Anda di halaman 1dari 8

REFRAT BEDAH ANAK

UNDESCENSUS TESTICULORUM

OLEH :
Zakka Zayd Zhullatullah Jayadisastra
G99152100

PEMBIMBING :
dr. Suwardi, SpB. SpBA

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH


FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/ RSUD DR MOEWARDI
SURAKARTA
2016

I.

DEFINISI
Undescensus testiculorum (UDT) adalah suatu keadaan dimana testis tidak
ada pada skrotum. Penyakit ini adalah penyakit kongenital tersering pada anak
laki-laki dengan prevalensi 3-6% pada bayi cukup bulan dan 30% pada bayi
prematur (Firdaoessaleh, 2007).

II.

EMBRIOLOGI
Pembentukan testis dipengaruhi oleh lengan pendek dari kromosom Y
yang disebut dengan gen SRY (sex-determining region Y). Adanya mutasi pada
gen ini dapat menyebabkan kelainan pada testis seperti UDT. Ekspresi gen SRY
pada sel mesenkimal somatik pembentuk gonad menyebabkan pembentukan
protein SRY yang juga disebut sebagai testis-determining factor (TDF)
(Niedzielski et al, 2016).

III.

ANATOMI TESTIS
Dalam bahasa yunani testis disebut orchis. Testis secara anatomi
merupakan bagian pars genitalies masculina interna. Testis berfungsi untuk
menghasilkan spermatozoa dan juga sebagai kelenjar endokrin yang menghasilkan
hormon androgen yang berguna untuk mempertahankan tanda-tanda kelamin
sekunder. Testis bersama tunica vaginalis propria terletak dalam cavum scroti,
letak testis normal sebelah kiri lebih rendah jika dibandingkan dengan sebelah
kanan.
Stuktur anatomi testes jika dipotong dari margo anterior ke margo
posterior maka akan terlihat tunica albuginea. Tunica albuginea ini memberi
lanjutan-lanjutan ke dalam parenchim testis, yang disebut septula testis. Septula
testis ini membagi testis menjadi beberapa lobus testis. Pada daerah dekat margo
posterior yang tidak dicapai oleh septula testis, tersusun atas jaringan ikat fibrosa
yang memadat yang disebut mediastinum testis. Parenkim testis yang terletak
dalam lobulus testis terdiri atas tubulus seminiferus contortus, ini merupakan
daerah yang nampak seperti benang-benang halus yang berkelok-kelok. Tubulus
seminiferus yang mendekati mediastinum testis bergabung membentuk tubukus
seminiferi recti.

Beberapa

tubulus

seminiferi

recti

memasuki

mediastinum

dan

berhubungan satu sama lain, sehingga membentuk anyaman yang disebut rete
testis. Dari rete testis dibentuk saluran-saluran yang memasuki caput epididimis
yang disebut ductus efferen testis (Afiatunnisa, 2013).
IV.

FISIOLOGI PENURUNAN TESTIS


Testis turun dari abdomen menuju skrotum untuk mendapatkan suhu yang
lebih rendah untuk pembentukan sperma (2-4oC). Testis turun dengan dua fase,
fase transabdominal pada masa gestasi minggu ke 8 15 dan fase inguinoskrotal
pada masa gestasi minggu ke 25 - 35. Interval 10 minggu antara fase
transabdominal dan inguinoskrotal belum dapat dijelaskan (Niedzielski et al,
2016).
Pada pasien UDT 70 77% testis dapat turun ke dalam skrotum secara
spontan pada umur 3 bulan (Firdaoessaleh, 2007).

V.

ETIOLOGI
Etiologi UDT masih belum jelas. Beberapa kemungkinan yang ditemukan
adalah kelainan letak plasenta dengan berkurangnya sekresi hCG (Barteczko dan
Jacob, 2000) atau kelianan pada testis itu sendiri Skakkebaek et al, 2001).
Namun demikian, Davies et al (1986) menyatakan bahwa terdapat
beberapa faktor risiko seperti:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Intrauterine growth restriction (IUGR)


Prematur
Asfiksia prenatal
Anak laki-laki pertama atau kedua
Sectio Caesaria
Toksemia pada kehamilan
Subluxatio panggul kongenital
Musim dingin

Secara umum dapat dibagi menjadi 3 (Virtanen el atl, 2007; Ritzen, 2008),
yaitu:
1. Anatomis: Anomali pada testis, epididimis, dan vas deferens;
penempelan yang tidak tepat pada gubernakulum; patent processus
vaginalis dan hernia inguinalis; anomali pada kanal inguinalis

2. Hormonal: Defisiensi GnRH atau ketidakreseptifan reseptor GnRH dan


LH; defisiensi produksi androgen; defisiensi produksi AMH, INSL3,
CGRP atau ketidakreseptifan reseptornya.
3. Genetik: Mutasi gen reseptor androgen; 5-reduktase; HOXA10; Insl3
VI.

dan Lgr8; penambahan insidensi polimorfil alel SF-1.


GEJALA KLINIS
Gambaran klinis yang sering dikeluhkan oleh penderita, antara lain:
1. Tidak teraba testis pada skrotum
2. Riwayat operasi daerah inguinal
3. Riwayat prenatal: terapi hormonal pada ibu, hamil kembar,
prematuritas
4. Riwayat keluarga: UDT, hipospadia, infertilitas, intersex, pubertas
prekoks. (Firdaoessaleh, 2007).

VII.

PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik dilakukan pada posisi pasien supine dan berdiri atau
frog leg atau baseball catcher. Ruangan dan tangan pemeriksaan harus dalam
kondisi hangat. Dilakukan palpasi pada skrotum, kantung inguinal, kanalis
inguinalis, dan abdomen (Mathers et al, 2009; Firdaoessaleh, 2007).
UDT kemudian akan dibagi menjadi beberapa (Mathers et al, 2009):
1. Undescended testis: Testis terdapat di intraabdominal atau kanalis
inguinalis, dan teraba insersi yang normal pada gubernaculum.
2. Kriptokirdisme: Testis non-palpable dan berada intra-abdomen atau
tidak ada sama sekali
3. Testis ektopi: Testis berada di bawah kulit secara superfisial, perineal,
pada paha atau penis
4. Testis inguinalis: Testis teraba pada selangkangan
5. Gliding testicle: Testis berada pada scrotal entrance atau di atas
skrotum. Dapat ditarik ke bawah namun akan naik lagi ke tempatnya
semula.
6. Testis retraktil: Testis naik secara fisiologis ke atas akibat refleks
kremaster namun akan turun kembali ke dalam skrotum seperti semula.

VIII.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Dapat dilakukan tes stimulasi hCG pada pasien dengan umur >3 bulan.
Apabila tidak terdapat peningkatan testosteron namun terdapat peningkatan
LH/FSH, maka pasien dapat didiagnosis sebagai anorchia (Firdaoessaleh, 2007).
USG, CT-Scan, dan MRI dapat digunakan untuk melihat adanya testis
daerah inguinal, namun pada daerah ini testis dapat diraba. Pada testis
intraabdomen lebih baik menggunakan MRI dengan akurasi 90% daripada USG
dan CT Scan dengan akurasi 0 50% (Firdaoessaleh, 2007).
IX.

TATALAKSANA
UDT diberikan tatalaksana menggunakan dua prinsip: Hormonal dan Operasi.
Tujuan dari tatalaksana UDT adalah:
1.
2.
3.
4.
5.

Mencegah kegagalan spermatogenesis


Mencegah dan mengurangi risiko Ca Testis
Memfasilitasi pemeriksaan lanjutan pada testis
Mengoreksi hernia inguinalis yang biasana menyertai UDT
Meminimalisasi risiko torsio testis (Nietzielsi et al, 2016).

Pada pemberian terapi hormon digunakan hCG dan GnRH dengan dosis
sebagai berikut:
a. hCG: Injeksi IM 50IU/kgBB 2 kali seminggu selama 3 5 minggu
(dengan total dosis 6000-9000IU)
b. GnRH: Spray nasal 3x400mcg/hari (misalnya 3x 1 puff 200mcg ke tiap
lubang hidung) selama 4 minggu (Tekgul et al, 2014).
Pada pemberian tindakan operasi orchiopexy dilakukan pada pasien dengan
usia 6 12 bulan untuk mencegah kelainan spermatogenesis. Orchipexy
dilakukan untuk memberikan mobilisasi yang luas dan aliran darah pada testis,
menutup kantung hernia, serta fiksasi testis yang kuat pada skrotum. Indikasi
aboslut dari orchipexy adalah kegagalan terapi hormonal, testis ektopik, dan
terdapat kelainan lain seperti hernia dengan/atau prosesus vaginalis yang terbuka.
Komplikasi dari tindakan adalah posisi testis yang tidak baik, atrofi testis, trauma
pada vas deferens, torsio pascaoperasi, epididimiorkitis, pembengkakan skrotum
(Firdaoessaleh, 2007; Hrivatakis et al, 2014).
X.

KOMPLIKASI

Komplikasi yang terjadi apabila UDT tidak ditangani adalah Ca Testis,


gangguan

spermatogenesis,

hernia

inguinalis

(Pettersson

et

al,

2007;

Firdaoessaleh, 2007).
XI.

PROGNOSIS
Keberhasilan terapi hormon adalah 6 80% dengan rata-rata 20%
sedangkan untuk terapi operasi adalah 95% (Niedzielski et al, 2016).

DAFTAR PUSTAKA
Firdaoessaleh (2007). Diagnosis dan Tatalaksana Undescended Testis. Maj Kedokt
Indon; 57(1): 33-36.
Niedzielski JK, Oszukowska E, Slowikowska-Hilczer J (2016). Undescended
testis current trends and guidelines: a review of the literature. Arch Med
Sci; 12(3): 667-677.
Ritzen EM (2008). Undescended testis: a consensus in management. Eur J
Endocrinol; 159(Suppl 1): S87-90.
Tekgul

et

al

(2014).

Guidelines

on

Pediatric

Urology.

www.uroweb.org/fileadmin/user_upload/Guidelines/Paediatric
%20Urology.pdf [Diakses pada Agustus 2016].
Barteczko KJ, Jacob MI (2000). The testicular descent in human: Origin,
development, and fate of the gubernaculum Hunteri, processus vaginalis
peritonei, and gonadal ligaments. Adv Anat Embryol Cell Biol; 156(III-X):
1-98.
Davies TW, Williams DDR, Whitaker RH (1986). Risk factors for undescended
testis. Int J Epidemiol; 15: 197-201.
Skakkebaek NE, Berthelsen JG, Muller J (1982). Carcinoma-in-situ in
undescended testis. Urol Clin North Am; 9: 98-99
Afiatunnisa

(2013).

Thanatologi.

eprints.undip.ac.id/43707/2/Afifatunnisa_G2A009012_BAB_2.pdf
[Diakses pada Agustus 2016].
Pettersson A et al (2007). Age at Surgery for Undescended Testis and Risk of
Testicular Cancer. NEJM; 356: 1835-1841.

Hrivatakis G et al (2014). The timing of surgery for Undescended Testis. Dtsch


Arztebl Int; 111(39): 649-657.