Anda di halaman 1dari 16

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga
makalah ini dapat tersusun hingga selesai. Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan
maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar
pembuatan makalah ini.
Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam pembuatan makalah ini. Terlepas dari semua itu, kami menyadari
sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata
bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik
dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini. Akhir kata kami berharap semoga
makalah ini tentang Isolasi Limfosit Limpa dapat memberikan manfaat untuk masyarakat dan
dapat memberikan menginspirasi terhadap pembaca.
Ungaran, Oktober 2016

Penyusun
Kelompok 2

DAFTAR ISI
Halaman Judul
Kata Pengantar...................................................................................1
Daftar Isi............................................................................................2
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.............................................................................3
1.2 Rumusan Masalah........................................................................4
1.3 Tujuan..........................................................................................4
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi Limpa.............................................................................5
2.2 Fungsi sistem limpa.....................................................................5
2.3 Definisi Limfosit..........................................................................5
2.4 Peran limfosit dalam sistem kekebalan tubuh..............................6
2.5 Limfosit T.....................................................................................6
A. Reseptor antigen sel limfosit T (TCR)...................................7
B. Aktivasi Sel T.........................................................................8
C. Fase-fase respons sel T...........................................................8
D. Peran ko-stimulasi dalam aktivasi sel T.................................9
2.6 Limfosit B...................................................................................10
Aktivasi dan fungsi sel B............................................................10
2.7 Gangguan Limfosit.....................................................................12
2.8 Pengecekan Tingkat Limfosit.....................................................13
2.9 Cara Mengatasi Gangguan Limfosit...........................................13
Isolasi Limfosit Limpa pada mencit............................................13
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan..................................................................................15
3.2 Saran.............................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA........................................................................16

BAB I
PENDAHULUAN
2

1.1 Latar Belakang


Semua makhluk hidup membutuhkan zat-zat gizi maupun non gizi untuk dapat
menjalankan fungsi normal kehidupannya. Zat-zat gizi yang dibutuhkan antara lain
karbohidrat, protein, lemak,vitamin dan mineral. Zat non gizi seperti antioksidan juga
diperlukan untuk melawan radikal bebas, baikyang masuk dari luar tubuh maupun yang
terbentuk akibat metabolisme. Salah satu sumber antioksidanyang banyak diteliti adalah
secang. Ekstrak kayu secang (Caesalpinia sappan L.) hasil penapisan mengandung lima
senyawa aktif yang terkait dengan flavonoid baik sebagai antioksidan primer maupun
antioksidan sekunder (Safitri, 2002).
Telah diketahui ternyata flavonoid yang ter dapat dalam ekstrak kayu secang memiliki
sejumlah kemampuan yaitu dapat meredam atau menghambat pembentukan radikal bebas
hidroksil, anion superoksida, radikal peroksil, radikal alkoksil, singlet oksigen, hidrogen
peroksida. (Shahidi 1999).
Limfosit merupakan sel kunci dalam sitem imun. Limfosit adalah sel yang paling
dominan didalam organ dan jaringan sistem imun. Lokasi limfosit T adalah pada lien dan
kelenjar limfa yaitu pada masing-masing daerah periarterioler, parakortikal dan perifolikuler.
Jumlah 65%-85% dari total limfosit dalam darah. Limfosit berperan dalam sistem imun
spesifik seluler (sel T) untuk pertahanan terhadap bakteri yang hidup intraseluler, virus,
jamur, parasit dan keganasan. Kerusakan membran pada sel limfosit, yang antara lain dapat
disebabkan oleh senyawa-senyawa radikal, berdampak pada penurunan responnya, antara lain
penurunan proliferasi limfosit. Proliferasi limfosit merupakan penanda adanya fase aktivasi
dari respon imun tubuh. Proliferasi limfosit ini berupa peningkatan produksi limfoblas yang
kemudian akan menjadi limfosit di limpa. Secara makroskopis dapat terlihat dengan adanya
pembesaran organ-organ limfoid. Limpa merupakan salah satu organ limfoid perifer dan
bagian dari sistem imun (Khasanah 2009).
Aktivitas proliferasi limfosit merupakan salah satu parameter yang dapat digunakan
untuk mengukur status imunitas karena proliferasi limfosit menunjukkan kemampuan dasar
dari sistem imun. (Roitt 1991).
Untuk dapat berproliferasi dan menghasilkan sel efektor atau sel imunokompeten,
membran sel limfosit harus berada dalam kondisi untuh. Hal ini disebabkan karena proliferasi
sel bermula dari kontak antara membran sel dengan antigen atau dengan molekul aktivator
lain. Keutuhan membran sel sangat dipengaruhi oleh adanya prooksidan dan antioksidan
karena sifat komponen makromolekul pada membran yang mudah teroksidasi yaitu protein
dan asam lemak tidak jenuh (Krinsky 1992, Meydani et al 1995).
Banyak bahan pangan yang diteliti mengenai aktivitasnya sebagai imunostimulan,
beberapa diantaranya dipercaya mampu menstimulasi proliferasi sel limfosit untuk
meningkatkan sistem imunitas. Secang merupakan bahan pangan yang memiliki komponen
fenolik yang dapat berfungsi sebagai antioksidan. Oleh karena itu, dalam percobaan ini akan
dianalisis pengaruh pengkonsumsian secang terhadap proliferase sel limfosit pada tikus
percobaan.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud Limpa dan Limfosit ?
3

2.
3.
4.
5.

Apa pengertian limfosit B ?


Apa pengertian limfosit T ?
Apa saja fungsi limfosit B dan limfosit T ?
Gangguan apa saja yang disebabkan oleh limfosit ?

1.3 Tujuan
1.
2.
3.
4.
5.

Untuk mengetahui yang dimaksud Limpa dan Limfosit


Agar dapat mengetahui pengertian limfosit B
Untuk mengetahui pengertian limfosit T
Agar dapat mengetahui bagaimana fungsi limfosit B dan imfosit T
Untuk mengetahui gangguan apa saja yang disebabkan oleh limfosit

BAB II
PEMBAHASAN
4

2.1 Definisi Limpa


Limpa merupakan salah satu organ dalam tubuh manusia. Limpa adalah organ penting
yang dianggap sebagai bagian dari sistem limfatik. Organ limpa ini hadir di hampir semua
vertebrata, termasuk manusia dan anjing, dan ia melakukan beberapa fungsi penting dalam
tubuh mereka. Limpa manusia terletak di bagian kiri atas perut, tepat di bawah diafragma dan
di belakang perut. Limpa adalah organ kecil, tidak lebih besar dari ukuran kepalan. Rata-rata
limpa manusia adalah sekitar 12 cm, 7cm tinggi, 4cm tebal dan beratnya sekitar 150 gram.
Limpa manusia adalah organ yang lunak, dengan ungu gelap.
Jaringan organ Limpa dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis, pulpa putih dan pulpa
merah, yang bertanggung jawab untuk melakukan beberapa fungsi tertentu. Sekitar 10% dari
populasi juga memiliki limpa kecil di samping yang biasa. Limpa tambahan ini disebut
aksesori limpa dan tidak menimbulkan bahaya. Seperti organ lain dalam tubuh, limpa juga
rentan terhadap berbagai penyakit dan infeksi. Kondisi ini dapat menyebabkan pembesaran
organ ini, yang disebut bersama splenomegali. Gangguan ini serius dapat menghambat fungsi
segudang limpa dalam tubuh. Pada artikel ini, kita telah mengambil gambaran dari fungsi
limpa pada manusia, serta kondisi medis yang mengganggu fungsi limpa.
2.2 Fungsi Sistem Limfa :

Mengangkut limfosit.
Mengembalikan cairan dan protein dari jaringan ke sirkulasi darah.
Membawa lemak emulsi dari jaringan sekitar usus halus ke darah .
Menyaring dan menghancurkan mikroorganisme untuk menghindarkan penyebaran.
Apabila ada infeksi, kelenjar limfe menghasilkan zat imun (antibodi) untuk
melindungi tubuh terhadap mikroorganisme

2.3 Definisi Limfosit


Limfosit adalah salah satu jenis sel darah putih yang ada dalam peredaran darah kita.
Kita ketahui bahwa sel darah putih berfungsi membantu melindungi tubuh terhadap penyakit
dan melawan infeksi. Begitu juga dengan fungsi limfosit ini. Sekitar 15% sampai 40% dari
sel-sel darah putih (leukosit) adalah limfosit, ini merupakan nilai normal pada manusia.
Namun perlu diingat bahwa rentang yang disebutkan ini mungkin akan berbeda tergantung
pada mesin yang digunakan untuk melakukan tes darah.
Pengertian Limfosit dan Karakteristik Limfosit adalah salah satu jenis sel darah putih
(leukosit). Limfosit berukuran kecil, biasanya memiliki diameter 7 sampai 8 mikrometer. Inti
(nukleus) dari limfosit adalah terbuat dari kelompok besar benang tipis yang dikenal sebagai
kromatin yang berwarna keunguan. Seperti yang terlihat pada gambar, inti biasanya
berbentuk bulat tapi bisa sedikit menjorok. Inti sel dikelilingi oleh sitoplasma berwarna biru
muda yang tipis. Tidak seperti jenis leukosit lainnya, misalnya basofil dan eosinofil ,
sitoplasma limfosit biasanya tidak mengandung partikel yang berupa butiran-butiran kasar.
5

(Gambar Limfosit)
Limfosit plasma biru adalah limfosit dengan sitoplasma biru tua dan berukuran lebih
besar. Inti terletak pada salah satu tepi sel, berbentuk bulat oval atau berbentuk ginjal.
Limfosit plasma biru erat kaitannya dengan infeksi virus terutama virus dengue sehingga bisa
membantu untuk menegakkan diagnosis demam berdarah dengue atau DBD. Ada dua jenis
limfosit yaitu limfosit T dan limfosit B. Sel T dan sel B berbeda dalam fungsi dan molekul
yang ada di permukaannya.
2.4 Peran Limfosit dalam Sistem Kekebalan Tubuh
Limfosit adalah jenis sel darah putih yang merupakan bagian dari sistem kekebalan
tubuh. Peran limfosit melibatkan mengenali partikel berbahaya, atau antigen, dan
melaksanakan proses untuk menghadapi mereka. Ada berbagai jenis limfosit, yang dikenal
sebagai sel T, sel B dan sel pembunuh alami, dan peran mereka tentusaja berbeda-beda. Sel T
dan sel pembunuh alami menghancurkan sel-sel berbahaya dan beberapa sel T mengaktifkan
sel-sel kekebalan lainnya. Sel B memproduksi antibodi, dan kedua B dan sel T menciptakan
sel-sel memori yang mengingat ancaman.
2.5 Limfosit T
Pada mulanya kita hanya mengenal satu macam limfosit. Tetapi dengan
perkembangan di bidang teknologi kedokteran, terutama sejak ditemukannya antibodi
monoklonal, maka kita mengetahui bahwa ada 2 macam limfosit, yaitu limfosit T dan limfosit
B. Keduanya berasal dari sel asal (stem cell) yang bersifat multipotensial, artinya dapat
berkembang menjadi berbagai macam sel induk seperti sel induk eritrosit, sel induk
granulosit, sel induk limfoid, dan lain-lain. Sel induk limfoid kemudian berkembang menjadi
sel pro-limfosit T dan sel pro-limfosit B. Sel pro-limfosit T dalam perkembangannya
dipengaruhi timus yang disebut juga organ limfoid primer, oleh karena itu dinamakan limfosit
T.
Sedangkan sel pro-limfosit B dalam perkembangannya dipengaruhi oleh organ yang
pada burung dinamakan bursa fabricius atau gut-associated lymphoid tissue, karena itu
dinamakan limfosit B.
6

Perkembangan sel limfosit T intratimik membutuhkan asupan sel asal limfoid terusmenerus yang pada fetus berasal dari yolk sac, hati, serta sumsum tulang; dan sesudah lahir
dari sumsum tulang. Sel yang berasal dari hati fetus dan sumsum tulang yang bersifat
multipotensial itu dalam lingkungan mikro timus akan berkembang menjadi sel limfosit T
yang matur, toleran diri (self tolerant) dan terbatas MHC diri (major histocompatibllity
complex restricted). Di dalam timus, dalam proses menjadi limfosit matur terlihat adanya
penataan kembali gen yang produk molekulnya merupakan reseptor antigen pada permukaan
limfosit T (TCR) dan juga ekspresi molekul-molekul pada permukaan limfosit T yang
dinamakan petanda permukaan (surface marker)limfosit T. Dinamakan petanda permukaan
limfosit T karena molekul tersebut dapat membedakan limfosit T dengan limfosit lainnya. Di
dalam timus, sebagian besar sel limfosit T imatur akan mati dengan proses yang dinamakan
apoptosis. Apoptosis adalah kematian sel yang diprogram (fisiologis) demi kebaikan populasi
sel lainnya. Sedangkan nekrosis atau disebut juga kematian sel accidental adalah kematian
sel karena kerusakan berat (patologis), misalnya akibat infeksi mikroorganisme, trauma fisis,
zat kimia, hipertermia, iskemia, dan lain-lain.
Limfosit T yang mempunyai TCR antigen diri (self antigen) akan mengalami
apoptosis karena ia telah terpajan secara dini pada antigen diri dan mati insitu dengan
mekanisme yang belum jelas. Karena itu, limfosit matur yang keluar dari timus adalah
limfosit yang hanya bereaksi dengan antigen non self dan dinamakan toleran diri. Di dalam
timus, limfosit T juga mengalami pengenalan antigen diri hanya bila berasosiasi dengan
molekul MHC diri, melalui proses yang juga belum diketahui dengan jelas yang dinamakan
terbatas MHC diri. Molekul TCR III diekspresikan pada membran sel T bersama molekul
CD3, yaitu salah satu molekul petanda permukaan sel T.
A. Reseptor antigen sel limfosit T (TCR)
Molekul TCR terdapat pada membran sel T berasosiasi dengan molekul CD3, merupakan
kompleks glikoprotein transmembran. Sebagian besar dari molekul ini berada ekstraselular
dan merupakan bagian pengenal antigen. Sedangkan bagian transmembran merupakan tempat
berlabuhnya TCR pada membran sel yang berinteraksi dengan bagian transmembran molekul
CD3.
Molekul CD3 mempunyai segmen intrasitoplasmik yang agak panjang sesuai dengan
perannya untuk sinyal intraselular. Demikian pula molekul TCR mempunyai segmen
intrasitoplasmik yang akan mentransduksi sinyal ke dalam sel. Bagian distal ekstraselular
TCR merupakan bagian variabel yang dapat mengenal antigen, yang membedakan satu klon
sel T dari klon lainnya.
B. Aktivasi Sel T
Sel limfosit T biasanya tidak bereaksi dengan antigen utuh. Sel T baru bereaksi terhadap
antigen yang sudah diproses menjadi peptida kecil yang kemudian berikatan dengan molekul
7

MHC di dalam fagosom sitoplasma dan kemudian diekspresikan ke permukaan sel. Sel
limfosit T hanya dapat mengenal antigen dalam konteks molekul MHC diri. Molekul CD4
dan CD8 merupakan molekul yang menentukan terjadinya interaksi antara CD3/TCR dengan
kompleks MHC/antigen. Sel T CD4 akan mengenal antigen dalam konteks molekul MHC
kelas II, sedang sel T CD8 akan mengenal antigen dalam konteks molekul MHC kelas I.
Untuk dapat mengaktifkan sel T dengan efektif, perlu adanya adhesi antara sel T dengan
sel APC atau sel sasaran (target). Adhesi ini, selain melalui kompleks CD4/CD8-TCR-CD3
dengan MHC kelas II/kelas I-ag, dapat juga ditingkatkan melalui ikatan reseptor-ligan
lainnya. Reseptor-ligan tersebut antara lain, CD28-B7, LFA-I-ICAM1/2 (molekul asosiasi
fungsi limfosit 1 = lymphocyte function associated 1, molekul adhesi interselular l = inter
cellular adhesion molecule 1), CD2-LFA3, CD5-CD72
Terjadinya ikatan antara antigen dan TCR dinamakan tahapan primer. Aktivasi sel T juga
memerlukan adanya stimulasi sitokin, seperti interleukin 1 (IL-1) yang dikeluarkan oleh sel
APC yang dinamakan ko-stimulator. Sinyal adanya ikatan TCR dengan antigen akan
ditransduksi melalui bagian TCR dan CD3 yang ada di dalam sitoplasma. Sinyal ini akan
mengaktifkan enzim dan mengakibatkan naiknya Ca++ bebas intraselular, naiknya konsentrasi
c-GMP dan terbentuknya protein yang dibutuhkan untuk transformasi menjadi blast.
C. Fase-fase respons sel T
Respons limfosit T terhadap antigen mikroba terdiri dari beberapa fase yang
menyebabkan peningkatan jumlah sel T spesifik dan perubahan sel T naif menjadi sel efektor.
Limfosit T naif terus bersirkulasi melalui organ limfoid perifer untuk mencari protein antigen
asing. Sel T naif mempunyai reseptor antigen dan molekul lain yang dibutuhkan dalam
pengenalan antigen. Di dalam organ limfoid, antigen diproses dan ditunjukkan dengan
molekul MHC pada antigen-presenting cell (APC), kemudian sel T bertemu dengan antigen
tersebut untuk pertama kalinya. Pada saat itu, sel T juga menerima sinyal tambahan dari
mikroba itu sendiri atau dari respons imun alamiah terhadap mikroba.
Sebagai respons terhadap stimulus tersebut, sel T akan mensekresi sitokin. Beberapa
sitokin bekerja sama dengan antigen dan sinyal kedua dari mikroba untuk menstimulasi
proliferasi sel T yang spesifik untuk antigen. Hasil dari proliferasi ini adalah penambahan
jumlah limfosit spesifik antigen dengan cepat yang disebut clonal expansion.
Fraksi dari limfosit ini menjalani proses diferensiasi dimana sel T naif (berfungsi untuk
mengenal antigen mikroba) berubah menjadi sel T efektor (berfungsi untuk memusnahkan
mikroba).
Sebagian sel T efektor tetap di dalam kelenjar getah bening dan berfungsi untuk
memusnahkan sel terinfeksi atau memberikan sinyal kepada sel B untuk menghasilkan
antibodi. Sebagian sel T berkembang menjadi sel T memori yang dapat bertahan lama. Sel ini
tidak aktif dan bersirkulasi selama beberapa bulan atau tahun, serta dapat merespons dengan
8

cepat apabila terjadi paparan berulang dengan mikroba. Setelah sel T efektor berhasil
mengatasi infeksi, stimulus yang memicu ekspansi dan diferensiasi sel T juga berhenti. Klon
sel T yang sudah terbentuk akan mati dan kembali ke keadaan basal. Hal ini terjadi pada sel T
CD4+ dan CD8+, namun terdapat perbedaan pada fungsi efektornya.
D. Peran ko-stimulasi dalam aktivasi sel T
Aktivasi penuh sel T tergantung dari pengenalan ko-stimulator di APC. Ko-stimulator
merupakan sinyal kedua untuk aktivasi sel T. Istilah ko-stimulator menunjukkan bahwa
molekul tersebut memberikan stimuli kepada sel T bersama-sama dengan stimulasi oleh
antigen. Contoh ko-stimulator adalah B7-1 (CD80) dan B7-2 (CD86). Keduanya terdapat
pada APC dan jumlahnya meningkat bila APC bertemu dengan mikroba. Jadi, mikroba akan
menstimulasi ekspresi B7 pada APC. Protein B7 dikenali oleh reseptor bernama CD28 yang
terdapat pada sel T. Sinyal dari CD28 bekerja bersama dengan sinyal yang berasal dari
pengikatan TCR dan ko-reseptor kompleks peptida-MHC pada APC yang sama. Mekanisme
ini penting untuk memulai respons pada sel T naif. Apabila tidak terjadi interaksi CD28-B7,
pengikatan TCR saja tidak mampu untuk mengaktivasi sel T sehingga sel T menjadi tidak
responsif. Antigen presenting cell (APC) juga mempunyai molekul lain yang struktur dan
fungsinya serupa dengan B7-1 dan B7-2. Molekul B7-like ini penting pada aktivasi sel T
efektor.

(Gambar Limfosit T)
Pada saat perkembangannya di kelenjar timus, limfosit T berdiferensiasi menjadi beberapa
jenis limfosit. Jenis-jenis limfosit tersebut adalah sebagai berikut.
1) Limfosit T sitotoksit, berfungsi dalam menghancurkan sel yang telah terinfeksi.
2) Limfosit T penolong, berfungsi mengaktifkan limfosit T dan limfosit B.
3) Limfosit T supresor, berfungsi mengurangi produksi antibodi yang dihasilkan sel-sel
plasma.
4) Limfosit T memori, berfungsi mengingat antigen yang pernah masuk ke dalam tubuh.
Dengan adanya limfosit T memori ini, antigen yang pernah masuk akan mudah
dikenali dan lebih cepat dihancurkan.
9

Setelah mengalami pematangan, limfosit T dan limfosit B akan masuk ke dalam sistem
perdaran limfatik. Oleh karena itu, sel-sel limfosit akan banyak ditemui pada peredaran darah
limfatik, sumsum tulang, kelenjar timus, kelenjar limpa, amande, darah, dan sistem
pencernaan. Untuk lebih jelasnya mengenai sistem peredaran limfatik atau peredaran getah
bening.
2.6 Limfosit B
Karakteristik dan Fungsi Limfosit B Sel B (juga dikenal sebagai limfosit B) merupakan
jenis limfosit yang beredar dalam darah orang dewasa. Sekitar 10% dari darah putih yang
beredar adalah limfosit B. Sel B ini berfungsi memproduksi protein yang dikenal sebagai
antibodi yang kemudian berperan untuk membasmi mikroorganisme jahat yang telah dikenali
sebelumnya. Proses limfosit B melindungi tubuh seperti itu dikenal sebagai kekebalan
humoral, karena sel-sel B melepaskan antibodi ke dalam cairan (juga dikenal sebagai humor)
dari tubuh. Proses inilah yang telah dimanfaatkan sebagai upaya pencegahan penyakit infeksi
melalui vaksinasi. Sekitar 15% sampai 40% dari sel-sel darah putih yang limfosit. Hal ini
penting untuk diingat bahwa rentang yang disebutkan di atas akan berbeda tergantung pada
mesin yang digunakan untuk melakukan tes darah. Selalu menggunakan rentang normal
dicetak pada laporan laboratorium untuk memutuskan apa kisaran normal. Limfosit B
jumlahnya mencapai 30% dari keseluruhan limfosit di dalam tubuh. limfosit B dibentuk dan
mengalami pematangan dalam sumsum tulang (bone marrow).
Limfosit B yang berkembang dalam sumsum tulang mengalami pembelahan atau
diferensiasi menjadisel plasma dan sel limfosit B memori. Sel plasma yang terbentuk
bertugas menyekresikan antibodi ke dalam cairan tubuh. Adapun sel limfosit B memori
berfungsi menyimpan informasi antigen.
Aktivasi dan fungsi sel B
Bila sel limfosit B matur distimulasi antigen ligannya, maka sel B akan berdiferensiasi
menjadi aktif dan berproliferasi. Ikatan antara antigen dan imunoglobulin pada permukaan sel
B, akan mengakibatkan terjadinya ikatan silang antara imunoglobulin permukaan sel B.
Ikatan silang ini mengakibatkan aktivasi enzim kinase dan peningkatan ion Ca ++ dalam
sitoplasma.
Terjadilah fosforilase protein yang meregulasi transkripsi gen antara lain protoonkogen
(proto oncogene) yang produknya meregulasi pertumbuhan dan diferensiasi sel. Aktivasi
mitosis ini dapat terjadi dengan atau tanpa bantuan sel T, tergantung pada sifat antigen yang
merangsangnya. Proliferasi akan mengakibatkan ekspansi klon diferensiasi dan selanjutnya
sekresi antibodi. Fungsi fisiologis antibodi adalah untuk menetralkan dan mengeliminasi
antigen yang menginduksi pembentukannya.

10

Dikenal 2 macam antigen yang dapat menstimulasi sel B, yaitu antigen yang tidak
tergantung pada sel T (TI = T cell independent) dan antigen yang tergantung pada sel T (TD
= T cell dependent). Antigen TI dapat merangsang sel B untuk berproliferasi dan mensekresi
imunoglobulin tanpa bantuan sel T penolong (Th = T helper). Antigen TD merupakan
antigen protein yang membutuhkan bantuan sel Th melalui limfokin yang dihasilkannya, agar
dapat merangsang sel B untuk berproliferasi dan berdiferensiasi.
Terdapat dua macam respons antibodi, yaitu respons antibodi primer dan sekunder.
Respons antibodi primer adalah respons sel B terhadap pajanan antigen ligannya yang
pertama kali, sedangkan respons antibodi sekunder adalah respons sel B pada pajanan
berikutnya, jadi merupakan respons sel B memori.
Pada respons antibodi primer, kelas imunoglobulin yang disekresi terutama adalah IgM,
karena sel B istirahat hanya memperlihatkan IgM dan IgD pada permukaannya (IgD jarang
disekresi). Sedangkan pada respons antibodi sekunder, antibodi yang disekresi terutama
adalah isotip lainnya seperti IgG, IgA, dan IgE sebagai hasil alih isotip. Afinitas antibodi
yang dibentuk pada respons antibodi sekunder lebih tinggi dibanding dengan respons antibodi
primer, dan dinamakan maturasi afinitas.
Respons sel B memori adalah khusus oleh stimulasi antigen TD, sedangkan stimulasi oleh
antigen TI pada umumnya tidak memperlihatkan respons sel B memori dan imunoglobulin
yang dibentuk umumnya adalah IgM. Hal ini menandakan bahwa respons antibodi sekunder
memerlukan pengaruh sel Th atau limfokin yang disekresikannya.

(Gambar Limfosit B)

2.7 Gangguan Limfosit :


1. Limfositosis

11

Limfositosis Jumlah Limfosit Tinggi Ada banyak kemungkinan penyebab


limfositosis, peningkatan sebesar 40% dianggap abnormal. Beberapa penyebab utama
limfosit tinggi adalah flu dan cacar air. Penyebab lain limfositosis antara lain TBC,
gondongan, rubella, varicella, batuk rejan, brucellosis, dan herpes simpleks. Obat-obat
tertentu juga dapat menyebabkan tingginya limfosit. Obat-obatan yang dimaksud antara lain:
Dilantin dan Phenytoin, keduanya merupakan obat anti-kejang. Kejang adalah gerakan otot
tak sadar dan / atau penurunan kesadaran lingkungan karena overexcitement dari sel-sel saraf
di otak. limfosit tinggi juga terjadi setelah transfusi darah.
2. Limfositopenia
Limfositopenia Jumlah Limfosit Rendah Ada banyak kemungkinan penyebab untuk
rendahnya limfosit. Seperti kita ketahui bahwa limfosit dibuat di sumsum tulang, jika ada
masalah pada sumsum tulang atau aktivitas sumsum tulang berkurang, maka jumlah limfosit
yang rendah dapat terjadi. Kerusakan sumsum tulang terjadi pada anemia aplastik. Baca juga
sel darah putih rendah: Leukopenia Orang dengan penyakit AIDS (Acquired Immune
Deficiency Syndrome ) sering memiliki limfosit yang rendah. Steroid dapat menyebabkan
penurunan limfosit yang abnormal. Beberapa gangguan yang mempengaruhi saraf dalam
tubuh juga dapat menyebabkan limfositopenia. Contohnya adalah multiple sclerosis,
myasthenia gravis, dan sindrom Guillain-Barre. Kondisi limfopenia terjadi pada orang
dewasa jika limfosit dalam darah di bawah 1.500 per mikroliter darah. Sedangkan pada anakanak akan dianggap mengalami limfopenia jika tingkat limfositnya di bawah 3.000 per
mikroliter darah. Jumlah limfosit yang kurang dari batas normal, dikhawatirkan akan
mengakibatkan tubuh rentan terhadap infeksi dan juga risiko kanker, serta kerusakan berbagai
organ. Gejala limfopenia biasanya tidak khas dan sering ditemukan pada saat pemeriksaan lab
darah untuk penyakit lain, misalnya infeksi.
Rendahnya limfosit disebabkan oleh berbagai faktor. Berikut ini beberapa penyebab
menurunnya limfosit yang sering ditemukan:
Infeksi virus pada saluran pernapasan. Limfopenia paling sering ditemukan pada
pilek.
Infeksi HIV (human immunodeficiency virus). Infeksi virus ini dapat menimbulkan
kondisi AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) yang mana jumlah sel
limfosit tertentu terus menurun.
Infeksi bakteri dan jamur.
Kurang gizi.
Stres berlebihan.
Olahraga dengan intensitas tinggi atau terlampau lama.
Leukimia (kanker darah)
Anemia aplastik akibat terganggunya produksi sel-sel darah di sumsum tulang.
2.8 Pengecekan Tingkat Limfosit
Dalam membuat diagnosis mengenai penyebab rendahnya limfosit seseorang, dokter
akan memeriksa riwayat kesehatan pasien, seperti risiko pasien terkena infeksi HIV, riwayat
12

pengobatan penyakit sebelumnya serta riwayat keluarga terkait kekurangan limfosit.


Pemeriksaan fisik meliputi pengukuran suhu tubuh terkait ada tidaknya demam dan mencari
tanda-tanda infeksi lain. Dokter juga akan memeriksa apakah ada pembengkakan pada
kelenjar getah bening dan pembesaran organ limpa. Untuk memastikan tingkat limfosit dalam
darah harus dilakukan tes darah. Pengecekan ini umumnya dilakukan atas rekomendasi
dokter.
2.9 Cara Mengatasi Gangguan Limfosit
Penanganan bagi pasien dalam kondisi limfosit rendah akan tergantung dari kondisi
yang melatarbelakanginya. Jika berkurangnya limfosit dalam tubuh hanya sedikit, umumnya
akan kembali ke tingkat normal dengan sendirinya dan tidak memerlukan penanganan
khusus. Sedangkan untuk limfosit rendah yang disebabkan oleh kelainan genetik, dapat
dilakukan transplantasi sel punca (stem cell) dari darah ataupun sumsum tulang belakang.
Saat ini banyak penelitian yang dilakukan para ahli untuk penanganan serta pengobatan yang
membantu tubuh meningkatkan produksi limfosit. Untuk menjaga kadar limfosit tidak terlalu
rendah sebaiknya ketahui tingkat limfosit dalam tubuh dengan melakukan cek darah sesuai
rekomendasi dokter. Bila diketahui memiliki limfosit yang rendah, Anda perlu menjaga
kebersihan, rajin mencuci tangan dan mengenakan masker wajah untuk mencegah tertular
penyakit.
Isolasi Limfosit Limpa pada mencit
Alat dan Bahan :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Mencit
Chloroform
Alkohol 70%
Cawan petri
Medium RPMI
Pinset
Sentrifuge
TRIS Buffer NH4CL
FBS

Cara Kerja :
Mencit dikorbankan dengan menggunakan choloform.

Mencit di letakkan dalam posisi terlentang, kulit bagian perut di beri alcohol 70%
kemudian di buka.
13


Limpa di anggkat dan di letatkkan dalam cawan petri yang berisi 5ml medium RPMI.

Limpa di cabik-cabik dengan pinset.

Suspensi sel di sentrifuge pada 1200rpm selama 10 menit.

Pellet yang di peroleh di suspensikan dalam 2ml TRIS Buffer Amonium chloride sel
di campurdengan menggunakan pinset dan didiamkan selama 2 menit.

FBS sebanyak 1ml di tambahkan pada dasar tabung dengan menggunkan pipet.
Suspensi tersebut kemudian di sentrifuge pada 1200rpm selama 5 menit.

Super natan di buang, pellet di cuci dengan RPMI 2 kali dengan cara di pipet berulang
ulang dan di sentrifuge 1200rpm selama 5 menit.

Super natan di buang dan di hasilkan pellet.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan :

Limpa merupakan salah satu organ dalam tubuh manusia. Limpa juga merupakan
organ penting yang dianggap sebagai bagian dari sistem limfatik.
14

Limfosit adalah salah satu jenis sel darah putih yang ada dalam peredaran darah kita.
Sel darah putih berfungsi membantu melindungi tubuh terhadap penyakit dan
melawan infeksi.
Ada dua jenis limfosit yaitu limfosit T dan limfosit B. Sel T dan sel B berbeda dalam
fungsi dan molekul yang ada di permukaannya.
Limfosit B, Sel B (juga dikenal sebagai limfosit B) merupakan jenis limfosit yang
beredar dalam darah orang dewasa. Sekitar 10% dari darah putih yang beredar adalah
limfosit B.
Sel T (limfosit T) adalah kelompok sel darah putih yang memainkan peran utama
pada kekebalan seluler. Sel T mampu membedakan jenis patogen dengan kemampuan
berepolusi sepanjang waktu demi peningkatan kekebalan setiap kali tubuh terpapar
patogen.

3.2 Saran :
Menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, kedepannya makalah
berikutnya akan lebih fokus dan details dalam menjelaskan tentang isi maupun bagian
bagianya yang lain, dengan sumber - sumber yang lebih banyak yang tentunya dapat di
pertanggung jawabkan.

DAFTAR PUSTAKA

Krinsky, I. 1992. Mechanism of Action of Biologi Antioxidants. The Society for


Experimental Biology an Medicine. Boston, Massachussets.
Meydani, S.N. 1995. Antioxidant and immune response in aged person overview of
present avidience. Am. J. Clin. Nutr. 62, 1462 S- 1476 S
Roitt, I. 1991. Essential Immunology. London: Blockwell Scientific Publication.
Safitri, R. 2002. Karakterisasi Sifat Antioksidan In Vitro Beberapa Senyawa Yang
Terkandung Dalam Tumbuhan Secang (Caesalpinia sappan L.). Universitas
Padjadjaran : Bandung.
Shahidi, F. 1996. Natural Antioxidants. Chemistry, Health Effects, and Applicatins.
AOCS Press. Champaign. Illionis
15

16