Anda di halaman 1dari 18

Dari Kampus Salemba ke Kampus Depok

Fase-Fase Persilangan Nasionalisme, Pendidikan dan Ruang Publik di


Universitas Indonesia1
Kemas Ridwan Kurniawan
Pusat Penelitian Perancangan Lingkung-Bangun
Departemen Arsitektur
Fakultas Teknik Universitas Indonesia
Abstrak
Sebagai salah satu Perguruan Tinggi Negeri tertua dan satu-satunya universitas
yang menyandang nama negara, Universitas Indonesia (UI) memegang peranan
penting dalam sejarah pergerakan Nasional Indonesia selama setengah abad ke
belakang. Di mulai dari Balai Perguruan Tinggi Republik Indonesia zaman awal
kemerdekaan yang berubah menjadi Universitas Indonesia (1947) dengan pusatnya
di Jalan Salemba, Jakarta, sampai kepindahan ke kampus Depok pada tahun 1987an hingga sekarang, perguruan tinggi ini telah melahirkan tokoh-tokoh nasional baik
ilmuwan maupun negarawan kelas dunia.
UI sebelum tahun 1950-an merupakan universitas multi kampus dan disebut
sebagai induk atau ibu dari universitas-universitas negeri lain di Indonesia. 2 Selain di
Salemba, kampus UI di Ibukota Jakarta juga ada yang berlokasi di kawasan
Rawamangun. Kampus Salemba yang rapat dan padat dengan campuran arsitektur
kolonial Belanda dan modern tropis, menginspirasikan sebuah kampus negara yang
dekat dengan amanat penderitaan rakyat, dan semangat anti kolonial. Demonstrasi,
aksi jalanan dan ide-ide kreatif pembangunan bangsa lahir dari tapak yang dijuluki
kampus perjuangan ini. Jalanan yang merupakan ruang publik, menjadi ajang
perjuangan mahasiswa untuk menegakkan keadilan dan jatidiri bangsa.
Sementara itu, kampus UI Depok yang lebih terpadu dengan suasana
rindang dan hijau (Green Campus) menyelimuti gaya-gaya arsitektur pasca
tradisionalis yang mengaspirasikan sebuah semangat kebangsaan baru dengan
mahasiswa-mahasiswanya yang lebih bergaya metropolitan ketimbang rural.
Kawasan green campus ini juga menjadi sebuah ruang publik alternatif bagi
penduduk Depok yang haus akan suasana tenang dan teduh kehidupan kota. Setiap
hari Sabtu dan Minggu pagi, Kampus UI Depok menjelma menjadi ruang bagi publik
untuk relaksasi dan bersosialisasi.
Sehubungan dengan peringatan seratus tahun Kebangkitan Nasional (19982008), makalah ini mencoba melihat secara fisik ruang publik dari dua periode
kampus Universitas Indonesia yaitu masa kejayaan kampus UI Salemba dan masa
bergiatnya kampus Depok. Kampus, walaupun merupakan sebuah institusi
pendidikan, namun juga menjadi sebuah cerminan sebuah ruang publik dalam artian
yang luas. Telaahan fisik menjadi kajian untuk melihat kemungkinan-kemungkinan
representasi aspek sosial politik yang ada di dalamnya khususnya yang berkaitan
dengan isu nasionalisme. Semangat kebangsaan seperti apakah yang tercermin dari
kondisi ruang publik kampus UI kini dibandingkan dengan kampus UI Salemba dulu?
Pertanyaan ini menjadi pemicu bagi penelusuran lebih mendalam antara keseharian
sebuah kampus (yang menyandang nama negara), ruang publiknya dan semangat
kebangsaan.
1

Makalah ini dipresentasikan pada acara Seminar Bersama antara Departemen Arsitektur
FTUI dan Departemen Sastra FIB UI tanggal 26 dan 27 Agustus 2008 di Engineering Center
FTUI.
2
Universitas Airlangga (1954), Universitas Hasanuddin (1955), Institut Teknologi Bandung
(1959), Universitas Padjadjaran (1960), Institut Pertanian Bogor (1964), dan Universitas
Negeri Jakarta (1964).

PENDAHULUAN
Tanggal 26 Februari 1998, papan bertuliskan Selamat Datang di Kampus
Perjuangan Orde Baru di dekat gedung Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
(UI) Salemba Jakarta ditutup oleh Mahasiswa UI (berjaket kuning) sebagai bentuk
keprihatinan atas situasi sosio-politik ekonomi Indonesia yang semakin tidak
menentu.3 Peristiwa ini menandai goyahnya atau pudarnya arti sebuah identitas
kampus nasional yang dipercaya sebagai penyangga kelahiran sebuah Orde yang
dianggap Baru pada zamannya 32 tahun sebelumnya (1966). Memori akan sebuah
kampus perjuangan Orde Baru (ORBA) yang menyuarakan Amanat Penderitaan
Rakyat (Ampera) menjadi sesuatu yang berusaha untuk ditutup-tutupi dan ditolak
akan kebenaran dari kenyataannya.

Gambar 1. Aksi Mahasiswa


UI menutup papan nama:
Selamat
Datang
di
Kampus Perjuangan Orde
Baru tanggal 26 Februari
1998.

Menjadi menarik lagi kalau kita perhatikan bahwa ternyata kegiatan belajar
mengajar di UI sejak tahun 1987 telah berpindah ke kawasan hijau tepi kota yang
jauh dari hiruk pikuk keramaian kampus Salemba yang padat dan ramai. 4 Papan
slogan kampus perjuangan Orde Baru yang melekat di dekat gedung FKUI Salemba
mungkin tidak pernah dilihat oleh mahasiswa baru UI yang sehari-harinya menjalani
kehidupan perkuliahan di Depok. Papan ini seakan menjadi monumen bisu yang
keberadaannya menjadi biasa dan luput dari perhatian, tersembunyi dibalik rimbunan
pohon sebelum ada peristiwa lengsernya penguasa Orde Baru tahun 1998.
Makalah ini mencoba menyimak secara historis, tentang fase-fase dari
makna ruang kampus dan kaitannya dengan aspek sosio-politik dan bagaimana
kampus menyuarakan ide-ide kepentingan masyarakat umum (publik) sekaligus
3

Somadikarta, S., Irsyam, Tri Wahyuningsih M., Oemarjati, Boen S. Tahun Emas Universitas
Indonesia, Jilid 3 (Jakarta: UI Press, 2000), hal. 112.
4
Hanya tinggal beberapa Fakultas saja yang masih berdomisili di Salemba seperti
Kedokteran, Kedokteran Gigi dan Pasca Sarjana.

representasi kekuasaan pada masa itu sendiri, dan bagaimana sesungguhnya


hubungan antara kampus dan nasionalisme.
ZAMAN KAMPUS SALEMBA: DEKAT PUSAT KEKUASAAN
Gerakan nasionalisme di Indonesia sesungguhnya dapat dikatakan bersemi dan
tumbuh subur dari pendidikan yaitu di kampus-kampus yang didirikan oleh
pemerintah kolonial Belanda terutama di Batavia pada era awal abad ke 20.
Walaupun semangat nasionalisme itu sebenarnya telah tumbuh jauh sebelum masa
itu, namun tidak dapat dipungkiri bahwa sebelum era tersebut semangat
nasionalisme

masih

bersifat

sporadis-kedaerahan

dan

lebih

mencerminkan

semangat kekuatan fisik daripada kekuatan diplomasi-politik. Beberapa peristiwa


perubahan politik yang terjadi di Belanda maupun di Hindia Belanda sejak
pertengahan pertama abad ke 19 sampai awal abad ke 20 khususnya dengan
munculnya politik etis, ikut menyuburkan semangat nasionalisme di kalangan
pribumi.

Gambar 2. Gedung STOVIA


yang juga bernama DokterDjawa School di
Weltevreden. 1902. KITLV.

Ingatan kita tentang STOVIA (De School tot Opleiding van Inlandse Artsen)
atau Dokter-Djawa School (1849) di Hospitalweg di kawasan elite militer
Weltevreden dan Koeningsplein menerawang jauh ke dalam proses kolonialisasi dan
pembentukan identitas pribumi yang berkegiatan dalam ruang temporer proses
kolonialisasi itu sendiri. Pribumi yang berhasil masuk di dalam lingkaran elite
Belanda, atau paling tidak mendapatkan hak-hak istimewa untuk mengenyam
pendidikan tinggi sebagian besar bukanlah dari orang kebanyakan, melainkan dari
orang-orang yang punya status terpandang atau lingkaran dalam penguasa. Namun

demikian, dari kalangan inilah justru gerakan intelektual tentang nasionalisme


semakin mengerucut.5

Gambar 3. Guru Belanda


berpakaian pantalon putihputih, dengan siswa sekolah
yang mengenakan busana
pribumi dengan
blangkonnya di Sekolah
STOVIA . 1902. KITLV

STOVIA awal ini menempati bangunan bergaya kolonial abad ke 19 dengan


bentuk yang lebih menampakkan wujud sebuah benteng atau biara daripada
sebuah sekolah sipil yang ramah, dimana dinding-dinding tebal kokoh dan jendelajendela besar tanpa teritisan, menjadi saksi bisu apa sesungguhnya yang terjadi di
dalam sekolah ini. Kehidupan pendidikan siswa terpisah dari ruang publik di
sekitarnya. Hanya sebuah pintu gerbang masuk utama yang menjadi penanda
bahwa di titik inilah batas antara ruang intelektual dan non-intelektual ternyatakan
secara ruang fisik. Berjejer mengelilingi tapak, ruang-ruang kelas tersusun dalam
formasi orientasi ke dalam dan membuka ke arah halaman tengah (inner-courtyard).
Di ruang kelas terbuka seperti inilah diskusi politik khususnya mengenai paham
kebangsaan mencuat yang kemudian melahirkan gerakan Boedi Oetomo 20 Mei
1908. Pernyataan arsitektur dari sistem sosio-politik pada periode ini lebih
mencerminkan pada keadaan perjuangan intelektual untuk menyuarakan kehendak
rakyat dari balik tembok tebal kolonialisme dimana praktek segregasi dan represi
masih terjadi, baik di dalam tembok ataupun di luar tembok sekolah. Ibarat sebuah
benteng, bagaimana agar bisa terbebas dari kungkungan benteng tersebut.
Pada kenyataannya apa yang disebut dengan ruang publikpun pada masa ini
merupakan sebuah ruang yang terkontrol. Jalan, taman, ruang pertemuan,
semuanya tetap berada di bawah kontrol sebuah kekuasaan kolonial. Disiplin adalah
etika yang diterapkan dalam sekolah-sekolah. Oleh sebab itu, sekolah juga kita
ibaratkan sebagai penjara intelektual bagi pribumi, karena sesungguhnya di balik
5

Anggota gerakan ini (Budi Utomo) kemudian banyak yang terlibat di dalam perjuangan
politik nasional dan menyuarakan kepentingan rakyat pribumi melalui Volksraad (Dewan
Rakyat), seperti Dr. Soetomo, Dr. Wahidin Soediro Husodo dan Dr. Cipto Mangunkusumo.

tembok tebal inilah aktor-aktor intelektual pribumi ternyata produktif dalam


menghasilkan

pemikiran-pemikiran

segar

tentang

ide

kebangsaan.

Seiring

meningkatnya tekanan kepada pemerintah kolonial Belanda akan peningkatan


kualitas pendidikan di Hindia Belanda, maka didirikanlah Hooge School (Sekolah
Tinggi) di beberapa kota di Jawa, 6 termasuk di Batavia. Di Batavia, perkembangan
rancangan kampus Hooge School ini mengikuti model sebuah kota, dimana di
Batavia sendiri antara Hoogeschool yang satu dan lainnya dipisahkan oleh jalan
umum (ruang publik). Kampus menjadi bagian sebuah kota, dan ruang publik
menjadi penyambung satu sama lain. Rechthoogeschool (Sekolah Tinggi Hukum) di
Koeningsplein,

Geneskundige

Hoogeschool

(Sekolah

Tinggi

Kedokteran)

di

Salemba, dll
Akan halnya Geneskundige Hoogeschool (Sekolah Tinggi Kedokteran) di
Salemba Batavia tahun 1927, sekolah ini awalnya adalah kampus STOVIA yang baru
(1916-1920), menggantikan kampus STOVIA lama di Hospitalweg Weltevreden.
Meningkatnya kebutuhan akan dokter dari kalangan pribumi memaksa pemerintah
kolonial Belanda untuk membangun gedung STOVIA yang lebih megah dan lengkap
dengan fasilitas penunjang Rumah Sakit dan laboratorium termodern di Hindia
Belanda. Akhirnya dipilihlah sebuah tapak yang terletak sebelah selatan Tjikuini di
sudut jalan arah Salemba dan Menteng. Rancangan komplek sekolah ini dilakukan
oleh arsitek Belanda dari Dinas BOW (Burgelejke Openbare Werken) atau
Departemen Pekerjaan Umum dengan gaya modern tropis. Berbeda dengan
bangunan lama yang lebih mencerminkan ketertutupan (enclosure), maka bangunan
yang baru ini lebih mencerminkan sebuah keterbukaan dan cerminan sebuah
kemajuan intelektual dan sesuatu yang ellegance. Walaupun konsep kampus model
Eropa yang berpola biara masih kental dalam perancangan kampus ini (ada sebuah
biara kecil terletak di belakang gedung kuliah), namun masing-masing bangunan
berdiri sendiri, dan perletakannya menyesuaikan dengan bentuk lahan yang agak
trapesium. Unit rumah sakit dan laboratorium di letakkan di sisi jalan yang ke arah
Menteng,

sementara

bangunan

gedung

kuliahnya

menempati

pojok

tapak

menghadap ke jalan Salemba.

Technische Hoogeschoool (THS Sekolah Tinggi Teknik) di Bandung 1920,


Rechtshoogeschool (RHS Sekolah Tinggi Hukum) di Batavia 1924, dan Geneskundige
Hoogeschool (Sekolah Tinggi Kedokteran) di Batavia 1927.

Gambar 4. Peletakan batu


secara simbolis oleh Gravin
N. Van Limburg Stirum-van
Simina (istri Gubernur
Jenderal Belanda J.P. van
Limburg menandai
pembangunan Rumah Sakit
berikut gedung STOVIA yang
baru (1916)

Gambar
5.
Gedung
STOVIA
yang
baru
(selanjutnya
Geneskundige
HoogeSchool) di Jalan
Salemba yang diresmikan
tahun 1920.

Komplek bangunan STOVIA yang baru ini menjadi cikal bakal kampus UI
Salemba. Perletakan batu pertama dilakukan tahun 1916 oleh Gravin N. Van
Limburg Stirum-van Simina (istri Gubernur Jenderal Belanda J.P. van Limburg) dan
selesai pembangunan tahun 1920. Bangunan 2 lantai berbentuk massa huruf H ini
terletak di atas lahan yang cukup leluasa bagi pengembangan kampus 20 puluh
tahun kemudian. Penampilan estetika dari bangunan ini mencerminkan suatu
keinginan pemerintah Belanda untuk menunjukkan identitas kemajuan peradaban
yang telah diraih oleh kawasan Hindia Belanda dibandingkan dengan wilayah
kolonialisasi lain. Dari pondasi yang dibangun oleh sistem kolonialisme ini kemudian
justru

banyak

pengetahuan.

melahirkan

pemikiran-pemikiran

cemerlang

di

bidang

ilmu

Tercatat dari balik bangunan ini mencuat nama salah seorang penerima hadiah Nobel tahun
1929 berkebangsaan Belanda yaitu Profesor Christiaan Eijkmann penemu hubungan antara
kekurangan vitamin B1 dan penyakit beri-beri.

Namun demikian, apa yang menjadi keinginan Belanda untuk membuat


monumen intelektual dari perguruan tinggi semacam ini justru berbuah pada
keinginan kemerdekaan dari masyarakat pribumi yang semakin dahsyat. Formalitas
dan monumentalitas kuasa dari budaya kolonial yang ditampilkan pada sosok-sosok
bangunan perguruan tinggi kolonial ini ternyata menanam benih pemikiran
nasionalisme di dalamnya. Dan dari lembaga-lembaga pendidikan semacam ini
pemikiran tersebut menyebar dengan memanfaatkan celah-celah ruang-ruang publik
yang terkontrol, seperti poster-poster yang di tempel di tembok-tembok pagar rumah
dan bangunan, serta media-media komunikasi darurat atau seadanya. Citra
bangunan bergaya modern Indies yang merepresentasikan perpaduan antara timur
dan barat ibarat arsitektur sebuah candi batu yang di dalamnya menghasilkan ruangruang sosial yang secara fisik tidak ternyatakan namun merepresentasikan proses
antar-tindak dari dua budaya yang berbeda. Sebagian dokter-dokter Belanda yang
simpati pada perjuangan penduduk pribumi serta para intelektual-intelektual pribumi
bertukar-pikiran untuk mematangkan keinginan adanya sebuah bangsa pribumi yang
mandiri dan tidak berada di bawah kontrol kolonialisme.
Pergolakan kemerdekaan, menjadi titik lompatan bagi perubahan besar di
kampus Salemba ini. Dua hari setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, atas
prakarsa beberapa tokoh pendidikan tinggi, dibentuklah Balai Perguruan Tinggi
Republik Indonesia (BPTRI) di Jakarta tanggal 19 Agustus 1945. Dua Sekolah Tinggi
utama di Jakarta yaitu Rechtshoogeschool dan Geneskundige hoogeschool diubah
menjadi Perguruan Tinggi Hukum/Kesusasteraan dan Perguruan Tinggi Kedokteran
di bawah BPTRI. Selanjutnya selama beberapa tahun sampai 1950, nama BPTRI
mengalami perubahan menjadi Nood-Universiteit (1946), kemudian Universiteit van
Indonesie (1946-1950) dan Universiteit Indonesia (Balai Perguruan Tinggi Republik
Indonesia Serikat 1950-1955). Zaman Orde Lama ini kampus UI lebih
memperlihatkan sosok sebagai sebuah lembaga pendidikan yang berjuang
mengkonsolidasikan jatidirinya agar dapat bertahan dan berupaya memaksimalkan
peran dan pembenahan administrasi selepas penjajahan.
Walaupun Orde Lama mempraktekkan sebuah rezim yang bergaya
diktatorship, namun pada zaman ini jarang terdengar adanya pergolakan-pergolakan
yang dimotori dari kalangan kampus. Hal ini kemungkinan di karenakan pada masa
ini, gaya retorika pimpinan Orde Lama dan orientasi politik anti-kolonial dan antiimperialimenya mampu menyatukan rakyat untuk beralih dari persoalan ekonomi ke
persoalan jati diri bangsa. Identitas kebangsaan memerlukan sebuah pernyataan
sikap yang nyata baik melalui diplomasi internasional maupun melalui solidaritas
sebangsa. Di bawah pemerintah Soekarno, citra Indonesia sebagai sebuah bangsa

yang besar tidak ditunjukkan melalui pengembangan pendidikan formal, namun


melalui jargon-jargon politik dan formalisasi melalui monumen-monumen mercusuar
dalam rangka menunjukkan ke dunia luar bahwa bangsa yang baru merdeka ini
adalah bangsa yang mempunyai jatidiri dan bagian dari peradaban dunia. Sebagai
sebuah rezim yang otoriter, karakter ruang publik yang dibangun pada zaman ini
menyiratkan kepentingan akan representasi kuasa pada simbol-simbol negara.
Sebagai contoh, kawasan Koeningsplein (King Square) dijadikan sebagai titik pusat
Ibukota negara yang baru melalui pembangunan Monumen Nasional, yang sekaligus
juga menandakan dibangunnya ruang publik yang luas di sekelilingnya. Ingatan
kolektif akan ruang publik imperialis diganti dengan ruang publik baru yang lebih
merepresentasikan citra Indonesia modern versi Sukarno.

Gambar 6. Gedung
rektorat UI Salemba.
1970-an.

Kampus UI Salemba zaman pasca kemerdekaan berkembang dinamis dan


cenderung

pragmatis,

namun

tetap

menjadi

pusat

aktivitas

pengelolaan

perkuliahan bagi kampus UI yang tersebar di luar kota (sampai tahun 1963) maupun
di dalam kota. Gedung Rektorat UI terletak di sebelah utara Fakultet Kedokteran,
bersebelahan dengan bekas pabrik candu yang juga menjadi area UI. Penampilan
estetikanya tidaklah semegah dan seindah Fakultet-Fakultet yang berada di
bawahnya. Akhirnya pada tahun 1960-an dibangunlah gedung baru di belakangnya
yang lebih modern, bertingkat 4. Bangunan ini menjadi latar bagi bangunan kolonial
di depannya dan selama beberapa waktu, sebelum akhirnya gedung yang lama

dihancurkan untuk keperluan parkir dan menampilkan wajah UI yang lebih modernis
ketimbang kolonialis.8
Kampus UI Salemba selanjutnya berkembang ibarat benalu mengisi ruangruang kosong tersisa di tapak tengah kota yang terbatas, dihubungkan selasar dan
lorong-lorong yang kadang kala membuat orang yang pertama kali memasukinya
akan tersesat. Dibangun berdampingan dengan bangunan masa kolonial, kampus
Salemba pada sisi utara diisi oleh bangunan bergaya modern international style era
tahun 1970-an, dimana sebelah utaranya dibatasi oleh sisa rel kereta api dan hiruk
pikuk Pasar Kenari. Skyline kampus yang cenderung datar, dan dekat dengan jalan,
menjadikan citra kampus UI Salemba cukup kompak walaupun rumit akan
pengaturan sirkulasinya. Ini menjadikan mahasiswa dari satu fakultas ke fakultas lain
lain lebih memungkinkan untuk intensif bersosialisasi dan menggerakkan berbagai
aktivitas yang menarik massa.

Gambar 7. Peristiwa Malari


tahun 1974. Militer masuk
kampus. Humas UI.

Gambar 8. Pengerekan
bendera
hitam
oleh
mahasiswa sebagai protes
diberlakukannya NKK/BKK
tahun 1978. Humas UI.
8

Yang mengembangkan kampus Salemba zaman-zaman berikut ini semua adalah lulusan
Indonesia (dari Technische hoogeschool di Bandung) seperti Ir. Sujudi, Ir. Alibasyah Samhudi,
dan lain-lain.

Berbeda dengan ruang publik pada zaman Orde Lama, selama periode Orde
Baru, Kampus UI tanpa disadari menjadi ruang publik informal yang menjadi tempat
bagi mahasiswa untuk menggerakkan kekuatan rakyat dalam rangka mengkritisi
kebijakan pemerintah. Tercatat beberapa peristiwa pergolakan di kampus menjadi
peristiwa sejarah nasional, seperti tewasnya mahasiswa UI Arief Rahman Hakim
(yang diangkat menjadi pahlawan Ampera) tahun 1965, kemudian peristiwa Malari
(Lima Belas Januari 1974) dengan akibat ditangkapnya beberapa aktivis mahasiswa
oleh aparat keamanan. Gaya pemerintahan Orde Baru yang militeristik berimbas
pada kehidupan kampus. Dalam periode inilah dikenal istilah militer masuk
kampus. Ruang publik, seperti pada masa kolonial, kembali dikontrol melalui
kekuatan militer, bahkan pemegang kontrol atas pimpinan UI sendiri ada pada pihak
militer yang dekat dengan kekuasaan. Ingatan masa penjajahan seakan berulang
dalam bentuk yang berbeda, yaitu penindasan oleh kekuasaan bangsa sendiri.
Kampus UI Salemba dengan lorong-lorong labyrinthnya menjadi ruang publik
informal yang menyatu dengan kegiatan demonstrasi di jalanan luar kampus.
Gerakan-gerakan mahasiswa yang tersangkut-paut atau punya hubungan dengan
rezim sebelumnya atau punya afiliasi dengan pihak-pihak oposisi dan organisasi
terlarang (Partai Komunis Indonesia) terutama yang anti kapitalisme ditangkap dan
dipenjarakan. Selama masa Orde Baru ini, kapitalisme asing mulai masuk ke dalam
ruang-ruang publik baru.
Klimaks dari pemandulan aktivitas politik mahasiswa adalah melalui
penerapan NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus / Badan Koordinasi
Kemahasiswaan) tahun 1978 oleh pemerintah yang memasung hak untuk hidup
berdemokrasi di kalangan mahasiswa. Penerapan NKK/BKK menjadi titik balik bagi
gerakan mahsiswa, menjadi penanda matinya demokrasi di ruang kampus. Segala
aktivitas mahasiswa yang berbau politik diberangus, dan kampus disterilkan hanya
untuk kegiatan pendidikan dan penelitian. Dalam fase ini, kehidupan kampus penuh
dengan trauma dan perlawanan mahasiswa terhadap rezim pemerintah yang otoriter.
Memori akan kekerasan terhadap perlawanan mahasiswa semua terekam di dalam
area kampus (sebagai tempat untuk memasak konsep aksi-aksi perlawanan), untuk
dijalankan bahu-membahu bersama rakyat menentang kediktatoran politik dalam
bentuk aksi maupun parlemen jalanan. Ruang publik menjadi tempat untuk
menjalankan protes, menjadikan kegiatan kuliah berganti dengan parade jalanan.
Walupun pihak mahasiswa secara nyata melawan sikap kediktatoran politik Orde
Baru, namun anehnya stigma atau julukan sebagai Kampus Perjuangan Orde Baru
tetap melekat pada identitas UI.

10

ZAMAN KAMPUS DEPOK: PINDAH KE TEPI


Pada Zaman Orde Baru inilah kampus UI mengalami fase sejarah berikutnya yaitu
kepindahan besar-besaran pada tahun 1987, dari tapak sempit padat dan sesak di
tengah kota dekat pusat kekuasaan, ke sebuah tapak luas (350 ha) yang masih
kosong jauh di pinggir selatan kota Jakarta yang dilalui lintasan kereta api ke
Jakarta-Bogor yaitu di kawasan Depok yang masih sepi dari pembangunan fisik
sebuah kota. Di sinilah nantinya sebuah kampus yang diharapkan oleh pemerintah
Orde Baru menjadi kampus ideal yang lebih terintegrasi menggantikan kampus
lama yang terpencar-pencar dan kurang representatif bagi sebuah kampus negara.
Diharapkan kampus baru ini nantinya menjadi surga bagai pengembangan ilmu
pengetahuan dimana mahasiswa dan staf pengajarnya dimanjakan dengan suasana
kampus yang tenang, teduh dan luas, sehingga bisa lebih fokus pada kegiatan
pendidikan daripada kegiatan-kegiatan aksi demonstrasi. Dan paling tidak, karena
lokasinya yang jauh dari pusat kekuasaan, bisa meredam dan mengurangi ancaman
bagi kemungkinan kegiatan aksi-aksi mahasiswa terhadap kebijakan pemerintah.
Bila cikal bakal model kampus Salemba adalah model kampus seperti bagian
dari sebuah kota, maka kampus UI Depok dirancang berbeda yang seolah-olah
menjadi sebuah kota sendiri yang terintegrasi namun terisolasi dari lingkungan
sekitarnya. Pagar kuning yang mengelilingi UI menjadi batas teritori menara
keilmuwan yang memberi tanda, mana daerah publik dan mana teritori Kampus. 9
Kampus UI Depok dirancang oleh tim dari UI yang dimotori oleh tiga orang staf
Jurusan Arsitektur UI yang baru saja menyelesaikan pendidikan S2 di Amerika dan
Inggris yaitu Gunawan Tjahjono, Triyatno Yudo Harjoko dan Budi Adelar Sukada.

Menurut Gunawan Tjahjono dan Tim Perancang kampus UI Depok: Kampus


berasal dari kata Latin campus yang berarti lapangan. Istilah tersebut kemudian
mempengaruhi Bahasa Perancis Kuno dan selanjutnya Bahasa Inggeris. Dalam
Bahasa Inggeris campus menjadi camp dengan arti "tempat berkemah sementara
bagi serdadu."(Webster's II New Riverside University Dictionary.) Pemakaian
istilah campus untuk kompleks universitas adalah gejala Amerika yang lokasi
universitasnya cenderung menyendiri jauh dari keramaian kota yang padat. Istilah
kampus tampil dan melekat pada suasana lapangan luas yang mengucilkan diri
dari keramaian.(Lihat, Paul Venable Turner. Campus: An American Planning
Tradition. Cambridge, Massachusetts: MIT Press, 1984.) Dengan memusatkan
kegiatan di dalam sebuah latar, kampus di Amerika pada gilirannya menjadi
contoh bagi kompleks universitas dan perguruan tinggi lain seperti institut. Kini
campus/kampus menjadi istilah yang selalu melekat pada kompleks universitas
tidak perduli apakah lahannya berada di tengah-tengah kota atau jauh dari
keramaian.
9

11

Gambar 9. Kampus UI
baru (1987) terletak di
tepi kota Jakarta pada
hamparan tapak yang
luas disatukan oleh
hijaunya
pepohonan
sebagai
simbol
kepulauan
Indonesia
yang disatukan oleh
laut.

Luasnya area dan lokasinya yang jauh dari hiruk pikuk kota menyebabkan tim
lebih flexibel di dalam menentukan pola. Kampus Depok kaya akan filosofi
perancangan,

yang

berdasarkan

permintaan

dari

pimpinan

UI

harus

mencerminkan karakter yang Indonesia dalam artian mewakili geografi budaya


seluruh propinsi di Indonesia. Karakter ini lalu diterjemahkan mangacu pada akar
tema budaya tradisional melalui rencana tapak dan tipologi bangunan-bangunan
perkuliahan dan administrasi.

Tipologi Indonesia kemudian di urai dengan

meletakkan daerah centrum sebagai pusat kuasa (terdiri dari Rektorat, Balairung dan
Masjid) sebagai simbol Tunggal Ika yang dikelilingi oleh fakultas-fakultas sebagai
cerminan Bhineka. Dari tiga representasi center ini, gedung rektoratlah yang
sepertinya lebih menonjol. Dengan bentuk fisiknya yang khas dan menjulang tinggi
delapan lantai dapat terlihat dari kejauhan, menyebabkan citra rektorat UI yang baru
ini sering dipakai sebagai logo UI untuk berhubungan dengan pihak luar. Dengan
rektorat UI sebagai pusat dan bukan perpustakaan, citra UI selanjutnya terbentuk
sebagai representasi kuasa dari pimpinan di UI, bukan representasi panji-panji
keilmuwan seperti layaknya sebuah Perguruan Tinggi di tempat-tempat lain.
Langgam UI yang baru ini kemudian menjadi sebuah bahasa baru yang direproduksi
oleh media massa, dan menjadi salah satu trendsetter bagi pencarian arsitektur
nusantara. Alhasil, bentuk-bentuk gaya Indonesia arsitektur kampus ui menjadi
sebuah tradisi yang menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia.
Sementara itu dari kajian tipologi juga, tim perancang merekomendasikan
dua model karakter bangunan tradisional di Indonesia yaitu memanjang dan
memusat. Pembagian zoning dibagi atas disiplin ilmu menurut manusia dan
lingkungan, dimana manusia ragawi dan budaya terdapat di zoning timur, sementara

12

lingkung-alam dan lingkung-bangun terletak di sebelah barat. Aura kosmologi budaya


Jawa secara tidak disadari juga ternyata hadir pada bagian centrum ini.

Gambar 10. Daerah centrum sebagai


cerminan Tunggal Ika menjadi Pusat
Administrasi Universitas, Pusat komunitas
dan pelayanan ibadah

Selain itu karakter geografis Indonesia yang dikelilingi laut dicerminkan


melalui lautan pohon yang menyatukan bangunan fakultas yang satu dengan yang
lain. Konsep filosofi kampus UI Depok ini kaya akan simbol-simbol kenegaraan dan
kebangsaan yang dipropagandakan oleh rezim Orde Baru. Di balik konsep
penyatuan melalui lautan pohon ini adalah letak antara Fakultas yang justru
berjauhan satu sama lain untuk memecah konsentrasi agar tidak menumpuk di satu
kawasan saja. Alasan politis di balik ini adalah mengurangi resiko mahasiswa untuk
melakukan mobilisasi secara spontan seperti pada kampus Salemba yang
berdempetan. Selain itu juga, menurut informasi salah satu perancangnya, pihak
pimpinan UI (Alm. Prof. DR. Nugroho Notosusanto) juga meminta agar pengerasan
jalur jalan dan parkir di lingkungan UI menggunakan material permanen, bukan dari
material yang mudah dilepas-pasang seperti con-block. Hal ini menunjukkan
kekhawatiran pihak UI bahwa citra kekerasan masih melekat pada pihak mahasiswa.
Orde Baru juga ternyata menggunakan karakter tradisional untuk menyatakan
identitas kebangsaan Indonesia yang berbeda dari rezim sebelumnya. Arsitektur
menjadi semacam media dan monumen yang merefleksikan hal tersebut. Proyek
Taman Mini Indonesia Indah yang digagas oleh almarhum Ibu Negara (Ibu Tien
Suharto) tahun 1973 memperkuat pernyataan tadi. Pencarian akan identitas
arsitektur Indonesia dan juga bagaimana ruang kota mengakomodir isu tentang
keIndonesiaan ini telah melahirkan sebuah citra arsitektur Indonesia masa Orde Baru
yang cenderung seragam dengan ke-tradisionalannya.

13

Dengan kampus baru yang berlatarbelakang filosofis perancangan dan


bahasa bentuk yang diinginkan oleh pemerintah Orde Baru ini maka makna
nasionalisme menemukan bentuk identitasnya yang kental sekaligus monumental,
jauh dari pusat kekuasaan yang terletak di Jakarta. Ingatan tentang Kampus
Salemba yang identik dengan trauma, demo seakan teredam dengan sendirinya
karena energi perubahan sekarang beralih ke Depok.

Masa-masa pindah ke

kampus Depok inilah keadaan tentram damai seolah-olah mulai terasa, seakan-akan
diciptakan dengan kesengajaan oleh kekuasaan Orba yang sedang berkuasa agar
mahasiswa benar-benar belajar tidak tergiur untuk turun ke jalanan, dengan kata lain
mahasiswa akan dimanjakan dengan fasilitas kampus yang lengkap dan diarahkan
untuk

lebih

mengembangkan

Tridarma

perguruan

tinggi

daripada

politik.

Pembungkaman hak-hak demokrasi ini melalui perpindahan ruang kampus juga


dalam upaya menjauhkan citra dan ingatan masyarakat tentang paradigma kampus
yang menjadi ujung tombak dalam bersikap oposisi terhadap kebijakan pemerintah.
PASCA REFORMASI 1998
Pembungkaman politik ini baru bisa dikatakan berakhir pada saat reformasi sosiopolitik di dalam negeri yang berakibat runtuhnya rezim Orba (1998) yang telah
bercokol selama 32 tahun. Momentum ini menjadi sebuah fase politik baru bagi
dunia kampus, setelah sekian lama berada dalam kontrol dan represi dari sebuah
sistem kekuasaan. Gema slogan Kampus Perjuangan Orba yang anehnya tetap
masih dipertahankan selama 32 tahun, berubah menjadi sebuah simbol ungkapan
keprihatinan. Ada sebuah kegamangan bagi kalangan civitas akademika UI yang
selama 32 tahun bangga dengan slogan kampus perjuangan Orba, karena begitu
rezim ini runtuh, maka runtuh pula kebanggaan tersebut. Nama Orde Baru sangat
lekat dengan nama sebuah rezim pemerintahan daripada nama sebuah masa baru
yang membawa spirit baru. Penutupan papan nama Selamat Datang di Kampus
Perjuangan Orde Baru di kampus UI Salemba tanggal 26 Februari 1998 oleh
mahasiswa UI menjadi simbol pernyataan tegas untuk menghapus ingatan kolektif
akan identitas kampus yang kebetulan juga adalah nama sebuah rezim. Nama
menjadi sebuah identitas yang melekat dalam ingatan walaupun kata-kata yang
merepresentasikannya telah dihapus dari mata kita.
Intervensi pemerintah terhadap kehidupan kampus semakin berkurang dan
suasana keterbukaan mulai berhembus. Sebuah sistem manajemen kampus baru
yang lepas dari bayang-bayang kekuasaan masa lampau mulai beroperasi. Otonomi
Perguruan Tinggi melalui status BHMN (Badan Hukum Milik Negara) memberikan
otoritas kepada UI dan beberapa Perguruan Tinggi unggulan lainnya untuk

14

mengelola keuangannya sendiri. Kehidupan sosial budaya UI pasca reformasi


seolah-olah juga turut berubah. Pada kenyataannya UI bukanlah sebuah universitas,
melainkan kumpulan fakultas. Penguasa fakultas masih menjadi raja-raja kecil sebuah tradisi masa lampau yang belum sempat direformasi, sehingga Universitas
menjadi sulit terintegrasi.
Secara fisik, kampus UI pasca reformasi tidak terlalu banyak berubah drastis.
Ruang-ruang luar antar kampus diisi dengan kehijauan yang menjadi penyatu antar
bangunan. Adanya masterplan yang dibuat setiap 10 tahun sekali yaitu 1987 dan
1997 menjadi panduan yang diacu, cukup banyak membantu pengembangan
kampus ini beberapa tahun kemudian. Walaupun secara fisik tidak terlihat, namun
peran penjaga tradisi membangun di UI pada masa ini terwakili pada sebuah
lembaga yang disebut TPLK (Tim Penataan Lingkungan Kampus) yang terdiri dari
para wakil dari pihak struktural UI dan Departemen Arsitektur Fakultas Teknik UI. 10
Fungsi dari lembaga ini adalah memberikan masukan kepada pihak pimpinan UI
terkait pembangunan-pembangunan fisik yang dilakukan oleh pihak UI. Namun
aktifitas tim ini sempat terhenti tahun 2002 2007 karena pihak pimpinan UI
menganggap keberadaan Tim ini menghambat kekuasaan pimpinan untuk secara
bebas mengembangkan kampus.
Seiring dengan makin menghijaunya kampus UI dengan hutan kotanya, dan
taman-taman hijau yang tertata rapih merefleksikan citra sebuah Garden Campus,
ruang-ruang luar ini menjadi alternatif tempat publik baru dalam kampus. Setiap akhir
pekan, banyak warga Depok yang memanfaatkan ruang-ruang luar UI yang hijau
sebagai tempat untuk relaksasi dan rekreasi. Keberadaan UI bukan hanya menjadi
penyangga dan penggerak pertumbuhan kawasan Depok, tapi juga menjadi sebuah
kota dalam kota yang bersinergi dengan lingkungan sekelilingnya. Kota Depok yang
dulu sepi dan hanya dikenal sebagai areal Perumnas, sekarang tumbuh padat dan
rapat oleh deretan rumah toko, dan makin disesaki oleh berbagai shopping mall
dengan berbagai ragam rancangan. Menemukan ruang publik yang nyaman dan luas
di sepanjang jalan Margonda (jalan utama di kota Depok) adalah sesuatu yang
mustahil. Oleh karena itu menjadi wajar bahwa UI dengan teritorinya sendiri menjadi
sebuah ruang publik alternatif bagi warga Depok.

10

Dari Departemen Arsitektur adalah dua orang yang merancang kampus UI Depok awal yatu
Gunawan Tjahjono dan Budi A.Sukada.

15

Gambar 12. Track sepeda

Gambar 11. Website UI

Selain

berperan

di

tingkat

lokal,

upaya-upaya

mensiasati

dinamika

persaingan Perguruan Tinggi di tingkat nasional dan internasional dari pihak


pimpinan UI juga perlu dicermati. Setelah periode pembangunan fisik pasca kolonial
(1987-1998), pihak pimpinan UI saat ini berupaya menempatkan UI sebagai
perguruan tinggi tertua di Indonesia, dengan merevisi tahun berdirinya menjadi 1849
bersamaan dengan berdirinya Sekolah Dokter Djawa di Batavia zaman kolonial
Belanda. Keputusan ini cukup strategis dan akan berdampak pada naiknya peringkat
UI di mata dunia internasional. Namun demikian, ini juga sekaligus menandakan
bahwa simbol waktu dan hubungan historis antara kolonial dan pasca kolonial
kembali terhubungkan, - sesuatu yang sempat terputus puluhan tahun oleh
nasionalisme yang menetapkan waktu berdirinya UI adalah pada paska penjajahan
(1950).
Kondisi lain yang perlu di cermati adalah tipikal mahasiswanyapun sekarang
sudah banyak berubah, lebih berjiwa metropolitan dan jarang turun ke jalan lagi.
Berkurangnya

intervensi

dari

penguasa

negara

terhadap

ruang

kampus,

menyebabkan ruang demokrasi di dalam kampus relatif cukup terbuka dan


mahasiswa mengekspresikan opininya dalam ruang-ruang kampus ini. Namun
bedanya kini adalah mulai masuknya pihak swasta atau para penanam modal baru
ke dalam lingkungan UI.11 Kini ruang publik di UI mulai terisi oleh papan-papan
reklame dari beberapa waralaba dan bank-bank yang menjadi sponsor dana bagi
11

Status BHMN menyebabkan UI harus dapat mendanai kegiatannya sendiri, dan oleh
karena itu kerjasama-kerjasama dengan para pemilik dana sangat gencar dilakukan.

16

pembangunan di UI. Apakah ini menandakan bahwa UI akan semakin komersial


terhadap publiknya dan kehilangan idealismenya atau ini merupakan sikap pragmatis
UI terhadap tuntutan zaman yang semakin dinamis?
Secara kasat mata juga, UI memasuki era cyber campus di mana pembinaan
pendidikan dapat disimulasikan melalui media virtual. Bahkan media virtual ini turut
mewakili ruang publik ini, karena interaksi antar mahasiswa tidak dilakukan melalui
ruang fisik tetapi melalui Facebook di internet. Selain itu, trend isu lingkunganpun
ikut merambah ke dalam kampus, hal ini dapat dilihat melalui pembangunan track
sepeda yang mengitari UI.
Nasionalisme di UI kini bersifat multi makna dari keseharian yang terjadi baik
oleh mahasiswa, publik sampai ke tingkat pemegang otoritas kebijakan di senat UI.
Semua membentuk kesatuan identitas UI baru menyongsong abad depan, bersaing
dengan bangsa lain yang sudah lebih dulu maju. Akankah dengan kondisi ini civitas
akademika UI tetap kritis terhadap perkembangan bangsa di kemudian hari? Hal ini
harus terus dibuktikan, seiring dengan dinamika kemungkinan-kemungkinan
perubahan kebijakan pemegang otoritas dan kekuasaan di UI selanjutnya, akan
dibawa kemana UI ke depan.

KESIMPULAN
Dari proses perkembangan kampus UI yang bersilangan dengan isu nasionalisme,
ruang publik dan pendidikan, paling tidak ada lima fase perkembangan kampus UI
yang dapat saya ungkapkan, yaitu:
a. Tahap I (1849 - 1920-an): Diawali dengan Sekolah Dokter Djawa pada zaman
kolonial Belanda. Berbentuk kampus model biara, ruang publik terpisah dari
kehidupan privat siswa.
b. Tahap II (zaman kolonial tahun 1920-an Kemerdekaan): Ditandai dengan
pembangunan Gedung STOVIA (Fakultas Kedokteran) zaman Belanda di
Salemba. Kampus menjadi bagian dari kota, antara kampus yang satu
dengan yang lain dipisahkan oleh ruang publik.
c. Tahap III (zaman kemerdekaan 1987): Kampus Tahap II berkembang
dinamis dan cenderung pragmatis, bangunan baru mengisi lahan-lahan
kosong di sekelilingnya menyebabkan kampus menjadi padat. Periode ini
ditandai dengan menyatunya kehidupan siswa dengan ruang publik di
sekelilingnya. Era ini berada pada masa 2 rezim yaitu Orde Lama dan Orde
Baru.

17

d. Tahap IV (tahun 1987 1998): Orde Baru memindahkan UI ke kampus baru


yang terletak di tepi kota pada sebuah areal yang luas membentuk sebuah
komplek pendidikan baru. Kehidupan siswa jauh dari pusat kekuasaan untuk
meredam gejolak pergolakan yang terjadi. Kampus terasa sepi dari hiruk
pikuk aktivitas mahasiswa tersembunyi di balik rimbunan pohon yang hijau.
e. Tahap V (tahun 1998 sekarang): kehadiran kampus UI menghidupkan urat
nadi kota disekitarnya dan men-generate ruang kota dan publik baru. UI
bahkan menjadi ruang publik baru bagi warga Depok dengan kawasan
hutannya yang dapat dipakai untuk rekreasi. UI kini berkembang ke arah
cyber campus.

BIBLIOGRAFI
Borden, Iain, & Rendell, Jane (eds.). InterSections Architectural Histories and Critical
Theories (London: Routledge, 2000).
Gouda, Frances, Dutch Culture Overseas: Colonial Practice in The Netherlands
Indies 1900-1942 (Netherlands: Amsterdam University Press, 1995).
Heuken, Adolf, Pamungkas, Grace, Menteng Kota Taman Pertama di Indonesia
(Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka, 2001)
Kusno, Abidin, Behind the Postcolonial; Architecture, urban space and political
cultures in Indonesia (London: Routledge, 2000).
Somadikarta, S., Irsyam, Tri Wahyuningsih M., Oemarjati, Boen S. Tahun Emas
Universitas Indonesia, Jilid !, 2 dan 3 (Jakarta: UI Press, 2000).
Tjahjono, Gunawan, Sukada, Budi Adelar, Sejarah Perencanaan dan Perancangan
Kampus UI Depok (Draft). 2007.
Widyarta, M. Nanda, Mencari Aristektur Sebuah Bangsa; Sebuah Kisah Indonesia
(Surabaya: Wastu Lanas Grafika, 2007)

18