Anda di halaman 1dari 8

Hubungan luar negeri Indonesia

Sejak merdeka, hubungan luar negeri Indonesia berpatokan pada kebijakan luar negeri "bebas
dan aktif" dengan mencoba mengambil peran dalam berbagai masalah regional sesuai ukuran
dan lokasinya, namun menghindari keterlibatan dalam konflik di antara kekuatan-kekuatan besar
dunia. Kebijakan luar negeri Indonesia pada masa Orde Baru yang dipimpin Presiden Soeharto
beralih dari sikap anti-Barat dan anti-Amerika yang menjadi ciri pemerintahan Soekarno. Setelah
Soeharto mengundurkan diri tahun 1998, pemerintah Indonesia mempertahankan garis besar
kebijakan luar negeri Soeharto yang moderat dan independen. Banyaknya masalah di dalam
negeri tidak berhasil mencegah presiden-presiden selanjutnya untuk bepergian ke luar negeri
serta partisipasi Indonesia dalam panggung internasional. Invasi ke Timor Leste oleh Indonesia
pada bulan Desember 1975, aneksasinya tahun 1976, serta referendum kemerdekaan Timor Leste
dari Indonesia pada bulan Agustus 1999 memperkuat hubungan Indonesia dengan komunitas
internasional.

Keanggotaan internasional
Tolok ukur kebijakan luar negeri kontemporer Indonesia adalah partisipasinya dalam Association
of Southeast Asian Nations (ASEAN), karena Indonesia bersama Thailand, Malaysia, Singapura,
dan Filipina merupakan anggota pendirinya pada tahun 1967. Sejak itu, Brunei, Vietnam, Laos,
Burma, dan Kamboja bergabung dengan ASEAN. Awalnya dibentuk untuk mempromosikan
tujuan ekonomi, sosial, dan budaya bersama, ASEAN kemudian membentuk dimensi keamanan
setelah Vietnam menyerbu Kamboja tahun 1979; aspek keamanan ASEAN meluas melalui
pembentukan ASEAN Regional Forum tahun 1994 yang terdiri dari 22 negara, termasuk
Amerika Serikat. Masalah dalam negeri Indonesia yang terus berlanjut telah mengalihkan
perhatiannya dari berbagai urusan ASEAN, sehingga mengurangi pengaruhnya dalam organisasi
tersebut.
Indonesia juga merupakan salah satu pendiri Gerakan Non-Blok (GNB) dan telah mengambil
posisi moderat dalam setiap pertemuan. Sebagai Ketua GNB tahun 1992-95, Indonesia menarik
GNB dari retorika konfrontasi Utara-Selatan, dan menyuarakan perluasan kerja sama UtaraSelatan dalam bidang pembangunan. Indonesia terus menjadi pemimpin Gerakan Non-Blok
terdepan dan suportif.
Indonesia memiliki populasi Muslim terbanyak di dunia dan merupakan anggota Organisasi
Kerja Sama Islam (OKI). Indonesia secara hati-hati mempertimbangkan kepentingan solidaritas
Islam dalam keputusan kebijakan luar negerinya, namun pada umumnya selalu menjadi pengaruh
pertimbangan di OKI. Presiden Abdurrahman Wahid berusaha membentuk hubungan baik
dengan Israel dan pada bulan Agustus 2000, ia bertemu dengan mantan Perdana Menteri Israel
Shimon Peres. Akan tetapi, hingga Januari 2006, belum ada hubungan diplomasi formal antara
Indonesia dan Israel. Karena itu, Indonesia, bersama Malaysia, membina hubungan luar
negerinya dengan Israel melalui Singapura.[1]
Setelah 1966, Indonesia menyambut dan membuat hubungan dekat dengan negara-negara
pendonor, terutama Amerika Serikat, Eropa Barat, Australia, dan Jepang, melalui
Intergovernmental Group on Indonesia (IGGI) dan penggantinya, Consultative Group on
Indonesia (CGI), yang telah menyediakan bantuan ekonomi asing dalam jumlah besar. Masalah
di Timor Leste dan keeengganan Indonesia untuk menerapkan reformasi ekonomi telah
memperumit hubungan Indonesia dengan negara pendonor.

Indonesia dari dulu merupakan pendukung kuat forum Asia-Pacific Economic Cooperation
(APEC). Melalui upaya Presiden Soeharto pada pertemuan tahun 1994 di Bogor, Indonesia,
semua anggota APEC setuju memberlakukan perdagangan bebas di kawasan Asia-Pasifik pada
tahun 2010 untuk negara maju dan 2020 untuk negara berkembang.

Sengketa internasional
Banyak pulau di Indonesia menjadi tempat tinggal kelompok bajak laut yang sering menyerang
kapal-kapal di Selat Malaka sebelah utara,[2] dan nelayan-nelayannya secara ilegal sering
memasuki perairan Australia dan Filipina.[3]

Blok Ambalat dipersengketakan dengan Malaysia (sedang berlangsung)

Pulau Sipadan dan Ligitan dipersengketakan dengan Malaysia (selesai;


menjadi bagian dari Malaysia sesuai keputusan Mahkamah Internasional)

ASEAN
Indonesia menganggap ASEAN sebagai tolok ukur kebijakan luar negerinya melalui penerapan
kekuatan regionalnya dan pengaruhnya yang damai dan konstruktif di antara negara ASEAN.

Asia

India
Pada tahun 1950, Presiden Soekarno meminta rakyat Indonesia dan India "mempererat hubungan
kordial" yang telah terbentuk antar kedua negara "selama lebih dari 1000 tahun" sebelum
"diganggu" oleh kekuatan kolonial.[4] Lima belas tahun kemudian, demonstran di Jakarta
berteriak "Bubarkan India, pelayan imperialis!" dan "Hancurkan India, musuh kita!" [5] Namun
pada musim semi 1966, menteri luar negeri dari kedua negara mulai membicarakan era
hubungan baik. India telah mendukung kemerdekaan Indonesia dan Nehru memulai pembicaraan
tentang Indonesia di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
India memiliki kedutaan besar di Jakarta [6] and Indonesia operates an embassy in Delhi.[7]

Jepang

Indonesia dan Jepang memiliki hubungab baik.

Indonesia memiliki kedutaan besar di Tokyo dan konsulat di Osaka. Japan


memiliki kedutaan besar di Jakarta dan konsulat di Medan, Denpasar,
Surabaya, dan Makassar.

Jepang adalah mitra ekspor terbesar Indonesia.

Kedua negara adalah anggota ekonomi besar G20 dan APEC.

Indonesia juga menawarkan bantuan saat terjadi gempa bumi di Jepang tahun
2011.

Pakistan

Indonesia memiliki kedutaan besar di Islamabad[8] and a Consulate in Karachi

Pakistan memiliki kedutaan besar di Jakarta[9] and a Consulate in Medan.[10]

Kedua negara adalah anggota Developing 8 (D-8) dan Next Eleven (N-11).
Mereka juga anggota Gerakan Non-Blok (GNB) dan Organisasi Kerja Sama
Islam (OKI).

Perdagangan bilateral antar kedua negara saat ini bernilai $800 juta, namun
berencana meningkatkannya menjadi $2 miliar. [11]

Republik Rakyat Tiongkok


Cina dan Indonesia membentuk hubungan diplomatik tanggal 13 April 1950, yang dihentikan
sementara tanggal 30 Oktober 1967 karena terjadi peristiwa 30 September 1965.
Hubungan bilateral kembali pulih sejak 1980-an. Menteri Luar Negeri Qian Qichen dari Cina
bertemu Presiden Soeharto dan Menteri Dalam Negeri Moerdiono tahun 1989 untuk
mendiskusikan kelanjutan hubungan diplomatik kedua negara. Pada bulan Desember 1989,
kedua negara membicarakan masalah teknis mengenai normalisasi hubungan bilateral dan
menandatangani perjanjian. Menlu Ali Alatas menerima undangan Cina pada tanggal Juli 1990
dan mereka membicarakan perjanjan penyelesaian obligasi utang Indonesia ke Cina dan
komunike kelanjutan hubungan diplomatik antar kedua negara. Kedua negara meresmikan
"Komunike Restorasi Hubungan Diplomatik Antar Kedua Negara".
Premier Li Peng menerima undangan Indonesia tanggal 6 Agustus 1990. Dalam diskusinya
dengan Presiden Soeharto, kedua pihak mengekspresikan keinginannya untuk meningkatkan
hubungan antar kedua negara atas dasar Pancasila dan Dasasila Bandung. Tanggal 8 Agustus,
Menlu Cina dan Indonesia atas nama pemerintah negaranya masing-masing menandatangani
nota kesepahaman mengenai kelanjutan hubungan diplomatik. Kedua pihak menyatakan secara
resmi melanjutkan hubungan diplomatik antara Cina dan Indonesia pada hari itu.

Korea Selatan

Indonesia memiliki kedutaan besar di Seoul.

Korea Selatan memiliki kedutaan besar di Jakarta.

Skala perdagangan bilateral antara kedua negara bernilai US$14,88 miliar.

Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan Korea Selatan telah meningkatkan


hubungan dengan Indonesia

Indonesia dan Korea Selatan telah berinvestasi dalam berbagai proyek


pengembangan militer bersama, termasuk pesawat jet tempur KFX/IFX

Firma Korea Selatan, Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME),


menjalani negosiasi kontrak final untuk menjual tiga kapal selam Type-209 ke
Indonesia. Ini akan menjadi persetujuan pertahanan bilateral terbesar antar
kedua negara dengan nilai USD1,1 miliar.

Turki

Hubungan dengan Kekaisaran Utsmaniyah (negara sebelum Turki) dimulai


dengan ekspedisi Utsmaniyah ke Aceh pada abad ke-16 sebagai tanggapan
atas permintaan Kesultanan Aceh untuk membantu mengusir Portugis dari
Malaka[12]

Indonesia memiliki kedutaan besar di Ankara.[13]

Turki memiliki kedutaan besar di Jakarta.[14]

Kedua negara adalah anggota penuh Organisasi Perdagangan Dunia (WTO),


Organisasi Kerja Sama Islam (OIC), dan ekonomi besar G20.

Palestina

Indonesia memiliki kedutaan besar non-residen di Amman

Palestine memiliki kedutaan besar di Jakarta

Australia
Sejak kemerdekaan Indonesia, kedua negara telah memiliki hubungan diplomatik, kerja sama
formal (khususnya dalam bidang konservasi ikan, penegakan hukum, dan keadilan), kerja sama
keamanan, perluasan hubungan perjanjian, keanggotaan bersama di forum regional, dan
keanggotaan bersama di sejumlah perjanjian multilateral. Perdagangan antara kedua negara terus
tumbuh setiap tahun.
Pada tahun-tahun terakhir, komitmen bantuan Australia semakin besar untuk Indonesia, dan
Australia telah menjadi destinasi pendidikan populer bagi pelajar Indonesia.[18]
Pada tahun 2008-09, Indonesia merupakan penerima bantuan terbesar Australia dengan nilai
AUD462 juta.[19]

Timor Leste
Timor Leste (resminya Republik Demokratik Timor-Leste) dan Indonesia berbagi pulau
Timor. Indonesia menyerbu bekas koloni Portugal ini pada tahun 1975 dan menganeksasinya
tahun 1976, sehingga menjadikannya sebagai provinsi ke-27 dengan nama Timor Timur sampai
diadakannya referendum dukungan Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 1999. Dalam referendum
tersebut, rakyat Timor Leste memilih merdeka. Setelah pemerintahan sementara PBB, Timor
Leste merdeka penuh pada tahun 2002.
Meski masa lalu yang buruk, hubungan dengan Indonesia masih sangat baik. Indonesia sejauh ini
merupakan rekan dagang terbesar Timor Leste (sekitar 50% impor pada tahun 2005) dan terus
meningkatkan pangsa pasarnya.
Masalah yang perlu diselesaikan meliputi pertemuan Komite Perbatasan Timor Leste-Indonesia
untuk menyurvei dan menetapkan perbatasan darat; dan Indonesia sedang mencari solusi atas
pengungsi Timor Leste di Indonesia.

Papua Nugini
Indonesia memiliki perbatasan sepanjang 760-kilometer (470 mil) dengan Papua Nugini melalui
provinsi Papua dan Papua Barat. Perbatasan bersama ini telah memunculkan ketegangan dan
masalah diplomatik selama beberapa dasawarsa.[20]
Indonesia memiliki kedutaan besar di Port Moresby dan konsulat di Vanimo.

Eropa
Bulgaria

Bulgaria termasuk di antara negara yang mengakui kemerdekaan Indonesia


setelah Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945. Hubungan
diplomatik dibentuk tanggal 21 September 1956.

Bulgaria memiliki kedutaan besar di Jakarta sejak Oktober 1958

Indonesia memiliki kedutaan besar di Sofia sejak 1960.[21]

Perancis

Indonesia memiliki kedutaan besar di Paris

France memiliki kedutaan besar di Jakarta

Finland

Indonesia dan Finlandia memiliki hubungan dekat. Nokia memiliki pangsa


pasar yang besar pada pasar telepon genggam Indonesia.

Jerman

Indonesia memiliki kedutaan besar di Berlin

Germany memiliki kedutaan besar di Jakarta

Yunani

Hubungan diplomatik dibentuk tahun 1960.

Kedutaan besar Indonesia di Athena dibuka tahun 1994.[22]

Kedutaan besar Yunani di Jakarta dibuka tahun 1997. [23]

Greek Foreign Affairs Ministry about relations with Indonesia.

Organisasi internasional

APEC

ASEAN

AsDB

Cairns Group

CCC

Intelsat

CP

Interpol

ESCAP

IOC

FAO

IOM (pemantau)

G-15

ISO

G15

ITU

G-19

ITUC

G-20 Developing Nations

NAM

G-20 Major Economies

OIC

G33

OPCW

G-77

OPEC (bekas)

IAEA

UN

IBRD

UNCTAD

ICAO

UNESCO

ICC

UNIFIL

ICRM

UNIDO

IDA

UNIKOM

IDB

UNMIBH

IFAD

UNMOP

IFC

UNMOT

IFRCS

UNOMIG

IHO

UPU

ILO

WTO

IMF

WFTU

International Maritime
Organization

WHO

WIPO

Inmarsat

WMO

WToO

WTrO