Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

I.1

Latar Belakang
Mangrove merupakan lumbung besar penyimpan karbon. Sekitar 3 juta

hektare hutan mangrove tumbuh di sepanjang 95.000 kilometer pesisir Indonesia.


Jumlah ini mewakili 23% dari keseluruhan ekosistem mangrove dunia (Giri,
2011). Mangrove Indonesia menyimpan 3,14 miliar metrik ton karbon (PgC)
(Murdiyarso, 2015). Jumlah ini mencakup sepertiga stok karbon pesisir global
(Pendleton, 2012).Akan tetapi dalam tiga dekade terakhir, Indonesia kehilangan
40% mangrove (FAO, 2007). Artinya, Indonesia memiliki kecepatan kerusakan
mangrove terbesar di dunia (Campbell & Brown, 2015). Hilangnya hutan
mangrove di Indonesia menyumbang 42% emisi gas rumah kaca akibat rusaknya
ekosistem pesisir, termasuk rawa, mangrove dan rumput laut (Murdiyarso, 2015;
Pendleton, 2012).
Bali adalah salah satu provinsi yang memiliki mangrove relatif baik Luas
hutan mangrove di Bali sekitar 2.215 ha. Perjalanan pengelolaan mangrove di Bali
cukup panjang terkait dimulai saat degradasi tahun 1980-an yang disebabkan oleh
eksploitasi pertambakan. Upaya penanganan kerusakan mangrovedi Tahura
Ngurah Rai secara intensif dimulai sejak tahun 1992 dengan melakukan
rehabilitasi areal bekas tambak seluas 187,6 ha (Anonim 2006).
Rehabilitasi melalui penanaman beberapa jenis mangrove sejauh ini
dianggap menjadi cara yang paling rasional untuk menghutankan kembali
mangrove yang telah rusak. Pengumpulan dan Pengolahan Data Geospasial
Mangrove juga diperlukan untuk mengetahui sumberdaya mangrove yang ada di
wilayah pesisir, sehingga dapat dilakukan pengelolaan sumberdaya dan wilayah
yang tepat.

Pemanfaatan citra penginderaan jauh untuk aplikasi hutan mangrove telah


berkembang dengan baik, tetapi tetap menjadi kecendrungan peningkatan
kebutuhan informasi mangrove dengan skala informasi yang lebih detail, misalnya
informasi spasial jenis mangrove. Selain berguna untuk pengelolaan dan
pelestarian, informasi jenis mangrove juga berguna untuk penelitian mengenai
biomasa dan kandungan karbon terkait dengan perbedaan jenis spesies mangrove.
Dengan memanfaatkan citra spot 7 yang memliki resolusi cukup tinggi
yaitu 6 meter , sekiranya dapat membantu menentukan jenis dominan mangrove
yang terdapat di Tahura Ngurah Rai untuk selanjutnya dapat dilestarikan dan di
lakukan pengelolaan lebih lanjut oleh pihak terkait.
I.2

Rumusan Masalah
1. Bagaimana menentukan spesies dominan mangrove pada lokasi studi
kasus?
2. Bagaimana membuat System Informasi Geografis spesies mangrove
pada lokasi studi kasus ?

I.3

Tujuan dan Manfaat Penelitian


a. Tujuan
1. Menentukan spesies dominan mangrove yang terdapat dilokasi studi
kasus.
2. Membuat system informasi geografis spesies mangrove yang terdapat
dilokasi studi kasus.
b. Manfaat
Manfaat dari inventarisasi jenis mangrove dengan memanfaatkan citra dan
system informasi geografis adalah :
1. Mendapatkan kesimpulan dari spesies mangrove yang terdapat di
wilayah studi kasus.
2. Memberikan informasi spasial tentang spesies mangrove yang terdapat
diwilayah studi kasus dengan tujuan agar dapat di jaga dan di
lestarikan.
3. Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh Dinas
terkait dan masyarakat luas.

I.4

Batasan Penelitian

Batasan masalah dalam penelitian adalah sebagai berikut :


1. Studi kasus penelitian di Tahura Ngurah Rai, Bali.
2. Data yang digunakan adalah citra Spot 7, Peta administrasi batas
wilayah Bali.
3. Melakukan survey spesies mangrove berdasarkan pedoman Badan
Informasi Geospasial.
4. Inventarisasi jenis mangrove dilihat dari bentuk daun , buah dan akar.

I.5

Sistematika Penulisan
Adapun sebagai tahapan dalam penelitian ini maka disusun laporan
hasil penelitian skripsi yang sistematika pembahasannya diatur sesuai dengan
tatanan sebagai berikut :
a. Bab I: PENDAHULUAN
Berisikan tentang latar belakang yang merupakan alasan penulis
mengambil judul tersebut. Tujuan penelitian berisikan tentang hal sasaran
penulis melakukan penelitian

tersebut. Rumusan masalah berisikan

tentang hal yang akan diteliti oleh penulis dari penelitian tersebut. Batasan
masalah berisikan tentang batasan ruang lingkup yang diteliti oleh penulis
pada penelitian tersebut. Sistematika penulisan berisikan tentang tata cara
dalam pelaksanaan penelitian.
b. BAB II: DASAR TEORI
Bagian ini berisi tentang gambaran lokasi penelitian serta kajian pustaka
dan teori-teori yang berkaitan dengan penelitian ini.
c. BAB III: METODOLOGI PENELITIAN
Berisikan penjelasan tentang bagaimana penelitian ini dilakukan, dimulai
dari proses pengumpulan data, pengolahan data sampai pada hasil akhir
yang menjadi tujuan dilakukannya penelitian ini.
d. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
Bagian ini menjelaskan secara rinci pelaksanaan penelitian dalam
mencapai hasil serta kajian dan pembahasan hasil dari penelitian ini.

e. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN


Bagian ini merupakan uraian singkat tentang kesimpulan hasil
pembahasan yang mencakup isi dari penelitian, serta saran saran yang
berkaitan dengan kesesuaian penggunaan hasil penelitian agar tepat guna
dan sasaran.