Anda di halaman 1dari 18

KEMENTERIAN

UMUM

PEKERJAAN

PERENCANAAN PEMBANGUNAN SANITASI TERPADU


LAPAS /RUTAN KABUPATEN KARAWANG

D I R E KT O RAT J E N D E R A L C I P TA
K A RYA
D I R E KT O R AT P E N G E M B A N G A N
PLP

LAPORAN ANTARA

P.T TRIO ALSUM SUROPATI

BAB - 3

LIMBAH CAIR
DOMESTIK
3.1 DEFINISI
Limbah cair domestik disini didefinisikan sebagai air limbah yang berasal
dari usaha dan atau kegiatan hunian Lapas Kelas II Kab. Karawang.
Menurut Kep. Men. LH No.112 tahun 2003. Selain itu secara fisik dan
jenis sumber limbah, air limbah domestik dapat diartikan sebagai semua
limbah cair yang berasal dari kegiatan manusia dalam proses dan aktifitas
hidupnya, mulai mandi, cuci, memasak yang dikategorikan dalam grey
water dan air limbah dari WC yang dikategorikan dalam black water.

Karakteristik keduanya mempunyai perbedaan yang cukup signifikan,


sehingga memerlukan pengolahan pendahuluan (pre-treatment) yang
berbeda. Air limbah grey water yang banyak mengandung unsur minyak
dan lemak memerlukan grease/oil trap yang mampu memisahkan minyak
dan lemak dari air limbahnya. Sedangkan air limbah black water dengan
kadar organik dan suspensi/padatan yang tinggi memerlukan unit
septictank yang berfungsi sebagai unit pengendap dan pengurai zat
organik.

3.2 PENGELOLAAN LIMBAH CAIR DOMESTIK


Limbah cair domestik mempunyai karakteristik yang paling dominan yaitu
unsur organik. Beban organik yang berasal dari permukiman (limbah cair
domestik) memiliki potensi yang cukup besar bagi pencemaran air
permukaan. Semakin padat jumlah penduduk yang bermukim di wilayah,
BAB 3 LIMBAH CAIR
LAPORAN FINAL

III - 1

KEMENTERIAN
UMUM

PEKERJAAN

PERENCANAAN PEMBANGUNAN SANITASI TERPADU


LAPAS /RUTAN KABUPATEN KARAWANG

D I R E KT O RAT J E N D E R A L C I P TA
K A RYA
D I R E KT O R AT P E N G E M B A N G A N
PLP

LAPORAN ANTARA

P.T TRIO
ALSUM
SUROPATI yang
maka semakin besar pula beban pencemaran
limbah
domestik

masuk ke badan air penerima (drainase/sungai).

Potensi dari beban limbah domestik, dapat diilustrasi pada gambar


berikut:

Misal beban organic / orang : 400 mg/ l BOD, Q = 100 l/ org/ hr

25 gr/62.5 % dr cuci,
mandi, dapur (grey
water)

22.5 gr BOD
22.5 gr BOD
ke saluran/ sungai
ke saluran/ sungai

Dekomposisi 10 %

35.5 gr BOD / hari (88.8 % )


masuk ke sungai

40 gr BOD/org/hari
BOD/org/hari

15 gr/37.5 % dr WC
(black Water)

Efektifitas 15 - 40 %

9 13 gr BOD ke tanah
9 13 gr BOD ke tanah
atau saluran/sungai
atau saluran/sungai

Gambar 3.1
Ilustrasi Potensi

(Sumber : Bapedal,
Beban 2008)
Pencemaran
Berdasarkan gambaran tersebut Limbah
dapat diketahui bahwa setiap orang telah
Domestik
memberikan konstribusi (membuang) beban limbah domestiknya ke
lingkungan sebesar 36 gr BOD/orang/hari. Kondisi ini cukup jauh
melebihi dari beban limbah yang seharusnya dapat dibuang ke lingkungan
yaitu 10 gr BOD/orang/hari, yaitu mengacu pada baku mutu limbah cair
domestic dengan nilai BOD maximal yang boleh dibuang ke lingkungan
sebesar 100 mg/l.

BAB 3 LIMBAH CAIR


LAPORAN FINAL

III - 2

KEMENTERIAN
UMUM

PEKERJAAN

D I R E KT O RAT J E N D E R A L C I P TA
K A RYA
D I R E KT O R AT P E N G E M B A N G A N
PLP

PERENCANAAN PEMBANGUNAN SANITASI TERPADU


LAPAS /RUTAN KABUPATEN KARAWANG
LAPORAN ANTARA

TRIO tahun
ALSUM SUROPATI
Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. P.T
112
2003 telah

mengatur baku mutu effluent air limbah domestik yang dihasilkan oleh
permukiman/real estate, asrama, apartemen, dan restoran. Dengan
jumlah hunian yang cukup besar, tentunya keberadaan rusunawa juga
memerlukan pengendalian dan pengelolaan limbah cair domestik yang
cukup serius dan memadai.
3.3

PEMILIHAN SISTEM PENGELOLAAN


A. Sistem Individu (On-Site System)
Sistem on-site dari pengolahan air limbah domestik merupakan sistem
pengolahan mandiri/individu dengan kecukupun lahan dan fasilitas telah
dimiliki oleh masing-masing penghasil/sumber limbah. Pengolahan on-site
pada umumnya pada mengolah limbah padat/kotoran manusia dan
limbah cair dari kamar mandi, dapur, cuci dsb. langsung dibuang ke
badan air penerima (drainase, sungai).
Contoh pada pengolahan secara on-site adalah tangki septik (septictank),
cubluk, imhoff tank. Sistem tersebut sistem pengolahan limbah padat dari
permukiman dengan efesiensi pengolahan antara 20 40 % dan sisanya
(efluen limbah cair) masuk ke lingkungan (meresap ke tanah atau ke
badan air). Sistem secara on-site perlu dilakukan penyempurnaan pada
sistem pengolahan sehingga efluent dari sistem on-site aman dibuang ke
lingkungan, sehingga limbah cair dari sumber kegiatan mandi, dapur juga
harus masuk dalam dan diolah dalam sistem tersebut.
B. Sistem Terpusat (Off-site System)
Sistem off-site dalam pengolahan air limbah domestik merupakan sistem
pengolahan yang terpusat pada sistem pengolahan komunal. Sistem ini
didasarkan pada pengolahan limbah cair dalam satu sistem secara
menyeluruh di suatu kawasan/hunian, sistem ini sangat membutuhkan
peran pemerintah dan atau peran pihak ketiga (swasta). Dengan sarana
III - 3

BAB 3 LIMBAH CAIR


LAPORAN FINAL

KEMENTERIAN
UMUM

PERENCANAAN PEMBANGUNAN SANITASI TERPADU


LAPAS /RUTAN KABUPATEN KARAWANG

PEKERJAAN

D I R E KT O RAT J E N D E R A L C I P TA
K A RYA
D I R E KT O R AT P E N G E M B A N G A N
PLP

LAPORAN ANTARA

P.T TRIO
ALSUMperpipaan
SUROPATI
dan prasarana Air Limbah terpusat, terdiri dari
sistem
air

limbah (sewerage) dan sistem pengolahan (IPAL), dimana pemilihan desain


perpipaan dan sistem pengolahan sangat tergantung pada kondisi
lapangan yang ada. Sistem perpipaan dibedakan menjadi perpipaan
(sewerage) yang dilengkapi instalasi pengolah air limbah, shallow sewer
dan small bore sewer untuk mengalirkan air limbah dengan kapasitas dan
luasan daerah pelayanan yang terbatas.
Pengelolaan air limbah domestik dari hunian masal (Lapas) seharusnya
menggunakan system off-site, hal ini didasarkan oleh kondisi bangunan
yang sudah dilengkapi dengan system plumbing terpusat pada satu atau
beberapa titik buangan yang terletak di bangunan. Untuk itu pengelolaan
air limbah domestic di hunian lapas

dapat direncanakan usulan dan

pembangunan unit pre treatment .


3.4

PEMILIHAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN


Teknologi pengolahan limbah cair yang dipilih tergantung pada kondisi
limbah cair yang akan diolah. Karakteristik dan aspek hidrolis dari limbah
cair merupakan variabel yang sangat menentukan dalam pemilihan suatu
teknoogi pengolahan limbah cair. Zat organik merupakan unsur dominan
dari limbah domestik yang dapat dan mudah terurai secara biologis
(biodegradable). Limbah dari toilet/WC biasa disebut dengan black water
mempunyai beban organik yang lebih besar dari pada limbah dari air
bekas cuci, mandi dan dapur yang biasa disebut dengan grey water. Oleh
karena itu pemilihan sistem teknologi pengolahan yang akan diterapkan
adalah sistem pengolahan secara biologis.
Prinsip pengolahan limbah cair menggunakan pengolahan biologis dengan
memanfaatkan metabolisme mikroorganisme (bakteri, fungi, protozoa,
algae) untuk menguraikan kandungan organik dalam limbah. Untuk jenis
limbah tertentu terdapat jenis dan macam mikroorganisme hidup spesifik
yang berhubungan dengan makanan yang terdapat dan tersedia di dalam

BAB 3 LIMBAH CAIR


LAPORAN FINAL

III - 4

KEMENTERIAN
UMUM

PEKERJAAN

PERENCANAAN PEMBANGUNAN SANITASI TERPADU


LAPAS /RUTAN KABUPATEN KARAWANG

D I R E KT O RAT J E N D E R A L C I P TA
K A RYA
D I R E KT O R AT P E N G E M B A N G A N
PLP

LAPORAN ANTARA

P.T TRIO
SUROPATI
air limbah serta kondisi lingkungannya. Dalam
hal ALSUM
ini limbah
sebagai

merupakan sumber makanan bagi mikroorganisme tersebut.


Proses dalam pengolahan biologis dibagi dalam dua klasifikasi penting,
yaitu proses anaerobik dan aerobik, dengan perbedaan mendasar dari
keduanya terletak pada kebutuhan oksigen yang dibutuhkan dalam proses
pengolahannya.
a) Pengolahan secara Anaerobik
Pengolahan biologis anaerobik merupakan pengolahan limbah yang
dalam prosesnya tidak membutuhkan keberadaan oksigen sebagai
syarat dapat hidupnya bakteri, sehingga bakteri yang bekerja disebut
bakteri anaerob.
Keuntungan dari sistem pengolahan anaerobik ini antara lain:
Lumpur yang dihasilkan dari proses pengolahan relatif sedikit dan
lumpur yang dihasilkan relatif stabil dibanding dengan pengolahan
aerobik

konvensional,

sehingga

tidak

membutuhkan

pengolahan

lumpur lagi misalnya seperti sludge digester.


Dapat dihasilkan energi berupa gas methan, namun akan berfungsi
efektif jika debit limbah cukup besar dan kandungan organik cukup
tinggi.
Tahan terhadap flutuasi beban limbah yang besar, sebab debit aliran
yang masuk relatif kecil dibanding dengan dimensi bangunan, yang
disebabkan waktu tinggal yang lama. Sehingga proses anaerobik ini
cocok sebagi pengolahan biologis awal untuk limbah dengan kandungan
organik cukup tinggi sebelum diolah dalam pengolahan aerobik, yaitu
dengan memanfaatkan proses penyederhanaan rantai organik yang
terjadi di proses anaerobik.

BAB 3 LIMBAH CAIR


LAPORAN FINAL

III - 5

KEMENTERIAN
UMUM

PEKERJAAN

PERENCANAAN PEMBANGUNAN SANITASI TERPADU


LAPAS /RUTAN KABUPATEN KARAWANG

D I R E KT O RAT J E N D E R A L C I P TA
K A RYA
D I R E KT O R AT P E N G E M B A N G A N
PLP

LAPORAN ANTARA

P.Ttidak
TRIO ALSUM
Pada beberapa pengolahan dengan beban yang
terlaluSUROPATI
besar dapat

di desain dengan konsep free maintenance dan low energy cost.


Sedangkan kelemahan dari sistem pengolahan anaerobik ini antara
lain:
Membutuhkan waktu tinggal yang lama untuk dapat menguraikan
limbah yang masuk, karena adanya tiga fase pengolahan yaitu
hidrolisis, asidifikasi dan methanogenesis, untuk sistem pengolahan
anaerobik konvensional waktu tinggal yang dibutuhkan antara 30
sampai 60 hari, sedangkan untuk sistem anaerobik yang high rate 15
hari. Namun saat ini telah banyak dikembangkan sistem pengolahan
anaerobik dengan meminimalkan waktu tinggal sehingga dimensi tidak
terlalu besar. (Tchobanoglous, 1995)
Perlu menjaga agar dalam reaktor tidak ada oksigen terlarut dan pH
harus dalam range (6.6 - 7.6), serta alkalinitas yang cukup agar pH
tidak turun drastis setelah proses asifikasi, sebab dalam sistem ini
bekerja dua bakteri yang saling berlawanan, dimana salah satu bakteri
menghasilkan asam (asidifikasi) sedangkan bakteri methanogenesis
membutuhkan pH netral untuk dapat hidup.Perlu mengkondisikan dan
menjaga suhu reaktor pada kondisi minimal suhu mesophilic (30 380
C) agar bakteri dapat bekerja dengan baik.
Beberapa contoh jenis sistem pengolahan anaerobik ini adalah:
Anaerobic Contact Process.
Upflow Anaerobic Sludge Blanket (UASB).
Anaerobic Baffle Reactor (ABR).
Septictank dan sebagainya.
b) Pengolahan secara Aerob
Pengolahan biologis secara aerobik membutuhkan keberadaan oksigen
dalam prosesnya, sehingga bakteri yang bekerja disebut bakteri aerob.
BAB 3 LIMBAH CAIR
LAPORAN FINAL

III - 6

KEMENTERIAN
UMUM

PERENCANAAN PEMBANGUNAN SANITASI TERPADU


LAPAS /RUTAN KABUPATEN KARAWANG

PEKERJAAN

D I R E KT O RAT J E N D E R A L C I P TA
K A RYA
D I R E KT O R AT P E N G E M B A N G A N
PLP

Untuk menambah

kandungan

LAPORAN ANTARA

oksigen

P.T TRIOterdapat
ALSUM SUROPATI
yang
di dalam

pengolahan air limbah dilakukan proses penambahan oksigen (aerasi)


dengan menggunakan peralatan/ aerator. Jumlah penggunaan aerator
disesuaikan dengan jumlah beban pencemar air limbah yang masuk
kedalam pengolahan air limbah. Hal tsb berkaitan dengan jumlah
oksigen yang dibutuhkan dalam proses pengolahan. Sistem pengolahan
aerobik ini paling sering dan berhasil digunakan untuk pengolahan air
limbah di kawasan dengan iklim tropis.
A. Keuntungan dari sistem pengolahan aerobik ini antara lain:
1. Tidak membutuhkan lahan yang luas dibanding anaerobik untuk
debit limbah yang sama, karena waktu tinggal yang dibutuhkan
untuk mengolah relatif lebih cepat ( 6 24 jam).
2. Mampu untuk menerima fluktuasi beban organik meskipun tidak
terlalu besar (fluktuasi beban yang mampu diterima terbatas).
3. Pemecahan

masalah

dalam

pengoperasiannya

lebih

mudah

dibanding dengan sistem anaerobik.


4. Tingkat efisiensi pengolahan cukup tinggi untuk limbah organik
dengan konsentrasi kecil sampai medium.
5. Tidak menimbulkan bau jika dalam prosesnya berjalan dengan
baik.
6. Lebih tidak tahan terhadap shock loading yang terlalu besar.
7. Mudah dalam operasional dan dapat dioperasikan oleh masyarakat
luas termasuk yang berpendidikan rendah.
B. Kelemahan dari sistem pengolahan aerobik antara lain:

BAB 3 LIMBAH CAIR


LAPORAN FINAL

III - 7

KEMENTERIAN
UMUM

PEKERJAAN

D I R E KT O RAT J E N D E R A L C I P TA
K A RYA
D I R E KT O R AT P E N G E M B A N G A N
PLP

1. Membutuhkan

energi

relatif

PERENCANAAN PEMBANGUNAN SANITASI TERPADU


LAPAS /RUTAN KABUPATEN KARAWANG
LAPORAN ANTARA

TRIO ALSUM
SUROPATI
lebih P.Tbesar
karena
adanya

penambahan oksigen dengan proses aerasi.


2. Pada pengolahan aerobik konvensional menghasilkan lumpur yang
cukup besar dari proses pengolahannya, karena fase pertumbuhan
biomass cukup besar.
3. Pada jenis pengolahan limbah aerobik konvensional membutuhkan
pengolahan lumpur, karena lumpur yang dihasilkan relatif tidak
stabil.
4. Membutuhkan bangunan tambahan untuk memisahkan lumpur
dengan air hasil olahan sebelum dibuang.
Beberapa contoh jenis sistem pengolahan aerobik ini adalah sebagai
berikut:
Activated Sludge,
Extended Aeration
Oxidation Ditch,
Trickling Filter,
Rotating Biological Contactor,
Wetland dan sebagainya.

Setiap metode pengolahan diatas memiliki keuntungan dan kelemahan


yang spesifik. Pemilihan jenis pengolahan diatas (sistem anaerobik
dan/atau aerobik) sangat dipengaruhi beberapa pertimbangan di lapangan
antara lain dari segi teknologinya, ketersediaan lahan, aspek pemeliharaan
dan ketepat-gunaan (sesuai/cocok dan dapat dioperasikan/dipelihara oleh
pengguna). Sistem kombinasi anaerobik dan aerobik lebih di khususkan
pada Sistem pengolahan secara off-site dan ketersedian lahan yang luas,
sedangkan pengolahan anaerobik (tunggal) hanya akan diterapkan pada
pengolahan secara on-site.
BAB 3 LIMBAH CAIR
LAPORAN FINAL

III - 8

KEMENTERIAN
UMUM

PEKERJAAN

PERENCANAAN PEMBANGUNAN SANITASI TERPADU


LAPAS /RUTAN KABUPATEN KARAWANG

D I R E KT O RAT J E N D E R A L C I P TA
K A RYA
D I R E KT O R AT P E N G E M B A N G A N
PLP

LAPORAN ANTARA

P.T TRIO
ALSUM SUROPATI
Usulan Acuan Desain yang dipakai dalam pemilihan
teknologi
pengolahan

limbah cair domestik Lapas adalah sebagai berikut :


Kombinasi anaerobik-aerobik anoxic dengan teknologi Anaerobic Baffled
Reactor (ABR) dan Constructed Wetland. Basic design mengacu pada beban
organik (organic loading) limbah domestik permukiman dengan nilai BOD
500 mg/l (medium organik loading untuk grey water).
Tidak adanya penggunaan sarana mekanikal-elektrikal kecuali untuk
sistem pemompaan limbah khusus pada lokasi yang tidak memungkinkan
untuk diterapkan sistem gravitasi. Sehingga pengolahan dengan proses
aerobik tidak menggunakan peralatan aerator.
Sustainable, economicable, tidak spesifik, bukan produk patent seseorang,
dan dapat dikembangkan sebagai sarana pengolahan limbah cair secara
luas.
c)

Teknologi ABR
Pengolahan biologis secara anaerobic yang diusulkan adalah menggunakan
teknologi Anaerobic Baffled Reactor (ABR). Teknologi ABR ini pertama kali
dikembangkan oleh McCarty pada awal tahun 80-an (McCarty, 1981;
McCarty dan Bachman, 1992;).
Keunggulan sistem ABR ini adalah kemampuannya dalam mengatasi
perubahan fluktuasi beban organik limbah dengan menghasilkan kualitas
effluen yang relatif stabil (Barber & Stuckey, 1999). Selanjutnya keunggulan
ABR ini disarikan oleh sebagai berikut:
1. Konstruksi yang mudah dan murah baik dalam operasional maupun
pemeliharaan,

karena

tidak

memerlukan

sarana

mekanikal

dan

elektrikal.

BAB 3 LIMBAH CAIR


LAPORAN FINAL

III - 9

KEMENTERIAN
UMUM

D I R E KT O RAT J E N D E R A L C I P TA
K A RYA
D I R E KT O R AT P E N G E M B A N G A N
PLP

2. Menghasilkan

lumpur

PERENCANAAN PEMBANGUNAN SANITASI TERPADU


LAPAS /RUTAN KABUPATEN KARAWANG

PEKERJAAN

yang

LAPORAN ANTARA

minimal

P.T TRIO ALSUM


SUROPATIproses
dibandingkan
dengan

aerobik.
3. Potensi menghasilkan biogas yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan
sehari-hari. Dimana kapasitas biogass yang dihasilkan sangat tergantung
dari beban organik limbah yang masuk dan kestabilan proses anerobic
dalam reaktor. Pemanfaatan biogas dari unit anaerobik ini tentunya
memerlukan beberapa sarana tambahan, misal : selang penangkap gas,
valve pengatur tekanan, dll.
Reaktor ABR dapat digunakan untuk mengolah air limbah dengan beban
organik tinggi maupun beban organik rendah ataupun air limbah dengan
padatan yang tinggi. Pengolahan limbah dengan

konsentrasi COD yang

rendah (480 - 730 mg/l), meskipun efisiensi yang diperoleh tidak sebesar bila
digunakan limbah dengan konsentrasi besar. Efisiensi pemisahan yang
diperoleh mencapai 75 % untuk COD total dan 84 % untuk COD soluble
(terlarut) (Polprasert, 1992).
Anaerobic Baffle Reactor (ABR) terdiri dari beberapa kompartemen, yang
menghasilkan gas pada tiap kompartemen. Anaerobic Baffle Reactor didesain
dengan menggunakan beberapa baffle vertikal yang mendorong air limbah
mengalir dengan aliran ke atas (upflow) melalui lumpur aktif sehingga terjadi
kontak antara mikroorganisme dan air limbah. Untuk meningkatkan
performace

proses

didalam

reaktor,

maka

design

dari

ABR

dapat

dikombinasikan dengan biofilter sebagai media tumbuh bakteri dalam proses


pengolahan biologis.
Kriteria utama perhitungan dimensi ABR terletak pada:
Ketentuan Beban Organik ( Organic Loading Rate)
Ketentuan Waktu Tinggal ( Hydraulic Loading Rate )
Bakteri

cenderung

tumbuh

dan

berkembang

pada

masing-masing

kompartemen dalam reaktor dengan kecepatan yang relatif lambat, sehingga


BAB 3 LIMBAH CAIR
LAPORAN FINAL

III 10

KEMENTERIAN
UMUM

PEKERJAAN

PERENCANAAN PEMBANGUNAN SANITASI TERPADU


LAPAS /RUTAN KABUPATEN KARAWANG

D I R E KT O RAT J E N D E R A L C I P TA
K A RYA
D I R E KT O R AT P E N G E M B A N G A N
PLP

LAPORAN ANTARA

P.T100
TRIO hari
ALSUM
SUROPATI
dapat menaikkan Solid Retention Time (SRT) selama
pada
Hydraulic

Retention Time (HRT) 20 jam. Air limbah dapat melakukan kontak intim
dengan biomassa aktif yang dilewatinya di dalam reaktor dengan HRT yang
pendek (6-20 jam), sehingga effluen yang dihasilkan bebas dari lumpur
biologis. Melalui konfigurasi ini dapat ditunjukkan bahwa ABR dapat
menghasilkan effisiensi pemisahan COD yang tinggi. HRT yang pendek
membutuhkan ukuran reaktor yamg lebih kecil sehingga menghemat biaya
perawatan.
Keuntungan Anaerobic Baffle Reactor (ABR) adalah:
1.

Konstruksi
a) Desainnya sederhana.
b) Tidak membutuhkan pengadukan mekanik.
c) Mengurangi terjadinya clogging.
d) Mengurangi terjadinya ekspansi sludge bed.
e) Biaya konstruksi rendah.
f)

2.

Biaya operasi dan pemeliharaan rendah

Biomassa.
a) Tidak memerlukan biomassa dengan pengendapan khusus.
b) Pertumbuhan sludge rendah.
c) Solid Retention Time (SRT) tinggi.
d) Tidak memerlukan fixed media atau solid settling chamber.
e) Tidak membutuhkan gas atau pemisahan lumpur.

3.

Operasi
a) HRT rendah.
b) Memungkinkan operasi secara intermitten.
c) Stabil terhadap Hydraulic Shock Loading.
d) Pengoperasian panjang tanpa pembuangan sludge.

BAB 3 LIMBAH CAIR


LAPORAN FINAL

III 11

KEMENTERIAN
UMUM

PERENCANAAN PEMBANGUNAN SANITASI TERPADU


LAPAS /RUTAN KABUPATEN KARAWANG

PEKERJAAN

D I R E KT O RAT J E N D E R A L C I P TA
K A RYA
D I R E KT O R AT P E N G E M B A N G A N
PLP

LAPORAN ANTARA

P.T TRIO ALSUM SUROPATI


e) Tingkat stabilitas tinggi terhadap organic shock.

Gambar 3.2
Unit Anaerobic Baffled Reactor

3.5 TEKNOLOGI WETLAND


Pengolahan biologis secara aerobic yang diusulkan dengan menggunakan
teknologi constructed wetland,dimana definisi dari unit ini adalah suatu
lahan jenuh air dengan kedalaman air kurang dari 0.6 m yang
mendukung

pertumbuhan

tanaman

air,

misalnya

cattail,

bulrush,

umbrella plan, dll. Wetland alami maupun buatan berisi bermacam


tumbuhan dan bakteri yang efektif. (Metcalf & Eddy, 1995).
Dua sistem constructed wetland yang dikembangkan saat ini adalah :
1. Free Water Surface System (FWS)
FWS adalah kolam atau saluran dengan lapisan dasar impermeabel alami
maupun buatan berupa tanah liat yang berfungsi untuk mencegah
rembesan air keluar kolam. Kolam buatan berupa tanah sebagai tempat
hidup emergent plant dengan kedalaman air berkisar antara 0.1 0.6 m.

Gambar 3.3

BAB 3 LIMBAH CAIR


LAPORAN FINAL

Tipikal FWS (natural) Wetland

III 12

KEMENTERIAN
UMUM

PEKERJAAN

PERENCANAAN PEMBANGUNAN SANITASI TERPADU


LAPAS /RUTAN KABUPATEN KARAWANG

D I R E KT O RAT J E N D E R A L C I P TA
K A RYA
D I R E KT O R AT P E N G E M B A N G A N
PLP

LAPORAN ANTARA

P.T TRIO ALSUM SUROPATI

2. Sub-Surface Flow System (SSF)


Sistem pengolahan limbah terjadi karena mengalir melalui tanaman yang
tumbuh pada media berpori. Media yang digunakan antara lain tanah,
kerikil dan gravel. Dalam sistem ini tanaman melalui akar dan rizhoma yang
mentransfer oksigen ke dalam media subsurface dan menciptakan kondisi
aerobik.

Gambar 3.4
Tipikal SSF wetland

Proses

pengolahan

limbah

dalam

wetland

dilakukan

dengan

berbagai

mekanisme, diantaranya :
1. Proses Fisik, meliputi sedimentasi dan filtrasi.
2. Proses Fisik dan Kimiawi, meliputi adsorpsi polutan oleh tanaman,
tanah, dan substrat organik.
3. Proses Biokimia, meliputi :
a.

Biodegradasi bahan organik secara aerobik yang terjadi di zona


perakaran tanaman dan di bagian atas sedimen.

b.

Nitrifikasi oleh bakteri nitrit yang hidup pada batang tanaman


bagian atas lapisan sedimen dan pada akar serta rhizoma tanaman.

c.

Denitrifikasi oleh bakteri yang tinggal di lapisan sedimen dan zona


anaerobik.

d.

Dekomposisi anaerobik yang terjadi pada sedimen atau dasar


kolam.

BAB 3 LIMBAH CAIR


LAPORAN FINAL

III 13

KEMENTERIAN
UMUM

PEKERJAAN

PERENCANAAN PEMBANGUNAN SANITASI TERPADU


LAPAS /RUTAN KABUPATEN KARAWANG

D I R E KT O RAT J E N D E R A L C I P TA
K A RYA
D I R E KT O R AT P E N G E M B A N G A N
PLP

e.

LAPORAN ANTARA

P.T TRIOair
ALSUM
Penyerapan oleh tanaman, Karena kecepatan
yangSUROPATI
rendah dan

padatnya vegetasi sedimentasi dan filtrasi sangat efektif untuk


menyisihkan padatan tersuspensi dan polutan.
Proses pengolahan biologis Wetland dengan memanfaatkan metabolisme bakteri
dan sedimentasi fisik seperti pada pengolahan konvensional. Perbedaan dasar
antara pengolahan konvensional dan sistem wetland adalah pada sistem
konvensional limbah diolah secara cepat dengan energi tinggi dan lingkungan
intensif (dalam reaktor), sedangkan pada wetland pengolahan terjadi lebih
lambat (slow rate) dan umumnya pada lingkungan ekologi yang kurang
terkontrol.
Berikut ini adalah faktor yang mempengaruhi kinerja dari wetland:
a.

Tanaman
Tanaman berfungsi sebagai media tumbuh bakteri, membantu proses
filtrasi, dan memperbaiki permeabilitas. Tanaman mampu meningkatkan
porositas

sehingga

mampu

menstabilkan

permeabilitas

hidraulik.

Tanaman juga berfungsi sebagai pengatur evapotranspirasi pada wetland.


Selain itu tanaman berperan dalam translokasi oksigen ke zona akar.
Keberadaan oksigen di zona akar menstimulasi pertumbuhan bakteri
aerobik dalam air dan media sekitar akar.
Tanaman dapat menjadi sumber karbon bagi mikroorganisme dalam
wetland. Akar tanaman mampu menyerap nutrien yang terdapat dalam
air limbah sebagai unsur hara. Selain itu tanaman memperbesar area
permukaan untuk media tumbuh mikroorganisme baik pada akar,
rhizoma, batang, atau daun serta sebagai penyekat permukaan bed.
Dapat dimungkinkan untuk menggunakan tanaman wetland yang indah
seperti flag (pseudacorus) dan Canna-Lilies. Dengan cara ini sistem
pengolahan air limbah akan menyenangkan secara estetika.
b. Substrat
BAB 3 LIMBAH CAIR
LAPORAN FINAL

III 14

KEMENTERIAN
UMUM

PEKERJAAN

D I R E KT O RAT J E N D E R A L C I P TA
K A RYA
D I R E KT O R AT P E N G E M B A N G A N
PLP

Substrat

digunakan

sebagai

area

PERENCANAAN PEMBANGUNAN SANITASI TERPADU


LAPAS /RUTAN KABUPATEN KARAWANG
LAPORAN ANTARA

TRIO ALSUM SUROPATImedia


melekat P.Tmikroorganisme,

tumbuh tanaman, dan berperan dalam purifikasi air limbah melalui


proses fisik kimia. Substrat mempengaruhi waktu detensi air limbah
dalam

wetland,

waktu

kontak

mikroorganisme

dan

limbah,

dan

ketersediaan oksigen.
c. Mikroorganisme
Mikroorganisme berperan menguraikan bahan organik air limbah baik
secara aerobik maupun anaerobik. Aktifitas mikroorganisme dalam
wetland dapat disamakan dengan aktifitasnya dalam unit pengolahan
konvensional (lumpur aktif) dan Tricling filter. Tumbuhan menyediakan
media penyangga bagi bakteri pengurai zat organik yang tumbuh melekat.
Tumbuhan juga berfungsi untuk menyediakan komponen lingkungan
perairan yang dapat meningkatkan efisiensi pengolahan. Menurut
Polprasert, 1996, jenis mikroorganisme dalam reaktor tumbuhan air lebih
banyak daripada pengolahan activated sludge dan trickling filter.
Prinsip proses reduksi limbah organik oleh unit wetland adalah sebagai berikut :
Filtrasi kekeruhan limbah dan material organik oleh media wetland
yang berfungsi sebagai media filtrasi dan media tumbuh bakteri
(biofilter).
Adsorbsi material organik pada limbah oleh tanaman air yang tumbuh
sebagai media adsorbsi.

BAB 3 LIMBAH CAIR


LAPORAN FINAL

III 15

KEMENTERIAN
UMUM

PEKERJAAN

PERENCANAAN PEMBANGUNAN SANITASI TERPADU


LAPAS /RUTAN KABUPATEN KARAWANG

D I R E KT O RAT J E N D E R A L C I P TA
K A RYA
D I R E KT O R AT P E N G E M B A N G A N
PLP

LAPORAN ANTARA

P.T TRIO ALSUM SUROPATI

Gambar 3.5
Unit Constructed Wetland (SSF)
d) IPAL Fabrikasi
SANFAB
SANFAB sendiri kependekan dari Sanitasi Fabrikasi, yaitu suatu modul
sanitasi

terdesentralisasi

yang

prinsipnya

sama

dengan

DEWATS

konvensional, bedanya hanya pada bahan yang digunakan terbuat dari


fiberglass, bukan beton atau batu bata seperti yang kita temukan di
lokasi-lokasi DEWATS konvensional
Di Indonesia SANFAB di implementasikan sejak tahun 2011. Sampai saat
ini total sekitar 98 KSM SANFAB telah berdiri. KSM yang dengan
sendirinya

juga

merupakan

anggota

AKSANSI

dan

akan

terus

mendapatkan pendampingan dan pembimbingan AKSANSI mulai dari


awal pengoperasian IPAL, sampai monitoring setiap 6 bulan dan satu
tahun setelah pengoperasian IPAL.
DEWATS adalah

teknologi

pengolahan

terdesentralisasi,

tanpa

membutuhkan

air

limbah

listrik,

domestik

yang

Operasional

dan

Perawatan mudah oleh pengguna atau masyarakat, Effluent memenuhi


persyaratan baku mutu lingkungan yang ditetapkan oleh Pemerintah.
Modul DEWATS
DE
WA
T
S

=
=
=
=

Decentralized
Waste Water
Treatment
System

SANFAB sistem pengolahannya meliputi:

BAB 3 LIMBAH CAIR


LAPORAN FINAL

III 16

KEMENTERIAN
UMUM

PERENCANAAN PEMBANGUNAN SANITASI TERPADU


LAPAS /RUTAN KABUPATEN KARAWANG

PEKERJAAN

D I R E KT O RAT J E N D E R A L C I P TA
K A RYA
D I R E KT O R AT P E N G E M B A N G A N
PLP

LAPORAN ANTARA

TRIO ALSUM
SUROPATI dan
1. Pengolahan awal settler dimana terjadiP.Tproses
sedimentasi

pengapungan,
2. Pengolahan

Sekunder

Anaerobik

Baffled

Reactor

dimana

pengolahan terjadi dengan adanya degradasi biologis dengan


memanfaatkan lumpur aktif yang mengendap pada dasar chamber,
3. Dapat di kombinasikan dengan Bio Digester baik konvensional
(konstruksi batu bata) maupun digester Fiber untuk mendapatkan
sumber energy alternatif.
Tabel Pilihan Modul Fiber SANFAB berdasarkan banyaknya Pemakai
PiIlihan
kapasita
s

JumlahJumlah
Jiwa
KK

Sistem

Debit InflowPilihan Modul Fiber


(m3)
Besar tipe 1
Kecil Tipe 2

50

13

Komunal

50

13

MCK*

100

25

Komunal

100

25

MCK*

150

38

Komunal

150

38

MCK*

200

50

Komunal

20

200

50

MCK*

12

250

63

Komunal

25

10

250

63

MCK*

15

10

6
15

4
1

1
5

(2 paralel)
1
(2 paralel)
1

1
2
2

Sumber : Sanfab
* Asumsi ada digester sebagai pre-treatment

MODUL TYPE BESAR

BAB 3 LIMBAH CAIR


LAPORAN FINAL

III 17

KEMENTERIAN
UMUM

PEKERJAAN

D I R E KT O RAT J E N D E R A L C I P TA
K A RYA
D I R E KT O R AT P E N G E M B A N G A N
PLP

PERENCANAAN PEMBANGUNAN SANITASI TERPADU


LAPAS /RUTAN KABUPATEN KARAWANG
LAPORAN ANTARA

P.T TRIO ALSUM SUROPATI

DIGESTER

BAB 3 LIMBAH CAIR


LAPORAN FINAL

III 18