Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Manusia sebagai pelaku kegiatan pada suatu kota pasti memiliki suatu pemikiran dalam
melakukan kegiatan dalam hidupnya. Pola pemikiran manusia akan berbeda dari suatu era ke
era yang lain. Hal yang membedakan pola pemikiran tersebut antara lain tingkat
intelektualitas, jenjang kebutuhan hidup, teknologi yang berbeda di setiap eranya dan selalu
berkembang. Perkembangan faktor-faktor inilah yang juga menjadi faktor perkembangan
suatu perancangan kota.
Kota memiliki pengertian yang berbeda-beda, tergantung pada sudut pandang dan bidang
kajian yang dilakukan. Secara umum beberapa unsur yang tedapat pada pengertian kota
adalah: kawasan pemukiman dengan jumlah dan kepadatan penduduk yang relatif tinggi,
memiliki luas areal terbatas, pada umumnya bersifat non agraris, tempat sekelompok orangorang dalam jumlah tertentu dan bertempat tinggal bersama dalam suatu wilayah geografis
tertentu, cenderung berpola hubungan rasional, ekonomis dan individualistis (Kamus Tata
Ruang, 1997:52). Bentuk kota yang terjadi dekarang tidak terlepas dari proses
pembentukankota itu sendiri.
Perkembangan kota, pada hakekatnya menyangkut berbagai aspek kehidupan.
Perkembangan adalah suatu proses perubahan keadaan dari suatu keadaan ke keadaan yang
lain dalam waktu yang berbeda. Perkembangan dan pertumbuhan kota berjalan sangat
dinamis. Menurut Branch (1995:37) beberapa unsur yang mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan kota antara lain :
1) Keadaan geografis, yakni pengaruh letak geografis terhadap perkembangan fisik dan
fungsi yang diemban oleh kota.
2) Tapak (site), merujuk pada topografi kota. Sebuah kota akan berkembang dengan
memperhitungkan kondisi kontur bumi.
3) Fungsi yang diemban kota, yaitu aktivitas utama atau yang paling menonjol yang
dijalankan oleh kota tersebut.
4) Sejarah dan kebudayaan yang melatarbelakangi terbentuknya kota juga berpengaruh
terhadap perkembangan kota, karena sejarah dan kebudayaan mempengaruhi karakter
fisik dan masyarakat kota.

5) Unsur-unsur umum, yakni unsur-unsur yang turut mempengaruhi perkembangan kota


seperti bentuk pemerintahan dan organisasi administratif, jaringan transportasi, energi,
pelayanan sosial dan pelayanan lainnya.
Menurut Catanese (1998) faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan kota ini dapat
berupa faktor fisik maupun non fisik. Faktor-faktor fisik akan mempengaruhi perkembangan
suatu kota diantaranya :
1. Faktor lokasi
2.

Faktor geografis
Sedang faktor-faktor non fisik yang berpengaruh terhadap perkembangan suatu kota

dapat berupa :
1. Faktor perkembangan penduduk
2. Faktor aktivitas kota
1.2 Rumusan Masalah
a. Bagaimana perkembangan kota pada zaman Yunani
b. Bagaimana perkembangan kota pada zaman Romawi
c. Bagaimana perkembangan kota pada zaman Eropa-Amerika
1.3 Tujuan
Untuk mengetahui pola perkembangan kota dan dapat membandingkan konsep kota pada
zaman Yunani, Romawi dan Eropa-Amerika`

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Yunani
Letak geografis Yunani terletak di Ujung Selatan Semenanjung Balkan. Selain di daratan
tersebut wilayahnya juga meliputi pulau di Laut
Aegeia. Batas-batas Yunani sekarang ini di utara
berbatasan dengan Albania, Macedonia, Bulgaria
dan Turki, di timur adalah Laut Aegeia, di selatan
adalah Laut Tengah dan di barat adalah Laut Ionia
2.1.1

Pola Perkembangan Kota Zaman Yunani


Sejarah perkembangan perencanaan wilayah dan kota di dunia dimulai pada zaman pra
Yunani (zaman perunggu), Yunani, Romawi, abad pertengahan, Renaissance dan Boroque,
Revolusi Industri hingga pasca industri.
Zaman Pra Yunani (Zaman Perunggu)
Merupakan kota-kota kerajaan (didiami kurang lebih antara 3000 - 5000 orang). Berfungsi
sebagai benteng pertahanan, pusat perdagangan bagi hasil-hasil pertanian daerah
sekitarnya, dan tempat pengolahan barang-barang (manufaktur), serta kesenian. Serta
lokasinya berada di tepi sungai-sungai besar (sekaligus bermanfaat bagi pertanian,
pertahanan, dan transportasi).

Zaman Yunani
Munculnya wacana demokrasi (kekuasaan tidak di tangan raja). Tempat-tempat persidangan
demokrasi (lapangan terbuka) mengganti istana raja sebagai pusat kota. Terjadi sub
urbanisasi karena ditinggal warganya untuk tinggal di daerah pinggiran. Muncul seorang
bernama Hippodamus, sebagai peletak dasar teoritis percanaan fisik kota. Contoh kotanya :
Athena di Yunani, Miletus dan Priene di Mesir dan Thurij di Italia. Jumlah penduduknya
diperkirakan antara 40.000 - 100.000.

Yunani tidak pernah memiliki sistem pemerintahan sentralisasi karena tiap-tiap polis mengembangkan
sistem pemerintahan masing-masing. Pada uraian berikut ini Anda dapat mempelajari sistem pemerintahan dari dua
polis yang terkemuka di Yunani yaitu Sparta dan Athena dengan konstitusi yang berbeda.
Pemerintahan Sparta dijalankan oleh 2 orang raja yang absolut dan turun temurun. Selain Raja, ada jabatan
ephor selaku penasehat yang berjumlah 5 orang. Lembaga yang lain beranggotakan hanya 28 orang yang berusia
60 tahun atau lebih, disebut Gereousia.
Kehidupan di Athena berbeda dengan di Sparta. Jika warga Sparta mempunyai kewajiban untuk tugas-tugas
pemerintahan dan pertahanan negara maka warga Athena dalam suasana demokrasi memiliki kemerdekaan berpikir,
berpendapat serta maju dalam bidang politik, ekonomi, seni batik, seni pahat, seni bangunan maupun seni sastra.
Athena mengalami evolusi pemerintahan yang sempurna semula golongan aristokrat(bangsawan) mengesyahkan
kekuasaan oligarkhi (pemerintahan di tangan sekelompok orang). Kemudian beralih ke sistem pemerintahan tirany
(pemegang kekuasaan di tangan satu orang yang berkuasa penuh) kemudian berubah lagi menjadi sistem

demokrasi Pemerintahan demokrasi di Athena mencapai puncak kejayaan pada masa Perikles (462 - 429 Sebelum
Masehi). Beberapa negarawan dan pendekar hukum sebelum Perikles antara lain Drako (621 Sebelum Masehi),
Solon (594 Sebelum Masehi), Kleistenes (508 Sebelum Masehi).
Untuk menjaga kehidupan yang demokratis maka ada kebiasaan untuk mengasingkan atau mengucilkan
seorang penguasa yang pada suatu tahap dalam pemerintahannya telah dicurigai berusaha menjadi penguasa
mutlak yang dapat membahayakan negara. Tindakan pengucilan itu disebut ostrakisme. Istilah ostrakisme berasal
dari kata ostrakon yaitu pecahan pot dari tanah liat.
Setiap penduduk dapat menuliskan nama tokoh yang dianggap berbahaya pada Ostrakon. Jika terdapat nama
seseorang dalam jumlah tertentu tertulis dalam Ostrakon maka ia akan diasingkan. Hasil penggalian di Athena
pernah ditemukan tidak kurang dari 1000 Ostrakon yang tertulis antara lain nama Perikles. Ostrakon bermanfaat
mengingatkan kita untuk selalu menjaga keseimbangan antara ambisi pribadi dengan kepentingan Negara.

Sistem

Kepercayaan Bangsa Yunani

Masyarakat Yunani memuja banyak dewa atau Polytheisme. Berbeda dengan sikap orang Timur terhadap
Dewa yang dipandang sebagai pribadi yang disembah karena takut. Dewa-dewa bagi orang timur merupakan roh
atau digambarkan sebagai penguasa alam dan ada yang berwujud binatang, sedangkan masyarakat Yunani
menggambarkan dewa-dewa yang disembahnya bertubuh dan berperilaku seperti manusia bahkan orang Athena
sendiri menyatakan keturunan ion yaitu anak dewa Apollo. Menurut pandangan orang Yunani, dewa-dewa itu
memiliki tubuh seperti manusia tetapi lebih besar, lebih indah serta tidak dapat mati. Dewa-dewi memiliki sifat seperti
manusia, ada yang baik dan buruk. Dewa-dewi berkeluarga, berperang dan bersaing untuk mempertahankan
kekuasaan. Selain dewa-dewi mereka juga memuja hero (pahlawan) yaitu manusia setengah dewa yang sakti
namun dapat mati. Salah seorang hero yang terkenal adalah Hercules. Dewa-dewi itu antara lain ada yang tinggal di
bukit Olymphus dipimpin oleh dewa tertinggi yaitu dewa Zeus yang beristri Hera yaitu dewi asmara.

2.1.2

Konsep Kota
Konsep kota yang diterapkan Athena yaitu pola grid atau system sejajar

2.2 Romawi
2.3 Eropa-Amerika

http://www.academia.edu/9194363/Cara_Perkembangan_Kota