Anda di halaman 1dari 6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Resin Urea Formaldehid
Resin urea formaldehid merupakan produk polikondensasi urea dan
formaldehid baik dalam media basa atau netral atau asam atau alkali / asam.
Moulding ke partikel bubuk urea formaldehid atau ikatan dengan resin urea
formaldehid biasanya menghasilkan produk unggulan sebanding dengan kondensasi
formaldehid lain (petrokimia) plastik, tetapi hanya dapat digunakan dalam interior
non-struktural aplikasi.
Resin urea formaldehid memiliki warna jelas, proses curing yang cepat, dan
membentuk ikatan yang kuat di bawah berbagai kondisi yang lebih luas. Juga, karena
biaya pembuatan urea - formaldehid resin relatif paling murah, dan bahan baku yang
mudah diperoleh, resin urea formaldehid mungkin adalah perekat petrokimia sintetis
yang paling murah.
Polikondensasi urea dengan formaldehid biasanya menghasilkan obligasi
hydrolytically yang sensitif, rantai ikatan hidrogen yang kuat, dan kepadatan
sambung silang yang selalu meningkatkan kepekaan sensitivitas dalam aplikasi
stress bearing. Sebagai akibatnya, produk urea formaldehid kayu terikat ini
biasanya terbatas pada interior, aplikasi non - struktural karena kecenderungannnya
untuk terhidrolisis bila dalam kelembaban tinggi dan atau suhu yang tinggi pula
(Obichukwu, 2006).
2.2 Jenis-Jenis Resin
Resin adalah suatu bentuk material yang masih dapat diproses menjadi bentuk
akhir suatu produk. Resin diklasifikasikan menjadi dua yaitu resin alam dan resin
sintetis.
1.

Resin alam adalah senyawa karbon yang mengandung oksigen dan nitrogen,
secara umum resin alam adalah berupa cairan kental yang lengket atau
memiliki sifat cair. Resin ini akan mengeras perlahan-lahan bila terkena udara
terbuka, berwarna agak kuning dan tidak larut dalam air, tetapi larut habis

dalam CS2dan beberapa pelarut seperti benzena, alkohol, dan eter (Santi,
2009).
Resin, cairan getah lengket yang dipanen dari beberapa jenis pohon hutan,
merupakan produk dagang tertua dari hutan alam Asia Tenggara. Spesimen
resin dapat ditemukan di situs-situs prasejarah, membuktikan bahwa kegiatan
pengumpulan hasil hutan sudah sejak lama dilakukan. Hutan-hutan alam
Indonesia menghasilkan berbagai jenis resin. Terpentin (resin Pinus) dan
kopal (resin Agathis) pernah menjadi resin bernilai ekonomi yang
diperdagangkan dari Indonesia sebelum Perang Dunia II. Damar adalah
istilah yang umum digunakan di Indonesia untuk menamakan resin dari
pohon-pohon yang termasuk suku Dipterocarpaceae dan beberapa suku
pohon hutan lainnya. Sekitar 115 spesies, yang termasuk anggota tujuh (dari
sepuluh) marga Dipterocarpaceae menghasilkan damar. Pohon-pohon
dipterokarpa ini tumbuh dominan di hutan dataran rendah Asia Tenggara,
karena itu damar merupakan jenis resin yang lazim dikenal di Indonesia
bagian barat. Biasanya, damar dianggap sebagai resin yang bermutu rendah
dibanding kopal atau terpentin (Michon, dkk., 2000).
2.

Resin sintetis dikembangkan oleh Leo Hemdrik Bakeland pada tahun 1909.
Materialnya dibuat dari phenol dan formaldehid. Ternyata dari pengembangan
ini diketahui bahwa resin sintetis mempunyai kesamaan dengan resin alam
(Santi, 2009).
Eugenol mempunyai struktur mirip dengan stirena yang banyak digunakan
sebagai bahan dasar resin. Selain dapat dipolimerisasi secara kationik, juga
dapat

disambungkan

dengan

Divinilbenzena

(DVB)

secara

ionik.

Divinilbenzena merupakan monomer yang biasa diagunakan dalam proses


kopolimerisasi dengan stirena, asam akrilat, atau asam metakrilat yang
membentuk suatu resin penukar ion yan berguna dalam pemurnian air dan
industri kimia farmasi. Kopolimerisasi dengan stirena dihasilkan resin dengan
pengurangan kelarutan dalam beberapa pelarut, meningkatan suhu panas
distorsi, meningkatkan kekerasan permukaan, dan meningkatkan kekuatan
tensil (Mustikarini, 2007).

Resin berguna sebagai perekat butiran-butiran sehingga menjadi bentuk


tertentu yang diinginkan. Resin akan bekerja sebagai perekat secara cepat bila kerja
resin dibantu oleh katalis. Kerja resin lebih sempurna lagi atau proses hardening
sempurna, bila ada accelerator atau panas (Santi, 2009).
2.3

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pembuatan Resin Urea Formaldehid


Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pembuatan resin urea formaldehid

adalah sebagai berikut:


1.

Katalis
Peningkatan tingkat katalis mengurangi pH dan gel waktu resin urea

formaldehid. peningkatan jumlah dari katalis menyebabkan penurunan ketebalan


pembengkakan

dan

penyerapan

air

dan

perbaikan

dalam

sifat

mekanik

particleboards. Namun, penambahan katalis asam dapat meningkatkan degradasi dari


resin urea formaldehid (Xing, dkk., 2006).
2.

Viskositas
Nilai viskositas produk urea formaldehid berbanding lurus dengan derajat

polimerisasi. Oleh karena itu, kualitas produk urea formaldehid dapt diamati dari
nilai viskositas, semakin lama waktu operasi maka nilai viskositasnya semakin besar.
Hal ini dikarenakan urea formaldehid yang terbentuk semakin banyak.
3.

Densitas
Nilai densitas produk urea formaldehid berbanding lurus dengan derajat

polimerisasi. Oleh karena itu, kualitas produk urea formaldehid dapat diamati juga
dari nilai densitas.
4.

pH
Nilai pH untuk produk urea formaldehid dengan bertambahnya waktu relatif

tetap.
(Adi, dkk., 2015).
2.4

Kegunaan Resin Urea Formaldehid


Resin urea formaldehid termasuk resin amino. Resin amino sering digunakan

untuk memodifikasi sifat-sifat material lain. Resin urea formaldehid merupakan resin
termoset yang digunakan terutama sebagai perekat kayu lapis, papan serat, partikel,

dan industri perabot. Sebagai perekat kayu, resin urea formaldehid menguntungkan
karena murah, memiliki pengolahan yang baik dan pemulihan properti, dan tahan
terhadap jamur dan rayap (Quan, dkk., 1995).
Penggunaan utama dari resin adalah dalam perekat, dan dengan demikian
digunakan dalam produksi pembentukan kembali hasil hutan seperti partikel dan
kayu lapis serta kayu dilaminasi. Resin juga digunakan untuk berbagai keperluan lain
termasuk pengobatan tekstil, cat dan enamel, kaca pengikat isolasi serat dan dalam
industri pulp dan kertas (Biddle dan Packer, 2005).
2.5

Aplikasi Pengaruh Variasi Sludge Serbuk Kayu sebagai Penguat


terhadap Sifat Mekanik Material Komposit Matriks Urea-Formaldehid
Teknologi material komposit saat ini mengaIami perkembangan ke penggunaan

bahan alam sebagai komponen pembentuknya terutama serat alam sebagai pengganti
serat sintetis yang selama ini dipakai. Pembuatan papan partikel (papan komposit)
dari limbah, selain dapat meningkatkan efisiensi pemanfaatan kayu juga dapat
memecahkan masalah lingkungan akibat pembuangan limbah tersebut. Dalam
perkembangan dunia industri telah dikembangkan pembuatan komposit dengan
menggunakan penguat alam yang pada sisi pembiayaan atau investasi lebih
ekonomis. Di Indonesia, potensi kayu sebagai filler sangat besar, terutama
pemanfaatan limbah serbuk kayu dan sludge (limbah lumpur padat pulp).
Artikel ini dibahas proses pembuatan papan partikel (papan komposit) dengan
memanfaatkan sludge (limbah lumpur padat pulp) dan serbuk kayu (Acacia
mangium) sebagai filler, dan sebagai matriks digunakan unsaturated polyester jenis
termoset yaitu urea-formaldehid (UF) tipe interior dengan komposisi material yang
divariasi, termasuk pengujian sifat mekanik dan kerapatan bahan sesuai target
kerapatan papan tipe interior (medium density particleboard) berupa produk papan
partikel (papan komposit) sebagai salah satu teknologi alternatif pemanfaatan limbah
gergajian kayu dan sludge.
Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan papan partikel (papan
komposit) antara lain: sludge, limbah lumpur padat hasil pengolahan pabrik pulp dan
kertas (PT. Indah Kiat, Tangerang) dengan kadar air 1,68% dan panjang 1 8 mm,
partikel kayu (Acacia mangium) dengan kadar air 0,55% dan panjang 5-20 mm, dan

perekat urea-formaldehid (Pamolite Adhesive Industry, Probolinggo Jawa Timur)


(Khaerudini dan Muljadi, 2007).

Partikel Kayu (filler)


kadar air 0,55%
panjang 5-20 mm

Sludge
kadar air 1,68%
panjang 1-8 mm

Hamparan
(Mat Forming)
30 cm x 30 cm

Pengempaan
(hot press)
T=150oC,
P=15 kg/cm2,
t= 15-25 menit,
h= 12 mm

Spray
Urea-Formaldehid
(Perekat)
Var. 8%, 10%, 12%

Pencampuran
(Mixing)

Pengkondisian
(1 Minggu)

Sampel
Uji

Karakterisasi
Uji bending (MOE dan
MOR); densitas

Gambar 2.1 Diagram Alir Proses Pembuatan Papan Partikel (Papan Komposit)
(Khaerudini & Muljadi, 2007)