Anda di halaman 1dari 10

Persahabatan menyatukan mereka dalam suatu cita-cita untuk menjejak kaki di tanah impian.

Alif kemudian menjalani kehidupannya di Pondok Madani dengan menjadi santri, juga sebagai
anggota Pers Syam. Alif yang
kritis juga mampu membenahi masalah Pondok seperti halnya masalah Generator.
Di akhir film, Baso harus pulang ke Gowa karena neneknya sakit keras, alif
mulaii gundah dan awalnnya ingin pindah dan mengulang SMA, namun setelah
berpikir tentang teman dan orangtuanya, Alif menetapkan hati dan melanjutkan
pendidikannya di Pondok Madani hingga lulus bersama Sahibul Menara dengan
semangat Man Jadda Wajada, film ini ditutup dengan susksesnya pagelaran seni
angkatan Alif yang mengundang tepuk tangan luat biasa dari para santri dan
pimpinan pondok.
1

B. Bedah Film Negeri 5 Menara


Man Jadda wa Jada: Orang yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Ungkapan
yang menjadi tagline dalam film ini banyak sekali diucapkan dalam film Negeri 5
Menara ini. Pertama kali diucapkan oleh Ustadz Salman ketika pertama kali masuk
kelas, dan diimplementasikan oleh para tokoh yang berhasil menggapai mimpimimpinya dengan
bersungguh-sungguh.
Ingat, bukanlah yang tajam yang akan berhasil. Tetapi siapa yang bersungguhsungguh, dialah yang
akan berhasil.

Kalimat ini juga dikatakan oleh Ustadz

Salman ketika pertama masuk kelas, ketika dia memotong kayu menggunakan pisau
yang tumpul, tetapi dengan kegigihannya, akhirnya kayu tersebut dapat dipotong.
maksud dari kalimat tersebut adalah, orang yang sudah bisa dari awal (pintar,
berbakat, dll) belum tentu berhasil jika dia tidak bersungguh-sungguh, karena yang
akan berhasil itu adalah orang yang bersungguh-sungguh.
Surat Ar Rad ayat 11 yang artinya Sesungguhnya Allah tidak akan
mengubah suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.
Ayat ini ditunjukkan pada adegan Alif yang awalnya setengah hati untuk melanjutkan
studinya di pesantren. Tetapi dengan tekad yang kuat, dia bisa mengubah kesiapan
hatinya yang asalnya setengah hati belajar di pesantren marenjadi sepenuh hati.
Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina. Ini adalah suatu petuah lama
dari Arab yang terkenal hingga sekarang. Pada film ini, petuah tersebut
terepresentasikan ketika para tokoh tidak hanya menuntut ilmu di pondok, tetapi
mereka banyak yang menuntut ilmu hingga ke luar negeri.
Konsep birrul walidain. Berbakti kepada kedua orang tua. Terdapat dalam AlQuran pada surat
Luqman ayat 14 yang artinya:
Dan Kami wajibkan manusia berbuat baik kepada kedua ibu bapanya; ibunya telah
mengandungnya dengan menanggung kelemahan demi kelemahan (dari awal mengandung
hingga akhir menyusunya) dan tempoh menceraikan susunya ialah dalam dua tahun; (dengan

yang demikian) bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua ibubapamu; dan (ingatlah), kepada
Akulah jua tempatmu kembali (untuk menerima balasan).

Nilai berbakti juga ada ketika salah satu tokoh utama rela untuk meninggalkan
keinginannya menuntut ilmu karena tidak ada lagi yang dapat merawat neneknya
yang sakit
Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka
berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah
akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa
atas segala sesuatu. (QS. Al Baqarah:148).

Walaupun keinginan Alif setelah lulus SMP adalah untuk melanjutkan sekolah
di SMA dan bisa berkuliah di ITB, tetapi sang ibu menyuruh Alif untuk melanjutkan
sekolah di pesantren. Walaupun berat, tetapi Alif memilih untuk mengikuti kata-kata
ibunya untuk melanjutkan sekolah di pesantren setelah lulus SMP.
Sebaik-baiknya kalian adalah yang memelajari Al-Quran dan mengajarkannya
(HR. Al-Bukhari 4639). Hadist riwayat Al-Bukhari tersebut menunjukkan bahwa
orang yang menghapal, memelajari, dan mengajarkan Al-Quran adalah orang yang
baik di mata Allah. Dan dalam film ini, Baso yang bertekad menghapal Al-Quran dan
mengajari Al-Quran di kampungnya berhasil mengimplementasikan hadist tersebut.
Sebaik-baik sahabat di sisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap temannya
dan sebaik-baik jiran di sisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap jirannya. (HR.
Al-Hakim). Hadist tersebut menunjukkan bahwa di sisi Allah, selain orang yang
memelajari Al-Quran, orang yang baik terhadap sahabatnya pun dianggap orang yang
baik di sisi Allah. Dalam film Negeri 5 Menara, persahabatan 6 orang di pondok itu
menunjukkan bahwa mereka adalah orang yang baik di mata Allah. Selain itu, dapat
juga dibuktikan pada saat Baso harus keluar dari pondok tersebut, para sahabat lain
mengikhlaskannya dan tidak memaksakan egoisme mereka yang masih ingin terus
berjuang bersama Baso.
Merantaulah dengan penuh keyakinan, niscaya akan engkau temui lima kegunaan, yaitu ilmu
pengetahuan, adab, pendapatan, menghilangkan kesedihan, mengagungkan jiwa, dan

persahabatan (Rizal, n.d.)

Kalimat tersebut merupakan penggalan kata-kata dari Imam Syafii tentang


anjurannya untuk merantau dalam tujuan yang baik. Dalam film Negeri 5 Menara ini,
3

Alif yang merantau dari kampungnya di Maninjau mengikuti anjuran dari Imam
Syafii tentang merantau dalam tujuan yang baik, karena Alif merantau dari
kampungnya menuju pondok Madani untuk mendapatkan ilmu dan juga berbakti
kepada kedua orang tua nya.
Kemudian ketersambungannya dengan Qs. Al- Maidah ayat 2, dengan adegan
dengan teman-temannya dimana saling tolong menolong untuk berbuat baik.
Mengutip Qs, Al-Maidah : 2, Tolong- menolonglah kamu dalam kebaikan dan
janganlah kamu saling tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran
dari ayat ini menjelaskan bahwa kita diperintahkan oleh Allah SWT untuk saling
tolong meolong dalam kebaikan. Dari film ini dicontohkan bahwa satu sama lain
harus mendukung, menyemangati, membantu yang kesulitan, menolong dalam
kebaikan antar sesama muslim agar kita dapat terus memperkuat tali silaturahmi dan
kuat dalam berjuang dijalan kebenaran yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.
Pada saat Alif dan teman-temannya sedang sibuk mengangkat barang-barang
untuk suatu keperluan dan sudah memasuki waktu shalat, mereka ditegur oleh
seorang ustadz. Ini memberikan pengertian jika kita harus selalu mengutamakan
untuk menjalankan shalat, terutama berjamaah bagi yang laki-laki, jika telah
mendengar suara adzan. Dalam sebuah hadits berbunyi:
Seorang buta pernah menemui Nabi shallallahu alaihi wasallam dan berujar, Wahai
Rasulullah, saya tidak memiliki seseorang yang akan menuntunku ke masjid. Lalu dia
meminta keringanan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk shalat di rumah,
maka beliaupun memberikan keringanan kepadanya. Ketika orang itu beranjak pulang,
beliau kembali bertanya, Apakah engkau mendengar panggilan shalat (azan)? laki-laki itu
menjawab, Ia. Beliau bersabda, Penuhilah seruan tersebut (hadiri jamaah shalat).(HR.
Muslim no. 653)

Ibu dari Alif menyuruh Alif untuk masuk ke pesantren karena merasa anakanak yang dimasukkan ke
pesantren akhir-akhir ini adalah anak-anak yang dirasa
kurang berkelakuan baik dan dimasukkan hanya untuk merubah sifat mereka. Disitu

ia merasa jika seperti itu terus, tidak ada calon cendekiawan Islam berikutnya seperti
Buya Hamka, Mohammad Hatta, dan lainnya. Maka dari itu, sifatnya yang lebih
4

mementingkan umat dibanding dirinya sendiri mencerminkan kepahamannya kepada


larangan Allah SWT untuk mementingkan hal pribadi dan dunia. Seperti pada surat
Ali Imran ayat 14
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini,
Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan,
binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi
Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (Ali Imran : 14)

Pada saat Alif disuruh untuk masuk pesantren oleh orang tuanya, tetapi ia
tidak mau karena tetap ingin bisa masuk ke ITB, dibanding masuk ke sekolah agama.
Disana ia beristikharah untuk menentukan mana yang baik untuknya. Maka disitu ia
yang awalnya merasa jika sekolah di sekolah agama mengikuti keinginan orang
tuanya maka masa depannya dan cita-citanya bisa harus terlepas menjadi berubah.
Sifatnya yang tidak bersuudzon atas takdir dari Allah mencermikan hadist yaitu:
Sesungguhnya seorang mukmin ketika berbaik sangka kepada Tuhannya, maka dia akan
memperbaiki amalnya. Sementara orang buruk, dia berprasangka buruk kepada Tuhannya,
sehingga dia melakukan amal keburukan." (HR. Ahmad, hal. 402).

Dalam film ini terdapat pesan untuk menuntut ilmu, Dalam islam, menuntut ilmu
adalah salah satu hal yang diutamakan terlihat dalam:
Allah pasti mengangkat orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang
berilmu beberapa derajat (QS. Al-Mujadilah: 11).
Katakanlah, samakah orang-orang yang berilmu dan yang tidak berilmu? (QS. Az-Zumar:
9).
Barangsiapa menempuh jalan untuk mendapatkan ilmu, Allah akan memudahkan baginya
jalan menuju surga (HR. Muslim).

Perbuatan sekecil apapun pasti akan dibalas oleh Allah SWT jika kita ikhlas

melaksanakannya. Berbuat baik tidak harus dalam bentuk yang terlihat oleh orang
lain, tindakan tindakan kecil yang dilakukan kepada orang disekitar kita jika
dilakukan dengan ikhlas pasti akan mendapatkan balasan. Seperti yang terlihat dalam
film ini, para tokoh utama saling membantu orang disekitar mereka, tidak selalu
dalam bentuk yang besar, dengan mendukung dan memberi semangatpun akan
membuat orang yang diberikan kebaikan senang.
5

Daftar Pustaka
Adriyanto, M. (2010, 08 29). Fastabiqul Khairat: Berlomba-Lomba dalam Kebaikan. Diambil
kembali dari
http://madriyanto.blogspot.co.id/2010/08/fastabiqulkhairatberlombaberbuat.htm
Al-Qur'an.
Rachim, H., & d.k.k. (2013). Modul Pendidikan Agama Islam. Sumedang: UNPAD.
Rizal, M. (t.thn.). Imam Syafi'i. Dipetik November 24, 2015, dari Wordpress:
https://muhmadrizal843.wordpress.com/sejarah/tokoh-islam/imam-syafei/