Anda di halaman 1dari 3

BAB II

KAJIAN PUSTAKA
2.1 Environmental Approach
Pendekatan lingkungan merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang berusaha
untuk meningkatkan keterlibatan siswa melalui pendayagunaan lingkungan sebagai
sumber belajar. Pendekatan ini berasumsi bahwa kegiatan pembelajaran akaan menarik
siswa, jika apa yang dipelajari diangkat dari lingkungan, sehingga apa yang dipelajari
berhubungan dengan kehidupan dan berfaedah bagi lingkungan (Khusnin, 2008).
Menurut Yulianto (2002) pendekatan lingkungan berarti mengaitkan lingkungan dalam
suatu proses belajar mengajar dimana lingkungan digunakan sebagai sumber belajar.
Untuk memahami materi yang erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari sering
digunakan pendekatan lingkungan. Sehingga dapat dikatakan lingkungan yang ada di
sekitar merupakan salah satu sumber belajar yang dapat dioptimalkan untuk pencapaian
proses dan hasil pendidikan yang berkualitas. Lingkungan dapat memperkaya bahan dan
kegiatan belajar.
Lingkungan merupakan salah satu sumber belajar yang amat penting dan memiliki nilainilai yang sangat berharga dalam rangka proses pembelajaran siswa. Penggunaaan
lingkungan memungkinkan terjadinya proses belajar yang lebih bermakna sebab anak
dihadapkan pada kondisi yang sebenarnya. Pelajaran biologi dengan menggunakan
bahan-bahan alami lebih menguntungkan bagi siswa dan pengalaman bersahabat dengan
alam lebih cenderung menyiapkan perasaan positif bagi siswa terhadap keajaiban alam
2.2 Teori Anak
The National for the Educational of Young Children (NAEYC) mendefinisikan
pendidikan anak usia dini adalah pendidikan yang melayani anak usia lahir hingga 8
tahun untuk kegiatan setengah hari maupun penuh baik di rumah ataupun institusi luar.
Asosiasi para pendidik yang berpusat di Amerika tersebut mendefinisikan rentang usia
berdasarkan perkembangan hasil penelitian di bidang psikologi perkembangan anak yang
mengindikasikan bahwa terdapat pola umum yang dapat diprediksi menyangkut
perkembangan yang terjadi selama 8 tahun pertama kehidupan anak. NAEYC juga

berperan sebagai lembaga yang memberikan panduan dalam menjaga mutu program
pendidikan anak usia dini yang berkualitas yaitu program yang sesuai dengan tingkat
perkembangan dan keunikan individu.Pembagian rentang usia berdasarkan keunikan
dalam tingkat pertumbuhan dan perkembangannya di Indonesia, tercantum dalam buku
kurikulum dan hasil belajar anak usia dini yang terbagi ke dalam rentang tahapan berikut:
(1) Masa bayi berusia lahir 12 bulan; (2) Masa toddler atau balita usia 1-3 tahun; (3)
Masa prasekolah usia 3-6 tahun; (4) Masa kelas B TK usia 4-5/6 tahun

Teori perkembangan Piaget dengan konsep kecerdasan seperti halnya sistem biologi
membangun struktur untuk berfungsi, pertumbuhan kecerdasan ini dipengaruhi oleh
lingkungan fisik dan sosial, kematangan dan ekuilibrasi. Semua organisme dilahirkan
dengan kecenderungan untuk beradaptasi (menyesuaikan diri) dengan lingkungannya.
Cara beradaptasi berbeda bagi setiap individu, begitu juga proses dari tahap yang satu ke
tahap yang lain dalam satu individu. Adaptasi terjadi dalam proses asimilasi dan
akomodasi. Kita merespon dunia dengan menghubungkan pengalaman yang diterima
dengan pengalaman masa lalu kita (asimilasi), sedangkan setiap pengalaman itu berisi
aspek yang mungkin saja baru sama sekali. Aspek yang baru inilah yang menyebabkan
terjadinya dalam struktur kognitif (akomodasi).Asimilasi adalah proses merespon pada
lingkungan yang sesuai dengan struktur kognitif seseorang. Tetapi proses pertumbuhan
intelektual tidak akan ada apabila pengalaman yang ditangkap tidak berbeda dengan
skemata yang ada oleh sebab itu diperlukan proses akomodasi, yaitu proses yang
merubah struktur kognitif. Bagi Piaget proses akomodasi tersebut dapat disamakan
dengan belajar. Konsep ini mejelaskan tentang perlunya guru memilih dan menyesuaikan
materi berpijak dari ide dasar yang diketahui anak, untuk kemudian dikembangkan
dengan stimulasi lebih luas misalnyadalam bentuk pertanyaan sehingga kemampuan anak
meningkat dalam menghadapi pengalaman yang lebih kompleks.
2.3 Farming Chef Training System
Farming Chef Training System / Farm to Table adalah sebuah gerakan sosial yang
mempromosikan melayani makanan lokal di restoran dan kafetaria sekolah, yang

sebaiknya melalui perolehan langsung dari produsen bahan baku (seperti anggur, bir,
peternakan, perikanan, atau jenis lain dari produsen makanan yang tidak ketat
"peternakan"). Ini dapat dicapai dengan hubungan langsung penjualan, pengaturan
pertanian berbasis masyarakat, pasar petani, distributor lokal atau oleh restoran atau
sekolah menghasilkan makanan sendiri. Farm to Table sering menggabungkan bentuk
ketertelusuran makanan di mana asal makanan diidentifikasi kepada konsumen. Sangat
sering restoran untuk tidak mendapatkan sumber semua makanan yang mereka butuhkan
untuk hidangan lokal, sehingga hanya beberapa hidangan atau hanya beberapa bahan
diberi label lokal.
Peserta yang berpartisipasi juga sering menolak "komoditas" praktik pertanian
konvensional atau lainnya, merangkul pertanian berkelanjutan, pertanian organik,
perdagangan yang adil dan menentang rekayasa genetika makanan dan pengobatan
hewan dengan antibiotik dan hormon hanya untuk membuat mereka tumbuh lebih cepat
Gerakan peternakan ke meja telah muncul kurang lebih bersamaan dengan perubahan
sikap tentang keamanan pangan, kesegaran makanan,dan musim makanan, Advokat dan
praktisi dari model peternakan ke meja sering mengutip sebagai motivasi mereka ,