Anda di halaman 1dari 23

Pengkajian Umum Sistem Endokrin

OLEH :
1.
2.
3.
4.
5.

I Dewa Ayu Adrini Hudyana


Luh Putu Retikawati
Putu Diva Pionita Dewi
Kadek Yulianda Dewi
Ni Nengah Dwi Pratiwi

(P07120213002)
(P07120213007)
(P07120213008)
(P07120213026)
(P07120213035)

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES DENPASAR


JURUSAN KEPERAWATAN DENPASAR
2015

Konsep Dasar Sistem Endokrin


1. Pengertian

Sistem endokrin adalah suatu proses dalam tubuh yang dapat memberikan
rangsangan berupa rangsangan lambat, seperti pertumbuhan sel. Rangsangan yang
cepat seperti pernafasan dan pergerakan tubuh yang dikontrol oleh sistem saraf.
Tetapi dapat diketahui bahwasistem saraf dan sistem endokrin adalah suatu sistem
yang terpisah, tetapi kedua sistem tersebut akan bekerja sama terhadap setiap
rangsangan fungsi tubuh.

Dasar dari sistem endokrin adalah hormin dan kelenjar (glandula), sebagai
senyawa kimia perantara, hormon akan memberikan informasi dan instruksi dari
sel satu ke sel lainnya. Banyak hormon yang berbeda-beda masuk ke aliran darah,
tetapi masing-masing tipe hormon tersebut bekerja dan memberikan pengaruhnya
hanya untuk sel tertentu.
Kelenjar adalah sekelompok sel yang menghasilkan atau mensekresi
senyawa kimia. Senyawa kimia yang dihasilkan oleh kelenjar tersebut akan
melepaskan diri dari darah atau sekresi senyawa kimia untuk dapat memberikan
respon dalam tubuh. Beberapa tipe kelenjar melepaskan senyawa kimia pada
lingkungan yang khusus. Sebagai contoh Exocrine gland (kelenjar eksokrin)
seperti kelenjar rasa manis dan ludah, pelepasannya dalam kulit atau dalam mulut.
Kelenjar endokrin dilain pihak, melepaskan lebih dari 20 jenis hormon yang
dibawa dalam aliran darah, yang dapat memberikan rangsangan dari sel yang satu
ke sel yang lainnya dalam tubuh.
2. Jenis Kelenjar Endokrin
a. Kelenjar Pituitari

Kelenjar pituitari ini dikenal sebagai master of glands (raja dari semua
kelenjar) karena pituitari itu dapat mengkontrol kelenjar endokrin lainnya.
Sekresi hormon dari kelenjar pituitari ini dipengaruhi oleh faktor emosi dan
perubahan iklim. Pituitari dibagi 2 bagian, yaitu anterior dan posterior.
Bagian anterior menghasilkan hormon pertumbuhan, prolaktin, tirotropin,
kortikotropin, endorfin, dan hormon seks. Sedangkan pada bagian posterior
menghasilkan hormon antidiuretik (ADH) dan oksitosin.

Adrenolcorticoid hormone (ACTH)

Prolaktin asi

Tyroid Simulating hormone (TSH)

Gonadotropin
FSH : spermatogenesis dan oogenesis
LH : ovulasi

Somatropin : untuk pertumbuhan tulang

b. Kelenjar Tiroid
Kelenjar tiroid adalah salah satu dari kelenjar endokrin terbesar pada
tubuh manusia. Kelenjar ini dapat ditemui di leher. Kelenjar ini berfungsi
untuk mengatur kecepatan tubuh membakar energi, membuat protein dan
mengatur kesensitifan tubuh terhadap hormon lainnya. Kelenjar tiroid dapat
distimulasi dan menjadi lebih besar oleh epoprostenol. Fungsi tiroid diatur
oleh hormon perangsang tiroid (TSH) hipofisis, dibawah kendali hormon
pelepas tirotropin (TRH) hipotalamus melalui sistem umpan balik hipofisishipotalamus. Faktor utama yang mempengaruhi laju sekresi TRH dan TSH
adalah kadar hormon tiroid yang bersirkulasi dan laju metabolik tubuh.
c. Kelenjar Paratiroid
Ada 2 jenis sel dalam kelejar paratiroid, ada sel utama yang mensekresi
hormon paratiroid (PTH) yang berfungsi sebagai pengendali keseimbangan

kalsium dan fosfat dalam tubuh melalui peningkatan kadar kalsium darah
dan penuurunan kadar fosfat darah dan sel oksifilik yang merupakan tahap
perkembangan sel chief.
d. Adrenalin
e. Pankreas
Kelenjar ini menghasilkan hormon insulin
f. Testis
Menghasilkan hormon testosterone
g. Ovum
Menghasilkan hormon estrogen yang berfungsi untuk menebalkan
dinding rahim dan progesteron yang berfungsi untuk menjaga ketebalan
dinding rahim.
3. Fatofisiologi Umum Gangguan Sistem Endokrin
Untuk memudahkan pengertian kita tentang patofisiologi pada berbagai
kelainan kelenjar endokrin, berikut akan dihantarkan gambaran sepintas tentang
patofisiologi umum gangguan endokrin, mengingat fungsi sistem endokrin yang
kompleks dan rumit mencakup mekanisme kerja hormonal dan adanya
mekanisme umpan balik yang negatif yang sudah barang tentu akan
mempengaruhi perjalanan penyakit. Seperti lazimnya kelainan-kelainan pada
organ tubuh, pada kelenjar endokrin pun berlaku hal yang sama dimana gangguan
fungsi yang terjadi dapat diakibatkan oleh:
Peradangan atau infeksi
Tumor atau keganasan
Degenerasi
Idiopatik
Dampak yang ditimbulkan oleh kondisi patologis diatas terhadap kelenjar
endokrin dapat berupa:
Perubahan bentuk kelenjar tanpa disertai perubahan sekresi hormonal
Peningkatan sekresi hormon yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin
sering diistilahkan dengan hiperfungsi kelenjar.
Penurunan sekresi hormon yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin, dan
diistilahkan dengan hipofungsi kelenjar.
Adanya hubungan timbal balik antara kelenjar hipofise sebagai master of
gland dengan kelenjar targetnya, hipofise terhadap hipotalamus serta jaringan atau

organ sasaran dengan kelenjar target, memungkinkan penyebab dari suatu kasus
dapat lebih dari satu; artinya mungkin saja penyebab ada pada jaringan/organ
sasaran, atau pada kelenjar target, ataupada kelenjar hipofise atau hipotalamus.
Oleh karena itu, untuk tujuan kemudahan dalam penanggulangannya maka dalam
setiap kasus akan di dipaparkan kemungkinan penyebabnya baik yang bersifat
primer, sekunder,atau tertier.
Penyebab yang bersifat primer bila penyebabnya ada pada kelenjar penghasil
hormon itu sendiri. Bersifat sekunder, bila penyebabnya ada pada kelenjar di
atasnya. Bersifat tertier, bila penyebabnya di luar primer dan sekunder seperti
penggunaan obat-obatan tertentu ataupun kelainan pada organ tubuh tertentu yang
dapat mempengaruhi fungsi kelenjar.Seperti bila terjadi peningkatan ACTH
(hormon hipofise) pada serum yang akan menyebabkan hiperfungsi kelenjar
adrenal sehingga terjadi hipersekresi hormon-hormon adrenal maka penyebabnya
disebut sekunder.Disebut penyebab primer bila penyebapnya ada pada kelenjar
adrenal sendiri. Disebut tertier bila penyebabnya diluar kedua penyebab diatas.
Misalnya, pengunaan obat-obatan yang dapat merangsang ACTH atau
merangsang sekresi hormon adrenal. Untuk pemahaman yang lebih baik tentang
patofisiologi berbagai kelainan endokrin, ada dua hal utama yang harus dipahami
dengan baik.Efek dari setiap hormon yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin
terhadap jaringan endokrin dan terhadap jaringan atau organ sasarannya.Fungsi
organ/jaringan sasaran dari setiap hormon.

4. Kelainan Sistem Endokrin


a. Kekurangan tiroksin mengakibatkan badan seseorang menjadi kerdil yang
biasa disebut kretinisme.
b. Kelebihan tiroksin mengakibatkan tangan seseorang menjadi keringetan
dan mata keluar yang biasa disebut basedowi
c. Pada orang dewasa kekurangan hormon tiroksin mengakibatkan gondok

d. Kekurangan

hormon

somatropin

mengakibatkan

kekerdilan

atau

dwarftisme
e. Kelebihan hormon somatropin mengakibatkan gigantisme (raksaksa)
f. Pada orang dewasa mengakibatkan akromegali yaitu penebalan tulang
pipih.

Pengkajian Umum Sistem Endokrin


Dalam melakukan pengkajian keperawatan klien yang diduga atau yang
mengalami gangguan sistem endokrin mungkin akan mengalami kesulitan,
dikarenakan gambaran klinis yang sangat bervariasi. Namun apabila dilakukan
dengan teliti, sistematis, serta memahami dengan baik fisiologi dari setiap hormon
maka kesulitan akan dapat dihindarkan. Informasi dikumpulkan dari klien maupun
dari keluarga tentang riwayat penyakit dan kesehatan yang akan menjadi dasar

pemeriksaan fisik dan perencanaan keperawatan. Perawat mengidentifikasi


respons klien terhadap perubahan yang aktual serta mendiskusikan kemungkinan
tindakan diagnostik dan rencana pengobatan. Penggabungan data fisik,
psikososial, dan diagnostik sebagai pengkajian yang komprehensif.
Pengkajian sistem endokrin bersifat menyeluruh terhadap semua sistem
tubuh, karena efek hormon bekerja secara sistemik. Pengkajian pada sistem
endokrin meliputi data biografi, riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan diagnostik. Pengkajian keperawatan merupakan bagian yang sangat
penting untuk dapat mengidentifikasi penyakit dan menentukan diagnosa
keperawatan yang selanjutnya merencanakan intervensi keperawatan.
A. Data Biografi
Data biografi yang penting dalam kaitannya dengan sistem endokrin yang
merupakan data dasar, diantaranya umur pasien, jenis kelamin, hal ini berkaitan
dengan menentukan jenis penyakit tertentu misalnya seperti pada diabetes melitus
tipe I atau II, dan data dari lainnya seperti nama, alamat, suku bangsa, nomor
register.
a. Identitas klien
Identitas klien meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, status, suku
bangsa, bahasa, pendidikan, pekerjaan, dan alamat.
b. Identitas penanggung jawab
Identitas penanggung jawab meliputi nama, umur, pendidikan,
pekerjaan, alamat, dan hubungan dengan pasien.
B. Riwayat Kesehatan
1. Keluhan utama
Keluhan utama yang terjadi pada pasien dengan gangguan sistem
endokrin terdiri dari keluhan utama nonspesifik dan keluhan utama
spesifik.
a. Keluhan utama nonspesifik, yaitu terjadi lesu dan depresi, perubahan
kesadaran, penurunan energi, gangguan pola tidur, perubahan BB,
perubahan mood dan afek, perubahan kulit dan rambut, perubahan
penampilan umum, disfungsi seksual.
b. Keluhan utama spesifik, yaitu terjadi perubahan status mental,
perubahan tanda-tanda vital, palpitasi, tremor, letih, lemah, perubahan

nafsu makan, berat badan turun, polidifsia dan polifagia, perubahan


status bowel, abnormalitas organ seksual dan libido, perubahan
penampilan, hiperfungsi adrenokortikal, abnormailtas pertumbuhan,
perubahan

kulit

dan

jaringan

(vitiligo,

miksudema),

rambut

(hirsutisme), mata (eksoptalmus), masalah tulang dan sendi, kolik


renal dan batu, tetani, paresthesia dan kram otot.
2. Riwayat penyakit sekarang
Perawat memfokuskan pertanyaan pada hal-hal yang menyebabkan
klien meminta bantuan pelayanan seperti menanyakan persepsi pasien
tentang penyakitnya, mulai kapan tanda dan gejala muncul, jika ada nyeri
bagaimana karakteristik nyerinya, penyebarannya, upaya yang sudah
dilakukan untuk mengatasi penyakitnya.
Riwayat kesehatan sekarang dapat ditanyakan dengan menggunakan
metode PQRST:
a. Provokatif, Paliatif (apa yang memperberat dan apa yang
memperingan gejala), perawat bisa menanyakan hal-hal apa saja
yang

bisa

memperberat

gejala,

dan

hal-hal

yang

memperingan gejala.
b. Quality, Quantity (karakteristik keluhan dan jumlah).
c. Region, Radiasi, misalnya perawat menanyakan

bisa

dimana

lokasi/letak dari rasa nyeri yang dialami klien? Apakah nyeri


yang dirasakan menyebar ke tempat lain? Apakah mengganggu
dalam aktivitas sehari-hari?
d. Scale, contohnya menanyakan berapa skala nyeri yang dialami
oleh klien?. Skala nyeri ini juga dapat dibuat rentang tersendiri
oleh perawat yang mengkaji keluhan nyeri.
e. Time, misalnya perawat menanyakan kapan keluhan nyeri
dirasakan oleh klien. Apakah pagi hari, siang hari, ataukah
malam hari.
3. Riwayat penyakit yang pernah dialami dan riwayat keperawatan klien
Perawat perlu mencatat riwayat penyakit yang pernah dialami oleh
pasien selain yang dialami sekarang, seperti adakah penyakit hipertensi,
riwayat penyakit diabetes melitus, hipertiroid, hipotiroid, penyakit jantung.
Pengobatan yang telah diberikan, serta pembedahan yang pernah dialami.

a. Tanda-tanda seks sekunder yang tidak berkembang, misalnya


amenore, bulu rambut tidak tumbuh, buah dada tidak berkembang
dan lain-lain.
b. Berat badan yang tidak sesuai dengan usia, misalnya selalu kurus
meskipun banyak makan dan lain-lain.
c. Gangguan psikologis seperti mudah marah, sensiif, sulit bergaul dan
tidak mampu berkonsentrasi, dan lain-lain.
d. Hospitalisasi, perlu dikaji alasan hospitalisasi

dan

kapan

kejadiannya. Bila klien dirawat beberapa kali, urutkan sesuai dengan


waktu kejadiannya.
e. Selain itu perlu juga memperoleh informasi tentang penggunaan
obat-obatan di saat sekarang dan masa lalu. Penggunaan obat-obatan
ini mencakup obat yang diperoleh dari dokter atau petugas kesehatan
maupun obat-obatan yang diperoleh secara bebas. Jenis obat-obatan
yang mengandung hormon atau yang dapat merangsang aktivitas
hormonal seperti hidrokortison, levothyroxine, kontrasepsi oral, dan
obat-obatan anti hipertensif.
4. Riwayat kesehatan keluarga dan resiko genetik
Mengkaji kemungkinan adanya anggota keluarga yang mengalami
gangguan seperti yang dialami klien atau ganguan tertentu yang
berhubungan secara langsung dengan gangguan hormonal. Tanyakan
tentang

riwayat

obesitas

keluarga,

gangguan

pertumbuhan

dan

perkembangan, diabetes, infertilitas, penyakit tiroid, adakah penyakit


herediter hemokromatosis, dan riwayat penyakit addison.
Dalam mengidentifikasi informasi ini, tentunya perawat harus sudah
dapat menerjemahkan informasi yang ingin diketahui dengan bahasa yang
sederhana dan dimengerti oleh klien/keluarga. Pada pengkajian riwayat
kesehatan keluarga, harus disertai dengan genogram.
5. Riwayat diit
Perubahan status nutrisi atau gangguan pada saluran pencernaan
dapat saja mencerminkan gangguan endokrin tertentu atau pola dan

kebiasaan makan yang salah dapat menjadi faktor penyebab, oleh karena
itu kondisi berikut ini perlu di kaji:
a.
b.
c.
d.
e.

Adanya nausea, muntah, dan nyeri abdomen.


Penurunan atau penambahan berat badan yang drastis.
Selera makan yang menurun atau bahkan berlebihan.
Pola makan dan minum sehari-hari.
Kebiasaan mengkonsumsi makanan yang dapat mengganggu
fungsi endokrin seperti makanan yang bersifat goitrogenik
terhadap kelenjar tiroid.

6. Status sosial ekonomi


Karena status sosial ekonomi nerupakan aspek yang sangat peka bagi
banyak orang maka hendaknya dalam mengidentifikasi kondisi ini perawat
melakukannya bersama-sama dengan klien. Menghindarkan pertanyaan
yang mengarah pada jumlah atau nilai pendapatan melainkan lebih di
fokuskan pada kualitas pengelolaan suatu nilai tertentu. Mendiskusikan
bersama-sama bagaiman klien dan keluarganya memperoleh makanan
yang sehat dan bergizi, upaya mendapatkan pengobatan bila klien dan
keluarganya sakit dan upaya mempertahankan kesehatan klien dan
keluarga tetap optimal dapat mengungkapkan keadaan sosial ekonomi
klien dan menyimpulkan bersama-sama merupakan upaya untuk
mengurangi kesalahan penafsiran.
7. Pengkajian psikososial dan gaya hidup
Dilakukan dengan mengkaji toleransi klien terhadap stres dan pola
koping, stressor di rumah atau tempat kerja, kesempatan istirahat dan
rekreasi, hubungan dengan keluarga, support system, kerja sama keluarga
dalam perawatan, kebiasan seperti merokok, latihan, diet, dan pola tidur.
Perawat juga mengkaji keterampilan koping, dukungan keluarga,
teman dan handai taulan serta bagaimana keyakinan klien tentang sehat
dan sakit. Sejumlah gangguan endokrin yang serius mempengaruhi
persepsi klien terhadap dirinya sendiri oleh karena perubahan-perubahan
yang menyangkut perubahan fisik, fungsi seksual, reproduksi, dan lainlain yang mempengaruhi konsep dirinya. Kemampuan klien dan keluarga

dalam memberi perawatan di rumah termasuk penggunaan obat-obatan


yang biasanya dapat berlangsung lama perlu dikaji.
C. Pola Fungsi Kesehatan
1. Pola pemenuhan nutrisi
Pengkajian pola pemenuhan nutrisi pada pasien dengan gangguan system
endokrin adalah sebagai berikut :
a. Mengkaji tinggi badan dan berat badan, kemudian bandingkan dengan
berat badan ideal pasien
b. Kaji adanya perubahan pola makan pada pasien, meliputi jumlah
maupun jenis makanannya serta adanya perubahan nafsu makan
c. Kaji keadaaan rambut, distribusinya, keadaan kulit (khususnya pada
wajah, leher, tangan)
d. Perhatikan adanya tanda-tanda malnutrisi
2. Pola eliminasi
Pada pola eliminasi, kajilah frekuensi BAK, BAB apakah ada perubahan
frekuensi lebih dari normal seperti BAK sering pada malam hari, kesulitan
dalam BAB dan BAK, penggunaan laksativ untuk membantu BAB
3. Pola aktivitas dan latihan
Hal penting yang dikaji pada pola aktivitas dan latihan adalah aktivitas
yang bisa dilakukan sehari-hari oleh pasien, adanya program khusus
latihan, bagaimana pola olahraga, adanya kesulitan atau gangguan
aktivitas seperti mudah lelah atau letih saat beraktivitas.
4. Pola istirahat dan tidur
Pada pola istirahat dan tidur, bebeapa hal yang dikaji pada pasien adalah
waktu tidur dalam sehari, pola tidur, adanya gangguan pola tidur, tandatanda kurang tidur, dan pemberian obat-obatan untuk mengatasi gangguan
tidur
5. Pola kognitif persepsi sensori
Hal yang perlu dikaji adalah gangguan memori, orientasi, dan intelektual
6. Pola konsep diri
a. Gambaran diri: sikap seseorang terhadap tubuhnya secara sadar dan
tidak sadar

b. Identitas diri: ciri-ciri atau keadaan seseorang yang berbeda dengan


orang lain
c. Peran diri: sikap dan perilaku nilai serta tujuan yang diharapkan dari
seseorang berdasarkan posisinya di masyarakat.
d. Ideal diri: persepsi individu tentang bagaimana dirinya harus
berperilaku dan bertindak berdasarkan standar, aspirasi, tujuan atau
penilaian personal tertentu.
e. Harga diri: pandangan keseluruhan dari individu tentang dirinya.
7. Pola peran-hubungan:
Mengkaji bagaimana hubungan sosial klien dengan keluarga ataupun
lingkungan sekitarnya.
8. Pola seksualitas
Pengkajian pada pola seksualitas meliputi apakah pasien sudah menikah
atau mempunyai anak, pola hubungan seksual, adanya perubahan hasrat
seksual, perubahan menstruasi.
9. Pola mekanisme koping
Kaji stressor yang ada pada pasien, bagaimana pasien mengatasi stressor
yang ada, dan system pendukung yang dilakukan.
10. Pola nilai dan kepercayaan:
Menanyakan nilai dan kepercayaan yang dianut oleh klien, dan kebiasaan
klien dalam hal mendekatkan diri kepada sang pencipta.
D. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan dengan tehnik inspeksi, palpasi, auskultasi
untuk mendapatkan data objektif. Pemeriksaan fisik pada sistem endokrin
bersifat menyeluruh, namun manifestasi klinik akan sangat membantu dalam
memfokuskan pemeriksaan fisik.
Inspeksi
Disfungsi sistem endokrin akan menyebabkan perubahan fisik sebagai
dampaknya terhadap pertumbuhan dan perkembangan, keseimbangan cairan
dan elektrolit, seks dan reproduksi, metabolisme dan energi. Berbagai

perubahan fisik dapat berhubungan dengan satu atau lebih gangguan endokrin,
oleh karena itu dalam melakukan pemeriksaan fisik, perawat tetap
berpedoman pada pengkajian yang komprehensif dengan penekanan pada
gangguan hormonal tertentu dan dampaknya terhadap jaringan sasaran dan
tubuh secara keseluruhan. Jadi menggunakan pendekatan head-to-toe saja atau
menggabungkannya

dengan

pendekatan

sistem,

kedua-duanya

dapat

digunakan.
Pertama-tama, amatilah penampilan umum klien apakah tampak
kelemahan berat, sedang, dan ringan, serta sekaligus amati bentuk dan
proporsi tubuh. Pada pemeriksaan wajah, fokuskan pada abnormalitas struktur
bentuk dan ekspresi wajah seperti bentuk dahi, rahang dan bibir. Pada mata
amati adanya edema periorbita dan exoptalmus serta apakah ekspresi wajah
datar atau tumpul. Amati lidah klien terhadap kelainan bentuk dan penebalan,
ada tidaknya tremor pada saat diam atau bila digerakkan. Kondisi ini biasanya
terjadi pada gangguan tiroid.
Di daerah leher, amati bentuk leher, apakan leher tampak membesar,
simetris atau tidak. Pembesaran leher dapat disebabkan pembesaran kelenjar
tiroid dan untuk meyakinkannya perlu dilakukan palpasi. Distensi atau
bendungan pada vena jugularis dapat mengindikasikan kelebihan cairan atau
kegagalan jantung. Amati warna kulit (hiperpigmentasi atau hipopigmentasi)
pada leher, apakah merata dan catat lokasinya dengan jelas bila dijumpai
kelainan pada kulit leher lanjutkan dengan memeriksa lokasi yang lain di
tubuh sekaligus. Infeksi jamur, penyembuhan yang lama, bersisik, dan
ptechiae lebih sering dijumpai pada klien dengan hiperfungsi adrenokortikal.
Hiperpigmentasi pada jari, siku dan lutut dijumpai pada klien hipofungsi
kelenjar adrenal. Vitiligo atau hipopigmentasi pada kulit tampak pada
hipofungsi kelenjar adrenal sebagai akibat destruksi melanosit di kulit oleh
proses autoimun. Hipopigmentasi biasa terjadi di wajah, leher, dan
ekstremitas. Penumpukan masa otot yang berlebihan pada leher bagian
belakang yang biasa disebut bufflow neck atau leher/punuk kerbau dan terus
sampai daerah klavikula sehingga klien tampak seperti bungkuk, terjadi pada
klien hiperfungsi adrenokortikal. Amati bentuk dan ukuran dada, pergerakan
dan simetris tidaknya.

Ketidakseimbangan

hormonal

khususnya

hormon

seks

akan

menyebabkan perubahan tanda seks sekunder, oleh sebab itu amati keadaan
rambut aksila dan dada. Pertumbuhan rambut yang berlebihan pada dada dan
wajah wanita disebut hirsutisme. Pada buah dada amati bentuk dan ukuran,
simetris tidaknya, pigmentasi dan adanya pengeluaran cairan. Striae pada buah
dada atau abdomen sering dijumpai pada hiperfungsi adrenokortikal. Bentuk
abdomen cembung akibat penumpukan lemak centripetal dijumpai pada
hiperfungsi adrenokortikal. Pada pemeriksaan genitalia, amati kondisi skrotum
dan penis juga klitoris dan labia terhadap kelainan bentuk.
Palpasi
Kelenjar tiroid dan testes, dua kelenjar yang dapat diperiksa melalui
rabaan. Pada kondisi normal, kelenjar tiroid tidak teraba namun isthmus dapat
diraba dengan mengadakan kepala klien. Lakukan palpasi kelenjar tiroid
perlobus dan kaji ukuran, nodul tunggal atau multipel, apakah ada rasa nyeri
pada saat dipalpasi. Pada saat dilakukan pemriksaan, klien duduk atau berdiri
sama saja namun untuk menghindari kelelahan klien sebaiknya posisi duduk.
Untuk hasil yang lebih baik, dalam melakukan palapasi pemeriksaan berada
dibelakang klien dengan posisi kedua ibu jari perawat dibagian belakang leher
dan keempat jari-jari lain ada diatas kelenjar tiroid.
Palpasi testes dilakukan denganm posisi tidur dan tangan perawat harus
dalam keadaan hangat. Perawat memegang lembut dengan ibu jari dan dua jari
lain, bandingkan yang satu dengan yang lainnya terhadap ukuran atau
besarnya simetris tidaknya, konsistensi dan ada tidaknya nodul. Normalnya
testes teraba lembut, peka terhadap sinar dan kenyal seperti karet.
Auskultasi
Mendengar

bunyi

tertentu

dengan

bantuan

stetoskop

dapat

menggambarkan berbagai perubahan dalam tubuh. Auskultasi pada daerah


leher, diatas kelenjar tiroid dapat mengidentifikasi bruit. Bruit adalah bunyi
yang dihasilkan oleh karena turbulensi pada pembuluh darah tiroidea. Dalam
keadaan normal, bunyi ini tidak terdengar. Dapat diidentifikasi bila terjadi
peningkatan sirkulasi darah ke kelenjar tiroid sebagai dampak peningkatan
aktivitas kelenjar tiroid.

Auskultasi dapat pula dilakukan untuk menidentifikasi perubahan pada


pembuluh darah dan jantung seperti tekanan darah, ritme dan rate jantung
yang dapat menggambarkan gangguan keseimbangan cairan, perangsangan
katekolamin dan perubahan metabolisme tubuh.
Selain dengan tehnik di atas, pemeriksaan fisik juga dilakukan dengan
memeriksa keadaan fisik klien dengan cara head-to-toe:
a. Tanda vital seperti pernapasan, suhu, tekanan darah dan nadi. Adanya
perubahan tanda vital sering terjadi misalnya pada pasien dengan
hipertiroid, hipotiroid yang berakibat pada perubahan kardiovaskuler
sehingga dapat terjadi bradikardi, takhikardi. Peningkatan suhu tubuh dan
penurunan suhu tubuh dapat terjadi pada peningkatan atau penurunan
metabolisme tubuh pada pasien dengan gangguan tiroid. Tekanan darah
dapat menurun atau meningkat.
b. Kulit, perubahan warna kulit seperti kemerahan, ekimosis, sianosis, striae.
Observasi

rambut,

distribusinya

dan

teksturnya.

Inpeksi

warna,

pigmentasi, striae, ekimosis. Adakah kemerahan, sianosis, kekuningan,


hematoma. Palpasi tekstur dan keadaan keringat.
1) Hiperpigmentasi pada persendian, genetalia ditemukan pada
penyakit addison. Hal ini dikarenakan kekurangan adrenokartikal
kronik menyebabkan kelebihan pigmen pada kulit. Pigmentasi abuabu kecoklatan di leher dan ketiak ditemukan pada pasien dengan
cushing syndrome. Pigmentasi kuning pada palmar dapat
mengindikasikan penyakit hiperlipidemia. Penurunan pigmentasi
kulit dapat terjadi pada panhipopituitari. Keadaan kulit yang
kering, keras dan bersisik menjadi indikasi pada hipotiroid.
2) Kulit hangat, lembab, tipis dapat ditemukan pada hipertiroid.
3) Striae keunguan dan ekimosis dapat ditemukan pada cushing
syndrome.
4) Edema, dapat terjadi pada hipotiroid (myxedema).
5) Penyembuhan luka yang lama, indikasi penyakit diabetes melitus.
6) Pertumbuhan yang terlambat atau cepat, terjadi pada kekurangan
atau kelebihan growth hormone.
7) Perubahan distribusi rambut, jumlah, tekstur, dapat terjadi pada
pasien dengan gangguan tiroid.

c. Kepala : kesimetrisan, proporsi dengan anggota tubuh yang lain, bentuk


dan ukuran, ekspresi wajah pada kecemasan. Pada gangguan hormon
pituitari dapat ditemukan pembesaran ukuran kepala, pembesaran rahang
dan pertumbuhan gigi tidak rata. Perubahan bentuk yang terjadi adalah
penurunan ukuran bibir dan hidung, penonjolan supraorbital.
d. Mata : kaji ketajaman penglihatan, kesimetrisan, posisi, edema pada mata,
pergerakan bola mata.
1) Kebutaan, misalnya pada penyakit DM.
2) Mata yang melotot keluar (exopthalmos), karakteristik dari hipertiroid.
e. Leher : adakah pembesaran, simetris atau tidak, adakah gangguan menelan
dan bicara. Lakukan pemeriksaan kelenjar tiroid.
f. Thoraks : pada laki-laki adakah pembesaran mamae, pada perempuan
payudara kecil. Auskultasi bunyi paru dan jantung.
1) Atropi payudara pada wanita terjadi pada hipopituitari
2) Ginekomastia dapat ditemukan
3) Perubahan tanda vital, misalnya hipertensi dapat terjadi pada tumor
adrenal, menurunkannya sekresi ADH.
4) Meningkatnya nadi dan denyut jantung, misalnya pada pasien dengan
hipertiroid.
g. Abdomen, dapat ditemukan:
1) Pembesaran hati, limpa.
2) Peristaltik usus menurun pada hipotiroid.
3) Perubahan pola eliminasi bowel seperti diare, misalnya pada pasien
hipertiroid, konstipasi sering terjadi pada hipotiroid.
4) Rasa haus dan makan yang berlebihan, karakteristik penyakit DM.
h. Genitalia, adanya atropi pada laki-laki merupakan indikasi hipopituitari.
1) Frekuensi urin yang berlebihan (poliuria), indikasi pada pasien DM.
2) Adanya batu ginjal, indikasi pada hiperparatiroid.
3) Perubahan siklus menstruasi, penurunan libido, impoten merupakan
indikasi gangguan pada hormon gonadotropin.
i. Ekstremitas, kaji bentuk, ukuran, kesimetrisan, kekuatan otot, ROM.
Dapat ditemukan adanya kelemahan tonus otot, nyeri sendi saat
digerakkan, pembesaran tangan dan kaki, trunkei obesitas (badan besar
ekstremitas kecil).
E. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan diagnostik merupakan hal penting dalam perawatan klien di
rumah sakit. Tidak dapat dipisahkan dari rangkaian pengobatan dan
perawatan. Validitas dari hasil pemeriksaan diagnostik sangat ditentukan oleh

bahan pemeriksaan, persiapan klien, alat dan bahan yang digunakan serta
pemeriksaannya sendiri. Dua hal pertama menjadi tugas dan tanggung jawab
perawat. Oleh karena itu pemahaman perawat terhadap berbagai pemeriksaan
diagnostik yang dilakukan pada klien sangatlah menentukan keberhasilannya.
Begitu halnya pada klien yang diduga atau yang menderita gangguan sistem
endokrin, pemahaman perawat yang lebih baik tentang berbagai prosedur
diagnostik yang lazim sangatlah diharapkan.
1. Pemeriksaan diagnostik pada kelenjar hipofise
a. Foto tengkorak (cranium)
Dilakukan untuk melihat kondisi sella tursika. Dapat terjadi tumor
atau juga atropi. Tidak dibutuhkan persiapan fisik secara khusus, namun
pendidikan kesehatan tentang tujuan dan prosedur sangatlah penting.
b. Foto tulang (osteo)
Dilakukan untuk melihat kondisi tulang. Poada klien dengan
giganisme akan dijumpai ukuran tulang yang bertambah besar dari
ukuran maupun panjangnya. Pada akromegali akan dijumpai tulangtulang perifer yang bertambah ukurannya ke samping. Persiapan fisik
secara khusus tidak ada, pendidikan kesehatan diperlukan.
c. CT scan otak
Dilakukan untuk melihat kemungkinan adanya tumor pada hipofise
atau hipotalamus melalui komputerisasi. Tidak ada persiapan fisik secara
khusus, namun diperlukan penjelasan agar klien dapat diam tidak
bergerak selama prosedur.
d. Pemeriksaan darah dan urine
1) Kadar Growth Hormon
Nilai normal 10 g ml baik pada anak dan orang dewasa. Pada
bayi di bulan-bulan pertama kelahiran nilai ini meningkat kadarnya.
Spesimen adalah darah vena lebih kurang 5cc.
2) Kadar Tiroid Stimulating Hormon (TSH)
Nilai normal 6-10 g/ml. dilakukan untuk menentukan apakah
gangguan tiroid bersifat primer atau sekunder. Dilakukan darah lebih
kurang 5 cc.
3) Kadar Adenokartiko Tropik (ACTH)

Pengukuran dilakukan dengan test supresi deksametason.


Spesimen yang diperlukan adalah darah vena lebih kurang 5 cc dan
urine 24 jam. Hasil normal bila:
ACTH menurun kadarnya dalam darah. Kortisol darah kurang
dari 5 ml/dl.
17-Hydroxi-Cortiko-Steroid (17-OHCS) dalam urine 24 jam
kurang dari 2,5 mg.
2. Pemeriksaan diagnostik pada kelenjar tiroid
a. Up take Radioaktif (RAI)
Tujuan pemeriksaan adalah untuk mengukur kemampuan
kelenjar tiroid dalam menangkap iodida.
1) Normal: 10-35%
2) Kurang dari: 10% disebut menurun, dapat terjadi pada
hipotiroidisme
3) Lebih dari: 35% disebut meninggi, dapat terjadi pada
tirotoxikosis atau pada defisiensi iodium yang sudah lama
dan pada pengobatan lama hipertiroidisme.
b. T3 dan T4 serum
Persiapan fisik secara khuus tidak ada. Spesimen yang
dibutuhkan adalah darah vena sebanyak 5-10 cc.
1) Nilai normal pada orang dewasa:
Jodium bebas: 0,1-0,6 mg/dl
T4 6-12 mg/dl
2) Nilai normal pada bayi/anak
T3 : 180-240 mg/dl
c. Up take T3 Resin
Bertujuan mengukuran jumlah hormone tiroid (T3) atau tiroid
binding globulin (TBG) tak jenuh. Bila TBG naik berarti hormone
tiroid bebas meningkat. Peningkatan TBG terjadi pada hipertiroidisme
dan menurun pada hipotiroidisme. Dibutukan specimen darah vena
sebanyak 5 cc. Klien puasa selama 6-8 jam.
Nilai normal pada :
Dewasa : 25-35% uptake oleh resin
Anak : pada umumnya tidak ada
d. Protein Bound Iodine (PBI)

Bertujuan mengukur jodium yang terikat dengan protein plasma.


Nilai normal 4-8 mg% dalam 100 ml darah. Specimen yang
dibutuhkan darah vena sebanyak 5-10 cc. Klien dipuasakan sebelum
pemeriksaan 6-8 jam.
e. Laju Metabolisme Basal (BMR)
Bertujuan untuk mengukur secara tidak langsung jumlah oksigen
yang dibutuhkan tubuh dibawah kondisi basal selama beberapa waktu.
f. Scanning Tyroid
Dapat digunakan beberapa teknik antara lain :
Radio lodine scanning. Digunakan untuk menentukan apakah nodul
tiroid tunggal atau majemuk dan apakah panas atau dingin (berfungsi
atau tidak berfungsi). Nodul panas menyebabkan hipersekresi jarang
bersifat ganas. Sedangkan nodul dingin nodul dingin (20%) adalah
ganas.
Up take lodine. Digunakan untuk menentukan pengambilan jodium
dari plasma. Nilai normal 10 s/d 30% dalam 24 jam.
3. Pemeriksaan diagnostik pada kelenjar paratiroid
a. Percobaan Sulkowitch
Dilakukan untuk memeriksa perubahan jumlah kalsium dalam
urine, sehingga dapat diketahui aktivitas kelenjar paratiroid. Percobaan
dilakukan dengan menggunakan reangens sulkowitch bila pada
percobaan tidak terdapat endapan maka kadar kalsium plasma
diperkirakan antara 5 mg/dl. Endapan sedikit (fine white cloud)
menunjukkan kadar kalsium darah normal (6 ml/dl). Bila endapan
banyak, kadar kalsium tinggi.
Pembacaan hasil secara kwantitatif:

Negative (-): tidak terjadi kekeruhan


Positif (+): terjadi kekeruhan haslus
Positif (+ +): kekeruhan sedang
Positif (+ + +): kekeruhan banyak timbul dalam waktu

kurang dari 20 detik


Positif (+ + + +): kekurangan hebat terjadi seketika
b. Percobaan Elworth-Howard
Percobaan didasarkan pada diuresis posfor yang dipengaruhi oleh
parathormon.

c. Percobaan Kalsium intravena


Percobaan ini didasarkan pada anggapan bahwa bertambahnya
kadar serum kalsium akan menekan pembentukan parathormon.
Normal bila pospor serum dan pospor diuresis berkurang. Pada
hiperparatiroid, pospor serum dan pospor diuresis tidak banyak
berubah. Pada hipoparatiroid, pospor serum hampir tidak mengalami
perubahan tetapi pospor diuresis meningkat.
d. Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat kemungkinan adanya
klasifikasi tulang, penipisan, dan osteoporosis. Pada hipotiroid, dapat
dijumpai klasifikasi bilateral pada dasar tengkorak. Densitas tulang
bisa normal atau meningkat. Pada hipertiroid, tulang menipis,
terbentuk kista dalam tulang serta tuberculae pada tulang.
e. Pemeriksaan Electrocardiogram (ECG)
Pemeriksaan ini bertujuan untuk menidentifikasi kelainan
gambaran EKG akibat perubahan kadar kalsium serum terhadap otot
jantung. Pada hiperparatiroid, akan dijumpai gelombang Q-T yang
memanjang sedangkan pada hiperparatiroid interval Q-T mungkin
normal.
f. Pemeriksaan Elektromiogram (EMG)
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan
kontraksi otot akibat perubahan kadar kalsium.
4. Pemeriksaan fungsi korteks adrenal
a. Pemeriksaan hematologi
1) Kadar kortisol, pengukuran dilakukan pada saat tertentu misalnya
pada pagi atau sore hari, untuk menilai fungsi kortek adrenal.
Kadar kortisol meningkat pada pagi hari antara jam 6.00 8.00 dan
menurun pada malam hari. Nilai normal pada jam 8.00 : 5-23
g/dl pada jam 16.00 : 3-13

g/dl.

2) Aldosteron, untuk mendiagnosa hiperadosteronisme, banyak faktor


yang memeperngaruhi kadar aldesteron yaitu intake potassium,

pembatasan sodium dan posisi berdiri atau berbaring/terlentang


serta kehamilan, nilai normal posisi terlentang _ 3-10 ng/dl dan
posisi berdiri, duduk lebih dari 2 jam : 50 ng/dl.
3) Serum ACTH, untuk mengetahui fungsi pituitari anterior. Nilai
normal pada pagi hari kurang dari 80 pg/ml dan sore hari kurang
dari 50 pg/ml.
4) Serum renin assay, untuk membantu mendiagnosa adanya
hiperaldosteronisme primer atau sekunder. Pemeriksaan ini untuk
mengukur renin yang diproduksi di apparatus juxtaglomerulus
sebagai respon menurunnya aliran darah ke ginjal. Nilai normal
dengan pembatasan sodium usia 20-30 tahun ; 2,9 24 ng/dl/jam,
usia lebih dari 40 tahun : 2,9-10,8 ng/ml/jam. Pada diet normal
sodium nilsi normal pada usia 20-30 tahun : 0,1-4,3 ng/ml/jam dan
usia lebih dari 40 tahun : 0,1-3 ng/ml/jam.
b. Pemeriksaan urin
1) Pemeriksaan aldosteron urin, nilai normal 2-26 pg/24 jam
2) Pemeriksaan kortisol urin, mengukur kadar kortisol dan fungsi
korteks adrenal. Kadar kortisol dan fungsi stress, aktivitas dan
obat-obatan. Nilai normal : <100

g/ 24 jam.

3) 17 hidroksi kortikosteroid (17-OHCS), mengukur metabolisme


kortisol (17-OHCS) pada 24 jam. Nilai normal pada laki-laki : 3-10
mg/24 jam, wanita : 2-8 mg/dl
4) 17 - Ketosteroid, untuk mengukur fungsi kortek adrenal, khususnya
berhubungan dengan fungsi androgen.
5. Pemeriksaan fungsi medulla adrenal
Pemeriksaan darah: peningkatan serum katekolamin, pengukuran
hormon metanepharine. Pemeriksaan uin asam vanillylmandelic, unuk
mengukur hasil metabolisme katekolamin yang dilakukan melalui urin.
Test supresi klonidin (Catapres), yaitu dengan memberikan obat dosis
tunggal klonidin per oral. Normal apabila setelah 2 samapi 3 jam terjadi
penurunan kadar total katekolamin plasma sedikitnya 40%.
6. Pemeriksaan fungsi hormon pankreas
a. Pemeriksaan hematologi
1) Pemeriksaan gula adarah puasa atau fasting Blood Sugar (FBS),
untuk menentukan jumlah glukosa darah pada saat puasa. Pasien

tidak makan selama 12 jam sebelum test biasanya jam 08.00 pagi
samapi 20.00, minum boleh. Nilai normal : 80-120 mg/100ml
serum
2) Pemeriksaan gula darah postprandial, untuk menentukan kadar
gula darah sesuah makan. Pasien diberi makan kira-kira 100 gr
karbohidrat, dua jam kemudian diambil darah venanya. Nilai
normal : kurang dari 120 mg/100 ml serum.
3) Pemeriksaan toleransi glukosa oral/Oral glukosa tolerance test
(TTGO), pemriksaan ini bertujuan menentukan toleransi tehadapa
respons pemberian glukosa. Pasien tidak makan 12 jam sebelum
test dan selama test, boleh minum air putih, tidak merokok, ngopi
atau minum teh selama pemriksaan (untuk mengukur respon
tubuhh tehadap karbohidrat), sedikit aktivitas, kurangi stress
9keadaan banyak aktivitas dan stres menstruasi epinefrin dan
kortisol dan berpengaruh tehadap peningkatan gula darah melalui
peningkatan glukoneogenesis. Normal puncaknya jam pertama
setelah pemberian 140 mg/dl dan kembali normal 2 atau 3 jam
kemudian.
4) Essei hemoglobin glikolisat, test ini mengukur prosentasi glukosa
yang melekat pada hemoglobin. Pada pasien DM tejadi
peningkatan (N:5-6 %)
5) Pemeriksaan kolesterol dan kadar serum trigliserida, dapat
meningkat karena ketidakadekuatan kontrol glikemik.
b. Pemeriksaan glukosa urin
1) Pemeriksaan ini kurang akurat karena hasil pemeriksaan ini banyak
dipengaruhi oleh berbagai hal misalnya karena obat-obatan seperti
aspirin, vitamin C dan beberapa antibiotik, adanya kelainan ginjal
dan pada lansia dimana ambang ginjal meningkat. Adanya
glukosuria menunjukkan bahwa ambang ginjal tehadap glukosa
teganggu.
2) Pemeriksaan ketone urin
3) Badan keton merupakan produk sampingan proses pemecahan
lemak, dan ini akan menumpuk pada darah dan urine. Jumlah keton
yang besar pada urin akan merubah pereaksi pada strip menjadi
keunguan. Adanya ketonuria menunjukan adanya ketoasidosis.

Daftar Pustaka
Almubarok, M.F. 2010. Anatomi dan Fisiologi Sistem Endokrin. Available on :
http://www.scribd.com/doc/185045344/Anatomi-Dan-Fisiologi-SistemEndokrin#scribd. Diakses tanggal 4 Maret 2015
Aulia, B. 2009. Dasar Fisiologi Sistem Endokrin. Available on :
staff.unila.ac.id/gnugroho/files/.../Dasar-Fisiologi.pdf. Diakses tanggal 4
Maret 2015
Dewi, M. 2010. Sistem Endokrin. Available on :
http://blogs.unpad.ac.id/endocrine08/. Diakses tanggal 4 Maret 2015
Elena, M. 2009. Sistem Endokrin. Available on :
https://elearning.gunadarma.ac.id/.../bab12_sistemendogrin.pdf. Diakses
tanggal 4 Maret 2015
Fuadji, A. 2013. Pengkajian Umum Sistem Endokrin. Available on :
https://repository.binus.ac.id/content/L0044/L004449353.pdf. Diakses
tanggal 4 Maret 2015