Anda di halaman 1dari 10

Rangkuman Bab 2 Kelompok Akuntansi Manajemen Lanjutan

Disusun Oleh : Irene Nathasia Devi Irvan Ali Mustofa 2015271099 2015271100
Disusun Oleh :
Irene Nathasia Devi
Irvan Ali Mustofa
2015271099
2015271100

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

2016

PENGEMBANGAN SISTEM MANAJEMEN BIAYA

Manajemen Biaya adalah sistem yang didesain untuk menyediakan informasi bagi manajemen untuk pengidentifikasian peluang-peluang penyempurnaan, perencanaan strategi, dan pembuatan keputusan operasional mengenai pengadaan dan penggunaan sumber-sumber yang diperlukan oleh organisasi. Sistem manajemen biaya terintegrasi menunjukkan adanya saling hubungan dengan elemen-elemen sistem lainnya yaitu : (1) sistem desain dan pengembangan, (2) sistem pembelian dan produksi, (3) sistem pelayanan konsumen, dan (4) sistem pemasaran dan distribusi.

  • A. Biaya Langsung dan Tidak Langsung

Biaya Langsung (direct cost)

Merupakan biaya yang terjadi dimana penyebab satu-satunya adalah karena ada

sesuatu yang harus dibiayai. Dalam kaitannya dengan produk, biaya langsung terdiri dari

biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung.

Konsep biaya langsung tidak hanya

mencakuup biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja saja. Jika sebuah perusahaan membebankan biaya ke berbagai kantor di berbagai wilayah penjualan, maka gaji manajer di kantor penjualan pada suatu wilayah merupakan biaya langsung bagi wilayah penjualan tersebut.

Biaya Tidak Langsung (indirect cost)

Biaya Tidak Langsung (indirect cost), biaya yang terjadi tidak hanya disebabkan oleh sesuatu yang dibiayai, dalam hubungannya dengan produk, biaya tidak langsung dikenal dengan biaya overhead pabrik. Contoh lainnya dikaitkan dengan produk, gaji manajer pabrik merupakan biaya tidak langsung, karena biaya ini sama sekali tidak disebabkan oleh proses pembuatan produk.

  • B. Activity Based Costing

Activity Based Costing merupakan sistem akumulasi biaya dan pembebanan biaya ke produk dengan menggunakan berbagai cost driver yang pada tahap awal dilakukan

penelusuran biaya dari aktivitas dan setelah itu menelusuri biaya dari aktivitas ke

produk.

Kapan dibutuhkan Sistem Activity Based Costing? Dimasa lalu, sistem biaya activity

based costing hanya digunakan pada saat: (1) biaya untuk mengukur biaya aktifitas dan

biaya-biaya lainnya menurun, yang dapat disebabkan adanya komputerisasi sistem

penjadwalan dilantai produksi. (2) Activity yang tetap, menaikkan biaya dari penetapan harga. (3) Deferensiasi produk yang tinggi dalam jumlah, ukuran ataupun kompleksitas.

Tahapan Untuk Menerapkan Sistem ABC

  • 1. Mengidentifikasi dan mendefinisikan aktivitas dan pul aktivitas

  • 2. Menelusuri biaya overhead secara langsung ke aktivitas dan objek biaya

  • 3. Membebankan biaya ke pul biaya aktivitas

  • 4. Menghitung tarif aktivitas

  • 5. Membebankan biaya ke objek biaya dengan menggunakan tarif aktivitas dan ukuran aktivitas

  • 6. Menyiapkan laporan manajemen

Ada empat hirarki dalam sistem ABC, yaitu:

  • 1. Output unit-level cost, sumber daya yang berhubungan langsung dengan satuan unit produk atau jasa. Jika produk meningkat maka penggunaan sumber daya ini meningkat, misalnya biaya manufaktur yang berkaitan denga energi, depresiasi mesin, pemeliharaan dan perbaikan mesin adalah sumber daya yang terkait langsung dengan aktivitas pembuatan setiap jenis produk. Biaya ini akan meningkat penggunaannya seiring dengan peningkatan produk atau jasa yang dihasilkan. Pada umumnya biaya output unit-level cost dibebankan ke harga pokok produk atas dasar jam mesin (machine hours).

  • 2. Batch-level cost, sumber daya yang terkait dengan aktivitas dari sekelompok unit produk atau jasa, dari pada satuan produk atau jasa secara individual, misalnya untuk menghasilkan sejumlah produk yang memiliki spesifikasi tertentu dibutuhkan selama waktu setup yang sama. Dalam suatu perusahaan terkadang penanganan bahan membutuhkan biaya yang signifikan, dari mulai melakukan order pembelian, penerimaan bahan, pergudangan sampai dengan pembayaran kepada suplayer, maka diperlukan penanganan bahan secara khusus. Biaya penanganan bahan ini mencakup sejumlah aktivitas order pembelian dan lainnya, maka diperlukan adanya batch. Perhitungan tarif dalam satu batch-level cost dapat lebih dari satu sesuai dengan hasil analisis korelasi antara sumber daya/aktivitas dengan yang dibiayai, misalnya biaya setup dibebankan atas dasar jam mesin, sedangkan biaya penanganan bahan dibebankan atas dasar order pembelian.

(desain) suatu produk harus dilakukan untuk setiap jenis produk secara sendiri- sendiri. Ini memerlukan biaya tersendiri pula, terutama untuk setiap produk pesanan. Biaya ini dibebankan ke harga pokok produk dengan tarif yang sesuai dengan aktivitas desain, dapat berupa luas lantai (jika bangunan).

  • 4. Facility-sustaining cost, sumber daya yang terkait dengan aktivitas yang tidak dapat ditelusuri langsung (untraceable) ke satuan produk atau jasa secara individual, bahkan aktivitas yang mendukung satuan organisasi secara keseluruhan, misalnya biaya administrasi umum (termasuk sewa dan keamanan gedung). Biasanya sulit untuk menetapkan hubungan biaya dengan dasar alokasi biaya, maka kebanyakan perusahaan tidak membebankannya ke harga pokok produk, namun memasukannya sebagai pengurang langsung terhadap pendapatan operasional. Jadi dianggap sebagai biaya periodik (periodical cost). Jika dibebankan ke harga pokok produk atau jasa, maka biaya ini biasanya dialokasikan atas dasar jam tenaga kerja langsung.

Perbandingan antara Sistem Biaya Tradisional dengan Sistem Biaya Activity Based Costing

Suatu perbedaan umum antara sistem ABC dan sistem tradisional adalah homogenitas

dari biaya dalam satu kelompok biaya (cost pool). ABC mengharuskan perhitungan kelompok biaya (cost pool) suatu aktivitas, maupun identifikasi suatu pemicu aktivitas untuk setiap aktivitas yang signifikan dan mahal. Akibatnya, harus lebih hati-hati dalam membentuk kelompok biaya (cost pool) dalam sistem ABC dibandingkan dalam perhitungan biaya tradisional. Perbedaan lain antara sistem ABC dan sistem tradisional yaitu bahwa semua sistem ABC adalah sistem perhitungan biaya dua tahap, sementara sistem tradisional bisa merupakan sistem perhitungan satu atau dua tahap. Dalam sistem ABC, tahap pertama kelompok biaya (cost pool) aktivitas dibentuk ketika biaya sumber daya dialokasikan ke aktivitas berdasarkan pemicu sumber daya. Di tahap kedua, biaya aktivitas dialokasikan dari kelompok biaya aktivitas ke produk atau objek biaya final lainnya.

  • C. Activity Based Costing with Idle Capacity

Dalam akuntansi biaya tradisional, tarif overhead yang ditentukan dimuka dihitung dengan membagi anggaran biaya overhead dengan ukuran aktivitas yang dianggarkan seperti anggaran jam kerja langsung. Praktek seperti ini akan mengakibatkan pembebanan kapasitas yang menganggur ke produk dan juga akan menyebabkan biaya produksi per unit tidak stabil. Jika anggaran aktivitas turun, tarif overhead akan meningkat karena komponen tetap dalam overhead hanya digunakan untuk jumlah produk yang lebih sedikit sehingga biaya produksi per unit akan meningkat. Berlawanan dengan akuntansi biaya tradisional, dalam ABC produk

hanya dibebani biaya dari kapasitas yang digunakan dan tidak dibebani oleh biaya kapasitas yang tidak digunakan.Pendekatan ini menyebabkan biaya per unit yang lebih stabil dan konsisten dengan tujuan pembebanan biaya ke produk yang menyebabkan aktivitas.

  • D. Time Driven Activity Based Costing

Sejarah Time Driven Activity Base Costing

Ketidakpastian lingkungan bisnis menyebabkan sistem pembiayaanterus mengalami perkembangan dan perbaikan. Traditional ABC muncul padatahun 1980an menggantikan traditional costing. Kemudian pada tahun 2003,konsep Time-Driven ABC mulai diperkenalkan dan dikembangkan untukmerevisi Traditional ABC. Berikut ini sejarah perkembangan Time-DrivenABC:

1. Era Traditional Costing (Tahun 1925 sampai dengan tahun 1980an)Pada saat era penggunaan traditional costing, lingkungan bisnis masihstabil, tidak ada kompetisi baik dari dalam negeri maupun luar negeri, dandiferensiasi produk masih rendah. Hal ini menyebabkan sistem pengendalianbiaya tidak terlalu penting bagi perusahaan. Sistem akuntansi manajementradisional cenderung berproduksi berdasarkan informasi besarnya biayayang dialokasikan pada produk dengan metode sederhana dan berubahubah,dan alokasinya seringkali tidak berhubungan dengan permintaan yangdibuat oleh produk atas sumber daya perusahaan.

1. Era Traditional ABC (Tahun 1980an sampai dengan tahun 2004)Pada tahun 1980an, dikembangkan sistem biaya yang baru menggantikanTraditional Costing, yaitu Traditional ABC. Traditional ABC timbulsebagai akibat dari kebutuhan manajemen akan informasi akuntansi yangmampu mencerminkan konsumsi sumber daya dalam berbagai aktivitas untukmenghasilkan mekanisme penghitungan biaya yang akurat. Hal ini didorongoleh: (1) Persaingan global yang tajam yang memaksa perusahaan untukcost effective, (2) Advanced manufacturing technology yangmenyebabkan proporsi biaya overhead pabrik

dalam product cost menjadilebih tinggi dari primary cost, dan (3) Adanya strategi perusahaan yangmenerapkan market driven strategi

2.

Era

Time-Driven

ABC

(Tahun

2004

sampai

dengan

sekarang)Seiring dengan

berjalannya waktu, Traditional ABC menjadi sulit diterapkan pada banyak perusahaan karena menimbulkan biaya yang mahal untukkeperluan wawancara dan survey terhadap sistem ABC. Selain masalahmahalnya biaya untuk wawancara dan survei, masih banyak kesulitan yangtimbul dari aplikasi sistem Traditional ABC, padahal kompetisi usaha

semakinketat dan semakin kompleks. Untuk memperbaiki kekurangan yang timbuldari sistem Traditional ABC, maka pada tahun 2004, Robert S. Kaplan danSteven R. Anderson mengembangkan inovasi baru terhadap sistem ABCyang disebut Time-Driven ABC.

Kekurangan ABC Sebagai Penyebab Dikembangkannya Time Driven ABC

Beberapa persoalan muncul di dalam praktek penerapan TraditionalABC, antara lain sebagai berikut:

  • 1. Proses wawancara dan survey kepada karyawan menelan biaya sangatmahal dan memakan waktu yang cukup panjang.

  • 2. Ketidakakuratan dan bias mempengaruhi keakuratan tarif cost driver yangberasal dari estimasi individual subjective atas perilaku mereka di masalalu maupun di masa mendatang.

  • 3. Karena mahalnya biaya wawancara dan survey kepada karyawan, makasistem ABC tidak diupdate secara rutin.

  • 4. Sulit menambah aktifitas baru ke dalam sistem, memerlukan estimasi ulangatas jumlah biaya yang harus ditetapkan untuk aktifitas yang baru.

  • 5. Sulit diterapkan pada perusahaan yang beroperasional pada skala besar.Dengan kata lain, Traditional ABC sulit untuk merespon peningkatan daridiversity dan kompleksitas pesanan maupun pelanggan, padahal perusahaanberskala besar pasti memiliki tingkat diversity dan kompleksitas pesananmaupun konsumen yang sangat tinggi.

Faktor-faktor di atas menyebabkan dikembangkannya sistem Time-Driven ABC yang diharapkan dapat memperbaiki kekurangan yang timbul dariTraditional ABC.

Time Driven ABC :Pendekeatan yang Sederhana dan Kuat

Pendekatan alternatif untuk mengestimasi model ABC, yaitu Time-Driven ABC, mampu mengatasi segala keterbatasan dari Traditional ABC.Time-Driven ABC memerlukan dua estimasi baru yaitu: (1) Biaya per unit darikapasitas yang tersedia, dan (2) konsumsi unit waktu oleh setiap aktifitas.

Estimasi Biaya Per Unit

Prosedur yang baru dimulai dengan menggunakan informasi yang samadengan pendekatan Traditional ABC, yaitu:

2.

Mengestimasi kapasitas aktual dari sumber daya yang tersedia.

Dengan estimasi dari: (1) Biaya dari kapasitas yang tersedia, dan (2)Kapasitas pada prakteknya dari sumber daya yang tersedia, maka dapat dihitungbiaya per unit dari kapasitas yang tersedia sebagai berikut:

Biaya per unit = Kapasitas pada Prakteknya dari Sumber Daya yang Tersedia

Biaya dari Kapasitas yang Tersedia

Sebagai contoh, Diketahui data dari PT X: Jumlah biaya dari tenagakerja tidak langsung yang tersedia sebesar $ 84,000 (sudah termasuk bonus).Jumlah biaya dari kapasitas computer yang tersedia sebesar $ 30,000. Tenagakerja tidak langsung ada 5 orang, di mana masing-masing menyediakan 500jam kerja untuk setiap kwartal, atau totalnya sebanyak 2500 jam kerja.Kapasitas tenaga kerja tidak langsung pada prakteknya sebanyak 2000 jamkerja per kwartal. Kapasitas computer pada prakteknya sebanyak 500 jam perkwartal. Berdasarkan data tersebut, maka biaya per unit (per jam kerja) darikapasitas tenaga kerja tidak langsung yang tersedia adalah sebagai berikut:

Biaya Tenaga Kerja tidak Langsung per jam = $ 84,00/2000jam = $ 42 per jam

Sedangkan biaya per unit (per jam) dari kapasitas komputer yangtersedia adalah sebagai berikut:

Biaya Komputer per jam = $ 30,000/500 jam = $ 60 per jam

Estimasi Unit Waktu

Bagian kedua dari informasi baru yang diperlukan pada pendekatanTime-Driven ABC adalah estimasi waktu yang diperlukan untuk melakukansuatu transaksi. Prosedur Time-Driven ABC menggunakan estimasi waktuyang diperlukan setiap saat transaksi terjadi. Estimasi unit waktu inimenggantikan proses interview pekerja untuk mempelajari berapa persen waktupekerja yang dihabiskan untuk semua aktifitas.

TIME-DRIVEN ABC VERSUS TRADITIONAL ABC

Pada tabel ditunjukkan perbandingan implementasi Time-Driven ABCdengan Traditional ABC sebagai berikut:

PERBANDINGAN IMPLEMENTASI TIME-DRIVEN ABC DENGAN TRADITIONAL ABC

Implementasi Time-Driven ABC :

Implementasi Traditional ABC:

 

Mengidentifikasi departemen sumber

Mengindentifikasi

aktifitas

dan

pool

 

dayayang bermacam-macam

biayaaktifitas

Mengestimasi total biaya dari setiap

Membebankan

biaya

ke

aktifitas-

departemen sumber daya

aktifitas Menentukan activity driver

 

Mengestimasi kapasitas pada

Menentukan tarif activity driver

prakteknyauntuk setiap departemen

Membebankan biaya ke produk

sumber daya Menghitung biaya per unit dari setiap

 

kapasitas sumber daya Menentukan estimasi unit waktu untuk

setiap transaksi Membebankan biaya ke produk

Pada tabel tersebut dapat terlihat bahwa Traditional ABC merupakan model biaya “push”. Implementasinya dimulai dengan menetapkan total biaya overhead terlebih dahulu, menghitung biaya per unit dari aktifitas, dan pada akhirnya menghasilkan alokasi biaya kepada produk. Sebaliknya, Time-DrivenABC merupakan model biaya “pull”. Implementasi dari Time-Driven ABC dimulai dengan melakukan estimasi dua parameter, dan pada akhirnya menghasilkan alokasi biaya kepada produk. Dapat disimpulkan bahwa Traditional ABC (Push Model) menghitung biaya aktifitas yang actual dan membebankannya ke produk. Sedangkan Time-Driven ABC menghitung biaya aktifitas pada tarif standar dan menghilangkan biaya kapasitas yang tidak digunakan. Pada pertengahan tahun 1980an, Traditional ABC hadir menggantikan Traditional Costing yang sudah tidak relevan lagi untuk digunakan oleh perusahaan-perusahaan.

Adapun kelebihan Traditional ABC dibandingkan dengan Traditional Costing adalah sebagai berikut: (1) Menyediakan alternative metode penghitungan dan analisis biaya yang lebih baik daripada TraditionalCosting, (2) Memberikan informasi yang efektif untuk pengambilan keputusan, dan (3) Memberikan informasi yang berkelanjutan dalam penerapan proses dan penurunan biaya.

Tetapi pada prakteknya, Traditional ABC memiliki banyak kekurangan (keterbatasan) yang menyebabkannya sulit untuk diterapkan di banyak perusahaan. Dan kemudian, Time- Driven ABC hadir untuk memberikan alternatif yang lebih baik, lebih akurat, dan lebih sederhana untuk diterapkan di perusahaan-perusahaan. Robert S. Kaplan dan Steven R. Anderson, menyatakan bahwa Time-Driven ABC akan memberikan perbaikan yang sangat hebat atas sistem yang lama (Traditional ABC).

Kelebihan Model Time-Driven ABC

Kelebihan dari model Time-Driven ABC dibandingkan dengan Traditional ABC adalah sebagai berikut:

  • 1. Sangat mudah dan cepat diimplementasikan

  • 2. Tidak mahal dan mudah diupdate

  • 3. Mudah divalidasi dengan pengamatan langsung terhadap model estimasi dari unit waktu

  • 4. Mampu diterapkan pada perusahaan dengan skala besar

  • 5. Mudah menggabungkan fitur spesifik untuk pesanan, supplier, dan pelanggan khusus

  • 6. Lebih memandang kepada efisiensi proses dan pemanfaatan kapasitas

Referensi :

Garrison, Ray H ; Eric W. Norren dan Peter C. Brewer. 2008. Akuntansi Manajerial. Jakarta:

Salemba Empat.