Anda di halaman 1dari 3

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang

Pertumbuhan permintaan listrik kosumen sektor konsumtif yang dilayani oleh


PT PLN (persero) meningkat dari waktu ke waktu, Yaitu dalam kurung waktu tahun
1995 sampai dengan 2009 terjadi pertambahan pelanggan sekitar 19 juta pelanggan
atau meningkat 102% (PT PLN, 2010). Permintaan tenaga listrik konsumen sektor
konsumtif juga meningkat mengikuti pertambahan jumlah pelanggan. Total kapasitas
terpasang pembangkit listrik di Indonesia pada tahun 2004 sekitar 21.470,21 MW,
dimana 86% di kuasai oleh PLN semantara sisanya dikelola oleh perusahaan listrik
swasta. Menurut data statistik ketenagalistrikan tahun 2014 (ESDM, 2015) jumlah
pelanggan pengguna listrik tahun 2014 mencapai 57.493.234 pelanggan. Di
bandingkan dengan tahun 2013 angka ini naik sebesar 3.497.026 pelanggan atau
6,48%. Dari jumlah pelanggan seluruhnya, kelompok rumah tangga merupakan
jumlah pelanggan terbesar yaitu 53.309.325 pelanggan atau 92,72%.
Mengingat kebutuhan masyarakat akan energi listrik yang cukup tinggi pada
masa sekarang ini maka sangat dibutuhkan pusat-pusat tenaga listrik (Power Plant)
untuk menyediakan energi listrik yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Pusat tenaga listrik tersebut dapat berupa Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU),
Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD),
Pembangkit Listrik Tenaga Angin/Bayu (PLTB), Pembangkit Listrik Tenaga Gas
(PLTG), Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU), Pembangkit Listrik Tenaga
Nuklir (PLTN) dan lain-lain.
Pembangkit listrik Tenaga Air (PLTA) merupakan salah satu jenis pembangkit
listrik yang ada di Indonesia. PLTA merupakan pembangkit listrik yang sumber
energinya berasal dari air yang nantinya akan memutar turbin yang dihubungkan
dengan generator sehingga menghasilkan listrik. Saat ini PLTA merupakan
pembangkit listrik yang memiliki potensi yang tinggi untuk dikembangkan di
Indonesia karena memiliki sumber daya air yang memadai. PLTA di Indonesia
memiliki kapasitas terpasang 6.654 GW dari kapasitas potensi hingga 75.670 GW
(MoEMR, 2013). Pentingnya keberadaan PLTA sebagai suplai penghasil energi listrik
mengharuskan untuk selalu beroprasi dengan kondisi optimal untuk mereduksikan
berhentinya operasi yang akan berdampak pada kerugian banyak pihak. Dalam
perosesnya PLTA menggunakan banyak sumber daya fisik untuk menghasilkan
listrik, yang meliputi bangunan fisik pembangkit, maupun mesin-mesin pembangkit

seperti turbin, generator, trafo, dan lain sebagainya. Berdasarkan laporan RKAP dua
tahun terakhir , yaitu tahun 2011 dan 2012 terdapat temuan bahwa biaya
pemeliharaan merupakan presentase terbesar dari keseluruhan variabel biaya operasi,
yaitu mencapai 50,35%.
Penelitian yang dilakukan oleh PT.PLN (persero) wilayah Sulawesi selatan
dan Sulawesi utara sektor Bakaru priode Juni 2005, menunjukkan bahwa volume
sedimen mengalami peningkatan yang signifikan yaitu 0 m 3 pada tahun 1990 menjadi
6.331.400 m3 pada tahun 2005. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sedimen di Dam
PLTA bakaru terdiri atas 47% pasir kuarsa dan 53% pasir halus (Pratiwi, 2015).
Menurut prayogo (2009) pasir kuarsa mengandung SiO 2 55,30 99,37% dan sisanya
Fe2O3,
Al2O3, TiO2 dll. Peningkatan volume sedimen yang sangat cepat,
mengakibatkan kerusakan terhadap komponen turbin. Komponen turbin yang
mengalami kerusakan karena sedimen ialah sudu gerak. Akibatnya, interval waktu
pemeliharaan semakin singkat (4 tahun). Sementara menurut menurut buku manual
pengoperasian PLTA, interval pemeliharaan ialah 8 sampai 10 tahun. Dengan
demikian, biaya pemeliharaan akan semakin meningkat pula. Di samping itu, dapat
mengakibatkan penghentian pengoperasian PLTA jika terjadi keruskan yang sangat
parah.
Dampak yang ditimbulkan oleh sedimen tidak hanya abrasi dan erosi terhadap
lingkungan, melainkan juga terjadi abrasi dan erosi pada sudu turbin. Menurut
Gogstad (2012) menyatakan bahwa konsentrasi sedimen yang tinggi dapat
mengakibatkan abrasi dan erosi, pada sudu gerak trubin. Selain konsentrasi, ukuran
sedimen juga dapat menimbulkan mikro erosi pada sudu gerak turbin (Karelin, 2004)
dari kedua pendapat tersebut menunjukkan bahwa baik konsetrasi maupun ukuran
sedimen sangat berpengaruh terhadap kerusakan sudu gerak turbin.
Salah satu kandungan sedimen adalah pasir kuarsa yang mengandung SiO 2
yang terdiri dari kristal-kristal silika dan mengandung senyawa pengotor selama
proses pengendepan. Pada umumnya, senyawa pengotor tersebut terdiri atas oksida
besi, oksida kalsium, oksida alkali, oksida magnesium, dan zat organik hasil
pelapukan sisa-sisa hewan serta tumbuhan (Prayogo, 2009). Silika adalah salah satu
kristal poli-silikat berlapis yang lapisannya terdiri dari tetrahedral SiO4 (Sera, 2013).
Dengan demikian, kerusakan pada sudu turbin berkaitan dengan kandungan SiO2
dalam sedimen. Fenomena tersebut menunjukkan penyebab terjadinya kerusakan
pada sudu turbin. Oleh karena itu, diperlukan kajian khusus dan alat tertentu untuk
menidentifikasi penyebab serta pengaruhnya terhadap kerusakan sudu turbin.
Penelitian ini sangat penting dilakukan karena berkaitan dengan penyediaan
energi listrik dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

1.2 Perumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka permasalahan
penelitian dirumuskan sebagai berikut:
a. Bagaimana pengaruh konsentrasi silikon oksida (SiO2) terhadap laju erosi
pada sudu gerak turbin air ?
b. Bagaimana kedaan laju erosi pada sudu gerak turbin air ?
c. Bagaimana hubungan antara konsentrasi silikon oksida (SiO 2) terhadap umur
turbin air ?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini ialah :
a. Menentukan pengaruh konsentrasi silikon oksida (SiO 2) terhadap laju erosi
pada sudu gerak turbin air.
b. Menentukan kedaan laju erosi pada sudu gerak turbin air.
c. Menentukan hubungan antara konsentrasi silikon oksida (SiO2) umur pakai
turbin air.
1.4 Manfaat penelitian
Dari hasil penelitian ini diharapkan memberikan manfaat :
a. Dapat dijadikan sebagai acuan dalam pemeliharaan PLTA secara umum, dan
secara khusus mencegah kerusakan sudu gerak turbin air yang disebabkan
oleh silikon oksida (SiO2).
b. Sebagai referensi dalam pengembangan ilmu dan teknologi di bidang desain
dan pemeliharaan sistem PLTA.
c. Sebagai referensi bagi mahasiswa dan penelitian untuk penelitian yang
berkaitan dengan topik penelitian tersebut.
1.5 Luaran Penelitian
Adapun luaran yang diharapkan dari penelitian ialah artikel ilmiah yang akan
dipublikasikan secara nasional.