Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hipertensi adalah keadaan yang ditandai dengan terjadinya peningkatan
tekanan darah di dalam arteri. Hipertensi merupakan penyakit yang umumnya
tidak menunjukkan gejala, atau bila ada, gejalanya tidak jelas, sehingga
tekanan yang tinggi di dalam arteri sering tidak dirasakan oleh penderita.
Ukuran tekanan darah dinyatakan dengan dua angka; (sistolik) angka yang di
atas diperoleh pada saat jantung berkonstraksi, (diastolik) angka yang
dibawah diperoleh ketika jantung berileksasi (Junaidi, 2010).
Prevalensi hipertensi atau tekanan darah tinggi di Indonesia tergolong
tinggi. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 menunjukkan sebagian
besar kasus hipertensi di masyarakat belum terdiagnosis. Hal ini terlihat dari
hasil pengukuran tekanan darah pada usia 18 tahun keatas ditemukan
prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 31.7 %. Sedangkan prevalensi
hipertensi di Kepulauan Riau berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah
adalah 30.3% dan bila hanya berdasarkan diagnosa dan atau riwayat minum
obat hipertensi ditemukan sebesar 8.0%. Menurut kabupaten/kota, prevalensi
hipertensi berdasarkan tekanan darah berkisar antara 23.6%-53.3%, dan
prevalensi tertinggi ditemukan di Natuna, sedangkan terendah di Tanjung
Pinang. Prevalensi hipertensi berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan
dan atau minum obat hipertensi berkisar antara 5.6% - 14.2%. Berdasarkan

dari data penderita Hipertensi RSUD Embung Fatimah dari bulan OktoberDesember Tahun 2014 didapatkan penderita hipertensi berjumlah 142 orang.
Makin tinggi tekanan darah, makin keras jantung harus bekerja untuk
tetap memompa melawan hambatan. Jika, dengan berjalannya waktu, otot
jantung lelah, bisa terjadi kelemahan jantung dan akhirnya gagal jantung.
Karena beban berlebihan yang diletakkannya pada arteri, tekanan darah tinggi
mempercepat pelapukan dan kerusakannya, terutama pada organ-organ yang
dituju, yakni otak, koroner, dan ginjal. Oleh karena itu, hipertensi yang tidak
diobati sering mengakibatkan stroke dan serangan jantung yang berbahaya.
Stroke atau serangan jantung yang fatal mempunyai peluang dua kali lebih
besar pada orang yang menderita hipertensi yang tidak diobati dibandingkan
pada mereka yang memiliki tekanan darah normal diusia yang sama (Wolff,
2005).
Usia berpengaruh pada resiko terkena penyakit kardiovaskuler, yang
usia menyebabkan perubahan di dalam jantung dan pembuluh darah. Tekanan
darah meningkat sesuai dengan usia, karena arteri secara perlahan kehilangan
keeleatisannya. Dengan meningkatnya usia maka gejala arteriosklerosis
semakin nampak dan ini menunjang penigkatan tahanan perifer total dan
dapat menyebabkan hipertensi. Tetapi hipertensi tidak selalu terjadi pada usia
tua, namun berdasarkan kelompok umur, grafik rata-rata kenaikan tekanan
darah, mengikuti kenaikan rata-rata umur. Pada laki-laki hipertensi terjadi
umur > 55 tahun dan pada perempuan terjadi pda umur > 65 tahun. Resiko
wanita meningkat setelah mengalami masa menopause (EJ, 2001).
Laki-laki cenderung untuk terkena stroke lebih tinggi dibandingkan
wanita, dengan perbandingan 1.3 : 1, kecuali pada usia lanjut laki-laki dan

wanita hampir tidak berbeda. Laki-laki yang berumur 45 tahun bila bertahan
hidup sampai 85 tahun kemungknan terkena stroke iskemik sedangkan wanita
lebih sering menderita perdarahan subarachnoid dan kematiannya dua kali
lebih dibandingkan laki-laki (Junaidi, 2011).
Banyak sebenarnya faktor yang mempengaruhi kejadian stroke,
diantaranya

umur,

jenis

kelamin,

keturunan,

ras,

hipertensi,

hiperkolesterolemia, diabetes melitus, merokok, aterosklerosis, penyakit


jantung, obesitas, kosumsi alkohol, stress, kondisi sosial ekonomi yang
mendukung, diet yang tidak baik, aktivitas fisik yang kurang, dan
penggunaan obat anti hamil. Namun dari banyaknya faktor yang
mempengaruhi kejadian stroke hanya hipertensi yang secara signifikan
memengaruhi kejadian stroke (Sarini, 2008).
Resiko terkena stroke meningkat sejak usia 45 tahun. Setelah usia 50
tahun, setiap penambahan usia tiga tahun meningkatkan rsiko stoke sebesar
11-20%. Orang berusia lebih dari 65 tahun memiliki rsiko paling tinggi, tetapi
hampir 25% dari semua stroke terjadi sebelum usia tersebut, dan hampir 4%
terjadi pada orang berusia antara 15 dan 40 tahun (Feigin, 2004).
Menurut WHO, stroke di definisikan sebagai suatu gangguan
fungsional otak yang terjadi secara mendadak dengan tanda dan gejala klinis
baik fokal maupun global yang berlangsung lebih dari 24 jam, atau dapat
menyebabkan kematian, disebabkan oleh gangguan peredaran darah otak.
Tahun 1998 stroke merupakan penyebab utama kecacatan dan penyebab
kematian nomor dua di dunia dengan lebih dari 5,1 juta angka kematian.
Perbandingan angka kematian itu di Negara berkembang dengan Negara maju

adalah lima banding satu. Juga tercatat lebih dari 15 juta orang menderita
stroke nonfatal (Junaidi, 2011).
Pada tahun 2020 diperkirakan 7,6 juta orang akan meninggal karena
stroke. Peningkatan tertinggi akan terjadi di Negara berkembang, terutama di
wilayah Asia Pasifik. Di Indonesia sendiri diperkirakan terjadi sekitar 8001000 kasus stroke setiap tahunnya (Junaidi, 2011).
Hampir 80% pemicu stroke adalah penyakit tekanan darah tinggi
(hipertensi) dan pengerasan pembuluh arteri (arterosklerosis). Menurut
statistik, 93% pengidap penyakit trombosis ada hubungannya dengan
penyakit tekanan darah tinggi (Utaminingsih, 2009).
Apabila hipertensi tetap tidak diketahui

dan

tidak

dirawat,

mengakibatkan kematian karena payah jantung, infark miokardium, stroke


atau gagal ginjal. Namun deteksi dini dan perawatan hipertensi yang efektif
dapay menurunkan jumlah morbiditas dan mortalitas. Dengan demikian,
pemeriksaan tekanan darah secara teratur mempunyai arti penting dalam
perawatan hipertensi (Wilson & Price, 2003).
Tujuan umum pencegahan stroke adalah untuk menurunkan kecacatan
dini, kematian, serta memperpanjang hidup dengan kualitas yang baik.
Dikenal dengan dua macam pencegahan pada penyakit stroke, pencegahan
yaitu pencegahan primer dan pencegahan sekunder. Pencegahan primer
dilakukan bagi mereka yang belum pernah mengalami TIA atau stroke,
sedangkan pencegahan sekunder adalah pencegahan yang ditujukan bagi
mereka yang pernah atau sudah pernah atau sudah mengalami TIA atau stroke
(Junaidi, 2004).
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu yang terjadi setelah melakukan
penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan tersebut menjadi

panca indera manusia yaitu indera penglihatan, pendengaran, penciuman,


perasa dan peraba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui
mata dan telinga, perilaku dalam bentuk pengetahuan yakni dengan
mengetahui situasi atau rangsangan dari luar. Pengetahuan atau kognitif
merupakan

sangat

penting

untuk

terbentuknya

tindakan

seseorang

(Notoatmodjo, 2007).
Sampai saat ini belum ada pengobatan yang efektif dan efisien untuk
stroke karena sifatnya yang multikasual (disebebkan banyak faktor). Upaya
pencegahan merupakan salah satu cara yang paling efektif dan efisien untuk
mengurangi angka kejadian stroke. Upaya pencegahan baru dapat dilakukan
jika kita mengetahui faktor resiko apa saja yang dapat menyebabkan serangan
stroke. Oleh karena itu, pengetahuan terhadap stroke sangat diperlukan untuk
merumuskan cara pencegahan yang efektif.
Peningkatan pengetahuan penderita hipertensi tentang penyakit akan
mengarah pada kemajuan berpikir tentang sikap kesehatan yang lebih baik
sehingga berpengaruh dalam terkontrolnya tekanan darah. Berdasarkan latar
belakang diatas penulis tertarik untuk melakukan

penelitian tentang

Gambaran pengetahuan dan karakteristik penderita hipertensi terhadap


pencegahan stroke di RSUD Embung Fatimah Kota Batam Tahun 2014.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka peneliti
merumuskan masalah tentang bagaimana gambaran pengetahuan dan
karakteristik penderita hipertensi terhadap pencegahan stroke di RSUD
Embung Fatimah Kota Batam Tahun 2014?
C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui

gambaran

pengetahuan

dan

karakteristik

penderita hipertensi terhadap pencegahan stroke di RSUD Embung


Fatimah.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan pasien hipertensi terhadap
pecegahan stroke.
b. Untuk mengetahui distribusi penderita hipertensi berdasarkan usia.
c. Untuk mengetahui distribusi penderita hipertensi berdasarkan jenis
kelamin .
d. Untuk mengetahui distribusi penderitqa hipertensi berdasarkan tingkst
pendidikan.
e. Untuk mengetahui

distribusi

penderita

hipertensi

berdasarkan

pekerjaan.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
a. Membantu dalam mencapai tujuan peneliti untuk mengetahui
gambaran pengetahuan pasien hipertensi terhadap pencegahan
b.

penyakit stroke.
Sebagai bahan tambahan ilmu pengetahuan bagi peneliti dan untuk
mengaplikasikan ilmu-ilmu yang telah didapat di bangku

perkuliahan.
2. Bagi Institusi
a. Penelitian ini diharapkan sebagai sarana untuk melatih berfikir
secara logis dan sistematis serta mampu menyelenggarakan suatu
penelitian berdasarkan metode yang baik dan benar.
b. Sebagai tambahan ilmu pengetahuan dan bahan bacaan bagi
mahasiswa Universitas Batam.
3. Bagi Responden
Hasil penelitian ini dapat

digunakan

untuk

menambah

pengetahuan penderita hipertensi dalam pencegahan penyakit stroke.