Anda di halaman 1dari 95
Akuntansi Pajak

Akuntansi Pajak

Akuntansi Pajak
KONSEP PEMBUKUAN SESUAI PSAK

KONSEP PEMBUKUAN SESUAI PSAK

Pengukuran dalam mata uang
Pengukuran dalam mata uang
KONSEP PEMBUKUAN SESUAI PSAK Pengukuran dalam mata uang Kesatuan Akuntansi Konsep Kesinambungan Konsep Nilai Historis
Kesatuan Akuntansi
Kesatuan Akuntansi
SESUAI PSAK Pengukuran dalam mata uang Kesatuan Akuntansi Konsep Kesinambungan Konsep Nilai Historis Periode Akuntansi
Konsep Kesinambungan
Konsep Kesinambungan
dalam mata uang Kesatuan Akuntansi Konsep Kesinambungan Konsep Nilai Historis Periode Akuntansi Konsep Taat Asas
Konsep Nilai Historis
Konsep Nilai Historis
Akuntansi Konsep Kesinambungan Konsep Nilai Historis Periode Akuntansi Konsep Taat Asas Konsep Materialitas
Periode Akuntansi
Periode Akuntansi
Konsep Kesinambungan Konsep Nilai Historis Periode Akuntansi Konsep Taat Asas Konsep Materialitas Konsep Konservatisme
Konsep Taat Asas
Konsep Taat Asas
Konsep Nilai Historis Periode Akuntansi Konsep Taat Asas Konsep Materialitas Konsep Konservatisme Konsep Realisasi
Konsep Materialitas
Konsep Materialitas
Konsep Nilai Historis Periode Akuntansi Konsep Taat Asas Konsep Materialitas Konsep Konservatisme Konsep Realisasi
Konsep Konservatisme
Konsep Konservatisme
Konsep Nilai Historis Periode Akuntansi Konsep Taat Asas Konsep Materialitas Konsep Konservatisme Konsep Realisasi
Konsep Realisasi
Konsep Realisasi
Konsep Nilai Historis Periode Akuntansi Konsep Taat Asas Konsep Materialitas Konsep Konservatisme Konsep Realisasi

PEMBUKUAN MENURUT UU KUP

Pembukuan adalah suatu proses pencatatan yang dilakukan secara teratur

untuk mengumpulkan data dan informasi keuangan yang meliputi harta,

kewajiban, modal, penghasilan dan biaya, serta jumlah harga perolehan dan penyerahan barang atau jasa, yang di tutup dengan menyusun laporan keuangan berupa neraca, dan laporan laba rugi untuk periode Tahun Pajak

menyusun laporan keuangan berupa neraca , dan laporan laba rugi untuk periode Tahun Pajak tersebut. (pasal

tersebut. (pasal 28 UU KUP)

Ketentuan Pembukuan
Ketentuan
Pembukuan

Subjek Pajak Orang Pribadi

WP OP yang tidak melakukan usaha atau pekerjaan bebas e.g.: Karyawan, PNS, TNI/Polri 1 WP
WP OP yang tidak
melakukan usaha atau
pekerjaan bebas
e.g.: Karyawan, PNS, TNI/Polri
1
WP OP yang
melakukan usaha
2
3
WP OP yang melakukan
pekerjaan bebas
pekerjaan yang dilakukan oleh orang pribadi yang
mempunyai keahlian khusus sebagai usaha untuk
memperoleh penghasilan yang tidak terikat oleh suatu
hubungan kerja
e.g. pengacara, akuntan, arsitek, dokter, konsultan,
notaris, penilai, dan aktuaris;

Subjek Pajak Badan

Sekumpulan ORANG dan/atau MODAL yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan
Sekumpulan ORANG dan/atau MODAL yang merupakan kesatuan
baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha
yang meliputi:
PERSEROAN TERBATAS
PERSEROAN TERBATAS
PERSEROAN KOMANDITER
PERSEROAN KOMANDITER
PERSEROAN LAINNYA
PERSEROAN LAINNYA
BUMN/BUMD dengan nama dan dalam bentuk apapun
BUMN/BUMD dengan nama dan dalam bentuk apapun
Firma, Kongsi, Koperasi, Dana Pensiun, Persekutuan, Perkumpulan, Yayasan, Ormas, Orsospol, atau Organisasi Lainnya,
Firma, Kongsi, Koperasi, Dana Pensiun, Persekutuan, Perkumpulan,
Yayasan, Ormas, Orsospol, atau Organisasi Lainnya, Lembaga, BUT,
Dan bentuk badan lainnya termasuk Kontrak Investasi Kolektif
Pembukuan Menurut UU Pajak (Pasal 28 UU KUP) Wajib Pajak yang dikecualikan dari kewajiban menyelenggarakan

Pembukuan Menurut UU Pajak

(Pasal 28 UU KUP)

Pembukuan Menurut UU Pajak (Pasal 28 UU KUP)
Pembukuan Menurut UU Pajak (Pasal 28 UU KUP) Wajib Pajak yang dikecualikan dari kewajiban menyelenggarakan pembukuan
Pembukuan Menurut UU Pajak (Pasal 28 UU KUP) Wajib Pajak yang dikecualikan dari kewajiban menyelenggarakan pembukuan

Wajib Pajak yang dikecualikan dari kewajiban menyelenggarakan pembukuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), tetapi wajib melakukan pencatatan, adalah Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan diperbolehkan menghitung penghasilan neto dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto dan Wajib Pajak orang pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas. (Ps 28 ayat (2) UU KUP)

Peredaran < 4,8 M
Peredaran <
4,8 M

Karakteristik Pembukuan menurut UU Pajak (Pasal 28 UU KUP)

1
1
Karakteristik Pembukuan menurut UU Pajak (Pasal 28 UU KUP) 1 2 Iktikad baik dan mencerminkan keadaan
2
2

Iktikad baik dan mencerminkan keadaan sebenarnya

Diselenggarakan di Indonesia, huruf latin, angka Arab,

mata uang Rupiah, bahasa Indonesia atau bahasa asing

yang diizinkan Menteri Keuangan

atau bahasa asing yang diizinkan Menteri Keuangan 3 Taat asas dan dengan Stelsel Akrual atau Stelsel
3
3

Taat asas dan dengan Stelsel Akrual atau Stelsel Kas

3 Taat asas dan dengan Stelsel Akrual atau Stelsel Kas 4 Catatan atas: harta, kewajiban, modal,
3 Taat asas dan dengan Stelsel Akrual atau Stelsel Kas 4 Catatan atas: harta, kewajiban, modal,
4 Catatan atas: harta, kewajiban, modal, penghasilan dan biaya, serta penjualan dan pembelian 5 Berdasarkan
4
Catatan atas: harta, kewajiban, modal, penghasilan dan biaya,
serta penjualan dan pembelian
5
Berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan, kecuali peraturan
perpajakan menentukan lain
6
Pembukuan dengan menggunakan bahasa asing dan mata
uang selain rupiah dapat diselenggarakan setelah mendapat
izin Menteri Keuangan
7
Wajib disimpan selama 10 tahun di Indonesia
Ps 28 ayat (3)
Ps 28 ayat
(3)
Ps 28 ayat (4)
Ps 28 ayat
(4)
Ps 28 ayat (5)
Ps 28 ayat
(5)
Ps 28 ayat (7)
Ps 28 ayat
(7)
Ps 28 ayat (7) penjelasan
Ps 28
ayat (7)
penjelasan
Ps 28 ayat (8)
Ps 28 ayat
(8)
Ps 28 ayat (11)
Ps 28 ayat
(11)
28 ayat (3) Ps 28 ayat (4) Ps 28 ayat (5) Ps 28 ayat (7) Ps
Sanksi terkait Pembukuan Sanksi Administratif (Pasal 13 ayat (3) UU KUP) Tidak memenuhi kewajiban terkait

Sanksi terkait Pembukuan

Sanksi Administratif (Pasal 13 ayat (3) UU KUP)
Sanksi Administratif (Pasal 13 ayat (3) UU KUP)

Tidak memenuhi kewajiban terkait pembukuan sehingga tidak dapat diketahui besarnya pajak terutang:

Penghasilan Kena Pajak dihitung secara jabatan dan atas SKPKB terbit, pokok pajak yang kurang ditambah sanksi kenaikan sebesar 50% untuk PPh dan 100% untuk PPh Potput, PPN & PPNBM dari pajak yang tidak/kurang dibayar/dipotong/ dipungut/disetor

Sanksi Pidana (Pasal 39 ayat (1) UU KUP)
Sanksi Pidana (Pasal 39 ayat (1) UU KUP)

Memperlihatkan pembukuan, pencatatan atau dokumen yang palsu/dipalsukan; Tidak menyelenggarakan pembukuan di Indonesia/tidak meminjamkan buku, catatan

atau dokumen; maka

dipidana penjara paling singkat 6 bulan dan paling lama 6 tahun dan didenda paling sedikit 2 kali jumlah pajak tidak/kurang bayar dan paling banyak 4 kali kali jumlah pajak tidak/kurang bayar

Ketentuan Pencatatan

Ketentuan

Pencatatan

Definisi Pencatatan

Pencatatan terdiri atas data yang dikumpulkan secara teratur tentang peredaran atau penerimaan bruto dan/atau penghasilan bruto sebagai dasar untuk

menghitung jumlah pajak yang terutang termasuk

penghasilan yang bukan objek pajak dan/atau yang dikenai pajak yang bersifat final.

termasuk penghasilan yang bukan objek pajak dan/atau yang dikenai pajak yang bersifat final. (Pasal 28 angka

(Pasal 28 angka 9 UU KUP)

Prinsip Dasar Pencatatan

Dengan memperhatikan itikad baik dan mencerminkan keadaan atau kegiatan usaha yang sebenarnyaPrinsip Dasar Pencatatan diselenggarakan di Indonesia dengan menggunakan huruf Latin, angka Arab, satuan mata uang Rupiah,

diselenggarakan di Indonesia dengan menggunakan huruf Latin, angka Arab, satuan mata uang Rupiah, dan disusun dalam bahasa Indonesiadan mencerminkan keadaan atau kegiatan usaha yang sebenarnya terdiri atas data yang dikumpulkan secara teratur tentang

terdiri atas data yang dikumpulkan secara teratur tentang peredaran atau penerimaan bruto dan/atau penghasilan bruto sebagai dasar untuk menghitung jumlah pajak yang terutang, termasuk penghasilan yang bukan objek pajaksatuan mata uang Rupiah, dan disusun dalam bahasa Indonesia dan/atau yang dikenai pajak yang bersifat final

dan/atau yang dikenai pajak yang bersifat final

Buku, catatan, dan dokumen yang menjadi dasar pencatatan dan dokumen wajib disimpan selama 10 tahun di Indonesia, 10 tahun di Indonesia,

Pencatatan dalam satu tahun harus diselenggarakan secara kronologis (PMKdan dokumen wajib disimpan selama 10 tahun di Indonesia, 197 /PMK. 03 / 2007 ) Pencatatan

197 /PMK. 03/2007)

Pencatatan harus dibuat dalam suatu Tahun Pajak, yaitu jangka waktu 1 (satu) tahun kalender mulai tanggal 1 Januari sampai dengan 31 Desember (PER - 31 Desember (PER -

Perlakuan Akuntansi Pajak atas Penghasilan Objek Pajak (Pasal 4 ayat 1 UU PPh) Penghasilan Dikenakan

Perlakuan Akuntansi Pajak atas Penghasilan

Objek Pajak (Pasal 4 ayat 1 UU PPh)
Objek Pajak
(Pasal 4 ayat 1 UU PPh)
Penghasilan
Penghasilan
Dikenakan PPh Final (Pasal 4 ayat 2 UU PPh) Dikoreksi negatif (-)
Dikenakan PPh Final
(Pasal 4 ayat 2 UU PPh)
Dikoreksi negatif (-)
Bukan Objek (Pasal 4 ayat 3 UU PPh) Dikoreksi negatif (-)
Bukan Objek
(Pasal 4 ayat 3 UU PPh)
Dikoreksi negatif (-)
Skema Koreksi Fiskal Laporan Keuangan Komersial Koreksi Positif (Menambah penghasilan/ mengurangi biaya, menambah PPh

Skema Koreksi Fiskal

Laporan Keuangan Komersial Koreksi Positif (Menambah penghasilan/ mengurangi biaya, menambah PPh Terutang) Koreksi
Laporan Keuangan
Komersial
Koreksi Positif
(Menambah penghasilan/
mengurangi biaya,
menambah PPh Terutang)
Koreksi
Koreksi Negatif (Mengurangi
penghasilan/ menambah
biaya, mengurangi PPh
Terutang)
Laporan Keuangan Fiskal
BIAYA BOLEH DIKURANGKAN BAGI WP DN & BUT (Ps. 6 Ayat (1) UU PPh
BIAYA BOLEH DIKURANGKAN BAGI WP DN & BUT
(Ps. 6 Ayat (1) UU PPh

a.

Terkait dg kegiatan usaha baik

a. Terkait dg kegiatan usaha baik B b. Penyusutan dan amortisasi sdd Ps. 11 & 11A

B

b. Penyusutan dan amortisasi sdd Ps. 11 & 11A UU PPh

sdd Ps. 11 & 11A UU PPh

secara langsung/tidak langsung

I

 

A

 

c.

Iuran kepada Dana Pensiun yg

c. Iuran kepada Dana Pensiun yg Y d. Kerugian krn penjualan/ pengalihan harta yg dimiliki dan

Y

d. Kerugian krn penjualan/ pengalihan harta yg dimiliki dan digunakan/dimiliki untuk 3M Phf. Biaya litbang perusahaan yg

f. Biaya litbang perusahaan ygd. Kerugian krn penjualan/ pengalihan harta yg dimiliki dan digunakan/dimiliki untuk 3M Ph

pendiriaannya disahkan MenKeu

A

 

e. Kerugian selisih kurs mata uang asing

  e. Kerugian selisih kurs mata uang asing 3M

3M

g. Biaya beasiswa, magang, dan pelatihan

g. Biaya beasiswa, magang, dan pelatihan Ph dilakukan di Ind

Ph

dilakukan di Ind

 

N

h. Piutang yg nyata-nyata tidak dapat ditagih dgn syarat ttt  N

 

i. Sumbangan dlm rangka penanggulangan bencana nasional

 

O

N  

N

 

j. Sumbangan dlm rangka

k. Biaya pembangunan infrastruktur sosial

F

penelitian dan pengembanganyang dilakukan di Ind

yang dilakukan di Ind

I N

I

N

m. Sumbangan dlm rangka pembinaan olah raga

A

l. Sumbangan fasilitas pendidikanm. Sumbangan dlm rangka pembinaan olah raga A

L

L

Biaya yang secara langsung atau tidak

langsung berkaitan dgn kegiatan usaha

antara lain:

1. biaya pembelian bahan;

2. biaya berkenaan dgn pekerjaan atau jasa termasuk

upah, gaji, honorarium, bonus, gratifikasi, dan tunjangan yang diberikan dalam bentuk uang;

3. bunga, sewa, dan royalti;

4. biaya perjalanan;

5.

biaya pengolahan limbah;

6.

premi asuransi;

7.

biaya promosi dan penjualan yg diatur dgn atau

berdasarkan PMK (PMK No. 02/PMK.03/2010) tgl 08-

01-2010 mb-s 01-01-2009);

8.

biaya administrasi; dan

9.

pajak kecuali Pajak Penghasilan.

Dana Pensiun A yg pendiriannya telah mendapat pengesahan dari Menteri Keuangan memperoleh penghasilan bruto yg terdiri dari:

a.

penghasilan yg bukan merupakan objek pajak

Rp100.000.000

sesuai dgn Pasal 4 ayat (3) huruf h UU PPh

b.

penghasilan bruto lainnya (tidak final)

Rp300.000.000 (+)

Jumlah penghasilan bruto

Rp400.000.000

Apabila seluruh biaya adalah sebesar Rp 200.000.000, berapa biaya yg boleh dikurangkan untuk 3M penghasilan ?

Biaya yang boleh dikurangkan untuk 3M penghasilan adalah sebesar 3/4 x Rp200.000.000 = Rp150.000.000.

Bunga atas pinjaman yg dipergunakan untuk membeli saham tidak dapat dibebankan sebagai biaya sepanjang dividen yg

diterimanya tidak merupakan objek pajak sdd Pasal 4 ayat (3)

huruf f UU PPh.

Bunga pinjaman yg tidak boleh dibiayakan tsb. dapat dikapitalisasi sebagai penambah harga perolehan saham.

Pengeluaran-pengeluaran yg dapat dikurangkan dari penghasilan bruto harus dilakukan dalam batas-batas yg wajar

sesuai dengan adat kebiasaan pedagang yg baik.

Apabila pengeluaran yg melampaui batas kewajaran dipengaruhi oleh hubungan istimewa, jumlah yg melampaui

batas kewajaran tsb. tidak boleh dikurangkan dari penghasilan

bruto.

Mengenai pengeluaran untuk promosi perlu dibedakan antara

biaya yg benar-benar dikeluarkan untuk promosi dan biaya yg

pada hakikatnya merupakan sumbangan.

Pajak-pajak yg menjadi beban perusahaan dalam rangka usahanya selain PPh, misalnya PBB, BM, Pajak Hotel, dan Pajak

Restoran, dapat dibebankan sebagai biaya.

BIAYA PROMOSI

BIAYA PROMOSI

BIAYA PROMOSI

Biaya Promosi adalah bagian dari biaya penjualan yg dikeluarkan oleh Wajib Pajak dalam rangka memperkenalkan dan/atau menganjurkan pemakaian

suatu produk baik langsung maupun tidak langsung untuk mempertahankan

dan/atau meningkatkan penjualan. Besarnya Biaya Promosi yg dapat dikurangkan dari penghasilan bruto merupakan akumulasi dari jumlah :

a. biaya periklanan di media elektronik, media cetak, dan/atau media lainnya;

b. biaya pameran produk; c. biaya pengenalan produk baru;dan/atau d. biaya sponsorship yg berkaitan dgn promosi produk.

b. biaya pameran produk; c. biaya pengenalan produk baru;dan/atau d. biaya sponsorship yg berkaitan dgn promosi

Tidak Termasuk Biaya Promosi

a. Pemberian imbalan berupa uang dan/atau fasilitas, dengan nama dan

dalam bentuk apapun, kepada pihak lain yang tidak berkaitan langsung

dengan penyelenggaraan kegiatan promosi.

b. Biaya Promosi untuk 3M penghasilan yg bukan merupakan objek pajak dan yg telah dikenai pajak bersifat final.

PMK No. 02/PMK.03/2010

BIAYA PROMOSI

Dalam hal promosi dilakukan dalam bentuk pemberian

sampel produk, besarnya biaya yg dapat dikurangkan dari penghasilan bruto adalah sebesar harga pokok sampel produk yg diberikan, sepanjang belum dibebankan dalam

perhitungan harga pokok penjualan.

dan

merupakan objek pemotongan Pajak Penghasilan wajib

dilakukan pemotongan pajak sesuai dengan ketentuan yang

berlaku.

Biaya

promosi

yg

dikeluarkan

kepada

pihak

lain

PMK No. 02/PMK.03/2010

BIAYA PROMOSI

Wajib Pajak wajib membuat daftar nominatif atas

pengeluaran Biaya Promosi yg dikeluarkan kepada pihak lain.

Daftar nominatif paling sedikit harus memuat data

penerima berupa nama, NPWP, alamat, tanggal, bentuk

dan jenis biaya, besarnya biaya, nomor bukti pemotongan dan besarnya PPh yg dipotong.

Daftar nominatif dibuat sesuai format sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran PMK ini.

Daftar nominatif dilaporkan sebagai lampiran saat Wajib Pajak menyampaikan SPT Tahunan PPh Badan.

Dalam hal persyaratan tsb. di atas tidak dipenuhi, Biaya Promosi tidak dapat dikurangkan dari penghasilan bruto.

PMK No. 02/PMK.03/2010

DAFTAR NOMINATIF BIAYA PROMOSI

No. Urut

Data Penerima:

Nama

NPWP

Alamat

Tanggal

Bentuk dan Jenis Biaya

Jumlah (Rp)

Keterangan

Pemotongan PPh

Jumlah PPh

Nomor Bukti Potong

Tempat, Tanggal, Tanda Tangan dan Nama Wajib Pajak yang menandatangani

Pengeluaran Berupa Pembayaran di

Muka

misalnya sewa untuk beberapa tahun yang

dibayar sekaligus,

pembebanannya dapat dilakukan melalui alokasi.

2010 2011 2012
2010
2011
2012

Misal pembayaran sewa gedung dimuka sebesar Rp.3.000.000 untuk 3 tahun, maka yang dapat dibebankan per tahun sebesar 1.000.000

BIAYA JAMSOSTEK

BIAYA JAMSOSTEK
SE-02/PJ.31/1996, 5-Jun-96 JAMSOSTEK JKK JKM JPK JHT = = PREMI ASURANSI IPEN-DP Dibayar pemberi kerja
SE-02/PJ.31/1996, 5-Jun-96
JAMSOSTEK
JKK
JKM
JPK
JHT
=
=
PREMI ASURANSI
IPEN-DP
Dibayar pemberi kerja
Dibayar pemberi kerja
KARYAWAN
KARYAWAN
PEMBERI KERJA
Penghasilan
Pengenaan
Objek
Boleh Dikurangkan
PPh-nya
Pph Pasal 21
ditangguhkan

Iuran Pensiun/JHT,

JPK, JKK, JKM

Iuran pensiun yg dibayarkan kepada dana pensiun yg

pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan dan

JHT yg dibayarkan kepada PT Jamsostek oleh WP Orang Pribadi boleh dikurangkan dari penghasilan bruto WP Orang Pribadi tsb.

JPK, JKK, JKM yg dibayarkan kepada PT Jamsostek/premi asuransi kesehatan, premi asuransi kecelakaan, premi

asuransi jiwa, premi asuransi beasiswa dan premi asuransi

dwiguna yg dibayarkan oleh WP Orang Pribadi tidak boleh

dikurangkan dari penghasilan bruto WP Orang Pribasi tsb. kecuali dibayarkan oleh pemberi kerja dan premi tsb. merupakan penghasilan bagi karyawan/orang pribadi tsb.

Kerugian karena Penjualan/

Pengalihan Harta

Boleh dikurangkan:

Kerugian karena penjualan/pengalihan harta yang dimiliki dan digunakan dalam perusahaan/3M penghasilan.

Tidak boleh dikurangkan:

Kerugian karena penjualan/pengalihan harta yang dimiliki tetapi tidak digunakan dalam perusahaan/3M penghasilan.

Kerugian Selisih Kurs Mata Uang Asing

Kerugian karena fluktuasi kurs mata uang asing diakui

berdasarkan sistem pembukuan yang dianut dan dilakukan secara taat asas

sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku di Indonesia.

yang dianut dan dilakukan secara taat asas  sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku di

Biaya Penelitian dan Pengembangan yang Dilakukan di Indonesia

Yang dimaksud dgn biaya penelitian dan

pengembangan adalah biaya yg nyata-nyata

dikeluarkan untuk pengembangan produksi ( product development ), serta biaya untuk meningkatkan efisiensi perusahaan termasuk teknologi untuk pengembangan proses ( process technology ).

KMK No. 769/KMK.04/1990

Biaya Penelitian dan Pengembangan yang Dilakukan di Indonesia

Pembebanan biaya penelitian dan pengembangan dibedakan dalam 3 (tiga) kategori :

1. Biaya

dan

pengembangan yg menurut ket. peraturan per-UU-an perpajakan harus disusutkan/diamortisasi.

yg

dikeluarkan

dlm

rangka

penelitian

dan

pengembangan yg menurut ketentuan peraturan per-UU-an

perpajakan merupakan biaya usaha sehari-hari, dibebankan sebagai biaya dalam tahun pajak ybs. 3. Biaya di luar biaya sdd butir 1 dan butir 2 antara lain biaya konsultan, perlakuan perpajakannya disesuaikan dgn prinsip- prinsip akuntansi yg berlaku.

2. Biaya

yg

dikeluarkan

dalam

rangka

penelitian

KMK No. 769/KMK.04/1990

Biaya Beasiswa, Magang, dan

Pelatihan

Biaya yg dikeluarkan u/ keperluan beasiswa, magang, dan pelatihan dlm rangka

peningkatan kualitas SDM dapat dibebankan

sebagai biaya perusahaan dgn memperhatikan kewajaran,

termasuk beasiswa yg dapat dibebankan

sebagai biaya adalah beasiswa yg diberikan kepada pelajar, mahasiswa, dan

pihak lain.

Piutang yang Nyata-nyata

Tidak Dapat Ditagih

Syarat:

1. telah dibebankan sbg biaya dlm laporan laba rugi

komersial;

2. WP harus menyerahkan daftar piutang yg tidak dapat

ditagih kepada DJP; dan

3. telah diserahkan perkara penagihannya kepada

Pengadilan Negeri atau instansi pemerintah yg menangani piutang negara; atau

adanya perjanjian tertulis mengenai penghapusan piutang/pembebasan utang antara kreditur dan debitur yang bersangkutan; atau

Piutang yang Nyata-nyata

Tidak Dapat Ditagih

telah dipublikasikan dalam penerbitan umum

atau khusus; atau

adanya pengakuan dari debitur bahwa utangnya telah dihapuskan untuk jumlah utang tertentu;

4. syarat sebagaimana dimaksud pada angka 3 tidak

berlaku untuk penghapusan piutang tak tertagih debitur kecil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf k UU PPh; yang pelaksanaannya diatur lebih lanjut dgn atau berdasarkan PMK (PMK No. 105/PMK.03/2009 stdd PMK No. 57/PMK.03/2010)

Piutang yang Nyata-nyata

Tidak Dapat Ditagih

Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih adalah

piutang yang timbul dari transaksi bisnis yang wajar

sesuai dengan bidang usahanya

Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih tidak

termasuk piutang yang berasal dari transaksi bisnis

dengan pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa dengan Wajib Pajak.

Persyaratan tidak berlaku untuk piutang yang nyata-

nyata tidak dapat ditagih kepada debitur kecil atau debitur kecil lainnya.

Piutang yang Nyata-nyata Tidak Dapat Ditagih

Yang dimaksud dengan penerbitan tidak hanya

berarti penerbitan berskala nasional, melainkan

juga penerbitan internal asosiasi dan sejenisnya.

PMK No.105/PMK.03/2009 stdd PMK No.57/PMK.03/2010

Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih kepada debitur kecil adalah

piutang debitur kecil yang jumlahnya tidak melebihi Rp100.000.000,00,

yang merupakan gunggungan jumlah piutang dari beberapa kredit yang diberikan oleh suatu institusi bank/lembaga pembiayaan dalam negeri sebagai akibat adanya pemberian:

a.

Kredit Usaha Keluarga Prasejahtera (Kukesra);

b.

Kredit Usaha Tani (KUT);

c.

Kredit Pemilikan Rumah Sangat Sederhana (KPRSS;

d.

Kredit Usaha Kecil (KUK);

e.

Kredit Usaha Rakyat (KUR; dan/atau

f.

Kredit kecil lainnya dalam rangka kebijakan perkreditan Bank Indonesia dalam mengembangkan usaha kecil dan koperasi.

Piutang yang nyata-nyata tidak ditagih kepada debitur kecil lainnya

adalah piutang debitur kecil lainnya yang jumlahnya tidak melebihi

Rp5.000.000,00.

PMK No.105/PMK.03/2009 stdd PMK No.57/PMK.03/2010

Daftar piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih yang diserahkan

kepada Direktorat Jenderal Pajak harus mencantumkan identitas debitur

berupa nama, Nomor Pokok Wajib Pajak, alamat dan jumlah piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih.

Bukti/dokumen yang harus dilampirkan:

a.

fotokopi bukti penyerahan perkara penagihannya ke Pengadilan Negeri

atau instansi pemerintah yang menangani piutang negara; atau

b.

fotokopi perjanjian tertulis mengenai penghapusan piutang/pembebasan utang usaha yang telah dilegalisir oleh

notaris;atau

c.

fotokopi bukti publikasi dalam penerbitan umum atau penerbitan khusus; atau

d.

surat yang berisi pengakuan dari debitur bahwa utangnya telah

dihapuskan yang disetujui oleh kreditur tentang penghapusan piutang

untuk jumlah utang tertentu,yang disetujui oleh kreditur.

Daftar piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dan bukti/dokumen yang harus dilampirkan harus disampaikan bersamaan dengan penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan.

PMK No.105/PMK.03/2009 stdd PMK No.57/PMK.03/2010

Apabila Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih

dibayar seluruhnya atau dibayar sebagian oleh debitur, jumlah piutang yang dibayar seluruhnya atau dibayar

sebagian tersebut merupakan penghasilan bagi kreditur

pada tahun pajak diterimanya pembayaran.

Sumbangan

Ps. 6(1) huruf i,j,k,l,m UU PPh jo PP 93/2010

Sumbangan dalam rangka penanggulangan

bencana nasional

Sumbangan dalam rangka penelitian dan

pengembangan yang dilakukan di Indonesia

Biaya pembangunan infrastruktur sosial

Sumbangan fasilitas pendidikan

Sumbangan dalam rangka pembinaan olahraga

Sumbangan dan/atau Biaya Yang Dapat Dikurangkan Sampai Jumlah Tertentu

a.

Sumbangan dalam rangka penanggulangan bencana nasional, yg mrpk sumbangan untuk korban bencana nasional

yg disampaikan scr langsung melalui badan

penanggulangan bencana atau disampaikan scr tidak langsung melalui lembaga atau pihak yg telah mendapat izin dari instansi/lembaga yg berwenang untuk pengumpulan dana penanggulangan bencana;

b.

Sumbangan dalam rangka penelitian dan

pengembangan, yg merupakan sumbangan untuk penelitian dan pengembangan yg dilakukan di wilayah RI

yg disampaikan melalui lembaga penelitian dan

pengembangan;

Ps. 1 PP 93/2010

Sumbangan dan/atau Biaya Yang Dapat Dikurangkan Sampai Jumlah Tertentu

c.

Sumbangan fasilitas pendidikan,

yg

merupakan

sumbangan

berupa

fasilitas

pendidikan yg disampaikan melalui lembaga pendidikan;

d.

Sumbangan dalam rangka pembinaan olahraga,

yg merupakan sumbangan untuk membina, mengembangkan dan mengoordinasikan suatu atau gabungan organisasi cabang/jenis olahraga prestasi yg disampaikan melalui lembaga pembinaan olah

raga; dan

e.

Biaya pembangunan infrastruktur sosial merupakan biaya yg dikeluarkan untuk keperluan membangun sarana dan prasarana untuk kepentingan umum dan bersifat nirlaba.

Ps. 1 PP 93/2010

Syarat Sumbangan dan/atau Biaya

Agar Dapat Dikurangkan

a. WP mempunyai penghasilan neto fiskal

berdasarkan SPT Tahunan PPh Tahun Pajak sebelumnya;

b. pemberian sumbangan dan/atau biaya tidak

menyebabkan rugi pada Tahun Pajak sumbangan

diberikan;

c. didukung oleh bukti yang sah; dan

d. lembaga yang menerima sumbangan dan/atau

biaya memiliki NPWP, kecuali badan yg

dikecualikan sebagai subjek pajak sdd UU PPh.

Contoh :

PT Gunung Raya pada tahun 2009 mempunyai penghasilan neto fiskal sebesar

Rp1.000.000 .000 ,00. Pada tahun 2010 Wajib Pajak memberikan sumbangan dalam

rangka pembinaan olahraga melalui lembaga pembinaan olahraga sebesar Rp . 40 . 000 . 000 , 00 . Pada tahun 2010 Wajib Pajak mempunyai penghasilan neto fiskal sebesar Rp 30 . 000 . 000 , 00 . Wajib Pajak tidak diperkenankan mengurangkan sumbangan tersebut dari penghasilan bruto tahun 2010 karena akan menyebabkan rugi sebesar Rp 10 . 000 . 000 , 00 .

Ps. 2 PP 93/2010

Batas Sumbangan dan/atau Biaya

yang Dapat Dikurangkan

Besarnya nilai sumbangan dan/atau biaya pembangunan infrastruktur sosial yang dapat

dikurangkan dari penghasilan bruto sdd Pasal 1

untuk 1 (satu) tahun dibatasi tidak melebihi 5% dari penghasilan neto fiskal Tahun Pajak sebelumnya.

Contoh :

Penghasilan neto fiskal Wajib Pajak adalah Rp 60 .000 .000 .000 ,00

maka jumlah sumbangan yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto yaitu maksimal 5 % atau sebesar Rp 3 .000 .000 .000 ,00 .

Apabila Wajib Pajak memberikan sumbangan sebesar

Rp 5 .000 .000 .000 ,00 maka yang dapat dikurangkan dari penghasilan

bruto hanya sebesar Rp 3 .000 .000 .000 ,00 .

Ps. 3 PP 93/2010

Kondisi Sumbangan dan/atau Biaya

Tidak Dapat Dikurangkan

Sumbangan dan/atau biaya sdd Pasal 1 tidak

dapat dikurangkan dari penghasilan bruto bagi

pihak pemberi

apabila sumbangan dan/atau biaya diberikan kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa sdd UU PPh.

Yang dimaksud dengan "hubungan istimewa" adalah sebagaimana dimaksud dalam

Pasal 18 UU PPh .

Ps. 4 PP 93/2010

Bentuk Sumbangan dan/atau Biaya yang Dapat Dikurangkan

(1) Sumbangan sdd Pasal 1 huruf a, huruf b, huruf

c, dan huruf d dapat diberikan dalam bentuk

uang dan/atau barang. (2) Biaya pembangunan infrastruktur sosial sdd Pasal 1 huruf e diberikan hanya dalam bentuk sarana dan/atau prasarana.

Yang dimaksud "barang" dapat berupa barang yang diproduksi atau diperoleh oleh Wajib Pajak pemberi sumbangan .

Yang dimaksud dengan "sarana dan/atau prasarana" antara lain rumah

ibadah, sanggar seni budaya, dan poliklinik .

Ps. 5 PP 93/2010

Penentuan Nilai Sumbangan dan/atau Biaya

yang Dapat Dikurangkan

(1) Nilai sumbangan dalam bentuk barang sdd Pasal 5

ayat (1) ditentukan berdasarkan:

a. nilai perolehan, apabila barang yg disumbangkan belum disusutkan;

b. nilai buku fiskal, apabila barang yg disumbangkan sudah disusutkan; atau

c. harga pokok penjualan, apabila barang yg

disumbangkan mrpk barang produksi sendiri.

(2) Nilai biaya pembangunan infrastruktur sosial sdd Pasal 5 ayat (2) ditentukan berdasarkan jumlah yang

sesungguhnya dikeluarkan untuk membangun sarana

dan/atau prasarana.

Ps. 6 PP 93/2010

Ps. 9(1) UU PPh

Ps. 9(1) UU PPh T

T

I

 
 

a. pembagian Laba dgn nama & dlm bentuk apapun seperti dividen, termasuk dividen yang dibayarkan oleh perusahaan asuransi kepada pemegang polis, dan pembagian sisa hasil usaha koperasi

 

D

A

K

b. untuk kepentingan pribadi pemegang saham, sekutu, atauA K

anggota

anggota

 

B

O

L

d. premi asuransi kesehatan,

premi asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan asuransi bea siswa, yg dibayar oleh WP OP,d. premi asuransi kesehatan, kecuali jika dibayar oleh

kecuali jika dibayar oleh

 

E

c. pembentukan atau pemupukan dana cadangan kecuali cadangan untuk usaha/lembaga tertentuyang

ketentuan dan syarat-syaratnya

diatur dengan atau berdasarkan PMK

 

H

 
D I K U pemberi kerja dan premi tersebut dihitung sebagai penghasilan bagi Wajib Pajak

D

I

K

U

pemberi kerja dan premi tersebut dihitung sebagai penghasilan bagi Wajib Pajak yang bersangkutan

R

e. penggantian atau imbalan sehub. dgn pekerjaan atau jasa yg diberikan dalam bentuk

A

N

f. jumlah yg melebihi kewajaran

G sehub pekerjaan yg dibayarkan kpd pemegang saham/pihak yg punya hub. istimewasebagai imbalan sehubungan dengan

G

sehub pekerjaan yg dibayarkan

kpd pemegang saham/pihak yg punya hub. istimewasebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan yang dilakukansehub pekerjaan yg dibayarkan

natura dan kenikmatan, kecuali

K

natura dan kenikmatan tertentuyang diatur dengan atau berdasarkan PMK

 

A

N

Ps. 9(1) UU PPh

g. harta yg dihibahkan, bantuan/sumbangan, dan

warisan sebgmn dimaksud

dlm Pasal 4 (3) a, b UU PPh, kecuali sumbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf i sampai

dengan huruf m serta zakat

yang diterima oleh badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia, yang diterima oleh lembaga keagamaan yang

dibentuk atau disahkan oleh pemerintah, yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah

Tdiatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah I D A K i. biaya yg dibebankan/ pribadi WP/tanggungannya

I

D

A

K

dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah T I D A K i. biaya yg dibebankan/ pribadi WP/tanggungannya

i. biaya yg dibebankan/

pribadi WP/tanggungannya

h. Pajak PenghasilanT I D A K i. biaya yg dibebankan/ pribadi WP/tanggungannya B O L E H

B

O

L

E

H

dikeluarkan u/ kepentinganpribadi WP/tanggungannya h. Pajak Penghasilan B O L E H k. sanksi administrasi berupa bunga, denda,

h. Pajak Penghasilan B O L E H dikeluarkan u/ kepentingan k. sanksi administrasi berupa bunga,

k. sanksi administrasi berupa

bunga, denda, dan kenaikan serta sanksi pidana berupa

pelaksanaan perundang- undangan di bidang perpajakan

j. gaji yg dibayarkan kpd anggota persekutuan, firma, atau CV yg modalnya tdk terbagi atas sahampidana berupa pelaksanaan perundang- undangan di bidang perpajakan D I K U R A N G pidana berupa pelaksanaan perundang- undangan di bidang perpajakan D I K U R A N G

D

I

K

U

R

A

N

G

K

A

N

denda yang berkenaan denganj. gaji yg dibayarkan kpd anggota persekutuan, firma, atau CV yg modalnya tdk terbagi atas saham

Pembentukan atau Pemupukan

Dana Cadangan tidak boleh dikurangkan

kecuali:

1.

cadangan piutang tak tertagih untuk usaha bank dan badan usaha lain yg menyalurkan kredit, sewa guna usaha dgn hak opsi, perusahaan pembiayaan konsumen, dan perusahaan anjak piutang;

2.

cadangan untuk usaha asuransi termasuk cadangan bantuan sosial yg dibentuk oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial;

3.

cadangan penjaminan untuk Lembaga Penjamin Simpanan;

4.

cadangan biaya reklamasi untuk usaha pertambangan;

5.

cadangan biaya penanaman kembali untuk usaha kehutanan;

6.

cadangan biaya penutupan dan pemeliharaan tempat pembuangan

limbah industri untuk usaha pengolahan limbah industri, yg ketentuan dan syarat-syaratnya diatur dengan atau berdasarkan PMK (PMK No. 81/PMK.03/2009).

Pembentukan atau Pemupukan Dana Cadangan yang Boleh Dikurangkan

(PMK No. 81/PMK.03/2009)

a. cadangan piutang tak tertagih, yang meliputi:

1) cadangan piutang tak tertagih untuk:

a) bank umum - kegiatan usaha konvensional;

b) bank umum - kegiatan usaha prinsip syariah;

c) bank perkreditan rakyat - kegiatan usaha konvensional;

d) bank perkreditan rakyat - kegiatan usaha

prinsip syariah; 2) cadangan khusus penyisihan pembiayaan untuk badan usaha selain bank umum dan bank

perkreditan rakyat yg menyalurkan kredit kepada

masyarakat, yang meliputi :

a) Koperasi simpan pinjam; dan b) PT Permodalan Nasional Madani (Persero);

Pembentukan atau Pemupukan Dana Cadangan yang Boleh Dikurangkan

(PMK No. 81/PMK.03/2009)

3) cadangan piutang tak tertagih untuk SGU dengan hak opsi yaitu cadangan piutang tak

tertagih untuk kegiatan pembiayaan dgn menyediakan barang modal untuk digunakan oleh penyewa guna usaha selama jangka waktu

tertentu berdasarkan pembayaran secara

angsuran dengan hak opsi (Finance Lease);

4) cadangan piutang tak tertagih untuk perusahaan pembiayaan konsumen yaitu cadangan piutang tak tertagih untuk perusahaan yang melakukan kegiatan pembiayaan untuk pengadaan barang berdasarkan kebutuhan konsumen dengan

pembayaran secara angsuran;

Pembentukan atau Pemupukan Dana Cadangan yang Boleh Dikurangkan

(PMK No. 81/PMK.03/2009)

5. cadangan piutang tak tertagih untuk perusahaan anjak piutang yaitu cadangan piutang tak tertagih untuk perusahaan yg melakukan kegiatan pembiayaan dalam bentuk pembelian piutang dagang jangka pendek suatu perusahaan

berikut pengurusan atas piutang tsb.

Pembentukan atau Pemupukan Dana Cadangan yang Boleh Dikurangkan

(PMK No. 81/PMK.03/2009)

b. cadangan untuk usaha asuransi, yang meliputi :

1) cadangan premi tanggungan sendiri dan klaim

tanggungan sendiri untuk perusahaan asuransi

kerugian;

2) cadangan premi untuk perusahaan asuransi

jiwa;

Pembentukan atau Pemupukan Dana Cadangan yang Boleh Dikurangkan

(PMK No. 81/PMK.03/2009)

c. cadangan penjaminan untuk Lembaga Penjamin Simpanan, yaitu cadangan penjaminan untuk lembaga yang berfungsi menjamin simpanan nasabah penyimpan dan turut aktif dalam memelihara stabilitas sistem perbankan sesuai

dengan kewenangannya;

d. cadangan biaya reklamasi untuk usaha pertambangan, yaitu cadangan biaya untuk kegiatan yang bertujuan memperbaiki atau menata kegunaan lahan yang terganggu sebagai akibat kegiatan usaha pertambangan agar dapat berfungsi dan berdaya guna sesuai

peruntukannya;

Pembentukan atau Pemupukan Dana Cadangan yang Boleh Dikurangkan

(PMK No. 81/PMK.03/2009)

e. cadangan biaya penanaman kembali untuk usaha kehutanan, yaitu cadangan biaya penanaman kembali bagi

perusahaan yang diwajibkan melakukan penanaman

kembali atas hutan yg telah dieksploitasi untuk usaha yg terkait dgn sistem pengurusan yg bersangkut paut dgn hutan, kawasan hutan, dan hasil hutan yg diselenggarakan

secara terpadu; dan

f. cadangan biaya penutupan dan pemeliharaan tempat pembuangan limbah industri untuk usaha pengolahan

limbah industri, yaitu cadangan biaya penutupan dan

pemeliharaan bagi perusahaan yang mengolah limbah

industri yg mencakup kegiatan penyimpanan, pengumpulan, pengangkutan, pemanfaatan, pengolahan limbah industri dan penimbunan hasil pengolahan limbah industri.

Cadangan Piutang Tak Tertagih

Bank Umum Konvensional

Besarnya Cadangan Piutang Tak Tertagih:

a. 1% dari piutang dgn kualitas lancar, tidak termasuk SBI dan

SUN;

b. 5% dari piutang dgn kualitas dalam perhatian khusus setelah dikurangi nilai agunan;

c. 15% dari piutang dgn kualitas kurang lancar setelah

dikurangi nilai agunan;

d. 50% dari piutang dgn kualitas diragukan setelah dikurangi nilai agunan; dan

e. 100% dari piutang dgn kualitas macet setelah dikurangi nilai agunan.

Besarnya nilai agunan yang dapat diperhitungkan paling tinggi

adalah :

a. 100% dari nilai agunan yang bersifat likuid; dan

b. 75% dari nilai agunan lainnya atau sebesar nilai yg ditetapkan

perusahaan penilai.

 Jumlah piutang yang digunakan sebagai dasar untuk membentuk dana cadangan adalah pokok pinjaman yang

Jumlah piutang yang digunakan sebagai dasar untuk

membentuk dana cadangan adalah pokok pinjaman yang

diberikan oleh bank umum yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional.

Kerugian yang berasal dari piutang yang nyata-nyata tidak

dapat ditagih dibebankan pada perkiraan cadangan piutang

tak tertagih.

Dalam hal jumlah cadangan piutang tak tertagih seluruhnya atau sebagian tidak dipakai untuk menutup kerugian tsb di atas, jumlah kelebihan cadangan tersebut diperhitungkan sebagai penghasilan.

Dalam hal jumlah cadangan piutang tak tertagih dipakai untuk menutup kerugian tsb di atas namun tidak mencukupi, jumlah kekurangan cadangan tersebut diperhitungkan sebagai

kerugian.

Cadangan Piutang Tak Tertagih

Bank Umum Syariah

Besarnya Cadangan Piutang Tak Tertagih:

a. 1% dari piutang dgn kualitas lancar, tidak termasuk Sertifikat

Wadiah Bank Indonesia dan surat berharga yang diterbitkan

Pemerintah berdasarkan prinsip syariah;

b. 5 % dari piutang dgn kualitas dalam perhatian khusus setelah dikurangi nilai agunan;

c. 15% dari piutang dgn kualitas kurang lancar setelah

dikurangi nilai agunan;

d. 50% dari piutang dgn kualitas diragukan setelah dikurangi nilai agunan; dan

e. 100% dari piutang dgn kualitas macet setelah dikurangi nilai

agunan.

Besamya nilai agunan yang dapat diperhitungkan paling tinggi adalah :

a. 100% dari nilai agunan yang bersifat likuid; dan

b. 75% dari nilai agunan lainnya atau sebesar nilai yg ditetapkan perusahaan penilai.

Cadangan Piutang Tak Tertagih

Bank Umum Syariah

Jumlah piutang yang digunakan sebagai dasar untuk

membentuk dana cadangan adalah pokok pinjaman yang

diberikan oleh bank umum yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah.

Kerugian yang berasal dari piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dibebankan pada perkiraan cadangan piutang

tak tertagih.

Dalam hal jumlah cadangan piutang tak tertagih seluruhnya atau sebagian tidak dipakai untuk menutup kerugian tsb di atas, jumlah kelebihan cadangan tersebut diperhitungkan

sebagai penghasilan.

Dalam hal jumlah cadangan piutang tak tertagih dipakai untuk menutup kerugian tsb di atas namun tidak mencukupi, jumlah kekurangan cadangan tersebut diperhitungkan sebagai kerugian.

Cadangan Piutang Tak Tertagih

BPR Konvensional

Besarnya cadangan piutang tak tertagih:

a.

0,5% dari piutang dgn kualitas lancar tidak termasuk SBI;

b.

10% dari piutang dgn kualitas kurang lancar setelah dikurangi nilai agunan;

c.

50% dari piutang dgn kualitas diragukan setelah dikurangi nilai agunan; dan

d.

100% dari piutang dgn kualitas macet setelah dikurangi nilai

agunan.

Besarnya nilai agunan yang dapat diperhitungkan paling tinggi

adalah :

a. 100% dari nilai agunan yang bersifat likuid; dan

b. 75% dari nilai agunan lainnya atau sebesar nilai yg ditetapkan

perusahaan penilai.

Cadangan Piutang Tak Tertagih

BPR Konvensional

Jumlah piutang yang digunakan sebagai dasar untuk membentuk dana cadangan adalah pokok pinjaman yang diberikan oleh bank perkreditan rakyat yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional.

Kerugian yang berasal dari piutang yang nyata-nyata tidak

dapat ditagih dibebankan pada perkiraan cadangan piutang

tak tertagih.

Dalam hal jumlah cadangan piutang tak tertagih seluruhnya atau sebagian tidak dipakai untuk menutup kerugian tsb di

atas, jumlah kelebihan cadangan tersebut diperhitungkan

sebagai penghasilan.

Dalam hal jumlah cadangan piutang tak tertagih dipakai untuk menutup kerugian tsb di atas namun tidak mencukupi, jumlah kekurangan cadangan tersebut diperhitungkan sebagai

kerugian.

Cadangan Piutang Tak Tertagih

BPR Syariah

Besarnya cadangan piutang tak tertagih:

a. 0,5% dari piutang dgn kualitas lancar tidak termasuk

Sertifikat Wadiah Bank Indonesia;

b. 10% dari piutang dgn kualitas kurang lancar setelah dikurangi nilai agunan;

c. 50% dari piutang dgn kualitas diragukan setelah dikurangi

nilai agunan; dan

d. 100% dari piutang dgn kualitas macet setelah dikurangi nilai agunan.

Besarnya nilai agunan yang dapat diperhitungkan paling tinggi

adalah :

a. 100% dari nilai agunan yang bersifat likuid; dan

b. 75% dari nilai agunan lainnya atau sebesar nilai yg

ditetapkan perusahaan penilai.

Cadangan Piutang Tak Tertagih

BPR Syariah

Jumlah piutang yang digunakan sebagai dasar untuk membentuk dana cadangan adalah pokok pinjaman yang diberikan oleh bank perkreditan rakyat yang melaksanakan

kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah.

Kerugian yang berasal dari piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dibebankan pada perkiraan cadangan piutang tak tertagih.

Dalam hal jumlah cadangan piutang tak tertagih seluruhnya

atau sebagian tidak dipakai untuk menutup kerugian tsd di atas, jumlah kelebihan cadangan tersebut diperhitungkan sebagai penghasilan.

Dalam hal jumlah cadangan piutang tak tertagih dipakai untuk

menutup kerugian tsb di atas namun tidak mencukupi, jumlah

kekurangan cadangan tersebut diperhitungkan sebagai kerugian.

Cadangan Piutang Tak Tertagih

Koperasi Simpan Pinjam

Besarnya Cadangan Piutang Tak Tertagih :

a. 0,5% dari piutang dgn kualitas lancar;

b. 10% dari piutang dgn kualitas kurang lancar setelah dikurangi

nilai agunan;

c. 50% dari piutang dgn kualitas diragukan setelah dikurangi nilai agunan; dan

d. 100% dari piutang dengan kualitas macet setelah dikurangi nilai agunan.

Besarnya nilai agunan yang dapat diperhitungkan paling tinggi adalah :

a. 100% dari nilai agunan yang bersifat likuid; dan

b. 75% dari nilai agunan lainnya atau sebesar nilai yg ditetapkan

perusahaan penilai.

Cadangan Piutang Tak Tertagih

Koperasi Simpan Pinjam

Jumlah piutang yang digunakan sebagai dasar untuk membentuk dana cadangan adalah pokok pinjaman yang diberikan oleh koperasi simpan pinjam.

Kerugian yang berasal dari piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dibebankan pada perkiraan cadangan piutang tak tertagih.

Dalam hal jumlah cadangan piutang tak tertagih seluruhnya

atau sebagian tidak dipakai untuk menutup kerugian tsb di

atas, jumlah kelebihan cadangan tersebut diperhitungkan sebagai penghasilan.

Dalam hal jumlah cadangan piutang tak tertagih dipakai untuk

menutup kerugian tsb di atas namun tidak mencukupi, jumlah

kekurangan cadangan tersebut diperhitungkan sebagai kerugian.

Cadangan Piutang Tak Tertagih

PT Penanaman Modal Madani (Persero)

Besarnya cadangan khusus penyisihan ditetapkan sebagai berikut :

a. 2,5% dari baki debet yang digolongkan dalam perhatian khusus setelah

dikurangi nilai agunan;

b. 5% dari baki debet yang digolongkan kurang lancar setelah dikurangi dengan nilai agunan;

c. 50% dari baki debet yang digolongkan diragukan setelah dikurangi dengan

nilai agunan; dan

d. 100% dari baki debet yang digolongkan macet setelah dikurangi dengan nilai agunan.

Besarnya nilai agunan yang dapat diperhitungkan sebagai pengurang pada

cadangan paling tinggi adalah :

a. 100% (seratus persen) dari nilai agunan yang bersifat likuid; dan

b. 75% (tujuh puluh lima persen) dari nilai agunan lainnya atau sebesar nilai yang ditetapkan perusahaan penilai.

 Jumlah baki debet yang digunakan sebagai dasar untuk membentuk dana adalah pokok baki debet

Jumlah baki debet yang digunakan sebagai dasar untuk

membentuk dana adalah pokok baki debet yang diberikan oleh PT Permodalan Nasional Madani (Persero).

Kerugian yang berasal dari pembiayaan yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dibebankan pada perkiraan cadangan

khusus penyisihan pembiayaan.

Dalam hal jumlah cadangan khusus penyisihan pembiayaan seluruhnya atau sebagian tidak dipakai untuk menutup

kerugian tsb di atas, jumlah kelebihan cadangan tersebut

diperhitungkan sebagai penghasilan.

Dalam hal jumlah cadangan khusus penyisihan pembiayaan dipakai untuk menutup kerugian tsb di atas namun tidak mencukupi, jumlah kekurangan cadangan tersebut diperhitungkan sebagai kerugian.

Cadangan Piutang Tak Tertagih Perusahaan SGU Hak Opsi

Besarnya cadangan piutang tak tertagih untuk perusahaan sewa guna usaha

dengan hak opsi ditetapkan paling tinggi sebesar 2,5% (dua setengah persen) dari rata-rata saldo awal dan saldo akhir piutang.

Kerugian sebenarnya yang disebabkan piutang yang nyata-nyata tidak dapat

ditagih, dibebankan pada perkiraan cadangan piutang tak tertagih.

Dalam hal jumlah cadangan piutang tak tertagih seluruhnya atau sebagian tidak dipakai untuk menutup kerugian tsb di atas, jumlah kelebihan cadangan tersebut diperhitungkan sebagai penghasilan.

Dalam hal jumlah cadangan piutang tak tertagih dipakai untuk menutup

kerugian tsb di atas, namun tidak mencukupi, jumlah kekurangan cadangan

tersebut diperhitungkan sebagai kerugian.

Cadangan Piutang Tak Tertagih Perusahaan Pembiayaan Konsumen

Besarnya cadangan piutang tak tertagih untuk perusahaan pembiayaan konsumen ditetapkan paling tinggi sebesar 5% (lima persen) dari rata-rata saldo awal dan saldo akhir piutang.

Kerugian sebenarnya yang disebabkan piutang yang nyata-nyata tidak dapat

ditagih dibebankan pada perkiraan cadangan piutang tak tertagih.

Dalam hal jumlah cadangan piutang tak tertagih seluruhnya atau sebagian

tidak dipakai untuk menutup kerugian tsb. di atas, jumlah kelebihan cadangan tersebut diperhitungkan sebagai penghasilan.

Dalam hal jumlah cadangan piutang tak tertagih dipakai untuk menutup

kerugian tsb. di atas namun tidak mencukupi, jumlah kekurangan cadangan tersebut diperhitungkan sebagai kerugian.

Cadangan Piutang Tak Tertagih Perusahaan Anjak Piutang

Besarnya cadangan piutang tak tertagih untuk perusahaan anjak piutang ditetapkan paling tinggi sebesar 5% (lima persen) dari rata-rata saldo awal dan

saldo akhir piutang.

Kerugian sebenarnya yang disebabkan piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dibebankan pada perkiraan cadangan piutang tak tertagih.

Dalam hal jumlah cadangan piutang tak tertagih seluruhnya atau sebagian

tidak dipakai untuk menutup kerugian tsb di atas, jumlah kelebihan cadangan

tersebut diperhitungkan sebagai penghasilan.

Dalam hal jumlah cadangan piutang tak tertagih dipakai untuk menutup kerugian tsb di atas namun tidak mencukupi, jumlah kekurangan cadangan tersebut diperhitungkan sebagai kerugian.

Cadangan Piutang Tak Tertagih Secara Bersamaan Usaha SGU-Hak Opsi, Pembiayaan Konsumen, dan Anjak Piutang

Dalam hal Wajib Pajak secara bersamaan melakukan kegiatan

usaha

sewa guna usaha dengan hak opsi,

pembiayaan konsumen, dan/atau

anjak piutang,

besarnya cadangan piutang tak tertagih yang dapat dibiayakan dihitung berdasarkan besarnya piutang untuk masing-masing usaha.

Cadangan Premi Tanggungan Sendiri

Perusahaan Asuransi Kerugian

Besarnya cadangan premi tanggungan sendiri untuk perusahaan asuransi kerugian adalah sebesar 40% (empat puluh persen) dari jumlah premi tanggungan sendiri yang diterima atau diperoleh dalam tahun pajak yang bersangkutan.

Cadangan premi tanggungan sendiri merupakan premi yang sudah diterima atau diperoleh akan tetapi belum merupakan

penghasilan pada tahun pajak yang bersangkutan.

Cadangan premi tanggungan sendiri merupakan penghasilan

pada tahun pajak berikutnya.

Cadangan Klaim Tanggungan Sendiri Perusahaan Asuransi Kerugian

Besarnya cadangan klaim tanggungan sendiri untuk perusahaan asuransi kerugian adalah sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah klaim yang sudah disepakati tetapi belum dibayar dan klaim yang sudah

dilaporkan dan sedang dalam proses, tetapi tidak termasuk klaim yang

belum dilaporkan.

Cadangan klaim tanggungan sendiri dibentuk pada akhir tahun pajak.

Jumlah klaim yang sebenarnya dibayar oleh perusahaan asuransi

kerugian dibebankan kepada perkiraan cadangan klaim tanggungan

sendiri.

Dalam hal jumlah cadangan klaim tanggungan sendiri seluruhnya atau sebagian tidak dipakai untuk menutup kerugian tsb di atas, jumlah

kelebihan cadangan tersebut diperhitungkan sebagai penghasilan.

Dalam hal jumlah klaim tanggungan sendiri dipakai untuk menutup kerugian tsb di atas namun tidak mencukupi, jumlah kekurangan cadangan tersebut boleh dibebankan sebagai biaya.

Cadangan Premi

Perusahaan Asuransi Jiwa

Besarnya cadangan premi untuk perusahaan asuransi jiwa

ditentukan sesuai dengan penghitungan aktuaria yang telah mendapat pengesahan dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan.

Kenaikan jumlah saldo akhir dibanding dengan saldo awal tahun dari cadangan premi merupakan biaya dalam tahun yang bersangkutan.

Apabila terjadi pembayaran klaim kepada tertanggung jumlah

tersebut dibebankan kepada perkiraan cadangan premi.

Cadangan Penjaminan

Lembaga Penjamin Simpanan

Besarnya cadangan penjaminan untuk Lembaga Penjamin

Simpanan adalah 80% (delapan puluh persen) dari surplus yang diperoleh Lembaga Penjamin Simpanan dari kegiatan operasional selama 1 (satu) tahun yang diakumulasikan sesuai peraturan

perundang-undangan mengenai Lembaga Penjamin Simpanan.

Cadangan Biaya Reklamasi

Perusahaan Pertambangan

Besarnya cadangan biaya reklamasi untuk perusahaan yang

melakukan usaha pertambangan adalah yang sebenarnya dibebankan pada perkiraan cadangan biaya reklamasi.

Cadangan biaya reklamasi untuk perusahaan yang melakukan

usaha dihitung sesuai dengan peraturan perundang-undangan di

bidang pertambangan energi dan sumber daya mineral.

Apabila setelah berakhirnya masa kontrak atau selesainya penambangan terdapat selisih antara jumlah cadangan biaya reklamasi dengan jumlah biaya reklamasi yang sebenarnya dikeluarkan, selisih tersebut merupakan penghasilan atau kerugian pada tahun yang bersangkutan.

Cadangan Biaya Penanaman Kembali Perusahaan Kehutanan

Besarnya cadangan biaya penanaman kembali untuk perusahaan

yang melakukan usaha kehutanan adalah yang sebenarnya dibebankan pada perkiraan cadangan biaya penanaman kembali.

Cadangan biaya penanaman kembali untuk perusahaan yang

melakukan usaha kehutanan dihitung sesuai dengan peraturan

perundang-undangan di bidang kehutanan.

Apabila setelah berakhirnya masa kontrak terdapat selisih antara jumlah cadangan biaya penanaman kembali dengan jumlah biaya

penanaman kembali yang sebenamya dikeluarkan, selisih tersebut merupakan penghasilan atau kerugian pada tahun yang bersangkutan.

Cadangan Biaya Penutupan dan Pemeliharaan Tempat Pembuangan Limbah Industri

Besarnya cadangan biaya penutupan dan pemeliharaan tempat pembuangan limbah industri untuk usaha pengolahan limbah

industri adalah yang sebenarnya dibebankan pada perkiraan

cadangan biaya penutupan dan pemeliharaan tempat pembuangan limbah.

Besarnya cadangan biaya penutupan dan pemeliharaan tempat

pembuangan dihitung sesuai dengan peraturan perundang-

undangan di bidang lingkungan hidup.

Apabila setelah berakhirnya masa kontrak terdapat selisih antara jumlah cadangan biaya penutupan dan pemeliharaan tempat

pembuangan limbah dengan jumlah biaya penutupan dan

pemeliharaan tempat pembuangan limbah yang sebenarnya dikeluarkan, selisih tersebut merupakan penghasilan atau

kerugian pada tahun yang bersangkutan.

Pemberian Natura Dan Kenikmatan Yang Dapat Dikurangkan

Bagi Pemberi Kerja Dan Bukan Penghasilan Bagi Pegawai (PMK No. 83/PMK.03/2009)

a. Pengeluaran untuk penyediaan makanan dan/atau minuman bagi Pegawai yang meliputi:

pemberian makanan dan/atau minuman yang

disediakan oleh pemberi kerja di tempat kerja,

atau

pemberian kupon makanan dan/atau minuman bagi Pegawai yang karena sifat pekerjaannya

tidak dapat memanfaatkan pemberian sebagaimana dimaksud pada huruf a, meliputi Pegawai bagian pemasaran, bagian transportasi,

dan dinas luar lainnya.

Pemberian Natura Dan Kenikmatan Yang Dapat Dikurangkan

Bagi Pemberi Kerja Dan Bukan Penghasilan Bagi Pegawai

(PMK No. 83/PMK.03/2009)

b. Penggantian atau imbalan dalam bentuk natura atau kenikmatan yang diberikan berkenaan dengan pelaksanaan pekerjaan di daerah tertentu dalam rangka menunjang kebijakan pemerintah untuk mendorong pembangunan di daerah tersebut:

sarana dan fasilitas di lokasi kerja untuk :

a.

tempat tinggal, termasuk perumahan bagi Pegawai dan keluarganya;

b.

pelayanan kesehatan;

c.

pendidikan bagi Pegawai dan keluarganya;

d.

peribadatan;

e.

pengangkutan bagi Pegawai dan keluarganya;

f.

olahraga bagi Pegawai dan keluarganya tidak termasuk golf, power

boating, pacuan kuda, dan terbang layang,

sepanjang sarana dan fasilitas tersebut tidak tersedia, sehingga pemberi kerja harus menyediakannya sendiri.

Pengeluaran untuk pembangunan sarana dan fasilitas tsb di atas yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun disusutkan.

Pemberian Natura Dan Kenikmatan Yang Dapat Dikurangkan Bagi Pemberi Kerja Dan Bukan Penghasilan Bagi Pegawai (PMK No. 83/PMK.03/2009)

c. Pemberian natura dan kenikmatan yang merupakan keharusan dalam pelaksanaan pekerjaan sebagai

sarana keselamatan kerja atau karena sifat

pekerjaan tersebut mengharuskannya:

meliputi pakaian dan peralatan untuk keselamatan kerja, pakaian seragam petugas

keamanan (satpam), sarana antar jemput

Pegawai, serta penginapan untuk awak kapal, dan

yang sejenisnya.

PP Nomor 94 Tahun 2010

Pasal 13

Pengeluaran dan biaya yang tidak boleh dikurangkan dalam menentukan besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap, termasuk:

a. biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang:

1) bukan merupakan objek pajak;

2) pengenaan pajaknya bersifat final; dan/atau 3) dikenakan pajak berdasarkan Norma Penghitungan

Penghasilan Neto sdd Pasal 14 UU PPh dan Norma Penghitungan Khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 UU PPh.

b. Pajak Penghasilan yang ditanggung oleh pemberi

penghasilan.

PP Nomor 94 Tahun 2010

Pasal 10

(1)

Pajak Masukan yang tidak dapat dikreditkan sdd Pasal 9 ayat (8)

UU PPN dapat dikurangkan dari penghasilan bruto sepanjang

dapat dibuktikan Pajak Masukan tersebut:

a.

benar-benar telah dibayar; dan

(2)

b. berkenaan dengan pengeluaran yang berhubungan dengan kegiatan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan. Pajak Masukan yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto

sdp ayat (1) sehubungan dengan pengeluaran untuk

memperoleh harta berwujud dan/atau harta tidak berwujud serta biaya lainnya yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun sdd Pasal 11 dan Pasal 11A UU PPh, harus

dikapitalisasi dengan pengeluaran atau biaya tersebut dan

dibebankan melalui penyusutan atau amortisasi.

Perlakuan Biaya Bunga Pinjaman Apabila Terdapat

Penghasilan Bunga Deposito

(1) Apabila jumlah rata-rata pinjaman sama besarnya dengan atau lebih kecil dari jumlah rata-rata dana yang ditempatkan sebagai deposito berjangka atu tabungan lainnya,maka bunga yang dibayar ataut erutang atas pinjaman tersebut seluruhnya tidak

dapat dibebankan sebagai biaya.

(2) Apabila jumlah rata-rata pinjaman lebih besar dari jumlah rata- rata dana yang ditempatkan dalam bentuk deposito atau

tabungan lainnya,maka bunga atas pinjaman yang boleh

dibebankan sebagai biaya adalah bunga yang dibayar atau

terutang atas rata-rata pinjaman yang melebihi jumlah rata-rata dana yang ditempatkan sebagai deposito berjangka atau tabungan lainnya.

SE-46/PJ.4/1995

Perlakuan PPh atas Pengeluaran BPHTB dan PBB

a. BPHTB adalah pajak yg dibayar dalam rangka dan merupakan bagian dari

biaya pengeluaran untuk memperoleh hak atas tanah dan atau bangunan;

b. PBB adalah pajak yang dibayar sehubungan dengan pemilikan hak atau perolehan manfaat atas tanah dan atau pemilikan, penguasaan, atau perolehan manfaat atas bangunan, yang merupakan biaya/pengeluaran rutin

setiap tahun;

c. BPHTB atas hak atas tanah yg dimiliki dan dipergunakan dalam perusahaan,

atau dimiliki untuk 3m penghasilan, dapat dikurangkan sebagai biaya dalam penghitungan PhKP melalui amortisasi hak atas tanah sepanjang hak atas

tanah tsb dapat diamortisasi sesuai ketentuan Pasal 11A UU PPh;

SE- 01/PJ.42/2002

Perlakuan PPh atas Pengeluaran BPHTB dan PBB

d. BPHTB atas hak atas bangunan yg dimiliki dan dipergunakan dalam

perusahaan, atau dimiliki untuk 3m penghasilan dapat dikurangkan sebagai

biaya dalam penghitungan PhKP melalui penyusutan bangunan tsb sesuai ketentuan Pasal 11 UU PPh;

e. PBB atas tanah dan bangunan yang dimiliki dan dipergunakan dalam

perusahaan, atau dimiliki untuk 3m penghasilan, dapat dikurangkan sekaligus

sebagai biaya dalam penghitungan PhKP;

f. Penegasan dimaksud pada huruf-huruf c, d, dan e di atas, berlaku atas penghasilan yg tidak berkaitan dengan penerimaan/perolehan penghasilan yang dikenakan PPh yg bersifat final dan atau dikenakan berdasarkan Norma

Penghitungan Penghasilan Neto/Norma Penghitungan Khusus.

SE- 01/PJ.42/2002

Perlakuan Pph Atas Biaya Pemakaian Telepon Seluler Dan Kendaraan Perusahaan

a. Atas biaya perolehan atau pembelian telepon seluler yang dimiliki dan di pergunakan perusahaan untuk pegawai tertentu karena jabatan atau pekerjaannya,dapat dibebankan sebagai biaya perusahaan sebesar 50% dari jumlah biaya perolehan atau pembelian melalui penyusutan aktiva tetap

kelompok I.

b. Atas biaya berlangganan atau pengisian ulang pulsa dan perbaikan telepon seluler yang dimiliki dan dipergunakan perusahaan untuk pegawai tertentu karena jabatan atau pekerjaannya,dapat dibebankan sebagai biaya perusahaan

sebesar 50% dari jumlah biaya berlangganan atau pengisian ulang pulsa dan

perbaikan dalam tahun pajak yang bersangkutan

c. Atas biaya perolehan atau pembelian atau perbaikan atau perbaikan besar kendaraan bus,minibus,atau yang sejenis yang dimiliki dan dipergunakan perusahaan untuk antar jemput para pegawai ,dapat dibebankan seluruhnya sebagai biaya perusahaan melalui penyusutan aktiva tetap kelompok II .

KEP-220/PJ/2002 SE-09/PJ.42/2002

Perlakuan Pph Atas Biaya Pemakaian Telepon Seluler Dan

Kendaraan Perusahaan

d. Atas biaya pemeliharaan atau perbaikan rutin kendaraan bus,minibus,atau yang sejenis yang dimiliki dan dipergunakan perusahaan untuk antar jemput para pegawai ,dapat dibebankan seluruhnya sebagai biaya perusahaan dalam tahun

pajak yang bersangkutan

e. Atas biaya perolehan atau pembelian atau perbaikan atau perbaikan besar kendaraan sedan ,atau yang sejenis yang dimiliki dan dipergunakan perusahaan untuk pegawai tertentu karena jabatan atau pekerjaannya,dapat

dibebankan sebagai biaya perusahaan sebesar 50% dari jumlah biaya

perolehan atau pembelian atau perbaikan besar melalui penyusutan aktiva tetap kelompok II.

KEP-220/PJ/2002 SE-09/PJ.42/2002

Perlakuan Pph Atas Biaya Pemakaian Telepon Seluler Dan Kendaraan Perusahaan

f. Atas biaya pemeliharaan atau perbaikan rutin kendaraan sedan ,atau yang sejenis yang dimiliki dan dipergunakan perusahaan untuk pegawai tertentu karena jabatan atau pekerjaannya,dapat dibebankan sebagai biaya perusahaan

sebesar 50% dari jumlah iaya pemeliharaan atau perbikan rutin dalam tahun

pajak yang bersangkutan

g. Apabila atas penghasilan Wajib Pajak yang dapat dibebani biaya-biaya dikenakan PPh yang bersifat Final atau berdasekan Norma Perhitungan

Khusus,maka pembebanan biaya biaya tersebut telah termasuk dalam

penghitungan PPh Final atau berdasarkan Norma Peghitungan khusus h. Atas biaya biaya yang dapat dibebankan tersebut tidak merupakan penghasilan bagi para pegawai perusahaan yang bersangkutan

KEP-220/PJ/2002 SE-09/PJ.42/2002

Perlakuan Pph Atas Biaya Perolehan Perangkat Lunak (Software) Komputer

a. Perangkat lunak komputer merupakan harta tak berwujud yang

mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun dan termasuk dalam kelompok I ,Pasal 11 A ayat (2) Undang undang PPh. b. Perangkat lunak komputer berupa program aplikasi umum diperlakukan sebagai pengeluaran atau biaya operasional rutin. c. Atas pengeluaran/biaya perolehan dan upgrade perangkat lunak komputer berupa program aplikasi umum yang dimiliki dan

digunakan untuk mendapatkan ,menagih dan memelihara

penghasilan yang dikenakan pajak berdasarkan ketentuan umum UU Pajak Penghasilan,pembebanannya dilakukan sekaligus dalam bulan pengeluaran .

KEP- 316/PJ./ 2002

Perlakuan Pph Atas Biaya Perolehan Perangkat Lunak (Software) Komputer

d. Dalam hal program aplikasi umum tersebut diperoleh sebagai bagian dari harga pembelian perangkat keras komputer,maka pembebanannya sudah termasuk dalam penyusutan perangkat

keras komputer tersebut ( kelompok I).

e. Atas pengeluaran/biaya perolehan dan upgrade perangkat lunak komputer berupa program aplikasi khusus yang dimiliki dan digunakan untuk mendapatkan ,menagih dan memelihara

penghasilan yang dikenakan pajak berdasarkan ketentuan umum

UU Pajak Penghasilan,pembebanannya dilakukan melalui amortisasi harta tak berwujud ( kelompok I)

KEP- 316/PJ./ 2002

Perlakuan Pph Atas Biaya Perolehan Perangkat Lunak

(Software) Komputer

f. Dalam hal pengeluaran/biaya upgrade program aplikasi khusus , pengeluaran/biaya perolehan dan upgrade perangkat lunak

komputer pengeluaran tersebut terlebih dahulu ditambahkan

pada nil;ai sisa buku fiskal yang masih ada dan amortisasinya

dilakukan dengan masa manfaat baru/penuh terhitung mulai bulan dilakukan upgrade.

g. Atas pengeluaran/biaya perolehan dan upgrade perangkat lunak

komputer berupa program aplikasi khusus yang diperoleh sebelum berlakunya Keputusan Direktur Jenderal Pajak ini,sepanjang belum dibebankan atau baru dibebankan sebagian melalui

amortisasi,dapat diamortisasi mulai tahun pajak 2002 berdasarkan sisa masa manfaat untuk kelompok I.

KEP- 316/PJ./ 2002