Anda di halaman 1dari 7

IDENTIFIKASI KANDUNGAN KULIT BUAH NAGA SEBAGAI BAHAN

ALTERNATIF TAMBAHAN PANGAN


Wilda Mukhollida
151710101101/THP B
Jurusan Teknologi Hasil Pertanian
Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember
ABSTRAK
Buah naga merupakan buah yang kaya antioksidan yang sangat
bermanfaat untuk kesehatan tubuh. Buah naga juga memiliki kulit yang kaya akan
zat gizi dan pigmen bermanfaat. Kulit buah naga mengandung pigmen betalain,
betasianin dan antosianin yang merupakan zat antioksidan. Betalain merupakan
pigmen berwarna merah-violet dan kuning-orange yang banyak terdapat pada
buah, bunga, dan jaringan vegetatif. Antosianin merupakan kelompok pigmen
yang berwarna merah sampai biru yang tersebar luas pada tanaman. Antosianin
tergolong pigmen yang disebut flavonoid. Ketiga pigmen tersebut sangat cocok
untuk dijadikan bahan tambahan pangan karena bersifat alami dan mengandung
zat yang dapat menjaga kesehatan tubuh. Selain ketiga pigmen tersebut kulit buah
naga juga mengandung zat gizi seperti dietary fiber, protein, lemak, air dan abu
yangsangat bermanfaat.
Kata kunci : identifikasi, kulit buah naga, zat gizi, pigmen.
PENDAHULUAN
Buah-buahan merupakan salah satu bahan pangan yang kaya akan
antioksidan yang dapat mencegah atau menghambat proses kerusakan akibat
oksidasi lemak, protein dan asan nukleat. Senyawa Polyphenol diketahui
memberikan keuntungan terhadap kesehatan dan diyakini bahwa faktor utamanya
adalah aktivitas antioksidan (Liu, 2003). Antioksidan mungkin bertindak sebagai
pencegah kanker secara kimia dan ageninflammatory dengan mengurangi
resikokematian akibat cardiovascular (Cos et al.,2004).
Salah satu buah yang mengandung antioksidan adalah buah naga merah.
Namun sebenarnya kita tidak hanya bisa memanfaatkan buah naga dari segi
buahnya saja, tapi dari segi kulitnya pun dapat kita manfaatkan. Menurut Herawati
(2013), terdapat kandungan betasianin sebesar 186,90 mg/100g berat kering dan
aktivitas aktioksidansebesar 53,71% dalam kulit buah naga.

Menurut Saati (2011), kulit buah naga berjumlah 30-35 % dari berat
buahnya dan seringkali hanya dibuang sebagai sampah. Padahal hasil penelitian
menunjukkan kulitbuah naga mengandung antioksidan dan juga dapat
menurunkan kadar kolesterol (Kanner et al., 2001). Kulit buah naga merah (H.
polyrhizus) mengandung betalain yang berfungsi sebagai antioksidan dan pewarna
alami (Stafford, 1994 dalam Cao et al., 2012, Wybraniec et al., 2001; Wu et al.,
2006 ; Khalida, 2010). Kulit buah naga memiliki potensi antioksidan yang lebih
besar dibanding buahnya (Darmawi, 2011)
Kulit buah naga mengandung dietary fiber yang tinggi. Penambahan
dietary fiber pada berbagai makanan akan menyumbang perkembangan nilai
tambah makanan atau fungsional makanan yang tinggi permintaannya.Selain itu,
beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa komponen fiber dapat memperbaiki
tekstur, thickening, emulsifying dan stabilizing properties pada beberapa makanan
(Dreher, 1987).
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi zat gizi yang
terkandung dalam kulit buah naga merah agar buah naga tidak hanya
dimanfaatkan dagingnya saja dan untuk meminimalkan limbah kulit buah naga di
lingkungan.
PEMBAHASAN
Tanaman buah naga yang sering juga dibuat menjadi tanaman hias,
dalam setahun bisa berbuah tiga kali, dan produksinya bisa terus meningkat
dengan perawatan yang baik. Setiap tahun, tanaman buah naga meningkat,
begitu juga dengan import buah naga ke Indonesia. Berdasarkan catatan dari
eksportir buah di Indonesia, buah naga ini masuk ke tanah air mencapai
antara 200 - 400 ton/tahun asal Thailand dan Vietnam. Masyarakat semakin
menyukai buah naga karena selain pohon dan buahnya yang indah, buah
naga juga mengandung manfaat bagi kesehatan. Selain daging buahnya,
ternyata kulit buah naga juga kaya akan zat gizi yang bermanfaat untuk kesehatan
tubuh.

Kulit buah naga (Hylocereus polyrhizus) yang berwarna merah atau


merah violet merupakan sumber pigmen betasianin. Buah naga dengan
variasi warna daging putih, merah, dan violet mempunyai kulit buah
berwarna merah dan daging berwarna kuning berkulit kuning. Betasianin
telah diketahui mempunyai banyak manfaat dan bernilai taksonomi yang
signifikan maka banyak teknik yang telah digunakan untuk
mengkarakterisasi senyawa ini. Identifikasi betasianin banyak dilakukan
dengan perbandingan spektroskopi, kromatografi, sifat elektroforesis dengan
standar otentik atau data sekunder dan menggunakan teknik analisis
tradisional dan modern (Stintzing, et al. 2004; Caidan Corke. 2001,
Schleimann et al, 2001) seperti kromatografi kertas, kromatografi lapis tipis,
elektroforesis kertas, High Performance Liquid Chromatography (HPLC),
Liquid Chromatography - Mass Spectrometry (LC-MS), Liquid
Chromatography - Mass Spectrometry (LC-MS), Electrospray Ionization
tandem Mass Spectrometry (ESI-MS/MS), Nuclear Magnetic Resonance
(NMR), dan LC-NMR.
Selain sebagai sumber pigmen betasianin, kulit buah naga juga
menganding betalain. Betalain merupakan pigmen berwarna merah-violet dan
kuning-orange yang banyak terdapat pada buah, bunga, dan jaringan
vegetatif (Strack et al., 2003). Betalain adalah pigmen kelompok alkaloid
yang larut air, pigmen bernitrogen, dan merupakan pengganti anthocyanin
pada sebagian besar family tanaman ordo Caryophyllales, termasuk
Amaranthaceae, dan bersifat mutual eksklusif dengan pigmen antosianin (Cai
et al., 2005; Grotewold, 2006). Betalain merupakan pewarna alami yang
banyak digunakan pada produk pangan. Pigmen ini banyak dimanfaatkan
karena kegunaannya selain sebagai pewarna juga sebagai antioksidan dan
radical savenging sebagai perlindungan terhadap gangguan akibat stres
oksidatif.
Kulit buah naga juga mengandung dietary fiber. Kandungan total dietary
fiber (TDF), soluble dietary fiber (SDF) dan insoluble dietary fiber (IDF)
kulit buah naga merah ditunjukkan pada tabel berikut.

Tabel Komposisi DF Buah-Buahan dan Sayuran ( % )

Nilai tersebut dibandingkan dengan beberapa sumber dietary fiber


seperti kulit nanas (Larrauri et al., 1997a); kulit mangga (Larrauri et al.,
1996); jeruk besar (Larrauri et al., 1997b); limbah anggur (Valiente et al.,
1995); apel, pear, orange, persik, artichoke, asparagus (Grigel-Miguel &
Martin-Bellosa, 1999); tomat dan wortel. Menurut Lund and Smoot (1982),
buah-buahan dan sayuran tropis mempunyai perbedaan kandungan fibre
dibandingan dengan non-tropis.
Kulit buah naga kaya akan kandungan zat gizi yang bermanfaat bagi
tubuh. Kandungan air kulit buah naga merah yang diperoleh adalah 4.9%,
dan hal ini dapat mencegah pertumbuhan mikroba. Selain itu, kandungan
protein kulit buah naga merah sebesar 3.2%. Kandungan tersebut lebih rendah
dibandingkan dengan buah-buahan dan sayuran lainnya yaitu antara 2.7%
24.9%. Kandungan lemak kulit buah naga merah sebesar 0.7%, sedangkan
kandungan lemak dari buah-buahan dan sayuran lainnya antara 0.5% - 10.9%.
Kandungan pigmen antosianin dari kulit buah naga pun bermanfaat unyuk
dijadikan bahan pewarna alami makanan. Antosianin merupakan kelompok
pigmen yang berwarna merah sampai biru yang tersebar luas pada tanaman.
Antosianin tergolong pigmen yang disebut flavonoid (Harborne, 1987).
Pigmen antosianin dari kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) dapat
dijadikan sebagai alternatif pengganti pewarna sintesis. Kandungan antosianin

ini dapat dijadikan bahan pewarna alternatif dalam makanan. Bahaya penggunaan
pewarna sintetis dalam makanan bagikesehatan jika di konsunsi dalam jumlah
yang banyak pun dapat diminimalisirdengan penggunaan pewarna alami dari kulit
buah naga. Warna merah yang dihasilkan oleh pigmen antosianin dalam kulit buah
naga sangat pekat sehingga cocok digunakan sebagai pewarna makanan.
KESIMPULAN
Kulit buah naga mengandung berbagai zat gizi yang bermanfaat bagi
kesehatan tubuh manusia. Pigmen yang terkandug dalam kulit buah naga seperti
betalain, betasianin, dan antosianin merupakan zat antioksidan. Pigmen terdebut
dapat digunakan sebagai bahan pewarna alami alternatif yang sangat bermanfaat
bagi tubuh. Selain itu, kandungan dietary fiber, protein, air, lemak dan abu pada
kulit buah naga dapat menjaga kesehatan tubuh. Sehingga kulit buah naga sangat
cocok untuk dijadikan bahan tambahan pangan alternative.

DAFTAR PUSTAKA
Cai, Y.M.S dan H. Corke. 2001. Identification and distribution of simple
acylated betacyanin pigments in the Amaranthaceae. Journal
Agriculture Food Chemistry. 49:1971-1978. Strack.
Cos, P., De Bruyne, T., Hermans, N., Apers, S., Berghe, D. V., & Vlientinck, A. J.
2004. Proanthocyanidins in health care: current and new trends. Current
Medicinal Chemistry,11, 1345-1359.
Darmawi A.W. 2011. Optimasi proses ekstraksi, pengaruh pH dan jenis cahaya
pada aktivitas antioksidan dari kulit buah naga (Hylocereus p).
http://www.google.com/urldspace.library.uph.edu:8080/bitstream/1234567
89/241/1/capter%20.pdf.[19 Desember 2015].
Dreher,M. L. 1987. Handbook of dietary fibre: an applied approach. New York:
Marcel Dekker.
Grigelmo-Miguel, N., Martin-Belloso, O. 1999. Characterization of dietary
fiber from orange juice extraction. Food Research International. 35(5)
355-361.
Harborne, J.B. 1987. Metode Fitokimia Penuntun Cara Modern Menganalisa
Tumbuhan. Alih bahasa oleh Keokasih Padmawinata. Bandung: Penerbit
ITB.
Herawati, N. 2013. Formulasi Ekstrak Kulit Buah Naga Merah
(Hylocereuspolyrhizus), Rosella dan Buah Salam pada Pembuatan
Minuman Alami. Tidak Diterbitkan. Jember: Fakultas Teknologi Pertanian
Universitas Jember.
Kanner, K., Harel, S., and Granit, R. 2001. Betalains A new class of dietary
cationized antioxidants. Journal of Agricultural and Food Chemistry. 49,
51785185.
Khalida, Y. 2010. A comparative study on the extraction of betacyanin in
the peel and flesh of dragon fruit. Faculty of Chemical and Natural
Resources Engineering University Malaysia Pahang. Malaysia.
Larrauri, J.A., Ruprez, P., Borroto, B., Saura-Calixto,F. 1996. Mango peels as a
new tropical fibre: Preparation and characterization. Lebensmittei
Wissenschaft and Technologie. 29,729-733.

Larrauri, J.A., Ruprez, P., Saura-Calixto, F. 1997a. Pineapple shell as a


source of dietary fiber with associated polyphenols. Journal of
Agricultural and Food Chemistry. 45, pp. 40284031.
Larrauri, J.A., Ruprez, P., Borroto, B., Saura-Calixto, F. 1997b. Seasonal
changes in the composition and properties of a high dietary fibre
powder from grapefruit peel. Journal of the Science of Food and
Agriculture. 74, 308-312.
Liu, R.H. 2003. Health benefits of fruit and vegetables are from additive and
synergistic combinations of phytochemicals. American Journal of Clinical
Nutritio. 78, 517S-520S.
Lund, E.D., Smoot, J.M. 1982. Dietary fiber content of some tropical fruits
and vegetables. Journal of Agricultural and Food Chemistry. 30, 11231127.
Saati. E. 2011. Identifikasi dan uji kualitas pigmen kulit buah naga merah
(Hylocareus costaricensis) pada beberapa umur simpan dengan perbedaan
jenis pelarut. [on line]. http://research
report.umm.ac.id/research/download/abstract_research_report_176.pdf.
[19 Desember 2015].
Schleimann, W., Y. Cai., T. Degenkolb, J. Schmidt dan H. Corke. 2001.
Betalains of Celosia argentea. Phytochem. 58:159-165.
Stintzing, F.C., J. Conrad, I. Klaiber, U. Beifuss, R. Carle. 2004. Structural
investigation on betacyanin pigments by LC NMR and 2D spectroscopy.
Phytochem. 65:415-422.
Valiente, C., Arrigoni, E., Esteban, R.M., Amando, R. 1995. Grape pomace
as a potential food fiber. Journal of Food Science. 60(4), 818-820.
Wybraniec, S. et al. 2001. Betacyanins from vine cactus Hylocereus
polyhizus. Phytochemistry. 58, 12091212.
Wu L.C. et al. 2006. Antioxidant and antiproliferative activities of red
pitaya. Food Chemistry. 95 : 319327