Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 LATAR BELAKANG


Pelayanan kesehatan dapat diselenggarakan oleh pemerintah atau
swasta, dalam bentuk pelayanan kesehatan perorangan atau masyarakat.
Peningkatan kesejahteraan di bidang kesehatan dapat diupayakan melalui
penyediaan obat-obatan yang bermutu, terjangkau oleh masyarakat, dan
dengan jumlah yang cukup, serta aman untuk digunakan. Salah satu sarana
untuk penyaluran obat-obatan ke tangan masyarakat yaitu apotek (Ganestia,
2013).
Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktik
kefarmasian oleh Apoteker. Permintaan tertulis dari dokter atau dokter gigi,
kepada apoteker, baik dalam bentuk paper maupun electronic untuk
menyediakan dan menyerahkan obat bagi pasien sesuai peraturan yang
berlaku disebut juga resep. Sedangkan apoteker adalah sarjana farmasi yang
telah lulus sebagai apoteker dan telah mengucapkan sumpah jabatan apoteker
(Permenkes, No.35, 2014).
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan, No.1027 tahun 2004
menyatakan bahwa dalam mengelola apotek dibutuhkan seorang apoteker
pengelola apotek (APA) yang tidak hanya mampu dari segi teknis
kefarmasian tapi harus mampu menguasai aspek manajemennya. Dalam
mengelola apotek,

apoteker

senantiasa harus

memiliki kemampuan

menyediakan dan memberikan pelayanan yang baik, mengambil keputusan


yang tepat, kemampuan berkomunikasi antar profesi, menempatkan diri
sebagai pimpinan dalam situasi multi disipliner, kemampuan mengelola
sumber daya manusia secara efektif, selalu belajar sepanjang waktu, dan
membantu memberikan pendidikan dan pengetahuan.
Berdasarkan

kewenangan

pada

peraturan

perundang-undangan,

Pelayanan Kefarmasian telah mengalami perubahan yang semula hanya


berfokus kepada pengelolaan Obat (drug oriented) berkembang menjadi
1

pelayanan komprehensif meliputi pelayanan Obat dan pelayanan farmasi


klinik yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien (Permenkes,
No.35, 2014).
Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan
Kefarmasian menyatakan bahwa Pekerjaan Kefarmasian adalah pembuatan
termasuk pengendalian mutu Sediaan Farmasi, pengamanan, pengadaan,
penyimpanan dan pendistribusian atau penyaluran Obat, pengelolaan Obat,
pelayanan Obat atas Resep dokter, pelayanan informasi Obat, serta
pengembangan Obat, bahan Obat dan Obat tradisional. Pekerjaan kefarmasian
tersebut harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan
kewenangan untuk itu (PP, No.51, 2009).
Peran

Apoteker

dituntut

untuk

meningkatkan

pengetahuan,

keterampilan, dan perilaku agar dapat melaksanakan interaksi langsung


dengan pasien. Bentuk interaksi tersebut antara lain adalah pemberian
informasi Obat dan konseling kepada pasien yang membutuhkan. Apoteker
harus memahami dan menyadari kemungkinan terjadinya kesalahan
pengobatan (medication error) dalam proses pelayanan dan mengidentifikasi,
mencegah, serta mengatasi masalah terkait Obat (drug related problems),
masalah farmakoekonomi, dan farmasi sosial (socio-pharmacoeconomy).
Untuk menghindari hal tersebut, Apoteker harus menjalankan praktik sesuai
standar pelayanan (Permenkes, No.35, 2014).
Apoteker juga harus mampu berkomunikasi dengan tenaga kesehatan
lainnya dalam menetapkan terapi untuk mendukung penggunaan Obat yang
rasional. Dalam melakukan praktik tersebut, Apoteker juga dituntut untuk
melakukan

monitoring penggunaan Obat, melakukan evaluasi serta

mendokumentasikan segala aktivitas

kegiatannya. Untuk melaksanakan

semua kegiatan itu, diperlukan Standar Pelayanan Kefarmasian (Permenkes,


No.35, 2014).
Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, di
bidang kefarmasian telah terjadi pergeseran orientasi Pelayanan Kefarmasian
dari pengelolaan Obat sebagai komoditi kepada pelayanan yang komprehensif

(pharmaceutical care) dalam pengertian tidak saja sebagai pengelola Obat


namun dalam pengertian yang lebih luas mencakup pelaksanaan pemberian
informasi untuk mendukung penggunaan Obat yang benar dan rasional,
monitoring penggunaan Obat untuk mengetahui tujuan akhir, serta
kemungkinan

terjadinya

kesalahan

pengobatan.

Dengan

pesatnya

perkembangan ilmu pengetahuan dan peraturan perundang-undangan dan


perubahan peran Apoteker
dilakukan

revisi

terhadap

1027/Menkes/SK/IX/2004

sebagaimana tersebut di atas, maka perlu


Keputusan

Menteri

Kesehatan

Nomor

tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di

Apotek (Permenkes, No.35, 2014).


Untuk dapat melaksanakan kegiatan pelayanan kefarmasian ini, para
calon apoteker memerlukan Praktek Kerja Profesi Apoteker di Apotek. Selain
sebagai tempat yang memberikan perbekalan bagi para apoteker untuk dapat
menjadi Apoteker profesional, kerja praktek di apotek dapat dipakai sebagai
tempat untuk menerapkan ilmu yang telah didapatkan selama masa kuliah. Di
latarbelakangi hal tersebut, maka diadakan kerja sama antara Program
Pendidikan Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin
dengan Apotek Kimia Farma Hertasning yang dilaksanakan pada tanggal 13
Juni-30 Juli 2016.
I.2 MAKSUD DAN TUJUAN
1.2.1 Maksud
Praktek Kerja Profesi (PKP) yang diselenggarakan di Apotek Kimia
Farma Hertasning Makassar dimaksudkan agar calon Apoteker dapat
memahami dan mengerti secara garis besar gambaran manajemen
pengelolaan apotek.
1.2.2 Tujuan
Tujuan dari program Praktek Kerja Profesi ini adalah untuk:
1.

Meningkatkan pemahaman calon apoteker tentang peran, fungsi, posisi


dan tanggung jawab apoteker dalam pelayanan kefarmasian di apotek.

2.

Membekali calon apoteker agar memiliki wawasan, pengetahuan,


keterampilan, dan pengalaman praktis untuk melakukan pekerjaan

3.

kefarmasian di apotek.
Memberikan kesempatan kepada calon apoteker untuk melihat dan
mempelajari strategi dan kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan dalam

4.

rangka pengembangan praktek farmasi komunitas di apotek.


Mempersiapkan calon apoteker dalam memasuki dunia kerja sebagai

5.

tenaga farmasi yang profesional.


Memberikan gambaran nyata
kefarmasian di apotek.

tentang

permasalahan

pekerjaan