Anda di halaman 1dari 27

Anatomi

Telinga dalam berisi organ pendengaran dan keseimbangan. Telinga dalam


atau labyrinthus terletak di dalam pars petrosa ossis temporalis dan terdiri atas:
A. Labyrinthus osseus
Terdiri atas tiga bagian: vestibulum, kanalis semisirkularis, dan koklea.
Ketiganya merupakan rongga-rongga yang terletak di dalam substansia
kompakta tulang, dan dilapisi oleh endosteum serta berisi cairan bening, yaitu
perilimfe.
B. Labyrinthus membranaceus
Terletak di dalam labyrinthus osseus, dan berisi endolimfe dan dikelilingi
oleh perilimfe. Labyrinthus membranaceus terdiri atas :
-

Utriculus dan sakulus yang terdapat di dalam vestibulum osseus

Tiga duktus semisirkularis yang terletak di dalam kanalis


semisirkularis osseus

Duktus koklearis yang terletak di dalam koklea.

Gambar Anatomi telinga dalam


Labirin tulang berisi cairan perilimfa dan labirin membran berisi cairan
endolimfa. Koklea merupakan saluran melingkar dengan panjang 35 mm, dibagi
menjadi 3 saluran, yaitu skala media, skala vestibuli, dan skala timpani. Skala
media atau duktus koklearis berisi cairan endolimfa sedangkan skala vestibuli dan
skala timpani berisi cairan perilimfa.
Perilimfe terletak pada tulang labirin dan bagian luar dari membran labirin.
Cairan ini menyerupai cairan serebrospinal dan terhubung dengan ruang

subaraknoid melalui saluran sempit yang membuka ke arah tulang petrous


temporal pada dinding anterior dari foramen jugular. Perilimfe ini terutama
dibentuk dari filtrasi jaringan vaskular pada ligamen spiral. Fungsi perilimfe
sebagai perantara gelombang yang berasal dari gerakan dari stapes. Gelombang
tersebut berjalan melewati perilimfe pada skala vestibuli dan skala timpani. Ini
berakibat pada gerakan dari membran basilar. Endolimfe terletak dalam membran
labirin dan mempunyai komposisi yang berbeda dari perilimfe (mengandung
komposisi ion potasium yang lebih banyak). Endolimfe kemungkinan dihasilkan
oleh stria vaskularis paada dinding dari duktus koklear dan sel pada duktus
semisirkularis. Dan kemungkinan diserap menuju duktus endolimfatikus. Gerakan
dari endolimfe menstimulasi makula dan krista ampulla. Ini menyebabkan
stimulasi dari nervus vestibularis.
Labirin vestibular memiliki 3 kanal semisirkularis, yaitu kanal lateral atau
horizontal, kanal superior atau anterior, dan kanal inferior atau posterior,
semuanya mendeteksi akselerasi angular. Pada ujung kanal terdapat daerah yang
membesar, disebut ampula. Ampula berisi krista ampularis dan kupula. Ujung
kanal semisirkularis lateral yang bukan ampula memasuki vestibulum secara
posterolateral. Ujung kanal semisirkularis anterior dan posterior yang bukan
ampula bersatu membentuk krus komunis dan memasuki vestibulum secara
posteromedial.
Krista ampularis berbentuk pelana, melekat pada dinding ampula. Sel
rambut terletak pada permukaan krista. Serabut saraf ampularis berjalan dari pusat
krista menuju dasar sel rambut. Silia sel rambut menonjol dari permukaan krista
ke kupula yang berbentuk kipas, struktur gelatin berisi mukopolisakarida.
Utrikulus dan sakulus merupakan 2 sakus di labirin membran, berlokasi di
vestibulum. Organ reseptor mereka disebut makula. Makula terdiri dari sel rambut
yang dikelilingi oleh sel pendukung. Silia sel rambut melekat pada membran
otolith gelatinosa. Pada bagian atas membran gelatinosa terdapat lapisan kristal
kalsium karbonat yang disebut otokonia. Makula utrikulus terletak pada dasar
utrikulus, di bidang kanal semisirkularis horizontal. Makula sakulus terletak pada
dinding anteromedial sakulus, prinsipnya di bidang vertikal. Oleh karena itu,

utrikulus sensitif pada akselerasi horizontal dan sakulus sensitif pada akselerasi
vertical.

Gambar Anatomi organ keseimbangan


Fisiologi
Keseimbangan dipengaruhi oleh system informasi sensoris dimana meliputi
visual, vestibular dan proprioseptif.
A. Visual
Mata adalah organ fotosensitif yang sangat berkembang dan rumit, yang
memungkinkan analisis cermat dari bentuk, intensitas cahaya, dan warna yang
dipantulkan objek. Mata terletak dalam struktur bertulang yang protektif di
tengkorak, yaitu rongga orbita. Setiap mata terdiri atas sebuah bola mata fibrosa
yang kuat untuk mempertahankan bentuknya, suatu sistem lensa untuk
memfokuskan bayangan, selapis sel fotosensitif, dan suatu sistem sel dan saraf
yang berfungsi mengumpulkan, memproses, dan meneruskan informasi visual ke
otak.
Tidak semua cahaya yang melewati kornea mencapai fotoreseptor peka
cahaya karena adanya iris, suatu otot polos tipis berpigmen yang membentuk
struktur seperti cincin di dalam aqueous humour. Lubang bundar di bagian tengah
iris tempat masuknya cahaya ke bagian dalam mata adalah pupil. Iris mengandung
dua kelompok jaringan otot polos, satu sirkuler dan yang lain radial. Karena seratserat otot memendek jika berkontraksi, pupil mengecil apabila otot sirkuler
berkontraksi yang terjadi pada cahaya terang untuk mengurangi jumlah cahaya

yang masuk ke mata. Apabila otot radialis memendek, ukuran pupil meningkat
untuk meningkatkan jumlah cahaya yang masuk.
Untuk membawa sumber cahaya jauh dan dekat terfokus di retina, harus
dipergunakan lensa yang lebih kuat untuk sumber dekat. Kemampuan
menyesuaikan kekuatan lensa sehingga baik sumber cahaya dekat maupun jauh
dapat difokuskan di retina dikenal sebagai akomodasi. Kekuatan lensa bergantung
pada bentuknya, yang diatur oleh otot siliaris. Otot siliaris adalah bagian dari
korpus siliaris, suatu spesialisasi lapisan koroid di sebelah anterior. Pada mata
normal, otot siliaris melemas dan lensa mendatar untuk penglihatan jauh, tetapi
otot tersebut berkontraksi untuk memungkinkan lensa menjadi lebih cembung dan
lebih kuat untuk penglihatan dekat. Serat-serat saraf simpatis menginduksi
relaksasi otot siliaris untuk penglihatan jauh, sementara system parasimpatis
menyebabkan kontraksi otot polos untuk penglihatan dekat.
B. Proses Visual Mata
Proses visual dimulai saat cahaya memasuki mata, terfokus pada retina dan
menghasilkan sebuah bayangan yang kecil dan terbalik. Ketika dilatasi maksimal,
pupil dapat dilalui cahaya sebanyak lima kali lebih banyak dibandingkan ketika
sedang konstriksi maksimal. Diameter pupil ini sendiri diatur oleh dua elemen
kontraktil pada iris yaitu papillary constrictor yang terdiri dari otot-otot sirkuler
dan papillary dilator yang terdiri dari sel-sel epitelial kontraktil yang telah
termodifikasi. Sel-sel tersebut dikenal juga sebagai myoepithelial cells.
Jika sistem saraf simpatis teraktivasi, sel-sel ini berkontraksi dan
melebarkan pupil sehingga lebih banyak cahaya dapat memasuki mata. Kontraksi
dan dilatasi pupil terjadi pada kondisi dimana intensitas cahaya berubah dan
ketika kita memindahkan arah pandangan kita ke benda atau objek yang dekat
atau jauh. Pada tahap selanjutnya, setelah cahaya memasuki mata, pembentukan
bayangan pada retina bergantung pada kemampuan refraksi mata.
Beberapa media refraksi mata yaitu kornea. Kornea merefraksi cahaya
lebih banyak dibandingkan lensa. Lensa hanya berfungsi untuk menajamkan
bayangan yang ditangkap saat mata terfokus pada benda yang dekat dan jauh.
Setelah cahaya mengalami refraksi, melewati pupil dan mencapai retina, tahap

terakhir dalam proses visual adalah perubahan energi cahaya menjadi aksi
potensial yang dapat diteruskan ke korteks serebri. Proses perubahan ini terjadi
pada retina.
Retina memiliki dua komponen utama yakni pigmented retina dan sensory
retina. Pada pigmented retina, terdapat selapis sel-sel yang berisi pigmen melanin
yang bersama-sama dengan pigmen pada koroid membentuk suatu matriks hitam
yang mempertajam penglihatan dengan mengurangi penyebaran cahaya dan
mengisolasi fotoreseptor-fotoreseptor yang ada. Pada sensory retina, terdapat tiga
lapis neuron yaitu lapisan fotoreseptor, bipolar dan ganglionic. Badan sel dari
setiap neuron ini dipisahkan oleh plexiform layer dimana neuron dari berbagai
lapisan bersatu. Lapisan pleksiform luar berada diantara lapisan sel bipolar dan
ganglionic sedangkan lapisan pleksiformis dalam terletak diantara lapisan sel
bipolar dan ganglionic.
Setelah aksi potensial dibentuk pada lapisan sensori retina, sinyal yang
terbentuk akan diteruskan ke nervus optikus, optic chiasm, optic tract, lateral
geniculate dari thalamus, superior colliculi, dan korteks serebri.

Gambar Jaras penglihatan


C. Vestibular
Selain perannya dalam pendengaran yang bergantung pada koklea, telinga
dalam memiliki komponen khusus lain, yakni apparatus vestibularis, yang
memberikan informasi yang penting untuk sensasi keseimbangan dan untuk
koordinasi gerakan-gerakan kepala dan gerakan mata serta postur tubuh. Aparatus
vestibularis terdiri dari dua set struktur yang terletak di dalam tulang temporalis di
dekat koklea-kanalis semisirkularis dan organ otolit, yaitu utrikulus dan sakulus.

Aparatus vestibularis mendeteksi perubahan posisi dan gerakan kepala.


Seperti di koklea, semua komponen apparatus vestibularis mengandung endolimfe
dan dikelilingi oleh perilimfe. Juga, serupa dengan organ korti, komponen
vestibular masing-masing mengandung sel rambut yang berespons terhadap
perubahan bentuk mekanis yang dicetuskan oleh gerakan spesifik endolimfe.
Seperti sel-sel rambut auditorius, reseptor vestibularis juga dapat mengalami
depolarisasi atau hiperpolarisasi, bergantung pada arah gerakan cairan. Namun,
tidak seperti system pendengaran, sebagian besar informasi yang dihasilkan oleh
system vestibularis tidak mencapai tingkat kesadaran.
Kanalis semisirkularis mendeteksi akselerasi atau deselerasi anguler atau
rotasional kepala, misalnya ketika memulai atau berhenti berputar, berjungkir
balik, atau memutar kepala. Tiap telinga memiliki 3 kanalis semisirkularis yang
secara tiga dimensi tersusun dalam bidang-bidang yang tegak lurus satu sama lain.
Sel-sel rambut reseptif disetiap kanali semisirkularis terletak diatas suatu
bubungan (ridge) yang terletak diampula, suatu pembesaran dipangkal kanalis.
Rambut-rambut terbenam dalam suatu lapisan gelatinosa seperti topi diatasnya,
yaitu kupula, yang menonjol ke dalam endolimfe di dalam ampula. Kupula
bergoyang sesuai arah gerakan cairan, seperti ganggang laut yang mengikuti arah
gelombang air.

Gambar Anatomi ampula


Akselerasi (percepatan) atau deselerasi (perlambatan) selama rotasi kepala
ke segala arah menyebabkan pergerakan endolimfe, paling tidak disalah satu
semisirkularis. Ketika kepala mulai bergerak, saluran tulang dan bubungan sel
rambut yang terbenam dalam kupula bergerak mengikuti gerakan kepala. Namun,

cairan di dalam kanalis, yang tidak melekat ke tengkorak, awalnya tidak ikut
bergerak sesuai rotasi, tetapi tertinggal dibelakang karena adanya inersia
(kelembaman). (karena inersia, benda yang diam akan tetap diam, dan benda yang
bergerak akan tetap bergerak, kecuali jika ada suatu gaya luar yang bekerja
padanya dan menyebabkan perubahan.) ketika endolimfe tertinggal saat kepala
mulai berputar; endolimfe yang terletak sebidang dengan gerakan kepala pada
dasarnya bergeser dengan arah yang berlawanan dengan arah gerakan kepala
(serupa dengan tubuh anda yang miring ke kanan sewaktu mobil yang anda
tumpangi berbelok ke kiri). Gerakan cairan ini menyebabkan kupula condong
kearah yang berlawanan dengan arah gerakan kepala, membengkokan rambutrambut yang terbenam didalamnya. Apabila gerakan kepala tersebut berlanjut
dalam arah dan kecepatan yang sama, endolimfe akan menyusul dan bergerak
bersama dengan kepala, sehingga rambut-rambut kembali ke posisi tegak mereka.
Ketika kepala melambat dan berhenti, keadaan sebaliknya terjadi. Endolimfe
secara singkat melanjutkan diri bergerak searah dengan rotasi kepala sementara
kepala melambat dan berhenti. Akibatnya, kupula dan rambut-rambutnya secar
sementara membengkok sesuai dengan arah rotasi semula, yaitu berlawanan
dengan arah mereka membengkok ketia arah akselerasi. Pada saat endolimfe
secara bertahap berhenti, rambut kembali tegak. Dengan demikian, kanalis
semisirkularis mendeteksi perubahan kecepatan gerakan rotasi kepala. Kanalis
tidak berespons jika kepala tidak bergerak atau ketika bergerak secara sirkuler
dengan kecepatan tetap.
Rambut-rambut sel rambut vestibularis terdiri dari dua puluh sampai lima
puluh stereosilis, yaitu mikrovilus yang diperkuat oleh aktin dan satu silium,
kinosilium. Setiap sel rambut berorientasi sedemikian rupa sehingga sel rambut
mengalami depolarisasi ketika stererosilianya membengkok kearah kinosilium;
pembengkokan ke arah kinosilium. Pembengkokan kearah yang berlawanan
menyebabkan hiperpolarisasi. Sel rambut akan membentuk sinaps zat perantara
kimiawi dengan ujung terminal neuron aferen yang akson-aksonnya menyatu
dengan akson vestibularis lain untuk membentuk saraf vestibularis. Saraf ini
bersatu

dengan

saraf

auditorius

dari

koklea

untuk

membentuk

saraf

vestibulokoklea untuk membentuk saraf vestibulokoklearis. Depolarisasi sel

rambut meningkatkan pembentukan potensial aksi di serat-serat aferen, sebaliknya


ketika sel rambut mengalami hiperpolarisasi, frekuensi potensial aksi diserat
aferen menurun.

Gambar Tipe sel rambut vestibular


Sementara kanalis semisirkularis memberikan informasi mengenai
perubahan rotasional gerakan kepala kepada SSP, organ otolit memberikan
informasi mengenai posisi kepala relative terhadap gravitasi dan juga mendeteksi
perubahan dalam kecepatan linier. Utrikulus dan sakulus adalah struktur seperti
kantung yang terletak di dalam rongga tulang yang terdapat diantara kanalis
semisirkularis dan koklea. Rambut pada sel-sel rambut reseptif di organ-organ ini
menonjol ke dalam suatu lembar gelatinosa diatasnya, yang gerakannya
menyebabkan perubahan posisi rambut serta menimbulkan potensial sel rambut.
Terdapat banyak Kristal halus kalsium karbonat-otolit (batu telinga) yang
terbenam dalam lapisan gelatinosa, sehingga lapisan tersebut lebih berat dan lebih
lembam (inert) daripada cairan disekitarnya. Ketika seseorang dalam posisi tegak,
rambut dalam utrikulus berorientasi vertical dan sakulus berorientasi horizontal.

Massa

gelatinosa

yang

mengandung

otolit

berubah

posisi

dan

membengkokkan rambut dengan dua cara:


1. Ketika kepala digerakkan ke semua arah selain vertical, rambut membengkok
sesuai arah gerakan kepala karena gaya gravitasi yang mendesak bagian atas

lapisan gelatinosa yang berat. Didalam utrikulus tiap telinga, sebagian berkas
rambut diorientasikan untuk mengalami depolarisasi dan sebagian lagi
mengalami hiperpolarisasi ketika kepala berada dalam segalam posisi selain
tegak lurus. Dengan demikian SSP menerima pola-pola aktivitas saraf yang
berlainan bergantung pada posisi kepala dalam kaitannya dengan gravitasi.
2. Rambut-rambut utrikulus juga berubah posisi akibat setiap perubahan dalam
gerakan linier horizontal. Ketika seseorang mulai berjalan kedepan, bagian
atas membrane otolit yang berat mula-mula tertinggal dibelakang endolimfe
dan sel-sel rambut karena inersianya yang lebih besar. Dengan demikian
rambut menekuk ke belakang. Dalam arah yang berlawanan dengan arah
gerakan kepala ke depan. Jika kecepatan dipertahankan maka rambut tidak
akan menekuk lagi. Ketika orang berhenti berjalan, lapisan ototlit secara
singkat terus bergerak kedepan ketika kepala melambat dan berhenti,
membengkokan rambut kearah depan. Dengan demikian, sel rambut utrikulus
mendeteksi akselerasi atau deselerasi linier horizontal, tetapi tidak
memberikan informasi mengenai gerakan lurus yang berjalan konstan.
Sakulus memiliki fungsi serupa dengan utrikulus kecuali bahwa ia
berespons secara selektif terhadap kemiringan kepala menjauhi posisi horizontal
dan terhadap akselerasi atau deselerasi linier.
Sinyal-sinyal yang berasal dari berbagai komponen apparatus vestibularis
dibawa melalui saraf vestibulakoklearis ke nucleus vestibularis, suatu kelompok
badan sel saraf di batang otak dank e serebellum. Disini informasi vestibuler
diintegrasikan dengan masukan dari permukaan kulit, mata, sendi dan otot untuk
mempertahankan keseimbangan dan postur yang diinginkan dan mengontrol otot
mata eksterna sehingga mata tetap terfiksir ke titik yang sama walaupun kepala
bergerak serta mempersepsikan gerakan dan orientasi.
Beberapa individu karena alasan yang tidak diketahui, sangat peka terhadap
gerakan tertentu yang mengaktifkan apparatus vestibularis dan menyebabkan
gejala pusing dan mual. Kepekaan ini disebut mabuk jalan (motion sickness).
Terkadang ketidakseimbangan cairan didalam telinga menyebabkan penyakit

meniere. Tidaklah mengehrankan, karena baik apparatus vestibularis maupun


koklea mengandung carian telinga dalam yang sama, timbul gejala keseimbangan
dan pendengaran. Penderita mengalami serangan sementara vertigo yang hebat
disertai suara berdenging di telinga dan gangguan pendengaran. Selama serangan
itu, penderita tidak dapat berdiri tegak dan melaporkan perasaan bahwa dirinya
atau benda-benda disekitar terasa berputar-putar.
c. Somatosensoris atau proprioseptif
Proprioseptif, sensasi mengenai posisi tubuh dalam ruang, penting bagi setiap
gerakan terutama berperan dalam olahraga. dalam mengontrol kontraksi otot
rangka untuk gerakan yang diinginkan, SSO harus secara terus menerus diberitahu
mengenai hasil tindakannya melalui informasi umpan balik sensorik.
Sejumlah reseptor member masukan propriosepsi. Proprioseptor otot
member informasi umpan balik mengenai ketegangan dan panjang otot.
Propiroseptor sendi member informasi umpan balik mengenai akselerasi sendi,
sudut dan arah gerakan. Proprioseptor kulit member tahu SSP mengenai tekanan
dan beban pada kulit. Proprioseptor pada telinga dalam beserta reseptor yang
terletak di otot leher memberitahu informasi mengenai posisi kepala dan leher,
sehingga SSP dapat mengorientasikan kepala dengan tepat.
Proprioseptor yang paling kompleks dan mungkin paling penting adalah
muscle spindle (gelendong otot). Ini ditemukan diseluruh panjang otot dan
panjang akhir otot tetapi cenderung terkonsentrasi ditengahnya. Setiap spindle
terletak sejajar dengan serat otot didalam otot. Spindle peka terhadap kecepatan
perubahan panjang otot dan panjang akhir otot yang dicapai. Apabila otot
diregangkan, setiap muscle spindle didalam otot tersebut juga teregang dan
neuron aferen yang akson perifernya berujung di muscle spindle yang terangsang.
Serat aferen berjalan ke dalam korda spinalis dan bersinaps langsung pada dengan
neuron-neuron motorik yang mempersarafi otot yang sama. Perangsangan otot
yang teregang akibat reflex regang ini menyebabkan otot berkontraksi untuk
menghilangkan peregangan tersebut.

Orang berusia lanjut atau mereka mengalami kelemahan otot quadriceps


secara tak sadar memanfaatkan muscle spindle dengan mendorong bagian tengah
paha sewaktu mereka bangun dan posisi duduk. Kontraksi otot quadriceps
menyebabkan ekstensi sendi lutut sehingga paha lurus. Selain itu refleks regang
berfungsi untuk meningkatkan atau memperkuat respons kontraktil sehingga
memperoleh tambahan tenaga.

VERTIGO
A. Definisi
Vetigo berasal dari bahasa latin vertere yang artinya memutar,
merujuk pada sensasi berputar sehingga mengganggu rasa keseimbangan
seseorang,

umumnya

disebabkan

oleh

gangguan

pada

sistim

keseimbangan.
Vertigo ialah gangguan keseimbangan dengan perasaan bahwa
lingkungan sekelilingnya berputar.
Etiologi
Peripheral Vertigo
-

Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV)


Infeksi bacteri atau virus
Vestibular neuritis
Meniere disease
Labyrinthine ischemia atau hemorrhage
Tunor
Trauma : Temporal bone
Labyrinthine
Perilymphatic fistula karena cholesteatoma
Metabolic disoder : Diabetes Mellitus
Uremia
Hypothyroidism
Paget disease
Intoksikasi alkohol akut
Ototoxisitas : Aminoglikosida
Cisplatin
Autoimmune inner esr disease

Central Vertigo

Komplikasi neurologic pada infeksi telinga : Epidural, subdural,


intraparenkim abscess

Meningitis
Vaskular disease : Vertebrobasilar insufficiency
Brainstem atau cerebellar hemorrhage
Migraine
Tumors
Trauma
Cerebellar degeneration syndromes : Alcohol, Famillial
Disorder of craniovertebral junction : Basillar impression
Dislokasi Atlantoaxial
Chiari malformasi
Multiple Sclerosis
Seixure

B. Klasifikasi
Klasifikasi vertigo berdasarkan kejadiannya :
- Vertigo spontan
- Timbul tanpa stimulasi dari luar misalnya penyakit Meniere
- Vertigo posisi :
a. Perubahan posisi kepala
b. Kelainan servikal
Klasifikasi berdasarkan tempat lesi :
-

Vertigo central : diakibatkan oleh kelainan pada batang


otak atau pada cerebelum. Biasanya disertai gejala lain
yang khas, misalnya diplopia, parestesia, perubahan

sensibilitas, gangguan fungsi motorik, rasa lemah.


Vertigo perifer : diakibatkan oleh kelainan pada telinga

dalam atau pada nervus vestibuocochlear (N.VIII)


Medical vertigo : dapat diakibatkan oleh penurunan
tekanan darah, gula darah rendah, atau gangguan
metabolik

akibat

obat-obatan

atau

akibat

sistemik

Bangiktan

Perifer
Mendadak

Central
Lambat

vertigo
Derajat

Berat

Ringan

vertigo
Pengaruh

(+)

(-)

gerakan

infeksi

kepala
Gejala

(++)

(-)

otonom
Gangguan

(+)

(-)

pendengaran
C. Etiologi
- Vertigo perifer yang bersifat episodic , mendadak, hilang dalam
hitungan detik-hari : vertigo posisional paroksismal jinak, fistula
-

perilimfe
Vertigo yang berlangsung 2-30 menit : transient ischemic attack
Vertigo rekuren selama 20 menit hingga 24 jam : penyakit Meniere
Serangan vertigo terisolasi yang berlangsung lebih dari 24 jam:
neuronitis vestibuler.

BENIGN PAROXYSMAL POSITIONAL VERTIGO (BPPV)

A. Definisi
Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV) atau Vertigo Posisi
Paroksismal Jinak (VPPJ) didefinisikan sebagai : gangguan keseimbangan perifer
berupa vertigo yang muncul setelah perubahan posisi kepala. Perasaan gangguan
keseimbangan yang dipicu oleh posisi provokatif tertentu. Posisi provokatif ini
biasanya juga memicu terjadinya gerakan mata yang spesifik (nistagmus).
Karakteristik dan arah nistagmus spesifik terhadap bagian dari telinga dalam yang
terkena dan patofisiologinya.

B. Epidemiologi
Insidensi BPPV berkisar antara 10-100 kasus per 100.000 jiwa pertahun
dengan 20% kasus memiliki riwayat trauma kepala dan 10-15% neuritis
vestibuler.
BPPV merupakan salah satu penyebab terbanyak dari serangan vertigo yang
tiba-tiba. Wanita memiliki angka kejadian yang sedikit lebih besar daripada pria.

BPPV mempunyai predileksi lebih tinggi [ada populasi yang lebih tua dengan
rata-rata onset pada umur 51 tahun. Sangat jarang ditemukan pada orang dengan
usia kurang dari 35 tahun tanpa adanya riwayat cedera kepala.

C. Etiologi
Berbagai penyebab yang mungkin memicu BPPV antara lain cedera kepala,
vestibular neuronitis, labyrinthitis, stapedektomi dan penyakit sistem nervosa
centralis. Nistagmus posisional juga dapat ditemukan pada intoksikasi (alkohol,
barbiturat). Kebanyakan kasus BPPV berhubungan dengan adanya kupulolithiasis
(deposit

otokonia

yang

degeneratif,

menempel

pada

kupula

canales

semicirculares). Hal ini membuat kanal sangat sensitif terhadap perubahan


gravitasi yang berkaitan dengan posisi kepala yang berbeda.
Pemeriksaan neurologi dan otologi yang lengkap sangat penting karena
kebanyakan pasien memiliki kelainan telinga yang terjadi bersamaan, antara lain
sebagai berikut :

Idiopathic atau tanpa kelainan yg lain - 39%

Trauma - 21%

Penyakit telinga - 29%


o Otitis media - 9%
o Vestibular neuritis - 7%
o Mnire disease - 7%
o Otosclerosis - 4%
o sensorineural hearing loss mendadak - 2%

CNS disease - 11%

o Insufisiensi vertebrobasilar - 9%
o Acoustic neuroma - 2%
Cervical vertigo - 2%

D. Patogenesis dan Patofisiologi


Patofisiologi BPPV dapat dibagi menjadi dua, antara lain :

Gambar patofisiologi BPPV


1. Teori Cupulolithiasis
Pada tahun 1962 Horald Schuknecht mengemukakan teori ini untuk
menerangkan BPPV. Dia menemukan partikel-partikel basofilik yang berisi
kalsiurn karbonat dari fragmen otokonia (otolith) yang terlepas dari macula
utriculus yang sudah berdegenerasi, menempel pada permukaan kupula. Dia
menerangkan bahwa kanalis semisirkularis posterior menjadi sensitif akan
gravitasi akibat partikel yang melekat pada kupula. Hal ini analog dengan keadaan
benda berat diletakkan di puncak tiang, bobot ekstra ini menyebabkan tiang sulit
untuk tetap stabil, malah cenderung miring. Pada saat miring partikel tadi

mencegah tiang ke posisi netral. Ini digambarkan oleh nistagmus dan rasa pusing
ketika kepala penderita dijatuhkan ke belakang posisi tergantung (seperti pada tes
Dix-Hallpike). Kanalis Semi Sirkularis posterior berubah posisi dari inferior ke
superior, kupula bergerak secara utrikulofugal, dengan demikian timbul nistagmus
dan keluhan pusing (vertigo). Perpindahan partikel otolith tersebut membutuhkan
waktu, hal ini yang menyebabkan adanya masa laten sebelum timbulnya pusing
dan nistagmus.
2. Teori Canalithiasis
Tahun1980 Epley mengemukakan teori canalithiasis, partikel otolith
bergerak bebas di dalam Kanalis Semi Sirkularis. Ketika kepala dalam posisi
tegak, endapan partikel ini berada pada posisi yang sesuai dengan gaya gravitasi
yang paling bawah. Ketika kepala direbahkan ke belakang partikel ini berotasi ke
atas sarnpai 900 di sepanjang lengkung Kanalis Semi Sirkularis. Hal ini
menyebabkan cairan endolimfe mengalir menjauhi ampula dan menyebabkan
kupula membelok (deflected), hal ini menimbulkan nistagmus dan pusing.
Pembalikan rotasi waktu kepala ditegakkan kernbali, terjadi pembalikan
pembelokan kupula, muncul pusing dan nistagmus yang bergerak ke arah
berlawanan. Model gerakan partikel begini seolah-olah seperti kerikil yang berada
dalam ban, ketika ban bergulir, kerikil terangkat sebentar lalu jatuh kembali
karena gaya gravitasi. Jatuhnya kerikil tersebut memicu organ saraf dan
menimbulkan pusing. Dibanding dengan teori cupulolithiasis teori ini lebih dapat
menerangkan keterlambatan "delay" (latency) nistagmus transient, karena partikel
butuh waktu untuk mulai bergerak. Ketika mengulangi manuver kepala, otolith
menjadi tersebar dan semakin kurang efektif dalam menimbulkan vertigo serta
nistagmus. Hal inilah yang dapat menerangkan konsep kelelahan "fatigability"
dari gejala pusing.

E. Manifestasi Klinis
Jenis vertigo ini merupakan sindrom vestibular yang paling sering
dijumpai dalam praktek klinis. Pasien dengan kelainan ini tidak mengalami

vertigo bila duduk atau berdiri diam tetapi serangan timbul bila terjadi perubahan
posisi ( misalnya sedang tidur terlentang kemudian miring kesisi yang terganggu )
atau gerakan kepala atau badan. Biasanya vertigo hanya berlangsung 5-10 detik.
Kadang-kadang disertai rasa mual dan seringkali pasien merasa cemas. Umumnya
gerakan kedepan dan kebelakang yang memicu vertigo. Kadang-kadang pasien
memberitahukan posisi apa yang mencetuskan serangan. Perubahan posisi kepala
memperhebat vertigo pada neuritis vestibularis dan beberapa vertigo perifer atau
sentral. Tetapi pada BPPV gejala hanya timbul setelah gerakan kepala tertentu.

F. DIAGNOSIS
1. ANAMNESIS

Menanyakan identitas dan data umum seperti nama, usia, pekerjaan, agama,

suku
Menanyakan keadaan sosial dan ekonomi, gaya hidup dan kondisi

lingkungan
Menanyakan adanya keluhan utama dan penyerta
Menanyakan apakah pasien telah melakukan pemeriksaan sebelumnya atau
pengobatan sebelumnya, apa yang dilakukan untuk mengatasi keluahannya

sebelum ke dokter
Menanyakan riwayat penyakit keluarga dan penyakit terdahulu.
Pada anamnesis ditemukan keluhan yang berupa berputarnya tubuh pasien

atau keadaan sekeliling disertai mual dan muntah atau kadang tanpa mual munta.
Perasaan tersebut dapat timbul spontan atau diperberat oleh perubahan posisi
tubuh. Serangan dapat berlangsung konstan atau episodik selama beberapa menit
atau jam. Pada beberapa kasus dapat ditemukan kehilangan pendengaran dan
suara berdenging. Selanjutnya perlu pula ditelusuri riwayat utama kepala
atau whisplash injury, gangguan penglihatan, kelemahan tubuh, kesulitan bicara,
kesulitan berjalan dan penurunan kesadaran. Sehingga pertanyaan-pertanyaan
yang perlu ditanyakan adalah dengan menanyakan gejala yang muncul seperti
yang telah dibahas. Pertanyaan-pertanyaannya antara lain:

Bagaimana rasa pusing yang dirasakan? Apakah rasanya berdenyut, berputar

atau seperti ditusuk-tusuk?


Berapa lama satu serangan umumnya dirasakan? (durasi)
Berapa kali serangan dapat berlangsung?
Bagaimana intensitas sakit yang dirasakan?
Sejak kapan keluhan mulai dirasakan?
Faktor apa yang memperberat keluhan?
Apakah pasien pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya?
Apakah pasien pernah mengalami muntah atau mual dikarenakan rasa

pusingnya?
Apakah pasien pernah mengalami demam, sakit pada telinga atau trauma

maupun penbedahan sebelumnnya?


Apakah ada gangguan berjalan atau keseimbangan disebabkan rasa

pusingnya?
Apakah ada keluhan pendengaran yang berdengung atau terganggu?
Apakah ada keluhan lainnya?
Pertanyaan-pertanyaan ini perlu ditanyakan agar dapat memastikan

penderita menderita vertigo dengan latar belakang atau penyebab tertentu


sehingga pemeriksaan yang dilakukan dapat tepat membantu mendiagnosis
penyakit.

2. PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik diarahkan pada kemungkinan penyebab sistemik; tekanan
darah diukur dalam posisi berbaring, duduk dan berdiri; bising karotis, irama
(denyut jantung) dan pulsasi nadi perifer juga perlu diperiksa. Pemeriksaan tanda
tanda vital lain.
Pemeriksaan Neurologis
Pemeriksaan neurologis dilakukan dengan perhatian khusus pada:
1. Fungsi vestibuler/serebelera.
a. Uji Romberg

Penderita berdiri dengan kedua kaki dirapatkan, mula-mula dengan kedua


mata terbuka kemudian tertutup. Biarkan pada posisi demikian selama 20-30
detik. Harus dipastikan bahwa penderita tidak dapat menentukan posisinya
(misalnya dengan bantuan titik cahaya atau suara tertentu). Pada kelainan
vestibuler hanya pada mata tertutup badan penderita akan bergoyang menjauhi
garis tengah kemudian kembali lagi, pada mata terbuka badan penderita tetap
tegak. Sedangkan pada kelainan serebeler badan penderita akan bergoyang baik
pada mata terbuka maupun pada mata tertutup.
b. Tandem Gait
Penderita berjalan lurus dengan tumit kaki kiri/kanan diletakkan pada
ujung jari kaki kanan/kiri ganti berganti. Pada kelainan vestibuler perjalanannya
akan menyimpang, dan pada kelainan serebeler, penderita akan cenderung jatuh.
c. Uji Unterberger
Berdiri dengan kedua lengan lurus horisontal ke depan dan jalan di tempat
dengan mengangkat lutut setinggi mungkin selama satu menit. Pada kelainan
vestibuler posisi penderita akan menyimpang/berputar ke arah lesi dengan gerakan
seperti orang melempar cakram; kepala dan badan berputar ke arah lesi, kedua
lengan bergerak ke arah lesi dengan lengan pada sisi lesi turun dan yang lainnya
naik. Keadaan ini disertai nistagmus dengan fase lambat ke arah lesi.
d. Test Dix Hall Pike
Diagnosis vertigo posisional paroksismal jinak dapat dibentuk secara definitif
melalui Dix-Hallpike test , Meski tak lagi direkomendasikan sebagai manuver
diagnostik, karena dapat mengganggu pengobatan samping tempat tidur segera
jinak vertigo posisional paroksismal, pengulangan dari hasil Dix-Hallpike tes
dalam penurunan intensitas vertigo dan nystagmus. Pengamatan gerakan mata
pasien selama uji Dix-Hallpike dapat ditingkatkan melalui penggunaan peralatan
khusus untuk mengurangi fiksasi visual. Namun, karena penekanan visual
nystagmus torsi minimal, nystagmus biasanya terkait dengan gangguan bisa,
dalam banyak kasus, diamati secara langsung.

Gambar pelaksanaan tes dix hall pike

Gambar pelaksanaan tes dix hall pike

Gambar pelaksanaan tes dix hall pike


G. Diagnosis Banding
1. Vestibular Neuritis
Vestibular neuronitis penyebabnya tidak diketahui, pada hakikatnya
merupakan suatu kelainan klinis di mana pasien mengeluhkan pusing berat
dengan mual, muntah yang hebat, serta tidak mampu berdiri atau berjalan.
Gejala-gejala ini menghilang dalam tiga hingga empat hari. Sebagian pasien
perlu dirawat di rumah sakit untuk mengatasi gejala dan dehidrasi. Serangan
menyebabkan pasien mengalami ketidakstabilan dan ketidakseimbangan

selama beberapa bulan, serangan episodik dapat berulang. Pada fenomena ini
biasanya tidak ada perubahan pendengaran.
2. Labirintitis
Labirintitis adalah suatu proses peradangan yang melibatkan mekanisme
telinga dalam. Terdapat beberapa klasifikasi klinis dan patologik yang berbeda.
Proses dapat akut atau kronik, serta toksik atau supuratif. Labirintitis toksik
akut disebabkan suatu infeksi pada struktur didekatnya, dapat pada telinga
tengah atau meningen tidak banyak bedanya. Labirintitis toksik biasanya
sembuh dengan gangguan pendengaran dan fungsi vestibular. Hal ini diduga
disebabkan oleh produk-produk toksik dari suatu infeksi dan bukan disebabkan
oleh organisme hidup. Labirintitis supuratif akut terjadi pada infeksi bakteri
akut yang meluas ke dalam struktur-struktur telinga dalam. Kemungkinan
gangguan pendengaran dan fungsi vestibular cukup tinggi. Yang terakhir,
labirintitis kronik dapat timbul dari berbagai sumber dan dapat menimbulkan
suatu hidrops endolimfatik atau perubahan-perubahan patologik yang akhirnya
menyebabkan sklerosi labirin.
3. Penyakit Meniere
Penyakit Meniere adalah suatu kelainan labirin yang etiologinya belum
diketahui, dan mempunyai trias gejala yang khas, yaitu gangguan pendengaran,
tinitus, dan serangan vertigo. Terutama terjadi pada wanita dewasa.
H. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan BPPV meliputi observasi, obat-obatan untuk menekan
fungsi vestibuler (vestibulosuppressan), reposisi kanalit dan pembedahan. Dasar
pemilihan tata laksana berupa observasi adalah karena BPPV dapat mengalami
resolusi sendiri dalam waktu mingguan atau bulanan. Oleh karena itu sebagian
ahli hanya menyarankan observasi. Akan tetapi selama waktu observasi tersebut
pasien tetap menderita vertigo. Akibatnya pasien dihadapkan pada kemungkinan
terjatuh bila vertigo tercetus pada saat ia sedang beraktivitas.
Obat-obatan

penekan

fungsi

vestibuler

pada

umumnya

tidak

menghilangkan vertigo. Istilah vestibulosuppresant digunakan untuk obatobatan yang dapat mengurangi timbulnya nistagmus akibat ketidakseimbangan
sistem vestibuler. Pada sebagian pasien pemberian obat-obat ini memang
mengurangi sensasi vertigo, namun tidak menyelesaian masalahnya. Obat-obat ini

hanya menutupi gejala vertigo. Pemberian obat-obat ini dapat menimbulkan efek
samping berupa rasa mengantuk. Obat-obat yang diberikan diantaranya diazepam
dan amitriptilin. Betahistin sering digunakan dalam terapi vertigo. Betahistin
adalah golongan antihistamin yang diduga meningkatkan sirkulasi darah ditelinga
dalam dan mempengaruhi fungsi vestibuler melalui reseptor H3.
Tiga macam perasat dilakukan umtuk menanggulangi BPPV adalah CRT
(Canalith repositioning Treatment), perasat liberatory dan latihan Brandt-Daroff.
Reposisi kanalit dikemukakan oleh Epley. Prosedur CRT merupakan prosedur
sederhana dan tidak invasif. Dengan terapi ini diharapkan BPPV dapat
disembuhkan setelah pasien menjalani 1-2 sesi terapi. CRT sebaiknya dilakukan
setelah perasat Dix-Hallpike menimbulkan respon abnormal. Pemeriksa dapat
mengidentifikasi adanya kanalithiasis pada kanal anterior atau kanal posterior
dari telinga yang terbawah. Pasien tidak kembali ke posisi duduk namun kepala
pasien dirotasikan tujuan untuk mendorong kanalith keluar dari kanalis
semisirkularis menuju ke utrikulus, tempat dimana kanalith tidak lagi menimbulka
gejala. Bila kanalis posterior kanan yang terlibat maka harus dilakukan tindakan
CRT kanan.perasat ini dimulai pada posisi Dix-Hallpike yang menimbulkan
respon abnormal dengan cara kepala ditahan pada posisi tersebut selama 1-2
menit, kemudian kepala direndahkan dan diputar secara perlahan kekiri dan
dipertahankan selama beberapa saat. Setelah itu badan pasien dimiringkan dengan
kepala tetap dipertahankan pada posisi menghadap kekiri dengan sudut 45 0
sehingga kepala menghadap kebawah melihat lantai. akhirnya pasien kembali
keposisi duduk dengan menghadap kedepan. Setelah terapi ini pasien dilengkapi
dengan menahan leher dan disarankan untuk tidak merunduk, berbaring,
membungkukkan badan selama satu hari. Pasien harus tidur pada posisi duduk
dan harus tidur pada posisi yang sehat untuk 5 hari.
Perasat yang sama juga dapat digunakan pada pasien dengan kanalithiasis
pada kanal anterior kanan. Pada pasien dengan kanalith pada kanal anterior kiri
dan kanal posterior, CRT kiri merupakan metode yang dapat di gunakan yaitu
dimulai dengan kepala menggantung kiri dan membalikan tubuh kekanan sebelum
duduk.

Gambar 1. CRT kanan

Gambar 2. Epley maneuver

Gambar 3. Liberatory kanan


Perasat liberatory, yang dikembangkan oleh semont, juga dibuat untuk
memindahkan otolit ( debris/kotoran) dari kanal semisirkularis. Tipe perasat yang
dilakukan tergantung dari jenis kanal mana yang terlibat. Apakah kanal anterior
atau posterior.
Bila terdapat keterlibatan kanal posterior kanan, dilakukan perasat
liberatory kanan perlu dilakukan. Perasat dimulai dengan penderita diminta untuk
duduk pada meja pemeriksaan dengan kepala diputar menghadap kekiri 450.
pasien yang duduk dengan kepala menghadap kekiri secara cepat dibaringkan ke
sisi kanan dengan kepala menggantung ke bahu kanan. Setelah 1 menit pasien
digerakkan secara cepat ke posisi duduk awal dan untuk ke posisi side lying kiri
dengan kepala menoleh 450 kekiri. Pertahankan penderita dalam posisi ini selama
1 menit dan perlahan-lahan kembali keposisi duduk. Penopang leher kemudian
dikenakan dan diberi instruksi yang sama dengan pasien yang diterapi dengan
CRT.
Bila kanal anterior kanan yang terlibat, perasat yang dilakukan sama ,
namun kepala diputar menghadap kekanan. Bila kanal posterior kiri yang terlibat,
perasat liberatory kiri harus dilakukan (pertama pasien bergerak ke posisi
sidelying kiri kemudian posisi sidelying kanan) dengan kepala menghadap ke
kanan. Bila kanal anterior kiri yang terlibat, perasat liberatory kiri dilakukan
dengan kepala diputar menghadap ke kiri.
Latihan Brandt Daroff merupakan latihan yang dilakukan di rumah oleh
pasien sendiri tanpa bantuan terapis. Pasien melakukan gerakan-gerakan posisi
duduk dengan kepala menoleh 450 , lalu badan dibaringkan ke sisi yang

berlawanan. Posisi ini dipertahankan selama 30 detik. Selanjutnya pasien kembali


ke posisi duduk 30 detik. Setelah itu pasien menolehkan kepalanya 45 0 ke sisi
yang lain, lalu badan dibaringkan ke sisi yang berlawanan selama 30 detik.
Latihan ini dilakukan secara rutin 10-20 kali. 3 seri dalam sehari.

Gambar 4. Latihan Brandt-Daroff


Tindakan bedah hanya dilakukan bila prosedur reposisi kanalit gagal
dilakukan. Terapi ini bukan terapi utama karena terdapat risiko besar terjadinya
komplikasi berupa gangguan pendengaran dan kerusakan nervus fasialis.
Tindakan yang dapat dilakukan berupa oklusi kanalis semisirkularis posterior,
pemotongan nervus vestibuler dan pemberian aminoglikosida transtimpanik.
I. Prognosis
Prognosis setelah dilakukan CRP (canalith repositioning procedure)
biasanya bagus. Remisi dapat terjadi spontan dalam 6 minggu, meskipun beberapa
kasus tidak terjadi. Dengan sekali pengobatan tingkat rekurensi sekitar 10-25%.
CRP/Epley maneuver terbukti efektif dalam mengontrol gejala BPPV dalam
waktu lama.

DAFTAR PUSTAKA
1.
2.
3.
4.

Moore Clinically Oriented Anatomy 5th ed 2007.


Guyton and Hall Textbook of Medical Physiology 12th.
Adam and Victor Principles of Neurology 9th.
Bashiruddin J. Hadjar E, Alviandi W. Gangguan keseimbangan.
Buku ajar ilmu kesehatan telinga, hidung, tenggorok, kepala dan

leher. Edisi ke-6. Jakarta : balai penerbit FKUI; 2009.


5. Bashiruddin J. Vertigo posisi paroksismal jinak. Buku ajar ilmu
kesehatan telinga, hidung, tenggorok, kepala dan leher. Edisi ke6. Jakarta : balai penerbit FKUI; 2009.
6. Swartz, R, Longwell, P. 2005. Treatment of Vertigo in Journal of
American Family Physician.
7. Marril
KA.
Central

Vertigo

[Internet].

http://emedicine.medscape.com/article/794789-clinical#a0217.
8. Labuguen, RH. 2006. Initial Evaluation of Vertigo in Journal
American
Physician January 15, 2006. Volume 73, Number 2.

Family