Anda di halaman 1dari 10

Judul usul : Sistem Pakar untuk Diagnosa dan Penanganan Dini Penyakit pada Sapi

Berbasis Android
1. Sistem Pakar Diagnosa Penyakit Sapi Potong dengan Metode Naive Bayes (Indriana
Candra Dewi1, Arief Andy Soebroto, dan M. Tanzil Furqon).
Sistem pakar adalah salah satu kecerdasan buatan yang mengadopsi pengetahuan, fakta
dan teknik penalaran pakar yang digunakan untuk memecahkan permasalahan yang
biasanya hanya dapat dipecahkan oleh pakar dalam bidang tersebut. Aplikasi sistem pakar
ini bekerja dengan cara menerima input data gejala yang terjadi pada ternak. Melalui
data-data tersebut akan dilakukan penalaran berdasarkan pengetahuan pakar yang
dikombinasikan dengan algoritma naive bayes. Hasil dari pengolahan sistem pakar ini
adalah diagnosa jenis penyakit yang sedang menyerang ternak dan saran terapi untuk
menanggulangi penyakit ternak. Jenis penyakit yang memiliki nilai probabilitas akhir
tinggi akan diambil sebagai hasil diagnosa sistem pakar. Sistem pakar diagnosa penyakit
sapi potong ini memiliki kinerja sistem yang mampu berjalan dengan baik sesuai
kebutuhan fungsional. Hal ini berdasarkan pengujian blackbox yang telah membuktikan
bahwa seluruh fungsi dapat bekerja sesuai dengan hasil yang diharapkan.
2. Ternak Ternik: Sistem Pakar untuk Mendiagnosa Penyakit pada Hewan Ternak
Sapi Berbasis Windows Phone (Meisyarah Dwiastuti, Muhammad Rifqi Fatchurrahman
Putra Danar, dan Zaki Indra Sukma).
Sasaran akhir usaha peternakan ialah penghasilan yang semaksimal mungkin. Untuk
memperoleh hasil optimal, seorang peternak pasti akan mempertimbangkan syarat
peternakan seperti penggunaan bibit unggul, perhatian terhadap tata laksana reproduksi,
pengelolaan perusahaan yang baik, pengelolaan pakan yang cukup kualitatis, kuantitatif,
dan seimbang, penjagaan kesehatan dalam bentuk pencegahan, pengobatan, sanitasi dan
isolasi, serta pengelolaan pasca panen dan pemasarannya. Misalnya, pada sapi perah,
tentu kesehatan akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas susu yang dihasilkan sehingga
mempengaruhi penghasilan juga. Sistem pakar dapat digunakan untuk mendiagnosa
penyakit pada hewan ternak. Representasi pengetahuan yang digunakan ialah kaidah
produksi dengan teknik inferensi forward chaining. Pada proses penalaran menggunakan
certainty factor. Output sistem berupa kesimpulan penyakit beserta rekomendasi tindakan.

3. Pengembangan Sistem Pakar Diagnosa Penyakit Sapi Potong dengan Metode Fuzzy
K-Nearest Neighbour (Restia Dwi Oktavianing Tyas, Arief Andy Soebroto, dan M. Tanzil
Furqon).
Para peternak sapi di Indonesia terkadang sulit menemukan tenaga medis seperti dokter
hewan ketika menemukan ternak sapi yang sakit. Toko obat tidak sulit untuk dicari
namun pengobatan yang tepat dapat diidentifikasi dengan mengetahui penyakit yang
dialami sapi. Peternak sapi seringkali mengalami kendala dalam mengetahui penyakit
sapi karena terbatasnya pengetahuan. Kondisi tersebut merupakan kondisi di mana
seorang pakar sangat dibutuhkan. erancangan sistem pakar berisi rancangan langkah kerja
sistem secara menyeluruh berupa model maupun arsitektur sistem pakar yang akan
dibangun. Perancangan bertujuan untuk mempermudah dalam implementasi dan
pengujian sistem pakar diagnosa penyakit sapi potong dengan Metode FK-NN. Gejala
klinis yang dimasukkan memiliki skor untuk membandingkan dengan setiap data latih
menggunakan metode FK-NN. Kelas yang dihasilkan adalah kelas dengan nilai
keanggotaan terbesar. Pada pengujian blackbox dapat dibuktikan bahwa seluruh fungsi
dapat bekerja sesuai dengan yang diharapkan.
4. Aplikasi Sistem Pakar Penanganan Dini pada Penyakit Sapi dengan Metode
Certainty Factor Berbasis Android (Sonty Lena dan Imam Suryaman).
Sapi merupakan hewan ternak yang memiliki potensi ekonomi yang cukup tinggi, baik
sebagai ternak potong, ternak bibit maupun bahan pangan. Faktor yang menyebabkan
kematian pada sapi adalah penyebaran penyakit menular yang dapat merusak kesehatan
sapi yang berkepanjangan. Pada dasarnya setiap manusia memiliki keahlian yang
berbeda, tetapi keberadaan para ahli sangat jarang. Oleh karena itu, perlu dikembangkan
suatu sistem yang dapat mengisi kekosongan para ahli dan dapat digantikan oleh suatu
sistem yang disebut dengan sistem pakar. Dengan menggunakan sistem pakar diharapkan
dapat mempercepat dalam menganalisa suatu jenis penyakit yang terdapat pada sapi
sehingga dapat dengan mudah di ketahui jenis penyakit yang sedang menjangkit sapi
tersebut tanpa harus berhadapan dengan dokter hewan secara langsung. Dalam hal ini,
pengembangan sistem pakar yang berbasis mobile dapat bermanfaat untuk membantu
peningkatan kinerja dalam bidang peternakan khususnya.
5. Analisis Metode Forward Chaining dalam Sistem Pakar Diagnosa Penyakit pada
Hewan Sapi (Prasetyo Adi Saputro dan Catur Supriyanto,S. Kom, M.CS).

Banyak hewan yang dapat diternakkan salah satunya adalah sapi. Tetapi sapi rentan pada
penyakit, salah satunya dari penyakit penyakit pada hewan sapi yaitu penyakit antraks,
hal itu yang membuat kerugian yang cukup besar bagi para peternak sapi. Peternak harus
cepat tanggap dalam mencegah atau mengobati ternaknya dan mahalnya biaya yang
dikeluarkan peternak untuk membayar pakar tersebut (dokter hewan), maka dengan
sistem pakar dapat membantu untuk memberikan informasi tentang penyakit yang
diderita oleh ternak. Sistem ini nantinya dapat menghasilkan diagnosa berupa nama
penyakit yang menyerang hewan sapi. Gejala yang ada terhadap penyakit hewan sapi
sendiri dirangkum menjadi 20 jenis. Kumpulan gejala tersebut digunakan untuk
membedakan 10 penyakit pada hewan sapi. Dalam metode yang disebut dengan forward
chaining, perancangan sistem pakar ini dijelaskan melalui basis aturan yang merupakan
rule yang terdiri dari dua bagian yaitu kondisi dan kesimpulan, basis pengatahuan yang
merupkan inti progam sistem pakar, mesin inferensi yang berfungsi untuk berfikir
menggunakan panalaran sehingga bisa menghasilkan pembuktian hipotesa.
6. Sistem Pakar Identifikasi Ektoparasit yang Menyebabkan Penyakit pada Sapi
menggunakan Metode Fuzzy (Devianti Harun, Moh. Hidayat Koniyo, dan Manda
Rohandi).
Perkembang biakan ternak sapi di Indonesia saat ini dianggap masih belum mampu
memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri. Dalam perkembang biakannya, ternak sapi
rentan terhadap penyakit. Penyakit pada ternak sapi dapat disebabkan oleh beberapa
faktor, diantaranya adalah ektoparasit. Ektoparasit merupakan parasit yang hidup
berparasit atau tinggal dan berkembang di bagian luar tubuh hewan. Menurut dinas
peternakan dan perkebunan provinsi Gorontalo, saat ini daerah masih kekurangan tenaga
dokter hewan. Oleh karena itu, dibutuhkan sistem pakar identifikasi ektoparasit yang
menyebabkan penyakit pada sapi menggunakan metode fuzzy. Metode fuzzy merupakan
salah satu metode yang menggunakan cara sederhana untuk menggambarkan satu
kesimpulan pasti dari informasi yang bersifat samar-samar atau tidak tepat. Output sistem
menampilkan jenis lalat yang telah diidentifikasi, penyakit yang terdiri atas gejala yang
dialami

oleh

sapi

setelah

terkena

gigitan,

beserta

solusi

pengobatan

dan

penanggulanganya.
7. Aplikasi Sistem Pakar untuk Diagnosa Penyakit Hewan Ternak Sapi dengan
Bayesian Network (Tinaliah).

Sapi merupakan hewan ternak yang memiliki potensi ekonomi yang cukup tinggi, baik
sebagai ternak bibit maupun sebagai produk hewani yang dapat diambil daging, susu, dan
lainnya. Kematian pada sapi menyebabkan populasi pada sapi terus berkurang. Salah satu
faktor yang menyebabkan populasi pada sapi terus berkurang adalah penyebaran penyakit
menular yang dapat merusak kesehatan tubuh sapi yang berkepanjangan, sehingga dapat
menyebabkan kematian. Penyakit menular ini bisa timbul karena serangan bakteri, virus,
jamur, dan parasit. Para Peternak sapi diharapkan dapat mengetahui informasi mengenai
hewan ternak sapi, yaitu penyakit, penyebab penyakit, gejala, akibat dari penyakit
tersebut, serta cara penyegahan dan cara mengobatinya. Dengan adanya sistem pakar
yang dapat digunakan oleh peternak dan masyarakat umum, maka peternak dapat
mengenali dan mengetahui gejala penyakit pada hewan ternak sapi sedini mungkin
sebelum berkonsultasi dengan dokter hewan, sehingga akan lebih menghemat dari segi
biaya. Hasil diagnosa dari gejala-gejala yang dialami oleh hewan ternak sapi akan
ditelusuri dengan menggunakan inferensi probabilistik. Probabilitas yang dihasilkan akan
dicocokkan dengan probabilitas dari masing- masing penyakit, dan akan diambil hasil
diagnosa penyakit yang paling mendekati untuk tipe penyakitnya.
8. Penerapan Teorema Bayes pada Aplikasi Sistem Pakar untuk Diagnosa Penyakit
Hewan Ternak Sapi (Retno Novianti).
Sapi merupakan hewan ternak yang banyak memiliki potensi ekonominya. Sapi yang
berpenyakit sangat memiliki dampak negatif terhadap manusia. Penyakit pada hewan
ternak sapi dapat menular dengan cepat, dan dapat berakibat fatal, yaitu kematian. ntuk
mencegah agar penyakit sapi tidak menular, maka peternak sapi harus mengetahui
terlebih dahulu mengenai penyakit-penyakit pada hewan ternak sapi, sehingga dapat
dilakukan pencegahan dan pengobatan terhadap hewan ternak sapi sedini mungkin.
Sistem pakar adalah sebuah sistem yang dirancang untuk dapat menirukan keahlian
seorang pakar dalam memecahkan suatu masalah yang ada. Untuk itu perlu
dikembangkan suatu sistem pakar agar peternak dan masyarakat umum dapat mengetahui
dan mendeteksi sedini mungkin mengenai penyakit hewan ternak sapi, agar dapat
dilakukan penanganan yang cepat.
9. Penerapan Case Based Reasoning pada Sistem Cerdas untuk Pendeteksian dan
Penanganan Dini Penyakit Sapi (Irlando Moggi Prakoso, Wiwik Anggraeni, dan Ahmad
Wahyu Ardianto, Wiwik Anggraeni, Ahmad Mukhlasonason).

Penyakit sapi memberikakn dampak signifikan terhadap penurunan produksi daging bagi
para peternak sapi. Untuk meminimalisir dampak penyakit, perlu dilakukan pendeteksian
dan penanganan sedini mungkin secara mandiri dengan menggunakan sistem cerdas yang
menerapkan metode case based reasoning. Pada metode case based reasoning
permasalahan diselesaikan berdasarkan pada solusi dari permasalahan sebelumnya.
Tahapan-tahapan dalam CBR yaitu, retrieve, reuse, revise, dan retain. Berdasarkan
tahapan yang dimiliki CBR dalam menentukan solusi, terdapat langkah utama yang harus
diselesaikan, yaitu membangun basis kasus.
10. Diagnosa Penyakit Septicaemia Epizootica pada Sapi Ternak dengan Teorema Bayes
(Yohanes Suban Belutowe).
Penyakit Septicamaemia Epizootica (SE) banyak menyebar di daerah beriklim tropis atau
daerah yang memiliki tingkat curah hujan yang tinggi contohnya Indonesia, Philippina,
Thailand dan Malaysia. Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan wilayah endemis SE
kecuali Lembata. Setiap tahun kasus SE terjadi secara klinis. Perkembangan Teknologi
dan informasi saat ini sangat berpengaruh pada dunia kedokteran hewan. Sistem pakar
adalah sistem yang berusaha mengadopsi pengetahuan manusia ke komputer yang
dirancang untuk memodelkan kemampuan menyelesaikan masalah seperti yang layaknya
seorang pakar. Sistem pakar dengan yang menerapkan teorema Bayes dapat diharapkan
mampu dengan cepat dalam mendiagnosa kemungkinan suatu penyakit yang dialami
hewan ternak sapi dan dapat memberikan solusi pengobatannya. Metode bayes ini
digunakan untuk menghindari ketidak pastian pada data uji, sehingga hasil dapat
dikatakan akurat. Metode Bayes dapat bekerja sesuai data awal yang diberikan, sehingga
masuk dalam model supervised learning. Tingkat keakurasian dalam teorema Bayes
tergantung dari data awal yang diberikan.
11. Pembuatan Sistem Pakar Untuk Pendeteksian dan Penanganan Dini Pada Penyakit
Sapi Berbasis Mobile Android Dengan Kajian Kinerja Teknik Knowledge
Representation (Wahyu Ardianto, Wiwik Anggraeni, dan Ahmad Mukhlason).
Deteksi dan penanganan dini pada penyakit sapi adalah hal penting untuk peningkatan
produktivitas daging sapi. Pembuatan aplikasi mobile untuk mendiagnosis penyakit pada
hewan ternak sapi ini akan memudahkan para peternak di daerah-daerah dalam
mendeteksi sejak dini penyakit yang diderita oleh hewan ternaknya khususnya hewan
ternak sapi tanpa harus bergantung pada seorang dokter hewan. Namun perangkat mobile

memiliki keterbatasan pada sumber daya komputasi mulai dari kemampuan prosesor
hingga kapasitas memori, sehingga tidak memungkinkan untuk menerapkan algoritma
yang sama dengan pengerjaan tugas akhir sebelumnya. Untuk mengoptimalkan sumber
daya komputasi pada perangkat mobile yang digunakan, maka dibutuhkan knowledge
representation yang tepat dari knowledge base yang sudah dibangun pada pengerjaan
sebelumnya, dimana pada pengerjaan tersebut, dihasilkan aturan-aturan atau rule yang
digunakan untuk menentukan apakah hewan ternak sapi terjangkit suatu penyakit tertentu
Aturan-aturan

yang

dihasilkan

merupakan

kumpulan-kumpulan

gejala

yang

mengindikasikan seekor hewan ternak sapi terjangkit suatu penyait tertentu..


12. Rancang Bangun Sistem Pakar Berbasis Web untuk Mendiagnosa Penyakit pada
Sapi Perah (Rizki Dwi Meidiantono dan Sugiyanto).
Sistem pakar adalah sistem yang menggunakan pengetahuan manusia yang terekam
dalam komputer untuk memecahkan persoalan yang biasanya memerlukan keahlian
manusia ahli. Sistem pakar yang baik dirancang agar dapat menyelesaikan suatu
permasalahan tertentu dengan meniru kerja dari para ahli. Sampai saat ini sudah ada
beberapa hasil pengembangan sistem pakar dalam berbagai bidang sesuai dengan bidang
kepakaran seseorang. Salah satu implementasinya dalam bidang peternakan yaitu ternak
sapi perah. Penyakit pada sapi perah masih relatif sedikit yang diketahui oleh para
peternak dan masyarakat umum. Untuk mengatasi masalah kurangnya pengetahuan
peternak dalam mengetahui panyakit pada sapi perah dirancanglah sebuah sistem pakar
untuk mendiagnosa penyakit pada sapi perah. Sistem pakar ini dirancang untuk peternak
yang belum berpengalaman dan masyarakat umum, dalam hal ini sistem pakar
mengkonfirmasi diagnosa penyakit pada sapi perah.
13. Rancang Bangun Sistem Pakar dalam Penentuan Jenis Penyakit pada Hewan Sapi
(Detyaputra Kusuma Mulya, Januar Wibowo, dan Waldy Permana Agastya).
Sapi memiliki manfaat yang cukup banyak untuk kehidupan manusia seperti bisa
digunakan untuk bahan makanan, diperah susunya, dan kulitnya bisa digunakan untuk
kerajinan. Tetapi, sapi rentan pada penyakit, hal itu membuat kerugian yang cukup besar
bagi para peternak sapi. Dengan perkembangan teknologi dan informasi yang ada, maka
diterapkanlah sebuah teknologi sistem pakar yang mampu meniru kerja seorang pakar
dalam melakukan diagnosa penyakit khususnya pada hewan sapi. Karena sifatnya hanya
meniru kecerdasan seorang dokter hewan, maka kemampuan Sistem Pakar ini tidak dapat

menyamai dokter hewan yang sebenarnya. Sistem ini dapat mendiagnosa penyakit sapi
dengan menggunakan metode forward chaining, dimana metode ini melakukan pelacakan
atau penalaran suatu data dari fakta-fakta yang ada sehingga mendapatkan sebuah
kesimpulan.
14. Sistem Pakar Mendeteksi Penyakit Kulit Pada Sapi Menggunakan Metode Forward
Chaining di Dinas Peternakan Kabupaten Rokan Hulu (Hendri Maradona).
Rokan Hulu mempunyai potensi peternakan yang cukup besar dengan produk unggulan
antara lain sapi perah dan sapi potong, produk unggulan peternakan tersebut berkembang
dan terkonsentrasi dalam kawasan pengembangan sentra produksi, akan tetapi tidak
banyak peternak yang memiliki pengetahuan dibidang ternak hewan khususnya dalam hal
ini sapi, seperti kasus sapi mati dalam jumlah banyak yang diakibatkan oleh infeksi pada
kulit sapi. Namun, dengan adanya aplikasi sistem pakar yang dapat menduplikasikan
fungsi seorang pakar, maka sistem ini di harapkan mampu memberi pengetahuan pada
masyarakat cara mengatasi penyakit kulit sapi sehingga tidak perlu

panik bila ada

ternaknya yang menderita penyakit kulit sapi dan dapat mengambil keputusan yang tepat
untuk memberi pertolongan penyembuhan, dan juga sebagai alat bantu dalam upaya
identifikasi awal penyakit sebagai langkah awal penyembuhan penyakit secara mandiri.
Sistem ini melibatkan dokter hewan yang berfungsi mendiagnosa gejala penyakit kulit.
Dengan menerapkan metode forward chaining dapat menghasilkan kesimpulan berupa
jenis penyakit kulit sapi dan penerapan aplikasi Visual Basic 6.0. mendiagnosa penyakit
kulit sapi tidak membutuhkan waktu yang lama.
15. Perancangan Sistem Pakar Diagnosa Penyakit Sapi pada Dinas Peternakan
Kabupaten Merauke (Tatik Melinda Tallulembang dan Fransiskus Xaverius Manggau).
Kesehatan

hewan ternak merupakan bagian yang penting untuk memajukan bidang

peternakan. Dinas Peternakan Kabupaten Merauke yang saat ini memiliki motto
TERNAK BANGKIT, bertujuan untuk memajukan peternakan yang ada di Kabupaten
Merauke. Namun jumlah dokter hewan yang terbatas, menyebabkan penanganan terhadap
sapi yang sakit menjadi sangat lambat. Selain itu jarak antar lokasi pemeliharaan sapi
yang jauh menyebabkan penyakit sapi semakin meluas, serta kurangnya pemahaman
peternak tentang penyakit sapi juga menambah lambatnya penanganan terhadap
penyakit sapi. Oleh karena itu, diperlukan adanya sebuah sistem yang dapat digunakan
untuk mendiagnosis penyakit hewan ternak dan mengetahui penanganannya. Metode

inferensi yang digunakan adalah forward chaining (pelacakan ke depan) yang merupakan
suatu strategi pengambilan keputusan yang dimulai dari bagian fakta menuju kesimpulan
akhir.
16. Identifikasi Penyakit Sapi pada Sapi Ternak dengan Forward Chaining (Ainul
Fitriyah Masa dan I.G.P.Asto Buditjahjanto).
Penyakit pada sapi ternak adalah sesuatu yang harus mendapat perhatian khusus dari
pemerintah maupun masyarakat khususnya para peternak, karena merupakan salah satu
hambatan terbesar dari usaha peternakan. Pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan
memperhatikan perkandangan yang baik misalnya ventilasi kandang, lantai kandang juga
kontak dengan sapi lain yang sakit dan orang yang sakit. Jenis penyakit pada sapi ternak
di Indonesia antara lain: anthrax (radang limpa), mulut dan kuku, ngorok, radang paha,
cacing hati, myasis, surra, mastitis (radang ambing), dan brucellosis (keguguran menular).
Dengan adanya aplikasi berupa simulasi identifikasi penyakit ternak sapi, diharapkan
dapat membantu masyarakat secara umum maupun peternak secara khusus dalam
memberikan wawasan mengenai jenis penyakit pada sapi ternak sehingga dapat
membantu mengidentifikasi penyakit pada sapi ternak dan dapat mempermudah para
peternak sapi di Indonesia dalam maksimalkan hasil ternaknya. Bagian dalam sistem
pakar terdiri dari 2 komponen utama, yaitu knowledge base yang berisi knowledge dan
mesin inferensi yang menggambarkan kesimpulan. Kesimpulan tersebut merupakan
respon dari sistem pakar atas permintaan pengguna.
17. Sistem Pakar untuk Mendiagnosis Penyakit pada Sapi dengan Metode Forward
Chaining (Indra Setiawan).
Di Indonesia masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan daging dan susu sapi. Hal
tersebut diakibatkan karena terdapat penyakit yang menyebabkan hewan menjadi tidak
sehat. Berdasarkan permasalah tersebut permasalahan, akan dicoba untuk membangun
rekayasa perangkat lunak yang dirancang oleh sistem pakar dalam mendiagnosa penyakit
pada sapi dengan menggunakan aplikasi web. Aplikasi ini menggunakan metode forword
chaining yang diaplikasikan ke dalam layanan berbasis web dengan menggunakan bahasa
pemrograman PHP dan MySQL sebagai databasenya. Metode forward chaining yang
digunakan merupakan proses inferensi yang memulai pencarian dari premis atau data
masukan berupa gejala menuju pada konklusi yaitu kesimpulan jenis penyakit serta
solusinya.

18. Sistem pakar Diagnosa Penyakit Sapi dengan Metode Certainty Factor Berbasis
Android (Swono Sibagariang).
Indonesia mempunyai potensi peternakan yang cukup besar dengan produk unggulan
antara lain sapi perah dan sapi potong. Untuk menunjang kebutuhan akan protein hewani
di Indonesia semakin meningkat maka dibutuhkan sebuah penalaran untuk menemukan
solusi pada hewan ternak agar dapat mempelajari dan memecahkan masalah berdasarkan
data-data yang dikumpulkan dan disimpan. Salah satu contohnya adalah sistem pakar
deteksi penyakit sapi yang mampu memberikan diagnosis yang akurat akan kemungkinan
pada ternak sapi menderita penyakit beserta cara pengobatannya. Aplikasi ini dibuat
dengan menggunakan metode forward chaining dan certainty factor, yang digunakan
sebagai basis pengetahuan dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada peternak.
19. Implementasi Fuzzy Neural Network pada Sistem Cerdas untuk Pendeteksian dan
Penanganan Dini Penyakit Sapi (Achmad Fauqy Ashari, Wiwik Anggraini, dan Ahmad
Mukhlason).
Pemerintah dalam lima tahun kedepan untuk mewujudkan ketahanan pangan asal ternak
berbasis sumber daya lokal melalui upaya revitalisasi pertanian sebagai dasar untuk
mengembangkan agribisnis sapi potong yang berdaya saing dan untuk kemakmuran
rakyat. Namun program tersebut menghadapi berbagai tantangan karena peternakan sapi
potong nasional memiliki beberapa hambatan untuk meningkatkan lonjakan populasi sapi
dalam negeri, salah satunya adalah penyakit. Terlebih lagi, salah satu penyebab rentannya
penyebaran penyakit adalah keterbatasan jumlah dokter hewan di daerah pedesaan. Untuk
meningkatkan kemampuan deteksi dini penyakit hewan, maka diperlukan adanya sistem
cerdas yang diharapkan dapat membantu dalam pendeteksian penyakit sapi sehingga
dapat dilakukan tindakan pencegahan atau penanganan dini yang dapat mencegah
penyebaran penyakit. Salah satu contoh sistem cerdas tersebut adalah sistem pakar
dengan mengimplementasikan Fuzzy Neural Network (FNN) yang menggabungkan
keunggulan algoritma Artificial Neural Network (ANN) dengan input data yang lebih
variatif.
20. Perancangan Sistem Pakar Diagnosa Penyakit pada Hewan Ternak Sapi Berbasis
Web (Relita Buaton, Akim Manaor Pardede, dan Agus Ardiansyah).
Rendahnya kemampuan peternakan dalam negeri untuk mencukupi kebutuhan akan
daging dan susu sapi disebabkan oleh banyak hal. Salah satunya adalah penyakit.

Penyakit pada ternak dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup besar bagi
peternak khususnya dan masyarakat luas pada umumnya. Para peternak sapi memiliki
pengetahuan yang rendah mengenai teknis pemeliharaan sapi seperti mutu pakan,
perkandangan, dan kesehatan atau penyakit sapi. Keadaan tersebut mengakibatkan para
peternak memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap pakar ternak sapi atau dokter
hewan yang ahli dalam menangani penyakit sapi. Akan tetapi, jumlah pakar ternak sapi
atau dokter hewan saat ini jumlahnya terbatas, terutama di pedesaan. Biaya yang harus
dikeluarkan juga tidak sedikit jumlahnya. Oleh sebab itu diperlukan sebuah sistem pakar
yang dapat mendiagnosa penyakit pada hewan ternak sapi yang mudah dimengerti dan
dapat diakses oleh semua kalangan masyarakat lewat internet.