Anda di halaman 1dari 18

TUGAS MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN HIPOTIROIDISME

DI SUSUN OLEH:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

MUH. ISNAN OKTAVIANO


ALAN NUR SYARLAH
DESI NOVITASARI
YOGI RACHMAN
IDIL
PIRASNI
ROSNAWATI
SUNTORO SIANANI
PENI HERAWATI

AKPER PEMDA KAB. KONAWE


T.A. 2012KATA PENGANTAR
Assalamuallaikum Wr. Wb
Puji syukur atas kehadirat Allah. SWT. Yang telah memberikan kami kesehatan jasmani dan
rohani serta anugerah-nya, sehingga kami dapat menyusun makalah ini dengan judul
ASUHAN KEPERAWATAN HIPOTIROIDISME sesuai dengan waktu yang telah di tentukan.

Ucapan terimakasih tidak henti-hentinya kami ucapkan pada semua yang telah turut serta
dalam membantu pembuatan makalah ini. Makalah inipun dapat terselesaikan dalam waktu
yang telah di tentukan.
Kami sadari bahwa isi dari makalah ini masih banyak kekurangan, namun kami berharap
makalah ini dapat di jadikan sebagai landasan pengetahuan dari teori yang telah ada. Saran
dan kritikpun sangat kami harapkan yang sifatnya membangun, sehingga kami dapat
menjadikannya sebagai batu loncatan kearah yang lebih baik lagi.
Akhir kata Tiada kesempurnaan yang mutlak di muka bumi ini Oleh karena itu apabila ada
kesalahan-kesalahan kata dari isi makalah ini kami mohon maaf yang setulus-tulusnya.
Wassalamuallakum Wr. Wb.
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
B. RUMUSAN MASALAH
C. TUJUAN PENULISAN
BAB II PEMBAHASAN TINJAUAN TEORITIS
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.

PENGERTIAN
KLASIFIKASI
ETIOLOGI
PATOFISIOLOGI (Penyimpangan KDM)
MANIFESTASI KLINIS
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
KOMPLIKASI DAN PENATALAKSANAAN

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN HIPOTIROIDISME


A. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
C. INTERVENSI
BAB IV PENUTUP
A. KESIMPULAN
B. SARAN

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kelenjar tiroid yang terletak tepat di bawah laring sebelah kanan dan kiri depan trakea,
mensekresi tiroksin (T4), triiodotironi (T3), yang mempunyai efek nyata pada kecepatan
metabolisme tubuh. Kelenjar ini juga menyekresikalsitonin; suatu hormon yang penting
untuk metabolisme kalsium. Tidak adanya sekresi tiroid sama sekali biasanya
menyebabkan laju metabolisme turun sekitar 40% di bawah normal dan sekresi tiroksin
yang berlebihan sekali dapat menyebabkan laju metabolisme basal meningkat setinggi
60 sampai 100 persen di atas normal. Sekresi tiroid terutama di atur oleh hormon
perangsang tiroid yang di sekresi oleh kelenjar hipofisis anterior.
Hormon yang paling banyak di sekresi oleh kelenjar tiroid adalah hormon tiroksin. Akan
tetapi, juga di sekresitriiodo tironin dalam jumlah sedang. Fungsi kedua hormon ini
secara kualitatif sama, tetapi berbeda dalam kecepatan dan intensitas kerja.
Triiodotironin kira-kira empat kali kekuatan tiroksin, tetapi terdapat jauh lebih sedikit
dalam darah dan menetap jauh lebih singkat. Untuk membentuk tiroksin dalam jumlah
normal, di butuhkan makan kira-kira 50 mg yodium setiap tahun, atau kira-kira 1 mg per
minggu. Untuk mencagah defisiensi yodium, garam meja yang biasa di iodisasi dengan
satu bagian natrium iodida untuk setiap 100.000 bagian natrium klorida.
B. Rumusan Masalah
a. Mendefinisikan Hipotiroidisme
b. Menguraikan etiologi, klasifikasi, patofisiologi, penyimpangan KDM, manifestasi
klinis, komplikasi, dan penatalaksanaan dari hipotiroidisme.
c. Menguraikan asuhan keperawatan dengan hipotiroidisme.
C. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1. Dapat memahami lebih jauh lagi tentang Hipotiroidisme
2. Dapat menjadi pengetahuan yang telah ada
3. Mengetahui Asuhan Keperawatan dari Hipotiroidisme
BAB II
PEMBAHASAN
TINJAUN TEORITIS

A. PENGERTIAN
Hipotiroidisme adalah satu keadaan penyakit yang di sebabkan oleh kurang penghasilan
hormon tiroid oleh kelenjar tiroid. Hipotiroidisme adalah suatu keadaan di mana kelenjar tiroid
kurang aktif dan menghasilkan terlalu sedikit hormon tiroid. Hipotiroid yang sangat berat di
sebut miksedema. Hipotiroidisme terjadi akibat penurunan kadar hormon tiroid dalam darah.
Hipotiroidisme merupakan keadaan yang ditandai dengan terjadinya hipofungsi tiroid yang
berjalan lambat dan di ikuti oleh gejala-gejala kegagalan tiroid. Keadaan ini terjadi akibat kadar
hormone tiroid berada di dibawah nilai optimal (brunner & suddarth).
Jika produksi hormon tiroid tidak adekuat maka kelenjar tiroid akan berkompensasi untuk
meningkatkan sekresinya sebagai respon terhadap rangsangan hormon TSH. Penurunan
hormon sekresi hormon kelenjar tiroid akan menurunkan laju metabolisme basal yang akan
memepengaruhi semua sistem tubuh. Proses metabolik yang di pengaruhi oleh :
Penurunan produksi asam lambung (Aclorhidria).
Penurunan motilitas usus.
Penurunan detak jantung.
Gangguan fungsi neurologik.
Penurunan produksi panas
Penurunan hormon tiroid juga akan mengganggu metabolisme lemak di mana akan terjadi
peningkatan

kadar

kolesterol

dan trigliserida

sehingga klien berpotensi mengalami

atherosklerosis. Akumulasi proteoglicans hidrophilik di rongga intertisial seperti rongga pleura,


cardiak dan abdominal sebagai tanda miksedema. Pembentukan eritrosit yang tidak optimal
sebgai dampak dari menurunnya hormon tiroid memungkinkan klien mengalami anemia.
B. KLASIFIKASI
Lebih dari 95% penderita hipotiroidisme mengalami hipotiroidisme primer atau tiroidal yang
mengacu kepada disfungsi kelenjar tiroid itu sendiri. Apabila disfungsi tiroid di sebabkan oleh
kegagalan kelenjar hipofisis, hipotalamus atau keduanya maka di sebut hipotiroidisme sentral
(hipotiroidisme sekunder) atau pituitaria. Jika sepenuhnya di sebabkan oleh hipofisis di sebut
hipotiroidisme tersier.
NO

Jenis

Organ

Keterangan

Hipotiroidisme Primer

Kelenjar Tiroid

Paling sering terjadi di mana

meliputi penyakit hashimoto

tiroiditis (sejenis penyakit


autoimun) dan terapi
radioiodine (RAI) uintuk
merawat penyakit
2.

Hipotiroiditisme Sekunder

Kelenjar

hipotirodisme.
Terjadi jika kelenjar hipofisis

Hipofisis

tidak menghasilkan cukup


hormon perangsang tiroid
(TSH) untuk merangsang
kelenjar tiroid untuk
menghasilkan jumlah tiroksin
yang cukup. Biasanya terjadi
apabila terdapat tumor di
kelenjar hipofisis,
radiasi/pembedahan yang
menyebabkan kelenjar tiroid
tidak dapat lagi menghasilkan

3.

Hipotiroidisme Tersier

Hipotalamus

hormon yang cukup.


Terjadi jika hipotalamus gagal
menghasilkan TRH yang
cukup, biasanya di sebut juga
hypothalamic-pituitary-axis
hypothyroidism.

C.

ETIOLOGI
Hipotiroidisme dapat terjadi akibat malfungsi kelenjar tiroid, hipofisis, atau hipotalamus.

Apabila di sebabkan oleh malfungsi kelenjar tiroid, maka kadar HT yang rendah akan di sertai
oleh peningkatan kadar TSH dan TRH karena tidak adanya umpan balik negatif oleh HT pada
hipofisis anterior dan hipotalamus. Apabila hipotiroidisme terjadi akibat malfungsi hipofisis,
maka kadar HT yang rendah di sebabkan oleh rendahnya kadar TSH. TRH dari hipotalamus

tinggi karena. tidak adanya umpan balik negatif baik dari TSH maupun HT. Hipotiroidisme yang
di sebabkan oleh malfungsi hipotalamus akan menyebabkan rendahnya kadar HT, TSH, dan
TRH.
Penyebab yang paling sering yang di temukan pada orang dewasa adalah tiroiditis otoimun
(tiroditis Hashimoto), dimana system imun menyerang kelenjar tiroid (Tonner & Schlechte,
1993). Gejala hipotiroidisme di ikuti oleh gejala hipotiroidisme dan miksedema.
Hipotiroidisme juga sering terjadi pada pasien dengan riwayat hipotiroidisme yang
menjalani terapi radioiodium, pembedahan atau preparat anti tiroid. Kejadian ini paling sering
dijumpai pada wanita lanjut usia. Terapi radiasi untuk penanganan kanker kepala dan leher kini
semakin sering menjadi penyebab hipotiroidisme pada laki-laki. Karena itu, pemeriksaan fungsi
tiroid di anjurkan bagi semua pasien yang menjalani terapi tersebut.
Penyakit Hipotiroidisme :
4.

Penyakit Hashimoto atau yang juga di sebut tiroiditis otoimun, terjadi akibat adanya
otoantibodi yang merusak jaringan kelenjar tiroid. Hal ini menyebabkan penurunan HT
yang di sertai peningkatan kadar TSH dan TRH akibat umpan balik negatif yang minimal.
Penyebab tiroiditis otoimun tidak di ketahui, tetapi tampaknya terdapat kecenderungan
genetik untuk mengidap penyakit ini. Penyebab yang paling sering di temukan adalah
tiroiditis Hashimoto. Pada tiroiditis Hashimoto, kelenjar tiroid seringkali membesar dan
hipotiroidisme terjadi beberapa bulan kemudian akibat rusaknya daerah kelenjar yang

5.

masih berfungsi.
Penyebab kedua tersering adalah pengobatan terhadap hipertiroidisme. Baik yodium

6.

radioaktif maupun pembedahan cenderung menyebabkan hipotiroidisme.


Gondok endemik adalah hipotiroidisme akibat defisiensi iodium dalam makanan. Gondok
adalah pembesaran kelenjar tiroid. Pada defisiensi iodiurn terjadi gondok karena sel-sel
tiroid menjadi aktif berlebihan dan hipertrofik dalarn usaha untuk menyerap sernua
iodium yang tersisa dalam. darah. Kadar HT yang rendah akan di sertai kadar TSH dan
TRH yang tinggi karena minimnya umpan balik. Kekurangan yodium jangka panjang
dalam

makanan, menyebabkan pembesaran kelenjar

tiroid yang kurang aktif

7.

(hipotiroidisme goitrosa).
Kekurangan yodium jangka panjang merupakan penyebab tersering dari hipotiroidisme di

8.

negara terbelakang.
Karsinoma tiroid dapat, tetapi tidak selalu menyebabkan hipotiroidisme. Namun, terapi
untuk kanker yang jarang di jumpai ini antara lain adalah tiroidektomi, pemberian obat
penekan TSH, atau terapi iodium radioaktif untuk mengbancurkan jaringan tiroid. Semua
pengobatan ini dapat menyebabkan hipotiroidisme. Pajanan ke radiasi, terutama masa

anak-anak adalah penyebab kanker tiroid. Defisiensi iodium juga dapat meningkatkan
risiko pembentukan kanker tiroid karena hal tersebut merangsang proliferasi dan
hiperplasia sel tiroid.
D. Patofisiologi
Patofisiologi hipotiroidisme didasarkan atas masing-masing penyebab yang dapat
menyebabkan hipotiroidisme, yaitu :
a.

Hipotiroidisme sentral (HS)


Apabila gangguan faal tiroid terjadi karena adanya kegagalan hipofisis, maka disebut
hipotiroidisme sekunder, sedangkan apabila kegagalan terletak di hipothalamus disebut
hipotiroidisme tertier. 50% HS terjadi karena tumor hipofisis. Keluhan klinis tidak hanya
karena desakan tumor, gangguan visus, sakit kepala, tetapi juga karena produksi hormon
yang berlebih (ACTH penyakit Cushing, hormon pertumbuhan akromegali, prolaktin
galaktorea pada wanita dan impotensi pada pria). Urutan kegagalan hormon akibat
desakan tumor hipofisis lobus anterior adalah gonadotropin, ACTH, hormon hipofisis lain,

dan TSH.
b. Hipotiroidisme Primer (HP)
Hipogenesis atau agenesis kelenjar tiroid. Hormon berkurang akibat anatomi kelenjar.
Jarang ditemukan, tetapi merupakan etiologi terbanyak dari hipotiroidisme kongenital di
negara barat. Umumnya ditemukan pada program skrining massal. Kerusakan tiroid dapat
terjadi karena, 1. Operasi, 2. Radiasi, 3. Tiroiditis autoimun, 4. Karsinoma, 5. Tiroiditis
subakut, 6. Dishormogenesis, dan 7. Atrofi.
Pascaoperasi. Strumektomi dapat parsial (hemistrumektomi atau lebih kecil), subtotal atau
total. Tanpa kelainan lain, strumektomi parsial jarang menyebabkan hipotiroidisme.
Strumektomi subtotal M. Graves sering menjadi hipotiroidisme dan 40% mengalaminya dalam
10 tahun, baik karena jumlah jaringan dibuang tetapi juga akibat proses autoimun yang
mendasarinya.
Pascaradiasi. Pemberian RAI (Radioactive iodine) pada hipertiroidisme menyebabkan lebih
dari 40-50% pasien menjadi hipotiroidisme dalam 10 tahun. Tetapi pemberian RAI pada nodus
toksik hanya menyebabkan hipotiroidisme sebesar <5%. Juga dapat terjadi pada radiasi
eksternal di usia <20 tahun : 52% 20 tahun dan 67% 26 tahun pascaradiasi, namun tergantung
juga dari dosis radiasi.
Tiroiditis autoimun. Disini terjadi inflamasi akibat proses autoimun, di mana berperan
antibodi antitiroid, yaitu antibodi terhadap fraksi tiroglobulin (antibodi-antitiroglobulin, Atg-Ab).

Kerusakan yang luas dapat menyebabkan hipotiroidisme. Faktor predisposisi meliputi toksin,
yodium, hormon (estrogen meningkatkan respon imun, androgen dan supresi kortikosteroid),
stres mengubah interaksi sistem imun dengan neuroendokrin. Pada kasus tiroiditis-atrofis
gejala klinisnya mencolok. Hipotiroidisme yang terjadi akibat tiroiditis Hashimoto tidak
permanen.
Tiroiditis Subakut. (De Quervain) Nyeri di kelenjar/sekitar, demam, menggigil. Etiologi yaitu
virus. Akibat nekrosis jaringan, hormon merembes masuk sirkulasi dan terjadi tirotoksikosis
(bukan hipertiroidisme). Penyembuhan didahului dengan hipotiroidisme sepintas.
Dishormogenesis. Ada defek pada enzim yang berperan pada langkah-langkah proses
hormogenesis. Keadaan ini diturunkan, bersifat resesif. Apabila defek berat maka kasus sudah
dapat ditemukan pada skrining hipotiroidisme neonatal, namun pada defek ringan, baru pada
usia

lanjut.
Karsinoma. Kerusakan tiroid karena karsinoma primer atau sekunder, amat jarang.

Hipotiroidisme sepintas. Hipotiroidisme sepintas (transient) adalah keadaan hipotiroidisme


yang cepat menghilang. Kasus ini sering dijumpai. Misalnya pasca pengobatan RAI, pasca
tiroidektomi subtotalis. Pada tahun pertama pasca operasi morbus Graves, 40% kasus
mengalami hipotiroidisme ringan dengan TSH naik sedikit. Sesudah setahun banyak kasus
pulih kembali, sehingga jangan tergesa-gesa memberi substitusi. Pada neonatus di daerah
dengan defisiensi yodium keadaan ini banyak ditemukan, dan mereka beresiko mengalami
gangguan perkembangan saraf.
Pada hipertiroidisme, metabolisme dan produksi panas akan meningkat. Metabolisme basal
hampir mendekati dua kalinya. Pasien yang terkena lebih menyukai suhu lingkungan yang
lebih dingin, pada lingkungan yang panas pasien cenderung berkeringat lebih banyak
(intoleransi

panas).

Kebutuhan

O2

yang

meningkat

membutuhkan

hiperventilasidan

merangsang eritropoesis. Pasa satu sisi , peningkatan lipolisis menyebabkan penurunan berat
badan, dan pada sisi lain menyebabkab hiperlipiasidemia. Sementar itu, konsentrasi VLDL,
LDL, dan kolesterol berkurang. Pengaruhnya pada metabolisme karbohidrat memudahkan
terbentuknya diabetes melitus (reversibel). Bila diberikan glukosa (tes toleransi glukosa),
konsentrasi glukosa di dalam plasma akan meningkat secara lebih cepat lebih nyata dari pada
orang sehat, peningkatan akan diikuti oleh penurunan yang cepat (toleransi glukosa
terganggu). Meskipun hormon tiroid meningkatkan sintesis, hipertiroidisme akan meningkatkan
enzim proteolitis yag berlebihan dengan peningkatan pembentukan dan eksresi urea. Massa
otot akan berkurang, pemecahan matriks tulang dapat menyebabkan osteoporosis,
hiperkalsemiadan hiperkalsiuria.

Akibat kerja perangsangan jatnung, curah jantung dan tekanan darah sistolik akan
meningkat. Fibrilasi atrium kadang dapat terjadi. Pembuluh darah perifer akan berdilatasi. Laju
filtrasi glomerulus (GFR), aliran plasma ginjal (RPF), serta transpor tubulus akan meningkat di
ginjal. Sedangkan di hati pemecahan hormon steroid dan obat akan dipercepat. Perangsangan
di otot usus halus akan menyebabkan diare, peningkatan eksitabilitas neuromuskular akan
menimbulkan hiperrefleksia, tremor, kelemahan otot dan insomnia. Pada anak-anak,
percepatan pertumbuhan kadang dapat terjadi.

E. MANIFESTASI KLINIK
Hipotiroidisme di tandai dengan gejala-gejala sebagai berikut :
1.
2.

Nafsu makan berkurang.


Sembelit.

3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.

Pertumbuhan tulang dan gigi yang lambat.


Suara serak.
Berbicara lambat.
Kelopak mata turun.
Wajah bengkak.
Rambut tipis, kering dan kasar.
Kulit kering, kasar, bersisik dan menebal.
Denyut nadi lambat.
Gerakan tubuh lamban.
Lemah.
Pusing.
Capek.
Pucat.
Sakit pada sendi atau otot.
Tidak tahan terhadap dingin.
Depresi.
Penurunan fungsi indera pengecapan dan penciuman.
Alis mata rontok.
Keringat berkurang.
Gejala dini hipotiroidisme tidak spesifik, namun kelelahan yang ekstrim menyulitkan

penderitanya untuk melaksanankan pekerjaan sehari-hari secara penuh atau ikut serta dalam
aktivitas yang lazim di lakukannya. Laporan tentang adanya kerontokkan rambut, kuku yang
rapuh serta kulit yang kering sering di temukan, dan keluhan rasa baal serta parasetsia pada
jari-jari tangan dapat terjadi. Kadang-kadang suara menjadi kasar, dan pasien mungkin
mengeluhkan suara yang parau. Gangguan haid seperti menorhagia atau amenore akan
terjadi di samping hilangnya libido. Hipotiroidisme menyerang wanita lima kali lebih sering di
bandingkan laki-laki dan paling sering terjadi pada usia 30-60 tahun.
Hipotiroidisme berat mengakibatkan suhu tubuh dan frekuensi nadi subnormal. Pasien
biasanya mulai mengalami kenaikan berat badan yang bahkan terjadi tanpa peningkatan
asupan makanan, meskipun penderita hipotiroid yang berat dapat terlihat kakeksia. Kulit
menjadi tebal karena penumpukkan mukopolisakarida dalam jaringan subkutan. Rambut
menipis dan rontik, wajah tampak tanpa ekspresi dan mirip topeng. Pasien sering
mengeluhkan rasa dingin meskipun dalam lingkungan yang hangat.
Pada mulanya, pasian mungkin akan mudah tersinggung dan mengeluh merasa lemah,
namun dengan dengan berlanjutnya kondisi tersebut, respon emosional di atas akan
berkurang. Proses mental menjadi tumpul dan pasien tampak apatis. Bicara menjadi lambat,
lidah membesar, dan ukuran tangan serta kaki bertambah. Pasien sering mengeluh konstipasi
serta ketulian dapat terjadi.

Pada hipotiroidisme lanjut akan menyebabkan demensia di sertai perubahan kognitif dan
kepribadian yang khas. Respirasi yang tidak memadai dan apnu saat tidur dapat terjadi pada
hipotiroidisme yang berat. Efusi pleura, efusi perikardial dan kelemahan otot pernapasan dapat
terjadi.
Hipotiroidisme berat akan di sertai dengan kenaikkan kadar kolesterol serum, aterosklerosis,
penyakit jantung koroner dan fungsi ventrikel kiri yang jelek. Pasien hipotiroidime lanjut akan
mengalalami hipotermia dan kepekkan abnormal terhadap preparaf sedatif, opioid serta
anestesi, oleh sebab itu semua obat ini hanya di berikan pada kondisi tertentu.
Pasien dengan hipotiroidisme yang belum teridentifikasi dan sedang menjalani pembedahan
akan menghadapi risiko yang lebih tinggi untuk mengalami hipotensi intraoperatif, gagal
jantung kongestif pascaoperatif dan perubahan status mental.
Koma miksedema menggambarkan stadium hipotiridisme yang paling ekstrim dan berat, di
mana pasien mengalami hipotermia dan tidak sadarkan diri. Koma miksedema dapat terjadi
sesudah peningkatan letargi yang berlanjut menjadi stupor dan kemudian koma. Hipotiroidisme
yang tidak terdiagnosa dapat di picu oleh infeksi atau penyakit sistemik lainnya atau oleh
penggunaan preparat sedative atau analgetik opioid. Dorongan respiratorik pasien akan
terdepresi sehingga timbul hipoventilasi alveoler, retensi CO2 progresif, keadaan narkosis dan
koma. Semua gejala ini, di sertai dengan kolaps kardiovaskuler dan syok memerlukan terapi
yang agresif dan intensif jika kita ingin pasien tetap hidup. Meskipun demikian, dengan terapi
yang intensif sekalipun, angka mortalitasnya tetap tinggi.
Tanda yang lainnya adalah:
1.
2.

Kelambanan, perlambatan daya pikir, dan gerakan yang canggung lambat.


Penurunan frekuensi denyut jantung, pembesaran jantung (jantung miksedema) dan

3.
4.

penurunan curah jantung.


Pembengkakkan dan edema kulit, terutama di bawah mata dan di pergelangan kaki.
Penurunan kecepatan metabolisme, penurunan kebutuhan kalori, penurunan nafsu

5.
6.
7.

makan dan penyerapan zat gizi dari saluran cerna.


Konstipasi.
Perubahan-perubahan dalam fungsi reproduksi.
Kulit kering dan bersisik serta rambut kepala dan tubuh yang tipis dan rapuh.

F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Pemeriksaan darah yang mengukur kadar HT (T3 dan T4), TSH, dan TRH akan dapat
mendiagnosis kondisi dan lokalisasi masalah di tingkat susunan saraf pusat atau kelenjar
tiroid. Pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui fungsi tiroid biasanya menunjukkan kadar
T4 yang rendah dan kadar TSH yang tinggi.

Pemeriksaan fisik menunjukkan tertundanya pengenduran otot selama pemeriksaan reflex.


Penderita tampak pucat, kulitnya kuning, pinggiran alis matanya rontok, rambut tipis dan
rapuh, ekspresi wajahnya kasar, kuku rapuh, lengan dan tungkainya membengkak serta fungsi
mentalnya berkurang. Tanda-tanda vital menunjukkan perlambatan denyut jantung, tekanan
darah rendah dan suhu tubuh rendah. Pemeriksaan ronsen dada bisa menunjukkan adanya
pembesaran jantung.
G. KOMPLIKASI DAN PENATALAKSANAAN
Koma miksedema adalah situasi yang mengancam nyawa yang di tandai oleh eksaserbasi
(perburukan) semua gejala hipotiroidisme termasuk hipotermi tanpa menggigil, hipotensi,
hipoglikemia, hipoventilasi, dan penurunan kesadaran hingga koma. Kematian dapat terjadi
apabila tidak di berikan HT dan stabilisasi semua gejala. Dalam keadaan darurat (misalnya
koma miksedem), hormon tiroid bisa di berikan secara intravena.
Hipotiroidisme di obati dengan menggantikan kekurangan hormon tiroid, yaitu dengan
memberikan sediaan per-oral (lewat mulut). Yang banyak di sukai adalah hormon tiroid buatan
T4. Bentuk yang lain adalah tiroid yang di keringkan (di peroleh dari kelenjar tiroid hewan).
Pengobatan pada penderita usia lanjut di mulai dengan hormon tiroid dosis rendah, karena
dosis yang terlalu tinggi bisa menyebabkan efek samping yang serius. Dosisnya di turunkan
secara bertahap sampai kadar TSH kembali normal. Obat ini biasanya terus di minum
sepanjang hidup penderita.
Pengobatan selalu mencakup pemberian tiroksin sintetik sebagai pengganti hormon tiroid.
Apabila penyebab hipotiroidism berkaitan dengan tumor susunan saraf pusat, maka dapat di
berikan kemoterapi, radiasi, atau pembedahan.
Gambaran wajah pasien dengan miksedema. Gambar sebelah kiri pada saat diagnosa awal
dan gambar sebelah kanan setelah penggantian terapi dengan tiroksin.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN HIPOTIROIDISME
A. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
Dampak penurunan kadar hormon dalam tubuh sangat bervariasi, oleh karena itu lakukan
pengkajian seperti :

1. Riwayat kesehatan klien dan keluarga seperti sejak kapan klien menderita penyakit
tersebut dan apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama.
2. Kebiasaan hidup sehari-hari seperti :
1. Pola makan.
2. Pola tidur (klien menghabiskan banyak waktu untuk tidur).
3. Pola aktivitas.
4. Tempat tinggal klien sekarang dan pada waktu balita.
5. Keluhan utama klien, mencakup gangguan pada berbagai sistem tubuh yaitu:
a. Sistem pulmonary.
b. Sistem pencernaan.
c. Sistem kardiovaslkuler.
d. Sistem muskuloskeletal.
e. Sistem neurologik dan emosi / psikologis.
f. Sistem reproduksi.
g. Metabolik.
6. Pemeriksaan fisik yang mencakup :
a. Penampilan secara umum; amati wajah klien terhadap adanya edema sekitar
mata, wajah bulan dan ekspresi wajah kosong serta roman wajah kasar. Lidah
tampak menebal dan gerak-gerik klien sangat lamban. Postur tubuh keen dan
pendek. Kulit kasar, tebal dan berisik, dingin dan pucat.
b. Nadi lambat dan suhu tubuh menurun.
c. Perbesaran jantung.
d. Disritmia dan hipotensi.
e. Parastesia dan reflek tendon menurun.
7. Pengkajian psikososial klien sangat sulit membina hubungan sasial dengan
lingkungannya, mengurung diri / bahkan mania. Keluarga mengeluh klien sangat malas
beraktivitas, dan ingin tidur sepanjang hari. Kaji bagaimana konsep diri klien mencakup
kelima komponen konsep diri.
8. Pemeriksaan penunjang yang mencakup; pemeriksaan kadar T3 dan T4 serum,
pemeriksaan TSH (pada klien dengan hipotiroidisme primer akan terjadi peningkatan
TSH serum, sedangkan pada yang sekunder kadar TSH dapat menurun atau normal).
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan depresi ventilasi.
2. Konstipasi berhubungan dengan penurunan gastrointestinal .
3. Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelelahan dan penurunan proses kognitif
4. Perubahan pola berpikir berhubungan dengan gangguan metabolisme dan perubahan
5.

status kardiovaskuler serta pernapasan.


Kurangnya pengetahuan tentang program pengobatan untuk terapi penggantian tiroid
seumur hidup.

C. INTERVENSI KEPERAWATAN

1. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan depresi ventilasi.


Tujuan

: Perbaikan status respiratorius dan pemeliharaan pola napas

yang normal.
Intervensi

:
a. Pantau frekuensi seperti kedalaman, pola pernapasan, dan oksimetri denyut
nadi.
Rasional :
Mengidentifikasi

hasil

pemeriksaan

dasar

untuk

memantau

perubahan

selanjutnya dan mengevaluasi efektifitas intervensi.


b. Dorong pasien untuk napas dalam dan batuk.
Rasional :
Mencegah aktifitas dan meningkatkan pernapasan yang adekuat.
c. Beri klien posisi dengan peninggian area kepala atau semi fowler
Rasional :
Posisi peninggian area kepala atau semi fowler sangat berguna untuk mencegah
terjadinya sesak dan tekanan yang berlebih pada area paru-paru.
d. Pelihara saluran napas pasien dengan melakukan pengisapan dan dukungan
ventilasi jika di perlukan.
Rasional :
Penggunaan saluran napas artifisial dan dukungan ventilasi mungkin di perlukan
jika terjadi depresi pernapasan.
2. Konstipasi berhubungan dengan penurunan gastrointestinal.
Tujuan

: Pemulihan fungsi usus yang normal.

Intervensi

:
a. Dorong peningkatan asupan cairan.
Rasional :
Meminimalkan kehilangan cairan.
b. Berikan makanan yang kaya akan serat.
Rasional :
Mencegah terjadinya konstipasi
c. Ajarkan kepada klien, tentang jenis-jenis makanan yang banyak mengandung
air.
Rasional :
Untuk peningkatan asupan cairan kepada pasien agar feses tidak keras.
d. Dorong klien untuk meningkatkan mobilisasi dalam batas-batas toleransi latihan.
Rasional :
Meningkatkan evakuasi feses.
e. Kolaborasi : untuk pemberian obat pecahar dan enema bila di perlukan.
Rasional :
Untuk mengencerkan feses.

3. Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelelahan dan penurunan proses


kognitif.

Tujuan

: Meningkatkan partisipasi dalam aktivitas dan kemandirian.

Intervensi

:
a. Atur interval waktu antar aktivitas untuk meningkatkan istirahat dan latihan yang
dapat di tolerir.
Rasional :
Mendorong aktivitas sambil memberikan kesempatan untuk mendapatkan
istirahat yang adekuat.
b. Bantu aktivitas perawatan mandiri ketika pasien berada dalam keadaan lelah.
Rasional :
Memberi kesempatan pada pasien untuk berpartisipasi dalam aktivitas
perawatan mandiri.
c. Berikan stimulasi melalui percakapan dan aktifitas yang tidak menimbulkan
stress.
Rasional :
Meningkatkan perhatian tanpa terlalu menimbulkan stress pada pasien.
d. Pantau respons pasien terhadap peningkatan aktititas.
Rasional :
Menjaga pasien agar tidak melakukan aktivitas yang berlebihan atau kurang.

4. Perubahan pola berpikir berhubungan dengan gangguan metabolisme dan


perubahan status kardiovaskuler serta pernapasan.
Tujuan
Intervensi

: Perbaikan proses berpikir.


:
a. Pantau TTV pasien
Rasional :
Adanya peningkatan tekanan darah dan lainnya dapat menggambarkan adanya
stres karena perubahan pola pikir pasien dengan adanya kondisi sakit.
b. Orientasikan pasien terhadap waktu, tempat, tanggal dan kejadian di sekitar
dirinya.
Rasional :
Memudahkan pasien untuk mengenali keadaannya dan sebagai cara untuk
lebih membantu pasien dalam menyelesaikan masalah yang di rasakan.
c. Berikan stimulasi lewat percakapan dan aktifitas yang tidak bersifat
mengancam.
Rasional :
Memudahkan stimulasi dalam batas-batas toleransi pasien terhadap stress.
d. Jelaskan kepada pasien dan keluarga bahwa perubahan pada fungsi kognitif
dan mental merupakan akibat dan proses penyakit .
Rasional :
Meyakinkan pasien dan keluarga tentang penyebab perubahan kognitif dan
bahwa hasil akhir yang positif di mungkinkan jika di lakukan terapi yang tepat.

5. Kurangnya pengetahuan tentang program pengobatan untuk terapi penggantian


tiroid seumur hidup.
Tujuan

: Pemahaman dan penerimaan terhadap program pengobatan yang di resepkan.

Intervensi

:
a. Jelaskan dasar pemikiran untuk terapi penggantian hormon tiroid.
Rasional :
Memberikan rasional penggunaan terapi penggantian hormon tiroid seperti yang
diresepkan, kepada pasien.
b. Uraikan efek pengobatan yang dikehendaki pada pasien.
Rasional :
Mendorong pasien untuk mengenali perbaikan status fisik dan kesehatan yang
akan terjadi pada terapi hormon tiroid.
c. Bantu pasien menyusun jadwal dan cheklist untuk memastikan pelaksanaan
sendiri terapi penggantian hormon tiroid.
Rasional :
Memastikan bahwa obat yang di gunakan seperti yang di resepkan.
d. Uraikan tanda-tanda dan gejala pemberian obat dengan dosis yang berlebihan
dan kurang.
Rasional :
Berfungsi sebagai pengecekan bagi pasien untuk menentukan apakah tujuan
terapi terpenuhi.
e. Jelaskan perlunya tindak lanjut jangka panjang kepada pasien dan keluarganya.
Rasional :
Meningkatkan kemungkinan bahwa keadaan hipo atau hipertiroidisme akan
dapat di deteksi dan di obati.

BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Hipotiroidisme adalah satu keadaan penyakit yang di sebabkan oleh kurang penghasilan
hormon tiroid oleh kelenjar tiroid. Hipotiroidisme adalah suatu keadaan di mana kelenjar
tiroid kurang aktif dan menghasilkan terlalu sedikit hormon tiroid. Hipotiroid yang sangat
berat di sebut miksedema. Hipotiroidisme terjadi akibat penurunan kadar hormon tiroid
dalam darah. Kelainan ini kadang-kadang di sebut miksedema.

Hipotiroidisme dapat terjadi akibat malfungsi kelenjar tiroid, hipofisis, atau hipotalamus.
Adapun penyakit hipotiroidisme yaitu Penyakit Hashimoto atau yang juga di sebut tiroiditis
otoimun, gondok endemik, ekurangan yodium jangka panjang, dan arsinoma tiroid. Ada
tiga jeni hipotiroidisme yaitu hipotiroidisme primer, hipotiroiditisme sekunder, dan
hipotiroidisme tersier.
Tanda dan gejala hipotiroidisme yaitu nafsu makan berkurang, sembelit, pertumbuhan
tulang dan gigi yang lambat. suara serak, berbicara lambat, kelopak mata turun, wajah
bengkak, rambut tipis/kering dan kasar, kulit kering, kasar, bersisik dan menebal, denyut
nadi lambat, gerakan tubuh lamban, lemah, pusing, capek, pucat, sakit pada sendi atau
otot, tidak tahan terhadap dingin, depresi, penurunan fungsi indera pengecapan dan
penciuman, alis mata rontok, keringat berkurang.
B. SARAN
Semoga makalah yang kami buat dapat bermanfaat bagi semua orang yang
membacanya terutama dosen pada umumnya dan mahasiswa / mahasiswi pada
umumnya. Dengan adanya makalah ini di harapkan dapat membantu mata kuliah
Keperawatan Endokrin II. Selain itu di perlukan lebih banyak referensi dalam penyusunan
makalah ini agar lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA
Brunner & suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah. Edisi 8. Vol 2. EGC
Price, Sylvia A., Wilson, Lorraine M. 2006. PATOFISIOLOGI Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit . Edisi 6, volume 2. Jakarta: Penerbit Buku KedokteranEGC.
Website: http://en.wikipedia.org/wiki/Hypothyroidism

Anda mungkin juga menyukai