Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Inisiasi menyususui dini (early initation) atau permulaan menyusui
dini adalah bayi mulai menyusu dini sendiri segera setelah lahir (Eny Dkk,
2008). involusi atau pengerutan uterus merupakan suatu proses dimana
uterus kembali ke kondisi sebelum hamil dengan berat sekitar 60 gram.
Proses ini dimulai segera setelah lahir plasenta akibat kontraksi otot-otot
polos uterus (Eny Dkk,

2008). Saat ini di Indonesia praktik inisiasi

menyusui dini segera setelah lahir masih sangat rendah, sehingga angka
kematian bayi masih sangat tinggi, yaitu 35 tiap 1000 kelahiran hidup.
Fenomena yang didapatkan di masyarakat Karanganyar masih terdapat
perilaku ibu post partum yang kurang efektif dalam proses pegembalian
uterus seperti memakai stagen atau ikat pinggang dengan ketat setelah
melahirkan dengan tujuan mengecilkan perut (uterus) padahal dengan
inisiasi menyusui dini dapat mengecilkan perut (uterus) serta inisiasi
menyusui dini satu dari beberapa hal yang dapat mencegah bahaya pada ibu
post partum beserta bayinya (Data survey Awal, 2012).
Menurut penelitian yang dilakukan di GHANA ada 22% kematian bayi
yang baru lahir terjadi dalam satu tahun pertama dan dapat di cegah dengan
program inisiasi menyusui dini (Roesli, 2008). Berdasarkan Survey Demografi
Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2010 -2011 hanya 3,6 juta (36%) dari 10
juta kelahiran bayi hidup yang berhasil di lakukan inisiasi menyusui dini dan

sebanyak 6,4 juta (64%) bayi tidak mendapat inisiasi menyusui dini (Depkes
RI, 2011). Berdasarkan survey awal tentang pelaksanaan inisiasi menyusui
dini di Polindes

Karanganyar Kecamatan Ketapang Kabupaten Sampang

menunjukkan pada tahun 2010 terdapat 80 ibu post partum, dan yang
melakukan inisiasi menyusui dini sebanyak 40 ibu post partum (50%) dan
sebanyak 40 ibu post partum (50%) tidak melakukan inisiasi menyusui dini.
Sementara pada tahun 2011 terdapat 72 ibu post partum dan sebanyak 35 ibu
post partum (49%) melakukan inisiasi menyusui dini sementara sisanya 37
ibu post partum (51%) tidak melakukan inisiasi menyusui dini. Pada tahun
2012 mulai bulan januari sampai awal februari terdapat 46 ibu post partum
sebanyak 7 ibu post partum (15%) yang melakukan inisiasi menyusui dini dan
sisanya 36 ibu post partum (28%) tidak melakukan inisiasi menyusui dini.
Dari hasil survey awal di Polindes Karanganyar terdapat beberapa faktor
yang melatar belakangi ibu post partum tidak segera melakukan inisiasi
menyusui dini, diantaranya adalah faktor internal, yaitu : pengetahuan ibu
tentang pentingnya inisiasi menyusui dini masih kurang, dukungan keluarga
kurang serta jarak kelahiran anak dekat. Sedangkan faktor eksternal, yaitu :
faktor sosiokultural seperti, ibu lebih mempercayai keefektifan susu formula
daripada manfaat ASI, mudahnya mendapat susu formula serta jarangnya ibu
mengikuti program sosialisasi dari petugas kesehatan (Survey awal, 2012).
Proses inisiasi menyusui dini pada bayi di mulai segera setelah lahir
dan setelah tali pusat diikat, bayi diletakkan tengkurap di dada ibu, dengan
kulit bersentuhan langsung ke kulit ibu. Biarkan kontak kulit ke kulit ini
berlangsung setidaknya satu jam atau lebih, bahkan sampai bayi dapat

menyusu sendiri apabila sebelumnya tidak berhasil. Bayi diberi topi dan
selimut untuk mengurangi penguapan suhu tubuh bayi. Ayah atau keluarga
dapat memberi dukungan dan membantu ibu post partum selama proses ini
sehingga ibu dapat mengenali saat bayi siap untuk menyusu, menolong bayi
bila diperlukan. Proses inisiasi yang benar akan mempengaruhi stimulasi
kelenjar hipofise untuk memproduksi oksitosin sehingga merangsang
kontraksi uterus dan menurunkan resiko perdarahan, serta inisiasi menyusui
dini akan merangsang prolaktin untuk meningkatkan produksi ASI.
Sementara jika tidak dilakukannya praktik inisiasi menyusui dini dapat
menyebabkan kontraksi uterus kurang baik sehingga bisa menyebabkan
proses involusi uterus berjalan lambat atau terhambat, perdarahan persalinan
akan lebih banyak, menghambat produksi ASI, reflek hisap tidak terlatih
dengan cepat, hubungan psikologis tidak terlatih dengan cepat. Selain itu
dapat menyebabkan daya tahan tubuh bayi baru lahir menurun dan rentan
rerhadap panyakit sehingga mudah sakit, meninggal serta dapat menghambat
pertumbuhan dan perkembangan sesuai dengan usianya (JNPK- Depkes RI,
2008).
Keberhasilan suatu program inisiasi menyusui dini diperlukan adanya
pemberian pendidikan kesehatan dari petugas kesehatan seperti Perawat dan
Bidan serta kader-kader masyarakat setempat agar supaya memberikan
penyuluhan kepada ibu post partum tentang pentingnya pemberian inisiasi
menyusui dini yang efektif dan efisien dalam satu jam pertama setelah proses
persalinan serta tata cara menyusui yang benar untuk pertumbuhan dan
perkembangan bayinya, serta diperlukan peran masyarakat terutama ibu post

partum dalam merubah perilaku ibu post partum yang kurang baik seperti
memakai stagen terlalu ketat segera setelah lahir sehingga keadaan tersebut
menghambat proses involusi dan menyulitkan Petugas kesehatan dalam
mengukur pengembalian uterus. Upaya tersebut juga dapat di lakukan di
Departemen kesehatan serta jajaran di bawahnya untuk melatih tenaga
kesehatan seperti Perawat dan Bidan serta kader-kader di masyarakat untuk
meningkatkan pencapaian inisiasi menyusui dini sehingga dapat menekan
kekuranga gizi bahkan kematian bayi. Berdasarkan latar belakang di atas
penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul Pengaruh Inisiasi
Menyusui Dini Terhadap Proses Involusi Uteri Pada Ibu Post Partum di
Polindes Karanganyar Wilayah Kerja Puskesmas Ketapang Kabupaten
Sampang Tahun 2012.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah Bagaimana Pengaruh Inisiasi Menyusui Dini Terhadap
Percepatan Proses Involusi Uteri Pada Ibu Post Partum di Polindes
Karanganyar Wilayah Kerja Puskesmas Ketapang Kabupaten Sampang Tahun
2012 ?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan umum
Untuk mempelajari Pengaruh Inisiasi Menyusui Dini Terhadap Proses
Involusi Uteri Pada Ibu Post Partum di Polindes Karanganyar Wilayah Kerja
Puskesmas Ketapang Kabupaten Sampang Tahun 2012.

1.3.2 Tujuan khusus


1. Untuk mengidentifikasi inisiasi menyusui dini pada ibu post partum.
2. Untuk mengidentifikasi proses involusi uteri pada ibu post partum.
3. Untuk menganalisis Pengaruh Inisiasi Menyusui Dini Terhadap Proses
Involusi Uteri Pada Ibu Post Partum Di Polindes Karanganyar Wilayah
Kerja Puskesmas Ketapang Kabupaten Sampang Tahun 2012.
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini di harapkan dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang
terkait, antara lain :
1.4.1 Manfaat bagi profesi keperawatan
Untuk menambah kekayaan khasanah ilmu keperawatan dan sebagai bahan
masukan untuk perencanaan sumber daya manusia khususnya keperawatan
untuk merencanakan program, pendokumentasian serta mengevaluasi dan
mengembangkan program inisiasi menyusui dini bagi ibu post partum.
1.4.2 Manfaat bagi peneliti keperawatan yang akan datang
1. Hasil penelitian ini dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan
kesehatan khususnya bagi ilmu keperawatan.
2. Dapat dilakuakan penelitian lanjutan dengan sampel yang lebih besar
untuk memberikan hasil yang representative
3. Dapat melakukan peneliatian lanjutan dengan factor-faktor laini yang
dapat memperlancar proses involusi uteri.

1.4.3 Manfaat bagi resoponden


Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi tentang pentingya inisiasi
menyusui dini tehadap proses involusi uteri.
1.4.4 Manfaat bagi Polindes

Sebagai masukan dalam membuat perencanaan program dan mengevaluasi


pelayanan keperawatan yang komprehensif bagi ibu post partum sebagai
dampak pada peningkatan kualitas asuhan keperawatan serta menyu unkan
komplikasi pada ibu post partum.