Anda di halaman 1dari 7

ASUHAN KEPERAWATAN TENTANG

EFUSI PLEURA

Disusun Oleh :

PROGAM D III BERLANJUT D IV KEPERAWATAN


POLITEKNIK KESEHATAN SURAKARTA
TAHUN AJARAN 2013 / 2014

EFUSI PLEURA
A. Pengertian
1. Efusi pleura adalah penumpukan cairan rongga pleura (seymour I
Schwartz, 2000).
2. Efusi pleura adalah terkumpulnya cairan abnormal dalam kavum pleural
(Arif Mansjoer, ed. 1999).
3. Efusi pleura adalah pengumpulan cairan dalam ruang pleura yang terletak
diantara permukaan visceral dan parietal. (Suzanne C Smeltzer dan Brenda
G. Bare, 2002).
B. Etiologi
Menurut selbacher, dkk (2000) etiologi efusi pleura yaitu sebagai
berikut: cairan pleura berakumulasi jika pembentukan cairan pleura melebihi
absorpsi cairan pleura. Normalnya, cairan memasuki rongga pleura dari
kapiler dalam pleura panetalis dan diangkut melalui jaringan limfatik yang
terletak dalam pleura parietalis. Cairan juga dapat memasuki rongga pleura
dari ruang interstisium paru melalui pleura viseralis atau dari kavum
peritoneum melalui lubang kecil yang ada pada diafragma. Saluran limfe
memiliki kapasitas dalam keadaan normalnya. Oleh karenanya, efusi pleura
dapat terbentuk jika ada pembentukan cairan pleura yang berlebihan (dari
pleura parietalis, ruang interstisium paru, atau kavum peritoneum) atau jika
ada penurunan pengangkutan cairan oleh melalui limfatik, cairan normal
pleura 15-20 cc.
Menurut Arif Mansjoer, ed (1999) etiologi dari efusi pleura adalah
sebagai berikut:
1. Neoplasma seperti neoplasma bronkogenik dan metastatik.
2. Kardiovaskular seperti gagal jantung kongesti, embolus pulmonar, dan
perikarditis.
3. Penyakit pada abdomen seperti pankreatitis, asites, dan abses.
4. Infeksi yang disebabkan bakteri, virus, jamur, mikobakterial dan parasit.
5. Lain-lain seperti lupus eritematosus sistemik, rheumatoid artritis, sindrom
nefrotik dan uremia.

C. Klasifikasi efusi pleura berdasarkan cairan yang terbentuk (Suzanue C


Smeltezer dan Brenda G. Bare, 2002).
1. Transudat
Merupakan filtrat plasma yang mengalir menembus dinding kapiler yang
utuh, terjadi jika faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan dan
reabsorbsi cairan pleura terganggu yaitu karena ketidakseimbangan
tekanan hidrostaltik atau ankotik. Transudasi menandakan kondisi seperti
asites, perikarditis. Penyakit gagal jantung kongestik atau gagal ginjal
sehingga terjadi penumpukan cairan.
2. Eksudat
Ekstravasasi cairan ke dalam jaringan atau kavitas. Sebagai akibat
inflamasi oleh produk bakteri atau humor yang mengenai pleura
contohnya TBC, trauma dada, infeksi virus. Efusi pleura mungkin
merupakan komplikasi gagal jantung kongestif. TBC, pneumonia, infeksi
paru, sindroma nefrotik, karsinoma bronkogenik, serosis hepatis,
embolisme paru, infeksi parasitik.
D. Patofisiologi
Perubahan pergerakan cairan ke dalam dan keluar rongga pleura
disebabkan adanya ketidakseimbangan tekanan hidrostatik dan tekanan koloid
osmotic dalam permukaan kapiler dan pleura.
Perbedaan antara eksudat dan transudat didasarkan pada isi proteinnya
trasudat (hidrotoraks) diproduksi ketika cairan yang bebas protein mengalir
dalam rongga pleura menjadi terganggu. Cairan tampak jerniah atau kuning
pucat. Berat jenis 1,015 atau kurang dengan kandungan protein normal kurang
dari 3 gr/dl, hitung jenis sel darah. Peningkatan tekanan kapiler pada gagal
jantung dan pengurangan tekanan onkotik plasma dalam ginjal atau penyakit
hepar telah diketahui menyebabkan cairan transudat.

Pathway
Infeksi
Pleura

Penyakit organ lain

Leukosit
meningkat

Respon imun

Metabolisme meningkat

Produksi prostaglandin
brondikinpin meningkat

Demam

Ketidakseimbangan tekanan
osmotik hidrostatik

Sensitivitas saraf nyeri


meningkat

Hipertermi
Nyeri akut

Pembentukan reabsorbsi
cairan pleura terganggu
Cairan dalam ruang pleura
meningkat

Peregangan pleura

Ekspansi paru tak


maksimal

Cairan masuk paru


Jalan napas terisi cairan

Complain paru
menurun

Masukan O2
menurun

Kolaps

Perubahan
pernafasan

Difusi O2 CO2
terganggu

Pola nafas tidak


efektif

Gangguan
pertukaran gas

Fungsi silia
menurun

Reflek batuk
menurun

Bersihan jalan
nafas tidak
efektif

E. Tanda dan Gejala


1. Deviasi trakea menjauhi sisi yang terkena
2. Terdorongnya mediastinum pada sisi yang berlawanan dengan cairan.
3. Pekak pada perkusi.
4. Penurunan bunyi pernapasan sisi yang terkena pada auskultasi
5. Nafar pendek atau sesak nafas.
6. Nyeri dada pleuritik (perasaan tumpul di dalam dada)
7. Bising jantung pada payah jantung.
8. Lemas yang progresif, berat badan menurun.
9. Batuk kadang berdarah pada perokok (Karsinoma bronchus)
10. Demam subfebril (pada tuberkulosis)
11. Anxietas (pada sirosis hati)
F. Diagnosa Penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium (analisis cairan efusi yang di thorakosentesis)
2. Pemeriksaan radiology
Foto toraks terlihat hilangnya sudut kostofrenikus dan akan terlihat
permukaan yang melengkung jika jumlah ciran efusi lebih dari 300 ml,
pergeseran mediastinum kadang ditemukan.
3. CT scan dada akan terlihat adnaya perbedaan densitas cairan dengan
jaringan sekitarnya.
4. Ultra sono grafi pada pleura dapat menentukan adnaya cairan rongga
pleura.
5. Bronkoskopi pada kasus-kasus neoplasma, korpus aleunum dan abses
paru.
6. Thorakoskopi (tiber optic pleura) pada kasus dengan neoplasma
tuberculosis pleura.
7. Biopsi pleura.

G. Penatalaksanaan
1. Drainase cairan jika efusi pleura menimbulkan gejala subjek, nyeri,
dipsnea, dll. Cairan efusi sebanyak 1-1,5 liter dikeluarkan segera untuk
mencegah meningkatkan edema. Jumlah cairan efusi lebih banyak maka
pengeluaran cairan berikut dilakukan 1 jam kemudian.
2. Antibiotik jika terdapat emprema.
3. Pleurodesis yaitu melengketkan pleura viseralis dan pleura parietalis untuk
mencegah terjadinya lagi efusi pleura setelah aspirasi (pada efusi pleura
maligna).
4. Opreatif, bila cairan pus kental sehingga sulit keluar atau empiemanya
multilokulara.
5. Tirah baring.
H. Komplikasi
1. Pneumonia
2. Fibrosis paru
3. Pneumotorak
4. Emfisema
5. Arelektasis