Anda di halaman 1dari 178

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

BAB III
AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Dalam bab ini diuraikan pencapaian sasaran-sasaran Pemerintah Kota Batu


tahun 2013, dengan pengungkapan dan penyajian dari hasil pengukuran kinerja yang
meliputi: 1). Analisis Capaian Kinerja, 2). Capaian Indikator Kinerja Utama, 3). Evaluasi
dan Analisis Pencapaian Sasaran, serta 4). Akuntabilitas Keuangan.

3.1. Analisis Capaian Kinerja


Pencapaian kinerja sasaran Pemerintah Kota Batu merupakan hasil dan upaya
yang dilakukan Pemerintah Kota Batu melalui pelaksanaan program dan kegiatan. Jadi,
program dan kegiatan diperlakukan sebagai sarana/alat untuk mencapai sasaran yang
telah ditetapkan di dalam Peraturan Daerah Kota Batu Nomor 7 tahun 2013, tentang
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Batu tahun 2012-2017
dan Peraturan Walikota Batu Nomor 17 Tahun 2012 tentang Rencana Kerja dan
Pembangunan Daerah (RKPD) Kota Batu Tahun 2013. Sesusi dengan peraturan
tersebut, maka pada tahun 2013 telah ditetapkan sebanyak 95 (sembilanpuluh Lima)
Sasaran dengan 327 (Tigaratus Duapuluh Tujuh) Indikator Kinerja Sasaran yang
tercakup di dalam 19 (sembilanbelas) Tujuan yang merupakan rincian dan/atau
representasi dari 11 (Sebelas) Misi Walikota Batu. Analisis dan evaluasi kinerja terhadap
sasaran, tujuan, dan misi diperlukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab
keberhasilan dan ketidakberhasilan kinerja sebagai bahan pengambilan keputusan
manajemen Pemerintah Kota Batu untuk meningkatkan kinerja melalui alokasi, distribusi
dan regulasi pada periode berikutnya.
Jumlah sasaran sebanyak 95 sasaran tersebut di atas sudah termasuk sasaran
yang ditetapkan dalam rangka memenuhi ketentuan Standar Pelayanan Minimal (SPM)
dari Pemerintah Pusat sesuai dengan dan/atau mengacu pada PP No.65/2005 dan SE
Menteri Dalam Negeri No.100/1023/SJ/2012. Sejumlah 15 (Limabelas) bidang SPM yang
termasuk di dalam sasaran tersebut meliputi Bidang Pemerintahan Dalam Negeri, Bidang
Kesehatan, Bidang Sosial, Bidang Lingkungan Hidup, Bidang Perumahan Rakyat, Bidang
Pemberdayaan Perempuan dan Anak Korban Kekerasan, Bidang Keluarga Berencana
dan Keluarga Sejahtera, Bidang Pendidikan, Bidang Ketenagakerjaan, Bidang
Komunikasi dan Informatika, Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, Bidang
Kesenian, Bidang Ketahanan Pangan, Bidang Penanaman Modal, Bidang Perhubungan.
Berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku, maka Pemerintah Provinsi serta
Kab/Kota wajib melaporkan berapa target daerah untuk mengimplementasikan terhadap
indikator yang telah ditetapkan pusat.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Untuk mempermudah interpretasi dalam mengukur sampai sejauh mana


keberhasilan atau kegagalan pencapaian sasaran-sasaran tersebut, digunakan skala
ordinal dengan maknanya sebagai berikut:
Tabel 3.1
Skala Ordinal Capaian Kinerja

No

Capaian Kinerja

Keterangan

1.

Nilai 85 s.d 100

2.

Nilai 70 84

Sangat Berhasil
Berhasil

3.

Nilai 55 - 69

Cukup Berhasil

4.

Nilai < 55

Kurang Berhasil

Sumber: Hasil Analisis, 2014

Capaian kinerja dihasilkan dari pengukuran kinerja yang dimaksudkan untuk


menilai tingkat keberhasilan dan ketidakberhasilan guna meningkatkan kinerja organisasi.
Melalui evaluasi dan analisis terhadap 95 sasaran dengan 327 indikator kinerja sasaran,
maka capaian kinerja Pemerintah Kota Batu dalam penyelenggaraan pemerintahan tahun
2013 sebesar 89,88% (Delapanpuluh Sembilan koma Delapanpuluh Delapan Persen)
atau termasuk katagori SANGAT BERHASIL. Secara garis besar sasaran-sasaran
Pemerintah Kota Batu yang telah ditetapkan dalam kinerja tahun 2013 dapat dirinci
pencapaiannya pada Tabel 3.2 sebagai berikut:
Tabel 3.2
Keberhasilan Kinerja Pemerintah Kota Batu
Berdasarkan Sasaran Tahun 2013

No

Kategori pencapaian Sasaran

Jumlah Sasaran

Persen

74 sasaran

77,89

Berhasil

9 sasaran

9,47

Cukup Berhasil

5 sasaran

5,26

Kurang Berhasil

7 sasaran

7,37

95 Sasaran

100,00

Sangat Berhasil

Jumlah
Sumber: Hasil Analisis, 2014

Berikut diuraikan capaian kinerja pembangunan daerah Kota Batu tahun 2013
yang meliputi 1) Capaian Indikator Kinerja Utama (IKU), dan 2) Hasil Evaluasi dan
Analisis terhadap 95 Sasaran dan 327 indikator kinerjanya. Untuk mempermudah
pemahaman dan memperjelas roadmap dan/atau korespondensinya dengan dokumen
RPJMD dan RKPD yang menjadi dasar evaluasi kinerja, maka capaian kinerja dievaluasi
dan dianalisis berdasarkan target kinerja sesuai dengan target yang tercantum di dalam
RPJMD tahun 2012-2017 disertai dengan program dan/atau kegiatan utama yang
menyertainya sebagaimana disajikan dalam kompilasi RKT, PKK, dan PPS tahun 2013

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

dalam Lampiran 2. Program dan Kegiatan dimaksud disusun berdasarkan kesesuannya


dengan Sasaran, Tujuan, dan Misi terkait yang hendak dicapai serta dilengkapi dengan
beberapa data pendukung untuk memperjelas evaluasi dan hasil analisis tersebut.
Melalui cara ini dimaksudkan untuk memperjelas seberapa besar/jauh suatu sasaran
tercapai/tidak tercapai serta berhasil/tidak berhasil, seberapa besar tujuan dapat/tidak
dapat dicapai dan direalisasikan, serta seberapa besar misi telah berhasil/tidak berhasil
dilaksanakan dimana ke semuanya diukur malalui perhitungan capaian unit keluaran
absolut (unit/output) dan/atau persentase/rasio capaian kinerja (output/outcome).

3.2. Capaian Indikator Kinerja Utama


Dalam rangka pengukuran dan peningkatan kinerja serta lebih meningkatkan
akuntabilitas kinerja setiap instansi pemerintah, Pemerintah Kota Batu dengan
berpedoman pada Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (PERMENPAN)
Nomor PER/09/M.MENPAN/5/2007 tentang Pedoman Umum Penetapan Indikator Kinerja
Utama di Lingkungan Instansi Pemerintah, telah menetapkan key performance indicator
sebanyak 9 (Sembilan) Indikator Kinerja Utama (9 IKU), dimana 4 IKU diturunkan dari
dan/atau mengikuti IKU provinsi Jawa Timur sedangkan 5 IKU merupakan IKU spesifik
Kota Batu, yang rinciannya sebagaimana ditetapkan dalam dokumen RPJMD Kota Batu
Tahun 2012-2017, meliputi (1) Pertumbuhan Ekonomi Atas Dasar Harga Konstan
(ADHK) Tahun 2000, (2) PDRB per kapita ADHK, (3) Indeks Pembangunan Manusia
(IPM), (4) Jumlah Pendapatan Asli Daerah (PAD), (5) Pertumbuhan Investasi, (6) Tingkat
Pengangguran Terbuka (TPT), (7) Persentase Penduduk Miskin terhadap Total
Penduduk Kota Batu, (8) Angka Rata-rata Lama Sekolah, dan (9) Kunjungan Wisatawan.
Capaian 9 (Sembilan) Indikator Kinerja Utama Tahun 2013 dapat kami sampaikan
sebagai berikut:
Pertama, Persentase Pertumbuhan Ekonomi Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000
Capaian indikator kinerja
Persentase Pertumbuhan Ekonomi
Atas Dasar Harga Konstan (ADHK)
Tahun 2000 Kota Batu pada tahun
2008-2013 secara umum terus
meningkat
dari Enam koma
Delapanpuluh tujuh (6,87) Persen
tahun 2008 menjadi sebesar Tujuh
koma Enampuluh Delapan (8,02)
Persen pada tahun 2013 (Tabel 3.3)
Capaian ini
lebih tinggi bila
dibandingkan dengan target yang
ditetapkan
pada
tahun
yang
berkenaan yakni 8,0% meskipun lebih

Gambar 3.1
Laju Pertumbuhan Ekonomi dan Tingkat Inflasi
Kota Batu Tahun 2008-2013
10,00
9,50
9,00
8,50
8,00
7,50
7,00
6,50
6,00
5,50
5,00
4,50
4,00

8,04

8,25

7,52
6,87

6,99

7,20

7,12

7,27
6,21

5,42
4,37

2008

2009
2010
LPE Kota Batu

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

LPE Jatim

BAB - III
Halaman

2011

2012
Inflasi

2013

Linear (Inflasi)

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya yakni 8,25% (Gambar 3.1). Perlambatan
pertumbuhan ekonomi terjadi secara nasional termasuk di tingkat Provinsi Jawa Timur.
Pada tahun 2013 telah terjadi gejolak ekonomi makro yang ditandai dengan memanasnya
mesin ekonomi yang berakibat terjadinya defisit neraca pembayaran nasional, kenaikan
kurs mata uang kuat seperti US Dollar dan lain-lain, gejolak inflasi yang cukup tinggi,
kenaikan harga BBM serta adanya anomali musim karena pemanasan global. Meskipun
demikian, pertumbuhan ekonomi Kota Batu tersebut secara umum masih tetap lebih
tinggi dari pertumbuhan ekonomi Jawa Timur dan Nasional dan bahkan Kota Batu
mampu mencapai peringkat ke 2 (dua) di Provinsi Jawa Timur serta mencapai peringkat
ke 4 (empat) pertumbuhan ekonomi secara Nasional.
Tabel 3.3
Perbandingan Laju Pertumbuhan Ekonomi
Kota Batu, Provinsi Jawa Timur dan Nasional
Tahun 2009-2013
No.

Keterangan

2009

2010

2011

2012

2013*)

Kota Batu (%)

6.99

7.52

8.04

8.25

8,02

Jawa Timur (%)

5.01

6.68

7.22

7.27

6.20

Nasional (%)

4.58

6.10

6.50

6.81

5.81

Sumber: BPS Provinsi Jawa Timur dan Kota Batu


Keterangan: *)Hasil analisis

Pertumbuhan ekonomi yang meningkat secara berkelanjutan selama periode


tersebut, menunjukkan adanya peningkatan perekonomian yang ditimbulkan
berkembangnya ekonomi masyarakat Kota Batu, khususnya semakin menguatnya sektor
riil dan usaha mikro, kecil dan menengah. Selain itu, meningkatnya perekonomian Kota
Batu merupakan implikasi dari berbagai kebijakan prioritas pembangunan Pemerintah
Kota Batu maupun Provinsi Jawa Timur serta kinerja sektor swasta yang
menguntungkan, sehingga bisa menciptakan kondisi perekonomian Kota Batu yang
semakin membaik.
Selain itu, dilihat dari pertumbuhan PDRB sektoral yang merupakan sektor-sektor
strategis dan potensial di Kota Batu, nampak bahwa kontribusi pertumbuhan sektor
PDRB mengalami perubahan. Pertumbuhan ekonomi Kota Batu ini, sampai dengan tahun
2013 terutama didukung oleh sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran yang tumbuh
sebesar 8,87 Persen, sektor Jasa-jasa 7,78 Persen, dan sektor Keuangan 8,74 Persen.
Khusus sub sektor Pariwisata juga mencatat perkembangan yang signifikan di tahun
2013 di mana kunjungan wisatawan baik domestik maupun manca negara maningkat dari
2.547.855 orang tahun 2012 menjadi 3.292.298 orang pada tahun 2013 atau meningkat
sebesar 29,20 Persen.
Sampai dengan tahun 2013, di dalam struktur perekonomian Kota Batu, sub
sektor perdagangan, hotel dan restoran menempati rangking tertinggi penopang laju
pertumbuhan PDRB atas Dasar Harga Berlaku, yakni mencapai sebesar 45,02 %.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Kondisi tersebut sesuai dengan ikon Kota Batu yang menempatkan pariwisata sebagai
potensi unggulan daerah yang diharapkan sebagai pendorong perkembangan sektorsektor lain. Sebagai daerah tujuan wisata, maka sektor wisata mampunyai sumbangan
yang cukup besar terhadap pertumbuhan PDRB.
Capaian indikator kinerja pertumbuhan ekonomi sebesar 8,02 Persen,
menunjukkan bahwa Pemerintah Kota Batu mampu mewujudkan Tema Dokumen
Perencanaan Pembangunan Tahun 2013 yaitu Percepatan Pengurangan Kemiskinan
dan Pengangguran dengan Perluasan Pembangunan Ekonomi Inklusif Menuju
Kemakmuran Yang Lebih Baik melalui Pengembangan Kota Batu Sebagai Sentra
Pariwisata Berbasis Pertanian..
Pertumbuhan ekonomi tahun 2013 sebesar 8,02 Persen ini, menunjukkan
adanya peningkatan perekonomian yang ditimbulkan berkembangnya ekonomi
masyarakat Kota Batu, khususnya semakin menguatnya sektor riil dan usaha mikro, kecil
dan menengah. Selain itu, meningkatnya perekonomian Kota Batu merupakan implikasi
dari berbagai kebijakan prioritas pembangunan Pemerintah Kota Batu maupun Provinsi
Jawa Timur serta kinerja sektor swasta yang menguntungkan, sehingga bisa
menciptakan kondisi perekonomian Kota Batu yang semakin membaik. Selama 2013,
perekonomian Kota Batu menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Pembangunan
tempat-tempat wisata yang baru memberikan efek berganda bagi sektor-sektor lain.
Perbaikan infrastruktur yang memadai membuat Kota Batu menjadi salah satu Kota
tujuan wisata di Provinsi Jawa Timur .Ditunjang dengan kebijakan pemerintah dalam
proses peningkatan ekonomi sembari tetap menjaga kestabilan ekonomi makro, maka
pertumbuhan ekonomi Kota Batu mencapai 8,02 persen pada tahun 2013.

Tabel 3.4
Distribusi PDRB menurut Lapangan Usaha di Kota Batu

SEKTOR
1. Pertanian

2008

2009

2010

2011

2012

2013*)

19.44

18.63

18.12

17.87

17.68

17.07

2. Pertambangan dan Penggalian


3. Industri Pengolahan

0.22
7.25

0.21
7.02

0.21
6.74

0.20
6.49

0.20
6.25

0.20
6.24

4. Listrik, Gas dan Air Bersih


5. Bangunan

1.53
1.67

1.49
1.75

1.44
1.90

1.40
2.01

1.37
2.13

1.37
2.27

46.72
3.65

47.72
3.59

48.48
3.49

49.01
3.38

49.28
3.32

48.88
3.32

4.07

4.02

3.93

3.90

3.94

3.85

15.44

15.57

15.68

15.74

15.82

16.81

100.00

100.00

100.00

100.00

100.00

100.00

6. Perdagangan, Hotel dan Restoran


7. Pengangkutan dan Komunikasi
8. Keuangan, Persewaan dan Jasa
Perusahaan
9. Jasa-jasa
Produk Domestik Regional Bruto
Sumber : Bappeda Kota Batu, 2014-Data diolah.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.4 menunjukkan bahwa berdasarkan struktur perekonomian, maka


perubahan pangsa terhadap PDRB Kota Batu terlihat sampai tahun 2013, pangsa sektor
tersier terus meningkat. Pada tahun 2009, pangsa sektor tersier masih mencapai 70,9
persen dan secara konsisten naik hingga mencapai 72,36 persen pada tahun 2012 dan
tahun 2013 menjadi 72,86 persen.. Sementara itu, pangsa sektor sekunder yang
sebelumnya diharapkan menjadi motor penggerak perekonomian Kota Batu bersama
sektor tersier, memberi sumbangan 9,75 persen pada tahun 2012 naik menjadi 8,88
tahun 2013. Selama empat tahun terakhir, kontribusi sektor sekunder mengalami
penurunan seiring bertambahnya sektor tersier. Hal ini menunjukkan bahwa
meningkatnya sektor sekunder masih lebih cepat sektor tersier. Peningkatan sektor
sekunder terjadi karena pangsa sektor listrik dan air bersih serta pangsa sektor
bangunan yang meningkat selama empat tahun terakhir, walaupun pangsa sektor industri
pengolahan mengalami penurunan.
Ditinjau dari PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) menunjukkan peningkatan
signifikan, pada tahun 2013 mencapai sebesar Empat Trilyun Sembilanratus
Sembilanpuluh Lima Milyar Rupiah (Rp.4,995 Milyar) dengan proyeksi kenaikan sebesar
Delapanratus Delapan koma Delapanpuh Dua Milyar Rupiah (Rp.808,82 Milyar) atau
meningkat sebesar 19,32 persen. Dari tahun 2012.
Sedangkan, PDRB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) 2000 Kota Batu Tahun 2013
mencapai Satu Trilyun Delapanratus Sembilan Milyar Rupiah (Rp.1,809 Trilyun) dengan
kenaikan sebesar Seratus Tigapuluh Empat koma Duapuluh Tujuh Milyar Rupiah
(Rp.134,27 Milyar) dengan laju kenaikan sebesar 8,02 persen. Dibandingkan tahun 2012.
Selain itu, dilihat dari pertumbuhan PDRB sektoral yang merupakan sektor-sektor
strategis dan potensial di Kota Batu, nampak bahwa kontribusi pertumbuhan sektor
PDRB mengalami perubahan. Tingginya pertumbuhan ekonomi Kota Batu ini terutama
didukung oleh sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran yang tumbuh sebesar 8,87
Persen, sektor Jasa-jasa 7,78 Persen, dan sektor Keuangan 8,74 Persen. Khusus sub
sektor Pariwisata juga mencatat perkembangan yang signifikan di tahun 2013 di mana
kunjungan wisatawan baik domestik maupun manca negara maningkat dari 2.547.855
orang tahun 2012 menjadi 3.292.298 orang pada tahun 2013 atau meningkat sebesar
29,20 Persen..
Capaian indikator kinerja pertumbuhan ekonomi Kota Batu tahun 2013 sebesar
8,02 Persen ini telah melampaui target yang ditetapkan tahun 2013 dalam dokumen
RPJMD Tahun 2012-2017 yaitu 8,00 Persen. Pertumbuhan ekonomi Kota Batu tahun
2013 ini berada pada posisi tertinggi dibanding daerah lain di Provinsi Jawa Timur dan
menduduki peringkat ke 4 (empat) secara Nasional.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Ke Dua, Pertumbuhan Investasi


Di Kota Batu, indikator investasi menggambarkan besarnya nilai investasi dan
jumlah investor yang masuk di Kota Batu. Semakin besar nilai investasi yang ditanamkan
semakin meningkat pula kondisi perekonomian. Laju pertumbuhan investasi di Kota Batu
dari tahun ke tahun selama lima tahun terakhir yakni tahun 2008-2013 terus mengalami
peningkatan meskipun sedikit berfluktuasi yang berkorelasi dengan perkembangan terkini
kondisi ekonomi makro nasional dan provinsi Jawa Timur. Laju pertumbuhan investasi
antar waktu sejak tahun 2008-2013 mencapai 16,61 Persen. Kondisi ini ditunjang pula
dengan semakin besarnya distribusi kredit perbankan di Kota Batu.
Angka-angka tersebut menunjukkan komitmen Pemerintah Kota Batu untuk terus
membangun perekonomian dalam rangka mengurangi tingkat kemiskinan dan
pengangguran terbuka di wilayah Kota Batu di antaranya dengan menjaga dan terus
memperbaiki iklim investasi. Pada tahun 2013 pertumbuhan investasi diproyeksikan
mencapai 17,04 Persen. Secara keseluruhan, capaian kinerja Pertumbuhan Investasi
Kota Batu selama lima tahun terakhir yakni tahun 2008-2013 menunjukkan bahwa
pertumbuhan investasi di Kota Batu rata-rata mencapai 16,61 Persen p.a. dan telah
mencapai nilai varian target yang ditetapkan dalam RPJMD pada tahun yang berkenaan
sebesar 14,29% p.a.

Ke Tiga, Kunjungan Wisatawan


Salah satu kekuatan iklim investasi Kota Batu terletak pada sektor pariwisata.
Para investor yang datang, tentunya sebagian merupakan pengusaha yang bergerak
dalam bidang pariwisata, seperti objek wisata, hotel, rumah makan atau usaha lain.
Dalam hal ini Pemerintah Kota Batu memiliki komitmen dan kepedulian tinggi dalam
mengembangkan sektor pariwisata. Karena komitmen itulah, dunia pariwisata terus
berkembang.
Pada tahun 2012 Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batu mencatat
kunjungan wisatawan sebesar 2.547.855 wisatawan baik domestik maupun manca
negara atau meningkat 25,5% dari tahun sebelumnya. Pada Tahun 2013 kunjungan
wisatawan meningkat kembali menjadi 3.292.298 wisatawan atau meningkat 29,20%.
Pada tahun 2013 target kunjungan wisatawan baik domestic maupun manca Negara
ditetapkan sebesar 2.700.726 orang.
Capaian kinerja Kunjungan Wisatawan ke Kota Batu tahun 2013 sebesar
3.292.298 wisatawan telah melampaui target sebesar 21,90% atau 591.572 wisatawan
dari yang ditetapkan dalam varian RPJMD sebanyak 2.700.726 wisatawan domestic
maupun manca Negara.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Ke Empat, Jumlah PAD


Pendapatan Asli Daerah Kota Batu antar waktu terus meningkat secara
berkelanjutan mulai Rp.14,202,630,312.49 pada tahun 2008 meningkat menjadi
Rp.38,794,059,670.38 pada tahun 2012 dan mencapai Rp. 59,670,741,826.29 pada
tahun 2013 (Gambar 3.2). Pada tahun 2013 PAD mengalami peningkatan meskipun
percepatannya sedikit mengalami perlambatan mencapai Rp.16,901,693,221.01.
Selama kurun waktu tersebut target PAD belum pernah tercapai atau terlampaui.
Pada tahun 2013, meskipun target PAD jauh lebih besar dibandingkan tahun-tahun
sebelumnya, namun capaian kinerja PAD mencapai 100,36% yang terutama ditopang
oleh peningkatan kinerja pos pajak daerah dan Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan
Daerah yang Dipisahkan. Tahun-tahun berikutnya, kinerja PAD semakin baik dengan
peningkatan yang signifikan dimana tahun 2012 PAD mencapai Rp.38,794,059,670.38
dan tahun 2013 meningkat menjadi Rp.59,670,741,826.29 sehingga melampaui target
yang ditetapkan pada tahun berkenaan yaitu sebesar Rp.50,793,502,612.24 dengan
capaian kinerja 117,48%.
Berkorelasi dengan hal itu, maka Rasio kontribusi PAD terhadap APBD
mengalami kenaikan pula dibandingkan tahun sebelumnya yaitu dari 7,82 pada tahun
2012 menjadi 10,71 pada tahun 2013. Hal ini mengindikasikan mulai berjalannya upaya
intensifikasi maupun ekstensifikasi yang dicanangkan oleh Pemerintah Kota Batu. Di sisi
lain rasio APBD terhadap PDRB juga menunjukkan adanya perbaikan yakni dari 11,85
tahun 2012 membaik menjadi 11,57. Dapat disimpulkan bahwa pembiayaan
pembangunan yang ditopang dengan APBD semakin berkurang/mengecil dan sebaliknya
peran masyarakat di dalam pembiayaan pembangunan semkin meningkat.
Secara keseluruhan Pendapatan Asli Daerah Kota Batu tahun 2013 terealisasi
sebesar
Rp.59,670,741,826.29
atau
meningkat
sebesar
39,52%
senilai
Rp.16,901,693,221.01 dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp. 42,769,048,605.28.
Sebagaimana dikemukakan di atas peningkatan ini ditopang oleh membaiknya kinerja
beberapa pos Pendapatan Asli Daerah dan adanya kebijakan Pemerintah Daerah yang
kondusif selama tahun angaran 2013. Capaian PAD tersebut telah melampaui varian
target yang ditetapkan di dalam RPJMD.

Ke Lima, PDRB per kapita ADHK


Secara agregat perkembangan jumlah penduduk dan pendapatan per kapita
masyarakat mencerminkan perkembangan / peningkatan kesejahteraan masyarakat Kota
Batu selama tahun 2008-2013. Pendapatan per kapita penduduk Kota Batu baik ADHB
maupun ADHK mengalami peningkatan secara berkelanjutan sejak tahun 2008-2013.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

196.885

194.626

192.392

190.184

188.145

185.925

Jumlah
PDRB
per
Gambar 3.2
Pertumbuhan Penduduk dan Pendapatan per Kapita
Kapita ADHB tahun 2012
Kota Batu Tahun 2008-2013
mencapai
Rp.21,51
Juta
30.000
198.000
meningkat Rp.2,29 juta per
25.369,17
196.000
kapita dibandingkan tahun
25.000
21.507,90
194.000
19.220,03
2011 yang nilainya sebesar Rp.
17.119,03
20.000
192.000
19,22 Juta atau naik 11,90
190.000
15.000
11.555,15
Persen. Pada tahun 2013
10.327,52
188.000
PDRB per Kapita meningkat
10.000
186.000
menjadi
Rp.25,37
juta
184.000
8.606,18 9.189,39
5.000
7.530,57 8.042,89
meningkat sebesar Rp. 3,86
6.695,96 7.079,61
182.000
0
180.000
juta
atau
17,95
persen
2008 2009 2010 2011 2012 2013
dibandingkan
tahun
Jumlah Penduduk
PDRB/KAPITA ADHB
PDRB/KAPITA ADHK
Expon. (Jumlah Penduduk )
sebelumnya.
Sedangkan
Sumber : BPS Kota Batu 2005 2009 dan Hasil analisis 2014
jumlah PDRB per Kapita ADHK
*) Hasil Proyeksi dan merupakan Angka sementara
tahun 2013 mencapai Rp.9,17
Juta meningkat 6,53 Persen atau Rp.561,96 ribu per kapita dibandingkan tahun 2012
sebesar Rp. 8,61 Juta.
Meskipun kecenderungannya terus meningkat dari tahun ke tahun, capaian
kinerja PDRB per kapita ADHK tahun 2013 sebesar Rp.9.19 juta menunjukkan bahwa
PDRB per kapita ADHK telah mencapai nilai varian target yang ditetapkan tahun 2013
sebesar Rp.7.000.000,00.

Ke Enam, Indeks Daya Beli (IDB/PPP)


Kemampuan daya beli penduduk Kota Batu mengalami peningkatan secara stabil
dari tahun-tahun sebelumnya. Indeks PPP Kota Batu dari tahun 2008 sampai tahun 2013
meningkat secara gradual dari 63,79 pada tahun 2008 menjadi 64,65 pada tahun 2009
dan kembali mengalami kenaikan menjadi 64,88 pada tahun 2010. Peningkatan tersebut
terus berlanjut sehingga tahun 2011 menjadi 65,80, tahun 2012 naik menjadi 66,46 dan
tahun 2013 menjadi 67,29. Sedangkan target IDB pada tahun berkenaan adalah 66,50
point. Kenaikan indeks PPP menunjukkan bahwa daya beli masyarakat Kota Batu selama
kurun waktu tersebut terus mengalami peningkatan sesuai dengan peningkatan
pendapatan yang diterima. Indeks PPP tersebut mengkonfirmasikan peningkatan
kesejahteraan ekonomis masyarakat Kota Batu meningkat lebih baik secara gradual dan
berkelanjutan.
Capaian kinerja Indeks Daya Beli (IDB) Kota Batu tahun 2013 sebesar 67,29
menunjukkan bahwa IDB Kota Batu telah mencapai nilai varian target yang ditetapkan
tahun 2013.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Ke Tujuh, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT)


Pada tahun 2013, jumlah penduduk usia kerja (penduduk usia 15 tahun ke atas) di
Kota Batu sebanyak 147.011 orang, yang terdiri dari angkatan kerja (penduduk yang
bekerja dan penganggur) sebesar 103.743 orang dan bukan angkatan kerja (penduduk
yang masuk kategori bersekolah, mengurus rumahtangga, dan lainnya) sebesar 43.268
orang. Dari 103.743 angkatan kerja di Kota Batu, sebanyak 101.339 orang terserap
dalam lapangan pekerjaan, sedangkan sisanya 2.304 orang masih menganggur atau
belum mempunyai pekerjaan.
Dibandingkan tahun sebelumnya, jumlah angkatan kerja di Kota Batu sedikit
mengalami peningkatan yaitu sebesar 2.013 orang (tahun 2012, jumlah angkatan kerja
101.733 orang). Sedangkan jumlah orang yang bekerja mengalami peningkatan sebesar
3.078 orang, sehingga angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) mengalami
penurunan sebesar 1,09 persen poin, yaitu dari 3,41 persen pada tahun 2012 menjadi
2,32 persen pada tahun 2013. Angka TPT di Kota Batu sebesar 2,32 persen tersebut
telah melampaui target tahun berkenaaan yakni 4,45% dan lebih kecil dibandingkan
angka TPT Jawa Timur yaitu sebesar 4,33 persen.
Penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) ini secara langsung maupun
tidak langsung merupakan dampak dari beberapa kebijakan prioritas pembangunan yang
terkait dengan penyerapan tenaga kerja di berbagai sektor antara lain dampak dari
Program Perluasan Lapangan Kerja, Peningkatan Efektivitas Penanggulangan
Pengangguran di Pedesaan maupun Perkotaan, Pemberdayaan Kelompok Masyarakat,
Pengembangan Agroindustri/Agrobisnis, Penciptaan Lapangan Kerja melalui
Pengembangan UKM, Perluasan Kesempatan Berusaha dan Menumbuhkan Wira Usaha
Baru (WUB) serta Peningkatan Daya Saing Industri yang Menyerap Tenaga Kerja.
Capaian indikator kinerja Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kota Batu tahun 2013
tersebut di atas sebesar Dua koma Tigapuluh Dua Persen (2,32 Persen), menunjukkan
bahwa besaran ini telah berhasil melampaui nilai varian target yang ditetapkan dalam
dokumen RPJMD untuk Tahun 2013.

Ke Delapan, Persentase Penduduk Miskin terhadap Jumlah Penduduk


Pada tahun 2011, tingkat kemiskinan di Kota Batu berada cukup jauh di bawah
garis batas nasional yakni mencapai 8,52%. Angka ini menurun lagi secara signifikan
tahun berikutnya yakni 2012 yang merupakan akhir periode tahun RPJMD menjadi
5,10%. Tahun 2013 berdasarkan Hasil Survey Lapangan yang dilaksanakan Pemerintah
Kota Batu pada akhir tahun 2013, angka kemiskinan mencapai 4,42%. Angka ini masih
lebih tinggi dibandingkan hasil perhitungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang
mencatat angka kemiskinan di Kota Batu berada di bawah 4,0% dan masih merupakan

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

10

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

yang terendah di seluruh wilayah Provinsi Jawa Timur. Dengan demikian jumlah
penduduk Kota Batu yang berada di atas garis kemiskinan pada tahun 2013 mencapai
95,58%. Capaian ini berarti melampaui varian target di dalam RPJMD untuk jumlah
penduduk di ATAS garis kemiskinan sebesar 95% pada periode yang sama.
Penduduk miskin di Kota Batu tahun 2013 selain ditimbulkan oleh dampak
kebijakan prioritas program pembangunan, juga implikasi dari perlakuan khusus
Pemerintah Kota Batu terhadap komitmen untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat baik di pedesaan maupun perkotaan.
Berbagai kebijakan prioritas yang dilaksanakan untuk mengatasi masalah
kemiskinan meliputi Program Peningkatan Keberdayaan Masyarakat Perdesaan,
Pengembangan Lembaga Ekonomi Pedesaan serta Peningkatan Partisipasi Masyarakat
Dalam Membangun Desa.
Program-program ini bertujuan untuk menumbuhkan kemandirian masyarakat
melalui Pengurangan beban dan Peningkatan kualitas hidup masyarakat kecil serta
Pemenuhan Kebutuhan Dasar Masyarakat Desa, Pengembangan usaha, perluasan
lapangan kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat serta Pemberdayaan
Masyarakat berbasis pada modal sosial dan budaya lokal, Penanggulangan masalah
sosial, serta Budaya lokal.

Ke Sembilan, Indeks Pembangunan Manusia (IPM)


Kualitas sumber daya manusia dapat terlihat dari Indeks Pembangunan Manusia
(IPM) yang pada hakekatnya merupakan suatu proses investasi jangka panjang. Upaya
pemerintah Kota Batu untuk menyelaraskan pertumbuhan ekonomi agar dapat berjalan
seiring dengan pembangunan manusia telah dilakukan melalui berbagai program
pembangunan yang bertujuan untuk meningkatkan standar hidup serta kapabilitas
penduduk.
Pada tahun 2011, IPM Kota Batu mencapai 74,93 kemudian meningkat menjadi
75,44 pada tahun 2012. Sedangkan pada tahun 2013 meningkat menjadi 75,89 dengan
shortfall sebesar 0,46. Sedangkan shortfall pada tahun sebelumnya adalah 0,51. Hal ini
berarti bahwa percepatan pencapaian tingkat kesejahteraan masyarakat semakin
meningkat. Capaian IPM ini tidak terlepas dari kontribusi ke-3 komponen utama IPM,
yaitu: pada tahun 2012 indeks pendidikan 84,99, indeks kesehatan 74,86 dan indeks
daya beli 66,46, sedangkan pada tahun 2013 diprakirakan mengalami peningkatan
masing-masing menjadi 85,24; 75,15, dan 67,29. Tabel 3.5 berikut menyajikan informasi
IPM beserta komponennya antar waktu mulai tahun 2008-2013 berikut shortfallnya. IPM
Kota Batu pada tahun 2013 diprakirakan berada pada peringkat ke-8 meningkat 1 point
dibandingkan peringkat tahun 2012 - di antara 38 pemerintah daerah di seluruh Jawa
Timur.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

11

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.5
Besarnya Nilai IPM dan Komponennya
Selama Tahun 2008-2013
Indeks

2008

2009

2010

2011

2012

2013

Perubahan (point)
2011-2012

2012-2013

IPM

73,33

73,74

74,35

75,14

75.44

75.89

0.51

0.46

Indeks Harapan
Hidup

73,12

73,20

74,03

74,47

74.86

75.15

0.33

0.29

Indeks Pendidikan

83,09

83,38

84,58

86,12

84.99

85.24

0.54

0.25

Indeks PPP

63,79

64,65

64,44

64,84

66.46

67.29

0.66

0.83

Sumber : Indikator Makro BPS Prop. Jatim, diolah, 2014


*) Hasil proyeksi

Gambar 3.3 menunjukkan


Perkembangan IPM Kota Batu Antar
Waktu mulai tahun 2008-2013.
Terlihat bahwa selama kurun waktu
tersebut IPM Kota Batu menunjukkan
tren/kecenderungan yang meningkat
secara gradual dan signifikan serta
berkelanjutan (sustainable). Capaian
kinerja varian IPM Kota Batu tahun
2013 sebesar 75,89 point tersebut
berarti telah melampaui target yang
ditetapkan dalam dokumen RPJMD
dan RKPD tahun 2013 sebesar 75,50
point.

Gambar 3.3
Indeks Pembangunan Manusia Antar Waktu
Kota Batu Tahun 2008-2013

76,00
75,50

75,89
75,44

75,00
74,93

74,50
74,45

74,00
73,50
73,00

73,74
73,33

72,50
72,00
2008

2009

2010

2011

2012

2013

Besarnya angka IPM serta kecenderungan peningkatan secara berkelanjutan


yang dicapai Kota Batu tersebut menunjukkan bahwa pencapaian status pembangunan
manusia secara umum selama periode 2008 2013 mengalami perubahan yang cukup
berarti dan berada pada tingkatan menengah ke atas di wilayah provinsi Jawa Timur. Hal
ini berarti bahwa pembangunan yang dilakukan telah on the right track serta telah dapat
menunjukkan kinerja yang semakin baik dalam menuju ke arah pembangunan manusia
yang lebih berkualitas dan berdaya saing tinggi sebagaimana dipersyaratkan untuk
mewujudkan visi dan misi Kota Batu.
Dengan demikian, secara keseluruhan dapat disimpulkan dari 9 (sembilan)
target Indikator Kinerja Utama (IKU) Kota Batu sebagaimana ditetapkan dalam RPJMD
Tahun 2012-2017, semuanya telah mampu melampaui varian target-target yang telah
ditetapkan. Pembahasan berikut menganalisis target kinerja secara keseluruhan di dalam
dokumen RPJMD 2012-2017 yang mencakup analisis terhadap 95 (Sembilanpuluh Lima)
sasaran strategis yang hendak dicapai oleh Pemerintah Kota Batu tahun 2013.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

12

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

3.3. Evaluasi dan Analisis Pencapaian Sasaran

Misi 1:
Meningkatkan kualitas
hidup antar umat
beragama

Kota Batu membutuhkan terjalinnya kemitraan, kerjasama, dan


kepercayaan dari semua elemen masyarakat dan pemerintah dalam
bersama-sama mencapai tujuan pembangunan daerah dan kesejahteraan
masyarakat. Kemitraan, kerjasama, dan kepercayaan yang merupakan
modal sosial ini hanya bisa terwujud jika ada keharmonisan yang
melandasi perilaku setiap stakeholder. Landasan keagamaan dan
kearifan lokallah yang digunakan untuk menjaga keharmonisan
masyarakat.

Tujuan:
1. Mewujudkan hubungan yang harmonis antar umat beragama dalam kehidupan
bermasyarakat dan bernegara; dan
2. Mempertahankan nilai-nilai tradisional dan kearifan lokal yang sesuai dengan budaya
Indonesia agar tetap menjiwai Bangsa Indonesia.
Berikut adalah hasil evaluasi pencapaian sasaran yang terkait dengan Misi 1 dan
tujuan yang yang berkaitan dengannya.

Tabel 3.6
Evaluasi Pencapaian Sasaran 1.1.1
Terwujudnya sikap dan perilaku masyarakat antar umat beragama
yang saling menghormati dan menghargai iman
dan kepercayaan masing-masing
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Jumlah pembinaan dan fasilitasi


terhadap lembaga sosial
keagamaan masyarakat.

Satuan

Pembi
naan

Tar
get
2

Reali
sasi
2

Tahun 2013

Capaian
Kinerja
(%)

Tar
get

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

100.00

100.00

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Langkah yang diambil oleh Pemkot Batu terkait dengan hal ini adalah
meningkatkan kuantitas dan kualitas wadah pembinaan masyarakat berbasis agama
dengan cara mengoptimalkan peran lembaga sosial keagamaan yang berada di tengah
masyarakat untuk meningkatkan pemahaman dan pengamalan nilai-nilai keagamaan.
Tabel 3.6 tersebut menunjukkan bahwa sasaran ini telah dapat dicapai dengan
baik sesuai dengan yang ditargetkan baik untuk tahun 2013 maupun tahun sebelumnya.
Untuk mencapai sasaran tersebut Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri
Pemkot Batu melalui Program Kemitraan Pengembangan Wawasan Kebangsaan telah
melaksanakan 2 (dua) paket kegiatan 1) Sosialisasi Tentang Pedoman Penyelenggaraan

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

13

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Pembauran Kebangsaan dan Pembentukan Forum Pembauran Kebangsaan Di Kota


Batu, serta 2) Sosialisasi UU No. 33 Tahun 2012 Tentang Keormasan Kepada Ormas
Kota Batu. Kegiatan tersebut menunjukkan hasil positif yakni tetap terjaganya toleransi
antar ras suku agama secara baik dan aman selama tahun 2013. Di samping itu,
diperkuat dengan adanya kegiatan Fasilitasi Pencapaian Halaqoh dan Berbagai Forum
Keagamaan Lainnya dalam Upaya Peningkatan Wawasan Kebangsaan yang
dilaksanakan oleh Bagian Administrasi Kemasyarakatan dan Kesejahteraan Rakyat yang
melibatkan total tidak kurang dari 1.434 orang dari berbagai unsur keagamaan di Kota
Batu sehingga terjalin adanya hubungan silaturahmi yang baik di antara umat beragama.
Terbukti bahwa selama tahun 2013, tidak terjadi adanya kerusuhan yang berbau SARA
dan kerusuhan yang berlatar belakang politik di Kota Batu.
Hasil nyata dari pencapaian sasaran ini adalah terjaganya rasa saling
pengertian/toleransi antar ras suku agama secara baik dan aman. Selain itu juga semakin
baiknya jalinan hubungan tali silahturahmi antara pemerintah dengan semua kalangan
umat beragama khususnya meningkatnya ketenteraman dan kesejahteraan kalangan
mayoritas umat muslim di Kota Batu dalam menyambut Hari raya Idul Fitri serta hari
besar umat beragama lainnya. Pemerintah Kota Batu berperan dan mengambil langkah
aktif dan nyata di dalam mencapai sasaran ini di antaranya adalah dengan memberikan
bantuan hibah kegiatan keagaman (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Budha) tahun 2013
sebesar Rp.622.000.000,00 melalui Bagian Administrasi Kemasyrakatan dan
Kesejahteraan Rakyat.

Tabel 3.7
Evaluasi Pencapaian Sasaran 1.1.2
Terwujudnya sikap dan perilaku rukun, toleransi, dan gotong-royong
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Satuan

Jumlah pembinaan masyarakat


dalam upaya menanamkan nilai-nilai
wawasan kebangsaan.

Paket

Tar
get

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

100.00

Tahun 2013
Tar
get

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

100.00

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Untuk mewujudkan sasaran ini diambil langkah dengan mengikutsertakan tokohtokoh agama untuk membina masyarakat di seluruh wilayah Kota Batu serta memberikan
dukungan operasional kepada lembaga sosial keagamaan yang ada di tengah
masyarakat.
Tabel 3.7 di atas menunjukkan bahwa upaya pembinaan yang dilakukan oleh
Pemerintah Kota Batu dapat dilaksanakan dengan baik. Jumlah pembinaan yang
dilakukan pada tahun 2013 meningkat dibandingkan tahun 2012 yakni dari 3 paket
menjadi 4 paket dengan capaian 100%. Untuk mencapai sasaran tersebut dilaksanakan
Program Pembinaan Wawasan Kebangsaan dengan kegiatan pembinaan mental pelajar,
pembentukan Paskibraka maupun pelaksanaan peringatan dan/atau upacara Hari Besar
Nasional Terlaksananya Upacara hari-hari besar nasional seperti Harkitnas, Kesaktian

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

14

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Pancasila, Sumpah Pemuda, Hari Pahlawan, dan Hari Ibu/Nusantara/HIPENCA, serta


Pelaksanaan Rangkaian Upacara Kenegaraan Hari Hari tertentu (Hardiknas, OTODA,
Kesehatan, HUT Kota dan Prop Jatim, Pramuka, Guru dan KORPRI). Selama tahu 2013
tercatat 5 kali pelaksanaan pendidikan wawasan kebangsaan dan bela Negara telah
diselenggarakan. Bersinergi dengan hal tersebut pada saat yang bersamaan
dilaksanakan pula upaya penciptaan rasa saling pengertiaan serta kebersamaan serta
gotong royong dalam melaksanakan pembangunan di antara ulama, umaro dan
jamaahnya di seluruh wilayah Kota Batu yang secara keseluruhan melibatkan lebih dari
1.000 orang ditambah pembinaan terhadap 200 orang imam dan muadzin. Kagiatan ini
dilaksanakan oleh Bagian Administrasi Kemasyarakatn dan Kesejahteraan Rakyat
Pemkot Batu melalui Program Pembinaan Kemasyarakatan.
Untuk menunjang tercapainya sasaran ini pada tahun 2013 Pemerintah Kota
Batu menyalurkan hibah kepada kelompok dan anggota masyarakat enilai
Rp.576.300.000,00. Hasil yang diperoleh adalah meningkatnya wawasan kebangsaan
khususnya bagi pelajar dan generasi muda Kota Batu serta tetap terpeliharanya rasa
nasionalisme dan kecintaan terhadap bangsa dan negara. Hal ini ditunjukkan dengan
tetap maraknya peringatan hari-hari besar nasional di Kota Batu. Selain itu memupuk
rasa gotong royong antar sesama warga, serta terciptanya sambung rasa, kerukunan dan
toleransi di kalangan masyarakat. Untuk memupuk rasa toleransi dan gotong royong
tersebut Pemerintah Kota Batu pada tahun 2013 memberikan bantuan social berupa
santunan bagi anak yatim Rp.100.000.000,00; bantuan bagi masyarakat yang sedang
berduka cita berupa santunan kematian sebesar Rp.209.000.000,00 kepada 249 warga
dengan nilai nominal masing-masing Rp.1.000.000,00; Penyaluran Raskin sebesar
Rp.369.249.900,00; dan Bantuan Bedah Rumah sebesar Rp.550.000.000,00 untuk
merehabilitasi 228 rumah kurang layak huni yang tersebar di 3 Kecamatan.
Dua hal yang patut mendapatkan perhatian dari Pemerintah Kota Batu di dalam
hal ini adalah bahwa: a). Guna optimalisasi bantuan hibah dan sosial kemasyarakatan
dibutuhkan pengawasan, monitoring yang optimal agar bantuan tepat sasaran, dan b).
Untuk anggaran Kegiatan Bidang Keagamaan dan Kemasyarakatan Tahun 2013 perlu
dipersiapkan dengan waktu yang cukup sesuai dengan jadwal yang ada di Permendagri
59 Tahun 2007 & Perwali no.29 tahun 2011 guna mendukung lancarnya kegiatan.

Tabel 3.8
Evaluasi Pencapaian Sasaran 1.1.3
Terwujudnya nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan bernegara
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Persentase pelibatan tokoh agama


dan lembaga sosial keagamaan
dalam proses pembangunan
daerah.

Satuan

Persen

Tar
get

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

50

60

120.00

Tahun 2013
Tar
get

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

70.00

74

105.71

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

15

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Seperti telah dikemukakan bahwa dalam upaya pembangunan daerah Pemkot


Batu selalu berusaha mewujudkan sinergi antara ulama, umaro, serta seluruh
jamaahnya. Dalam hal ini, Pemerinrah Kota Batu berusaha untuk mengintegrasikan
semua tokoh dan lembaga sosial keagamaan untuk ikut berperan serta dalam
pembangunan daerah. Untuk itu perlu adanya wujud implementasi dan aktualisasi
pemahaman dan pengamalan agama dalam kehidupan bernegara.
Tabel 3.8 di atas menunjukkan bahwa intensitas pelibatan tokoh agama (ulama)
dari berbagai agama dan/atau aliran kepercayaan meningkat dibandingkan dengan tahun
2012 yakni dari 60% menjadi 74% pada tahun 2013 dengan capaian kinerja 105,71%.
Khususnya untuk tahun 2013 capaian kinerja tersebut dilaksanakan melalui berbagai
kegiatan antara lain melalui Bagian Administrasi Kemasyarakatan dan Kesra dilakukan
Fasilitasi Pertemuan berbagai Forum Keagamaan dalam Upaya Peningkatan Wawasan
Kebangsaan bagi Ulama dan Umaro dengan seluruh pondok pesantren dan SKPD di
Kota Batu yang melibatkan 150 orang, Fasilitasi Pertemuan berbagai Forum Keagamaan
dalam Upaya Peningkatan Wawasan Kebangsaan bagi Pondok Pesantren yang
melibatkan 150 orang, serta 300 orang guru ngaji di dalam kegiatan Fasilitasi Pertemuan
berbagai Forum Keagamaan dalam Upaya Peningkatan Wawasan Kebangsaan bagi
Guru Ngaji. Tabel 3.9 berikut menunjukkan kondisi real di lapangan berkaitan dengan hal
tersebut.
Dengan tercapainya sasaran ini, maka hasil dan/atau manfaat yang diperoleh
adalah semakin baiknya dan semakin bersemangatnya umat beragama di Kota Batu
dalam beribadah sesuai kepercayaan masing-masing. Hal ini tercermin dari semakin
meningkatnya jumlah sarana dan prasarana peribadatan yang memenuhi standar yakni
dari 555 unit tahun 2012 menjadi 613 unit tahun 2013 atau bertambah sebesar 4,5%.
Peningkatan tersebut terjadi pada semua jenis tempat ibadah. Hal ini berarti bahwa
indikator Rasio Tempat Ibadah per Satuan Penduduk Kota Batu tahun 2013 sebesar
3,22 per Seribu Penduduk. Besaran rasio ini menunjukkan bahwa setiap 3 tempat ibadah
akan dipergunakan oleh 1.000 penduduk Kota Batu. Untuk mendukung tercapainya
sasaran ini, pada tahun 2013 Pemerintah Kota Batu memberikan dana Pembangunan
/Rehab Lembaga Keagamaan dan Tempat Ibadah (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha)
sebesar Rp.420.000.000,00; Insentif Khafid dan Khafidzoh (Rp.300.000 x 21 Org x 12
Bulan); Insentif Guru Ponpes (Rp.200.000 x 150 Org x 12 Bulan); dan Insentif Guru Ngaji
/Ustadz-Ustadzah (Rp.150.000 x 1.510 org x 12 Bulan); serta Insentif Guru Injil (Rp.
150.000 x 60 org x 12 Bulan).

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

16

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.9
Implementasi Niilai-nilai Keagamaan di Kota Batu
No.

Uraian

Satuan

Kondisi
Tahun 2012

Target 2013

Realisasi

Persentase Kenaikan zakat,infaq,shodaqoh

103,00

120,00

118,00

Meningkatnya jumlah masyarakat yang


mendaftar jamaah haji

orang

537

350

376

Jumlah sarana dan prasarana ibadah yang


memenuhi standard : Ada kelembagaan, ada
kegiatan keagamaan minimal 2 kali/minggu
rutin dan hari besar

Masjid
Musholla
Gereja
Vihara
Pura

138
397
14
5
1

138
410
25
6
1

139
428
37
7
2

4
5

Angka perceraian
Jumlah jamaah haji asal kota Batu

orang
orang

36
104

n.a
n.a

95

Kejadian perselisihan antar umat beragama

kasus

100

Sumber: Bagian Adm. Kemasyarakatan dan Kesra Kota Batu, 2014

Selain itu implementasi nilai-nilai keagaman juga tampak semakin baik yang
antara lain ditunukkan dengan meningkatnya perolehan zakat, infaq dan sodaqoh
sebesar 118,0% dibandingkan tahun 2012 sebesar 103,0% seperti terlihat pada Tabel
3.9. Manfaat nyata yang dirasakan oleh masyarakat terutama adalah tidak adanya
kejadian perselisihan antar umat beragama pada tahun 2013 sehingga situasi lingkungan
bermasyarakat cukup kondusif.
Berikut adalah evaluasi pencapaian sasaran terkait isu sara yang berpotensi
merugikan masyarakat:
Tabel 3.10
Evaluasi Pencapaian Sasaran 1.1.4
Terminimalisirnya berbagai isu sara yang berpotensi menimbulkan konflik,
dan mencari solusi secara damai jika terjadi konflik agama
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Jumlah kegiatan pengembangan


wawasan kebangsaan yang
dilaksanakan oleh lembaga mitra
(FKUB).

Tahun 2013

Tar
get

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

Kegiatan

100.00

100.00

Tokoh
agama

100

110

110.00

150

152

101.33

Tokoh
Ormas

150

115

76.67

200

207

103.50

Masy.

150

177

118.00

200

213

106.50

Satuan

Tar
get

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Tabel di atas menunjukkan bahwa capaian kinerja sasaran ini telah dapat
dipenuhi di mana 4 indikator kegiatan terealisasi 100% atau lebih. Selama periode tahun
2013, tidak terjadi adanya kerusuhan yang berbau SARA dan kerusuhan yang berlatar
belakang politik yang berpotensi menimbulkan konflik horisontal di wilayah Kota Batu.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

17

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Upaya yang dilakukan Pemerintah Kota Batu dalam hal ini adalah membentuk dan
merevitalisasi FKUB sebagai wadah bagi para
tokoh agama, masyarakat, dan
pemerintah untuk menyelesaikan berbagai permasalahan dalam kerukunan hidup umat
beragama. Untuk menunjang tercapainya sasaran ini Pemerintah Kota Batu berusaha
menggalang kebersamaan di antara ormas dan organisasi profesi dengan pemberian
dana hibah sebesar Rp.1.595.000.000,00 pada tahun 2013. Tabel 3.11 berikut
menunjukkan hasil dari upaya pencapaian sasaran ini.
Tabel 3.11
Hasi Pengembangan Wawasan Kebangsaan di Kota Batu Tahun 2013
No.
1
2
3
4.
5.

Uraian
Jumlah kegiatan pendidikan wawasan
kebangsaan dan bela negara
Angka kerusuhan berlatar belakang SARA
Angka kerusuhan berlatar belakang Politik
Persentase forum dialog publik yang efektif
Kegiatan pembinaan terhadap LSM, Ormas dan
OKP

Target

Satuan

Realisasi

Capaian %

Kali

100

0
0
100

Kasus
Kasus
%

0
0
100

100
100
100

Kali

100

Sumber: Kantor Kesbangpol DN Kota Batu, 2014

Mencermati permasalahan isu SARA tersebut, kebijakan Pemerintah Kota Batu


tahun 2013 dilaksanakan melalui beberapa prioritas program pembangunan strategis
yang ditetapkan dalam dokumen tahun 2013. Kebijakan dalam mengatasi isu SARA
diarahkan untuk memantapkan fungsi dan peran agama sebagai landasan moral dan
etika dalam pembangunan, membina akhlak mulia, budi pekerti, memupuk etos kerja,
menghargai kemajemukan sosial budaya dan menjadi kekuatan pendorong dalam
mencapai Kota Batu makmur dan berakhlak. Selain itu diarahkan juga untuk
Meningkatkan pemahaman, penghayatan dan pengamalan nilai-nilai agama dan budi
pekerti dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, Mendorong terciptanya kehidupan intra
dan antar-umat beragama yang saling menghormati untuk mewujudkan suasana yang
aman dan damai, juga Menyelesaikan dan mencegah konflik antar-umat beragama serta
Meningkatkan kualitas pelayanan kehidupan beragama bagi seluruh lapisan masyarakat,
agar memperoleh hak-hak dasar dalam memeluk agamanya masing-masing dan
beribadah sesuai agama dan kepercayaannya.
Manfaat langsung dari tercapainya sasaran ini adalah terjaganya stabilitas
keamanan lingkungan masyarakat dari konflik horisontal yang berdampak
membahayakan perstuan dan kesatuan karena selama tahun 2013 tidak terjadi
kerusuhan berlatar belakang SARA maupun berlatar belakang politik sehingga angkanya
adalah 0 (nol). Masyarakat Kota Batu menjadi semakin dewasa dalam menyikapi isu-isu
yang menyesatkan dan merugikan. Ke depan, kegiatan pendidikan dan/atau pembinaan
terhadap seluruh kalangan masyarakat dan umat beragama di Kota Batu selayaknya
terus dipertahankan dan bahkan ditingkatkan intensitasnya. Catatan yang perlu
mendapatkan perhatian Pemerintah Kota Batu di tahun depan adalah bahwa: 1) masih

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

18

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

kurangnya kewaspadaan dini di sebagian anggota masyarakat; 2) masih belum


maksimalnya peran serta masyarakat dalam menjaga keamanan dan ketertiban; serta 3)
kurangnya koordinasi aparat yang berwenang dalam upaya pencegahan tindak criminal
khususnya yang berpotensi menimbulkan konflik horisontal.
Untuk mengantisipasi kekurangan tersebut perlu disiapkan langkah-langkah
antisipatif antara lain meningkatkan kewaspadaan dini masyarakat melalui
pemberdayaan Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM), meningkatkan peran
serta masyarakat dalam menjaga keamanan dan ketertiban dengan mengadakan
penyuluhan-penyuluhan ke masyarakat, serta meningkatkan koordinasi antar pihak yang
berwenang untuk mencegah tindak kriminal melalui kegiatan Komunitas Intelejen Daerah
(Kominda), Forum Pimpinan Daerah (Forpimda) dan sejenisnya.
Tabel 3.12
Evaluasi Pencapaian Sasaran 1.1.5
Terpeliharanya kerukunan hidup antar umat beragama yang telah dicapai
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Persentase jumlah permasalahan


kerukunan hidup umat beragama
dalam masyarakat yang dapat
diselesaikan melalui FKUB.

Satuan

Persen

Tahun 2013

Tar
get

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

0.00

Tar
get

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

30

31

103.33

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Tabel 3.12 di atas menunjukkan bahwa capaian kinerja pemeliharaan kerukunan


hidup umat beragama sebesar 103,33% sehingga varian target kinerja RPJMD terpenuhi
pada tahun 2013. Hal ini tercermin dari realisasi sebesar 31% yang merupakan
persentase jumlah permasalahan kerukunan beragama dalam masyarakat yang
diselesaikan melalui Forum komunikasi umat Beragama (FKUB). Strategi yang digunakan
adalah dengan mengedepankan FKUB dalam menjaga kerukunan hidup umat beragama
dan menyelesaikan permasalahan berkaitan dengan kerukunan hidup umat beragama.
Untuk itu Pemerintah Kota Batu mengambil langkah dengan memantapkan fungsi dan
peran Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), sebagai wadah kerukunan hidup baik
inter umat beragama maupun antar umat beragama.
Berdasarkan hasil evaluasi dan analisis terhadap Sasaran 1.1.1 sampai 1.1.5
tersebut di atas, maka Tujuan 1 dari Misi 1 yakni: Mewujudkan hubungan yang harmonis
antar umat beragama dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara tercapai dengan
capaian kinerja sebesar 102,38% sehingga termasuk kategori Sangat Berhasil. Nilai ini
merupakan nilai rata-rata hasil capian kinerja sasaran 1.1.1 1.1.5.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

19

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.13
Evaluasi Pencapaian Sasaran 1.2.1
Terwujudnya generasi muda yang memegang prinsip nilai-nilai tradisional
dan kearifan lokal.
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Satuan

Jumlah sosialisasi nilai budaya


kepada masyarakat.

Kegiatan

Tar
get
0

Realis
asi

Tahun 2013

Capaian
Kinerja
(%)

Tar
get

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

0.00

100.00

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Sosialisasi nilai budaya kepada masyarakat dimaksudkan untuk menanamkan


nilai-nilai tradisional dan kearifan lokal masyarakat Kota Batu, terutama pada kalangan
generasi muda sebagai upaya peningkatan peran sertanya dalam pembangunan. Selain
itu juga untuk Mengembangkan nilai-nilai tradisional dan kearifan lokal masyarakat Kota
Batu yang dapat dijadikan faktor penyeimbang terhadap perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu, Pemkot Batu berupaya untuk selalu
memfasilitasi kegiatan kemasyarakatan yang berkaitan dengan nilai tradisional, kearifan
lokal, dan keagamaan. Tahun 2013, setidaknya ada 3 kali sosialisasi nilai budaya kepada
masyarakat telah dilakukan. Frekuensi ini sesuai dengan yang ditargetkan sebanyak 3
kali sehingga capaian kinerjanya 100%. Sasaran ini dicapai melalui fasilitasi
penyelenggaraan budaya daerah untuk meningkatkan kecintaan masyarakat khususnya
generasi muda kepada budaya daerah selama 12 bulan berturut-turut yang dilakukan
dengan pelaksanaan Program Pengelolaan Keragaman Budaya. Selain itu juga
diupayakan adanya pelestarian dan aktualissi adat budaya daerah. Pada tahun 2013
kegiatan-kegiatan tersebut dilaksanakan masing-masing 1 kali melalui Program
Pengembangan Nilai Budaya oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batu
bersinergi dengan Dinas Pendidikan Kota Batu. Di antara hasil yang telah dicapai terlihat
pada cakupan seni, SDM, gelar seni, misi kesenian, tempat dan organisasi kesenian di
Kota Batu pada tahun 2013 seperti disajikan pada Tabel 3.14 berikut.
Tabel 3.14
Cakupan Hasil Kegiatan Seni dan Organisasi Seni
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Satuan

Tahun 2013

Cakupan Kajian Seni (50%)

Kegiatan

n.a

n.a

Capaian
Kinerja
(%)
0.00

Capaian
Kinerja
(%)
62.50

Cakupan Fasilitasi Seni (30%)

Kegiatan

n.a

n.a

0.00

100.00

Cakupan Gelar Seni (75%)

Kegiatan

n.a

n.a

0.00

100.00

Misi Kesenian (100%)

Kegiatan

n.a

n.a

0.00

50.00

Cakupan Sumberdaya Manusia


Kesenian (25%)

Persen

n.a

n.a

0.00

100.00

Cakupan Tempat (100%)

Persen

n.a

n.a

0.00

100.00

Cakupan Organisasi

Persen

n.a

n.a

0.00

100.00

Tar
get

Reali
sasi

Tar
get

Reali
sasi

Sumber: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota batus, 2014

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

20

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Hasil yang diperoleh di antaranya adalah semakin teridentifikasinya nilai-nilai


tradisional dan kearifan lokal (adat) dan seni yang harus dilestarikan.Pada saat ini, sekitar
358 organisasi seni dan budaya terdapat di wilayah Kota Batu yang tersebar sebanyak
165 organisasi di Kecamtan Batu, 84 organisasi di kecamatan Junrejo dan 109 organisasi
di kecamatan Bumiaji. Banyaknya dan beragamnya organisasi seni dan budaya tersebut
menggambarkan keragaman budaya yang sudah semestinya diperhatiakn oleh
pemerintah daerah di masa yang akan datang sehingga terjaga kelestariannya. Selain itu
juga semakin kuatnya proses internalisasi nilai-nilai tradisional dan kearifan lokal (adat)
melalui lembaga formal maupun informal masyarakat.
Berdasarkan hasil evaluasi dan analisis terhadap Sasaran 1.2.1 di atas, maka
Tujuan 2 dari Misi 1 yakni: Mempertahankan nilai-nilai tradisional dan kearifan lokal yang
sesuai dengan budaya Indonesia agar tetap menjiwai Bangsa Indonesia tercapai dengan
capaian kinerja sebesar 100,00% sehingga termasuk kategori Sangat Berhasil.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kinerja untuk Misi 1 yakni:
Meningkatkan kualitas hidup antar umat beragama tercapai dengan capaian kinerja
101.19% dan termasuk kategori Sangat Berhasil.

Misi 2:

Kota Batu memiliki kebutuhan untuk menata pengelolaan dan kinerja

Reformasi Birokrasi dan


Tata Kelola Pemerintahan

baik dan bersih (good governance and clean government), serta

pemerintahan dalam rangka mewujudkan pemerintahan kota yang


mewujudkan pelayanan terbaik bagi masyarakat.

Tujuan:
Mewujudkan Pemerintah Kota Batu sebagai organisasi birokrasi yang baik dan bersih
(good and clean governance).
Meningkatkan kualitas dan mendekatkan pelayanan kepada masyarakat.
Pembahasan berikut berkaitan dengan evaluasi dan analisis sasaran yang terkait
dengan pencapaian Tujuan 1 dari Misi 2.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

21

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.15
Evaluasi Pencapaian Sasaran 2.1.1
Terwujudnya kepemimpinan yang mencerminkan kapasitas
untuk mendorong pencapaian visi, misi, tujuan, dan sasaran instansi pemerintah,
serta kapasitas membangun kepercayaan dan langkah-langkah nyata.
sesuai dengan nilai yang disepakati

No.

Indikator Target RPJMD


Capaian peningkatan pelayanan
Kepala Daerah/Wakil Kepala
Daerah.

Persentase jumlah raperda yang


dihasilkan dalam satu tahun
anggaran.

10

11

Tahun 2013
Capaian
Reali
Kinerja
sasi
(%)

Satuan

Tar
get

Persen

100

100

100.00

100

100

100.00

Persen
Perda
Perwali

100
10
25

81.78
12
24

81.78
120.00
96.00

100
12
80

99.91
12
80

99.91
100.00
100.00

300

294

98.00

650

664

102.15

20.00

10

70.00

30

23

76.67

50

57

114.00

15

12

80.00

15

17

113.33

Persen

100

100

100.00

100

90

90.00

Persen

100

100

100.00

100

95

95.00

Persen

100

100

100.00

100

100

100.00

Persen

10

111.11

10

11

105.00

Persen

100.00

105.00

Persen

133.33

105.00

Persen

80

80.3

100.38

90

84

93.68

Persen

0.00

60

54

90.00

Persen

0.00

30

30

100.00

SK
Walikota
Instruksi
Walikota

Sk
Sekda
MOU
Persentase pelaksanaan jaring
aspirasi masyarakat pada masingmasing daerah pemilihan.
Persentase pelaksanaan kunjungan
kerja sebagai perbandingan
kemajuan daerah dan masukan
pengembangan daerah.
Persentase pelaksanaan
pendidikan/pelatihan untuk
pengembangan kapasitas pimpinan
dan anggota DPRD.
Persentase jumlah aparatur yang
mendapatkan pendidikan teknis dan
fungsional.
Persentase jumlah Aparatur laki-laki
yang mendapatkan pendidikan
teknis dan fungsional.
Persentase jumlah Aparatur
perempuan yang mendapatkan
pendidikan teknis dan fungsional.
Persentase jumlah pejabat struktural
yang mendapat program pendidikan
PIM IV, III & PIM II & prajabatan.
Persentase jumlah pejabat struktural
laki-laki yang mendapat program
pendidikan PIM IV, III & PIM II &
Prajabatan.
Persentase jumlah pejabat struktural
perempuan yang mendapat program
pendidikan PIM IV, III & PIM II &
Prajabatan.

Tahun 2012
Capaian
Reali
Kinerja
sasi
(%)

Tar
get

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Tabel 3.15 menunjukkan bahwa capaian masing-masing indicator kinerja sasaran


ini bevariasi. Dari 11 indikator kinerja terdapat 6 indikator yang dapat dicapai 100% atau
lebih dan 5 indikator kinerja dengan capaian kurang dari 100%. Berdasarkan Tabel di
atas, maka secara keseluruhan sasaran ini dapat direalisasikan dengan capaian kinerja
rata-rata sebesar 99,01% sehingga termasuk kategori Sangat Berhasil. Strategi yang
ditempuh untuk mewujudkan sasaran ini adalah dengan: Menentukan arah bagi

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

22

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

organisasi untuk pencapaian visi dan misi, Mendorong penyempurnaan manajemen dan
memimpin perubahan, Memberi motivasi, inspirasi, mendukung pegawai, dan menjadi
panutan, dan Mengelola hubungan dengan stakeholder. Adapun arah kebijakan yang
ditetapkan adalah dengan mengembangkan kepemimpinan yang bisa berdiri didepan
memberi teladan, ditengah membangun semangat dan motivasi kerja, dan di belakang
memberi kekuatan kerja. Sasaran ini dicapai melalui pelaksanaan berbagai program dan
kegiatan antara lain: Program Pendidikan dan Pelatihan Formal oleh Bagian Umum
Sekretariat Daerah dan Badan Kepegawaian Daerah; Program Penataan daerah
Otonomi Baru oleh Bagian Administrasi Pemerintahan; Program Peningkatan Kapasitas
Aparatur yang dilaksanakan oleh hamper seluruh SKPD Pemerintah Kota Batu; Program
Peningkatan Kapasitas Lembaga Perwakilan Rakyat Daerah oleh Sekretariat DPRD;
Program Peningkatan Pelayanan Kedinasan Kepala daerah/Wakil Kepala Daerah; serta
Program Peningkatan Pelayanan Keprotokolan yang dilaksanakan oleh Sekretariat
Daerah Bagian Protokol dan Rumah Tangga.
Tabel 3.16
Hasil Kegiatan Pengembangan Kapasitas Birokrasi Tahun 2013
No.

Satuan

Target

Realisasi

Peningkatan kemampuan dan wawasan pegawai dalam


melaksanakan tupoksinya

Uraian

orang

15

15

100,00

Peningkatan kapasitas penyelenggaraan Otonomi Daerah


serta terbitnya Peraturan Daerah

bulan

12

12

100.00

bulan

100.00

Terpenuhinya database rupabumi untuk penataan ruang


wilayah
Tertibnya administrasi nama-nama jalan

Terlayaninya pelayanan bidang kepegawaian secara optimal

CPNS dan Pejabat Struktural seluruhnya telah mendapatkan


pendidikan dan pelatihan formal (Diklat Prajabatan / Diklatpim)

7
8

kali

100.00

orang

20

45.00

Kegiatan

100.00

penerima hibah dan bansos

orang

200

200

100.00

Tersusunnya Perda

bulan

12

12

100.00

Terlaksananya hearing dan dialog

bulan

12

12

100.00

10

Terlaksananya rapat Fraksi dan komisi

bulan

12

12

100.00

11

Terlaksananya rapat paripurna

bulan

12

12

100.00

12

Terlaksananya kegiatan reses di Dapil

kegiatan

100.00

13

Terlaksananya kunker DPRD dalam daerah

kali

0,00

14

Terlaksananya workshop DPRD

kegiatan

100.00

15

Terlaksananya kunker DPRD luar daerah

kegiatan

18

17

94.44

raperda

66.67

Bulan

12

12

100.00

Bulan

12

12

100.00

Bulan

12

12

100.00

Bulan

12

12

100.00

16

Terwujudnya Raperda Inisiatif

17

Terlaksananya pendidikan dan pelatihan formal

18
19

Terlaksananya sosialisasi dan pembinaan tentang peraturan


perundang-undangan
Terlaksananya bimtek / kursus implementasi peraturan
perundang-undangan

20

Meningkatnya pengetahuan dan ketrampilan pegawai


peningkatan kualitas pelayanan masyarakat

Kali

100.00

21

Terpenuhinya penanganan pelanggaran disiplin sesuai


PP.53/2010

orang

225

225

100.00

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

23

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

22

Terpenuhinya persyaratan pengangkatan CPNS menjadi PNS

orang

230

230

100.00

23

Terpenuhinya pejabat struktural dalam kompetensi jabatan


Eselon IV

orang

40

40

100.00

24

Tersedianya Aparatur sesuai Kualifikasi/Formasi

25

Tercapainya Mutasi dan Jabatan tepat sasaran

#DIV/0!
Pegawai yang
naik Pangkat

538

538

100.00

Mutasi Masuk
dan Keluar

56

52

92.86

pegawai

480

479

99.79

orang

100

0.00

26

Tersumpahnya PNS

27

Terpenuhinya syarat kenaikan pangkat sesuai klasifikasi ijazah

28

Terpenuhinya kedisiplinan kinerja pegawai

kali

20

20

100.00

29

Tercukupinya data tenaga honorer di lingkungan Pemkot Batu

pegawai

555

555

100.00

30

Terwujudnya penghargaan satyalencana bagi PNS

pegawai

254

254

100.00

31

Data kebutuhan pegawai tahun 2012 yang akurat

orang

280

0.00

32

Termotivasinya Pagawai dalam peningkatan kinerja

Karpeg

924

674

72.94

33

Meningkatnya pengetahuan aparatur di lingkungan Pemkot


Batu

orang

120

105

87.50

34

Terwujudnya pembinaan dan pengembangan aparatur

pegawai

60

60

100.00

35

Meningkatnya kompetensi Kepemimpinan Kepala SKPD

Kepala SKPD

68

68

100.00

36

Terjalinnya hubungan dan terselesaikannnya persoalan


kedinasan

orang

20

20

100.00

37

Terciptanya Koordinasi antar Muspida yang lebih baik

bulan

12

12

100.00

38

Terciptanya Koordinasi Pemerintah yang lebih baik

orang

12

12

100.00

39

Terciptanya Koordinasi Pemerintah yang lebih baik

orang

12

12

100.00

bulan

12

12

100.00

Jenis

100.00

Jenis

12

25.00

40
41
42
43

Tersedianya jasa medis dan obat-obatan untuk Walikota dan


Wakil Walikota
Terlaksananya Audiensi bersama seluruh elemen masyarakat
dengan baik
Terpenuhinya pelayanan Penginapan kepada Tamu dengan
baik
Terpenuhinya pelayanan Mamin Tamu yang menginap dengan
baik

Jenis

100.00

44

Terlaksananya Kunjungan kerja dalam daerah dengan baik

Jenis

100.00

45

Terlaksananya Kunjungan kerja luar daerah dengan baik

Jenis

12

25.00

46

Terlaksananya Koordinasi dengan pemerintah Pusat atau


Daerah Lainnya dengan baik

Jenis

12

25.00

Jenis

12

25.00

Jenis

12

25.00

kali

100.00

47
48
49

Terpenuhinya kebutuhan pelayanan obat-obatan utk KDH /


WKDH dengan baik
Terpenuhinya kebutuhan pelayanan Jasa Medis utk KDH /
WKDH dengan baik
Terjalinnya Silahturahmi Walikota dengan Ketua RT/RW Se
Kota Batu

Sumber: Lakip SKPD dan Hasil Analisis, 2014

Pembahasan berikut terkait dengan upaya pencapaian sasaran 2 pada Misi 2


Tujuan ke 1 dengan capaian kinerja masing-masing sebagaimana disajikan pada Tabel
3.17 di bawah ini.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

24

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.17
Evaluasi Pencapaian Sasaran 2.1.2
Terwujudnya perencanaan strategis satuan kerja perangkat daerah
yang berorientasi pada hasil kerja dengan memperhitungkan
potensi, peluang, dan kendala

No.

6
7

10

11

12

13

14

Indikator Target RPJMD


Persentase jumlah SKPD yang
mengembangkan data/informasi
kondisi umum daerah dan Capaian
Kinerja (%) sesuai dengan tugas dan
fungsi secara valid dan terkini.
Terlaksananya penjaringan aspirasi
masyarakat melalui musrenbang
dalam proses penyusunan
perencanaan daerah.
Tersedianya dokumen perencanaan
RPJMD yang berkualitas, yang
ditetapkan dengan Perda/Perkada.
Tersedianya dokumen perencanaan
RKPD yang berkualitas, yang
ditetapkan dengan Perkada.
Tersedianya dokumen Renstra
SKPD yang berkualitas, yang telah
ditetapkan.
Tersedianya dokumen Renja SKPD
yang berkualitas, yang telah
ditetapkan.
Tersedianya dokumen perencanaan
penganggaran.
Tersedianya informasi mengenai
Rencana Tata Ruang (RTR) wilayah
kabupaten/kota beserta rencana
rincinya melalui Peta Analog
Tersedianya informasi mengenai
Rencana Tata Ruang (RTR) wilayah
kabupaten/kota beserta rencana
rincinya melalui Peta Digital
Terlaksananya penjaringan aspirasi
masyarakat melalui forum konsultasi
publik yang memenuhi syarat inklusif
dalam proses penyusunan RTR dan
program pemanfaatan ruang, yang
dilakukan minimal 2 (dua) kali setiap
disusunnya RTR
Terlaksananya penjaringan aspirasi
masyarakat melalui forum konsultasi
publik yang memenuhi syarat inklusif
dalam proses penyusunan program
pemanfaatan ruang.
Terlayaninya masyarakat dalam
pengurusan izin pemanfaatan ruang
sesuai dengan Peraturan Daerah
tentang RTR wilayah kabupaten/kota
beserta rencana rincinya
Terlaksanakannya tindakan awal
terhadap pengaduan masyarakat
tentang pelanggaran di bidang
penataan ruang, dalam waktu 5
(lima) hari kerja
Tersedianya luasan RTH publik
sebesar 20% dari luas wilayah
kota/kawasan perkotaan.

Tahun 2012
Capaian
Reali
Kinerja
sasi
(%)

Tahun 2013
Tar get

Realis
asi

Capaian
Kinerja
(%)

100.00

33

38

115.15

100

100.00

100

100

100.00

100

100

100.00

100

100

100.00

Persen

100

100

100.00

100

100

100.00

Persen

100

100

100.00

100

100

100.00

Persen

100

100

100.00

100

100

100.00

Persen

100

100

100.00

100

100

100.00

Persen

100

100

100.00

100%

100%

100.00

Persen

100

100

100.00

100%

100%

100.00

Persen

100

100

100.00

100%

100%

100.00

Persen

100

100

100.00

100%

100%

100.00

Persen

100

100

100.00

100%

100%

100.00

Persen

100

100

100.00

100%

100%

100.00

Persen

100

100

100.00

100%

100%

100.00

Satuan

Tar
get

Persen

33

33

Persen

100

Persen

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

25

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Berdasarkan Tabel di atas, maka secara keseluruhan sasaran ini dapat


direalisasikan dengan capaian kinerja rata-rata sebesar 101,08% dimana salah satu
indikatornya yakni Persentase jumlah SKPD yang mengembangkan data/informasi
kondisi umum daerah dan sesuai dengan tugas dan fungsi secara valid dan terkini
memiliki capaiam kinerja 115,15%. Hal ini sesuai dengan serta menindaklanjuti arah
kebijakan Pemerintah Kota Batu untuk mengembangkan, melaksanakan, dan mengelola
sistem perekaman data dan informasi yang valid dan terbaru yang dapat menjadi dasar
dalam penyusunan rencana pembangunan daerah partisiparif, transparan, dan akuntabel
menuju modernisasi dan inovasi demi kepentingan bersama. Untuk menindaklanjuti hal
tersebut, maka setiap SKPD diwajibkan untuk: a). Mengumpulkan informasi berkaitan
dengan kebutuhan pemangku kepentingan saat ini dan masa yang akan datang, b).
Mengembangkan, mengkaji, serta memperbarui rencana strategis dengan
memperhatikan kebutuhan pemangku kepentingan dan ketersediaan sumber daya, c).
Melaksanakan rencana strategis, dan d). Merencanakan, melaksanakan, & mengkaji
modernisasi dan inovasi. Utamanya pencapaian sasaran ini dilaksanakan oleh Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) sebagai leading SKPD dengan
berkoordinasi dengan SKPD terkait lainnya utamanya dalam pelaksanaan Program
Pengembangan Data/Informasi (Dedicated) berkoordinasi dengan semua SKPD, Bag
Organisasi, Bag administrasi Pemerintahan, dan BPKAD; Program Pengembangan
Wilayah Perbatasan; Program Perencanaan Pembangunan Ekonomi bekerjasama
dengan Badan Penanaman Modal dan Bagian Perekonomian dan Pembangunan. Pada
tahun 2012 urusan ini dianggarkan sebesar Rp 1.695.536.400.00 dan terealisasi sebesar
Rp 1.567.733.225.00 atau 92,5%. Sedangkan pada tahun 2013 anggaran dialokasikan
sebesar Rp. 2,211,493,000,00 dengan realisasi sebesar Rp. 1,953,736,400,00 dengan
capaian kinerja 88,34%. Anggaran tersebut tahun ini digunakan untuk melaksanakan 5
(lima) program yang terdiri dari 34 (tigapuluh empat)) kegiatan
Hasil dari pelaksanaan program dan kegiatan untuk mendukung tercapainya
sasaran ini disajikan pada table 3.18 sebagai berikut.
Tabel 3.18
Hasil Kegiatan Kajian dan Perencanaan Strategis Tahun 2013
No.

Uraian

Satuan

Target

Realisasi

Kegiatan

100,00

Desa/Kel.

24

24

100

Desa/Kel.

100

Kegiatan

100

paket

100

buku

100

terlaksananya kegiatan pendampingan

kegiatan

100

Partisipasi pada penyelenggaraan City Summit Sanitasi


Perkotaan di Kota yang telah ditunjuk

kegiatan

100

Terselesaikannya penyusunan profil kelurahan tahun


2013
Tersusunnya Data Base Pemanfaatan dan
Pengembangan TTG di Kota Batu
Tersedianya Data Potensi Sebagai Dasar Penyusunan
Perencanaan Pembangunan di Desa / Kelurahan

Tersedianya sitem informasi pembangunan Kota Batu

Tersedianya Laporan SLHD Kota Batu Tahun 2013 dan


Peningkatan Informasi Lingkungan Hidup

Tersusunnya Dokumen DAK Tahun Anggaran 2012

7
8

1
2
3

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

26

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Terselenggaranya Koordinasi Anggota Kelompok Kerja


Sanitasi Kota Batu

10
11
12
13
14

kegiatan

100

Terlaksannya Studi Kelayakan Pembangkit Listrik

Tahun

100

Terlaksannya Studi penataan SDA

Tahun

100

Tahun

100

Tahun

100

Kegiatan

100

Terselenggaranya Koordinasi Anggota Kelompok Kerja


perubahan iklim Kota Batu
Terselenggaranya Koordinasi Anggota Kelompok Kerja
perencanaan Bid sarpras dan LH
Tersedianya Dokumen bahan RPJMD Kota Batu Tahun
2013 - 2017

15

Terlaksananya kegiatan Musrenbang

Kegiatan

100

16

Tersusunnya Dokumen LKPJ Kota Batu

Kegiatan

100

17

Terlaksananya Kegiatan city branding

Kegiatan

100

18

Tersedianya Dokumen KUA PPAS PAK tahun 2013

Buku

150

150

100

19

Tersedianya Dokumen KUA PPAS tahun 2014

Buku

80

80

100

20

Tersedianya Dokumen RKPD Kota Batu Tahun 2013

Buku

50

50

100

21

Tersedianya Dokumen Kota Batu Dalam Angka Tahun


2012

Buku

55

55

100

22

Tersedianya Dokumen PDRB Kota Batu Tahun 2013

Buku

55

55

100

23

Tersedianya Dokumen data pendidikanKota Batu Tahun


2013

Buku

55

55

100

24

Terlaksanya Koordinasi perencanaan bid Ekonomi

Kegiatan

100

25

Tersedianya Dokumen studi

Kegiatan

100

26

Terlaksanya Koordinasi agropolitan

Kegiatan

100

27

terlaksannya Perencannaan RIPDW

Kegiatan

100

28

Terlaksanya Koordinasi RAD-PG

Kegiatan

100

29

Tersedianya Dokumen studi Kelayakan Rest Area

Kegiatan

100

30

Tersedianya Dokumen studi Kelayakan RS Jantung

kegiatan

100

31

Terlaksanya Kegiatan Kajian BWR

kegiatan

100

32

Terlaksanya Kegiatan Studi kelayakan drive in

kegiatan

100

33

Terlaksannya koordinasi Perencanaan bid Pemsobud

Kegiatan

100

34

Tersedianya Dokumen statistik


Tersusunnya Dokumen Monev Koord penaggulangan
kemiskinan

Kegiatan

100

Kegiatan

100

36

Tersusunnya Dokumen Monev. MDG's

Kegiatan

100

37

Terlaksannya Kegiatan Revisi Strategis Penanggulangan


kemiskinan

Kegiatan

100

35

Sumber: Lakip SKPD dan Hasil Analisis, 2014

Di dalam proses pencpaian sasaran ini ditemui beberapa kendala yang


memerlukan solusi di masa mendatang yakni: a). masih adanya koordinasi yang tidak
tepat sasaran sehingga penyelesaian dokumen membutuhkan waktu yang panjang, b).
penjabaran output, outcome, dan benefit yang tidak/belum selaras, c). masih sering
adanya data yang tidak akurat dan tidak terbaharui sehingga mengakibatkan data perlu di
cek ulang dan membutuhkan waktu, dan d). pendampingan yang tidak
berkesinambungan mengakibatkan rentannya kegiatan tersebut akan kesalahan.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

27

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Selanjutnya adalah evaluasi pencapaian sasaran Terwujudnya satuan kerja


perangkat daerah yang mampu merencanakan, mengelola, dan meningkatkan kualitas
sumber daya manusia aparatur untuk mencapai tujuan organisasi seperti terlihat pada
Tabel di bawah ini.
Tabel 3.19
Evaluasi Pencapaian Sasaran 2.1.3
Terwujudnya satuan kerja perangkat daerah
yang mampu merencanakan, mengelola, dan meningkatkan kualitas
sumber daya manusia aparatur untuk mencapai tujuan organisasi

No.

10

11

12

13

14

Indikator Target RPJMD


Jumlah sosialisasi dan pembinaan tata cara
penyusunan dokumen perencanaan dan
proyeksi penganggaran pembangunan
sesuai peraturan yang berlaku.
Tingkat kesesuaian aparatur peserta
sosialisasi dan pembinaan perencanaan
dengan tugas dan fungsi di dalam masingmasing SKPD.
Persentase jumlah aparatur pemeriksaan
dan pengawas yang mendapat program
peningkatan profesionalisme tenaga
pemeriksa dan aparatur pengawas.
Persentase jumlah aparatur pemeriksa dan
pengawas laki-laki yang mendapat program
peningkatan profesionalisme tenaga
pemeriksa dan aparatur pengawas.
Persentase jumlah aparatur pemeriksa dan
pengawas perempuan yang mendapat
program peningkatan profesionalisme
tenaga pemeriksa dan aparatur pengawas.
Persentase jumlah aparatur yang
mendapatkan pendidikan teknis dan
fungsional.
Persentase jumlah Aparatur laki-laki yang
mendapatkan pendidikan teknis dan
fungsional.
Persentase jumlah Aparatur perempuan
yang mendapatkan pendidikan teknis dan
fungsional.
Persentase jumlah aparatur yang mengikuti
program peningkatan sumberdaya
aparatur.
Persentase jumlah aparatur laki-laki yang
mengikuti program peningkatan
sumberdaya aparatur.
Persentase jumlah aparatur perempuan
yang mengikuti program peningkatan
sumberdaya aparatur.
Persentase jumlah sumber daya aparatur
yang mendapat program pembinaan dan
pengembangan aparatur.
Persentase jumlah sumber daya aparatur
laki-laki yang mendapat program
pembinaan dan pengembangan aparatur.
Persentase jumlah sumber daya aparatur
perempuan yang mendapat program
pembinaan dan pengembangan aparatur.

Tahun 2012
Capaian
Reali
Kinerja
sasi
(%)

Tahun 2013
Capaian
Reali
Kinerja
sasi
(%)

Satuan

Tar
get

Kegiatan

100.00

100.00

Persen

70

75

107.14

80

83

103.75

Persen

15

18

120.00

28

27

96.43

Persen

10

125.00

16

14

87.50

Persen

114.29

12

13

108.33

Persen

85

81

95.29

90

88

98.10

Persen

60

54

90.00

60

59

98.10

Persen

35

26

74.29

30

28

94.47

Persen

85

84

98.82

90

92

101.73

Persen

54

54

100.00

65

59

90.55

Persen

32

30

93.75

35

33

93.43

Persen

75

74

98.67

80

81

100.83

Persen

42

37

88.10

50

40

80.66

Persen

33

23

69.70

30

25

83.57

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

Tar
get

BAB - III
Halaman

28

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

15

16

17

18

19

20

Persentase jumlah sumber daya aparatur


pemerintahan desa yang mendapat
program penin gkatan kapasitas aparatur
pemerintahan desa.
Persentase jumlah sumber daya aparatur
pemerintahan desa laki-laki yang mendapat
program peningkatan kapasitas aparatur
pemerintahan desa.
Persentase jumlah sumber daya aparatur
pemerintahan desa perempuan yang
mendapat program peningkatan kapasitas
aparatur pemerintahan desa.
Persentase jumlah sumber daya aparatur
pemerintahan yang mendapat program
fasilitasi peningkatan SDM bidang
komunikasi dan informasi.
Persentase jumlah sumber daya aparatur
pemerintahan laki-laki yang mendapat
program fasilitasi peningkatan SDM bidang
komunikasi dan informasi.
Persentase jumlah sumber daya aparatur
pemerintahan perempuan yang mendapat
program fasilitasi peningkatan SDM bidang
komunikasi dan informasi.

Persen

n.a

n.a

n.a

21

0.00

Persen

n.a

n.a

n.a

13

0.00

Persen

n.a

n.a

n.a

0.00

Persen

50

50

100.00

60

55

90.83

Persen

35

40

114.29

46

44

94.78

Persen

15

10

66.67

14

11

77.86

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Arah kebijakan umum Pemerintah Kota Batu untuk merealisasikan dan/atau


mencapai sasaran ini adalah dengan mengembangkan satuan kerja perangkat daerah
yang memiliki daya untuk memberdayakan aparatur-aparaturnya dan lebih berdayaguna
untuk melaksanakan tugas pelayanan dan pembangunan daerah. Oleh karena itu salah
satu titik tekan yang dikehendaki adalah bahwa aparat birokrasi harus mampu
merencanakan, mengelola, dan meningkatkan kualitas SDM aparatur secara transparan
dan akuntabel sesuai dengan rencana strategis dan roadmap reformasi birokrasi. Tabel
di atas mengungkapkan bahwa sebagian besar indicator kinerja sasaran ini tidak dapat
dicapai 100% karena hanya 5 indikator kinerja yang capaiannya >100% sedangkan 10
indicator lainnya memiliki capaian berkisar 70%-99%. Bahkan indicator aparat desa yang
mendapat pelatihan dapat terlaksana tahun 2013 namun tidak direncanakan/ditargetkan
secara tegas sehingga tidak bias diukur tingkat keberhasilannya. Selain itu, data aparatur
berdasarkan jenis kelamin (perempuan dan laki-laki) yang mendapatkan pelatihan masih
memerlukan validitas dan pengechekan ulang untuk menjamin akurasinya. Namun
demikian, secara keseluruhan sasaran ini dapat direalisasikan dengan capaian kinerja
rata-rata sebesar 80,05% sehingga termasuk kategori Berhasil.
Program dan/atau kegiatan yang dilaksanakan adalah Program Peningkatan
Sarana Dan Prasarana Aparatur; Program
Peningkatan Kapasitas Sumberdaya
Aparatur; Program Peningkatan Disiplin Aparatur; Program Fasilitasi Pindah/Purna
Tugas PNS; Program Pembinaan Dan Pemasyarakatan Olah Raga. Tabel 3.20 berikut
menunjukkan Hasil yang khususnya diperoleh dari pelaksanaan program Peningkatan
Kapasitas Sumberdaya Aparatur.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

29

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.20
Kinerja Peningkatan Kapaitas Aparatur

No

Uraian

Keluaran/Output
Satuan

Target

Realisasi

Bimbingan Teknis Implementasi Peraturan PerundangUndangan

orang

225

225

100.00%

Pendidikan dan Pelatihan Struktural Bagi PNS Daerah (PIM II)

orang

230

230

100.00%

Pendidikan dan Pelatihan Struktural Bagi PNS Daerah (PIM IV)

orang

40

40

100.00%

Seleksi Penerimaan Calon PNS


538

538

100.00%

56

52

92.86%

480

479

99.79%

100

0.00%

Pertimbangan Mutasi Jabatan dan Pangkat

Pegawai
yang naik
Pangkat
Mutasi
Masuk dan
Keluar
pegawai

Pengambilan Sumpah janji PNS

Bantuan Penyelenggaraan Penerimaan Praja IPDN

Penyesuaian Ijazah dan Ujian Dinas

Penegakan Disiplin PNS

kali

20

20

100.00%

10

Penyusunan dan Pengajuan Formasi CPNS

pegawai

555

555

100.00%

11

Pendidikan dan Pelatihan Struktural bagi PNS Daerah (PIM III)

pegawai

254

254

100.00%

12

Sosialisasi Analisa Kebutuhan Diklat

orang

280

0.00%

Karpeg

924

674

72.94%

Karis/Karsu

300

251

83.67%

orang

120

105

87.50%

orang

13

Mental Building dalam menunjang Produktivitas kerja PNS

14

Bimtek Kepangkatan dan Manajemen PNS

15

Sistem Informasi Pegawai dan Aplikasi KGB Online

pegawai

60

60

100.00%

16

Bimtek Manajemen Kepemimpinan Aparatur Daerah

Kepala SKPD

68

68

100.00%

17

Pendidikan Dan Pelatihan Prajabatan bagi CPNS Daerah

18

Pembinaan Mental SDM melalui Metode ESQ Mindset, Family


Gathering

19

Pengiriman Peserta Diklat Teknis dan Fungsional

orang

20

45.00%

Sumber: Lakip BKD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Tabel di atas mengungkapkan beberapa hasil yang telah dicapai selama tahun
2013 di antaranya adalah:
a. Pengiriman CPNS untuk mengikuti Diklat Prajabatan terdiri dari Gol II dan
Gol III.
b. Telah melaksanakan Sidak di 17 SKPD.
c. Bimtek Peraturan Pemerintah No.53 tahun 2010 dengan peserta para
Pejabat Struktural di lingkungan Pemerintah Kota Batu.
d. Diklat untuk Pejabat Struktural Eselon IV sebanyak 40 orang selama 30 hari
efektif.
e. Meningkatnya pengetahuan dan Ketrampilan peserta tentang manajemen
pelayanan bidang kepegawaian bagi seluruh karyawan BKD.
f. Terselesaikannya proses /usul pension sebanyak 69 orang.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

30

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

g. Terselesaikannya proses kenaikan pangkat periode april dan oktober.


h. Terlaksananya sumpah/janji PNS dengan baik dengan peserta sebanyak 479
PNS.
i. Terlaksananya sosialisasi dengan baik dengan peserta 110 orang.
j. Jaringan KGB Online ke seluruh SKPD dan sekolah negeri Se Kota Batu.
k. Diberikannya penghargaan Satya lencana kepda pegawai yang berdedikasi.

Sementara itu permasalahan dan/atau kendala yang dihadapi dan memerlukan


solusi perbaaikan di masa dating terkait dengan hal tersebut adalah:
a. Pengiriman jadwal pelaksanaan yang terlalu mendadak.
b. Belum semua SKPD menjadi obyek sidak dan tempat-tempat umum.
c. Brlum semua pejabat struktural dapat mengikuti karena terbatasnya
anggaran.
d. Masih ada Pejabat Eselon IV yang belum mengikuti Diklat PIM IV.
e. Kurangnya kesadaran dari PNS yang akan memasuki BUP dalam
mengajukan berkasnya khususnya Gol IV/b ke atas yang membutuhkan
waktu satu tahun sebelum BUP (Pengajuan mendadak).
f. Proses penyelesaian di BKN Pusat Kadangkala lebih dari 1 tahun.
g. SKPD sudah diberi waktu kurang lebih 3 bulan untuk usulan Kenaikan
Pangkat tetapi masih banyak yang terlambat.
h. Tidak semua sekolah ada jaringan internet.
i. Pengusulan pegawai untuk menerima penghargaan satya lencana tidak
tertib.
Evaluasi berikutnya adalah sasaran Terwujudnya satuan kerja perangkat daerah
yang mampu erencanakan dan mengelola sumber daya untuk mendukung rencana
strategis yang diungkapkan pada Tabel di bawah ini.
Tabel 3.21
Evaluasi Pencapaian Sasaran 2.1.4
Terwujudnya satuan kerja perangkat daerah yang mampu merencanakan
dan mengelola sumber daya untuk mendukung rencana strategis
dan roadmap, serta kelancaran proses kerja.
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Satuan

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

Tahun 2013
Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

Cakupan peningkatan dan


pengembangan pengelolaan
keuangan daerah.

Persen

20

20

100.00

21

22

103.81

Cakupan pembinaan dan fasilitasi


pengelolaan keuangan desa.

Persen

100

100

100.00

100

100

100.00

Cakupan optimalisasi pemanfaatan


teknologi informasi dalam proses
kerja Satuan Kerja Perangkat
Daerah.

Persen

30

30

100.00

40

33

81.75

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

31

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Sasaran ini berkaitan dengan kebijakan Pemerintah Kota Batu untuk: a).
Mengembangkan Satuan Kerja Perangkat Daerah yang mampu memberdayakan
kemampuan keuangan, informasi, pengetahuan, dan fasilitas yang dimiliki daerah
dengan memaksimalkan keunggulan teknologi informasi komunikasi, b). Optimalisasi
penerimaan daerah yang meliputi intensifikasi dan ekstensifikasi Pendapatan Asli
Daerah, dan penerimaan pembiayaan melalui pinjaman daerah, serta c). Efisiensi dan
efektivtas pendanaan pembangunan melalui efektivitas dan efisiensi belanja APBD.
Adapun berbagai program yang dilksanakan untuk mencapai sasaran ini di antaranya
adalah: Program Pelayanan Administrasi Perkantoran; Program kerjasama Informasi
Dengan Mas Media; Program Optimalisasi Pemanfaatan Teknologi Informasi; Program
Pengembangan komunikasi Informasi dan Media massa; Program Peningkatan Kualitas
Pelayanan Informasi; Program Pembinaan dan Fasilitasi Pengelolaan Keuangan
Kabupaten/ Kota; Program Peningkatan dan Pengembangan Pengelolaan Keuangan
Daerah; Program Peningkatan Pengembangan Sistem Pelaporan Capaian Kinerja dan
Keuangan; Program Peningkatan Dan Pengembangan Pengelolaan Keuangan Desa;
Program Peningkatan Informasi Pelayanan Publik; Program Peningkatan Sarana dan
Prasarana; Program Penyelamatan dan Pelestarian Dokumen/Arsip Daerah;
Terdapat 3 indikator dimana 2 di antaranya berhasil melampaui target yang
ditetapkan (>100%) sedangkan 1 indikator yakni Cakupan optimalisasi pemanfaatan
teknologi informasi dalam proses kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah yang capaian
kinerjanya 81,75%. Berdasarkan Tabel 3.21 di atas, maka secara keseluruhan sasaran
ini dapat direalisasikan dengan capaian kinerja rata-rata sebesar 95,19%.

Tabel 3.22
Evaluasi Pencapaian Sasaran 2.1.5
Terwujudnya satuan kerja perangkat daerah yang mampu merencanakan
dan mengelola kemitraan dengan para pemangku kepentingan utama
untuk mendukung rencana strategis
dan roadmap, serta kelancaran proses kerja
Tahun 2012

Tahun 2013

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

Persen

100

100

100.00

100

90

90.00

Persen

95

96

101.05

97

96

98.97

No.

Indikator Target RPJMD

Satuan

Cakupan kerjasama dan koordinasi


yang baik antar pemerintah daerah.

Cakupan pelibatan partisipasi


masyarakat desa dalam
membangun desa.

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Berdasarkan Tabel 3.22 di atas, maka secara keseluruhan sasaran ini dapat
direalisasikan dengan capaian kinerja rata-rata sebesar 94,48% sehingga temasuk
kategori Sangat Berhasil. Arah kebijakan Pemerintah Kota Batu terkait dengn pencapaian
sasaran ini adalah: a). mengembangkan Satuan Kerja Perangkat Daerah yang bijaksana

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

32

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

dalam memberdayakan para pemangku kepentingan dalam sebuah kemitraan untuk


mencapai tujuan bersama dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan b).
Efisiensi dan efektivitas pendanaan pembangunan yang meliputi penguatan dan
perluasan kemitraan, pemanfaatan Corporate Social Responsibility (CSR), pendanaan
pembangunan daerah dengan pola cost sharing antara pemerintah (provinsi dan kota).
Hasil dari pelaksanaan Program Peningkatan Kerjasama Antar Pemerintah
Daerah tercermin dari Jumlah Mou yang masih berlaku pada tahun 2013, sebanyak 9
MoU yaitu:
1 Kerjasama dengan Rektor Universitas Brawijaya Malang Tentang Kesepahaman
Bersama dalam Bidang Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Kepada Masyarakat
serta Pembangunan Daerah
2 Kerjasama dengan Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang Tentang Kegiatan
Pendidikan, Praktek Klinik, Penelitian Dan Pengabdian Masyarakat
3 Kerjasama dengan PT. Bank Himpunan Saudara 1906, Tbk. Tentang Penyaluran
Fasilitas Kredit Untuk Pegawai (KUPEK) Dan Kredit Pensiun Hybrid (KUPEN
HYBRID) Di Lingkungan Sekretariat Daerah
4 Kerjasama dengan RSUD Dr. Saiful Anwar Malang Tentang Pelayanan Kesehatan
Bagi Peserta Program Jaminan Kesehatan Daerah (JAMKESDA) Yang Menggunakan
Surat Pernyataan Miskin (SPM) Kota Batu
5 Kerjasama dengan RS. Baptis Batu Tentang Pelayanan Kesehatan Bagi Peserta
Program Jamkesmas Yang Dibiayai APBD Kota Batu Tahun Anggaran 2013
6 Kerjasama dengan RSJ. Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang Tentang Pelayanan
Kesehatan Bagi Peserta Program Jamkesda Tahun 2013
7 Kerjasama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tentang Pembiayaan Program
Jaminan Kesehatan Daerah (JAMKESDA)
8 Kerjasama dengan Kejaksaan Negeri Batu Tentang Bidang Hukum Perdata Dan Tata
Usaha Negara
9 Kerjasama dengan Badan Pengawasan Keuangan Dan Pembangunan Perwakilan
Provinsi Jawa Timur Tentang Kerjasama Penerapan Tata Kelola Pemerintahan Dan
Tata Kelola Perusahaan Daerah Yang Baik Pada Penyelenggaraan Pemerintahan
Kota Batu

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

33

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.23
Evaluasi Pencapaian Sasaran 2.1.6
Terwujudnya satuan kerja perangkat daerah yang mampu mengidentifikasi,
mengelola, meningkatkan, dan membangun proses inti,
proses manajemen, dan proses pendukung untuk mengimplementasikan dan
mendukung rencana strategis dan roadmap organisasi.

No.

Indikator Target RPJMD


Persentase capaian program
peningkatan sistem pengawasan
internal dan pengendalian
pelaksanaan kebijakan KDH.
Persentase capaian program
penataan dan penyempurnaan
kebijakan sistem dan prosedur
pengawasan.
Persentase capaian perumusan dan
implementasi petunjuk pelaksanaan
dan petunjuk teknis bagi semua
SKPD sesuai tugas dan fungsinya.

Tahun 2012
Capaian
Reali
Kinerja
sasi
(%)

Tahun 2013
Capaian
Reali
Kinerja
sasi
(%)

Satuan

Targ
et

Persen

10

10.38

103.80

11.84

11

95.56

Persen

1.03

51.50

4.69

106.61

Persen

n.a

n.a

n.a

33

34

103.03

Targ
et

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Program
Penataan
Kelembagaan
Perangkat
Daerah;
Program
Penataan
Penyempurnaan Kebijakan Sistem Dan Prosedur Pengawasan; Program Penataan
Peraturan Perundang-Undangan; Program Peningkatan Pelayanan Keprotokolan;
Program Peningkatan Pelayanan Publik; Program Peningkatan Profesionalisme Tenaga
Pemeriksa Dan Aparatur Pengawasan; Program Peningkatan Sistem Pengawasan
Internal Dan Pengendalian Pelaksanaan Kebijakan Kdh;
Berdasarkan Tabel 3.23 di atas, maka secara keseluruhan sasaran ini dapat
direalisasikan dengan capaian kinerja rata-rata sebesar 101,73%.
Berdasarkan hasil evaluasi dan analisis terhadap Sasaran 2.1.1 di atas, maka Tujuan 1
dari Misi 2 yakni: Mewujudkan Pemerintah Kota Batu sebagai organisasi birokrasi yang
baik dan bersih (good governance and clean government) tercapai dengan capaian
kinerja sebesar 95,26% sehingga termasuk kategori Sangat Berhasil.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

34

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.24
Hasil Kegiatan Pengembangan Organisasi SKPD Kota Batu
Tahun 2013
No.

Uraian

Satuan

Target

Realisasi

Capaian

Jumlah dokumen kajian kelembagaan organisasi


perangkat daerah

dok kajian

100%

Jumlah dokumen kajian penjabaran tugas dan fungsi


SKPD

dok kajian

33

33

100%

Dokumen LAKIP yg tersusun

dok kajian

100%

Jumlah SKPD yg mengikuti Bimtek LAKIP SKPD

SKPD

40

40

100%

Jmlh dokumen Anjab

dok kajian

41

41

100%

Jmlh dokumen ABK

dok kajian

22

22

100%

Tersedianya sistem informasi Anjab dan ABK

sostware

100%

Jumlah dokumen SOP SKPD yg menyusun SOP

dok kajian

40

10%

Jumlah dokumen SPM SKPD yg melaksanakan SPM


sesuai bidang urusan SPM

bidang urusan

15

14

93%

10

Jmlh SKPD yg melaksanakan pengukuran IKM

SKPD

50%

11

Jumlah SKPD yg mengikuti pameran pelayanan publik

SKPD

100%

12

Tingkat capaian tahapan pelaksanaan pendampingan


pra-implementasi ISO 9001:2008

Tahapan

80%

Sumber: Lakip Bagian Organisasi Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Berdasarkan hasil identifikasi, hal ini disebabkan masih terdapatnya hambatan


untuk mencapai kinerja sasaran yaitu:
a. Kurang kuatnya komitmen Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam
menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP)
b. Kurangnya dukungan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) kepada
petugas penyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) di masing-masing
Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)
c. Belum terintegrasinya antara program prioritas Satuan Kerja Perangkat
Daerah (SKPD) dengan Indikator Capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM)
Pemerintah Pusat
d. Paparan mekanisme sistem pelayanan publik unit pelayanan publik masih
belum dapat diinformasikan secara optimal kepada masyarakat
e. Belum terlaksananya audit internal pra-Implementasi ISO pada Puskesmas
Batu sebagaimana jadwal rencana pelaksanaan kegiatan
f. Belum optimalnya kemampuan SDM tenaga analisis dalam menyusun
dokumen Anjab pada masing-masing SKPD
g. Belum adanya validitas data pegawai di masing-masing SKPD mengenai
informasi data jumlah pegawai yang simpang siur antara BKD dan SKPD
sehingga berdampak pada hasil ABK yang kurang maksimal

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

35

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

h. Kebijakan SKPD untuk menunjuk Tenaga analisis jabatan dan analisis beban
kerja tidak maksimal
i. Perubahan kelembagaan sealama ini didasarkan pada anggapan atas kinerja
suatu Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), belum dilaksanakan
berdasarkan mekanisme perubahan kelembagaan yang seharusnya.

Selanjutnya adalah evaluasi dan analisis terhadap pencapaian Sasaran 1, Tujuan


ke 2 dari Misi 2 seperti terlihat pada Tabel 3.25 berikut.
Tabel 3.25
Evaluasi Pencapaian Sasaran 2.2.1
Terwujudnya kecamatan sebagai pusat pelayanan masyarakat
dan menjadi simpul pelayanan bagi kantor/badan pelayanan terpadu di Kota Batu
dalam bidang perizinan maupun non perizinan.

No
.
1
2
3
4

5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

15
16

17

Indikator Target RPJMD

Satuan

Persentase pemenuhan
Persen
infrastruktur pelaksanaan PATEN.
Persentase penyediaan dan
pemanfaatan sistem informasi
Persen
PATEN.
Persentase keterpenuhan sumber
Persen
daya aparatur pelaksana PATEN.
Keberadaan kebijakan terkait
pelimpahan wewenang kepada
Kategori
camat terkait PATEN.
Keberadaan standar pelayanan dan
uraian tugas personil kecamatan
Kategori
pelaksana PATEN.
Ketersediaan tata cara pembinaan
Kategori
dan pelaksanaan PATEN.
Ketersediaan tata cara
pengawasan dan pelaporan
Kategori
PATEN.
Persentase cakupan pelaksanaan
Persen
pengawasan pelaksanaan PATEN.
Cakupan Penerbitan Kartu
Persen
Keluarga
Cakupan Penerbitan Kartu Tanda
Persen
Penduduk
Cakupan Penerbitan Kuitipan Akta
Persen
Kelahiran
Cakupan Penerbitan Kutipan Akta
Persen
Kematian
Terlayaninya masyarakat dalam
Persen
pengurusan IMB di kabupaten/kota.
Tersedianya pedoman Harga
Standar Bangunan Gedung Negara
Persen
di Kabupaten /kota
Penerbitan IUJK dalam waktu 10
(sepuluh) hari kerja setelah
Persen
persyaratan lengkap.
Tersedianya Sistem Informasi Jasa
Persen
Konstruksi setiap tahun
Pelaksanaan Diseminasi dan Pendistribusian
Informasi Nasional melalui:
Media massa:

Kali

Tar
get

Tahun 2012
Capaian
Reali
Kinerja
sasi
(%)

Tahun 2013
Target

Realisa
si

Capaian
Kinerja
(%)

n.a

n.a

100

100

100.00

n.a

n.a

100

83.64

83.64

n.a

n.a

20

18

90.00

n.a

n.a

100

100

100.00

n.a

n.a

100%

100%

100.00

n.a

n.a

100%

100%

100.00

n.a

n.a

100%

100%

100.00

n.a

n.a

100%

100%

100.00

n.a

n.a

6x
/tahun

6x
/tahun

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

100.00

36

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

18

Media website (media online)

Kali

n.a

n.a

19

Media tradisionil seperti


pertunjukan rakyat;

Kali

n.a

n.a

20

21
22

Media interpersonal seperti


sarasehan, ceramah/diskusi dan
lokakarya;
Media luar ruang:
Cakupan pengembangan dan
pemberdayaan Kelompok Informasi
Masyarakat di Tingkat Kecamatan

Kali

n.a

n.a

Kali

n.a

n.a

Persen

n.a

n.a

Setiap
Hari
8x
/Tahun
12 x
/Tahun
setiap
Kecam
atan
12x
/Tahun
100

Setiap
Hari
8x
/Tahun
12 x
/Tahun
setiap
Kecamat
an

12x
/Tahun
100

100.00
100.00

100.00

100.00
100.00

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Berpijak pada paradigma reformasi birokrasi khususnya untuk mengoptimalkan


pelayanan kepada masyarakat, maka Pemerintah Kota Batu mengarahkan kebijakan
untuk kengoptimalikan peran kecamatan sebagai perangkat daerah terdepan dalam
memberikan pelayanan publik dalam rangka merespon dinamika perkembangan
penyelenggaraan pemerintahan daerah menuju tata kelola pemerintahan yang baik dan
memperhatikan kebutuhan serta tuntutan masyarakat dalam pelayanan. Untuk
menindaklanjuti hal tersebut pada tahun 2013 sedang dipersiapkan berbagai kebutuhan
pelaksanaan Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan (PATEN) yang diperlukan
yang meliputi infrastruktur, sumber daya manusia pelaksana, kebijakan terkait
pelimpahan kewenangan perijinan kepada camat, dan alokasi anggaran bagi kecamatan.
Selain itu juga diperkuat dengan melakukan pembinaan dalam pelaksanaan PATEN yang
meliputi penyusunan standar pelayanan dan uraian tugas personil kecamatan,
penyusunan tata cara pembinaan, pengawasan, pelaksanaan, pelaporan, pemberian
sanksi dan penghargaan; serta melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan PATEN
terkait ketersediaan fasilitas, proses pelaksanaan, dan penggunaan anggaran. Sasaran
ini diharapkan mulai berjalan efektif tahun depan yakni 2014. Pada tahap awal, sebagai
start up diintegrasikan dengan Program Peningkatan Pelayanan Publik; Program
Menginfestasikan Penanganan Pengaduan Masyarakat; Program Penataan Administrasi
Kependudukan; Program Penataan Pencatatan Sipil.
Tabel 3.25 di atas menunjukkan hasil capaian kinerja 0% untuk indicator ke 1
sampai 8 terkait dengan PATEN. Hal ini karena tahun 2013 ini adalah masa persiapan
sehingga secara formal belum ditargetkan meskipun untuk menekankan integrasi dengan
pelayanan yang sudah ada, tetap diperlukan adanya evaluasi. Berdasarkan Tabel 3.25 di
atas, maka secara keseluruhan sasaran ini dapat direalisasikan dengan capaian kinerja
rata-rata sebesar 62,44% dengan kategori Cukup Berhasil.
Berdasarkan hasil evaluasi dan analisis terhadap Sasaran 2.2.1 di atas, maka
Tujuan 2 dari Misi 2 yakni: Meningkatkan kualitas dan mendekatkan pelayanan kepada
masyarakat tercapai dengan capaian kinerja sebesar 62,44% sehingga termasuk kategori
Cukup Berhasil.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kinerja untuk Misi 2 yakni: Reformasi
Birokrasi dan Tata Kelola Pemerintahan tercapai dengan capaian kinerja 78,85% dan
termasuk kategori Berhasil.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

37

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Misi 3:
Mengembangkan
Pertanian Organik dan
Perdagangan Hasil
Pertanian Organik

Misi ini mengantisipasi isu kerusakan tanah, lingkungan hidup,


serta kondisi iklim dan cuaca. Di sisi lain, misi ini berupaya untuk
dapat meningkatkan kesejahteraan petani dan membuka
lapangan pekerjaan melalui dukungan sektor pertanian organik
terhadap sektor pariwisata.

Tujuan:
Mewujudkan pertanian organik berwawasan kesehatan yang dapat meningkatkan
kesejahteraan para petani.

Pada umumnya struktur tanah Kota Batu merupakan lahan subur untuk
pertanian. Sektor pertanian dengan sub-sistem perikanan dan peternakan dijadikan salah
satu potensi unggulan pembangunan daerah Kota Batu. Produksi pertanian yang
berpotensi antara lain tanaman sayur, tanaman padi dan palawija, buah, budidaya semi
insentif perikanan, peternakan sapi perah dan kelinci. Salah satu potensi di bidang
pertanian yang menjadikan Kota Batu sebagai Kota Agropolitan adalah beragamnya
tanaman hortikultura, yang meliputi beragam jenis sayuran, buah-buahan, tanaman hias,
dan tanaman obat.
Secara alamiah dan dengan sendirinya Kota Batu sudah terbentuk citra sebagai
kota agropolitan yang didukung oleh keadaan alam dan lingkungan wisata yang
potensial. Potensi daerah di bidang wisata dan pertanian menjadi komoditi andalan yang
kompetitif. Sektor agrowisata atau wisata pertanian merupakan salah satu pilihan untuk
dikembangkan di Kota Batu dengan memanfaatkan potensi pertanian dan potensi wisata
yang ada. Di samping itu, pariwisata merupakan salah satu potensi Kota Batu selain
pertanian, Industri ini meliputi penginapan dan sarana akomodasi lainnya. Pemerintah
Kota Batu terus berupaya untuk membangun dan mengembangkan potensi pariwisata
karena wilayah ini telah dikenal baik di tingkat regional maupun nasional.
Sektor Agrowisata di Kota Batu memiliki potensi kuat yang didukung dengan
keadaan alam dan lingkungannya yang kondusif, akan tetapi masih perlu dilakukan
pengembangan sarana dan prasarana lebih lanjut secara optimal dengan tetap
memperhatikan faktor kelestarian lingkungan. Pada umumnya semua obyek wisata yang
ada di Kota Batu selalu menampilkan potensi pertanian dan sekaligus bisa dibeli
pengunjung sebagai oleh-oleh. Mulai dari hasil produksi sayuran dataran tinggi seperti
kentang, kubis, wortel, kembang kol dsb, kemudian berbagai jenis tanaman hias, bunga
potong serta hasil produksi buah-buahan seperti apel, jeruk, strawberi dan yang tak kalah
menarik adalah hasil produk olahan pangan berbahan dasar apel dan produk pertanian
yang lain.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

38

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.26
Evaluasi Pencapaian Sasaran 3.1.1
Terwujudnya sistem bertani organik
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Jumlah paket pengembangan


kawasan organik.

Paket

Tahun 2013

Target

Reali
sasi

Capaian
Kinerja (%)

Target

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

100.00

100.00

Satuan

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Pengembangan pertanian organik dalam rangka menghasilkan produk unggulan


yang berkualitas. Untuk itu langkah yang diambil adalah dengan Menyusun masterplan
pertanian go organic dengan memanfaatan seluruh potensi lahan yang dimiliki termasuk
hutan, ternak, ikan dan potensi lainnya.
Kawasan stretegis pertanian di Kota Batu meliputi kawasan sentra produksi
pertanian sayur mayur (hortikultura) terletak di Desa Sumber Brantas, Desa Tulungrejo,
dan sekitarnya, kawasan sentra produksi pertanian bunga di Desa Sidomulyo,
Gunungsari, Punten dan sekitarnya, kawasan sentra produksi apel di Kecamatan Bumiaji,
dan kawasan sentra produksi pertanian tanaman pangan di Desa Pendem dan
Torongrejo. Pola penggunaan lahan di wilayah Kota Batu terdiri dari lahan sawah dan
bukan sawah, luas untuk lahan sawah sebesar 2.513,00 Ha atau 12,6 persen sedangkan
lahan bukan sawah sebesar 17.395,72 Ha atau sekitar 87,4 persen. Kecamatan Junrejo
yang paling luas lahan sawahnya yaitu sebesar 1.108 Ha. Untuk lahan bukan sawah
dibedakan menjadi pekarangan, tegal/kebun, Hutan dan lain-lain. Penggunaan lahan
untuk pekarangan sebesar 1.592,83 Ha, tegal/kebun sebesar 2.553,74 Ha, hutan sebesar
8.199,31 Ha dan lain-lain sebesar 5.622,75 Ha. Luas lahan bukan sawah di Kecamatan
Batu dan Kecamatan Bumiaji lebih luas dibandingkan dengan kecamatan Junrejo. Hutan
di wilayah Kota Batu sebagian besar merupakan kawasan dengan topografi yang
cenderung berbukit dan terjal. Luas hutan di Kecamatan Bumiaji paling luas yaitu
6.682,30 Ha. Penggunaan lahan di Kecamatan Batu didominasi untuk pekarangan dan
bangunan yaitu seluas 2.077,25 Ha. Hal ini terjadi karena Kecamatan Batu merupakan
pusat kegiatan dan aktivitas Kota.
Untuk lebih mengembangkan sektor pertanian organik Berbasis Kepariwisataan
Internasional, Pemerintah Kota Batu mempunyai komitmen penerapan sistem pertanian
organik melalui BATU GOES ORGANIC yang akan diterapkan di seluruh desa dan
kelurahan di Kota Batu. Program tersebut harus dilaksanakan, termasuk pemerintah
desa. Kebijakan diambil dengan mensyaratkan setiap desa menyediakan lahan dari kas
desa atau tanah kelurahan khusus menanam produk pertanian yang bebas bahan kimia.
Diharapkan hal tersebut akan mampu memberikan image bahwa produk pertanian asal
Kota Batu lebih aman dikonsumsi karena bebas bahan kimia.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

39

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.26 di atas menunjukkan bahwa sampai dengan tahun 2012 telah ada 4
(empat) kawasan pengembangan pertanian organik di Kota Batu. Pada tahun 2013
ditargetkan adanya tambahan 2 (dua) kawasan pertanian organic sehingga total menjadi
6 (enam) kawasan organic. Target tersebut dapat direalisasikan sepenuhnya sehingga
capaian kinerjanya adalah 100% dengan kategori Sangat Berhasil. Tabel 3.27 berikut
menunjukkan hasil pelaksanaan program terkait dengan pencapaian sasaran ini pada
tahun 2013.
Tabel 3.27
Pengembangan Kawasan Organik di Kota Batu Tahun 2013
No.

Uraian

Satuan

Target

Realisasi

Unit, kg

1 unit, 2.600
kg

1 unit, 2.600
kg

Bibit lebah, Peralatan Lebah dan Bibit Porang untuk


Masyarakata Desa Hutan

Pengadaan Bibit Porang

kg

2600

2600

100

Pengadaan Peralatan Lebah

paket

100

Pengadaan Lebah
Pengadaan Bibit Penghijauan, Pal Batas Kawasan dan Luar
Kawasan

paket

100

Paket

100

5
6

Pengadaan Tanaman

paket

100

Pengadaan Pupuk Organik

kg

15000

15000

100

Pengadaan Pupuk Organik

kg

32000

32000

100

Pengembangan kawasan pertanian tanaman


pangan/hortikultura organik dan studi banding

Kawasan

100

paket

100

11

Pengadaan bibit (Sawi Putih, Seledri, Bawang Prei, Tomat


Sayur, Brokoli, Brungkol, Padi Jagung Manis, Cabe Besar,
Wortel)
Pengadaan Bibit Bawang Merah dan Bawang Putih

kg

9500

9500

100

12

Pengadaan Pupuk Cair Kawasan Organik

liter

2200

2200

100

13

Pengadaan Pestisida Nabati Kawasan Organik

liter

900

900

100

14

Pengadaan Agens Hayati Kawasan Organik

liter

600

600

100

15

Pengadaan Jasa Transportasi, Akomodasi dan Konsumsi

orang

120

120

100

16

Pengadaan Bibit Kentang

kg

14000

14000

100

17

Pengadaan Pupuk Organik Padat Kawasan Revitalisasi Lahan

kg

400000

400000

100

18

Pengadaan Pupuk Organik Padat Kawasan Organik

kg

600000

600000

100

19

Pengadaan Billboard

unit

12

12

100

10

Sumber: Lakip Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Selanjutnya, Tabel 3.28 menyajikan perkembangan hasil pertanian di Kota Batu


tahun 2013 serta kondisi tahun sebelumnya yakni 2012.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

40

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.28
Perkembangan Hasil Pertanian di Kota Batu Tahun 2012 dan 2013

Uraian

Satuan

Kondisi
Tahun 2012

Target 2013

Realisasi

Capaian
Kinerja

Produksi pertanian:
*Beras Organik
*Beras non organik
*Palawija
- Jagung
- Kacang Tanah
- Ubi kayu
- Ubi Jalar
*Holtikultura
Kentang
Kobis
Sawi
Wortel
Bawang merah
Bawang putih
Tomat
Brokoli/kembang kol
Cabai Besar
Apel
Alpukat
Jeruk
Krisan
Anthurium
Gerbera
Gladiol
Palem
Mawar
Anggrek
Jahe
Lengkuas
Kunyit
Temulawak
Lidah Buaya

Ton
Ton

7,404.80

7,433.00

5,523.20

74.31

Ton
Ton
Ton
Ton

4,120.00
52.70
1,700.00
1,536.00

8,131.85
192.60
4,532.50
3,105.00

1,938.30
121.35
1,666.50
1,891.76

23.84
63.01
36.77
60.93

Ton
Ton
Ton
Ton
Ton
Ton
Ton
Ton
Ton
Ton
Ton
Ton
Tangkai/pohon
Tangkai/pohon
Tangkai/pohon
Tangkai/pohon
Tangkai/pohon
Tangkai/pohon
Tangkai/pohon
Kg
Kg
Kg
Kg
Kg

7,332.00
3,629.30
6,028.00
10,038.10
3,695.10
661.30
4,869.40
4,989.90
1,496.00
74,807.50
14,903.50
6,194.10
4,269.00
4,269.00
167,329.00
167,333.00
34,047.00
686,779.00
686,779.00
80,061.00
1,906.00
12,620.00
1,586.00
33,030.00

7,625.10
4,066.40
3,994.70
8,273.20
2,469.10
413.40
4,936.70
3,474.40
1,903.80
83,891.50
43,625.00
15,489.70
24,387,520.00
529,107.00
198,470.00
147,232.00
70,560.00
7,850,300.00
813,336.00
100,100.00
280.00
9,880.00
160.00
41,393.00

Produksi Peternakan:
*Telur
*Daging
*Susu
Produktivitas padi
Nilai Tukar Petani (NTP)
Peningkatan Pendapatan
Petani
Pertumbuhan Sektor
Pertanian
Kontribusi sektor Pertanian
Terhadap PDRB ADHK
Terbentuknya zona-zona
pertanian organik dan
kawasan agro industri
Jaringan irigasi kondisi
baik
Terminal agribisnis
(tambahan)
Pertumbuhan jumlah
usaha yang bergerak di
bidang agrobisnis

Ton
Ton
Liter
Ton/Ha
%
%

1,377.52
2,324.94
12,005,363.00
6.40
n/a

1,413.61
2,511.73
11,849,347.00
6.50
n/a

2,570.97
1,936.48
10,178,305.00
6.40
n/a

181.87
77.10
85.90
98.46
n/a

n/a

n/a

n/a

n/a

%
%

19.79

19.09

Unit

4.00

6.00

6.00

100.00

15.00

10.00

0.00

0.00

Unit

1.00

0.00

0.00

0.00

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

0.00

BAB - III
Halaman

41

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Kualitas tingkat pendidikan


SDM di Sektor Pertanian
Penurunan Pertambangan
tanpa ijin
Peningkatan Rehabilitasi
hutan dan lahan kritis
Penurunan Kerusakan
Kawasan Hutan

Meningkat
%

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

Produksi perikanan

Ton

52,195.00

63.80

61.57

96.50

Konsumsi ikan
Luas lahan kritis (Ha)
Luas Lahan Pertanian Padi
(ha)
Produktivitas Pertanian
Budidaya Tanaman Padi
(/ha)
Luas Lahan Pekarangan
Produktif (ha)
Jumlah Poktan
Jumlah Gapoktan
Jumlah HIPPA
Luas Lahan Gerhan

%
Ha

14.24
1,717.00

13.55
1,572.62

15.08
1,572.62

111.29
100.00

Ha

1,157.00

Ton/Ha

Ha

6.40

214.00
24.00
n/a
800.00

863.00
6.50

6.40

98.46

n/a
0.00

214.00
24.00
n/a
0.00

n/a
0.00

Sumber: Lakip Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Di dalam upaya pengembangan kawasan organic tersebut Pemerintah Kota


menjalin kerjasama dengan berbagai pihak yang terkait antara lain:
1. MoU Nomor: 02/MoU/RenPP/PHT-II/XII/2013 / 522/23/PPK/422.110/2013
antara Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota Batu dengan Biro Perencanaan
dan PP Perum Perhutani Unit II Jawa Timur terkait Tukar Menukar Kawasan
Hutan dengan Tanah Masuk di Ampel Gading dan Tanah Keluar di Ngaglik
2. MoU antara Pemerintah Kota Batu dengan Perum Perhutani KPH Malang
tentang Pembangunan Daerah dalam rangka Pengelolaan Sumber Daya
Hutan Bersama Masyarakat. (dalam proses penandatanganan Walikota
Batu).
3. Perjanjian kerjasama Nomor: 08/OPSET/MLG/II/2013 Tanggal 1 Juni
2013antara Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota Batu dengan Perum
Perhutani tentang Pemanfaatan Lahan Perhutani (Tanah DK) untuk Pasar
Benih Ikan.
Hambatan dan/atau kendala utama yang dihadapi adalah bahwa Pengembangan
kawasan organik belum dapat dilaksanakan di seluruh luasan lahan pertanian di masingmasing desa di kawasan organic di wilayah Kota Batu. Untuk menanggulangi kendala ini
Pemerintah Kota Batu melalui Dinas Pertanian dan Kehutanan berencana untuk
melaksanakan kegiatan Pengembangan Pertanian Tanaman Pangan/Hortikultura organik
dengan memberikan bantuan pupuk organik sebanyak 600.000 Kg berupa 2.200 liter
pupuk organik cair, 900 liter pestisida nabati, 600 liter agensi hayati serta bantuan bibit
tanaman guna merangsang petani agar mau melaksanakan pertanian secara organik

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

42

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.29 berikut adalah capaian kinerja


sasaran selanjutnya yakni
Terwujudnya perubahan pola pikir masyarakat petani dan organisasinya dari pertanian
non organik menjadi pertanian organik yang berwawasan kesehatan.

Tabel 3.29
Evaluasi Pencapaian Sasaran 3.1.2
Terwujudnya perubahan pola pikir masyarakat petani dan organisasinya dari pertanian non organik menjadi
pertanian organik yang berwawasan kesehatan
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Jumlah paket pelatihan pertanian


organik.

Satuan

Paket

Tahun 2013

Tar
get

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

0.00

Tar
get

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

100.00

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Untuk mendorong terwujudnya perubahan pola pikir masyarakat petani dan


organisasinya dari pertanian non organik menjadi pertanian organik yang berwawasan
kesehatan Pemerintah Kota Batu menetapkan kawasan pertanian organik beserta jenis
tanaman sebagai pilot project dan paket-paket pelatihan yang terkait dengan pertanian
organik. Pada tahun 2013 ditargetkan 2 paket pelatihan pertanian organic dengan
realisasi 2 paket pelatihan sehingga capaian kinerjanya adalah 100% dengan kategori
Sangat Berhasil. Tabel 3.30 berikut menyajikan hasil dari paket pelatihan pertanian
organic tersebut pada tahun 2013.
Tabel 3.30
Paket Pelatihan Pertanian Organik Tahun 2013

No.

Uraian

Terlaksananya Bimtek Budidaya Perikanan dan Kunjungan


Teknis

Bimtek dan Bantuan Ternak Kelinci

Satuan
Bimtek dan
Kunjungan
Teknis
Bimtek,
Kelinci

Target

Realisasi

100

1 kali, 275
ekor

1 kali, 275
ekor

100

Sumber: Lakip Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Evaluasi sasaran selanjutnya terkait dengan sasaran terwujudnya produk


pertanian organic dengan indicator dan capaian kinerjanya seperti terlihat pada table 3.31
berikut.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

43

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.31
Evaluasi Pencapaian Sasaran 3.1.3
Terwujudnya produk pertanian organik
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Satuan
Target

Persentase produk pertanian


organik terhadap total produk
pertanian

Persen

Tahun 2013

Reali
sasi

Capaian
Kinerja (%)

Target

Reali
sasi

Capaian
Kinerja (%)

0.00

1.5

75.00

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Produk pertanian organik cukup bervariasi dan meliputi pula tanaman


hortikultura. Potensi tanaman holtikultura yang mempunyai nilai komersial tinggi bila
ditangani secara baik akan menjadi Wisata Agro, Agro Industri, dan Agro Bisnis.
Sehingga kemasan wisata berbasis pada produksi pertanian holtikultura merupakan
modal pengembangan ekonomi kerakyatan di Kota Batu. Produk-produk ungulan di atas
memiliki peluang pasar di kota-kota lain cukup besar. Permintaan barang sangat banyak
namun kapasitas produksinya masih belum mampu memenuhi seluruh permintaan,
sehingga kapasitas produksi perlu dilakukan pembenahan dengan jalan promosi dan
pemasaran secara maksimal dan ada pembenahan tempat industri yang lebih
representatif yang memungkinkan perusahaan dapat berproduksi secara optimal.
Sedangkan untuk pesaing dari luar Kota Batu dapat diantisipasi dengan membuat
jaringan pemasaran yang didukung oleh rantai nilai (value chain), rantai penawaran
(supply chain), dan rantai permintaan (demand chain) yang dilakukan melalui
pembentukan klaster-klaster berbasis potensi lokal.
Sebagai konsekuensi untuk memenuhi target tersebut diambil kebijakan untuk
memenuhi berbagai kebutuhan penunjang budidaya pertanian organik (bibit unggul, obatobatan, pupuk, dan teknologi organik) serta melakukan pembinaan kepada petani dan
lembaga petani mengenai keunggulan pertanian organik dan keahlian pertanian organik
berwawasan kesehatan. Tabel tersebut di atas menunjukkan bahwa target komposisi
produk pertanian organic adalah 2,0% dari seluruh produk pertanian. Akan tetapi sampai
dengan tahun 2013 hanya dapat direalisasi sebesar 1,5% sehingga capaian kinerjanya
adalah 75,0%. Tidak tercapainya target tersebut disebabkan oleh berbagai factor
terutama factor eksternal yang uncontrollable di antaranya adalah terjadinya anomaly
musim sehingga menyebabkan cuaca ektrem yang amat tidak kondusif terhadap produk
pertanian. Selain itu, pada tahun 2012-2013 terjadi beberapa kali bencana angin kencang
yang membawa dampak merusak tanaman para petani di Kota Batu. Selain adanya fakta
penurunan luasan lahan apel dan produktivitas tanaman apel, pada tahun 2013 di Kota
Batu terjadinya serangan kutu sisik pada tanaman jeruk seluas lebih dari 19 ha. Bencana
alam ini tidak hanya terjadi di Kota Batu tetapi juga di banyak tempat di Provinsi Jawa
Timur sehingga menyebabkan kontribusi sector pertanian di provinsi ini mengalami
penurunan cukup besar. Tabel 3.32 menyajikan paket penunjang untuk mewujudkan
sasaran ini.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

44

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.32
Paket Penunjang Budidaya Pertanian Organik Tahun 2013

No.
1
2

Uraian

Satuan

Target

Realisasi

kg

3,250

3,250

100

orang

40

40

100

Pengadaan Pakan/Pellet Ikan Induk dan Ikan


Konsumsi Benih
Belanja Transportasi, Akomodasi, dan Konsumsi
Kunjungan Teknis

Demplot, Pelatihan dan Asah Trampil

Lomba

Pelatihan Budidaya Anggrek dan Strawberry serta


Pertemuan Kelompok Tani se-Kota Batu

Kecamatan

Pengadaan sarana dan prasarana pertanian

Buah, Unit

1000, 17

1000.17

Pengadaan Cangkul, Doran Cangkul, Sabit, dan


Lempak

buah

1000

1000

100

Pengadaan Traktor Tangan

unit

100

Pengadaan Gerobak dan Sprayer

unit

65

65

100

Pengadaan APPO

unit

100

10

Terselenggaranya Gerakan Pengendalian OPT


Utama tanaman Pangan dan Hortikultura

Pengendali
an

100

11

Pengadaan Pestisida Organik dan Insektisida Kimia


untuk Tanaman Pangan dan Hortikultura

liter

360

360

100

12

Pengadaan Kandang Baterai Kelinci

Unit

22

22

100

13

Pengadaan Bibit Kelinci

Ekor

275

275

100

100

Sumber: Lakip Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Untuk mengatasi hambatan tersebut di atas, maka Pemerintah Kota Batu akan
melaksanakan gerakan pengendalian OPT bersama dengan petugas POPT Propinsi
Jawa Timur, serta melaksanakan program Revitalisasi Lahan apel dengan pemberian
bantuan berupa 400.000 Kg pupuk organik di Desa Tulungrejo, Sumbergondo, Bulukerto,
Bumiaji dan Desa Punten.
Selanjutnya Tabel 3.33 berikut menyajikan persentase proses perkembangan
pertanian organic pada tahun 2013. Dalam upaya untuk memantapkan proses
pengembangan pertanian organik, dan menciptakan diversifikasi produk unggulan
berkualitas, maka strategi yang dilakukan adalah meningkatkan intensitas
pengembangan pilot project budidaya pertanian organic; dan menganekaragamkan jenis
tanaman yang diproses secara organik. Tabel 3.33 menunjukkan bahwa proses
pengembangan pertanian organic mangalami progress sebesar 3,0% sebagaimana yang
ditargetkan dengan capaian kinerja 100,00%.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

45

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.33
Evaluasi Pencapaian Sasaran 3.1.4
Terwujudnya kemantapan proses pengembangan pertanian organik
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD


Persentase perkembangan
pertanian organik

Satuan

Jenis

Tahun 2013

Tar
get

Reali
sasi

Capaian
Kinerja (%)

Target

Reali
sasi

Capaian
Kinerja (%)

0.00

100.00

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Sedangkan untuk menunjang proses pengembangan tersebut diupayakan


terjadinya diversifikasi jenis tanaman yang dikelola secara organic. Diversifikasi tanaman
tersebut diharapkan tidak hanya diterapkan pada kawasan pilot project tetapi mencakup
pula lahan pekarangan milik masyarakat serta kawasan hutan yang potensial. Tabel 3.34
menunjukkan bahwa jumlah jenis tanaman yang dikelola secara organic bertambah 3
jenis sebagaimana ditargetkan dengan capaian kinerja 100%.
Tabel 3.34 berikut merupakan hasil dari upaya mewujudkan pencapaian sasaran
ini.
Tabel 3.34
Hasil Upaya Pengembangan Pertanian Organik di Kota Batu Tahun 2013

No.

Uraian

Meningkatnya Usaha Kelompok Afinitas

Kios Jajan Sehat Rakyat di Desa Pesanggrahan

Lumbung Pangan dan Lantai Jemur

Satuan

Target

Realisasi

Kelompok

100.00

Unit

100.00

100.00

100.00

Unit
(Lumbung
Pangan )
Unit (Lantai
Jemur)

Pengadaan bibit jeruk keprok batu 55 dan strawberry

Batang

14000

14000

100

Pengadaan Bibit Jeruk Keprok Batu 55

Batang

9000

9000

100

Pengadaan Bibit Strawberry

Batang

5000

5000

100

Bantuan alat sangrai dan pembubuk kopi

Unit

100

Pengadaan Alat Sangrai dan Pembubuk Kopi serta


Tabung Gas Elpiji

Unit

100

Sumber: Lakip Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Berikut ini merupakan evaluasi upaya diversifikasi atau penganekaragaman


pertanian organic di kota Batu.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

46

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.35
Evaluasi Pencapaian Sasaran 3.1.5
Terwujudnya diversifikasi pertanian organik
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Satuan

Jumlah jenis tanaman yang dikelola


secara organik.

Jenis

Tahun 2013

Target

Reali
sasi

Capaian
Kinerja (%)

Target

Reali
sasi

Capaian
Kinerja (%)

0.00

100.00

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Sejumlah upaya untuk mendukung pencapaian 2 sasaran tersebut di atas telah


dilakukan oleh Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota Batu seperti dirangkum dalam Tabel
3.36 berikut.
Tabel 3.36
Upaya Diversifikasi Tanaman Organik
No.
1

Uraian
Sosialisasi prosedur perijinan flora fauna dan
peredaran hasil hutan

Satuan

Target

Realisasi

Sosialisasi

100

Pengembangan Diversifikasi Tanaman


2

Bantuan bibit kopi dan cengkeh


Pengadaan Bibit Kopi dan Cengkeh

Pengembangan Intensifikasi Pekarangan

Penyediaan bibit mawar, pot beton dan pupuk


organik

Pengadaan Pot Beton

Peningkatan SDM dalam Memanfaatkan


Pekarangan Untuk Pengembangan Pangan

Komoditas

100

batang

8000

8000

100

Pohon, Pot,
Kg

1100, 110,
4430

1100, 110,
4430

Pot

110

110

TP PKK
desa

100
100.00

Sumber: Lakip Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Sebagai upaya untuk menjamin kemantapan proses go organic, Pemerintah Kota


Batu berkieinginan untuk membangun dan memiliki pasar induk agribisnis. Hal ini
dilakukan dengan membangun pusat perdagangan hasil pertanian organik maupun non
organik dengan fasilitas sarana prasarana yang memadai sekaligus mendukung
pemanfaatan pusat perdagangan ini agar dapat berfungsi optimal. Agar harapan ini dapat
terelisir, maka diperlukan jaminan kemantapan upaya pemasaran produk-produk
pertanian organic dan sejenisnya khususnya di wilayah Kota batu dan wilayah sekitarnya.
Tabel 3.37 menunjukkan cakupan upaya pemasaran hasil produksi pertanian apada
tahun 2013 yang ditargetkan sebanyak 2 paket. Realisasi uapaya pemasaran ini adalah 2
paket atau 100%.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

47

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.37
Evaluasi Pencapaian Sasaran 3.1.6
Terwujudnya pasar induk agribisnis
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Cakupan upaya pemasaran hasil


produksi pertanian.

Satuan

Tahun 2013

Target

Reali
sasi

Capaian
Kinerja (%)

Target

Reali
sasi

Capaian
Kinerja (%)

0.00

100.00

Paket

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Tabel 3.38 menunjukkan beberapa upaya yang telah dilakukan pada tahun 2013.
Tabel 3.38
Upaya Pemasaran hasil Pertanian Kota Batu Tahun 2013
No.
1
2
3
4
5
6
7
8

Uraian
Pengembangan Usaha Pengolahan dan Pemasaran Hasil
Perikanan
Gemarikan, Forikan
Pengembangan Pasar Dan Distribusi Barang / Produk
Tersedianya 3 Bahan Kebutuhan Pokok Bagi Masyarakat
Miskin di Kota Batu
Terlaksananya evaluasi penggunaan stand/lapak di Puspa
Agro dan pengadaan kontainer plastik
Pameran produk hasil pertanian/perkebunan Kota Batu
Pengadaan Dekorasi
Pengadaan Sewa Stand

Kampanye Gemar Minum Susu Segar dan Telur dan


Workshop Kesehatan Hewan Kurban

10

Pengadaan Snack Kampanye dan Snack Sosialisasi Gerakan


Gemar Minum Susu, Makan Ayam dan Telur

Satuan

Target

Realisasi

Sosialisasi

100

buah

4750

4750

100%

Buah

48

48

100

Pameran
paket
kali
Kampanye
dan
workshop

2
2
1

2
2
1

100
100
100

100

kotak

1530

1530

100

Sumber: Lakip Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Masih terkait dengan sasaran-sasaran tersebut di atas, Pemerintah Kota Batu


memandang perlunya dilakukan penguatan agrobisnis berbasis keunggulan komparatif
menuju agrobisnis berbasis keunggulan kompetitif. Hal ini dilakukan dengan jalan
mengarahkan semua pelaku agrobisnis untuk senantiasa menjaga dan meningkatkan
kualitas hasil pertanian dalam rangka merebut pasar nasional maupun internasional,
serta menggencarkan promosi hasil pertanian ke dalam pasar nasional dan internasional.
Tabel 3.39 berikut menunjukkan bahwa upaya penyediaan informasi produksi
pertanian/perkebunan ditargetkan 1 paket dan terealisasi 1 paket dengan capaian kinerja
100% pada tahun 2013.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

48

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.39
Evaluasi Pencapaian Sasaran 3.1.7
Terwujudnya penguatan agrobisnis berbasis keunggulan kompetitif
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD


Ketersediaan informasi produksi
pertanian/ perkebunan.

Satuan

Paket

Tahun 2013

Target

Reali
sasi

Capaian
Kinerja (%)

Target

Reali
sasi

Capaian
Kinerja (%)

0.00

100.00

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Capaian kinerja ini diperoleh melalui pelaksanaan program peningkatan system


dan jaringan informasi perdagangan dengan kegiatan; a). mengumpulkan dan
mengevaluasi data jaringan informasi perdagangan khususnya kebutuhan pokok yang
berasal dari 75 sumber data dan/atau informasi. Hasil dari kegiatan ini adalah dimilikinya
database tentang jaringan informasi perdagangan hasil pertanian/perkebunan di wilayah
Jawa Timur khususnya kebutuhan pokok masyarakat; b). peningkatan informasi hasil
produk pertanian/ perkebunan yang diperoleh dari 24 desa/kelurahan se Kota Batu
melalui TP PKK setempat serta pada saat momen peringatan Hari Pangan Sedunia.
Dalam kaitan dengan upaya pencapaian sasaran ini masih banyak kendala yang
ditemui. Kendala yang terutama adalah sebagai berikut:
a.
b.

c.
d.
e.

f.

g.
h.
i.

Belum terdapat alat mesin pengolahan hasil pertanian yang memenuhi standar
SNI alat pengolahan.
Terdapat keterbatasan jumlah pengadaan alat mesin pertanian yang akan
diberikan kepada Gapoktan/kelompok tani/buruh tani sebagai akibat
keterbatasan anggaran.
Kurangnya keterlibatan pengusaha dan stakeholders terkait di dalam
penyelenggaraan pameran produk pertanian.
Rendahnya tingkat koordinasi antara lembaga fungsional pertanian di tingkat
daerah dalam rangka penetapan pola tanam yang sistematis.
Lemahnya penguasaan IPTEK di bidang pertanian dan pemasaran yang
menghambat penyampaian informasi data harga dan pola mata rantai
pemasaran hasil pertanian terutama di tingkat petani sehingga menghambat
masuknya informasi peluang pasar produk hasil pertanian.
Keterbatasan modal kerja dan usaha petani mengakibatkan terhambatnya
peningkatan produktivitas pertanian baik di tingkat off-farm maupun on-farm
dan sulitnya memenuhi permintaan produk hasil pertanian yang berkelanjutan
Berkurangnya lahan pertanian khususnya lahan beririgasi teknis.
Adanya pergerakan pasar oleh petani secara parsial yang menyebabkan
terjadinya disparitas harga.
Berkaitan dengan sewa stand di pasar Induk Puspa Agro Sidoarjo, Gapoktan
pengelola stand terkendala oleh kondisi pasar yang hanya ramai dikunjungi
pada hari Sabtu dan Minggu sehingga hanya mengirimkan barang pada hari
tersebut guna menekan biaya pengiriman dan operasional stand.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

49

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Berbagai usaha dilakukan untuk menanggulangi hambatan dan/atau kendala


seperti tersebut di atas, antara lain: a). pengadaan alat mesin pertanian yang
berkelanjutan guna memenuhi kebutuhan alat mesin pertanian di Kota Batu, b). upaya
adanya standarisasi alat mesin pertanian yang sesuai dengan SNI dan kebutuhan petani
dan pengusaha pangan olahan, c). memperluas dan meningkatkan basis produksi secara
berkelanjutan yang diarahkan kepada kebijakan perwilayahan komoditas dan
peningkatan investasi swasta, d). mengadakan bimbingan teknis (Bimtek)/ pelatihan
tentang teknologi pengolahan, permodalan, kemitraan, dan pemasaran guna memperluas
dan memperkuat jaringan pemasaran hasil pertanian di Kota Batu, serta e). Berkaitan
dengan masalah stand di Pasar Induk Puspa Agro Sidoarjo, diperlukan adanya bantuan
operasional berupa kendaraan untuk mengirim produk hasil pertanian Kota Batu
sekaligus menekan biaya transportasi.
Tabel 3.40
berikut menunjukkan upaya penguatan aspek pasar yang
dimaksudkan agar menjaga kelangsungan mekanisme pasar yang sehat serta lebih
mengutamakan perlindungan usaha masyarakat lemah. Langkah ini dilakukan dengan
cara memantau dan menjaga stabilitas mekanisme pasar agar tidak terganggu oleh
tindakan-tindakan spekulan yang dapat merusak akses pasar, serta bilamana dipandang
perlu mengadakan tindakan penanggulangan lonjakan harga.
Tabel 3.40
Evaluasi Pencapaian Sasaran 3.1.8
Terwujudnya penguatan aspek pasar
Tahun 2012
No.

1
2

Indikator Target RPJMD


Stabilitas harga dan pasokan
pangan. (SPM)
Ketersediaan Energi dan Protein Per
Kapita

Tahun 2013

Tar
get

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

Persen

60

47.5

79.17

75

90

120.00

Persen

n.a

n.a

0.00

85.00

100.04

117.69

Satuan

Target

Realisa
si

Capaian
Kinerja
(%)

Penguatan Cadangan Pangan

Persen

n.a

n.a

0.00

50.00

51.64

103.28

Ketersediaan Informasi Pasokan,


Harga dan Akses Pangan di Daerah

Persen

n.a

n.a

0.00

90.00

95.83

106.48

Skor Pola Pangan Harapan (PPH)

Persen

n.a

n.a

0.00

86.00

85.50

99.42

Pengawasan dan Pembinaan


Keamanan Pangan

Persen

n.a

n.a

0.00

100.00

100.00

100.00

Penanganan Daerah Rawan Pangan

Persen

n.a

n.a

0.00

30.00

36.00

120.00

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Tabel di atas menunjukkan capaian kinerja yang variatif untuk masing-masing


indicator kinerja. Secara umum capaian kinerja dapat melampaui target yang telah
ditetapkan (>100%) kecuali untuk indicator skor pangan harapan yang mencapai 99,42%.
Secara keseluruhan capaian kinerja sasaran ini mencapai 109,55% sehingga masuk
kategori Sangat Berhasil. Sedangkan untuk lebih mengefektifkan upaya yang dilakukan
Pemerintah Kota Batu merencanakan untuk memperluas dan meningkatkan basis
produksi secara berkelanjutan yang diarahkan kepada kebijakan perwilayahan komoditas
dan peningkatan investasi swasta, serta memfasilitasi perolehan tambahan modal kerja

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

50

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

dan usaha petani untuk mengatasi terhambatnya peningkatan produktivitas pertanian


baik di tingkat off-farm maupun on-farm sehingga diharapkan mampu memenuhi
permintaan produk hasil pertanian secara berkelanjutan.
Selanjutnya untuk mencapai sasaran terwujudnya sistem informasi produksi,
distribusi, dan pasar komoditas pertanian, maka perlu diambil langkah-langkah
pengembangan sistem informasi produksi, distribusi, dan informasi pasar untuk produk
organic dengan cara mengembangkan sarana informasi untuk menginformasikan
berbagai informasi pasar komoditas pertanian. Sasaran ini merupakan implementasi dan
pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang Ketahanan Pangan yang
ditetapkan oleh Pemerintah Pusat.
Tabel 3.41
Evaluasi Pencapaian Sasaran 3.1.9
Terwujudnya sistem informasi produksi, distribusi, dan pasar komoditas pertanian
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Satuan

Ketersediaan informasi pasokan


harga dan akses pangan di daerah.
(SPM)

Persen

Tar
get

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

60

73

121.67

Tahun 2013
Tar
get

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

88

90

102.27

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Tabel 3.41 menunjukkan bahwa target ketersediaan informasi pasokan harga


dan akses pangan di Kota Batu mencapai 90,0%. Hal ini berarti melebihi target yang
ditetapkan sebesar 88,0& sehingga capaian kinerjanya adalah 102,27% untuk tahun
2013. Meskipun skor capaian kinerja tahun ini lebih rendah dibandingkan tahun
sebelumnya yakni 2012 namun secara relative ketersediaan informasi harga dan pangan
di Kota Batu adalah lebih baik dan mengalami peningkatan yaitu dari 73,0% tahun 2012
menjadi 90% tahun 2013.
Kendala yang dihadapi dalam hal ini, sebagaimana telah dikemukakan, adalah
masih lemahnya penguasaan IPTEK di bidang pertanian dan pemasaran yang
menghambat penyampaian informasi data harga dan pola mata rantai pemasaran hasil
pertanian terutama di tingkat petani sehingga menghambat masuknya informasi harga
serta peluang pasar produk hasil pertanian. Selain itu, pergerakan pasar oleh petani
secara parsial (individual dan tidak terkordinir) menyebabkan terjadinya disparitas harga
di pasaran
Tabel 3.42 berikut merangkum hasil pelaksanaan program dan kegiatan yang
terkait dengan hal ini selama tahun 2013.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

51

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.42
Pengembangan Sistem Informasi Pasokan Harga dan Akses Pangan
No.

Uraian

Satuan

Target

Realisasi

Lembar

100.00

Stock Cadangan Pangan Daerah Kota Batu

Zak Beras

360

360

100.00

Peningkatan SDM dalam Memanfaatkan Pekarangan


Untuk Pengembangan Pangan

Kelompok

100.00

Terlaksananya rapat penyusunan Data Base Potensi


Produk Pangan

Unit
(Lumbung
Pangan )

100.00

Unit

100

Updating data lahan baku sawah dan data statistik


pertanian

Unit

100

Sosialisasi

100

Tersedianya Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan


Kota Batu

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Sasaran berikutnya adalah Meningkatnya kualitas dan kuantitas penyuluhan yang


dapat diberikan kepada masyarakat petani. Hal ini diarahkan dalam rangka
pengembangan SDM penyuluh pertanian dan sarana prasarana untuk mendukung
pengembangan pertanian organic dengan menyediakan sarana prasarana yang
dibutuhkan untuk menyelenggarakan proses
penyuluhan pertanian, serta
mengembangkan keahlian SDM penyuluh pertanian. Tabel 3,43 menyajikan capaian
kinerja sasaran ini.
Tabel 3.43
Evaluasi Pencapaian Sasaran 3.1.10
Meningkatnya kualitas dan kuantitas penyuluhan yang dapat diberikan kepada masyarakat petani.
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Tahun 2013

Target

Rea
lisa
si

Capaian
Kinerja
(%)

Tar
get

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

Satuan

Persentase jumlah penyuluh


pertanian yang mendapat update
pengetahuan pertanian organik.

Persen

n.a

n.a

0.00

25

0.00

Ketersediaan sarana penyuluhan


pertanian.

Persen

100

100

100.00

100

100

100.00

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Tabel 3.43 menunjukkan bahwa terdapat 2 indikator sasaran yang keduanya


terealisir pada tahun 2013. Pada tahun ini telah dilaksanakan upaya peningkatan
pengetahuan pertanian organic kepada para penyuluh pertanian di Kota Batu dengan
realisasi 25,0%. Akan tetapi hal ini tidak ditargetkan pada tahun ini dan tahun
sebelumnya (2012) sehingga kinerjanya tidaak dapat diukur. Sementara itu, ketersediaan
sarana penyuluh pertanian sudah dipersiapkan sejak lama di seluruh wilayah Kota Batu
sehingga realisasinya mencapai 100% baik untuk tahun ini (2013) maupun tahun
sebelumnya. Dengan demikian capaian kinerja sasaran ini adalah 50% dengan kategori
Cukup. Tabel berikut menyajikan upaya penyuluhan yang dilakukan pada tahun 2013.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

52

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.44
Upaya Penyuluhan Pertanian Organik Tahun 2013

No.

Uraian

Satuan

Target

Realisasi

Pertemuan

100

Terlaksananya Studi Banding, Alat Laboratorium Peternakan,


Obat-obatan hewan dan Vaksin

paket

100

Pengadaan Bahan Obat-obatan

paket

100

Pengadaan Bahan Kimia

paket

100

Belanja Transportasi, Akomodasi dan Konsumsi studi banding


RPH

orang

30

30

100

Pengadaan Alat-alat Laboratorium Peternakan

paket

100

Peningkatan Kapasitas Tenaga Penyuluh Pertanian


1
Terlaksananya Penyusunan Programa
Pemeliharaan Kesehatan dan Pencegahan Penyakit Menular
Ternak

Sumber: Lakip Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Kesimpulan:
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kinerja untuk Misi 3 yakni: Mengembangkan
Pertanian Organik dan Perdagangan Hail Pertanian Organik memiliki capaian kinerja
93,68% pada tahun 2013 sehingga termasuk kategori Berhasil.

Pembangunan menuju kondisi masa depan disesuaikan dengan


keunggulan yang dimiliki oleh Kota Batu, yaitu keunggulan pariwisata.
Peningkatan status menjadi Kepariwisataan Internasional diharapkan
Meningkatkan Posisi
mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat, meningkatkan
Peran dari Kota Sentra
pendapatan asli daerah, meningkatkan investasi, dan membuka
Pariwisata Menjadi Kota
kesempatan kerja bagi masyarakat. Di sisi lain, pengelolaaan
Kepariwisataan
Internasional
pariwisata yang lebih menarik diharapkan mampu mendukung
pembangunan sektor pertanian organik dengan peningkatan jumlah
wisatawan yang berkunjung, karena wisatawan yang berkunjung dapat menjadi segmen pasar dari hasil
produk pertanian organic; Serta dapat mengatasi (isu) kerusakan lingkungan, karena keunggulan (wisata)
alam akan mendorong upaya pemeliharaan secara optimal.

Misi 4:

Tujuan:
Mewujudkan Kota Batu sebagai destinasi pariwisata internasional.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

53

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Pariwisata merupakan salah satu potensi Kota Batu selain pertanian, Industri ini
meliputi penginapan dan sarana akomodasi lainnya. Pemerintah Kota Batu terus
berupaya untuk membangun dan mengembangkan potensi pariwisata karena wilayah ini
telah dikenal baik regional maupun nasional. RPJMD Kota Batu 2012-2017 bahkan
mengamanatkan bahwa dalam jangka waktu lima tahun ke depan Kota Batu bias
diwujudkan sebagai destinasi wisata internasional Batu Destination berbasis budaya
lokal dan agrowisata.
Urusan pariwisata di Kota Batu dilaksanakan oleh Dinas Pariwisata dan
Kebudayaan. Di dalam implementasi Program Pengembangan Destinasi Pariwisata
(Dedicated) berkoordinasi dan/atau bekerjasama dengan seluruh SKPD terkait terutama
Dinas Cikartarung dan Dinas Perhubungan Kota Batu. Pada tahun 2013 urusan
Pariwisata mendapatkan alokasi anggaran sebesar Rp.5.862.230.000,00 dan terealisasi
sebesar Rp.5.536.479.674,00 atau 94,44%. Anggaran tersebut digunakan untuk
melaksanakan 3 (tiga) program dengan 16 (enambelas) kegiatan.
Tabel 3.45 menunjukkan capaian kinerja sasaran mewujudkan Kota Batu sebagai
destinasi pariwisata internasional berbasis budaya local dan agrowisata,
Tabel 3.45
Evaluasi Pencapaian Sasaran 4.1.1
Terwujudnya Kota Batu sebagai destinasi wisata internasional Batu Destination
berbasis budaya lokal dan agrowisata
Tahun 2012
No.

2
3
4
5
6
7
8

Indikator Target RPJMD

Jumlah obyek wisata unggulan


berbasis budaya lokal dan
agrowisata.

Cakupan Kajian Seni (50%)


Cakupan Fasilitasi Seni (30%)
Cakupan Gelar Seni (75%)
Misi Kesenian (100%)
Cakupan Sumberdaya Manusia
Kesenian (25%)
Cakupan Tempat (100%)
Cakupan Organisasi

Tahun 2013

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

ODTW
Unggulan

0.00

100.00

ODTW

12

12

100.00

14

14

100.00
214.30

Satuan

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

Situs yg
dilestari
kan (%)
Kegiatan
Kegiatan
Kegiatan
Kegiatan

20

20

100.00

20

42.86

n.a
n.a
n.a
n.a

n.a
n.a
n.a
n.a

0.00
0.00
0.00
0.00

8
3
3
2

5
3
3
1

62.50
100.00
100.00
50.00

Persen

n.a

n.a

0.00

100.00

Persen
Persen

n.a
n.a

n.a
n.a

0.00
0.00

1
2

1
2

100.00
100.00

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Sasaran tersebut secara utuh tidak mungkin bias dicapai hanya dalam waktu
satu tahun. Diperlukan berbagai langkah strategis dan proses serta waktu untuk
melaksanakannya. Dalam hal ini langkah yang diambil Pemerintah Kota Batu adalah
sebagai berikut:

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

54

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

1. Menyusun rencana induk pengembangan pariwisata kota yang


berwawasan internasional dalam peraturan daerah.
2. Menyusun strategi dan grand desain penyiapan sistem dan struktur sosial
dalam mendukung kepariwisataan internasional.
3. Menyusun kebijakan kepariwisataan dalam bentuk peraturan daerah.
4. Memfasilitasi berdirinya Daerah Tujuan Wisata unggulan baru ASEAN
CULTURE PARK yang berwawasan internasional.
5. Mengembangkan Kota Batu secara makro menuju perwujudan Batu
Destination.
6. Mengembangkan desa/kelurahan menjadi desa wisata berdasarkan
pada potensi masing-masing wilayah.
7. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam upaya mewujudkan Batu
Destination.
8. Menyiapkan infrastruktur kepariwisataan internasional.

Tabel 3.45 menunjukkan hasil dari proses langkah-langkah menuju


pencapaian sasaran ini. Dari Tabel tersebut dapat diketahui bahwa capaian kinerja
secara keseluruhan dari 8 indikator kinerja sasaran ini adalah 102,68% sehingga
termasuk kategori Sangat Berhasil. Namun demikian, capaian indicator kinerja
bervariasi dimana 2 indikator kinerja tidak tercapai yang mana keduanya ternasuk
sebagian dari target Standar Pelayanan Minimal bidang Kesenian yakni cakupan
kajian seni (62,50%) dan misi kesenian (50,0%). Sedangkan 6 indikator lainnya
tercapai sebagaimana ditargetkan dan bahkan menunjukkan perkembangan positif
dibandingkan dengan tahun sebelumnya (2012).
Hasil yang dicapai pada tahun 2013,adalah lebih efektifknya pengelolaan
potensi 14 obyek daya tarik wisata (ODTW) antara lain:
a) Pemandian selecta
b) Kusuma Agro Wisata
c) Jatim Park
d) Air Panas Cangar
e) Pemandian Songgoriti
f) Batu Night Spectacular (BNS)
g) Petik Apel Makmur Abadi
h) Vihara Dammadhipa Arama
i) Museum Satwa
j) Beji Outbond
k) Rafting Kaliwatu
l) Ingu Laut Florist
m) Kampoeng Kidz
n) Banyu Brantas Rafting
o) Desa Wisata

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

55

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Di sisi lain, sektor Agrowisata di Kota Batu memiliki potensi kuat yang didukung
dengan keadaan alam dan lingkungannya yang kondusif, akan tetapi masih perlu
dilakukan pengembangan sarana dan prasarana lebih lanjut secara optimal dengan tetap
memperhatikan faktor kelestarian lingkungan. Pada umumnya semua obyek wisata yang
ada di Kota Batu selalu menampilkan potensi pertanian yang ada di Kota Batu dan
sekaligus bisa dibeli pengunjung sebagai oleh-oleh. Mulai dari hasil produksi sayuran
dataran tinggi seperti kentang, kubis, wortel, kembang kol dsb, kemudian berbagai jenis
tanaman hias, bunga potong serta hasil produksi buah-buahan seperti apel, jeruk,
strawberi dan yang tak kalah menarik adalah hasil produk olahan pangan berbahan dasar
apel dan produk pertanian yang lain. Obyek Wisata yang berbasis budaya lokal dan
agrowisata di Kota Batu antara lain:
1.
2.
3.
4.

Tanaman Hias di sepanjang Jl. Bukit Berbunga Desa Sidomulyo


Pasar Bunga dan STA (Sub Terminal Agribisnis) Desa Sidomulyo
Wisata Ikan (kolam dan kuliner) di PBI (Pasar Benih Ikan) Desa Sidomulyo.
Wisata Selekta dengan pedagang bunga dan buah apel serta pangan olahan
untuk oleh-oleh.
5. Wisata hutan rakyat di Cangar Desa Sumberbrantas.
6. Wisata Bunga Potong (Krisan) di Perusahaan Inggu Laut Desa Tulungrejo.
7. Wisata Bunga Potong (Mawar) di Desa Gunungsari.
8. Wisata petik Apel, Jambu biji dan Strawberi di Kusuma Agrowisata Batu.
9. Wisata Desa Ternak Sapi Perah di Desa Oro-oro Ombo.
10. Desa Wisata, sampai tahun 2013 yaitu: Desa/Kelurahan Temas, Oro-oro
Ombo, Sidomulyo, Sumberejo, Bumiaji, Pandanrejo, Giripurno, Bulukerto,
Tulungrejo, Gunungsari, Punten, Sumber Brantas, Torongrejo, Beji, dan
Tlekung.
Hasil yang lain dari proses mewujudkan Batu Destination tahun 2013 di
antaranya adalah: a). Pembangunan area arca ganesha di Desa Torongrejo, b).
Konstruksi papan nama desa, c), pavingisasi Punden Desa Torongrejo, dan d).
pavingisasi area parkir Desa Oro-oro Ombo, serta e). Konstruksi gazebo Coban Putri di
Desa Tlekung. Hasil tersebut ditunjukkan pada Tabel 3.46 berikut.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

56

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.46
Kegiatan Pendukung Batu Destination Tahun 2013

No.
1

Uraian
Fasilitasi anugrah wisata nasional, cipta award dan sapta
pesona
Pembangunan konstruksi gazebo Desa Gunungsari;
Pembangunan konstruksi papan nama desa;
Pembangunan pavingisasi punden Torongrejo;
Pembangunan pavingisasi area parkir desa oro-oro
ombo;

Satuan

Target

Realisasi

kegiatan

66.67

kegiatan

75.00

Pelaksanaan koordinasi dengan PHRI/pengelola pelaku


usaha pariwisata;
Fasilitasi lomba makanan khas;

kegiatan

100.00

Pembangunan gazebo coban putri desa tlekung

kegiatan

100.00

Peningkatan pengetahuan pengelolaan Hotel,


penginapan dan wisata kuliner

kegiatan

100.00

Sumber: Lakip Dinas Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Selanjutnya pencapaian sasaran penguatan citra industry pariwisata Kota Batu


dalam industry pariwisata internasional sebagaimana terekam pada Tabel 3.47 berikut.
Tabel 3.47
Evaluasi Pencapaian Sasaran 4.1.2
Terwujudnya penguatan citra industri pariwisata Kota Batu
dalam industri pariwisata internasional
Tahun 2012

Tahun 2013

Tar
get

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

Kegiata
n

0.00

200.00

Hotel
bintang

0.00

71.43

Buah

0.00

0.00

No.

Indikator Target RPJMD

Satuan

Jumlah pembinaan terhadap elemen


masyarakat dalam upaya pelibatan
masyarakat dalam mendukung
pariwisata.

Keterpenuhan standar
kepariwisataan internasional.

Ketercantuman Kota Batu dalam


direktori pariwisata nasional maupun
internasional.

Tar
get

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Melihat tingginya potensi wisata pertanian di Kota Wisata Batu, Pemerintah Pusat
melalui Menteri Perencanaan Pembangunan dan Kepala Bappenas mengusulkan agar
Kota Wisata Batu rajin menggelar event wisata tingkat nasional maupun internasional.
Untuk menunjang pembangunan pariwisata di kota ini, Kementrian Perencanaan
Pembangunan Nasional akan melakukan pembinaan, sehingga potensi yang ada di Kota
Batu mampu menjadi destinasi nasional kebanggaan Indonesia. Hal ini karena paradigma
pembangunan pariwisata di Kota Batu adalah pariwisata yang berkelanjutan yang
mempunyai makna mengembangkan perekonomian dengan diikuti budaya lokal.
Sehingga apa yang dilakukan Kota Wisata Batu bersinergi dengan Kementrian
Pariwisata.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

57

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.47 di atas menunjukkan capaian 3 indikator kinerja sasaran ini dimana 2
sasaran tidak mencapai target yang diharapkan sedangkan 1 indikator tercapai
melampaui target. Secara keseluruhan capaian kinerja sasaran ini aalah sebesar 90,48%
sehingga termasuk kategori Sangat Berhasil. Namun demikian indicator keterpenuhan
standar kepariwisataan internasional hanya tercapai 71,43% yang terutama ditopang oleh
ketersediaan 5 (lima) hotel berbintang di Kota Batu. Standar yang lain seperti
ketersediaan atraksi dan SDM pariwisata yang professional masih dalam taraf
pengembangan. Di sisi lain, indicator ketercantuman Kota Batu dalam direktori pariwisata
nasional maupun internasional belum dapat sepenuhnya dilakukan dengan baik terutama
dalam skala internasional. Ketercantuman Kota Batu di dalam Asia Travel and Tourism
Directory (ATTD), World Tourism Directory (WTD); Pacific Asia Travel Association
(PATA), Eco Tourism Club (ETC); World Travel and Tourism Council (WTTC) masih akan
dirintis tahun 2014, Sampai saat ini ketercantuman dalam directory internasional masih
terbatas pada keanggotaan hotel chain internasional secara individual. Pemanfaatan
website resmi Pemerintah Kota Batu juga dipandang masih belum maksimal. Saat ini
yang tersedia adalah Buku Pedoman Pariwisata Kota Batu yang diterbitkan tahun 2013.
Di sisi lain, sampai sampai saat ini, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bat
uterus gencar melakukan pembinaan terhadap berbagai elemen masyarakat agar
keterlibatan mereka dalam mendukung pariwisata Kota Bat uterus meningkat. Tabel 3.48
menginformasikan upaya tersebut selama tahun 2013.
Tabel 3.48
Pembinaan Masyarakat Mendukung Pariwisata Kota Batu 2013
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

Uraian
Penampilan kelompok-kelompok kesenian
dalam event-event tertentu
Pembangunan area arca ganesha desa
torongrejo;
register dan dokumen bangunan kolonial
alat kesenian dan sound system untuk
sanggar seni
Tersusunnya Data Base Adat Istiadat dan Nilai
Sosial Budaya di Kota Batu
pementasan dan gelar kesenian akhir pekan
dan operasional gedung kesenian
selamatan desa masyarakat Kota Batu
karya tari, lagu daerah, band indie,pawai
budaya,wayang,MTF,
Pesta Rakyat
survey ekskavasi arkeologi di Situs Petirtaan
Beji
senam sehat dan acara kesenian untuk
mendukung acara Car Free Day
pentas seni di Taman Mini Indonesia Indah
dan Provinsi Jawa Timur
Penghijauan Jalan Desa, Sungai, Tegal dan
Pekarangan
Pengadaan Bahan/Bibit Tanaman (Mahoni,
Sengon Laut, Mangga, Nangka)
Pengadaan Pakaian Kerja Lapangan (Kaos
Puncak Aksi, Sarung Tangan, Sepatu Boot)
Pengadaan Makanan dan Minuman Kegiatan
Puncak Aksi

Satuan

Target

Realisasi

kegiatan

100.00

kegiatan

100.00

kegiatan

100.00

set

100.00

Desa/Kel.

24

24

100

pementasan

20

20

100.00

desa

100.00

kegiatan

114.29

situs

100.00

kali

40

40

100.00

kegiatan

50.00

Lokasi

100

pohon

6000

6000

100

paket

100

paket

100

Sumber: Lakip Dinas Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

58

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Sasaran berikutnya adalah Tersebarluaskannya promosi keunggulan dan


kenyamanan wisata Kota Batu. Sasaran ini dimaksudkan untuk promosi pariwisata
daerah dan pemantapan city branding Batu sebagai Kota Wisata di tingkat nasional dan
internasional dan Memperkuat kerjasama bidang pariwisata antar daerah dalam provinsi
dan luar provinsi untuk peningkatan perekonomian daerah. Tabel 3.49 berikut
menunjukkan capaian kinerja sasaran ini yang secara keseluruhan mencapai 96,18%
dengan kategori Sangat Berhasil.
Tabel 3.49
Evaluasi Pencapaian Sasaran 4.1.3
Tersebarluaskannya promosi keunggulan dan kenyamanan wisata Kota Batu
Tahun 2012
No.

Indikator Target
RPJMD
Jumlah kunjungan
wisata.
Jumlah upaya
pemasaran
pariwisata yang
dilakukan melalui
berbagai media
dan Local Based
Advertising (LBA).
Jumlah wujud
kerjasama
promosi
pariwisata dengan
daerah Malang
Raya dan daerah
yang berbatasan
dengan Kota Batu.

Tahun 2013

Target

Realisasi

Capaian
Kinerja
(%)

Wisataw
an

2E+06

3E+06

109.57

3E+06

3E+06

121.90

Kegiatan

10

111.11

13

12

92.31

Kegiatan

0.00

0.00

%
Promosi

0.00

10

16.67

166.70

Pusat
Informa
si

100.00

100.00

Satuan

Target

Realisasi

Capaian
Kinerja
(%)

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Pada tahun 2012


Gambar 3.4
Dinas
Pariwisata
dan
Kunjungan Wisatawan ke Kota Batu
Tahun 2008-2013
Kebudayaan
Kota
Batu
3.292.298
mencatat
kunjungan
3.500.000
3.250.000
wisatawan
sebesar
3.000.000
2.547.855
2.547.855 wisatawan baik
2.750.000
2.500.000
2.084.487 2.030.191
domestik maupun manca
2.250.000
1.906.170
2.000.000
negara
atau meningkat
1.750.000
25,5%
dari
tahun
1.180.042
1.500.000
1.250.000
sebelumnya. Pada Tahun
1.000.000
2013 kunjungan wisatawan
750.000
500.000
meningkat kembali menjadi
250.000
3.292.298 wisatawan atau
meningkat 29,20% seperti
2008
2009
2010
2011
2012
2013
terlihat dari Gambar 3.4.
Sumber: BPS Kota Batu dan Hasil analisis, 2014
Pada tahun 2013 target
kunjungan wisatawan baik domestic maupun manca Negara ditetapkan sebesar

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

59

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

2.700.726 orang. Capaian kinerja Kunjungan Wisatawan ke Kota Batu tahun 2013
sebesar 3.292.298 wisatawan telah melampaui target sebesar 21,90% atau 591.572
wisatawan dari yang ditetapkan dalam varian RPJMD sebanyak 2.700.726 wisatawan
domestic maupun manca Negara. Tabel 3.50 manyajikan upaya promosi pariwisata Kota
batu tahun 2013.
Tabel 3.50
Promosi Pariwisata Kota Batu Tahun 2013

No.
1
2

3
4

Uraian
Website
Media TV Nasional;
Media elektronik visual (TV Bandara);
SMS LBA;
Media cetak
Keikutsertaan pada acara-acara pameran dan
melaksanakan promosi ke luar daerah
Penerbitan Buku statistik kunjungan wisatawan di Kota
Batu
Booklet,
Leaflet,
Stiker,
DVD (Kota, Desa, Shinning Kota Batu),
Banner,
Sewa media iklan (Bandara juanda luar-dalam,
Bandara Abd. Saleh, Pandaan, Batu),
Buku
Festival paralayang;
Launching Branding Kota Batu;
Batu Flora Festival;
Gempita Kota Wisata Batu;

Satuan

Target

Realisasi

kegiatan

100.00

media

100.00

kegiatan

100.00

buku

30

30

100.00

media

100.00

kegiatan

75.00

Sumber: Lakip Dinas Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Pemkot Batu melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Dispartabud) pada


tahun 2013 menggelar event/expo yaitu: a). Batu Night Criterium International tanggal 30
November 2013; b). Majapahit Travel Fair 2013 tanggal 16 Mei 2013; c). Pekan Wisata
Nasional tanggal 2 Mei 2013 di JEC Jogja, dan d). Batu Travel Mart tanggal 26
November 2013 di Kota Batu. Selain itu di tahun ini Kota Batu juga menyelenggarakan
even-even untuk menarik kunjungan wisatawan domestic maupun manca Negara antara
lain:
a. Kegiatan tahunan :
i. Launching Branding Kota Batu tanggal 20 Mei 2013
ii. Festival Paralayang tanggal 21 Juni 2013
iii. Batu Flora Festival tanggal 9 November 2013
b. Pementasan kesenian setiap akhir pekan sebanyak 20 kali
c. Festival adat budaya daerah :
i. Festival Band Indie
ii. Festival Karya Tari
iii. Festival Lagu Daerah
iv. Semipro

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

60

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

v.
vi.
vii.
viii.

Festival Karawitan
Pawai Budaya
MTF
Pawai Sanduk

Batu Flower Festival di Stadion Gelora Brantas Kota Wisata Batu. Kegiatan ini
merupakan agenda tahunan yang dilaksanakan sebagai refleksi perwujudan Kota Batu
sebagai sentra wisata di Jawa Timur, serta ikonnya Kota Wisata sebagai penghasil
berbagai macam bunga segar dari seluruh dunia dan penghasil buah apel. Even tersebut
akan mampu mempromosikan Kota Batu sebagai Kota Wisata dan mampu
mengembangkan marketing dan daya saing hasil bunga dari masyarakat Kota Wisata
Batu ke seluruh dunia.
Komitmen dan konsistensi Pemerintah Kota Batu dalam mengemban visi dan
misi pengembangan pariwisata berbasis agropolitan tersebut telah membuahkan hasil
dengan semakin meningkatnya kunjungan wisatwan, berkembangnya agrobisnis, serta
semakin dikenalnya Kota Batu di dunia internasional. Terkait dengan hal tersebut, pada
tahun 2013 Pemerintah Kota Batu menerima penghargaan:
a. Penghargaan Stand Pameran terbaik pada Pekan Wisata Nasional di Jogja
Expo Center Yogyakarta pada bulan April 2013
b. Juara 1 Tingkat Nasional Cipta Award Kategori "DTW Buatan Yang Dikelola
oleh BUMS skala besar"
c. Kota Batu mendapat penghargaan dalam Anugrah Wisata Jatim kategori :
"Kota/Kabupaten yang Berprestasi Dalam Kejuaraan/Penghargaan Tingkat
Nasional"
Berikut adalah evaluasi sasaran ketersediaan SDM kepariwisataan yang
kompeten dan professional. Untuk mewujudkan hal ini, dalam jangka menengah
Pemerintah Kota Batu berkomitmen untuk: a). memberi dukungan kepada sekolah
kejuruan bidang kepariwisataan untuk menyesuaikan materi pembelajaran dengan
keahlian dan ketrampilan yang dibutuhkan oleh dunia kerja kepariwisataan, b).
menyelenggarakan pelatihan dan pendampingan pengelolaan wisata internasional, dan
c). meningkatkan profesionalitas pekerja sektor pariwisata melalui pendidikan di Balai
Latihan Kerja. Tabel 3.51 menunjukkan bahwa jumlah pembinaan yang dilakukan
terhadap SDM Pariwisata memiliki capaian kinerja 92,31% yakni dari 26 kali pembinaan
terealisasi 24 kali pembinaan pada tahun 2013. Jumlah frekuensi pembinaan ini relative
sama dibandingkan tahun sebelumnya yakni 2012.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

61

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.51
Evaluasi Pencapaian Sasaran 4.1.4
Tersedianya SDM kepariwisataan berkompentensi dan profesional.
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Jumlah pembinaan terhadap SDM


pariwisata.

Satuan

Kegiatan

Tahun 2013

Target

Reali
sasi

Capaian
Kinerja (%)

Target

Reali
sasi

Capaian
Kinerja (%)

24

24

100.00

26

24

92.31

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Sedangkan jenis dan/atau hasil pembinaan yang dilakukan disajikan pada Tabel 3.52
berikut.
Tabel 3.52
Jenis Pembinaan SDM Pariwisata Kota Batu Tahun 2013

No.

Uraian

Satuan

Target

Realisasi

buku

30

30

100.00

kegiatan

100.00

Sosialisasi Buku Pedoman Pariwisata di Kota Batu

Pemilihan dan fasilitasi kangmas nimas dalam pengiriman


berbagai even

Pusat Informasi Pariwisata

bulan

12

12

100.00

Pelatihan ojek wisata,


Pelatihan dokar wisata,
Pelatihan homestay,
Pelatihan pemandu wisata

kegiatan

100.00

Bekerjasama dengan masyarakat, serta pelaksanaan kampanye


sadar wisata & pemberdayaan pokdarwis

kegiatan

100.00

Sumber: Lakip Dinas Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Hasil evaluasi sasaran terwujudnya SDM kepariwisataan dengan standar internasional


disajikan pada Tabel 3.53 berikut.
Tabel 3.53
Evaluasi Pencapaian Sasaran 4.1.5
Terwujudnya SDM kepariwisataan dengan standarisasi internasional.
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Jumlah SDM pariwisata yang


mendapat pembinaan.

Satuan

Orang

Tahun 2013

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

0.00

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

15

16

106.67

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

62

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel menunukkan bahwa capaian kinerja SDM pariwisata yang mendapatkan


pembinaan adalah 106,67% dengan kategori Sangat Berhasil. Pada tahun 2013 jumlah
orang yang mendapatkan pelatihan kepariwisataan standar internasional mencapai 16
orang sedangkan yang ditargetkan adalah 15 orang. Tahun sebelumnya belum ada target
untuk indicator sasaran ini.
Kesimpulan:
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kinerja untuk Misi 4 : Meningkatkan Posisi
Peran dari Kota Sentra Pariwisata Menjadi Kota Kepariwisataan Internasional secara
keseluruhan memiliki capaian kinerja 97,66% pada tahun 2013 sehingga termasuk
kategori Sangat Berhasil.

Misi 5:
Optimalisasi Investasi
Daerah

Pembangunan Kota Batu menuju kondisi masa depan


diharapkan mampu menggerakkan roda perekonomian
masyarakat, meningkatkan pendapatan asli daerah,
meningkatkan investasi, dan membuka kesempatan kerja
bagi masyarakat.

Tujuan:
Mengoptimalkan investasi daerah ke arah peningkatan kesejahtaraan masyarakat;
dan
Membentuk keterpaduan antara pemerintah, pengusaha, dan pekerja dalam proses
kerja.
Salah satu arah kebijakan dala mengoptimalkan investasi di Kota Batu adalah
mempertahankan keberadaan investasi yang ada, dan menarik investasi baru melalui
penciptaan iklim investasi yang kondusif, pengembangan kerjasama investasi antara
pemerintah daerah dengan swasta, perencanaan dan pengembangan kawasan ekonomi
khusus, serta pembentukan lembaga investasi yang dapat memfasilitasi percepatan
proses penanaman modal. Hal ini dicapai dengan cara menyediakan informasi yang
berhubungan dengan bidang usaha unggulan daerah dan potensi sumber daya unggulan
daerah.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

63

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.54
Evaluasi Pencapaian Sasaran 5.1.1
Terpeliharanya keberadaan investasi yang sudah ada
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Cakupan informasi peluang usaha


sektor/bidang usaha unggulan.
(SPM)

Satuan

Tahun 2013

Target

Reali
sasi

Capaian
Kinerja (%)

Target

Reali
sasi

Capaian
Kinerja (%)

leaflet

0.00

2000

2000

100.00

booklet

0.00

500

500

100.00

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Tabel 3.54 menunjukkan informasi bahwa indicator cakupan informasi peluang


usaha unggulan di Kota Batu dapat direalisasikan dengan capaian kinerja 100% pada
tahun 2013. Langkah ini dilakukan dengan mencetak dan mendistribusikan 2.000 leaflet
dan 500 booklet kepada berbagai pihak dan pelaku usaha yang dipandang potensial
untuk menanamkan modalnya di Kota Batu. Informasi yang diberikan mencakup prospek
usaha serta berbagai peluang usaha sektoral terutama di bidang pariwisata dan
agribisnis serta fasilitasi, prosedur pelayanan dan kemudahan yang diberikan oleh
Pemerintah Kota Batu.
Dengan upaya yang berkelanjutan tersebut, laju pertumbuhan investasi di Kota
Batu dari tahun ke tahun selama lima tahun terakhir yakni tahun 2008-2013 terus
mengalami peningkatan meskipun sedikit berfluktuasi yang berkorelasi dengan
perkembangan terkini kondisi ekonomi makro nasional dan provinsi Jawa Timur. Laju
pertumbuhan investasi antar waktu sejak tahun 2008-2013 mencapai 16,61 Persen.
Kondisi ini ditunjang pula dengan semakin besarnya distribusi kredit perbankan di Kota
Batu. Berdasarkan Laporan Bank Indonesia laju pertumbuhan kredit di Kota Batu tahun
ini sebesar 43,01% (yoy) dengan porsi terbesar terletak pada sektor Perdagangan, Hotel,
dan Restoran yang mencapai Rp.132.265 juta dengan growth mencapai 111,82 Persen.
Angka-angka tersebut menunjukkan komitmen dan hasil Pemerintah Kota Batu untuk
terus membangun perekonomian dalam rangka mengurangi tingkat kemiskinan dan
pengangguran terbuka di wilayah Kota Batu di antaranya dengan menjaga dan terus
memperbaiki iklim investasi.
Terkait dengan hal di atas, berikut adalah evaluasi masuknya investor baru ke
Kota Batu sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 3.55. Dalam hal ini Pemerintah Kota
Batu menetapkan kebijakan untuk kerjasama pemerintah kota dengan swasta dalam
rangka pembiayaan pembangunan kota. Langkah yang ditempuh antara lain dengan
Menyusun sistem perijinan dan penataan lingkungan usaha yang kondusif bagi
penciptaan kepastian investasi.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

64

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.55
Evaluasi Pencapaian Sasaran 5.1.2
Masuknya investor baru ke Kota Batu;
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Cakupan informasi berbagai potensi


sumber daya unggulan daerah.

Satuan

leaflet

Tahun 2013

Target

Reali
sasi

Capaian
Kinerja (%)

Target

Reali
sasi

Capaian
Kinerja (%)

0.00

2000

2000

100.00

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Berdasarkan informasi dari table di atas, capaian kinerja indicator ini adalah
100% sesuai dengan yang ditargetkan sehingga termasuk kategori Sangat Berhasil,
Salah satu investor baru yang merealisasikan investasi di Kota Batu adalah Singhasari
Hotel Group yang membangun hotel berbintang di wilayah Kelurahan Temas dengan
investasi di atas Rp.100 Milyar. Investor lainnya adalah The Raija Hotel Group yang
berencana membangun Hotel Berbintang dan kawasan wisata di Kecamatan Bumiaji
namun terpaksa harus dibatalkan/ditunda karena mendapatkan reaksi negative dari
masyarakat terkait masalah gangguan terhadap lingkungan hidup (yakni hilangnya
sumber air). Salah satu kekuatan iklim investasi Kota Batu terletak pada sektor
pariwisata. Para investor yang datang, tentunya sebagian merupakan pengusaha yang
bergerak dalam bidang pariwisata, seperti objek wisata, hotel, rumah makan atau usaha
lain. Dalam hal ini Pemerintah Kota Batu memiliki komitmen dan kepedulian tinggi dalam
mengembangkan sektor pariwisata. Karena komitmen itulah, dunia pariwisata terus
berkembang.
Gambar
3.5
Laju
Gambar 3.5
pertumbuhan investasi di Kota
Indikator Pertumbuhan Investasi
di Kota Batu Tahun 2008-2013
Batu
pada
tahun
2008
mencapai 12,00 Persen dan
900.000
791.507
selanjutnya
tahun
2009
800.000
676.281
meningkat
menjadi
18,60
700.000
584.871
Persen,
Tahun
2010
600.000
504.582
pertumbuhannya
sedikit
435.239
500.000
367.050
melambat
menjadi
15,93
400.000
Persen,
Tahun
2011
300.000
meningkat 15,91 Persen, dan
200.000
tahun 2012 diproyeksikan
100.000
meningkat mencapai 15,63
Persen. Pada tahun 2013
pertumbuhan
investasi
2008 2009 2010 2011 2012 2013
diproyeksikan mencapai 17,04
Sumber: Bank Indonesia, 2014
Persen. Secara keseluruhan,
capaian kinerja Pertumbuhan
Investasi Kota Batu selama lima tahun terakhir yakni tahun 2008-2013 menunjukkan

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

65

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

bahwa pertumbuhan investasi di Kota Batu rata-rata mencapai 16,61 Persen p.a. dan
telah mencapai nilai varian target yang ditetapkan dalam RPJMD pada tahun yang
berkenaan sebesar 14,29% p.a..
Evaluasi sasaran berikutnya menyangkut berkembangnya kerjasama investasi
antara Pemerintah Kota Batu dengan pihak-pihak investor baik dari dalam maupun luar
negeri. Dalam hal ini Pemerintah Kota Batu bertindak sebagai fasilitator kerjasama
dimaksud.
Tabel 3.56
Evaluasi Pencapaian Sasaran 5.1.3
Berkembangnya kerjasama investasi
antara pemerintah dan swasta dari dalam dan luar negeri
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Terselenggaranya sosialisasi
kebijakan penanaman modal
kepada masyarakat dunia usaha.
(SPM)

Satuan
Pengus
aha
pariwis
ata

Tahun 2013

Target

Reali
sasi

Capaian
Kinerja (%)

Target

Reali
sasi

Capaian
Kinerja (%)

0.00

150

150

100.00

0.00

100.00

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Tabel 3.56 di atas menunjukkan bahwa pada tahun 2013 telah diselenggarakan
sosialisasi kebijakan penanaman modal di Kota Batu yang melibatkan instansi
pemerintah dan dunia usaha khususnya para pengusaha pariwisata. Indikator sosialisasi
kebijakan tersebut merupakan salah satu pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM)
bidang penanaman modal dari Pemrintah Pusat. Capaian kinerja indicator ini adalah
100% sehingga termasuk kategori Sangat Berhasil. Dalam rangka mewujudkan sasaran
ini organisasi pemerintah Kota Batu telah didukung dengan Badan Penanaman Modal
Kota Batu d/h Kantor Pelayanan Perijinan Terpadu.

Tabel 3.57
Evaluasi Pencapaian Sasaran 5.1.4
Terciptanya peluang kerja padat karya bagi masyarakat yang diharapkan
dapat meningkatkan aspek kesejahteraan
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Terimplementasikannya Sistem
Pelayanan Informasi dan Perizinan
Investasi Secara Elektronik
(SPIPISE). (SPM)

Persen

Tahun 2013

Target

Real
isas
i

Capaian
Kinerja
(%)

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

0.00

25

20

80.00

Satuan

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Pemerintah Kota Batu menyadari bahwa dengan menarik minat investor dan
menanamkan investasinya ke Kota Batu sebanyak-banyaknya, akan sangat mendorong
percepatan pertumbuhan ekonomi. Banyaknya investasi yang masuk ke Kota Batu tentu

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

66

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

saja berdampak multiplier effect yang dapat meningkatkan pendapatan dan


kesejahteraan masyarakat. Untuk memfasilitasi hal ini, secara formal diterbitkan
Peraturan Walikota Batu Nomor 64 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Pelayanan
Perizinan Terpadu pada Badan Penanaman Modal Kota Batu
Upaya terobosan dalam Meningkatkan Iklim Investasi di Kota Batu dilakukan
melalui kajian peluang investasi sektor pariwisata dan pertanian Kota Batu, kajian
peluang investasi/peluang bisnis Kawasan Songgoriti, kerjasama dengan pemerintah
daerah lain di bidang ekonomi, kerjasama pemerintah daerah dengan pengusaha,
Fasilitasi/ Pembentukan Perkuatan Kerjasama dengan Dunia Usaha yang melibatkan
lebih dari 100 orang pelaku usaha, meningkatkan iklim investasi dan realisasi investasi,
dan penyusunan profil investasi Kota Batu.
Tabel 3.58
Evaluasi Pencapaian Sasaran 5.1.5
Bergeraknya roda perekonomian masyarakat yang akan membawa efek berganda terhadap berbagai sendi
kehidupan masyarakat

No.

Tahun 2012
Capaian
Reali
Kinerja
sasi
(%)

Tahun 2013
Capaian
Reali
Kinerja
sasi
(%)

Indikator Target RPJMD

Satuan

Terselenggaranya bimbingan
pelaksanaan kegiatan penanaman
modal kepada masyarakat dunia
usaha. (SPM)
Terselenggaranya pelayanan
perizinan dan non perizinan bidang
penanaman modal melalui
Pelayanan Terpadu Satu Pintu
(PTSP) di bidang penanaman modal:
Pendaftaran Penanaman Modal, Izin
Prinsip Penanaman Modal Dalam
Negeri, Izin Usaha Penanaman
Modal Dalam Negari, Tanda Daftar
Perusahaan (TDP), SUrat Izin Usaha
Perdagangan (SIUP), Perpanjangan
Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja
Asing (IMTA) yang bekerja di satu
kota sesuai kewenangan pemerintah
kota. (SPM)

Pengu
saha
pariwis
ata

0.00

150

150

100.00

Jenis
izin

38

38

100.00

29

29

100.00

Promo
si /
Kerjasa
ma

n.a

n.a

13

13

100.00

Terselenggaranya promosi peluang


penanaman modal kota. (SPM)

Targ
et

Targ
et

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Guna mewujudkan iklim investasi yang kondusif Pemerintah Kota Batu


memberikan jaminan kemudahaan kepada para calon investor. Empat jaminan
kemudahan itu yaitu Kemudahan perizinan, Kemudahan penyediaan tanah atau lahan,
Kemudahan ketersediaan energi listrik dan Kemudahan ketersediaan tenaga kerja yang
berkualitas dan penyelesaian masalah perburuhan secara demokratis. Jaminan lain yang
diberikan yaitu iklim investasi Kota Batu yang lebih kompetetif dibandingkan dengan
daerah lain, juga Sumber Daya Alam yang memadai, Sumber Daya Manusia yang cukup
banyak dan suasana sosial politik yang relatif kondusif.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

67

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.58 di atas menunjukkan bahwa capaian kinerja ke 3 indikator sasaran


adalah 100% sehingga secara keseluruhan capaian kinerjanya juga 100% dimana salah
satunya adalah bimbingan pelaksanaan kegiatan penanaman modal kepada masyarakat
dunia usaha. Seperti telah dikemukakan bahwa Pemerintah Kota Batu sejak tahun 2009
telah mengembangkan sistem pelayanan birokrasi satu atap dan lebih cepat.
Peningkatan kualitas pelayanan publik di Kota Batu pada awal tahun 2011 dilaksanakan
melalui d/h Kantor Pelayanan Perijinan Terpadu (KPPT) yang sekarang berubah menjadi
Badan Penanaman Modal (BPM) Kota Batu dalam memberikan Pelayanan Terpadu Satu
Pintu (PTSP) di Bidang Perijinan termasuk Penanaman Modal.
Tabel 3.59
Evaluasi Pencapaian Sasaran 5.1.6
Tersusunnya kebijakan investasi daerah
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Terselenggaranya fasilitasi
pemerintah daerah dalam rangka
kerjasama kemitraan antar Usaha
Mikro, Menengah, dan Koperasi
(KUMKMK) tingkat kota dengan
pengusaha tingkat provinsi/nasional.
(SPM)

Satuan

Pamer
an

Tar
get

Reali
sasi

Capaian
Kinerja (%)

Tahun 2013
Target

Reali
sasi

Capaian
Kinerja (%)

0.00

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Tabel 3.59 di atas menunjukkan bahwa capaian kinerja untuk indicator fasilitasi
pemerintah daerah dalam rangka kerjasama kemitraan antar Usaha Mikro, Menengah,
dan Koperasi (KUMKMK) tingkat kota dengan pengusaha tingkat provinsi/nasional
dilaksanakan dengan menggelar pameran dengan frekuensi 3 kali. Namun target ini tidak
terealisasi sehingga capaian kinerjanya adalah 0%. Sebaliknya tahun sebelumnya tidak
ditargetkan tetapi justru terealisasi 1 kali pada tahun 2012. Tidak terealisasinya
penyelenggaraan kegiatan pameran tersebut disebabkan karena adanya perubahan
alokasi anggaran pada program/kegiatan yang dipandang lebih mendesak. Selain itu,
perubahan organisasi dan tata kerja dari Kantor Pelayanan Perijinan Terpadu (KPPT)
menjadi Badan Penanaman Modal (BPM) menyebabkan kegiatan tersebut ditinjau ulang
untuk tahun 2013.
Namun demikian berbagai permasalahan masih ditemui dan terjadi di lapangan
akibat keterbatsan-keterbatasan yang dimiliki Pemerintah Kota batu, antara lain:
1. Belum lengkapnya sarana dan prasarana BPMP Kota Batu dalam melaksanakan
tugas-tugas yang dilaksanakan baik untuk kepentingan informasi pelayanan dan
promosi investasi bagi para calon investor
2. Belum adanya data akurat mengenai potensi dan perkembangan penanaman modal
yang terintegrasi, karena pengelolaan penanaman modal masih tersebar pada
semua sektor (SKPD).
3. Pola kemitraan dan kerjasama pemerintah, swasta dan masyarakat masih belum
optimal dilaksanakan.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

68

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

4.

Belum adanya kebijakan yang sudah mempunyai kekuatan hukum berkaitan dengan
insentif/kemudahan berinvestasi serta pelanggaran dan sanksi penanaman modal
dan perijinan yang dilaksanakan di Kota Batu.
Kemampuan dan kapasitas SDM penanaman modal masih relatif rendah
Belum lancarnya penyampaian laporan pelaksanaan dan perkembangan
penanaman modal dari masing-masing perusahaan yang mendapat persetujuan dari
pusat/BKPM
Masih rendahnya kesadaran untuk memproses perijinan secara langsung
Belum adanya sanksi yang tegas berkaitan dengan pelanggaran penanaman modal
dan perijinan

5.
6.

7.
8.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa capaian kinerja dari Tujuan ke 1, Misi
2 yakni: Mengoptimalkan investasi daerah ke arah peningkatan kesejahtaraan
masyarakat yang terdiri dari 6 (enam) sasaran dapat direalisasikan sebesar 80,00% pada
tahun 2013 sehingga termasuk kategori Berhasil.
Evaluasi selanjutnya adalah terhadap Tujuan ke 2 dari Misi 2 yakni: Membentuk
keterpaduan antara pemerintah, pengusaha, dan pekerja dalam proses kerja. Beberapa
sasaran yang ditetapkan diarahkan berada dalam koridor pembangunan bidang
ketenagakerjaan yang diprioritaskan pada aspek peningkatan kompetensi dan daya
saing, dan diarahkan untuk peningkatan sarana, prasarana dan kurikulum pelatihan
tenaga kerja yang berbasis peluang kerja, potensi lokal serta kewirausahaan.

Tabel 3.60
Evaluasi Pencapaian Sasaran 5.2.1
Meningkatnya kompetensi dan daya saing calon tenaga kerja
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Besaran tenaga kerja yang


mendapatkan pelatihan berbasis
kompetensi. (SPM)

Persen

Tahun 2013

Target

Rea
lisa
si

Capaian
Kinerja
(%)

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

n.a

1.9

n.a

15

15.27

101.80

Satuan

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Pencapaian sasaran dan indikator kinerja sebagaimana tercantum di dalam Tabel


3.60 dilakukan melalui upaya mendirikan Balai Latihan Kerja Pertanian dan Pariwisata.
Hal ini sudah dilakukan pada tahun 2013 dan siap dioperasikan dan bahkan sudah
digunakan untuk pelatihan tenaga kerja. Pada tahun 2012 pelatihan di BLK tidak
ditargetkan namun terealisasi 1,9% dan pada tahun 2013 diharapkan terjadi peningkatan
yang signifikan setelah dioperasikannya gedung BLK sehingga ditargetkan sebesar
15,0% dan terealisasi 15,27% dengan capaian kinerja sebesar 101,80% dengan kategori
Sangat Berhasil. Banyaknya tenaga kerja yang mendapatkan pelatihan secara formal
adalah 45 orang sebagaimana terlihat pada Tabel 3.61 berikut.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

69

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.61
Pelatihan Tenaga Kerja di BLK Kota Batu Tahun 2013

No.

Uraian

Operasional BLK i

Besaran tenaga kerja yang mendapatkan


pelatihan berbasis kompetensi

Satuan

Target

Reali
Sasi

OB,Paket,Oh,Buah,
Set, dan Unit

847

847

100

Orang

45

45

100

Sumber: Lakip Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Pelatihan tenaga kerja tersebut sangat penting artinya bagi masyarakat Kota batu.
Sampai saat ini masih dirasakan adanya kesenjangan antara tenaga kerja Kota Batu
yang kebanyakan berasal dari sektor pertanian tradisional (sektor primer) ke sektor
perdagangan, hotel, dan restoran (sektor tersier). Dengan penambahan pengetahuan dan
keterampilan melalui pelatihan di BLK diharapkan tenaga kerja yang asli berasal dari
Kota Batu dan bukan dari luar daerah, dapat lebih mudah terserap sehingga menurunkan
jumlah penganggur terbuka.
Pada tahun 2013, jumlah penduduk usia kerja (penduduk usia 15 tahun ke atas) di
Kota Batu sebanyak 147.011 orang, yang terdiri dari angkatan kerja (penduduk yang
bekerja dan penganggur) sebesar 103.743 orang dan bukan angkatan kerja (penduduk
yang masuk kategori bersekolah, mengurus rumahtangga, dan lainnya) sebesar 43.268
orang. Dari 103.743 angkatan kerja di Kota Batu, sebanyak 101.339 orang terserap
dalam lapangan pekerjaan, sedangkan sisanya 2.304 orang masih menganggur atau
belum mempunyai pekerjaan.
Lapangan pekerjaan di Kota Batu umumnya bergerak pada sektor: pertanian,
industri, perdagangan, jasa dan lainnya (pertambangan, listrik, gas dan air, angkutan dan
komunikasi, koperasi dan lembaga keuangan). Penyerapan tenaga kerja (usia 10 tahun
ke atas) pada sektor industri mencapai 27,08%, pada sektor pertanian 20,66%,
perdagangan 19,51 %, jasa 10,21 % dan pada sektor lainnya menyerap tenaga kerja
22,54%.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

70

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Hasil pelaksanaan program dan kegiatan adalah bahwa dibandingkan tahun


sebelumnya, jumlah angkatan kerja di
Gambar 3.6
Kota
Batu
sedikit
mengalami
Jumlah Penganggur dan Tingkat Pengangguran Terbuka
Kota Batu Tahun 2008-2013
peningkatan yaitu sebesar 2.013
8,95
10,00
10.000
orang (tahun 2012, jumlah angkatan
9,00
9.000
kerja 101.733 orang). Sedangkan
7,03
8,00
8.000
jumlah orang yang bekerja mengalami
8.704
7,00
7.000
5,55
peningkatan sebesar 3.078 orang,
6,00
7.236
4,57
6.000
sehingga
angka
Tingkat
5,00
3,41
5.000
Pengangguran
Terbuka
(TPT)
4,00
5.418
2,32
4.000
mengalami penurunan sebesar 1,09
3,00
4.526
3.000
persen poin, yaitu dari 3,41 persen
2,00
3.472
2.000
pada tahun 2012 menjadi 2,32 persen
1,00
2.404
1.000
pada tahun 2013 seperti terlihat dari
2008 2009 2010 2011 2012 2013
Tabel 3.62 dan divisualisasikan pada
TPT
JML PENGANGGGUR
Gambar 3.6 agar lebih memudahkan
Linear (TPT)
Expon. (TPT)
pemahaman. Angka TPT di Kota Batu
sebesar 2,32 persen tersebut telah melampaui target tahun berkenaaan yakni 4,45% dan
lebih kecil dibandingkan angka TPT Jawa Timur yaitu sebesar 4,33 persen.
Tabel 3.62
Kondisi Ketenagakerjaan di Kota Batu
Tahun 2008-2013
Uraian
Penduduk Angkatan Kerja
Jumlah yang bekerja
Jumlah Penganggur
Tingkat Partisipasi Angk. Kerja (%)
Tingkat Kesempatan Kerja (%)
Tingkat Pengangguran Terbuka (%)

2008
97.259
88.555
8.704
65,84
96,11
8,95

2009
102,698
95,629
7,069
68.49
93.12
6.88

2010

2011

97,692
92,274
5,418
68.24
94.45
5.55

99,081
94,555
4,526
69.33
95.43
4.57

2012

2013*)

101,733
98,261
3,472
70.09
96.59
3.41

103,743
101,339
2,404
70.57
97.68
2.32

Sumber : Dinas Sosial dan Tenaga Kerja; Bappeda Kota Batu, 2014
*) hasil Survey Kesejahteraan dan proyeksi

Masih terkait dengan hal di atas, pada tahun 2008 jumlah pengangguran terbuka
(TPT) di Kota Batu sebanyak 8.704 orang kemudian turun menjadi 7.069 orang pada
tahun 2009 dan 5.418 tahun 2010. Angka ini terus menurun secara berkelanjutan menjadi
4.526 orang pada tahun 2011; menurun lagi menjadi 3.472 tahun 2012 dan menjadi 2.404
pada tahun 2013. Merupakan tantangan tersendiri bagi pemerintah Kota Batu untuk
mampu menanggulangi tingkat pengangguran terbuka yang berfluktuasi tersebut. Melalui
berbagai program dan kegiatan yang dirancang untuk menurunkan tingkat kemiskinan
dan pengangguran, maka tingkat penggangguran terbuka mengalami penurunan dari
3,41% tahun 2012 menjadi 2,32% tahun 2013. (Tabel 3.62 dan Box 3.1).

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

71

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

BOX 3.1
HASIL SURVEY KESEJAHTERAAN SOSIAL TINGKAT PENGANGGURAN
KOTA BATU TAHUN 2013
a.

Mencegah Meluasnya Pengangguran


Dalam rangka mendukung keberhasilan perencanaan serta penyelenggaraan pembangunan di bidang ketenagakerjaan, dibutuhkan
dukungan data maupun informasi yang disusun secara terinci, akurat, aktual serta mampu mengakomodir berbagai tuntutan kebutuhan yang
menyesuaikan dengan dinamika keadaan maupun pihak-pihak yang terkait dengan proses pembangunan,maka untuk mencegah meluasnya
pengangguran Dinas Sosial dan Tenaga Kerja menyusun beberapa program kegiatan, yang terdiri dari:
a.
Program Peningkatan Kualitas dan Produtivitas Tenaga Kerja
b.
Program Peningkatan Kesempatan Kerja
c.
Program Perlindungan dan Pengembangan Lembaga Ketenagakerjaan
Ketiga program ini bertujuan untuk mencegah meluasnya pengangguran. Jumlah pencari kerja terdaftar yang ada di Kota Batu pada tahun
2013 adalah 1298 orang, Hal ini terjadi karena banyaknya lulusan SMA/SMK yang tidak melanjutkan ke Perguruan Tinggi dan masih belum diterima
bekerja. Pencari kerja terdaftar ini yang ditangani untuk dipersiapkan menjadi tenaga kerja yang siap pakai sejumlah 750 orang atau sebanyak 57.78%.
Jumlah pencari kerja berdasarkan hasil musrenbang yang minta untuk diberikan pelatihan sejumlah 263 orang, namun yang mendapatkan
pendidikan dan pelatihan ketrampilan sejumlah 48 orang atau sejumlah 18,25%, yang mendapatkan pelatihan perhotelan melalui kegiatan kerjasama
pendidikan dan pelatihan sejumlah 16 orang atau 6%,, sedangkan yang mendapatkan pelatihan manajemen melalui perluasan tenaga kerja pada
sektor UMSI sebesar 64 orang atau sejumlah 24.33%.
Berdasarkan penilaian dari SPM ketenagakerjaan pencari kerja yang ingin mendapatkan pelatihan sejumlah 733 orang telah tertangani
dengan berdasar pada standart pelayana minimal didalamnya berbasis masyarakat sejumlah 128 orang atau 17.4%, yang dilatih berbasis kompetensi
sejumlah 112 atau 15.27% dan yang berbasis kewirausahaan sebesar 240 orang atau 32.7%.
Selain itu permasalahan di bidang ketenagakerjaan membutuhkan berbagai kebijakan dan program yang mengarah pada kesejahteraan
dan perlindungan tenaga kerja agar tercipta kondisi kerja yang kondusif. Pengusaha sebagai pihak yang mempekerjakan tenaga kerja wajib
memberikan perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja, untuk melindungi keselamatan kerja / buruh guna mewujudkan produktifitas kerja yang
optimal diselenggarakan upaya keselamatan dan kesehatan kerja yang dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Melalui Kegiatan Sosialisasi berbagai Peraturan Pelaksanaan Tentang Ketenagakerjaan yang dilakukan pada 65 perusahaan dari 257 perusahaan atau
25.29% para pengusaha dan pekerja yang berada di wilayah Kota Batu diharapkan memahami dan menerapkan pelaksanaan P3K di tempat kerja
dengan membentuk tim P3K dan membentuk tim penanggulangan kebakaran di masing-masing perusahaan yang ada di Kota Batu.
Untuk pengukuran penanggulangan pengangguran dapat di ukur dari beberapa hal yang ditinjau dari standart pelayanan minimal yaitu:
1)
Tingkat partisipasi angkatan kerja pengukurnya adalah jumlah angkatan kerja yang bekerja 98.261 jiwa dibagi dengan jumlah penduduk usia
kerja (15-64 tahun) 186.374 jiwa atau 52.72%
2)
Pencari kerja yang ditempatkan pengukurannya adalah jumlah pencari kerja yg ditempatkan 432 jiwa dibagi dengan jumlah pencari kerja
yang terdaftar 1298 atau 33.28%
3)
Angka sengketa pekerja pertahun pengukurannya adalah jumlah sengketa pengusaha 5 sengketa dengan jumlah perusahan 257 perusahaan
atau 19.46 %
4)
Tingkat pengangguran terbuka pengukurannya dari jumlah penganggur 3472 jiwa dibandingkan dengan jumlah angkatan kerja 101.733 atau
3.41 %
5)
Rasio lulusan S1/S2/S3 per 10.000 penduduk pengukurannya jumlah lulusan S1/S2/S3 11.026 jiwa dibandingkan dengan 211.239 atau
521.97%
6)
Rasio ketergantungan pengukurannya dari jumlah penduduk usia < 15 th usia >64 24.865 jiwa dibandingkan dengan penduduk usia 15-64
186.374 atau 13.34%
7)
Angka pengangguran terbuka terdaftar 3472
8)
Rasio pencari kerja yang memperoleh pekerjaan pengukurannya jumlah penduduk angkatan kerja yang bekerja 98.261 dibandingkan dengan
jumlah angkatan kerja 101.733 atau 96.59%

b.

Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Masyarakat.


Pengawasan ketenagakerjaan perlu dilakukan terhadap perusahaan-perusahaan yang ada di Kota Batu. Pada tahun 2013 Pengawasan
ketenagakerjaan sudah melaksanakan pemeriksaan terhadap 86 perusahaan dari 257 perusahaan atau 33.46% dari perusahaan yg ada, sementara
angka kecelakaan kerja yang terjadi sebanyak 12 kecelakaan kerja
Kasus Perselisihan hubungan industrial (PHI) ditahun ini sebanyak 3 kasus yang sudah terselesaikan dari 5 (lima) kasus atau 60% kasus
yang sudah terselesaikan. Untuk pengesahan PP sebanyak 12 Perusahaan, pengesahan PKB2 perusahaan dan perjanjian kerja 2 perusahaan. Besaran
pekerja / buruh yang menjadi peserta jamsostek sebesar 76 perusahaan dari 257 perusahaan jadi sebanyak 29.57%
Penetapan UMK yang telah disahkan oleh gubernur Jawa Timur untuk Kota Batu ditahun 2014 adalah sebesar Rp. 1.580.000.00 (Satu Juta
Lima Ratus Delapan Puluh Ribu Rupiah). Perusahaan di Kota Batu yang menerapkan UMK sebanyak 68 perusahaan dibandingkan 257 perusahaan yang
ada atau 26.46%
Pemeriksaan peralatan Keselamatan Kesehatan Kerja (K3) pada perusahaan yang sudah dilaksanakan adalah sebanyak 31 peralatan dibandingkan
dengan 834 peralatan yang ada di 257 perusahaan atau 3.72%

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

72

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Hal ini menunjukkan semakin berkembangnya perekonomian di Kota Batu karena


semakin banyaknya investasi sehingga berdampak pada kegiatan perekonomian di
sektor perdagangan dan jasa yang berakibat pada penyerapan tenaga kerja. Di masa
mendatang diharapkan kondisi penggangguran semakin berkurang karena pemerintah
kota Batu masih melakukan pembangunan tempat-tempat wisata, hotel dan
mengembangkan kegiatan perekonomian yang diharapkan dapat menyerap tenaga kerja
yang ada. Salah satu tantangan yang dihadapi dalam hal ini adalah bagaimana
menyiapkan tenaga kerja yang selama ini cenderung berorientasi ke sektor pertanian
menjadi tenaga kerja yang siap pakai di sektor pariwisata, perdagangan, jasa, serta agro
industri. Berdasarkan fakta di lapangan, hal ini lebih memperkuat paradigma agropolitan
yang harus diwujudkan di seluruh wilayah Kota Batu.
Evaluasi sasaran pada Tabel 3.63 berikut menunjukkan upaya untuk
meningkatkan kompetensi tenaga kerja Kota Batu. Strategi yang diambil untuk mencapai
sasaran ini adalah: a). menyusun kurikulum pelatihan tenaga kerja dengan peluang kerja
yang ada, berbasis potensi lokal yang memiliki keunggulan, dan aspek kewirausahaan,
b). melatih calon tenaga kerja dengan kurikulum baru yang telah ditetapkan agar memiliki
kompetensi dan daya saing sesuai kebutuhan pasar, dan c). meningkatkan sarana
prasarana pelatihan yang memadai, serta d). meningkatkan kapasitas dan kualitas
tenaga pelatih.

Tabel 3.63
Evaluasi Pencapaian Sasaran 5.2.2
Meningkatkan kurikulum, sarana, dan prasarana
berbasis peluang kerja dan potensi lokal serta kewirausahaan
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Satuan

Tahun 2013

Tar
get

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

Tar
get

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

Besaran tenaga kerja yang


mendapatkan pelatihan kerja
berbasis masyarakat. (SPM)

Persen

n.a

0.8

n.a

16

17.4

108.75

Besaran pencari kerja yang


terdaftar dan penempatan. (SPM)

Persen

n.a

43.75

n.a

32

33.28

104.00

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Selaras dengan kebijakan dan strategi yang diterapkan, Tabel 3.63


mengungkapkan bahwa 2 indikator kinerja sasaran ini telah dapat dicapai dengan
capaian kinerja masing-masing adalah 108,75% dan 104,00% sehingga secara
keseluruhan capaian kinerja sasaran ini adalah 106,38% dan termasuk kategori Sangat
Berhasil. Jumlah perusahaan penempatan, tenaga kerja yang dilatih kewirausahaan, dan
keterampilan berbasis kompetensi massa disajikan pada Tabel 3.64 berikut.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

73

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.64
Tenaga Kerja yang Terdaftar, Dilatih dan Ditempatkan Tahun 2013
No.

2
3
4

Satuan

Target

Reali
Sasi

Perusahaan

30

30

100

Org, JP,
Buah,Lembar,Exp,H
r,Kotak

8463

8463

100

Orang

750

750

100

Orang

64

64

100

Orang dan Lembar

9012

9012

100

Uraian

Besaran pencari kerja yang terdaftar dan


penempatan
Besaranya tenaga kerja yang mendapatkan
pelatihan kompetensi
Besaranya tenaga kerja yang mendapatkan
pelatihan Kewirausahaan
Besaran pencari kerja yang terdaftar dan
penempatan

Sumber: Lakip Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Tabel 3.64 tersebut di atas merupakan hasil dari pelaksanaan program dan
kegiatan urusan ketenagakerjaan tahun 2013 serta merupakan pemenuhan target
Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang ketenagakerjaan yang ditetapkan oleh
Pemerintah Pusat.

Selanjutnya, capaian kinerja terhadap indicator besaran kasus yang diselesaikan


melalui perjanjian bersama disajikan pada Tabel 3.65.
Tabel 3.65
Evaluasi Pencapaian Sasaran 5.2.3
Terbentuknya hubungan yang selaras antara pemerintah, pengusaha, dan pekerja;
Meningkatnya produktivitas dan kualitas kerja;
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Satuan

Besaran kasus yang diselesaikan


dengan perjanjian bersama. (SPM)

Persen

Tahun 2013

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

n.a

10

n.a

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

58

60

103.45

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Berdasarkan Tabel tersebut besaran kasus yang diselesaikan melalui perjanjian


bersama adalah 60,0% dari yang ditargetkan tahun 2013 sebesar 58,0% dengan capaian
kinerja sebesar 103,45% sehingga termasuk kategori Sangat Berhasil. Penyelesaian
kasus tersebut meliputi sejumlah 100 (seratus) orang tenaga kerja yang tersebar di
beberapa perusahaan di wilayah Kota Batu. Dampak dari penyelesaian kasus tersebut
adalah semakin meningkatnya pemahaman ke dua belah pihak yang bersengketa
terhadap peraturan perundangan ketenagakerjaan, hak dan kewajiban masing-masing
pihak, serta semakin membaik dan kondusifnya hubungan industrial di Kota Batu.
Terkait dengan hal di atas, maka dalam rangka meningkatkan produktivitas
tenaga kerja, terlihat persentase tenaga kerja yang menjadi peserta Jamsostek juga
semakin meningkat. Tabel 3.66 menunukkan bahwa realisasi tenaga kerja yang menjadi
peserta jamsostek sampai dengan tahun 2013 mencapai 29,57% dari yang ditargetkan

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

74

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

28,0% dengan capaian kinerja sebesar 108,61% sehingga termasuk kategori Sangat
Berhasil.
Tabel 3.66
Evaluasi Pencapaian Sasaran 5.2.4
Meningkatnya produktivitas dan kualitas kerja.
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Satuan

Besaran pekerja/buruh yang


menjadi peserta jamsostek. (SPM)

Persen

Tahun 2013

Tar
get

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

n.a

25,7

n.a

Tar
get

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

28

29.57

105.61

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Capaian kepertaan jamsostek pada tahun 2013 tersebut meningkat dibandingkan


tahun sebelumnya yakni 2012 sebesar 25,57%. Indikator ini baru digunakan pada tahun
2013 dalam rangka percepatan pemenuhan SPM dari Pemerintah Pusat.

Untuk meningkatkan taraf kesejahteraan tenaga kerja di Kota Batu, maka Dinas
Sosial dan Tenaga Kerja telah membentuk forum kerjasama antara pemerintah daerah,
pengusaha, dan asosiasi pekerja. Selain itu juga sekaligus membangun kesepakatan
bersama antara pengusaha, pekerja, dan pemerintah daerah. Salah satu yang paling
nyata adalah penetapan besaran Upah Minimum Regional (UMR) untuk wilayah Kota
Batu tahun 2013. Tabel berikut menunjukkan capaian 2 indikator kinerja terkait
pencapaian sasaran ini.
Tabel 3.67
Evaluasi Pencapaian Sasaran 5.2.5
Meningkatnya kesejahteraan pekerja
Tahun 2012
No.

1
2

Indikator Target RPJMD

Besaran pemeriksaan perusahaan.


(SPM)
Besaran pengujian peralatan di
perusahaan. (SPM)

Tahun 2013

Tar
get

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

Persen

n.a

n.a

0.00

30

33.46

111.53

Persen

n.a

n.a

0.00

10

3.72

37.20

Satuan

Tar
get

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Jumlah perusahaan yang telah dilakukan pemeriksaan pada tahun 2013


ditargetkan sebanyak 30 (tigapuluh) persen dan terealisasi sebanyak 33,46% dengan
capaian kinerja 111,53% sehingga malampaui target yang ditetapkan. Banyaknya orang
yang terlibat di dalam pemeriksaan tersebut mencapai 60 (enampuluh) orang baik dari
kalangan pengusaha maupun pihak-pihak terkait lainnya. Tahun sebelumnya tidak
tersedia datanya. Di sisi lain, banyaknya kegiatan pengujian peralatan di perusahaan
tidak dapat mencapai target yang ditetapkan yakni dari 10,0% yang ditargetkan hanya
terealisasi 3,72%.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

75

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Secara keseluruhan, urusan yang terkait dengan ketenagakerjaan sebagaimana


diuraikan di atas,i dilaksanakan oleh Dinas Sosial dan Ketenagakerjaan, dengan alokasi
anggaran tahun 2013 sebesar Rp. 582,730,500,00 dengan realisasi Rp. 539,738,000,00
atau 92,62%. Anggaran tahun 2013 tersebut digunakan untuk melaksanakan 3 program
yang terdiri dari 10 kegiatan.
Hasil dan/atau capaian pelaksanaan program dan/atau kegiatan pembangunan
pada urusan ini di antaranya adalah:
1. Terpenuhinya kesempatan kerja dari perusahaan pengguna tenaga kerja
2. Terciptanya pencari kerja yang berkualitas
3. Terlatihnya 40 Orang Wirausaha baru dalam bidang Management dan
Peningkatan Produktifitas Kerja
4. Terlindungan hak - hak pekerja dan pelaksanaannya kewajiban akan pemenuhan
terhadap norma- norma ketenagakerjaan yang berlaku
5. memberikan pemahaman akan keselamatan dan kesehatan kerja kepada
pengusaha dan pekerja sesuai dengan peraturan Ketenagakerjaan
6. Keluarnya besaran angka upah minimum kota (UMK) Kota Batu, Pemantapan
Peraturan Kemenaker No. 226/MEN/2000 tentang Upah Minimum
7. Pemantapan Kep. MENAKERTRANS No. 48/MEN/IV/ 2004 tentang tata cara
Pembuatan PP, KKB, PKB, PKWT, dan PK
8. Pemantapan Peraturan UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, UU No.
2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian perselisihan hubungan industrial
Adapun Capaian Kinerja SPM Bidang Ketenagakerjaan di Kota Batu yang telah
dilaksanakan pada tahun 2013 adalah sebagaimana dikemukakan pada Tabel 3.69
berikut.
Tabel 3.68
Capaian Kinerja SPM Bidang Ketenagakerjaan Tahun 2013

INDIKATOR KINERJA

TARGET
2013

REALISASI
%

Besaran tenaga kerja yang mendapatkan pelatihan berbasis kompetensi

15%

15.27%

Besaranya tenaga kerja yang mendapatkan pelatihan berbasis masyarakat

12%

17.40%

Besaranya tenaga kerja yang mendapatkan pelatihan Kewirausahaan

12%

32.70%

Besaran pencari kerja yang terdaftar dan penempatan

14%

33.28%

Besaran kasus yang diselesaikan dengan perjanjian bersama (PB)

12%

60%

Besaran pekerja / buruh yang menjadi peserta jamsostek

10%

29.57%

Besaran pemeriksaan perusahaan

9%

33.46%

Besaran pengujian peralatan di perusahaan

10%

3.72%

Sumber: Laporan SPM Bidang Ketenagakerjaan, Bagian Organisasi Kerja Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

76

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Kendala dan hambatan yang ditemui di dalam pelaksanaan urusan


ketenagakerjaan Kota Batu tahun 2013 adalah sebagai berikut:
1. Terbatasnya anggaran yang diperoleh oleh bidang pengembangan dan
penempatan tenaga kerja
2. lemahnya sistiminformasi ketenagakerjaan
3. kurangnya kesempatan kerja yang ada
4. Kurangnya Tenaga Ahli di bidang Mediator
5. kurangnya fasilitasi guna pemantauan dan pembinaan ke perusahaan
6. kurangnya tenaga atau personil di bidang HI sehingga pendataan dan pembinaan
belum jalan maksimal
7. kurangnya fasilitasi Online pendataan dengan propinsi
Beberapa alternative langkah-langkah solusi yang dipertimbangkan untuk
dilakukan di masa dating terkait dengan penanggulangan maslah, kendala dan/atau
hambatan tersebut adalah:
1. Mengupayakan perluasan kesempatan kerja dengan cara membuat proyek proyek yang bersifat padat karya.
2. Deragulasi dan debirokratisasi di berbagai bidang industri untuk merangsang
timbulnya investasi baru .
3. Meningkatkan mutu pendidikan dan fasilitasi pelatihan guna meningkatkan
kemampuan pencari kerja agar selalu sesuai dengan kebutuhan dunia kerja
4. Melakukan pembinaan ke perusahaan secara lebih intensif.
5. Mengirimkan peserta diklat DJJ ke pusat agar tenaga mediator segera
mencukupi kebutuhan di bidang hubungan industrial.
Terkait dengan pelaksanaan urusan ketenagakerjaan tersebut diperoleh
beberapa penghargaan atas prestasi yang dicapai. Prestasi yang diraih di bidang
ketenagakerjaan Kota Batu selama tahun 2013, antara lain:
1 Juara Nakerwan terbaik se Jawa Timur ( PT KUSUMASATRIA DINASASTRI WISATA
JAYA)
2 Zero Accident Award (BNS, Jatim Park I , Jatim Park II )
3 Jamsostek Award ( Rumah Sakit Baptis )
Kesimpulan:
1. Capaian kinerja dari Tujuan ke 2, Misi 5 yakni: Membentuk keterpaduan antara
pemerintah, pengusaha, dan pekerja dalam proses kerja yang terdiri dari 6
(enam) sasaran dapat direalisasikan sebesar 98,32% pada tahun 2013 sehingga
termasuk kategori Berhasil.
2. Secara keseluruhan Capian Kinerja Misi 5 yaitu: Optimalisasi Investasi Daerah
adalah 89,16% dan termasuk kategori Sangat Berhasil.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

77

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Misi 6:
Peningkatan Kualitas
Pendidik dan
Lembaga Pendidikan

Seiring dengan potensi Kota Batu dalam sektor pertanian dan pariwisata, Kota
Batu membutuhkan banyak sumber daya manusia yang memiliki kemampuan
untuk meneruskan dan mengembangkan kualitas potensi pertanian dan
pariwisata. Di luar kedua sektor tersebut, Kota Batu masih memiliki potensi
usaha kecil menengah dan industri yang menyediakan kesempatan kerja cukup
luas.

Tujuan:
Membentuk sumber daya manusia pendidik yang berkompeten dan beretika; dan
Mewujudkan lembaga pendidikan yang benar-benar mengedepankan upaya
membentuk anak didik yang berkualitas secara keilmuan, bermoral dan berakhlak
mulia.

Sekolah adalah sarana pendidikan yang diharapkan mampu mencetak sumber


daya manusia yang handal dalam menyukseskan pembangunan. Sekolah TK, SD hingga
SMU sudah tersedia secara memadai di Kota Batu baik negeri, madrasah maupun
swasta. Meskipun demikian, permasalahan di sektor pendidikan yang terjadi di Kota Batu
adalah masih relatif tingginya jumlah anak putus sekolah, jenjang pendidikan masih relatif
rendah, dan angka meneruskan sekolah juga masih rendah. Permasalah ini disebabkan
karena faktor ketidakmampuan ekonomi dan rendahnya kesadaran tentang arti penting
pendidikan. Tabel berikut menunjukkan potret dan tingkat pendidikan yang ditempuh dan
ditamatkan oleh Penduduk Kota Batu.
Tabel 3.69
Persentase Penduduk Usia 15 tahun ke atas
menurut Pendidikan Yang Ditamatkan
Kota Batu Tahun 2008-2012

Tingkat Pendidikan

2008

2009

2010

2011

2012

Tidak belum pernah sekolah

2,89

2,33

3,68

3,09

2,10

Tidak belum tamat SD

14,66

14,34

15,56

20,87

18,01

Tamat SD

30,62

30,16

30,48

28,91

29,96

Tamat SLTP

21,58

21,29

20,20

19,36

19,47

Tamat SMTA +

24,08

23,80

23,66

21.47

24.13

Tamat PT

6,18

8,07

7,42

6,29

6,33

Sumber : BPS Kota Batu dan Hasil Analisis 2013


*)angka estimasi

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

78

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Terkait dengan uraian di atas, berikut dilakukan evaluasi terhadap kinerja


sasaran dan tujuan yang tercakup di dalam Misi 6 dan sejauh mungkin ditunjukkan hasilhasil nyata baik berupa output dan/atau outcomenya.
Arah kebijakan Pemerintah Kota batu dalam membentuk sumberdaya manusia
pendidik yang kompeten dan beretika sebagimana dinyatakan sebagai Tujuan ke 1 di
atas, adalah dengan Mendorong dan memacu pendidik untuk mau dan dapat
meningkatkan kompetensinya sebagai pendidik agar dapat mengikuti laju perkembangan
keilmuan sesuai dengan bidang studi yang diampu. Strategei yang ditempuh dalam hal ini
antara lain: a). Memfasilitasi peningkatan kompetensi bagi pendidik di jenjang pendidikan
dasar dan menengah, b). Memfasilitasi uji kompetensi terhadap tenaga pendidik, c).
Melaksanakan sertifikasi pendidik, d). Mengembangkan pendataan dan pemetaan
pendidik, dan e). Mengembangkan sistem penghargaan dan perlindungan terhadap
profesi pendidik.
Tabel 3.70 menunjukkan bahwa dari 3 indikator sasaran meningkatnya
kompetensi pendidik di setiap jenjang pendidikan terdapat 1 indikator yang melampaui
target yang ditetapkan dengan capaian 101,22% yaitu Persentase jumlah guru SD/MI
yang menerima program peningkatan mutu pendidik. Persentase realisai indicator ini
adalah 25,31% sedangkan target yang ditetapkan adalah 25,0%. Angka realisasi ini
meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya (2012) sebesar 24,1%. Sementara
itu, 2 indikator lainnya tidak mencapai target yang telah ditetapkan yakni Persentase
jumlah guru SMP/MTs yang menerima program peningkatan mutu pendidik dengan
capaian 77,35% dan Persentase jumlah guru SMA/SMK/MA yang menerima program
peningkatan mutu pendidik yang tercapai 79.45%.
Di antara kendala dan/atau hambatan yang menyebabkan kurang berhasilnya
capaian indicator ini karena: a). Sulitnya penata laksanaan tunjangan Profesi Pendidik
sesuai dengan aturan dan jenjang, b). Staknannya kenaikan pangkat guru di tahun 2013,
c). belum terpenuhinya sejumlah anggaran sesuai dengan kegiatan, d). Belum
terpenuhinya perangkat perubahan kenaikan pangkat guru di tahun 2013, serta e).
sulitnya penempatan guru barusesuai dengan bidangnya kualitas.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

79

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.70
Evaluasi Pencapaian Sasaran 6.1.1
Meningkatnya kompetensi pendidik di setiap jenjang pendidikan
Tahun 2012

Tahun 2013

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

Persen

24

24.1

100.42

25

25.31

101.22

Persentase jumlah guru SMP/MTs


yang menerima program
peningkatan mutu pendidik.

Persen

22

22.1

100.45

30

23.21

77.35

Persentase jumlah guru


SMA/SMK/MA yang menerima
program peningkatan mutu pendidik.

Persen

22

22.7

103.18

30

23.84

79.45

No.

Indikator Target RPJMD

Satuan

Persentase jumlah guru SD/MI yang


menerima program peningkatan
mutu pendidik.

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Secara keseluruhan capain kinerja sasarn ini adalah sebesar 86,01% sehingga
termasuk kategori Berhasil. Adapun program dan kegiatan yang dilakukan dalam rangka
pencapaian sasaran ini adalah Program Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga
Kependidikan dengan hasil seperti disajikan pada Tabel 3.71 berikut.
Tabel 3.71
Peningkatan Mutu PTK Kota Batu Tahun 2013

No.

Uraian

Satuan

Tar Get

Reali
Sasi

Meningkatkan guru bersertifikasi

bln

12

12

100%

Terlaksana KKG/MGMP, MKKS, KKK

bln

12

12

100%

meningkatnya Guru memiliki ijazah S-1

bln

12

12

100%

peningkatan mutu dan kualitas kerja TPK

bln

12

12

100%

Terlaksananya pendataan PTK

bln

12

12

100%

Peningkatan Prestasi TPK

bln

12

12

100%

Terlaksananya kenaikan pangkat TPK

bln

12

12

100%

Peningkatan pemahaman Induksi guru

bln

12

12

100%

Sumber: Lakip Dinas Pendidikan, 2014

Selanjutnya agar dapat mendorong pendidik untuk dapat melaksanakan tugas


pelayanannya sebagai pendidik secara profesional dan beretika, Dinas Pendidikan Kota
Batu memandang penting untuk mengembangkan dan sosialisasi kode etik terhadap
pendidik, serta melakukan monitoring, evaluasi, dan pelaporan terhadap aktifitas pendidik

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

80

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

di dalam proses pendidikan. Tabel 3.72 berikut merangkum capaian kinerja sasaran
meningkatnya etika para pendidik di Kota batu tahun 2013.
Tabel 3.72
Evaluasi Pencapaian Sasaran 6.1.2
Meningkatnya etika dari para pendidik
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Satuan

Penurunan jumlah kasus


pelanggaran etika yang melibatkan
unsur pendidik.

Persen

Jumlah kasus pelanggaran etika


yang melibatkan unsur pendidik
yang tertangani.

Persen

Tahun 2013

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

10

111.11

8.10

90.00

0.00

0.00

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Terdapat 2 indikator kinerja di dalam sasaran ini di mana keduanya belum


mencapai target seperti yang diharapkan. Indikator pertama yakni Penurunan jumlah
kasus pelanggaran etika yang melibatkan unsur pendidik yang ditargetkan sebesar 9,0%
hanya tercapai 8,10% dengan capaian kinerja 90,0%. Sedangkan indicator ke 2 yaitu
Jumlah kasus pelanggaran etika yang melibatkan unsur pendidik yang tertangani tidak
ditargetkan tahun ini sehingga baik realisasi maupun capaian kinerjanya adalah 0,0%.
Secara keseluruhan capaian kinerja sasaran ini adalah 45,0% dan masuk kategori
Kurang Berhasil.
Dengan demikian, maka capaian kinerja dari Tujuan ke 1, Misi 6 yakni:
Membentuk sumber daya manusia pendidik yang berkompeten dan beretika yang terdiri
dari 5 (lima) sasaran dapat direalisasikan sebesar 65,5% pada tahun 2013 sehingga
termasuk kategori Cukup Berhasil.
Evaluasi berikutnya adalah Tujuan ke 2 Misi 6 dengan sasaran pertama yaitu
Terwujudnya lembaga pendidikan dasar setingkat SD dan SMP yang unggul dengan
capain kinerja sebagaimana tercantum pada Tabel 3.72. Sasaran ini dicapai dengan cara
memenuhi ketercapaian sumber daya manusia maupun sumber daya material yang
dibutuhkan dalam proses belajar mengajar, serta menerapkan metode pembelajaran
yang sesuai dengan kurikulum nasional maupun keunggulan lokal di tingkat pendidikan
dasar dan menengah. Berbagai langkah ditempuh untuk memenuhi ketercapaian sasaran
ini antara lain: a). mengupayakan keterpenuhan rasio jumlah lembaga lembaga
pendidikan menengah, b), mengupayakan keterpenuhan standarisasi guru baik secara
kuantitas, kualitas, maupun penyebarannya, c). mengupayakan keterpenuhan sarana dan
prasarana yang dibutuhkan dalam proses pendidikan (ruang guru, ruang kepala sekolah,
ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, meja, kursi, peralatan praktikum, buku, fasilitas
ekstrakurikuler, dsb), d). mengembangkan metode belajar mengajar yang sesuai dengan
jenjang pendidikan, perkembangan teknologi informasi, dan keunggulan local,dan e).
Mengembangkan materi pembelajaran yang sesuai dengan jenjang pendidikan,
perkembangan teknologi informasi, dan keunggulan lokal.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

81

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.73
Evaluasi Pencapaian Sasaran 6.2.1
Terwujudnya lembaga pendidikan dasar setingkat SD dan SMP yang unggul

No.

Indikator Target RPJMD


Persentase jumlah SD/MI yang telah
memenuhi SPM dalam hal jumlah
murid maksimal dalam 1 kelas.
Persentase jumlah SD/MI yang telah
memenuhi SPM dalam hal tenaga
pendidik (guru dan kepala sekolah).
Persentase jumlah SD/MI yang telah
memenuhi SPM dalam hal
ketentuan ruang (kepala sekolah,
guru, kelas, laboratorium,
perpustakaan, dll).
Persentase jumlah SD/MI yang telah
memenuhi SPM dalam hal
ketersediaan sarana pendukung
pembelajaran (buku perpustakaan,
alat praktikum, dll)
Persentase jumlah SMP/MTs yang
telah memenuhi SPM dalam hal
jumlah murid maksimal dalam 1
kelas.
Persentase jumlah SMP/ MTsyang
telah memenuhi SPM dalam hal
tenaga pendidik (guru dan kepala
sekolah).
Persentase jumlah SMP/MTs yang
telah memenuhi SPM dalam hal
ketentuan ruang (kepala sekolah,
guru, kelas, laboratorium,
perpustakaan, dll).
Persentase jumlah SMP/MTs yang
telah memenuhi SPM dalam hal
ketersediaan sarana pendukung
pembelajaran (buku perpustakaan,
alat praktikum, dll).

Tahun 2012
Capaian
Reali
Kinerjd
sasi
(%)

Tahun 2013
Capaian
Reali
Kinerja
sasi
(%)

Satuan

Targ
et

Persen

100

100

100.00

100

98.00

98.00

Persen

57.38

60.4

105.26

65

63.42

97.57

Persen

60

62.2

103.67

64.8

65.31

100.79

Persen

38

40

105.26

100

94.00

94.00

Persen

100

100

100.00

100

79.00

79.00

Persen

73

76.4

104.66

80.7

80.22

99.41

Persen

67

70.6

105.37

73.3

74.13

101.13

Persen

70

73.6

105.14

74.8

91.00

121.66

Targ
et

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Indikator-indikator kinerja sasaran ini pada dasarnya merupakan tindak lanjut dari
pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang Pendidikan. Berdasarkan Tabel di
atas, sasaran ini memiliki 8 indikator kinerja dimana 3 indikator dapat dicapai melampaui
target yang diharapkan yakni indicator nomor 3, 7, dan 8 dengan capaian kinerja
>100,0%. Sedangkan 5 indikator kinerja yakni nomor 1, 2, 4, 5, dan 6 tidak/belum
mencapai target yang diharapkan meskipun rata-rata kinerjanya hampir/mendekati
100,0%. Secara keseluruhan capain kinerja sasaran ini adalah 98,94% sehingga
termasuk kategori Sangat Berhasil. Hal ini selaras dengan capaian kinerja SPM Bidang
pendidikan sebagaimana ditetapkan berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Dan
Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2013 Tentang Perubahan Atasperaturan Menteri
Pendidikan Nasional nomor: 15 Tahun 2010 pada Tabel 3.74 sebagai berikut.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

82

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.74
Capaian Kinerja SPM Bidang Pendidikan Kota Batu Tahun 2013
Jenis
Pelayanan
Dasar

Pelayanan
Pendidikan
Dasar oleh
Kab/Kota

Indikator SPM

10

Tersedia satuan pendidikan dalam jarak yang


terjangkau dengan berjalan kaki yaitu
maksimal 3 km untuk SD/MI dan 6 km untuk
SMP/MTs dari kelompok permukiman
permanen di daerah terpencil;
Jumlah peserta didik dalam setiap
rombongan belajar untuk SD/MI tidak
melebihi 32 orang, dan untuk SMP/MTs tidak
melebihi 36 orang. Untuk setiap rombongan
belajar tersedia 1 (satu) ruang kelas yang
dilengkapi dengan meja dan kursi yang cukup
untuk peserta didik dan guru, serta papan
tulis;
Di setiap SMP dan MTs tersedia ruang
laboratorium IPA yang dilengkapi dengan
meja dan kursi yang cukup untuk 36 peserta
didik dan minimal satu set peralatan praktek
IPA untuk demonstrasi dan eksperimen
peserta didik;
Di setiap SD/MI dan SMP/MTs tersedia satu
ruang guru yang dilengkapi dengan meja dan
kursi untuk setiap orang guru, kepala sekolah
dan staf kependidikan lainnya; dan di setiap
SMP/MTs tersedia ruang kepala sekolah
yang terpisah dari ruang guru;
Di setiap SD/MI tersedia 1 (satu) orang guru
untuk setiap 32 peserta didik dan 6 (enam)
orang guru untuk setiap satuan pendidikan,
dan untuk daerah khusus 4 (empat) orang
guru setiap satuan pendidikan
Di setiap SMP/MTs tersedia 1 (satu) orang
guru untuk setiap mata pelajaran, dan untuk
daerah khusus tersedia satu orang guru
untuk setiap rumpun mata pelajaran;
Di setiap SD/MI tersedia 2 (dua) orang guru
yang memenuhi kualifikasi akademik S1 atau
D-IV dan 2 (dua) orang guru yang telah
memiliki sertifikat pendidik
Di setiap SMP/MTs tersedia guru dengan
kualifikasi akademik S-1 atau D-IV sebanyak
70% dan separuh diantaranya (35% dari
keseluruhan guru) telah memiliki sertifikat
pendidik, untuk daerah khusus masingmasing sebanyak 40% dan 20%
Di setiap SMP/MTs tersedia guru dengan
kualifikasi akademik S-1 atau D-IV dan telah
memiliki sertifikat pendidik masing-masing
satu orang untuk mata pelajaran Matematika,
IPA, Bahasa Indonesia,Bahasa Inggris dan
PKn
Di setiap Kabupaten/Kota semua kepala
SD/MI berkualifikasi akademik S-1 atau D-IV
dan telah memiliki sertifikat pendidik

Level

Target
SPM
2013

Realisasi/
Capaian
2013

Capaian
Kinerja
2013

SD
MI
SMP

100
100
100

100
100
100

100.00
100.00
100.00

MTs

100

100

100.00

SD
MI
SMP

100
100
100

96.00
100.00
92.00

96.00
100.00
92.00

MTS

100

66.00

66.00

SMP

100

77.00

77.00

MTS

100

66.00

66.00

SD
MI
SMP

100
100
100

97.00
100.00
92.00

97.00
100.00
92.00

MTs

100

66.00

66.00

SD

100

100.00

100.00

MI

100

100.00

100.00

SMP

100

100.00

100.00

MTs

100

100.00

100.00

SD

100

97.00

97.00

MI

100

71.00

71.00

SMP

100

74.00

74.00

MTS

100

66.00

66.00

SMP

100

77.00

77.00

MTs

100

66.00

66.00

SD

100

94.00

94.00

MI

100

65.00

65.00

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

83

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

11

12

13

14

Pendidikan
dasar oleh
satuan
pendidikan

15

16

17

18

19

20

21

Di setiap kab/kota semua kepala SMP/MTs


SMP
100
96.00
96.00
berkualifikasi akademik S-1 atau D-IV dan
MTs
100
66.00
66.00
telah memiliki sertifikat pendidik;
Di setiap kab/kota semua pengawas sekolah/
SD
100
100.00
100.00
madrasah memiliki kualifikasi akademik S-1
atau D-IV dan telah memiliki sertifikat
MI
100
100.00
100.00
Pendidik
Pemerintah kab/kota memiliki rencana dan
SD
100
100.00
100.00
melaksanakan kegiatan untuk membantu
MI
100
100.00
100.00
satuan pendidikan dalam mengembangkan
SMP
100
100.00
100.00
kurikulum dan proses pembelajaran yang
MTs
100
100.00
100.00
efektif;
100 bila kab/ kota memiliki rencana dan telah melaksanakan kegiatan untuk membantu sekolah
mengembangkan kurikulum dan proses pembelajaran yang efektif
50 bila memiliki rencana tetapi belum melaksanakan
0 bila tidak memiliki rencana untuk membantu sekolah dalam mengembangkan kurikulum dan proses
pembelajaran yang efektif.
SD
100
96.00
96.00
Kunjungan pengawas ke satuan pendidikan
MI
100
85.00
85.00
dilakukan satu kali setiap bulan dan setiap
kunjungan dilakukan selama 3 jam untuk
SMP
100
77.00
77.00
melakukan supervisi dan pembinaan;
MTs
100
66.00
66.00
Setiap SD/MI menyediakan buku teks yang
SD
100
96.00
96.00
sudah ditetapkan kelayakannya oleh
Pemerintah mencakup mata pelajaran
Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS dan
MI
100
92.00
92.00
PKn dengan perbandingan satu set untuk
setiap peserta didik
Setiap SMP/MTs menyediakan buku teks
SMP
100
90.00
90.00
yang sudah ditetapkan kelayakannya oleh
Pemerintah mencakup semua mata pelajaran
MTs
100
92.00
92.00
dengan perbandingan satu set untuk setiap
perserta didik;
Setiap SD/MI menyediakan satu set peraga
SD
100
60.00
60.00
IPA dan bahan yang terdiri dari model
kerangka manusia, model tubuh manusia,
bola dunia (globe), contoh peralatan optik, kit
MI
100
711.00
711.00
IPA untuk eksperimen dasar, dan
poster/carta IPA;
SD
100
73.00
73.00
Setiap SD/MI memiliki 100 judul buku
MI
100
77.00
77.00
pengayaan dan 10 buku referensi,dan setiap
SMP/MTs memiliki 200 judul buku pengayaan
SMP
100
78.00
78.00
dan 20 buku referensi;
MTs
100
66.00
66.00
guru tetap bekerja
37,5 jam per
Setiap guru tetap bekerja 37,5 jam per
100
71.25
71.25
minggu di satuan
minggu di satuan pendidikan, termasuk
pendidikan
merencanakan pembelajaran, melaksanakan
SD
100
60.00
60.00
pembelajaran, menilai hasil pembelajaran,
membimbing atau melatih peserta didik, dan
MI
100
78.00
78.00
melaksanakan tugas tambahan;
SMP
100
81.00
81.00
MTs
100
66.00
66.00
Satuan pendidikan menyelenggarakan
Jumlah
proses pembelajaran selama 34 minggu per
rombongan belajar
100
83.25
83.25
tahun dengan kegiatan pembelajaran sebagai
yang memenuhi
berikut :
standar
Kelas I - II : 18 jam per minggu
SD
100
97.00
97.00
Kelas III : 24 jam per minggu
MI
100
78.00
78.00
Kelas IV VI : 27 jam per minggu
SMP
100
92.00
92.00
Kelas VII IX : 27 jam per minggu
MTs
100
66.00
66.00
SD
100
96.00
96.00
Setiap satuan pendidikan menerapkan
kurikulum sesuai ketentuan yang berlaku
MI
100
100.00
100.00

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

84

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

22

23

Setiap guru yang menerapkan Rencana


Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang
disusun berdasarkan silabus untuk setiap
mata pelajaran yang diampunya

Setiap guru mengembangkan dan


menerapkan program penilaian untuk
membantu meningkatkan kemampuan belajar
peserta didik

24

Kepala sekolah melakukan supervisi kelas


dan memberikan umpan balik kepada guru
dua kali dalam setiap semester

25

Setiap guru menyampaikan laporan hasil


evaluasi mata pelajaran serta hasil penilaian
setiap peserta didik kepada Kepala sekolah
pada akhir semester dalam bentuk laporan
hasil presentasi belajar peserta didik

26

27

Kepala Sekolah atau Madrasah


menyampaikan laporan hasil Ulangan Akhir
Semester (UAS) dan Ulangan Kenaiakan
Kelas (UKK) serta Ujian Akhire (US/UN)
kepada orang tua peserta didik dan
menyampaikan rekapitulasinya kepada Dinas
Pendidikan kabupaten/kota atau
Setiap satuan pendidikan menerapkan
prinsip- prinsip Manajemen Berbasis Sekolah
(MBS).

SMP
MTs
Jumlah guru yang
menerapkan RPP
berdasarkan
silabus untuk mata
pelajaran yang
diampunya
SD
MI
SMP
MTs
Jumlah guru yang
mengembangkan
dan menerapkan
program penilaian
untuk membantu
meningkatkan
kemampuan
belajar peserta
didik
SD
MI
SMP
MTs
SD
MI
SMP
MTs
Jumlah guru yang
menyampaikan
laporan hasil
evaluasi mata
pelajaran serta
hasil penilaian
setiap peserta
didik kepada
Kepala Sekolah
pada akhir
semester
SD
MI
SMP
MTs
satuan pendidikan
SD
MI
SMP

100
100

73.00
93.00

73.00
93.00

100

81.25

81.25

100
100
100
100

97.00
85.00
77.00
66.00

97.00
85.00
77.00
66.00

100

78.75

78.75

100
100
100
100
100
100
100
100

94.00
78.00
77.00
66.00
93.00
78.00
77.00
100.00

94.00
78.00
77.00
66.00
93.00
78.00
77.00
100.00

100

96.50

96.50

100
100
100
100
100
100
100
100

98.00
92.00
96.00
100.00
98.50
98.00
100.00
96.00

98.00
92.00
96.00
100.00
98.50
98.00
100.00
96.00

MTs

100

100.00

100.00

SD
MI
SMP
MTs

100
100
100
100

0.00
0.00
0.00
0.00

0.00
0.00
0.00
0.00

Sumber: SPM Dinas Pendidikan Kota Batu, 2014

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

85

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Berikutnya adalah hasil evaluasi pencapaian sasaran Terwujudnya lembaga


pendidikan menengah yang unggul sebagaimana disajikan pada Tabel 3.75 di bawah ni.
Sasaran tersebut diwujudkan dengan cara memenuhi ketercapaian sumber daya
manusia maupun sumber daya material yang dibutuhkan dalam proses belajar mengajar,
serta menerapkan metode pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum nasional maupun
keunggulan lokal di tingkat pendidikan dasar menengah.
Tabel 3.75
Evaluasi Pencapaian Sasaran 6.2.2
Terwujudnya lembaga pendidikan menengah yang unggul

No.

Indikator Target RPJMD


Persentase jumlah SMA/ SMK/MA
yang telah memenuhi standar dalam
hal jumlah murid maksimal dalam 1
kelas.
Persentase jumlah SMA/ SMK/MA
yang telah memenuhi standar dalam
hal tenaga pendidik (guru dan kepala
sekolah).
Persentase jumlah SMA/ SMK/MA
yang telah memenuhi standar dalam
hal ketentuan ruang (kepala sekolah,
guru, kelas, laboratorium,
perpustakaan, dll).
Persentase jumlah SMA/ SMK/MA
yang telah memenuhi standar dalam
hal ketersediaan sarana pendukung
pembelajaran (buku perpustakaan,
alat praktikum, dll)

Tahun 2012
Capaian
Reali
Kinerja
sasi
(%)

Tahun 2013
Capaian
Reali
Kinerja
sasi
(%)

Satuan

Tar
get

Persen

100

100

100.00

100

100

100.00

Persen

86

90.2

104.88

92.1

94.71

102.83

Persen

68

71.8

105.59

73.9

75.39

102.02

Persen

55

57.8

105.09

60.4

60.69

100.48

Tar
get

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Sasaran ini memiliki 4 indikator yang kesemuanya dapat dipenuhi dan tercapai
melebihi target yang ditetapkan pada tahun 2013. Indikator nomor 1 tercapai sesuai
target yang ditetapkan karena indicator ini sudah mampu dicapai sejak tahun
sebelumnya. Sedangkan 3 indikator yang lain tercapai >100,0% dibandingkan target
yang telah ditetapkan. Selain itu, ke 3 indikator tersebut juga menunjukkan tren
perkembangan yang positif dibandingkan tahun sebelumnya (2012), Secara keseluruhan
capaian kinerja sasaran ini adalah sebsar 101,33% dan termasuk kategori Sangat
Berhasil.
Hasil-hasil yang merupakan output dan/atau outcome dari pelaksanaan program
dan ekgiatan serta indikator kinerja bidang pendidikan etrsebut di atas di antaranya
adalah semakin baiknya pemerataan dan perluasan pendidikan bagi masyarakat serta
semakin baiknya kualitas pelayanan pendidikan. Wujud pemerataan dan perluasan akses
pendidikan di Kota Batu pada khususnya dan di Jawa Timur pada umumnya dilakukan
dengan cara memperluas daya tampung satuan pendidikan, memberikan kesempatan
yang sama bagi semua peserta didik dari berbagai golongan masyarakat yang berbeda
secara sosial, ekonomi, gender, geografis wilayah, dan tingkat kemampuan fisik serta
intelektual. Bertambahnya Angka Partisipasi Kasar (APK), Angka Partisipasi Murni (APM)

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

86

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

angka Tingkat Pendidikan Rata-rata dan Angka Melek Huruf merupakan suatu indikator
kunci keberhasilan pendidikan yang berlangsung saat ini.
Tabel 3.76
Jumlah Sekolah, Guru, dan Murid
menurut Tingkat pendidikan dan kecamatan (tahun terakhir)
Uraian

Kec. Batu

Kec. Junrejo

Kec. Bumiaji

Jumlah

Jumlah Sekolah
TK

40

18

26

84

SD/MI

42

21

27

90

SLTP/MTs

18

31

SLTA/MAN

11

14

SMK

10

Jumlah Guru
TK

220

85

87

392

SD/MI

551

268

388

1.207

SLTP/MTs

474

136

141

751

SLTA/MAN

306

81

18

405

SMK

287

81

375

Jumlah Murid
TK

3.183

1.13

1.364

5.677

SD/MI

9.945

4.471

5.01

19.426

SLTP/MTs

6.428

2.012

1.545

9.985

SLTA/MAN

2.652

826

86

3.564

SMK

2.863

63

2.183

5.109

Sumber : BPS Kota Batu, 2014 data diolah

Data sebaran APK dan APM di Jawa Timur tahun 2009-2012, menunjukkan
bahwa terdapat kaitan yang erat antara capaian APK pendidikan pada jenjang tertentu
dengan jenjang di atasnya, atau semakin tinggi jenjang pendidikan semakin berkurang
peserta didiknya. Untuk mencapai peningkatan APK pada jenjang yang lebih tinggi,
Pemerintah Kota Batu mengikuti dan menjalankan program Pemerintah Provinsi Jawa
Timur 2009-2014 yakni Wajib Belajar Pendidikan Dasar 12 tahun. Tabel 3.78 berikut
menunjukkan indicator pendidikan di Kota Batu.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

87

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.77
Indikator Pendidikan Kota Batu Tahun 2008-2012
TAHUN
Indikator Pendidikan

Angka Melek Huruf

2008

2009

2010

2011

2012

97,30

97,78

98,26

98,27

98,32

Angka Partisipasi Sekolah


7-12 Tahun
13-15 Tahun
16-18 Tahun
19-24 Tahun

99,31
93,89
69,15
17,53

99,60
94,23
70,76
18,00

99,52
92,97
73,52
20,70

97,69
96,99
63,11
16,73

98,66
96,03
71,96
16,35

Rata-Rata Lama Sekolah

8,2

8,34

8,51

8,52

8,58

Sumber : BPS Kota Batu, 2014 data diolah

Sejalan dengan semakin lengkapnya sarana dan prasarana pendidikan,


persentase angka partisipasi sekolah di masing-masing jenjang pendidikan juga
mengalami kenaikan yang cukup berarti dalam kurun waktu 5 (lima) tahun tarakhir seperti
terlihat di Tabel 3.78 di atas.
Gambar 3.7 berikut
menunjukkan bahwa baik
Indeks Harapan Hidup, Indeks
Pendidikan, maupun Indeks
Daya
Beli
memiliki
kecenderungan
meningkat.
Peningkatan
paling
cepat
terlihat pada komponen daya
beli
masyarakat
yang
mencerminkan
peningkatan
kesejahteraan
secara
ekonomis.
Hal ini
lebih
memperkuat
fakta
bahwa
komitmen Pemerintah Kota
Batu adalah konsisten dalam
upaya
mensejahterakan
masyarakat melalui program
dan kegiatan pembangunan
yang dilaksanakan.

Gambar 3.7
Perkembangan Indeks Harapan Hidup, Indeks Pendidikan,
dan Indeks Daya Beli
Di Kota Batu Tahun 2008-2013
100
95
90
85
80
75
70
65
60
55
50
45
40

83,08

83,38

84,41

84,45

84,99

85,24

73,12

73,20

74,07

74,53

74,86

75,15

63,79

64,65

64,88

65,80

66,46

67,29

2008

2009
Uraian

2010

2011
IHH

2012
IP

2013
IDB

Sumber : Bappeprov Jawa Timur, 2013 Data diolah

Kualitas dan prestasi pendidikan di Kota untuk semua tingkatan terus akan ditingkatkan di
masa datang baik bagi siswa maupun guru. Cermin peningkatan kualitas dan prestasi
tersebut adalah diterimanya berbagai penghargaan dan kejuaraan di bidang ini. Pada
tahun 2013 telah diterima berbagai penghargaan dari berbagai jenis prestasi baik tingkat

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

88

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

lokal, provinsi, nasional dan bahkan internasional, seperti terlihat pada Tabel 3.77. di
atas.
Selanjutnya, berikut ini adalah evaluasi terhadap sasaran 3 dari Tujuan ke 2 Misi
6 yakni Terwujudnya lembaga pendidikan kejuruan unggul yang mendukung potensi dan
keunggulan Kota Batu. Arah kebijakan Pemerintah Kota Batu dalam hal ini adalah
mengembangkan pendidikan kejuruan yang lebih mengarahkan peserta didik untuk lebih
siap mendukung sektor industri unggulan daerah Kota Batu yang ditempuh dengan cara
mengembangkan kurikulum khusus (sesuai potensi dan keunggulan Kota Batu) untuk
dimasukkan dalam pendidikan sekolah kejuruan di Kota Batu.
Tabel 3.78
Evaluasi Pencapaian Sasaran 6.2.3
Terwujudnya lembaga pendidikan kejuruan unggul yang mendukung potensi dan keunggulan Kota Batu
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Ketersediaan lembaga pendidikan


pertanian dan kepariwisataan yang
dapat diterapkan di pendidikan
formal maupun non formal.

Satuan

Unit

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

100.00

Tahun 2013
Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

100.00

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Tabel 3.78 menunjukkan bahwa capaian kinerja sasaran ini adalah 100%
sehingga termasuk kategori Sangat Berhasil. Dibandingkan tahun sebelumnya (2012)
jumlah lembaga pendidikan pertanian dan kepariwisataan yang dapat diterapkan di
pendidikan formal maupun non formal bertambah 1 unit dari 2 buah pada tahun 2012
menjadi 3 buah tahun 2013.
Sasaran dalam Tabel 3.80 berikut masih terkait dengan serta merupakan
kelanjutan dari sasaran sebelumnya. Berdasarkan Tabel tersebut, maka keberadaan
lembaga pendidikan pertanian dan kepariwisataan dilengkapi pula dengan ketersediaan
kurikulum khusus sesuai dengan spesifikasi lembaga pendidikan dimaksud. Ketersediaan
kurikulum ini sudah dipersiapkan sejak beberapa tahun yang lalu bahkan sebelum tahun
2012. Dengan demikian capaian kinerja sasaran ini adalah !00%.
Tabel 3.79
Evaluasi Pencapaian Sasaran 6.2.4
Terwujudnya Kota Batu sebagai kota vokasi unggulan
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Ketersediaan kurikulum khusus


pertanian dan kepariwisataan yang
dapat diterapkan di pendidikan
formal maupun non formal.

Satuan

Kategori

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

ada

ada

100.00

Tahun 2013
Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

ada

ada

100.00

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

89

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Sasaran terakhir dari Tujuan ke 2 Misi 6 adalah Terlaksananya manajemen


pelayanan pendidikan yang handal yang capaian indicator kinerjanya seperti ditunjukkan
dalam Tabel 3.81. Dengan pencapaian sasaran ini dihrapkan mampu mewujudkan
pengelolaan pendidikan yang handal, memegang prinsip pelayanan, transparan, dan
dapat dipertanggungjawabkan. Adapun langkah yang ditempuh dalam hal ini adalah: a).
Mengembangkan data dan informasi pendidikan yang terbarukan dan akurat baik dari sisi
peserta didik dan masyarakat, maupun pengelolaan pendidikan, b). Memantau
pemanfaatan berbagai dana bantuan oleh sekolah, c). Melibatkan Dewan Pendidikan dan
Komite Sekolah dalam memantau pelaksanaan pendidikan, dan d), Melakukan
monitoring, evaluasi, dan pelaporan terhadap kinerja setiap lembaga pendidikan.
Tabel 3.80
Evaluasi Pencapaian Sasaran 6.2.5
Terlaksananya manajemen pelayanan pendidikan yang handal.

No.

Indikator Target RPJMD


Persentase jumlah SD/MI yang telah
menerapkan prinsip-prinsip
manajemen berbasis sekolah (MBS).
Persentase jumlah SMP/MTs yang
telah menerapkan prinsip-prinsip
manajemen berbasis sekolah (MBS).
Persentase jumlah SMA/ SMK/MA
yang telah menerapkan prinsipprinsip manajemen berbasis sekolah
(MBS).
Persentase jumlah SD/MI yang telah
melaksanakan ketentuan proses
belajar mengajar yang harus
dilakukan oleh guru, kepala sekolah
dan pengawas sekolah berdasar
SPM.
Persentase jumlah SMP/MTs yang
telah melaksanakan ketentuan
proses belajar mengajar yang harus
dilakukan oleh guru, kepala sekolah
dan pengawas sekolah berdasar
SPM.
Persentase jumlah SMA/ SMK/MA
yang telah melaksanakan ketentuan
proses belajar mengajar yang harus
dilakukan oleh guru, kepala sekolah
dan pengawas sekolah berdasar
SPM.

Tahun 2012
Capaian
Reali
Kinerja
sasi
(%)

Tahun 2013
Capaian
Reali
Kinerja
sasi
(%)

Satuan

Targ
et

Persen

100

100

100.00

100

100

100.00

Persen

100

100

100.00

100

100

100.00

Persen

100

100

100.00

100

100

100.00

Persen

71.25

75

105.26

80

78.75

98.44

Persen

60.8

64

105.26

68

67.20

98.82

Persen

62.7

66

105.26

70

69.30

99.00

Targ
et

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Sasaran ini terdiri dari 6 indikator sasaran dimana 3 sasaran yaitu nomor 1, 2,
dan 3 telah dapat direalisasikan sesuai dengan target yang direncanakan dengan
capaian kinerja 100%. Sedangkan 3 sasaran lainnya yaitu indicator nomor 4, 5, dan 6
tidak/belum mencapai target yang ditetapkan meskipun selisihnya sangat kecil karena
nilainya sudah mendekati 100%

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

90

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Berbagai kendala dan/atau hambatan yang ditemui selama tahun 2013 untuk
merealisasikan keseluruhan Misi 6 beserta tujuan dan sasaran yang menyertainya dapat
disarikan sebagai berikut:
1. Sulitnya penata laksanaan tunjangan Profesi Pendidik sesuai dengan aturan
dan jenjang
2. Terjadinya staknan kenaikan pangkat guru di tahun 2013
3. Belum terpenuhinya sejunmlah anggaran sesuai dengan kegiatan
4. Belum terpenuhinya perangkat perubahan kenaikan pangkat guru di tahun 2013
5. Sulitnya penempatan guru barusesuai dengan bidangnya kualitas
6. Terbatasnya kualitas SDM, khususnya pendidik PAUD
7. Belum memadainya Sarana Prasarana PAUD
8. Terlambatnya proses pengesahan dan pencairan anggaran, sehingga kegiatan
pembangunan sarana dan prasarana pendidikan terlambat dilaksanakan
9. Terbatasnya tenaga pelelangan barang dan jasa yang sudah lulus sertifikasi,
sehingga proses pengadaan barang dan jasa belum maksimal
10. Belum optimalnya sinergitas penganggaran pendidikan antara pemerintah
pusat, propinsi dan kota
11. Tingginya kerusakan dan terbatasnya fasilitas sarana prasarana pendidikan
pada jenjang SD dan SMP
12. Belum optimalnya partisipasi masyarakat yang kurang mampu secara ekonomi
terhadap pendidikan
13. Terbatasnya kualitas SDM aparatur Dinas Pendidikan
14. Kurang staf terutama yang mempunyai kemampuan teknis dalam
pembangunan fisik
15. Tidak adanya uang persediaan untuk kegiatan terutama honor dan transport
peserta
16. Belum adanya juknis tentang Bantuan Khusus Keuangan Propinsi
17. Sering terlambatnya juknis DAK pendidikan
18. Pagu Anggaran DAK bidang pendidikan TA. 2013 dinilai terlalu rendah
dibandingkan harga survey lapangan
Solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi kendala dan/atau hambatan
tersebut di atas adalah sebagai berikut:
1. Seharusnya dari pusat sampai daerah membentuk Tim Terpadu
2. Sosialisasi kepada semua guru tentang adanya perubahan bahan kenaikan
pangkat
3. Besaran anggaran hendaknya disesuaikan dengan kegiatan yang ada
4. Pemerintah hendaknya segera membentuk perangkat/tim yang memenuhi
syarat aturan
5. Rekrutmen guru baru seharusnya sesuai dengan kebutuhan
6. Pemberian beasiswa untuk pendidik PAUD berprestasi
7. Penigkatan jumlah bantuan sarana prasarana PAUD yang berprestasi

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

91

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

8. Terus berupaya menganalisis kebijakan guna menghasilkan skala prioritas


penyelesaian masalahpendidikan sehingga aspek efisiensi, efektivitas dan
ekonomis penggunaan anggaran bisa dicapai
9. Penambahan jumlah aparatur untuk mengikuti sertifikasi pengadaan barang
dan jasa
10. Standarisasi harga dari pemerintah terhadap pembelihan lahan agar
ditingkatkan
11. Terus diupayakan koordinasi program dengan pemerintah pusat/propinsi untuk
memperoleh optimalisasi program penganggaran yang terintegrasi dan
sinergitas
12. Meningkatkan besaran bantuan biaya operasional sekolah dan pemberian
beasiswa untuk siswa dari keluarga kurang/tidak mampu baik yang bersumber
dari dana APBD Kota, APBD Propinsi maupun pemerintah pusat.
Selama tahun 2013 urusan pendidikan di Kota Batu mampu meraih prestasi
dan/atau penghargaan sebagaimana Tabel berikut.
Tabel 3.81
Prestasi Urusan Pendidikan Tahun 2013

No
1
2
3
4
5
6
7

Jenis prestasi

9
10

Puisi
Seni Patung
Theater
Pawai Budaya
Paduan Suara
Pidato Bahasa Indonesia
MTQ
Senam Ceria Anak
Indonesia
Siswa Teladan
Siswa Teladan

11

Karate Pi

12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25

Renang Pa
Renang Pi
Karate Kumite 61 Kg Pa
Karate Kumite 53 Kg Pi
Karate Kumite 53 Kg Pi
Vokal grup
Baca Puisi
Desain Poster Pa
Instruktur Hantaran
Instruktur Tata Busana
Pendidik PAUD
Instruktur Tata Busana
Dolanan Anak
Dolanan Anak

Prestasi
Juara III
Juara III
5 Penyaji Terbaik
10 Penyaji Terbaik
Juara III
Juara I
Juara II

Tingkat
Prestasi

Dikdas

Juara I
Juara III Putra
Juara III Putri
Juara II Komite &
Juara III kata
Juara II
Juara III
Juara III
Juara III
Juara III
Juara Harapan II
Juara Harapan I
Juara I
Juara I
Juara I
Juara II
Juara I
Juara I
Juara III

Dikmen

Propinsi
Propinsi
Propinsi
Nasional
Propinsi
Nasional

Sumber: Lakip Dinas Pendidikan, 2014

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

92

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Kesimpulan:
1. Capaian kinerja dari Tujuan ke 2, Misi 6 yakni Mewujudkan lembaga pendidikan
yang benar-benar mengedepankan upaya membentuk anak didik yang
berkualitas secara keilmuan, bermoral dan berakhlak mulia yang terdiri dari 5
(lima) sasaran dapat direalisasikan sebesar 99,93% pada tahun 2013 sehingga
termasuk kategori Berhasil.
2. Secara keseluruhan Capian Kinerja Misi 6 yaitu: Peningkatan Kualitas
Pendidikan dan Lembaga Pendidikan adalah 82,72% dan termasuk kategori
Berhasil.

Misi 7:
Peningkatan Kualitas
Pelayanan Kesehatan

Dalam hal sumber daya manusia, di Kota Batu masih banyak kasus yang
terkait dengan kependudukan, pengangguran, ketenagakerjaan, kesehatan,
kepemudaan, keadilan, kesejahteraan, sosial, dan lain sebagainya.

Tujuan:
Memenuhi kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang lebih berkualias,
dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat; dan
Mewujudkan peningkatan kesejahteraan keluarga melalui upaya keluarga berencana.
Tujuan ke 1 dari Misi 7 terdiri dari 6 sasaran yang akan dicapai. Tabel 3.83
berikut merupakan evaluasi sasaran Terjaminnya Ketersediaan Kebutuhan Obat-Obatan
dan Perbekalan Kesehatan di Kota batu tahun 2013.
Tabel 3.82
Evaluasi Pencapaian Sasaran 7.1.1
Terjaminnya Ketersediaan Kebutuhan Obat-Obatan Dan Perbekalan Kesehatan
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Persentase ketersediaan obat dan


perbekalan kesehatan.

Tahun 2013

Tar
get

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

Persen

76.47

78

102.00

78

100

128.21

Kegiatan

100.00

100.00

Paket

100.00

100.00

Satuan

Tar
get

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

93

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Berdasarkan Tabel 3.83 tersebut di atas, maka 3 indikator sasaran ini dapat
direalisasikan sesuai dengan target yang ditetapkan dengan capaian kinerja sasaran
sebesar 109,40% sehingga termasuk kategori Sangat Berhasil. Kinerja tahun 2013 lebih
baik dan mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya dengan capaian
kinerja 102,0% tahun 2012 menjadi 128,21% tahun 2013 meskipun target tahun ini lebih
tinggi pula dibandingkan tahun sebelumnya.
Tabel 3.84 menunjukkan hasil evaluasi sasaran berikutnya yakni meningkatnya
sarana dan prasarana kesehatan untuk memenuhi standar pelayanan kesehatan yang
berkualitas. Capaian kinerja sasaran ini tahun ini sebesar 101,01% sehingga melampaui
target yang telah ditetapkan dan termasuk kategori Sangat Berhasil. Target yang
ditetapkan untuk indicator cakupan kunjungan ke puskesmas adalah 55,0% dan tahun
2013 teralisasi sebesar 55,56%. Meskipun capaian kinerjanya lebih rendah dibaningkan
tahun 2012 namun realisasi cakupannya lebih tinggi dan mengalami peningkatan yakni
dari 52,91% tahun 2012 menjadi 55,56% tahun 2013.

Tabel 3.83
Evaluasi Pencapaian Sasaran 7.1.2
Meningkatnya sarana dan prasarana kesehatan untuk memenuhi standar pelayanan kesehatan yang
berkualitas
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Cakupan kunjungan puskesmas.

Satuan

Persen

Tar
get

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

50

52.91

105.82

Tahun 2013
Tar
get

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

55

55.56

101.01

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Di antara hasil dari pencapaian sasaran ini salah satunya tercermin dari indikator
angka usia harapan hidup
Gambar 3.8
penduduk (AHH) dan angka
Perkembangan AKB dan AHH Di Kota Batu
Tahun 2008-2013
kematian bayi (AKB) di Kota
75,00
Batu. AHH berbanding terbalik
70,00
65,00
70,24
dengan angka kematian (bayi
69,92
69,80
69,44
68,92
68,87
60,00
55,00
lahir mati, kematian bayi di
50,00
bawah 1 tahun dan kematian ibu)
45,00
40,00
seperti terlihat pada Gambar 3.8.
35,00
Makin tinggi kualitas kesehatan,
30,00
25,00
32,17
31,38
makin rendah angka kematian
30,35
29,20
28,58
28,10
20,00
dan semakin
meningkatnya
2008
2009
2010
2011
2012
2013
harapan untuk hidup. AHH
AKB
AHH
Sumber : Bappeprov Jawa Timur, 2013 Data diolah
penduduk Kota Batu pada tahun
2013 mencapai 69,66 artinya

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

94

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.84
Angka Harapan Hidup dan Angka Kematian Bayi
perkiraan lama hidup rata-rata
Kota Batu Tahun 2008-2013
penduduk dengan asumsi tidak ada
ANGKA HARAPAN
ANGKA
perubahan pola mortalitas menurut
TAHUN
HIDUP
KEMATIAN BAYI
umur adalah sekitar 70 tahun.
31,38
2008
68,87
Sedangkan AKB mencapai 29,20
32,17
2009
68,92
artinya rata-rata dari setiap 1000
30,35
2010
69,44
kelahiran hidup terdapat 29-30 bayi
29,20
2011
69,80
diperkirakan meninggal. Kematian
2012
69,92
28,58
bayi tersebut lebih banyak dialami
*)
2013
70,24
28,10
oleh ibu yang kekurangan gizi,
Sumber : Hasil Susenas 2005 2010 dan proyeksi 2011
infeksi/penyakit, berat bayi lahir
rendah, pertolongan kelahiran yang kurang aman, kualitas gizi buruk dan kurangnya
pemberian immunisasi. Meskipun AKB masih sedikit di bawah Jawa Timur, Tabel 3.85
menunjukkan Perkembangan AHH dan AKB di Kota BatuTahun 2008-2013 yang terus
mengalami perbaikan.

Tabel tersebut mengkonfirmasikan salah satu kinerja bidang kesehatan di Kota Batu
dimana sejak tahun 2007 AHH meningkat 0,37% per tahun dan sebaliknya AKB
mengalami penurunan rata-rata sebesar 2,20% per tahun. Dengan laju perkembangan ini
diharapkan ke depan indikator ini akan lebih baik dan bahkan mampu melampaui kinerja
Jawa Timur.
Selanjutnya adalah evaluasi sasaran meningkatnya Kompetensi Tenaga
Kesehatan Dalam Memberikan Pelayanan Kesehatan Kepada Masyarakat dengan
indikator Persentase anggaran kesehatan dibandingkan APBD Kota Batu sepertu
ditunjukkan pada Tabel 3.86 berikut. Salah satu langkah yang diambil adalah dengan
jalan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tenaga kesehatan melalui Diklat,
Magang, Lokakarya dll.
Tabel 3.85
Evaluasi Pencapaian Sasaran 7.1.3
Meningkatnya Kompetensi Tenaga Kesehatan Dalam Memberikan Pelayanan Kesehatan Kepada Masyarakat
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Persentase anggaran kesehatan


dibandingkan APBD tingkat kota.

Satuan

Persen

Tar
get

Real
isasi

Capaian
Kinerja
(%)

3.1

3.39

109.35

Tahun 2013
Tar
get

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

3.45

3.74

108.41

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Tabel tersebut di atas menunukkan bahwa capain kinerja sasaran ini mencapai
108,41% dimana persentase anggaran kesehatan dalam APBD yang ditetapkan sebesar
3,45% terealisasi sebesar 3.74%. Besaran angka ini meningkat dibandingkan tahun 2012
sebesar 3.39. Secara umum, urusan Kesehatan di Kota Batu dilaksanakan oleh Dinas
Kesehatan sebagai leading SKPD yang dalam pelaksanaan beberapa program tertentu

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

95

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

berkolaborasi dengan dinas terkait antara lain: Program Pembangunan Bangunan/Rumah


Negara/Daerah (Dedicated) bersama Dinas Cikartarung; Program Perbaikan Gizi
Masyarakat (Dedicated) dengan melibatkan secara langsung SKPD Kecamatan dan
Kelurahan/Desa; Program Pengembangan Lingkungan Sehat (Dedicated) bersama
SKPD Kecamatan dan Kelurahan/Desa; Program Promosi Kesehatan dan
Pemberdayaan Masyarakat (Dedicated) dengan melibatkan SKPD Kecamatan dan
Kelurahan/Desa; serta Program Pengembangan Obat Asli Indonesia bersama dengan
BPMPKB. Alokasi anggaran urusan Kesehatan tahun 2013 sebesar Rp.
9,500,617,972,00 dan terealisasi Rp. 7,610,602,085,00 atau 80.11%. Anggaran tersebut
digunakan untuk melaksanakan 14 (empatbelas) program yang terdiri dari 43
(empatpuluh tiga) kegiatan.
Selanjutnya adalah capaian kinerja sasaran Meningkatnya Kualitas Pelayanan
Kesehatan Kepada Masyarakat. Sasaran dan indicator sasaran yang terkandung di
dalamnya sepenuhnya merupakan pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM)
bidang
Keshatan
berdasarkan
Peraturan
Menteri
Kesehatan
Nomor:
741/MENKES/PER/VII/2008. Tabel 3.87 menyajikan capaian kinerja sasaran ini secara
keseluruhan.

Tabel 3.86
Evaluasi Pencapaian Sasaran 7.1.4
Meningkatnya Kualitas Pelayanan Kesehatan Kepada Masyarakat
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Satuan

Tahun 2013

Tar
get

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

Target

Realis
asi

Capaian
Kinerja
(%)

Persentase masyarakat yang


memiliki jaminan kesehatan.
(MDGs)

Persen

15

16.75

111.67

17.00

17.59

103.46

Jumlah tenaga kesehatan yang


mendapat pengembangan keahlian.

Orang

100

110

110.00

110

115.50

105.00

Persentase anggaran kesehatan


dibandingkan APBD tingkat kota.

Persen

3.1

3.39

109.35

3.45

3.74

108.41

Cakupan penemuan dan


penanganan penderita penyakit.
(SPM)
Persen

2.09

104.50

2.00

0.00

0.00

Persen

10

50.00

90.00

10.47

11.63

Persen

39

40.29

103.31

80.00

41.26

51.58

Penderita DBD yang Ditangani

Persen

85

100

117.65

100.00

100.00

100.00

Penemuan Penderita Diare

Persen

55

59.48

108.15

85.00

100.00

117.65

Acute Flacid Paralysis (AFP)


rate per 100.000 penduduk < 15
tahun
Penemuan Penderita
Pneumonia Balita
Penemuan Pasien Baru TB
BTA Positif

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

96

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Cakupan desa/kelurahan mengalami


KLB yang dilakukan penyelidikan
epidemiologi < 24 jam. (SPM)

Persen

100

100

100.00

40.00

80.00

200.00

Cakupan desa/kelurahan UCI.


(SPM)

Persen

95

95.82

100.86

95.00

79.17

83.33

Cakupan kunjungan ibu hamil K4.


(SPM)

Persen

90

94.12

104.58

95.00

90.21

94.96

Cakupan ibu hamil dengan


komplikasi yang ditangani. (SPM)

Persen

79

84.12

106.48

85.00

79.66

93.72

10

Cakupan pertolongan persalinan


oleh tenaga yang memiliki
kompetensi kebidanan. (SPM)

Persen

94

102.2

108.72

100.00

95.53

95.53

11

Cakupan pelayanan ibu nifas. (SPM)

Persen

96

101.3

105.52

100.00

91.45

91.45

Persen

83

87.34

105.23

87.00

89.76

103.17

Persen
Persen

88
65

92.4
62.67

105.00
96.42

92.00
70

91.31

99.25
0.00

Persen

85

81.9

96.35

85.00

86.55

101.82

Persen

95

94.68

99.66

100.00

100.00

100.00

Persen

35

26.51

75.74

35.00

14.02

249.56

Persen

80

54.12

67.65

80.00

Persen

60

55

91.67

Persen

12

10

83.33

12
13
14
15
16
17
18
19
20

Cakupan neonatal dengan


komplikasi yang ditangani. (SPM)
Cakupan kunjungan bayi. (SPM)
Cakupan peserta KB aktif. (SPM)
Cakupan pelayanan anak balita.
(SPM)
Cakupan penjaringan kesehatan
siswa SD dan setingkat. (SPM)
Cakupan pelayanan kesehatan
dasar masyarakat miskin. (SPM)
Cakupan pelayanan kesehatan
rujukan pasien masyarakat miskin.
(SPM)
Persentase lansia yang dilayani.
Persentase puskesman santun
lansia.

56.83

140.78

60

57.75

96.25

12

10.50

87.50

21

Cakupan pemberian makanan


pendamping ASI pada anak usia 624 bulan keluarga miskin. (SPM)

Persen

100

100

100.00

100.00

100.00

100.00

22

Cakupan balita gizi buruk mendapat


perawatan. (SPM)

Persen

100

100

100.00

100.00

100.00

100.00

23

Persentase PIRT terdaftar yang


mengikuti penyuluhan keamanan
pangan.

Persen

98

97

98.98

98

101.85

103.93

24

Persentase TTU/TPM sehat.

Persen

50

46.92

93.84

50

49.27

98.53

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Sebagaimana ditunjukkan oleh Tabel 3.86 di atas, capaian indicator kinerja


sasaran yang berjumlah 24 indikator kinerja adalah bervariasi. Sebanyak 14 sasaran
mencapai dan bahkan melebihi target yang ditetapkan yakni indicator dengan nomor 1,
2, 3, 4, 5, 12, 15, 16, 17, 18, 21, 22, dan 23 sedangkan indicator yang lainnya belum
mencapai target yang telah ditetapkan. Secara keseluruhan capaian kinerja sasarn ini
sebesar 97,69% sehingga termasuk kategori Sangat Berhasil. Dibandingkan dengan
tahun sebelumnya capaian indicator kinerja ini adalah lebih baik dan menunjukkan
adanya kemajuan dan/atau perkembangan yang positif sebagaimana bias dievaluasi dari
kinerja masing-masing point indikatornya. Dengan demikian SPM bidang Kesehatan
sebagaimana tersebut di atas otomatis juga tercapai.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

97

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Sasaran berikutnya terkait dengan sasaran bidang kesehatan yang ditetapkan


untuk mencapai tuntutan ketentuan Millenium Development Goals (MDG) yakni
Meningkatnya Upaya Peningkatan Derajat Kesehatan Masyarakat dengan indicator
Cakupan masyarakat terlayani sanitasi dasar. (MDGs) dan Cakupan pengawasan
kualitas air bersih dan air minum yang memenuhi standard. (MDGs) seperti terlihat pada
Tabel 3.87
Tabel 3.87
Evaluasi Pencapaian Sasaran 7.1.5
Meningkatnya Upaya Peningkatan Derajat Kesehatan Masyarakat
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Satuan

Tahun 2013

Tar
get

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

Tar
get

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

Cakupan masyarakat terlayani


sanitasi dasar. (MDGs)

Persen

65

53.3

82.00

65

55.97

86.10

Cakupan pengawasan kualitas air


bersih dan air minum yang
memenuhi standard. (MDGs)

Persen

70

57.1

81.57

70

59.96

85.65

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Berdasarkan Tabel di atas capaian kinerja ke 2 sasaran ini belum dapat dicapai
secara penuh atau 100%. Indikator Masyarakat dengan indicator Cakupan masyarakat
terlayani sanitasi dasar dapat dicapai 86,10% sedangkan indicator Cakupan pengawasan
kualitas air bersih dan air minum yang memenuhi standard tercapai 85,65%. Berbagi
factor menyebabkan belum dapat dicapainya target yang ditetapkan sebagaimana akan
diuraikan pada Misi 8 pada evaluasi berikutnya. Akan tetapi secara umum capaian tahun
2013 adalah lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya untuk kedua indicator ini
yang masing-masing sebesar 82,0% dan 81,57%. Secara keseluruhan capaian kinerja
sasarn ini pada tahun 2013 adalah 85,88 sehingga termasuk kategori Sangat Berhasil.
Berikutnya adalah sasaran ke 6 dari Tujuan ke 2 Misi 7 yakni Meningkatnya
Kesehatan Lingkungan seperti terlihat pada Tabel 3.88 berikut.
Tabel 3.88
Evaluasi Pencapaian Sasaran 7.1.6
Meningkatnya Kesehatan Lingkungan
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Satuan

Cakupan pasangan usia subur yang


isterinya dibawah usia 20 tahun
3,5%. (SPM)

Persen

Tar
get

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

22.77

25.3

111.11

Tahun 2013
Tar
get

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

25

26.57

106.26

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

98

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.88 di atas menunjukkan bahwa capaian kinerja sasaran ini adalah
106,26% melebihi target yang ditetapkan tahun 2013 yaitu 25,0% dan terealisasi
26,57%. Capaian ini menunjukkan adanya perkembangan dibandingkan kondisi tahun
2012 sebesar 25,3%.
Dari rangkaian data cakupan dan capaian kinerja berbagi indicator sasaran yang
diuraikan di atas, yang perlu dicermati lebih lanjut adalah sebagai berikut :
1. Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani
Komplikasi kebidanan adalah kasus kesakitan pada ibu hamil, bersalin atau nifas
yang dapat membahayakan jiwa ibu dan bayinya. Pencapaian komplikasi
kebidanan yang ditangani sedikit di bawah target yang ditetapkan sebesar 80%.
Kesenjangan tersebut dikarenakan jumlah kasus komplikasi kebidanan yang
secara nyata ditemukan dan ditangani di sarana pelayanan kesehatan tidak
sebesar sasaran yang ditetapkan sebesar 20% dari total sasaran ibu hamil.
Kemungkinannya bisa jadi memang jumlah kasus komplikasi kebidanan yang
terjadi di masyarakat cukup rendah, atau masih terdapat kasus yang tidak
ditemukan/ dilaporkan sehingga tidak tertangani.
2. Cakupan neonatus dengan komplikasi ditangani
Neonatus dengan komplikasi adalah neonatus dengan penyakit dan kelainan
yang dapat menyebabkan kesakitan, kecacatan dan kematian. Kasus yang
termasuk kategori ini diantaranya asfiksia, BBLR (Berat Badan Lahir Rendah),
ikterus, hipotermia, tetanus neonatorum, sepsis, trauma lahir, dan kelainan
kongenital. Permasalahan pada rendahnya cakupan neonatus dengan komplikasi
yang ditangani hampir sama dengan masalah yang menyebabkan rendahnya
cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani. Kedua permasalahan ini tetap
perlu ditanggulangi secara serius karena baik kasus komplikasi maternal maupun
neonatal keduanya berpotensi menjadi penyebab kasus kematian ibu dan anak.
3. Cakupan pemberian MP ASI pada anak usia 6-24 bulan dari keluarga miskin
Pemberian MP ASI (Makanan Pendamping ASI) merupakan salah satu strategi
pemenuhan kebutuhan gizi bagi balita melalui pemberian asupan makanan
(bubur/ biscuit/ bahan makanan lain) dengan jumlah kalori terkontrol. Masih
rendahnya cakupan pemberian MP ASI pada balita dari keluarga miskin karena
pemberian MP ASI diprioritaskan pada balita yang berat badanya berada di
bawah garis merah. Saat ini terdapat fenomena yang cukup menarik di Kota Batu
karena justru sebagian besar balita BGM tidak berasal dari keluarga miskin. Dari
hal tersebut disimpulkan bahwa penyebab utama balita BGM bukan faktor
ekonomi namun ada pada faktor pola asuh keluarga dan perilaku konsumsi
makanan keluarga.
4. Cakupan peserta KB Aktif
Cakupan peserta KB aktif adalah pasangan usia subur (PUS) yang sedang
menggunakan salah satu cara/ alat kontrasepsi. Cakupan peserta KB aktif yang
rendah salah satunya karena banyaknya akseptor KB yang telah memasuki masa
menopause dan tidak diimbangi dengan akseptor KB baru. Keengganan
mengikuti KB dapat terjadi karena kurangnya pengetahuan PUS tentang KB.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

99

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

5. Cakupan pelayanan kesehatan dasar masyarakat miskin


Pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat miskin adalah layanan kesehatan
yang diberikan bagi masyarakat miskin peserta Jamkesmas/ Jamkesda di sarana
pelayanan kesehatan strata pertama seperti Puskesmas dan jaringannya.
Rendahnya cakupan pelayanan kesehatan dasar ini menunjukkan masih
rendahnya pemanfaatan Puskesmas oleh peserta Jamkesmas/ Jamkesda serta
system rujukan yang belum berjalan dengan optimal.
6. Cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin
Berkebalikan dengan cakupan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat
miskin, cakupan pelayanan kesehatan rujukan justru sangat tinggi. Pelayanan
kesehatan rujukan atau pelayanan kesehatan di sarana kesehatan strata dua
atau tiga seperti RS maupun balai kesehatan masyarakat milik pemerintah atau
swasta. Hal ini merupakan masalah yang harus ditangani, karena dengan tidak
berjalannya sistem rujukan, maka pelayanan kesehatan menjadi inefektif dan
inefisien karena kasus penyakit yang dapat ditangani di Puskesmas harus beralih
ke RS. Selain itu, pembiayaan kesehatan yang dikeluarkan Pemerintah menjadi
membengkak karena unit cost pengobatan di RS jauh lebih mahal daripada di
Puskesmas.
7. Cakupan pelayanan gawat darurat level 1 yang harus diberikan sarana
kesehatan (RS) di Kab/Kota
Pelayanan gawat darurat level satu merupakan salah satu indikator tanggap
darurat suatu Rumah Sakit yang ditunjukkan dengan kesiapan sarana serta
tenaga kesehatan yang telah tersertifikasi. Masih rendahnya cakupan pelayanan
gawat darurat level satu di sarana RS disebabkan terbatasnya jumlah tenaga
medis bersertifikasi General Emergency Life Support (GELS), Advance
Traumatic Life Support (ATLS) dan Advance Cardiac Life Support (ACLS)di RS
se-wilayah Kota Batu.
8. Cakupan penemuan dan penanganan penyakit
Masih rendahnya cakupan penemuan beberapa penyakit dalam indikator SPM,
seperti pneumonia dan TBC dengan BTA positif salah satunya karena masih
kurangnya kompetensi tenaga kesehatan yang berada pada ujung tombak
pelayanan kesehatan dalam mengenali maupun memotivasi penderita untuk
menjalani pemeriksaan. Faktor lain adalah masih rendahnya pengetahuan
masyarakat mengenai gejala maupun bahaya penyakit tersebut, sehingga
memilih untuk tidak berobat.
Berbagai kendala dan hambatan yang ditemui selama pelaksanaan program
dan/atau kegiatan tahun 2013 adalah sebagai berikut:
1. Proses penyusunan anggaran dengan sistem pagu serta pagu yang sering
berubah-ubah menyulitkan dalam menyusun program/ kegiatan SKPD, karena
program/ kegiatan Dinas Kesehatan hampir seluruhnya merupakan program/

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

100

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

2.

3.

4.

5.

6.
7.

kegiatan dasar/ rutin yang wajib dilakukan dan sudah memiliki standar dari
Kementerian Kesehatan RI.
Belum adanya Protap/ Juknis/ Juklak yang mengatur tentang pembuatan
pertanggung jawaban keuangan sehingga sering terjadi kesalahan-kesalahan
dalam pembuatan dokumen SPJ dan perpajakan
Masih lemahnya koordinasi dan kerjasama lintas program dan lintas sektor dalam
perencanaan program / kegiatan sehingga terkesan SKPD berjalan sendirisendiri atau malah saling tumpang tindih dalam pelaksanaan di lapangan
Para stakeholder kesehatan belum seluruhnya menggunakan indikator-indikator
kesehatan dalam menjalankan tupoksinya. Akibatnya dampak kebijakan yang
dibuat merugikan sektor kesehatan.
Tenaga kesehatan yang berfungsi sebagai pemegang program di Puskesmas,
terutama tenaga yang baru belum memahami tupoksi maupun teknis program
serta belum memiliki ketrampilan yang memadai, sehingga pelaksanaan program
mulai tingkat dasar terhambat
Proses pencatatan dan pelaporan belum dilaksanakan dengan baik, sehingga
data/ laporan yang masuk diragukan validitasnya.
Kurangnya kesadaran masyarakat dan stakeholder kesehatan akan pentingnya
kesehatan/ mencegah sebelum sakit, sehingga biaya yang dikeluarkan untuk
pembiayaan kesehatan masih sangat besar pada upaya-upaya kuratif rehabilitatif
dan bukan promotif/ preventif.

Alternatif solusi yang dapat dikembangkan dalam upaya mengatasi berbagai


kendala dan hambatan yang diuraikan di atas di antaranya adalah:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Penyusunan anggaran kesehatan dilakukan sesuai aturan yang berlaku dan


dibahas antara Timgar dan SKPD terkait secara intensif
Adanya Raker/ Rakor tingkat daerah untuk sinkronisasi anggaran maupun
program/ kegiatan untuk meningkatkan kerjasama & koordinasi lintas sektor
Adanya forum SKPD terkait untuk penyamaan persepsi dan sasaran program,
terutama dalam program penanggulangan kemiskinan
Penyusunan Protap pembuatan SPJ dan sosialisasinya termasuk aturan-aturan
perpajakan
Peningkatan kapasitas SDM kesehatan yang didukung pendanaan yang
memadai untuk peningkatan mutu pelayanan kesehatan dasar
Pelaksanaan bimbingan teknis dan supervisi ke Puskesmas dan jaringannya
(sudah dilaksanakan)
Pembenahan sistem pencatatan dan pelaporan mulai tingkat Puskesmas (sudah
dilaksanakan)

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa berdasarkan hasil evaluasi sasaran


tersebut di atas, maka Capaian kinerja dari Tujuan ke 1, Misi 7 yakni: memenuhi
kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang lebih berkualias, dalam rangka

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

101

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang terdiri dari 6 (enam) sasaran dapat
direalisasikan sebesar 100,48% pada tahun 2013 sehingga termasuk kategori Sangat
Berhasil.
Evaluasi sasaran selanjutnya merupakan evaluasi terhadap Tujuan ke 2 Misi 7
Sasaran 1 yaitu: Meningkatnya Jumlah Pasangan Usia Subur Yang Mengikuti Program
Keluarga Berencana. Untuk mencapai sasaran ini Pemerintah Kota Batu menetapkan
kebijakan Pemantapan akses layanan keluarga berencana yang merata dan terjangkau;
terutama bagi pasangan usia subur. Serta ditunjang dengan penyuluhan kesehatan
reproduksi bagi perempuan usia remaja. Adapun langkah yang diambil adalah dengan
Meningkatkan peran PLKB dalam pencapaian Program Keluarga Berencana.
Pada tahun 2013, urusan ini dilaksanakan oleh Badan Pemberdayaan
Masyarakat, Perempuan & Keluarga Berencana dengan alokasi anggaran sebesar Rp.
1,090,578,380,00 dengan realisasi Rp. 686,075,375,00 atau 62,91%. Anggaran tahun
2013 tersebut digunakan untuk melaksanakan 4 (empat) program dengan 7 (tujuh)
kegiatan. Tabel 3.90 menunjukkan hasil evaluasi sasaran dimaksud.
Tabel 3.89
Evaluasi Pencapaian Sasaran 7.2.1
Meningkatnya Jumlah Pasangan Usia Subur Yang Mengikuti Program Keluarga Berencana
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Cakupan sasaran pasangan usia


subur yang ingin ber-KB aktif 65%.
(SPM)

Satuan

Persen

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

71.62

79.58

111.11

Tahun 2013
Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

80

83.56

104.45

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Tabel di atas menunjukkan bahwa capaian kinerja sasaran ini sebesar 104,45%
dengan 1 indikator sasaran yaitu Cakupan sasaran pasangan usia subur yang ingin berKB aktif 65%. (SPM). Capaian indicator kinerja tahun 2013 terlihat lebih baik yaitu
83,56% dibandingkan dengan tahun 2012 yaitu 79,58%.
Hasil dari pelaksanaan program dan/atau kegiatan untuk mewujudkan
tercapainya sasaran ini pada tahun 2013 disajikan pada Tabel 3.91 sebai berikut:

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

102

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.90
Hasil Pelaksanaan Program Keluarga Berencana

Sasaran Strategis
Kader PPKBD & Sub
PPKBD

Tim KB Keliling

Dinas Terkait (Dinas


Pendidikan, Dinas
Kesehatan, Bappeda,
Dinas Pariwisata)
Masyarakat Kota Batu
Siswa Sekolah se-Kota
Batu
Kelompok Pengasuhan
Anak
Tenaga Pendamping di
Kec.
Anak Usia Dini di Kota
Batu
Ibu, Anak, Balita & Lansi
se-Kota Batu

Indikator Kinerja

Target

Satuan

Realisasi

(%)

350

orang

350

100

80

set

80

100

KIE Kit

10

set

10

100

Obgyn Bed

buah

100

Tangga Lipat

buah

100

Tabung Pemadam Kebakaran

buah

100

Penyedot Debu

buah

100

Almari

buah

100

White Board

buah

100

Teralis Besi

100

meter

100

100

PC

10

unit

10

100

Kursi Hadap

buah

100

Kursi Roda

buah

100

Gudang Balai Penyuluh KB

unit

100

Adanya Dukungan & Partisipasi dari


Dinas/Instansi terkait dalam
Pelaksanaan Program KRR

55

orang

55

100

120

orang

120

100

55

orang

55

100

240

orang

240

100

55

orang

55

100

2300

anak

2300

100

50

orang

50

100

Meningkatnya Kinerja Kader dalam


Penggerakan Akseptor KB
BKB Kit

Terlayaninya Kebutuhan
MOW/MOP/Implant
Meningkatnya Pengetahuan &
Pemahaman Siswa terhadap KRR
Berikut Resiko & Penggunaan
NAPSA serta HIV/AIDS
Diperolehnya Data tentang Jumlah
& Kualitas Pola Pengasuhan &
Pembinaan Tumbuh Kembang Anak
Meningkatnya Pengetahuan &
Ketrampilan Kader BKB, BKR dan
BKL
Meningkatnya Gizi pada Anak Usia
Dini Sehingga Bisa Meningkatkan
Kualitas SDM Sejak Dini
Meningkatnya Kesehatan Ibu, Anak,
Balita dan Lansia

Sumber: Lakip Bapemas PKB Kota Batu, 2014

Tabel 3.92 tersebut di atas terkait dengan pencapaian sasaran untuk


meningkatkan kesehatan reproduksi. Pencapaian sasaran ini dilakukan dengan cara
pemantapan akses layanan keluarga berencana yang merata dan terjangkau; terutama
bagi pasangan usia subur. Serta ditunjang dengan penyuluhan kesehatan reproduksi
bagi perempuan usia remaja. Adapun langkah yang dilakukan adalah dengan
meningkatkan peran PLKB dalam pencapaian Program Keluarga Berencana.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

103

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.91
Evaluasi Pencapaian Sasaran 7.2.2
Meningkatnya Reproduksi Sehat
Tahun 2012
No.

Tahun 2013

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

Persen

0.00

100.00

Remaja

0.00

55

55

100.00

Indikator Target RPJMD

Satuan

Jumlah pembinaan kesehatan


reproduksi kepada masyarakat.

Jumlah remaja yang memperoleh


pembinaan kesehatan reproduksi
kepada masyarakat.

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Capaian sasaran ini tidak dapat dipisahkan dengan sasaran sebelumnya dan
sasaran berikutnya (Tabel 3.93) karena ke tiganya merupakan pemenuhan SPM bidang
Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera berdasarkan Peraturan Kepala Badan
Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Nomor : 55 / Hk-010/B5/2010. Berrdasarkan
Tabel 3.92 di atas, terlihat 2 indikator kinerja sasaran ini dapat tercapai sesuai dengan
target yang ditetapkan (100,00%) sehingga termasuk kategori Sangat Berhasil.
Tabel 3.92
Evaluasi Pencapaian Sasaran 7.2.3
Terwujudnya Keluarga Berencana Sejahtera.
Tahun 2012
No.

1
2

Indikator Target RPJMD

Cakupan pasangan usia subur yang


ingin ber-KB tidak terpenuhi
(Unmeet Need) 5%.
Cakupan anggota bina keluarga
balita (BKB) ber-KB 87%. (SPM)
Cakupan PUS peserta KB anggota
usaha peningkatan pendapatan
keluarga sejahtera (UPPKS) yang
ber-KB 87%. (SPM)
Rasio Petugas Lapangan
KB/Penyuluh KB (PLKB/PKB) 1
petugas di setiap 2 desa/kelurahan.
(SPM)
Rasio Pembantu Pembina Keluarga
Berencana (PPKBD) 1 petugas di
setiap desa/ kelurahan. (SPM)
Cakupan penyediaan alat dan obat
kontrasepsi untuk memenuhi
permintaan masyarakat 30% setiap
tahun. (SPM)
Cakupan penyediaan informasi data
mikro keluarga di setiap
desa/kelurahan 100% setiap tahun.
(SPM)

Tahun 2013

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

15

19.15

127.67

19

20.11

105.83

Orang

170

164

96.47

174

172.2
0

98.97

Orang

50

56

112.00

50

58.80

117.60

Persen

30

35.00

70.00

Persen

100

100.0

105.0
0

105.00

Persen

2.7

90.00

0.00

Persen

0.00

0.00

Satuan

Targ
et

Persen

33.33

100.0

111.11

100.00

50.00

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

104

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.93 memperlihatkan bahwa dari 7 indikator kinerja sasaran ini 3 sasaran
telah dapat mencapai target yang diharapkan (>100,0%), 2 indikator tidak mencapai
target, sedangkan 2 indikator tidak ditetapkan targetnya untuk tahun 2013 sehingga
capaian kinernya adalah 0,00%. Secara keseluruhan capaian kinerja sasaran ini adalah
71,06 sehingga termasuk kategori Cukup Berhasil.
Hasil dan/atau capaian pelaksanaan program dalam rangka mencapai sasaransasaran terebut pada tahun 2013 di antaranya adalah:
1. Program KB (Kegiatan Pembinaan KB)
Terbinanya kader PPKBD dab Sub PPKBD dalam upaya meningkatkan peran
serta Institusi Masyarakat Pedesaan (IMP) dan meningkatkan capaian program
KB di Kota Batu
2. Kegiatan Pengadaan Sarana Mobilitas Tim KB Keliling
Terpenuhinya kebutuhan sarana-prasarana penunjang program KB dalam rangka
optimalisasi capaian program, terdiri dari KIE Kit, Komputer/PC
3. Program Kesehatan Reproduksi Remaja (Kegiatan memperkuat dukungan dan
partisipasi masyarakat /RAKERDA)
Diperolehnya dukungan / komitmen / kesepakatan terhadap program KB dari
LSM, TOGA, TOMA dan dinas / instansi terkait, serta lintas program
4. Program Pelayanan Kontrasepsi (Pelayanan KB Medis Operasi)
5. Terlayaninya kebutuhan MOW / MOP / Implant untuk masyarakat miskin di Kota
Batu.
Adapun kendala dan hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaan program dan
kegiatan di antaranya adalah: a). Terbatasnya jumlah PLKB/PKB yang tersedia/ada,
sehingga pencapaian dan pelaksanaan program di lapangan belum optimal, serta b).
Belum terciptanya pemahaman yang sama dari tujuan pembangunan yang berwawasan
kependudukan, sehingga seringkali program/kegiatan harus berjalan sendiri-sendiri.
Untuk mengatasi kendala terebut di atas, solusi yang dapat diambil adalah: a).
Diharapkan adanya penambahan tenaga/SDM yang berkualitas guna mendukung
program KB, dan b). Perlu adanya sosialisasi, koordinasi dan sinkronisasi program guna
diperolehnya pemahaman yang sama dalam mencapai tujuan pembangunan yang
berwawasan kependudukan.
Kesimpulan:
1. Capaian kinerja dari Tujuan ke 2, Misi 7 yakni Mewujudkan peningkatan
kesejahteraan keluarga melalui upaya keluarga berencana yang terdiri dari 3
(tiga) sasaran dapat direalisasikan sebesar 95,44% pada tahun 2013 sehingga
termasuk kategori Berhasil.
2. Secara keseluruhan Capian Kinerja Misi 6 yaitu: Peningkatan Kualitas Kesehatan
adalah 97,96% dan termasuk kategori Sangat Berhasil.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

105

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Misi 8:
Pengembangan Infrastruktur
(Sektor Fisik) khususnya
Perkantoran
Pemerintah, Fasilitas
Publik, Prasarana dan Sarana
Lalu Lintas

Pengembangan infrastruktur wilayah, diprioritaskan untuk melanjutkan


pembangunan infrastruktur wilayah strategis yang telah direncanakan
pada tahap sebelumnya, memantapkan infrastruktur yang telah ada,
mengoptimalkan sarana transportasi umum (angkutan dan terminal), serta
melanjutkan dan meningkatkan kerja sama antara pemerintah, swasta dan
masyarakat dalam pengelolaan infrastruktur wilayah.

Tujuan:
Memperlancar dan mendukung kinerja pemerintah, proses pembangunan kota,
aktifitas perekonomian, dan segala aspek kehidupan masyarakat.
Pencapaian Misi 8 yaitu: Pengembangan Infrastruktur (Sektor Fisik) khususnya
Perkantoran Pemerintah, Fasilitas Publik, Prasarana dan Sarana Lalu Lintas dilandaskan
pada arah kebijakan umum Pemerintah Kota Batu yaitu: a). Pengembangan infrastruktur
wilayah, diprioritaskan untuk melanjutkan pembangunan infrastruktur wilayah strategis
yang telah direncanakan pada tahap sebelumnya, memantapkan infrastruktur yang telah
ada, mengoptimalkan sarana transportasi umum (angkutan dan terminal), serta
melanjutkan dan meningkatkan kerja sama antara pemerintah, swasta dan masyarakat
dalam pengelolaan infrastruktur wilayah; serta b). Kerjasama antar daerah perbatasan
dalam upaya pengelolaan pembangunan wilayah perbatasan, infrastuktur transportasi,
dan persampahan. Misi ini hanya memiliki 1 (satu) tujuan sebagaimana tersbut di atas.
Tabel 3.93
Evaluasi Pencapaian Sasaran 8.1.1
Terwujudnya infrastruktur perkantoran pemerintah kota.
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Persentase penyelesaian gedung


perkantoran pemerintah dalam
satu area perkantoran.

Satuan

Persen

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

17

17.3

101.76

Tahun 2013
Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

19

15

78.95

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Tabel 3.94 di atas menunjukkan bahwa capaian kinerja sasaran ini belum dapat
dicapai tahun 2013 karena target yang ditetapkan sebesar 19,0% hanya dapat
direalisasikan sebesar 15,0% dengan capaian kinerja sebesar 75,95%. Salah satu factor
utama penyebab tidak tercapainya sasaran ini adalah keterlambatan proses pelalangan
melalui LPSE serta alokasi anggaran yang dilakukan penyesuaian melalui PAK tahun
2013.
Selanjutnya adalah evaluasi terhadap sasaran terwujudnya infrastruktur
pendidikan dasar dan menengah di Kota Batu seperti terlihat pada Tabel 3.95 berikut.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

106

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.94
Evaluasi Pencapaian Sasaran 8.1.2
Terwujudnya infrastruktur pendidikan SD Negeri dan SMA Negeri
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Satuan

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

Tahun 2013
Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

Persentase penyelesaian
pembangunan SD Negeri.

Persen

100

100

100.00

100

100

100.00

Persentase penyelesaian
pembangunan SMA Negeri.

Persen

100

100

100.00

100

100

100.00

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Pada dasarnya infrastruktur pendidikan di Kota Batu baik tingkat dasar (SD,
SMP/MTs) maupun menengah (SMA/SMK/MA) sudah tersedia secara lengkap dengan
kondisi yang cukup memaddai pula. Hal yang dilakukan tentunya adalah melakukan
peningkatan dan/atau rehabilitasi dan pemeliharaan terhadap infrastruktur tersebut.
Di sadari bahwa sekolah adalah sarana pendidikan yang diharapkan mampu
mencetak sumber daya manusia yang handal dalam menyukseskan pembangunan.
Sekolah TK, SD hingga SMU sudah tersedia memadai di Kota Batu baik itu sekolah
negeri, madrasah maupun swasta. Sekolah Dasar dan SLTP tersebar di masing-masing
kecamatan secara merata. Jumlah SD Negeri di Kota Batu tersebar masing masing di 3
kecamatan yaitu Kecamatan Batu (26 Sekolah); Kecamatan Junrejo (16 Sekolah) dan
Kecamatan Bumiaji (24 Sekolah). Jumlah SMP negeri di Kota Batu sebanyak 8 sekolah
dimana di Kecamatan Batu (3 Sekolah); Kecamatan Junrejo (1 Sekolah) dan Kecamatan
Bumiaji (4 Sekolah). Hanya ada 2 Sekolah SMU Negeri di Kota Batu yang terdapat
masing-masing di Kecamatan Batu dan Kecamatan Junrejo. Selain itu ada Sekolah
Menengah Kejuruan Negeri (SMK) sebanyak 3 sekolah yang juga tersebar merata di tiga
kecamatan. Selain sekolah-sekolah negeri diatas, tersebar sekolah-sekolah swasta
lainnya di masing-masing kecamatan, hingga saat ini Perguruan Tinggi negeri maupun
swasta belum tersedia di Kota Batu hanya ada sekolah tinggi keagamaan yaitu Sekolah
Tinggi Agama Budha dan Sekolah Tinggi Pekabaran Injil.
Tabel 3.95 di atas menunjukkan bahwa capaian kinerja sasaran ini adalah
100,0% untuk kedua indikator sasaran sehingga telah sesuai dengan target yang
ditetapkan pada tahun 2013. Dengan demikian maka termasuk kategori Sangat Berhasil.
Pencapaian target tersebut masih terkait dengan pemenuhan SPM bidang pendidikan
sebagaimana telah diuraikan sebelumnya.
Berikutnya adalah infrastruktur kesehatan. Tabel 3.96 berikut menyajikan hasil
evaluasi terhadap pencapaian sasaran ini.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

107

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.95
Evaluasi Pencapaian Sasaran 8.1.3
Terwujudnya infrastruktur kesehatan
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Persentase penyelesaian
pembangunan gedung bank darah.

Satuan

Persen

Tahun 2013

Tar
get

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

0.00

Tar
get

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

0.00

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Secara umum, infrastruktur kesehatan di Kota Batu telah tersedia cukup


memadai sebagaimana infrastruktur pendidikan dan infrastruktur lainnya. Capaian
indikator kinerja sasaran pada tabel tersebut sebesar 0,00% berlaku khusus untuk
indikator Persentase penyelesaian pembangunan gedung bank darah yang memang
tidak ditargetkan tahun 2013. Hal ini terkait dengan rencana Pemerintah Kota Batu untuk
membangun Rumah Sakit Jantung di Kelurahan Bumiaji yang sampai dengan akhir tahun
2013 baru mencapai taraf penyelesaian Studi Kelayakan (Feasibility Study) yang
dilaksanakan oleh Bappeda Kota Batu.
Kualitas kesehatan penduduk merupakan indikator yang sangat penting dalam
pembangunan yang berorientasi pada manusia. Kesehatan penduduk dapat dicapai
dengan ketersediaan fasilitas kesehatan yang memadai dan kesadaran masyarakat untuk
memiliki pola hidup yang sehat. Untuk memenuhi kebutuhan kesehatan bagi penduduk
Kota Batu telah berdiri tiga buah Rumah Sakit Umum yang terdapat 4 buah di kecamatan
Batu, dan 1 buah di kecamatan Junrejo. Selain Rumah Sakit di Kota Batu terdapat 5
puskesmas dan 6 puskesmas pembantu yang tersebar di masing-masing kecamatan.
Fasilitas kesehatan dengan proporsi terbesar adalah Posyandu yaitu sebanyak 189
lokasi. Hampir semua RW atau paling tidak dusun di Kota Batu mempunyai Posyandu
yang diharapakan aktif melakukan kegiatan terutama penanganan / pemantauan
kesehatan ibu dan balita. Fasilitas yang lain antara lain puskesmas sebanyak 5 buah
tersebar di 3 Kecamatan di Kota Batu. Berikutnya Rumah Sakit Umum sebanyak 5 buah
yaitu RS Paru, RS Hasta Brata, RS Etty Asharto dan RS Haji di Kecamatan Batu dan RS
Baptis di Kecamatan Junrejo, Rumah Sakit Bersalin berjumlah 1 buah. Sedangkan untuk
tenaga medis yang di bawah Dinas Kesehatan Kota Batu terdiri dari 153 Dokter, 241
perawat, 95 bidan, 15 ahli gizi dan 98 tenaga lainnya.
Beberapa fasilitas pelayanan kesehatan di Kota Batu antara lain adalah sebagai
berikut:

Rumah Sakit Paru-paru.


Rumah Sakit Hasta Brata.
Rumah Sakit Baptis.
Rumah Bersalin Diponegoro.
RS Poliklinik Ikatan Haji.
RS. Islam Sajid.
Rahma Husada.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

108

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Puskesmas Junrejo.
Puskesmas Bumiaji.
Puskesmas Beji.
Puskesmas Batu.
Poliklinik Punten.
PMI Kecamatan Batu.
Laboratorium Prodia.
Laboratorium Darsono.
Klinik Bersalin Gantisih.
Klinik Al-Irsyad.
BKIA Margi Rahayu.
Balai Pengobatan YPII.
Balai Pengobatan Elim.
Balai Pengobatan Bathesda.
Apotik Sehat.
Apotik Kimia Farma An Nur.
Apotik Anugra Farma.
Apotik Diponegoro.

Fasilitas yang lain antara lain puskesmas sebanyak 4 buah tersebar di 3


Kecamatan di Kota Batu. Berikutnya Rumah Sakit Umum sebanyak 5 buah yaitu RS
Paru, RS Hasta Brata, RS Etty Asharto dan RS Haji di Kecamatan Batu dan RS Baptis di
Kecamatan Junrejo, Rumah Sakit Bersalin berjumlah 10 buah. Sedangkan untuk tenaga
medis yang di bawah Dinas Kesehatan Kota Batu terdiri dari 114 Dokter, 220 perawat, 87
bidan, 20 ahli gizi dan 275 tenaga lainnya. Tabel 3.96 berikut menyajikan unfrastruktur
pendukung berupa tenaga kesehatan di Kota Batu.
Tabel 3.96
Banyaknya Tenaga Kesehatan di Kota Batu
Tahun 2011-2013
No.

1.

Tenaga Kesehatan

2011

2012

Dokter/Physicians

2013

127

114

a.

Umum/General dan Spesialis/ Specialist

68

55

61

b.

Gigi/Dentish

13

15

16

c.

Spesialis

46

44

55

15

2.

Sarjana Kesehatan Masyarakat

3.

Perawat/Nurses

200

220

220

4.

Bidan/Midwives

72

87

90

5.

Tenaga Gizi / Nutrisionis

17

20

16

6.

Sarjana Keperawatan

7.

Tenaga Farmasi

27

27

33

8.

Sarjana Farmasi dan Apoteker

9.

Tenaga Sanitarian

10.

Tenaga Terapi Fisik/Fisioterapi

11.

Tenaga Medis Lainnya

26

26

26

12.

Tenaga Lainnya

216

216

Kota Batu

1413

1260

541

Sumber : Dinas Kesehatan Kota Batu, 2013

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

109

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Berikutnya adalah evaluasi terhadap infrastruktur kearsipan dan perpustakaan di


Kota Batu tahun 2013.
Tabel 3.97
Evaluasi Pencapaian Sasaran 8.1.4
Terwujudnya infrastruktur kearsipan dan perpustakaan
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Persentase penyelesaian
pembangunan depo arsip.

Satuan

Persen

Tahun 2013

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

0.00

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

0.00

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Tabel 3.98 tersebut di atas menununjukkan bahwa capaian kinerja sasaran ini
adalah sebesar 0,00%. Karena memang belum ditargetkan tahun ini baik di RPJMD
maupn RKPD. Selain tiu, sampai dengan tahun ini, gedung kantor kearsipan dan
perpustakaan umum Kota Batu statusnya masih sewa karena menunggu penyelesaian
blosk office yang saat ini masih dalam taraf proses pengerjaan sebagaimana telah
dibahas sebelumnya.
Urusan kearsipan di Kota Batu tahun 2013 dilaksanakan oleh Kantor
Perpustakaan, Kearsipan, dan Dokumentasi, dan Sekretariat Daerah dengan alokasi
anggararan sebesar Rp 267,740,000,00 dan terealisasi sebesar Rp 233,099,000,00 atau
87,06%. Anggaran tersebut digunakan untuk melaksanakan 2 program (3 kegiatan).
Adapun hasil dari pelaksanaan program dan kegiatannya disajikan pada Tabel 3.99
berikut.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

110

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.98
Hasil Pelaksanaan Program Kearsipan dan Perpustakaan
Kota Batu Tahun 2013

Uraian

Satuan

SKPD yang sudah


menerapkan aturan arsip
secara baku

Jumlah perpustakaan umum


pemerintah daerah
Jumlah anggota baru
Jumlah pengunjung
perpustakaan
Tersusunnya Jadwal Retensi
Arsip (JRA)
Jumlah Arsip yang Diakuisisi
Jumlah koleksi perpustakaan
umum
Jumlah taman bacaan
masyarakat (TBM)

Kondisi
Tahun
Sebelumnya
4

Target
2013

Realisa
si

Capaian
Kinerja

18
SKPD

7
Pengelolaan
Arsip untuk
SKPD/Desa/
Kelurahan
Se-Kota
Batu

16 SKPD

18
SKPD
dari 41
SKPD

Unit

Orang

808

1153

Orang

8,232

13,088

Box Arsip

525

3,514

Buku

20,867

22,415

TBM

33

35

JRA
Keuangan

Jumlah pengunjung tamantaman bacaan masyarakat


Sumber: Lakip Kantor Perpustakaan, Kearsipan, dan Dokumentasi Kota Batu, 2014

Secara garis besar hasil pelaksanaan program dan kegiatan tahun 2013 adalah
sebagai berikut:
a.

b.

c.

Peningkatan sarana dan prasarana aparatur telah dilakukan pada bagian yang
urgen yaitu pemenuhan kebutuhan Pendokumentasi dan penambahan
Peralatan Kantor, Ruang Layak Baca Anak dan Bantuan dari Perpustakaan
Nasional RI berupa 1(satu)
Unit perangkat Web Otomasi Komputer.
Adanya tanggapan yang positif instansi terkait terhadap Penyelamatan dan
Penataan Arsip Daerah dan Desa/Kelurahan dan SKPD, hal ini terlihat
himbauan untuk penyetoran semua arsip in aktif dan Penerimaan Respon
Positif Desa Kelurahan pada Seksi Kearsipan Kantor Perpustakaan dan
Kearsipan Kota Batu yang selanjutnya diakusisi menurut jenis arsip dan
disimpan dalam Box Arsip dalam depo arsip.
Meningkatnya disiplin pegawai ditandai dengan daftar Apel pagi dan Hadir
kehadiran Harian masuk kerja kantor absensi dari 28 (dua puluh delapan) PNS
dan 3 (tiga) Tenaga Honorer dalam 22 hari efektif kerja selama 1 (satu) bulan.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

111

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Adapun kendala dan/atau hambatan yang ditemui pada tahun 2013 secara umum
adalah sebagai berikut:
Kurang representatifnya Letak dan Kondisi Bangunan Gedung Kantor, baik
untuk pelayanan Perpustakaan, Depo Penyimpanan Arsip dan Dokumentasi,
serta operasional ketatalaksanaan dan Tata Usaha Kantor Perpustakaan dan
Kearsipan Kota Batu.
Berbagai usulan program dan kegiatan bidang Perpustakaan dan Kearsipan
kurang adanya prioritas, padahal urusan program dan kegiatan bidang
Perpustakaan dan Kearsipan masuk dalam urusan Wajib.
Kurang adanya perencanaan suatu program dan kegiatan yang disusun secara
cermat, tepat dan akurat berdasarkan prioritas kegiatan dan sinkronisasi
terhadap kegiatan di tingkat Kabupaten/Kota maupun propinsi.

1.

2.

3.

Strategi yang dapat dilakukan untuk mengatasi kendala dan hambatan


sebagaimana disebutkan diatas perlu dilakukan. Penerapan strategi
disinkronisasikan dengan kebijakan yang ada artinya kebijakan tersebut
diterapkan oleh SKPD dalam hal ini Kepala Kantor Perpustakaan dan Kearsipan
melalui program dan kegiatan yang sesuai dengan sasaran program dan
kegiatan.
Uraian kebijakan tersebut difokuskan pada Pelayanan Publik (umum),
khususnya pelayanan Perpustakaan Umum Kota Batu, disamping juga pelayanan
penyimpanan arsip/Dokumen daerah dan strategi kebijakan yang telah
dimunculkan tersebut bertujuan dalam rangka mengantisapasi dan meminimalkan
permasalahan yang timbul akibat kebijakan yang ada, yaitu melalui langkahlangkah sebagai berikut :
1.

Merumuskan berbagai program kegiatan bidang Perpsutakaan dan kearsipan


dan wacana yang berkembang di masyarakat yang berkaitan dengan
kebijakan-kebijakan RPJMD melalui program dan kegiatan yang bertujuan
berorientasi pada kebijakan optimalisasi pelayanan publik dengan
menerapkan teknologi berbasis informasi yang modern dengan
mengedepankan skala prioritas.

2.

Mengusulkan Pengadaan Sarana dan Prasarana Penunjang untuk


mendukung program dan kegiatan dalam rangka pelayanan perpustakaan dan
kearsipan.

3.

Menjadikan Perpustakaan umum, penyimpanan kearsipan dan Dokumentasi


Kota Batu yang modern, lengkap dan dijadikan tempat tujuan pencarian data
dan informasi baik bagi aparatur maupun masyarakat.

4.

Meningkatkan serta memajukan sumber daya manusia melalui diklat


fungsional khusus bagi aparatur yang langsung berhubungan dengan

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

112

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

pelaksanaan program dan kegiatan pelayanan Kantor Perpustakaan dan


Kearsipan.
5.

Melaksanakan program dan kegiatan yang sesuai dengan perencanaan dan


jadual yang telah rencanakan dan jangka waktu yang telah ditetapkan
melaksanakan Monitoring, evaluasi, dan pelaporan terhadap implementasi
program kegiatan dan kebijakan.

Dalam rangka meningkatkan capaian kinerja perlu memperhatikan hal hal


sifatnya akan dijadikan rekomendasi pimpinan satuan kerja perangkat daerah sebagai
berikut :
1)

Meningkatkan koordinasi baik intern, sektoral, maupun lintas sektor


(Kabupaten/Kota dan Propinsi) dalam penyusunan perencanaan program
kegiatan anggaran sampai dengan pelaksanaan dan Evaluasi;

2)

Mengefektifkan kerja tim dan peran Pejabat Eselon dilingkungan Kantor


Perpustakaan dan Kearsipan Kota Batu dalam rangka menyelesaikan tugas
dan fungsi yang terkait dengan program kegiatan yang direncanakan dan
bekerjasama secara terus menerus dengan pihak terkait;

3)

Penjadualan kegiatan berdasarkan prioritas kegiatan dan plafon anggaran


yang akan dituangkan dalam Rencana Anggaran Kas;

4)

Mengusulkan Rencana Anggaran Kegiatan untuk program kegiatan peralatan


dan perlengkapan gedung kantor berupa sarana dan prasarana kerja yang
memadai secara bertahap dengan menyesuaikan alokasi anggaran yang
ditetapkan dalam pagu anggaran tiap tahunnya.

Selanjutnya adalah evaluasi yang berkaitan dengan infrastruktur keolahragaan.


Capaian kinerja sasaran ini dapat dilihat pada Tabel 3.100 berikut.
Tabel 3.99
Evaluasi Pencapaian Sasaran 8.1.5
Terwujudnya infrastruktur keolahragaan
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Persentase penyelesaian
pembangunan Gedung Olahraga.

Satuan

Persen

Tahun 2013

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

0.00

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

0.00

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Sebagaimana diuraikan sebelumnya bahwa infrastruktur keolahragaan telah


tersedia cukup memadai di Kota Batu. Tahun 2013 Pemerintah Kota Batu belum
melaksanakan pembangunan gedung olah raga yang baru selain GOR Ganesha yang
dimiliki saat ini sehingga tahun ini tidak ditargetkan. Oleh karena itu capaian kinerjanya
adalah 0,00%.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

113

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Di bidang olahraga, Pemerintah Kota Batu melakukan pengembangan olah


raga, pengaktifan even olah raga di tingkat regional maupun nasional, meningkatkan
sarana dan prasarana olah raga, pemberian bantuan untuk atlit yang berprestasi,
Fasilitas gedung olah raga di Kota Batu seperti Gedung Ganesha dan Stadion Sepakbola
Brantas memerlukan perbaikan (renovasi), Telah dilakukan pengembangan olah raga,
pengaktifan even olah raga di tingkat regional maupun nasional meningkatkan sarana
dan prasarana olah raga, pemberian bantuan untuk atlit yang berprestasi, Di antara
sarana dan prasarana olahraga di Kota batu adalah sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.

Stadion junrejo.
Stadion Gelora Brantas.
Stadion bumiaji.
Songgoriti ( lap tenis ).
Songgoriti ( renang ).
Selecta ( renang ).
Lapangan sepakbola Sumberejo.
Lapangan Sepakbola Translok.
Lapangan sepakbola Sidomulyo.
Lapangan bolavolly stadion brantas.
Gunung Banyak (terbang layang).
GOR Ganesha.
Tabel 3.101 berikut berkaitan dengan capaian kinerja sasaran ketersediaan dan
terwujudnya infrastruktur perdagangan di Kota Batu.
Tabel 3.100
Evaluasi Pencapaian Sasaran 8.1.6
Terwujudnya infrastruktur perdagangan
Tahun 2012
Capaian
Reali
Kinerja
sasi
(%)

Tahun 2013
Capaian
Reali
Kinerja
sasi
(%)

No.

Indikator Target RPJMD

Satuan

Targ
et

Persentase penyelesaian
pembangunan Gedung Pasar Induk.

Persen

0.00

0.00

Persentase penyelesaian
pembangunan pasar sentra Junrejo.

Persen

0.00

0.00

Persen

0.00

100

100

100.00

Persen

0.00

0.00

Persentase penyelesaian
pembangunan pasar desa
agropolitan.
Persentase penyelesaian
penyediaan ruang bagi kegiatan
informal (PKL).

Targ
et

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Masih seperti uraian di atas, infrastruktur perdagangan di Kota Batu juga telah
cukup tersedia dan cukup lengkap. Namun untuk mendukung visi Kota Batu sebagai
sentra pertanian organik, maka diperlukan tambahan infrastruktur yang terkait dengan
bidang ini. Tabel di atas menunjukkan bahwa dari 4 indikator kinerja sasaran hanya 1
indikator yakni pembangunan pasar desa agropolitan yang telah terwujud dan tercapai

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

114

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

sesuai dengan target yang ditetapkan (100,00%). Ke 3 indikator kinerja yang lain
capaiannya adalah 0,00% karena belum ditargetkan pelaksanaannya pada tahun 2013
dengan pertimbangan alokasi anggaran pada pos-pos yang dipandang lebih mendesak
pelaksanaannya. Secara keseluruhan capaian kinerja sasaran ini adalh 25,00% sehingga
termasuk kategori Kurang Berhasil.
Untuk mendukung jalannya roda perekonomian Kota Batu, infrastruktur
perdagangan dipandang sangat penting seperti misalnya keberadaan perbankan, pasar,
koperasi dan sejenisnya. Ketersediaan bank sangat mendorong laju pertumbuhan
ekonomi di segala bidang, khususnya dalam penyediaan modal dan lalu lintas uang antar
daerah. Kepentingan lalu lintas uang di Kota Batu sangat mudah karena telah tersedia
bank-bank pemerintah maupun bank swasta. Bank pemerintah yang terdapat di Kota
Batu antara lain: Bank Rakyat Indonesia (BRI), BNI 46, Bank Mandiri dan Bank Jatim.
Sedangkan bank swasta antara lain: Bank Central Asia (BCA) , LIPPO Bank, BTPN, UOB
Bank, Bank Bukopin dan beberapa Bank Syariah. Serta BPR-BPR yang berkembang
pesat beberapa tahun terakhir ini.
Sebagai tambahan, jenis usaha koperasi di Kota Batu sebagian besar berupa
Koperasi serba Usaha yakni 82 unit dengan anggota sebanyak 25.353 orang, kemudian
Koperasi Jasa dan sejenisnya sebanyak 52 unit dengan anggota 4.957 orang, dan
berikutnya adalah Koperasi Konsumsi yang beranggotakan 470 orang. Tabel 3.102.
menunjukkan perkembangan koperasi di Kota batu tahun 2008-2010. Sampai dengan
saat ini Kota Batu belum memiliki koperasi produksi.
Tabel 3.101
Koperasi Dirinci Menurut Sifat Usaha
Tahun 2010-2012

Sifat Usaha

Koperasi

Anggota

2010

2011

2012

2010

2011

2012

16

16

411

470

52

52

52

4,614

4,761

4,957

1.

Produksi

2.

Konsumsi

3.

Jasa Dan Sejenisnya

4.

Industri Kerajinan

20

20

54

5.

Serba Usaha

82

82

82

19,303

19,582

19,872

135

151

151

23,937

24,774

25,353

Jumlah

Sumber: Dinas Koperasi, UKM, dan Perindag Kota Batu, 2012

Koperasi dan UMKM yang jumlahnya cukup memadai merupakan alat yang
sangat bermanfaat dalam mengembangkan ekonomi di pedesaan, dengan terus
memberdayakan subsistem lainnya agar berjalan dengan baik. Tujuan pertumbuhan
ekonomi pedesaan yang berkesinambungan diharapkan akan menumbuhkan investasi di
pedesaan, meningkatkan daya saing antar daerah pedesaan serta mengurangi

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

115

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

ketimpangan pembangunan antar wilayah desa serta memenuhi kebutuhan masyarakat


secara keseluruhan.
Koperasi aktif 30 unit, tidak aktif 45 unit, kop baru 4 unit sehngga total 133 unit.
Sedangkan jumlah bank / LKM 28 unit Jumlah BPR/LKM, 12 di antaranya BPR, dan 3
koperasi.
Melihat permasalahan Koperasi dan UMKM di Kota Batu, pada tahun 2010
Pemerintah Kota Batu menginiasi pembentukan LKM melalui pembentukan Koperasi
Wanita (Kopwan) di setiap desa dengan memberikan modal awal sebesar Rp. 25 juta per
kelompok wanita, yang diharapkan mampu berperan sebagai lembaga pembiayaan
alternatif untuk memberdayakan ekonomi produktif masyarakat miskin di pedesaan.
Sampai dengan tahun 2011, jumlah Kopwan yang terbentuk yaitu sebanyak 27 Kopwan
yang tersebar di 24 desa/kelurahan. Dalam rangka mewujudkan koperasi wanita yang
berdaya saing, maka pada tahun 2011 telah terlaksana Koordinasi Pelaksanaan
Kebijakan dan Program Pembangunan Koperasi dengan biaya APBD Kota Batu sebesar
Rp.21.689.800,00.
Upaya lain yang dilakukan dalam rangka menggerakan sektor riil yaitu
perkuatan kapitalisasi bagi pengembangan modal usaha koperasi, usaha mikro, kecil,
menengah dan usaha lainnya yaitu melalui program dana bergulir dengan bunga lunak
dan pembentukan PT JAMKRIDA. Hal tersebut dipandang sangat penting mengingat
peran UMKM terhadap pembentukan PDRB Kota Batu cukup signifikan.Sektor Koperasi
dan UMKM menyerap tenaga kerja yang cukup besar, walaupun memiliki kontribusi nilai
tambah yang lebih kecil dari pada skala usaha besar. Untuk itu, UMKM harus mendapat
perhatian khusus dalam strategi pembangunan karena sektor ini dapat menjadi sarana
pemenuhan kebutuhan dasar. Peningkatan peranan UMKM akan memberikan akses
masyarakat terhadap pemenuhan hak atas pekerjaan dan usaha. Penenuhan hak atas
pekerjaan ini harus disertai dengan penyiapan pendidikan yang lebih berkualitas melalui
perbaikan kurikulum baik di lembaga formal maupun non formal.
Dari sisi usaha perdagangan yang sebagian besar merupakan UMKM, pada
tahun 2008, jumlah usaha perdagangan di Kota Batu yang memiliki SIUP berjumlah 198
usaha. Dari jumlah tersebut sekitar 149 usaha merupakan usaha kecil, 43 usaha
menengah dan sisanya usaha besar. Walaupun jumlah usaha perdagangan besar di Kota
Batu kurang dari 10 persen, namun dilihat dari kemampuan dalam menyerap tenaga
kerja peranannya tidak dapat diabaikan. Pada periode yang sama, jumlah usaha yang
berbadan hukum perorangan merupakan jumlah usaha perdagangan yang memiliki ijin
SIUP terbanyak.
Pada tahun 2010 jumlah usaha yang berbadan hukum perorangan tercatat
sebanyak 151 usaha. Berikutnya CV sebanyak 79 usaha, PT sebanyak 18 usaha dan
sisanya badan hukum koperasi dan firma. lembaga keuangan non bank yang turut
menunjang pertumbuhan ekonomi di Kota Batu adalah koperasi. Namun dalam

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

116

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

mengembangkan usahanya koperasi masih menghadapi kendala utama yang bersifat


internal yaitu ketergantungan pada modal. Seba-gaimana diketahui, modal secara
anatomi adalah sebagai darah yang akan mendorong usaha. Perkembangan koperasi
pri-mer menunjukkan peningkatan selama periode ini. Pada tahun 2010 telah terbentuk
sebanyak 135 unit koperasi primer dengan modal sebesar 70,47 milyar dan Sisa Hasil
Usaha mencapai 1,699 milyar. Perkembangan dan jenis usaha perdagangan UKM tahun
2010-2012 terlihat pada Tabel 3.102. berikut.
Tabel 3.102
Pemilik Surat Tanda Daftar Usaha PerdaganganMenurut Jenisnya
Tahun 2010-2012

No
.

Jenis Usaha

1.
2.

2010

2011

2012

Mikr
o

Menengah

Ke
cil

Mikro

Mene
ngah

Kecil

Mikr
o

Mene
ngah

Kecil

Pracangan

Bahan Bangunan

12

16

12

3.

Palawija

4.

Makanan/Minuman

34

59

20

56

5.

Mebel

6.

Tekstil, Sepatu, dan


Pakaian

10

14

7.

Palenan

8.

Emas dan Perhiasan

9.

TV, Radio, dan Tape

13

10.

Alat-Alat Olahraga

11.

Lain-Lain

22

70

11

36

117

36

203

43

149

14

49

205

29

42

288

Kota Batu

Sumber: Dinas Koperasi, UKM, dan Perindag Kota Batu, 2011

Berkaitan dengan infrasruktur pertanian, capaian kinerjanya pada tahun 2013


ditunjukkan pada Tabel 3.104 berikut.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

117

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.103
Evaluasi Pencapaian Sasaran 8.1.7
Terwujudnya infrastruktur pertanian
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Persentase penyelesaian
pembangunan Gedung Pasar
Agrobisnis.
Tersedianya air irigasi untuk
pertanian rakyat pada sistem irigasi
yang sudah ada.

Satuan

Persen

Tahun 2013

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

0.00

Persen

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

0.00

70%

70%

100.00

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Dari 2 indikator kinerja sasaran pada Tabel tersebut terdapat 1 indikator kinerja
dengan capaian 0,00% yakni Persentase penyelesaian pembangunan Gedung Pasar
Agrobisnis. Sebagaimana dikemukakan terdahulu, indicator ini belum ditargetkan pada
tahun 2013 sehingga realisasinya adalah 0,00% pula. Sedangkan Tersedianya air irigasi
untuk pertanian rakyat pada sistem irigasi yang sudah ada mencapai realisasi 70,0% dari
yang ditargetkan sebesar 70% sehingga capaian kinerjanya 100,00%.
Sumber irigasi yang ada di Kota Batu berasal dari Sumber Brantas, Kali Brantas
dan Sumber Metro. Sumber Brantas melayani 18 desa dengan baku sawah teknis 909
Ha, semi teknis 124 Ha dan non teknis 58 Ha. Kali Brantas melayani 14 desa dengan
baku sawah teknis 810 Ha, sawah semi teknis 459 Ha. Sumber Metro melayani 4 desa
dengan baku sawah teknis 218 Ha, semi teknis 4 Ha dan non teknis 31 Ha. Berdasarkan
kondisi saluran irigasi dibedakan atas saluran irigasi teknis, irigasi semi teknis dan irigasi
non teknis. Sistem drainase di kawasan perkotaan belum berfungsi dengan baik,
khusunya di beberapa tempat sistem drainasenya perlu penataan, mengingat pada
musim penghujan daerah tersebut sering terjadi genangan, seperti di sekitar kawasan
alun-alun kota.

Berikutnya adalah evaluasi capaian kinerja sasaran terwujudnya infrastruktur


koperasi dan UKM dengan indicator Persentase penyelesaian pembangunan Gedung
Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) sebagmana terlihat pada Tabel 3.105 berikut.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

118

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.104
Evaluasi Pencapaian Sasaran 8.1.8
Terwujudnya infrastruktur Koperasi dan UKM
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Persentase penyelesaian
pembangunan Gedung Pusat
Layanan Usaha Terpadu (PLUT).

Satuan

Persen

Tahun 2013

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

0.00

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

100

100

100.00

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Tabel tersebut di atas menunjukkan capaian kinerja sasaran ini adalah sesuai
dengan target yang direncanakan yaitu 100,00%. Pusat layanan Usaha Terpadu
sebenarnya sudah disiapkan sejak beberapa tahun yang lalu yang implementasinya
dilakukan oleh d/h Kantor Pelayanan Perijinan Terpadu meskipun indicator ini tidak
ditargetkan pada tahun 2012.
Infrastruktur ketenagakerjaan ditunjukkan capaian kinerjanya pada table 3.106
berikut.
Tabel 3.105
Evaluasi Pencapaian Sasaran 8.1.9
Terwujudnya infrastruktur ketenagakerjaan
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Satuan

Persentase penyelesaian
pembangunan Gedung Balai Latihan
Kerja (BLK).

Persen

Tahun 2013

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

0.00

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

75

77

102.67

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Gedung Balai Latihan Kerja (BLK) Kota Batu pada saat ini sudah dioperasikan
untuk pelatihan tenaga kerja di wilayah Kota Batu meskipun tingkat penyelesaiannya
masih mencapai 77,0%. Realisasi ini melampaui target yang ditetapkan pada tahun 2013
sebesar 75,0% sehingga capaian kinerjanya mencapai 102,67% sehingga termasuk
kategori Sangat Berhasil.

Selanjutnya adaah evaluasi etrhadap sasaran terwujudnya fasilitas bina social


dengan capaian kinerja seperti ditunjukkan pada Tabel 3.107 berikut.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

119

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.106
Evaluasi Pencapaian Sasaran 8.1.10
Terwujudnya fasilitas bina sosial
Tahun 2012
No.

10

Indikator Target RPJMD


Persentase penyelesaian
pembangunan gedung pertemuan
lingkungan dan kecamatan.
Persentase penyelesaian
pembangunan balai pertemuan dan
pameran.
Persentase penyelesaian
pembangunan gedung serbaguna &
lembaga sosial.
Persentase (%) PMKS skala
kab/kota yang memperoleh bantuan
sosial untuk pemenuhan kebutuhan
dasar.
Persentase (%) PMKS skala
kab/kota yang menerima program
pemberdayaan sosial melalui
Kelompok Usaha Bersama (KUBE)
atau kelompok sosial ekonomi
sejenis lainnya.
Presentase (%) korban bencana
skala kabupaten/kota yang
menerima bantuan sosial selama
masa tanggap darurat
Presentase (%) korban bencana
skala kabupaten/kota yang
dievakuasi dengan menggunakan
sarana prasarana tanggap darurat
lengkap
Presentase (%) penyandang cacat
fisik dan mental, serta lanjut usia
tidak potensial yang telah menerima
jaminan sosial
Presentase (%) panti sosial skala
kabupaten/ kota yang menyediakan
sarana prasarana pelayanan
kesejahteraan sosial.
Presentase (%) wahana
kesejahteraan sosial berbasis
masyarakat (WKBSM) yang
menyediakan sarana prasarana
pelayanan kesejahteraan sosial.

Tahun 2013

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

0.00

50

53

106.00

Persen

0.00

40

30

75.00

Persen

0.00

20

16

80.00

Persen

n.a

n.a

0.00

16

66.57

416.06

Persen

n.a

n.a

0.00

16

0.82

5.13

Persen

n.a

n.a

0.00

80

100

125.00

Persen

n.a

n.a

0.00

0.00

Persen

n.a

n.a

0.00

0.00

Persen

n.a

n.a

0.00

75

100

133.33

Persen

n.a

n.a

0.00

75

87.27

116.36

Satuan

Targ
et

Persen

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Terdapat 10 indiktor kinerja pada sasaran ini dimana 5 di antaranya telah


tercapai sesuai dan bahkan melebihi target yang telah ditetapkan. Sedangkan 5 yang lain
masih belum mencapai target yang ditetapkan dan bahkan indicator nomor 7 dan 8
capaian kinerjanya 0,00% karena belum ditargetkan tahun 2013. Secara keseluruhan
capaian kinerja sasaran ini adalah 105,69% sehingga termasuk kategori Sangat Berhasil.
Pencapaian sasaran ini juga dilakukan sebagai pemenuhan Standar Pelayanan
Minimal (SPM) bidang Sosial dengan indicator dan capaian kinerjanya selama tahun
2013 seperti disajikan pada table 3.107 berikut.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

120

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.107
Capaian Kinerja SPM bidang Sosial Kota Batu Tahun 2013

No.

Jenis Pelayanan
Dasar & Sub
Kegiatan

Realisasi/
Capaian
2013

Capaian
Kinerja
2013

Pelaksanaan program/kegiatan bidang sosial:

a.

Pemberian bantuan
sosial bagi
Penyandang
Masalah
Kesejahteraan Sosial
skala Kabupaten/
Kota

b.

Pelaksanaan
kegiatan
pemberdayaan sosial
skala
Kabupaten/Kota

Indikator SPM

Target
SPM
2013

Persentase (%) PMKS skala kab/kota yang


memperoleh bantuan sosial untuk
pemenuhan kebutuhan dasar.

16

66.57

416.06

Persentase (%) PMKS skala kab/kota yang


menerima program pemberdayaan sosial
melalui Kelompok Usaha Bersama (KUBE)
atau kelompok sosial ekonomi sejenis
lainnya.

16

0.82

5.13

Penyediaan sarana dan prasarana sosial:

a.

Penyediaan sarana
prasarana pantai
sosial skala
kabupaten/kota

Presentase (%) pantai sosial skala kabupaten/


kota yang menyediakan sarana prasarana
pelayanan kesejahteraan sosial.

16

100

625.00

b.

Penyediaan sarana
prasarana pelayanan
luar panti skala
Kabupaten/Kota

Presentase (%) wahana kesejahteraan sosial


berbasis masyarakat (WKBSM) yang
menyediakan sarana prasarana pelayanan
kesejahteraan sosial.

16

87.27

545.44

125.00

Penanggulangan korban Bencana:

a.

Bantuan sosial bagi


korban bencana
skala
Kabupaten/Kota

b.

Evakuasi korban
bencana skala
Kabupaten/kota

Pelaksanaan dan pengembangan jaminan sosial bagi penyandang cacat fisik


dan mental, serta lanjut usia tidak potensial:

Penyelenggaraan
jaminan sosial skala
Kabupaten/Kota

Presentase (%) korban bencana skala


kabupaten/kota yang menerima bantuan
sosial selama masa tanggap darurat

80

100

Presentase (%) korban bencana skala


kabupaten/kota yang dievakuasi dengan
menggunakan sarana prasarana tanggap
darurat lengkap

0.00

0.00

Presentase (%) penyandang cacat fisik dan


mental, serta lanjut usia tidak potensial yang
telah menerima jaminan sosial

Sumber: SPM Bidang Sosial Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

121

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Selain sarana tersebut di atas masih terdapat sarana social lainnya yang patut
diperhatikan di Kota Batu antara lain sarana peribadatan. Sarana yang dimiliki untuk
menunjang kehidupan beragama terlihat dari banyaknya sarana ibadah. Sejalan dengan
banyaknya penganut agama Islam, jumlah sarana ibadah terbanyak adalah masjid dan
surau/langgar yang dapat dijumpai pada setiap desa di Kota Batu. Jumlah masjid dan
langgar yang berada di Kota Batu masing-masing tercatat sebanyak 139 buah dan 428
buah. Berikutnya Gereja berjumlah 37 buah, Vihara berjumlah 7 buah dan Pura
berjumlah 2 buah. Fasilitas peribadatan yang ada di kota Batu berupa masjid sejumlah
138 unit, langgar/musholla sejumlah 397 unit, Gereja sejumlah 14 unit, Wihara sejumlah
5 unit dan Pura sejumlah 1 unit yang cenderung menyebar di setiap kecamatan.
Sebagian besar penduduk Kota Batu beragama Islam, hal ini bisa dilihat dari penyebaran
jumlah fasilitas peribadatan yang mendominasi adalah masjid dan langgar/
musholla.Pelayanan dasar Pemerintah Kota Batu mengenai urusan yang terkait dengan
pembangunan kesalehan sosial ini ditunjukkan dengan indikator Rasio Tempat Ibadah
per Satuan Penduduk tahun 2011 sebesar 3,22 per seribu Penduduk. Besaran rasio ini
menunjukkan bahwa setiap 3 tempat ibadah akan dipergunakan oleh 1.000 penduduk
pada suatu wilayah di Kota Batu.
Selain itu di Kota Batu juga terdapat sarana panti soail berupa panti asuhan
yang menjadi binaan Pemerintahan Kota Batu melalui Dinas Sosial dan tenaga Kerja
Kota Batu dan Bapemas PKB Kota Batu sebanyak sebelas (11) Panti, yaitu :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.

PA.Ebenezer di desa Beji Batu.


PA. Bina Sejahtera di JL. Kastubi II Desa Bumiaji Batu.
PA. Nurul Hidayah di JL. Raya Junrejo Batu.
PA. Al Hidayah di JL. Arjuno 48 D Batu
PA. Ar Ridlwan di JL. Mojoasri No.101 RT 19 RW 2 Mojorejo Batu.
PA. Darus Solikhin di JL. Suropati No. 139 Batu
PA. Yatim Warga Indonesia di JL. Oro-oro Ombo 131 Batu.
PA. Darus Saadah di JL. Wukir No. 186 A temasKrajan Batu.
PA. Teresha di Desa Sumberejo Batu.
PA. Doulos di JL. Arum Dalu No. 47 Songgoriti Batu.
PA Bima Sakti di JL. Trunojoyo No. 93 Batu

Berikutnya adalah infrastruktur pariwisata dengan capaian indicator kinerja tahun


2013 sebagaimana disajikan pada Tabel 3.109 berikut.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

122

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.108
Evaluasi Pencapaian Sasaran 8.1.11
Terwujudnya infrastruktur pariwisata
Tahun 2012
No.

1
2
3
4
5

Indikator Target RPJMD

Persentase penyelesaian
pembangunan sarana kereta
gantung.
Persentase penyelesaian
pembangunan rest area.
Persentase penyelesaian
pembangunan Drive In.
Persentase penyelesaian
pengembangan jalur festival wisata.
Persentase penyelesaian
pengembangan jalur mountain bike.
Pembangunan sarana penunjang
pariwisata
Gerbang batas kota
Icon Kota Wisata Batu
Monumen Pesawat
Hutan wisata

Tahun 2013

Tar
get

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

Persen

0.00

0.00

Persen

0.00

0.00

Persen

0.00

0.00

Persen

0.00

0.00

Persen

0.00

0.00

Lokasi
Unit
Unit
Paket

0
0
0
0

0
0
0
0

0.00
0.00
0.00
0.00

3
1
1
1

3
1
1
1

Satuan

Tar
get

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

100.00
100.00
100.00
100.00
100.00

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Tabel 3.109 tersebut di atas menunjukkan bahwa capaian kinerja 6 indikator


kinerja sasaran ini rata-rata tidak seperti yang diharapkan karena dari 6 indikator kinerja
sasaran hanya 1 indikator yang memenuhi target 100,00%. Sedangkan 5 indikator yang
lain masih 0,00%. Hal ini karena ke 5 indikator tersebut belum ditargetkan tahun 2013. Ke
5 indikator tersebut memang sempat direncakan untuk dibuat study kelayakannya pada
tahun anggaran 2013 akan tetapi terpaksa harus ditunda pelaksanaannya dan
anggaranya dialokasikan pada poin anggaran yang lebih mendesak. Jadi, secara fisik,
sampai sat inipun belum ada perencanaan untuk merealisasikan ke 5 indikator tersebut.
Dengan demikian secara keseluruhan capaian indicator kinerjanya adalah 50,0%
sehingga masuk kategori Cukup Berhasil.
Sebagaimana telah diuraikan pada bagian lain sebelumnya bahwa infrstruktur
pariwisata di Kota Batu telah banyak tersedia dan cukup memadai seperti Obyek wisata,
hotel berbintang maupun melati, restoran, situs kebudayaan, atraksi kesenian dan
sejenisnya serta obyek pendukung pariwisata yang lain.
Berikutnya adalah infrastruktur jalan dengan capaian kinerja sasaran seperti
ditunjukkan pada Tabel 3..109 berikut.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

123

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.109
Evaluasi Pencapaian Sasaran 8.1.12
Terwujudnya infrastruktur jalan
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Satuan

Tahun 2013

Tar
get

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

Tar
get

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

Persentase penyelesaian
pembangunan jalan lingkar barat.

Persen

0.00

40

40

100.00

Persentase penyelesaian
pembangunan jalan lingkar utara.

Persen

0.00

0.00

Persentase penyelesaian
pembangunan jalan lingkungan
pendukung desa wisata.

Persen

0.00

10

15

150.00

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Tabel di atas menunjukkan bahwa 3 indikator kinerja yang ada, 2 diantaranya


telah dapat direalisasikan dengan baik dengan capaian kinerja masing-masing adalah
100,0% dan 150,0% yakni untuk penyelesaian pembangunan jalanlingjar barat dan jalan
lingkungan pendukung desa wisata. Secara keseluruhan capaian kinerja sasaran ini
adalah 83,33% sehingga termasuk kategori Sangat Berhasil.
Jalan merupakan salah satu prasarana transportasi yang penting guna
memperlancar kegiatan perekonomian selain untuk memudahkan mobilitas penduduk
dari satu daerah menuju daerah lainnya. Seiring dengan semakin meningkatnya
pembangunan jalan yang terbagi atas jalan nasional, jalan provinsi dan kotamadya harus
selalu ditingkatkan, baik panjang maupun kualitasnya, agar pembangunan
regional/nasional dapat berjalan lancar. Panjang jalan yang ada di Kota Batu mencapai
511,33 Km, terbagi atas jalan provinsi sepanjang 39,50 km dan jalan Kotamadya 471,83
km. Jika diamati menurut jenis permukaan, jalan aspal merupakan proporsi terbesar
dibanding dengan jalan non aspal yaitu dengan komposisi sebesar 61,6 persen dari total
panjang jalan. Berikutnya berupa kerikil sebesar 14,02 persen dan tanah sebesar 7,04
persen. Sarana angkutan untuk mobilitas penumpang dan barang di Kota Batu cukup
tersedia.
Pola jaringan jalan Kota Batu membentuk pola jaringan dengan jalan utama
membentuk pola linier konsentris. Konstruksi jaringan jalan di Kota Batu sebagian besar
merupakan jalan aspal dengan kondisi baik, terutama yang melintasi jalur-jalur utama
Kota Batu seperti Jalan P. Sudirman, Jalan Imam Bonjol, Jalan Abdul Gani, Jalan Dewi
Sartika dan jalan utama lainnya. Panjang jalan berdasarkan pengelolaan dan jenisnya di
Kota Batu yaitu jalan kabupaten panjang sekitar 242,96 Km dan jalan propinsi panjang
39,5 Km. Fasilitas transportasi publik dalam
memberikan pelayanan kepada
masyarakat masih belum optimal.
Data dari Dinas Perhubungan menunjukkan bahwa kendaraan bermotor di Kota
Batu selama 7 tahun terakhir menunjukkan peningkatan yang signifikan. Sistem jaringan
jalan regional (jalan kolektor primer dan lokal primer) Kota Batu secara keseluruhan
membentuk pola radial atau memusat ke pusat kota (alun-alun dan sekitarnya), yaitu dari
arah Utara (dari Cangar, Sidomulyo, dan Giripurno, Pandanrejo, Bumiaji), arah Selatan

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

124

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

(dari Junrejo, Tlekung, Oro-oro Ombo, Temas), arah Barat (dari Songgokerto dan
Pesanggrahan), arah Timur (dari Dadaprejo, Mojorejo, Beji, dan Temas). Sedangkan
sistem jaringan jalan kota (arteri sekunder dan kolektor sekunder) membentuk pola grid
yang dominan berada di Kecamatan Batu. Sedangkan jalan-jalan desa (jalan lokal
sekunder dan lingkungan) didominasi pola linier dan grid.
Seiring dengan semakin meningkatkan pembangunan jalan yang terbagi atas
jalan nasional jalan propinsi dan kotamadya harus selalu ditingkatkan, baik panjang
maupun kualitasnya, agar pembangunan region nal/nasional dapat berjalan lancar.
Panjang jalan yang ada di Kotamadya Batu mencapai 490,83 Km, terbagi atas jalan
propinsi sepanjang 19,00 km dan jalan Kotamadya 471,83 km. Jika diamati menurut jenis
permukaan, jalan aspal merupakan proporsi terbesar dibanding dengan jalan non aspal
yaitu dengan komposisi sebesar 66,67 persen dari total panjang jalan. Berikutnya berupa
kerikil sebesar 15,18 persen dan tanah sebesar 7,96 persen. Gambaran mengenai
kondisi permukaan jalan yang dibawah wewenang Daerah Tingkat I, maupun di bawah
wewenang Tingkat II disajikan pada Tabel 2.30. Jika dilihat dari kondisinya, pada tahun
2009 sekitar 19,52 persen termasuk dalam kategori baik, 45,06 persen kategori sedang,
22,38 persen rusak ringan dan sisanya masuk kategori rusak berat.
Tabel 3.110
Evaluasi Pencapaian Sasaran 8.1.13
Terwujudnya akses lalu lintas antar wilayah
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Satuan

Tersedianya jalan yang


menghubungkan pusat-pusat
kegiatan dalam wilayah kota. (SPM)

Persen

Tahun 2013

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

100

100

0.00

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

100

100

100.00

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Sebagai pusat aglomerasi perkotaan, Kota Batu memerlukan kebutuhan


infrastruktur yang semakin meningkat di bidang perdagangan, industri hasil pertanian
(agroindustri), dan jasa karena Kota Batu memberikan pelayanan sebagai pusat aktifitas
sosial ekonomi masyarakat baik bagi warga kota sendiri maupun masyarakat di daerahdaerah sekitarnya. Pusat-pusat perdagangan dan jasa yang saat ini berorientasi di pusat
kota dan berjajar di jalan-jalan protokol utama sudah saatnya harus disebar kepusatpusat pertumbuhan kawasan permukiman di wilayah yang kurang berkembang agar
tercapai pemerataan fasilitas pelayanan bagi masyarakat di wilayah-wilayah hinterland
kota.
Pola pergerakan kendaraan yang saat ini linear concentric harus segera
dirubah menjadi radial concentric, artinya pemerintah kota harus segera mengembangan
jalan-jalan inner ringroad dan outer ringroad sebagai pemecah pergerakan sirkulasi
kendaraan eksternal dan sirkulasi kendaraan pergerakan lokal. Segera direalisasikan
pemgembangan jaringan jalan Lingkar Timur dan Lingkar Barat, serta Lingkar Utara.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

125

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Banyaknya pengguna kendaraan bermotor sebagai alat transportasi dengan proporsi


mencapai 82,54%. Moda transportasi massal yang nyaman menjadi kebutuhan
masyarakat yang mendesak untuk direalisasikan. Agar masyarakat tetap nyaman
bermobilisasi dengan menggunakan transportasi massal, antara lain adalah Jalur-jalur
Bus Kota, sehingga kesemrawutan lalu lintas dapat ditekan juga secara umum terjadi
penghematan penggunaan BBM yang berdampak pada pengeksploitasian SDA secara
bijak.
Berbagai permasalahan terkait dengan perhubungan yang masih terjadi dan
ditemui di langan antara lain:
1.

2.

3.

4.

5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.

Kondisi kantor yang kurang memadai dikarenakan bangunan sudah terlalu


tua,sehingga tingkat kerusakan yang sudah berat membutuhkan biaya yang cukup
tinggi untuk pembenahannnya.
Kelengkapan sarana perkantoran yang kurang memadai, juga mempengaruhi kinerja
pegawai Contoh. Kurangnya kelengkapan Computer,kurangnya meubelair
(meja,kursi,lemari arsip).
Lokasi perkantoran yang terpencar menghambat koordinasi dan kecukupan datadata manakala diperlukan secara mendadak ( Kasi pengujian di Karanglo, Bidang
Postel berlokasi di Jalan TVRI Dusun Dresel).
Pelaksanaan semua kegiatan tidak mengalami hambatan yang berarti.
Permasalahan yang tersisa adalah tidak semua wilayah dapat terpenuhi alat
perlengkapan dan fasilitas jalannya dikarenakan minimnya anggaran
Sering terjadi kemacetan khususnya di hari libur di beberapa titik Kota batu
Belum lengkapnya Data manajemen Lalu lintas Di Kota batu
Banyaknya pengguna jalan yang kurang mematuhi peraturan lalu-lintas
Kurangnya disiplin bagi pengguna jalan untuk tertib berlalu-lintas
Masih banyak jukir yang kurang disiplin dalam menjalankan tugas
Masih tertibnya jukir dalam penyetoran retribusi parkir kepada dinas perhubungan
Maraknya jukir-jukir liar
Banyaknya lahan parkir yang tidak memenuhi syarat/rusak terutama pada area
parkir pasar batu
Pemanfaatan lahan parkir sebagai tempat PKL di Pasar Batu

Secara umum hasil pelaksanaan program dan kegiatan terkait dengan sasaran
ini disajikan pada Tabel 3.111 berikut.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

126

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.111
Kondisi Infrastruktur Jalan di Kota Batu Tahun 2013
Kondisi
Indikator
Sasaran

Penjelasan

PERHITUNGAN

Satu
an

Tahun
Sebelum
nya

Targ
et
2013

CAPAI
Realis
asi

AN
KINER
JA

Panjang Jalan Kota Dalam Kondisi


36,51 Km
100 %
77,8 Km
= 0,4694

29,91

6,6
%

6,6 %

100 %

Sedang

38,35 Km
Panjang Jalan Kota Dalam Kondisi Sedang
100 %
77,8 Km
Panjang Seluruh Jalan Kota
= 0,4949

34,49

4,1
%

4,1 %

100 %

Rusak

2,72 Km
Panjang Jalan Kota Dalam Kondisi Rusak
100 %
77,8 Km
Panjang Seluruh Jalan Kota
= 0,0349

0,27

2,5
%

2,5 %

100 %

0,94

100
%

0,00 %

100 %

0,06

100
%

0,00 %

100 %

99,00 Km
100 %
100 242,46 Km
%
= 0,4083

94,00

5%

5%

100 %

13.800,5

3,10
%

3,10 %

100 %

Panjang Jalan Kota Dalam Kondisi Baik


Panjang Seluruh Jalan Kota

Baik

Jembatan Dalam Kondisi


Jumlah Jembatan dalam kondisi Baik
Jumlah Jembatan Yang Ada

Baik

66
100 %
100 79
= 0,84 %

Jumlah Jembatan dalam kondisi Sedang


Jumlah Jembatan Yang Ada

Sedang

4
100 %
79
= 0,05 %

Jalan
Lingkunga
n Yang

Jalan Lingkungan yg Kondisi Baik


Panjang Seluruh Jalan Lingk.

Berkondisi
Baik
Cakupan
Pelayanan
Irigasi
Saluran

Luas Wilayah yang Ada


Jumlah luas wilayah yg hanya dialiri

Saluran irigasi dlm kondisi baik


jumlah saluran irigasi yg ada

Irigasi
dalam

100

17.599,11 m
100
100 % 54.627,20 m
= 0,3222

Keadaan

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

127

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Baik

Pertamban
gan Tanpa
Ijin/Liar

Pert tp ijin (t 1) pert tp ijin


pert tp ijin (t)

0
100
100 % 19.500 m
= 0,00%

0,00

0,00%

100 %

Tabel 3.112
Evaluasi Pencapaian Sasaran 8.1.14
Meningkatnya dinamika masyarakat melalui ketersediaan sarana mobilisasi yang lebih baik.
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Satuan

Tersedianya jalan yang menjamin


pengguna jalan berkendara dengan
selamat. (SPM)

Tahun 2013

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

Persen

37

37

100.00

60

60

100.00

Tersedianya jalan yang


memudahkan masyarakat per
individu melakukan perjalanan.
(SPM)

Persen

17

17

100.00

100

100

100.00

Tersedianya jalan yang menjamin


kendaraan dapat berjalan dengan
selamat dan nyaman.

Persen

n.a

n.a

0.00

60%

60%

100.00

Tersedianya jalan yang menjamin


perjalanan dapat dilakukan sesuai
dengan kecepatan rencana

Persen

n.a

n.a

0.00

60%

60%

100.00

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Tabel 3.113
Evaluasi Pencapaian Sasaran 8.1.15
Terwujudnya infrastruktur transportasi
Tahun 2012
No.

1
2
3

Indikator Target RPJMD

Persentase penyelesaian
pembangunan terminal angkutan.
Persentase penyelesaian
pembangunan terminal tipe B.
Persentase penyelesaian
pembangunan terminal wisata.
Tersedianya terminal angkutan
penumpang pada setiap
Kabupaten/Kota yang telah dilayani
angkutan umum dalam trayek.

Tahun 2013

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

Persen

0.00

0.00

Persen

0.00

0.00

Persen

0.00

0.00

Persen

n.a

n.a

0.00

42

42

100.00

Satuan

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

128

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.114
Evaluasi Pencapaian Sasaran 8.1.16
Meningkatnya infrastruktur dan sarana lalu lintas.

No.

10

11

12

13

Indikator Target RPJMD


Tersedianya halte yang telah
dilayani angkutan umum dalam
trayek. (SPM)
Tersedianya fasilitas perlengkapan
jalan (rambu, marka, dan guardrill)
dan penerangan jalan umum (PJU)
pada jalan kota/kabupaten. (SPM)
Tersedianya angkutan umum yang
melayani wilayah yang telah
tersedia jaringan jalan untuk
jaringan jalan Kabupaten/Kota
Tersedianya angkutan umum yang
melayani jaringan trayek yang
menghubungkan daerah tertinggal
dan terpencil dengan wilayah yang
telah berkembang pada wilayah
yang telah tersedia jaringan jalan
Kabupaten/Kota.
Tersedianya fasilitas perlengkapan
jalan (rambu, marka, guardrill, dan
APILL) dan penerangan jalan umum
(PJU) pada jalan Kabupaten/Kota.
Tersedianya fasilitas perlengkapan
jalan (rambu, marka, guardrill dan
APILL) pada jalan Kabupaten/Kota.
Tersedianya fasilitas penerangan
jalan umum (PJU) pada jalan
Kabupaten/Kota.
Tersedianya unit pengujian
kendaraan bermotor bagi
Kabupaten/Kota yang memiliki
populasi kendaraan wajib uji minimal
4.000 (empat ribu) kendaraan wajib
uji.
Tersedianya Sumber Daya Manusia
(SDM) di bidang terminal pada
Kabupaten/Kota yang telah memiliki
terminal.
Tersedianya Sumber Daya Manusia
(SDM) di bidang pengujian
kendaraan bermotor pada
Kabupaten/Kota yang telah
melakukan pengujian berkala
kendaraan bermotor.
Tersedianya Sumber Daya Manusia
(SDM) di bidang MRLL, Evaluasi
Andalalin, Pengelolaan Parkir pada
Kabupaten/Kota.
Tersedianya Sumber Daya Manusia
(SDM) yang memiliki kompetensi
sebagai pengawas kelaikan
kendaraan pada setiap perusahaan
angkutan umum
Terpenuhinya standar keselamatan
bagi angkutan umum yang melayani
trayek di dalam Kabupaten/Kota.

Tahun 2012
Capaian
Reali
Kinerja
sasi
(%)

Satuan

Targ
et

Unit

n.a

n.a

0.00

Kategori

terse
dia

terse
dia

100.00

Persen

n.a

n.a

0.00

Persen

n.a

n.a

0.00

Persen

n.a

n.a

0.00

Persen

n.a

n.a

0.00

Persen

n.a

n.a

0.00

Persen

n.a

n.a

0.00

Persen

n.a

n.a

0.00

Persen

n.a

n.a

0.00

Persen

n.a

n.a

0.00

Persen

n.a

n.a

0.00

Persen

n.a

n.a

0.00

Targ
et

Tahun 2013
Capaian
Reali
Kinerja
sasi
(%)

95.00

95.00

terse
dia

terse
dia

78.00

75.00

65.00

65.00

62.00

62.00

62.00

62.00

62.00

62.00

62.00

62.00

51.00

51.00

100.0

100.0

32.00

32.00

100.0

100.0

1.00

1.00

100.00

100.00

96.15

100.00

100.00

100.00

100.00

100.00

100.00

100.00

100.00

100.00

100.00

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

129

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.115
Evaluasi Pencapaian Sasaran 8.1.17
Meningkatnya infrastruktur sanitasi lingkungan permukiman.

No
.

2
3
4
5
6

8
9

10

11

12

13

Indikator Target RPJMD

Satuan

Tersedianya akses air minum yang


aman melalui Sistem Penyediaan
Air Minum dengan jaringan
perpipaan dan bukan jaringan
perpipaan terlindungi dengan
kebutuhan pokok minimal 60
liter/orang/ hari

Sangat
buruk
Buruk

Tersedianya sistem air limbah


setempat yang memadai.
Tersedianya sistem air limbah skala
komunitas/kawasan/kota
Tersedianya fasilitas pengurangan
sampah di perkotaan.
Tersedianya sistem penanganan
sampah di perkotaan.
Tersedianya sistem jaringan
drainase skala kawasan dan skala
kota
Tersedianya sistem jaringan
drainase skala kawasan dan skala
kota sehingga tidak terjadi
genangan (lebih dari 30 cm, selama
2 jam) dan tidak lebih dari 2 kali
setahun
Berkurangnya luasan permukiman
kumuh di kawasan perkotaan.
Tersedianya air baku untuk
memenuhi kebutuhan pokok
minimal sehari hari.

Tersedianya fasilitas pengurangan


sampah di perkotaan

Persentase jumlah pengaduan


masyarakat akibat adanya dugaan
pencemaran dan/atau perusakan
lingkungan hidup yang
ditindaklanjuti (SPM)
Persentase Jumlah Titik Pantau
Lingkungan Hidup

Jumlah penerapan teknologi ramah


lingkungan.

Status mutu air.

Targ
et

Tahun 2012
Capaian
Reali
Kinerja
sasi
(%)

n.a

n.a

0.00

40%

n.a

n.a

0.00

50%

n.a

n.a

0.00

70%

n.a

n.a

0.00

80%

Sangat
Baik

n.a

n.a

0.00

100
%

Persen

Ada

Ada

Ada

60%

Persen

Ada

Ada

Ada

5%

Persen

Ada

Ada

Ada

20%

Persen

Ada

Ada

Ada

70%

Persen

Ada

Ada

Ada

50%

10.0
0%

20.00

Persen

Ada

Ada

Ada

50%

10.0
0%

20.00

Persen

Tidak
ada

Tidak
ada

Tidak ada

0%

100.00

Persen

Ters
edia

Ters
edia

Tersedia

100
%

70%

70.00

paket
alat
pengol
ah
sampa
h

100.00

100.00

0.00

100

100

100.00

100

100

100.00

100

100

100.00

100.00

100.00

50

30

Sedang
Baik

Unit
Instalas
i
Biogas
Limbah
Ternak
kali

14

15

Targ
et

Tahun 2013
Capaian
Reali
Kinerja
sasi
(%)
11.4
28.65
6%
5.68
11.36
%
0.84
1.20
%
2.16
2.70
%
100.
100.00
0%
20.0
33.33
0%
1.50
30.00
%
14.7
73.80
6%
35.0
50.00
0%

100.00

Pemanfaatan sarana dan prasarana


pemantauan kualitas air

Unit/ala
t

Upaya penegakan hukum


lingkungan.

pelaku
usaha/i
ndustri

40

50

125.00

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

100.00

BAB - III
Halaman

60.00

130

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

16

17
18

19

20
21

22

23

24

25

26
27
28
29

30

Persentase luasan lahan dan atau


tanah untuk produksi biomassa
yang telah ditetapkan dan
diinformasikan status kerusakannya
(SPM)
Cakupan penghijauan sumber mata
air.
Jumlah sumur resapan.

Upaya pengurangan resiko akibat


terjadinya bencana, terutama pada
aspek adaptasi terhadap perubahan
iklim dan mitigasi bencana.

Koordinasi Penyusunan Dokumen


AMDAL
Pelibatan masyarakat terhadap
perlindungan dan konservasi
sumber daya alam. (Bambunisasi di
sekitar sempadan sungai)
Peningkatan akses informasi dan
peran masyarakat dalam
pengelolaan SDA dan Lingkungan
Hidup
Persentase jumlah usaha dan/ atau
kegiatan yang mentaati persyaratan
administrasi dan teknis pencegahan
pencemaran air. (SPM)
Persentase jumlah usaha dan/ atau
kegiatan yang mentaati persyaratan
administrasi dan teknis pencegahan
pencemaran udara. (SPM)

Jumlah Sarana Pengendalian


Polusi

Jumlah Sarana Pengendalian


Polusi
Cakupan Pelayanan Bencana
Kebakaran di Kota Batu
Tingkat Waktu Tanggap (Response
Time Rate)
Persentase aparatur pemadam
kebakaran yang memenuhi standar
kualifikasi
Jumlah mobil pemadam kebakaran
diatas 3000-5000 liter pada WMK (
Wilayah Manajemen Kebakaran)

(tahap
kajian)

0.00

0.00

paket

100.00

100.00

unit
kampu
ng iklim
Tersus
un
rencan
a
pemba
ngunan
taman
KEHAT
I
dokum
en
lingkun
gan

10

10

100.00

20

15

75.00

100.00

100.00

100.00

100.00

batang

5000

4,00
0

5000

5,00
0

sekolah

100.00

15

500.00

paket

200.00

200.00

0.00

0.00

0.00

0.00

Unit (
IPAL
UKM
Tahu,
IPAL
UKM
Tempe,
IPAL
Medis)

100.00

100.00

PAKET

70%

70%

100.00

80%

80%

100.00

60%

60%

100.00

75%

75%

100.00

75%

75%

100.00

85%

85%

100.00

90%

90%

100.00

90%

90%

100.00

80.00

100.00

Sumber: Dokumen RPJMD Kota Batu dan Hasil Analisis, 2014

Program Pembangunan Perumahan di Kota Batu diindikasikan dengan


menurunnya kualitas lingkungan permukiman dan semakin banyaknya sampah buangan
merupakan salah satu permasalahan pembangunan perumahan yang mengakibatkan
menurunnya derajat kesehatan masyarakat khususnya MBR, Masih rendahnya tingkat

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

131

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

capaian pelayanan sampah perkotaan, lemahnya manajemen teknis pelayanaan


kebersihan, belum optimalnya pengelolaan TPA serta perilaku masyarakat yang belum
sepenuhnya mendukung pengelolaan kebersihan, serta Terbatasnya kemampuan
pemerintah daerah dalam penanganan kualitas lingkungan permukiman baik dalam
penyediaan prasarana dan sarana umum, penyediaan dan perbaikan infrastruktur skala
lingkungan, maupun rehabilitasi rumah tidak layak huni sehingga dibutuhkan partisipasi
dan swadaya masyarakat untuk mencapai kualitas kesehatan lingkungan yang lebih baik.
Selama ini persoalan Lingkungan Hidup di Kota Batu meliputi menurunnya
kondisi hutan, meningkatnya kerusakan daerah aliran sungai, masih tingginya ancaman
terhadap keanekaragaman hayati, makin meningkatnya pencemaran air, menurunnya
kualitas udara di perkotaan, lemahnya penegakan hukum pembalakan liar, rendahnya
kapasitas pengelola kehutanan, belum berkembangnya pemanfaatan hasil hutan nonkayu dan jasa lingkungan.
Mengingat kondisi fisik dasar wilayah Kota Batu sebagian besar berupa
kawasan pegunungan dan perbukitan dengan kondisi topografi sebagian besar
bergelombang, terjal dan curam, maka untuk ke depannya di dalam pengembangan
kawasan permukiman perlu diarahkan sesuai dengan Rencana Pemanfaatan Ruang.
Dalam penataan permukiman dan pengendalian tata ruang dan tata bangunan
prosentase bangunan yang ber IMB, capaiannya masih rendah atau hanya 946 bangunan
yang ber IMB atau 2,04% dari jumlah bangunan yang ada sebanyak 46.276 bangunan.
Jumlah ini naik sebesar 188,82% dibanding tahun lalu sebanyak 625 bangunan yang ber
IMB. Ruas jalan digolongkan menjadi 2 (dua) golongan, yaitu Jalan Kota dan Jalan
Desa.
Pemukiman di wilayah Kota Batu terdiri atas 2 jenis yaitu jenis
permukiman/perumahan penduduk dan villa. Bangunan permukiman tersebut hampir
semuanya merupakan bangunan permanen dengan kondisi bangunan yang beragam.
Kawasan perumahan/permukiman penduduk umumnya tersebar merata di setiap wilayah
yang ada Kota Batu, dengan pola linier. Kepadatan paling tinggi berada di Kecamatan
Batu yaitu di Kelurahan Pesanggrahan tepatnya di sekitar Jalan Panglima Sudirman,
Jalan Hasanudin, Jalan Samadi, dan Jalan Cempaka. Untuk wilayah di Kelurahan
Ngaglik, kawasan permukiman tersebar di sekitar Jalan Panglima Sudirman, Jalan
Ikhwan Hadi, Jalan Suropati, dan Jalan Abdulgani.
Kawasan permukiman di wilayah Kelurahan Sisir, berada di sekitar jalan
Diponegoro, Jalan Minsuwarso, Jalan Kapten Ibnu, Jalan K.H Agus Salim, Jalan Diran
dan untuk Kelurahan Temas yaitu di sekitar Jalan Patimura, Jalan Imam Bonjol, dan
Jalan Dewi Sartika. Jumlah bangunan tempat tinggal di wilayah Kecamatan Batu secara
keseluruhan sebesar 18.924 unit. Untuk kawasan pemukiman yang terdapat pada
Kecamatan Bumiaji dan Junrejo, jumlahnya relatif sedikit. Hal ini di sebabkan karena
banyaknya kawasan pertanian yang ada di daerah tersebut. Di wilayah Kecamatan
Bumiaji bangunan tempat tinggal hanya sekitar 12.741 unit dan wilayah Kecamatan

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

132

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Junrejo sekitar 10.157 unit. Sedangkan untuk kawasan villa lebih banyak tersebar di
Kecamatan Batu terutama di Kelurahan Songgokerto yaitu di sekitar Jalan Mawar, Jalan
Flamboyan dan daerah sekitar Songgoriti.
Peningkatan ketersediaan jaringan irigasi sebesar 56,80% dan masyarakat
yang terlayani air bersih sebesar 93,73%. Jumlah jaringan air bersih tahun 2006
sebanyak 143 jaringan sedangkan tahun 2005 sebanyak 141 jaringan atau meningkat
1,42%. Sedangkan masyarakat yang terlayani air bersih sampai dengan tahun 2005
sebesar 134.269 jiwa atau sebesar 79,67% dari jumlah penduduk Kota Batu sebanyak
168.544 jiwa. Peningkatan kondisi jaringan irigasi tahun 2006 sebesar 8,33% atau
sebanyak 12 buah dibanding tahun 2005 sebanyak 9 buah. peningkatan intensitas tanam
pada lahan sawah di Kota Batu yang diairi tahun 2005 seluas 2.528 Ha dibanding luas
sawah yang ada di Kota Batu seluas 2.681 Ha atau sebesar 94,29%. Hal ini karena
adanya alih fungsi dari areal sawah ke areal permukiman. Pada tahun 2005 intensitas
tanam baik tanaman Padi, Jagung dan Palawija tidak mengalami kenaikan, yaitu dua kali
setahun untuk tanaman Padi, satu kali untuk Jagung dan tiga kali untuk jenis Palawija.
Seperti diuraikan sebelumnya, sampai saat ini di wilayah Kota Batu telah
diinventarisasi sebanyak 111 sumber mata air yang produktif dan selama ini telah
digunakan oleh PDAM Unit Batu, PDAM Kabupaten Malang, PDAM Kota Malang maupun
digunakan oleh swasta dan masyarakat untuk berbagai keperluan.
Usaha perlindungan terhadap lingkungan hidup yang dilakukan oleh
Pemerintah Kota Batu adalah dengan rehabilitasi lingkungan serta kegiatan penataan
pengelolaan DAS Brantas dengan mereboisasi hutan, reboisasi DAS Brantas dan
reboisasi sumber mata air. Adapun kegiatan nyata yang telah dilakukan adalah Gerakan
Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan, pengelolaan hutan rakyat di mana capaian luas
hutan rakyat meningkat dari 250 ha pada tahun 2003 menjadi 500 ha pada tahun 2004
dan tahun 2005 menjadi 520 ha serta Gerakan Penghijauan dengan dicanangkan
Program Batu Hijau Lestari.
Upaya untuk memaksimalkan perlindungan terhadap lingkungan hidup, maka
dilakukan penataan ruang dengan kegiatan pokok Penyusunan Rencana Tata Ruang
Perkotaan, Rencana Tata Ruang Kawasan Khusus serta Pengendalian Pemanfaatan
Ruang terkait dengan perijinan peruntukan ruang dan bangunan. Untuk mengoptimalkan
penataan ruang di Kota Batu telah diterbitkan Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2004
tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batu di mana Kota Batu terbagi dalam
beberapa struktur pusat pelayanan yang pembagiannya berdasarkan adanya potensi
kecenderungan (trend oriented) juga pada pembentukan struktur ruang yang optimal
(target oriented) sesuai dengan potensi, kondisi daya dukung lahan dan skenario
pembangunan, arahan distribusi penduduk, arahan pemanfaatan ruang serta jaringan
jalan yang sudah terbentuk maupun yang akan dikembangkan.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

133

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Di sisi lain, secara umum kualitas udara di wilayah Kota Batu masih baik dan di
bawah Baku Mutu Udara Ambien, baik di lingkungan pemukiman maupun prasarana
wilayah dan pelayanan umum. Parameter CO, NOx, SOx serta Pb pada sebagian besar
wilayah dapat dikategorikan masih memenuhi Baku Mutu Udara Ambien, namun
parameter debu dan kebisingan pada beberapa tempat nilainya melampaui Baku Mutu
yang ditetapkan, khususnya titik/lokasi yang berdekatan ataupun berasal dari sumber
bergerak (mobile source) berupa arus lalu lintas yang padat, yang terjadi pada pagi dan
siang hari.
Kendaraan bermotor berbahan bakar minyak (BBM) merupakan salah satu
sumber polutan di wilayah Kota Batu, hal ini terkait dengan umur dan jenis mesin dari
kendaraan yang masih layak jalan. Uji kir yang dilaksanakan setiap tahun hanya
memeriksa kelayakan komponen kendaraan, sehingga belum mampu menelaah emisi
gas buang yang dihasilkan kendaraan. Masih rendahnya kegiatan pengujian emisi oleh
pemilik kendaraan merupakan salah satu kendala dalam pengendalian pencemaran
udara sumber emisi bergerak, baik dari kendaraan jenis truk, bus, pick up, mobil
penumpang, sepeda motor serta kendaraan bermotor lainnya.
Masalah pengelolaan sampah juga mendesak untuk dipecahkan, terlebih ketika
Pemerintah Kota menetapkan target untuk meraih piala adipura pada tahun 2009.
Tumpukan sampah yang menggunung bisa mengakibatkan pencemaran udara (berupa
bau busuk), menurunkan kualitas kesehatan lingkungan (sumber jangkitan penyakit) dan
mengganggu keindahan kota. Oleh karena itu pemberlakukan Undang-Undang No. 18
Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, juga menjadi tuntutan tersendiri bagi upaya
meraih kembali piala adipura melalui peningkatan tata kelola persampahan. Sumber
limbah padat di wilayah Kota Batu umumnya berasal dari kegiatan rumah tangga, pasar,
industri, komersial, taman, jalan dan sungai. Mengingat produksi sampah yang lebih
besar daripada kapasitas pengelolaan sampah, maka upaya untuk mengurangi produksi
sampah merupakan hal yang mendesak untuk dilakukan. Kampanye reduce, reuse dan
recycle dalam setiap penggunaan barang merupakan tindakan nyata untuk mengurangi
produksi sampah.
Sejak tahun 2009, Pemerintah Kota mengangkat isu lingkungan dalam
kampanye yang bertajuk Batu Hijau (Batu Goes Green). Dalam konteks pengurangan
produksi sampah, kampanye tersebut dimaknai dengan melakukan upaya-upaya riil untuk
mengurangi semaksimal mungkin penggunaan barang yang menghasilkan sampah non
organik dan tidak ramah lingkungan. Dalam hal ini, prinsip reduce, reuse dan recycle
menjadi relevan untuk menekan produksi sampah dan meningkatkan kelestarian
lingkungan, dengan mengurangi konsumsi energi. Sehingga konsep pembangunan yang
berkelanjutan dapat terlaksana.
Issue strategis yang saat ini memerlukan perhatian serius adalah pelestarian
sumberdaya alam dan lingkungan hidup, terutama konservasi dan rehabilitasi sumber

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

134

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

daya lahan dan hutan sebagai akibat kerusakan sumberdaya hutan, maka menyebabkan
kerugian ekonomis yang sangat besar dengan terjadinya banjir dan tanah longsor. Tabel
2.9. menunjukkan perkembangan luas kawasan hutan di wilayah Kota batu tahun 20082010.
Sistem persampahan di Kota Batu dikumpulkan secara komunal oleh petugas
persampahan yang selanjutnya diangkut ke tempat pembuangan akhir (TPA) setempat.
Berdasarkan data tahun 2007, jumlah sarana kebersihan di Kota Batu berupa sarana
pengangkutan sampah yaitu amroll truck sejumlah 7 buah, dump truck sejumlah 5 buah,
open truck sejumlah 1 buah, shovel sejumlah 1 buah dan motor gerobak sejumlah 1
buah. Jumlah tong sampah sebanyak 155 unit yang tersebar di jalan-jalan protokol di
antaranya di Jl. Diponegoro sejumlah 45 unit, Jl. Gajah Mada sejumlah 8 unit, Jl.
Panglima Sudirman sejumlah 51 unit, Alun-alun Kota Batu sejumlah 20 unit, Kompleks
Pertokoan Plaza sejumlah 2 unit, Jl. Brantas sejumlah 14 unit, PMK sejumlah 1 unit dan
Jl. Trunojoyo sejumlah 14 unit. Jumlah sarana gerobak sampah sebanyak 56 unit.
Sedangkan jumlah prasarana kebersihan berupa TPS di Kota Batu adalah 12 unit dengan
kondisi baik dan TPA berjumlah 1 yang berlokasi di Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu
dengan luas 1,2 Ha.
Tabel 3.116
Indikator Kinerja Daerah pada
Dinas PU Cipta Karya dan Tata Ruang Kota Batu
Tahun 2013
No.

Indikator Kinerja Pembangunan


Daerah*

Target Capaian Tahun 2013

Realisasi Capaian Tahun 2013

Target

Satuan

Realisasi

Satuan

Capaian
kinerja

1.

KK yang Menggunakan Air Bersih

418

KK

1.359

KK

100%

2.

Rumah Bersanitasi

155

KK

200

KK

100%

3.

Ruang Terbuka Hijau (RTH)

6,229

4.

Penanganan sampah

207

207

100%

5.

Tempat Pembuangan sampah (TPS) per


satuan penduduk

1,52

1,11

73,33%

6.

Tingkat waktu tanggap (response


time rate) daerah layanan Wilayah
Manajemen Kebakaran (WMK)

100

100

100%

* RPJMD Kota Batu Tahun 2012 s/d 2017

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

135

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.117
Capaian Indikator Kinerja Utama
Dinas Perhubungan Kota Batu
Tahun 2013
Satuan

Kondisi
Tahun
Sebelumny
a

Target
2013

PJU yang terpasang dibagi jumlah PJU yang seharusnya terpasang x


100%

Jumlah panjang jaringan trayek yang dilayani angkutan Kota Batu


dibagi jumlah panjang jaringan jalan arteri, kolektor, lokal, dan lebar
minimal 6 M x 100%

16.5

16.5

Jumlah alat kelengkapan jalan yang terealisasi dibagi jumlah alat


kelengkapan jalan yang dibutuhkan

Rambu

Buah

479

507

Marka

m2

6056

6056

Guardrill

m2

1100

1164

RPPJ

Buah

80

90

Traffic Light

Titik

Flas Light

Titik

13

13

Kecepatan rata-rata luas jalan Kota Batu

Km/Ja
m

40 km/jam

40
km/jam

0.2

0.2

Jumlah wajib kendaraan uji yang lulus uji dibagi jumlah kendaraan
yang wajib uji x 100%

60

80

Cukup Jelas

Buah

Jumlah SKPD yang sudah akses ke jaringan internet pemkot


dibanding dengan jumlah SKPD x 100%

30

35

Jumlah jaringan telepon genggam /Stasioner

N
o

Indikator
Kinerja
Utama

Penjelasan

Terpasangny
a titik PJU

Rasio
Panjang
Jalan yang
dilayani
angkutan
umum
Kelengkapan
dan
kebutuhan
alat
kelengkapan
jalan

Kecepatan
Rata-rata

Rasio Ijin
trayek

Kendaraan
Wajib uji lulus
uji kendaraan
Terbangunny
a terminal
type A yang
representativ
e
SKPD yang
akses ke
jaringan
internet
pemkot
Jumlah
jaringan
komunikasi

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

136

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

10

11

12

13
14
15

16

17

18

19

20

21

22

23

Rasio
wartel/warnet
terhadap
penduduk
Jumlah surat
kabar
nasional/local
Jumlah
penyiaran
Radio
Jumlah
Penyiaran TV
local
Daya Pancar
siaran
Persentase
penyebaran
informasi

Jenis surat kabar nasional /lokal yang masuk ke daerah

Unit

Jumlah penyiaran radio yang masuk ke daerah

Unit

Jumlah penyiaran TV yang masuk ke daerah

Unit

Cukup Jelas

Radius
(km)

24

24

75

100

Unit

408

408

Unit

Unit

408

408

Unit

Titik

116

470

Jumlah masyarakat yang menerima informasi terhadap jumlah


masyarakat (sampel x 100%)

Angka
Kecelakaan
LLAJ
Angka
Pelanggaran
LLAJ
Rasio
Berfungsinya
Ramburambu LLAJ
Penggunaan
Fasilitas
Terminal oleh
Moda
Angkutan
yang
beroperasi
Penggunaan
Fasilitas Sub
Terminal oleh
angkutan
yang
beroperasi
Kelaikan
Moda
Angkutan
Jumlah pospos pantau
LLAJ
Tingkat
cakupan
layanan
perparkiran

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

137

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Indikator
Sasaran
1
Cakupan
terhadap
pelaksanaan
AMDAL

Penanganan
hukum terhadap
pencemar
lingkungan

Penjelasan

Satuan

Jumlah
perusahaan yang
wajib AMDAL
yang telah diawasi
dibagi jumlah
perusahaan wajib
AMDAL X 100%
Jumlah kasus
yang diselesaikan
di bagi jumlah
kasus lingkungan
yang ada x 100%

Kualitas air sungai


sesuai standar

Terkendalinya
kualitas udara
pada lokasi rawan
pencemaran
udara
Luas Lahan Kritis

Kondisi Tahun
Sebelumnya
4

Target
2013
5

Realisasi
6

Capaian
Kinerja
7

40

20

100

Buah

100

100

100

-Pengujian Air
sungai

100

100

-pengujian sumber
mata air

100

19

-Pengujian Air
Limbah Industri

100

42

41

100

Lokasi

Rasio Produksi
Sampah dengan
yang tertangani

keterangan

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

TUPOKSI PADA
DINAS
PERTANIAN
DAN
KEHUTANAN
TUPOKSI PADA
DINAS CIPTA
KARYA DAN
TATA RUANG

138

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Misi 9:
Meningkatkan
Penyelenggaraan
Pemerintah Desa Guna
Meningkatkan Pelayanan
Kepada Masyarakat

Sejumlah desa masih memiliki kendala dalam pembangunan


pengembangan desa. Dengan adanya konsep Desa Wisata, maka arah
pembangunan akan menuju kepada pengembangan desa.
Dapat
dikatakan dengan menggunakan satu strategi dua tujuan tercapai.

Tujuan:
Memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat atas berbagai kepentingan
publik masyarakat.
Tabel 3.118
Evaluasi Pencapaian Sasaran 9.1.1
Meningkatnya kapasitas dan kinerja aparatur pemerintahan desa
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Satuan

Persentase jumlah aparatur


pemerintahan desa yang
mendapatkan program peningkatan
kapasitas aparatur pemerintah desa.

Persen

Tahun 2013

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

20

25

125.00

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

25

27

108.00

Tabel 3.119
Evaluasi Pencapaian Sasaran 9.1.2
Terwujudnya budaya organisasi pemerintahan desa yang mendukung tugas dan fungsi sebagai ujung tombak
pemerintah daerah kepada masyarakat
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Jumlah desa/kelurahan yang


menerapkan analisis jabatan

Satuan

Tahun 2013

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

0.00

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

100.00

BAB - III
Halaman

139

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.120
Evaluasi Pencapaian Sasaran 9.1.3
Terpenuhinya sarana dan prasarana penunjang proses kerja pelayanan pemerintahan desa
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Satuan

Jumlah sarana prasarana kerja bagi


pemerintahan desa.

kategori

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

mem
adai

mem
adai

100.00

Tahun 2013
Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

mem
adai

mem
adai

100.00

Tabel 3.121
Evaluasi Pencapaian Sasaran 9.1.4
Terwujudnya sinergi kerja pemerintah desa dengan pemerintah daerah
Tahun 2012
Targ
et

Reali
sasi

Kali

100.00

100.00

Persen
Persen

90
100

96
100

106.67
100.00

97
100

100
100

103.09
100.00

Persen

100

100

100.00

100

100

100.00

Indikator Target RPJMD

Satuan

Jumlah koordinasi dan evaluasi


terhadap sinergi kerja pemerintahan
desa dengan pemerintahan daerah.

2
3
4

Pendampingan ADD.
Pelantikan BPD.
Pendampingan pemilihan dan
pelantikan Kepala Desa.

Tahun 2013

Capaian
Kinerja
(%)

No.

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

Tabel 3.122
Evaluasi Pencapaian Sasaran 9.1.5
Meningkatnya kualitas pelayanan pemerintahan desa
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Jumlah desa yang telah


menerapkan standar pelayanan.

Satuan

Desa

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

19

19

100.00

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

Tahun 2013
Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

24

24

100.00

BAB - III
Halaman

140

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Misi 10:
Menciptakan Stabilitas
dan Kehidupan Politik di
Kota Batu yang Harmonis
dan Demokratis

Pemerintah Kota Batu mendambakan terwujudnya stabilitas dan keharmonisan


kehidupan sosial, politik, dan budaya dalam kehidupan masyarakat yang
demokratis dilandasi etika yang luhur.

Tujuan:
Memberikan kebebasan bagi masyarakat untuk berpolitik bertanggung-jawab sesuai
koridor hukum yang berlaku dengan senantiasa berpegang pada semangat
kebangsaan dan sikap saling menghormati; dan
Mewujudkan stabilitas dan keamanan lingkungan masyarakat.
Tabel 3.123
Evaluasi Pencapaian Sasaran 10.1.1
Meningkatnya Iklim Demokrasi
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Satuan

Jumlah kegiatan pendidikan politik


bagi masyarakat.

Kali

Tahun 2013

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

100.00

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

100.00

Sasaran ini dicapai melalui pelaksanaan Program Pendidikan Politik Masyarakat


dengan kegiatan Penyuluhan Kepada Masyarakat dengan realisasi biaya
Rp.79.469.500,00; Monitoring, evaluasi dan Pelaporan Kegiatan dengan realisasi biaya
Rp.25.025.000,00; DESK Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah dengan
realisasi biaya Rp.51.742.000,00 serta pelaksanaan Bimbingan Teknis (Bimtek)
Penyusunan Pengajuan dan Pelaporan Bantuan Keuangan Partai Politik (BANPOL) Kota
Batu dengan realisasi biaya sebesar Rp.29.550.000,00. Selain Tabel berikut
menunjukkan hasil peksanaan kegiatan terkait dengan hal ini.
Selain itu, secara rutin setiap tahun Pemerintah Kota Batu juga melaksanakan
musrenbang dengan melibatkan berbagai unsure masyarakat Kota batu baik di tingkat
desa dan kelurahan, kecamatan, maupun kota sebagai bentuk pelibatan masyarakat
dalam proses pembangunan serta menjaga, memupuk dan mengembangkan iklim
demokrasi.
Tabel 3.124
Pendidikan dan Pembinaan Politik Masyarakat
Di Kota Batu Tahun 2013
No.

Uraian

Target

Satuan

Realisasi

Capaian
%

100

100

100

1.

Persentase forum dialog publik yang efektif

2.

Kegiatan pembinaan politik daerah

Kali

100

3.

Persentase partisipasi masyarakat dalam


Pemilu dan Pilkada

65

61,76

95

Sumber: Lakip Kantor Kesbangpol DN Kota Batu, 2014

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

141

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Sebagaimana terlihat pada table 3.125 di atas, 2 indikator kegiatan telah dapat
dicapai 100% kecuali 1 indikator kegiatan yaitu persentase partisipasi masyarakat dalam
Pilkada/Pemilu. untuk sasaran ini salah satu indikator kinerja yang tidak mencapai target
adalah Persentase partisipasi masyarakat dalam Pemilu dan Pilkada yang ditargetkan 65
% tetapi realisasinya sebesar 61,76 % sehingga capaian kinerjanya adalah 95%, hal ini
disebabkan oleh: a). masih kurangnya pengetahuan politik di kalangan masyarakat, dan
b). adanya indikasi kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggara Pilkada/
Pemilu. Sebagai langkah antisipatif ke depan kiranya perlu dipertimbangkan untuk: a).
memperbanyak kegiatan pendidikan politik kepada masyarakat, dan b). memperbaiki
kinerja penyelenggara Pilkada/ Pemilu.
Tabel 3.125
Evaluasi Pencapaian Sasaran 10.1.2
Meningkatnya peran dan fungsi lembaga-lembaga sosial, politik, dan keagamanaan masyarakat dalam rangka
meningkatkan harmonisasi dan demokratisasi
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Satuan

Jumlah kader parpol yang mendapat


pendidikan politik.

Orang

Tahun 2013

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

160

150

93.75

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

150

150

100.00

Pada dasarnya Pemerintah Kota Batu memberikan kebebasan dan hak untuk ikut
berpolitik bagi semua elemen masyarakat termasuk perempuan dan pemuda. Pada tahun
2013 telah dilaksanakan 1 kali kegiatan pendidikan politik terhadap kader partai politik
yang ada di Kota Batu yang melibatkan 150 orang kader partai politik dengancapaian
kinerja 100% seperti terlihat pada tabel di atas. Selain itu, seperti telah dikemukakan
bahwa dalam upaya pembangunan daerah Pemkot Batu selalu berusaha mewujudkan
sinergi antara ulama, umaro, serta seluruh jamaahnya. Dalam hal ini, Pemerinrah Kota
Batu berusaha untuk mengintegrasikan semua tokoh dan lembaga sosial keagamaan
untuk ikut berperan serta dalam pembangunan daerah. Untuk itu perlu adanya wujud
implementasi dan aktualisasi pemahaman dan pengamalan agama dalam kehidupan
bernegara. Intensitas pelibatan tokoh agama (ulama) dari berbagai agama dan/atau
aliran kepercayaan meningkat dibandingkan dengan tahun 2012 yakni dari 60% menjadi
74% pada tahun 2013 dengan capaian kinerja 105,71%. Tahun 2013 telah dilakukan
Fasilitasi Pertemuan berbagai Forum Keagamaan dalam Upaya Peningkatan Wawasan
Kebangsaan bagi Ulama dan Umaro dengan seluruh pondok pesantren dan SKPD di
Kota Batu yang melibatkan 150 orang, Fasilitasi Pertemuan berbagai Forum Keagamaan
dalam Upaya Peningkatan Wawasan Kebangsaan bagi Pondok Pesantren yang
melibatkan 150 orang, serta 300 orang guru ngaji di dalam kegiatan Fasilitasi Pertemuan
berbagai Forum Keagamaan dalam Upaya Peningkatan Wawasan Kebangsaan bagi
Guru Ngaji. Secara spesifik Tabel 3.127 berikut menyajikan kegiatan pembinaan
terhadap Lembaga Sospol, LSM, Dan Ormas Keagamaan dalam rangka Meningkatnya
peran dan fungsi lembaga-lembaga sosial, politik, dan keagamanaan masyarakat dalam
rangka meningkatkan harmonisasi dan demokratisas di kota Batu tahun 2013.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

142

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.126
Pembinaan Lembaga Sospol, LSM, Dan Ormas Keagamaan
Di Kota Batu Tahun 2013
No.
1

Uraian
Kegiatan pembinaan terhadap LSM, Ormas dan
OKP

Target

Satuan

Realisasi

Capaian
%

Kali

100

Sumber: Lakip Kantor Kesbangpol DN Kota Batu, 2014

Di antara upaya yang dilakukan Pemerintah Kota Batu dalam hal ini adalah
membentuk dan merevitalisasi FKUB sebagai wadah bagi para
tokoh agama,
masyarakat, dan pemerintah untuk menyelesaikan berbagai permasalahan dalam
kerukunan hidup umat beragama. Untuk menunjang tercapainya sasaran ini Pemerintah
Kota Batu berusaha menggalang kebersamaan di antara ormas dan organisasi profesi
dengan pemberian dana hibah sebesar Rp.1.595.000.000,00 pada tahun 2013.

Tabel 3.127
Evaluasi Pencapaian Sasaran 10.1.3
Meningkatnya peran dan fungsi perempuan dan pemuda dalam kehidupan politik
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Jumlah pembinaan terhadap partai


politik.

Satuan

Kali

Tahun 2013

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

0.00

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

100.00

Seperti dikemukaan sebelumnya bahwa selama tahun 2013 telah dilaksanakan 1


kali kegiatan pendidikan politik terhadap kader partai politik yang ada di Kota Batu yang
melibatkan 150 orang kader partai politik dengan capaian kinerja 100%. Pemerintah Kota
Batu selalu memberikan kebebasan dan hak untuk ikut berpolitik bagi semua elemen
masyarakat termasuk perempuan dan pemuda. Pendidikan dan/atau pembinaan ini
melibatkan kalangan perempuan dan pemuda Kota Batu. Sedangkan secara umum
upaya peningkatan peran perempuan dan pemuda khususnya di lingkungan pelajar Kota
Batu dilakukan melalui Program Pengembangan Wawasan Kebangsaan dengan kegiatan
Pegembangan Wawasan kebangsaan Bagi Pelajar Kota Batu dengan realisasi biaya
Rp.50.280.000,00, serta kegiatan Peningkatan Bela Negara Melalui Pembentukan
Paskibra Kota Batu dengan realisasi biaya sebesar Rp.353.580.000,00.
Tabel 3.128
Evaluasi Pencapaian Sasaran 10.1.4
Terwujudnya hubungan eksekutif dan legislatif yang lebih tertata
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Satuan

Persentase pemenuhan jadwal


kegiatan dengan DPRD

Persen

Tahun 2013

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

92

90

97.83

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

90

95

105.56

BAB - III
Halaman

143

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Salah satu wujud hubungan eksekutif dan legislatif yang lebih tertata di Kota Batu
adalah berkembangnya kapasitas dan profesionalisme lembaga demokrasi local, serta
adanya sinergi aktifitas hubungan eksekutif dan legislatif dalam satu kerangka tujuan
yang didasari penguatan etika organisasi. Tabel 3.xx di atas menunjukkan bahwa
persentase pemenuhan jadual kegiatan dengan DPRD terealisasi 105,56% yakni dari
90% yang ditargetkan dapat dipenuhi sebesar 95%. Capian ini meningkat dibandingkan
dengan tahun 2012 yang mencapai 97,83%. Beberapa kendala menghalangi pemenuhan
semua jadwal dan kegiatan dengan DPRD selama tahun 2013. Secara garis besar
permasalahan yang dihadapi dalam melaksanakan kegiatan adalah: a). Kurangnya SDM
dan kurangnya diklat yang menunjang ketugasan staf; b). Adanya kegiatan yang tidak
bisa diprediksi dalam satu tahun seperti Pelantikan anggota DPRD antar waktu (PAW);
c). Jadwal pengesahan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) yang tidak tepat waktu
sehingga berdampak pada mundurnya semua kegiatan Dewan; d). Banyak kegiatan
Dewan yang belum mengacu pada jadwal kegiatan yang telah ditetapkan; e).
Keterbatasan dana untuk memfasilitasi kegiatan dewan; serta f). Terbatasnya buku-buku
koleksi perpustakaan sebagai bahan referensi bagi Dewan.
Hasil yang telah diperoleh selama tahun 2013 dalam upaya pencapaian sasaran
ini adalah sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 3.129 berikut:
Tabel 3.129
Hasil kegiatan hubungan eksekutif dan legeslatif Kota Batu Tahun 2013

No.

Uraian

Target

Satuan

Realisasi

Capaian
%

Tersusunnya Perda

16

perda

50

Terlaksananya hearing dan dialog

12

bulan

12

100

Terlaksananya rapat Fraksi dan komisi

12

bulan

12

100

Terlaksananya rapat paripurna

12

bulan

12

100

Terlaksananya kegiatan reses di Dapil

kegiatan

100

6
7
8
9

Terlaksananya Pendidikan dan pelatihan Kompetensi


DPRD
Terlaksananya Kunjungan Kerja Pimpinan dan
Anggota DPRD Dalam Daerah
Terlaksananya Kunjungan Kerja Pimpinan dan
Anggota DPRD Luar Daerah

kegiatan

100

12

bulan

18

16

88,88

kegiatan

Terwujudnya Raperda Inisiatif

66,66

perda

Adapun Peraturan Daerah Kota Batu yang dihasilkan selama Tahun 2013 adalah
sebagai berikut:

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

144

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

1. Peraturan Daerah Kota Batu Nomor 1 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan


Kepariwisataan;
2. Peraturan Daerah Kota Batu Nomor 2 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan
Perlindungan Perempuan dan Anak Korban Kekerasan;
3. Peraturan Daerah Kota Batu Nomor 3 Tahun 2013 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Sekretariat Daerah dan Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah;
4. Peraturan Daerah Kota Batu Nomor 4 Tahun 2013 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Inspektorat, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Lembaga
Teknis Daerah;
5. Peraturan Daerah Kota Batu Nomor 5 Tahun 2013 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Dinas Daerah;
6. Peraturan Daerah Kota Batu Nomor 6 Tahun 2013 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Satuan Polisi Pamong Praja;
7. Peraturan Daerah Kota Batu Nomor 7 Tahun 2013 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Batu Tahun 2012-2017;
8. Peraturan Daerah Kota Batu Nomor 8 Tahun 2013 tentang Pertanggungjawaban
Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun 2012;
9. Peraturan Daerah Kota Batu Nomor 9 Tahun 2013 tentang;
10. Peraturan Daerah Kota Batu Nomor 10 Tahun 2013 tentang Rencana Detail Tata
Ruang Kota Batas wilayah Kota I ;
11. Peraturan Daerah Kota Batu Nomor 11 Tahun 2013 tentang Rencana Detail Tata
Ruang Kota Batas wilayah Kota II;
12. Peraturan Daerah Kota Batu Nomor 12 Tahun 2013 tentang Perubahan
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah 2013;
13. Peraturan Daerah Kota Batu Nomor 13 Tahun 2013 tentang Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun 2014.

Untuk mengatasi permasalahan ini, kebijakan Pemerintah Kota Batu pada


tahun 2011 diarahkan untuk Meningkatkan peran serta masyarakat untuk mencegah
kriminalitas dan gangguan keamanan dan ketertiban di lingkungan masing-masing,
Meningkatkan pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan serta peredaran
Narkoba serta Mendorong peningkatan perlindungan dan pengayoman masyarakat.
Keikutsertaan aparat keamanan dalam penanggulangan gangguan keamanan
dan ketertiban serta kriminalitas lebih didasarkan kepada skala prioritas kebutuhan,
dalam arti apabila kondisinya dalam kategori rawan, diperlukan pengamanan dari pihak
POLRI dan pada tingkatan tertentu dapat melibatkan TNI. Dalam rangka tindakan
pencegahan, pelibatan aparat keamanan pada tingkatan pre-emtif dan preventif melalui
pembinaan masyarakat dan pembinaan wilayah dengan mengedepankan fungsi
fasilitator dan dinamisator. Berbagai fasilitas terkait bidang keamanan dan ketertiban
tersebut antara lain adalah:

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

145

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

1. Pos Polantas Batu Plaza.


2. Pos polantas Songgoriti.
3. Pos Polantas Perempatan BCA.
4. Pos Polantas Pasar Besar.
5. Polsek Junrejo.
6. Polsek Bumiaji.
7. Koramil Junrejo.
8. Koramil Batu.
9. Koramil Bumiaji.
10. Pos Polantas Punten.
11. Pos Polantas Pendem.
12. Polsek Batu.
13. Polresta Batu-Junrejo.
14. Arhanud.
Selain adanya berbagai pos dan personil keamanan dan ketertiban tersebut
Pemerintah Kota Batu dalam hal ini adalah Kantor Kesatuan Bnagsa, Politik, dan
Perlindungan Masyarakat bersama Satuan Polisi Pamong Praja juga menggalang
Kekuatan Potensi Hansip di seluruh wilayah kecamatan dan desa. Tabel 3.130. berikut
adalah Kekuatan Potensi Pertahanan Sipil di Kota Batu.
Tabel 3.130.
Kekuatan Potensi Hansip Dirinci Menurut Pendidikan Tahun 2010-2012
Jenis Pendidikan
1.

2.

3.

4.

5.
6.
7.
8.

Suskapin :
Hansip
Wanra
Suskalak :
A
B
Latihan Dasar
Hansip
Wanra
Kamra
Cadnas :
Pacad
Tacad
Suskapokgas
Suskasatgas
Suskabinhan
Suspim
Jumlah

2010

2011

2012

14
-

28
-

23
-

87
95

174
190

91
140

64
-

128
-

185
-

260

520

439

Sumber : Badan Kesbanglinmas dan Satpol PP Kota Batu, 2013

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

146

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Di sisi lain, Kondisi geografis Kota Batu yang berada di dataran tinggi dan
merupakan sumber sungai Brantas merupakan faktor yang menyebabkan Kota Batu
rentan terhadap ancaman bencana tanah longsor. Selain karena perilaku manusia,
bencana alam juga merupakan sumber ancaman bagi keamanan dan ketertiban
masyarakat. Manusia tidak memiliki kemampuan untuk menghilangkan ancaman
bencana alam. Mereka hanya dapat mengelola risiko tersebut, yakni meminimalisir
dampak negatif yang ditimbulkannya.
Sebagai upaya untuk mengelola resiko yang ditimbulkan oleh bencana alam,
maka Pemerintah Kota Batu merumuskan kebijakan yang bertujuan untuk meminimalisir
dampak yang merugikan bagi keamanan dan ketertiban kehidupan masyarakat. Di
antaranya adalah membentuk satuan tugas penanggulangan bencana di setiap
kecamatan, yang ditunjang dengan pembentukan tim SAR (search and resque) Kota Batu
juga pasukan pemadam kebakaran (damkar) Kota Batu. Disamping itu, penanganan
bencana alam alam juga melibatkan PMI (Palang Merah Indonesia) Kota Batu, Pramuka
dan Palang Merah Remaja (PMR).
Selain itu, Pemerintah Kota Batu juga menjalin kerja sama secara aktif dengan
jajaran institusi militer dan institusi kepolisian se-Kota Batu, dalam format Bapeltibda,
untuk menjaga kondusifitas kehidupan masyarakat yang mendukung pencapaian
keamanan dan ketertiban masyarakat. Pada akhirnya, partispasi aktif masyarakat juga
memiliki kontribusi siginifikan dalam mewujudkan kondisi keamanan dan ketertiban
kehidupan bermasyarakat di Kota Batu. Hasil dan/atau capaian pelaksanaan
pembangunan pada urusan ini di antaranya adalah:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Terlaksananya penyaluran insentif Hansip/Linmas desa/kelurahan.


Terlaksananya pembinaan anggota Satlinmas dalam pengendalian keamannan.
Terlaksananya operasi tipiring dan pemusnahan miras.
Terlaksananya peningkatan kapasitas aparat melalui pelatihan Siskamswakarsa.
Terselenggaranya koordinasi dan komunikasi antar anggota PAKEM.
Terselenggaranya kegiatan peningkatan pengetahuan dan kesadaran dalam
penanganan bencana.
Rasio Jumlah Satpol PP per 10000 penduduk adalah 1,35 per 10.000 penduduk.
Jumlah Linmas per Jumlah 10.000 Penduduk adalah 122,3 per 10.000 penduduk.
Rasio Pos Siskamling per jumlah desa/kelurahan adalah 18,03 buah per desa atau
kelurahan.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

147

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.131
Evaluasi Pencapaian Sasaran 10.2.1
Menguatnya peran dan fungsi produk hukum dan lembaga penegak hukum
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Satuan

Jumlah upaya pemeliharaan


kantrantibmas dan pencegahan
tindak kriminal.

Komind
a

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

100.00

Tahun 2013
Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

100.00

Implementasi dari pencapaian sasaran ini adalah adanya upaya Penguatan


penerapan produk hukum untuk memantapkan pelaksanaan otonomi dan
penyelenggaraan pemerintahan, memantapkan penegakan hukum dan perlindungan hak
asasi manusia (HAM). Agar hal ini bias terlaksana dengan baik, maka Pemerintah Kota
Batu berupaya meningkatkan peran satpol PP dalam menertibkan pelaksanaan
perundang-undangan daerah dengan cara-cara yang berorientasi pada pelayanan prima.
Pada saat yang bersamaan juga melaksanakan kerjasama dengan aparatur penegak
hukum dalam mendukung penegakan perundang-undangan daerah. Untuk mencapai
sasaran ini Kantor Satpol PP dan Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri Kota
Batu selama tahun 2013 telah melaksanakan Program Pemeliharaan Kantrantibmas dan
Pencegahan Tindak Kriminal dengan total realisasi anggaran sebesar Rp.
305.400.000,00 yang terdiri dari 3 kegiatan yakni Peningkatan Deteksi Dini Melalui
Aktifitas Komunitas Intelijen Daerah (KOMINDA) dengan realisasi biaya
Rp.96.000.000,00; dan Forum Pimpinan Daerah (FORPIMDA) Kota Batu dengan
realisasi biaya Rp.161.600.000,00; serta Tim Terpadu Penanganan Gangguan
Keamanan Kota Batu dengan realisasi biaya sebesar Rp.47.900.000,00. Tabel di atas
menunjukan bahwa ke 3 kegiatan telah dapat dilakukan sepenuhnya dengan capaian
kinerja 100%. Intensitas kegiatan ini sebanding dengan kegiatan pada tahun sebelumnya
dengan capaian kinerja yang sama.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

148

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.132
Evaluasi Pencapaian Sasaran 10.2.2
Menguatnya peran masyarakat dalam mewujudkan stabilitas dan keamanan lingkungan
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD


Jumlah satuan/kelompok
masyarakat pelaksana sistem
keamanan lingkungan.
Rasio ketersediaan pos keamanan
lingkungan.
Cakupan penegakan peraturan
daerah dan peraturan kepala daerah
di Kabupaten/Kota

1
2
3

Cakupan patroli siaga ketertiban


umum dan ketentraman masyarakat

Cakupan rasio petugas perlindungan


masyarakat (Linmas) di kota Batu

Tahun 2013

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

Pokmas

24

24

100.00

24

24

100.00

Unit

220

220

100.00

240

240

100.00

Persen

n.a

n.a

0.00

100

100

Kali

n.a

n.a

0.00

Satuan

Orang

n.a

n.a

0.00

Target

Realisasi

Capaian
Kinerja
(%)

3x
patrol
dlm
sehari
1 org
setiap
RT
atau
sebuta
n
lainnya

100.00

3 x patrol
dlm sehari

100.00

1 org
setiap RT
atau
sebutan
lainnya

100.00

Pembangunan bidang keamanan lingkungan masyarakat diprioritaskan untuk


membangun sinergi penyelenggaraan keamanan dan ketertiban masyarakat,
pencegahan gangguan terhadap keamanan dan ketertiban masyarakat serta
membangun masyarakat patuh hukum. Pemerintah Kota Batu melakukan hal ini dengan
membentuk dan menguatkan peran sistem keamanan lingkungan (siskamling),
Mensinergikan aktifitas siskamling dengan lembaga penegak hokum, serta mengadakan
pos-pos jaga di lingkungan masyarakat.
Tabel 3.132 di atas menunjukkan bahwa keseluruhan dari 5 indikator sasaran
telah dapat dicapai dengan baik atau 100% sebagaimana tahun sebelumnya. Namun
demikian secara kuantitas terdapat perkembangan banyaknya pos keamanan lingkungan
yakni dari 220 unit pada tahun 2012 meningkat menjadi 240 unit pada tahun 2013. Hal ini
menandakan semakin meningkatnya intensitas kegiatan pengamanan lingkungan dan
semakin menguatnya peran serta masyarakat di dalam mewujudkan stabilitas dan
keamanan lingkungan di Kota Batu.
Tabel 3.133
Evaluasi Pencapaian Sasaran 10.2.3
Meningkatnya stabilitas dan keamanan lingkungan.
Tahun 2012
No.

Tahun 2013

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

Anggota
Linmas

1768

1768

100.00

1768

1768

100.00

Persen

100

100

100.00

100

100

100.00

Indikator Target RPJMD

Satuan

Cakupan petugas perlindungan


masyarakat. (SPM)

Tingkat penyelesaian pelanggaran


K3 (ketertiban, ketentraman,
keindahan. (SPM)

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

BAB - III
Halaman

149

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Upaya untuk mencapai sasaran ini dimaksudkan untuk meminimalkan gangguan


keamanan dan ketertiban masyarakat, mengoptimalkan potensi masyarakat dalam
pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat yang berbasis pada masyarakat
patuh hukum serta peningkatan pelayanan keamanan dan perlindungan masyarakat dari
berbagai gangguan. Langkah-langkah yang diambil di antaranya adalah dengan
mengembangkan sistem ketahanan sosial masyarakat dalam rangka menghadapi
ancaman dan gangguan dari luar, melakukan upaya preventif terhadap berbagai tindakan
yang mengganggu keamanan lingkungan baik oleh lembaga siskamling maupun aparat
penegak hokum, dan Membina masyarakat mengenai kesadaran hukum melalui berbagai
forum dalam masyarakat dengan melibatkan tokoh masyarakat.
Pelaksanaan pencapaian sasaran ini terutama dilaksanakan oleh Kantor
Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat, Kantor Satuan Polisi Pamong
Praja. Dalam pelaksanaan Program Pengembangan Wawasan Kebangsaan (Dedicated),
berkoordinasi dengan SKPD Kecamatan dan Bag adm Kesra & Kemasy.; Program
Pemberantasan Barang Kena Cukai Ilegal dan Satpol PP, serta Bagian Humas Pemkot
Batu; Program Peningkatan Pemberantasan Penyakit Masyarakat (Pekat) berkoordinasi
dengan Bag. Adm., Kesra dan Kemasyrakatan; Program pencegahan dini dan
penanggulangan korban bencana alam bekoordinasi dengan Badan Penanggulangan
Bencana Alam, serta SKPD Kecamatan dan Kelurahan/Desa. Pada tahun 2013
memperoleh alokasi anggaran sebesar Rp 12,395,265,300,00 dan terealisasi sebesar Rp
10,907,387,800,00 atau 88,00%. Anggaran tersebut digunakan untuk melaksanakan 19
(sembilanbelas) program (41 kegiatan).
Hasil yang diperoleh selama tahun 2013 antara lain adalah: 1) terselenggaranya
Pilgub Jatim dengan lancar dan tertip di wilayah Kota Batu, sehingga mendapatkan data
pemilih yang akurat; b). Pemahaman Wawasan Kebangsaan bagi pelajar di Kota Batu
terhadap nilai; c). Terbentuknya koordinasi Forpimda dalam penyelesaian dan antisipasi
gangguan stabilisasi Daerah; d). Terbentuknya Tim Terpadu dalam penanganan
gangguan konflik sara dan konflik social; e). Terciptanya komunikasi antar dan inter
aparat Intelejen daerah dalam penanganan ganngguan kriminalitas dan terorisme; serta
f). Terciptanya kewaspadaan dini dan deteksi dini gangguan keamanan di wilayah Kota
Batu. Meskipun demikian disadari bahwa masih terdapat kekurangan yang perlu
mendapat perhatian di masa depan yaitu: a). belum mencukupi sarana prasarana deteksi
dini bidang intelejen (Alat Kominikasi, seragam dan atribut serta alat peyadap); dan b).
masih belum teranggarkannya dana untuk penyelesaian dan/atau mediasi sengketa
ormas, dan prganisasi politik karena keterbatasan anggaran yang ada. Tabel 3.xx berikut
menyajikan beberapa gambaran kondisi riel terkait dengan stabilitas dan keamanan
lingkungan di Kota Batu tahun 2013.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

150

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.134
Kondisi Stabilitas Dan Keamanan Lingkungan
Di Kota Batu Tahun 2013
No.

Uraian

Target

Satuan

Realisasi

Capaian
%

Persentase demostrasi yang terkendali

100

100

100

Angka kriminalitas Non Narkoba dan Non


Perjudian

28

Kasus

30

93

Angka kriminalitas Narkoba

Kasus

100

4
5

Angka kriminalitas Perjudian


Kejadian kebakaran

5
0

Kasus
Kasus

6
0

80
100

Rasio Linmas terlatih terhadap jumlah penduduk

Org/ RT

100

7.

Jumlah anggota Linmas terlatih

1.768

Org

1.768

100

Sumber: Lakip Kantor Kesbangpol DN Kota Batu, 2014

Misi 11:
Pemberdayaan
Masyarakat Melalui
Koperasi dan UKM

Pemberdayaan Masyarakat berorientasi pada peningkatan kemampuan dan


kemandirian masyarakat kecil yang berorientasi pada pengembangan
kemampuan sosial, terutama pada beberapa indikator kunci yang mencakup
kemampuan keluarga miskin dalam memperoleh mata pencaharian,
memenuhi kebutuhan dasar, mengelola aset, berpartisipasi dalam kegiatan
kemasyarakatan, serta kemampuan dalam menghadapi guncangan dan
tekanan.

Tujuan:
Mewujudkan dan meningkatkan keberdayaan masyarakat melalui usaha kecil
menengah dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat;
Mengentaskan masyarakat penyandang masalah kesejahteraan sosial dari
keterpurukan sosial melalui sektor UKM;
Meningkatkan kapasitas Koperasi Usaha Menengah Kecil (KUMKM) dalam
mendorong keberdayaan UKM; dan
Meningkatkan peran semua industri kecil dan menengah yang ada dalam masyarakat
sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi Kota Batu.
Strategi pemberdayaan masyarakat tersebut di atas dilaksanakan dengan
melalui pengurangan beban hidup, peningkatan pendapatan, pengumpulan aset bagi
orang miskin dan penguatan kelembagaan. Permasalahan kemiskinan yang masih
mendera masyarakat Kota Batu antara lain terbatasnya akses penduduk terhadap
aksesibilitas terhadap fasilitas pendidikan dan fasilitas kesehatan, terbatasnya
kesempatan kerja dan berusaha, Terbatasnya aksesibilitas layanan perumahan dan

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

151

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

sanitasi, Terbatasnya aksesibilitas layanan air bersih. Selain itu, memburuknya kondisi
lingkungan hidup dan sumber daya alam, dan terbatasnya aksesibilitas sumber daya
alam, masih lemahnya jaminan rasa aman, dan partisipasi, besarnya beban tanggungan
keluarga serta ketidaksetaraan dan ketidakadilan gender.
Implementasi Strategi Pemberdayaan Masyarakat di Kota Batu tahun 2011
dilaksanakan melalui kebijakan-kebijakan dalam program/kegiatan antara lain klaster
pemberdayaan masyarakat, yang dapat meningkatkan kemampuan dan pendapatan
masyarakat miskin dengan karakteristik pendekatan partisipatif berdasarkan kebutuhan
masyarakat, penguatan kapasitas kelembagaan masyarakat, dan pelaksanaan kegiatan
oleh masyarakat secara swakelola dan berkelompok, yang bertujuan untuk
mengembangkan potensi dan memperkuat kapasitas kelompok masyarakat miskin untuk
terlibat dalam pembangunan yang didasarkan pada prinsip-prinsip pemberdayaan
masyarakat.
Selain itu, terdapat juga Program Berbasis Pemberdayaan Masyarakat yang
ditujukan bagi Rumah Tangga Hampir Miskin (RTHM) agar masyarakat kelompok
sasaran dapat keluar dari status kemiskinan dengan menggunakan Potensi dan SDM
yang dimiliki. Program Berbasis Pemberdayaan Masyarakat tersebut antara lain Program
Peningkatan Pemberdayaan Masyarakat (PPKM), Program Penguatan Unit Penguatan
Keuangan (UPK), serta Program Sektoral lainnya, dengan hasil
pemberdayaan
(empowerment) komunitas masyarakat pada 24 Desa/Kelurahan. Kemudian,
terbentuknya Kelompok Masyarakat (Pokmas), Unit Pengelola Keuangan dan usaha
(UPKu), dan Unit Pengelola Kegiatan Pokmas (UPKP).
Tabel 3.135
Evaluasi Pencapaian Sasaran 11.1.1
Meningkatnya jumlah masyarakat yang terlibat dalam aktivitas produksi melalui UKM
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Jumlah UKM yang mengakses


sistem informasi dan sumber daya
produktif.
Jumlah mitra kerja yang
memberikan bantuan modal dan
pembinaan kewirausahaan kepada
kelompok usaha ekonomi produktif.
(MDGs)
Jumlah mitra kerja yang menjadi
pendamping kelompok usaha
ekonomi produktif. (MDGs)

Tahun 2013

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

Unit

45

40

88.89

45

50

111.11

Unit

100.00

100.00

Unit

100.00

100.00

Satuan

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

Terkait dengan kebijakan Pemkot Batu dalam mendukung peningkatan sektor UMKM,
terdapat beberapa kebijakan yang diterapkan saat ini, yakni: Melakukan pembinaan
terhadap UKM yang telah ada dalam masyarakat, Memfasilitasi UKM dalam hal sarana,
permodalan, dan pemasaran; Menyelenggarakan pelatihan terhadap para pelaku UKM

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

152

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

terkait dengan berbagai pengetahuan pengembangan usaha, Memfasilitasi UKM dengan


penerapan teknologi tepat guna, emfasilitasi berbagai upaya kerjasama dan kemitraan
usaha, Memfasilitasi upaya perlindungan hukum terhadap hasil produksi UKM, serta
Memberikan pelatihan kerja dengan materi keahlian dan ketrampilan yang dibutuhkan
oleh sektor UKM.
Tabel 3.136
CAPAIAN INDIKATOR KINERJA UTAMA UMKM

Capaian Kinerja
Bidang Urusan
Pemerintahan dan
Program Prioritas
Pembangunan

Indikator Kinerja Program (


Outcome)

Kondisi Kinerja
Awal RPJMD (
Tahun 0 )
Target

Realisasi

0%

100%

2013

Keterangan

16

URUSAN WAJIB
KOPERASI DAN UKM
Program
Pembangunan
Bangunan/Rumah

Persentase penyelesaian

100%

Negara/Daerah

pembangunan Gedung Pusat


Layanan Usaha Terpadu
(PLUT)

Program

Jumlah Koperasi yang

Peningkatan

Aktif

122 Koperasi

Jumlah lembaga koperasi


yang

122 Koperasi

PLUT

Kualitas Kelembagaan
Koperasi

Mirah Rejeki

mendapat pembinaan

Megah Artha
Sarana Mandiri
Dana Sejati

Program
Pengembangan

Jumlah peningkatan

Kewirausahaan

usaha skala mikro ke kecil

2,066

25

94

usaha kecil

dan Keunggulan
kompetitif UKM
Persentase jumlah UKM
yang

24%

3%

6%

mendapat fasilitas dan

Rovit, Arum Sari


Alam Segar,
Marem

pendampingan

Bumbu Instan
Harum sari,

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

153

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Minuman Olahan
Sunardi, Stick
Bawang Obor
Echofood,
Blueberry
Program
Pengembangan

Jumlah UKM yang


mengakses

Sistem Pendukung
Usaha bagi Usaha
Mikro

sistem informasi

Bagus Agriseta

pasar dan Sumber Daya

Ramayana

Kecil Menengah

produktif

Avida

40 UKM

Jamu Bu Poer

Tiga Permata
Poetry Handycraft
Program Penciptaan
Iklim
Usaha Usaha Kecil
Menengah yang
kondusif

Peningkatan jumlah UMKM

2,335

Formal

Usaha Formal

PERINDUSTRIAN
Program
Pengembangan

Peningkatan jumlah

10 Industri

Industri Kecil dan

Industri Kecil menjadi

Menengah

Menengah

Menengah

Program Peningkatan

Peningkatan Penguasaan

Kemampuan Teknologi

Teknologi Industri

10 KUB

150

129

Bagus Agriseta,
Ramayana

2 KUB

3 KUB

Senang Hati
Sebama

Industri

Mutiara Alam

15 IKM

6 IKM

10 IKM

Flamboyan,
Rimbaku

Program Peningkatan

Jumlah peningkatan

Kapasitas Iptek Sistem

Kemampuan SDM Industri

Ramayana, Bagus

Produksi

dan Kewirausahaan

Agriseta, Selekta
Fruit, Tiga
Permata,
Jawara, Permata
Agro Mandiri
Batu Blue, Mitra
Arjuna

PERDAGANGAN
Program Peningkatan

Persentase penyelesaian

0%

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

Pasar Desa

BAB - III
Halaman

154

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Effisiensi Perdagangan

pembangunan pasar desa

Dalam Negeri

agropolitan

Program Peningkatan

Jumlah pelaku usaha yg

dan Pengembangan

melakukan ekspor

Ekspor

Peningkatan volume ekspor

Mojorejo

7 Pelaku Usaha

2 Kelompok

17

Nilai ekspor
Program Pembinaan

Jumlah kelompok pedagang

pedagang kakilima dan

kakilima dan asongan yang

Bantuan Hibah
Permodalan
kepada

asongan

mendapat pembinaan

17 Kelompok PKL

Tabel 3.137
Evaluasi Pencapaian Sasaran 11.1.2
Meningkatnya kemampuan UKM dalam mengembangkan usahanya
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Jumlah peningkatan usaha skala


mikro ke kecil.

Persentase jumlah UKM yang


mendapat fasilitas dan
pendampingan.

Jumlah inkubator bisnis KUMKM


yang mempunyai keunggulan dan
daya saing di tingkat regional dan
nasional.

Tahun 2013

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

Unit

2058

2066

100.39

2075

2089

100.67

Persen

24

24

100.00

27

27

100.00

Unit

100.00

100.00

Satuan

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

Tabel 3.138
Evaluasi Pencapaian Sasaran 11.1.3
Meningkatnya kualitas upaya dalam memberdayakan perempuan melalui jalur koperasi dan UKM
Tahun 2012

Tahun 2013

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

Orang

0.00

100

100

100.00

Persen

27

25

92.59

30

28

93.33

No.

Indikator Target RPJMD

Satuan

Persentase jumlah perempuan usia


produktif yang menerima program
pemberdayaan.

Persentase perempuan usia


produktif yang mampu terlibat dalam
bidang kerja baik secara mandiri
maupun tidak mandiri.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

BAB - III
Halaman

155

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.139
Evaluasi Pencapaian Sasaran 11.2.1
Meningkatnya kemampuan produktif (skill) masyarakat PMKS;
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Peningkatan persentase PMKS


skala kota yang menerima
program pemberdayaan sosial
melalui kelompok usaha bersama
(KUBE) atau kelompok sosial
ekonomi sejenis lainnya. (SPM)

Satuan

Persen

Tahun 2013

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

5.8

82.86

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

100.00

Tabel 3.140
Evaluasi Pencapaian Sasaran 11.2.2
Meningkatnya kualitas dan kuantitas kesejahteraan bagi masyarakat PMKS
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Menurunnya jumlah PMKS

Satuan

Persen

Tahun 2013

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

83.33

6.3

105.00

Kemampuan
daya
beli
Tabel 3.141
Indeks PPP Kota Batu Tahun 2008-2013
penduduk Kota Batu mengalami
peningkatan secara stabil dari tahunTAHUN
INDEKS PPP
tahun sebelumnya. Dari Tabel 3.141
2008
63,79
Indeks PPP Kota Batu dari tahun 2008
sampai tahun 2013 meningkat secara
2009
64,65
gradual dari 63,79 pada tahun 2008
2010
64,88
menjadi 64,65 pada tahun 2009 dan
2011
65,80
kembali mengalami kenaikan menjadi
2012
66,46
64,88 pada tahun 2010. Peningkatan
tersebut terus berlanjut sehingga tahun
*)
2013
67,29
2011 menjadi 65,80, tahun 2012 naik
Sumber : Bappeda Kota Batu, 2014
*) Hasil Proyeksi dan merupakan Angka sementara
menjadi 66,46 dan tahun 2013 menjadi
67,29. Sedangkan target IDB pada
tahun berkenaan adalah 66,50 point.
Kenaikan indeks PPP menunjukkan bahwa daya beli masyarakat Kota Batu selama kurun
waktu tersebut terus mengalami peningkatan sesuai dengan peningkatan pendapatan
yang diterima. Indeks PPP tersebut mengkonfirmasikan peningkatan kesejahteraan
ekonomis masyarakat Kota Batu meningkat lebih baik secara gradual dan berkelanjutan.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

156

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

BOX 3.2
HASIL SURVEY KESEJAHTERAAN SOSIAL KEMISKINAN
KOTA BATU TAHUN 2013
c.

Menanggulangi Kemiskinan
Dapat dideskripsikan bahwa fenomena PMKS ibarat Gunung Es, yang nampak sedikit di permukaan namun realitasnya sangat banyak.
Penanganan PMKS yang merupakan bagian dari upaya peningkatan kesejahteraan rakyat yang telah menjadi prioritas dalam pembangunan nasional
periode 2010-2014. Sejalan dengan itu, pembangunan kesejahteraan sosial dilakukan dengan memberi perhatian yang lebih besar pada kelompok
masyarakat yang kurang beruntung, termasuk masyarakat miskin dan masyarakat yang rawan sosial ekonomi maupun masyarakat yang tinggal di wilayah
rawan bencana. Program bantuan sosial juga memperhatikan kelompok masyarakat penyandang disabilitas, anak dengan disabilitas, dan lansia terutama
yang berasal dari keluarga miskin, anak balita terlantar, anak terlantar, perempuan rawan sosial ekonomi serta masyarakat yang terpinggirkan, agar
mereka mendapatkan akses terhadap kebutuhan dan layanan dasar serta sumber daya produktif untuk meningkatkan kesejahteraan. Hasil survey tahun
2013 di Kota Batu menunjukkan bahwa:
Jumlah keluarga miskin yang ada di kota batu berdasarkan hasil pendataan yang dilakukan pada pendatan tahun 2013 sebanyak 5.514 jiwa
Penyandang masalah kesejahteraan sosial. Kondisi ini mengakibatkan ketidak setabilan kehidupan perekonomian masyarakat, sehingga
diperlukan lebih banyak anggaran untuk percepatan program pengentasan kemiskinan dengan berbagai kegiatan yang langsung menyentuh
masyarakat.
Untuk Anak Terlantar berdasarkan pendataan tahun 2013 se-Kota Batu berjumlah 67 anak, jumlah yang ditangani sebanyak 40 anak maka yang
tertangani sebesar 59.70%.
Jumlah Penyandang cacat berdasarkan hasil pendataan tahun 2013 sebanyak 548 orang, untuk penanganan di tahun ini sebanyak 45
penyandang atau 8.22% jadi diperlukan penanganan lebih lanjut di tahun-tahun berikutnya.
Lanjut Usia Terlantar se-Kota Batu yang perlu mendapatkan bantuan sebanyak 168 orang, sedangkan jumlah yang ditangani di tahun ini
sebanyak 21 orang atau 12.5%, hal ini juga memerlukan penanganan lebih lanjut.
Sedangkan untuk penanganan gelandangan dan pengemis berupa pemulangan atau pengembalian ke daerah asal, mengingat mereka pendatang
dan bukan warga asli Kota Batu yang mana hal ini dibuktikan dengan tidak adanya jumlah gelandangan dan pengemis ditahun 2013 melalui
pendataan langsung dilapangan. Hal ini dilakukan mengingat icon Kota Batu sebagai Kota Wisata sehingga keberadaan mereka sangat
mengganggu baik keindahan, ketertiban kota maupun kenyamanan bagi wisatawan. Untuk tahun 2013 dianggarkan pemulangan untuk 120
orang dan terealisasi sebanyak 100 orang atau 83.33%.
Keluarga miskin berdasarkan pendataan tahun 2013 berjumlah 3.688 jiwa di Kota Batu, yang ditangani masih 15 orang yang tergabung dalam
kelompok usaha bersama atau sekitar 0.41% jadi masih diperlukan penanganan lebih pada tahun-tahun berikutnya untuk mengentaskan
kemiskinan.
Khususnya Wanita Rawan Sosial Ekonomi di Kota Batu berdasasarkan hasil pendataan berjumlah 248 orang, sedangkan yang ditangani sekitar 15
orang melalui kelompok usaha bersama yakni sekitar 6.05% dan memerlukan penanganan lebih lanjut di tahun berikutnya.
Panti Asuhan di Kota Batu sampai dengan 2013 berjumlah 11 panti asuhan, 1 Panti Rehabilitasi dan sudah mencapai yang diharapkan yakni
100%.
Pelatihan bagi pelaku usaha yang bergabung dalam keluarga kurang mampu di Kota Batu berdasarkan pendataan tahun 2013 sudah ditangani
sebanyak 15 orang atau sekitar 0.41%.
TAGANA di Kota Batu sampai dengan tahun 2013 berjumlah 50 orang dan untuk penanganan terhadap korban bencana alam masih berkisar
88%.
LK3 di Kota Batu merupakan organisasi sosial yang melakukan penyelenggaraan kesejahteraan sosial yang dibentuk oleh masyarakat dan untuk
masyarakat, sudah mencapai target yang diharapkan yakni 100%.
Monitoring, Evaluasi dan pelaporan dititikberatkan pada Program Keluarga Harapan dan sudah ditangani sekitar 564 dari jumlah 726 yakni
77.68%.
Kemiskinan merupakan masalah yang komplek dimana didalamnya dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, antara lain :
Pendapatan yang rendah, rendahnya akses atau kegagalan memenuhi kebutuhan dasar. Terkait masih adanya daerah-daerah kemiskinan yang perlu
mendapat sentuhan langsung dan warga masyarakat yang berada diwilayah ini rata-rata berpenghasilan rendah dengan mata pencaharian/pekerjaan
sebagian besar adalah disektor pertanian, dan pekerja di sektor informal seperti pedagang kaki lima, pedagang sayur, pedagang bunga, pedagang
makanan kecil, tukang bangunan, pengrajin dan lain-lain.
Secara umum di desa pada daerah-daerah miskin mempunyai jalan setapak dengan sistem drainase yang kurang memenuhi syarat dan jalan
menuju persawahan masih berupa tanah atau belum di makadam, sehingga pada saat musim hujan petani yang akan mengangkut hasil pertanian
mengalami kesulitan, karena mobil tidak bisa masuk ke areal persawahan dan harus mengeluarkan biaya yang lebih besar untuk mengangkut hasil panen
dengan tenaga manusia dan tinginya biaya operasional harga pupuk dan obat-obatan pertanian yang membumbung tinggi tanpa diimbangi harga hasil
pertanian, dimana dengan melambungnya harga kebutuhan pokok semakin besar pula pengeluaran yang harus dikeluarkan oleh masyarakat, sedangkan
penghasilan sangat minim.
Program-program Peningkatan Kesejahteraan Sosial bertujuan untuk menumbuhkan kemandirian masyarakat melalui pengurangan beban
dan peningkatan kualitas hidup masyarakat kecil serta pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat desa, pengembangan usaha, perluasan lapangan kerja
dan peningkatan pendapatan masyarakat serta pemberdayaan masyarakat berbasis pada modal sosial dan, penanggulangan masalah sosial, serta budaya
lokal. Standart Pelayanan Minimal Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kota Batu melaporkan:
1)
Menurunnya Pertumbuhan PMKS 5.514 jiwa yang ditinjau dari pertumbuhan PMKS dibandingkan dengan pertumbuhan PMKS tahun sebelumnya
sebesar 13.712 atau0. 40.21 %
2)
Tertanganinya PMKS yang diukur dari jumlah PMKS yang tertangani 4.928 jiwa dibandingkan dengan PMKS yang ada 5.514 jiwa atau 89.37%
3)
Tersedianya sarana sosial (panti asuhan, jompo dan rehabilitasi) yang diukur dari jumlah panti yang menerima bantuan 12 panti dibandingkan
dengan jumlah panti yang ada di Kota Batu yaitu 12 panti atau 100 %
4)
Rasio PMKS tertangani sebanyak 4982 dengan jumlah PMKS yang ada 5514 atau 89.37%

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

157

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.142
Evaluasi Pencapaian Sasaran 11.2.3
Meningkatnya keberdayaan masyarakat PMKS minimal dalam memenuhi 3 kebutuhan pokok
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Meningkatnya jumlah PMKS


produktif

Satuan

Persen

Tahun 2013

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

71.43

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

6.3

105.00

Pada tahun 2007 BPS Propinsi Jawa Timur mencatat bahwa jumlah penduduk
miskin di Kota Batu adalah 17.300 orang atau sebesar 9,71% dengan garis kemiskinan
sebesar Rp. 207.166,00 lebih tinggi dari Kota Malang yang pada periode yang sama
mencapai Rp. 201.031,00. Garis kemiskinan Kota Batu menduduki peringkat ke 4
(empat) di seluruh Jawa Timur
Gambar 3.9
setelah Kabupaten Gresik, Kota
Persentase Pendunduk Miskin
Di Kota Batu Tahun 2008-2013
Probolinggo, dan Kota Surabaya.
Berdasarkan data tersebut tingkat
14,00
kemiskinan penduduk Kota Batu
13,00
menduduki peringkat ke 4 (empat)
12,00
11,39
terkecil di seluruh wilayah propinsi
11,00
10,55
Jawa timur setelah Kota Madiun
10,00
9,83
9,00
(7,07%), Kota Malang (7,19%), dan
8,52
8,00
Kota Surabaya (7,98%). Di bawah
7,00
peringkat Kota Batu terdapat Kota
6,00
Mojokerto (10,46%), Kota Blitar
5,10
5,00
(12,02%), dan Kabupaten Malang
4,42
4,00
(15,66%).
2008

2009

2010

2011

Tingkat Kemiskinan

2012

2013

Pada
tahun
2009,
berdasarkan data dari BPS Kota
Batu besarnya penduduk miskin di Kota Batu adalah 5.817 KK di antara seluruh jumlah
55.136 KK. Angka tersebut merupakan angka murni yang dijadikan dasar untuk
penyaluran Raskin Kota Batu tahun yang sama. Berdasarkan data itu, maka tingkat
kemiskinan di Kota Batu pada tahun 2009 mencapai 10,55%. Gambar 3.xx menunjukkan
bahwa tingkat kemiskinan di Kota Batu tahun 2008 cukup tinggi yakni 12,59% dan di atas
garis batas nasional sebesar 11,00%. Hal ini disebabkan karena terjadinya serangkaian
kenaikan harga bahan pokok terutama BBM yang dipicu dengan merebaknya dampak
krisis keuangan global. Selain itu garis kemiskinan Kota Batu (sebagai Pusat Pariwisata
di kawasan) merupakan urutan ke 4 tertinggi di Jawa Timur seperti dikemukakan di atas.
Akan tetapi pada tahun 2009 jumlah penduduk miskin di Kota Batu telah jauh mengalami
penurunan sampai di bawah garis batas nasional.

Sumber: BPS Jawa Timur, 2010 dan Hasil Analisis

Pada tahun 2010 jumlah keluarga miskin yang meliputi mendekati miskin, miskin,
dan sangat miskin diprekirakan mencapai 5.635 Kepala Keluarga atau 9,83%. Hal ini

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

158

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

berarti mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun 2011 jumlah
tersebut menurun menjadi 5.506 dengan jumlah penduduk miskin sekitar 20.010 jiwa.
Jumlah ini mengalami penurunan rata-rata 5,97% per tahun. Dengan demikian angka
kemiskinan di Kota Batu tahun 2011 tercatat sebesar 8,52%. Secara kumulatif jumlah
keluarga miskin di Kota Batu mengalami penurunan berkelanjutan dengan tingkat
penurunan rata-rata -6,35% per tahun sejak tahun 2005. Apabila dihitung jumlah keluarga
miskin berdasarkan garis kemiskinan BPS, maka tingkat kemiskinan di Kota Batu,
berdasarkan data yang direlease oleh Bappeprov Jatim, tahun 2010 bahkan mencapai
4,81% dan merupakan angka TERENDAH di antara semua pemerintah Kabupaten dan
Kota di seluruh provinsi Jawa Timur.
Pada tahun 2011, tingkat kemiskinan di Kota Batu berada cukup jauh di bawah
garis batas nasional yakni mencapai 8,52%. Angka ini menurun lagi secara signifikan
tahun berikutnya yakni 2012 yang merupakan akhir periode tahun RPJMD menjadi
5,10%. Tahun 2013 berdasarkan perhitungan sementara angka kemiskinan diharapkan
mencapai 4,42%. Angka proyeksi ini masih lebih tinggi dibandingkan hasil perhitungan
Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang mencatat angka kemiskinan di Kota Batu berada
dibawah 4,0% dan masih merupakan yang terendah di seluruh wilayah Provinsi Jawa
Timur. Dengan demikian jumlah penduduk Kota Batu yang berada di atas garis
kemiskinan pada tahun 2013 mencapai 95,58%. Capaian ini berarti melampaui target
jumlah penduduk di ATAS garis kemiskinan sebesar 95% pada periode yang sama.
Program pengentasan kemiskinan tetap relevan sepanjang waktu. Pemerintah Kota Batu
menekankan upaya program pengentasan kemiskinan dengan berbagai langkah yang
kreatif, guna memperkecil kemiskinan dan kesenjangan sosial termasuk upaya membuka
lapangan pekerjaan yang memadai bagi masyarakat. Oleh karena itu, koordinasi upaya
pengentasan kemiskinan ini akan terus dilakukan secara berkala. Di antara program yang
rutin dilaksanakan terkait dengan hal ini adalah program Raskin. Pemerintah Kota
menyalurkan Program Raskin. Program Raskin ini untuk kecamatan Batu ditujukan untuk
2213 KK, Kecamatan Junrejo 1944 KK, sedang Kecamata Bumiaji 1660 KK. Total
penerima Raskin di Kota Batu mencapai 5817 KK. Selain itu pemerintah Kota di tahun
2013 terus melakukan Program Bedah Rumah, dan melanjutkan program Jaminan
Layanan Kesehatan bagi masyarakat miskin.
Tabel 3.143
Evaluasi Pencapaian Sasaran 11.3.1
Terwujudnya KUMKM yang kuat dan mandiri, serta mampu mengembangkan kerjasama, potensi, dan
kemampuan anggotanya dalam rangka meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosial
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Satuan

Jumlah lembaga koperasi aktif.

Kopera
si

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

122

122

100.00

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

Tahun 2013
Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

125

125

100.00

BAB - III
Halaman

159

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.144
Evaluasi Pencapaian Sasaran 11.3.2
Meningkatnya kualitas dan kehandalan KUMKM yang berhasil guna dan berdaya guna;
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Jumlah lembaga koperasi yang


mendapat pembinaan.

Satuan

Tahun 2013

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

122

122

100.00

Unit

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

126

126

100.00

Tabel 3.145
Evaluasi Pencapaian Sasaran 11.3.3
Terwujudnya inkubator bisnis KUMKM yang mempunyai keunggulan dan daya saing di tingkat regional dan
nasional;
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Jumlah inkubator bisnis KUMKM


yang mempunyai keunggulan dan
daya saing di tingkat regional dan
nasional.

Tahun 2013

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

Inkubator

100.00

100.00

UMKM
formal

2350

2335

99.36

2485

2480

99.80

Satuan

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

Tabel 3.146
Evaluasi Pencapaian Sasaran 11.4.1
Meningkatnya konsolidasi dan jejaring semua sektor industri di Kota Batu untuk mendukung agrobisnis
pertanian organik dan pariwisata;
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Satuan

Tahun 2013

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

Jumlah KUB industri hulu hilir.

KUB

0.00

0.00

Jumlah peningkatan industri kecil


menjadi industri menengah.

Unit

0.00

100.00

Tabel 3.147
Evaluasi Pencapaian Sasaran 11.4.2
Meningkatnya kemampuan dan daya saing industri kecil
Tahun 2012
No.

Indikator Target RPJMD

Jumlah KUB yang mendapat


pembinaan iptek sistem produksi.

Satuan

KUB

Tahun 2013

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

17

15

88.24

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

Targ
et

Reali
sasi

Capaian
Kinerja
(%)

21

22

104.76

BAB - III
Halaman

160

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

8. Pelaksanaan berbagai program/kegiatan Kantor Perpustakaan dan Kearsipan Kota Batu


Kondisi
Indikator Sasaran
Penjelasan
Satuan
Tahun
Target 2013 Realisasi
Capaian Kinerja
Sebelumnya
1
2
3
4
5
6
7
Jumlah SKPD yang
Pengelolaan Arsip
SKPD yang sudah
sudah menerapkan arsip
18 SKPD dari
untuk
menerapkan aturan arsip
secara baku
%
16 SKPD
18 SKPD
41 SKPD
SKPD/Desa/Kelurahan
secara baku
dibandingkan dengan
Se-Kota Batu
jumlah SKPD x 100%
Jumlah perpustakaan
Cukup jelas
Unit
1
1
1
umum pemerintah daerah
Jumlah anggota baru
Cukup jelas
Orang
808
1153
Jumlah pengunjung
Cukup jelas
Orang
8,232
13,088
perpustakaan
Tersusunnya Jadwal Retensi Arsip (JRA)

Jumlah Arsip yang


Diakuisisi
Jumlah koleksi
perpustakaan umum
Jumlah taman bacaan masyarakat (TBM)

JRA Keuangan

Box Arsip

525

3,514

Buku

20,867

22,415

TBM

33

35

Jumlah pengunjung taman-taman bacaan masyarakat

3.4. Akuntabilitas Keuangan


Secara garis besar kinerja APBD Kota Batu tahun 2013 disajikan pada Tabel 3.148.
Tabel 3.148
Perkembangan Indikator Keuangan Kota Batu
Tahun 2009-2013
Uraian

2009

2010

2013

2012

2013

PDRB ADHB (Jutaan)

2,851,690

3,255,765

3,697,779

4,185,988

4,994,811

PDRB ADHK (Jutaan)

1,331,993

1,432,194

1,547,387

1,674,983

1,805,070

PDRB/KAPITA ADHB (Ribuan)

15,244

17,128

19,145

21,329

25,047

PDRB/KAPITA ADHK (Ribuan)

7,120

7,534

8,011

8,535

9,052

368,477.57

418,326.20

446,028.33

495,994,99

586,230.54

12.92

12.87

12.55

11.85

11.74

17,386.74

17,735.60

30,257.31

38,794.06

62,790.37

4.72

4.24

6.78

7.82

10.71

APBD (Jutaan)
Rasio APBD/PDRB
PAD (Jutaan)
Rasio PAD/APBD

Sumber: Berbagai sumber, 2014 Data diolah

Tabel di atas mengungkapkan bahwa PDRB Kota Batu baik ADHB maupun
ADHK mengalami peningkatan yang berkelanjutan selama kurun waktu 2009-2013.
Peningkatan tersebut disertai dengan kenaikan pendapatan per kapita ADHK masyarakat

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

161

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

dalam periode yang sama yakni Rp.7.120 ribu pada tahun 2009 menjadi. 9.052 ribu pada
tahun 2013. Pendapatan per kapita ADHB meningkat dari Rp.15.244 ribu pada tahun
2009 menjadi Rp.25.047 ribu pada tahun 2013.
Nilai APBD Kota Batu selama periode tersebut juga mengalami peningkatan dari
Rp.368,477.57 juta tahun 2009 menjadi Rp.586,230.54 juta tahun 2013. Di sisi lain,
kualitas daya ungkit (leverage) APBD yang mengindikasikan peran APBD terhadap
pembentukan PDRB masih berada pada kisaran 12% namun terus mengalami perbaikan
(penurunan) dalam waktu 5 (lima) tahun terakhir dari 12,92 tahun 2009 menjadi 11,74
tahun 2013, artinya untuk meningkatkan PDRB, peran APBD semakin menurun/kecil dan
peran tersebut secara bertahap beralih dilakukan oleh masyarakat. Di sisi lain rasio PAD
terhadap APBD secara kuantitas juga mengalami peningkatan dari 4,72 pada tahun 2009
menjadi 10,71 tahun 2013. Proporsi PAD yang meningkat mengindikasikan bahwa tingkat
ketergantungan pembiayaan (financial dependency) pembangunan dari dana luar (pusat
dan provinsi) semakin kecil. Pada tahun 2013 target PAD setelah PAK Kota Batu sebesar
Rp.50,793,502,612.24 telah dapat dilampaui sebesar 123,62% dengan perolehan
sebesar Rp.62,790,371,552.42. Hal ini tidak terlepas dari kebijakan Pemerintah Kota
Batu untuk selalu memperbaiki iklim investasi serta berupaya terus manarik investasi dan
melakukan reformasi birokrasi, review terhadap Perda terkait, serta perbaikan kualitas
pelayanan kepada masyarakat khususnya dunia usaha. Kebijakan ini tetap dipertahankan
dan akan terus dilakukan perbaikan selama kurun waktu 2012-2017.

1. Target dan Realisasi Pendapatan Daerah


Pada struktur APBD Kota Batu tahun 2013 atau ringkasan perubahan APBD
tahun anggaran 2013, pendapatan Kota Batu terdiri dari Pendapatan Asli Daerah (PAD),
Dana Perimbangan, dan Lain-lain Pendapatan yang Sah. Adapun target pendapatan
daerah Kota Batu tahun 2013 secara keseluruhan sebesar Rp.572,379,514,879.24 dan
terealisasi sebesar Rp.586,230,538,272.42 atau 102,42%. Rincian target dan realisasi
pendapatan daerah adalah sebagaimana Tabel 3.149 berikut:

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

162

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.149
Target dan Realisasi Pendapatan Daerah
Tahun Anggaran 2013
Uraian Rekening

Anggaran

Realisasi

(%)

PENDAPATAN
PENDAPATAN ASLI DAERAH

572,379,514,879.24
50,793,502,612.24

586,230,538,272.42
62,790,371,552.42

102.42
123.62

Hasil Pajak Daerah

38,524,982,337.00

44,852,175,811.00

116.42

Hasil Retribusi Daerah


Hasil Pengelolaan Kekayaan
Daerah Yang Dipisahkan
Lain-lain Pendapatan Asli
Daerah Yang Sah

4,977,283,000.00

4,692,826,590.00

94.28

2,027,452,696.34

2,027,452,696.34

100.00

5,263,784,578.90

11,217,916,455.08

213.12

443,947,795,289.00

446,587,901,437.00

100.59

44,209,304,289.00

48,793,825,437.00

110.37

31,207,336,500.00

33,545,431,264.00

107.49

PENDAPATAN TRANSFER
Bagi Hasil Pajak/Bagi Hasil
Bukan Pajak
Bagi Hasil Pajak
Bagi Hasil Bukan
Pajak/Sumber Daya Alam
Dana Alokasi Umum
Dana Alokasi Khusus
LAIN-LAIN PENDAPATAN
DAERAH YANG SAH
Dana Bagi Hasil Pajak Dari
Provinsi dan Pemerintah
Daerah Lainnya
Dana Penyesuaian dan
Otonomi Khusus
Bantuan Keuangan Dari
Provinsi atau Pemerintah
Daerah Lainnya

13,001,967,789.00

15,248,394,173.00

117.28

374,362,261,000.00
25,376,230,000.00

374,362,261,000.00
23,431,815,000.00

100.00
92.34

77,638,216,978.00

76,852,265,283.00

98.99

30,459,613,034.00

31,684,133,283.00

104.02

42,376,558,944.00

40,011,513,000.00

94.42

4,802,045,000.00

5,156,619,000.00

107.38

Sumber: BPKAD Kota Batu, 2014

Meskipun target telah dapat dicapai namun Pemerintah Kota Batu tetap
memandang perlunya dilakukan optimasi dan serangkaian upaya meningkatan
Pendapatan terurama Pendapatan Asli Daerah terutama dari sektor pajak dan retribusi
daerah. Selama ini perolehan PAD selalu didominasi oleh Pajak Penerangan Jalan
Umum (PPJU) yang merupakan komponen pendapatan pajak pasif, namun pada tahun
2013 porsi PPJU telah dapat disamai oleh kinerja sektor pajak daerah lainnya. Pada
tahun 2013 dominasi PJU (11,57%) telah dapat diampaui oleh komponen Pajak Bumi dan
Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (12,16%) Pajak Perolehan Hak atas Tanah dan
Bangunan (20,44%). Hal ini menunjukkan peningkatan kinerja komponen aktif di sektor
pendapatan pajak. Pemerintah Kota Batu telah menyiapkan dan telah melakukan
berbagai sosialisasi pranata dan regulasi untuk lebih mengefektifkan upaya-upaya
perolehan pajak dan retribusi daerah.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

163

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

2. Target dan Realisasi Belanja


Sesuai dengan Peraturan Menteri dalam Negeri RI Nomor 13 Tahun 2006
tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, Klasifikasi Belanja menurut jenis
belanja, terdiri dari:
a. Belanja Tidak Langsung, meliputi: belanja pegawai, Belanja Hibah, Belanja Bantuan
Sosial, Belanja Bagi Hasil Kepada Pemerintah Desa, Belanja Bantuan Keuangan,
Belanja Tidak Terduga.
b. Belanja Langsung, meliputi: belanja pegawai, belanja barang dan jasa, dan belanja
modal untuk program dan kegiatan yang ada pada setiap Satuan Kerja Perangkat
Daerah (SKPD).
Pada Perda perubahan APBD 2013 belanja dianggarkan sebesar Rp.670,557,782,777.31
dengan realisasi Rp. 571,033,131,778.17 atau dengan rasio secara keseluruhan 85,16%.
Pada tahun sebelumnya yakni 2012 belanja daerah dianggarkan sebesar
Rp.520.022.917.764,00 dengan realisi belanja adalah sebesar Rp.435.188.559.660,72
sehingga belanja tahun 2013 meningkat 31,22% senilai Rp.135,844,572,117.45. Belanja
daerah terdiri dari belanja langsung dan belanja tidak langsung dengan rincian sebagai
berikut:

Tabel 3.150
Anggaran dan Realisasi Belanja Daerah
Tahun Anggaran 2013
Uraian Rekening

Anggaran

Realisasi

(%)

BELANJA

670,557,782,777.31

571,033,131,778.17

85.16

BELANJA TIDAK
LANGSUNG

324,362,810,330.42

292,496,474,184.17

90.18

Belanja Pegawai

258,002,115,330.42

239,024,105,379.17

92.64

Belanja Hibah

31,290,295,000.00

28,258,330,000.00

90.31

Belanja Bantuan Sosial

16,392,500,000.00

8,017,903,305.00

48.91

Belanja Bantuan Keuangan


kepada
Provinsi/Kabupaten/Kota,
Pemerintahan Desa dan
Partai Politik

17,591,400,000.00

17,064,635,500.00

97.01

Belanja Tidak Terduga

1,086,500,000.00

131,500,000.00

12.10

BELANJA LANGSUNG

346,194,972,446.89

278,536,657,594.00

80.46

Belanja Pegawai

27,085,827,795.00

22,843,482,250.00

84.34

Belanja Barang dan Jasa

121,471,265,011.89

98,700,625,621.00

81.25

Belanja Modal

197,637,879,640.00

156,992,549,723.00

79.43

Sumber: BPKAD Kota Batu, 2014

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

164

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Komposisi belanja Pemerintah Kota Batu pada tahun 2013 terdistribusi 51,22%
merupakan Belanja Tidak Langsung dan 48,47% adalah Belanja Langsung. Secara
keseluruhan porsi terbesar belanja daerah teralokasikan pada Belanja Pegawai (BTL)
sebesar Rp.239,024,105,379.17 dengan rasio 41,86% dari total realisasi belanja tahun
2013 sedangkan Belanja Modal meliputi 27,49% senilai Rp.156,992,549,723.00, serta
belanja barang dan jasa senilai Rp.98,700,625,621.00 dengan rasio 17,28% dari total
belanja daerah secara keseluruhan.
3. Pengelolaan Pembiayaan Daerah
Sebagaimana kebijakan Umum Pembiayaan Daerah Tahun Anggaran 2013
yang diarahkan untuk meningkatkan manajemen pembiayaan daerah dan mengarah
pada akurasi, efisiensi, efektivitas dan profibilitas, kebijakan pembiayaan daerah tetap
difokuskan pada :
1. Dalam hal APBD diperkirakan surplus, akan dipergunakan untuk melakukan
pembentukan dana cadangan guna mendanai kegiatan yang penyediaan dananya
tidak dapat sekaligus dibebankan dalam satu tahun anggaran dan untuk kegiatan
investasi, baik investasi yang bersifat permanen berupa penyertaan modal kepada
BUMD maupun investasi non permanen dalam rangka pelayanan/pemberdayaan
masyarakat melalui pemberian bantuan modal kerja, pembentukan dana bergulir
kepada kelompok masyarakat dan pemberian fasilitas pendanaan kepada usaha
ekonomi mikro dan menengah;
Tabel 3.151
Pengelolaan Pembiayaan Daerah Tahun 2013
Uraian Rekening
Surplus/(Defisit)
PEMBIAYAAN
Penerimaan Pembiayaan
Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun
Anggaran Sebelumnya
Sisa Penghematan Belanja atau Akibat
Lainnya
Sisa Anggaran akibat lain-lain
Pengeluaran Pembiayaan Daerah
Penyertaan Modal/Investasi Pemerintah
Daerah
Badan Usaha Milik Swasta
Penyertaan Modal kepada Kelompok
Usaha (Koperindag)
Pembayaran Pokok Utang
Pembayaran Pokok Utang yang Jatuh
Tempo Kepada Lembaga Keuangan
Bank
Bank Jatim
Pembayaran Pokok Utang yang Jatuh
Tempo kepada Fihak Ketiga
Pembayaran Pokok Utang yang Jatuh
Tempo kepada Fihak Ketiga
Pemberian Pinjaman Daerah
Pemberian Dana Bergulir UMKM
Pemberian Dana Bergulir UMKM
Pembiayaan Netto
Sisa Lebih Perhitungan Anggaran
(SiLPA)

Anggaran
(98,178,267,898.07)

Realisasi
16,706,268,248.79

(%)

99,155,725,898.07

99,155,725,898.07

100.00

99,155,725,898.07

99,155,725,898.07

100.00

0.00

0.00

0.00

0.00
977,458,000.00

0.00
977,445,041.00

0.00
100.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

117.02

0.00

0.00

0.00

977,458,000.00

977,445,041.00

100.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

977,458,000.00

977,445,041.00

100.00

977,458,000.00

977,445,041.00

100.00

0.00
0.00
0.00
98,178,267,898.07

0.00
0.00
0.00
98,178,280,857.07

0.00
0.00
0.00
100.00

0.00

114,884,549,105.86

Sumber: BPKAD Kota Batu, 2014

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

165

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

2.

Dalam hal APBD diperkirakan defisit, perlu ditetapkan pembiayaan untuk menutup
defisit tersebut, diantaranya dengan memanfaatkan Sisa Lebih Perhitungan
Anggaran (SILPA) Tahun Anggaran 2012;

Untuk mendukung terciptanya stabilitas Keuangan Daerah maka diupayakan


agar selisih antara penerimaan pembiayaan dengan pengeluaran pembiayaan yang
selanjutnya disebut pembiayaan netto, nilainya harus dapat menutup terjadinya defisit
anggaran. Sehingga tidak menimbulkan hutang dan kesulitan likuiditas keuangan daerah.
Tabel berikut menyajikan Pengelolaan Pembiayaan Daerah Kota Batu selama
periode tahun 2013:
Bagian Pembiayaan Daerah seperti tercantum dalam Perubahan Anggaran
Tahun 2013 meliputi jenis belanja sebagai berikut :
1. Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Sebelumnya (SiLPA) yakni tahun 2013
sebesar Rp.114,884,549,105.86.
2. Belanja Penyertaan Modal (Investasi) Pemerintah Daerah pada tahun 2013
dianggarkan Rp.0,00 dan terealisasi Rp.0,00.
3. Penerimaan Utang pada tahun 2013 dianggarkan sebesar Rp.0,00 dari BPD Jatim.
4. Pembayaran pokok utang pada tahun 2013 dianggarkan sebesar Rp.977,458,000.00
dan dapat direalisasikan 100,00% pada periode tersebut.
4. Pada tahun anggaran 2013, secara keseluruhan telah terjadi surplus anggaran
sebesar Rp.16,706,268,248.79. Nilai ini berarti melampaui prediksi anggaran tahun ini
yang semula dianggarkan defisit (Rp.98,178,267,898.07).

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

166

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

4. Neraca Daerah
Tabel 3.152
Pemerintah Kota Batu
NERACA
Per 31 Desember 2009 - 2013
URAIAN

2009

2010

2011

2012

2013

ASET
ASET LANCAR
Kas
Investasi Jangka Pendek
Piutang
Piutang Lain-lain
Piutang Dana Bagi Hasil
Persediaan
JUMLAH ASET LANCAR
INVESTASI JANGKA
PANJANG
Investasi Non Permanen
Investasi Permanen
JUMLAH INVESTASI JANGKA
PANJANG
ASET TETAP
Tanah
Peralatan dan Mesin
Gedung dan Bangunan
Jalan, Jaringan dan Instalasi
Aset Tetap Lainnya
Kontruksi dalam
Pengerjaannya
Akumulasi Penyusutan
JUMLAH ASET TETAP
DANA CADANGAN
Dana Cadangan
JUMLAH DANA CADANGAN
ASET LAINNYA
Tagihan Piutang Penjualan
Angsuran
Tagihan Tuntutan Ganti
Kerugian Daerah
Kemitraan dengan Pihak
Ketiga
Aset Tidak Berwujud
Aset Lain-lain
JUMLAH ASET LAIN-LAINNYA
JUMLAH ASET

26,423,274,554.63
0.00
763,971,478.00
3,926,546,669.07
0.00
825,092,847.00
31,938,885,548.70

31,632,370,048.05
0.00
3,086,209,634.00
4,222,122,452.99
0.00
2,109,605,900.62
41,050,308,035.66

40,880,387,115.19
0.00
25,343,763,316.00
3,793,941,787.33
0.00
2,549,320,694.32
72,567,412,912.84

99,166,564,398.07
24,548,456,692.00
833,845,282.00
3,813,632,245.33
4,019,285,043.00
1,972,324,305.43
134,354,107,965.83

115,011,408,477.86
0.00
41,639,343,741.00
19,655,924.00
0.00
772,648,984.30
157,443,057,127.16

343,764,000.00
9,170,566,403.74

4,236,750,000.00
11,170,566,403.74

4,236,750,000.00
12,094,566,403.74

5,351,788,000.00
16,820,463,731.74

5,351,788,000.00
16,820,463,731.74

9,514,330,403.74

15,407,316,403.74

16,331,316,403.74

22,172,251,731.74

22,172,251,731.74

123,884,361,301.00
78,195,691,051.00
126,554,691,349.00
90,710,300,371.63
24,491,450,619.00

182,937,322,664.00
140,111,242,622.20
181,858,928,941.00
136,741,566,514.90
23,498,113,531.25

198,302,925,784.00
151,762,803,732.20
238,575,003,666.00
177,124,190,073.90
25,471,828,093.25

199,705,802,982.00
163,118,843,425.08
213,985,886,708.56
210,020,358,318.08
28,832,103,775.25

221,340,763,534.00
194,937,720,033.08
248,065,412,622.56
273,928,143,924.08
33,051,662,125.25

0.00

7,665,735,000.00

3,189,702,750.00

43,055,416,260.84

0.00

0.00
443,836,494,691.63

0.00
672,812,909,273.35

0.00
794,426,454,099.35

0.00
858,718,411,469.81

0.00
971,323,702,238.97

0.00
0.00

0.00
0.00

0.00
0.00

0.00
0.00

0.00
0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00
14,624,854,274.90
14,624,854,274.90

0.00
16,054,437,274.00
16,054,437,274.00

372,302,929.00
16,054,437,274.00
16,426,740,203.00

1,578,847,212.00
18,244,754,726.21
19,823,601,938.21

1,578,847,212.00
18,244,754,726.21
19,823,601,938.21

499,914,564,918.97

745,324,970,986.75

899,751,923,618.93

1,035,068,373,105.59

1,170,762,613,036.08

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00
0.00

0.00
0.00

0.00
0.00

0.00
0.00

0.00
0.00

KEWAJIBAN
KEWAJIBAN JANGKA
PENDEK
Utang Perhitungan Fihak
Ketiga (PFK)
Utang Bunga
Utang Pajak
Bagian Lancar Utang Jangka
Panjang
Pendapatan diterima Dimuka
Utang Jangka Pendek
Lainnya
JUMLAH KEWAJIBAN
JANGKA PENDEK
KEWAJIBAN JANGKA

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

91,856,323.00

496,433,864.00

91,856,323.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

1,751,054,558.00

0.00

91,856,323.00

496,433,864.00

91,856,323.00

1,751,054,558.00

0.00

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

167

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

PANJANG
Utang Dalam Negeri
Utang Luar Negeri
JUMLAH KEWAJIBAN
JANGKA PANJANG
JUMLAH KEWAJIBAN
EKUITAS DANA
EKUITAS DANA LANCAR
Sisa Lebih Pembiayaan
Anggaran (SILPA)
Cadangan untuk Piutang
Cadangan untuk Persediaan
Dana yang harus disediakan
untuk pembayaran utang
jangka pendek
Pendapatan yang
ditangguhkan
JUMLAH EKUITAS DANA
LANCAR
EKUITAS DANA INVESTASI
Diinvestasikan Dalam
Investasi Jangka Panjang
Diinvestasikan Dalam Aset
Tetap
Diinvestasikan Dalam Aset
Lainnya (Tidak termasuk dana
cadangan)
Dana yang harus disediakan
untuk pembanyaran utang
jangka panjang
JUMLAH EKUITAS DANA
INVESTASI
EKUITAS DANA CADANGAN
Diinvestasikan Dalam Dana
Cadangan
JUMLAH EKUITAS DANA
CADANGAN
JUMLAH EKUITAS DANA
JUMLAH KEWAJIBAN DAN
EKUITAS DANA

0.00
0.00

0.00
0.00

0.00
0.00

0.00
0.00

0.00
0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

91,856,323.00

496,433,864.00

91,856,323.00

1,751,054,558.00

0.00

26,423,274,554.63

31,632,370,048.05

40,880,387,115.19

99,155,725,898.07

114,884,549,105.86

4,690,518,147.07
825,092,847.00

7,308,332,086.99
2,109,605,900.62

29,137,705,103.33
2,549,320,694.32

33,215,451,613.33
1,972,324,305.43

41,658,999,665.00
772,648,984.30

(91,856,323.00)

(496,433,864.00)

(91,856,323.00)

(1,751,054,558.00)

0.00

0.00

0.00

0.00

10,838,500.00

0.00

31,847,029,225.70

40,553,874,171.66

72,475,556,589.84

132,603,285,758.83

157,316,197,755.16

9,514,330,403.74

15,407,316,403.74

16,331,316,403.74

22,172,251,731.74

22,172,251,731.74

443,836,494,691.63

672,812,909,273.35

794,426,454,099.35

858,718,411,471.81

971,323,702,238.97

14,624,854,247.90

16,054,437,274.00

16,426,740,203.00

19,823,601,938.21

19,823,601,938.21

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

467,975,679,343.27

704,274,662,951.09

827,184,510,706.09

900,714,265,141.76

1,013,319,555,908.92

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

499,822,708,595.97

744,828,537,122.75

899,660,067,295.93

1,033,317,550,900.59

1,170,635,753,664.08

499,822,708,595.97

745,324,970,986.75

899,751,923,618.93

1,035,068,605,458.59

1,170,635,753,664.08

Sumber: Bagian Keuangan Setda Kota Batu, 2009-2014

Neraca tersebut di atas menunjukkan bahwa Pemerintah Kota batu dalam kurun
waktu tersebut berjalan dengan likuid dan solvable. Perkembangan positif terutama
ditunjukkan dari perkembangan sisi asset baik asset lancer maupun asset tetap. Di sisi
lain, secara financial Pemerintah Kota Batu dapat dikatakan tidak memiliki kewajiban
yang mengikat dan/atau mendesak sehingga dapat mengganggu kegiatan
operasionalnya. Dari sisi ekuitas terlihat bahwa perananya sangat dominal sebagai
kontradiksi dari pendanaan dari sector utang. Berdasarkan neraca tersebut di atas,
secara umum kondisi keuangan yang dicerminkan melalui rasio neraca dan APBD dapat
ditunjukkan sebagai berikut:

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

168

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

1.

Rasio Keuangan Pemerintah Kota Batu Terhadap APBD Tahun 2007 Sampai
dengan Tahun 2013

1.1

Rasio Kemandirian Keuangan Daerah

Rasio kemandirian keuangan Kota Batu menunjukkan kemampuan Pemerintah


Kota Batu dalam membiayai sendiri kegiatan pemerintahan, pembangunan dan
pelayanan kepada masyarakat yang telah membayar pajak dan retribusi sebagai sumber
pendapatan yang diperlukan daerah. Perhitungan dilakukan melalui rumus berikut
dengan hasil sebagaimana terdapat pada Tabel 3.153.
(

)
&

Tabel 3.153
Rasio Kemandirian
Tahun

PAD

1
2007
2008
2009
2010
2013
2012

2
13,283,274,381.07
14,202,630,312.49
17,386,741,568.44
17,735,602,953.95
30,257,308,053.14
38,794,059,670.38

Bantuan Pemerintah
Pusat, Propinsi &
Pinjaman
3
261,681,362,676.25
295,851,799,185.27
310,655,722,919.00
343,297,801,294.00
351,230,610,935.00
451,560,218,901.00

2013

59,670,741,826.29

523,440,166,720.00

Rasio
Kemandirian
4 = 2/3*100
5.08
4.80
5.60
5.17
8.61
8.59
11.40

Sumber: BPKAD Kota Batu, 2014 - Data diolah

Dalam Jutaan Rp

Tabel di atas menunjukkan bahwa


Gambar 3.10
rasio kemandirian keuangan Pemerintah
Perkembangan Kemandirian Keuangan Daerah
Kota Batu masih relatif rendah. Semakin
600.000
12,00
11,40
tinggi rasio kemandirian mempunyai arti
bahwa tingkat ketergantungan daerah
500.000
10,00
terhadap bantuan
pihak
eksternal
8,61
8,59
400.000
8,00
(terutama pemerintah pusat/propinsi)
semakin
rendah,
demikian
pula
300.000
6,00
5,60
5,17
5,08
sebaliknya. Data di atas, meskipun terjadi
4,80
200.000
4,00
perkembangan yang cukup signifikan di
tahun
2013,
menunjukkan
masih
100.000
2,00
rendahnya rasio kemandirian keuangan
Pemerintah
Kota
Batu,
hal
ini
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
menunjukkan
bahwa
tingkat
ketergantungan Pemerintah Daerah Kota Batu secara financial (financially dependent)
terhadap bantuan pihak eksternal, seperti halnya mayoritas pemerintah daerah lainnya,
masih tinggi. Namun demikian seperti ditunjukkan pada Gambar 3.10, tingkat
kemandirian Pemerintah Kota Batu cenderung meningkat secara berkelanjutan mulai
3,08 tahun 2007 menjadi 11,40 tahun 2013.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

169

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

1.2

Rasio Aktivitas/Keserasian
a. Rasio Belanja Operasi Terhadap APBD

Rasio ini menunjukkan seberapa besar porsi APBD Pemerintah Kota Batu digunakan
untuk membiayai kegiatan operasional sebagai prasyarat yang bersifat mutlak
adanya/diperlukannya pemerintah daerah. Pos ini mencakup pembiayaan belanja
pegawai, belanja barang dan jasa, belanja hibah, belanja bantuan soaial, dan belanja
bantuan keuangan. Perhitungan dilakukan menggunakan rumus di bawah ini dengan
hasil ditunjukkan pada Tabel 3.154.
Rasio Belanja Operasi Terhadap APBD=
Tabel 3.154
Rasio Belanja Operasi terhadap APBD

Tahun

Total Belanja Operasi

Total Belanja

1
2007
2008
2009
2010
2013

2
164,019,631,340.00
206,954,994,312.44
251,217,356,723.50
301,993,746,772.50
329,515,269,131.00

3
246,661,476,210.00
286,689,994,653.44
395,421,064,071.50
400,760,875,754.53
435,856,317,399.00

Rasio Belanja
Operasi
terhadap
APBD
4 = 2/3*100
66.50
72.19
63.53
75.36
75.60

2012

369,132,629,645.72

435,188,559,660.72

84.82

2013

415,492,953,661.50

571,285,160,689.50

72.73

Sumber: BPKAD Kota Batu, 2014 - Data diolah

600.000

Dalam Jutaan Rp

500.000

400.000

300.000

Sejak tahun 2007, porsi pembiayaan kegiatan operasional Pemerintah Kota Batu
masih relative tinggi. Secara ideal,
Gambar 3.11
porsi
pembiayaan
operasional
Perkembangan Belanja Operasi terhadap APBD
harus seimbang dan bahkan lebih
90,00
kecil
dibandingkan
dengan
84,82
80,00
pembiayaan
modal
dan/atau
75,60
75,36
72,73
72,19
pembiayaan untuk pembangunan
70,00
66,50
63,53
secara
riel
yang
langsung
60,00
menyentuh dan dirasakan oleh
50,00
masyarakat Kota Batu,
40,00

200.000

30,00
20,00

100.000
10,00
-

2007

2008

2009

2010

Total Belanja Operasi 2


Total Belanja 3

2011

2012

2013

Selama lima tahun terahir,


rasio ini berfluktuasi dengan
kecenderungan sedikit maningkat.
Salah satu komponen penting
dalam belanja operasi adalah

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

170

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

belanja pegawai yang merupaakan indicator penting fleksibilitas pemerintah daerah.


Apabila rasio belanja pegawai mencapai 50% ke atas, maka pemerintah yang
bersangkutan tidak diperbolehkan menambah pegawai baru serta perlu melakukan
pengendalian biaya pegawai. Rasio bellanja pegawai (belanja tidak langsung) Kota Batu
selama lima tahun terahir adalah 39,74% (2009); 42,56% (2010); 43,74% (2011); 42,00%
(2012); serta 41,84% tahun 2013. Meskipun masih berada pada level aman namun rasio
ini mendapat perhatian serius. Oleh karena itu Pemerintah Kota Bat uterus berupaya
untuk mencapai porsi yang ideal dalam rangka menyehatkan keuangan pemereintah
daerah sekaligus mampu memberikan pelayanan yang baik serta memenuhi ketentuan
Standar Pelayanan Minimal (SPM) sebagaimana diamanatkan dalam RPJMD tahun
2012-2017.

b. Rasio Belanja Modal Terhadap APBD


Sebagai pembanding dan/atau kabalikan dari rasio belanja operasi terhaddap
APBD adalah diketahuinya Rasio Belanja Modal terhadap APBD yang dihitung dengan
rumus di bawah ini yang hasil perhitungannya disajikan pada Tabel 3.155.

Total Belanja Modal


Total APBD

Tabel 3.155
Rasio Belanja Modal terhadap APBD
Tahun

Total Belanja Modal

Total Belanja

1
2007
2008
2009
2010
2013

2
82,415,344,870.00
79,735,000,341.00
143,102,657,348.00
97,543,062,910.03
106,341,048,268.00

3
246,661,476,210.00
286,689,994,653.44
395,421,064,071.50
400,760,875,754.53
435,856,317,399.00

Rasio Belanja
Operasi terhadap
APBD
4 = 2/3*100
33.41
27.81
36.19
24.34
24.40

2012

66,055,930,015.00

435,188,559,660.72

15.18

2013

155,660,707,028.00

571,285,160,689.50

27.25

Sumber: BPKAD Kota Batu, 2014 - Data diolah

Sejak tahun 2007, porsi belanja operasi Kota Batu, sebagaimana sebagian besr
pemerintah daerah lainnya di seluruh Indonesia, lebih besar jika dibandingkan dengan
belanja modalnya. Semenjak tahun 2010, rasio ini meningkat yakni dari 24,34% (2010);
24,40% (2011); turun menjadi 15,18% (2012); kemudian meningkat menjadi 27,25% thun
2013.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

171

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

600.000

40,00
36,19

500.000
Dalam Jutaan Rp

Pemerintah Kota Bat


uterus berupaya memperbaiki
besaran rasio ini terutama
dalam
rangka
memenuhi
ketentuan Standar Pelayanan
Minimal (SPM) yang telah
dicanangkan oleh Pemerintah
Pusat maupun Pemerintah
Provinsi Jawa Timur.

Gambar 3.12
Perkembangan Belanja Modal terhadap APBD

35,00

33,41

30,00
27,25
25,00

27,81

400.000

24,34 24,40
300.000

20,00
15,18

200.000

15,00
10,00

100.000

5,00

Rasio
PAD

Pertumbuhan

Rasio
Pertumbuhan
PAD
digunakan
untuk
mengukur seberapa besar
kemampuan
pemerintah
daerah
dalam
mempertahankan
dan
meningkatkan PAD nya yang
telah dicapai dari periode ke
periode serta mencermati
kecenderungannya
melalui
perhitungan rumus di bawah
ini. Tabel 3.156 menyajikan
hasil
perhitungan
rasio
pertumbuhan PAD Kota Batu
tahun 2007-2013.

2007

Total Belanja Modal 2

2008 2009
2010
Total Belanja 3

2011Rasio Belanja
2012
2013APBD 4 = 2/3*100
Operasi terhadap

600.000

90,00
84,82
80,00

500.000

75,36

72,19
66,50

Dalam Jutaan Rp

1.3

75,60

72,73
70,00

63,53

400.000

60,00
50,00

300.000
40,00

200.000

30,00
20,00

100.000
10,00
-

2007

2008

2009

2010

2011

2012

2013

Total Belanja Operasi 2


Total Belanja 3
Rasio Belanja Operasi terhadap APBD 4 = 2/3*100

Sumber:Hasil analisis, 2014

x 100%

Tabel 3.156
Rasio Pertumbuhan PAD
Tahun

PAD

Rasio Pertumbuhan

2007

13,283,274,381.07

2008

14,202,630,312.49

6.92

2009

17,386,741,568.44

22.42

2010

17,735,602,953.95

2.01

2013

30,257,308,053.14

70.60

2012

38,794,059,670.38

28.21

2013

59,670,741,826.29

53.81

Sumber: BPKAD Kota Batu, 2014 - Data diolah

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

172

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

dalam Jutaan Rp.

Gambar 3.13
Rasio pertumbuhan tahun
Rasio Pertumbuhan PAD Kota Batu
2009 mengalami kenaikan dari
6,92% pada tahun 2008 menjadi
70.000
80
22,42% pada tahun 2009 22,42%
70,60
dan pada tahun 2010 sebesar
70
60.000
2,01%. Pertumbuhan tahun 2010
60
50.000
53,81
tidak sebesar pertumbuhan tahun
50
40.000
2009. Hal ini dikarenakan oleh
40
30.000
peningkatan Realisasi PAD dari
30
28,21
tahun 2009 ke tahun 2010 tidak
20.000
22,42
20
signifikan,
hanya
sebesar
10.000
10
Rp.348.861.385,51. Pada Tahun
6,92
2,01
0
0
0
2013 pertumbuhan PAD dapat
2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013
dikatakan signifikan yakni. sebesar
Tahun
Rasio Pertumbuhan
53,81%
dibanding
tahun
sebelumnya.
Hal
ini
Sumber:Hasil analisis, 2014
mengindikasikan
semakin
gencarnya upaya Pemerintah Kota Batu untuk memaksimalkan perolehan PAD dalam
koridor tetap tidak memberatkan masyarakat terutama para pelaku usaha di Kota Batu.
Pada tahun 2013 ini perolehan PAD dari sector pajak telah melampaui target yang
dianggarkan serta dalam komposisinya terjadi perbaikan yang diharapkan dimana
komponen aktif sector pajak yakni pajak sector pariwisata mulai mampu menggeser pos
pajak PJU yang merupakan komponen pasif dan selama ini merupakan sumber
penerimaan utama.

1.4

Rasio Efektivitas Pendapatan Asli Daerah


Rasio efektivitas PAD menunjukkan kemampuan pemerintah daerah dalam
memobilisasi penerimaan PAD sesuai dengan yang ditargetkan. Untuk mengukur kinerja
pemerintah daerah dalam memobilisasi penerimaan PAD, indikator rasio efektivitas PAD
saja belum cukup, sebab meskipun jika dilihat dari rasio efektivitasnya sudah baik tetapi
bila ternyata biaya untuk mencapai target tersebut sangat besar, maka berarti
pemungutan PAD tersebut belum efisien. Rumus di bawah ini digunakan unruk
menghitung rasio ini dan Tabel 3.157 menyajikan hasil perhitungannya.

Realisasi Penerimaan PAD


Target Penerimaan PAD

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

173

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Tabel 3.156
Rasio Efektivitas PAD

Tahun

Target PAD

Realisasi PAD

Rasio
Pertumbuhan

2007

12,802,148,511.75

13,283,274,381.07

103.76

2008

19,323,649,999.69

14,202,630,312.49

73.50

2009

22,581,000,000.00

17,386,741,568.44

77.00

2010

30,000,000,000.00

17,735,602,953.95

59.12

2011

30,000,000,000.00

30,257,308,053.14

100.86

2012

32,000,000,000.00

38,794,059,670.38

121.23

2013

50,793,502,612.24

59,670,741,826.29

117.48

Sumber: BPKAD Kota Batu, 2014 - Data diolah

Dalam Jutaan Rp

Gambar 3.13
Sejak tahun 2011,
Tingkat efektifitas PAD Kota Batu
target perolehan PAD Kota Batu
70.000
140,00
telah dapat terlampaui setiap
tahun. Hal ini tidak terlepas dari
121,23
60.000
120,00
117,48
kebijakan yang diambil oleh
103,76
100,86
50.000
100,00
Pemerintah Kota Batu bersama
40.000
80,00
dengan Dewan Perwakilan Rakyat
77,00
73,50
Daerah (DPRD) Kota Batu. Untuk
30.000
60,00
59,12
memenuhi
target
tersebut
20.000
40,00
diperlukan upaya dan kerja keras
10.000
20,00
semua pihak yang berkepentingan
(stakeholders).
Terlihat
dari
0,00
Gambar 3.13 bahwa efektifitas
Target
PAD
PAD
Pertumbuhan
2007
2008 2009Realisasi
2010
2011 2012Rasio2013
PAD Kota Batu massif fluktuatif
Sumber:Hasil analisis, 2014
setiap tahun, namun sejak tahun
2010 menunjukkan kecenderungan yang meningkat scara berkelanjutan

Hambatan dan Kendala

Hambatan dan kendala yang ditemui antara lain: msih kurangnya pemahaman
SKPD terhadap Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD) beserta target dan
indicator yang menyertainya serta upaya perlunya percepatan perwujudan Standar
Pelayanan Minimal (SPM) yang menjadi kewajiban Pemerintah Kota Batu. Terlepas dari
pengaruh makro-eksternal, sampai dengan saat ini masih diperlukan penataan di tingkat
birokrasi agar lebih efektif dan efisien untuk mewujudkn visi dan misi RPJMD tahun 20122017.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

174

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

E. Laporan Arus Kas


Potret keuangan Pemerintah Kota Batu serta efektifitas penyelenggaraan
keuangannya diperlihatkan melalui Tabel 3.24 berikut yang menyajikan laporan arus kas
(cash flow) Pemerintah Kota Batu secara komparatif tahun 2009 sampai dengan 2013.
Tabel 3.157
Pemerintah Kota Batu
LAPORAN ARUS KAS
Per 31 Desember 2009 dan 2013
URAIAN

2009

2010

2011

2012

2013

Arus Kas dari Aktivitas Operasi


Arus Kas Masuk
Pendapatan Pajak Daerah

7,861,348,123.00

9,529,225,958.00

19,404,220,619.00

28,187,860,661.00

44,841,340,814.00

Hasil Retribusi Daerah

3,087,977,630.00

3,478,065,774.00

4,048,972,418.00

4,925,276,704.00

4,692,461,590.00

876,068,906.11

924,903,592.24

1,543,221,141.59

1,690,951,280.48

2,027,452,696.34

5,561,346,909.33

3,803,407,629.71

5,260,893,874.55

3,875,221,024.90

8,109,486,725.95

Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah


yang Dipisahkan
Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang
Sah
Bagi Hasil Pajak/Bagi Hasil Bukan
Pajak

34,171,815,420.00

42,786,105,286.00

41,349,987,735.00

50,113,541,744.00

48,793,825,437.00

Dana Alokasi Umum

218,135,356,000.00

247,723,360,200.00

292,297,023,200.00

324,768,945,000.00

374,362,261,000.00

Dana Alokasi Khusus

33,037,000,000.00

18,275,000,000.00

17,583,600,000.00

16,585,720,000.00

23,431,815,000.00

21,532,376,499.00

31,375,335,808.00

27,636,390,228.00

30,083,932,057.00

31,684,133,283.00

3,779,175,000.00

38,899,457,000.00

28,690,925,250.00

30,008,080,000.00

40,011,513,000.00

40,435,105,000.00

13,430,110,000.00

8,213,100,000.00

0.00

0.00

Pendapatan Bagi Hasil Lainnya

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

Pendapatan Hibah

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

Pendapatan Dana Darurat

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

Pendapatan Lainnya

0.00

0.00

0.00

5,640,710,712.00

10,037,139,392.00

368,477,569,487.44

410,224,971,247.95

446,028,334,466.14

495,880,239,183.38

587,991,428,938.29

Belanja Pegawai

157,133,442,862.00

193,393,983,335.00

212,191,015,115.00

238,716,063,988.00

261,338,700,430.99

Belanja Barang dan Jasa

53,857,159,361.50

59,133,041,387.50

72,697,409,786.00

69,574,747,853.72

101,224,109,346.00

Belanja Bunga

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

Belanja Subsidi

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

Dana Bagi Hasil Pajak Dari Provinsi dan


Pemerintah Daerah Lainnya
Dana Penyesuaian dan Otonomi
Khusus
Bantuan Keuangan Dari Provinsi atau
Pemerintah Daerah Lainnya

Jumlah Arus Kas Masuk


Arus Kas Keluar

Belanja Hibah

7,086,000,000.00

16,639,360,000.00

14,100,033,100.00

36,962,180,893.00

27,738,605,079.51

Belanja Bantuan Sosial


Belanja Bantuan Keuangan kepada
Provinsi/Kabupaten/Kota dan
Pemerintahan Desa

17,638,179,500.00

15,415,486,050.00

11,829,953,630.00

7,562,870,911.00

8,016,903,305.00

15,502,575,000.00

17,411,876,000.00

18,554,857,500.00

16,316,766,000.00

17,174,635,500.00

Belanja Tidak Terduga

1,101,050,000.00

1,224,066,072.00

142,000,000.00

593,804,023.00

131,500,000.00

Jumlah Arus Kas Keluar

252,318,406,723.50

303,217,812,844.50

329,515,269,131.00

369,726,433,668.72

415,624,453,661.50

Arus Kas Bersih dari Aktivitas

116,159,162,763.94

107,007,158,403.45

116,513,065,335.14

126,153,805,514.66

172,366,975,276.79

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

175

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Operasi
Arus Kas dari Aktivitas Investasi Non
Keuangan
Arus Kas Masuk
Pendapatan Penjualan Atas Tanah

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

Penjualan Atas Peralatan dan Mesin


Pendapatan Penjualan Atas Gedung
dan Bangunan
Pendapatan Penjualan Atas Jalan,
Irigasi, dan Jaringan
Pendapatan Penjualan Atas Aset Tetap
Lainnya
Pendapatan Penjualan Atas Aset
Lainnya

0,00

0,00

0,00

114,750,000.00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

Jumlah Arus Kas Masuk

0,00

0,00

0,00

114,750,000.00

Arus Kas Keluar


Belanja Modal Pengadaan Tanah

42,449,258,000.00

1,652,510,700.00

151,655,000.00

21,634,960,550.00

Belanja Peralatan dan Mesin

8,844,335,370.00

5,389,062,850.00

2,121,938,000.00

17,723,412,495.00

31,818,876,608.00

Belanja Gedung dan Bangunan

10,159,037,501.00

7,020,713,372.00

8,836,972,613.00

14,820,287,566.00

34,079,525,914.00

Belanja Jalan, Irigasi, dan Jaringan

49,881,334,028.00

44,399,179,500.00

42,285,543,738.00

30,249,391,131.00

63,907,785,606.00

Belanja Aset Tetap Lainnya

31,768,692,449.00

40,734,107,188.03

51,444,083,217.00

2,517,379,800.00

4,219,558,350.00

Jumlah Arus Kas Keluar

143,102,657,348.00

97,543,062,910.03

106,341,048,268.00

65,462,125,992.00

155,660,707,028.00

Arus Kas Bersih dari Aktivitas


Investasi Non Keuangan

143,102,657,348.00

-97,543,062,910.03

106,341,048,268.00

(65,347,375,992.00)

(155,660,707,028.0
0)

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

0.00

24,000,000.00

0.00

1,140,271,260.22

0.00

0.00
0.00

0.00
24,000,000.00

0.00
0.00

0.00
1,140,271,260.22

0.00
0.00

Belanja Aset Lainnya

Arus Kas dari Aktivitas Pembiayaan


Arus Kas Masuk
Pencairan Dana Cadangan
Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang
Dipisahkan
Penerimaan Pinjaman
Penerimaan Kembali Pemberian
Pinjaman
Penerimaan Piutang
Jumlah Arus Kas Masuk
Arus Kas Keluar
Pembentukan Dana Cadangan
Penyertaan Modal (Investasi)
Pemerintah Daerah
Pembayaran Pokok Utang
Pemberian Pinjaman
Jumlah Arus Kas Keluar
Arus Kas Bersih dari Aktivitas
Pembiayaan
Arus Kas dari Aktivitas Non
Anggaran
Arus Kas Masuk
Penerimaan Perhitungan Fihak Ketiga
(PFK)
Pendapatan yang ditangguhkan
Jumlah Arus Kas Masuk
Arus Kas Keluar
Pengeluaran Perhitungan Fihak Ketiga

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

1,981,750,000.00

4,279,000,000.00

924,000,000.00

3,000,000,000.00

0.00

0,00
0,00
1,981,750,000.00

0,00
0,00
4,279,000,000.00

0,00
0,00
924,000,000.00

671,362,000.00
0,00
3,671,362,000.00

0.00
0.00
0.00

-1,981,750,000.00

-4,255,000,000.00

-924,000,000.00

(2,531,090,739.78)

0.00

36,142,237,435.48

34,336,548,928.51

37,366,606,413.13

34,197,266,349.00

46,260,246,942.00
46,260,246,942.00
47,237,691,983.00

36,142,237,435.48

34,336,548,928.51

37,366,606,413.13

23,926,768.14
34,221,193,117.14

36,142,237,435.48

34,336,548,928.51

37,366,606,413.13

34,197,266,349.00

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

176

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

(PFK)
Pendapatan yang ditangguhkan
Jumlah Arus Kas Keluar

13,532,005,278.90
49,674,242,714.38

0
34,336,548,928.51

37,366,606,413.13

23,926,768.14
34,221,193,117.14

47,237,691,983.00

Arus Kas Bersih dari Aktivitas Non


Anggaran

-13,532,005,278.90

0.00

0.00

0.00

(977,445,041.00)

Kenaikan / (Penurunan) Bersih Kas


Selama Periode

-42,457,249,862.96

5,209,095,493.42

9,248,017,067.14

58,275,338,782.88

15,728,823,207.79

Saldo Awal Kas di BUD

55,348,519,138.69

26,423,274,554.63

31,632,370,048.05

40,880,387,115.19

99,155,725,898.07

Saldo Akhir Kas di BUD

26,423,274,554.63

31,632,370,048.05

40,880,387,115.19

99,155,725,898.07

114,884,549,105.86

132,816,417.00

0.00

0.00

0.00
10,838,500.00

126859372
0.00

26,290,458,137.63

31,632,370,048.05

40,880,387,115.19

99,166,564,398.07

115,011,408,477.86

Terdiri Dari :
Kas Di Bendahara Pengeluaran
Kas Di Bendahara Penerimaan
Saldo Akhir Kas

Sumber: Bagian Keuangan Setda Kota Batu, 2009-2014

Tampak dari table tersebut di atas bahwa arua kas Pemerintah Kota Batu
menunjukkan kecenderungan yang terus meningkat setiap tahun. Penilaian seyogyanya
difokuskan bukan pada seberapa besar saldo akhir kas namun seberapa jauh efektifitas
pengelolaan keluar masuknya kas di dalam kegiatan operasional penyelenggaraan
pemerintahan dan pembangunan di kota Batu. Arus kas terutama bersumber dan
digunakan untuk/dari kegiatan operasional sebagaimana layaknya penyelenggaraan
pemerintahan di daerah. Dari unsur ini terlihat Kota Batu likuid secara financial yang
ditunjukkan oleh arus kas bersih dengan saldo yang positif yang mana hal ini sangat vital
sebagai prasyarat berjalannya pemerintahan. Pada tahun 2013 net cah flow sebesar
Rp.172,366,975,276.79 dan nilai ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar
Rp. 126,153,805,514.66.
Arus kas dari aktivitas investasi non keuangan masih belum maksimal mengingat
fungsi utama pemerintah daerah adalah pada kegiatan operasional penyelenggaraan
pemerintahan yang efektif. Dari sisi ini terlihat adanya defisit arus kas bersih yang pada
tahun 2013 mencapai (Rp.155,660,707,028.00).

F. Permasalahan dan Solusi


Dalam pelaksanaan pengelolaan keuangan daerah ini terdapat beberapa
permasalahan- permasalahan seperti:
a. Melalui Permendagri 13 tahun 2006 jo Permendagri 59 tahun 2008 otonomi
pengelolaan keuangan daerah melalui Satuan Kerja Perangkat Daerah belum
memberikan hasil yang maksimal dikarenakan masih terbatasnya kualitas dan
kuantitas Sumber Daya Manusia pada masing-masing Satuan Kerja Perangkat
Daerah.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

177

AKUNTABILITAS KINERJA 2013

b. Masih kurangnya pemahaman SKPD Terhadap Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 jo


Permendagri 59 tahun 2008 sehingga peranan Bagian Keuangan Setda Kota Batu
dalam memberikan stimulus terhadap SKPD masing tinggi.
c. Otonomi dalam pengelolaan keuangan belum sepenuhnya dilimpahkan kepada
daerah dimana kebijakan keuangan daerah harus mengacu pada kebijakan pusat
yang notabene berbeda ruang lingkup sosial kultural masyarakat serta keadaan
alamnya.
d. Masih semi manualnya sistem pengelolaan keuangan daerah sehingga pengelolaan
keuangan membutuhkan waktu yang lama dan dimungkinkan terjadinya human error.
Dari permasalahan tersebut, Pemerintah Kota Batu mengambil kebijakan dan
solusi antara lain melalui:
a. Terus memberikan pelatihan-pelatihan Pengelolaan Keuangan Daerah dan juga
memberikan Bantuan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia melalui pendidikan
dan pelatihan maupun bimbingan teknis dengan memperhatikan kondisi organisasi
maupun pegawai yang ada di lingkungan Pemerintah Kota Batu.
b. Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kota Batu sebagai
Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah telah dan akan terus memberikan
sosialisasi kepada SKPD terhadap aturan-aturan terbaru di samping Permendagri
Nomor 13 Tahun 2006 jo Permendagri nomor 59 tahun 2008 dengan melakukan
assistensi yakni terjun langsung ke SKPD di lingkungan Pemerintah Kota Batu untuk
mencari solusi terhadap permasalahan yang sedang terjadi pada setiap SKPD.
c. Lebih giat dalam berkonsultasi & berkoordinasi dengan pemerintah pusat dalam
menjelaskan kondisi alam dan kultural masyarakat Kota Batu, sehingga Kota Batu
dapat membuat Peraturan Daerah yang benar-benar sesuai dengan situasi & kondisi
Kota Batu sendiri.
d. Merancang aplikasi mekanisme pengelolaan keuangan daerah dengan sistem
manajemen informasi keuangan yang berbasis teknologi informasi.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)Kota Batu


Tahun 2013

BAB - III
Halaman

178