Anda di halaman 1dari 17

Laporan Akhir Identifikasi Masalah Kasus

Forensik Lingkungan

PENCEMARAN AIR TANAH AKIBAT PEMBUANGAN LIMBAH DOMESTIK DI LINGKUNGAN KUMUH STUDI KASUS BANJAR UBUNG SARI, KELURAHAN UBUNG”

KUMUH STUDI KASUS BANJAR UBUNG SARI, KELURAHAN UBUNG” Disusun Oleh Dosen Mata Kuliah Nama Kelompok :

Disusun Oleh

Dosen Mata Kuliah

Nama Kelompok

: Isna Luthfiana

: KELOMPOK 4

:

Nama Anggota

Satriyo Budi Wibowo

13513040

Detta Selvira F

13513046

Reza Arianda

13513066

Fajar Eka Dawa

13513078

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN

2016

BAB I

LATAR BELAKANG

Dari kasus pencemaran air tanah yang mencemari desa Banjar ubung sari, kelurahan ubung disebabkan oleh pembuangan limbah domestik. Dimana permasalahan karena penyebaran penduduk yang tidak merata, maka menjadikan pemukiman yang padat di desa tersebut. Hal ini mengakibatkan penyempitan lahan dan tidak tersedianya area untuk membuat sistem sanitasi. Rata-rata limbah domestic dari rumah tangga hanya dibuang langsung ke selokan. Bahkan ada yang hanya langsung di buang di lingkungan ada juga yang menggunakan jamban. Maka dari itu limbah terutama dari buangan air besar mencemari air tanah dangkal. Banyak warga yang mengeluhkan munculnya penyebaran penyakit diare. Dari kejadian tersebut maka warga beralih menggunakan air dari PDAM. Ada juga yang menggunakan sumur bor dalam.

BAB II

ANALISIS MASALAH

A. PH

PH adalah tingkatan asam basa suatu larutan yang diukur dengan skala 0 s/d 14. Tinggi rendahnya pH air sangat dipengaruhi oleh kandungan mineral lain yang terdapat dalam air. pH air standar adalah 6,5 s/d 8,5 . Air dibawah 6,5 disebut asam, sedangkan diatas 8,5 disebut basa. pH yang normal untuk berbagai peggunaan seperti

· Air minum mineral antara 6,5 s/d 8,5

· Air minum Reverse Osmosis / Demineral antara 5,0 s/d 7,5

· Ikan hias di aquarium antara 6,5 s/d 7,5 Pengaruh pH terhadap air adalah sangat besar, untuk usaha air minum jika pH air terlalu rendah akan berasa pahit /asam, sedangkan jika terlalu tinggi maka air akan berasa tidak enak (kental/licin).Untuk ikan hias pH yang terlalu rendah atau tinggi akan menyebabkan ikan tersebut mati.

pH Tubuh manusia adalah 7, banyak ahli Kesehatan mengatakan bahwa tubuh yang ber Alkali dapat mencegah berbagai macam penyakit degeneratif, termasuk sel- sel kanker, yang dapat terbentuk dengan mudah dalam Tubuh yang bersifat Asam.

Sebab salah satu fungsi air adalah mendorong racun keluar dari dalam tubuh, sehingga Departemen Kesehatan merekomendasikan untuk pH air yang dikonsumsi adalah berkisar antara 6,5 8,5, Jika kita minum air dengan pH di bawah 6,5 itu adalah air yang sifatnya asam, dan hal itu adalah sangat kurang baik bagi tubuh kita. Beberapa gajala yang biasanya terjadi jika darah kita bersifat Asam, yaitu Gangguan pencernaan, mudah lelah, rasa sakit pada sendi.

B. BOD-COD

BOD atau Biochemical Oxygen Demand adalah suatu karakteristik yang menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang diperlukan oleh mikroorganisme (biasanya bakteri) untuk mengurai atau mendekomposisi bahan organik dalam kondisi aerobik. Bahan organik yang terdekomposisi dalam BOD adalah bahan organik yang siap terdekomposisi (readily decomposable organic matter). BOD dapat diartikan sebagai suatu ukuran jumlah oksigen yang digunakan oleh populasi mikroba yang terkandung dalam perairan sebagai respon terhadap masuknya bahan organik yang dapat diurai. Berdasarkan pengertian ini dapat dikatakan bahwa walaupun nilai BOD menyatakan jumlah oksigen, tetapi untuk mudahnya dapat juga diartikan sebagai gambaran jumlah bahan organik mudah urai (biodegradable organics) yang ada di perairan.

Sedangkan COD atau Chemical Oxygen Demand adalah jumlah oksigen yang diperlukan untuk mengurai seluruh bahan organik yang terkandung dalam air.Hal ini karena bahan organik yang ada sengaja diurai secara kimia dengan menggunakan oksidator kuat kalium bikromat pada kondisi asam dan panas dengan katalisator perak sulfat, sehingga segala macam bahan organik, baik yang mudah urai maupun yang kompleks dan sulit urai, akan teroksidasi. Dengan demikian, selisih nilai antara COD dan BOD memberikan gambaran besarnya bahan organik yang sulit diurai yang ada di perairan. Bisa saja nilai BOD sama dengan COD, tetapi BOD tidak bisa lebih besar dari COD. Jadi COD menggambarkan jumlah total bahan organik yang ada.

C. WARNA BAU dan RASA

Warna air yang terdapat di alam sangat bervariasi. Warna air yang tidak normal biasanya menunjukkan adanya polusi. Warna air dapat dibedakan atas dua macam yaitu warna sejati (true color) yang disebabkan oleh bahan-bahan terlarut, dan warna semu (apparent color), yaitu selain adanya bahan-bahan terlarut juga adanya bahan-bahan tersuspensi, termasuk diantaranya yang bersifat koloid.

Bau air tergantung dari sumber airnya. Bau air dapat disebabkan oleh bahan- bahan kimia, ganggang, plankton, atau tumbuhan dan hewan air, baik yang masih hidup ataupun yang sudah mati. Air yang berbau sulfite disebabkan oleh reduksi sulfat dengan adanya bahan-bahan organic dan mikroorganisme anaerobic.

Rasa tidak terdapat pada air yang normal. Timbulnya rasa yang menyimpang biasanya disebabkan oleh adanya polusi, dan rasa yang menyimpang tersebut

dihubungkan dengan bau, karena pengujian terhadap rasa air jarang dilakukan. Bau yang tidak normal pada air juga dianggap mempunyai rasa yang tidak normal.

D. E-COLI dan COLIFORM TINJA

E. coli adalah bakteri Gram negatif berbentuk batang yang tidak membentuk spora

yang merupakan flora normal di usus, bakteri coliform tinja biasanya ditemukan di usus hewan dan manusia. E. coli adalah singkatan dari Escherichia coli. Escherichia coli tidak

dapat memproduksi H2S, tetapi dapat membentuk gas dari glukosa, menghasilkan tes positif terhadap indol, dan memfermentasikan laktosa. Bakteri ini dapat tumbuh baik pada suhu antara 8 o C - 46 o C, dengan suhu optimum dibawah temperature 37 o C. Bakteri ini berada dibawah temperature minimum atau sedikit diatas temperature maksimum tidak segera mati, melainkan berada dalam keadaan dormancy, disamping ituEscherichia coli dapat tumbuh pada ph

optimum berkisar 7,2-7,6. Bakteri E-coli dalam air berasal dari pencemaran atau kontaminasi dari kotoran hewan dan manusia. Kotoran dapat berisi banyak jenis organisme penyebab penyakit. Coliforms tinja adalah bakteri yang berkaitan dengan limbah manusia atau hewan. Mereka biasanya tinggal di usus manusia atau hewan, dan kehadiran mereka dalam air minum merupakan indikasi yang kuat bahwa air tersebut telah terkontaminasi oleh limbah manusia atau kotoran hewan. E. coli berasal dari limbah manusia dan hewan. Selama hujan, air membawa limbah dari kotoran hewan dan manusia meresap ke dalam tanah atau mengalir dalam sumber air. E. coli dapat masuk ke dalam anak sungai, danau, atau air tanah. Apabila sumber air tanah dan perairan ini digunakan sebagai sumber air minum dan tidak tidak melalui proses pengolahan air yang baik maka E. coli mungkin sekali berakhir dalam air minum.

E. AMONIA

Amonia termasuk senyawa pencemar yang berasal dari senyawa-senyawa nutrien, yang berasal dari senyawa NH-3 -- N. Jika berada dalam kondisi anaerobic ( kurang oksigen ) ,kemungkinan akan menimbulkan dampak lingkungan yang merugikan. Sumber amonia di perairan adalah pemecahan nitrogen organik (protein dan urea) dan nitrogen anorganik yang terdapat di dalam tanah dan air, yang berasal dari dekomposisi bahan organic oleh mikroba dan jamur (amonifikasi). Sumber amonia adalah reduksi gas nitrogen yang berasal dari proses difusi udara atmosfer, limbah industri dan domestik. Amonia yang terdapat dalam mineral masuk ke badan air melalui erosi tanah. Selain terdapat dalam bentuk gas, amonia membentuk senyawa

kompleks dengan beberapa ion-ion logam. Amonia juga dapat terserap kedalam bahan- bahan tersuspensi dan koloid sehingga mengendap di dasar perairan.

Toksisitas amonia dipengaruhi oleh pH yang ditunjukkan dengan kondisi pH rendah akan bersifat racun jika jumlah amonia banyak, sedangkan dengan kondisi pH tinggi hanya dengan jumlah amonia yang sedikit akan bersifat racun juga. Selain itu, pada saat kandungan oksigen terlarut tinggi, amonia yang ada dalam jumlah yang relatif kecil sehingga amonia bertambah seiring dengan bertambahnya kedalaman.

Konsentrasi amonia yang tinggi pada permukaan air akan menyababkan kematian ikan, udang, dan binatang air lainnya yang terdapat pada perairan tersebut Kadar ammonia yang tinggi pada air sungai menunjukkan adanya pencemaran, akibatnya rasa air sungai kurang enak dan berbau. Pada air minum kadar amonia harus nol dan pada air sungai di bawah 0,5 mg/L .Amoniak cair dapat menyebabkan kulit melepuh seperti luka bakar dan juga dapat menyebabkan iritasi pada kulit, mata dan saluran pernafasan.

Mekanisme masuknya amoniak dalamtubuh adalah melalui penafasan, kontak mata dan kontak kulit. Didalam tubuh akan masuk dan mengikuti sistem pernafasan. Amoniak mudah larut didalam air sehingga akan dikeluarkan bersama dengan urine yang mengandung amoniak juga.

Walaupun amonia memiliki sumbangan penting bagi keberadaan nutrisi di bumi, amonia sendiri adalah senyawa kaustik dan dapat merusak kesehatan. Administrasi Keselamatan dan Kesehatan Pekerjaan Amerika Serikat memberikan batas 15 menit bagi kontak dengan amonia dalam gas berkonsentrasi 35 ppm volume, atau 8 jam untuk 25 ppm volume. Kontak dengan gas amonia berkonsentrasi tinggi dapat menyebabkan kerusakan paru-paru dan bahkan kematian.

BAB III

OBESERVASI MASALAH

A.

METODE SAMPLING Dari kasus tersebut maka dilakukannya uji sampling di sumur galian warga di desa banjar ubungsari tersebut. Sampling dilakukan dengan mengambil air dari 5 sumur warga dengan jarak antar sumur 50-200 meter.

Pengambilan sampel pada air sumur gali

1. Persiapkan botol sampel.

 

2. Ikatkan botol dengan tali.

3. Turunkan botol dengan perlahan.

4. Isi botol dengan penuh.

 

5. Untuk sampling Ecoli Angkat botol,buang sedikit airnya hinga ada ruang udara.

6. Untuk sampling BOD-COD-Amonia Angkat botol,buang sedikit airnya hinga ada ruang udara.

7. Panaskan mulut botol,kemudian tutup botol

Catatan: yang harus di perhatikan adalah,jangan sekali-kali memegang kepala botol

setelah sampel di ambil

dan

segera di bungkus kembali dan di masukan ke cool box.

PENGIRIMAN SAMPEL

1.

Sedapat mungkin sampel langsung di kirim ke laboratorium( 1 jam setelah

pengambilan dan tidak boleh lebih dari 12 jam)

2.

Sebaiknya sampel di taruh di cool box dengan suhu 4-10 0 c

B.

ANALISIS PENGUJIAN

 

Uji BOD->Metode Analisa BOD

Metode Pemeriksaan BOD adalah dengan metode Winkler (titrasi di laboratorium). Prinsipnya dengan menggunakan titrasi iodometri. Sampel yang akan dianalisis terlebih dahulu ditambahkan larutan MnCl 2 den NaOH-KI, sehingga akan terjadi endapan MnO 2 . Dengan menambahkan H 2 SO 4 atan HCl maka endapan yang terjadi akan larut kembali dan juga akanmembebaskan molekul iodium (I 2 ) yang ekivalen dengan oksigen terlarut. Iodium yang dibebaskan ini selanjutnyadititrasi dengan larutan standar natrium tiosulfat (Na 2 S 2 O 3 ) dan menggunakan indikator larutan amilum (kanji).

Uji COD->Metode Analisa COD

COD adalah jumlah oksidan Cr 2 O 7 (2-) yang bereaksi dengan contoh uji dan dinyatakan sebagai mg O 2 untuk tiap 1000 ml contoh uji. Senyawa organik dan anorganik, terutama organik dalam contoh uji dioksidasi oleh Cr2O7 (2-) dalam refluks tertutup menghasilkan Cr (3+) . Jumlah oksidan yang dibutuhkan dinyatakan dalam ekuivalen oksigen (O 2 mg /L) diukur secara spektrofotometri sinar tampak. Cr 2 O 7 (2- ) kuat mengabsorpsi pada panjang gelombang 400 nm dan Cr (3+) kuat mengabsorpsi pada panjang gelombang 600 nm. Untuk nilai KOK 100 mg/L sampai dengan 900 mg/L ditentukan kenaikan Cr (3+) pada panjang gelombang 600 nm. Pada contoh uji dengan nilai KOK yang lebih tinggi, dilakukan pengenceran terlebih dahulu sebelum pengujian. Untuk nilai KOK lebih kecil atau sama dengan 90 mg/L ditentukan pengurangan konsentrasi Cr 2 O 7 (2-) pada panjang gelombang 420 nm

Uji E-COLI

Media LB (Lactose Broth): Media yang digunakan untuk mengetahui ada tidaknya kehadiran bakteri coliform (bakteri Gram negatif) berdasarkan terbentuknya asam dan gas yang disebabkan karena fermentasi laktosa oleh bakteri golongan coli. Terbentuknya asam dilihat dari kekeruhan pada media laktosa dan gas yang dihasilkan dapat dilihat dalam tabung Durham berupa gelembung udara. Tabung dinyatakan positif coliform jika terbentuk gas sebanyak 10% atau lebih dari volume di dalam tabung Durham.

ATAU

Media BGLB (Brilliant Green Bile Broth): Media yang digunakan untuk mendeteksi bakteri coliform (Gram negatif) di dalam air, makanan, dan produk lainnya. Media ini dapat menghambat pertumbuhan bakteri Gram positif dan menggiatkan pertumbuhan bakteri coliform. Ada atau tidaknya bakteri coliform ditandai dengan terbentuknya asam dan gas yang disebabkan karena fermentasi laktosa oleh bakteri golongan coli. Supaya mikrobia dapat tumbuh dengan baik dalam suatu medium, perlu

dipenuhi syarat-syarat

berikut:

sebagai

Mengandung semua nutrisi yang mudah digunakan oleh bakteri

Mempunyai tekanan osmose, tegangan muka dan pH yang sesuai

Tidak mengandung zat-zat penghambat

Harus steril

Catatan: metode BGLB lebih tepat karena hanya dapat mendeteksi bakteri gram negative. Sehingga lebih akurat.

Uji Amonia

Ammonia dan hypochlorite dengan katalis sodium nitroprusside akan menghasilkan intensitas senyawa biru dari indofenol yang diukur dengan alat spektrofotometer pada panjang gelombang 640 nm. Cara uji ini digunakan untuk penentuan kadar ammonia (NH 3 -N) dalam sampel air dengan metode Phenat yaitu dengan menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 640 nm dan dengan konsentrasi NH 3 -N antara 0,1 mg/L sampai 0,6 mg/L.

C. HASIL SAMPLING

Dari kasus tersebut maka dilakukannya uji sampling di sumur galian warga di desa banjar ubungsari tersebut. Sampling dilakukan dengan mengambil air dari 5 sumur warga dengan jarak aantaar sumur 50-200 meter. Dari sampling di tentukan factor polutan/pencemar diantaranya: Bau, Rasa, Kekeruhan, PH, BOD, COD, Amoniak, Ecoli, Coliform. Tata cara sampling yang di gunakan adalah pengambilan sampling acak dikarenakan ingin mengetahui apakah daerah tercemar berada di seluruh desa Banjar Ubung Sari atau hanya berada di titik-titik tertentu saja. Seteelah sampel air sumur di ambil kemudian sampel di bawa ke Laboratorium untuk di teliti apakah sumur di daerah tersebut mengalami pencemaran atau tidak.

Tabel 1. Hasil uji Sampling

Tabel 1. Hasil uji Sampling  Hasil Sampling Sumur 1 Sumur 1 merupakan sumur galian dengan

Hasil Sampling Sumur 1 Sumur 1 merupakan sumur galian dengan kedalaman 6 meter. Terdapat unsur- unsur pencemar dimana kekeruhan mencapai 112,5 mg, baakteri E-coli nya mencapai 28 /100 ml dan Coliform 1100/100/ml yang tentu melebihi baku mutu. Sehingga sampel air sumur 1 tergolong tercemar. Lokasi sumur 1 berada di tengah pemukiman dan dekat dengan sekolahan dan hotel. Dimana di sekitar lokasi sumur 1 terdapat saluran drainase yang tidak memakai struktur batu kali melainkan hanya dengan galian tanah biasa. Di saluran drainase tersebut juga tempat warga membuang limbah domestiknya serta saluran tersebut tidak dapat mengalir/mampet. Tidak hanya itu kamar mandi di sekitar sumur tersebut juga tidak memiiki saptictank, kotoran manusia hasil buangan MCK semuanya di buang ke saluran drainase tersebut. Sehingga air limbah yang di buang ke saluran tersebut meresap ke dalam tanah. Dan air sumur tersebut dapat terkontaminasi kotoran manusia.

Sumur 2 Pada sumur 2 air sampel yang di uji tidak berbau dan tidak berasa dan kekeruhannya tidak terdeteksi. Sumur 2 ini termasuk sumur bor. Kondisi sekitar sumur 2 sama persis dengan sumur 1 yang saluran drainase dan saptictank nya tidak tersedia. Hanyasaja itu tidak berpengaruh ke air di sumur bor. Sehingga air sumur 2 layak untuk minum.

Sumur 3 Sumur 3 merupakan sumur galian dengan kedalaman 6.5 meter yang terdapat di sebuah pondok pesantren. Dalam hasil pengujiannya tidak terdapat indikasi pencemar seperti bau rasa warna dan kadar bakteri Ecoli dan coliform masih aman dibawah baku mutu. Kondisi lingkungan di sekitar sumur 3 sudah dilengkapi saluran drainase yang bagus dengan kontruksi batu kali dan berfungsi dengan baik. Untuk fasilitas MCK sudah terdapat satictank sehingga kemungkinan sumur tercemari sangat sedikit.

Sumur 4 Sumur 4 adalah sumur galian yang letaknya di tengah pemukiman, sumur 4 berada di samping tempat MCK umum. Pada sumur 4 setelah uji laboraturium terdapat kandungan bakteri Ecoli mancapai 3/100 ml dan Coliform 1100/100 ml dan kekeruhannya mencapai 175 mg/l dimana air sampel pada sumur 4 ini tidak layak minum karena ada indikasi tercemar. Pada sumur 4 ini disekitarnya saluran drainase sudah cukup baik dan memenuhi standar dan MCK umun sudah di lengkapi tanki saptictank. Hanya saja jarak antara sumur dengan saptictank terlalu dekat sehingga memungkinkan untuk terjadinya pencemran.

Sumur 5 Merupakan sumur galian,, setelah di lakukan uji di laboratorium kadar Ecoli mencapai 3/100 ml Coliform 150/100 ml dan kekeruhannya mencapai 137,5 mg/l dimana unsur tersebut melebihi baku mutu dan air tersebut di golongkan tidak layak minum. Kondisi sumur 5 di sekitar terdapat saluran drainase yang sudah memenuhi standar dan cukup lebar. Hanya saja saluran tersebut tidak mengalir akibat adanya sumbatan. Sehingga memungkinkan terjadinya pencemaran ke air sumur.

Dilihat dari berbagai zat pencemar air sumur di desa Banjar Ubung Sari yang paling mendominasi menjadi pencemar terbanyak adalah adanya Coliforms, E.coli, Amoniak yang menyumbang kandungan tertinggi pencemar terhadap air sumur sehingga membuat sumur di daerah Banjar Ubung Sari tercemar.

D. KONDISI DAERAH

D. KONDISI DAERAH Gambar 1. Peta Kelurahan Ubung Gambar 2. Kondisi MCK warga yang sangat kumuh

Gambar 1. Peta Kelurahan Ubung

D. KONDISI DAERAH Gambar 1. Peta Kelurahan Ubung Gambar 2. Kondisi MCK warga yang sangat kumuh

Gambar 2. Kondisi MCK warga yang sangat kumuh

Gambar 3. Kondisi Sumur galian salah satu Warga yang berada di tengah pemukiman dan sekaligus

Gambar 3. Kondisi Sumur galian salah satu Warga yang berada di tengah pemukiman dan sekaligus tempat pengambilan sampel

di tengah pemukiman dan sekaligus tempat pengambilan sampel Gambar 3. Kondisi Saluran drainase yang tersumbat dan

Gambar 3. Kondisi Saluran drainase yang tersumbat dan kotor

Gamar 4. Kondisi MCK warga yang bersumber dari air PDAM Gambar 5. Kondisi Gang desa

Gamar 4. Kondisi MCK warga yang bersumber dari air PDAM

Gamar 4. Kondisi MCK warga yang bersumber dari air PDAM Gambar 5. Kondisi Gang desa yang

Gambar 5. Kondisi Gang desa yang sempit dikarenakan di desa Banjar sari merupakan area padat penduduk

Gambar 6. Kondisi Rumah Warga Semipermanen dikarenakan sebagian besar warga ubung terutama banjar sari berekonomi

Gambar 6. Kondisi Rumah Warga Semipermanen dikarenakan sebagian besar warga ubung terutama banjar sari berekonomi rendah

BAB IV

HIPOTESIS

Setelah melakukan pengujian-analisis dari sampel yang telah diambil dari 5 titik secara acak dengan berdasarkan parameter yang sudah di tentukan maka, maka dugaan sementara penyebab pencemaran wilayah banjarsari, ubung adalah bakteri e- coli Colifrorm.

E. coli adalah bakteri Gram negatif berbentuk batang yang tidak membentuk spora

yang merupakan flora normal di usus, bakteri coliform tinja biasanya ditemukan di usus hewan dan manusia. E. coli adalah singkatan dari Escherichia coli. Escherichia coli tidak

dapat memproduksi H2S, tetapi dapat membentuk gas dari glukosa, menghasilkan tes positif terhadap indol, dan memfermentasikan laktosa. Bakteri e-coli dalam air akan mati apabila air dimasak dengan suhu kisaran 70-100 0 C dalam waktu 10-15 menit. Dikarenakan E. coli masuk

golongan proteobakteri (eubacteria) yang tidak punya kemampuan hidup pada suhu tinggi.

Dimana bakteri ini apabila berada didalam perairan dan kemudian di konsumsi maka akan menyebabkan timbulnya penyakit pencernaan seperti diare. Dan hal ini dapat di hubungkan dengan permasalahan bahwa warga mengeluhkan sakit diare. Dari hasil analisi kami, kemungkinan besar masyrakat sekitar kurang benar dalam hal memasak air, dikarenakan bakteri E-coli dapat mati pada suhu 100 o C dalam waktu ± 10 menit Saat pengambilan data kondisi wilayah dimana desa banjarsari merupakan desa yang kumuh. jarak buangan MCK dengan sumur galian warga ini yang dimungkinkan menyebabkan pencemaran oleh bakteri E-coli Coliform.

BAB V

KESIMPULAN

Terjadinya kasus pencemaran air sumur warga desa banjarsari, ubung. Yang menyebabkan warga mengeluhkan sakit diare.

Dilakukan analisis pengujian dengan parameter PH, COD, BOD, Amonia, Ecoli-Coliform

Dalam sampling dilakukan pengambilan 5 titik air sumur berjarak minimal 50- 200 meter antar sumur.

Dilakukannya uji laboratorium menggunakan metode analisis sesuai parameter.

Ditentukannya hipotesis / dugaan sementara dari kasus pencemaran sumur di banjarsari, ubung adalah bakteri Ecoli-Coliform.