Anda di halaman 1dari 25

1

VIII

PENGAWASAN DAN SUPERVISI PENDIDIKAN

8.1 Pengawasan Pendidikan

A. Konsep Pengawasan Pendidikan

Pengawasan (pengendalian) atau controlling adalah bagian terakhir dari

fungsi manajemen. Fungsi manajemen yang dikendalikan adalah

perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan itu sendiri.

Kasus-kasus yang banyak terjadi dalam suatu organisasi adalah akibat masih

lemahnya pengendalian sehingga terjadilah berbagai penyimpangan antara

yang direncanakan dengan yang dilaksanakan.

Pada dasarnya rencana dan pelaksanaan merupakan satu kesatuan

tindakan, walaupun hal ini jarang terjadi. Pengawasan diperlukan untuk

melihat sejauh mana hasil tercapai. Pengawasan sebagai tugas disebut

supervisi pendidikan. Sebagai pemahaman lanjut dari istilah tersebut, berikut

ini mencoba memaparkan hal-hal terkait dengan pengawasan dan supervisi

pendidikan.

Pengawasan ialah suatu kegiatan untuk memperoleh kepastian apakah

pelaksanaan pekerjaan atau kegiatan telah dilakukan sesuai dengan rencana

semula. Kegiatan pengawasan pada dasarnya membandingkan kondisi yang

ada dengan yang seharusnya terjadi.

Menurut Murdick sebagaimana dikutip oleh Fattah (2000: 101)

dikatakan bahwa pengawasan merupakan proses dasar yang secara esensial

tetap diperlukan bagaimanapun rumit dan luasnya suatu organisasi. Proses

dasarnya terdiri dari tiga tahap; pertama, menetapkan standar pelaksanaan;

kedua, pengukuran pelaksanaan pekerjaan dibandingkan dengan standar, dan

ketiga, menentukan kesenjangan (deviasi) antara pelaksanaan dengan standar

dan rencana.

2

Pengawasan dapat diartikan sebagai proses kegiatan monitoring untuk meyakinkan bahwa semua kegiatan organisasi terlaksana seperti yang direncanakan dan sekaligus juga merupakan kegiatan untuk mengoreksi dan memperbaiki bila ditemukan adanya penyimpangan yang akan mengganggu pencapaian tujuan. Pengawasan juga merupakan fungsi manajemen yang diperlukan untuk mengevaluasi kinerja organisasi atau unit-unit dalam suatu organisasi guna menetapkan kemajuan sesuai dengan arah yang dikehendaki.

Oleh karena itu mudah dipahami bahwa pengawasan pendidikan adalah fungsi manajemen pendidikan yang harus diaktualisasikan, seperti halnya fungsi manajemen lainnya. Berdasarkan konsep tersebut, maka proses perencanaan yang mendahului kegiatan pengawasan harus dikerjakan terlebih dahulu. Perencanaan yang dimaksudkan mencakup perencanaan:

pengorganisasian, wadah, struktur, fungsi dan mekanisme, sehingga perencanaan dan pengawasan memiliki standar dan tujuan yang jelas.

Pengawasan dimaksudkan untuk meningkatkan akuntabilitas dan keterbukaan. Pengawasan pada dasarnya menekankan langkah-langkah pembenahan atau koreksi yang objektif jika terjadi perbedaan atau penyimpangan antara pelaksanaan dengan perencanaannya. Dalam makna ini pengawasan juga berarti mengarahkan atau mengoordinasi antar kegiatan agar pemborosan sumber daya dapat dihindari.

B. TQM dan QA sebuah Inovasi dalam Pendidikan

Di era kontemporer dunia pendidikan dikejutkan dengan adanya model pengelolaan pendidikan berbasis industri. Pengelolaan model ini mengandaikan adanya upaya pihak pengelola institusi pendidikan untuk meningkatkan mutu pendidikan berdasarkan manajemen perusahaan. Penerapan mana¬jemen mutu dalam pendidikan ini lebih populer dengan sebutan istilah Total Quality Education (TQE). Dasar dari manajemen ini dikembangkan dari konsep Total Quality Management (TQM), yang pada

mulanya diterapkan pada dunia bisnis kemudian diterapkan pada dunia

3

pendidikan. Secara filosofis, konsep ini menekankan pada pencarian secara konsisten terhadap perbaikan yang berkelanjutan untuk mencapai kebutuhan dan kepuasan pelanggan.

Strategi yang dikembangkan dalam penggunaan manajemen mutu terpadu dalam dunia pendidikan adalah, institusi pendidikan memposisikan dirinya sebagai institusi jasa atau dengan kata lain menjadi industri jasa. Yakni institusi yang memberikan pelayanan (service) sesuai dengan apa yang diinginkan oleh pelanggan (customer). Jasa atau pelayanan yang diinginkan oleh pelanggan tentu saja merupakan sesuatu yang ber-mutu dan memberikan kepuasan kepada mereka. Maka pada saat itulah, dibutuhkan suatu sistem manajemen yang mampu memberdayakan institusi pendidikan agar lebih bermutu.

Manajemen pendidikan mutu terpadu berlandaskan pada kepuasan pelanggan sebagai sasaran utama. Pelanggan dapat dibedakan menjadi pelanggan dalam (internal customer) dan pelanggan luar (external customer). Dalam dunia pendidikan yang termasuk pelanggan dalam adalah pengelola institusi pendidikan itu sendiri, misalkan manajer, guru, staff, dan penyelenggara institusi. Sedangkan yang termasuk pelanggan luar adalah masyarakat, pemerintah dan dunia industri. Jadi, suatu institusi pendidikan disebut bermutu apabila antara pelanggan internal dan eksternal telah terjalin kepuasan atas jasa yang diberikan.

Maka dari itu, untuk memposisikan institusi pendidikan sebagai industri jasa, harus memenuhi standar mutu. Institusi dapat disebut bermutu, dalam konsep Total Quality Management, harus memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan. Secara operasional, mutu ditentukan oleh dua faktor, yaitu terpenuhinya spe-sifikasi yang telah ditentukan sebelumnya dan terpe- nuhinya spesifikasi yang diharapkan menurut tuntutan dan kebutuhan pengguna jasa. Mutu yang pertama disebut quality in fact (mutu sesungguhnya) dan yang kedua disebut quality in perception (mutu persepsi).

4

Standar mutu produksi dan pelayanan diukur dengan kriteria sesuai dengan spesifikasi, cocok dengan tujuan pembuatan dan penggunaan, tanpa cacat (zero defects) dan selalu baik sejak awal (right first time and every time). Mutu dalam persepsi diukur dari kepuasan pelanggan atau pengguna, meningkatnya minat, harapan dan kepuasan pelanggan. Dalam penyelenggaraannya, quality in fact merupakan profil lulusan institusi pendidikan yang sesuai dengan kualiflkasi tujuan pendidikan, yang berbentuk standar kemampuan dasar berupa kualiflkasi akademik minimal yang dikuasai oleh peserta didik. Sedangkan pada quality in perception pendidikan adalah kepuasan dan bertambahnya minat pelanggan eksternal terhadap lulusan institusi pendidikan.

pelanggan eksternal terhadap lulusan institusi pendidikan. Beranjak dari pembahasan tersebut, dalam operasi Total

Beranjak dari pembahasan tersebut, dalam operasi Total Quality

Management dalam dunia pendidikan ada beberapa hal pokok yang perlu diperhatikan, menurut Edward Sallis yang dikutip oleh Djadja

Pertama, perbaikan secara terus-menerus (continuous improvement). Konsep ini mengandung pengertian bahwa pihak pengelola senantiasa melakukan berbagai perbaikan dan peningkatan secara terus menerus untuk

5

menjamin semua komponen penyelenggara pendidikan telah mencapai standar mutu yang ditetapkan. Konsep ini juga berarti bahwa antara institusi pendidikan senantiasa memperbaharui proses berdasarkan kebutuhan dan tuntutan pelanggan. Jika tuntutan dan kebutuhan pelanggan berubah, maka pihak pengelola institusi pendidikan dengan sendirinya akan merubah mutu, serta selalu memperbaharui komponen produksi atau komponen-komponen yang ada dalam institusi pendidikan.

Kedua, menentukan standar mutu (quality assurance). Paham ini digunakan untuk menetapkan standar-standar mutu dari semua komponen yang bekerja dalam proses produksi atau transformasi lulusan insti¬tusi pendidikan. Standar mutu pendidikan misalnya dapat berupa pemilikan atau akuisisi kemampun dasar pada masing-masing bidang pembelajaran, dan sesuai dengan jenjang pendidikan yang ditempuh. Selain itu, pihak manajemen juga hams menentukan standar mutu materi kurikulum dan standar evaluasai yang akan dijadikan sebagai alat untuk mencapai standar kemampuan dasar.

Standar mutu proses pembelajaran harus pula ditetapkan, dalam arti bahwa pihak manajemen perlu menetapkan standar mutu proses pembelajaran yang diharapkan dapat berdaya guna untuk mengoptimalkan proses produksi dan untuk melahirkan produk yang sesuai, yaitu yang menguasai standar mutu pen¬didikan berupa penguasaan standar kemampuan dasar. Pembelajaran yang dimaksud sekurang-kurangnya memenuhi karakteristik; menggunakan pendekatan pembelajaran pelajar aktif (student active learning), pembelajaran koperatif dan kolaboratif, pembelajaran konstruktif, dan pembelajaran tuntas (mastery learning).

Begitu

pula

pada

akhirnya,

pihak

pengelola

pendidikan

menentukan

standar

mutu

evaluasi

pembel-ajaran.

Standar

mutu

evaluasi

yaitu

bahwa

evaluasi harus

standar

dapat

kemampuan

mengukur

tiga

bentuk

penguasaan peserta

dasar,

yaitu

penguasaan

materi

(content

atas

objectives),

didik

6

penguasaan metodologis (methodological objectives), dan penguasaan keterampilan yang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari (life skill objectives). Dengan kata lain, penilaian diarahkan pada dua aspek hasil pembelajaran, yaitu instructional effects dan nurturant effects. Instructional effaces adalah hasil-hasil yang kasat mata dari proses pembelajaran, sedangkan nurturant effect adalah hasil-hasil laten proses pembel¬ajaran, seperti terbentuknya kebiasaan membaca, kebisaan pemecahan masalah.

Ketiga, perubahan kultur (change of culture). Konsep ini bertujuan membentuk budaya organisasi yang meng-hargai mutu dan menjadikan mutu sebagai orientasi semua komponen organisasional. Jika manajemen ini ditetapkan di institusi pendidikan, maka pihak pim-pinan harus berusaha membangun kesadaran para anggotanya, mulai dari pemimpin sendiri, staf, guru, pelajar, dan berbagai unsur terkait, seperti pemimpin yayasan, orangtua, dan para pengguna lulusan pendi¬dikan akan pentingnya mempertahankan dan mening-katkan mutu pembelajaran, baik mutu hasil maupun proses pembelajaran. Di sinilah letak penting dikem-bangkannya faktor rekayasa dan faktor motivasi agar secara bertahap dan pasti kultur mutu itu akan ber- kembang di dalam organisasi institusi pendidikan. Di sini pula penting diterapkan bentuk-bentuk hubungan manusia yang efektif dan konstruktif, agar semua anggota organisasi institusi pendidikan merasakan ada hubungan intim dan harmonis bagi terbentuknya kerjasama yang berdaya guna dan berhasil guna. Per-ubahan kultur ke arah kultur mutu ini antara lain dilaku- kan dengan menempuh cara-cara; perumusan keyakinan bersama, intervensi nilai-nilai keagamaan, yang dilan-jutkan dengan perumusan visi dan misi organisasi institusi pendidikan.

Keempat, perubahan organisasi (upside-down organization). Jika visi dan misi, serta tujuan organisasi sudah berubah atau mengalami perkembangan, maka sangat dimungkinkan terjadinya perubahan organisasi. Perubahan organisasi ini bukan berarti perubahan wadah organisasi, melainkan sistem atau struktur organisasi yang melambangkan hubungan-

7

hubungan kerja struktur organisasi yang melambangkan hubungan-hubungan kerja dan kepengawasan dalam organisasi. Perubahan ini menyangkut perubahan kewenangan, tugas-tugas dan tanggung jawab. Misalnya, dalam kerangka manajemen berbasis sekolah, struktur orga¬nisasi dapat berubah terbalik dibandingkan dengan struktur konvensional. Jika dalam struktur konvensional berturut-turut dari atas ke bawah; senior manager, middle manager, teacher dan support staff. Sedalam struktur yang baru, yaitu dalam struktur organisasi layanan, keadaannya berbalik dari atas ke bawah berturut- turut; learner, team, teacher and support, staff, dan leader.

Kelima, mempertahankan hubungan dengan pelanggan (keeping close to the customer). Karena organisasi pendidikan menghendaki kepuasan pelanggan, maka perlunya mempertahankan hubungan baik dengan pelanggan menjadi sangat penting. Dan inilah yang dikembangkan dalam unit public relations. Berbagai informasi antara organisasi pendidikan dan pelanggan harus terus menerus dipertukarkan, agar institusi pendidikan senantiasa dapat melakukan perubahan-perubahan atau improvisasi yang diperlukan, terutama berdasarkan perubahan sifat dan pola tuntutan serta kebutuhan pelanggan. Bukan hanya itu, pelanggan juga diperkenankan melakukan kunjungan, pengamatan, penilaian dan pemberian masukan kepada institusi pendidikan. Semua masukan itu selanjutnya akan diolah dalam rangka mempertahankan dan meningkatkan mutu proses dan hasil- hasil pembelajaran. Dan yang perlu diperhatikan adalah bahwa dalam manajemen berbasis sekolah, guru dan staff justru dipandang sebagai pelanggan internal, sedangkan pelajar, termasuk orangtua pelajar dan masyarakat umum, termasuk pelanggan eksternal. Maka, pelanggan baik internal maupun eksternal harus dapat terpuaskan melalui interval kreatif pimpinan institusi pendidikan.

Untuk keberhasilan penerapan Manajemen Mutu Terpadu tersebut memang tidak mudah, diperlukan komitmen dan kerjasama yang baik antara departemen terkait, antara departemen pusat dengan departemen pendidikan

8

daerah serta institusi pendidikan setempat sebagai pihak yang berhubungan

langsung dengan masyarakat. Oleh karena itu perlu adanya kejelasan secara

sistemik dalam memberikan kewenangan antar institusi terkait. Jika

manajemen ini diterapkan sesuai dengan ketentuan yang ada dengan segala

dinamika dan fleksibilitasnya, maka akan menjadi perubahan yang cukup

efektif bagi pengembangan dan peningkatan mutu dan mutu pendidikan

nasional.

8.2 Supervisi Pendidikan

A. Konsep Supervisi Pendidikan

Konsep supervisi tidak bisa disamakan dengan inspeksi, inspeksi lebih

menekankan kepada kekuasaan dan bersifat otoriter, sedangkan supervisi

lebih menekankan kepada persahabatan yang dilandasi oleh pemberian

pelayanan dan kerjasama yang lebih baik diantara guru-guru, karena bersifat

demokratis.

Istilah supervisi berasal dari dua

kata,

yaitu “super”

dan “vision”.

Dalam Webstr’s New World Dictionary (Suhardan, 2010:35-36) mengartikan

bahwa:

“Istilah super berarti “higher in rank or position than, superior to (superintendent), a greater or better than others”, sedangkan kata vision berarti, “the ability to perceive not actually visible, as through mental acutness or keen foresight”.

dapat

profesional dalam bidang akademik, dijalankan berdasarkan kaidah-kaidah

keilmuan tentang bidang kerjanya, memahami tentang pembelajaran lebih

mendalam dari sekedar pengawas biasa” (Suhardan, 2010:36).

pengawasan

Selanjutnya

konsep

supervisi

diartikan

sebagai

sebagai

“bantuan dalam pengembangan situasi mengajar belajar yang lebih baik”.

Selanjutnya

mengembangkan kepemimpinan di dalam kelompok, membangun program

hendaknya

Kimball

Wiles

(Sutisna,

1989:264)

bahwa

menjelaskan

yang

supervisi

baik

Wiles

mengatakan

supervisi

9

latihan dalam jabatan untuk meningkatkan keterampilan guru, dan membantu

guru meningkatkan kemampuannya dalam menilai hasil pekerjaannya.

Dalam

sistem

sekolah,

khususnya

sistem

sekolah

yang

sudah

berkembang, situasainya berbeda, dalam Carter Good’s Dictionary of

Education (Sutisna, 1989:264), supervisi didefinisikan sebagai:

Segala usaha dari pejabat sekolah yang diangkat dan diarahkan kepada penyediaan kepemimpinan bagi para guru dan tenaga kependidikan lain dalam perbaikan pengajaran; melibat stimulasi pertumbuhan profesional dan perkembangan dari para guru, seleksi dan revisi tujuan-tujuan pendidikan, bahan pengajaran, dan metode-metode mengajar, dan evaluasi pengajaran.”

Sedangkan menurut Boardman (Daryanto, 2008:170) menjelaskan

bahwa:

“Supervisi adalah usaha menstimulir, mengkoordinir, dan membimbing secara kontinu pertumbuhan guru-guru sekolah, baik secara individual mapun secara kolektif, agar lebih mengerti, dan lebih efektif dalam menujudkan seluruh fungsi pengajaran, sehingga dengan demikian mereka mampu dan lebih cakap berpartisipasi dalam mesyarakat demokrasi modern."

Supervisi adalah pekerjaan memberi bantuan. Sedangkan ketika kata

supervisi melekat pada kata pendidikan, makna yang yang dimilikinyapun

sempit. Supervisi juga merupakan bantuan dalam mengembangkan situasi

belajar mengajar secara lebih baik. Selanjutnya supervisi meliputi segenap

aktivitas yang dirancang untuk mengembangkan pengajaran pada semua

tingkatan organisasi sekolah.

Supervisi dapat diartikan sebagai prosedur memberi pengarahan atau

petunjuk dan mengadakan penilaian terhadap proses pengajaran. Oleh karena

itu, perlu digarisbawahi adanya beberapa pokok pikiran tentang supervisi

pendidikan, yakni: bahwa supervisi pendidikan pada hakekatnya merupakan

segenap bantuan yang ditujukan pada perbaikan-perbaikan dan pembinaan

aspek pengajaran. Melalui kegiatan supervisi, segala faktor yang berpengaruh

terhadap proses pengajaran dianalisis, dinilai dan ditentukan jalan

10

pemecahannya sehingga proses belajar mengajar di sekolah/madrasah dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

B. Proses dan Kegiatan Supervisi Pendidikan

Proses supervisi pengajaran merupakan kegiatan yang wajib dilaksanakan dalam penyelenggaraan pendidikan. Pelaksanaan kegiatan supervisi dilaksanakan oleh kepala sekolah dan pengawas sekolah dalam memberikan pembinaan kepada guru. Hal tersebut karena proses kegiatan pembelajaran merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru sebagai pemegang peranan utama. Kegiatan pembelajaran merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Oleh karena kegiatan supervisi dipandang perlu untuk memperbaiki kinerja guru dalam proses pembelajaran.

Pemberian bantuan pada supervisi pendidikan harus disesuaikan dengan masalah yang dihadapi oleh sekolah tersebut. Terdapat beberapa tahapan sebelum melakukan supervisi pendidikan yaitu monitoring dan evaluasi. Sebelum melakukan pengawasan maka pengawas harus menyiapkan instrumen terlebih dahulu, sehingga mengetahui hal-hal yang akan ditanyakan dan diamati.

Pelaksanaan supervisi pengajaran dilakukan secara sistematis oleh kepala sekolah dan pengawas sekolah bertujuan memberikan pembinaan kepada guru-guru agar dapat melaksanakan tugasnya secara efektif dan efisien. Dalam pelaksanaannya, baik kepala sekolah dan pengawas menggunakan lembar pengamatan yang berisi aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam peningkatan kinerja guru dan kinerja sekolah. Untuk melakukan supervisi terhadap guru digunakan lembar observasi yang berupa alat penilaian kemampuan guru (APKG), sedangkan untuk mensupervisi kinerja sekolah dilakukan dengan mencermati bidang akademik, kesiswaan, personalia, keuangan, sarana dan prasarana, serta hubungan masyarakat.

11

Adapun

kegiatan-kegiatan

supervisi

pendidikan

yang

dimaksud

menurut Sutisna (1989: 267-268) adalah sebagai berikut:

1. Menilai hasil pendidikan mengingat sasaran-sasaran pendidikan yang telah disetujui.

a. Penentuan dan analisis tujuan-tujuan dengan kritis secara kooperatif.

b. Analisis data untuk menemukan kekuatan dan kelamahan pada hasil pendidikan.

c. Seleksi dan penerapan cara-cara penilaian.

menetapkan faktor-

2. Mempelajari

situasi

mengajar

belajar

untuk

faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan prestasi murid yang memuaskan dan tidak memuaskan.

a. Mempelajari pedoman mengajarkan bidang-bidang studi dan kurikulum dalam pelaksanaan.

b. Mempelajari alat peajaran, perlangkapan, dan lingkungan sosial fisik dari belajar dan pertumbuhan.

c. Mempelajari faktor-faktor yang bertalian dengan pengajaran yang terdapat pada guru.

d. Faktor-faktor yang terdapat pada pelajar.

3. Memperbaiki situasi mengajar belajar.

a. Memperbaiki pedoman mengajarkan bidang-bidang studi dan mengembangkan bahan instruksional, termasuk menyusun kerangka mata pejalaran, memilih buku pelajaran, buku pelengkap, dan bahan cetak lain.

b. Memperbaiki alat pelajaran, perlengkapan, dan lingkungan sosio fisik dari belajar dan pertumbuhan.

c. Memperbaiki perbuatan (performance) guru dengan penggunaan teknik-teknik supervisi yang sesuai, baik yang bersifat individual maupun kelompok.

12

d. Memperbaiki faktor-faktor yang terdapat pada pelajar, yang mempengaruhi pertumbuhan dan prestasinya. 4. Memilih sasaran, metode, dan hasil supervisi. a. Memilih dan menerapkan teknik-teknik evaluasi yang paling cocok. b. Menilai hasil program-program supervisi tertentu, termasuk faktor-faktor yang membatasi program-program itu. c. Menilai dan memperbaiki perbuatan personil supervisi.

C. Perkembangan Supervisi Supervisi pada awalnya merupakan bagian dari aktivitas manajemen pemerikasaan atau inspeksi oleh pihak eksternal. Kepala sekolah harus menunjukkan bukti kinerja pelaksanaan tugasnya. Pendidik harus menunjukkan bagaimana membelajarkan siswa, menerapkan kurikulum, dan menyerap pelajaran. Pada decade ini tema memeriksa tertanam kuat dalam praktek supervisi.

Pada dekade awal abad kedua puluh, seiring dengan gerakan dalam bidang industri yang menerapkan model manajemen, supervisi semakin berrkembang dengan semakin berpusat pada siswa. Hal ini dipengaruhi oleh berkembangnya teori-teori kurikulum yang berkembang di Eropa seperti Friedrich Froebel, Johan Pestalozzi, Johan Herbart, serta filsuf Amerika terkemuka John Dewey. Pekembangan ini jelas sangat berpengaruh terhadap perkembangan sekolah.

Perkembangan lebih jauh dengan berkembangnya berbagai penelitian dalam bidang pendidikan, pengawasan sering terjebak pada kegiatan mengevaluasi guru secara ilmiah yang simultan dengan mengembangkan model pembelajaran yang mekanistis , mengulang, dan meningkatkan partisipasi untuk lebih meningkatkan ragam tanggapan siswa yang tumbuh dari rasa ingin tahu. Perkembangan ini telah menyebabkan meningkatnya standar persyaratan sistem pembelajaran. Pendekatan supervisi yang ilmiah

13

telah memunculkan ketegangan psikologis guru yang cendrung lebih memperhatikan aspek pragmatis.

Paradigma mekanistik dibangun berdasarkan paradigma lingkungan yang berfokus pada empat komponen dasar, yaitu hubungan antara sistem alam dan sosial, mengintegrasikan nilai kemanusian dengan alam, menggunakan teknologi dalam mengembangkan alternatif, dan mengembangkan kegiatan pembelajaran dalam siklus kehidupan manusia. (Disinger, John F. Roth, Charles E, 1992)

Sampai kini ketegangan antara pengawas dengan pendidik akibat dari pengawasan yang menggunakan pendekatan ilmiah tidak pernah pudar. Oleh karena itu berkembanglah pemikiran lanjut untuk mengembangkan supervisi dengan pendekatan yang lebih fleksibel, dialogis, kolaboratif, melibatkan hati secara alamiah, dan lebih komunikatif. Supervisi menjadi bagian dari usaha meningkatkan mutu penerapan kewenangan profesional.

Perkembangan selanjutnya adalah berkembangnya konsep supervisi klinis. Awalnya konsep itu dikembangkan oleh profesor Harvard Morris Cogan dan Robert Anderson serta mahasiswa pascasarjana mereka. Supervisi dan supervisi klinis mengintegrasikan unsur objektif dan ilmiah melalui pengamatan kelas yang bersifat kolegial, menekankan pada aspek pembinaan, serta didasari dengan perencanaan rasional, pelaksanaan yang fleksibel dengan pendekatan utama membantu memecahkan masalah yang terdapat pada pembelajaran siswa.

Tahun 1969 Robert Goldhammer mengusulkan pelaksanaan supervisi klinis dalam lima tahap, yaitu: (1) Pertemuan pra-observasi antara pendidik dan pengawas untuk menyepakati komponen-komponen kegiatan yang akan menjadi materi analisis; (2) observasi kelas; (3) catatan analisis supervisor untuk bahan kajian dari hasil observasi; (4) pertemuan pendidik dengan supervisor pasca observasi; dan (5) pertemuan para pengawas untuk membahas hasil pertemuan akhir dengan para pendidik.

14

Di samping itu, Cogan menegaskan bahwa pelaksanaan supervisi hendaknya berlangsung dalam hubungan kolegial, terfokus pada kepentingan guru dalam meningkatkan standar pembelajaran siswa, dan dengan sistem pengamatan yang tidak menghakimi.

Pada era tahun 1970-1980-an, sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kurikulum berubah pandang dengan lebih menekankan pada struktur disiplin akademik. Tak lama setelah itu, perspektif baru yang berhasil dirumuskan dari produk penelitian dalam konteks pengembangan sekolah efektif dan kelas efektif, dan belajar efektif. Pada periode ini ini tercatat nama Madeline Hunter yang berhasil mengadaptasi hasil penelitiannya pada bidang psikologi belajar dengan memperkenalkan, quasi-ilmiah atau dikenal juga dengna istilah analisis konsteks. Quasi-eksperimen selanjutnya menjadi sangat populer dan berkembang menjadi metode penelitian dalam ilmu sosial.

Para akademisi selanjutnya mengikuti siklus sebagaimana Cogan dan Goldhamer rumuskan yaitu proses supervisi dilakukan secara dialogis dan replektif. Pendekatan supervisi ini kemudian banyak diterapkan. Lebih jauh pendekatan ini telah menjadi pemicu muncul model supervisi teman sejawat dengan difasilitasi hubungan kolegial antar guru dengan melakukan penelitian tindakan kelas (PTK).

Meskipun supervisi klinis menjadi salah satu cara yang sangat efektif dalam membantu memecahkan masalah yang guru dalam memperbaiki pekerjaannya, namun mengingat jumlah guru yang semakin banyak maka pelaksanaannya memerlukan waktu, tenaga, dan biaya yang besar sehingga hal ini menjadi mustahil diperlakukan kepada semua guru.

Sejalan dengan berkembangnya kebutuhan untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui peningkatan mutu siswa belajar dan peningkatan mutu guru.,Thomas Sergiovanni dan Robert Starratt (1998) mengembangkan sistem supervisi multi proses. Konsep ini menekankan akan pentingnya mengingkatkan mutu pengawas supaya dapat mendorong pertumbuhan mutu

15

guru. Pelaksanaan supervisi dilakukan multi tahun serta multi proses. Sistem supervisi memperlakukan pendidik dan tenaga pendidik menigkatkan mutu profesinya dalam satu siklus yang terdiri atas bergai komponen kegiatan. Siklus dapat dikembangkan dalam 3 sampai 5 tahun, tergantung pada kebutuhan. Pendidik dan tenaga kependidikan mendapat perlakuan satu model atau banyak perlakuan formal, seperti evaluasi diri, supervisi teman sejawat, pengembangan kurikulum, penelitian tindakan kelas, lesson study (peningkatan mutu profesi melalui perbaikan mutu pelaksanaan tugas secara ilmiah), penelitian tindakan penerapan strategi pembelajaran baru, pemagangan, dan menggabung dalam proyek pembaharuan sekolah.

Sergiovanni and Starratt juga menegaskan pentingnya setiap tindakan itu memberikan dampak pada meningkatnya kemampuan profesi pada indikator yang terukur. Juga dari sisi ruang lingkup kegiatan terluas adalah membuka peluang pendidik dan tenaga kependidikan untuk berpartisipasi secara sengaja pada agenda pembaruan seluruh sekolah. Hal itu dimaksudkan agar dapat merangsang pertumbuhan kompetensi profesional supervisi dalam konteks sistem sekolah yang lebih besar.

Belakangan para ahli juga menemukan model perbaikan pelaksanaan tugas yang berbasis kepakaran guru dalam kegiatan lesson study yang sudah lama berkembang dan efektif digunakan Jepang dalam memperbaiki tugas profesinya dalam kelas. Yang menarik dari strategi ini, fokus kajian tidak berkonsentrasi pada masalah yang guru hadapi dalam kelas, namun lebih fokus pada indentifikasi keunggulan guru dalam mempengaruhi siswa belajar dalam kelas. Peningkatan diarahkan pada menambah kekuatan itu sehingga menjadi lebih berarti.

D. Model Supervisi Pendidikan Cooperative Profesional Development (CPD) Fenomena supervisi pendidikan di Indonesia yang diwarnai oleh sejumlah produk-konsep "ekspor" tersebut, sehingga terjadi "servitude of the

16

mind" atau ketergantungan intelektual. Padahal sistem dan kegiatan pendidikan di Indonesia unik. Bagi sebagian guru kegiatan supervisi baik yang dilakukan oleh supervisior sekolah/madrasah maupun kepala sekolah/madrasah dianggap bentuk evaluasi, sehingga guru cenderung resah ketika menerima supervisi yang merupakan program dari atasan. Pelaksanaan supervisi selama ini ada yang hanya mencari kelemahan para guru sehingga para guru merasa was-was bila didatangi supervisor. Sasaran pengamatan yang dilakukan supervisor terlalu luas dan bersifat umum sehingga sukar memberikan umpan balik yang terarah dan bermanfaat bagi pembelajaran siswa di kelas. Umpan balik hanya bersifat pengarahan yang mengedepankan power, layaknya instruksi yang berbau ancaman, dan tidak melibatkan guru dalam menganalisis serta tidak menemukan cara mengatasi kesulitan guru dalam mengajar. Supervisor jarang melakukan monitoring proses belajar di kelas, hanya mengandalkan laporan dokumen yang diberikan guru. Adapun sasaran utama supervisi pembelajaran adalah guru, yaitu membantu guru dengan cara melakukan perbaikan situasi belajar-mengajar dan menggunakan keterampilan mengajar dengan tepat. Bantuan melalui kegiatan supervisi pembelajaran guru akan mampu mengidentifikasi perilaku guru yang mendasari konsep pembelajaran. Dalam hal ini supervisor membantu guru antara lain menyusun silabus dan RPP mengacu pada standar isi, memberikan contoh dan menjelaskan penggunaan model dan strategi pembelajaran, mengulang pertanyaan dan penjelasan jika siswa tidak memahaminya. Melalui pelaksanaan supervisi pembelajaran yang dilakukan oleh supervisor maka kondisi nyata di kelas tentang rendahnya mutu layanan belajar dapat dilihat bersama. Rendahnya mutu layanan belajar di kelas dapat saja sebagai akibat tata kelola sekolah yang tidak baik, supervisioran sekolah yang kurang berkualitas, rendahnya kualitas guru dalam mengajar, minimnya fasilitas pembelajaran yang kesemuanya itu berdampak negatif terhadap keberhasilan kinerja sekolah (achieved pereformance).

17

Supervisior dan pemimpin harus meneliti, mendiskusikan dan merefleksikan sikap dan nilai-nilai yang berlaku yang tidak sejajar dengan filosofi kualitas. Mereka harus mempertimbangkan dampak potensial Peningkatan Mutu Berkelanjutan pada sekolah daerah. Seorang supervisior membutuhkan waktu yang banyak untuk mencoba memahami konsep-konsep kualitas, peralatan dan bagaimana CQI mungkin dapat diberlakukan untuk daerah yang dapat menunjukkan komitmennya. Jika staff pusat melihat supervisior meluangkan waktu untuk mencoba memahami Peningkatan Mutu Berkelanjutan, mereka pasti akan melihatnya sebagai hal yang penting dan melakukan hal yang sama. Dalam hal ini penulis mengambil model kesupervisioran Cooperative Profesional Developmen (CPD) sebagai konsep yang cocok dengan materi tersebut. Model Kesupervisioran Cooperative Profesional Development (CPD) atau disebut juga Model Pengembangan Kerjasama Profesional yang dapat diartikan sebagai sebuah model kesupervisioran yang difasilitasi oleh kepala sekolah atau supervisior sekolah melalui proses yang diformulasikan secara moderat oleh dua orang guru atau lebih yang setuju bekerjasama untuk menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan profesionalnya. Biasanya dilakukan melalui kegiatan saling mengadakan observasi kelas, saling memberikan umpan balik, dan menguasai tentang masalah-masalah kesupervisian. Dalam menerapkan model CPD ini hendaknya dapat menyediakan setting dimana guru secara informal dapat membicarakan persoalan-persoalan yang mereka hadapi, saling menukar gagasan, saling membantu dalam mempersiapkan pembelajaran, pertukaran berbagai petunjuk dan saling memberi dukungan. Kepala Sekolah / Supervisior Sekolah dapat memilih sendiri bentuk kerjasama pengembangan profesi, sesuai dengan karakter dan budaya sekolah setempat. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh kepala sekolah / supervisior sekolah dalam merencanakan dan menerapkan model ini, yaitu:

18

1. Guru diikutsertakan dalam menentukan siapa yang dapat diajak untuk bekerja sama.

2. Kepala sekolah hendaknya bertindak sebagai penanggung jawab terakhir dalam membentuk tim CPD.

3. Struktur supervisi hendaknya bersifat formal, terutama dalam hal pemeliharaan catatan-catatan mengenai bagaimana cara dan dalam waktu apa yang digunakan serta memeberikan deskripsi umum tentang kegiatan CPD. Catatan tersebut bersifat laporan tahunan kepala sekolah / supervisior sekolah.

4. Kepala sekolah / Supervisior sekoalah hendaknya memberikan sumber- sumber yang diperlukan dan dukungan administrasi yang memungkinkan tim CPD berfungsi setiap saat.

5. Kepala sekolah/Pengaawas sekolah tidak menerima informasi mengenai hasil-hasil kerja tim dalam pembelajaran, jika hal itu tidak perlu dievaluasi. Jadi, informasi tersebut tetap disimpan oleh tim.

6. Jika kepala sekolah / supervisior sekolah perlu mengadakan evaluasi yang mendalam, hendaknya data tersebut dinilai melalui seorang guru tentang pekerjaan guru yang lain.

7. Masing-masing guru hendaknya mencatat perkembangan profesionalnya masing- masing sebagai hasil dari kegiatan CPD.

8. Kepala sekolah / supervisior sekolah hendaknya mengadakan pertemuan dengan tim CPD sekurang-kurangnya satu kali dalam setahun untuk melakukan penilaian proses CPD.

9. Kepala sekolah / supervisior sekolah hendaknya mengadakan pertemuan individual dengan setiap anggota tim CPD sekurang- kurangnya satu kali dalam setahun untuk membicarakan catatan pertumbuhan profesionalnya dan memberikan dorongan serta bantuan yang diperlukan.

10. Secara umum, tim-tim baru hendaknya dibentuk setiap dua atau tiga tahun.

19

beberapa

keuntungan dari penerapan Model Kesupervisioran/Supervisi Pendidikan Cooperative Profesional Development (CPD) , diantaranya:

Dengan

mengutip

pemikiran

Heller,

dikemukakan

pula

1. Merupakan wahana bagi guru untuk mengetahui pekerjaan guru lainnya.

2. Memberian suatu mekanisme bagi mereka untuk saling berkomunikasi mengenai belajar dan pembelajaran.

3. Kegiatan yang bersifat kontinyu akan sangat meningkatkan motivasi belajar bagi guru.

4. Interaksi intelektual akan memberi efek induksi karena akan terjadi saling menerima dan saling memberi informasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

5. Melalui CPD akan menimbulkan kesan adanya upaya perbaikan perilaku inovatif, disiplin, dan self control dalam pelaksanaan tugas- tugas mengajar.

6. Menunjukkan bahwa guru-guru banyak belajar dari teman guru lain dan mempercayai satu sama lain sebagai sumber ide baru dan membagi masalah yang mereka hadapi.

Dengan supervisi dapat memastikan apakah yang dikerjakan sesuai dengan rencana, dengan supervisioran yang seksama dapat pula ditemukan kelemahan-kelemahan dalam pelaksanaan, dapat diketahui kesalahan- kesalahan dalam cara bekerja. Atau supervisioran merupakan tindakan pencegahan yang bersifat preventif agar terhindar dari kesalahan-kesalahan atau kelalaian-kelalaian dalam melaksanakan tujuan dan dapat segera diketahui dan ditemukan usaha perbaikannya. Dalam hal supervisi harus menyangkut pada norma-norma umum dalam supervisioran yaitu :

A. Supervisi tidak mencari-cari kesalahan yaitu tidak mencari siapa yang salah tetapi apabila ada penyimpangan atau kesalahan prosedural

20

supaya dilaporkan sebab-sebab dan bagaimana terjadinya, serta menemukan cara bagaimana memperbaikinya.

B. Supervisi merupakan proses berlanjut, yaitu dilaksanakan secara continue sehingga dapat memperoleh hasil supervisioran yang berkesinambungan

C. Supervisi harus menjamin adanya kemungkinan pengambilan koreksi yang cepat dan tepat terhadap penyimpangan dan penyelewengan yang ditemukan, untuk mencegah berlanjutnya kesalahan atau penyelewengan.

D. Supervisi bersifat mendidik dan dinamis, yaitu dapat menimbulkan kegairahan memperbaiki, mengurangi atau meniadakan penyelewengan “bukan sebaliknya”.

Menurut teori, semestinya tenaga supervisior itu dipilih diantara tenaga-tenaga yang terbaik sehingga akan memiliki bobot yeng lebih terhadap yang diawasi, baik ditinjau terhadap materi/bidang yang diawasi maupun ditinjau dari segi kualitas mental. Dalam segala hal diharapkan seorang supervisior itu lebih baik dari yang diawasi. Ini merupakan cita-cita, kenyataannya masih jauh dari itu. Bahkan diwaktu ini banyak dijumpai bahwa supervisior adalah jabatan batu loncatan untuk kejenjang yang lebih baik secara materi. Sebagai supervisior kita perlu terlebih dahulu mengawasi diri sendiri sebelum mengawasi orang lain. Supervisior dituntut dalam segala hal lebih baik dari yang diawasi. Untuk itu kita harus mawas diri, yang berarti selalu mengawasi dan mengendalikan diri sendiri. Dengan menyadari pentingnya upaya peningkatan mutu dan efektifitas sekolah dapat (dan memang tepat) dilakukan melalui supervisioran. Atas dasar itu maka kegiatan supervisioran harus difokuskan pada kurikulum/mata pelajaran, organisasi sekolah, kualitas belajar mengajar, penilaian/evaluasi, sistem pencatatan, kebutuhan khusus, administrasi dan manajemen, bimbingan dan konseling, peran dan tanggung jawab orang tua dan

21

masyarakat (Law dan Glover 2000). Lebih lanjut Ofsted (2005) menyatakan bahwa fokus supervisioran sekolah meliputi: (1) standard dan prestasi yang diraih siswa, (2) kualitas layanan siswa di sekolah (efektifitas belajar mengajar, kualitas program kegiatan sekolah dalam memenuhi kebutuhan dan minat siswa, kualitas bimbingan siswa), serta (3) kepemimpinan dan manajemen sekolah. Dari uraian di atas dapat dimaknai bahwa supervisi merupakan kegiatan atau tindakan supervisi dari seseorang yang diberi tugas, tanggung jawab dan wewenang melakukan pembinaan dan penilaian terhadap orang dan atau lembaga yang dibinanya. Supervisi perlu dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan secara berkesinambungan pada sekolah yang diawasinya. Pada Peningkatan Mutu Berkelanjutan berbasis tim, pemimpin tertinggi sekolah di daerah harus mengkoordinir sebuah tim untuk belajar sebanyak mungkin tentang CQI (Peningkatan Mutu Terus-Menerus) dan aplikasinya untuk pendidikan secara umum. Sebuah pilihan yang penting bagi dewan daerah adalah untuk memilih koordinator kualitas. Hal Ini tidak harus dilakukan dengan tergesa-gesa. Dewan harus menunggu juara yang muncul. Nantinya yang terpilih, berfungsi sebagai kaki tangan dewan daerah, yang sangat erat bekerja sama mencapai kualitasbersama. Mutu memaksa orang untuk menjalankan pekerjaan dengan cara yang berbeda. Sayangnya ada orang yang tidak mau berubah dan tang lainnya hanya sekedar tidak ingin perubahan terjadi. Komite perngarah harus menghalangi orang-orang tersebut. Perbaikan terus menerus merupakan perbaikan sedikit demi sedikit, inspirasional, dan menyeluruh, namun implementasinya berskala kecil, praktis, dan berkembang. Esensi Keizen adalah proyek kecil yang berupaya membangun kesuksesan dan kepercayaan diri, dan mengembangkan dasar peningkatan selanjutnya. Perubahan yang solid dan bertahan lama didasarkan pada kontinuitas rangkaian proyek yang kecil dan mungkin.

22

Sebuah intuisi harus melakukan aktifitas dengan teliti, proses demi proses, isu demi isu. Dalam jangka waktu, metode ini lebih berhasil dari pada langsung melakukan perubahan dalam skala besar. Hal lain yang perlu ditekankan untuk melakukan perbaikan mutu adalah bahwa implementasi tersebut tidak harus menjadi proses yang mahal, menghabiskan uang tidak dengan sendirinya bisa menghasilkan mutu, meskipun dalam tahap-tahap tertentu dapat membantu. Tenaga kerja profesional dalam pendidikan yang secara tradisional dalam pendidikan yang secara tradisional melihat diri mereka sendiri sebagai pelindung dari mutu dan standar intuisi. Pelatihan guru dalam konsep mutu merupakan elemen penting dalam upaya merubah kultur. Mutu terpadu bukan membuat pelanggan senang dan tersenyum, mutu terpadu adalah mendengarkan dan berdialog tentang kekhawatiran dan aspirasi pelanggan. Aspek terbaik dari profesional adalah perhatian secara standar akademi dan kejuruan tinggi. Memadukan aspek terbaik dari profesionalisme dengan mutu terpadu merupakan hal yang esensial untuk mencapai sukses.

E. Perbedaan antara Supervisi, Pengawasan, dan Inspeksi Perbedaan supervisi dengan pengawasan adalah supervisi merupakan pengawasan diiringi dengan pemberian bantuan, sedangkan pengawasan hanya membandingkan antara yang seharusnya dengan realita. Pengawasan terbagi menjadi dua yaitu pengawasan fungsional dan pengawasan struktural. Pengawasan fungsional merupakan pengawasan yang dilakukan oleh pengawas karena memang sudah menjadi tugasnya.

Contohnya seorang pengawas melakukan pengawasan kepada kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan lain. Sedangkan pengawasan struktural merupakan pengawasan yang dilakukan karena jabatan strukturalnya. Contohnya kepala sekolah melakukan pengawasan sebagai atasan terhadap guru dan tenaga kependidikan lain yang dipimpinnya dalam

23

suatu satuan pendidikan. Kepala sekolah mempunyai banyak salah satu

tugasnya adalah mengawasi guru.

Tabel 8.1 Perbedaan Supervisi dan Pengawasan

Aspek Pembeda

Supervisi

Pengawasan

Pemimpin

Supervisior (kepala sekolah/ badan khusus yang telah dibentuk)

Pengawas

Penilaian

Lebih khusus menilai tentang kinerja guru

Menilai secara umum penyelenggaraan pendidikan di sekolah

Ruang Lingkup

Hanya pada sekolah yang dipimpin atau dikelola

Seluruh sekolah yang telah ditugaskan untuk diawas

Kegiatan dan Sasaran

Melakukan semua kegiatan untuk memajukan kinerja guru, dan kemajuan pembelajaran pesera didik

Memebri pengarahan, pembinaan kepada kepala sekolah untuk kemajuan pelaksanaan pendidikan

Dalam perkembangan konsep dan praktek supervisi pendidikan terdapat

dua kecenderungan yang menonjol sehubungan dengan tuntutan tugas

pendidikan. Pada satu sisi terdapat kecenderungan untuk menjalankan

supervisi secara otokratis, sedangkan pada sisi lain terdapat kecenderungan

demokratis. Supervisi yang otokratis seringkali disebt dengan inspeksi atau

supervisi tradisional, sedangkan supervisi yang demokratis disebut dengan

supervisi modern.

Marks et al mengutip pendapat Burton dan Brueckner (Hariwung, 1989:

36), tentang perbedaan corak inspeksi dan supervisi adalah sebagai berikut:

24

Tabel 8.2 Perbedaan Supervisi dan Inspeksi

Supervisi

Inspeksi

Studi pragmatis dan analisis

Tidak pragmatis dan kurang analisis

Difokuskan pada tujuan, material, teknik, metode, guru, siwa, dan lingkungan

Berfokus pada guru

Bermacam-macam fungsi yang berbeda

Kunjungan dan pertemuan

Terorganisir dan terencana secara tegas

Perencanaan yang kurang baik

Menemukan asal kelemahan dan kooperatif

Menghukum dan otoriter

25

Daftar Pustaka

Daryanto. (2008). Administrasi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Djadja. (2013).

Edward Saliis: Manajemen Kualitias Total dalam Pendidikan.

 

(11

September

2013).

Fattah,

Nanang.

(2000).

Landasan

Manajemen

Pendidikan.

Bandung: PT.

Remaja Rosdakarya.

Hariwung. (1989). Sipervisi Pendidikan. Jakarta: Depdikbud Dirjen Dikti.

Rachmawati,

Ruzi.

(2012).

Pengawas

dan

Supervisi.

[Online].

Tersedia:

(11 September 2013)

Suhardan, Dadang. (2010). Supervisi Profesional (Layanan dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran di Era Otonomi Daerah). Bandung: Alfabeta.

Sutisna, Oteng. (1989). Administrasi Pendidikan (Dasar Teoritik untuk Praktik Profesional). Bandung: Angkasa.