Anda di halaman 1dari 33

LAMPIRAN 1

KEPUTUSAN PEMIMPIN BLUD RSUD PROVINSI


KEPULAUAN RIAU TANJUNGPINANG
NOMOR : /SK-RSUD PROV /VIII/ 2016
TANGGAL:
Agustus 2016

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Meningkatnya jumlah kasus Gagal Ginjal Kronik (GGK) di
Kepulauan Riau

menjadi masalah kesehatan yang utama karena

akan memperburuk kondisi kesehatan seseorang dan meningkatkan


biaya perawatan.
Gagal ginjal kronik merupakan salah satu gangguan fungsi
ginjal yang irreversibel. Gagal ginjal kronik biasanya timbul beberapa
tahun setelah penyakit atau kerusakan ginjal, tetapi pada situasi
tertentu dapat muncul secara mendadak. Pada tahapan tertentu
progresivitas penyakit GGK dapat cepat berubah menjadi GGK tahap
akhir.
Pengobatan untuk penyakit GGK ini berupa terapi pengganti
ginjal. Ada beberapa alternatif terapi pengganti ginjal diantaranya
Hemodialisa, CAPD ( Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis) dan
Transplantasi Ginjal.
Hemodialisa merupakan terapi pengganti ginjal yang banyak
dipilih. Hemodialisa

dilakukan 10-12 jam seminggu atau 2 kali

seminggu selama 4-5 jam.


Hemodialisis merupakan prosedur penyelamatan jiwa yang
mahal dan akhir-akhir ini dilakukan lebih dari 100.000 orang
Amerika. Hemodialisis memungkinkan sebagian penderita hidup

mendekati keadaan yang normal meskipun menderita gagal ginjal


yang tanpa terapi hemodialisis akan menyebabkan kematian.
Hemodialisis digunakan pada pasien dalam keadaan sakit akut
dan memerlukan terapi dialisis jangka pendek atau pasien dengan
penyakit gagal ginjal stadium terminal yang membutuhkan terapi
jangka panjang atau terapi permanen. Hemodialisis dilakukan dengan
menggunakan sebuah mesin yang dilengkapi dengan membran
penyaring semi permiabel (ginjal buatan) yang memindahkan produkproduk limbah yang terakumulasi dari darah ke dalam mesin dialisis.
Pada mesin dialisis, cairan dialirkan dipompa melalui salah satu sisi
membran filter (ginjal buatan).
Dengan meningkatnya prevalensi penyakit GGK tahap akhir,
Rumah Sakit harus berupaya menyediakan pelayanan hemodialisa
untuk

mengurangi

mortalitas

penderita

GGK

tahap

akhir.

Hemodialisa menjadi terapi pengganti ginjal yang rutin bagi penderita


GGK tahap akhir.

B. Tujuan Pedoman Pelayanan Unit Hemodialisa


a. Sebagai pedoman penyelenggaraan pelayanan unit hemodialisa.
b. Untuk meningkatkan mutu pelayanan di unit kerja hemodialisa.
c. Untuk menjamin kepastian hukum dalam pelayanan hemodialisa.
C. Ruang Lingkup
Ruang lingkup kegiatan pokok pelayanan Hemodialisa di RSUD
Provinsi Kepulauan Riau Tanjungpinang terdiri dari :
a. Pelayanan Hemodialisa Rawat Jalan.
b. Pelayanan Hemodialisa Emergency/Cito/Segera.
D. Batasan Operasional

1. Untuk pelayanan Hemodialisa di Rumah Sakit RSUD Provinsi


Kepulauan Riau Tanjungpinang dilaksanakan setiap Hari Senin
Sabtu, Pukul : 06.00 17.00 WIB.
2. Untuk pelayanan Cito/ On call dilaksanakan 24 jam.
E. Landasan Hukum
Sebagai acuan dan dasar pertimbangan dalam penyelenggaraan
pelayanan

hemodialisa

Tanjungpinang

di

RSUD

diperlukan

Provinsi

peraturan

Kepulauan

Riau

perundang-undangan

pendukung (Legal Aspect). Beberapa ketentuan perundang-undangan


yang digunakan adalah sebagai berikut :
1. Undang-undang

Nomor

36

Tahun

2009

tentang

Kesehatan

(Lembaran Negara republik Indonesia, Tambahan Lembaran Negara


Republik Indonesia Nomor 5063);
2. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit
(Lembaran Negara republik Indonesia, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5972);
3. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan
Konsumen (Lembaran Negara Nomor 42 Tahun 1999);
4. Peraturan pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian
urusan Pemerintah antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah,
Propinsi dan Pemda Kab / Kota (Lembaran Negara republik
Indonesia tahun 2007 Nomor 28, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia );
5. Peraturan pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi
Perangkat

Daerah (Lembaran Negara republik Indonesia tahun

2007 Nomor 89, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia


nomor 4741);

6. Peraturan

Menteri

Kesehatan

986/Menkes/Per/XI/1992

Republik

tentang

Indonesia

persyaratan

Nomor

kesehatan

lingkungan rumah sakit;


7. Peraturan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

Nomor

903/Menkes/Per/V/2011 tentang Program Jaminan Kesehatan


Masyarakat;
8. Keputusan

Menteri

Kesehatan

129/Menkes/SK/II/2008

tentang

Republik
Standar

Indonesia
Pelayanan

Nomor
Minimal

Rumah Sakit;
9. Permenkes

No

penyelenngaraan
kesehatan;

812/MENKES/PER/VII/2010

pelayanan

dialisis

pada

fasilitas

tentang
pelayanan

BAB II
STANDAR KETENAGAAN
A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia
1. Dokter Spesialis
Dokter Spesialis Ilmu Penyakit Dalam bersertifikat Pelayanan
Hemodialisis.
2. Dokter Umum
Dokter Umum bersertifikat pelatihan Hemodialisis.
3. Perawat

a. S1 Keperawatan / Ners bersertifikat Hemodialisis.


b. D3 Keperawatan besertifikat Hemodialisis.
B. Distribusi Ketenagaan
1. Dokter Spesialis
Dokter spesialis Ilmu Penyakit Dalam yang berjumlah 2 orang
melaksanakan

pelayanan

hemodialisis

sebagaimana

terlampir

dalam jadwal.
2. Dokter
Dokter umum yang berjumlah 1 orang melaksanakan pelayanan
hemodialisis sebagaimana terlampir dalam jadwal.
3. Perawat
Semua perawat yang bekerja di unit hemodialisis yang terdiri dari :
a. Lulusan S1/ Ners : 3 orang.
b. D III Keperawatan : 3 orang.
C. Pengaturan Jaga
Pengaturan jadwal dalam pelayanan hemodialisis disesuaikan dengan
jadwal dinas yang terdiri dari :
c. Piket Pagi
(pukul 06.00 14.00).
d. Piket Sore
(pukul 09.00 17.00).

BAB III
STANDAR FASILITAS
A. Denah Ruang

WC
Staf

WC
Pasie
n
R.Pantry
K.Perawat

R.KaRu

K.Dokte
r

R.BHP
R.Mesi
n
R.Ala
t/Lin
en

R.Hemodiali
sa

B.

Standar Fasilitas
Unit Hemodialisa RSUD Provinsi Kepulauan Riau Tanjungpinang
memiliki 6 mesin Hemodialisa yang terdiri dari 1 mesin untuk isolasi
Hepatitis

dimana

semua

stestoskop,tensimeter,termometer

dan

peralatan
peralatan

medis

lainnya

seperti

khusus

untuk

ruangan isolasi, hal ini belum sesuai dengan konsensus Pernefri tentang
pengendalian infeksi Hepatitis B dikarenakan masih satu ruangnan dengan
mesin hemodialisa non infeksius lainnya yang berjumlah5 mesin.
Di ruangan diberikan fasilitas AC dan TV untuk kenyamanan pasien
selama proses hemodialisa berlangsung.

Alat Medis di Ruang Hemodialisa RSUD Provinsi Kepulauan Riau


Tanjungpinang
Kondisi
Nama Alat
Standar Jumlah
Ket
No
Baik
Rusak
1.

Tabung oksigen

13

10

Cukup

2.

Ambubag
Dewasa

Cukup

3.

Fistula needle set


AVF 166x1.25

100

100

100

Cukup

4.

Fistula needle set


AVF 166x1

1200

1200

1200

Cukup

5.

Venous Blood
Tubing set for
Hemodialisis

650

650

650

Cukup

6.

Tensimeter

Cukup

7.

Timbangan BB

Cukup

8.

Pinset anatomis

Cukup

9.

Pinset cirugis

Cukup

Cukup

Cukup

12. Bak instrumen

13

Kurang

13. Korentang

13

Kurang

14. Gunting Plester

Cukup

15. Spatel Lidah

Cukup

16. Kom Kecil

Cukup

10. Bengkok
11.

Gunting Hecting
0f

17.

Tempat Kasa
Steril

Cukup

18.

Tempat tidur
pasien

Cukup

19. Stetoskop

Cukup

20. Kursi Roda

Cukup

21. Tempatkorentang

Cukup

22. Tromol besar

Cukup

23. Klem

Cukup

24. Suction

Cukup

25. Troli kecil

Cukup

26. Brangkar

Cukup

27. WWZ

Cukup

28. Gelas ukur

Cukup

14

14

14

Cukup

29. Standar infus

30. Urinal

Cukup

31. Pispot

Cukup

32. Nallfuder

Cukup

33. Arteri klem

Cukup

Inventaris Alat Rumah Tangga di Ruang Hemodialisa


RSUD Provinsi Kepulauan Riau Tanjungpinang

No

Nama Alat

Standa
r

Jumlah

Kondisi
Baik

Rusak

Ket

1.

Almari obat

Cukup

2.

Dispenser

Cukup

3.

Kulkas Obat

Cukup

4.

Tempat
sampah
medis

Cukup

5.

Tempat
sampah
nonmedis

Cukup

6.

Ember

7.

Telepon

Cukup

8.

Gudang

Cukup

9.

Loker obat

Cukup

10. TV

Cukup

11. Komputer

Cukup

12. Meja

Cukup

Ruang
perawat

Cukup

14. Kipas Angin

Cukup

13.

Cukup

15. Papan tulis

Cukup

16. Jam dinding

Cukup

17. AC

Cukup

NO

Kebutuhan Alat Tulis Kantor


Di Ruang Hemodialisa
Jumlah
alat
Nama alat dan Sarana
Kebutuhan

1.

Ballpoint

Cukup

2.

Blangko resep askes


rawat jalan

Cukup

3.

Blangko resep umum

Cukup

4.

Buku batik sedang

Cukup

5.

Buku batik ekspedisi

Cukup

6.

Buku batik folio

Cukup

7.

Buku inventaris
ruangan

Cukup

8.

Kartu register

Cukup

9.

Kartu control HD

Cukup

10

Map kertas folio

Cukup

11.

Buku penerimaan obat

Cukup

12.

Buku permintaan
barang

Cukup

13.

Form Askep HD

Cukup

14.

Form Absensi
unjungan HD Askes

Cukup

15.

Form pemeriksaan lab


Rajal

Cukup

16.

Form permintaan lab

Cukup

Keterangan

RANAP
17.

Form permintaan
darah

Cukup

18.

Form permintaan
Rontgen

Cukup

19.

Form Habis Pakai HD

Cukup

20.

Form Kwitansi Rajal


Umum HD

Cukup

21.

Form 4c

Cukup

22.

Form pengembalian
obat

Cukup

23.

Isi staples

Cukup

24.

Kertas karbon

Cukup

25.

Klip

Cukup

26.

Lem kertas

Cukup

27.

Lembar konsultasi

Cukup

28.

Penggaris

Cukup

29.

Penghapus pensil

Cukup

30.

Penghapus white board

Cukup

31.

Pensil

Cukup

32.

Map snelhecter

Cukup

33.

Map snelhecter
transparan

Cukup

34.

Pensil merah biru

Cukup

35.

Spidol biasa

Cukup

36.

Spidol white board

Cukup

37.

Staples

Cukup

38.

White board

Cukup

Alat tenun di Ruang Hemodialisa RSUD Provinsi Kepulauan Riau


Tanjungpinang
Standar

Jumlah

Kondisi

No

Nama Alat

1.

Sprei

Cukup

Sarung
bantal

Cukup

Selimut

Cukup

Perlak

Cukup

Stik laken

Cukup

Korden

Cukup

Lemari
linen

Cukup

Baik

Rusak

Ket

BAB IV
TATA LAKSANA
1. HEMODIALISA

A. Pengertian Hemodialisis
Dialisis merupakan

suatu

proses

yang

digunakan

untuk

mengeluarkan cairan dan produk limbah dari dalam tubuh ketika ginjal
tidak mampu melaksanakan proses tersebut (Smeltzer dan Bare, 2002).
Hemodialisis dilakukan dengan menggunakan sebuah mesin yang
dilengkapi dengan membran penyaring semi permiabel (ginjal buatan)
yang memindahkan produk-produk limbah yang terakumulasi dari
darah ke dalam mesin dialisis.
B. Etiologi Hemodialisis
Dialisis dilakukan pada ginjal untuk mengeluarkan zat-zat toksik
dan limbah tubuh yang dalam keadaan normal diekskresikan oleh ginjal
yang sehat. Dialisis juga dilakukan dalam penanganan pasien dengan
edema

yang

membandel

(tidak

responsif

terhadap

terapi),

koma

hepatikum, hiperkalemia, hiperkalsemia, hipertensi, dan uremia. Dialisis


akut diperlukan bila terdapat kadar kalium yang tinggi atau yang
meningkat, kelebihan muatan cairan atau edema pulmoner yang
mengancam, asidosis yang meningkat, perikarditis dan konfusi yang
berat.
Sedangkan dialisis kronis atau pemeliharaan dibutuhkan pada
gagal ginjal kronis (Smeltzer dan Bare, 2002) (penyakit ginjal stadium
terminal) dalam keadaan berikut:
Terjadinya tanda-tanda dan gejala uremia yang mengenai seluruh
sistem tubuh (mual serta muntah, anoreksia berat, peningkatan letargi,
konfusi mental).
1. Kadar kalium serum meningkat.
2. Muatan cairan berlebih yang tidak responsif terhadap terapi
diuretik serta pembatasan cairan.

3. Penurunan status kesehatan yang umum.


4. Terdengarnya suara gesekan perikardium (pericardial friction rub)
melalui auskultasi.
C. Metode Hemodialisa
Metode terapi dialisa mencakup hemodialisis, hemofiltrasi, dan
peritoneal dialisis. Hemodialisis dapat dilakukan pada saat toksin atau
zat racun harus segera dikeluarkan untuk mencegah kerusakan
permanen atau menyebabkan kematian. Hemofiltrasi digunakan untuk
mengeluarkan cairan yang berlebihan. Sedangkan, peritoneal dialisis
mengeluarkan cairan lebih lambat daripada bentuk-bentuk dialisis yang
lain (Smeltzer dan Bare, 2002).
D. Indikasi Hemodialisis
Hemodialisis diindikasikan pada gagal ginjal akut dan kronis,
intoksikasi obat dan zat kimia, ketidakseimbangan cairan dan elektrolit
berat dan sindrom hepatoreanal (Faisal, 2007). Di samping itu,
terdengarnya suara gesekan perikardium (pericardial friction rub) melalui
auskultasi merupakan indikasi yang mendesak untuk dilakukan dialisis
untuk pasien gagal ginjal kronis (Smeltzer dan Bare, 2002).
Menurut konsensus Pernefri (2003) secara ideal semua pasien
dengan Laju Filtrasi Goal (LFG) kurang dari 15 mL/menit, LFG kurang
dari 10 mL/menit dengan gejala uremia/malnutrisi dan LFG kurang dari
5 mL/menit walaupun tanpa gejala dapat menjalani dialisis. Selain
indikasi tersebut juga disebutkan adanya indikasi khusus yaitu apabila
terdapat komplikasi akut seperti oedem paru, hiperkalemia, asidosis
metabolik berulang, dan nefropatik diabetik.
Menurut Pernefri (2003) waktu atau

lamanya

Hemodialisa

disesuaikan dengan kebutuhan individu. Tiap Hemodialisa dilakukan 4


5 jam dengan frekuensi 2 kali seminggu. Hemodialisa idealnya dilakukan
10 15 jam/minggu dengan QB 200300 mL/menit. Sedangkan
menurut Corwin (2000) Hemodialisa memerlukan waktu 3 5 jam dan

dilakukan 3 kali seminggu. Pada akhir interval 2 3 hari diantara


Hemodialisa,
Sedangkan hemodialisa rutin menurut Pernefri (2003) dijelaskan
bahwa hemodialisa rutin ini dilakukan pada keadaan yang sudah
direncanakan atau ditentukan waktunya. Umumnya dilakukan pada
pasien dengan gagal ginjal kronik yang bertujuan untuk meningkatkan
kualitas hidup pasien. Sedangkan pasien hemodialisa rutin adalah
pasien-pasien

yang

sudah

terencana

dalam

menjalani

program

hemodialisa sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.


E. Prinsip-prinsip Kerja Hemodialisis
Ada tiga prinsip yang mendasari kerja hemodialisis menurut
Smeltzer dan Bare (2002), yaitu: difusi, osmosis dan ultrafiltrasi.
1.

Difusi adalah pengeluaran toksin dan zat limbah dalam darah


dengan bergerak dari darah yang berkonsentrasi tinggi, ke cairan
dialisat dengan konsentrasi yang lebih rendah.

2.

Osmosis adalah bergeraknya air dari daerah bertekanan lebih


tinggi (tubuh pasien) ke tekanan yang lebih rendah (cairan
dialisat), sehingga air yang berlebihan dikeluarkan dari dalam
tubuh.

3.

Ultrafiltrasi adalah penambahan tekanan negatif.

F. Komplikasi Hemodialisis
Komplikasi terapi dialisis mencakup hal-hal berikut (Smeltzer
dan Bare, 2002):
1. Hipervolemia, ditandai dengan peningkatan tekanan darah, nadi,
frekuensi pernapasan, tekanan vena sentral, dispnea, rales basah,
batuk, edema, dan peningkatan berat badan yang berlebihan sejak
dialisis terakhir.

2. Ultrafiltrasi yang berlebihan, ditandai dengan gejala-gejala: hipotensi,


mual, muntah, berkeringat, pusing, dan pingsan.
3. Hipovolemia,

ditandai

dengan

penurunan

tekanan

darah,

peningkatan frekuensi nadi dan pernapasan, turgor kulit buruk,


mulut kering, tekanan vena sentral menurun, dan penurunan
haluaran urine.
4. Hipotensi, pada awal dialisis dapat terjadi pada pasien dengan
volume darah sedikit, seperti anak-anak dan orang dewasa yang
kecil. Sedangkan hipotensi lanjut pada dialisis biasanya karena
ultrafiltrasi berlebihan atau terlalu cepat.
5. Hipertensi, penyebab yang paling sering adalah kelebihan cairan,
sindrom disequilibrium, respons renin terhadap ultrafiltrasi, dan
ansietas.
6. Sindrom disequilibrium dialisis, dimanifestasikan oleh sekelompok
gejala-gejala yang diduga disfungsi serebral. Rentang beratnya gejalagejala dari mual ringan, muntah, sakit kepala, dan hipertensi sampai
agitasi, kedutan, kekacauan mental, dan kejang.
7. Infeksi, yang diperkirakan karena penurunan respons imunologik
pada pesien uremik yang mengalami penurunan resisten terhadap
infeksi.
G. Persiapan sebelum hemodialisis
Persiapan Pasien :
1.

Surat dari dokter nefrologi / penyakit dalam untuk tindakan


hemodialisis ( intruksi dokter ).

2.

Identitas pasien dan surat persetujuan tindakan hemodialisis.

3.

Riwayat penyakit yang pernah diderita ( penyakit lain dan


alergi ).

4.

Keadaan umum pasien.

5.

Keadaan psikososial.

6.

Keadaaan fisik ( ukur tanda-tanda vital, berat badan, warna


kulit, mata, ekstremitas ederna +/-).

7.

Data laboratorium : hb, ureum, kreatin, HbSAg.

8.

Pastikan bahwa pasien telah benar-benar siap dilakukan


hemodialisis.
Persiapan Mesin :
1.

Listrik.

2.

Air yang sudah diubah dengan cara :


a. Filtrasi.
b. Softening.
c. Deionisasi.
d. Reverse osmosis.

Sistem sirkulasi dialisat :


1. Sistem proporsioning.
2. Asetat / bikarbonat.
Sirkulasi darah :
1.

dialyzer / hollow fiber.

2.

Priming.

Persiapan alat :
1. Dialyzer.
2. AV blood line.
3. AV fistula.
4. NaCl 0,9 %.
5. Infus set.
6. Spuit.
7. Heparin.
8. Lidocain.
9. Kassa steril.
10. Duk.

11. Sarung tangan.


12. Mangkok kecil.
13. Desinfektan (alkohol/betadine).
14. Klem.
15. Matcan.
16. Timbangan.
17. Tensimeter.
18. Termometer.
19. Plester.
20. Perlak kecil.
Langkah-langkah :
1. Setting dan Priming.
a. Mesin dihidupkan.
b. Lakukan setting dengan cara
1) Keluarkan dialyzer dan AV blood line dari bungkusnya, juga slang
infus set dan NaCl-nya (perhatikan sterilitasnya).
2) Dengan teknik aseptik hubungkan ujung AV blood line pada
dialyzer.
3) Pasang alat tersebut pada mesin sesuai dengan tempatnya.
4) Hubungkan Na Cl melalui infus set bebas dari udara dengan
mengisinya terlebih dahulu.
5) Tempatkan ujung V blood line dalam penampung, hindarkan
kontaminasi dengan penampung dan jangan terendam dengan air
yang keluar.
c. Lakukan priming dengan posisi dialyzer biru (outlet) di atas dan
yang merah (inlet) di bawah, caranya :
1) Alirkan

NaCl

ke

dalam

sirkulasi

100cc/menit.
2) Udara dikeluarkan dari sirkulasi.

dengan

kecepatan

3) Setelah semua sirkulasi terisi dan bebas dari udara, pompa


dimatikan, klem ujung AV blood line.
4) Hubungkan ujung A blood line dan V blood line dengan
memakai konektor dan klem dibuka kembali.
5) Sambungkan cairan dialisat dengan dialyzer dengan posisi
outlet di bawah dan inlet diatas.
6) Lakukan sirkulasi 5-10 menit dengan QB 150 cc/menit
7) Masukkan Heparin 1500 dalam sirkulasi.

H. Punksi Akses Vaskuler


1. Tentukan tempat punksi atau periksa tempat shunt.
2. Alasi dengan perlak kecil dan atur posisi.
3. Bawa alat-alat dekat dengan tempat tidur pasien (alat-alat steril
dimasukkan ke dalam bak steril).
4. Cuci tangan, bak steril dibuka kemudian memakai hand-scoon.
5. Beritahu pasien bila akan dilakukan punksi.
6. Pasang duk steril, sebelum disinfeksi daerah yang akan dipunksi
dengan betadine dan alkohol.
7. Ambil fistula dan punksi outlet terlebih dahulu, bila perlu lakukan
anaesthesi lokal, kemudian desinfeksi.
8. Ambil darah untuk pemeriksaan laboratorium.
9. Bolus heparin yang sudah diencerkan dengan Na Cl 0,9% (dosis
awal).
10. Selanjutnya punksi inlet dengan cara yang sama kemudian
difiksasi.

I.

Memulai Hemodialisis
1.

Sebelum dilakukan punksi dan memulai hemodialisis, ukur


tanda-tanda vital dan berat badan pre hemodialisis.

2. Setelah selesai punksi, sirkulasi dihentikan, pompa dimatikan, ujung


AV blood line diklem.
3. Sambungan

AV

blood

line

dilepas,

kemudian

blood

line

dihubungkan dengan punksi outlet. Ujung V blood line ditempatkan


ke matcan.
4. Buka semua klem dan putar pompa perlahan-lahan sampai kurang
lebih 100 cc/menit untuk mengalirkan darah, mengawasi apakah ada
penyulit.
5. Biarkan darah memasuki sirkulasi sampai pada bubble trap V blood
line, kemudian pompa dimatikan dan V blood line diklem.
6. Ujung V blood line dibuka (pastikan sambungan bebas dari udara).
7. Putar pompa dengan QB 100cc/menit kemudian naikkan perlahanlahan antara 150 200 cc/menit.
8. Fiksasi AV blood line agar tidak mengganggu pergerakan.
9. Hidupkan heparin pump sesuai dengan lamanya hemodialisis.
10. Buka klem slang monitor AV pressure.
11. Hidupkan detektor kebocoran udara.
12.

Ukur tekanan darah, nadi dan pernafasan.

13.

Cek mesin dan sirkulasi dialisat.

14.

Cek posisi dialyzer (merah diatas, biru dibawah).

15.

Observasi kesadaran dan keluhan pasien.

16.

Programkan hemodialisis.

17.

Isi formulir hemodialisis.

18.

Rapikan peralatan.

J. Penatalaksanaan Hemodialisa.
Memprogram dan Memonitor Mesin Hemodialisis.
1.

Lamanya hemodialisis.

2.

QB (kecepatan aliran darah) = 150 250 cc/menit

3.

QD (kecepatan aliran dialisat) = 400-600 cc/menit

4.

Temperatur dialisat 37-400C

5.

TMP dan UFR

6.

Heparinisasi
a. Dosis awal = 50 100 /kgBB.
1)

diberikan pada waktu punksi.

2)

untuk priming = 1500.

3)

diberikan pada waktu sirkulasi AV blood line.

b. Dosis maintenance = 500-2000/jam Diberikan pada waktu


hemodialisis

berlangsung. kontinyu : diberikan secara terus

menerus dengan bantuan pompa dari awal hemodialisis sampai


dengan 1 jam sebelum hemodialisis berjalan.
c. intermitten : diberikan 1 jam setelah hemodialisis berlangsung dan
pemberian selanjutnya dimasukkan tiap selang waktu 1 jam
terakhir tidak diberikan.
d. minimal heparin : heparin dosis awal kurang lebih 2000
selanjutnya diberikan kalau perlu.
7.

Pemeriksaan Laboraturium, ECG, dll)

8.

Pemberian obat-obatan, transfusi dll.

9.

Monitoring tekanan.
a.

fistula pressure.

b.

arterial pressure

c.

venous pressure

d.

dialisat pressure

e.

Detektor (udara, blood leak detector)


Observasi pasien.
1)

Tanda-tanda vital (TNSR, kesadaran)

2)

Fisik

3)

Mesin dibersihkan dan didesinfektan.

4) Setelah proses pembersihan selesai, mesin dimatikan, lepas


steker mesin dari stop kontak dan tutup kran air.
5)

Bersihkan ruangan hemodialisis.

Hal-hal yang perlu diperhatikan : Vital sign, Hb, Kelancaran sirkulasi


ekstracorporeal.
K. Masalah Keperawatan Pada Hemodialisa
1. Ketidakseimbangan Cairan
a. Hipervolemia
b. Hipovolemia
c. Ultra filtrasi
d. Rangkaian ultrafiltrasi (Diafiltrasi)
e. Hipotensi
f. Hipertensi
g. Sindrome disequilibrium dialysis
2. Ketidakseimbangan Elektrolit
Elektrolit merupakan perhatian utama

dalam

dialisis,

yang

normalnya dikoreksi selama prosedur adalah natrium, kalium,


bikarbonat, kalisum, fosfor, dan magnesium.
3. Infeksi
Pasien uremik mengalami penurunan resisten terhadap infeksi, yang
diperkirakan karena penurunan respon imunologik. Infeksi paru
merupakan penyebab utama kematian pada pasein uremik.
4. Perdarahan dan Heparinisasi
Perdarahan selama dialysis mungkin karena konsidi medik yang
mendasari

seperti

ulkus

atau

gastritis

atau

mungkin

akibat

antikoagulasi berlebihan. Heparin adalah obat pilihan karena


pemberiannya sederhana, meningkatkan masa pembekuan dengan
cepat, dimonitor dengan mudah dan mungkin berlawanan dengan
protamin.
5. Masalah peralatan
a. Konsentrasi dialisat
b. Aliran dialisat
c. Temperatur
d. Aliran darah
e. Kebocoran darah

f. Emboli udara

2. ALUR PELAYANAN
1.Pasien Baru
a) Masuk dari IGD:
Pasien mendaftar di registrasi IGD untuk mendapatkan nomor
rekam medis,setelah diperiksa dan ditangani oleh dokter jaga
IGD serta dikonsulkan ke internist diputuskan untuk dilakukan
hemodialisa,.keluarga dan pasien harus diberikan informed
consent lebih dahulu,bila setuju pemeriksaan skrining untuk
HbsAg. Anti HCV serta anti HIV harus dilakukan. Selanjutnya
setelah ada hasil laboratorium , petugas IGD/petugas di
ruangan rawat inap menghubungi Ruangan Hemodialisa untuk
mendapatkan jadwal HD. Sementara menunggu bisa dilakukan
pemasangan Catheter

Double Lumen untuk akses sementara

hemodialisa di ruang rawat inap.


b) Masuk dari Poliklinik Penyakit Dalam:
Pasien mendaftar di registrasi Rawat Jalan untuk mendapatkan
nomor Rekam Medis, setelah diperiksa dan ditangani oleh
dokter spesialis penyakit dalam dan diputuskan untuk cuci
darah, bila pasien setuju setelah informed consent,dilakukan
pemeriksaan skrining lanjutan yaitu Anti HCV,Anti HIV dan
HbsAg.Bila pasien dirawat inap, petugas rawat inap yang
menghubungi ruangan HD untuk mendapatkan jadwal,apabila
pasien rawat jalan, petugas poliklinik yang menghubungi
ruangan HD.
c) Pasien pindahan dari pusat Hemodialisa lain:
Alur pasien sama dengan (a) dan (b) dengan menunjukkan
surat Travelling Dialysis dan hasil laboratorium terakhir.
2. Pasien Lama

a) Rutin:
Pasien mendaftar ke bagian pendaftaran dengan tujuan ke unit
Hemodialisa sesuai jadwal rutin yang sudah ditentukan..
b) Masuk dari IGD:
Setelah mendaftar dan dikonsultasikan ke dr.spesialis penyakit
dalam Hemodialisa dan perlu rawat inap,petugas ruangan rawat
inap yang menghubungi petugas HD untuk melaporkan pasien
rutin itu dirawat di ruangan tersebut dan bila tidak sesuai
jadwal maka akan dijadwalkan ulang
c) Masuk dari Poliklinik Penyakit Dalam:
Pasien rutin yang setelah diperiksa oleh dr.spesialis penyakit
dalam memerlukan rawat inap, petugas rawat inap yang
menghubungi petugas di ruangan HD seperti tertuang di butir
(b)

BAB V
LOGISTIK

A. ATK
Kebutuhan

ATK

dipenuhi

oleh

Bagian

Rumah

Tangga

dan

perlengkapan RSUD Provinsi Kepulauan Riau Tanjungpinang melalui


buku permintaan
B. Sarana dan Prasarana untuk Pasien
Sarana dan Prasarana untuk pasien terkoordinasi dengan bagian
Teknik, Laundry, dan IPS RS. Bagian Teknik dan IPS RS bekerjasama
dalam hal pemeliharaan alat dan pemeliharaan gedung. Sedangkan
bagian Laundry bekerjasama dalam hal kebersihan sprei, sarung
bantal, dsb yang diganti setiap maksimal seminggu sekali atau sesuai
kebutuhan.
C. Persediaan Bahan Obat dan Alat Habis Pakai
Sistem Pengelolaan Bahan Obat dan Alat Habis Pakai merupakan
suatu rangkaian kegiatan yang meliputi aspek seleksi dan perumusan
kebutuhan,

pengadaan,

penyimpanan,

pendistribusian

dan

penggunaan obat. Tujuan dari pengadaan yaitu untuk memperoleh


barang atau jasa yang dibutuhkan dalam jumlah yang cukup dengan
kualitas harga yang dapat dipertanggung jawabkan, dalam waktu dan
tempat tertentu secara efektif dan efisien. Perencanaan pengadaan
Bahan Obat dan Alat Habis Pakai harus sesuai dengan formularium
yang telah ditetapkan oleh Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS).
Bahan Obat dan Alat Habis Pakai yang akan dibeli atau diadakan
harus direncanakan secara rasional agar jenis dan jumlahnya sesuai
sehingga merupakan produk atau bahan yang terbaik, meningkatkan
penggunaan yang rasional dengan harga yang terjangkau atau
ekonomis.

BAB VI
KESELAMATAN PASIEN
A. Setiap

pasien

yang

datang

ke

RSUD

Provinsi

Kepulauan

Riau

Tanjungpinang dengan indikasi Hemodialisa mendapat pelayanan sesuai


kebutuhannya dengan memperhatikan keselamatan pasien, terutama
agar terhindar dari cidera yang mungkin dapat terjadi.
B. Tatalaksana keselamatan pasien
1. Identifikasi pasien
2. Komunikasi efektif
3. Kewaspadaan terhadap obat
4. Keselamatan terhadap tindakan
5. Mencegah tranmisi infeksi kuman rumah sakit
6. Mencegah pasien jatuh.

BAB VII
KESELAMATAN KERJA
Yang dimaksud dengan keselamatan kerja adalah suatu usaha untuk
mencegah dan meminimalisir terjadinya kecelakaan kerja karyawan yang
terjadi dilingkungan RS, dengan memberikan perlindungan pada karyawan
yang sedang bekerja dengan menggunakan alat perlindungan diri ( APD ).
Potensi bahaya di RS, selain penyakitpenyakit infeksi juga ada potensi
bahaya-bahaya lain yang mempengaruhi situasi dan kondisi di RS, yaitu
kecelakaan (peledakan, kebakaran, kecelakaan yang berhubungan dengan
instalasi liktrik, dan sumber-sumber cidera lainnya), radiasi, bahan-bahan
kimia

yang berbahaya,

gas-gas

anastesi,

gangguan

psikososial,

dan

ergonomi. Semua potensi bahaya tersebut diatas jelas mengancam jiwa dan
kehidupan

bagi

para

karyawan

di

RS,

para

pasien

maupun

para

pengunjung.
Dari berbagai potensi bahaya tersebut, maka perlu upaya untuk
mengendalikan, meminimalisasi dan bila mungkin meniadakan, oleh karena
itu K3RS perlu dikelola dengan baik yang disertai dengan menjalankan
K3RS sesuai dengan program yang telah ditetapkan.

BAB VIII
PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN
MUTU PELAYANAN HEMODIALISA

A. Pengertian
1. Pengawasan
Pengawasan merupakan salah satu fungsi manajemen yang
mengusahakan agar pekerjaan atau kegiatan terlaksana sesuai
dengan rencana, dan kebijakan yang ditetapkan dapat mencapai
sasaran yang dikehendaki.
Pengawasan memberikan dampak positif berupa :
a. Menghentikan atau meniadakan kesalahan, penyimpangan,
penyelewengan, pemborosan, hambatan dan ketidaktertiban.
b. Mencegah

terulang

kembali

kesalahan,

penyimpangan,

penyelewengan, pemborosan, hambatan dan ketidaktertiban.


c. Mencari cara yang lebih baik atau membina yang lebih baik
untuk mencapai tujuan dan melaksanakan tugas organisasi.

2. Pengendalian
Pengendalian merupakan bentuk atau bahan untuk melakukan
perbaikan yang terjadi sesuai dengan tujuan arah pengawasan dan
pengendalian.
Bertujuan agar semua kegiatan dapat tercapai secara berdayaguna
dan

berhasilguna.

Dilaksanakan

sesuai

dengan

rencana,

pembagian tugas, rumusan kerja, pedoman pelaksanaan dan


peraturan yang berlaku.
Empat langkah yang dapat dilakukan dalam pengawasan dan
pengendalian mutu pelayanan yaitu :
a. Penyusunan

standar

biaya,

standar

performance

mutu,

standar kualitas pelayanan.


b. Penilaian kesesuaian yaitu membandingkan dari produk yang
dihasilkan atau pelayanan yang ditawarkan terhadap standar
tersebut.
c. Melakukan koreksi bila diperlukan, yaitu dengan mengoreksi
penyebab dan faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan.
d. Perencanaan peningkatan mutu, yaitu ; membangun upayaupaya-upaya yang berkelanjutan untuk memperbaiki standar
yang ada.

B. Bentuk-Bentuk Pengawasan dan Pengendalian


Beberapa

bentuk

pengawasan

dan

pengendalian

di

Ruang

Hemodialisa RSUD Saras Husada Purworejo adalah sebagai berikut :


1. Pembagian tugas organizing
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Pembagian Tugas.
Pendelegasian Tugas.
Koordinasi Tugas.
Pengaturan/Manajemen Waktu.
Pengaturan dan pengendalian situasi tempat praktek.
Memberi wewenang kepada tata usaha untuk mengurus

administrasi klien.
g. Pengembangan MPKP dengan MPM.
1) Pelaksanaan Tugas
a) Pelaksanaan tugas Kepala Ruang Keperawatan.
b) Pelaksanaan tugas Primary Nurse.
c) Pelaksanaan tugas Assosiated Nurse.
2) Hubungan Profesional

a) Hubungan

Profesional

antara

Staf

Keperawatan

dengan Pasien.
b) Hubungan Profesional Antar Staf Keperawatan.
c) Hubungan
Profesional/Kemitraan
Antara

Staf

Keperawatan Dengan Dokter/Tim Kesehatan Lain.


d) Hubungan Profesional Antara Staf Keperawatan
e)
f)
g)
h)
i)

Dengan Peserta Didik Dengan MPM.


Pelaksanaan Serah Terima Tugas Jaga (operan).
Pelaksanaan Meeting Morning.
Pelaksanaan Pre Conference.
Pelaksanaan Post Conference.
Pelaksanaan Komunikasi Terapeutik.

a. Pelaksanaan informasi pasien baru.


2. Pelaksanaan tugas meeting pre-post konfrens.
a) Pengarahan.
b) Supervise staf.
c) Koordinasi.
d) Orientasi staf.
e) Orientasi mahasiswa praktek.
f) Orientasi pasien/keluarga.
g) Memobilisasi sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan.
h) Memberi motivasi pada anggota.
i) Membuat keputusan.
j) Manajemen konflik.
k) Menelaah kemampuan individu.
l) Membimbing tenaga keperawatan.
m) Mengadakan pertemuan berkala/sewaku-waktu dengan staf
keperawatan dan petugas lain yang bertugas diruang
rawatnya.
n) Memberi kesempatan/ijin kepada staf keperawatan.
o) Mengupayakan pengadaan peralatan dan obat-obatan.
p) Mendampingi visite dokter dan mencatat instruksi dokter.

q) Mengelompokkan pasien dan mengatur penempatannya di


ruang rawat menurut tingkat kegawatan, infeksi/non infeksi
untuk kelancaran pemberia asuhan keperawatan.
r) Mengendalikan kualitas sistem pencatatan dan pelaporan
asuhan keperawatan.
s) Meneliti pengisian formulir sensus harian pasien di ruang
rawat.
t) Menyiapkan berkas catatan medik pasien.
u) Membimbing

siswa/mahasiswa

keperawatan

yang

menggunakan ruang rawatnya sebagai lahan praktek.


v) Memberi penyuluhan kesehatan.
w) Melakukan serah terima pasien dan lain-lain pada saat
pergantian dinas.
3. Pelaksanaan tugas coordinator ruangan
a) Pengawasan langsung melalui inspeksi.
b) Pengawasan langsung melalui laporan langsung secara lisan.
c) Pengawasan langsung melalui laporan tertulis.
d) Pengawasan kelemahan yang ada.
e) Pengawasan tidak langsung dengan mengecek daftar hadir
perawat yang ada.
f) Pengawasan

tidak

langsung

dengan

membaca

dan

memeriksa rencana keperawatan.


g) Pengawasan dengan mendengar laporan dari PN mengenai
pelaksanaan tugas.
h) Evaluasi upaya pelaksanaan.
i) Membandingkan dengan rencana perawatan yang telah
disusun bersama dengan PN.
j) Pengawasan yang dilakukan oleh kepala ruang :
1) Sosialisasi kebijakan.

2) Mengatur

dan

mengendalikan

pelaksanaan

kebijaksanaan.
3) Mengecek kelengkapan inventaris peralatan.
4) Mengecek obat obatan yang tersedia.
5) Melakukan supervisi.
6) Menilai pelaksanaan asuhan keperawatan yang telah
ditentukan.
7) Menilai siswa/mahasiswa keperawatan.
8) Melakukan penilaian kinerja tenaga keperawatan.
4. Melakukan pengembangan SDM melalui pelatihan, seminar work
shop dan temu ilmiah.

BAB IX
PENUTUP
Pedoman Pelayanan Unit Hemodialisa ini disusun dalam rangka
memberikan acuan bagi tenaga kesehatan yang bekerja di unit pelayanan
Hemodialisa RSUD Provinsi Kepulauan Riau agar dapat menyelenggarakan
pelayanan Hemodialisa yang bermutu, aman, efektif dan efisien dengan
mengutamakan keselamatan pasien. Apabila di kemudian hari diperlukan
adanya perubahan, maka Pedoman Pelayanan Unit Hemodialisa ini akan
disempurnakan.