Anda di halaman 1dari 4

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN

VENTILATOR ASSOCIATED PNEUMONIA (VAP)


No. Dokumen

Tanggal Terbit

PENGERTIAN
TUJUAN
KEBIJAKAN
PROSEDUR

Halaman
1/2

RS. BUDI KEMULIAAN


BATAM

STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)

No. Revisi

Ditetapkan Direktur

drg. M. Arsjad Effendy, MM


NIK. P. 2016.04.08061953.1496
Mekanisme di rumah sakit mengenai prosedur dan pengendalian Ventilator
Associated Pneumonia (VAP).
Untuk mengurangi resiko terjadinya Ventilator Associated Pneumonia (VAP)
pada psien dan mencegah infeksi nasokomial.
Semua petugas kesehatan di rumah sakit harus mematuhi prosedur pencegahan dan
pengendalian Ventilator Associated Pneumonia (VAP) sesuai pedoman pencegahan
dan pengendalian infeksi Rumah Sakit Budi Kemuliaan Batam.
Pencegahan Pneumonia Pasca Bedah
1. Lakukan pengelolaaan pra dan pasca bedah yang ditujukan pada:
a. Pasien yang akan mendapat pembiusan dan menjalani pembedahan thorak
dan abdomen.
b. Disfungsi paru berat
c. Kelainan paru paru
Pengelolaan pra dan pasca bedah meliputi pengobatan dan istruksi medis
dan keperawatan.
2. Lakukan pengelolaan pra bedah yang meliputi:
a. Pengobatan atau resolusi infeksi paru
b. Mempermudah pengeluaran sekret saluran nafas (bronkodilatator, drainase
postural, perkusi)
c. Berhenti merokok
3. Lakukan instruksi pra bedah meliputi:
a. Diskusikan pada pasien mengenai pentingnya sering batuk, nafas dalam dan
mobilisasi pasca bedah.
b. Instruksikan pasien untuk memperagakan cara batuk dan nafas dalam pra
dan pasca bedah.
4. Pengobatan dan instruksi pasca bedah ditujukan untuk mendorong pasien sering
batuk, nafas dalam dan ambulasi jika ada kontra indikasi secara medis.
5. Bila cara konservatif diatas gagal untuk mengeluarkan sekret saluran nafas dapat
dilakukan postural drainase dan perkusi.
6. Jika pasien mengalami nyeri akibat batuk dan nafas dalam gunakan analgetik
dan topang luka di daerah perut (meletakkan bantal kecil dan ringan diatas
perut) serta beri obat penghambat syaraf lokal.
7. Jangan gunakan antibiotika sistemik secara rutin
Cuci Tangan
1. Cuci tangan setiap kali kontak dengan sekret saluran nafas baik dengan atau
tanpa sarung tangan
2. Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien yang mendapat intubasi

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN


VENTILATOR ASSOCIATED PNEUMONIA (VAP)
No. Dokumen

No. Revisi

Halaman
1/2

RS. BUDI KEMULIAAN


BATAM

Tanggal Terbit
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)

Ditetapkan Direktur

drg. M. Arsjad Effendy, MM


NIK. P. 2016.04.08061953.1496
dan trakheostomi.
Cairan dan Obat
1. Gunakan cairan steril untuk tindakan nebulasi dan humidifikasi, berikan secara
aseptik. Jangan gunakan cairan tersebut pada alat yang terkontaminasi.
2. Buang sisa cairan dalam botol yang sudah dibuka dalam waktu 24 jam.
Pemeliharaan Alat Terapi Pernafasan Yang Sedang Dipakai
1. Isi penampung cairan sebelum dipakai. Bila cairan hendak ditambahkan, buang
sisa cairan terlebih dahulu.
2. Buang air yang telah mengembun dalam pipa dan jangan dialirkan balik
kepenampung.
3. Ganti secara rutin alat nebulisasi dinding dan penampungnya setiap 24 jam
dengan yang steril atau didesinfeksi.
4. Ganti secara rutin alat nebulasi lain dan penampungnya setiap 24 jam dengan
yang steril atau didesinfeksi
5. Alat penampung pelembab udara oksigen yang dapat dipakai ulang dibersihkan,
dicuci dan dikeringkan setiap hari.
6. Ganti setiap pipa dan masker yang akan digunakan untuk terapi oksigen pada
setiap pasien
7. Ganti secara rutin sirkuit alat bantu nafas (termasuk pipa dan katub ekshalasi)
dengan yang steril atau yang sudah didesinfeksi setiap 24 jam
8. Jika mesin respirator digunakan untuk beberapa pasien, maka pada setiap
pergantian pasien semua sirkuit alat bantu nafas diganti dengan yang steril atau
yang sudah didesinfeksi.
Penanganan Peralatan Yang Dipakai Ulang
1. Bersihkan dengan seksama setiap peralatan yang akan disterilkan untuk
menghilangkan darah, jaringan, makanan atau residu lainnya.
2. Dekontaminasi peralatan sebelum dan selama proses pembersihan, jika alat
tersebut ditandai terkontaminasi dan berasal dari pasien dengan jenis isolasi
tertentu.
3. Sirkuit alat bantu nafas (termasuk pipa dan katup ekshaklasi) dan semua alat
yang berhubungan dengan terapi pernafasan disterilisasi atau didesinfeksi kuat.
4. Untuk ruang pendingin pada alat nebulisasi ultrasonik disterilkan dengan gas
atau didesinfeksi kuat paling sedikit selama 30 menit.
5. Bagian dalam mesin ventilator dan mesin pernafasan tidak perlu disterilkan atau
didesinfeksikan secara rutin untuk setiap pemakaian kecuali setelah alat tersebut

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN


VENTILATOR ASSOCIATED PNEUMONIA (VAP)
No. Dokumen

Halaman
1/2

RS. BUDI KEMULIAAN


BATAM

Tanggal Terbit
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)

No. Revisi

Ditetapkan Direktur

drg. M. Arsjad Effendy, MM


NIK. P. 2016.04.08061953.1496
potensial terkontaminasi dengan mikroorganisme berbahaya.
6. Respirometer dan alat lain yang digunakan untuk memantau beberapa pasien
secara bergantian, tidak boleh langsung menyentuh bagian sirkuit alat bantu
nafas. Jika tidak menggunakan penghubung dan alat pemantau langsung
berhubungan dengan alat yang terkontaminasi, maka alat pemantau tersebut
harus disterilkan atau didesinfeksi kuat sebelum dipakai pasien lain (Kategori I)
7. Kantong alat resusitasi harus disterilkan atau didesinfeksi kuat setiap habis
pakai.
Pemantauan Mikroorganisme
1. Jika tidak ada kejadian luar biasa (KLB) atau rate endemik infeksi paru
nasokomial tidak tingi maka proses desinfeksi alat terapi pernafasan tidak perlu
dipantau dengan biakan sample dari alat tersebut. Dengan kata lain sample rutin
tidak perlu dilakukan (Kategori I)
2. Interpretasi hasil pemeriksaan mikrobiologik rutin alat bantu nafas yang sedang
dipakai pasien tidak dianjurkan (Kategori I)
Pasien Dengan Trakeostomi
1. Tindakan trakeostomi harus dilakukan dikamar operasi, secara aseptik kecuali
dalam keadaan darurat dapat dilakukan di ruang perawatan (Kategori I)
2. Jika luka trakeostomi sudah mulai sembuh atau membentuk jaringan granulasi
sekitar pipa maka tidak boleh disentuh dengan tangan langsung, atau setiap
manipulasi kedua tangan menggunakan sarung tangan steril (Kategori II)
3. Bila diperlukan penggantian pipa trakeostomi, maka pipa pengganti harus steril
atau didesinfeksi kuat (Kategori I)
4. Saat mengganti pipa harus digunakan teknik aseptik termasuk penggunaaan
sarung tangan dan penutup (duk) steril (Kategori II)
Penghisapan Sekret Saluran Nafas
1. Penghisapan sekret saluran pernafasan dilakukan hanya bila diperlukan, karena
penghisapan yang terus menerus akan meningkatkan risiko kontaminasi silang
dan trauma (Kategori I)
2. Penghisapan sekret saluran nafas tidak boleh dilakukan dengan tangan langsung
melainkan menggunakan sarung tangan steril (Kategori II)
3. Setiap kali menghisap sekret saluran nafasa, gunakan kateter yang steril atau
jika pemakaian dalam waktu singkat maka kateter dapat dipakai ulang setelah
dibilas serta dibersihkan (Kategori I)
4. Bila terdapat sekret yang kental dan kateter penghisap lendir memerlukan

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN


VENTILATOR ASSOCIATED PNEUMONIA (VAP)
No. Dokumen

No. Revisi

Halaman
1/2

RS. BUDI KEMULIAAN


BATAM

Tanggal Terbit
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)

Ditetapkan Direktur

drg. M. Arsjad Effendy, MM


NIK. P. 2016.04.08061953.1496
bilasan, maka untuk membilas gunakan cairan sterilo (Kategori I). Penggunaan
pipa dan tabung hisap adalah sebagai berikut:
a. Pemakaian pipa penghisap sampai batas tabung harus diganti untuk setiap
pasien.
b. Tabung penghisap yang digunakan untuk satu pasien tidak perlu diganti atau
dikosongkan secara rutin (Kategori III)
c. Tabung penghisap harus diganti setiap pasien kecuali pada unit perawatan
jangka pendek (tidak > 24 jam) (Kategori II)
d. Pada unit perawatan jangka pendek tabung perlu diganti setiap hari tetapi
tidak perlu diganti untuk setiap pasien (Kategori II)
e. Setiap kali tabung penghisap diganti harus disterilkan atau desinfeksi kuat
(Kategori II)
5. Untuk penghisap sekret saluran nafas portabel yang kemungkinan menghisap
aerosol terkontaminasi makan digunakan filter bakteri yang baik antara tabung
penampung dan pipa penghisap (Kategori III)
Perlindungan Pasien dari Pasien Lain dan Personil
1. Lakukan isolasi pada pasien yang mungkin menyebarkan infeksi saluran nafas.
Isolasi sesuai dengan teknik mutakhir.
2. Personil yang terkena infeksi saluran nafas tidak boleh memberi asuhan
langsung pada pasien dengan resiko tinggi (misalnya neonatal, bayi, pasien
dengan obstruksi paru kronis dan pasien dengan daya tahan tubuh menurun)
(Kategori III).
3. Bila diperkirakan ada KLB influenza lakukan pencegahan untuk semua pasien
dan petugas yang memberi asuhan langsung dengan menggunakan teknis isolasi
pernafasan.

UNIT TERKAIT

IRNA, ICU, IGD, VK