Anda di halaman 1dari 3

Pada bangunan Stadion Gelora Bung Karno digunakan pondasi tiang

pancang dan struktur beton


bertulang. Dengan menggunakan struktur beton bertulang, pembangunan
stadion utama ini diharapkan bisa
diselesaikan jauh lebih cepat dari jadwal yang sebelumnya ditentukan.
Sistem upper struktur yang digunakan pada periode ini bermacam-macam
disesuaikan dengan bentuk
rancangan bangunannya, seperti struktur cangkang, struktur lipat dan
struktur dome.
Struktur lipat merupakan salah satu jenis dari struktur permukaan bidang.
Menurut R.Sutrisno(1983),
struktur lipat adalah bentuk yang terjadi dari lipatan bidang-bidang datar
dimana kekakukan dan kekuatannya
terletak pada keseluruhan bentuk itu sendiri.
Sistem struktur dan konstruksi yang menonjol pada bangunan
stadion Gelora Bung Karno adalah
konstruksi atap model temu gelang, yang merupakan pengembangan
dari struktur lipat yang berbentuk
elips/oval. Atap oval yang mengelilingi stadion tersebut akan bertepi
serta menyatu pada sebuah gelang
raksasa, yang secara kokoh bakal dicengkeram dari bagian sebelah atas.
Rangka atap ini terbagi atas 5 bagian, sehingga seluruhnya berjumlah 480
bagian. Atap dengan bahan
kerangka baja mempunyai berat tidak kurang dari 5000 ton ditopang oleh
kapstan (rangka atap) sebanyak 96
buah kapstan, yang masing-masing sepanjang 66 meter. Dengan
cantilever sepanjang 18 meter ke bagian
luar stadion dan 48 meter ke bagian dalam stadion yang tidak memiliki
tiang penyangga di bagian tengah.
Penyangga atap seluruhnya berada di tepi mengelilingi bangunan stadion
utama ini.
Salah satu keunikkan yang menonjol dari bangunan stadion utama senayan ini
adalah kontruksi atap model temu gelang. Pemasangan pertama kontruksi atap
tersebut dimulai tanggal 26 agustus 1961. Atap dengan bahan kerangka baja ini
menjadi penutup untukseluruh tempat duduk yang mengelilingi tanah lapang di pusat
stadion. Secara keseluruhan, berat bagian atap tersebut mencapai tidak kurang dari
5.000 ton, terdiri dari 96 kapstan yang masing-masing panjangnya 66 meter.
Setiap kapstan terbagi atas limabagian, sehingga seluruhnya berjumlah 480
bagian. Bagian tersebut akhirnya disambung menjadi satu sehingga, bisa

mempunyai bentuk oval (bulat telur). Semua sambungan dikerjakan dengan las
tanpa menggunakan baut pengikat. Kontruksi atap yang unik tersebut kemudian
dipikul oleh 96 pasang tiang. Jika dilihat dari bawah, tiang pemikul tersebut terlihat
menonjol keluar stadion sepanjang 18 meter serta menonjol ke dalam sepanjang 48
meter.
Bahan yang digunakan adalah besi baja martin no 3 yang seluruhnya secara
khusus didatangkan dari Uni Soviet, dalam bentuk panil-panil dan batang-batang
panjang. Apabila dihitung, keliling luar dari kontruksi atap model temu gelang
Stadion Utama Senayan tersebut akan mencapai satu kilometer. Sedangkan seluruh
pekerjaan menggunakan las , andaikan disambung menjadi sebuah rangkaian,
panjangnya tidak kurang mencapai 70 km.
Jika dilihat dari kejauhan, maka dudukan letak bagian atap stadion tersebut
secara sepintas terlihat miring ke arah luar. Hal tersebut terjaddi karena bagian
tersebut memang agak miring, menurun keluar dari stadion supaya ketika hujan air
memang jatuh mengalir ke luar. Ini diakibatkan oleh karena tinggi atap dari atas
tanah pada bagian dalam stadion 35 meter. Sementara di arah luar memang tidak
lebih dari 30 meter.
Keistimewaan Stadion ini adalah kontruksi cantilever sepanjang 48 meter.
Dengan demikian berarti, bagian kontruksi yang menonjol ke arah bagian dalam
stadion, sama sekali tidak menggunakan bantuan tiang penopang. Kontruksi
semacam itu, yang baru pertama kalinya dicoba di Indonesia pada sebuah
bangunan raksasa, sanggup tampil dengan sangat mengagumkan dan telah
bertahan selama puluhan tahun. Apalagi jika diingat, pekerjaan teknis ketika
membangun stadion tersebut dilakukan pada awal tahun 60-an, dengan tingkat
berikut peralatan teknis, yang pada masa itu masih sangat terbatas.
Stadion didesain dengan mengambil ide bentuk struktur bangunan nusantara, yaitu lumbung padi
Toraja yang memiliki kantilever cukup panjang mengingat materialnya dari kayu. Secara proporsional
dimensi bagian penopang pada struktur bangunan Toraja ini cukup kecil dibanding bentang
kantilevernya. Selain itu kantilever Toraja berbeda dengan kantilever pada umumnya sehingga
diharapkan dapat memicu ide struktur stadion yang unik.
Penggunaan kantilever ini juga sesuai dengan iklim tropis, karena dapat menciptakan
pembayangan, tidak menghalangi view, serta baik untuk penghawaan alami. Untuk menerapkan
konsep ini ke dalam bangunan dilakukan studi pengukuran altitude dan azimuth matahari selama
waktu-waktu pertandingan serta pengujian aliran angin dalam penciptaan elemen selubung
bangunan.
D. Struktur dan Kontruksi Atap Struktur atap terinspirasi dari struktur "longa" pada atap bangunan
Toraja, yaitu bagian ujung yang menjorok keluar dan menjulang ke atas membentuk kantilever seperti
tanduk kerbau. Keistimewaan struktur longa adalah kemampuannya untuk terbentang cukup panjang
sebagai kantilever, dengan menggunakan material kayu yang terdiri dari beberapa balok yang disusun
berjenjang makin atas makin menjorok keluar. Dari uji coba perhitungan kasar terlihat bahwa sistem
kantilever berjenjang ini jauh lebih kaku dan besarnya momen maksimal pun bisa lebih kecil bila
dibandingkan dengan kantilever batang tunggal, sehingga total berat konstruksi lebih kecil. Oleh
karena bentang kantilever pada stadion ini sangat panjang, maka dipilih material baja sebagai
material konstruksi atapnya, dengan tetap mengadopsi sistem struktur kantilever longa. Kalau pada
longa digunakan balok-balok tunggal kayu yang disusun berjenjang, maka pada stadion ini digunakan

"balok-balok"-space truss yang punya kekakuan besar sehingga memungkinkan terbentang sangat
panjang, dan disusun berjenjang seperti pada struktur longa. Bentuk "balok-balok"-space truss
tersebut disesuaikan dengan bentuk bidang momen yang bekerja pada tiap "balok" tersebut.
Batang-batang pada "balok-balok"-space truss merupakan batang yang menerima gaya normal
(aksial): ada yang tekan, ada yang tarik. Batang tekan lemah terhadap gejala tekuk (knik), sedangkan
batang tarik tidak mengalami gejala tekuk, kekakuan batang tekan sangat menentukan ketahanan
batang terhadap tekuk. Kekakuan batang dipengaruhi oleh besarnya momen inersia (second moment)
penampang batang, elastisitas modulus, dan panjang-tekuk batang. Bentuk penampang melintang
batang yang mempunyai momen inertia paling merata khususnya terhadap gejala tekuk adalah
bentuk lingkaran, dengan pertimbangan ini dipilih pipa baja sebagai material space truss tersebut.
Hasil akhir menunjukkan sistem struktur longa yang sudah berubah wajah, walaupun hakikat
kantilever berjenjang longa tetap dipertahankan. Diharapkan hal ini dapat memperkaya struktur dan
bentuk pada arsitektur.