Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM

EOLOGI TUMBUHAN
Praktikum 5
MINIMAL AREA
(KURVA SPESIES AREA)

DISUSUN OLEH
NAMA

: LARA KLARISYA

NIM

: F1071141030

KELOMPOK

: 4 (Empat)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2016

MINIMAL AREA / KURVA SPESIES AREA


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Untuk suatu kondisi hutan yang luas, maka kegiatan analisa vegetasi erat
kaitannya dengan sampling, artinya kita cukup menempatkan beberapa petak contoh
untuk mewakili habitat tersebut. Dalam sampling ini ada tiga hal yang perlu
diperhatikan, yaitu jumlah petak contoh, cara peletakan petak contoh dan teknik
analisa vegetasi yang digunakan. Prinsip penentuan ukuran petak adalah petak harus
cukup besar agar individu jenis yang ada dalam contoh dapat mewakili komunitas,
tetapi harus cukup kecil agar individu yang ada dapat dipisahkan, dihitung dan diukur
tanpa duplikasi atau pengabaian. Karena titik berat analisa vegetasi terletak pada
komposisi jenis dan jika kita tidak bisa menentukan luas petak contoh yang kita
anggap dapat mewakili komunitas tersebut, maka dapat menggunakan teknik Kurva
Spesies Area (KSA).
Oleh karena itu melalui metode minimal area, dengan mudah kita dapat
mengetahui jumlah populasi dalam suatu daerah dengan mengasumsikan bahwa
daerah yang kita pakai sebagai sampling dapat mewakili kerapatan dan keberagaman
jenis populasi pada daerah yang akan diamati.
B. Rumusan Masalah
Adapun masalah yang akan dibahas dalam praktikum kali ini yaitu apa yang
dimaksud dengan minimal area? Apa tujuan dari penggunaan minimal area? Jelaskan
hasil pengamatannya? dan berapakah luas minimal area yang perlu di buat ?
C. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini yaitu

untuk mengetahui ukuran plot yang

representative dari suatu areal.


BAB II

KAJIAN TEORI
Ekologi adalah ilmu pengetahuan yang termasuk salah satu cabang biologi.
Ekologi mempelajari saling hubungan antara organisme satu dengan organisme
lainnya dalam satu populasi dan populasi lainnya, serta saling hubungan antara
organisme dengan faktor-faktor fisik dari lingkungannya. Sehubungan dengan uraian
sebelumnya, maka dapat dinyatakan ekologi hewan dapat diartikan sebagai ilmu yang
mempelajari hubungan anatara hewan dengan lingkungannya. Ekologi hewan
menyangkut 3 aspek pokok yaitu deskriptif yaitu menyangkut pengetahuan tentang
cara hidup hewan, kuantitatif memberikan informasi yang menyangkut tentang
ukuran-ukuran kondisi lingkungan dan batas-batas toleransi hewan terhadap fluktuasi
faktor lingkungan, dan analitik-sintetik menganalisis lingkungan beserta pengaruhnya
dengan cara memvariasikan kondisi faktor tertentu di bawah kondisi faktor lain yang
terkontrol. Dalam mempelajari ilmu ekologi kita akan membahas tentang individu,
populasi, komunitas, ekosistem, biosfer (Susanto, 2000).
Menurut Kershaw (1973), Struktur vegetasi terdiri atas 3 komponen, yaitu:
1. Struktur vegetasi berupa vegetasi secara vertikal yang merupakan diagram profil
yang melukiskan lapisan pohon, tiang, sapihan, semak dan herba penyusun vegetasi.
2. Sebaran, horizontal jenis-jenis penyususn yang menggambarkan letak dari suatu
individu terhadap individu lain.
3. Kelimpahan (abudance) setiap jenis dalam suatu komunitas.
Vegetasi atau komunitas secara dramatis berbeda-beda dalam kekayaan
spesiesnya (species richness), jumlah spesies yang mereka miliki. Mereka juga
berbeda dalam hubungannya dengan kelimpahan relatif (relative abundance) spesies.
Beberapa komunitas terdiri dari beberapa spesies yang umum dan beberapa spesies
yang jarang, sementara yang lainnya mengandung jumlah spesies yang sama dengan
spesies yang semuanya umum ditemukan (Campbell,2004).
Para ahli tidak hanya menggunakan luas minimum dalam meneliti vegetasi,
tetapi juga menggunakan luas tertentu yang sudah ditentukan, misalnya 10x20 meter
pesegi untuk komunitas hutan, dan kemudian melakukan pengulangan dengan ukuran

tersebut sampai didapat jumlah minimum yang mewakili vegetasi. Andaikan kita
mengamati vegetasi padang rumput, dengan ukuran 1x1 meter persegi, maka kita
harus mencari beberapa kuadrat yang diperlukan agar sebagaian besar spesies yang di
dalam komunitas termasuk ke dalam pencuplikan. Dasar Pemikiran yang digunakan
untuk menjawab hal ini semua, sama dengan penetuan luas minimum yaitu
berdasarkan jumlah percontoh yang diperkirakan dapat mewakili seluruh karasterisik
vegetasi. Akan tetapi perlu diingat bahwa kadangkala kita tidak menggunakan luas
minimum, jumlah kuadrat minimum maupun point frame dalam meneliti vegetasi,
tetapi menggunakan suatu metode analisa vegetasi dengan menggunakan metode
kuadrat. Gambaran suatu vegetasi dapat dilihat dari keadaan unit penyusun vegetasi
yang dicuplik. Hal tersebut dapat dinyatakan dengan variable berupa nilai dari
kerapatan atau densitas, penutupan atau cover, dan frekuensi (Soerianegara, 2005).
Suatu metode untuk menentukan luas minimum suatu daerah disebut metode
luas minimal. Metode ini juga dapat digunakan untuk mengetahui jumlah petak yang
digunakan dalam metode tersebut. Oleh karena itu pada umumnya suatu vegetasi
akan didominasi oleh spesies tumbuhan tertentu saja. Hal dapat dianalisa dengan
metode luas minimum dan jumlah minimum ini (Harun,1993).
Kehadiran vegetasi pada suatu landskap akan memberikan dampak positif
bagi keseimbangan ekosistem dalam skala yang lebih luas. Secara umum peranan
vegetasi dalam suatu ekosistem terkait dengan pengaturan keseimbangan karbon
dioksida dan oksigen dalam udara, perbaikan sifat fisik, kimia dan biologis tanah,
pengaturan tata air tanah dan lain-lain. Meskipun secara umum kehadiran vegetasi
pada suatu area memberikan dampak positif, tetapi pengaruhnya bervariasi
tergantung pada struktur dan komposisi vegetasi yang tumbuh pada daerah itu.
Sebagai contoh vegetasi secara umum akan mengurangi laju erosi tanah, tetapi
besarnya tergantung struktur dan komposisi tumbuhan yang menyusun formasi
vegetasi daerah tersebut (Arrijani, dkk, 2006).
Suatu metode untuk menentukan luas minimal suatu daerah disebut luas
minimal. Metode ini dapat digunakan untuk mengetahui minimal jumlah petak
contoh. Sejumlah sampel dikatakan representive bila didalamnya terdapat semua atau

sebagian besar jenis tanaman pembentuk komunitas atau vegetasi tersebut (Odum,
1993).
Plot tunggal biasa disebut dengan minimal area yang didalamnya mempelajari
spesiesapa saja yang ada dan kepentigannya didalam komunitas seperti penyebaran
ataufrekuensinya , kelimpahan dan kerimbunannya. Untuk memahami luas dan
metode yangdipakai untuk menggambarkan suatu vegetasi yang penting adalah harus
disesuaikan dengan tujuan luas atau sempitnya suatu area yang diamati. (Anwar,
1995).
Cara peletakan petak contoh ada dua, yaitu cara acak (random sampling) dan
cara sistematik (systematic sampling), random samping hanya mungkin digunakan
jika vegetasi homogen, misalnya hutan tanaman atau padang rumput (artinya, kita
bebas menempatkan petak contoh dimana saja, karena peluang menemukan jenis
bebeda tiap petak contoh relatif kecil). Sedangkan untuk penelitian dianjurkan untuk
menggunakan sistematik sampling, karena lebih mudah dalam pelaksanaannya dan
data yang dihasilkan dapat bersifat representative. Bahkan dalam keadaan tertentu,
dapat digunakan purposive sampling (Dedy, 2009).
Ukuran plot minimal dapat ditentukan dengan cara survey pendahuluan untuk
menentukan ukuran luas plot minimal. Menentukan luas minimal plot dapat
dilakukan dengan cara membuat kurva luas minimal terlebih dahulu. Untuk bentuk
plot persegi dimulai dengan membuat sebuah plot (bidang datar) persegi pada suatu
tegakan dengan kuadrat (luas) terkecil, misalnya untuk lapangan rumput adalah
25x25 cm2, selanjutnya dicatat spesies tumbuhan yang ada dala kuadrat terkecil.
Kemudian kuadrat diperluas dua kali luas semula dan kemudian penambahan spesies
baru yang terdapat di dalam kuadrat luasan dicatat (Suprianto, 2001).

BAB III
METODOLOGI

A. Waktu dan Tempat


Praktikum Minimal Area dilaksanakan pada:
qHari/ tanggal : Selasa/ 11 Oktober 2016
Waktu
: 15.00 - selesai
Tempat: Dilaboratorium Biologi FKIP UNTAN
B.
A.
B.
C.
a)
b)
c)
d)
e)

Alat dan Bahan


Alat:
Meteran
- Parang
Pancang
- Buku identifikasi
Tali raffia
- Alat-alat tulis
Bahan:
Areal tanah
Cara Kerja
Plot atau petak di buat dengan ukuran 25 X 25 cm
Di amati dan catat jenis-jenis tumbuhan yang terdapat pada plot tersebut.
Di Perbesar plot dengan ukuran 25 X 50 cm.
Di catat penambahan jenis pada plot tersebut.
Di perbesar plot dua kali lipat menjadi 50 X 50 cm dan dicatat penambahan

jenis tumbuhannya.
f) Dilakukan hal yang sama untuk perbesaran plot selajutnya yaitu 50 X 100 cm.
100 X 100 cm dan seterusnya sampai tidak terjadi lagi penambahan jenis
tumbuhan baru.
g) Apabila pertambahan jenis relative kecil ( persentase penambahan jenis kirakira 10%) maka ukuran plot tidak di perluas lagi.
h) Plot yang terakhir inilah yang disebut minimal area.
i) Dibuat grafik kurva hasil percobaan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
N
o

Jenis

Foto
1

Plot
3

Keterangan
4

1.

Rumput

Teki

11

21

38

64

96

Herba, bentuk
bangun daun
pita,
pertulangan
daun sejajar,
akarnya serabut.

(Cyperus
rotundus)

2.

Spesies A

Herba, bentuk
bangun daun
bulat, akarnya
serabut

3.

Spesies B

19

Herba, bentuk
bangun daun
bulat,
pertulangan
daun menyirip,
warna daun
hijau, tepi daun
rata, dan
akarnya serabut

Grafik spesies

120
100
80

plot 1
plot 2

60

plot 3
plot 4

40

plot 5

20
0
rumput teki

spesies A

Spesies B

B. Pembahasan
Pada praktikum Ekologi Tumbuhan minimal area (Minimal sampling area)/
kurva spesies ini di lakukan untuk menentukan luas minimum merupakan suatu cara
yang digunakan untuk melihat suatu komunitas yaitu dengan nmemperhatikan
individu-individu atau populasi-populasi dari seluruh jenis tumbuhan yangada secara
keseluruhan yang kemudian akan menunjukkan suatu luas tertentu. Dalam penentuan
luas minimum ini digunakan petak contoh (kuadrat). Luas minimum digunakan untuk
memperoleh luasan petak contoh (sampling area) yang dianggap representatif dengan
suatu tipe vegetasi pada suatu habitat tertentu yang sedang dipelajari. Minimal area
merupakan suatu metode dasar dalam penyelidikan ekologi tumbuhan dengan
memakai plot. Ukuran plot dibuat sedemikian rupa sehingga merupakan representatif
untuk mengambil data-data dalam ekologi tumbuhan.
Adapun prinsip penentuan ukuran petak adalah petak harus cukup besar agar
individu jenis yang ada dalam contoh dapat mewakili komunitas, tetapi harus cukup
kecil agar individu yang ada dapat dipisahkan, dihitung dan diukur tanpa duplikasi
atau pengabaian. Karena titik berat analisa vegetasi terletak pada komposisi jenis dan

jika kita tidak bisa menentukan luas petak contoh yang kita anggap dapat mewakili
komunitas tersebut, maka dapat menggunakan teknik Kurva Spesies Area (KSA).
Dengan menggunakan kurva ini, maka dapat ditetapkan : (1) luas minimum suatu
petak yang dapat mewakili habitat yang akan diukur, (2) jumlah minimal petak ukur
agar hasilnya mewakili keadaan tegakan atau panjang jalur yang mewakili jika
menggunakan metode jalur.
Kurva spesies area merupakan langkah awal yang digunakan untuk
menganalisis vegetasi yang menggunakan petak contoh. Luasan petak contoh
mempunyai hubungan erat dengan keragaman jenis yang terdapat pada areal
tersebut. Makin beragam jenis yang terdapat pada areal tersebut, makin luas kurva
spesies areanya. Bentuk luasan kurva spesies area dapat berbentuk bujur sangkar,
empat persegi panjang dan dapat pula berbentuk lingkaran. Petak contoh dapat
ditambahkan jika terjadi penambahan spesies dalam petak contoh yang sedang
diamati lebih dari 10 %. Luasan petak contoh pada praktikum yaitu 25 cm / 0,25 m.
Pemilihan ukuran tersebut dikarenakan pada vegetasi padang rumput selain
tumbuhannya kecil juga pada analisis vegetasinya dalam ukuran petak contoh belum
mencapai 1 m semua spesies di situ sudah terdata semua. Luasan petak contoh pada
praktikum yang dilakukan yaitu:
-

Petak contoh 1 = 25 cm2

Petak contoh 2 = 25 x 50 cm

Petak contoh 3 = 50 x 50 cm

Petak contoh 4 = 50 x 100 cm

Petak contoh 5 = 100 x 100 cm (1 m2)


Beberapa sifat yang terdapat pada individu tumbuhan dalam membentuk
populasinya, dimana sifat sifatnya bila di analisa akan menolong dalam menentukan
struktur komunitas. Sifat sifat individu ini dapat dibagi atas dua kelompok besar,
dimana dalam analisanya akan memberikan data yang bersifat kualitatif dan
kuantitatif. Analisa kuantitatif meliputi : distribusi tumbuhan (frekuensi), kerapatan
(density), atau banyaknya (abudance).

Dari tabel 1 diperoleh populasi yang ada pada plot dengan ukuran 25 x 25 cm
dan ditemukan 3 spesies tumbuhan yaitu hanya Rumput Teki (Cyperus rotundus) ada
11. Saat dilakukan penambahan ukuran plot menjadi 25 x 50 cm tetap Rumput teki
(Cyperus rotundus) ada 21. Kemudian pada plot 50 x 50 cm terdapat penambahan
spesies yaitu spesies A ada 1 dan spesies B ada 4. Sedangkan pada penambahan
ukuran plot menjadi 50 x 100 cm masih tetap 3 spesies. Lalu pada plot berukuran 100
x 100 cm tidak berubah yaitu masih 3 spesies, Rumput teki ada 96, spesies A ada 9
dan spesies B ada 19.
Pada Tabel 1 spesies yang terdapat pada setiap plot adalah Rumput Teki
(Cyperus rotundus). Hal ini dapat dikatakan bahwa spesies ini memiliki pola
penyebaran merata dan mampu atau kuat dalam persaingan/kompetisi dibandingkan
dengan species yang lain (Maulana, 2010). Jika ke dua spesies dengan kebutuhan
ekologis yang sama berada didalam satu daerah yang sama, maka seleksi alamiah
bekerja untuk mengurangi ketimpang-tindihan relung kedua spesies tersebut. Ini
berarti relung yang luas didalam satu wilayah akan terbagi-bagi terus dengan makin
banyaknya spesies. Kerapatan suatu spesies tergantung pada persaingan atau
kompetisi antara spesies yang sejenis dan tidak hanya tergantung pada luas areal saja
(Michael, 1997).
Adapun deskripsi dari ke- 3 spesies tersebut adalah :
1. Rumput Teki (Cyperus rotundus)
Herba, bentuk bangun daun pita, pertulangan daun sejajar, akarnya serabut.
2. Spesies A
Herba, bentuk bangun daun bulat, akarnya serabut
3. Spesies B
Herba, bentuk bangun daun bulat, pertulangan daun menyirip, warna daun hijau,
tepi daun rata, dan akarnya serabut
Dengan minimal area yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa di lpadang
rumput sekitar Rektorat UNTAN hanya memiliki keanekaragaman spesies yang
sedikit dan di dominasi oleh spesies-spesies tertentu, sehingga didapatkan ukuran plot
yang representatif untuk menunjukkan bahwa vegetasinya yang homogen yaitu pada

ukuran plot 50 x 50 cm. Area yang representatif ini merupakan area dimana jenis
tumbuhan yang sama ditemukan pada area selanjutnya dengan tidak memasukkan
jenis rumput yang baru. Pada tabel diatas dapat diketahui bahwa pada plot yang
paling banyak jumlah total spesies adalah plot 4 dan plot 5. Hal ini dikarenakan
adanya penambahan spesies dan jumlah spesies masing-masing spesies.

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Ukuran plot yang representatif untuk menunjukkan bahwa vegetasinya yang
homogen pada lapangan sekitar Laboratorium Pend. Biologi adalah pada ukuran plot
50 x 50 cm. Rumput Teki dan Spesies A terdapat pada setiap plot, sehingga memiliki
pola penyebaran merata dan mampu atau kuat dalam persaingan/kompetisi dengan
spesies lain. Adapun keanekaragaman di padang rumput sekitar Rektorat UNTAN
sedikit karena pada penambahan ukuran plot 50 x 100 cm tidak terdapat penambahan
spesies. Minimal area adalah suatu metode dasar dalam penyelidikan ekologi tumbuhan dengan
memakai plot. Digunakannya petak minimal area karena daerah lapangan terbuka
tumbuhannya bersifat homogen yaitu padang rumput. Area yang representatif
merupakan area dimana jenis tumbuhan yang sama ditemukan pada area selanjutnya
dengan tidak memasukkan jenis rumput yang baru. Pada tabel diatas dapat diketahui
bahwa pada plot yang paling banyak jumlah total spesies adalah plot 4 dan plot 5. Hal
ini dikarenakan adanya penambahan spesies dan jumlah spesies masing-masing
spesies.

B. Saran
Pada praktikum kita harus teliti dalam pengamatan sehingga bisa
mendapatkan hasil yang baik.

DAFTAR PUSTAKA
Anwar.1995.Biologi lingkungan.Bandung: Genexa Exact.
Arrijani, dkk. 2006. Analisis Vegetasi Hulu DAS Cianjur Taman Nasional
Gunung Gede Pangrango. Biodiversitas. Volume 7, Nomor 2, Hal 147-153.
Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Manado: Bandar Lampung:
Campbell, Neil A, Dkk. 2004.Biologi Edisi Kelima Jilid III. Jakarta: Erlangga
Dedy . 2010. Analisis vegetasi. (online).
http://www.Dedys_Site.com/doc//Analisavegetasi. Diakses pada 14
November 2014
Harun, A. 1993. Teknik Penarikan Sampel. Bandung : Diktat Kuliah Pasca Sarjana.
Kershaw, K.A. 1973. Quantitatif and Dynamic Plant Ecology. London: Edward
Arnold Publishers.
Odum, Eugene P. 1993. Dasar-dasar Ekologi. UGM University Press. Yogyakarta.

Soerianegara, I dan Andry Indrawan. 2005. Ekologi Hutan Indonesia. Fakultas


Kehutanan Institut Pertanian Bogor.
Suprianto, Bambang. 2001. Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan. Bandung: UPI.
Susanto, Pudyo. 2000. Pengantar Ekologi Tumbuhan. Malang: PPGSM