Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI TUMBUHAN

MINIMAL AREA (Kurva Spesies)

Disusun Oleh:
Nama: Aprizal Herunanda
NIM: F071141026
Kelas: A Reg A
Kelompok : 1 (Satu)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2016

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari
beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada suatu tempat. Dalam mekanisme
kehidupan bersama tersebut terdapat interaksi yang erat baik diantara sesama individu
penyusun vegetasi itu sendiri maupun dengan organisme lainnya sehingga merupakan
suatu sistem yang hidup dan tumbuh serta dinamis.
Menurut

Soerinegara

dan Indrawan (1980)

in

Facrul (2007), analisis

vegetasi dalam ekologi tumbuhan adalah cara untuk mempelajari struktur


vegetasi dan komposisi jenis tumbuhan. Analisis

vegetasi

bertujuan

untuk

mengetahui komposisi jenis (susunan) tumbuhan dan bentuk (struktur) vegetasi


yang ada di wilayah yang di analisis pada setiap stasiun (Ontorael, Rivay, 2012).
Analisa vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komponen jenis) dan bentuk
(struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan.

Pengamatan parameter

vegetasi berdasarkan bentuk hidup pohon, perdu, serta herba. Suatu ekosistem
alamiah maupun binaan selalu terdiri dari dua komponen utama yaitu komponen
biotik dan abiotik. Vegetasi atau komunitas tumbuhan merupakan salah satu
komponen biotik yang menempati habitat tertentu seperti hutan, padang ilalang,
semak belukar dan lain-lain. Struktur dan komposisi vegetasi pada suatu wilayah
dipengaruhi oleh komponen ekosistem lainnya yang saling berinteraksi, sehingga
vegetasi yang tumbuh secara alami pada wilayah tersebut sesungguhnya merupakan
pencerminan hasil interaksi berbagai faktor lingkungan dan dapat mengalami
perubahan drastis karena pengaruh anthropogenik. Dengan demikian pada suatu
daerah vegetasi umumnya akan terdapat suatu luas tertentu, dan daerah tadi sudah
memperlihatkan kekhususan dari vegetasi secara keseluruhan.yang disebut luas
minimum area.

Luas minimum adalah luas terkecil yang dapat mewakili karakteristik


komunitas tumbuhan atau vegetasi secara keseluruhan. Luas minimum dan jumlah
minimum dapat digabung dengan menentukan luas total dari jumlah minimum yang
sesuai dengan luas minimum yang sudah dapat didapat terlebih dahulu. Penyebaran
individu suatu populasi mempunyai 3 kemungkinan yaitu: Penyebaran acak,
Penyebaran secara merata, Penyebaran secara kelompok, untuk mengetahui apakah
penyebaran individu suatu polpulasi secara merata atau kelompok maka penentuan
letak percontohan dalam analisis vegetasi dapat dibedakan dengan cara pendekatan
yaitu: Penyebaran percontohan secara acak, penyebaran percontohan secara
sistematik, penyebaran secara semi acak dan semi sistematik ( Rahadjanto, 2001).
Luas minimum digunakan untuk memperoleh luasan petak contoh (sampling
area) yang dianggap representatif dengan suatu tipe vegetasi pada suatu habitat
tertentu yang sedang dipelajari. Luas petak contoh mempunyai hubungan erat dengan
keanekaragaman

jenis

yang

terdapat

pada

areal

tersebut.

Makin

tinggi

keanekaragaman jenis yang terdapat pada areal tersebut, maka makin luas petak
contoh yang digunakan. Suatu syarat untuk daerah pengambilan contoh haruslah
representatif bagi seluruh vegetasi yang dianalisis. Keadaan ini dapat dikembalikan
kepada sifat umum suatu vegetasi yaitu vegetasi berupa komunitas tumbuhan yang
dibentuk oleh populasi-populasi. Jadi peranan individu suatu jenis tumbuhan sangat
penting. Sifat komunitas akan ditentukan oleh keadaan individu-individu tadi, dengan
demikian untuk melihat suatu komunitas sama dengan memperhatikan individuindividu atau populasinya dari seluruh jenis tumbuhan yang ada secara keseluruhan.
Ini berarti bahwa daerah pengambilan contoh itu representatif bila didalamnya
terdapat semua atau sebagian besar dari jenis tumbuhan pembentuk komunitas
tersebut (Soemarto, 2001).
Bentuk luas minimum dapat berbentuk bujur sangkar, empat persegi panjang
dan dapat pula berbentuk lingkaran. Luas petak contoh minimum yang mewakili
vegetasi hasil luas minimum, akan dijadikan patokan dalam analisis vegetasi dengan
metode kuadrat (Latif, 2012).

Suatu metode untuk menentukan luas minimal suatu daerah disebut luas
minimal. Metode ini dapat digunakan untuk mengetahui minimal jumlah petak
contoh. Sejumlah sampel dikatakan representive bila didalamnya terdapat semua atau
sebagian besar jenis tanaman pembentuk komunitas atau vegetasi tersebut (Odum,
1993).
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi jumlah spesies di dalam suatu daerah
adalah iklim, keragaman habitat, ukuran. Fluktuasi iklim yang musiman merupakan
faktor penting dalam membagi keragaman spesies. Suhu maksimum yang ekstrim,
persediaan air, dan sebagainya yang menimbulkan kemacetan ekologis (bottleck)
yang membatasi jumlah spesies yang dapat hidup secara tetap di suatu daerah. Habitat
dengan daerah yang beragam dapat menampung spesies yang keragamannya lebih
besar di bandingkan habitat yang lebih seragam. Daerah yang luas dapat menampung
lebih besar spesies di bandingkan dengan daerah yang sempit. Beberapa penelitian
telah membuktikan bahwa hubungan antara luas dan keragaman spesies secara
kasaradalah kuantitatif. Rumus umumnya adalah jika luas daerah 10 x lebih besar dari
daerah lain maka daerah itu akan mempunyai spesies yang dua kali lebih besar
(Harun, 1993).
Terdapat lima metode penentuan daerah minimal dapat disebutkan:
1.
2.
3.
4.
5.

Interpretasi kurva spesies area


Interpretasi kurva frekuensi area
Representasi spesies
Analisis persamaan
Representasi pola atau contoh (Dietvorst, 1982).

B. Rumusan Masalah
Bagaimana ukuran plot yang representative pada suatu areal

C. Tujuan

Adapun tujuan dari praktikum minimal area ini adalah untuk mengetahui ukuran plot
yang representative dari suatu areal.

BAB II
METODOLOGI
A. Waktu dan tempat
Hari, tanggal : Selasa tanggal 11 oktober 2016
Waktu
: 15.30 17.00
Tempat: Laboratorium Biologi FKIP UNTAN
B. Alat dan bahan
Meteran
: 1 buah
Pancang
: 15 buah
Tali raffia
: 1 gulung
Alat tulis
: seperlunya
C. Cara kerja
Cara kerja dari praktikum ini sebagai berikut : Dibuat plot/petak dengan
ukuran 25 x 25 cm, lalu dicatat dan diamati jenis-jenis tumbuhan yang terdapat pada
plot tersebut. Kemudian plot diperbesar dengan ukuran 25 x 50 cm, dicatat
penambahan jenis pada plot tersebut. Kemudian plot diperbesar dua kali lipat menjadi
50 x 50 cm, dan dicatat penambahan jenis tumbuhannya. Lalu dilakukan perbesaran
lagi menjadi 50 x 100 cm, 100 x 100 cm dan seterusnya sampai tidak terjadi lagi
penambahn jenis tumbuhan baru. Apabila pertambahan jenis relative kecil (persentase
penambahan jenis kira-kira 10 %) maka ukuran plot tidak diperluas lagi. Plot yang
terakhir disebut dengan minimal area. Dibuat grafik kurva dari hasil percobaan.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Luas minimum adalah luas terkecil yang dapat mewakili karakteristik
komunitas tumbuhan atau vegetasi secara keseluruhan. Luas minimum dan jumlah
minimum dapat digabung dengan menentukan luas total dari jumlah minimum yang
sesuai dengan luas minimum yang sudah dapat didapat terlebih dahulu. Minimal area
adalah suatu metode dasar dalam penyelidikan ekologi tumbuhan dengan memakai
plot. Metode minimal area sangat objektif digunakan untuk daerah-daerah padang
rumput karena vegetasinya homogen. Pada praktikum yang dilakukan untuk
mengetahui ukuran plot yang representative dari suatu areal menggunakan/petak
dengan ukuran 25 x 25 cm, 25 x 50 cm, 50 x 50 cm, 50 x 100 cm, 100 x 100 cm dan
seterusnya, namun jika penambahan jenis kira-kira 10 % atau bahkan tidak terjadi
penambahan lagi maka ukuran plot tidak diperluas lagi.
Tabel 1. Nama dan jumlah spesies pada tiap plot

Spesies

Petak contoh

habitus

14

26

35

53

semak

27

46

61

85

110

semak

18

31

semak

semak

14

semak

Plot yang pertama berukuran 25 x 25 cm, pada plot ini ditemukan 2 jenis
spesies yaitu spesies A sebanyak 6 buah dan spesies B sebanyak 27 buah. Plot kedua
berukuran 25 x 50 cm, pada plot ini terjadi penambahan spesies sebanyak 1 jenis
yaitu spesies C sebanyak 3 buah, dan penambahan spesies A menjadi 14, spesies B

menjadi 46. Plot yang ketiga berukuran 50 x 50 cm, ini terjadi penambahan spesies
sebanyak 1 jenis yaitu spesies D sebanyak 1 buah. , dan penambahan spesies A
menjadi 26, spesies B menjadi 61, dan spesies C sebanyak 7 buah. Selanjutnya plot 4
yang berukuran 50 x 100 cm, ditemukan spesies E sebanyak 4 buah dan tidak terjadi
penambahan pada spesies D sedangkan pada spesies A menjadi 35 buah, spesies B 85
buah, dan spesies C menjadi 18 buah. Pada plot terakhir berukuran 100 x 100 terjadi
penambahan pada tiap jumlah pada tiap spesies yaitu spesies A menjadi 53 buah,
spesies B menjadi 110 buah, spesies C menjadi 31 buah, spesies D menjadi 4, dan
spesies E menjadi 14 buah. Pada setiap plot yang paling mendominasi adalah spesies
B, disusul spesies A, spesies C, spesies E yang mendominasi lebih tinggi jumlahnya
pada plot 4 dan 5 tetapi tdak di temukan di plot 3
Grafik 1 : Kurva Minimal Area
120
100
plot 1

80

plot 2

60

plot 3
plot 4

40

plot 5

20
0
A

.
Beberapa sifat yang terdapat pada individu tumbuhan dalam membentuk
populasinya, dimana sifat sifatnya bila di analisa akan menolong dalam menentukan
struktur komunitas. Sifat sifat individu ini dapat dibagi atas dua kelompok besar,
dimana dalam analisanya akan memberikan data yang bersifat kualitatif dan
kuantitatif. Analisa kuantitatif meliputi : distribusi tumbuhan (frekuensi), kerapatan
(density), atau banyaknya (abudance).

Dari kurva diatas dapat dilihat dari plot 1-5 terjadi penambahan jumlah
spesies . Pada setiap plot yang paling mendominasi adalah spesies B, disusul spesies
A, spesies C, spesies E yang mendominasi lebih tinggi jumlahnya pada plot 4 dan 5
tetapi tdak di temukan di plot 3
Pada masing-masing spesies yang menempati tiap plot/petak tersebut
mempunyai peran masing-masing pada habitat tersebut. Pada teori disebutkan bahwa
semakin besar keanekaragaman yang terdapat pada suatu habitat maka akan semakin
luas plot/petak contoh yang digunakan dan semakin kecil plot/petak contoh maka
semakin sedikit jenis spesies yang ditemukan.

BAB V
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan
beberapa hal, yaitu;
1. Luas minimum adalah luas terkecil yang dapat mewakili karakteristik
komunitas tumbuhan atau vegetasi secara keseluruhan. Luas minimum dan
jumlah minimum dapat digabung dengan menentukan luas total dari jumlah
minimum yang sesuai dengan luas minimum yang sudah dapat didapat
terlebih dahulu.
2. Minimal area adalah suatu metode dasar dalam penyelidikan ekologi
tumbuhan dengan memakai plot. Metode minimal area sangat objektif
digunakan untuk daerah-daerah padang rumput karena vegetasinya homogen.
3. Semakin besar keanekaragaman yang terdapat pada suatu habitat maka akan
semakin luas plot/petak contoh yang digunakan dan semakin kecil plot/petak
contoh maka semakin sedikit jenis spesies yang ditemukan.

4. Pada praktikum ini ditemukan 5 jenis spesies rumput-rumputan. Minimal area


yang diperoleh yaitu pada plot kelima yang berukuran 100 x 100 cm.

Saran
Saat melakukan praktikum perlu melakukan koordinasi secara lebih mendetil
agar kesalahan saat pengumpulan data bisa di minimalisir

DAFTAR PUSTAKA
Dietvorst, P, Maarel, E. van der, Putten, H. van der. 1982. A New Approach to the
Minimal Area of a Plant Community. Jurnal Vegetatio Vol. 50 No. 2 Hal 78.
Harun. 1993. Ekologi Tumbuhan. Jakarta : Bina Pustaka.
Odum, Eugene. 1993. Dasar-Dasar Ekologi. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada.

Ontorael, Rivay, dkk. 2012. Kondisi Ekologi dan Pemanfaatan Sumber Daya
Mangrove di Desa Tarohan Selatan Kecamatan Beo Selatan Kabupaten
Kepulauan Talaud. Jurnal Ilmiah Platax. Vol 1 Hal 9.
Rahardjanto, Abdul Kadir. 2005. Buku Petunjuk Pratikum Ekologi Tumbuhan.
Malang : UMM Press.
Soemarto. 2011. Sirkulasi Air dalam Tanah. Jakarta : Gramedia.