Anda di halaman 1dari 8

GOOD GOVERNANCE

DAN MASYARAKAT MADANI (CIVIL SOCIETY)


DALAM PERSPEKTIF OTONOMI DAERAH
Oleh : Sudirman Mustafa, S.H., M.Hum
Widyaiswara Madya
A. LATAR BELAKANG
Derasnya arus gelombang reformasi pasca krisis moneter
tahun 1997, yang berkembang menjadi krisis multidimensional
telah membawa pengaruh terhadap perubahan yang signifikan
terhadap tata pemerintahan Indonesia, khususnya terhadap
kinerja birokrasi. Karena selama Orde Baru berkuasa dalam
interval

32

tahun

membuat

kinerja

birokrasi

yang

selalu

diasosiasikan oleh masyarakat sebagai pelayanan yang lamban,


kurang

memuaskan,

ekonomi

biaya

tinggi,

kolusi,

korupsi,

nepotisme dan lain sebagainya banyak stigma yang dilontarkan


kepada

birokrasi

bangsa

ini.

Setelah

era

reformasi

telah

memasuki satu dasawarsa pembangunan kinerja birokrasi melalui


reformasi

birokrasi,

good

governance,

dan

perwujudan

masyarakat madani (civil society)belum banyak dirasakan oleh


masyarakat.
Banyak pakar bangsa ini mengangkat permasalahan ini ke
permukaan bahwa sesungguhnya implikasi semua ini adalah
sebagaimana akibat struktur birokrasi Nasional yang cenderung
hanya menguntungkan sebagian masyarakat golongan atas saja,
hal ini dapat dibuktikan dengan semakin tingginya angka korupsi
dari kalangan elit birokrasi, praktek PILKADA yang semakin tidak
menciptakan alam demokrasi dan good governance, yang selama
ini menurut banyak kalangan menjurus pada inkonstitusional yang
merugikan masyarakat dan birokrasi, khususnya pada tataran
birokrasi di daerah mau tidak masuk dalam sistem orientet intrest

masing-masing birokrasi bahkan pada kekuatan politik tertentu


yang cenderung tidak konstruktif dan tidak terkendali.

B.

PERUBAHAN PARADIGMA
Untuk mengubah budaya pemerintahan, adalah sesuatu hal
yang dirasakan oleh setiap orang adalah suatu tantangan yang
sangat berat yang tidak semua orang dapat melakukannya. Untuk
mengubah budaya harus mengubah paradigma orang. Anda perlu
mengubah sebagian besar asumsi yang telah melekat pada
birokrasi, peraturan berpakaian, kepangkatan, dan kepegawaian;
resiko harus dihindari dengan segala cara, setiap kesalahan dan
kekeliruan harus dihukum, keputusan harus dilempar keatas. Hal
ini sangatlah sulit untuk dilakukan, karena orang berpegang
sangatlah kuat dan teguh terhadap paradigma yang telah ia miliki
dan telah ada sejak lama dalam kehidupannya.
Hal pertama yang harus kita lakukan adalah meminta agar
orang melepas asumsi mereka miliki sejak lama. Bagaiamana
caranya ? Dalam ilmu pengetahuan, kuncinya menurut Kuhn
adalah

anomali masalah dalam paradigma lama yang tak bisa

dipecahkan, realitas yang tidak dapat dijelaskan, fakta yang tidak


bisa diterima sebagai kebenaran. Apabila anomali itu ditumpuk,
orang mulai tidak mempercayai lagi pardigma lamanya. Berapa
orang yang merasa sangat sulit untuk melepas hal yang lama.
Namun pada suatu simpul atau titik tertentu orang mulai
mengartikulasikan sebuah paradigma baru., dan orang orang
birokrasi mulai melakukan lompatan.
Untuk meretas paradigma lama, Anda bukan hanya harus
memperkenalkan anomali-sebuah paradigma baru yang bisa
mereka ambil. Mereka tidak bisa mentoleransikan kemenduaan
dalam waktu yang lama, mereka akan membuat membantu
mereka dalam membuat lompatan Anda perlu mendefenisikan
paradigma baru bagi mereka sebaik mungkin, sehingga mereka

bisa mendapat kejelasan. Tak seorang pun bisa melepaskan


paradigma

budaya

lama

tanpa

memiliki

akses

terhadap

paradigma budaya baru karena tak seorang pun bisa hidup tanpa
paradigma dalam jangka waktu lama. William Bridges, penulis
Managing

Transitions

Making

the

Most

of

Change,menggunakan analogi seniman restok gantung, yang


melepas restok yang satu untuk mendapatkan restok yang baru.
Sebelum ia melihat dengan jelas restok yang baru dia tidak akan
melepaskan yang sudah di tangan karena dia tidak bisa melayang
terlalu lama di udara dengan resiko jatuh. Maka satu-satunya hal
yang bisa Anda lakukan adalah membuat gambaran yang jelas
mengenai budaya baru yang bisa dilihat oleh semua orang.
Prof. Dr. Mustofadidjaya AR, MPIA pernah menyampaikan suatu
makalah dalam silaknas ICMI pada bulan Desember tahun 2001,
dengan judul makalahnya adalah Reformasi birokrasi inilah yang
dimaksud oleh beliau adalah Perwujudan Good Governance dan
Pembangunan

Masyarakat

Madani,

perubahan

paradigma

goverment ke governance, artinya bangsa Indonesia harus


meninggalkan budaya birokrasi yang lama menuju ke arah
paradigma yang baru.
Bangsa Indonesia pada tahun 1998 atau awal tahun 1997
menghadapi

suatu

ancaman

dan

tantangan

yang

sangat

sulit, yaitu krisis multidimensional, dalam perkembangannya saat


ini Indonesia berusaha dengan sekuat tenaga untuk mencari
solusi

dan

mengatasi

krisis

tersebut.

Reformasi

telah

dikumandang lagi sejak terbentuknya kabinet Indonesia bersatu


jilid

II,

melalui

Reformasi

pembentukan

Birokrasi

dan

PAN,

institusi

kementerian

aplikasi

di

lapangan

hegara
dalam

pelaksanaanya sungguh banyak hambatan yang yang dilalui.


Good Governance sebenarnya telah berkembang sejak abad
ke 18 didaratan Amerika maupun Eropa (Amerika, Inggeris, dan
Rusia). Pada

era

Globalisasi

dunia menunjukkan

peningkatan

perkembangan masyarakat bangsa bangsa di dunia khususnya

Indonesia pasca krisis moneter yang berlanjut menjadi krisis


multidimensional

tahun

1997, Indonesia

masuk

babak

baru

menuju kearah pembangunan masyarat madani (civil society),


suatu

peradaban

baru

yang

memiliki

multibudaya

dan

kemajemukan atau lebih kita kenal dengan pluralisme, dan


tonggak bersejarah bagi bangsa ini dengan diberlakukannya
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang otonomi Daerah.
Ekspektasi

masyarakat

Indonesia

sangat

besar

terhadap

pemerintah sebagai babak pembaharu (Change agent atau


agent of develoment). Karena 32 tahun lamanya bangsa
Indonesia terbelenggu dalam sistem pemerintahan Orde Baru
yang berkecenderungan memonopoli semua aspek dan posisi
aktor sosial, ekonomi, dan politik dalam kehidupan masyarakat,
dari do it alone goverment menjadi co-arrangement goverment.
Masyarakat madani (civil sosciety) pada era penerapan
Undang-undang otonomi daerah 1999 lebih mengedepankan
hubungan harmoni antara institusi pemerintah (negara), private
sector (pasar), dan masyarakat. Ketiga aktor penting inilah yang
harus ditumbuh kembangkan agar terjalin kesetaraan, saling
check and ballances, sehingga tidak terjadi disharmoni, antara
aktor yang satu dengan yang lainnya. Tidak terjadi ekploitasi
penguasaan yang dominan dari komponen yang lain. Dalam
penyelenggaraan pemerintah daerah atau lebih kita kenal dengan
otonomi Daerah seyogyanya peran sektor publik atau pemerintah
daerah tidak lagi harus apreori terhadap kekuasaannya, tidak lagi
lebih dominan, tetapi akan lebih elegan apabila private sector dan
masyarakat

masuk

andil

dalam

korelasi

pelaksanaan

kepemerintahan. Maka apabila hal tersebut terlaksana disetiap


kabupaten/kota sejumlah 497 dan 33 Provinsi di Indonesia, akan
terwujudlah

hubungan

yang

konstruktif

dan

sinergis,

serta

kondusifitas diantara pelaku-pelaku kepemerintahan yang baik,


yaitu pemerintah daerah (bupati) dengan perangkat daerah,

swasta dan masyarakat. Ekonomi pasar di daerah pun akan


semakin

tumbuh

subur

dan

realistis

bersama-sama

dan

seiringnya perubahan paradigma masyarakat feodal dan klasik


menjadi masyarakat madani (civil society). Skematis hubungan
antara Pemerintah Daerah, Swasta, dan Masyarakat :

B. KORELASI

PEMERINTAHAN

DAERAH,

KEPEMERINTAHAN

YANG BAIK DAN MASYARAKAT WARGA / MASYARAKAT


MADANI (CIVIL SOCIETY).
Euforia reformasi bangsa Indonesia sudah memasuki tahun
ke

15

kalau

desentralisasi,

dihitung
good

sejak

tahun

governance,

1997,

dan

maka

dengung

masyarakat

Madani

sangalah terasa pada sebatas retorika para pemimpin bangsa ini,


maka masyarakat indonesia suatu saat akan menagih apa yang
telah dicanangkan oleh para pemimpin bangsa ini. Desentralisasi
pemerintahan daerah telah diimplementasikan, bendera good
governance sudah dikibarkan, Masyarakat Madani akan segera
diwujudkan, tinggal menunggu ekspektasi datang merona. Secara
hirakhies

ilmu

pengetahuan

komponen ini adalah :

maka

benang

merah

ketiga

1.

Pemerintahan Lokal, good govenance, dan masyarakat madani


mempunyai

jati

diri

sendiri-sendiri.

Ketiganya

tidak

bisa

dipisahkan. Kalau toh terpaksa diceraikan satu sama lain, maka


akan terjadi disharmonis dan tidak baik untuk masa kedepan
pemerintahan daerah.
2.

Relasi good govenance (baca : GG) dan masyarakat madani (baca


: MM) merupakan kemutlakan. GG tidak pernah akan terwujud
tanpa MM, begitu pula sebaliknya. Karena intisarinya adalah
perilaku

moralitas

dan

kesesuaian

prosedur

dalam

bepemerintahan.
3.

Relasi

Pemerintahan

daerah

(lokal)

dengan

GG

dan

MM

enligthenment (pencerahan lokalitas negara dimana MM terutama


berisikan nilai-nilai dasar dan konsep-konsep tertentu yang
terjalain

dalam

kerangka

tertentu

yang

mengarah

kepada pemberdayaan masyarakat atau lebih menyeimbangkan


posisi dan peran pemerintah dan peran masyarakat dalam setiap
penyelenggaraan dan kegiatan pembangunan. Nilai-nilai dasar
dari MM adalah Ketuhanan, Hak asasi dan martabat manusia,
kebangsaan, demokrasi, kemajemukan, kebersamaan, persatuan
dan kesatuan, kesejahteraan bersama, keadilan dan supremasi
hukum,

keterbukaan,

partisipasi,

kemitraan,

rasional,

etis,

perbedaan pendapat dan pertangungjawaban. (Martin Junung,


2005).
KESIMPULAN
Perubahan yang fondamental sangatlah jelas dengan
runtuhnya rezim Suhartoisme tahun 1997, Indonesia memasuki
babak baru yang disebut euforia reformasi, desentralisasi atau
otonomi

daerah

diimplementasikan

oleh

pemerintah

pusat

terhadap daerah, hal ini telah membawa hembusan angin segar


bagi pemerintahan di daerah serta masyarakatnya dengan penuh
asa adanya perubahan yang signifikan terhadap pelayanan publik
secara komprehensif menyeluruh dan holistik. Maka dengan

perwujudan otonomi daerah oleh pemerintah pusat secara


otomatis masyarakat madanipun di setiap daerah otonom di
Indonesia akan terwujud, karena pada saat itu berkembang dan
bergesernya format lama ke format, pergeseran lokus politikpun
terjadi di setiap daerah provinsi kabupaten/kota ditandainya
dengan lahirnya UU No. 22 tahun 1999 Jo UU No. 32 tahun 2004
tentang otonomi daerah. Saat yang tepat itulah membuat setiap
daerah di Indonesia dapat membuat keputusan-keputusan politik
tanpa harus diarahkan dan diintervensi oleh pemerintah pusat,
ada pembagian kewenangan antara pemerintah pusat dan
daerah.

Namun

dipegang

oleh

ada

pepatah

pemerintah

kepalanya
pusat,

dilepas

artinya

buntunya

tidak

semua

kewenangan yang seharusnya didalam UU 22 tahun 1999 jo UU


32 tahun 2004 diberikan pengurusannya kepada daerah sepenuh
hati oleh pemerintah pusat diberikan kepada daerah, seperti
masalah pertanahan samapai saat ini masih digemgam erat oleh
pemerintah pusat, yang telah dimanahkan oleh PP 25 tahun 2000
seharusnya adalah kewenangan daerah.
Tarik ulur kewenangan antara pemerintah pusat inilah
justru akan menambah kesemerawutan, dan ketidak pastian serta
tidak terwujudnyanya pelayanan kepada publik secara optimal,
dengan makna lain good governance, masyarakat madani,
hubungan

harmonis

antara

pemerintah,

masyarakat,

stakeholders, dan private sector masih jauh dari keterwujudan


pada era kekuasaan pemerintahan SBY Budiono 2009-2014 yang
akan datang. Otonomi Daerah , good will, warna dan corak baru
serta format yang mengandung political will dari pemerintah
pusat

dimasa

yang

akan

datang

(presiden

selain

Budiono) masih sangat diharapkan oleh rakyat Indonesia.


DAFTAR PUSTAKA :
1.

David Osborne, Ted Gaebler , Mewirausahakan Birokrasi,


Reinventing Goverment, Jakarta 1996

SBY-

2.
3.
4.
5.

David Osborne, Peter Plastrik, Memangkas Birokrasi, Penerbit PPM,


Jakarta, 2000.
Krishna Darumurti, S.H, Umbu Rauta, S.H., M.Hum, Otonomi Daerah,
Perkembangan Pimikiran, pengaturan, dan pelaksanaan.
Prof. Dr. Ryaas Rasyid, MA, Arah Baru Otonomi Daerah di Indonesia,
Jakarta 2005.
Otonomi Daerah, Lembaga Administrasi Negara RI, Jakarta 2008