Anda di halaman 1dari 3

PENGELOLAAN DANA DESA, KRITIS

Hiruk pikuk pemilihan umum kepada daerah serentak mulai terasa di


berbagai daerah. Tahapan pendaftaran para peserta calon kepala daerah
pun mulai digelar sejak tanggal 26 Juli 2015. Kian dekatnya tanggal 9
Desember 2015 sebagai puncak pelaksanaan Pemilihan Umum Kepala
Daerah (Pemilukada) serentak, maka mendorong para kontestan calon
kepala daerah pendatang baru maupun petahana berpikir keras meramu
berbagai skenario yang dianggap mampu meraih dukungan suara rakyat
secara maksimal.

Terlepas persoalan calon tunggal, tak bisa dipungkiri semua orang tahu
dan pasti, skenario politik uang (money politic) selalu menjadi menu
utama dalam setiap perhelatan pesta demokrasi di Indonesia. Praktek
money politic tidak berarti menggunakan uang pribadi dalam pertarungan
politik. Sekalipun uang yang digunakan itu berasal dari pemerintah,
namun bermodal
kewenangannya
maka uang itu menjadi sarana
money politic. Dana desa adalah satu contohnya uang dari pemerintah
yang berpotensi menjadi sarana money politic.
Sejalan tahapan Pemilukada serentak digelar, program Nawa Cita Presiden
Jokowi-JK membangun Indonesia dari desa-desa dan daerah-daerah
tertinggal dalam kerangka NKRI," mulai dilaksanakan. Terhitung tanggal
20 April 2015 melalui Kementerian Keuangan RI telah dicairkan dana
desa tahap pertama sebesar 5,7 persen dari total dana 8,28 triliun
kepada 434 kabupaten/kota. Dana desa diatur melalui Peraturan
Pemerintah Nomor 22 Tahun 2015 (PP No 22/2015) tentang Perubahan
atas Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa
yang Bersumber dari APBN.
Dalam pasal 16 PP No 22/2015 dinyatakan penyaluran dana desa
dilakukan secara bertahap, tahap I bulan April (40%), tahap II pada
Agustus (40%) dan tahap III pada Oktober (sebelumnya November) 20%,"
Namun masih tersisanya 14 kabupaten belum menerima dana desa
sampai awal Agustus 2015
maka besar kemungkinannya terjadi Sisa
Lebih Penggunaan Anggaran (SiLPA) dana desa di tingkat kementerian
Keuangan RI.
Efek Domino SiLPA Dana Desa
Sisa lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) adalah sisa anggaran yang tidak
terserap pada satu mata anggaran dalam periode waktu tertentu. Sebab

musababnya tidak terpakai habis dipengaruhi oleh banyak faktor, salah


satunya adalah akibat kelambatan pencairan anggaran tersebut. Dana
desa yang terlambat dikucurkan
secara metode berantai akan
mengakibatkan tersendatnya proses belanja pada sejumlah kegiatan
dan itu berarti. dana desa mengalami SiLPA.
Dalam hal dana desa yang mengalami SiLPA, dalam pasal 27 ayat 3 PP
No 22/2015 disebutkan bupati/walikota memberikan sanksi administratif
kepada Desa yang bersangkutan. Sanksi di maksud, dijelaskan pada ayat
4 berupa pemotongan Dana Desa tahun anggaran berikutnya sebesar
SiLPA Dana Desa tahun berjalan.
Artikel Lain
Cara Mengurangi SiLPA

Terlepas dari pemotongan itu, belajar dari pengelolaan Alokasi Dana Desa
(ADD) selama ini semisal di Kabupaten Majalengka pencairan ADD 2014
tidak jelas kapan dicairkan, begitu juga pencairan ADD Kab. Kepahiang
nanti di pertengahan Desember 2014, dan masih banyak kabupaten
lainnya, maka dipastikan dana desa ini akan bernasib yang sama.
Keterlambatan proses pencairan dana desa dari rekening kas umum
daerah akan menjadi biang kerok terjadinya SiLPA dana desa. Sekiranya
keterlambatan pencairan dana desa karena faktor yang tidak disengaja
maka publik mahfum. Tapi lain soal kalau keterlambatan itu disengaja
dengan puluhan dalih yang tampaknya rasional maka patut diduga ada
tujuan yang ingin diperjuangkan.
Kendati Pasal 16 ayat 3 PP No 22/2015 memerintahkan Penyaluran
Dana Desa setiap tahap
dilakukan paling lama 7 (tujuh) hari kerja
setelah diterima di kas Daerah, namun keterlambatan pencairan dana
desa terjadi dengan dalih
administrasi pencairan dana desa yang
diajukan
tidak lengkap. Dalam ranah itu, para kepala desa yang
mengalami SiLPA (by design), berada pada titik sunting menjadi aktor
utama mengemban misi petahana. Menolak, berarti harus siap dana
desanya dikurangi dan kalau memilih ikut sejumlah berkah menanti
didepan mata.
Pasal Kadaluarsa
Mengingat imbas yang ditimbulkan dari pasal 27 ayat 3 dan 4 PP No
22/2015 maka sepatutnya pasal ini dihilangkan atau direvisi kembali,
sudah kadaluarsa dan tidak tepat
diberlakukan. Ancaman memotong
anggaran dalam pasal 27 adalah varian teroris baru yang kerap dijadikan
ritual dalam penyusunan
produk hukum berkaitan
keuangan.
Mungkinkah langkah penyelamatan uang negara harus dilakukan dengan
cara-cara yang tidak elok, berbau diskriminasi dan kental
dengan
intimidasi ?.

Pun di berbagai literatur produk hukum Indonesia sering ditemukan


klausul yang menempatkan
jabatan Bupati/Walikota bak teroris.
Takarannya sederhana, stempel teroris selalu dialamatkan pada orang
yang memiliki kebiasaan mengancam kendati itu sekedar bual-bual.
Skenario politik petahana melakoni drama mengamputasi hak desa
berbasis peraturan di detik-detik menjelang pemilukada serentak maka
menyulut kecamuk masyarakat desa. Meski mirip cakar-cakaran anak
SD memperebutkan mainan, kecamuk massa berbau
kritik dan
kecaman
keras yang menyerempet pasal penghinaan nama baik
bupati/walikota dipastikan akan berhamburan.
Sudah saatnya semua produk-perundang-undangan Indonesia hadir dan
dikemas dalam balutan bahasa-bahasa humanis berbasis pendekatan
persuasif. Untuk ketentuan pasal 27 ayat 4 PP No 22/2015 bahasa yang
tepat berbunyi
jika terjadi SiLPA dana desa maka para kepala desa
diwajibkan menyetor kelebihan dana desa yang tidak terpakai pada
rekening kas daerah. Dengan begitu, perilaku teroris itu akan sirna dalam
pemerintahan di Indonesia.