Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Standar Audit mengenai Estimasi Akuntansi berkaitan dengan tanggung jawab auditor atas

estimasi akuntansi, termasuk estimasi akuntansi nilai wajar, dan pegungkapan yang bersangkutan
dalam suatu audit atas laporan keuangan. Tujuan pengukuran estimasi akuntansi dapat bervariasi
tergantung pada kerangka pelaporan keuangan yang berlaku dan unsur keuangan yang
dilaporkan.
Standar Audit mengenai Pihak Pihak Berkaitan yaitu menjelaskan tentang tanggung
jawab audito atas hubungan dan transaksi phak berelasi dalam suatu audit atas laporan keuangan.
Standar Audit mengenai Peristiwa Kemudian dipengaruhi oleh peristiwa tertentu yang terjadi
setelah tanggal laporan keuangan. Banyak kerangka pelaporan khusus yang merujuk pada
peristiwa tersebut.
1.2

Rumusan Masalah

Rumusan Masalah dalam penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut :


1. Bagaimana Pengukuran dan Pengungkapan Estimasi Akuntansi dalam Laporan
Keuangan?
2. Bagaimana perlakuan transaksi terhadap Pihak Pihak Yang Berelasi/Berkaitan?
3. Bagamaian Perlakuan Peristiwa Kemudian ?
1.3 Tujuan
Adapun disusun makalah ini dengan tujuan sebagai berikut :
1. Memahami tentang Estimasi Akuntansi?
2. Memahamai mengenai Pihak Pihak Berelasi/Berkaitan?
3. Memahami mengenai Peristiwa Kemudian?

BAB II
PEMBAHASAN

2.1

ESTIMASI AKUNTANSI
Tujuan audit estimasi adalah memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat mengenai

apakah setimasi akuntansi termasuk estimasi dengan nilai wajar dan disclosures (yang berkaitan
dengan estimasi akuntansi) dalam laporan keuangan sudah cukup dan sesuai dengan kerangka
laporan keuangan. Estimasi akuntansi beraneka ragam tingkat kerumitannya, dan berkisar dari
yang paling sederhana sampai yang lebih kompleks. Esimasi seringkali melibatkan banyak
analisis data historis dan data tahun berjalan, dan prakiraan (forecasting) mengenai apakah
peristiwa dikemudian hari seperti transaksi penjualan. Tujuan pengukuran dari suatu estimasi
untuk :
a. Membuat forecast mengenai outcome satu atau lebih transaksi, peristiwa, dan kondisi
yang membuat estimasi harus dibuat.
b. Menentukan nilai transaksi berdasarkan kondisi yang ada pada tanggal pengukuran.
Resiko salah saji yang material karena estimasi sering kali didasarkan pada tingkat
ketidakpastian estimasi dalam membuat estimasi. Dengan kearifan profesionalnya, auditor harus
menentukan apakah estimasi akuntansi dengan ketidakpastian estimasi yang tinggi mengandung
resiko yang signifikan. Perbedaan antara hasil akhir dari suatu estimasi akuntansi dan jumlah
yang semuladiakui dan diungkapkan dalam laporan keuangan tidak serta-merta merupakan salah
saji. Ini sering terjadi dalam fair alue accounting astimates, dimana hasil akhir dipengaruhi oleh
peristiwa atau kondisi sesudah tanggal pengukuran untuk tujuan penyajian laporan keuangan.
Estimasi Akuntansi dalam Tahap Penilaian Resiko
1. Pemahaman auditor mengenai entitas & lingkungannya
Auditor wajib memperoleh pemahaman sebagai dasar untuk mengidentifikasi dan menilai
resiko salah saji material, diantaranya:
a. Persyaratan kerangkapelaporan keuanganyang berlaku dan relevan dengan estimasi
akuntansi.
b. Mengidentifikasi transaksi, peristiwa, dan kondisi yang menimbulkan kebutuhan akan
estimasi akuntansi. Auditor wajib menanyakan kepada manajemen mengenai
perubahan dalam situasi yang menimbulkan kebutuhan akan estimasi akuntansi baru
atau merevisi.
c. Bagaimana manajemen membuat estimasi akuntansi dan pemahaman mengenai data
yang mejadi dasar dari estimasi akuntansi.
2. Review hasil akhir estimasi akuntansi
2

Auditor wajib mereview hasil akhir (outcome) estimasi akuntansi dalam laporan keuangan
tahun lalu, atau jika ada, estimasi ulang kemudian untuk tujuan tahun berjalan. Sifat dan
luasnya review auditor memperhitungkan sifat estimasi akuntansi. Namun, review ini tidak
dimaksudkan untuk mempertanyakan judgment yang dibuat tahun lalu berdasarkan
informasi yang ada pada waktu itu.
3. Evaluasi ketidakpastian estimasi
Auditor wajib mengevaluasi tingkat ketidakpastian estimasi terkait dengan estimasi
akuntansi.
4. Resiko signifikan
Auditor wajib menentukan apakah dalam pandangannya semua estimasi yang telah
diidentifikasi mempunyai ketidakpastian estimasi yang tinggi, menimbulkan resiko yang
signifikan.
Area utama yang menjadi perhatian auditor dalam estimasi akuntansi pada tahap pertama
suatu proses audit adalah tahap penilaian resiko. Pada tahap ini, yang menjadi perhatian auditor
adalah :
1.
2.
3.
4.
5.

Bagaimana mengidentifikasi kebutuhan entitas melakukan estimasi.


Proses manajemen membuat estimasi.
Hasil akhir/realisasi outcome dari estimasi yang dibuat tahun lalu.
Seberapa luas ketidakpastian estimasi dalam proses estimasi
Pentingnya estimasi.

Tanggapan atas resiko estimasi akuntansi, masuk dalam tahap kedua dari proses audit,
yakni tahap risk response. Dalam tahap ini auditor memberi tanggapan atas resiko yang dinilai
(assessed risks) pada tahap sebelumnya. Dan selanjutnya adalah tahap pelaporan estimasi
akuntansi yang meliputi :
a. Auditor wajib memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat mengenai apakah pengungkapan
dalam laporan keuangan mengenai estimasi akuntansi sesuai dengan persyaratan dalam
kerangka pelaporan keuangan yang berlaku.
b. Untuk estimasi akuntansi yang beresiko signifikan, auditor wajib mengevaluasi kecukupan
dari pengungkapan mengenai ketidakpastian estimasi dalam laporan keuangan, dalam
konteks kerangka pelaporan keuangan yang berlaku
Langkah terakhir adalah menentukan apakah :
1. Bukti audit yang cukup dan tepat sudah diperoleh.
2. Estimasi akuntansi adalah wajar.
3

3. Disclosures dalam hal estimasi sudah sesuai dengan persyaratan dan ketidakpastian
estimasi diungkapkan dengan cukup, jika ketidakpastian estimasi beresiko
signifikan.
Pada tahap representasi tertulis, auditor diharuskan memperoleh dari manajemen mengenai
kewajaran dari asumsi-asumsi signifikan yang digunakan dan juga harus mempertimbangkan
apakah asumsi-asumsi itu mencerminkan nat dan kemampuan manajemen untuk mengambil
tindakan yang relevan untuk memperoleh fair value measurements dan menyajikan disclosures
mengenai hal tersebut.
2.2

PIHAK-PIHAK TERKAIT
Pihak terkait tidak independen satu dengan yang lain. Oleh karena itu, resiko terjadinya

salah saji material melalui transaksi hubungan istimewa umumnya lebih tinggi dibandingkan
dengan transaksi diantara pihak-pihak yang bebas (unrelated parties). Beberapa faktor resiko
berkenaan dengan hubungan istimewa dan transaksi hubungan istimewa ialah :
1. Transaksi yang sangat rumit.
2. Hubungan dan transaksi tidak di ungkap.
3. Berada diluar jalur bisnis normal.
Manajemen bertanggung jawab untuk mengidentifikasi dan mengungkap pihak-pihak
terkait dan akuntansi atas transaksi hubungan istimewa. Tanggung jawab ini mengharuskan
manajemen mengimplementasikan pengendalian intern yang mampu mengidentifikasi dan
mencatat transaksi hubungan istimewa denganbenar, dan mengungkapkannya secara lengkap dan
benar dalam laporan keuangan.
Auditor harus senantiasa waspada terhadap informasi pihak-pihak terkait ketika
mereview catatan atau dokumen selama audit berlangsung. Auditor mengonspeksi dokumen
penting tertentu, tetapi bukan melakukan investigasi pihak-pihak terkait. Sistem informasi juga
tidak dirancang khusus untuk mengidentifikasi pihak-pihak terkait. Auditor perlu bertanya dan
mewawancarai manajemen ; mereview akun-akun dengan pihak-pihak tertentu ; dan prosedur
lain diluar catatan pembukuan dan pengungkapan dalam laporan keuangan.
Dalam hal kerangka pelporan keuangan, auditor bertanggung jawab untuk melaksanakan
prosedur audit untuk mengidentifikasi, menilai, dan menanggapi resiko salah saji material.
Dalam hal kerangka pelaporan keuangan, sangat minim atau bahkan tidak menetapkan ketentuan

apapun tentang pihak-pihak terkait, auditor tetap harus memperoleh pemahaman yang cukup
tentang hubungan dan transaksi pihak-pihak terkait.
ISA 550 memberikan petunjuk mengenai tanggung jawab auditor dan prosedur audit
mengenai pihak-pihak terkait dan transaksi antarpihak-pihak terkait.
Tahap 1 Penilaian Resiko :
a. Auditor wajib melaksanakan prosedur audit sesuai denga prosedur.
b. Auditor wajib mempertimbangkan kerentanan laporan keuangan terhadap salah saji.
c. Auditor wajib menanyakan pada manajemen tertang identitas pihak-pihak terkait, sifat
hubungan antara entitas dan pihak-pihak terkait, dan apakah entitas melakukan transaksi
dengan pihak-pihak terkait.
d. Auditor wajib menanyakan kepada manajemen dan pegawai lain dalam entitas , dan
melaksanakan prosedur penilaian resiko lain yang dipandang tepat dan memperoleh
pemahaman mengenai pengendalian.
e. Selama audit, auditor wajib senantiasa waspada ketika menginspeksi catatan atau
dokumen mengenai pengaturan atau informasi lain.
f. Auditor wajib menanyakan tentang sifat transaksi dan apakah pihak-pihak terkait
terlibat.
g. Auditor wajib membagi informasi yang relevan yang dierolehnya mengenai pihak-pihak
terkait entitas dengan anggota tim audit lainnya.
h. Auditor wajib mengidentifikasi dan menilai resiko salah saji material terkait dengan
hubungan atau transaksi pihak-pihak terkait dan menetukan apakah masing-masing
resiko tersebut adalah resiko signifikan.
i. Jika auditor mengidentifikasi fantor kecurangan, auditor wajib mempertimbangkan
informasi tersebut ketika mengidentifikasi dan menilai resiko salah saji material karena
kecurangan sesuai dengan ISA 240.
Tahap 2 Menanggapi Resiko :
a. Dugaan adanya kecurangan berkenaan dengan hubungan dan transaksi pihakterkait.
b. Transaksi pihak terkait yang signifikan diluar jalur bisnis normal.
c. Asersi manajemen.
Tahap 3 Pelaporan
a. Dokumen dan laporan.
b. Representasi manajemen.
c. Tentukan apakah laporan auditor harus dimodifikasi
2.3

PERISTIWA KEMUDIAN
5

ISA 560 alinea 4 merinci tujuan auditor dalam mengaudit peristiwa kemudian, yakni untuk :
a. Memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat mengenai apakah peristiwa antara tanggal
laporan keuangan dan tanggal laporan auditor yang memerlukan penyesuaian atau
pengungkapan telah ditunjukkan dengan benar dalam laporan keuangan, sesuai dengan
kerangka pelaporan keuangan yang berlaku.
b. Menanggapi dengan tepat, fakta yang diketahui auditor sesudah tanggal laporan auditor
yang jika diketahui sebelumnya dapat menyebabkan auditor mengubah laporan
auditornya.
ISA 560 alinea 5 memberikan beberapa difinisi sebagai berikut:
a. Tanggal laporan keuangan(Date of the financial statement) tanggal terakhir dalam
periode yng dicakup oleh laporan keuangan.
b. Tanggal persetujuan atas laporan keuangan (Date of approval of the financial statement)tanggal pada waktu seluruh laporan keuangan, termasuk catatan atas laporan keuangan,
selesai dibuat dan mereka yang bertanggung jawab atas laporan keuangan tersebut
memberikan persetujuannya.
c. Tanggal laporan auditor (Date of the auditors report)- tanggal yang dibubuhkan auditor
pada laporannya atas laporan keuangan sesuai dengan ISA 700.
d. Tanggal diterbitkannya laporan keuangan (Date the financial statement are issued)tanggal pada Waktu laporan auditor dan laporan keuangan yang diaudit tersedia untuk
pihak ketiga.
e. Peristiwa kemudian (subsequent events)- peristiwa antara tanggal laporan keuangan dan
tanggal laporan auditor dan fakta yang diketahui auditor sesudah tanggal laporan auditor.
2.3.1 PERISTIWA KEMUDIAN SAMPAI TANGGAL LAPORAN AUDITOR
Contoh peristiwa yang terjadi antara tanggal laporan keuangan dan tanggal laporan auditor.
a. Komitmen baru/tambahan dalam bidang keuangan seperti peminjaman, penjaminan,
b.
c.
d.
e.
f.
g.

restrukturisasi.
Penjualan dan akuisisi asset yang direncanakan atau telah terjadi.
Peningkatan modal atau penertiban instrumen utang.
Perjanjian untuk penggabungan atau pembubaran usaha.
Penyitaan asset oleh lembaga keuangan, penegak hukum, atau hancur karena bencana.
Letigasi, tuntutan hukum lainnya, dan berbagai contingencies.
Jurnal penyusaian yang luar biasa yang sudah atau direncankan akan dibuat.

h. Setiap peristiwa yang sudah atau sangat mungkin akan terjadi yang menimbulkan
keraguan mengenai asumsi kesinambungan usaha atau keraguan tehadap penggunaan
kebijakan akuntansi lainnya.
i. Setiap peristiwa yang relevan untuk mengukur suatu estimasi atau penyisihan dalam
laporan keuangan.
j. Setiap peristiwa yang relevan dengan recoverability of assets misalnya piutang tak
tertagih, persediaandapat dijual.
2.3.2 PEMBERIAN DUA TANGGAL
Sesudah tanggal laporan auditor sering kali menyebabkkan pekerjaan audit tambahan yang
diperluakan karena peristiwa kenudian itu berdampak terhadap saldo akun, estimasi akuntansi,
penyisihan,dan berbagai pengungkapan dalanm laporan keuangan. Laporan auditor yang baru
akan terbitkan tidak diberi tanggal lebih awal dari tanggal persetujuan laporan keuangan.
Pekerjaan audit tambahan dapat dibatasi hanya pada perubahan laporan keuangan seperti
dijelasakan dalam catatan atas laporan keuangan terkait., akan tetapi suatu tanggal baru akan
ditambahkan,

sehingga

ada

dua

tanggal

laporan

auditor.

Pemberian

dua

tanggal

mnenginformasikan kepada pembaca bahwa prosedur audit sesudah tanggal laporan auditor
semula terbatas pada perubahan yang dibuat kemudian.

BAB II
PENUTUP
3.1

Kesimpulan
Estimasi Akuntansi memberikan panduan bagi auditor dalam memperoleh dan

mengevaluasi bukti audit kompeten yang cukup untuk mendukung estimasi akuntansi
signifikan dalam audit atas laporan keuangan. Pihak terkait tidak independen satu dengan yang
lain. Oleh karena itu,tidak terjadinya salah saji material melalui transaksi hubungan istimewa
umumnya lebih tinggi dibandingkan dengan transaksi diantara pihak-pihak yang bebas
(unrelated parties). Manajemen bertanggung jawab untuk mengidentifikasi dan mengungkap
pihak-pihak terkait dan akuntansi atas hubungan istimewa. Auditor harus senantiasa waspada
terhadap informasi pihak-pihak terkait ketika mereviu catatan atau dokumen selama sudit
berlangsung.
Laporan keuangan mungkin dipengaruhi oleh peristiwa tertentu yang terjadi setelah
tanggal laporan keuangan. Banyak kerangka pelaporan keuangan tersebut biasanya
mengidentifikasi dua jenis peristiwa :
8

a. Peristiwa yang menyediakan bukti tentang kondisi yang ada pada tanggal pelaporan
keuangan.
b. Peristiwa yang menyediakan bukti tentang kondisi yang terjadi setelah tanggal
laporan keuangan.

DAFTAR PUSTAKA

IAPI. 2013. Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP), Seri Bukti Audit. Jakarta.
Standar Audit (SA) 540 Audit Atas Estimasi Akuntansi, Termasuk Estimasi Akuntansi Nilai
Wajar, dan Pengungkapan yang Bersangkutan.
Standar Audit (SA) 550 Pihak Berelasi.
Standar Audit (SA) 560 Peristiwa Kemudian.