Anda di halaman 1dari 16

ANALISIS PENGARUH PENGARUH PELAKSANAAN STRUKTUR BANGUNAN

GEDUNG DENGAN BERBAGAI KONDISI DAN TAHAPAN TERHADAP


EKSENTRISITAS KOLOM BETON BERTULANG

A. LATAR BELAKANG
Setiap bangunan gedung, strukturnya harus direncanakan kuat/kokoh,
dan stabil dalam memikul beban/kombinasi beban dan memenuhi persyaratan
kelayanan (serviceability) selama umur layanan yang direncanakan dengan
mempertimbangkan

fungsi

bangunan

gedung, lokasi,

keawetan,

dan

kemungkinan pelaksanaan konstruksinya. Kemampuan memikul beban


diperhitungkan terhadap pengaruh-pengaruh aksi sebagai akibat dari bebanbeban yang mungkin bekerja selama umur layanan struktur, baik beban
muatan tetap maupun beban muatan sementara yang timbul akibat gempa
dan angin.
Pada persyaratan keandalan bangunan gedung, kemampuan struktur
bangunan gedung yang stabil dan kokoh dalam mendukung beban muatan
disyaratkan

hingga

dengan

kondisi

pembebanan

maksimum

dalam

mendukung beban muatan hidup dan beban muatan mati, serta untuk
daerah/zona tertentu kemampuan untuk mendukung beban muatan yang
timbul akibat perilaku alam. Besarnya beban muatan dihitung berdasarkan
fungsi bangunan gedung pada kondisi pembebanan maksimum dan variasi
pembebanan agar bila terjadi keruntuhan pengguna bangunan gedung masih
dapat menyelamatkan diri.
Perencanaan pembebanan standar untuk gedung diantaranya portal
gedung tersebut dianalisis dengan pembeban maksimum, baik beban hidup
maupun beban mati, begitu juga dengan beban gempa atau angin yang
bekerja pada struktur bangunan tersebut. Sedang realisasinya di lapangan
tidak demikian atau tidak sesuai dengan asumsi pembebanan standar
tersebut, kecuali bangunan sudah selesai dibangun.
Kolom struktur bangunan yang dibangun secara bertahap, mulai dari
lantai dasar, lantau satu, lantai dua dan seterusnya, tentu akan mengalami
beban aksial yang lebih kecil dibandingkan dengan beban aksial yang bekerja
pada kolom pada saat bangun telah selesai dilaksanakan keseluruhan
1

tingkatnya.

Seiring

dengan

itu

pembanguan

secara

bertahap

akan

menyebabkan eksentritas gaya yang besar, karena momen yang bekerja


besarnya tetap sedangkan beban aksial kecil.
Terjadinya eksentrisitas kolom yang besar meskipun beban aksial lebih
kecil, dengan berbagai kondisi tahapan pembangunan di lapangan belum
tentu

tentu

menyebabkan

struktur

kolom

lebih

aman

dibandingkan

perencanaan awal dengan beban standar. Karena kegagalan kolom bisa


disebabkan

oleh

beban

aksial

maupun

oleh

beban

momen

akibat

eksentrisitas beban. Menurut (Nawy, 1990), Berdasarkan posisi beban


terhadap penampang melintang, kolom dapat diklasifikasikan atas kolom
dengan beban sentris dan kolom dengan beban eksentris. Kolom yang
mengalami

beban

sentris

berarti

tidak

mengalami

momen

lentur.

Kenyataannya hampir tidak ada kolom yang dibebani secara aksial sempurna
karena disebabkan oleh hal-hal tidak terduga, seperti tidak tepatnya
pembuatan acuan beton dan sebagainya.
Berdasarkan fakta tersebut, karena perencanaan gedung bertingkat
harus dipikirkan dengan matang karena menyangkut investasi dana yang
jumlahnya tidak sedikit. Berbagai hal perlu ditinjau yang meliputi beberapa
kriteria, yaitu 3S: strength, stiffness, dan serviceability. Maka, perlu diadakan
suatu analisis tentang pengaruh eksentrisitas kolom struktur gedung akibat
pelaksanaannya di lapangan dengan berbagai kondisi dan tahapan terhadap
perencanaan pembebanan standar.
B. IDENTIFIKASI MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan di atas
dapat dirumuskan beberapa permasalahan, antara lain sebagai berikut ini.
1. Sampai seberapa jauh pengaruh eksentrisitas beban yang bekerja pada
kolom antara perencanaan beban standar dengan kekuatan kolom
pelaksanaan dengan berbagai kondisi?
2. Berapakah rasio kekuatan kolom hasil perbandingan antara perencanaan
beban standar dengan kekuatan kolom pelaksanaan dengan berbagai
kondisi ?
3. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi besarnya eksentrisitas beban
aksial kolom?
C. TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan sebagai berikut ini.

1. Menentukan sampai besarnya pengaruh eksentrisitas beban yang bekerja


pada kolom antara perencanaan beban standar dengan kekuatan kolom
pelaksanaan dengan berbagai kondisi.
2. Menetukan besarnya rasio kekuatan kolom hasil perbandingan antara
perencanaan beban standar dengan kekuatan kolom pelaksanaan dengan
berbagai kondisi.
3. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi eksentrisitas gaya aksial
kolom.
D. MANFAAT PENELITIAN
Penelitian ini juga diharapkan dapat memberi manfaat untuk berbagai
pihak, baik pengguna jasa konstruksi, penyedia jasa konstruksi, dan peneliti
sendiri. Manfaat tersebut antara lain sebagai berikut ini.
1. Sebagai panduan kepada perencana konstruksi dalam mendesain suatu
kolom dengan eksentrisitas besar.
2. Agar tidak terjadi kegagalan struktur dalam pelaksanaannya.
E. BATASAN MASALAH
1. Penelitian dilakukan hanya pada kolom eksentrisitas.
2. Menggunakan SNI Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan
Gedung Tahun 2002 (SNI 2847-2002).
3. Mutu beton, mutu baja, ukuran kolom, jenis tulangan, diameter tulangan
dibatasi.
F. TINJAUAN PUSTAKA
F.1 Umum
Struktur adalah sarana untuk menyalurkan beban yang bekerja pada
bangunan kedalam tanah dan pada umumnya struktur merupakan gabungan
dari beberapa elemen yang bekerja sebagai satu kesatuan dalam memikul
beban. Struktur juga dapat didefenisikan sebagai entitas fisik yang memiliki
sifat keseluruhan yang dapat dipahami sebagai suatu organisasi unsur-unsur
pokok yang ditempatkan dalam suatu ruang yang didalamnya karakter
keseluruhan itu mendominasi interelasi bagian-bagiannya (Shodek, 1998:3).
Suatu bangunan gedung beton bertulang yang berlantai banyak sangat
rawan terhadap keruntuhan jika tidak direncanakan dengan baik. Oleh karena
itu, diperlukan suatu perencanaan struktur yang tepat dan teliti agar dapat
memenuhi

kriteria

kekuatan

(strenght),

kenyamanan

(serviceability),

keselamatan (safety), dan umur rencana bangunan (durability) (Hartono,


1999)
Pada suatu konstruksi bangunan gedung, kolom berfungsi sebagai
pendukung beban-beban dari balok dan pelat, untuk diteruskan ketanah
3

dasar melalui pondasi. Beban dari balok dan pelat ini berupa beban aksial
tekan serta momen lentur (akibat kontinuitas konstruksi). Oleh karena itu
dapat didefinisikan, kolom ialah suatu struktur yang mendukung beban aksial
dengan atau tanpa momen lentur. Balok dapat didefinisikan sebagai salah
satu dari elemen struktur portal dengan bentang arah horizontal, sedangkan
portal merupakan kerangka utama dari struktur bangunan, khususnya
bangunan gedung (Asroni, 2010).
F.2 Pengertian Kolom
Kolom adalah batang tekan vertikal dari rangka (frame) struktural yang
memikul beban dari balok. Kolom meneruskan beban-beban dari elevasi atas
ke elevasi yang lebih bawah hingga akhirnya sampai ke tanah melalui
pondasi. Karena kolom merupakan komponen tekan, maka keruntuhan pada
satu kolom merupakan lokasi kritis yang dapat menyebabkan collapse
(runtuhnya) lantai yang bersangkutan dan juga runtuh total (ultimate total
collapse) seluruh strukturnya. (Nawy, 1990).
Pemahaman mengenai eksentrisitas sangat dibutuhkan di kala
perencanaan suatu struktur kolom. Menurut Schodek pada tahun 1991, kolom
dapat dikategorikan berdasarkan panjangnya. Kolom pendek adalah jenis
kolom yang kegagalannya berupa kegagalan material (ditentukan oleh
kekuatan material). Keruntuhan kolom dapat terjadi apabila tulangan bajanya
leleh karena tarik, atau terjadinya kehancuran pada beton yang tertekan.
Selain itu dapat pula kolom mengalami keruntuhan apabila terjadi kehilangan
stabilitas lateral, yaitu terjadi tekuk. Apabila kolom runtuh karena kegagalan
materialnya (yaitu lelehnya baja atau hancurnya beton), kolom diklasifikasikan
sebagai kolom pendek (short column). Apabila panjang kolom bertambah,
kemungkinan kolom runtuh karena tekuk semakin besar. Dengan demikian
ada suatu transisi dari kolom pendek (runtuh karena material) ke kolom
panjang (runtuh karena tekuk) yang terdefinisi dengan perbandingan panjang
efektif klu dengan jari-jari girasi r. Tinggi lu adalah panjang tak tertumpu
(unsupported length) kolom, dan k adalah faktor yang bergantung pada
kondisi ujung kolom, dan kondisi adakah penahan deformasi lateral atau
tidak. (Nawy, 1990)

Kolom panjang adalah kolom yang kegagalannya ditentukan oleh tekuk


(buckling), jadi kegagalannya adalah kegagalan karena ketidakstabilan, bukan
karena kekuatan. (Schodek, 1991)
F.3 Kolom Beban Eksentris
Apabila beban tekan P berimpit dengan sumbu memanjang kolom,
berarti tanpa eksentrisitas, perhitungan teoritis menghasilkan tegangan tekan
merata pada permukaan penampang melintangnya. Sedangkan apabila gaya
tekan tersebut bekerja di suatu tempat berjarak e terhadap sumbu
memanjang, kolom cenderung melentur seiring dengan timbulnya momen M =
P(e). Jarak e dinamakan eksentrisitas gaya terhadap sumbu kolom. Tidak
sama halnya seperti pada kejadian beban tanpa eksentrisitas, tegangan tekan
yang terjadi tidak merata pada seluruh permukaan penampang tetapi akan
timbul lebih besar pada suatu sisi terhadap sisi lainnya (Dipohusodo, 1994).
Kolom akan melentur akibat momen, dan momen tersebut akan
cenderung mengakibatkan tekanan pada satu sisi kolom dan tarikan pada sisi
lainnya. Gambar 1 memperlihatkan kolom yang memikul beban Pn. Dalam
beberapa bagian dari gambar beban ditempatkan pada eksentrisitas yang
semakin besar (sehingga menghasilkan momen yang lebih besar) sampai
akhirnya dalam bagian (f) kolom menerima momen lentur yang besar
sehingga pengaruh beban aksial diabaikan. Setiap kasus dari keenam kasus
tersebut dibahas secara singkat dalam paragraf berikut dengan huruf (a)
sampai dengan (f) menunjuk pada huruf yang sama seperti pada gambar.
Keruntuhan kolom dianggap terjadi jika regangan beton tekan mencapai
0,003 atau jika tegangan tarik baja mencapai fy. (McCormac, 2004)
(a) Beban aksial besar dan momen diabaikan. Untuk situasi ini, keruntuhan
akan terjadi oleh hancurnya beton, dengan semua tulangan dalam kolom
mencapai tegangan leleh dalam tekanan.
(b) Beban aksial besar dan momen kecil sehingga seluruh penampang
tertekan. Jika suatu kolom menerima momen lentur kecil (yaitu, jika
eksentrisitas kecil), seluruh kolom akan tertekan tetapi tekanan di satu sisi
akan lebih besar dari sisi lainnya. Tegangan tekan maksimum dalam
kolom akan sebesar 0,85 fc dan keruntuhan akan terjadi oleh runtuhnya
beton dan semua tulangan tertekan.
(c) Eksentrisitas lebih besar dari kasus (b) sehingga tarik terjadi pada satu sisi
kolom. Jika eksentrisitas ditingkatkan dari kasus sebelumnya, gaya tarik
5

akan mulai terjadi pada satu sisi kolom dan baja tulangan pada sisi
tersebut akan menerima gaya tarik yang lebih kecil dari tegangan leleh.
Pada sisi yang lain tulangan akan mendapat gaya tekan. Keruntuhan akan
terjadi karena hancurnya beton pada sisi yang tertekan.
(d) Kondisi beban berimbang. Saat eksentrisitas terus ditambah, akan
tercapai suatu kondisi dimana tulangan pada sisi tarik akan mencapai
leleh dan pada saat bersamaan beton pada sisi lainnya akan mencapai
tekan maksimum 0,85 fc. Situasi ini disebut kondisi pada beban
berimbang.
(e) Momen besar, beban aksial relatif kecil. Jika eksentrisitas terus ditambah,
keruntuhan terjadi akibat tulangan meleleh sebelum hancurnya beton.
(f) Momen lentur besar. Pada kondisi ini, keruntuhan terjadi seperti halnya
pada sebuah balok.
Apabila beban bekerja eksentris (yaitu tidak bekerja di pusat berat
penampang melintang), maka distribusi tegangan yang timbul tidak akan
merata. Efek beban eksentris menimbulkan momen lentur pada elemen yang
berinteraksi dengan tegangan tekan langsung. Bahkan, apabila beban itu
mempunyai eksentrisitas yang relatif besar, maka di seluruh bagian
penampang yang bersangkutan dapat terjadi tegangan tarik. (Schodek, 1991)

Gambar 1. Kolom Menerima Beban dengan Eksentrisitas yang Terus


Diperbesar
(McCormac, 2004)

F.4 Penelitian Sejenis Yang Telah Dilakukan


Dalam penelitian ini mengambil beberapa penelitian sebelumnya yang
dijadikan sebagai pedoman dalam pelaksanaan dan penyusunan penelitian
ini. Dimana penelitian-penelitian tersebut adalah Regen Loudewik Kahiking,
dkk: 2013, Asdam Tambusay, dkk: 2012, dan Ricky Christiyanto: 2010.
Regen Loudewik Kahiking, dkk (2013) dalam jurnal yang berjudul
Evaluasi Struktur Kolom Kuat Balok Lemah Pada Bangunan Beton Bertulang
Dengan Metode Desain Kapasitas Studi Kasus Bangunan Sekolah SMA
Donbosco Manado. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kemampuan
struktur balok dan struktur kolom pada struktur bangunan gedung SMA
Donbosco Manado dengan metode desain kapasitas. Metode penelitian yang
diterapkan dalam penelitian ini adalah observasi merupakan metode
pengumpulan data dengan cara peninjauan dan pengamatan langsung, studi
pustaka yang membahas kerangka konseptual permasalahan, penentuan
tinjauan, kategori penulisan, dan prinsip-prinsip desain dan analisis. Hasil dari
penelitian ini adalah pada pembangunan sekolah SMA Donbosco Manado ini
asumsi awal dalam perencanaan dimensi balok untuk tinggi balok 1/13
bentang, sedangkan untuk lebar balok 1/2 dari tinggi balok untuk portal
bangunan arah X dimana nilai momen rencana 1,03 kali lebih besar dari
Momen Ultimate, untuk nilai geser rencana 1,54 kali lebih besar dari geser
ultimate. Sedangkan untuk portal arah Y dimensi tinggi struktur balok
diasumsi 1/10 bentang untuk lebar balok 2/3 tingi balok, dimana nilai Momen
Rencana yang diperoleh 1,80 kali lebih besar dari Momen Ultimate dan untuk
geser rencana 1,54 kali lebih besar dari geser ultimate, hasil analisis
kemampuan struktur kolom dimana nilai gaya aksial rencana 3,66 kali lebih
besar dari gaya aksial ultimate, nilai momen rencana 1,14 kali lebih besar dari
nilai momen ultimate dan gaya geser rencana 1,25 kali lebih besar dari gaya
geser ultimate.
Asdam Tambusay, dkk (2012) dalam jurnal yang berjudul Tinjauan
Perencanaan Super Struktur Gedung Universitas Patria Artha. Penelitian ini
bertujuan melakukan evaluasi dan review disain pada super struktur gedung
Universitas Patria Artha, dimana struktur bangunan gedung universitas ini
8

terdiri dari 4 lantai yang mana disain awal gedung ini terkesan tidak ekonimis.
Metode penelitian yang diterapkan dalam penelitian ini adalah menggunakan
metode studi pustaka, yang membahas kerangka konseptual permasalahan,
penentuan tinjauan, kategori penulisan, metode dan prinsip-prinsip desain
dan analisis, penyesuaian tipe perencanaan dengan fungsi struktur serta
keoptimalan dan keekonomisan hasil desain yang dilakukan peneliti dengan
mengacu pada peraturan pemerintah yaitu Standar Nasional Indonesia yakni
SNI 03-2847-2002 dan SNI 03-1726-2002. Hasil dari penelitian ini adalah
penentuan dimensi balok tergantung pada jenis tumpuannya dan jarak antar
tumpuan atau bentang portal bangunan, dimana penetuan dimensi balok
yang digunakan asumsi awal yaitu untuk tinggi dimensi struktur balok 1/12
bentang dan untuk lebar struktur balok menggunakan asumsi awal yaitu 2/3
tinggi balok disamping itu, penentuan besar dimensi balok harus memenuhi
syarat perbandingan lebar terhadap tinggi tidak boleh kurang dari 0,3 dan
lebarnya tidak boleh kurang dari 250 mm, adapun hasil dari perencanaan
struktur balok dengan asumsi awal yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu
untuk nilai momen rencana 1,12 kali lebih besar dari Momen Ultimate untuk
nilai gaya geser rencana 1,60 kali lebih besar dari gaya geser ultimate,
Penentuan dimensi kolom didasarkan pada asumsi kolom tengah yang
memikul beban tersebar akibat beban balok dan pelat yang telah didistribusi
ke kolom, Dalam perencanaan dan perhitungan struktur atas bangunan, dari
analisa struktur dengan program SAP2000 diperoleh bahwa gaya-gaya dalam
yang terjadi pada kolom (gaya aksial) yang bekerja pada kolom struktur,
semakin ke bawah semakin besar nilainya.
Ricky Cristiyanto, (2010) meneliti tentang Perencanaan Struktur
Gedung Rusunawa Unimus. Penelitian ini bertujuan melakukan perencanaan
kembali gedung rusunawa unimus dimana perencanaan awal gedung ini
hanya memiliki 4 lantai kemudian dilakukan penyesuaian terhadap kebutuhan
jumlah lantai menjadi 6 lantai. Metode penelitian yang diterapkan dalam
penelitian ini adalah melakukan survey lokasi proyek yang akan dilakukan
pembangunan,

melakukan

studi

pustaka

yang

membahas

kerangka

konseptual permasalahan, penentuan tinjauan penelitian, kategori penulisan,


metode dan prinsip-prinsip desain dan analisis, melakukan penyesuaian tipe
9

perencanaan dengan fungsi struktur, hasil desain struktur mengacu pada


persyaratan Standar Nasional Indonesia SNI 03-2847-2002 dan SNI 03-17262002. Hasil dari penelitian ini perencanaan pondasi menggunakan pondasi
bore pile, untuk perencanaan dimensi struktur balok menggunakan asumsi
awal 1/10 sampai dengan 1/15 bentang dan lebar dimensi struktur balok 1/2
sampai dengan 2/3 tinggi balok adapun kemampuan struktur menerima
beban yaitu nilai momen rencana 1,15 kali lebih besar dari Momen Ultimate,
untuk nilai gaya geser rencana 1,67 kali lebih besar dari gaya geser ultimed
dan untuk perhitungan kolom dilakukan analisis kolom menerima beban
eksentrisitas besar dimana nilai momen rencana 5,58 kali lebih besar dari
Momen Ultimate dan nilai gaya aksial rencana 2,26 kali lebih besar dari gaya
aksial ultimate.
F.5 Perbedaan Penelitian
Dari hasil penelitian review disain struktur atas (upper structure) yang
telah dilaksanakan terdapat beberapa perbedaan antara penelitian terdahulu
yaitu dalam penelitian yang dilakukan Regen Loudewik Kahiking, melakukan
evaluasi struktur bangunan gedung SMA Donbosco Manado dengan metode
desain kapasitas, dimana struktur hanya dilakukan perhitungan analisis
kemampuan

struktur.

Sedangkan

penelitian

yang

dilakukan

peneliti,

melakukan evaluasi asumsi awal dimensi struktur atas (struktur balok dan
stuktur kolom). Melakukan evaluasi kemampuan struktur balok dan struktur
kolom. Melakukan review disain struktur atas (struktur balok dan struktur
kolom) yang tidak memenuhi syarat dan ketentuan sesuai SNI 03-2847-2002.
Asdam Tambusay, penelitian yang dilakukan peneliti terdahulu yaitu
melakukan review disain terhadap bangunan gedung universitas patria artha
yang dianggap tidak ekonomis, peneliti melakukan review disain terhadap
struktur pelat lantai, struktur balok, dan struktur kolom dimana struktur
bangunan gedung terdiri dari 4 lantai. Adapun perbedaan penelitian yang
dilakukan saat ini yaitu peneliti melakukan evaluasi terhadap dimensi struktur
balok, melakukan evaluasi terhadap kemampuan struktur balok dan struktur
kolom berdasarkan SNI 03-2847-2002 dan melukan review disain struktur
balok dan struktur kolom yang tidak memenuhi persyaratan minimum.
10

Ricky Cristiyanto, melakukan penelitian perencanaan bangunan


gedung rusunawa unimus dimana struktur gedung ini awalnya direncanakan
terdiri dari 4 lantai dan dilakukan perencanaan kembali yang terdiri dari 6
lantai dan dalam penelitiannya peneliti melakukan perencanaan ulang
kembali struktur bawah (sub structure) dan struktur atas (upper structure)
yang disesuaikan dengan jumlah lantai yang telah disesuaikan yaitu 6 lantai.
Perbedaan penelitian yang dilaksanakan saat ini yaitu peneliti melakukan
evaluasi terhadap struktur bangunan yang telah direncanakan dan jumlah
lantai bangunan tetap yaitu 3 lantai dan melakukan review disain terhadap
struktur atas (struktur balok dan struktur kolom) yang tidak sesuai dengan
ketentuan peraturan Standar Nasional Indonesia (SNI 03-2847-2002).
G. METODOLOGI PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini meliputi teknik
pengumpulan data, pengolahan data/perhitungan, studi literatur, dan analisis
hasil perhitungan.
G.1 Bagan Alir Penelitian
Adapun langkah-langkah penelitian pelaksanaan yang dilakukan dalam
penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 2.
Mulai

Menentukan Parameter
Struktur

Input Data:

-Bentuk Portal (4x1 4x4)


-Jumlah Lantai (1-10)
Permodelan Kondisi dan Tahapan -Panjang bentang (6-12 m)
-Dimensi Struktur (SNI 2002)
-Pembebanan (SNI 2002)

Bertahap, artinya struktur tsb:


Dibangun tingkat demi tingkat
Jumlah 10 lantai
Untuk > 10 lantai = regresi korelasi
-

Tidak Bertahap 11
(Pembebanan Aksial
Standar)

Variasi Permbebanan
Kondisi I
Struktur
hanya
dipengaruhi
Berat Sendiri
Struktur (BS)

Kondisi II
Struktur
dipengaruhi
Berat Sendiri
Struktur (BS)
dan Beban
Mati (DL)

Kondisi III
Struktur
dipengaruhi
Berat Sendiri
Struktur (BS),
Beban Mati (DL),
dan Beban
(LL)
Analisis Pengaruh Beban AksialHidup
(P) terhadap

Kondisi IV
Struktur
dipengaruhi
Berat Sendiri
Struktur (BS),
Beban Mati (DL),
dan Beban
Gempa (E)

eksentrisitas (e) kolom dengan berbagai variasi


Permodelan
Permodelan I
1. Pengaruh P
terhadap e pada
kondisi I, II, dan
III.
2. Portal (4x1)
3. Bentang = 6 m

Permodelan II
1. Variasi portal:
4x1, 4x2, 4x3,
dan 4x4
2. Bentang = 6 m
3. Pengaruh P
terhadap
e
hanya
pada
kondisi II.

Permodelan III
1. Variasi
bentang: 6-12 m
2. Potal (4x4)
3. Pengaruh P
terhadap e hanya
pada kondisi II.

Permodelan IV
1. Bentang = 6 m
2. Potal (4x1)
3. Pengaruh P
terhadap e hanya
pada kondisi IV.

Pembahasan Pengaruh Beban Aksial (P) terhadap


eksentrisitas (e) kolom dari berbagai variasi
permodelan
Pembahasan pengaruh deviasi
eksentrisitas (e) terhadap desain
struktur
Kesimpulan/saran

Selesai
12

Gambar 2. Bagan Alir Penelitian

G.2 Teknik Pengumpulan Data


Pengumpulan data dilakukan dengan metode dengan uraian sebagai
berikut.
1. Pengambilan Data Parameter Struktur
Parameter strukur yang digunakan seperti bentuk portal, jumlah
lantai/tingkat, panjang bentang, dimensi struktur dan pembebanan.
2. Variasi Pembebanan
Pembebanan divariasikan sebagai berikut:
a. Kondisi I
Struktur dibangun secara bertahap, tingkat demi tingkat hingga
mencapai 10 lantai, tetapi struktur tersebut belum dapat digunakan
karena baru dibebani oleh berat sendiri struktur (BS) saja.

Gambar 3. Contoh Struktur Kondisi I


b. Kondisi II
Struktur dibangun secara bertahap, tingkat demi tingkat hingga
mencapai 10 lantai, tetapi struktur tersebut juga belum dapat
digunakan karena baru dibebani oleh berat sendiri struktur (BS) dan
beban mati (DL).

13

Gambar 4. Contoh Struktur Kondisi II


c. Kondisi III
Struktur dibangun secara bertahap, tingkat demi tingkat hingga
mencapai 10 lantai, tiap tingkat yang mengalami finishing langsung
dapat digunakan karena sudah dibebani oleh berat sendiri struktur
(BS), beban mati (DL), dan beban hidup (LL).

Gambar 5. Contoh Struktur Kondisi III


d. Kondisi IV
Struktur pada Kondisi IV sama seperti kondisi II yaitu struktur dibangun
secara bertahap, tingkat demi tingkat hingga mencapai 10 lantai,
struktur belum dapat digunakan, tetapi pembebanan struktur selain
terdiri oleh berat sendiri struktur (BS) dan beban mati (DL), juga diberi
beban gempa (E).
3. Variasi Permodelan
Permodelan digunakan untuk melihat pengaruh Beban Aksial (P)
terhadap eksentrisitas (e) kolom dengan berbagai variasi, diantaranya
sebagai berikut.
14

a. Permodelan I
Permodelan I untuk melihat pengaruh Beban Aksial (P) terhadap
eksentrisitas (e) pada kondisi I, II, dan III dengan parameter struktur:
- Portal (4x1)
- Bentang = 6 m

Gambar 6. Contoh Permodelan I


b. Permodelan II
Permodelan II untuk melihat pengaruh Beban Aksial (P) terhadap
eksentrisitas (e) dengan variasi bentuk portal, yaitu mulai dari portal 4x1
sampai dengan 4x4, menggunakan bentang = 6 m, sementara hanya
menggunakan Kondisi II.

Gambar 7. Contoh Permodelan II

c. Permodelan III

15

Permodelan III untuk melihat pengaruh Beban Aksial (P) terhadap


eksentrisitas (e) dengan variasi bentang, yaitu mulai dari 6 sampai 7 m,
bentuk portal 4x4, dan hanya menggunakan Kondisi II.

Gambar 8. Contoh Permodelan III


d. Permodelan IV
Permodelan IV untuk melihat pengaruh Beban Aksial (P) terhadap
eksentrisitas (e) dengan adanya penambahan beban gempa (E), yaitu
respon spektrum, dan bentuk portal 4x1.

16