Anda di halaman 1dari 31

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menurut data dari World Health Organization (WHO), masalah gangguan
kesehatan jiwa diseluruh dunia memang sudah menjadi masalah yang sangat serius.
WHO menyatakan, tahun 2001 paling tidak ada satu dari empat orang di dunia
mengalami masalah mental. WHO memperkirakan ada sekitar 450 juta orang di dunia
yang mengalami gangguan kesehatan jiwa (Yosep. 2009).
Menurut WHO sehat adalah keadaan keseimbangan yang sempurna baik fisik,
mental dan social, tidak hanya bebas dari penyakit dan kelemahan. Menurut UU
Kesehatan RI no. 23 tahun 1992, sehat adalah keadaan sejahtera tubuh, jiwa, social
yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara social dan ekonomis.
Sakit adalah ketidakseimbangan fungsi normal tubuh manusia, termasuk sejumlah
system biologis dan kondisi penyesuaian. Kesehatan jiwa adalah satu kondisi sehat
emosional psikologis, dan social yang terlihat dari hubungan interpersonal yang
memuaskan, perilaku dan koping yang efektif, konsep diri yang positif, dan
kestabilan emosionl (Videbeck, 2008).
Kesehatan jiwa merupakan bagian yang integral dari kesehatan. Kesehatan
jiwa bukan sekedar terbebas dari gangguan jiwa, akan tetapi merupakan suatu hal
yang di butuhkan oleh semua orang. Kesehatan jiwa adalah perasaan sehat dan
bahagia serta mampu mengatasi tantangan hidup, dapat menerima orang lain sebagai
mana adanya. Serta mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain.
(Menkes, 2005)
Menurut Sekretaris Jendral Dapertemen Kesehatan (Sekjen Depkes), H. Syafii
Ahmad, kesehatan jiwa saat ini telah menjadi masalah kesehatan global bagi setiap
negara termasuk Indonesia. Proses globalisasi dan pesatnya kemajuan teknologi
informasi memberikan dampak terhadap nilai-nilai sosial dan budaya pada
masyarakat. Di sisi lain, tidak semua orang mempunyai kemampuan yang sama untuk
menyusuaikan dengan berbagai perubahan, serta mengelola konflik dan stres tersebut.

(Diktorat Bina Pelayanan Keperawatan dan Pelayanan Medik Dapertemen Kesehatan,


2007). Setiap saat dapat terjadi 450 juta orang diseluruh dunia terkena dampak
permasalahan jiwa, syaraf maupun perilaku dan jumlahnya terus meningkat. Pada
study terbaru WHO di 14 negara menunjukkan bahwa pada negara-negara
berkembang, sekitar 76-85% kasus gangguan jiwa parah tidak dapat pengobatan
apapun pada tahun utama(Hardian, 2008). Masalah kesehatan jiwa merupakan
masalah kesehatan masyarakat yang demikian tinggi dibandingkan dengan masalah
kesehatan lain yang ada dimasyarakat.
Dari 150 juta populasi orang dewasa Indonesia, berdasarkan data Departemen
Kesehatan (Depkes), ada 1,74 juta orang mengalami gangguan mental emosional.
Sedangkan 4 % dari jumlah tersebut terlambat berobat dan tidak tertangani akibat
kurangnya layanan untuk penyakit kejiwaan ini. Krisis ekonomi dunia yang semakin
berat mendorong jumlah penderita gangguan jiwa di dunia, dan Indonesia khususnya
kian meningkat, diperkirakan sekitar 50 juta atau 25% dari juta penduduk Indonesia
mengalami gangguan jiwa (Nurdwiyanti, 2008).
Gangguan jiwa didefenisikan sebagai suatu sindrom atau perilaku yang
penting secara klinis yang terjadi pada seseorang dan dikaitakan dengan adanya
distress (misalnya gejala nyeri) atau disabilitas (kerusakan pada satu atau lebih area
fungsi yang penting) (Videbeck, 2008). Halusinasi adalah suatu gejala gangguan jiwa
pada individu yang ditandai dengan perubahan sensori persepsi: merasakan sensasi
palsu berupa suara, penglihatan, perabaan pengecapan dan penghiduan (Keliat, 2009).
Asuhan keperawatan jiwa merupakan asuhan keperawatan spesialistik, namun
tetap dilakukan secara holistik pada saat melakukan asuhan kepada klien. Tindakan
keperawatan yang tepat untuk mengatasi halusinasi mulai dengan melakukan
hubungan saling percaya dengan pasien. Selanjutnya membantu pasien mengenal
halusinasi dan membantu mengontrol halusinasi. Pelaksanaan dan pengotrolan
halusinasi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara kelompok dan secara
individu. Secara kelompok selama ini sudah dikenal dengan istilah terapi aktifitas
kelompok (TAK) dan secara individu dengan cara face to face (Bahrudin, 2010).
Pengontrolan halusinasi dapat dilakukan dengan empat cara yaitu, menghardik

halusinasi, bercakap-cakap dengan orang lain, melakukan aktivitas secara terjadwal,


dan mengkonsumsi obat dengan teratur (Keliat, Akemat. 2012 ).
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas dapat dirumuskan: bagaimana proses asuhan
keperawatan jiwa pada pasien isolasi sosial di Ruang Flamboyan Rumah Sakit Jiwa
Menur Surabaya
1.3 Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui asuhan keperawatan jiwa pada pasien isolasi sosial
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi proses asuhan keperawatan pada pasien isolasi sosial di
Ruang flamboyan Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya.
b. Mengidentifikasi kemampuan pasien isolasi sosial untuk berinteraksi
dengan orang lain di Ruang Flamboyan Rumah Sakit Jiwa Menur
Surabaya.
1.4 Manfaat
1. Bagi Mahasiswa
Mahasiswa dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuan untuk membuat
dan menerapkan asuhan keperawatan jiwa khususnya pada pasien isolasi
sosial.
2. Bagi Rumah Sakit Jiwa Menur
Sebagai bahan masukan bagi petugas kesehatan Rumah Sakit Jiwa Menur
Surabaya agar lebih memperhatikan pasien isolasi sosial.
3. Bagi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Surabaya
Sebagai bahan masukan atau literatur untuk perkembangan ilmu jiwa.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

DEFINISI

Isolasi sosial adalah keadaan dimana individu mengalami penurunan


atau bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain
disekitarnya. Klien mungkin merasa ditolak, tidak diterima, kesepian, dan
tidak mampu membina hubungan yang berarti dengan orang lain. Isolasi
sosial merupakan upaya klien untuk menghindari interaksi dengan orang lain,
menghindari hubungan dengan orang lain maupun komunikasi dengan orang
lain (keliat, 1999). Isolasi sosial adalah suatu gangguan hubungan
interpersonal yang terjadi akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel yang
menimbulkan perilaku maladaptif dan mengganggu fungsi seseorang dalam
hubungan sosial (Depkes RI, 2000).
Isolasi sosial adalah suatu sikap dimana individu menghindari diri dari
interaksi dengan orang lain. Individu merasa bahwa ia kehilangan hubungan
akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk membagi perasaan, pikiran,
prestasi, atau kegagalan. Ia mempunyai kesulitan untuk berhubungan secara
spontan dengan orang lain, yang dimanifeetasikan dengan sikap memisahkan
diri, tidak ada perhatian, dan tidak sanggup membagi pengamatan dengan
orang lain ( Balitbang, 2007 ).
Isolasi sosial merupakan upaya menghindari komunikasi dengan orang
lain karena merasa kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai
kesempatan untuk berbagi rasa, pikiran, dan kegagalan. Klien mengalami
kesulitan dalam hubungan secara spontan dengan orang lain yang
dimanifestasikan dengan mengisolasi diri, tidak ada perhatian dan tidak
sanggup berbagi pengalaman.
Menarik diri adalah reaksi yang ditampilkan dapat berupa reaksi fisik
maupun psikologis. Reaksi fisik yaitu individu pergi atau menghindari sumber
stressor. Misalnya menjauhi polusi, sumber infeksi, gas beracun dan lain-lain.
Sedangkan reaksi psikologis individu menunjukkan perilaku apatis,
mengisolasi diri, tidak berminat sering disertai rasa takut dan bermusuhan.
Menarik diri adalah usaha menghindari interaksi dengan orang lain
individu dengan orang lain. Individu merasa ia kehilangan hubungan akrab
dan tidak mempunyai kesempatan untuk berbagi perasaan, pikiran, prestasi

atau kegagalannya. Orang lain yang dimanifestasikan dengan sikap


memisahkan diri, tidak ada perhatian dan sanggup membagi pengalaman
dengan orang lain. (Depkes, 2006).
Kerusakan interaksi sosial merupakan kesendirian yang dialami oleh
individu dan diterima sebagai ketentuan oleh orang lain dan sebagai suatu
keadaan negatif atau mengancam, kelainan interaksi sosial adalah suatu
keadaan dimana seorang individu beradaptasi dalam suatu kuantitas yang
tidak cukup / berlebihan kualitas interaksi sosial yang tidak efektif
(Townsend,1998).
Kesimpulan : isolasi sosial adalah suatu keadaan dimana indifidu tidak
mau mengadakan interaksi terhadap komunitas disekitarnya atau sengaja
menghindari untuk berinteraksi yang dikarnakan orang lain atau keadaan
disekitar diangap mengancam bagi indifidu tersebut.
2.2.

RENTANG RESPON SOSIAL


Respon adaptif adalah respon individu dalam menyelesaikan masalah
yang masih dapat diterima oleh norma sosial dan budaya yang umum berlaku.
Respon ini meliputi :
a. Menyendiri / solitude : respon seseorang untuk merenungkan apa yang
telah dilakukan di lingkungan sosialnya dan cara mengevaluasi diri untuk
menentukan langkah-langkah selanjutnya.
b. Otonomi : kemampuan individu dalam menentukan dan menyampaikan
ide, pikiran, perasaandalam hubungan sosial.
c. Kebersamaan : kondisi hubungan interpersonal dimana individu mampu
untuk saling memberi dan menerima.
d. Saling tergantung (inerdependen) : suatu hubungan saling tergantung
antar individu dengan orang lain dalam membina hubungan interpersonal.
Respon maladaptif adalah respon individu dalam menyelesaikan masalah
yang menyimpang dari norma sosial dan budaya lingkungannya. Respon yang
sering ditemukan :
a. Manipulasi : orang lain diberlakukan sebagai obyek, hubungan terpusat
pada masalah penegndalian orang lain, orientasi diri sendiri atau tujuan
bukan pda orang lain.

b. Impulsive : tidak mampu merencanakan sesuatu, tidak mampu belajar


dari pengalaman, tidak dapat diandalkan.
c. Narkisisme : harga diri rapuh, berusaha mendapatkan penghargaan dan
pujian, sikap egosentris, pecemburu, marah bila orang lain tidak
mendukung.
2.3.

PROSES TERJADINYA MASALAH


2.3.1 tabel proses terjadinya masalah

Pattern

of Ineffective coping Lack

of Stressor internal

parenting (pola (koping individu development task and

external

asuh)

internal

tidak efektif)

(gangguan tugas (stres


perkembangan)

dan eksternal)

Misal :
Pada anak yang

Misal :
Saat individu

Misal :
Kegagalan

Misal :
Stres terjadi

kelahirannya

menghadapi

menjalani

akibat ansietas

tidak

kegagalan

hubungan intim

yang

dikehendaki

menyalahkan

dengan sesama

berkepanjangan

(unwanted

orang lain,

jenis atau lawan

dan terjadi

child) akibat

ketidakberdayaan,

jenis, tidak

bersama dengan

kegagalan KB,

menyangkal, tidak

mampu mandiri

keterbatasan

hamil diluar

mampu

dan

kemampuan

nikah, jenis

menghadapi

menyelesaikan

individu untuk

kelamin yang

kenyataan dan

tugas, bekerja,

mengatasinya.

tidak

menarik diri dari

bergaul,

Ansietas terjadi

diinginkan,

ligkungan, terlalu

bersekolah,

akibat berpisah

bentuk fisik

tingginya self

menyebabkan

dengan orang

kurang

ideal dan tidak

ketergantungan

terdekat,

menawan

mampu menerima

pada orang tua,

hilangnya

menyebabkan

realitas dengan

rendahnya

pekerjaan atau

keluarga

rasa syukur.

ketahanan

orang yang

mengeluarkan

terhadap berbagai

komentar-

kegagalan.

dicintai.

komentar
negatif,
merendahkan,
menyalahkan
anak.
2.4.

TANDA DAN GEJALA


a. Gejala Subjektif
1. Klien menceritakan perasaan kesepian atau ditolak oleh orang lain
2. Klien merasa tidak aman berada dengan orang lain
3. Respon verbal kurang dan sangat singkat
4. Klien mengatakan hubungan yang tidak berarti dengan orang lain
5. Klien merasa bosan dan lambat menghabiskan waktu
6. Klien tidak mampu berkonsentrasi dan membuat keputusan
7. Klien merasa tidak berguna
8. Klien tidak yakin dapat melangsungkan hidup
9. Klien merasa ditolak
b. Gejala Objektif
1. Klien banyak diam dan tidak mau bicara
2. Tidak mengikuti kegiatan
3. Banyak berdiam diri dikamar
4. Klien menghindari dan tidak mau berinteraksi dengan orang yang
terdekat
5. Klien tampak sedih, ekspresi datar dan dangkal
6. Kontak mata kurang
7. Kurang spontan
8. Apatis (acuh terhadap lingkungan)
9. Ekspresi wajah kurang berseri
10. Tidak merawat diri dan tidak memperhatikan kebersihan diri
11. Mengisolasi diri
12. Tidak atau kurang sadar terhadap lingkungan sekitarnya
13. Masukan makanan dan minuman terganggu
14. Retensi urin dan feses
15. Aktivitas menurun
16. Kurang energy (tenaga)
17. Rendah diri
18. Postur tubuh berubah, misalnya sikap fetus/janin (khususnya pada
posisi tidur)
7

2.5.

FAKTOR PENYEBAB
a. Faktor Presipitasi
Adapun faktor pencetus terdiri dari 4 sumber utama yang dapat
menentukan alam perasaan adalah :
1. Kehilangan keterkaitan yang nyata atau yang dibayangkan, termasuk
kehilangan cinta seseorang. Fungsi fisik, kedudukan atau harga diri,
karena elemen aktual dan simbolik melibatkan konsep kehilangan,
maka konsep persepsi lain merupakan hal yang sangat penting.
2. Peristiwa besar dalam kehidupan, sering dilaporkan sebagai pendahulu
episode depresi dan mempunyai dampak terhadap masalah-masalah
yang dihadapi sekarang dan kemampuan menyelesaikan masalah.
3. Peran dan ketergantungan peran telah dilaporkan mempengaruhi
depresi terutama pada wanita
4. Perubahan fisiologi di akibatkan oleh obat-obatan berbagai penyakit
fisik seperti infeksi, meoplasma dan gangguan keseimbangan
metabolik dapat mencetus gangguan alam perasaan. (stuart,1998).
b. Faktor Predisposisi
Ada berbagai faktor yang menjadi pendukung terjadinya perilaku
isolasi sosial :
1. Faktor Perkembangan
Tiap gangguan dalam pencapaian tugas perkembngan dari
masa bayi sampai dewasa tua akan menjadi pencetus seseorang
sehingga mempunyai masalah respon sosial menarik diri. Sistem
keluarga yang terganggu juga dapat mempengaruhi terjadinya menarik
diri. Organisasi anggota keluarga bekerja sama dengan tenaga
profesional untuk mengembangkan gambaran yang lebih tepat tentang
hubungan antara kelainan jiwa stres keluarga. Pendekatan kolaboratif
dapat mengurangi masalah respon sosial menarik diri.
2. Faktor Biologik
Faktor genetik dapat menunjang terhadap respon sosial
maladaptif. Genetik merupakan salah satu faktor pendukung gangguan
jiwa. Kelainan struktur otak, seperti atropi, pembesaran ventrikel,
8

penurunan berat dan volume otak serta perubahan limbik diduga dapat
menyebabkan skizofrenia.
3. Faktor Sosiokultural
Isolasi sosial merupakan faktor dalam gangguan berhubungan.
Ini merupakan akibat dari norma yang tidak mendukung pendekatan
terhadap orang lain, atau tidak menghargai anggota masyarakat yang
tidak produktif seperti lansia, orang cacat dan berpenyakit kronik.
Isolasi dapat terjadi karena mengadopsi norma, perilaku dan sistem
nilai yang berbeda dari yang dimiliki budaya mayoritas. Harapan yang
tidak realistis terhadap hubungan merupakan faktor lain yang
berkaitan dengan gangguan ini (Stuart dan Sundeen, 1998).
c. Faktor Lain
1. Faktor genetik dianggap mempunyai transmin gangguan efektif
melalui riwayat keluarga atau keturunan
2. Teori agresi menyerang kedalam menunjukkan bahwa depresi terjadi
karena perasaan marah yang ditunjukkan pada diri sendiri
3. Teori kehilangan objek merasakan kepada perpisahan traumatik
individu dengan benda atau yang sampai sangat berarti
4. Teori organisasi kepribadian mengenai bagian konsep yang negatif dan
harga diri rendah mempengaruhi sistem keyakinan penilaian seseorang
terhadap dirinya
5. Metode kognitif menyatakan bahwa depresi merupakan masalah
kognitif yang didominasi oleh evaluasi negatif seseorang terhadap diri
dunia seseorang dimasa depan seseorang
6. Metode ketidakberdayaan yang dipelajari menunjukkan bahwa
semata-mata trauma menyebabkan depresi tetapi keyakinan bahwa
seseorang tidak mampu mengendalikan terhadap hasil yang penting
dalam kehidupannya. Oleh karena itu dia menolak respon dan adaktif
7. Model perilaku berkembang dari kerangka teori belajar sosial yang
mengasumsikan keinginan penyebab depresi terlacak pada kerangka
keinginan posisitif dalam berinteraksi dengan lingkungan
8. Metode biologi menguraikan perubahan kimia dalam tubuh terjadi
selama masa depresi, termasuk depresi katakoloni, disfungsi
endoktrim dan variasi periodik serta irama biologis
9

2.6.

POHON MASALAH
Risiko gangguan persepsi
sensori Halusinasi
effect

Isolasi Sosial
Core Problem

Harga Diri rendah kronik


Sumber : damaiyanti mukripah,S.kep.,Ns., iskandar,S.kep.,Ns.asuhan
keperawatan
Causa
jiwa.refikaaditama.samarinda:2012.
2.7.

MEKANISME KOPING
Mekanisme koping digunakan klien sebagai usaha mengatasi
kecemasan yang merupakan suatu kesepian nyata yang mengancam dirinya.
Kecemasan koping yang sering digunakan adalah Regrasi, Represi dan
Isolasi. Sedangkan contoh sumber koping yang dapat digunakan misalnya
keterlibatan dalam hubungan yang luas dalam keluarga dan teman, hubungan
dengan hewan peliharaan, menggunakan kreatifitas untuk mengekspresikan
stres interpersonal seperti kesenian musik atau tulisan. (Stuart and Sundeen,
1998).

2.8.

PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan yang dilakukan sebagai berikut :
2.8.1 Therapy Farmakologi
2.8.2 Electri Convulsive Therapy
Electro convulsive therapy atau yang lebih dikenal dengan
elektroshock adalah suatu terapi psikiatrik yang menggunakan energi
shock listrik dalam usaha pengobatannya. Biasanya ECT ditujukan untuk

10

terapi pasien gangguan jiwa yang tidak berespon pada obat psikiatrik pada
dosis terapinya. ECT pertama kali diperkenalkan oleh 2 orang neurologist
Italia Ugo Certelitti dan Lucio Bini ;ada tahun 1930. Diperkirakan hampir
1 juta orang didunia mendapatkan terapi ECT setiap tahunnya dengan
intensitas anatar 2-3 kali seminggu.
ECT bertujuan untuk menginduksi suatu kejang klonik yang dapat
memberi efek terapi (therapeutic clonic seizure) setidaknya selama 15
detik. Kejang yang dimaksud adalah suatu kejang dimana seseorang
kehilangan kesadarannya dan mengalami rejatan.
2.8.3 Therapy Kelompok
Therapy kelompok merupakan suatu psikotherapy yang dilakukan
sekelompok pasien bersama-sama dengan jalan berdiskusi satu sama lain
yang dipimpin atau diarahkan oleh seorang therapist atau petugas
kesehatan jiwa. Therapy ini bertujuan memberi stimulus bagi klien dengan
gangguan interpersonal.
2.8.3 Therapy Lingkungan
Manusia tidak dapat dipisahkan dari lingkungan sehingga aspek
lingkungan harus mendapatkan perhatian khusus dalam kaitannya untuk
menjaga dan memelihara kesehatan manusia. Lingkungan berkaitan erat
dengan stimulus psikologi seseorang yang akan berdampak pada
kesembuhan, karena lingkungan tersebut akan memberikan dampak baik
pada kondisi fisik maupun kondisi psikologis seseorang.
2.9.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN ISOLASI SOSIAL


2.9.1 Pengkajian
Isolasi sosial adalah keadaan ketika seseorang individu mengalami
penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan
orang lain di sekitarnya. Pasien mungkin merasa ditolak, tidak diterima,
kesepian, dan tidak mampu membina hubungan yang berarti dengan orang
lain.
Tiap individu mempunyai potensi untuk terlibat berhubungan sosial
sebagai tingkat hubungan yaitu hubungan intim dan hubungan saling
bergantungan dalam menghadapi dan mengatasi berbagai kebutuhan setiap

11

hari. Pada pengkajian klien-klien sulit diajak bicara, pendiam, suka


melamun, dan menyendiri di sudut-sudut. Pemutusan proses hubungan
terkait erat dengan ketidakpuasan individu terhadap pasien hubungannya
yang disebabkan oleh kurangnya peran peserta respon lingkungan yang
negatif, kondisi ini dapat mengembangkan rasa tidak percaya pada orang
lain.
Untuk mengkaji pasien isolasi sosial, kita dapat menggunakan
wawancara dan observasi kepada pasien dan keluarga.
1. Tanda dan gejala isolasi sosial yang dapat ditemukan dengan
wawancara adalah : pasien menceritakan perasaan kesepian atau
2.
3.
4.
5.
6.
7.

ditolak oleh orang lain.


Pasien merasa tidak aman berada dengan oarang lain.
Pasien mengatakan hubungan yang tidak berarti dengan orang lain.
Pasien merasa bosan dan lambat menghabiskan waktu.
Pasien tidak mampu berkonsentrasi dan membuat keputusan.
Pasien merasa tidak berguna.
Pasien tidak yakin dapat melangsungkan hidup.
Pertanyaan-pertanyaan berikut ini dapat perawat / mahasiswa tanyakan

pada waktu wawancara untuk mendapatkan data subjektif :


1. Bagaimana pendapat pasien terhadap orang-orang disekitarnya
(keluarga/tetangga) ?
2. Apakah pasien mempunyai teman dekat ? bila punya siapa teman
dekat itu ?
3. Apa yang membuat pasien tidak memiliki orang yang terdekat
dengannya ?
4. Apa yang pasien inginkan dari orang-orang disekitarnya ?
5. Apakah ada perasaan tidak aman yang dialami oleh pasien ?
6. Apa yang menghambat hubungan yang harmonis antar pasien dengan
orang disekitarnya ?
7. Apakah pasien merasakan bahwa waktu begitu lama berlalu ?
8. Apakah ada perasaan ragu untuk melanjutkan kehidupan ?
Tanda dan gejala isolasi sosial yang dapat diobservasi :
1. Tidak memiliki teman dekat

12

2. Menarik diri
3. Tidak komunikatif
4. Tindakan berulang dan tidak bermakna
5. Asik dengan pikirannya sendiri
6. Tidak ada kontak mata
7. Tampak sedih, afek tumpul
2.9.2 Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah peniliana atau kesimpulan yang diambil dari
pengkajian (Carpenito, 2000). Masalah keperawatan yang dapat
disimpulkan dari hasil pengkajian adalah :
1. Isolasi sosial menarik diri
2. Harga diri rendah
3. Koping keluarga inefektif
4. Gangguan komunikasi verbal
5. Intoleransi aktivitas
6. Defisit perawatan diri
7. Koping individu inefektif
8. Regimen terapeutik inefektif
9. Resiko tinggi perilaku kekerasan
10. Perubahan persepsi
2.9.3 Rencana Tindakan Keperawatan
1. Tindakan keperawatan untuk pasien
a. Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien mampu :
1. Membina hubungan saling percaya
2. Menghindari penyebagian isolasi sosial
3. Berinteraksi dengan rang lain
b. Rencana tindakan
Rencana tindakan yang dapat dilakukan :
1) Membina hubungan saling percaya
2) Membantu pasien mengenal penyebab isolasi sosial
2. Tindakan keperawatan dengan pendekatan strategi pelaksanaan (SP)
untuk pasien
1. SP 1 Pasien : membina hubungan saling percaya, membantu
pasien mengenal penyebab isolasi sosial, membantu pasien
mengenal keuntungan berhubungan dan kerugian tidak
berhubungan dengan orang lain, dan mengajarkan pasien
berkenalan.

13

2. SP 2 Pasie : mengajarkan pasien berinteraksi secara bertahap


(berkenalan dengan orang pertama (perawat))
3. SP 3 Pasien : melatih pasien berinteraksi secara bertahap
(berkenalan dengan orang kedua )
3. Tindakan Keperawatan untuk keluarga
a. Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan keluarga mampu
merawat pasien isolasi sosial.
b. Tindakan Keperawatan
Melatih keluarga merawat pasien yang mengalami gangguan
isolasi sosial. Tindakan keperaatan agar keluarga dapat merawat
pasien dengan isolasi sosial dirumah meliputi :
1. Diskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat
pasien
2. Jelaskan tentang :
a. Bina hubungan saling percaya dengan pasien dengan cara
bersikap peduli dan tidak ingkar janji
b. Berikan semangat dan dorongan kepada pasien untuk dapat
melakukan kegiatan bersama-sama dengan orang lain, yaitu
dengan tidak mencela kondisi pasien dan memberikan
pujian yang wajar
c. Tidak membiarkan pasien sendiri dirumah
d. Buat rencana atau jadwal bercakap-cakap dengan pasien
3. Peragakan cara merawat pasien dengan isolasi sosial
4. Bantu keluarga mempraktekkan cara merawat yang telah
dipelajari, menghadapi masalah yang dihadapi
5. Susunan perencanaan pulang bersama keluarga
4. Tindakan keperawatan dengan pendekatan strategi pelaksanaan (SP)
untuk Keluarga
1. SP 1 Keluarga : memberikan penyuluhan kepada keluarga
tentang masalah isolasi sosial, penyebab isolasi sosial, dan cara
merawat pasien dengan isolasi sosial

14

2. SP 2 Keluarga : melatih keluarga mempraktikkan cara merawat


pasien dengan masalah isolasi sosial langsung dihadapan
pasien
3. SP 3 Keluarga : membuat perencanaan pulang bersama
keluarga
Evaluasi
Evaluasi yang dapat dilakukan meliputi :
1. Pasien dapat menggunakan koping yang efektif dalam menyelesaikan

2.9.4

2.
3.
4.
5.
3

masalah
Harga diri pasien meningkat
Pasien dapat melakukan interpersonal dengan orang lain
Pasien dapat melakukan kegiatan mandiri
Persiapan berinisiatif untuk berkomunikasi / melakukan komunikasi

secara verbal
Dokumentasi Asuhan Keperawatan
Dokumentasi asuhan keperawatan dilakukan pada setiap tahap proses
keperawatan

yang

meliputi

dokumentasi

pengkajian,

diagnosa

keperawatan, perencanaan, implementasi tindakan keperawatan, dan


evaluasi.
1. Terapi Aktivitas Kelompok
TAK pada pasien isolasi sosial ada 7 sesi yang meliputi :
a. Sesi 1 : kemampuan memperkenalkan diri
b. Sesi 2 : kemampuan berkenalan
c. Sesi 3 : kemampuan bercakap-cakap
d. Sesi 4 : kemampuan bercakap-cakap topik tertentu
e. Sesi 5 : kemampuan bercakap-cakap masalah pribadi
f. Sesi 6 : kemampuan bekerjasama
g. Sesi 7 : evaluasi kemampuan sosialisasi
2. Pertemuan Kelompok Keluarga
Asuhan keperawatan untuk kelompok keluarga ini dapat
diberikan dengan melaksanakan pertemuan keluarga baik dalam
bentuk kecil dan kelompok besar.

15

BAB 3

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA PASIEN Ny.R DENGAN DIAGNOSA


KEPERAWATAN ISOLASI SOSIAL : MENARIK DIRI DENGAN
DIAGNOSA
MEDIK F.20.1 (SKIZOFRENIA HEBEPHRENIC) DI RUANG FLAMBOYAN
RUMAH SAKIT JIWA MENUR SURABAYA

16

OLEH
KELOMPOK 2
STIKES HANG TUAH SURABAYA

RUANGAN RAWAT : FLAMBOYAN


I.

II.

IDENTITAS KLIEN
Inisial
Umur
Jenis Kelamain
Informan
Tanggal Pengkajian
RM No.

TANGGAL DIRAWAT : 1 APRIL 2016

: Ny.R
: 28 Tahun
: Perempuan
: Rekam Medis Pasien
: 25 April 2016
: 050xxx

ALASAN MASUK

17

Berdasarkan keterangan yang tertera di rekam medik px. Px


mengalami gangguan jiwa sejak 10 tahun yang lalu dan pasien belum
pernah mendapatkan pengobatan apapun sebelumnya. Tetapi baru dirawat
di RSJ Menur Surabaya pada tanggal 1 April 2016 karena memukul kedua
orang tuanya. Pada saat pengkajian tanggal 25 April 2016 pukul 11.00
WIB. Px hanya diam saja saat ditanya dan menghindar juga terlihat
menyendiri. Px melamun, berdiam diri, duduk diatas tempat tidur, kontak
mata tidak ada, apatis , efek datar.
III.

FAKTOR PREDISPOSISI
1. Px pernah mengalami gangguan jiwa di masa lalu
2. Px tidak pernah mendapat pengobatan apapun sebelumnya
3. Px pernah melakukan penganiayaan fisik pada umur 18 tahun
Penjelasan no 1,2,3

: px mengalami gangguan jiwa sejak 10 tahun

yang lalu tetapi belum pernah mendapatkan pengobatan apapun


sebelumnya. Px pernah menjadi pelaku penganiayaan fisik pada usia 18 th
yaitu memukul kedua orang tuannya.
Masalah Keperawatan : Resiko Perilaku Kekerasan
4. Adakah anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa : Tidak ada
anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa
5. Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan

: pada saat dikaji

px hanya diam saja dan tidak di temukan catatan pengalaman masalalu

IV.

pada rekam medik px.


Masalah Keperawatan : masalah masih sulit di evaluasi
FISIK
1. Tanda Vital : TD : 110/80 mmHg N. : 88x/Menit S. : 36,1 C P. :
20x/Menit
2. Ukur
: TB : 158 cm
BB : 42 kg
3. Keluhan Fisik : Tidak ada
Penjelasan
: Saat dikaji px tidak menunjukkan gejala keluhan fisik
Masalah Keperawatan

: tidak ada masalah keperawatan.

18

V.

PSIKOSOSIAL
1. Genogram
Penjelasan

: Saat dikaji tentang keluarga, px hanya diam saja dan

di status Rekam Medik, Px tidak di temuksn data.


Masalah Keperawatan
: Masalah sulit dievaluasi
2. Konsep Diri
a. Gambaran Diri
b.
c.
d.
e.

: Saat dikaji tentang gambaran diri, Px hanya

diam
Identitas
: Saat dikaji tentang identitas , Px hanya diam
Peran
: Saat dikaji tentang peran, Px hanya diam
Ideal Diri
: Saat dikaji tentang ideal diri, Px hanya diam
Harga Diri
: Saat dikaji tentang harga diri, Px hanya diam
Masalah Keperawatan : masalah sulit dievaluasi.

3. Hubungan Sosial
a. Orang yang berarti

: Saat dikaji tentang orang yang berarti,

Px hanya diam saja.


b. Peran serta dalam kegiatan kelompok / masyarakat : Px tidak
pernah mengikuti kegiatan dengan baik di Rumah sakit , Melamun
dan menyendiri.
c. Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain : Px tidak mau
berbicara dengan orang lain dan hanya diam saja.
Masalah Keperawatan

: Isolasi sosial : Menarik diri

4. Spiritual :
a. Nilai dari keyakinan : saat dikaji tentang keyakinan Px hanya diam
saja.
b. Kegiatan

ibadah : selama di RS Px tidak terlihat melakukan

kegiatan ibadah.
Masalah Keperawatan : tidak ada masalah keperawatan
GENOGRAM
Saat dikaji pasien hanya diam dan di Rekam Medis pasien tidak terdapat genogram
pasien

19

VI.

STATUS MENTAL :
1. Penampilan : tidak rapi
Penjelasan : saat dikaji Px tampak tidak rapi, baju lusuh, rambut acakacakan,
Masalah Keperawatan : Defisit Perawatan Diri
2. Pembicaraan : membisu
Penjelasan : pada saat dikaji Px hanya diam .
Masalah Keperawatan : Gngguan Komunikasi Verbal
3. Aktivitas Motorik : lesu
Penjelasan : Px terlihat tegang saat diajak berinteraksi, Px lebih
memilih menghinda, px sering melamun dan duduk dibawah tempat
tidur.
Masalah Keperawatan : Intoleransi aktivitas
4. Alam Perasaan : Ketakutan
Penjelasan : pada saat di kaji tentang perasaan, Px hanya diam dan
menghindar
Masalah Keperawatan : masalah sulit dievaluasi.
5. Afek : Datar
Penjelasan : px tanpa ekspresi, apabila di beri stimulus senang, px
tampak diam dan menundukkan kepala
Masalah Keperawatan : Gangguan Komunikasi Non Verbal
6. Interaksi Selama Wawancara : Tidak Kooperatif, kontak mata kurang
Penjelasan : Px suka mengalihkan pandangan dan menunduk saat
diajak bicara px tidak mau menjawab pertanyaaan.
Masalah Keperawatan : Gangguan Interaksi Sosial
7. Persepsi
Halusinasi
Penjelasan : saat dikaji px tanpak menyendiri dan suka berbicara
sendiri tetapi saat ditanya bicara dengan siapa px hanya diam dan
menghindar.
Masalah Keperawatan : Resiko tinggi gangguan persepsi sensori:
Halusinasi
8. Proses Pikir :

20

Penjelasan : pada saat dikaji, Px hanya diam dan tidak mau menjawab
pertanyaan
Masalah Keperawatan : belum dapat dievaluasi
9. Isi pikir
Penjelasan : saat dikaji px hanya diam
Masalah Keperawatan : sulit dievaluasi
10. Tingkat kesadaran:
Disorientasi : waktu, tempat, dan orang
Penjelasan : pada saat dikaji tentang jam berapa hari ini, px berada
dimana sekarang dan saat di tanya tentang orang-orang di
sekelilingnya px hanya diam.
Masalah keperawatan : masalah sulit dievaluasi
11. Memori
Penjelasan : px saat dikaji hanya diam saja
Masalah Keperawatan : masalah sulit di evaluasi.
12. Tingkat konsentrasi dan berhitung
Mudah beralih
Penjelasan : saat dikaji konsentrasi px mudah beralih
Masalah keperawatan : gangguan proses pikir
13. Kemampuan Penilaian
Gangguan bermakna
Penjelasan : saat dikaji tentag kemampuan penilaian dengan memberi
pilihan mau mandi atau makan dulu px tidak mau menjawab malah
mengusir perawat.
Masalah Keperawatan : Masalah sulit dievaluasi
14. Daya tilik diri
Penjelasan : saat dikaji tentang daya tilik diri pasien hanya diam saja
Masalah keperawatan : sulit di evaluasi
VII.

KEBUTUHAN PULANG
1. Kemampuan klien memenuhi/ menyediakan kebutuhan :
Makanan, keamanan, perawatan kes. Pakaian , transportasi, tempat
tinggal, uang
Penjelasan : Px belum mampu menyedikan sesui kebutuhan secara
mandiri
Masalah Keperawatan : gangguan pemeliharaan kesehatan
2. Kegiatan hidup sehari hari :
a. Perawatan diri :
Mandi , kebersihan, makan, BAB/BAK, ganti pakaian
Penjelasan : Px belum mampu melakakan perawatan diri secara
mandiri tetapi harus diarahkan terlebih dahulu
21

Masalah Keperawatan : Defisit Perawatan Diri


b. Nutrisi
Saat dikaji tentang makanannya enak atau tidak pasien hanya
menganggukkan kepalanya.
Pasien tidak bisa makan bersama dengan pasien lainnya,
Penjelasan : saat ditanya, pasien hanya diam saja
Frekuensi makan 3xsehari
Frekuensi udapan 2xsehari
Penjelasan : saat diberikan makan 3x sehari, dalam 1 porsi makan
px hanya menghabiskan 3-4 sendok makan saja, tetapi saat
diberikan udapan 2x sehari px selalu menghabiskan udapan yang
diberikan.
Pasien ada diet khusus yaitu TKTP (Tinggi Kalori Tinggi Protein)
Penjelasan : pasien tidak menghabiskan makanananya hanya
menghabiskan 3 sendok saja
Masalah Keperawatan : resiko tinggi gangguan nutrisi kurang dari
kebutuhan
c. Tidur
penjelasan : menurut data operan di rekam medik px, px tidak
mengalami gangguan tidur dimalam hari.
Masalah keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan.
3. Kemampuan klien dalam
Klien tidak bisa mengantisipasi kebutuhannya sendiri,
Klien tidak bisa mengambil keputusan berdasarkan keinginannya
sendiri,
Klien tidak bisa mengatur penggunaan obat yang di minumnya,
Klien tidak bisa melakukaan pemeriksaan kesehatan secara mandiri
Penjelasaan : pasien tidak mampu mengantisipasi kebutuhan sendiri
Masalah Keperawatan : Resiko penatalaksanaan regiment terapi
inefektif
4. Klien memiliki sistem pendukung : Keluarga & professional / terapis
Penjelasan : Px mendapat dukungan dari keluarga atau terapis
Masalah Keperawatan

: Tidak ditemukan masalah keperawatan

22

5. Apakah klien menikmati saat bekerja kegiatan yang menghasilkan atau hobi ?
Tidak
Penjelasan : Px tidak punya hobi dan RSJ hanya diam menyendiri
Masalah Keperawatan

: Defisit aktifitas hiburan

VIII. MEKANISME KOPING


-

Reaksi lambat
Menghindar

Masalah Keperawatan

: Mekanisme Koping Individu Inefektif

IX. MASALAH PSIKOSOSIAL DAN LINGKUNGAN


a. Masalah dengan dukungan kelompok, spesifik : Saat dikaji px hanya diam
b. Masalah berhubungan dengan lingkungan, spesifik : Saat dikaji px hanya
c.
d.
e.
f.
g.
h.

diam
Masalah dengan pendidikan , Spesifik : Saat dikaji px hanya diam
Masalah dengan pekerjaan , Spesifik : Saat dikaji px hanya diam
Masalah dengan perumahan, spesifik : Saat dikaji px hanya diam
Masalah dengan ekonomi, Spesifik : Saat dikaji px hanya diam
Masalah dengan pelayanan kesehatan, spesifik : Saat dikaji px hanya diam
Masalah lainnya, Spesifik : Saat dikaji px hanya diam

Masalah Keperawatan

: Masalah Sulit Dievaluasi

X. PENGETAHUAN KURANG TENTANG


- Penyakit Jiwa

- Sistem pendukung

- Faktor Presipitasi

- Penyakit Fisik

- Koping

- Obat-obatan

- Lainnya : Pasien tidak mengetahui penyakit jiwa, factor presipitasi, Koping,


Sistem

pendukung dan obat-obatan

Masalah Keperawatan

: Defisit Pengetahuan
23

XI. DATA LAIN-LAIN


Hasil Lab Tanggal 02 April 2016
WBC 5,1 10^3/uL

4,8 -10,8

PDW 11,2 Fl

9-17

RBC 3,65 10^6/Ul

4,2-6,1

MPV 9,1 Fl

9-13

HGB 10,7 g/Dl

12-18

P-LCR 18,1%

13-43

HCT 31,1 %

37-52

NEUT % 63%

50-70

MCV 87,1 Fl

79-99

LYMPH% 34%

25-40

MCH 29,3 pg

27-31

MXD %3%

25-30

MCHC 33,6 g/Dl

33-37

NEUT 3,2 10^3/uL

2-7,7

PLT 259 10^3/Ul

150-450

LYMPH 1,7 10^3/Ul 0,8-4

RDW 12,7 %

11,5-14,5

MXD# 0,2 10^3/Ul

XII. ASPEK MEDIK


Diagnosa Medik

: F201 ( Skizofrenia Hebefrenik)

Terapi Medik

: - Clozapine 1x25 mg
-Haloperidol 2x5 mg
-Inhexiphenidil 2x2 mg

XIII. DAFTAR MASALAH

24

2-7,7

Hambatan komunikasi verbal


Defisit Perawatan Diri
Gangguan Pemeliharaan Kesehatan
Resti Perubahan Persepsi Sensori : Halusinasi
Gangguan Proses piker
Resti Gangguan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Mekanisme Koping Individu Inefektif
Defisit Pengetahuan
Resiko Perilaku Kekerasan
Distress Masalalu
Isolasi Sosial : Menarik Diri
Intoleransi Aktifitas
Gangguan Interaksi social
Penatalaksanaan Regimen Terapi Inefektif

XIV. DAFTAR DIAGNOSIS KEPERAWATAN


Isolasi Sosial : Menarik Diri

25

ANALISA DATA

TGL

DATA

ETIOLOGI

MASALAH

26

TTD

25-04- Ds:2016

Isolasi social: menarik diri

Do: px diam
menyendiri
tidak

mau

berinteraksi
dengan teman
yang lain, saat
ditannya tidak
menjawab dan
mengalihkan
muka

dan

menunduk
Px melamun ,
px
menyendiri,
tidaak

ada

kontak

mata,

apatis,

afek

datar

NAMA :Ny. R

NAMA: Ny.R

NIRM:050XXX

NIRM:050XXX

RUANGAN: FLAMBOYAN

RUANGAN :FLAMBOYAN

IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

27

TGL DX KEP

IMPLEMENTASI

EVALUASI

25-

Sp1(pertemuan 1)

S: saat dikaji px

Menarik diri

04-

a. Membina hubungan

2016

saling percaya
b. Mengidentifikasi

TT

hanya diam
O : px tidak mau
berjabat tangan

penyebab isos
c. Mengidentifikasi

Kontak mata tidak

keuntungan

ada

menundukkan

berinteraksi dengan kepala


orang lain
Saat ditannya px
d. Mengidentifikasi
kerugian

tidak

erinteraksi

b hanya diam

dengan

A: Sp1
orang lain
e. Mengidentifikasi px tercapai

belum

dalam

berkenalan P: ulangi Sp1 point


dengan orang lain
A-G
f. Mengidentifikasi
dan membi mbing
px

memasukkan

dalam

jadwal

kegiatan harian
g. Evaluasi Sp 1

26042016

Menarik diri

Sp1(pertemuan 2)
a. Membina hubungan
saling percaya
b. Mengidentifikasi
penyebab isos
c. Mengidentifikasi
28

S: px mengatakan
nama sayaR
O: -px mau berjabat

keuntungan

tangan

berinteraksi dengan
orang lain
d. Mengidentifikasi
kerugian

tidak

erinteraksi

-kontak mata tidak


ada

dengan

-px

saat

ditanya

menjawab

dengan

orang lain
kalimat
rancu,
e. Mengidentifikasi px
singkat dan dan
dalam
berkenalan
tidak jelas
dengan orang lain
f. Mengidentifikasi
-px menyendiri dan
dan membi mbing
melamun
px
memasukkan
jadwal A: Sp1 point A

dalam

tercapai

kegiatan harian

Menraik diri
27042016

Evaluasi Sp 1

P: ulangi Sp1 point

Sp1 (pertemuan 3)

B-G

b. Mengidentifikasi
penyebab isos
c. Mengidentifikasi
keuntungan
berinteraksi dengan
orang lain
d. Mengidentifikasi
kerugian

tidak

erinteraksi

S: pada saat ditanya


px

mengatakan

b untuk

menyuruh

dengan perawat

orang lain
isebelahnya
e. Mengidentifikasi px
dalam
berkenalan O: kontak
dengan orang lain
f. Mengidentifikasi
29

tidak ada

dudukd

mata

dan membi mbing -px


px

mengalihkan

memasukkan muka

dalam

jadwal

kegiatan harian

-px menulis tulisan


arab pada kertas

Evaluasi Sp 1

-px melamun
-px

saat

ditanya

hanya diam
Sp1( pertemuan ke-4)
28042016

Menarik diri

A: Sp1 pont B-F


belum tercapai

b. Mengidentifikasi
penyebab isos
c. Mengidentifikasi

P: ulangi Sp1 B-F

keuntungan
berinteraksi dengan
orang lain
d. Mengidentifikasi
kerugian

tidak

erinteraksi

dengan

orang lain
e. Mengidentifikasi px
dalam

berkenalan S: px mengatakan

dengan orang lain


f. Mengidentifikasi

kangen dengan ibu


(dalam

bahasa

dan membi mbing Madura)


px
memasukkan
dalam
jadwal O: - px kontak mata
kegiatan harian

sedikit
-px duduk bersama

Evaluasi Sp 1

px lain

30

-px

menundukkan

kepala
-px

hanya

bisa

komunikasi dengan
bahasa Madura
A: Sp 1 point B-F
P: ulangi Sp1 point
B-F

31