Anda di halaman 1dari 10

HUBUNGAN DUKUNGAN EMOSIONAL KELUARGA DENGAN

KEPATUHAN KUNJUNGAN ULANG PASIEN STROKE DI POLIKLINIK


SARAF RSUD DOKTER SOESELO KABUPATEN TEGAL
Sri Sulami 1, Dwi Budi Prastiani 2, Kastining1
1. Rumah Sakit dr. Soeselo Slawi Kabupaten Tegal
2. Jurusan Keperawatan, STIKES Bhakti Mandala Husada Slawi 52416, Tegal

Abstrak
Dukungan emosional adalah dukungan yang diberikan oleh keluarga terhadap lansia
dengan memberikan perasaan nyaman, merasa dicintai, bantuan dalam bentuk semangat,
empati, rasa percaya, perhatian sehingga lansia merasa berharga dan diperhatikan oleh
keluarga. Dukungan emosional merupakan dukungan yang paling tepat buat lansia untuk
meningkatkan derajat kesehatan secara optimal dengan cara memotivasi lansia untuk
melakukan kontrol secara rutin, khususnya lansia dengan stroke. Desain Penelitian ini
adalah deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional pada 51 lansia dan keluarga
dengan tehnik purposive sampling. Alat pengumpulan data dalam penelitian ini adalah
lembar kuesioner dukungan emosional dan lembar cheklist tingkat kepatuhan. Hasil
menunjukkan ada hubungan yang signifikan dukungan emosional keluarga dengan
kepatuhan kunjungan ulang pasien stroke dengan p value 0,05. Rekomendasi penelitian
ini adalah perlunya pendidikan kesehatan kepada keluarga lansia untuk lebih memberikan
perhatian, kasih sayang, dan motivasi untuk melakukan pemeliharaan kesehata kepada
lansia yang mempunyai masalah sehingga lansia dapat mempunyai kualitas hidup yang
lebih baik.
Kata kunci : Dukungan emosional, Kepatuhan Kunjungan Ulang, Stroke, Lansia
Abstract
Emotional support is support given by family to elderly by providing a feeling of comfort
and loved, passion, empathy, trust and anxiety so that they feel appreciated and cared by
the family. Emotional support is the most appropriate support for aged to improve health
status in an optimal way by encouraging them to perform hospital routine control,
particularly elderly with stroke. This research design was a descriptive correlation with
cross sectional approach on 51 elderly and families through purposive sampling
technique. Data collection tool were questionnaire sheet of emotional support and
checklist sheet of compliance level. Results showed that there was significant relationship
between family emotional support and compliance revisited of stroke patients with p
value 0.05. Finally, this research recommends the importance of health education to a
family of elderly. The family must give more attention, affection, and motivation to
perform health maintenance to elderly who have problems so that they can get a better
quality of life.
Keyword: emotional support, compliance revisited, stroke, elderly

51

Seseorang yang pernah terserang stroke

PENDAHULUAN

memiliki

Stroke merupakan gangguan fungsional

tidak

otak, dengan tanda dan gejala sesuai

barbagai

dengan

keberhasilan

baik.
dan

kemajuan di bidang sosial ekonomi serta

2004). Serangan stroke menimbulkan

perbaikan

kerusakan pada jaringan saraf otak yang

di

bidang

pangan,

usia

harapan hidup bagi para penderita stroke

dapat mengakibatkan kecacatan, antara

dan

lain menimbulkan kelumpuhan pada

upaya

penyembuhannya

bisa

ditingkatkan. Tindakan pengobatan yang

seluruh anggota badan, terganggunya

teratur

pendengaran,

menjadi

diperhatikan

berkurangnya daya ingat, kemunduran


menurunnya

ditanggulangi

Dengan

bagian otak yang terkena (Iskandar,

mental,

stroke

yang menyebabkan terjadinya stroke

akut karena penyakit pembuluh darah

dan

mengalami

berulang terutama bila faktor resiko

otak lokal maupun global yang bersifat

penglihatan

resiko

hal

dalam

yang

harus

upaya

untuk

meningkatkan kualitas hidup seseorang

kemampuan

agar lebih baik (Gunawan, 2009).

berbicara dan berkomunikasi (Jusuf,

Kualitas hidup yang diinginkan oleh

2007).

pasien

stroke

adalah

pasien

dapat

Lansia merupakan populasi yang lebih

sembuh dari stroke, dapat menjalankan

rentan kemungkinanya untuk mengalami

aktifitasnya dengan normal dan tidak

gangguan

2004).

terjadi serangan stroke berulang. Proses

mempunyai

utama yang harus dijalani pada pasien

Stroke

stroke
pada

(Lascater,
lansia

prevalensi yang tinggi, yaitu pada usia

stroke

dalam

proses

penyembuhan

60 tahun keatas didapatkan antara 60-

adalah

dengan

80%. Hal ini dikarenakan kejadian

obatan serta menjalankan rehabilitasi

stroke ini berkaitan dengan adanya

dengan melakukan kunjungan ulang ke

kemunduran sistem pembuluh darah.

pusat pelayanan kesehatan secara rutin

Faktor ini menjadi dua kali lipat setelah

(Sumino, 2008).

mengonsumsi

obat-

usia 55 tahun. Ini juga menunjukkan


bahwa lansia yang sudah berusia 60

Kunjungan ulang secara rutin dan

tahun, berisiko untuk mengalami stroke

dengan pengobatan yang tepat dapat

apalagi jika tidak didukung dengan pola

meredakan ketegangan pada jantung

hidup yang sehat (Mauk, 2010).

yang dapat memicu kejadian stroke


berulang.
melakukan

52

Kepatuhan
kunjungan

berobat
ulang

dan
sangat

penting untuk meningkatkan efektifitas

dukungan

pengobatan,

Dukungan emosional baikjika keluarga

pencegahan

menurunkan

angka

komplikasi,

kesakitan

dan

selalu

emosional

melakukan

yang

hal-hal

baik.

sebagai

kematian. Dukungan sosial dari anggota

berikut:

keluarga merupakan faktor-faktor yang

Tabel 1. Indikator Dukungan Emosional

penting

dalam

kepatuhan

terhadap

medis.

Menurut

program-program

No
1

penelitian yang telah dilakukan oleh


Andrian (2005), mengatakan bahwa dari
keempat

jenis

dukungan

dukungan

emosional

dukungan

yang

pengaruhnya

keluarga,

besar

3
4
5

kepatuhan

merupakan

paling

terhadap

seseorang dalam usaha meningkatkan


7

derajat kesehatannya.
Dukungan

emosional

diwujudkan

antara

pemberian

dapat

meliputi

yang
lain

perhatian

untuk
10

meningkatkan derajat kesehatan yang

11

diinginkan dengan cara mengingatkan


jadwal

kontrol

memperhatikan

(patuh
diit

kontrol),

pasien

serta
12

mengingatkan jadwal untuk melakukan


latihan-latihan (rehabilitasi). Sedangkan

13

Astuti, A.D (2013), dalam penelitiannya


mengatakan

bahwa

penghargaanlah

yang

pengaruhnya

dukungan
paling

terhadap

15

besar

kepatuhan

seseorang untuk melakukan kunjungan

16

ulang

17

karena

keluarga

merupakan

penyedia layanan kesehatan yang utama

18

bagi pasien, sebagai tempat untuk


memecahkan

masalah

serta

19

dapat

memberikan rasa nyaman. Indikator

53

Indikator
Keluarga menunjukan wajah yang
menyenangkan saat membantu atau
melayani
Keluarga merawat dengan penuh
kasih dan sayang
Keluarga membantu dengan tulus
Keluarga membantu dengan ikhlas
Keluarga menanyakan keluhankeluhan yang rasakan
Keluarga mendengarkan keluhankeluhan yang rasakan
Keluarga mengingatkan untuk
berolah raga ringan setiap hari
Keluarga mau menemani jalanjalan disekitar tempat tinggalnya
Keluarga membiarkan sendiri saat
menghadapi masalah
Keluarga mengetahui jadwal
pemeriksaan kesehatan
Keluarga selalu mengingatkan dan
menemani untuk melakukan
pemeriksaan setiap jadwal
pemeriksaan tiba
Keluarga menyarankan agar tidak
takut/khawatir tentang kondisi
sakitnya
Keluarga meyakinkan kalau
penyakit dapat sembuh
keluarga melarang suasana ribut
(misalnya cucu-cucu
berkelahi/kejadian lain yang
membuat tidak tenang)
keluarga mengingatkan dalam hal
makan dan minum
Keluarga mengingatkan untuk
minum obat
keluarga mengingatkan untuk tidak
terlalu banyak aktifitas
Keluarga membawa berobat jika
kondisi sangat menurun saja

Tujuan Penelitian untuk mengetahui


hubungan dukungan emosional keluarga
dengan kepatuhan kunjungan ulang
pasien stroke pada lansia di Poliklinik
Saraf RSUD Dokter Soeselo Kabupaten
Tegal.

Alat

ukur

yang

digunakan

adalah

kuesioner tentang dukungan emosional


keluarga yang teridiri dari pertanyaan
tentang hal-hal yang dilakukan keluarga
terkait ekspresi wajah keluarga ketika

METODE PENELITIAN

merawat lansia, perilaku merawat lansia,

Penelitian ini merupakan penelitian

serta motivasi untuk melakukan aktivitas

deskriptif

dengan

ringan, kontrol ulang dan penyelesaian

crossectional.

masalah-masalah lansia. dan Kepatuhan

korelasi

menggunakan

desain

Populasi penelitian ini adalah seluruh

kunjungan

pasien lansia dengan stroke dan keluarga

menggunakan

yang melakukan kunjungan ulang pada

kunjungan ulang pasien stroke. Adapun

periode bulan Februari Maret di

kriteria

Poliklinik Saraf RSUD dr. Soeselo

pada

Slawi berjumlah 105 orang. Sampel

melakukan kontrol kembali pada bulan

dalam penelitian ini berjumlah 51 orang

berikutnya atau pada waktu yang telah

yang diperoleh dengan menggunakan

ditetapkan oleh dokter. Semua alat ukur

rumus Slovin. Ttehnik pengambilan

telah

sampel adalah purposive sample dengan

realibilitas dan dinyatakan valid dan

kriteria

reliabel.

inklusi

pasien

yang

dapat

ukang

di

cheklist

observasi
kepatuhan

patuh melakukan kunjungan


lansia

adalah

dilakukan

uji

apabila

lanisa

validitas

dan

berkomunikasi dan berinteraksi dengan


baik.
HASIL PENELITIAN
Tabel 2.
Hasil Analisa Univariat Karakteristik Responden, dukungan emosional
keluarga, dan kunjungan ulang pasien stroke di Poliklinik Saraf RSUD dr.
Soeselo Slawi Kabupaten Tegal (n=51)

Variabel

Usia

Jenis Kelamin

Kategori
Pertengahan (45-59 tahun)
Lanjut usia (6074 tahun)
Lanjut usia tua (75-90 th)
Usia sangat tua (.90th)
Laki-laki
Perempuan

54

Jumlah
11
27
12
1

%
21,6
52.9
23,5
2,0

33
18

64.5
35.5

Variabel

Kategori

Jumlah

Dukungan emosional

Baik
Kurang

28
23

54,9
45,1

Kepatuhan Kunjungan
Ulang

Patuh
Tidak patuh

29
22

56,9
43,1

Tabel 3: Hubungan dukungan emosional keluarga dengan kepatuhan kunjungan


ulang pasien stroke pada lansia di Poliklinik Saraf RSUD Dokter Soeselo
Kabupaten Tegal.
Kepatuhan Kunjungan
P value
ulang
Total
Tidak
Patuh
Patuh
N
%
n
%
N
%
22 43,1 1
2,0
23
100 0,000
0 0
28
54,9 28
100
analisa bivariat menunjukkan hasil

Dukungan
emosional
keluarga
Kurang Baik
Baik
Dari

hasil

analisa

pada

tabel

1,

bahwa dukungan emosional keluarga

menunjukkan bahwa jumlah responden


laki-laki lebih besar dari responden
perempuan. Hal ini dapat diakibatkan

yang kurang baik

karena antara lansia perempuan dan

menunjukkan

laki-laki mempunyai respon yang

kepatuhan

berbeda dalam menghadapi masalah.

sebanyak

Dimana laki-laki cenderung kurang

22 orang (43,1%) dan lansia yang

peduli dan kurang menjaga, serta

patuh sebanyak 1 orang (2,0%).

mengontrol

Sedangkan

kebiasaan-kebiasaan

lansia

tidakpatuh

dukungan

buruk seperti merokok sehingga

keluarga

lansia laki-laki lebih Sedangkan data

kunjungan

analisa usia responden menunjukkan

sebanyak 0 (0%) dan kunjungan

bahwa usia responden sebagian besar

lansia patuh sebanyak 28 orang

Lanjut usia 60-74 tahun 27 orang

(54,9%).Hasil

(52,9%).

menunjukkan bahwa p value < ,

Sedangkan

dari

hasil

55

baik

emosional

menunjukan

lansia

uji

tidak

chi

hasil
patuh

square

sehingga

dukungan

emosional

dengan stroke di Poliklinik Saraf

keluarga memiliki hubungan yang

RSUD

bermakna

Kabupaten Tegal.

dengan

kunjungan

ulang

kepatuhan
pasien

telah

tulus ikhlas,

bahwa sebagian besar responden yang

pernah membiarkan lansia sendiri saat

64,7%.

menghadapi masalah. Menurut analisa

Sedangkan menurut usia, menurut teori


(2010),

menyatakan

peneliti, sebagian besar keluarga telah

bahwa

memahami bahwa lansia stroke harus

semakin tua usia maka semakin besar

diberikan perhatian dan kasih sayang

kemungkinan terkena stroke.

agar

Stroke pada usia lanjut mempunyai

lansia

merasa

59 tahun.

yang sudah

ini adanya perubahan hormone yang

asa

sendiri

masalah

dan

seperti

yang

mengalami

berbagai

perubahan dan penurunan fungsi dapat

berefek pada proses penuaan, sementara


sanggat

putus

merasa

dikatakan Nugroho (2006), bahwa lansia

Hal ini mungkin disebabkan karena saat

penuaan

tidak

dalam menghadapi

prevalensi yang tinggi diatas usia diatas

proses

selalu mendengarkan

keluhan yang dirasakan lansia, tidak

terkenan stroke adalah jenis kelamin

Mauk

wajah

kasih sayang, selalu membantu dengan

menunjukkan

sebanyak

menunjukkan

selalu merawat lansia dengan penuh

faktor penentu terjadinya stroke. Dari

yaitu

Slawi

menyenangkan saat membantu lansia,

Jenis kelamin merupakan salah satu

hasil analisa univariat

Soeselo

lansia

Pembahasan

laki-laki

Dokter

mengakibatkan terjadinya rasa sedih,

berkaitan

putus asa, harga diri

dengan penurunan system pembuluh

rendah

dan

perasaan tidak berguna. Ini berarti

darah. Penurunan system pembuluh

sebagian

darah juga berkaitan dengan kejadian

besar

mendapatkan

stroke sehingga kemungkinan besar

lansia stroke sudah

tempat

yang

nyaman

untuk beristirahat karena merasa tidak

responden dapat terserang stroke pada

sendiri dan masih ada keluarga yang

usia lanjut. Hal ini dapat diakibatkan

menyayangi dan memperhatikannya.

bahwa, kejadian stroke dikaitkan

Dari hasil analisa juga diketahui

dengan adanya kemunduran system

bahwa lansia yang mendapatkan

pembuluh darah (Hadril, 2006).

dukungan emosional dari keluarga

Berdasarkan hasil analisa dari kuesioner

yang baik sebagian besar akan patuh

dukungan emosional keluarga, keluarga


56

untuk melakukan kunjungan ulang.

informasi oleh petugas kesehatan di

Kepatuhan adalah suatu keadaan

pelayanan

dimana seseorang mau mengikuti

penderita stroke melakukan kontrol

petunjuk

atau

dapat

diberikan

kepadanya.

merupakan

perintah

yang

Kepatuhan

istilah

kesehatan

tempat

meningkatkan

kepatuhan

kontrol penderita stroke itu sendiri.


Berdasarkan hal ini dapat dikatakan,

yang

menggambarkan pelaksanaan suatu

bila

prosedur atau suatu tindakan sesuai

emosional

dengan petunjuk atau kesepakatan

perhatian, kasih sayang dan empati akan

yang

telah

(Spiritia,

ditetapkan

2006).

Jadi

disiplin

dari

dukungan

keluarga

berupa

dalam berperilaku kearah yang lebih

kepatuhan

baik. House (1994, dalam Setiadi,


2008) juga mengatakan bahwa lansia

yang taat terhadap aturan, perintah,


dan

mendapatkan

dapat meningkatkan motivasi lansia

bersama

kontrol disini adalah perilaku klien

prosedur,

lansia

sangat

untuk

membutuhkan

emosional

sehingga

dukungan

merasa

lansia

melakukan kontrol.

dirinya tidak menanggung beban sendiri

Kepatuhan kontrol penderita stroke

tetapi masih ada orang lain yang

untuk deteksi dan penatalaksanaan

memperhatikan,

stroke
penyakit

akan

mendengar

dan

menurunkan

risiko

membantu memecahkan masalah yang

kardiovaskuler

dan

terjadi. Berdasarkan hal tersebut, dapat

morbiditas serta mortalitas. Hal ini

dikatakan

dapat dicapai dengan obat dan

mendapatkan

bahwa

lansia

dukungan

yang

emosional

yang baik akan dapat mengurangi

modifikasi gaya hidup, diantaranya :

rasa kecemasan lansia karena takut

menurunkan berat badan, mengatur

terabaikan dan hidup sendirian.

diet pola makan (seperti : rendah


garam,

rendah

kolesterol,
KESIMPULAN

meningkatkan konsumsi buah dan


sayur, tidak mengkonsumsi alkohol),

Berdasarkan hasil penelitian dan

berhenti

meningkatkan

pembahasan,

aktivitas fisik seperti olah raga, serta

disimpulkan

mengkonsumsi obat sesuai anjuran

sebagian

dokter.

melakukan

merokok,

Pentingnya

pemberian

lvii

maka
bahwa

lansia

dapat
lebih

stroke

kunjungan

dari
yang

ulang

di

Poliklinik Saraf RSDS mendapatkan

informasional,

dukungan emosional keluarga yang

penilaian.

dan

dukungan

baik seperti menunjukkan wajah


yang menyenangkan, merawat lansia
dengan

penuh

membantu

kasih

dengan

Saran

sayang,

tulus

ikhlas,

1.

Bagi institusi keperawatan

mendengarkan keluhan lansia dan

Diharapkan bagi institusi keperawatan

tidak

lebih

saat

membiarkan
menghadapi

lansia sendiri
masalah

mengembangkan

pembelajaran

dan

yang

metode

lenih

aplikatif

dukungan emosional keluarga pada

kepada

pasien

sangat

dalam

mampu

proses

kunjungan

pasien

pendidikan kesehatan pada keluarga

diperlukan
ulang

klien

sehingga

mahasiswa

memberikan konseling dan

dengan terampil.

stroke.

2.

Dukungan emosional adalah sesuatu

Untuk peneliti selanjutnya supaya lebih

yang sangat subyektifitas sehingga

mengembjenis angkan penelitian ini

hasil yang didapat belum optimal.

dengan penelitian kualitatif dan lebih

Penggalian data terkait dukungan

mengembangkan

emosional dapat di tambah dengan


penyataan

kualitatif

baik

Bagi peneliti selanjutnya

jenis

dukungan

keluarga yang lain.

dari

3.

Bagi keluarga

keluarga maupun dari resoonden itu

Diharapkan keluarga lebih menrima

sendiri.

kebeadaan lansia sebagai bagian dari

dukungan

Selain

itu

juga

emosional

bahwa

merupakan

keluarga

dengan

berbagai

bentuk

bagian dari dukungan sosial dimana

kemunduran yang terjadi pada lansia

masih ada jenis dukungan keluarga

dan

lainnya yang perlu digali yaitu

lansia baik dari segi dukungan ekonomi,

dukungan

dukungan

informasi serta dukungan emosional

dukungan

untuk

intrumental,

penghargaan,

memberikan

lansia.

lviii

dukungan

meningkatkan

kualitas

kepada

hidup

8. Hudak & Gallo.


(2006).
Keprawatan kritis vol II.
Jakarta : EGC

Daftar Pustaka

1. Andrian.
(2005).
Penyakit
Jantung, Hipertensi, dan Nutrisi.
Jakarta : Bumi Aksara

9. Iskandar,
J.
(2004).
Karakteristik dan Faktor
Berhubungan
Dengan
Hipertensi. Jakarta : Makara

2. Agnes, D. S. (2013). Hubungan


dukungan keluarga dengan
perilaku lanjut usia hipertensi
dalam
mengontrol
kesehatannya di wilayah kerja
puskesmas Melur Pekanbaru.
Tesis FIK UI Jakarta, tidak
dipublikasikan.

10. Jusuf, W. (2007). Membedah


Konsep & Aplikasi CSR
(Corporate
Social.
Responsibility), Gresik : Fascho
Publishing.

3. Efendi. (2005). Faktor-faktor


penyebab terjadinya hipertensi
pada
lansia
di puskesmas
Dinoyo
kota
Malang.
http://digilib.umm.ac.id,
diperoleh tanggal 3 April 2014.

11. Mauk,
K.L.
(2010).
Gerontological
Nursing :
Competencies
for
care.
Second
edition.
Sudbury,
Masschusetts : Jones and
Bartlett Publisher.
12. McMurray,
A.
(2005).
Community health and wellness
: A sociological Approach.
Philadelphia: Mosby

4. Friedman, M. Marilyn. (2008).


Keperawatan Keluarga : Teori
dan Praktik. Jakarta : EGC.
5.

13. Miller, C.A. (2005). Nursing


care of older adults: Theory
and practice. Second edition.
Philadelphia:
Lippincott
Company.

Gunawan. (2009). Lansia


dalam
keluarga
dan
masyarakat.
http://erdafitriani.wordpress.co
m, diperoleh tanggal 9 April
2014

6.

Hadril. A. (2006). Penyakit


Jantung,
Hipertensi,
dan
Nutrisi. Jakarta : Bumi Aksara

7.

House, K. 1994 dalam Setiadi


(2008). Nursing Management
of Hypertension. Toronto,
Canada :Heart and Stroke
Foundation of Ontario and
Regestered NursesAssociation
of Ontaro

14. Niven, N., (2005). Psikologi


Kesehatan. Jakarta : EGC.
15. Notes. (2005).
Mortality
among
patients
with
hypertension from 1995 to
2005 : a population-based
study.
http://www.ncbi.nlm.nih.gov
16. Nugroho,
W.
(2006).
Keperawatan gerontik. Jakarta :
Gramedia
17. Silvia.
(2004).
Pengaruh
Dukungan Keluarga Terhadap

lix

Kepatuhan Minum Obat Anti


Hipertensi. Jakarta : EGC
18. ______.
(2005).
Pengaruh
Dukungan
Keluarga Terhadap
Kepatuhan Minum Obat Anti
Hipertensi. Edisi 2. Jakarta : EGC

19. Setiadi.

(2008).

Konsep

&

Proses
:
Keperawatan
keluarga. Yogyakarta : Graha

Ilmu.
20. Spiritia, K. E. (2006). Faktorfaktor
risiko
yang
mempengaruhi kejadian stroke
pada usia muda kurang dari 40
tahun, http://eprints.undip.ac.id,
diperoleh tanggal 19 Maret
2014.

lx