ketidakadilan atau diskriminasi
yang bersumber pada keyakinan gender. Ketidak adilan gender sering terjadi di mana-mana
ini terkaitan dengan berbagai faktor. Mulai dari kebutuhan ekonomi budaya dan lain lain.
Sebenarnya masalah gender sudah ada sejak jaman nenek moyang kita, ini merupakan
masalah lama yang sulit untuk di selesaikan tanpa ada kesadaran dari berbagai pihak yang
bersangkutan.
Budaya yang mengakar di indonesia kalau perempuan hanya melakukan sesuatu
yang berkutik didalam rumah membuat ini menjadi kebiasaan yang turun temurun yang sulit
di hilangkan. Banyak yang menganggap perbedaan atao dikriminasi gender yang ada pada
film itu adalah hal yang biasa dan umum, shingga mereka tidak merasa di diskriminasi,
namun akhir-akhir ini muncul berbagai gerakan untuk melawan bbias gender tersebut. Saat
ini banyak para wanita bangga merasa hak nya telah sama dengan pria berkat atasa kerja
keras RA KARTINI padahal mereka dalam media masih di jajah dan di campakan seperti
dahulu.

C.

Bentuk bentuk ketidak adilan gender Marjinalisasi atau Pemiskinan


Suatu proses penyisihan yang mengakibatkan kemiskinan bagi perempuan atau lakilaki. Hal ini nampak pada film film yang menggabarkan banyak para kaum lelaki menjadi
pemimpin perusahaan menjadi eksmud. Dan sebaliknya banyak para wanita yang digambarkn
sebagi pembantu rumah tangga TKW ataupun pengemis, sebenarnya secra tidak langsung
membedakan dan mentidak adilkan gender, hal yang lebih mengecewakan ialah para wanita
tidak merasa di tindas..
Subordinasi atau penomorduaan Ialah Sikap atau tindakan masyarakat yang
menempatkan perempuan pada posisi yang lebih rendah dibanding laki-laki dibangun atas
dasar keyakinan satu jenis kelamin dianggap lebih penting atau lebih utama dibanding yang
lain. Ini mempunyai pendapat bahwa lelaki mempunyai lebih unggul. Hal ini berkeyakinan
bahwa kalu ada laki laki kenapa harus perempuan.
Fenomena ini sering terjadi dalam film, yaitu ketika peran eksmudd yang selalu di
perankan oleh pria, jika ada wanita yang berperan seebagai eksmud pastilah dia akan
bermasalah dan selalu tidak sesukses pria. Sebenarnya hal ini memag tidak terlalu bnyak di
perhitungkan karena ini seperti menyutikan racun pada tubuh. Sedikit sedikit media (film)
mengkonstruk budaya pria selalu didepan.
Suatu sikap negatif masyarakat terhadap perempuan yang membuat posisi
perempuan selalu pada pihak yang dirugikan. Setreotipe ini biasa juga menjadi pedoman atau
norma yang secara tidak lagsung diterapkan oleh berbagai masyarakat. Contoh streotipe ialah
wanita perokok itu dianggap pelacur, ppadahal belum tentu ia pelacur pandangan yang seperti
inilh yang selalu menyudutkan kaum wanita.  Semenjak adanya pandangan mengenai
streotipe ini menjadiakn suatu belenggu pada kaum wanita.

D.

Isu Jender Dalam hukum Adat (Hukum Keluarga, Hukum Perkawinan Dan Hukum
Waris)

Hukum adat sebagai hukumnya rakyat Indonesia dan tersebar di seluruh Indonesian
dengan corak dan sifat yang beraneka ragam. Hukum adat sebagai hukumnya rakyat
Indonesia terdiri dari kaidah-kaidah hukum yang sebagian besar tidak tertulis yang dibuat dan
ditaati oleh masyarakat dimana hukum adat itu berlaku.

Hukum adat terdiri dari berbagai lapangan hukum adat antara lain hukum adat
pidana, tata negara, kekeluargaan, perdata, perkawinan dan waris. Hukum adat  dalam
kaitan dengan isu gender adalah hukum kekeluargaan, perkawinan dan waris. Antara hukum
keluarga, hukum perkawinan dan hukum perkawinan mempunyai hubungan yang sangat erat

karena ketiga lapangan hukum tersebut merupakan bagian dari hukum adat pada umumnya
dan antara yang satu dengan yang lainnya saling bertautan dan bahkan saling menentukan.

E.

Isu Jender Dalam Perundang-Undangan


Perjuangan emansipasi perempuan Indonesia yang sudah dimulai jauh sebelum
Indonesia merdeka yang dipelopori oleh R.A. Kartini, dan perjuangannya kemudian
mendapat pengakuan setelah Indoesia merdeka. Pengakuan itu tersirat dalam Pasal 27 U U D,
45 akan tetapi realisasi pengakuan itu belum sepenuhnya terlaksana dalam berbagai bidang
kehidupan.

Hal ini jelas dapat diketahui dari produk peraturan perundangan-undangan yang
masih mengandung isu gender di dalamnya, dan oleh karenannya masih terdapat diskriminasi
terhadap perempuan. Contoh Undang-Undang No. 1 Tahun 1974, di mana seolah-olah
undang-undang tersebut melindungi perempuan dengan mencantumkan asas monogami di
satu sisi akan tetapi di sisi lain membolehkan bagi suami untuk berpoligami tanpa batas
jumlah wanita yang boleh dikawin. Dalam membahas masalah diskriminasi terhadap
perempuan maka yang dipakai sebagai dasar acuan adalah Ketentuan Pasal 1 U U No. 7
Tahun 1984, yang berbunyi sebagai berikut : Untuk tujuan konvensi yang sekarang ini, istilah
“diskriminasi terhadap wanita” berarti setiap pembedaan, pengucilan atau
pembatasan yang dibuat atas dasar jenis kelamin, yang mempunyai pengaruh atau tujuan
untuk mengurangi atau menghapuskan pengakuan, penikmatan atau penggunaan hak-hak
asasi manusia dan kebebasan-kebebasan pokok di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya,
sipil atau apapun lainnya oleh kaum wanita, terlepas dari status perkawinan mereka, atas
dasar persamaan antara pria dan wanita.

Mencermati ketentuan Pasal 1 tersebut diatas maka istilah diskriminasi terhadap


perempuan atau wanita adalah setiap pembedaan, pengucilan atau pembatasan atas dasar jenis
kelamin maka terdapat peraturan perundang-undangan yang bias jender seperti UndangUndang Perpajakan, Undang-Undang Perkawinan, dan lain-lainnya.

F.

Gender Dalam Tinjauan Ilmu Sosial


Ditinjau dari teori evolusi, sejarah gender ini sebenarnya telah berlangsung lama,
meskipun istilah gender belum dikenal saat itu. Sejak jaman pra sejarah perempuan dan lakilaki mempunyai peran tersendiri, namun dalam hal kebijakan laki-laki sangat dominan dan
seiring dengan perkembangan jaman peran perempuan semakin meluas di segala sisi.

Keterpurukan peran perempuan pada beberapa zaman seperti jaman jahilia di Jasirah Arab
juga menggambarkan betapa perempuan pada jaman dahulu dipandang sebelah mata.
Kesamaan perempuan dan laki-laki dimulai dengan dikumandangkannya emansipasi
di tahun 1950 dan 1960-an. Setelah itu tahun 1963 muncul gerakan kaum perempuan yang
mendeklarasikan suatu resolusi melalui badan ekonomi sosial PBB. Kesamaan perempuan
dan laki-laki diperkuat dengan deklarasi yang dihasilkan dari konferensi PBB tahun 1975,
yang memprioritaskan pembangunan bagi kaum perempuan. Berkaitan dengan itu
dikembangkan berbagai program pemberdayaan perempuan, dan mulai diperkenalkan tema
Women In Development (WID), yang bermaksud mengintegrasi perempuan dalam
pembangunan. Setelah itu, beberapa kali terjadi pertemuan internasional yang memperhatikan
tentang pemberdayaan perempuan. Sampai akhirnya sekitar tahun 1980-an, berbagai studi
menunjukkan bahwa kualitas kesetaraan lebih penting daripada sekedar kuantitas, maka tema
WID diubah menjadi Women and Development (WAD).
Tahun 1992 dan 1993, studi Anderson dan Moser memberikan rekomendasi bahwa
tanpa kerelaan, kerjasama, dan keterlibatan kaum laki-laki maka program pemberdayaan
perempuan tidak akan berhasil dengan baik. Pada tahun 2000 konferensi PBB menghasilkan
The Millenium Development Goals (MDGs) yang mempromosikan kesetaraan gender dan
pemberdayaan perempuan sebagai cara efektif untuk memerangi kemiskinan, kelaparan, dan
penyakit serta menstimulasi pembangunan yang sungguh-sungguh dan berkelanjutan. Dengan
demikian, gender adalah perbedaan peran, sifat, tugas, fungsi, dan tanggung jawab laki-laki
dan perempuan yang dibentuk, dibuat, dan dikonstruksikan oleh masyarakat dan dapat
berubah sesuai dengan perkembangan jaman.
Dari tinjauan teori konflik, gender menimbulkan banyak benturan. Mulai dari
keluarga dimana beberapa suami merasa dengan emansipasi perempuan dalam kebijakan,
menimbulkan suami menjadi kecil dimata isteri belum lagi istri yang tidak menghiraukan
keluarga karena kesibukan di luar rumah yang timbul akibat gender dan beberapa persoalan
yang mendatangkan rasa tidak nyaman bagi suami/laki-laki dalam lingkungan keluarga. Di
Pemerintahan kita banyak melihat PNS wanita yang lebih banyak menganggur daripada
bekerja. Umumnya mereka lemah dalam penguasaan komputer sehingga tidak optimal dalam
mengerjakan pekerjaan administrasi perkantoran. Padahal potensinya begitu besar kalau kita
dapat memberdayakannya. Ada pula cerita tentang seorang perempuan yang baru ikut kursus
penyetaraan gender, dan dengan menggebu-gebu dia menceritakan persamaan hak pria dan
wanita. Lucunya begitu giliran buat laporan. eh dia pasrah sama pria rajin teman kursusunya.
Secara sosiologis, ada 2 konsep yang menyebabkan terjadinya perbedaan laki-laki dan
perempuan:
a.

Konsep nurture : Perbedaan laki-laki dan perempuan adalah hasil konstruksi sosial budaya
sehingga menghasilkan peran dan tugas yang berbeda.
b. Konsep nature : Perbedaan laki-laki dan perempuan adalah kodrat, sehingga harus diterima.
Dalam proses perkembangannya, disadari bahwa ada beberapa kelemahan konsep
nurture yang dirasa tidak menciptakan kedamaian dan keharmonisan dalam kehidupan

berkeluarga maupun bermasyarakat, yaitu terjadi ketidak-adilan gender. Agregat ketidakadilan gender dalam berbagai kehidupan lebih banyak dialami oleh perempuan, namun
ketidak-adilan gender ini berdampak pula terhadap laki-laki.
Pengetahuan dan pengalaman kaum perempuan dihadirkan sebagai jalan untuk
menghargai kemanusiaan perempuan. Dengan cara semacam ini pula subjektivasi dapat
dilakukan khususnya dengan membiarkan perempuan bercerita dan mengungkapkan
ekspresinya secara bebas dengan nilai dan ukurannya yang disusun sendiri. Dalam hal ini
tataran dan pemaknaan suatu simbol atau isyarat yang diberikan oleh kaum perempuan harus
dibedakan pada unit individu, rumah tangga dan keluarga atau bahkan institusi dengan
struktur hubungannya sendiri-sendiri. Derajat otonomi perempuan dalam mengekspresikan
dirinya sangat berbeda antara satu unit dengan unit lain. Unit-unit itu pula yang
mendefinisikan berbagai bentuk hubungan gender yang hadir secara empiris. Diperlukan
pemahaman teori-teori gender secara lebih rinci. Meneliti perkosaan sebagai suatu tindak
kekerasan tidak akan kaya dengan nilai-nilai perempuan di dalamnya atau tidak akan sensitif
dengan isu hubungan gender jika mengambil teori konflik, misalnya. Analisis akan bernuansa
gender dalam aspek pengambilan kebijakan jika teori struktur dan fungsi atau teori
pertukaran sosial yang dipakai.

BAB III
KESIMPULAN

Dari pembahasan yang telah di uraikan, maka dapat di ambil kesimpulan sebagai berikut :
1)
2)
a.
b.
c.
d.
e.

Gender merupakan aspek hubungan sosial yang dikaitkan dengan diferensiasi seksual atau
jenis kelamin pada manusia.
Masalah Gender Dalam Perilaku Sosial Budaya Masayarakat meliputi:
Ketidak adilan gender Marjinalisasi atau Pemiskinan
Subordinasi atau penomorduaan
Sikap negatif masyarakat terhadap perempuan
Isu gender Dalam hukum Adat
Isu Jender Dalam Perundang-Undangan

DAFTAR PUSTAKA

Fakih, Mansour. 1996. Analisis Gender Transformasi Sosial. Pustaka Pelajar: Yogyakarta
Muchtar, Yati. 2001. Gerakan Perempuan Indonesia Dan Politik Gender Orde Baru. Jurnal
Perempuan Untuk Pencerahan Dan Kesetaraan, No. 14
Soewondo, Nani. 1984. Kedudukan Wanita Indonesia Dalam Hukum Dan Masyarakat. Ghalia:
Indonesia, Jakarta
Soekito, Sri Widoyatiwiratmo. 1989. Anak Dan Wanita Dalam Hukum. LP3ES: Jakarta
Undang-Undang Dasar. 1945. Apollo: Surabaya.
http://id.wikipedia.org/wiki/Gender