Anda di halaman 1dari 28

STEP 7

1. Anatomi ekstermitas inferior ?


Ekstermitas Inferior

Dimulai dari regio Glutea(posterior) dan dari regio inguinal (anterior)


Tulang-tulang relatif lebih besar dari tulang extremitas superior, gerakan terbatas
Tulang jari kaki lebih pendek, tetapi penting dalam kestabilan sewaktu berdiri,
berjalan, melompat& berlari.

OSTEOLOGI

Os Coxae
Os Femur
Os Patella
Os Tibia
Os Fibula
Os Tarsal
Os Metatarsal
Os Phalangespedis

Os COXAE
Os coxae menghubungkan os sacrum dengan femur dan merupakan penghubung
tulang antara batang tubuh dan extremitas inferior. Masing-masing os coxae terdiri dari tiga
tulang : os ilii, os ischii, dan os pubis. Sampai masa akil balig tulang-tulang ini terpisah oleh
tulang rawan triradial. Tulang-tulang mulai bersatu pada usia 15-17 tahun, dan sedikit atau
tidak ada bekas garis persatuan tampak pada orang dewasa. Os illi adalah bagian os coxae
terbesar di sebelah kranial dan padanya terdapat bagian kranial acetabulum, yakni lekuk sendi
yang dalam pada aspek lateral os coxae untuk bersendi dengan caput femoris. Os ischii
membentuk bagian dorsokaudal acetabulum dan os coxae. Os pubis membentuk bagian
ventral acetabulum dan bagian ventromedial os coxae

Os FEMUR
Femur, tulang terpanjang dan terberat dalam tubuh, meneruskan berat tubuh dari os coxae
kepada tibia sewaktukita berdiri. Caput femoris menganjur ke arah kraniomedial dan agak ke
ventral sewaktu bersendi dengan acetabulum. Ujung proksimal femur terdiri dari sebuah
caput femoris, collum femoris, dan dua trochanter (major dan minor). Caput femoris dan
collum femoris membentuk sudut (115-140 ) terhadap poros panjang corpus femoris,
sudut ini bervariasi dengan umur dan jenis kelamin. Jika sudut ini berkurang keadaannya
dikenal sebagai coxa vara, jika bertambah, keadaan ini disebut coxa valga. Meski arsitektur
demikian memungkinkan daya gerak femur pada articulatio coxae yang lebih besar, keadaan
ini juga melimpahkan beban yang cukup besar pada collum femoris. Corpus femoris
berbentuk lengkung, yakni cembung ke arah anterior. Ujung distal femur berakhir menjadi
dua condylus yaitu epicondylus medialis dan epicondylus lateralis yang melengkung
bagaikan ulir.

Os PATELLA

Os TIBIA DAN Os FIBULA


Tibia yang besar dan merupakan penyangga beban, proksimal bersendi dengan condylus
femur dan distal dengan talus. Foramen nutriens tibia yang paling besar pada seluruh
kerangka, terletak pada permukaan posterior bagian sepertiga proksimal tulang tersebut.
Canalis nutriens melintas cukup jauh ke arah distal dalam tulang sebelum memasuki cavitas
medullaris tibia. Fibula yang ramping, terletak posterolateral dari tibia dan terutama berguna
sebagai tempat lekat untuk otot dan tidak atau hanya sedikit berguna untuk menopang berat
tubuh. Corpus tibiae dan corpus fibulae dihubungkan oleh selembar membrana interossea
cruris

OSSA TARSI, OSSA METATARSI, DAN PHALANGES


OSSA TARSI
Ossa tarsi terdiri dari tujuh buah tulang talus, calcaneus, os cuboideum, os naviculare,
dan tiga os cuneiforme. Hanya satu tulang, yakni talus, bersendi dengan tulang-tulang tungkai
bawah. Talus terdiri dari sebuah corpus tali, collum tali, dan caput tali. Talus terletak di atas
bagian dua pertiga anterior calcaneus dan juga bersendi dengan tibia, fibula dan os
naviculare. Permukaan proksimal talus menganggung berat tubuh yang diteruskan melalui
tibia.
Calcaneus adalah tulang kaki yang paling besar dan paling kuat. Ke proksimal tulang
ini bersendi dengan talus dan ke arah anterior dengan os cuboideum. Sustentaculum tali
adalah sebuah taju yang menyerupai papan rak dan menonjol dari tepi atas permukaan medial
calcaneus, untuk membantu menyokong talus. Permukaan lateral calcaneus memiliki sebuah
rigi serong yang dikenal sebagai trochlea fibularis. Bagian posterior calcaneus memiliki
sebuah tonjolan tuber calcanei dengan processus medialis tuberis calcanei, processus lateralis
tuberis calcanei, dan processus anterior tuberis calcanei. Sewaktu berdiri, hanya processus
medialis tuberis calcanei bertumpu pada bumi.
Os naviculare terletak antara caput tali dan os cuneiforme. Os cuboideum adalah
tulang paling lateral pada baris ossa tarsi distal. Anterior dari tuberositas ossis cuboidei, pada
permukaan lateral dan permukaan inferior terdapat sebuah alur pada os cuboideum. Ketiga os
cuneiforme ialah os cuneiforme mediale, os cuneiforme intermedium, dan os cuneiforme
laterale. Masing-masing os cuneiforme ke posterior bersendi dengan os naviculare dan ke
anterior dengan basis metatarsalis yang sesuai. Disamping itu, os cuneiforme laterale
bersendi dengan os cuboideum.
OSSA METATARSI
Ossa metatarsi terdiri dari lima ossa metatarsi (metatarsalia) yang diberi angka mulai
dari sisi medial kaki. Masing-masing tulang terdiri dari sebuah basis metatarsalis pada ujung
proksimal, corpus metatarsalis, dan caput metatarsalis pada ujung disal. Basis metatarsalis IV bersendi dengan os cuneiforme dan os cuboideum, dan caput metatarsale tersebut bersendi
dengan phalanges proksimale. Pada permukaan plantar caput ossis metatarsalis I terdapat
ossa sesamoidea medial dan lateral yang menonjol. Basis metatarsalis V memiliki sebuah
teberositas yang menganjur lewat tepi lateral os cuboideum.

PHALANGES
Seluruhnya terdapat 14 phalanx : jari kaki pertama terdiri dari dua phalanx (yaitu,
phalanx proximalis dan phalanx distalis); keempat jari kaki lainnya masing-masing terdiri
dari tiga phalanx (phalanx proximalis, phalanx media, phalanx distalis). Pada masing-masing
phalanx dapat dibedakan sebuah basis phalangis pada ujung distal. Phalanx jari kaki pertama
(digitus primus[hallux]) adalah pendek, lebar dan kuat.

SUSUNAN OTOT
OTOT PAHA ANTERIOR

M. iliopsoas
M. psoas major
M. iliacus
Fungsi : bersama memfleksikan paha pada articulatio coxae dan menstabilkan articulatio
coxae

M. tensor fasciae latae


Fungsi : abduksi, endorotasi dan fleksi paha, membantu ekstensi lutut; memantapkan
batang tubuh pada paha

M. Sartorius
Fungsi : fleksi, abduksi, dan eksorotasi paha pada articulatio coxae, fleksi tungkai bawah
pada articulatio genus.

M. quadriceps femoris
M. rectus femoris
M. vastus lateralis
M. vastus medialis
M. vastus intermedius
Fungsi : ekstensi tungkai bawah pada articulatiogenus; m. Rectus femoris juga
menstabilkan articulatio coxae dan membantu m. Iliopsoas memfleksikan paha.

OTOT PAHA MEDIAL

M. pectineus
Fungsi : aduksi dan fleksi paha; membantu rotasi medial paha.

M. adductor longus
Fungsi : aduksi paha

M. adductor brevis
Fungsi : aduksi paha, sedikit banyak fleksi paha.

M. adductor magnus
Fungsi : aduksi paha, bagian aduktor juga melakukan fleksi paha, dan ekstensi bagian
hamstring

M. gracilis
Fungsi : aduksi paha, fleksi tungkai bawah dan membantu endorotasi tungkai bawah

M. obturator externus
Fungsi : eksorotasi paha; fiksasi caput femoris dalam acetabulum

OTOT PAHA POSTERIOR


Hamstring :

Tuber ischiadicum
M. semitendinosus
M. semimembranosus
Fungsi : ekstensi paha, fleksi dan endorotasi tungkai bawah sewaktu paha dan tungkai
bawah terfleksi, dapat melakukan ekstensi batang tubuh.

M. biceps femoris
Fungsi : fleksi dan eksorotasi tungkai bawah, ekstensi paha

OTOT TUNGKAI BAWAH


Compartemen anterius

M. tibialis anterior
Fungsi : dorsofleksi pergelangan kaki dan inversi kaki

M. ekstensor hallucis longus


Fungsi : ekstensi digitus primus dan dorsofleksi pergelangan kaki

M. ekstensor digitorum longus


Fungsi : ekstensi keempat jari kaki lateral dan dorsofleksi pergelangan kaki

M. fibularis (peroneus) tertius


Fungsi : dorsofleksi pergelangan kaki dan membantu eversi kaki.

Compartemen laterale

M. fibularis (peroneus) longus


Fungsi : eversi kaki dan sedikit plantar fleksi pada pergelanagn kaki.

M. fibularis (peroneus) brevis


Fungsi : eversi kaki dan sedikit plantar fleksi pada pergelanagn kaki.

Compartemen posterius
Otot superfisial

M. gastrocnemius
Fungsi : fleksi plantar pada pergelangan kaki, mengangkat tumit sewaktu berjalan, dan
fleksi tungkai bawah pada articulatio genus

M. soleus
Fungsi : fleksi plantar pada pergelangan kaki dan fiksasi tungkai pada kaki

M. plantaris
Fungsi : membantu m. Gastrocnemius pada fleksi plantar pergelangan kaki secara lemah
dan fleksi lutut.

Otot profunda

M. popliteus
Fungsi : fleksi lutut secara lemah dan melepaskan penguncian

M. fleksor hallucis longus


Fungsi : fleksi digitus primus pada semua sendi dan fleksi plantar pada pergelangan kaki;
menunjang lengkung kaki longitudinal medial.

M. fleksor digitorium longus


Fungsi : laterofleksi keempat jari kaki lateral dan fleksi plantar pergelangan kaki;
menyokong lengkung-lengkung kaki longitudinal.

M. tibialis posterior
Fungsi : fleksi plantar pergelangan kaki.

PERSARAFAN

Plexus lumbosacralis

Dibentuk dan ramus ventrales atau anteriores, radikal lumbalis dan sacralis.
Mempersarafi : serat saraf motorik dan sensorik pada kaki.
Plexus lumbalis :

Tersebut dari cabang L1 sampai L4


Akarnya terletak di medial M. Psos
Merupakan origo N. obsturatorius (1) dan femoralis (2)

Truncus lumbosacralis

Berasal dari truncus lumbosacralis dan S1 sampai S3 (setelah keluar dari formina

sacralis)
Saraf utama N. ischradieus (4)
7 N. cutaneus femoris, lateralis, 8 N. cutaneus, femoris posterior, 9 N. pudendus, 3
gluteus superior.
VASKULARISASI

2. Patofisiologi dari fraktur dan dislokasi ?

DISLOKASI
Pengertian
a. Dislokasi ialah keluarnya (bercerainya) kepala sendi dari mangkuknya. Dislokasi
merupakan suatu kedaruratan yang memerlukan pertolongan segera (Kapita
Selecta Kedokteran, 2000).
Sebuah sendi yang pernah mengalami dislokasi, ligmen ligmennya biasanya
menjadi kendor. Akibatnya sendi itu akan gampang mengalami dislokasi kembali.
Apabila dislokasi itu disertai pula patah tulang, pembetulannya menjadi sulit dan
harus dikerjakan di rumah sakit. Semakin awal usaha pengembalian sendi itu
dikerjakan, semakin baik penyembuhannya. Tetapi apabila setelah dikirim ke
rumah sakit dengan sendi yang cedera sudah dibidai.
b. Traksi adalah : Suatu metode yang dipakai untuk mempertahankan reduksi
ekstremitas yang mengalami Dislokasi.
Traksi adalah : pemasangan gaya tarikan ke bagian tubuh.
Macam Macam Dislokasi
a. Dislokasi Sendi Rahang
Dislokasi sendi rahang dapat terjadi karena :
a) Menguap atau terlalu lebar.
b) Terkena pukulan keras ketika rahang sedang terbuka, akibatnya penderita tidak
dapat menutup mulutnya kembali.

Tindakan Pertolongan :
Rahang ditekan ke bawah dengan kedua ibu jari sudah dilindungi balutan tadi. Ibu
jari tersebut diletakkan di graham yang paling belakang. Tekanan itu harus mantap
tapi pelan pelan. Bersamaan dengan penekanan itu jari jari yang lain
mengangkat dagu penderita ke atas. Apabila berhasil rahang itu akan menutup
dengan cepat dan keras. Setelah selesai untuk beberapa saat pasien tidak
diperbolehkan terlalu sering membuka mulutnya.

b. Dislokasi Sendi Jari.

Sendi jari mudah mengalami dislokasi dan bila tidak ditolong dengan segera
sendi tersebut akan menjadi kaku kelak. Sendi jari dapat mengalami dislokasi ke
arah telapak tangan atau punggung tangan.
Tindakan Pertolongan :
Jari yang cedera dengan tarikan yang cukup kuat tapi tidak disentakkan. Sambil
menarik, sendi yang terpeleset ditekan dengan ibu jari dan telunjuk. Akan terasa
bahwa sendi itu kembali ke tempat asalnya. Setelah diperbaiki sebaiknya untuk
sementara waktu ibu jari yang sakit itu dibidai. Untuk membidai dalam kedudukan
setengah melingkar seolah olah membentuk huruf O dengan ibu jari.
c. Dislokasi Sendi Bahu
Dislokasi yang sering ke depan. Yaitu kepala lengan atas terpeleset ke arah
dada. tetapi kemampuan arah dislokasi tersebut ia akan menyebabkan gerakan
yang terbatas dan rasa nyeri yang hebat bila bahu digerakkan.
Tanda tanda lainnya :
Lengan menjadi kaku dan siku agak terdorong menjauhi sumbu tubuh. Ujung
tulang bahu akan nampak menonjol ke luar. Sedang di bagian depan tulang bahu
nampak ada cekungan ke dalam.
Tindakan Pertolongan :
Usaha memperbaiki letak sendi yang terpeleset itu harus dikerjakan secepat
mungkin, tetapi harus dengan tenang dan hati hati. Jangan sampai itu justru
merusak jaringan jaringan penting lainnya. Apabila usaha itu tidak berhasil,
sebaiknya jangan diulang lagi. Kirim saja klien ke Rumah sakit segera.
Apabila tidak ada patah tulang, dislokasi sendi bahu dapat diperbaiki dengan
cara sebagai berikut :
Ketiak yang cedera ditekan dengan telapak kaki (tanpa sepatu) sementara itu
lengan penderita ditarik sesuai dengan arah letak kedudukannya ketiak itu.Tarikan
itu harus dilakukan dengan pelan dan semakin lama semakin kuat, hal itu untuk
menghidarkan rasa nyeri yang hebat yang dapat mengakibatkan terjadinya shock.

Selain tarikan yang mendadak merusak jaringan jaringan yang ada di sekitar
sendi. Setelah ditarik dengan kekuatan yang tetap beberapa menit, dengan hati
hati lengan atas diputar ke luar (arah menjauhi tubuh). Hal ini sebaiknya
dilakukan dengan siku terlipat dengan cara ini diharapkan ujung tulang lengan
atas menggeser kembali ke tempat semula.
d. Dislokasi Sendi Siku
Jatuh pada tangan dapat menimbulkan dislokasi sendi siku ke arah posterior.
Reposisi dilanjutkan dengan membatasi gerakan dalam sling atau gips selama tiga
minggu untuk memberikan kesembuhan pada sumpai sendi.
e. Dislokasi Sendi Metacarpophalangeal Dan Inter Phalangeal
Dislokasi disebabkan oleh hiperekstensi ekstensi persendian direposisi
secara hati hati dengan tindakan manipulasi tetapi pembedahan terbuka mungkin
diperlukan untuk mengeluarkan jaringan lunak yang terjepit di antara permukaan
sendi.
f. Dislokasi Sendi Pangkal Paha
Diperlukan gaya yang kuat untuk menimbulkan dislokasi sendi ini dan
umumnya dislokasi ini terjadi akibat kecelakaan lalu lintas (tabrakan mobil).
Dalam posisi duduk benturan dash board pada lutut pengemudi diteruskan
sepanjang tulang femur dan mendorong caput femuris ke arah poterior ke luar dati
acetabulum yaitu bagian yang paling pangkal. Tindakannya adalah reposisi
dengan anestesi umum dan pemasangan gips selama enam minggu atau tirah
baring dengan traksi yang ringan untuk mengistirahatkan persendian dan
memberikan kesembuhan bagi ligamentum. Dislokasi sendi lutut dan eksremitas
bawah sangat jarang terjadi kecuali peda pergelangan kaki di mana dislokasi
disertai fraktur.
Macam Macam Traksi
Traksi lurus atau langsung
Pada traksi ini memberikan gaya tarikan dalam satu garis lurus dengan
bagian tubuh berbaring di tempat tidur.

Traksi Suspensi Seimbang


Traksi ini memberikan dukungan pada eksremitas yang sakit di atas
tempat tidur sehingga memungkinkan mobilisasi pasien sampai batas tertentu
tanpa terputusnya garis tarikan.
Traksi Kulit
Traksi kulit tidak membutuhkan tindakan pembedahan. Traksi kulit terjadi
apabila beban menarik kulit, spon karet, atau bahan kanvas yang diletakkan pada
kulit, beratnya bahan yang dapat dipasang sangat terbatas, tidak boleh melebihi
toleransi kulit, yaitu tidak lebih dari 2 sampai 3 kg beban tarikan yang dipasang
pada kulit. Traksi pelvis pada umumnya 4,5 sampai dengan 9 kg tergantung dari
berat badan. Rumus traksi kulit : 1/7 x BB
Traksi Skelet
Dipasang langsung pada tulang, metode traksi ini digunakan paling sering
untuk menangani fraktur tibia, humerus dan tulang leher. Traksi skelet biasanya
menggunakan 7 12 kg untuk dapat mencapai efek therapi, Rumus traksi skelet 1
/ 10 x BB.
Traksi Manual
Traksi yang dipasang untuk sementara, saat akan dilakukan pemasangan
gibs.

Penyebab Dislokasi
Trauma
Jika disertai fraktur, keadaan ini disebut fraktur dislokasi.
Kongenital
Sebagian anak dilahirkan dengan dislokasi, misalnya dislokasi pangkal paha.
Pada keadaan ini anak dilahirkan dengan dislokasi sendi pangkal paha secara klinik
tungkai yang satu lebih pendek dibanding tungkai yang lainnya dan pantat bagian kiri
serta kanan tidak simetris. Dislokasi congenital ini dapat bilateral (dua sisi). Adanya
kecurigaan yang paling kecil pun terhadap kelainan congenital ini mengeluarkan
pemeriksaan klinik yang cermat dan sianak diperiksa dengan sinar X, karena tindakan
dini memberikan hasil yang sangat baik.

Tindakan dengan reposisi dan pemasangan bidai selama beberapa bulan, jika
kelainan ini tidak ditemukan secara dini, tindakannya akan jauh sulit dan diperlukan
pembedahan.
Patologis
Akibatnya destruksi tulang, misalnya tuberkolosis tulang belakang
Tanda dan Gejala
2. Deformitas pada persendiaan
Kalau sebuah tulang diraba secara sering akan terdapat suatu celah.
3. Gangguan gerakan
Otot otot tidak dapat bekerja dengan baik pada tulang tersebut.
4. Pembengkakan
Pembengkakan ini dapat parah pada kasus trauma dan dapat menutupi deformitas.
5. Rasa nyeri terdapat sering terjadi pada dislokasi
Sendi bahu, sendi siku, metakarpal phalangeal dan sendi pangkal paha
servikal.
Lokasi Yang Sering Terjadi Dislokasi
Sendi bahu, sendi siku, metakarpal phalangeal dan sendi pangkal paha servikal.
PATOFISIOLOGI
Dislokasi panggul paling sering dialami oleh dewasa muda dan biasanya
diakibatkan oleh abdukasi. Ekstensi dan ekstra traumatik yang berlebihan. Contohnya
posisi melempar bola berlebihan. Caput humeri biasanya bergeser ke anterior dan
inferior melalui robekan traumatik pada kapsul sendi panggul.

Skema Patofisiologis
Abdukasi

Posisi Ekstensi

Akstra Traumatik
Pergeseran Berlebihan dan Dalam Waktu Cepat

Dislokasi Inferior

Dislokasi

Anterior

Kekakuan Sendi Karena


Terjadi Dislokasi
Dengan tanda :

Nyeri
Bengkak
Kaku sendi

Penatalaksanaan
a. Dislokasi
Penatalaksanaan dislokasi sebagai berikut :
1) Lakukan reposisi segera.
2) Dislokasi sendi kecil dapat direposisi di tempat kejadian tanpa anestesi,
misalnya : dislokasi siku, dislokasi bahu, dislokasi jari pada fase syok),
sislokasi bahu, siku atau jari dapat direposisi dengan anestesi loca; dan obat
penenang misalnya valium.
3) Dislokasi sendi besar, misalnya panggul memerlukan anestesi umum.

b. Traksi
Periksa sesering mungkin kulit pasien mengenai tanda tekanan atau lecet.
Perhatian lebih ditekankan pada tonjolan tulang. Lakukan perubahan posisi
sesering mungkin untuk membantu mencegah kerusakan kulit.
Prinsip Traksi Efektif
Pada setiap pemasangan traksi harus dipikirkan adanya kontratraksi.
Kontratraksi adalah gaya yang bekerja dengan arah yang berlawanan (hukun Newton
yang ketiga mengenai gerak. Menyebutkan bahwa bila ada aksi maka akan terjadi
reaksi dengan besar yang sama namun arahnya berlawanan). Umumnya berat badan
pasien pengaturan posisi tempat tidur mampu memberikan kontraksi.
Prinsip prinsip traksi efektif adalah :
a. Kontraksi harus dipertahankan agar traksi tetap efektif.
b. Traksi skelet tidak terputus
c. Pemberat / beban tidak boleh diambil kecuali bila traksi dimaksudkan
intermiten.
d. Tubuh pasien harus dalam keadaan sejajar dengan pusat tempat tidur ketika
traksi dipasang.
e. Tali tidak boleh macet.
f. Pemberat harus tergantung bebas dan tidak boleh terletak pada tempat tidur
atau lantai.
g. simpul pada tali atau telapak kaki tidak boleh menyentuh katrol atau kaki
tempat tidur.

Tindakan Pada Dislokasi

Dengan memanipulasi secara hati hati, permukaan diluruskan kembali.


Tindakan ini sering memerlukan anestesi umum untuk melemaskan otot

otonya.
Pembedahan terbuka mungkin diperlukan khususnya kalau jaringan lunak
terjepit di antara permukaan sendi.
Persendian tersebut, disangka dengan pembebatan dengan gips.
Misalnya : pada sendi pangkal paha, untuk memberikan kesembuhan pada
ligamentum yang teregang.
Fisioterapi harus segera dimulai untuk mempertahankan fungsi otot dan
latcher (exercise) yang aktif dapat diawali secara dini untuk mendorong
gerakan sendi yang penuh khususnya pada sendi bahu.

Dampak Masalah
Bila salah satu anggota tubuh mengalami gangguan yang mengakibatkan
cedera, maka tubuh akan memberikan reaksi baik fisik maupun psikologis sebagai
mekanisme pertahanan tubuh, disamping itu juga akan memberikan pengaruh atau
dampak terhadap kebutuhan penderita sebagai makluk hidup yang holistik dan juga
akan berpegaruh terhadap keluarga klien.
Pola Persepsi dan Tata Laksana Kesehatan
Bahwa biasanya klien dislokasi mempunyai harapan dan alasan masuk Rumah
Sakit, Adapun alasannya ingin segera sembuh dari penyakitnya dan harapan tersebut
adalah tidak ingin terjadi kecacatan pada dirinya kelak di kemudian hari.
Pola Nutrisi dan Metabolisme.
Pola nutrisi dan metabolik pada klien dislokasi jarang mengalami gangguan
kecuali apabila terdapat trauma pada abdomen atau komplikasi lain yang dapat
menyebabkan klien antreksia.
Pola Aktifitas dan Latihan
Pada klien dislokasi setelah dilakukan pemasangan traksi akan mempengaruhi
gerak dan pola. Aktivitasnya, oleh sebab itu dalam memenuhi kebutuhan hidupnya
sehari hari, klien akan di bantu oleh perawat atau keluarganya dan suami mungkin
untuk dilakukan latihan rentang gerak baik aktif maupun pasif.
Pola Tidur dan istirahat
Terganggunya pola tidur dan kebutuhan istirahat pada klien pemasangan traksi
dengan dislokasi biasanya di sebabkan olah raga nyeri dan pemasangan juga di
sebabkan adanya traksi.
Pola Perceptual dan Kognitif
Klien biasanya kurang memahami tentang proses penyembuhan dan
pembentukan atau penyambungan sendi kembali yang memerlukan proses dan waktu
sehingga dalam tahap tahap perawatan perlu kata penatalaksanaan yang kompraktif.

Pola Defekasi dan Miksi


Klien kadang kadang masih dalam perawatan di rumah sakit membatasi
makan dan minum, hal ini dikarenakan adanya immobilisasi pemasangan traksi yang
mengharuskan pasien tidak mempergunakan kakinya yang cedera untuk aktifitas
sehingga klien kurang beraktifitas dan dapat mengakibatkan konstipasi (sembelit).
Pola Seksual dan Repraduksi
Klien Dislokasi dengan pemasangan traksi jelas akan mempengaruhi pola
kebutuhan seksualitas, di samping klien harus menjaga agar daerah traksi seminimal
mungkin mendapat beban dan rasa nyeri yang tidak memungkinkan klien untuk
melakukan aktifitas seksualnya.
Pola Hubungan Peran
Pola hubungan peran berpengaruh sekali terutama sekali apabila klien seorang
kepala rumah tangga yang merupakan satu satunya orang yang mencari nafkah bagi
keluarganya.
Dampak Psikologis
Dampak psikologis yang ditimbulkan adalah rasa kuatir terhadap kecacatan
yang mungkin terjadi kelak dikemudian hari sehingga memungkinkan tidak mampu
beraktifitas seperti biasa.
Immobilisasi
Untuk memungkinkan kesembuhan fragmen yang dipersatukan.
Komplikasi
Komplikasi yang dapat menyertai dislokasi antara lain :
1. Fraktur.
2. Kontraktur.
3. Trauma jaringan.
Komplikasi yang dapat terjadi akibat pemasangan traksi :
1. Dekubitus
2. Kongesti paru dan pneumonia
3. Konstipasi

4. Anoreksia
5. Stasis dan infeksi kemih
6. Trombosis vena dalam
FRAKTUR
Pengertian
Terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang normal, terjadi ketika tekanan yang
berlebihan mengenai tulang dan tidak bisa diredam
Berdasarkan mekanisme terjadinya fraktur :
1) Tipe Ekstensi
Trauma terjadi ketika siku dalam posisi hiperekstensi, lengan bawah dalam posisi
supinasi.
2) Tipe Fleksi
Trauma terjadi ketika siku dalam posisi fleksi, sedang lengan dalam posisi pronasi.
ETIOLOGI
1) Kekerasan langsung
Kekerasan langsung menyebabkan patah tulang pada titik terjadinya
kekerasan. Fraktur demikian demikian sering bersifat fraktur terbuka dengan garis
patah melintang atau miring.
2) Kekerasan tidak langsung
Kekerasan tidak langsung menyebabkan patah tulang ditempat yang jauh dari
tempat terjadinya kekerasan. Yang patah biasanya adalah bagian yang paling lemah
dalam jalur hantaran vektor kekerasan.
3) Kekerasan akibat tarikan otot
Patah tulang akibat tarikan otot sangat jarang terjadi.

Kekuatan dapat berupa pemuntiran, penekukan, penekukan dan penekanan,


kombinasi dari ketiganya, dan penarikan. (Oswari E, 1993)
PATOFISIOLOGI
Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekeuatan dan gaya pegas
untuk menahan tekanan (Apley, A. Graham, 1993). Tapi apabila tekanan eksternal
yang datang lebih besar dari yang dapat diserap tulang, maka terjadilah trauma pada
tulang yang mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang (Carpnito,
Lynda Juall, 1995). Setelah terjadi fraktur, periosteum dan pembuluh darah serta saraf
dalam korteks, marrow, dan jaringan lunak yang membungkus tulang rusak.
Perdarahan terjadi karena kerusakan tersebut dan terbentuklah hematoma di rongga
medula tulang. Jaringan tulang segera berdekatan ke bagian tulang yang patah.
Jaringan yang mengalami nekrosis ini menstimulasi terjadinya respon inflamasi yang
ditandai denagn vasodilatasi, eksudasi plasma dan leukosit, dan infiltrasi sel darah
putih. Kejadian inilah yang merupakan dasar dari proses penyembuhan tulang
nantinya (Black, J.M, et al, 1993)
Faktor-faktor yang mempengaruhi fraktur
1) Faktor Ekstrinsik
Adanya tekanan dari luar yang bereaksi pada tulang yang tergantung terhadap
besar, waktu, dan arah tekanan yang dapat menyebabkan fraktur.
2) Faktor Intrinsik
Beberapa sifat yang terpenting dari tulang yang menentukan daya tahan untuk
timbulnya fraktur seperti kapasitas absorbsi dari tekanan, elastisitas, kelelahan, dan
kepadatan atau kekerasan tulang.
3. Bagaimana cara membaca hasil rontgen ?
Diagnosis fraktur ditegakkan atas dasar anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang radiologis. Berdasarkan anamnesis pada pasien dan keluarga,
terdapat keluhan nyeri pada tangan kanan, pembengkakan, perubahan bentuk dan
gangguan gerak. Terdapat riwayat jatuh terpeleset pada lantai rumah, namun proses dan

posisi pasien pada saat trauma sulit diidentifikasi karena orangtua pasien tidak melihat
langsung pada saat pasien terjatuh. Adanya keluhan nyeri merupakan manifestasi dari
pergeseran fragmen yang mencederai jaringan sekitar. Kadang nyeri akan disertai dengan
spasme otot yang menyertai fraktur sebagai bidai alamiah yang berfungsi untuk
meminimalkan gerakan antar fragmen tulang.
Keterbatasan gerak merupakan manifestasi dari diskontinuitas tulang yang
menyebabkan gangguan fungsi otot-otot penggerak yang melekat pada tulang. Ditambah
lagi denganadanya reaksi inflamasi seperti nyeri, pembengkakan dan gangguan fungsi.

Pemeriksaan radiologi untuk lokasi fraktur harus menurut rule of two, terdiri dari :
1.

Dua gambaran, anteroposterior (AP) dan lateral.

2.

Memuat dua sandi di proksimal dan distal fraktur.

3.

Memuat gambaran foto dua ekstermitas.

Pergeseran fragmen tulang ada 4, yaitu:


1.

Alignmant : perubahan arah axis longitudinal, bisa membentuk sudut.

2.

Panjang : dapat terjadi pemendekan (shortening).

3.

Aposisi : hubungan ujung fragmen satu dengan lainnya.

4.

Rotasi : terjadi perputaran terhadap fragmen proksimal.


Pada foto polos AP dan lateral atau dua proyeksi yang saling tegak lurus tampak

gambaran garis diskontinuitas tulang (dapat berupa garis fraktur yang lusen) pada
struktur tulang normal, utuh, padat, tidak tampak porotik, periosteum tampak licin. Pada
sekitar fraktur dapat dijumpai soft tissue swelling.
Penilaian penyembuhan fraktur (union) didasarkan atas union secara klinis dan union
secara radiologik. Penilaian secara klinis dilakukan dengan pemeriksaan daerah fraktur
dengan melakukan pembengkokan pada daerah fraktur, pemutaran dan kompresi untuk
mengetahui adanya gerakan atau perasaan nyeri pada penderita. Keadaan ini dapat
dirasakan oleh pemeriksa atau oleh penderita sendiri. Apabila tidak ditemukan adanya
gerakan, maka secara klinis telah terjadi union dari fraktur.
Union secara radiologik dinilai dengan pemeriksaan roentgen pada daerah fraktur
dan dilihat adanya garis fraktur atau kalus dan mungkin dapat ditemukan adanya
trabekulasi yang sudah menyambung pada kedua fragmen. Pada tingkat lanjut dapat
dilihat adanya medulla atau ruangan dalam daerah fraktur.
Kesimpulan
Gambaran radiologis fraktur diperlukan pada setiap kasus fraktur. Hal ini diperlukan
karena adanya kebutuhan untuk menilai pergeseran fragmen tulang yang telah terjadi
yang meliputi alignment, panjang, aposisi, dan rotasi.

Pada kasus fraktur anak terutama pada posisi tulang panjang sangat penting
dilakukan pemeriksaan rontgen untuk mengetahui keadaan fraktur sehingga dapat
dilakukan penanganan yang sesuai tanpa menimbulkan komplikasi.