Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Hubungan dan interaksi antara makanan, nutrien yang terkandung dalam makanan dan
obat saling mendukung dalam pelayanan kesehatan dan dunia medis. Makanan dan nutrien
spesifik dalam makanan, jika dicerna bersama dengan beberapa obat, pasti dapat mempengaruhi
seluruh ketersediaan hayati, farmakokinetik, farmakodinamik dan efek terapi dalam pengobatan.
Makanan dapat mempengaruhi absorbsi obat sebagai hasil dari pengubahan dalam
saluran gastrointestinal atau interaksi fisika atau kimia antara partikel komponen makanan dan
molekul obat. Pengaruh tergantung pada tipe dan tingkat interaksi sehingga absorbsi obat dapat
berkurang,
tertunda,
tidak
terpengaruh
atau
meningkat
oleh
makanan yang masuk.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan pada latar belakang diatas maka makalah ini akan menitikberatkan pada
1. 1. Mengetahui interaksi obat dan makanan berdasarkan fase farmasetis,fase farmakokinetik, dan
fase farmakodinamik
2. Mengetahui interaksi obat dan makanan yang dapat menurunkan nafsu makan,
mengganggu
pengecapan, mengganggu traktus gastrointestinal/ saluran pencernaan,
dan mempengaruhi absorbsi.
1.3 TUJUAN
Adapun yang mendasari atau tujuan dari penulisan makalah ini, antara lain
1. 1. Untuk mengetahui interaksi obat dan makanan yang terjadi berdasar pada fase farmasetis, fase
farmakokinetik, dan fase farmakodinamik
2. 2. Untuk mengetahui interaksi obat yang dapat menurunkan nafsu makan, mengganggu
pengecapan, mengganggu traktus gastrointestinal/ saluran pencernaan, dan mempengaruhi
absorbsi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 INTERAKSI OBAT
Interaksi obat adalah kejadian di mana suatu zat mempengaruhi aktivitas obat. Efek-efeknya
bisa meningkatkan atau mengurangi aktivitas, atau menghasilkan efek baru yang tidak dimiliki
sebelumnya. Biasanya yang terpikir oleh kita adalah antara satu obat dengan obat lain. Tetapi,
interaksi bisa saja terjadi antara obat dengan makanan, obat dengan herbal, obat dengan
mikronutrien, dan obat injeksi dengan kandungan infus.
Interaksi obat bisa ditimbulkan oleh berbagai proses, antara lain perubahan dalam
farmakokinetika obat tersebut, seperti absorpsi, distribusi, metabolisme, dan eksresi (ADME)
obat. Kemungkinan lain, interaksi obat merupakan hasil dari sifat- sifat farmakodinamik obat
tersebut, missal, pemberian bersamaan antara antagonis reseptor dan agonis untuk resptor yang
sama
Pemberian obat-obatan merupakan bagian dari terapi medis terhadap pasien. Ketika dikonsumsi,
obat dapat mempengaruhi status gizi seseorang dengan mempengaruhi makanan yang masuk
(drug-food interaction). Hal sebaliknya juga dapat terjadi, makanan yang masuk juga dapat
mempengaruhi kerja beberapa obat-obatan (food-drug interaction).
2.2 INTERAKSI OBAT DAN MAKANAN
fase farmasetis
Fase farmasetis merupakan fase awal dari hancur dan terdisolusinya obat. Beberapa makanan
dan
nutrisi
mempengaruhi
hancur
dan
larutnya
obat. maka
dari
itu,
keasaman
makanan
dapat
mengubah
efektifitas
dan
solubilitas
obat-obat
tertentu.
Salah
satu
obat
yang
dipengaruhi
pH
lambung
adalah
saquinavir,
inhibitor
protease
pada
perawatan
HIV.
Ketersediaan
hayatinya
meningkat
akibat
solubilisasi
yang
diinduksi
oleh
perubahan pH lambung. Makanan dapat meningkatkan pH lambung, disisi
lain juga dapat mencegah disolusi beberapa obat seperti isoniazid (INH).
Fase farmakokinetik
Fase
farmakokinetik
adalah absorbsi,
transport,
distribusi,
metabolisme
dan
ekskresi obat. Interaksi obat dan makanan paling signifikan terlibat dalam proses
absorbsi.
Usus
halus,
organ
penyerapan
primer,
berperan
penting
dalam
absorbsi obat. Fungsi usus halus seperti motilitas atau afinitas obat untuk
menahan
sistem
karier
usus
halus,
dapat
mempengaruhi
kecepatan
dan
tingkat absorbsi obat. Makanan dan nutrien dalam makanan dapat meningkatkan atau
menurunkan absorbsi obat dan mengubah ketersediaan hayati obat.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 INTERAKSI DALAM PROSES ABSORPSI DI SALURAN CERNA
1. Interaksi Langsung
Interaksi secara fisik/kimiawi antar obat dalam lumen saluran cerna sebelum absorpsi dapat
mengganggu proses absorpsi. Hal ini dapat dihindari jika obat yang berinteraksi diberikan
dengan interval waktu minimal 2 jam.
2. Perubahan pH di Saluran Cerna
Cairan saluran cerna yang alkalis (misalnya akibat antasid) akan meningkatkan kelarutan
obat bersifat asam yang sukar larut dalam suasana asam (misalnya aspirin). Akan tetapi
suasana alkalis di saluran cerna akan mengurangi kelarutan beberapa obat bersifat basa
(misalnya ketonazol) dengan mengurangi absorpsinya. Berkurangnya keasaman lambung
akan mengurangi pengrusakan obat yang tidak tahan asam, meningkatkan bioavailibitasnya
dan mengurangi absorpsi Fe (yang diabsorpsi lebih baik bila suasana cairan lambung
sangat asam).
3. Perubahan Waktu Pengosongan Lambung dan Waktu Transit dalam Usus
Usus halus merupakan tempat absorpsi utama semua obat, termasuk yang bersifat asam
dimana di usus halus absorpsi terjadi jauh lebih cepat daripada di Lambung. Oleh karena
itu, makin cepat obat mencapai usus halus, makin cepat pula absorpsinya. Obat yang
memperpendek waktu pengosongan lambung (misal metoklopramid) akan mempercepat
absorpsi obat lain yang diberikan bersamaan. Sebaliknya, obat yang memperpanjang waktu
pengosongan lambung akan memperlambat absorpsi obat lain. Kecepatan pengosongan
lambung biasanya hanya memengaruhi kecepatan absorpsi tanpa memengaruhi jumlah obat
yang diabsorpsi dan bioavailibitasnya. Pengecualian kepada obat yang mengalami
metabolisme lintas pertama oleh enzim dalam dinding lambung dan usus halus.
Waktu transit usus halus umumnya tidak memengaruhi absorpsi obat kecuali untuk obat
yang sukar larut dalam cairan cerna (misal digoksin) dan obat yang diabsorpsi secara aktif
hanya di satu segmen usus halus (misal Vitamin B12 di Ileum). Tapi kedua jenis obat
tersebut dapat berkurang jumlah absorpsinya bila diberikan bersamaan dengan obat yang
memperpendek waktu transit dalam usus (misal antasid garam Mg). Sebaliknya, obat yang
memperpanjang waktu transit khusus akan meningkatkan bioavailibilitas kedua jenis obat
tadi.
4. Kompetisi untuk Transporter Membran di Saluran Cerna
Obat yang merupakan analog dari zat makanan (misal metildopa) diabsorpsi melalui
transport membran yang sama dengan transporter untuk zat makanan tersebut sehingga
dapat dihambat secara kompetitif oleh zat makanan yang bersangkutan. Ada juga
kompetisi untuk transporter uptake dan efflux obat.

5. Perubahan Flora Usus


Pemberian antibakteri berspektrum luas (misal tetrasiklin) akan mensupresi flora normal
usus dan mengakibatkan peningkatan efektivitas antikoagulan oral (antagonis vitamin K),
mengurangi efektivitasi sulfasalazin, meningkatkan bioavailibilitas levopoda dan
mengurangi efektivitas kontrasepsi oral yang semuanya diberikan secara bersamaan.
6. Efek Toksik pada Saluran Cerna
Terapi dengan asam mefanat menimbulkan sindrom malabsorpsi dan menyebabkan
absorpsi obat lain jadi terganggu.
7. Mekanisme tidak diketahui
Beberapa mengurangi jumlah absorpsi obat lain dengan mekanisme yang tidak diketahui.
Tabel 1: contoh interaksi makanan yang dapat meningkatkan interaksi obat
No
1

Nama obat
Carbamazepin

Mekanisme solusi
Aturan minum
Meningkatkan
produksi Diminum bersama
empedu,meningkatkan
disolusi
& makanan
absorbsi.

Diazepam

Meningkatkan enterohepatik,
sekunder
pada
sekresi
lambung.

Erythromycin

Tidak diketahui

Griseofulvin

Obat mudah larut


meningkatkan absorbsi.

Hydrochlorothiazi
d
(HCT)

Menunda
pengosongan
lambung, Diberikan
meningkatkan absorbsi usus halus.
makanan.

6
Phenytoin

disolusi Tidak ada


asam
Diminum
makan

dalam

saat

lemak, Diberikan
dengan
makanan
tinggi
lemak
atau
disuspensi
minyak
jagung
rendah
kontraindikasi.
bersama

Menunda
pengosongan
lambung, Diberikan pada saat
Meningkatkan
produksi
empedu, makan pagi, siang
meningkatkan disolusi & absorbsi.
dan malam.

Tabel 2: contoh interaksi makanan yang dapat menurunkan absorbs obat


No
1

Nama obat
Acetaminophen

Mekanisme solusi
Aturan minum
Terutama makanan mengandung pektin Diminum saat perut
bersifat absorben dan pelindung.
kosong

Ampicillin

Mengurangi volume cairan lambung.

Diminum dengan air

Amoxicillin

Mengurangi volume cairan lambung.

Diminum dengan air

Acetosal

Mengubah pH lambung.

Diminum saat perut


kosong

Captopril

Tidak diketahui (ACE inhibitor).

Diminum
makan

Digoxin

Obat terikat makanan tinggi serat

Diminum saat makan

sebelum

Tabel 3:
No
1

Nama obat
Isoniazid (INH)

Mekanisme solusi
Keterangan
Makanan akan meningkatkan pH lam- Diminum saat perut
bung mencegah disolusi & absorbsi.
kosong
pagi sebelum makan

Lincomycin

Tidak diketahui.

Diminum saat perut


kosong,
karena
makanan
menghambat
absorbsi
Menghindari
pemberian
bersama
makanan
yang
mengandung protein
tinggi.

Methyldopa

Absorbsi kompetitif.

Menghindari
pemberian
bersama
makanan
kaya

besi atau suplemen.


4

Penicillamine

Dapat
membentuk
kalsium atau besi.

khelat

dengan Diminum saat perut


kosong

Penicillin G

Menunda
pengosongan
lambung; Diminum 1 jam
degradasi asam lambung; menghambat sebelum
disolusi.
atau 2 jam setelah
makan

Tetracycline
lemak.

Berikatan dengan garam besi atau ion tidak boleh diminum


kalsium membentuk senyawa khelat bersama
yang tidak larut.
susu

Makanan yang mempengaruhi tingkat ionisasi dan solubilitas atau reaksi pembentukan khelat,
dapat mengubah absorbsi obat secara signifikan. Misalnya pada reaksi pembentukan khelat pada:
a.

kombinasi tetracyclin dengan mineral divalen seperti Ca dalam susu atau antasida. Kalsium
akan mempengaruhi absorbsi dari quinolon.
b. Reaksi antara besi (ferro atau ferri) dengan tetracyclin, antibiotik fluoroquinolon,
ciprofloxacin, ofloxacin, lomeflox dan enoxacin. Maka dari itu, ketersediaan hayati ciprofloxacin
dan ofloxacin turun masing-masing 52 dan 64 % akibat adanya besi.
c.
Zink dan fluoroquinolon akan menghasilkan senyawa inaktif sehingga menurunkan absorbsi
obat (b).
Kecepatan pengosongan lambung secara signifikan mempengaruhikomposisi makanan yang
dicerna. Kecepatan pengosongan lambung ini dapat mengubah ketersediaan hayati obat.
Makanan yang mengandung serat dan lemak tinggi diketahui secara normal menunda waktu
pengosongan lambung. Beberapa obat seperti nitrofurantoin dan hidralazin lebih baik diserap
saat pengosongan lambung tertunda karena tekanan pH rendah di lambung. Obat lain seperti Ldopa,Penicillin G dan digoxin, mengalami degradasi dan menjadi inaktif saat tertekan oleh pH
rendah di lambung dalam waktu lama. Obat dieliminasi dari tubuh tanpa diubah atau sebagai
metabolit primer oleh ginjal, paru-paru, atau saluran gastrointestinal melalui empedu. Ekskresi
obat juga dapat dipengaruhi oleh diet nutrien seperti protein dan serat, atau nutrien yang
mempengaruhi pH urin.
Fase farmakodinamik
Fase farmakodinamik merupakan respon fisiologis dan psikologis terhadap obat.
Mekanisme obat tergantung pada aktifitas agonis atau antagonis, yang mana akan meningkatkan
atau menghambat metabolisme normal dan fungsi fisiologis dalam tubuh manusia. Obat dapat
memproduksi efek yang diinginkan dan tidak diinginkan. Aspirin dapat menyebabkan defisiensi
folat jika diberikan dalam jangka waktu lama. Methotrexat memiliki struktur yang mirip dengan
folat
vitamin B, hal ini dapat memperparah defisiensi folat.

Tabel 4: beberapa interaksi penting antara obat dan makanan


No

Nama obat

Tipe
nutrien
Makanan

Azithromycin
(Zithromax)

Captopril
(Capoten)

Makanan

Erythromycin

Makanan

Efek dari interaksi

Rekomendasi

Absorbsi Azithromycin
berkurang, ketersediaan
hayatinya
berkurang
43%,
konsentrasi
maksimal 52%.

berselang 2
jam
Diminum saat
perut
kosong
/
konsisten
Absorbsi
Captopril pada
saat
berkurang.
yang
sama
setiap
hari
Absorbsi
Erythromycin Obat
dan
base
atau makanan
Obat dan makanan

Penelanan tablet dengan air yang cukup atau cairan lain penting untukbeberapa obat karena jika
ditelan tablet tersebut cenderung merusak saluran oesophagus. Petunjuk pada pasien untuk
mencegah iritasi dan atau ulcer pada oesophagus, tablet atau kapsul obat harus ditelan dengan
segelas air oleh pasien dengan posisi berdiri, misalnya untuk obat obat seperti analgesik
(contohnya aspirin),
NSAID
(contohnya
Phenylbutazone,
oxyphenbutazone,
indometacin), kloralhidrat,
emepromium
bromida,
kalium
klorida,
tetracyclin
(terutamaDoxycyclin).
Obat diminum dengan atau tanpa makanan. Interaksi obat-makanan dalam saluran
gastrointestinal dapat bermacam- macam dan banyak alasan mengapa makanan dapat
berpengaruh pada efek obat.Contohnya obat mungkin terikat pada komponen makanan; makanan
akan mempengaruhi waktu transit obat pada usus; obat dapat mengubah first-pass metabolism
obat dalam usus dan dalam hati; dan makanan dapat meningkatkan aliran empedu yang mampu
meningkatkan absorbsi beberapa obat yang larut lemak.
Petunjuk pada pasien untuk mencegah interaksi tersebut adalah denganmeminum obat dengan
segelas air pada saat perut kosong, misalnya seperti pada obat- obat sefalosporin (kecuali
sefradin), dipyridamol, erythromycin, Isoniazid (INH), lincomycin, penicillamin, pentaerithritel
tetranitrat, rifampicin, penisilin oral dan tetracyclin. Absorbsi semua penisilin oral optimal jika
diminum pada saat perut kosong dengan segelas air. Pivampicillin harus diminum bersama
makanan karena dapat mengiritasi lambung atau perut. Tetracyclin kadang kalamenyebabkan
mual dan muntah jika diminum pada saat perut kosong. Meskipun makanan mengurangi absorbsi
tetracyclin tetapi tidak terjadi pada doxycyclin dan minocyclin.
Adanya makanan juga dapat meningkatkan perubahan bentuk profil serum obat tanpa mengubah
ketersediaan hayati obat. Hal ini terlihat pada studi sefradin, makanan tidak memiliki efek
7

signifikan terhadap ekskresi urin antibiotik tetapi pada nilai t-max. Beberapa obat yang diminum
bersama susu atau makanan berlemak antara lain alafosfalin, griseofulvin dan vitamin D.
Sedangkan obat yang tidak boleh diminum bersama susu antara lain bisacodyl (dulcolax), garam
besi, tetracyclin (kecuali doxycyclin dan minocyclin).
Tabel 5: beberapa obat yang diminum bersama makanan
Asam nalidiksat
Metformin

Garam kalium

Indometacin
Teofilin
danturunannya
Garam besi (Fe)

Oxyphenbutazone

Propranolol

Tolbutamid

Asetosal
Metronidazol

Cotrimoxazole
Phenylbutazone

Glibenclamide
Reserpin

Isoxsuprin
Triamteren

Allopurinol
Minocyclin

Doxycyclin
Pankreatin

Gliclazide
Riboflavin

Levodopa
Na-valproat

Amiodaron
Naproxen

Na-diklofenak
Phenytoin-Na

Ibuprofen
Spironolakton

Asam nikotinat
turunannya
Metoprolol

Carbamazepin
Nitrofurantoin

Ethambutol
Pivampicillin

& Cinnarizin

3.2 INTERAKSI OBAT DAN MAKANAN YANG DAPAT MENURUNKAN NAFSU


MAKAN, MENGGANGGU PENGECAPAN DAN MENGGANGGU TRAKTUS
GASTROINTESTINAL/SALURAN PENCERNAAN.
Obat dan penurunan nafsu makan
Efek samping obat atau pengaruh obat secara langsung, dapat mempengaruhi nafsu makan.
Kebanyakan stimulan CNS dapat mengakibatkan anorexia. Efek samping obat yang berdampak
pada gangguan CNS dapat mempengaruhi kemampuan dan keinginan untuk makan. Obat-obatan
penekan nafsu makan dapat menyebabkan terjadinya penurunan berat badan yang tidak
diinginkan dan ketidakseimbangan nutrisi.
Obat dan perubahan pengecapan/ penciuman
Banyak obat yang dapat menyebabkan perubahan terhadap kemampuan merasakan/ dysgeusia,
menurunkan ketajaman rasa/ hypodysgeusia atau membaui. Gejala-gejala tersebut dapat
mempengaruhi intake makanan. Obat-obatan yang umum digunakan dan diketahui menyabapkan
hypodysgeusia seperti: obat antihipertensi (captopril), antriretroviral ampenavir, antineoplastik
cisplastin, dan antikonvulsan phenytoin.
Obat dan gangguan gastrointestinal
8

Obat dapat menyebabkan perubahan pada fungsi usus besar dan hal ini dapat berdampak pada
terjadinya konstipasi atau diare. Obat-obatan narkosis seperti kodein dan morfin dapat
menurunkan produktivitas tonus otot halus dari dinding usus. Hal ini berdampak pada penurunan
peristaltik yang menyebabkan terjadinya konstipasi.
Absorbsi
Obat-obatan yang dikenal luas dapat mempengaruhi absorbsi zat gizi adalah obat-obatan yang
memiliki efek merusak terhadap mukosa usus. Antineoplastik, antiretroviral, NSAID dan
sejumlah antibiotik diketahui memiliki efek tersebut. Mekanisme penghambatan absorbsi
tersebut meliputi: pengikatan antara obat dan zat gizi (drug-nutrient binding) contohnya Fe, Mg,
Zn, dapat berikatan dengan beberapa jenis antibiotik; mengubah keasaman lambung seperti pada
antacid dan antiulcer sehingga dapat mengganggu penyerapan B12, folat dan besi; serta dengan
cara penghambatan langsung pada metabolisme atau perpindahan saat masuk ke dinding usus.
Metabolisme
Obat-obatan dan zat gizi mendapatkan enzim yang sama ketika sampai di usus dan hati.
Akibatnya beberapa obat dapat menghambat aktifitas enzim yang dibutuhkan untuk
memetabolisme zat gizi. Sebagai contohnya penggunaan metotrexate pada pengobatan kanker
menggunakan enzim yang sama yang dipakai untuk mengaktifkan folat. Sehingga efek samping
dari penggunaan obat ini adalah defisiensi asam folat.
Ekskresi
Obat-obatan dapat mempengaruhi dan mengganggu eksresi zat gizi dengan mengganggu
reabsorbsi pada ginjal dan menyebabkan diare atau muntah
Tabel 6: Interaksi Obat-Makanan yang bermakna klinis
No
obat
1 Tetrasiklin

Interaksi
Akibat klinis yang mungkin
Penurunan ketersediaanhayati Gagal terapi
dengan susu dan produk susu

Siprofloksasi
n

Penurunan ketersediaanhayati Gagal terapi


dengan susu dan produk susu

Azitromisin

Penurunan ketersediaanhayati Gagal terapi


dg makanan

Itrakonazol

Penurunan ketersediaanhayati Mungkin Gagal terapi


dg makanan

Penisilamin

Penurunan ketersediaanhayati Gagal terapi


dg makanan

Didanosin

Makanan

mengurangi Gagal terapi


9

ketersediaanhayati
7

Indinavir

Makanan
mengurangi Gagal terapi
ketersediaanhayati

Saquinavir

Garlic (allicin) mengurangi Aktivitas antiviral berkurang


ketersediaanhayati

Atiovaquone

Makanan
meningkatkan Khasiat
ketersediaanhayati
makan

10

Lovodopa

Protein mengurangi transpor Menurunkan khasiat


ke otak

11

Teofilin

Makanan lemak meningkatkan Kemungkinan toksisitas


penyerapan

12

Warfarin

Makanan kaya Vitamin K menurunkan efek antikoagulasi


melawan efek antikoagulans

13

Siklosporin

Makanan dan sari grapefruit mungkin toksisitas


meningkatkan kadar plasma

14

Alendronate

Makanan
mengurangi Gagal terapi
ketersediaanhayati
Penghambat MAO
Meningkatkan kadar tiramin
Krisis hipertensi

15

Terfanadin

Sari Grapefruit meningkatkan Kadar plasma bertahan lebih lama


ketersediaanhayati

16

Felodipin

Makanan
meningkatkan Efek samping lebih besar
ketersediaanhayati

17

Diuretik

Makanan
mengurangi Gagal terapi
ketersediaanhayati

18

Spironolakton

Makanan
mengurangi Khasiat
ketersediaanhayati
makan

19

Propranolol

Makanan
menambah
ketersediaanhayati

10

bertambah

bertambah

bila

bila

bersama

bersama

Efek samping bertambah

OBAT
PRAESIPIT
AN

OBAT OBJEK

MEKANISME IO

EFEK YANG
DITIMBULKAN

Rifampisin

Warfarin

Isoniazid dapat
meningkatkan
toksisitas
karbamazepine,
ethosuximide,
fenitoin, diazepam,
triazolam, teofilin,
dan warfarin.

neuritis perifer,
neuritis optik, reaksi
psikosis, kejang,
mual, muntah,
kelelahan, gangguan
pada lambung,
gangguan
penglihatan, demam,
kemerahan kulit,
Efek samping yang
berpotensi fatal
adalah
hepatotoksisitas
(gangguan dan
kerusakan sel hati).

Tetrasiklin

Antasida (mylanta,
promag)

Absorbsi tetrasiklin
menjadi menurun.
Hal ini dapat
menyebabkan
resistensi antibiotik.

Ketokonazol

AntiKolinergik
(Atropin/skopolamin
)

Tetrasiklin dapat
membentuk
kompleks dengan
ion calsium,
magnesium, besi ,
dan alumunium
yang sering
terdapat di obatobat maag.
membutuhkan
medium asam
untuk melarutkan
sejumlah yang
dibutuhkan
sehingga tidak
memungkinkan
diberikan bersama
antasida, obat
antikolinergik,
penghambatan H2,
atau inhibitor
pompa proton
11

Denyut jantung
meningkat,
berdebar-debar;
Sulit buang air;
Gangguan pada
saraf otak (jarang
terjadi), seperti
kejang, koma,
halusinasi;
Kemerahan pada
kulit;
Peningkatan suhu
badan;

LEV
EL
SIGN
IFIK
ASI

PENANG

Isoniazid
diminum da
perut kos
yang pa
pemberia
adalah 1 2
makan. Apa
ganggua
pencernaa
apabila dim
makan, ma
dapat d
bersama
makan
mengur
gangguan
Pembe
dilakukan s
4

obat ini
sedikitnya
pemberian

(misalnya
omeprazol).
Paracetamol

Karbamazepin

meningkatkan
potensi kerusakan
hati.

12

Paracetamol bisa
menyebabkan
kerusakan hati
terutama jika
penggunaanya
melebihi dosis yang
dianjurkan. Potensi
efek samping ini
meningkat pada
orang-orang yang
mengkonsumsi
alkohol.

Oral atau m
325-650 m
jam. Dosis
4000 mg /
Oral : 10-15
dosis, diber
6 jam sesua
(<1

BAB IV
KESIMPULAN
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan tersebut diatas maka dapat disimpulkan bahwa
interaksi antara obat dan makanan terjadi dalam tiga fase yaitu fase farmasetis, fase
farmakokinetik, fase farmakodinamik. Dengan mekanisme obat yang telah diminum akan hancur
dan obat terdisolusi (merupakan fase farmasetis), kemudian obat tersebut di absorpsi, transport,
distribusi, metabolism dan ekresi oleh tubuh (merupakan fase farmakokinetik), setelah melewati
fase farmakokinetik maka obat tersebut dapat direspon secara fisiologis dan psikologis
(merupakan fase farmakodinamik)
2. Efek samping pemberian obat-obatan yang berhubungan dengan gangguan GI (gastrointestinal)
dapat berupa terjadinya mual, muntah, perubahan pada pengecapan, turunnya nafsu makan,
mulut kering atau inflamasi/ luka pada mulut dan saluran pencernaan, nyeri abdominal (bagian
perut), konstipasi dan diare. Efek samping seperti di atas dapat memperburuk konsumsi makanan
si pasien. Ketika pengobatan dilakukan dalam waktu yang panjang tentu dampak signifikan yang
memperngaruhi status gizi dapat terjadi.
3. Interaksi obat- mikronutrien meliputi Inkompatibilitas obat IV, Kekurangan-kekurangan PVC
(polivinilklorida), Reaksi Maillard
1.

4.2Saran
Untuk menghindari interaksi obat yang tidak diinginkan maka sebaiknya
Bacalah label obat dengan teliti, apabila kurang memahami dapat ditanyakan dengan dokter
yang meresepkan atau apoteker
Baca aturan pakai, label perhatian dan peringatan interaksi obat yang tercantum dalam
label atau wadah obat. Bahkan obat yang dijual bebas juga perlu aturan pakai yang disarankan
Sebaiknya minum obat dengan segelas air putih
Jangan campur obat dengan makanan atau membuka kapsul kecuali atas petunjuk dokter
Vitamin atau suplemen kesehatan sebaiknya jangan diminum bersamaan dengan obat karna
terdapat beberapa jenis vitamin dan mineral tertentu yang dapat berinteraksi dengan obat
Jangan pernah minum obat bersamaan dengan minuman yang mengandung alcohol
Sebelum mengkonsumsi obat, sebaiknya konsultasikan dahulu dengan dokter atau apoteker
untuk mengetahui aturan pakai yang tepat. Dan juga saat konsultasi dengan dokter, beritahukan
semua obat atau vitamin yang sedang dikonsumsi saat ini untuk mencegah terjadinya interaksi.

13

DAFTAR PUSTAKA
http://www.drugs.com/drug_information.html
http://interaksiobatdanmakanan/adropofinkcanmakeamillionpeoplethink.htm
http://hendrahadi.wordpress.com
http://www.untukku.com/artikel-untukku/interaksi-obat-apa-yang-patut-anda-ketahuiuntukku.html
http://ndrasendana.blogspot.co.id/2014/06/interaksi-obat-dalam-proses-absorpsi.html
Center for Drug Evaluation and Research (CDER). In Vivo Drug Metabolism/Drug
Interaction Studies Study Design, Data Analysis, and Recommendations for Dosing and
Labeling. 1999
Larry K. Fry and Lewis D. Stegink Formation of Maillard Reaction Products in Parenteral
Alimentation Solutions J. Nutr. 1982 112: 1631-1637
Stadler RH, Blank I, Varga N, Robert F, Hau J, Guy PA, Robert MC, Riediker S. Acrylamide
from Maillard reaction products. Nature. 2002 Oct 3;419(6906):449-50.

14